Anda di halaman 1dari 12

ORGANOLOGI I

Oleh :
Nama : Arlina Setyoningtyas
NIM : B1A017150
Rombongan : C2
Kelompok :3
Asisten : Salma Fauzia

LAPORAN PRAKTIKUM
STRUKTUR DAN PERKEMBANGAN TUMBUHAN II

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2018
I. PENDAHULUAN

Organologi adalah ilmu yang mempelajari struktur dan fungsi organ


berrdasarkan organisme-organisme penyusunnya. Bagian-bagian organologi yaitu
akar, batang, dan daun. Organologi menjelaskan bagaimana struktur dalam fungsi
suatu organ (Prawiro, 1997).
Salah satu bagian dari tumbuhan adalah akar. Akar pada tumbuhan memiliki
peranan penting bagi tumbuhan. Akar merupakan bagian tubuh tumbuhan sebelah
bawah, biasanya berkembang di bawah permukaan tanah meskipun ada pula akar
yang tumbuh di udara (seperti halnya batang ada pula yang tumbuh di bawah
permukaan tanah). Susunan dan perkembangan jaringan primer akar dan batang
dapat dibedakan dengan jelas misalnya perkembangan epidermisnya
(Soerodikoesoemo,1993).
Selain itu tumbuhan juga mempunyai batang. Batang merupakan bagian
tumbuhan yang menyokong dan memproduksi tunas, daun, bunga, dan buah. Batang
menahan daun pada posisinya sehingga dapat menerima sinar matahari yang
diperlukan untuk memproduksi zat makanan. Batang tumbuhan juga sebagai alat
transportasi yang membawa air dan mineral dari akar ke daun untuk digunakan
dalam memproduksikan makanan atau karbohidrat (Syukriah & Pranggarani, 2016).
Daun pada umumnya berbentuk tipis melebar, berwarna hijau, duduk daun
pada batang menghadap ke atas. Bentuk daun umumnya tipis, datar dan diperkuat
oleh tulang daun dan memiliki permukaan luas untuk menerima cahaya. Daun
berfungsi untuk transportasi dan menangkap cahaya untuk fotosintesis, yaitu
perubahan energi matahari menjadi energi kimia (Syarif, 2009).

II. TUJUAN

Tujuan praktikum acara organologi I yaitu:


1. Mengamati struktur anatomi akar, batang, dan daun.
III. MATERI DAN METODE

A. Materi

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum acara organologi I


diantaranya mikroskop, object glass, dan cover glass.
Bahan-bahan yang digunakan adalah preparat awetan dari irisan
melintang akar jagung (Zea mays), irisan melintang batang sirih (Piper betle),
irisan melintang daun jagung (Zea mays), dan irisan melintang daun jeruk (Citrus
sp.).

B. Metode
Metode yang dilakukan dalam praktikum acara organologi I antara lain:
1. Semua preparat awetan dari irisan melintang akar jagung (Zea mays), irisan
melintang batang sirih (Piper betle), irisan melintang daun jagung (Zea mays),
dan irisan melintang daun jeruk (Citrus sp.) langsung diamati dibawah
mikroskop dengan perbesaran tertentu.
2. Preparat akar Zea mays dan batang Piper betle diamati dibawah mikroskop
dengan perbesaran 100x.
3. Preparat daun Citrus sp. dan daun Zea mays diamati dibawah mikroskop
dengan perbesaran 400x.
4. Masing-masing organ tumbuhan meliputi akar, batang, dan daun masing-
masing diamati. Susunan dan letak setiap macam jaringan yang menyusun
organ-organ tersebut diperhatkan.
5. Semua preparat kemudian digambar dan diberi keterangan selengkapnya.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Keterangan :
1 1. Epidermis
2. Eksodermis
2
3. Korteks
3 4. Endodermis
5. Perisikel
4
6. Floem
5 7. Xilem
8. Empulur
6
Tipe berkas
7
pengangkut:
8 Radial

Gambar 1. Ø.L Akar Jagung (Zea mays) Perbesaran 100x


Keterangan :
1
1. Epidermis
2. Kolenkim
2
3. Skerenkim
3 4. Korteks
5. Berkas pengangkut
4
perifer

5 6. Berkas pengangkut
medular
6
7. Empulur
7 8. Saluran lendir
Tipe berkas
8
pengangkut:
Perifer dan medular

Gambar 2. Ø.L Batang Sirih (Piper betle) Perbesaran 100x


Keterangan :
1. Epidermis atas
1
2. Jaringan palisade
3. Jaringan spons
2
4. Kristal Ca-Oksalat

3 5. Berkas pengangkut
6. Epidermis bawah
4

Gambar 3. Ø.L Daun Jeruk (Citrus sp.) Perbesaran 400x

Keterangan :
1. Epidermis atas
2. Mesofil
5 3. Berkas pengangkut
4. Sel motor
1
5. Trikoma
6. Epidermis bawah
4

Gambar 4. Ø.L Daun Jagung (Zea mays) Perbesaran 400x


B. Pembahasan

Epidermis daun merupakan jaringan terluar pada tumbuhan, epidermis daun


mengandung kipas-kipas dan stomata yang terdapat pada kedua permukaan bawah
saja,dibawah epidermis biasanya terdapat hipodermis,yang merupakan derivat dari
epidermis. Epidermis atas biasanya dilindungi oleh kutikula atau lilin sebagai
penahan terjadinya penguapanyang terlalau besar. Epidermis juga dapat
termodifikasi menjadi trikoma yang berasal dari penonjolan epidermis, dapat
berbentuk rambut, duri, gelembung atau tabung, yang berfungsi untuk melindungi
dan memantulkan radiasi cahaya matahari (Lakitan, 1996).
Endodermis tersusun oleh suatu lapis yang berbeda secara fisiologi, struktur,
dan fungsi dengan lapisan sel di sekitarnya. Berdasarkan perkembangan dinding
selnya, sendodermis dapat dibedakan menjadi endodermis primer yang mengalami
penebalan berupa titik caspary dari suberin dan kitin, endodermis sekunder apabila
penebalan berupa pita caspary dari zat lignin. Endodermis tersier penebalan
membentuk huruf U yang mengandung lapisan suberin dan selulose pada dinding
radial dan tangensial bagian dalam. Terdapat beberapa sel yang tidak mengalami
penebalan dinding, yaitu sel-sel yang terletak berhadapan dengan protoxilem di
antara sel-sel endodermis. Sel tersebut dinamakan sel peresap (Nugroho, 2006).
Struktur anatomi akar dapat dibedakan dalam berbagai zona yaitu tudung
akar, epidermis, korteks akar, dan silinder pembuluh. Ciri khas dari epidermis akar
ialah pembentukan rambut akar yang merupakan organ untuk pengambilan air dan
garam yang efisien (Fahn, 1991). Korteks akar umumnya terdiri atas sel-sel
parenkimatis selama perkembangannya, ukuran sel-sel korteks yang mengalami
differensiasi bertambah, sebelum terjadi vakuolisasi dalam sel tersebut (Sumardi,
1993). Perisikel atau perikambium adalah bagian terluar dan berbatasan langsung
dengan endodermis, selapis sel atau mungkin beberapa lapis sel berupa lapisan sel
parenkim yang berasal dari inisial yang sama dari xilem dan floem (Savitri, 2009).
Batang diumpamakan sebagai sumbu tubuh tumbuhan. Arah tumbuh batang
tumbuhan menuju sinar matahari. Struktur batang terdiri atas epidermis, korteks,
endodermis, dan silinder pusat (stele). Silinder pusat pada batang ini terdiri atas
beberapa jaringan yaitu empulur, perikardium, dan berkas pengangkut yaitu xilem
dan floem, batang berkayu memiliki kambium. Kambium mengalami dua arah
pertumbuhan yaitu ke arah dalam membentuk kayu dan ke arah luar membentuk
kulit. Karena pertumbuhan kambium inilah batang tumbuhan bertambah besar
(Tjitrosoepomo, 2009). Bundel vaskuler yang tersebar di parenkim tanah di seluruh
penampang batang, dan setiap bundel vaskular dikelilingi melalui sarung serat
sclerenchymatous. Dinding sel parenkim dibangun dari selulosa, sedangkan
komponen dinding sel utama dari elemen vaskular adalah lignin (M, Vucurovic et
al., 2017)
Struktur anatomi daun tersusun atas tiga tipe sistem jaringan yaitu
epidermis, mesofil, dan jaringan pembuluh. Epidermis pada berbagai tumbuhan
beragam dalam lapisan, bentuk, struktur, susunan stomata, munculnya trikoma,
adanya sel yang khusus. (Fahn, 1991). Mesofil terdiri dari sel-sel parenkim yang
tersusun renggang dan banyak ruang antar sel. Kebanyakan daun Dicotyledoneae,
mesofil terdiferensiasi menjadi parenkim palisade (jaringan tiang) dan parenkim
spons bentuknya tidak teratur, bercabang, mengandung lebih sedikit kloroplas, dan
tersusun renggang (Kartasaputra, 1998). Berkas pengangkut terdiri dari xilem dan
floem. Xilem berfungsi untuk mengangkut air dan garam-garam yang diserap akar
dari dalam tanah ke daun (untuk digunakan sebagai bahan fotosintesis). Sedangkan
floem berfungsi untuk mengangkut hasil fotosintesis ke seluruh tubuh tumbuhan
(Ross, 1995).
Struktur anatomi akar monokotil ialah batas ujung akar dan kalipatra jelas,
perisikel terdiri dari beberapa lapis sel, terdapat empulur yang luas sebagai pusat
akar, jumlah lengan protoxilem banyak (>12), dan letak xilem dan floem berselang-
seling. Sedangkan untuk akar dikotil diantaranya batas ujung akar dan kalipatra tidak
jelas, perisikel terdiri dari satu lapis sel, tidak terdapat empulur atau empulurnya
sempit, jumlah lengan protoxilem antara 2-6, dan letak xilem di dalam, dan floem
diluar (dengan kambium sebagai pembatas) (Syamsuri,2004).
Struktur anatomi pada batang monokotil yaitu pembuluh angkut (xilem
dan floem) tersebar, batangnya tidak bercabang-cabang, tidak memiliki jari-jari
empulur, tidak memiliki kambium vaskular sehingga tidak dapat membesar, dan
empulur tidak dapat dibedakan di daerah korteks. Sedangkan untuk batang dikotil
adalah batangnya bercabang-cabang, pembuluh angkut teratur, terdapat jari-jari
empulur, terdapat kambium vaskular sehingga dapat membesar, kambium diantara
xilem dan floem, dan dapat dibedakan antara daerah korteks dan empulur
(Syamsuri,2004).
Irisan melintang akar jagung (Zea mays) terdiri atas epidermis,
eksodermis, korteks, endodermis, perisikel, floem, xilem, serta tipe berkas
pengangkutnya adalah radial. Tipe berkas pengangkut radial yaitu tipe berkas
pengangkut di mana xilem dan floem tersusun berselang-seling bergantian menurut
arah jari-jari lingkaran (Hapsari et al, 2018). Irisan melintang batang sirih (Piper betle)
terdiri dari epidermis, kolenkim, korteks, skelerenkim, empulur, berkas pengangkut
perifer dan medular, dan kelenjar ekskretori, serta tipe berkas pengangkutnya perifer
dan medular. Berkas pengangkut pada dikotil normalnya tersusun dalam satu
lingkaran tetapi pada beberapa tumbuhan dapat lebih dari satu lingkaran sehingga
ada berkas pengangkut perifer dan medular. Berkas pengangkut yang perifer tersusun
dalam satu lingkaran sedangkan berkas pengangkut yang terletak di medular
umumnya tersebar (Pandey, 1980).
Irisan melintang daun jeruk (Citrus sp.) terdiri dari bagian-bagian yaitu
epidermis atas, jaringan palisade, jaringan spons, epidermis bawah, berkas
pengangkut, dan kristal Ca-oksalat. Mesofil terdiri dari sel-sel parenkim yang
tersusun renggang dan banyak ruang antar sel. Kebanyakan daun Dicotyledoneae,
mesofil terdiferensiasi menjadi parenkim palisade (jaringan tiang) dan parenkim
spons bentuknya tidak teratur, bercabang, mengandung lebih sedikit kloroplas, dan
tersusun renggang (Kartasaputra, 1998). Irisan melintang daun jagung (Zea mays)
terdiri dari epidermis atas dan bawah, sel motor, trikomata, mesofil, dan berkas
pengangkut. Sel kipas atau sel motor dapat dijumpai pada epidermis atas daun
tumbuhan suku Gramineae dan Cyperaceae, tersusun dari beberapa lapis dinding
tipis dengan ukuran yang lebih besar dibanding sel-sel epidermis disekitarnya
(Nugroho, 2006).
V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan diatas, dapat disimpulkan bahwa


struktur anatomi dari akar Zea mays terdiri dari epidermis, eksodermis, korteks,
endodermis, perisikel, floem, xilem, serta tipe berkas pengangkutnya adalah
radial. Struktur anatomi dari batang Piper betle terdiri dari epidermis, kolenkim,
korteks, skelerenkim, empulur, berkas pengangkut perifer dan medular, dan
kelenjar ekskretori. Struktur anatomi dari daun Citrus sp terdiri dari epidermis
atas dan bawah, jaringan palisade, jaringan spons, berkas pengangkut, dan kristal
Ca-oksalat. Struktur anatomi dari daun Zea mays terdiri dari epidermis atas dan
bawah, sel motor, trikomata, mesofil, dan berkas pengangkut.
B. Saran
Saran untuk praktikum kali ini adalah dalam pembuatan preparat
harus setipis mungkin agar terlihar dibawah mikroskop.
DAFTAR REFERENSI

Fahn, A., 1991. Anatomi Tumbuhan (Ketiga ed.). Yogyakarta: UGM Press.

Hapsari, A. T., Darmanti, S., & Hastuti, E. D., 2018. Pertumbuhan Batang, Akar dan
Daun Gulma Katumpangan (Pilea microphylla (L.) Liebm.). Jurnal Anatomi
dan Fisiologi, 79-84.

Kartasapoetra, Ir. A.G., 1991. Pengantar Anatomi Tumbuh-tumbuhan (tentang sel


dan jaringan). Jakarta: Bina Aksara.
Lakitan, B., 1996. Fisiologi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Jakarta :
Rajawali Pers.
M, V., Vucurovic, Razmovski, R. N., Miljic, U. D., & Puskas, V. S., 2017. Removal
of cationic and anionic azo dyes from aqueous solutions by adsorption on
maize stem tissues. Jurnal of the Taiwan Institute of Chemical Engineers,
1700-1708.

Nugroho, H. L., 2006. Struktur dan Perkembangan Tumbuhan. Depok: Penebar


Swadaya.

Pandey, B. P., 1980. An Introduction a Plant Anatomy. New Delhi: S. Chand &
Company Ltd.

Prawiro., 1997. Biologi Sains. Jakarta: Bumi Aksara.


Ross, C.,1995. Fisiologi Tumbuhan. Bandung : ITB Bandung Wikipedia.
Savitri, E. S., 2009. Struktur Perkembangan Tumbuhan (Anatomi Tumbuhan).
Malang: UIN Press.

Soerodikoesoemo, W, dkk., 1993, Anatomi dan Fisiologi Tumbuhan. Jakarta :


Universitas Terbuka, Depdikbud Jakarta.
Sumardi, I., 1993. Struktur dan Perkembangan Tumbuhan. Yogyakarta: UGM Press.

Syamsuri, I., 2004. Biologi Untuk SMA Kelas XI. Jakarta: Erlangga.

Syarif., 2009. Struktur dan Fungsi Jaringan Tumbuhan. Bandung : Pusat


Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidikan.
Syukriah, F., & Pranggarani, L., 2016. Implementasi Teknologi Augmented Reality
3D Pada Pembuatan Organologi Tumbuhan. Jurnal Ilmiah Fifo, 8(1), 1-10.
Tjitrosoepomo, G., 2009. Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta: Gadjahmada University
Press.