Anda di halaman 1dari 8

MAKALAH PSIKOLOGI KERJA

IKLIM KESELAMTAN KERJA

KELOMPOK 8
(Kelas B)
1. Agung Pratidhina G. (R0016008)
2. Andika Kusuma A. (R0017014)
3. Bayu Andika (R0017024)
4. Ihda Wahyu S. (R0017058)

PROGRAM STUDI D3 HIPERKES DAN KESELAMATAN KERJA


UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2017
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Keselamatan erat kaitannya dengan istilah “Iklim Keselamatan”
mengacu pada persepsi organisasi, kebijakan, prosedur dan prakteknya
(Neal, 2000) menyatakan bahwa iklim keselamatan dinilai dengan cara
kuantitatif, survei kuesioner psikometrik, yang disebut skala safety climate,
untuk mengukur persepsi atau pendapat bersama dari suatu kelompok
pekerja pada dimensi tertentu yang terkait faktor keselamatan. Hasil dari
skala iklim keselamatan seperti yang dianggap oleh banyak peneliti
digunakan sebagai prediktor atau indikator kinerja keselamatan.
Perilaku keselamatan dalam keselamatan kerja berhubungan
langsung dengan perilaku karyawan dalam bekerja demi keselamatan
individu sangat berhubungan erat dengan iklim keselamatan kerja dan sikap
pengetahuan keselamatan kerja, karena dengan keadaan iklim keselamatan
kerja ada dalam perusahaan mempengaruhi tingkat kesehatan karyawan dan
dengan adanya pengetahuan keselamatan kerja, maka karyawan mampu
mengerti dan memahami arti keselamatan kerja.
Pertimbangan yang harus dibuat di dalam pengelolaan keselamatan
kerja adalah menciptakan iklim keselamatan kerja yang positif, dimana
didalamnya harus ada komitmen tentang keselamatan kerja yang kuat dari
pihak manajerial. Komitmen tersebut antara lain berupa: pemantapan
program-program training keselamatan kerja memberikan status yang tinggi
pada pejabat keselamatan kerja, partisipasi dari jajaran eksekutif puncak di
dalam komite keselamatan kerja, dan mendesain pekerjaan dengan prinsip
pada keselamatan kerja. Kondisi semacam ini akan menjadi pekerja percaya
bahwa “... safety makes a difference around here” (Miner, 1992).
Iklim keselamatan kerja menurut Schultz (1970) paling tidak harus
meliputi 3 hal yang harus dibuat secara sehat dan menyenangkan, yaitu 1)
lingkungan fisik kerja, 2) aspek psiko-sosial dari lingkungan komunitas dan
3) hubungan pekrja-manajemen dan kebijakan kepegawaian. Sedangkan
untuk mengukur iklim keselamatan kerja menurut Schultz (1990) perlu
dikembangkan dari dimensi-dimensi iklim organisasional sebagai berikut:

1. Degree of management commitment to safety.


2. Effects of safe job performance on promotion.
3. Effects of safe job performance on social status.
4. Status of safety personnel in the organization.
5. Perceived importance and effectiveness of safety training.
6. Risk level of the workplace
7. Relative effertiveness of enforcement versus guidance in promoting safety.
(Schultz, 1990).

1.2 Rumusan Masalah


1) Apa pengertian dari iklim keselamatan kerja ?
2) Apa sajakah faktor – faktor iklim keselamtan kerja ?
3) Bagaimana pengaruh iklim keselamatan kerja terhadap perilaku
keselamatan pekerja ?

1.3 Tujuan
1) Untuk mengetahui dan mengerti arti dari iklim keselamtan kerja.
2) Untuk mengetahui dan mengerti dari fakto – faktor iklim keselamtan kerja.
3) Untuk mengetahui dan mengerti pengaruh iklim keselamtan kerja terhadap
perilaku keselamtan pekerja.
BAB II
PEMBAHASAN

2.2 Pengertian Iklim Keselamtan Kerja

Hofmann dan Stetzer (1996) bahwa konstruk iklim adalah individu


melampirkan makna dan menafsirkan lingkungan dimana mereka bekerja.
Makna ini untuk dan persepsi kemudian mempengaruhi cara di mana individu
berperilaku dalam organisasi melalui sikap, norma, dan persepsi perilaku.
Iklim kerja adalah hasil perpaduan antara suhu, kelembaban udara,
kecepatan gerakan angin dan panas radiasi dengan tingkat pengeluaran panas
dari tubuh tenaga kerja sebagai akibat pekerjaannya. Nilai Ambang Batas
untuk iklim kerja ialah suatu iklim kerja yang oleh tenaga kerja masih dapat
dihadapi sehari-hari, tidak mengakibatkan penyakit atau gangguan kesehatan
untuk waktu kerja terus menerus tidak lebih dari 8 jam sehari atau 40 jam
seminggu (Kepmenaker No.Kep51/MEN/1999). Efisiensi kerja sangat
dipengaruhi oleh suhu lingkungan kerja, bagi orang Indonesia daerah nikmat
kerja sekitar 24oC- 26oC. Nilai Ambang Batas untuk cuaca (iklim) kerja
menurut Suma’mur P.K adalah 21oC- 30oC suhu basah (1996: 91). Iklim
kerja yang tidak tepat dapat menimbulkan gangguan kesehatan dan
mengakibatkan kelelahan, yang pada akhirnya akan menurunkan produktifitas
kerja.

2.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Iklim Keselamtan Kerja

Menurut Griffin and Neal faktor – faktor yang mempengaruhi iklim


keselamtan kerja terdapat lima aspek antara lain:
1. Management Value (Nilai Manajemen) Nilai manajemen menunjukkan
seberapa besar manajer dipersepsikan menghargai keselamatan di tempat
kerja, bagaimana sikap manajemen terhadap keselamatan, dan persepsi
bahwa keselamatan penting.
2. Safety Communication (Komunikasi Keselamatan) Komunikasi
keselamatan diukur dengan menanyakan dimana isu-isu keselamatan
dikomunikasikan.
3. Safety Practices (Praktek Keselamatan) Yaitu sejauh mana pihak
manajemen menyediakan peralatan keselamatan dan merespon dengan
cepat terhadap bahaya-bahaya yang timbul.
4. Safety Training (Pelatihan Keselamatan) Pelatihan adalah aspek yang
sangat krusial dalam sistem personalia dan mungkin metode yang sering
digunakan untuk menjamin level keselamatan yang memadai di organisasi
karena pelatihan sangat penting bagi pekerja produksi.
5. Safety Equipment (Peralatan Keselamatan) Peralatan keselamatan
mengukur tentang kecukupan peralatan keselamatan, seperti alat-alat
perlengkapan yang tepat disediakan dengan mudah.

2.3 Pengaruh Iklim Keselamatan Kerja Terhadap Perilaku Keselamatan


Pekerja

Bila orang punya pengetahuan tentang manfaat sesuatu hal, maka ia


akan mempunyai sikap positif terhadap hal tersebut. Selanjutnya sikap yang
positif akan berubah menjadi tindakan apabila mendapat dukungan sosial dan
tersedianya fasilitas. Faktor yang mempengaruhi pengetahuan adalah
pengalaman orang terhadap sesuatu obyek dan informasi yang diterima
olehnya (Ida Bagus, 1992). Dari hasil penelitian yang dilakukan Griffin dan
Neal (2000) yang mengacu pada beberapa teori mengenai perilaku, suatu
model yang menggambarkan antara iklim keselamatan kerjadengan perilaku
keselamatan (safety performance). Walaupun terdapat banyak faktor, baik
dari individu maupun lingkungan kerja yang dapat mempengaruhi perilaku
kerja seperti keahlian dan kepribadian individu, serta iklim organisasi (Neal
& Griffin, 1999), tetapi pada model ini iklim keselamatan kerja menjadi
antiseden utama yang data berpengaruh secara positif terhadap perilaku
keselamatan. Mediasi iklim keselamatan kerjadan sikap pengetahuan
keselamatan didalam kerangka kerja memberikan suatu proses individual
yang menghubungkan iklim keselamatan kerja dengan hasil kerja spesifik.
Hasil-hasil tersebut mendukung usulan bahwa sikap pengetahuan keselamatan
kerja dan iklim keselamatan kerja terhadap perilaku keselamatan sangatlah
penting. Pembedaan ini penting karena mengidentifikasikan mekanisme-
mekanisme dimana iklim keselamatan kerja cenderung mempengaruhi
perilaku keselamatan (Campbell et al., 1993).
BAB III
PENUTUP

3.1 Keseimpulan

Dapat disimpulkan bahwa pengertian iklim kerja adalah tafsiran


mengenai seorang pekerja dimana mereka bekerja pada suatu tempat kerja
yang dapat mempengaruhi cara di mana individu berperilaku dalam
organisasi melalui sikap, norma, dan persepsi perilaku. Kemudian faktor-
faktor yang mempengaruhi iklim keselamatan kerja diantaranya adalah :
- Management Value (Nilai Manajemen)
- Safety Communication (Komunikasi Keselamatan)
- Safety Practices (Praktek Keselamatan)
- Safety Training (Pelatihan Keselamatan)
- Safety Equipment (Peralatan Keselamatan)
Iklim keselamatan kerja sangat berpengaruh terhadap perilaku
pekerja. Hal ini dikarenakan sikap yang positif akan berubah menjadi
tindakan apabila mendapat dukungan sosial dan tersedianya fasilitas. Faktor
yang mempengaruhi pengetahuan adalah pengalaman orang terhadap sesuatu
obyek dan informasi yang diterima oleh pekerja.

3.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA

1. Buku Psikologi Kerja penulis Tulus.


2. Jurnal pengaruh sikap pengetahuan keselamatan kerja dan iklim keselamatan
kerja terhadap perilaku keselamatan pada karyawan.