Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dewasa ini pertumbuhan penduduk berlangsung dengan sangat pesat. Semakin banyak
jumlah penduduk maka jumlah bangunan yang diperlukan sebagai tempat, tempat hiburan,
tempat industri, atau tempat beribadah akan semakin meningkat. Dengan bertambahnya
kebutuhan akan bangunan, maka keperluan bahan bangunan juga akan semakin meningkat.
Kualitas bangunan berbanding lurus dengan bahan bangunan. Untuk meningkatkan
kualitas bahan bangunan tersebut maka diperlukan zat aditif atau bahan tambah. Selain
untuk meningkatkan kualias, bahan tambah juga diperlukan untuk mengubah sifat-sifat dari
bahan agar menjadi lebih cocok untuk pekerjaan tertentu, atau untuk menghemat biaya.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang yang diuraikan di atas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai
berikut :

 Apa itu bahan tambah, jenis, karakteristik, dan pendayagunaan pada bahan
bangunan?
1.3 Tujuan
Mengetahui pengetian dari bahan tambah, jenis – jenis, karakteristik dan pendayagunaan
dari bahan tambah dan pengaruh yang disebabkan kepada bahan bangunan

1.4 Manfaat
Manfaat yang di harapkan secara garis besar adalah mengembangkan pengetahuan tentang
bahan tambah pada bahan bangunan.

1.5 Batasan
Untuk mempermudah pembahansan diberikan batasan – batasan sebagai berikut :
 Pengertian bahan tambah, jenis, karakteristik dan pendayagunaan admixture pada
beton.
 Pengertian bahan tambah, jenis, karakteristik dan pendayagunaan additive pada
beton

1
BAB II

HASIL DAN PEMBAHASAN

2.1 Bahan Tambah Admixture pada Beton

2.1.1 Pengertian Bahan Tambah Admixture

Gambar 1. Bahan Tambah Admixture

Sumber : http://cemsolutions.org

Bahan tambah (admixture) adalah bahan-bahan yang ditambahkan ke dalam campuran


beton pada saat atau selama percampuran berlangsung. Fungsi dari bahan ini adalah untuk
mengubah sifat-sifat dari beton agar menjadi lebih cocok untuk pekerjaan tertentu, atau untuk
menghemat biaya.

Admixture atau bahan tambah yang didefinisikan dalam Standard Definitions of


Terminology Relating to Concrete and Concrete Aggregates (ASTM C.125-1995:61) dan
dalam Cement and Concrete Terminology (ACI SP-19) adalah sebagai material selain air,
agregat dan semen hidrolik yang dicampurkan dalam beton atau mortar yang ditambahkan
sebelum atau selama pengadukan berlangsung. Bahan tambah digunakan untuk memodifikasi
sifat dan karakteristik dari beton misalnya untuk dapat dengan mudah dikerjakan, mempercepat
pengerasan, menambah kuat tekan, penghematan, atau untuk tujuan lain seperti penghematan
energi.

2
2.1.2 Jenis-jenis Bahan Tambah Kimia (Admixture)

a. Tipe A “Water-Reducing Admixtures”

Gambar 2. Tipe A “Water-Reducing Admixtures

Sumber : https://www.specco.com

1. Pengertian
Water-Reducing Admixtures adalah bahan tambah yang mengurangi air
pencampur yang diperlukan untuk menghasilkan beton dengan konsistensi tertentu.
Water-Reducing Admixtures digunakan antara lain untuk dengan tidak
mengurangi kadar air semen dan nilai slump untuk memproduksi beton dengan nilai
perbandingan atau rasio factor air semen (wer) yang rendah.

2. Karakteristik
a. Sifat mekanik :
 mengurangi kadar air (fas) dengan tidak mengurangi semen dan slump
 meningkatkan slump dengan tidak mengurangi semen dan kadar air
(fas) yang digunakan
 mengurangi semen yang digunakan dengan tidak mengurangi slump
dan kadar air (fas) -- harus memperhatikan ketentuan pemakaian semen
minimum sesuai peraturan
 Bahan tambah ini pada umumnya mengurangi pemakaian air sebanyak 5% -
12% dari pemakaian pada desain mix beton normal,
 Hanya menambah/meningkatkan workability. Dengan menambahkanWRA
ke dalam beton maka dengan fas (kadar air dan semen) yang sama akan
didapatkan beton dengan nilai slump yang lebih tinggi. Dengan slump yang
lebih tinggi, maka beton segar akan lebih mudah dituang, diaduk dan
3
dipadatkan. Karena jumlah semen dan air tidak dikurangi dan workability
meningkat maka akan diperoleh kekuatan tekan beton keras yang lebih besar
dibandingkan beton tanpa WRA.
 Menambah kekuatan tekan beton. Dengan mengurangi/memperkecil fas
(jumlah air dikurangi, jumlah semen tetap) dan menambahkan WRA pada
beton segar akan diperoleh beton dengan kekuatan yang lebih tinggi. Dari
beberapa hasil penelitian ternyata dengan fas yang lebih rendah tetapi
workability tinggi maka kuat tekan beton meningkat.
 Mengurangi biaya (ekonomis). Dengan menambahkan WRA dan
mengurangi jumlah semen serta air, maka akan diperoleh beton yang
memiliki workability sama dengan beton tanpa WRA dan kekuatan tekannya
juga sama dengan beton tanpa WRA. Dengan demikian beton lebih
ekonomis karena dengan kekuatan yang sama dibutuhkan jumlah semen yang
lebih sedikit.

b. Sifat Kimia
1) Mengandung Asam lignosulfonic dan kandungan garam-garam.
2) Modifikasi dan turunan asam lignosulfonic dan kandungan garam-garam.
3) Hydroxylated carboxylic acids dan kandungan garamnya.
4) Modifikasi hydroxylated carboxylic acids dan kandungan garam-garamnya.
5) Materi lain seperti :
a) Materi inorganic seperti seng, garam-garam, barak, pospat, klorida.
b) Asam amino dan turunannya.
c) Karbohidrat, polisakarin, dan gula asam.
d) Campuran polimer, seperti eter, turunan melamic, neptan, silicon,
hidrokarbon-sulfat.

c. Sifat Fisik
Kebanyakan plasticizer berbentuk cairan dan sebagian besar tidak berwarna,
tetapi ada beberapa jenis yang berwarna kuning muda sampai kuning cerah.
Bagaimana Mengukur Warna Chemical Konica Minolta CM-5 American
Society for Testing and Materials (ASTM) memiliki metode pengukuran warna
untuk cairan tidak berwarna, yang merupakan metode standar untuk menganalisa

4
plasticizer. Skala yang digunakan untuk plasticizer berwarna terang adalah warna
APHA, atau dikenal sebagai skala Hazen.
Tetapi untuk plasticizer berwarna gelap, yang tidak dapat dilihat dengan skalah
APHA, metode ASTM harus digunakan. Metode tes ini menggunakan skala warna
Gardner.

3. Pendayaagunaan produk Plasticizer

a. Plastiment NS

Produk ini dikeluarkan oleh Sika, dengan bahan dasar polimer padat.
Plastiment NS memenuhi standar ASTM C-494 Tipe A dan AASHTO M-194
Tipe A. Plastiment NS direkomendasikan untuk digunakan pada aplikasi beton
kualitas tinggi dengan peningkatan kuat tekan awal dan waktu ikatan normal.
Produk ini dapat mengurangi air sampai dengan 10% untuk memperoleh beton
yang mudah dikerjakan dengan kuat tekan dan kuat lentur yang lebih tinggi.
Dosis yang digunakan adalah 130 – 265 ml untuk tiap 100 kg semen.

b. Plastocrete 161W

Merupakan produk Sika dengan bahan polimer dan telah memenuhi


persyaratam ASTM C-494 Tipe A. Direkomendasikan untuk digunakan pada
beton kualitas tinggi dengan workabilitas sangat baik dan waktu ikatan cepat.
Plastocrete 161W memberikan hasil yang optimal apabila dikombinasikan
dengan fly ash (abu terbang). Dosis yang digunakan adalah 195 – 650 ml/100
kg semen.

c. Plastocrete 169

Produk Sika dengan tujuan ganda, yaitu sebagai reducer dan retarder. Produk
ini telah memenuhi syarat ASTM C-494 Tipe A. Digunakan untuk beton
normal dan memerlukan retarder. Tujuan ganda Plastocrete 169 sebagai water
reducer normal dan set retarder memberikan fleksibilitas yang tinggi pada
penggunaannya dan dapat dikombinasikan untuk meningkatkan kualitas
maupun nilai ekonomis. Apabila digunakan untuk reducer, digunakan dosis
261-391 ml/100 kg semen. Apabila digunakan sebagai set retarder, dosis 390-
520 ml/100 kg berat semen.

5
d. Viscocrete 4100

Merupakan produk Sika yang digunakan sebagai high range water reducer dan
superplasticizer. Produk ini telah memenuhi syarat ASTM C-494 Tipe A dan
F. Bahan tambah ini dapat digunakan dengan dosis rendah untuk mengurangi
air antara 10-15% dan apabila digunakan dengan dosis tinggi mampu
mengurangi air hingga 40%. Produk ini dapat digunakan untuk Self
Compacting Concrete (SCC) karena dapat memberikan workabilitas yang
tinggi. Viscocrete 4100 tidak mengandung formaldehid dan kalsium klorida
serta tidak menyebabkan korosi pada tulangan baja. Untuk tujuan umum dosis
yang direkomendasikan sebanyak 195-520 ml/100 kg semen. Apabila
diinginkan pengurangan air secara maksimum, dosisnya dapat mencapai 780
ml/100 kg semen.

b. Tipe B “Retarding Admixtures”

Gambar 3. Tipe B “Retarding Admixtures”

Sumber : https://www.google.co.id

1. Pengertian
Retarding Admixtures adalah bahan tambah yang berfungsi untuk menghambat
waktu pengikatan beton.

2. Karakteristik
 Sifat Mekanik
 Beberapa retarder mempunyai sifat menimbulkan gelembung udara dalam
beton

6
 beberapa retarder menyebabkan kehilangan slump yang lebih cepat walaupun
menyebabkan waktu setting yang lebih lambat memperbesar resiko susut
pengeringan dan rangkak yang lebih tinggi.
 pengecoran dengan kondisi cuaca panas yang berpotensi mengakibatkan
kehilangan kelembaban lebih cepat
 proses finishing yang memerlukan waktu yang lebih lama sehingga waktu
setting beton yang lebih lama diperlukan
b. Sifat Kimia
Zat tambahan ini diantarannya berupa gula, sucrose, sodium gluconate, glucose,
citric acid, dan tartaric acid.
c. Sifat Fisik
Bahan retarder ini biasanya berbentuk bubuk berwarna abu-abu dengan kadar
air < 3%

3. Pendayagunaan
Retarder kadang-kadang digunakan untuk: (1) mengimbangi efek percepatan
cuaca panas pada pengaturan beton; (2) menunda set awal beton atau grout ketika
kondisi penempatan yang sulit atau tidak biasa terjadi, seperti menempatkan beton
di dermaga besar dan yayasan, semen sumur minyak, atau memompa nat atau beton
jarak yang cukup besar; atau (3) menunda pengaturan untuk teknik finishing khusus,
seperti permukaan agregat terbuka.
Jumlah pengurangan air untuk pencampuran ASTM C 494 (AASHTO M 194)
tipe B retardasi biasanya kurang dari yang diperoleh dengan peredam Tipe Awater.
Pencampuran tipe D dirancang untuk memberikan pengurangan air dan retardasi.
Secara umum, beberapa pengurangan kekuatan pada usia dini (satu sampai tiga hari)
menyertai penggunaan retarder. Efek dari bahan-bahan ini pada properti lain dari
beton, seperti penyusutan, mungkin tidak dapat diprediksi. Oleh karena itu, tes
penerimaan retarder harus dibuat dengan bahan pekerjaan yang sebenarnya di
bawah kondisi pekerjaan yang diantisipasi. Klasifikasi dan komponen retarder
tercantum dalam.

Sumber : http://www.ce.memphis.edu/1101/notes/concrete/PCA_manual/Chap06.pdf

7
c. Tipe C “Accelerating Admixtures”

Gambar 4. “Accelerating Admixtures”

Sumber : https://www.concretedecor.net

1. Pengertian
Accelerating Admixtures adalah bahan tambah yang berfunsi untuk
mempercepat pengikatan dan pengembangan kekuatan awal beton. Bahan ini
digunkan untuk mengurangi lamanya waktu pengeringan (hidrasi), dan
mempercepat pencapaian kekuatan beton.
Penggunaan bahan tambah ini harus memperhatikan dengan seksama waktu
setting yang lebih cepat dan curing yang dilakukan harus sesempurna mungkin
untuk mencapai kekuatan awal yang diinginkan lebih tinggi.

2. Karakteristik
a. Sifat Kimia :
Yang termasuk jenis accelerator adalah : kalsium klorida, bromide,
karbonat dan silikat. Pada daerah-daerah yang menyebabkan korosi tinggi tidak
dianjurkan menggunakan accelerator jenis kalsium klorida. Dosis maksimum
yang dapat ditambahkan pada beton adalah sebesar 2 % dari berat semen.
Yang biasa digunakan sebagai accelerator : Calcium Chlorida (CaCl 2
)CaCl 2 mungkin bertindak sebagai katalisator di dalam proses hidrasi C3S dan
C 2 S atau berfungsi sebagai pereduksi sifat alkalinitas dari larutan sehingga
mempercepat hidrasi silikat. Dengan menggunakan CaCl 2 proses hidrasi C 3A
diperlambat , tetapi proses hidrasi normal dari semen tidak berubah. CaCl 2
dapat ditambahkan untuk digunakan bersama semen tipe III (rapid hardening)
dan juga semen biasa/ Ordinary Portland Cement (tipe I). CaCl 2 tidak boleh
digunakan dengan semen yang mempunyai kandungan alumina yang tinggi.

8
Jumlah CaCl 2 yang ditambahkan pada campuran harus dikontrol secara hati-
hati.
b. Sifat mekanik
Bahan tambah dengan fungsi accelerating digunakan dengan tujuan
utama mendapatkan kekuatan awal yang lebih tinggi pada beton yang
dikerjakan, misalkan jika elemen struktur beton yang diperlukan untuk segera
dibebani oleh pekerjaan berikutnya dalam kaitan dengan waktu pelaksanaan
yang ketat.
Penggunaan bahan tambah ini harus memperhatikan kadar ion klorida
terlarut dalam beton keras yang disyaratkan, tidak boleh terlewati - karena
beresiko menimbulkan korosi pada besi atau baja tulangan.
c. Sifat Fisik

Secara umum, kelompok bahan tambah ini mempunyai bentuk beupa


cairan dengan warna terang sampai coklat terang. Dan mempunyai densitas
1.33 ±0.03 g/cc

3. Pendayaagunaan
Teknik pembuatan bata beton ringan, pengaruh penggunaan accelerator admixture
pada pembuatan bata beton ringan, pengaruh kapur pada pembuatan bata beton
ringan, dan pengaruh curing pada pembuatan bata beton ringan. Hasilnya :
1. Penggunaan kapur dapat menurunkan berat bata beton ringan yang dihasilkan.
2. Penggunaan SikaSet Accelerator Admixture dapat meningkatkan kuat tekan
bata beton ringan sebesar 0,13 – 0,22 MPa pada umur 21 hari.
3. Penambahan zat kapur dapat menghasilkan bata beton ringan lebih ringan yaitu
berkisar 0,6 – 0,7 kg di bawah bata beton ringan tanpa kapur. Akan tetapi kuat
tekan bata beton ringan tersebut mengalami penurunan kuat tekan sebesar 0,3 –
0,5 MPa. 4. Curing pada bata beton ringan dapat mengoptimalkan kuat tekan
bata beton ringan yang dihasilkan. Hal ini tampak pada hasil kuat tekan yang
mencapai 2,63 MPa pada umur 28 hari , melampaui kuat tekan yang disyaratkan
SNI 15-2094-2000 yaitu sebesar 2,5 MPa. 5. Kemampuan Absorpsi pada bata
beton ringan yang menggunakan kapur lebih tinggi sekitar 0,9 – 1,3 %
dibandingkan dengan bata beton ringan yang tidak menggunakan kapur.

9
Sumber : http://jurnal.usu.ac.id/index.php/jts/article/downloadSuppFile/4358/838

d. Tipe D “Water Reducing and Retarding Admixtures”

Gambar 5. Tipe D “Water Reducing and Retarding Admixtures”

Sumber : https://www.concretenetwork.com/concrete/concrete_admixtures/special-
performance.html
1. Pengertian
Water Reducing and Retarding Admixtures adalah bahan tambah yang
berfungsi ganda yaitu mengurangi jumlah air pencampur yang diperlukan untuk
menghasilkan beton dengan konsistensi tertentu dan menghambat pengikatan
awal.

2. Karakteristik
a. Sifat Mekanik
Jenis bahan tambah yang berfungsi ganda yaitu untuk mengurangi
jumlah air pengaduk yang diperlukan pada beton tetapi tetap memperoleh
adukan dengan konsistensi tertentu sekaligus memperlambat proses
pengikatan awal dan pengerasan beton. Dengan menambahkan bahan ini ke
dalam beton, maka jumlah semen dapat dikurangi sebanding dengan jumlah
air yang dikurangi.
b. Sifat fisik
Bahan ini berbentuk cair sehingga dalam perencanaan jumlah air
pengaduk beton, maka berat admixture ini harus ditambahkan sebagai berat
air total pada beton.
c. Sifat Kimia
 Mengandung Asam lignosulfonic dan kandungan garam-garam.
 Hydroxylated carboxylic acids dan kandungan garamnya.

10
3. Pendayaagunaan
Mengurangi biaya (ekonomis). Dengan menambahkan WRA dan
mengurangi jumlah semen serta air, maka akan diperoleh beton yang memiliki
workability sama dengan beton tanpa WRA dan kekuatan tekannya juga sama
dengan beton tanpa WRA. Dengan demikian beton lebih ekonomis karena
dengan kekuatan yang sama dibutuhkan jumlah semen yang lebih sedikit.
Jumlah pengurangan air untuk pencampuran ASTM C 494 (AASHTO
M 194) tipe B retardasi biasanya kurang dari yang diperoleh dengan peredam
Tipe Awater. Pencampuran tipe D dirancang untuk memberikan pengurangan
air dan retardasi.

e. Tipe E “Water Reducing and Accelerating Admixtures”

Gambar 6. Tipe E “Water Reducing and Accelerating Admixtures”

Sumber: http://www.redwopconstructionchemicals.com/concrete-admixture.html

1. Pengertian
 Water Reducing and Accelerating Admixtures adalah bahan tambah yang
berfungsi ganda yaitu mengurangi jumlah air pencampur yang diperlukan untuk
menghasilkan beton dengan konsistensi tertentu dan menghambat pengikatan
awal.
 Jenis bahan tambah yang berfungsi ganda yaitu untuk mengurangi jumlah air
pengaduk yang diperlukan pada beton tetapi tetap memperoleh adukan dengan
konsistensi tertentu sekaligus mempercepat proses pengikatan awal dan
pengerasan beton. Beton yang ditambah dengan bahan tambah jenis ini akan

11
dihasilkan beton dengan waktu pengikatan yang cepat serta kadar air yang
rendah tetapi tetap workable.
 Dengan menggunakan bahan ini diinginkan beton yang mempunyai kuat tekan
tinggi dengan waktu pengikatan yang lebih cepat (beton mempunyai kekuatan
awal yang tinggi).

2. Karakteristik

a. Sifat Mekanik :
 Kekuatan. Pada saat accelerator mencapai peningkatan kekuatan awal
beton, pengaruh kekuatan beton dapat diabaikan. Jika bahan water reducing
dicampur accelerator, keuntungan kekuatan jangka panjang akan diapat
berhubungan langsung dengan penurunan rasio air-semen (a/s).
 Setting Time. Setting time beton yang mengandung accelerator lebih pendek
daripada beton biasa yang tidak mengandung accelerator. Pengaruh kalsium
klorida pada setting time lebih besar daripada kalsium format.
 Workability. Baik kalsium klorida dan kalsium format memberikan sedikit
peningkatan dalam workabilitas. Peningkatan yang lebih besar dalam
workabilitas dapat diperoleh dengan kombinasi accelerator dengan bahan
water reducing.
 Air Entrainment. Hampir semua accelerator tidak mengandung derajat air
entrainment.
 Bleeding. Admixture accelerator tidak mempengaruhi bleeding.
 Panas Hidrasi. Accelerator meningkatkan tingkatan panas yang dihasilkan
dan memberikan kenaikan temperature yang lebih besar daripada campuran
bahan biasa. Total panas hidrasi tidak mempengaruhi.
 Perubahan Volume. Kalsium klorida meningkatkan creep maupun drying
shrinkage. Kalsium format meningkatkan drying shrinkage tetapi data yang
ada menunjukkan ada sedikit pengaruh pada creep.
 Durability. Kalsium klorida mempunyai kemampuan memecahkan pasivity
alamiah yang diberikan beton dengan menggunakan semen portland,
dengan demikian akan memperbesar korosi pada baja atau logam tertanam.

12
b. Sifat Kimia
Kandungan kimia bahan ini terdiri dari batu kapur, pasir silika, pasir besi
dan lempung), gypsum (sekitar 5%, sebagai zat pelambat pengerasan) dan
material lain seperti batu kapur, pozzolan, abu terbang, dan lain-lain. Jika unsur
tersebut tidak lebih dari sekitar 3 % umumnya masih memenuhi kualitas tipe 1
atau OPC (Ordinary Portland Cement). Namun bila kandungan material ketiga
lebih tinggi hingga sekitar 25% maksimum, maka semen tersebut akan berganti
tipe menjadi PCC (Portland Composite Cement). Standard dan penggunaannya
diberikan sebagai berikut:
c. Sifat fisik
Bahan ini berbentuk cair sehingga dalam perencanaan jumlah air
pengaduk beton, maka berat admixture ini harus ditambahkan sebagai berat air
total pada beton.

3. Pendayagunaan

Salah satu kegunaan dari Superplasticizer adalah untuk membuat beton kinerja
tinggi yang dapat diterapkan pada rumah murah dalam berbagai jenis kinerja yang
diharapkan dalam bentuk pracetak, seperti komponen struktur utama kolom dapat
dibuat dalam dua bagian dengan sambungan di titik infleksi, panel dinding dengan
menerapkan beton ringan kinerja tinggi baik dari segi bobot maupun ketahanan
terhadap jamur, dan lantai dengan beton kinerja tinggi yang kedap air. Dari segi
produksi, beton kinerja tinggi yang dapat diatur "setting time" nya menjadi efektif
akan sangat menguntungkan delivery proses dalam pabrik.

Manfaat beton ini untuk manusia adalah untuk rumah murah dalam bentuk
pracetak, tahan terhadap jamur dan kedap air. Selain itu, beton ini tepat bagi Indonesia
yang secara umum mempunyai potensi deposit abu terbang 700.000 ton per tahun dari
PLTU. Posisi Indonesia yang rawan gempa sangat memerlukan struktur dengan gaya
inersia minimal.

Sumber: https://media.neliti.com/media/publications/41535-ID-pendayagunaan-abu-terbang-
pada-beton-kinerja-tinggi-untuk-rumah-murah-pracetak.pdf

13
f. Tipe F “Water Reducing High Range Admixtures”

Gambar 7. Tipe F “Water Reducing High Range Admixtures”

Sumber : Sumber : www.alibaba.com

1. Pengertian
Water Reducing High Range Admixtures adalah bahan tambah yang
berfungsi untuk mengurangi jumlah air pencampur yang diperlukan untuk
menghasilkan beton dengan kondisi tertentu, sebanyak 12% atau lebih.
Bahan tambah dengan fungsi HRWR digunakan untuk mendapatkan tingkat
konsistensi yang diinginkan atau ditetapkan spesifikasi dengan mengurangi berat
air sebesar 12% atau lebih (sampai 40%). Tujuan dan penggunaannya sama
dengan bahan tambah tipe A dengan pengurangan berat air > 12%. HRWR atau
bahan tambah tipe F pada umumnya diaplikasikan atau dicampurkan di lokasi
pengececoran.
2. Karakteristik
a. Sifat Kimia
 Yang termasuk jenis superplasticizer adalah kondensi sulfonat melamine
formaldehyde dengan kandungan klorida sebesar 0,005 %, sulfonat
nafthalin formaldehyde, modifikasi lignosulphonat tanpa kandungan
klorida. Jenis bahan ini dapat mengurangi jumlah air pada campuran
beton dan meningkatkan slump beton sampai 208 mm. Dosis yang
dianjurkan adalah 1 % - 2 % dari berat semen.
 Menurut (Edward G Nawy, 1996). Superplasticizer dibedakan menjadi 4
jenis:
1. Koondensasi sulfonat melamin formaldehyde (SMF) dengan
kandungan klorida sebesar 0,005%.
2. Sulfonat nafthalin formaldehid (SNF) dengan kandungan klorida
yang dapat diabaikan.

14
3. Modifikasi lignosulfonat tanpa kandungan klorida.
4. Carboxyl acrylic ester copolymer.

b. Sifat Fisik
Bahan ini berbentuk cair sehingga dalam perencanaan jumlah air
pengaduk beton, maka berat admixture ini harus ditambahkan sebagai berat
air total pada beton.

c. Sifat Mekanik
Dengan menmbahkan bahan ini ke dalam beton, diinginkan untuk
mengurangi jumlah air pengaduk dalam jumlah yang cukup tinggi sehingga
diharapkan kekuatan beton yang dihasilkan tinggi dengan jumlah air sedikit,
tetapi tingkat kemudahan pekerjaan (workability beton) juga lebih tinggi.
Bahan tambah jenis ini berupa superplasticizer.
Bahan ini merupakan sarana untuk menghasilkan beton mengalir tanpa
terjadi pemisahan (segregasi/ bleeding) yang umumnya terjadi pada beton
dengan jumlah air yang besar, maka bahan ini berguna untuk pencetakan beton
di tempat-tempat yang sulit seperti tempat pada penulangan yang rapat.
Superplasticizer dapat memperbaiki workabilitas namun tidak
terpengaruh besar dalam meningkatkan kuat tekan beton untuk faktor air semen
yang diberikan. Namun kegunaan superplasticizer untuk beton mutu tinggi
secara umum sangat berhubungan dengan pengurangan jumlah air dalam
campuran beton. Pengurangan ini tergantung dari kandungan air yang
digunakan, dosis dan tipe dari superplasticizer yang dipakai. (L.J. Parrot, 1998).
Superplasticizer tidak akan menjadikan “encer” semua campuran beton
dengansempurna, oleh karenanya campuran harus direncanakan untuk
disesuaikan.
Untuk meningkatkan workability campuran beton, penggunaan
dosis superplasticizer secara normal berkisar antara 1-3 liter tiap 1 meter kubik
beton. Larutan superplasticizer terdiri dari 40% material aktif. Ketika
superplasticizer digunakan untuk mengurangi jumlah air, dosis yang digunakan
adalah lebih besar, 5 sampai 20 liter tiap 1 meter kubik beton. (Neville, 1995).
Jenis SMF dan SNF yang disebut garam sulfonik lebih sering digunakan karena

15
lebih efektif dalam mendispersikan butiran semen, juga mengandung unsur-
unsur yang memperlambat pengerasan.

3. Pendayaagunaan
Superplasticizers dapat efektif, misalnya, ketika membuat beton
berkekuatan tinggi (6000 psi atau lebih) dan ditambahkan ke campuran dengan
rasio air-semen di bawah 0,35 untuk memastikan kontrol air dan lagi di lapangan
untuk menempatkan tujuan. Efek HRWR dari penguatan kekuatan awal dalam
beton dan penempatan mudah telah diakui oleh industri pra-cast. Mereka juga
sering ditemukan di beton konsolidasi diri. Ditambahkan ke campuran beton
arsitektur, mereka meningkatkan kemampuan kerja beton dan mencegah lubang.
Struktur parkir, yang harus mengalami paparan konstan, sering
membutuhkan rasio air-semen rendah, permeabilitas rendah, beton berarus udara
dengan HRWR. Bangunan beton komersial dan bertingkat tinggi - yang
menggunakan pembentukan geng atau pembentukan terowongan - dapat
mengambil manfaat dari penggunaan HRWR dalam campuran karena penguatan
kekuatannya yang cepat memungkinkan pengupasan bentuk awal dan siklus cepat
bekisting.

Sumber : http://www.concreteconstruction.net/how-to/materials/materials-selection-guide-
water-reducing-admixtures_o

g. Tipe G “Water Reducing, High Range Retarding Admixtures”

Gambar 8. Tipe G “Water Reducing, High Range Retarding Admixtures”

Sumber : https://www.cemix.co.nz/products/admixture-products

16
1. Pengertian
Water Reducing, High Range Retarding admixtures adalah bahan tambah yang
berfungsi untuk mengurangi jumlah air pencampur yang diperlukan untuk
menghasilkan beton dengan konsistensi tertentu, sebanyak 12 % atau lebih sekaligus
menghambat pengikatan dan pengerasan beton. Bahan ini merupakan gabungan
superplasticizer dengan memperlambat waktu ikat beton. Digunakan apabila pekerjaan
sempit karena keterbatasan sumberdaya dan ruang kerja.

2. Karakteristik
a. Sifat kimia
Kondensi sulfonat melamine formaldehyde dengan kandungan klorida
sebesar 0,005 %, sulfonat nafthalin formaldehyde, modifikasi lignosulphonat
tanpa kandungan klorida. Carboxyl acrylic ester copolymer.
b. Sifat Mekanik
Bahan tambah dengan fungsi HRWR + retarding digunakan untuk
mendapatkan efek serupa dengan bahan tambah tipe D dengan pengurangan
berat air yang digunakan sebesar 12% atau lebih (sampai 40%). Tujuan dan
penggunaannya sama dengan bahan tambah tipe D. Pencampuran bahan
tambah tipe G dapat dilakukan di batcing plant atau di lokasi proyek.
Beberapa jenis superplasticizer mempunyai klasifikasi sebagai bahan tambah
tipe G.
c. Sifat Fisik
Bahan tambah ini biasanya memiliki bentuk cair dengan warna keputihan
seperti susu dengan kepadatan 1.05 ± 0.01 g/cc.

3. Pendayaagunaan
Dipakai dengan menambahkan ke dalam campuran air beton atau langsung
mencampur ke dalam beton low-slump yang segar. Sebaiknya tidak langsung
ditambahkan ke campuran kering. Setelah menambahkan 70% air yang akan
ditambahkan ke dalam campuran, Sebaiknya dicampur dengan sisa air lalu
ditambahkan ke dalam campuran. Dalam kasus langsung menambahkan ke dalam
beton segar, waktu pencampuran harus diperpanjang minimal 1-2 menit dengan
kecepatan tinggi dan waktu pencampuran tersebut harus ditentukan selama tes
laboratorium.
17
Komponen-komponen beton dapat berbeda menurut strukturnya. Campuran
yang akan ditambahkan ke dalam campuran untuk mencegah segregasi beton harus
diterapkan dalam dosis yang sesuai. Tes sebelumnya harus dilakukan untuk
memeriksa apakah campuran cocok untuk desain beton tertentu. Dalam hal
menggunakan campuran dalam jumlah yang melebihi kisaran penggunaan yang
ditentukan, waktu pengaturan beton dapat diperpanjang. Dalam kasus seperti itu,
beton harus dijaga tetap lembab agar bisa dikeringkan hingga mengeras. tidak
mengandung klorida atau komponen lain yang menghasilkan korosi di bala bantuan.
Oleh karena itu, sangat cocok untuk digunakan dalam struktur beton bertulang.

Sumber : http://www.aydos.com.tr/page/sectoral-solutions-detail/15/ts-en-934-2-table-10-

2.2 Bahan Tambah Mineral (Additive)

2.2.1 Pengertian Bahan Tambah Mineral (Additive)

Jenis bahan tambah mineral (additive) yang ditambahkan pada beton dimaksudkan
untuk meningkatkan kinerja kuat tekan beton dan lebih bersifat penyemenan. Beton yang
kekuarangan butiran halus dalam agregat menjadi tidak kohesif dan mudah bleeding. Untuk
mengatasi kondisi ini biasanya ditambahkan bahan tambah additive yang berbentuk butiran
padat yang halus. Penambahan additive biasanya dilakukan pada beton kurus, dimana betonnya
kekurangan agregat halus dan beton dengan kadar semen yang biasa tetapi perlu dipompa pada
jarak yang jauh. Yang termasuk jenis additive adalah : pozzollan, fly ash, slag dan silica fume.

Adapun keuntungan penggunaan additive adalah (Mulyono T, 2003) :


o Memperbaiki workability beton
o Mengurangi panas hidrasi
o Mengurangi biaya pekerjaan beton
o Mempertinggi daya tahan terhadap serangan sulfat
o Mempertinggi daya tahan terhadap serangan reaksi alkali-silika
o Menambah keawetan (durabilitas) beton
o Meningkatkan kuat tekan beton
o Meningkatkan usia pakai beton
o Mengurangi penyusutan
o Membuat beton lebih kedap air (porositas dan daya serap air pada beton rendah)

18
2.2.2 Jenis-Jenis bahan tambah mineral

1. Pozzolan

Gambar 9. Pozzolan

Sumber : https://en.wikipedia.org/wiki/Pozzolan

1. Pengertian
Yang termasuk dalam Mineral Admixture adalah Pozzolan Pozzolan : Adalah
bahan yang mengandung senyawa silica dan Alumina dimana bahan pozzolan itu
sendiri tidak mempunyai sifat seperti semen, akan tetapi dengan bentuknya yang
halus dan dengan adanya air, maka senyawa-senyawa tersebut akan bereaksi secara
kimiawi dengan Kalsium hidroksida (senyawa hasil reaksi antara semen dan
air) pada suhu kamar membentuk senyawa Kalsium Aluminat hidrat yang
mempunyai sifat seperti semen.

2. Karakteristik
a. Sifat Fisik :

Tabel 1. Sifat Fsil Pozzolan

Uraian Kelas
N C F
Kehalusan: 34 34 34
Jumlah yang tertahan diatas ayakan 45 m(No. 325) (max, %)
Indeks keaktifan pozzolan portland :
- Dengan menggunakan semen, kuat tekan pada umur 7 hari 75 75 75
(min, %)

19
- Dengan menggunakan semen, kuat tekan pada umur 28 hari 75 75 75
(min, %)
Persyaratan air (max, %) 115 105 105
Pengembangan atau penyusutan dengan autoclove(max, %) 0.8 0.8 0.8
Persyaratan keseragaman :
Berat jenis dan kehalusan dari contoh benda uji, masing-
masing
tidak boleh berbeda dari rata-rata yang ditetapkan dengan 10
benda uji atau dari seluruh benda uji yang jumlahnya kurang
dari
10 buah, maka untuk :
- Berat jenis, perbedaan maximum dari rata-rata (%) 5 5 5
- Persentasi partikel yang tertahan pada ayakan 45 m (No.
325)perbedaan maximum dari rata-rata (%) 5 5 5
Faktor pengali, dihitung sebagai perkalian hilang pijar dan
kehalusan ─ 255 ─
yang tertahan pada ayakan 45 m (No. 325) (max, %)
Pertambahan penyusutan dari mortar pada umur 28 hari, 0.03 0.03 0.03
perbedaan
max (in, %)
Persyaratan keseragaman :
Sebagai tambahan , pada beton air-entraining jumlah air
entraining agent yang disyaratkan untuk menghasilkan kadar
udara sebesar 18 %, volume mortar tidak boleh berbeda
dariratarata
yang ditetapkan atau dari seluruh pengujian jika kurang dari
10, maka untuk :
reaktifitas dengan alkali semen :
- Pengurangan pengembangan mortar pada umur 14 hari (min, 75 ─ ─
%)
- Pengembangan mortar pada umur 14 hari (max, %) 0.020 0.020 0.020
Sumber:https://publikasiilmiah.ums.ac.id/bitstream/.../Yeni%20Nur%20BAB%20II.pdf?...3

b. Sifat Kimia

Menurut Persyaratan Kimia Berdasarkan ASTM C618-92a, kandunganpozzoland dapat


dilihat pada Tabel berikut:

Tabel 2. Persyaratan KimiaBerdasarkan ASTM C618-92a

Komposisi Kelas

N F C
Jumlah SiO2 + Al2O3 + Fe2Oc (min, %) 70.0 70.0 70.0

SO3 (max, %) 4.0 5.0 5.0

Na2O (max, %) 1.5 1.5 1.5

20
Kadar Kelembaban (max, %) 3.0 3.0 3.0

Hilang Pijar (max, %) 10.0 6A 12

c. Sifat Mekanik

Tabel 3. Sifat Mekanik Pozzolan

Sifat mekanik semen Pozzolan Dari data pada Tabel , dapat dilihat bahwa
terdapat rentang angka yang cukup signifikan terhadap parameter yang diuji dengan
koefisien variasi antara 17 % sampai 21 %, , meskipun ada beberapa sampel yang
sifat mekanikanya lebih rendah dari yang disyaratkan. Sebagai contoh sifat kuat
tekan pada umur 3 hari, yang bervariasi sebagaimana penelitian yang dilakukan
Firnanda (2014) dan Amin (2010). Apabila dibandingkan terhadap nilai nilai yang
angkanya menjadi batasan dalam spesifikasi, rata-rata hasil pengujian dari setiap
parameter ternyata melebihi (memenuhi spesifikasi) dari nilai yang disyaratkan,
terutama pada sifat mekanika semen pada umur.

3. Pendayagunaan Bahan Tambah (additive) Pozzolan

Upaya berkesinambungan untuk menjadikan beton makin ramah lingkungan


adalah dengan menerapkan sistem daur-ulang untuk agregat atau perkuatan serta membuat
beton lebih awet atau dengan kata lain memiliki durabilitas lebih tinggi. Upaya
pengurangan pemakaian semen dapat pula dicapai dengan penggunaan material sementitis
tambahan, SCM (supplementary sementitious materials) antara lain abu terbang (fly-ash),
silica-fume, pozzolan alam, slag, dan lain-lain (NRMCA, 2000; Naik, 2005).

Menjadikan beton sebagai material ramah lingkungan dapat dilakukan dengan


membuat beton lebih awet serta mengupayakan reduksi penggunaan semen dalam beton
untuk mereduksi emisigas CO2. Kedua upaya tersebut dapat terlaksana dengan
memanfaatkan pozzolan sebagai bahancampuran beton. Pozzolan dikenal sebagai material

21
alam ataupun buatan yang mengandungsilika aktif. Dalam hal ini, pozzolan alam
dikategorikan sebagai material alam yang memilikiatau dapat diproses hingga memiliki
sifat pozzolanis (NRMCA, 2000). Manfaat utama dari penambahan pozzolan pada
campuran beton adalah meningkatkan kekuatan dan durabilitas beton.

Di Indonesia, trass yang merupakan salah satu jenis Pozzolan alam, telah menjadi
pilihan bagi pengguna bahan bangunan untuk memperoleh kinerja struktur beton yang
lebih baik. Uji laboratorium menunjukkan bahwa kandungan SiO2padatrass Muria Kudus
yang digunakan dalam penelitian tersebut adalah sebesar 42,02%, sedangkankandungan
Al2O3adalah sebesar 28,08%. Perbandingan volume (1:2:3) untuk (semen:trassMuria
Kudus:split) adalah perbandingan campuran beton yang optimal untuk kinerja kuat
tekan,kuat tarik-belah, maupun modulus elastisitas. Secara keseluruhan, beton dengan
agregat halustrass Muria Kudus menunjukkan kinerja yang lebih baik dibandingkan beton
normal, terutamauntuk kinerja kuat tarik-belah yang mencapai nilai 70% lebih tinggi
dibandingkan beton normal.Hasil pengujian kuat tekan dan kuat tarik-belah (Pramono dan
Wibowo, 2002; Susilorini, 2002; Susilorini, 2003) menunjukkan bahwa kuat tekan
optimal dicapai beton dengan campuranTrass Muria Kudus sebesar 29,802 MPa yang
melebihi syarat kuat rencana (19 MPa). Disamping itu, modulus elastisitas beton dengan
campuran Trass Muria Kudus memiliki nilai yanglebih tinggi dibandingkan beton normal
(Setiawan dan Purnomo, 2002; Susilorini, 2002;Susilorini, 2003)

Beberapa faktor penting yang perlu dipertimbangkan dalam pembangunan


berkelanjutan sebagai berikut:

1) Memperbaiki kesalahan di masa lalu dengan membersihkanair dan tanah yang


terkontaminasi.

2) Menghindari pencemaran udara, air dan tanah, termasuk pelepasan gas-gas rumah kaca
ke atmosfir yang memberi sumbangan berarti pada pemanasanglobal,

3) Memanfaatkan sumber daya alam, material dan energi, sejauh yang bisadiperbaharui.

4) Menemukan keseimbangan antara pembangunan ekonomi danpemeliharaan


lingkungan dengan cara meningkatkan standar dan kualitas hidup tanpa merusak
lingkungan

22
John (2003) menegaskanbahwa beton ramah lingkungan pada era modern ini
dapat dicapai dengan campuran beton yangmengkombinasikan beberapa kualitas agregat
disertai bahan tambah.Salah satu upaya mencapai beton ramah lingkungan adalah
mengupayakan penguranganpemakaian semen dengan memakai pozzolan, memproduksi
semen campuran (blended cement),mengaplikasikan jenis-jenis agregat alternatif, serta
mengimplementasikan material daur ulangsebagai bahan campuran beton. Penggunaan
trass yang merupakan pozzolan alam sebagaiagregat alternatif memberikan banyak
keuntungan, antara lain meningkatkan waktu pengikatandan menambah kinerja kekuatan,
durabilitas yang tinggi terhadap lingkungan agresif dan airlaut, serta memberikan nilai
ekonomis dengan memberdayakan penduduk setempat untuk berpartisipasi dalam
produksi dan pemanfaatan trass. Sebagai catatan, eksplorasi trass jugaharus
memperhatikan prinsip dan hakekat pembangunan yang berkelanjutan yaitu
meningkatkanstandar dan kualitas hidup tanpa merusak lingkungan. Trass adalah masa
depan agregatalternatif untuk campuran beton.

sumber:https://www.academia.edu/4456114/Seminar_Nasional_Sustainability_dalam_Bidang_Material_R
ekayasa_dan_Konstruksi_Beton_

2. Fly Ash

Gambar 10. Fly Ash

Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Abu_terbang
1. Pengertian
Abu terbang (fly ash) dan abu dasar (bottom ash) merupakan limbah padat yang dihasilkan
dari pembakaran batubara pada pembangkit tenaga listrik. Limbah padat ini terdapat dalam
jumlah yang cukup besar. Jumlah tersebut cukup besar, sehingga memerlukan pengelolaan agar
tidak menimbulkan masalah lingkungan, seperti pencemaran udara, perairan dan penurunan
kualitas ekosistem.

23
Salah satu penanganan lingkungan yang dapat diterapkan adalah memanfaatkan limbah
tersebut untuk keperluan bahan bangunan seperti batako dan paving blok serta pembenah lahan
pertanian. Namun, hasil pemanfaatan tersebut belum dapat dimasyarakatkan, karena
berdasarkan PP No. 85 Tahun 1999 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah No. 18
Tahun 1999 Tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun, abu terbang dan abu
dasar dikategorikan sebagai limbah B3 karena terdapat kandungan oksida logam berat yang
akan mengalami pelindian secara alami dan mencemari lingkungan.
Pada ASTM C.618 ditetapkan 2 jenis Fly ash yaitu Fly ash Kelas F dan Fly ash kelas C,
perbedaan utama diantara dua jenis fly ash ini adalah jumlah kalsium,Silika, Alumina dan kadar
Besi, sifat kimia dari fly ash tersebut sangat dipengaruhi oleh kandungan kimia dari batubara
dibakar (yaitu, antrasit, bituminous, dan lignit).

Gambar 11. Proes Pembuatan Fly Ash

2. Karakteristik
a. Sifat Fisik
Fly-ash atau abu terbang yang merupakan sisa-sisa pembakaran batu bara, yang
dialirkan dari ruang pembakaran melalui ketel berupa semburan asap, yang telah digunakan
sebagai bahan campuran pada beton. Fly-ash atau abu terbang di kenal di Inggris sebagai
serbuk abu pembakaran.
Menurut ACI Committee 226 dijelaskan bahwa, fly-ash mempunyai butiran yang
cukup halus, yaitu lolos ayakan N0. 325 (45 mili mikron) 5-27%, dengan spesific gravity

24
antara 2,15-2,8 dan berwarna abu-abu kehitaman. Sifat proses pozzolanic dari fly-ash mirip
dengan bahan pozzolan lainnya. Menurut ASTM C.618 (ASTM, 1995:304) abu terbang (fly-
ash) didefinisikan sebagai butiran halus residu pembakaran batubara atau bubuk batubara.

b. Sifat Kimia

Abu terbang sendiri tidak memiliki kemampuan mengikat seperti halnya semen.
Tetapi dengan kehadiran air dan ukuran partikelnya yang halus, oksida silika yang
dikandung oleh abu terbang akan bereaksi secara kimia dengan kalsium hidroksida yang
terbentuk dari proses hidrasi semen dan menghasilkan zat yang memiliki kemampuan
mengikat.

Fly-ash dapat dibedakan menjadi dua, yaitu abu terbang yang normal yang
dihasilkan dari pembakaran batubara antrasit atau batubara bitomius dan abu terbang kelas
C yang dihasilkan dari batubara jenis lignite atau subbitumes. Abu terbang kelas C
kemungkinan mengandung zat kimia SiO2 sampai dengan dengan 70%

Fly ash terutama terdiri atas senyawa silicate glass yang mengandung silika (Si),
alumina (Al), ferrum (fe), dan kalsium (Ca).
Kandungan kecil senyawa lain yang terdapat dalam fly ash adalah magnesium (Mg), sulfur
(S), sodium (Na), potassium (P), dan karbon (C).
Kandungan bahan berbahaya yang ada dalam fly ash antara lain : arsenic, berilium, boron,
cadmium, chromium,cobalt, lead, mangan, merkuri, selenium, strontium, thallium,
vanadium, juga mengandung dioksin dan senyawa PAH (polycyclic aromatic hydrocarbon).

Sumber : https://lauwtjunnji.weebly.com/fly-ash--overview.html

c. Sifat Mekanik

a. Dalam kadar tertentu dan lingkungan yang mendukung (kelembaban cukup dan suhu
normal/kamar), kandungan senyawa silika atau silika + alumina akan mengikat
senyawa sisa hasil hidrasi semen (kalsium hidroksida) yang tidak mempunyai
kemampuan mengikat, menjadi senyawa baru yang mempunyai sifat cementitious
(mengikat) sehingga dalam taraf tertentu akan meningkatkan kekuatan beton yang
dihasilkan,

25
b. dalam kadar tertentu, membantu meningkatkan ketahanan terhadap sulfat dan garam
alkali
c. mengurangi reaktifitas silika-alkali,
d. mengurangi potensi bleeding dan segregasi,
e. memperpanjang waktu setting sehingga memberikan waktu lebih banyak untuk
pengerjaan beton segar,
f. mengurangi panas hidrasi, sehingga diharapkan mengurangi kemungkinan terjadinya
retak selama proses setting dan hardening beton, dan
g. membuat biaya produksi beton menjadi lebih murah, karena secara ekonomis fly ash
lebih murah dari semen.

3. Pendayagunaan

Hasil pengujian yang dilakukan oleh Poon dan kawan-kawan, memperlihatakan dua
pengaruh abu terbang di dalam beton, yaitu sebagai agregat halus dan sebagai pozzolan. Selain
itu abu terbang di dalam beton menyumbang kekuatan yang lebih baik dibanding pada pasta
abu terbang dalam komposisi yang sama. Ini diperkirakan lekatan antara permukaan pasta dan
agregat di dalam beton. More dan kawan-kawan, Mendapatkan workabilitas meningkat ketika
sebagian semen diganti oleh abu terbang.

Beton yang mengandung 10 persen abu terbang memperlihatkan kekuatan awal lebih
tinggi yang diikuti perkembangan yang signifikan kekuatan selanjutnya. Kekuatan meningkat
20 persen dibanding beton tanpa abu terbang. Penambahan abu terbang menghasilakan
peningkatan kekuatan tarik langsung dan modulus elastis. Kontribusi abu terbang terhadap
kekuatan di dapati sangat tergantung kepada faktor air-semen, jenis semen dan kualitas abu
terbang itu sendiri.

Hasil-hasil pengujian menunjukkan bahwa abu terbang memiliki porositas rendah dan
pertikelnya halus. Bentuk partikel abu terbang adalah bulat dengan permukaan halus, dimana
hal ini sangat baik untuk workabilitas, karena akan mengurangi permintaan air atau
superplastiscizer.Tidak semua fly ash memenuhi persyaratan ASTM C.618

26
BAB III
SIMPULAN DAN SARAN

3.1 Simpulan

Bahan tambah (admixture) adalah bahan-bahan yang ditambahkan kedalam campuran


beton pada saat atau selama pecampuran beton belangsung untuk mencapai tujuan tertentu
dalam pembuatan beton.
Jenis bahan tambah dapat dibedakan menjadi dua, yaitu bahan tambah yang bersifat
kimiawi (chemical admixture), bahan tambah yang bersifat mineral (additive).
Bahan tambah kimiawi (admixture) adalah bahan berupa bubukan atau cairan selain air,
agregat, dan semen yang ditambahkan ke dalam campuran beton pada saat atau selama
pencampuran berlangsung.
Bahan tambah mineral (additive) merupakan bahan tambah yang dimaksudkan untuk
memperbaiki kinerja beton dan biasanya dapat digunakan untuk menggantikan sebagian
bahan semen, seperti pozzolan, dan fly ash.

3.2 Saran
Berdasarkan pembahasan yang telah dipaparkan penggunaan bahan tambah pada
pekerjaan beton sangan bermanfaat karena dapat menambah efisiensi waktu dan biaya,
namun sebaiknya kita harus memilih bahan tambah yang tepat untuk digunakan pada beton
agar beton yang dihasilkan dapat memenuhi persyaratan dan berguna sesuai fungsinya.

27
BAB IV
PENUTUP

4.1 PENUTUP

Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan
dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, kerena terbatasnya
pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul
makalah ini.

Penulis banyak berharap para pembaca yang budiman dusi memberikan kritik dan saran
yang membangun kepada penulis demi sempurnanya makalah ini dan dan penulisan makalah
di kesempatan-kesempatan berikutnya. Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada
khususnya juga para pembaca yang budiman pada umumnya.

28
DAFTAR PUSTAKA

http://eprints.polsri.ac.id/1246/2/2.%20BAB%20I.pdf

https://ryanimj.wordpress.com/2014/08/22/bahan-pengikat-hidrolis/

http://www.gunadarma.ac.id/library/articles/graduate/civilengineering/2007/Artikel_10302047.pdf

http://arafuru.com/material/kenali-jenis-jenis-pasir-untuk-bahan-bangunan-ini.html

https://www.google.co.id/search?biw=820&bih=603&tbm=isch&sa

https://www.specco.com/admixtures/water-reducing/w-25-mid-range.html

https://www.concretedecor.net/decorativeconcretearticles/vol-5-no-5-octnov-2005

https://www.alibaba.com/product-detail/retarded-high-range-water-reducing

http://cemsolutions.org/chemical-admixtures-of-concrete/

https://ronymedia.wordpress.com/2010/05/26/fly-ash-pemanfaatan-kegunaannya/

https://www.academia.edu/4456114/Seminar_Nasional_Sustainability_dalam_Bidang_Mater
ial_Rekayasa_dan_Konstruksi_Beton_

http://www.aydos.com.tr/page/sectoral-solutions-detail/15/ts-en-934-2-table-10-

https://www.cemix.co.nz/products/admixture-products

http://www.redwopconstructionchemicals.com/concrete-admixture.html

http://jurnal.usu.ac.id/index.php/jts/article/downloadSuppFile/4358/838

http://www.ce.memphis.edu/1101/notes/concrete/PCA_manual/Chap06.pdf

http://cemsolutions.org

https://www.specco.com

https://media.neliti.com/media/publications/41535-ID-pendayagunaan-abu-terbang-pada-
beton-kinerja-tinggi-untuk-rumah-murah-pracetak.pdf

29