Anda di halaman 1dari 35

Pemanfaatan potensi pertanian pada berbagai subsektor dan

peningkatan nilai tambah melalui agroindustri sehingga setiap produk


Berdasarkan RTRW luas lahan basah yang besar dengan pertanian Kabupaten Tanah Laut tidak lagi hanya dalam bentuk produk primer
pemanfaatan yang baik untuk pengembangan padi sawah menjadikan tetapi sudah mendapat sentuhan pengolahan hasil sehingga siap konsumsi,
Kabupaten Tanah Laut sebagai salah satu daerah lumbung padi. Sektor penerapan pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture) dan prasarana
yang menyumbangkan andil paling besar dalam penciptaan nilai tambah pendukung, ketersediaan dan distribusi input / sarana produksi dan output
berdasarkan RPJPD yaitu sektor pertanian yaitu sebesar 31,40%, dan produksi prasarana penunjang seperti irigasi, jalan, pasar (market place),
subsektor yang cukup dominan ada dua yaitu tanaman bahan makanan energi, dan komunikasi.
serta perikanan. Oleh karena itu, sejauh ini struktur perekonomian
Kabupaten Tanah Laut masih bersifat agraris, sektor dominan lainnya
adalah sektor industri pengolahan (18,24 persen) dan subsektor Belum terdapat infrastuktur yang menunjang pertanian sehingga
perdagangan, restoran dan hotel (24,90 persen). sektor pertanian dapat menghambat perkembangan kawasan agropolitan
meliputi pertanian pangan, perkebunan, peternakan, kehutanan dan Kurangnya penerapan teknologi sehingga petani tidak mampu dalam
perikanan selama kurun waktu tahun 2000 – 2006, mengalami menekan biaya produksi
pertumbuhan rata-rata sebesar 2,33 persen per tahun. Kurangnya ketersediaan lembaga sehingga pemanfaatan air pada
Kegiatan usaha pertanian tanaman pangan di Kabupaten Tanah saluran yang telah tersedia belum jelas
Laut antara lain berupa komoditi padi sawah, padi ladang, jagung, ubi-
ubian, dan kacang-kacangan. Produksi tanaman padi sawah pada tahun
2005 sebesar 115.303 ton yang mengalami kenaikan 8.452 ton dari tahun
sebelumnya. Pada tahun 2006 produksi padi mencapai 147672 ton atau
meningkat sebesar 32369 ton.
Permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan perekonomian
berdasarkan RPJPD di Kabupaten Tanah laut sebagian besar hasil
produksi pertanian masih dipasarkan dalam bentuk produk primer dan
belum masuk kedalam kegiatan pengolahan hasil sehingga tidak
memperoleh nilai tambah.
Bagaimana kondisi eksisting fisik dasar dan fisik binaan kawasan Ruang lingkup materi dalam pembahasan pengembangan Kawasan
agropolitan Kabupaten Tanah Laut Kalimantan Selatan? Agropolitan mengacu pada materi yang ada pada rumusan masalah yaitu
Bagaimana konsep pengembangan kawasan agropolitan Kabupaten karakteristik kawasanagropolitan di Kabupaten Tanah Laut, sistem
Tanah Laut Kalimantan Selatan? agropolitan di Kabupaten Tanah Laut dan arahan pengembangan pada
Bagaimana rencana pengembangan kawasan agropolitan Kabupaten kawasan agropolitan Kabupaten Tanah Laut
Tanah Laut Kalimantan Selatan?
Dalam penyusunan Masterplan Kawasan Agropolitan terdapat dasar
hukum beserta kedudukan dari dokumen tersebut, berikut merupakan
Identifikasi kondisi eksisting fisik dasar dan fisik binaan kawasan dasar hukum beserta kedudukan dokumen terkait
agropolitan Kabupaten Tanah Laut Kalimantan Selatan
Penetapan konsep pengembangan kawasan agropolitan Kabupaten Berikut merupakan landasan hukum yang digunakan dalam penyusunan
Tanah Laut Kalimantan Selatan Masterplan Kawasan Agropolitan.
Menyusun rencana pengembangan kawasan agropolitan Kabupaten Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang
Tanah Laut Kalimantan Selatan Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang
Penyelenggaraan Penataan Ruang
Kabupaten Tanah Laut terletak paling selatan dari Propinsi Kalimantan Selatan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Tanah Laut
dengan ibukota Pelaihari. Secara geografis, Kabupaten Tanah Laut terletak di Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa
antara 114º 30′ 22″ – 115º 10′ 30″ BT dan 30º 30′ 3″ – 4º 10′ 30″ LS, dengan luas Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten
wilayah 3.631,35 Km² atau selitar 9,71% dari total luas wilayah Propinsi Kalimantan Tanah Laut
Selatan,
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 25 Tahun
2014 Tentang Pemberian Fasilitas Dan Insentif Usaha
Hortikultura.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 47 Tahun
2015 Tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor
43 Tahun 2014 Tentang Peraturan Pelaksanaan Undnag-
Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 2014
Tentang Perkebunan
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2012
Tentang Pangan
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2013
Tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 17 Tahun
2015 Tentang Ketahanan Pangan dan Gizi
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 69 Tahun
2014 Tentang Hak Guna Air
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2014
Tentang Perubahan atas Undang-Undang No. 18 Tahun 2009
Tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan
Sistematika pembahansan dalam penyusunan Masterplan Kawasan Agropolitan
Kabupaten Tanah Laut akan dilakukan dengan kerangka laporan sebagai berikut.
BAB I PENDAHULUAN Kawasan agropolitan adalah kawasan yang terdiri atas satu atau lebih
Bab I berisikan tentang latar belakang,identifikasi masalah, rumusan masalah, pusat kegiatan pada wilayah perdesaan sebagai sistem produksi pertanian
tujuan, ruang lingkup yang meliputi ruang lingkup wilayah dan ruang lingkup materi, dan pengelolaan sumber daya alam tertentu yang ditunjukkan oleh adanya
dasar hukum dan kedudukan rencana tata ruang kawasan, serta sistematika keterkaitan fungsional dan hierarki keruangan satuan sistem permukiman
pembahasan untuk perancanaan pengembangan kawasan agropolitan Kabupaten dan sistem agrobisnis.
Tanah Laut. Berdasarkan pasal 51 ayat 2, rencana tata ruang kawasan agropolitan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA memuat:
Berisi tentang teori yang digunakan dalam penyusunan kawasan agropolitan serta tujuan, kebijakan, dan strategi penataan ruang kawasan
tinjauan kebuijakan dari kebijakan nasional hingga kebijakan kabupaten, yang agropolitan;
digunakan dalam analisis penyusunan kawasan agropolitan. rencana struktur ruang kawasan agropolitan yang meliputi
BAB III METODOLOGI PENELITIAN sistem pusat kegiatan dan sistem jaringan prasarana kawasan
Berisi tentang metode yang digunakan dalam pengumpulan data yang berupa survei agropolitan
primer, survei sekunder serta metode analisis yang digunakan dalam analisis rencana pola ruang kawasan agropolitan yang meliputi kawasan
penysusunan kawasan agropolitan Kabupaten Tanah Laut. lindung dan kawasan budi daya;
BAB IV GAMBARAN UMUM WILAYAH arahan pemanfaatan ruang kawasan agropolitan yang berisi
Berisi tentang gambaran umum wilayah studi yaitu gambaran umum Provinsi indikasi program utama yang bersifat interdependen antardesa;
Kalimantan Selatan serta Kabupaten Tanah Laut yang meliputi karakteristik fisik dan
dasar, karakterisitik fisik binaan, karakteristik kependudukan serta karateristik ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang kawasan
prasarana wilayah. agropolitan yang berisi arahan peraturan zonasi kawasan
BAB V ORGANISASI PELAKSANAAN agropolitan, arahan ketentuan perizinan, arahan ketentuan
Berisi tentang struktur organisasi penyusunan Masterplan Kawasan Agropolitan insentif dan disinsentif, serta arahan sanksi.
Kabupaten Tanah laut, jadwal kegiatan survei serta jadwal kegiatan penyusunan
Masterplan Agropolitan Kabupaten Tanah Laut.
Kawasan Agropolitan, yang meliputi kecamatan pelaihari, bajuin, Panyipatan dan Batu Berdasarkan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 pasal 1 ayat 24 tentang Penataan
Ampar 52.060Ha. Fungsi dari kawasan ini adalah mempercepat terciptanya kawasan Ruang Kawasan agropolitan adalah kawasan yang terdiri dari satu atau lebih pusat
pengembangan pertanian berbasis agribisnis dan meningkatkan kemampuan Pemerintah kegiatan pada wilayah pedesaan sebagai sistem produksi pertanian dan pengelolaan
Daerah dalam menyelenggarakan pembangunan di kawasan agropolitas terutama dalam sumber daya alam tertentu yang ditunjukkan oleh adanya keterkaitan fungsional dan
penanganan infrastruktur kawasan dan pengembangan budidaya dan pasca produksi. hirarki keruangan satuan sistem permukiman dan sistem agribisnis

Kawasan agropolitan menurut “Pedoman Pengelolaan Ruang Kawasan Sentra Produksi


Pangan Nasional dan Daerah (Agropolitan)” memiliki ciri-ciri khusus agar bisa menjadi
Sektor pertanian ataupun agro-industri di wilayah Kabupaten Tanah Laut memiliki peran kawasan agropolitan sebagai berikut :
strategis dalam pembangunan daerah, baik sebagai penyedia bahan pangan maupun Kegiatan sebagian besar masyarakat dikawasan tersebut didominasi oleh
sebagai sumber pendapatan dan lapangan pekerjaan. Kabupaten Tanah Laut mempunyai kegiatan pertanian atau agribisnis, termasuk didalamnya usaha industri
basis kegiatan pertanian yang cukup beragam yang memberikan peluang pengembangan (pengolahan) pertanian, perdagangan hasil-hasil pertanian (termasuk
yang cukup luas bagi komoditi pertanian. Berbagai usaha pertanian pada subsektor perdagangan untuk kegiatan ekspor), perdagangan agribisnis hulu (sarana
tanaman pangan dan hortikultura, perkebunan, peternakan, dan perikanan laut baik pada pertanian dan permodalan), agrowisata dan jasa pelayanan.
aspek produksi, pengolahan hasil maupun pemasaran memiliki potensi besar sebagai Adanya keterkaitan antara kota dengan desa (urban-rural linkages) yang
sumber percepatan pertumbuhan ekonomi daerah. bersifat interdependensi/timbal balik dan saling membutuhkan, dimana
kawasan pertanian di perdesaan mengembangkan usaha budi daya (on farm)
Secara mikro adalah mengembangkan ekonomi rakyat dalam kaitan dengan dan produk olahan skala rumah tangga (off farm), sebaliknya kota menyediakan
penanggulangan kemiskinan dan peningkatan pendapatan rumah tangga fasilitas untuk berkembangnya usaha budi daya dan agribisnis seperti
pelaku usaha berbasis pertanian melalui kesempatan berusaha dan penyediaan sarana pertanian antara lain: modal, teknologi, informasi, peralatan
kesempatan kerja. pertanian dan lain sebagainya.
Secara makro adalah mendorong peningkatan pertumbuhan ekonomi daerah Kehidupan masyarakat di kawasan agropolitan sama dengan kehidupan di
melalui pengembangan agroindustri pedesaan untuk peningkatan nilai tambah kawasan perkotaan dikarenakan prasarana dan infrastruktur yang ada di
produk pertanian yang dihasilkan. kawasan agropolitan diusahakan tidak jauh berbeda.
Mengembangkan pertanian berkelanjutan.
Subsistem agribisnis hulu (up-stream agribussiness) merupakan industri-
industri yang dapat menghasilkan barang modal pada sektor pertanian
Menurut “Pedoman Pengelolaan Ruang Kawasan Sentra Produksi Pangan
berupa industri pembenihan atau pembibitan, industri agrokimia, industri
Nasional dan Daerah (Agropolitan)” suatu wilayah dikembangkan menjadi
agro otomotif serta pendukungnya
kawasan agropolitan harus dapat memenuhi persyaratan sebagai berikut :
Subsistem usaha tani (on farm agribussiness) merupakan kegiatan
Memiliki sumberdaya lahan dengan agroklimat yang sesuai untuk
menggunakan barang modal dan sumber daya alam untuk menghasilkan
mengembangkan komoditi pertanian khususnya pangan, yang dapat
komoditas primer
dipasarkan atau telah mempunyai pasar (selanjutnya disebut komoditi
Subsistem pengolahan (down-stream agribussiness) merupakan industri
unggulan).
yang mengolah komoditas pertanian primer menjadi produk olahan seperti
Memiliki sumberdaya manusia yang mau dan berpotensi untuk
produk antara (intermediate product) atau produk akhir (finished product)
mengembangkan kawasan sentra produksi pangan (agropolitan)
Subsistem pemasaran merupakan kegiatan untuk memperlancar pemasaran
secara mandiri.
komoditas pertanian seperti kegiatan distribusi, promosi, ketersediaan
Memiliki prasarana dan infrastruktur yang memadai untuk mendukung
informasi pasar, kebijakan perdagangan dan struktur pasar
pengembangan sistem dan usaha agribisnis khususnya pangan,
Subsistem jasa dan penunjang merupakan penyedia jasa seperti pelayanan
seperti misalnya: jalan, sarana irigasi/pengairan, sumber air baku,
umum dan failitas sosisal, kelembagaan, perkreditan dan asuransi,,
pasar, terminal, jaringan telekomunikasi, fasilitas perbankan, pusat
penelitian dan pengembangan, pendidikan dan penyuluhan serta kebijakan
informasi pengembangan agribisnis, sarana produksi pengolahan
pemerintah yang dapat mennjang subsistem agribisnis hulu, subsistem
hasil pertanian, dan fasilitas umum serta fasilitas sosial lainnya.
usaha tani, subsistem pengolahan dan subsistem pemasaran (Sitorus, 2010)

Sistem kawasan agropolitan meruoajan sistem yang memilii keterkaitan antara


beberapa subsistem yang meliputi subsistem penyediaan alat sistem pertanian
(pra on farm), subsistem usaha tani (on farm), susbsistem pengolahan (agro
process) dan subsistem pemasaran (market) (Azhari, 2015)

Agribisnis memiliki beberapa subsistem agribisnis yang dapat dijelaskan


sebagai berikut.
Sentra pertanian
Sentra pertanian merupakan kawasan yang memiliki ciri tertentu berupa
kegiatan produksi yang ditunjang oleh sarana dan prasarana dalam
mengembangkan produk pertanian.
Kawasan pertanian
Kawasan pertanian merupakan gabungan dari sentra-sentra pertanian
yang saling terkait, kawasan pertanian memiliki kriteria sebagai berikut
seperti kontribusi produksi terhadap pembentukan produksi nasional,
mendapatkan fasilitas APBN, APBD Provinsi, Kabupaten atau Kota dan
mengembangkan 40 komoditas unggulan nasional sesuai dengan Renstra
Kementan

Tanaman pangan memiliki komoditas seperti padi, jagung dan ubi kayu
minimal 5.000 hektar, kedelai minimal 2.000 hektar, kacang tanah
minimal 1.000 hektar serta kacang hijau dan ubi jalar minimal 500
hektar.
Holtikultura memiliki komoditas seperti tanaman buah, sayuran, tanaman
obat dan tanaman hias.
Perkebunan memiliki komoditas tanaman tahunan, tanaman semusim dan
tanaman rempah dan penyegar.
Peternakan, kawasan peternakan memiliki lahan padang penggembalaan
atau hijauan makanan ternak serta dapat dikembangkan dengan pola
integrasi ternak perkebunan, ternak tanaman pangan, ternak holtikultura.
Penetapan pusat agropolitan
Sumber pembiayaan pengembangan kawasan dari pemerintahan dapat berasal Penetapan unit-unit kawasa pengembangan
dari APBN, APBD Provinsi dan APBD Kabupaten/Kota. Penetapan sektor unggulan yang merupakan sektor unggulan yang sudah
berkembang dan didukung oleh sektor hilirnya. Serta kegiatan agribisnis
Pola pengembangan kawasan eksisting yang banyak melibatkan pelaku dan masyarakat yang paling besar (sesuai
Pola pengembangan kawasan eksisting ditujukan bagi kawasan pertanian dengan kearifan lokal) dan mempunyai skala ekonomi yang memungkinkan
yang sudah ada dan berkembang, memperluas skala produksi, melengkapi untuk dikembangkan dengan orientasi ekspor.
simpul-simpul agribsnis yang belum berfungsi secara optimal. Luasan Dukungan sistem infrastruktur yang membentuk struktur ruang yang
kawasan dapat bertambah sesuai dengan daya dukung. Kawasan yang telah mendukung pengembangan kawasan agropolitan diantaranya : jaringan
berkembang mandiri diharapkan dapat memberikan trickle down effect jalan, irigasi, sumber-sumber air, dan jaringan utilitas (listrik dan
Pola pengembangan kawasan baru telekomunikasi).
Pola pegembangan kawasan baru ditujukan untuk kawasan komoditas Dukungan sistem kelembagaan pengelola pengembangan kawasan
unggulan pada wilayah baru atau wilayah yang berpotensi untuk agropolitan yang merupakan bagian dari Pemerintah Daerah dengan
dikembangkan. Berdasarkan pendekatan pengembangan kawasan yaitu fasilitasi Pemerintah Pusat dan pengembangan sistem kelembagaan
dapat memperluas skala dan mengadakan kegiatan yang belum terlaksana insentif dan disinsentif pengembangan kawasan agropolitan.
dan membangun kawasan baru di kawasan yang memiliki potensi secara
bertahap sehingga dapat berkembang untuk mencapai skala minimum Hubungan agribisnis dan agropolitan terjadi seiring dengan berkembangnya
kawasan. teknologi pada kegiatan pertanian. Jadi seiring dengan berjalannya waktu, terjadi
spesialisasi fungsional dalam kegiatan pertanian meliputi seluruh kegiatan usaha
Konsep penataan ruang kegiatan pertanian merupakan suatu konsep gambaran yang berhubungan langsung maupun tidak langsung dengan pertanian dan
sistem pusat kegiatan kawasan dan jaringan prasarana yang dikembangkan keseluruhannya yang disebut “Sistem Agribisnis”.
saling terintegrasi antar kawasan lainnya untuk melayani kegiatan pertanian
dalam arti luas, baik tanaman pangan, perikanan, perkebunan, kehutanan,
maupun peternakan. Berikut merupakan konsep penetapan struktur kawasan
agropolitan agar saling terintegrasi yaitu.
Berdasarkan Dinas PU 2002, dalam Pedoman Pengelolaan Ruang Kawasan
Agribisnis memiliki ruang lingkup yang mencakup semua kegiatan pertanian yang Sentra Produksi Pangan Nasional dan Daerah (Agropolitan)
dimulai dengan pengadaan penyaluran sarana produksi (the manufacture and
distribution of farm supplies), produksi usaha tani (Production on the farm) dan Pada sub sistem hulu mencakup kegiatan ekonomi industri yang menghasilkan
pemasaran (marketing) produk usaha tani ataupun olahannya. Jika terjadi sarana produksi seperti pembibitan ternak, usaha industri pakan, industri pupuk
masalah pada salah satu kegiatan maka berpengaruh terhadap kelancaran dan kegiatan lainnya. Jalan penghubung antar desa-kota, Gudang penyimpanan
seluruh kegiatan dalam bisnis. Berikut merupakan diagaram kegiatan agribisnis Saprotan (sarana produksi pertanian), Tempat bongkar muat Saprotan
digambarkan sebagai satu sistem yang terdiri dari tiga subsistem, serta
tambahan satu subsistem lembaga penunjang. Pada sub sistem on farm atau usaha tani merupakan kegiatan ekonomi yang
selama ini disebut budidaya usaha tani yang menggunakan sarana produksi
usaha tani untuk menghasilkan produksi. Jalan usaha tani (farm road) dari desa
Konsep pendekatan agropolitan dalam pembangunan sector pertanian muncul pusat ke desa hinterland maupun antar desa hinterland yang menjadi pemasok
akibat adanya permasalahan ketimpangan pembangunan wilayah antara kota hasil pertanian, Penyediaan sarana air baku melalui pembuatan sarana irigasi
sebagai pusat kegiatan dan pertumbuhan ekonomi dengan wilayah pedesaan untuk mengairi dan menyirami lahan pertanian. Sub terminal pengumpul pada
sebagai pusat kegiatan pertanian yang tertinggal. Dalam pengembangan desa-desa yang menjadi hinterland
agropolitan, terdapat tiga isu utama yang perlu mendapatkan perhatian
terutama pada pembangunan sector pertanian, yaitu. Gudang penyimpanan hasil pertanian, termasuk didalamnya sarana
Akses terhadap lahan pertanian dan air. pengawetan/penadinginan (cold storage). Sarana pengolahan hasil pertanian
Devolusi politik dan wewenang administrative dari tingkat pusat ke seperti tempat penggilingan, tempat pengemasan, rumah potong hewan, tempat
tingkat local. pencucian dan sortir hasil pertanian, sarana industri-industri rumah tangga
Perubahan paradigm atau kebijakan pembangunan nasional untuk lebih termasuk food service, seperti pembuatan kripik, dodol, jus, bubuk/tepung,
mendukung diversifikasi produk pertanian. produk segar supermarket, aero catering, dan lain-lain. Sarana penunjang
Pengembangan kawasan agropolitan dan agribisnis diharapkan dapat seperti pembangkit listrik/generator listrik, telepon, sarana air bersih untuk
mendukung terjadingan sistem kota-kota yang saling berintegrasi yang pembersihan dan pengolahan hasil pertanian, sarana pembuangan limbah
ditunjukkan dengan keterkaitan antar kota dalam bentuk pergerakan barang, industri dan sampah hasil olahan.
modal, dan manusia. Seta diperlukan adanya pengembangan infrastruktur
transportasi yang memadai, sehingga keterkaitan antar agropolitan dan pasar
dapat terlaksana.
PRESEDEN
Kawasan Agropolitan Kabupaten Donggala dalam Konteks
Pengembangan Wilayah dan Sebagai Pusat Pertumbuhan
Wilayah Baru
Kawasan Kota Agropolitan di Kabupaten Donggala mempunyai keunggualan
sebagai kawasan yang menjadi pusat pertumbuhan wilayah. Komditi
unggulan yang terdapat di kawasan agropolitan Kabupaten Donggala
adalah tanaman kakao yang menjadi komoditas unggulan serta komoditas
ekspor melalui jalur perdagangan selat Makassar.
Program pengembangan yang digunakan dalam pengembangan kawasan
agropolitan Kabupaten Donggala yaitu mengembangkan kelembagaan
usaha ekonomi petani di on-farm dan off-farm yang efektif, efisien dan
berdaya saing, menumbuhkan saran dan prasarana umum dan sosial yang
melancarkan usaha ekonomi masyarakat, dan menciptakan iklim usaha
ekonomi yang mampu mendorong pertumbuhan dan perkembangan usaha
masyarakat pada kawasan agropolitan tersebut.
Strategi pengembangan kawasan Agropolitan Kabupaten Donggala
dilakukan dalam bentuk kebijaksanaan dan pengembangan program serta
investasi yang relatif lebih besar dibandingkan dengan kawasan perdesaan
lain dengan tumpuan membangun infrastruktrur dasar dan fasilitas
penunjang
Metode Pengumpulan Data
DIAGRAM ALIR Metode yang digunakan untuk penentuan sampel studi ini adalah
metode slovin. Penentuan jumlah sampel dengan rumus:
𝑛 = N/(1+N(e2))
Keterangan :
n = Jumlah Sampel
N = Jumlah Populasi
e = batas kesalahan toleransi
Survei Sekunder
Survei primer merupakan salah satu metode pengumpulan data yang dilakukan dengan
mengumpulkan data secara langsung dari sumber data dan data yang didapat bukan
merupakan data hasil olahan dari pihak lain. Data juga dapat diperoleh dengan cara
pengamatan atau observasi terhadap obyek di lapangan.
Wawancara
Observasi Lapang
Pengumpulan data melalui survei lapang yaitu melihat secara langsung lokasi studi
mengenai:
Kondisi fisik kawasan di wilayah studi.
Kondisi pertanian, untuk mengetahui kondisi pertanian.
Survei Sekunder
Survei sekunder merupakan metode pengumpulan data yang melalui pihak lain
atau data yang didapat merupakan hasil olahan pihak lain. Data diperoleh dari
instansi atau pihak terkait serta literature-literature yang memiliki hubungan
dengan hal yang akan dikaji.
Analisis LQ Analisis Akar Masalah dan Akar Tujuan
Analisis Location Quotient (LQ) merupakan analisis yang digunakan untuk
akar masalah
megetahui potensi dari wilayah studi terkait dengan kekayaan sumber daya yang Analisis akar masalah dilakukan untuk mengetahui akar masalah dari suatu
ada di wilayah tersebut. Analisis LQ merupakan salah satu pendekatan yang masalah yang ada di Kabupaten Tanah Laut dengan cara melibatkan partisipasi
umum untuk digunakan dalam permodelan ekonomi basis yang berguna untuk masyarakat setempat Berikut merupakan tahapan pembuatan tahapan
mengetahui sektor kegiatan yang menjadi sektor utama pertumbuhan. pembuatan analisis akar masalah:
Mengidentifikasi masalah utama
Analisis Growth Share Mengidentifikasi penyebab masalah diperoleh dari pemaparan pendapat
Analisis Analisis growth share berfungsi untuk mengetahui nilai produksi suatu Mengelompokkan sebab-sebab tersebut
komoditas di wilayah tertentu, dengan menggunakan analisis growth share maka Mengidentifikasikan tingkatan penyebab berada pada level I, level II dan
dapat diketahui besarnya potensi komoditas dan besaran kontribusi yang akan III
di ketahui tingkat penurunan atau peningkatannya. Menentukan tujuan dan harapan
Analisis Tipologi Klasen Memprioritaskan penyebab yang paling mendesak
Analisis klasen merupakan metode analisis yang berfungsi untuk memperoleh Memprioritaskan harapan yang paling efektif, mudah dan realistis untuk
gambaran umum terkait pola dan struktur pertumbuhan ekonomi masing-masing dicapai
daerah. Alat analisis Tipologi klasen merupakan gabungan dari analisis Location Menyusun rencana kegiatan dengan metode 5W dan 1H
Quotient (LQ) dengan Model rasio pertumbuhan (MRP). Tipologi klasen dapat akar tujuan
digunakan dengan dua pendekatan, yaitu sektorean maupun daerha. Data yang Analisis akar tujuan merupakan suatu teknik analisis yang digunakan untuk
digunakan dalam analisis ini adalah data terkait Pendapatan Domestik Regional menyususn rencana untuk penyelesaian permasalahan terkait. Analisis ini juga
Bruto (PDRB). memberikan gambaran masalah yang dihadapi dan tujuan yang akan dicapai
serta tahapan yang harus ditempuh untuk mencapai suatu tujuan yang
diharapkan.
Linkage system merupakan aliran-aliran produksi yang potensial sehingga dengan
linkage system dapat mengetahui permasalahan dan posisi potensial suatu daerah
Analisis Matrik analisis pengembangan ini digunakan pengembangan sistem terhadap luar wilayah sehingga dapat memberikan dasar untuk memunculkan
agrobisnis hulu yang langsung mengacu pada komoditi unggulan di wilayah studi. aliran, baik luar wilayah maupun luar daerah namun masih dalam satu wilayah.
Penyusunan matriks ini berdasarkan hasil dari analisis subsistem agrobisnis hulu Linkage system ini dapat berupa keterkaitan antara kegiatan hulu dan hilir.
secara keseluruhan, hasil analisis kemampuan lahan dan ketersediaan lahan.
Analisis ini menjelaskan mengenai kebutuhan dan kondisi fisik serta kondisi
Matrik analisis pengembangan ini digunakan pengembangan sistem agrobisnis
hulu yang langsung mengacu pada komoditi unggulan di wilayah studi. Penyusunan faktor-faktor lain yang berpengaruh terhadap peran dari ketersediaan
matriks ini menganalisis kegiatan yang menggunakan barang-barang modal dan sarana – prasarana ini untuk menunjang subsistem Agribisnis Hulu,
sumberdaya alam untuk menghasilkan komoditas pertanian primer. subsistem pertanian primer serta subsistem hilir.

Matriks ini menganalisis subsistem jasa yang menyediakan jasa bagi subsistem Penentuan kemampuan lahan terutama dilakukan untuk perencanaan ruang
agribisnis hulu, subsistem usahatani dan subsistem agribisnis hilir. Termasuk ke atau alokasi pemanfaatan ruang. Dalam Peraturan Menteri no 17 tahun
dalam subsistem ini adalah penelitian dan pengembangan, perkreditan dan 2009
asuransi, transportasi, pendidikan, pelatihan dan penyuluhan, sistem informasi
dan dukungan kebijaksanaan pemerintah (mikro ekonomi, tata ruang, makro Analisis kesesuaian lahan dilakukan untuk membandingkan penggunaan lahan yang
ekonomi. ada dengan hasil analisis kemampuan lahan yang didapat dari hasil survey.

Matrik analisis pengembangan ini digunakan pengembangan sistem agro output


yang langsung mengacu pada komoditi unggulan di wilayah studi. Penyusunan
matriks ini menganalisis jumlah produksi dan tujuan pemasaran dari komoditas
unggulan di wilayah studi.
Analisis SWOT-IFAS EFAS Analisis Partisipatif/Kelembagaan
analisis SWOT Tujuan analisis partisipatif yaitu memperoleh gambaran mengenai semua
Analisis SWOT merupakan analisis yang menginterpretasikan wilayah perencanaan dalam lembaga dan kelompok yang berperan di Kabupaten Tanah Laut, menyelidiki
kondisi yang sangat kompleks dimana peranan faktor eksternal dan internal sangat penting. kepentingan atau prioritas pihak-pihak tersebut, meneliti kekhawatiran atau
Berikut merupakan alternative penggunaan analisis SWOT yang didasarkan dari kombinasi konflik antara kelompok yang berbeda serta memberikan wawasan terhadap
masing-masing aspek, yaitu. semua potensi dan kelemahan yang dimiliki setiap kelompok, serta menelaah
SO : memanfaatkan kekuatan (S) secara maksimal untuk meraih peluang (O). konsekuensi dan implikasi yang perlu dipertimbangkan dalam perencanaan.
ST : memanfaatkankekuatan (S) secara maksimal untuk mengantisipasi atau . Tahapan-tahapan yang diperlukan untuk untuk pembuatan analisis
menghadapi ancaman (T) dan berusaha maksimal menjadikan ancaman sebagai partisipatif yaitu.
peluang. 1. Menuliskan semua nama kelompok yang berkepentingan yang dianggap
WO : meminimalkan kelemahan (W) untuk meraih peluang (O). berpengaruh atau dapat dipengaruhi oleh masalah-masalah
WT : meminimalkan kelemahan (W) untuk menghindari secara lebih baik dari ancaman pembangunan.
(T). 2. Masukkan kepentingan, harapan, kekhawatiran, kelemahan yang dimiliki
analisis IFAS-EFAS atau hambatan yang dialami ke dalam “ Format Matriks Analisis
Analisis matriks EFAS-IFAS merupakan analisis yang digunakan untuk mengetahui faktor- Partisipatif”.
faktor internal maupun eksternal dari data yang telah didapatkan sebelumnya. 3. Melakukan analisis terhadap kelompok-kelompok tersebut apakah mereka
Analisis Matriks EFAS terdiri dari sub-sub unit yang homogen dengan masalah atau memiliki
Analisis matriks EFAS adalah matriks yang menunjukkan faktor-faktor eksternal yang kepentingan yang khas.
dinilai dapat mempengaruhi kinerja suatu organisasi yang ada dalam desa. Faktor
eksternal yang mempengaruhi adalah peluang dan ancaman karena berasal dari luar.
Analisis Matriks IFAS
Analisis matriks IFAS adalah matriks yang menunjukkan faktor-faktor internal yang
dinilai dapat mempengaruni kinerja suatu organisasi. Faktor internal yang
mempengaruhi adalah kekuatan dan kelemahan karena berasal dari individu masing-
masing. Bobot masing-masing faktor diisi dengan mempertimbangkan seberapa penting
faktor tersebut dalam menunjang keberhasilan suatu program (masing-masing faktor
diberi bobot hingga bobot = 1). Setelah menghitung pembobotan pada analisis EFAS–
IFAS, maka hasil pembobotannya dimasukkan ke dalam matriks analisis EFAS–IFAS.
Metode
Data yang
No. Tujuan Variabel Sub Variabel Sumber Data Instansi Pengumpul Metode Analisis Output
Diperlukan
an Data
1 Mengidentifikasi Fisik Dasar  Kondisi  Batas  Kalimantan  Bappeda Survei  Analisis deskriptif Identifikasi
kondisi eksisting geografis administrasi Selatan  BPS sekunder - Identifikasi kondisi eksisting
fisik dasar dan  Kondisi  Luas wilayah Dalam Angka geografi eksisting fisik
fisik binaan Topografi Kabupaten 2015 - Identifikasi dasar dan fisik
kawasan  Kondisi Tanah Laut  Tanah Laut topografi binaan kawasan
agropilitan Klimatologi  Guna lahan Dalam Angka - Identifikasi agropilitan
Kabupaten Tanah  Kondisi Kabupaten 2015 klimatologi Kabupaten Tanah
Laut, Kalimantan Hidrologi Tanah Laut  RTRW - Identifikasi Laut, Kalimantan
Selatan  Kondisi  Kelerengan Kabupaten hidrologi Selatan
Geologi wilayah Tanah Laut - Identifikasi
 Ketinggian 2009-2029 geologi
wilayah  RTRW  Analisis evaluatif
 Intensitas hujan Provinsi - Analsisis
 Data iklim Kalimantan kemampuan lahan
 Data sumber Selatan 2015- - Analisis akar
mata air 2035 masalah
 Data sungai
 Jenis Tanah

Fisik binaan Kondisi tata  Jenis  RTRW  Bappeda Survei  Analisis deskriptif
guna Lahan penggunana Kabupaten  Dinas sekunder - Identifikasi guna
lahan Tanah Laut Pertanian lahan
 Luas guna lahan 2009-2029  BPS  Analisis evaluatif
terbangun dan  RTRW - Analisis
tidak terbangun Provinsi kesesuaian lahan
 Lokasi dan luas Kalimantan - Analisis akar
LP2B Selatan masalah
Tahun 2015-
2035
 Kalimantan
Selatan
Dalam
Angka 2015
 Tanah Laut
Dalam
Angka 2015
 Dokumen
Lahan
Metode
Data yang
No. Tujuan Variabel Sub Variabel Sumber Data Instansi Pengumpul Metode Analisis Output
Diperlukan
an Data
Pangan
Berkelanjuta
n
Persebaran  Jumlah dan Tanah Laut Bappeda  Survei  Analisis deksriptif
sarana dan kondisi terminal Dalam Angka primer - Identifikasi
prasarana agribisnis 2015  Survei persebaran
 Jumlah dan sekunder sarana
kondisi pasar, - Identifikasi
koperasi dan persebaran
KUD prasarana
 Kondisi,  Analisis evaluatif
panjang dan - Analisis
perkerasan kebutuhan
jaringan jalan prasarana
 Kondisi dan luas - Analisis
jaringan irigasi kebutuhan
 Kondisi jaringan sarana
energi - Analisis akar
 Kondisi jaringan masalah
air bersih
 Kondisi jaringan
telekomunikasi

Kondisi  PDRB Tanah Laut Bappeda Survei  Analisis tipologi


ekonomi Kabupaten Dalam Angka sekunder klassen
Tanah Laut 2015  LQ
 Luas lahan per  Analisis growth
sektor pertanian share
 Jumlah produksi  Identifikasi kondisi
sektor pertanian perekonomian
 Analisis akar
masalah
Kondisi Kelembagaan  Hubungan antar Tanah Laut Bappeda  Survei  Analisis diagram
sosial dan lembaga Dalam Angka primer venn
budaya 2015
Metode
Data yang
No. Tujuan Variabel Sub Variabel Sumber Data Instansi Pengumpul Metode Analisis Output
Diperlukan
an Data
 Jumlah  Survei  Identifikasi kondisi
kelembagaan sekunder kelembagaan
 Peran dan fungsi  Analisis akar
kelembagaan masalah
Kependudukan  Jumlah Tanah Laut Bappeda  Survei  Identifikasi kondisi
penduduk Dalam Angka primer kependudukan
 Jenis mata 2015  Survei  Analisis akar
pencaharian sekunder masalah
 Jumlah
penduduk
angkatan kerja
 Kepadatan
penduduk
2 Merumuskan Kebijakan Kebijakan  Kebijakan Survei  Identifikasi Penetapan konsep
konsep agropolitan pengembangan pengembangan sekunder kebijakan terkait pengembangan
pengembangan kawasan terkait dengan  Content analysis kawasan
kawasan agropolitan fungsi kawasan  Analisis akar agropolitan,
agropolitan sebagai kawasan masalah Kabupaten Tanah
Kabupaten Tanah agropolitan Laut, Kalimantan
Laut Struktur ruang  Agropolitan RTRW Bappeda  Survei  Analisis struktur Selatan
centre Kabupaten primer ruang
 Agropolitan Tanah Laut  Survei  Analisis akar
district 2009-2029 sekunder masalah
 Agropolitan
linkage
Pola ruang  Kawasan lindung RTRW Bappeda  Survei  Analisis kemampuan
 Kawasan Kabupaten primer dan kesesuaian lahan
budidaya Tanah Laut  Survei  Analisis akar
 Kawasan 2009-2029 sekunder masalah
peruntukan
pengembangan
Kawasan
Agropolitan
Produktivitas Komoditas  Harga tiap  Tanah Laut  Survei  Analisis LQ
unggulan komoditas Dalam Angka primer  Analisis growth
 Pemasaran 2015  Survei share
komodias  Kalimamtan sekunder  Analisis tipologi
 Hasil produksi Selatan klassen
Kabupaten Tanah Dalam Angka  Analisis akar
Laut 2015 masalah
Metode
Data yang
No. Tujuan Variabel Sub Variabel Sumber Data Instansi Pengumpul Metode Analisis Output
Diperlukan
an Data
 Hasil produksi
Provinsi
Kalimantan
Selatan
 Luas lahan
 Potensi dan
masalah
Subsistem Subsistem  Sumber modal  Survei  Analisis subsistem
agropolitan hulu  Ketersediaan dan primer hulu
kebutuhan bahan  Survei  Analisis akar
baku sekunder masalah
 Ketersediaan dan
kebutuhan
teknologi
pertanian
 Ketersediaan
sarana dan
prasarana
 Ketersediaan
lahan
 Sumber daya
manusia
 Subsistem  Ketersediaan  Survei  Analisis subsistem
on farm lahan pertanian primer on farm
 Subsistem  Sumber daya  Survei  Analisis subsistem
off farm manusia sekunder off farm
 Ketersediaan dan  Analisis akar
kebutuhan masalah
teknologi
pertanian
 Sumber modal
 Sarana dan
prasarana
penunjang proses
produksi
Subsistem hilir  Pengelolaan  Survei  Analisis subsistem
produk primer hilir
 Jumlah produksi  Survei  Analisis akar
 Harga produksi sekunder masalah
Metode
Data yang
No. Tujuan Variabel Sub Variabel Sumber Data Instansi Pengumpul Metode Analisis Output
Diperlukan
an Data
 Pemasaran
produk
 Ketersediaan
sarana dan
prasarana
Analisis  Aksesibiltas  Survei  Analisis subsistem
subsistem  Sarana primer pemasaran
pemasaran pemasaran  Survei  Analisis akar
 Informasi pasar sekunder masalah
Analisis  Ketersediaan  Survei  Analsisis subsistem
subsistem kelembagaan primer penunjang
penunjang   Survei  Analisis akar
sekunder masalah
3 Menyusun rencana Rencana  Rencana sub  Hasil analisa - -  Survei  Analisis akar Rencana
pengembangan sistem sistem hulu subsistem primer masalah pengembangan
kawasan agropolitan  Rencana agroinput  Survei  Analisis akar tujuan kawasan
agropolitan subsistem on  Hasil analisa sekunder  SWOT agropolitan
Kabupaten Tanah farm dan off subsistem on Kabupaten Tanah
Laut farm farm dan off Laut, Kalimantan
 Rencana farm Selatan
subsistem  Hasil analisa
hilir subsistem hilir
 Rencana  Hasil analisa
subsistem subsistem
pemasaran pemasaran
 Rencana  Hasil analisa
subsistem subsistem
penunjang penunjang
Rencana  Agropolitan  Hasil analisa - -  Survei  Content analysis
strukur centre struktur ruang primer  Analisis linkage
ruang  Agropolitan agropolitan  Survei system
agropolitan district sekunder  Analisis akar tujuan
 Agropolitan
linkage
Rencana Rencana  Hasil analisa - -  Survei  Content analysis
zonasi zonasi kemampuan lahan primer  Analisis linkage
wilayah pertanian  Hasil analisa  Survei system
agropolitan sebagai kesesuaian lahan sekunder  Analisis keterkaitan
kawasan hulu dan hilir
agribisnis  Analisis SWOT
Metode
Data yang
No. Tujuan Variabel Sub Variabel Sumber Data Instansi Pengumpul Metode Analisis Output
Diperlukan
an Data
 Tingkat  Analisis force field
kebutuhan lahan analysis
pertanian  Analisis akar tujuan
Rencana Jaringan Hasil analisa - -  Survei  Content analysis
penunjang sarana dan kebitihn sarana dan primer  Analisis linkage
sistem prasarana prasarana kawasan  Survei system
agropolitan agropolitan agropolitan sekunder  Analisis keterkaitan
hulu dan hilir
 Analisis SWOT
 Analisis forced field
analysis
 Analisis akar tujuan
Rencana  Rencana  Peruntukan - -  Survei  Content analysis
pemanfaatan mekanisme kawasan primer  Analisis SWOT
dan instrumen pertanian  Survei  Analisis forced field
pengendalian  Rencana  Rencana struktur sekunder analysis
kelembagaan ruang  Analisis akar tujuan
pengendalian  Rencana zonasi
 Rencana sistem
aktivitas
Topografi pada wilayah Provinsi Kalimantan Selatan memiliki kawasan
dataran rendah di bagian barat dan pantai timur, serta dataran tinggi
yang dibentuk oleh Pegunungan Meratus di tengah. Kalimantan Selatan
terdiri atas dua ciri geografi utama, yakni dataran rendah dan dataran
tinggi. Kemiringan tanah sebesar (43,05%) kemiringan tanah (0-2%).
Rincian luas menurut kemiringan adalah sebagai berikut:
a.0-2% : 1.615.630 Ha (43,05%)
b.> 2-15% : 1.192.545 Ha (31,87%)
c.> 15-40% : 713.682 Ha (19,02%)
d.> 40% : 231.195 Ha (6,16%)

Provinsi Kalimantan Selatan memiliki iklim tropis dengan besar curah


hujan rata-rata 903,5 mm/tahun serta memiliki temperatur udara
maksimun berkisar antara 33,1°C - 35°C dan temperatur udara
minimun berkisar antara 22,6°C - 23,8°C sehingga Kalimantan Selatan
Secara geografis, Kabupaten Tanah Laut terletak di antara 114º 30′ 22″ – memiliki temperatur rata-rata berkisar antara 15,6°C sampai 26,9°C.
115º 10′ 30″ BT dan 30º 30′ 3″ – 4º 10′ 30″ LS, dengan luas wilayah Sedangkan kelembaban udara rata-rata berkisar antara 77%-91% tiap
3.631,35 Km² atau selitar 9,71% dari total luas wilayah Propinsi bulan. Kelembaban udara maksimun di daerah ini berkisar antara 96%-
Kalimantan Selatan, posisi Tanah Laut sangat strategis karena 98% dan kelembaban minimun berkisar antara 35%-58%, sedangkan
berbatasan langsung dengan Banjarmasin (ibukota propinsi) dan Laut
rata-ratanya tiap bulan 60%-87%.
Jawa, serta memiliki pantai dan pelabuhan sebagai jalur distribusi
barang dari dan ke luar daerah. Adapun batas-batas wilayah Kabupaten
Tanah Laut adalah sebagai berukut :
Utara : Kota Banjarbaru
Selatan : Laut Jawa
Timur : Kabupaten Tanah Bumbu
Barat : Laut Jawa
Kondisi geologi di Provinsi Kalimantan Selatan terdiri dari 12 struktur geologi dengan Karakteristik fisik binaan meliputi penggunaan lahan. Berikut merupakan
struktur geologi tanah terbesar di Provinsi Kalimantan Selatan adalah tanah basah penggunaan lahan di Provinsi Kalimantan Selatan.
(alluvial) yaitu seluas 855.717 Ha (22,76%) sedangkan struktur geologi terkecil
berupa litasol yaitu seluas 15.291 Ha (0,40%). Penggunaan tanah di Kalimantan
Selatan sebagian besar berupa hutan (42,99%) kemudian padang semak-semak,
alang-alang, rumput (22,13%). Sekitar 11,63% lahan digunakan untuk lahan
perkebunan dan 11,35% untuk persawahan. Penggunaan lahan untuk pemukiman
hanya sekitar 1,59% dan untuk pertambangan sekitar 1,12%.

Provinsi Kalimantan Selatan memiliki potensi geografis yaitu memiliki banyak sungai
yang berpangkal di Pegunungan Meratus dan bermuara ke Laut Jawa dan Selat
Makasar. Salah satunya adalah Sungai Barito yang mempunyai cabang utama yaitu
Sungai Martapura dengan anak cabang Sungai Riam Kanan dan sungai Riam Kiwa.
Cabang kedua adalah Sungai Negara dengan anak-anak Sungai Tapin, Sungai Amandit,
Sungai Batang Alai, Sungai Balangan, Sungai Tabalong Kanan dan Sungai Tabalong Penggunaan tanah di Kalimantan Selatan sebagian besar berupa hutan (42.99
Kiwa. persen) kemudian padang semak, alang-alang, rumput (22.01 persen). Sekitar
11,76 persen lahan digunakan untuk lahan perkebunan dan 11,35 persen untuk
Sungai lainnya bermuara di Selat Makasar, antara lain : Sungai Satui, Sungai Kintap, persawahan. Penggunaan lahan untuk pemukiman hanya sekitar 1,59 persen.
Sungai Kusan, Sungai Kelumpang, dan Sungai Sampanahan. Selain itu Provinsi
Kalimantan Selatan memiliki catchment area sebanyak 10 (sepuluh) lokasi yaitu
Binuang, Tapin, Telaga Langsat, Mangkuang, Haruyan Dayak, Intangan, Kahakan, Jaro,
Batulicin dan Riam Kanan.
Menurut Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) Provinsi Kalimantan
PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) merupakan nilai tambah bruto seluruh barang
Selatan peranan wilayah perencanaan dalam ekonomi regional adalah
dan jasa yang dihasilkan oleh suatu wilayah diakibatkan oleh aktivitas ekonomi dalam
sangat besar, Ini berdasarkan keuntungan letak Pulau Kalimantan
suatu periode tertentu. PDRB yang disediakan dalam time series dapat mengetahui
Selatan yang secara geografis berada ditengah-tengah kepulauan
laju pertumbuhan ekonomi pada tiap sektor. Berikut merupakan PDRB Provinsi
Nusantara dan diapit oleh dua alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI I dan
Kalimantan Selatan Tahun 2010-2014.
II). Provinsi Kalimantan Selatan merupakan akses pintu gerbang dari
beberapa provinsi dan juga beberapa negara, juga dengan bahan
tambangnya yang cukup besar yang dibutuhkan masyarakat dunia
(khususnya batubara) cukup potensial untuk ikut dalam kancah
percaturan ekonomi dunia.

Rasio murid-kelas di Kalimantan Selatan pada tahun 2014 untuk SD, SLTP
dan SLTA masing-masing sebesar 19:27:28. Secara umum rasio tersebut
menunjukkan ketersediaan sarana kelas di Kalimantan Selatan untuk
setiap jenjang pendidikan terbilang memadai.
Sarana kesehatan sebagai tempat berobat di Kalimantan Selatan cukup
memadai. Dalam melayani kesehatan penduduk terutama di pedesaan,
ketersediaan puskesmas di Kalimantan Selatan sangat membantu.
Jumlah puskesmas yang tersebar di seluruh Kalimantan Selatan adalah
sebanyak 228 buah. Selain itu, fasilitas yang sangat penting yang harus
Berdasarkan Tabel. PDRB Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2010-2014, sektor yang tersedia adalah rumah sakit. Jumlah rumah sakit pada tahun 2014
mengalami peningkatan yang signifikan terdapat pada sektor pertambangan. Sektor mencapai 32 buah untuk seluruh kabupaten/kota di Kalimantan Selatan.
pertanian yang meliputi subsektor tanaman pangan, holtikultura, perkebunan, Dengan adanya fasilitas kesehatan tersebut yang tersebar di wilayah
peternakan serta perikanan dan sektor industri pengolahan yang dapat mendukung Kalimantan Selatan diharapkan mampu memberikan pelayanan yang baik
pengolahan barang setengah jadi atau barang jadi dari sektor pertanian sehingga bagi masyarakat.
dapat mendukung pengembangan kawasan agropolitan di Kabupaten Tanah Laut.
Jumlah penduduk yang besar menjadi salah satu modal dasar yang efektif bagi
pembangunan bila diikuti dengan kualitas baik. Data jumlah penduduk Provinsi
Kalimantan Selatan tahun 2014 menurut hasil proyeksi adalah sebanyak 3.922.790 Kabupaten Tanah Laut dengan Ibukota Kecamatan Pelaihari dibatasi:
jiwa, terdiri atas laki-laki 1.987.127 jiwa dan perempuan 1.935.663 jiwa. Sebelah Barat dan Sebelah Selatan oleh Laut Jawa, Sebelah Timur oleh
Kabupaten Tanah Bumbu dan Sebelah Utara oleh Kabupaten Banjar dan
Kota Banjarbaru. Secara letak geografis, Kabupaten Tanah Laut terletak di
antara 114o30'20'' BT – 115o23'31'' BT dan 3o30'33'' LS - 4o11'38'' LS. Luas
wilayah Kabupaten Tanah Laut adalah 3.631,35 km2 (SK. Gubernur) atau
hanya 9,71% dibandingkan dengan luas wilayah Provinsi Kalimantan
Selatan. Kabupaten Tanah Laut meliputi 11 Kecamatan. Daerah yang paling
luas adalah Kecamatan Jorong dengan luas 628,00 km2, kemudian
Kecamatan Batu Ampar seluas 548,10 km2 dan Kecamatan Kintap dengan
luas 537,00 km2, sedangkan kecamatan yang luas daerahnya paling kecil
adalah Kecamatan Kurau dengan luas hanya 127,00 km2.

Secara keseluruhan konfigurasi topografi kawasan perkotaan Pelaihari


merupakan dataran rendah yang landai sedikit berbukit. Dari segi
ketinggian tanah kawasan perkotaan Pelaihari memiliki variasi ketinggian
dari 25 meter hingga ± 90 meter dari permukaan air laut. Dari segi
kemiringan lereng, maka tanah di kawasan perkotaan Pelaihari hanya
mempunyai satu klasifikasi, yaitu 0-15%. Daerah pasang surut terdapat
dipesisir pantai sepanjang 200 Km yang merupakan hutan api-api dan
hutan bakau
Kabupaten Tanah Laut dilewati 4 (empat) sungai yaitu Sungai Kecamatan Pleihari,
Sungai Tabanio, sungai Maluka, di Kecamatan Bati‐bati, Sungai Swarangan Kecamatan
Jorong dan S. Kintap, Kecamatan Kintap.
Wilayah non genangan menempati areal seluas 68,9% yang tersebar di wilayah Utara
dan Timur, sedangkan daerah yang tergenang 26,76% dan kemungkinan tergenang
4,35% meliputi daerah Barat dan Selatan.

Jenis batuan: terdiri dari batuan endapan permukaan (Ressen, Halogen, Pilosen) serta
batuan kapur, jenis batuan kwarter sekitar 196.590 Ha
Lapisan tanah: jenis tanah di Kabupaten Tanah Laut adalah Latosol yaitu pada luasan
140.348 Ha, sedangkan Padsolik juga meneybar pada hampir 138.311 Ha, Organosal pada
luasan 33.536 Ha dan Alluvial pada 60.753 Ha.

Sektor pertanian yang meliputi subsektor tanaman pangan, holtikultura,


perkebunan, peternakan serta perikanan dan sektor industri yang dapat mendukung
pengolahan barang setengah jadi atau barang jadi dari sektor pertanian sehingga
dapat mendukung pengembangan kawasan agropolitan di Kabupaten Tanah Laut.
Berdasarkan Tabel. Jumlah produksi tanaman pangan terbanyak terdapat pada
komoditas padi sawah sebesar 2.773, komoditas ubi kayu sebesar 1.588 ton dan
komoditas jagung sebesar 1.572 ton sedangkan komoditas tersedikit terdapat
Berdasarkan Tabel. Jumlah lembaga terbanyak terdapat pada kelompok tani di pada komoditas kacang hijau sebesar 142 ton.
Kecamatan Pelaihari sebanyak 200 unit sedangkan jumlah lembaga tersedikit
terdapat pada Kecamatan Kurau sebanyak 85 unit.
Berdasarkan Tabel. Jumlah produksi subsesktor holtikultura pada jenis sayur-
sayuran terbanyak terdapat pada komoditas kacang panjang sebanyak 7.943
Ton sedangkan tersedikit terdapat pada komoditas bawang daun sebesar 2.400
Ton.
Berdasarkan Tabel. Jumlah produksi tanaman terbanyak terdapat pada
komoditas kelapa sawit sebanyak 14.383 Ton.

Berdasarkan Tabel. Jumlah produksi subsektor holtikultura pada jenis buah-


buahan terbanyak terdapat pada komoditas alpukat sebesar 70 Ton.
Berdasarkan Tabel. Jumlah produksi ikan di perikanan umum terbanyak
terdapat pada jenis Ikan Nila sebanyak 579,8 Ton sedangkan tersedikit terdapat
pada jenis Ikan Udang Putih sebanyak 9,9 Ton.

Berdasarkan Tabel. Jumlah produksi ikan laut terbesar terdapat pada jenis ikan
Udang Putih sebanyak 4.980,3 Ton sedangkan tersedikit terdapat pada jenis
Berdasarkan Tabel. Jumlah produksi ikan Belanak dan Tembang sebanayk 3,2 Ton.
terbanyak terdapat pada jenis Ikan Gabus sebanyak 740 Ton sedang tersedikit
terdapat pada jenis Ikan Lele sebanyak 5,8 Ton.
Jumlah Perusahaan Industri Formal (Berizin) dan Jumlah tenaga Kerja Menurut
Jenis Kelompok Industri 2013-2014

Jumlah Perusahaan Industri Informal ( Tidak Berizin) dan Jumlah tenaga Kerja
Menurut Jenis Kelompok Industri 2013-2014

Jumlah Perdagangan yang Memiliki SIUP Menurut Jenisnya 2014


Jumlah koperasi menurut jenis dan kecamatan 2014 Berdasarkan data Dinas Pekerjaan Umum, jalan dengan hirarki
terpanjang di Kabupaten Tanah Laut adalah jalan kabupaten dengan
panjang 1.688,60 km
Transportasi sungai, Jenis transportasi ini tidak sepenuhnya
ditinggalkan, karena masih dipergunakan masyarakat untuk
melakukan aktivitasnya seperti mengangkut hasil pertanian,
perkebunan dan perikanan.
Pengguna jasa yang ingin bepergian keluar wilayah Provinsi
Kalimantan Selatan menggunakan transportasi udara melalui
Bandara Udara Syamsudin Noor di Kota Banjarbaru. Kabupaten
Tanah Laut, memiliki potensi untuk pengembangan ke Bandar
udaraan, yang lokasinya terdapat di Desa Maluka Baulin Kecamatan
Kurau, sekitar 5 km dari ruas jalan nasional Banjarmasin-Pelaihari di
simpang tiga desa pulau sari. Studi pengembangan dan kelayakan
Merupakan jalur lalu-lintas pesisir timur Kalimantan Selatan yang dapat dilakukan untuk memberikan masukan bagi pengembangan
menghubungkan wilayah Provinsi Kalimantan Selatan dengan Bandar udara alternatif.
Kalimantan Timur.
Akses interaksi Kabupaten Tanah Laut terhadap kota-kota lain di
luar Provinsi Kalimantan Selatan (terutama Pulau Jawa) masih
tergantung dengan Kota Banjarmasin (Pelabuhan Laut) dan Kota
Banjarbaru (Bandara Udara).
Adanya rencana pembangunan pelabuhan laut di Muara Sanipah yang
nantinya akan menjadi akses keluar Kabupaten Tanah Laut via laut.
Keberadaan terminal regional akan sangat strategis dalam
menunjang pengembangan sistem antar moda angkutan, karena
berada diantara moda angkutan laut dan sungai serta moda
angkutan.
Dalam sistem angkutan regional merupakan jalur strategis yang
menghubungkan rute utama angkutan dalam Provinsi yaitu jalur
Banjarmasin – Batu licin – Kotabaru.
Berdasarkan RTRW Kabupaten Tanah Laut Tahun 2009-2029, kondisi
infrastruktur irigasi dapat dicerminkan oleh penggunaan sawah, dari
20% luas penggunaan lahan sawah di kabupaten Tanah Laut sebagian
besar adalah sawah tadah hujan, sedangkan sawah teknis sebanyak
2,35%, setengah teknis 2,45% dari luas wilayah yang ada.
Diantara 11 kecamatan di Kabupaten Tanah Laut, lahan sawah setengah
irigasi teknis hanya terdapat di empat kecamatan yaitu Takisung,
Pelaihari, Batu Ampar dan Jorong, sedangkan sawah dengan irigasi
sederhana terdapat di kecamatan panyipatan, pelaihari dan Kintap

Di Kabupaten Tanah Laut terdapat 8 buah kantor pos yang tersebar di delapan
kecamatan kecuali di Kecamatan Bumi Makmur, Bajuin dan Tambang Ulang.
Surat yang diterima oleh seluruh kantor pos jumlahnya mencapai 20.254 buah
surat yang diterima dan publik. Sedangkan untuk pengiriman dan penerimaan
paket pos selama tahun 2014 masing-masing adalah 1.682 buah paket
pengiriman dan 5.603 paket penerimaan.