Anda di halaman 1dari 13

Materi Sedekah

Pendidikan Agama Islam

Disusun oleh :
Via Febrianti
30 / X TBG 1

SMK Negeri 1 Jambu


Tahun Pelajaran 2018/2019
KATA PENGANTAR

‫بسم ا الرر حمن الرر حيم‬

Alhamdulillahirabbil’alamiin

Puji syukur senantiasa kita panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan
beribu-ribu kenikmatan terutama nikmat iman, islam dan ikhsan.

Shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan limpahan kepada junjungan kita Nabi
Muhamad SAW, kepada keluarganya, sahabatnya, tabiin tabiatnya dan semoga sampai
kepada kita selaku umatnya.

Makalah ini di susun guna memenuhi mata kuliah Akhlak Tasawuf. Dengan guru
pengampu BapakSakti. Adapun materi yang ada dalam makalah ini di ambil dari
beberapa buku yang telah kami pahami dengan materi yang bersangkutan
dengan Kekuatan Shodaqoh dan apabila di dalam makalah ini kurangnya pembahasan,
mungkin itu karena keterbatasan kemampuan kami dalam memahami materi yang
berkaitan dengan materi ini.

Sebelum kami akhiri kata pengantar ini, bahwasannya makalah ini jauh dari sempurna.
Oleh karena itu, saran dan kritik sangat kami harapkan bagi kesempurnaan makalah di
masa mendatang. Semoga makalah yang kami buat ini bermanfaat bagi semua, Aamiin.
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Latar belakang pembuatan makalah ini ialah untuk sedikit memberikan penjelasan
mengenai materi yang berkaitan dengan sedekah. Selain itu makalah ini juga untuk
memenuhi tugas mata kuliah Akhlak Tasawuf. Makalah ini menjelaskan mengenai
pengertian sedekah, anjuran sedekah, manfaat sedekah, dan lain-lain.

Masih banyak orang di luar sana yang tidak seberuntung kita. Untuk itu kita harus
peduli antar sesama, dan dapat kita jadikan bekal di akhirat nanti, karena sedekah
sekecil apapun itu akan sangat berguna bagi orang yang membutuhkan. Mudah-
mudahan dengan membaca makalah ini kita semua dapat mengamalkannya.

B. Rumusan Masalah

1. Apa itu pengertian sedekah ?

2. Apa dasar hukum sedekah ?

3. Apa hukum yang terkait dengan sedekah ?

4. Apa saja harta yang paling utama dalam sedekah ?

5. Apa saja hadist yang berkenaan dengan sedekah ?

6. Apa saja sedekah yang tidak diperbolehkan ?

7. Bagaimana sedekah bagi orang yang memiliki hutang ?

8. Bagaimana sedekah dengan uang haram ?

9. Apa saja perkara yang membatalkan sedekah ?

10. Apa saja bentuk-bentuk sedekah ?

11. Apa hikmah dari sedekah ?

12. Apa manfaat dan keutamaan sedekah ?


C. Tujuan dan manfaat

1. Mahasiswa dapat mengetahui apa itu sedekah, apa saja sedekah yang dianjurkan
dan apa saja sedekah yang dilarang ?

2. Mahasiswa dapat mengetahui apa saja landasan serta anjuran untuk sedekah ?

3. mahasiswa diharapkan untuk dapat meningkatkan akhlak mulia seperti halnya


sedekah !
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Sedekah

Secara bahasa kata sedekah berasal dari bahasa Arab shodaqoh yang secara bahasa
berarti tindakan yang benar. Pada awal pertumbuhan islam, sedekah diartikan sebagai
pemberian yang disunahkan. Tetapi, setelah kewajiban zakat disyariatkan dalam Al-
Qur’an sering disebutkan dengan kata shadaqah maka shadaqah mempunyai dua arti.
Pertama, shadaqah sunah atau tathawwu’ (sedekah) dan wajib (zakat). Sedekah sunah
atau tathawwu’ adalah sedekah yang diberikan secara sukarela (tidak diwajibkan)
kepada orang (misalnya orang yang miskin/pengemis), sedangkan sedekah wajib adalah
zakat, kewajiban zakat dan penggunaanya telah dinyatakan dengan jelas dalam Al-
Qur’an dalam surat At-Taubat ayat 60 yang artinya “Zakat merupakan ibadah yang
bersifat kemasyarakatan, sebab manfaatnya selain kembali kepada dirinya sendiri
(orang yang menunaikan zakat), juga besar sekali manfaatnya bagi pembangunan
bangsa negara dan agama”.

Sedangkan secara syara’ (terminologi), sedekah diartikan sebagai sebuah pemberian


seseorang secara ikhlas kepada orang yang berhak menerima yang diiringi juga oleh
pahala dari Allah. Contoh memberikan sejumlah uang, beras atau benda-benda lain
yang bermanfaat kepada orang lain yang membutuhkan. Berdasarkan pengertian ini,
maka yang namanya infak (pemberian atau sumbangan) termasuk dalam kategori
sedekah.

B. Dasar Hukum Sedekah

Sedekah dibolehkan pada waktu dan disunahkan berdasarkan Al-Qur’an dan As-
Sunnah, diantaranya :

Dalam Al-Qur’an yang artinya : “Barang sapa yang mau memberi pinjaman kepada
Allah Swt. pinjaman yang baik (manafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah Swt.
akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan
Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya lah kamu
dikembalikan”. (QS.Al-Baqarah :245)

Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan
dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah
menyukai orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-Baqarah :195)

Dalam As-Sunah yang hadistnya “Barang siapa yang memberi orang lapar, Allah Swt
akan memberinya makan dari buah-buah surga. Barang siapa memberi minum orang
dahaga, Allah Swt Maha Tinggi akan memberinya minum pada hari kiamat dengan
wangi-wangian yang dicap. Barang siapa yang memberi pakaian orang yang telanjang,
Allah Swt akan memakaikan pakaian surga yang berwarna hijau”. (HR. Abu Dawud
dan Tirmidzi).

C. Hukum Yang Terkait Dengan Sedekah

Pada dasarnya sedekah dapat diberikan kepada dan dimana saja tanpa terikat oleh
waktu dan tempat. Namun ada waktu dan tempat tertentu yang lebih diutamakan yaitu
lebih dianjurkan pada bulan Ramadhan. Dijelaskan pula dalam kitab Kifayat al-Akhyar,
sedekah sangat dianjurkan ketika sedang menghadapi perkara penting, sakit atau
berpergian, berada dikota Mekkah dan Madinah, peperangan, haji, dan pada waktu-
waktu yang utama seperti sepuluh hari di bulan Dzulhijah, dan hari raya.

Sedekah juga dapat diberikan kepada siapa saja yang membutuhkan, namun ada
beberapa kelompok orang yang lebih utama yaitu kepada family yang paling
memusuhi, family yang jauh hendaklah didahulukan dari tetangga yang bukan family.
Karena selain sedekah, pemberian itu akan saling mempererat hubungan silaturahmi.
Selain itu dalam menggunakan cara kita juga harus memilih cara yang lebih baik dalam
bersedekah yaitu dengan cara sembunyi-sembunyi. Hal itu lebih utama dibandingkan
terang-terangan.

D. Harta Yang Paling Utama Untuk Sedekah

Harta yang paling utama untuk di sedekahkan adalah kelebihan dari usaha dan hartanya
untuk kebutuhan sehari-hari. Sebaliknya, jika memberikan sedekah dari harta yang
masih dikategorikan kurang untuk memenuhi kebutuhan sendiri, lebih baik untuk tidak
bersedekah. Dalam hadist disebutkan yang artinya “Sedekah yang paling baik adalah
sesuatu yang keluar dari orang kaya dan telah mencukupi kebutuhannya”. (Muttafaq
alaih)

Kaya pada hadist diatas tidak berarti kaya dalam materi, tetapi orang yang kaya hati,
yakni sabar atas kefakiran. Ada hadist yang menyebutkan “Cukup bagi seseorang
dikatakan dosa apabila menghilangkan makanan pokoknya”. (HR. Abu Dawud dan An-
Nasa’i dari Abu Hurairah). Dengan kata lain sedekah disunahkan bagi seseorang atas
kelebihan nafkahnya.

E. Hadist-Hadist Mengenai Sedekah

Hadist-hadist yang berkenaan dengan sedekah diantaranya adalah sebagai berikut:


“Bersodaqoh pahalanya sepuluh, memberi hutang (tanpa bunga) pahalanya delapan
belas, menghubungkan diri dengan kawan-kawan pahalanya dua puluh dan silaturahmi
(dengan keluarga) pahalanya dua puluh empat”. (HR. Al-Hakim)

“Apabila anak Adam wafat putuslah amalnya kecuali tiga hal yaitu sodaqoh jariyah,
pengajaran dan penyebaran ilmu yang dimanfaatkannya untuk orang lain, dan anak
(baik laki-laki maupun perempuan) yang mendoakannya”. (HR. Muslim)

“Orang yang mengusahakan bantuan (pertolongan) bagi janda dan orang miskin ibarat
ijtihad dijalan Allah dan ibarat orang shalat malam. Ia tidak merasa lelah dan ia juga
ibarat orang berpuasa yang tidak pernah berbuka”. (HR. Al-Bukhari)

“ Turunkanlah (datangkanlah) rezekimu (dari Allah) dengan mengeluarkan sodaqoh”.


(HR. Al-Baihaqi)

“Naungan bagi seorang mukmin pada hari kiamat adalah sodaqohnya”. (HR. Ahmad)

“Tiap muslim wajib bersodaqoh. Para sahabat bertanya, “Bagaimana kalau dia tidak
memiliki sesuatu?” Nabi Saw menjawab,”Bekerja dengan keterampilan tangannya
untuk kemanfaatan bagi dirinya lalu bersodaqoh.” Mereka bertanya lagi. Bagaimana
kalau dia tidak mampu?” Nabi menjawab:”menolong orang yang membutuhkan yang
sedang teraniaya” Mereka bertanya:”Bagaimana kalau dia tidak melakukannya?” Nabi
menjawab:”Menyuruh berbuat ma’ruf.” Mereka bertanya:”Bagaimana kalau dia tidak
melakukannya?” Nabi Saw menjawab.”Mencegah diri dari kejahatan itulah sodaqoh”.
(HR. Al-Bukhari-Muslim)

“Sodaqoh paling afdhlol ialah yang diberikan kepada keluarga dekat yang bersikap
memusuhi”. (HR. Atthabrani dan Abu Dawud).

8. “Janganlah seorang perempuan bersedekah sesuatu dari rumah suaminya,


melainkan dengan seizin suaminya. Seorang sahabat bertanya : Ya Rasulullah, apakah
makananpun tidak boleh? Rasulullah menjawab : Makanan adalah harta yang termulia”.
(HR. At Turmudzi).

F. Sedekah Yang Tidak Dibolehkan

Sedekah hukumnya dibolehkan selama benda yang disedekahkan itu adalah milik
sendiri dan benda itu dari segi zatnya suci dan diperoleh dengan cara yang benar,
meskipun jumlahnya sedikit. Maka jika barang itu statusnya milik bersama atau orang
lain, maka tidak sah benda itu untuk disedekahkan karena barang yang disedekahkan
harus di dasari oleh keikhlasan dan kerelaan dari pemiliknya. Berkaitan dengan ini,
maka tidak boleh seorang istri menyedekahkan harta suaminya kecuali ada izin darinya.
Tetapi, jika telah berlaku kebiasaan dalam rumah tangga seorang istri boleh
menyedekahkan harta tertentu seperti makanan, maka hukumnya boleh tanpa minta izin
kepada suaminya terlebih dahulu. Dalam hal ini, bukan hanya istri yang mendapatkan
pahala tetapi suamipun mendapatkan pahala.

Demikian halnya, haram menyedekahkan benda yang secara zat dihukumi haram
seperti babi, dan anjing. Atau barang itu diperoleh dengan cara yang diharamkan seperti
mencuri, merampok atau korupsi karena hal itu bukan miliknya secara sah, dan Allah
juga tidak menerima sedekah dari yang haram atau bersumber dari cara yang haram
sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadist bahwa “Sesungguhnya Allah itu Suci tidak
menerima kecuali yang suci pula” (HR. Muslim).

Kemudian, Rasulullah menyebutkan seorang laki-laki yang lama berkelana dengan


rambutnya yang kusut, pakaiannya yang berdebu, menadahkan tangannya ke langit
seraya berkata, Ya Tuhanku, Ya Tuhanku, padahal makanannya haram, pakaiannya
haram, minumannya haram, dan dibesarkan dari sesuatu yang haram, maka bagaimana
doanya dapat dikabulkan? (HR. Muslim).

G. Sedekah Orang Yang Memiliki Utang

Disunatkan bagi orang yang memiliki utang tidak memberikan sedekah. Lebih baik
baginya membayar utang. Menurut ulama Syafi’iyah, haram hukumnya memberikan
sedekah bagi orang yang memiliki utang atau tidak mampu untuk mencukupi
kebutuhan keluarga sehari-hari, antara lain didasarkan pada hadist “Cukup bagi
seseorang dikatakan dosa apabila menghilangkan makanan pokoknya”. (HR. Abu
Dawud dan An-Nasa’i dari Abu Hurairah). Mereka berpendapat bahwa mebayar utang
adalah wajib, maka tidak boleh meninggalkan yang wajib untuk melaksanakan hal yang
sunnah.

H. Sedekah Dengan Uang Haram

Menurut ulama Hanafiyah, sedekah dengan harta yang haram Qath’i, seperti daging
bangkai atau hasilnya dipakai membangun mesjid dengan harapan akan mendapat
pahala atau menjadi halal adalah kufur sebab meminta halal dari suatu kemaksiatan
adalah kufur. Akan tetapi, tidak dipandang kufur, jika seseorang mencuri uang Rp.
100.000 kemudian mencampurkan dengan hartanya untuk disedekahkan. Namun
demikian, tetap tidak dapat dimanfaatkan sebelum uang curian tersebut diganti.

I. Perkara Yang Membatalkan Sedekah

Ada beberapa perkara yang dapat menghilangkan pahala sedekah diantaranya adalah :

Al-Mann (membangkit-bangkitkan) artinya menyebut-nyebut dihadapan orang banyak.


Al-Adza (menyakiti) artinya sedekah itu dapat menyakiti perasaan orang lain yang
menerimanya baik dengan ucapan atau perbuatan. Mereka ini tidak mendapat manfaat
di dunia dari usaha-usaha mereka dan tidak pula mendapat pahala diakhirat.

Poin satu dan dua didasari oleh Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 264 yang artinya “Hai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu
dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima)”. (Q.S.Al-Baqarah :
2/264)

3. Riya (memamerkan) artinya memperlihatkan sedekah kepada orang lain karena


ingin dipuji. Bersedekah jika ada orang tetapi jika dalam keadaan sepi ia tidak mau
bersedekah, ini dijelaskan dalam surat Al-Baqarah ayat 262 yang artinya “Orang-orang
yang menafkahkan hartanya dijalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang
dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak
menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka.
Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak ada (pula) mereka bersedih hati”.
(Q.S.Al-Baqarah :2/262)

J. Bentuk-Bentuk Sedekah

Dalam islam sedekah memiliki arti luas bukan hanya berbentuk materi tetapi mencakup
semua kebaikan baik bersifat fisik maupun non fisik. Berdasarkan hadist, para ulama
membagi sedekah menjadi :

Berbuat baik dan menahan diri dari kejahatan.

Berlaku adil dalam mendamaikan orang yang sedang bersengketa.

Membantu orang lain yang akan menaiki kendaraan yang akan ditumpanginya.

Membantu mengangkat barang orang lain kedalam kendaraannya.

Menyingkirkan benda-benda yang mengganggu dari tengah jalan seperti duri, batu kayu

Melangkahkan kaki ke jalan Allah.

Menngucapkan zikir seperti tasbih, takbir, tahmid, tahlil dan istighfar.

Menyuruh orang lain berbuat baik dan mencegahnya dari kemungkaran.

Membimbing orang buta, tuli dan bisu serta menunjuki orang yang meminta petunjuk
tentang sesuatu seperti alamat rumah.

Memberikan senyuman kepada orang lain.

Dari uraian diatas tentang sedekah maka ada beberapa perbedaan antara sedekah
dengan zakat dilihat dari tiga aspek :
Orang yang melakukan, sedekah dianjurkan kepada semua orang beriman baik yang
memiliki harta atau tidak karena bersedekah tidak mesti harus orang yang berharta
sedangkan zakat diwajibkan kepada mereka yang memiliki harta.

Benda yang disedekahkan bukan hanya terbatas pada harta secara fisik tetapi mencakup
semua macam kebaikan. Adapun zakat, benda yang dikeluarkan terbatas hanya harta
kekayaan secara fisik seperti uang, hasil pertanian, peternakan, perdagangan, dan hasil
profesi lainnya.

Orang yang menerima, sedekah untuk semua orang tetapi zakat dikhususkan kepada
delapan golongan sebagaimana telah disebutkan.

K. Hikmah Sedekah

Sedekah memiliki nilai sosial yang tinggi. Orang yang bersedekah dengan ikhlas ia
bukan hanya mendapatkan pahala tetapi juga memiliki hubungan sosial yang baik.
Hikmah yang dapat dipetik ialah sebagai berikut :

1. Orang yang bersedekah lebih mulia dibanding orang yang menerimanya


sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadist “Tangan diatas lebih baik dari tangan yang
dibawah”.

Mempererat hubungan sesama manusia terutama kepada kaum fakir miskin,


menghilangkan sifat bakhil dan egois, dan dapat membersihkan harta serta dapat
meredam murka Tuhan.

Orang yang bersedekah senantiasa didoakan oleh kedua malaikat. Sebagaimana hadist
yang artinya “Tidaklah seorang laki-laki berada dipagi hari kecuali dua malaikat
berdoa, Ya Allah berilah ganti orang yang menafkahkan (menyedekahkan) hartanya dan
berikanlah kehancuran orang yang menahan hartanya”. (HR. Bukhari-Muslim).

L. Keutamaan Dan Manfaat Sedekah

1. Amalan yang Utama

Rasulullah SAW telah bersabda: “Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang
di bawah. Tangan diatas adalah yg memberi dan tangan di bawah adalah yang
menerima.” (HR. Muslim)

Umar Bin Khathtab pernah berkata: “Sesungguhnya amalan-amalan itu saling


membanggakan diri satu sama lain, maka sedekahpun berkata (kepada amalan- amalan
lainnya),’Akulah yang paling utama diantara kalian.”

2. Melindungi Dari Bencana


Rasulullah SAW pernah bersabda seperti dibawah ini: “Obatilah orang sakit diantara
kalian dengan sedekah.”

Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah mengatakan: “Sesungguhnya sedekah bisa


memberikan pengaruh yg menakjubkan utk menolak berbagai macam bencana
sekalipun pelakunya orang yang fajir (pendosa), zhalim atau bahkan orang kafir, karena
Allah SWT akan menghilangkan berbagai macam bencana dengan perantara sedekah
tersebut…”

3. Berlipat Ganda Pahalanya

Allah SWT telah berfirman: “Perumpamaan (infak yg dikeluarkan oleh) orang-orang yg


menginfakan hartanya di jalan Allah adalah serupa dg sebutir benih yg menumbuhkan
tujuh bulir, pada tiap-tiapbulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi
siapa yg Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha
Mengetahui.”(QS.Al-Baqarah:261)

Rasulullah SAW juga bersabda : “Barangsiapa bersedekah senilai satu biji kurma yg
berasal dari mata pencaharian yg baik—dan Allah tidak akan menerima kecuali yg baik
—maka sesungguhnya Allah akan menerimanya dg tangan kanan-Nya, kemudian
dipelihara untuk pemiliknya, sebagaimana seseorang diantara kalian memelihara anak
kuda, sehingga sedekah itu menjadi (besar) seperti gunung”

4. Dapat Menghapus Dosa dan Kesalahan

Rasul SAW bersabda: “Bersedekahlah kalian, meski hanya dg sebiji kurma. Sebab,
sedekah dapat memenuhi kebutuhan orang yang kelaparan, dan memadamkan
kesalahan, sebagaimana air memadamkan api.”

Beliau juga menasehatkan kepada para pedagang: “Wahai sekalian


pedagang,sesungguhnya setan dan dosa menghadiri jual beli kalian, maka sertailah jual
beli kalian dengan sedekah.”

5. Menjadikan Harta Berkah dan Terus Berkembang

Allah SWT berfirman: “Katakanlah,’Sesungguhnya Rabb-ku melapangkan rejeki bagi


siapa yg dikehendaki diantara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yg
dikehendaki-Nya). Dan apa yg kamu infakkan, maka Allah akan menggantinya dan
Dialah pemberi rejeki sebaik-baiknya.”(QS.Saba’:39)

Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah akan mengembangkan sedekah kurma


atau sepotong makanan dari seorang diantara kalian, sebagaimana seseorang diantara
kalian memelihara anak kuda atau anak untanya, sehingga sedekah tersebut menjadi
besar seperti bukit Uhud.”

6. Melapangkan Jalan ke Surga dan Menyumbat Jalan ke Neraka


“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yg luasnya
seluas langit dan bumi yg di sediakan utk orang-orang yg bertakwa. (Yaitu) orang-
orang yg menginfakkan (hartanya), baik diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-
orang yg menahan amarahnya dam memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai
orang yg berbuat kebajikan.”(QS. Ali Imron:133-134)

Rasulullah SAW bersabda: “Buatlah penghalang antara dirimu dan api neraka walau
hanya dg separuh butir kurma.”

7. Menjadi Bukti Keimanan

Di dalam sebuah Hadits Rasulullah bersabda:


“Sedekah adalah menjadi burhan (bukti).” (HR.Muslim)
Maksudnya, sedekah adalah bukti keimanan pelakunya.Sesungguhnya orang munafik
menolak keberadaan sedekah karena tidak meyakininya. Barang siapa yg mau
bersedekah, maka hal itu menunjukkan kebenaraan imannya.

Rasul SAW juga bersabda: “Sifat iman dan kikir tidak akan berkumpul dalam hati
seseorang selama-lamanya.”

8. Membawa Keberuntungan dan Merupakan Pintu Gerbang Semua Kebaikan

Allah SWT berfirman : “Dan barang siapa yg dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka
itulah orang-orang yg beruntung.”
(QS. Al Hasyr : 9)

Dalam ayat lain, Allah juga menegaskan:


“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu
menginfakkan sebahagian harta yg kamu cintai, dan apa saja yg kamu infakkan, maka
sesungguhnya Allah mengetahuinya.”( QS.Ali Imran: 92)

9. Akan Mendapat Naungan di Padang Mahsyar

Sedekah akan menolong pelakunya dari kesengsaraan dalam perjalanan menuju alam
akhirat, Rasulullah SAW bersabda:
“Setiap orang akan berada dibawah naungan sedekahnya, hingga diputuskannya
perkara-perkara diantara manusia.”

Didalam hadits lain Beliau juga bersabda: “Naungan seorang mukmin di hari kiamat
adalah sedekahnya.”(Shahih Ibnu Khuzaimah 4/95

10. Pahalanya Akan Mengalir Terus Walaupun Telah Mati

Rasul SAW bersabda: “Pahala amalan dan kebaikan yg bakal menghampiri seorang
mukmin sepeninggalnya—Beliau menyebutkan diantaranya--,(yakni)musyaf yg ia
tinggalkan,masjid yg ia bangun,rumah untuk orang yg dalam perjalanan yg ia bangun,
sungai yg ia alirkan, atau sedekah yg ia keluarkan dari hartanya dikala sehat dan
hidupnya, maka ia akan bakal menghampirinya sepeninggalnya.”
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Secara syara’ (terminologi), sedekah diartikan sebagai sebuah pemberian seseorang


secara ikhlas kepada orang yang berhak menerima yang diiringi juga oleh pahala dari
Allah. Secara ijma, ulama menetapkan bahwa hukum sedekah ialah sunah. Pada
dasarnya sedekah dapat diberikan kepada dan dimana saja tanpa terikat oleh waktu dan
tempat. Namun ada waktu dan tempat tertentu yang lebih diutamakan yaitu lebih
dianjurkan pada bulan Ramadhan. Harta yang paling utama untuk di sedekahkan adalah
kelebihan dari usaha dan hartanya untuk kebutuhan sehari-hari. Salah satu hadist yang
menjelaskan tentang sedekah yaitu “Apabila anak Adam wafat putuslah amalnya
kecuali tiga hal yaitu sodaqoh jariyah, pengajaran dan penyebaran ilmu yang
dimanfaatkannya untuk orang lain, dan anak (baik laki-laki maupun perempuan) yang
mendoakannya”. (HR. Muslim).

Jika barang itu statusnya milik bersama atau orang lain, maka tidak sah benda itu untuk
disedekahkan karena barang yang disedekahkan harus di dasari oleh keikhlasan dan
kerelaan dari pemiliknya. Disunatkan bagi orang yang memiliki utang tidak
memberikan sedekah. Lebih baik baginya membayar utang. Menurut ulama Hanafiyah,
sedekah dengan harta yang haram Qath’i, seperti daging bangkai atau hasilnya dipakai
membangun mesjid dengan harapan akan mendapat pahala atau menjadi halal adalah
kufur sebab meminta halal dari suatu kemaksiatan adalah kufur. Dalam islam sedekah
memiliki arti luas bukan hanya berbentuk materi tetapi mencakup semua kebaikan baik
bersifat fisik maupun non fisik. Sedekah memiliki nilai sosial yang tinggi. Orang yang
bersedekah dengan ikhlas ia bukan hanya mendapatkan pahala tetapi juga memiliki
hubungan sosial yang baik.

B. Saran

Sedekah tidak akan menghilangkan harta selama kita di dunia tapi dengan sedekah kita
akan mendapatkan pahala yang paling mulia diakhirat nanti. Maka dari itu
perbanyaklah sedekah selagi kita masih hidup di dunia karena sedekah dapat
menyelamatkan kita dari api neraka diakhirat nanti.