Anda di halaman 1dari 3

PT.

EXSIS

1. PT Exsis yang bergerak dibidang manufacturing, berdasarkan undang-undang


Nomor 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja di pasal 1 ayat 1, tempat kerja ialah
tiap ruangan atau lapangan terbuka atau tertutup, bergerak atau tetap, dan terdapat
sumber-sumber bahaya yang merupakan bagian-bagian atau yang berhubungan dengan
tempat kerja. Serta pada Peraturan Pemerintah No. 50 tahun 2012 tentang Penerapan
SMK3 pasal 5 ayat 4 pengusaha dalam menerapkan SMK3 wajib berpedoman pada PP
ini dan ketentuan peraturan perundang-undangan serta dapat atau konvensi atau standar
internasional, Maka PT Exsis ini berkewajiban untuk menerapkan sistem manajemen
keselamatan dan kesehatan kerja (SMK3) berdasarkan Peraturan Menteri Tenaga
Kerja RI No. Per 05/Men/1996 tentang SMK3 serta membentuk P2K3 berdasarkan
Undang-undang No. 1 tahun 1970 bab VI tentang Panitia Pembina Keselamatan
Kesehatan Kerja pasal 10 ayat 1 yang berbunyi menteri tenaga kerja berwenang
membentuk P2K3 guna memperkembangkan kerjasama, saling pengertian, dan
partisipasi efektif dari pengusaha.

2. Lingkungan kerja :
a. UU No.3 tahun 1969 tentang Persetujuan Konvensi ILO No.120 mengenai
Hygiene Dalam Perniagaan dan Kantor-Kantor mengatur tentang persyaratan
ventilasi, suhu, sanitasi air, penyediaan air, confined space, APD dan sarana
perlindungan, pengendalian lingkungan kerja dan pelaksanaan P3K.
b. Peraturan Menteri Perburuhan No. 7 tahun 1964 mengatur bahwa setiap perusahaan
dengan tenaga kerja sebanyak 100 orang wajib menyediakan kakus sebanyak 6
buah dengan mengikuti persyaratan yang dijelaskan dalam peraturan menteri ini.
c. Peraturan Menteri Perburuhan No. 7 tahun 1964 mengatur bahwa penerangan
minimal sebesar 100 lux.
d. Permenaker No. 13 Tahun 2011 bahwa harus dilakukan pengukuran dan
penilaian faktor fisika dan faktor kimia di tempat kerja sesuai dengan peraturan
menteri ini.
Pengendalian Bahan Kimia Berbahaya :

1
a. Pasal 2 Keputusan Menteri Tenaga Kerja No.187 tahun 1999 untuk bahaya
kimia berbahaya wajib disimpan di tempat khusus dan diberi label serta harus
disediakan Lembar Data Keselamatan Bahan guna mencegah terjadinya
kecelakaan kerja.

3. Pengendalian listrik
Sesuai dengan Permenaker No. 12 tahun 2015 pengusaha dan atau pengurus
wajib melaksanakan K3 listrik di tempat kerja, dimana pelaksanaan persyaratan K3
mulai dari perencanaan, pemasangan, penggunaan, perubahan, pemeliharaan,
pemeriksaan, dan pegujian instalasi listrik yang disahkan oleh Disnaker setempat.
Penanggulangan kebakaran
Sesuai dengan pasal 2 Kepmenaker No. 186 tahun 1999 pengurus atau
pengusaha wajib mencegah, mengurangi, dan memadamkan kebakaran, latihan
penanggulangan kebakaran di tempat kerja. Meliputi poin-poin persyaratan yang
dimaksud di pasal 2 ayat 2.

4. Perlindungan atas keselamatan dan kesehatan kerja merupakan hak bagi tenaga kerja
dalam melakukan pekerjaannya. Perlunya kesehatan kerja dilaksanakan mengingat di
tempat kerja terdapat faktor-faktor risiko berbahaya yang dapat mengakibatkan
timbulnya kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja. Dalam Undang-undang No. 1
tahun 1970, dikatakan bahwa pengurus perusahaan wajib untuk melaksanakan
syarat-syarat keselamatan kerja, dimana terdapat lebih dari 50% merupakan syarat-
syarat kesehatan kerja.
Kondisi di PT Exsis dijelaskan bahwa perusahan tersebut tidak memiliki klinik
perusahaan. Berdasarkan Permenakertrans No. 3/Men/1982 tentang pelayanan
kesehatan kerja dikatakan bahwa setiap tenaga kerja berhak untuk mendapatkan
pelayanan kesehatan kerja. Pengurus wajib memberikan pelayanan kesehatan kerja
terhadap pekerjanya dengan cara menyediakan pelayanan kesehatan sendiri di
perusahaan dalam bentuk rumah sakit atau klinik perusahaan maupun bekerja sama
dengan unit pelayanan kesehatan di luar perusahaan seperti rumah sakit pemerintah
atau swasta, puskesmas dan klinik swasta.

5. Dalam penggunaan pesawat uap Berdasarkan Undang-undang Peraturan Uap tahun


1930 (Stoom Verordening) dan Undang-undang Uap tahun 1930 (Stoom

2
Ordonnantie) bahwa pada pasal 2 yang disebut peralatan dari sesuatu pesawat uap
dalam Undang-undang ini dimaksudkan semua alat-alat ditujukan untuk pemakaian
dengan aman dari pesawat uapnya. Serta menurut Peraturan menteri Tenaga Kerja
RI NO. Per 01/Men/1988 tentang kwalifikasi dan syarat-syarat operator pesawat uap
pada pasal 3 dijelaskan bahwa operator terdiri dari 2 kelas yaitu kelas I dan kelas II
yang harus lulus ujian yang diselenggarakan oleh Kemnaker. Serta pada pasal 5 ayat
1 pelaksanan operator dapat dilakukan oleh Depnaker atau lembaga yang ditunjuk oleh
kemnaker.
Sedangkan untuk pesawat angkat angkut berdasarkan Peraturan Menteri Tenaga
Kerja RI No. Per 05/Men/1985 tentang pesawat angkat angkut pada pasal 5 ayat 2
pesawat angkat angkut yang dimaksud adalah peralatan angkat, pita transport (belt
conveyer), pesawat angkutan diatas landasan dan diatas permukaan, dan alat
angkutan jalan ril. Pada pasal 98 dijelaskan bahwa pesawat angkutan diatas landasan
dan diatas permukaan ialah truck, derek, tractor, gerobak, forklip, dan lain-lain. Serta
perusahaan harus memiliki dokumen pengesahan dari Direktur atau Pejabat yang
ditunjuk yang diatur pada pasal 134.

6. Perusahaan tersebut wajib menerapkan SMK3 dikarenakan mempunyai potensi


bahaya tinggi sesuai dengan pasal 87 ayat 1 UU No. 13 tahun 2013 dengan
mengikuti persyaratan pada Peraturan Pemerintah No. 50 tahun 2012