Anda di halaman 1dari 21

Hukum Zakat Profesi

1. HUKUM ZAKAT PROFESI, Oleh: Ustadz Muhammad Arifin Badri, M.A

Pertanyaan:
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamu Alaikum Warohmatulloohi wabarokatuh, Alhamdulillaah wa Shalatu wassalaammu
‘alaa Rosulillaah.

Ustadz yang semoga Allah senantiasa menjagamu…

Tadi pagi saya ditanya atasan saya perihal Hukum Zakat Profesi:

1. Apakah Ijtihad/Qiyas yang dipakai oleh ulama yang membolehkan Zakat Profesi itu bisa
dijadikan dalil untuk diamalkan?
di Perusahaan saya sudah lama diberlakukan zakat profesi ini dengan cara potong gaji
tiap bulannya berdasarkan kesepakatan sebelumnya, ada yang mau dan ada pula yang
tidak mau dipotong gajinya.

2. Terus adakah buku yang bagus yang khusus menjelaskan Zakat Profesi ini!?
Hasan

Jawaban.

1. Zakat yang diwajibkan untuk dipungut dari orang-orang kaya telah dijelaskan dengan
gamblang dalam banyak dalil. Dan zakat adalah permasalahan yang tercakup dalam kategori
permasalahan ibadah, dengan demikian tidak ada peluang untuk berijtihad atau merekayasa
permasalahan baru yang tidak diajarkan dalam dalil. Para ulama’ Dari berbagai mazhab telah
menyatakan:

ْ َ ‫ت فِي األ‬
‫صل‬ ِ ‫التَّوقِيف ال ِعبَادَا‬

“Hukum asal dalam permasalahan ibadah adalah tauqifi alias terlarang.”

Berdasarkan kaedah ini, para ulama’ menjelaskan bahwa barangsiapa yang membolehkan atau
mengamalkan suatu amal ibadah, maka sebelumnya ia berkewajiban untuk mencari dalil yang
membolehkan atau mensyari’atkannya. Bila tidak, maka amalan itu terlarang atau tercakup
dalam amalan bid’ah:

َ ‫مسلم رواه َرد فَه َو أَ ْمرنَا َعلَي ِه لَي‬


‫ْس َع َمل َع ِم َل َم ْن‬

“Barang siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami, maka
amalan itu tertolak.” [Riwayat Muslim]
Coba anda renungkan: Zakat adalah salah satu rukun Islam, sebagaimana syahadatain, shalat,
puasa, dan haji. Mungkinkah anda dapat menolerir bila ada seseorang yang berijtihad pada
masalah-masalah tersebut dengan mewajibkan sholat selain sholat lima waktu, atau mengubah-
ubah ketentuannya; subuh menjadi 4 rakaat, maghrib 5 rakaat, atau waktunya digabungkan jadi
satu. Ucapan syahadat ditambahi dengan ucapan lainnya yang selaras dengan perkembangan pola
hidup umat manusia, begitu juga haji, diadakan di masing-masing negara guna efisiensi dana
umat dan pemerataan pendapatan dan kesejahteraan umat. Dan puasa ramadhan dibagi pada
setiap bulan sehingga lebih ringan dan tidak memberatkan para pekerja pabrik dan pekerja berat
lainnya.

Mungkinkah anda dapat menerima ijtihad ngawur semacam ini? Bila anda tidak menerimanya,
maka semestinya anda juga tidak menerima ijtihad zakat profesi, karena sama-sama ijtihad
dalam amal ibadah dan rukun Islam.

Terlebih-lebih telah terbukti dalam sejarah bahwa para sahabat nabi dan juga generasi setelah
mereka tidak pernah mengenal apa yang disebut-sebut dengan zakat profesi, padahal apa yang
disebut dengan gaji telah dikenal sejak lama, hanya beda penyebutannya saja. Dahulu disebut
dengan al ‘atha’ dan sekarang disebut dengan gaji atau raatib atau mukafaah. Tentu perbedaan
nama ini tidak sepantasnya mengubah hukum.

Ditambah lagi, bila kita mengkaji pendapat ini dengan seksama, maka kita akan dapatkan banyak
kejanggalan dan penyelewengan. Berikut sekilas bukti akan kejanggalan dan penyelewengan
tersebut:

(a). Orang-orang yang mewajibkan zakat profesi mengqiyaskan (menyamakan) zakat profesi
dengan zakat hasil pertanian, tanpa memperdulikan perbedaan antara keduanya. Zakat hasil
pertanian adalah 1/10 (seper sepuluh) dari hasil panen bila pengairannya tanpa memerlukan
biaya, dan 1/20 (seper dua puluh), bila pengairannya membutuhkan biaya. Adapun zakat profesi,
maka zakatnya adalah 2,5 %, sehingga qiyas semacam ini adalah qiyas yang benar-benar aneh
dan menyeleweng. Seharusnya qiyas yang benar ialah dengan mewajibkan zakat profesi sebesar
1/10 (seper sepuluh) bagi profesi yang tidak membutuhkan modal, dan 1/20 (seper dua puluh),
tentu ini sangat memberatkan, dan orang-orang yang mengatakan ada zakat profesi tidak akan
berani memfatwakan zakat profesi sebesar ini.

(b). Gaji diwujudkan dalam bentuk uang, maka gaji lebih tepat bila diqiyaskan dengan zakat
emas dan perak, karena sama-sama sebagai alat jual beli, dan standar nilai barang.

(c). Orang-orang yang memfatwakan zakat profesi telah nyata-nyata melanggar


ijma’/kesepakatan ulama’ selama 14 abad, yaitu dengan memfatwakan wajibnya zakat pada
gedung, tanah dan yang serupa.

(d). Gaji bukanlah hal baru dalam kehidupan manusia secara umum dan umat Islam secara
khusus, keduanya telah ada sejak zaman dahulu kala. Berikut beberapa buktinya:
Sahabat Umar bin Al Khatthab Radhiyallahu ‘anhu pernah menjalankan suatu tugas dari
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu iapun di beri upah oleh Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam. Pada awalnya, sahabat Umar radhiallahu ‘anhu menolak upah tersebut, akan
tetapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya: “Bila engkau diberi sesuatu
tanpa engkau minta, maka makan (ambil) dan sedekahkanlah.” [Riwayat Muslim]

Seusai sahabat Abu Bakar radhiallahu ‘anhu dibai’at untuk menjabat khilafah, beliau berangkat
ke pasar untuk berdagang sebagaimana kebiasaan beliau sebelumnya. Di tengah jalan, beliau
berjumpa dengan Umar bin Al Khatthab radhiallahu ‘anhu, maka Umarpun bertanya kepadanya:
“Hendak kemanakah engkau?” Abu Bakar menjawab: “Ke pasar.” Umar kembali bertanya:
“Walaupun engkau telah mengemban tugas yang menyibukkanmu?” Abu Bakar menjawab:
“Subhanallah, tugas ini akan menyibukkan diriku dari menafkahi keluargaku?” Umarpun
menjawab: “Kita akan meberimu secukupmu.” [Riwayat Ibnu Sa’ad dan Al Baihaqy]

Imam Al Bukhari juga meriwayatkan pengakuan sahabat Abu Bakar radhiallahu ‘anhu tentang
hal ini:

‫سيَأْكل ْالم ْس ِل ِمينَ بِأ َ ْم ِر َوش ِغ ْلت أ َ ْه ِلي مؤونة عن تَ ْع ِجز تَك ْن لم ِح ْرفَتِي أ َ َّن قَ ْو ِمي َع ِل َم لقد‬
َ َ‫َويَحْ ت َِرف ْال َما ِل هذا من بَ ْكر أبي آل ف‬
َ‫فيه ِل ْلم ْس ِل ِمين‬.

“Sungguh kaumku telah mengetahui bahwa pekerjaanku dapat mencukupi kebutuhan


keluargaku, sedangkan sekarang, aku disibukkan oleh urusan umat Islam, maka sekarang
keluarga Abu Bakar akan makan sebagian dari harta ini (harta baitul maal), sedangkan ia akan
bertugas mengatur urusan mereka.” [Riwayat Bukhary]

Ini semua membuktikan bahwa gaji dalam kehidupan umat islam bukanlah suatu hal yang baru,
akan tetapi, selama 14 abad lamanya tidak pernah ada satupun ulama’ yang memfatwakan
adanya zakat profesi atau gaji. Ini membuktikan bahwa zakat profesi tidak ada, yang ada
hanyalah zakat mal, yang harus memenuhi dua syarat, yaitu hartanya mencapai nishab dan telah
berlalu satu haul (tahun).

Oleh karena itu ulama’ ahlul ijtihaad yang ada pada zaman kita mengingkari pendapat ini,
diantara mereka adalah Syeikh Bin Baz, beliau berkata: “Zakat gaji yang berupa uang, perlu
diperinci: Bila gaji telah ia terima, lalu berlalu satu tahun dan telah mencapai satu nishab, maka
wajib dizakati. Adapun bila gajinya kurang dari satu nishab, atau belum berlalu satu tahun,
bahkan ia belanjakan sebelumnya, maka tidak wajib di zakati.” [Maqalaat Al Mutanawwi’ah
oleh Syeikh Abdul Aziz bin Baaz 14/134. Pendapat serupa juga ditegaskan oleh Syeikh
Muhammad bin Shaleh Al Utsaimin, Majmu’ Fatawa wa Ar Rasaa’il 18/178.]

Fatwa serupa juga telah diedarkan oleh Anggota Tetap Komite Fatwa Kerajaan Saudi Arabia,
berikut fatwanya:

“Sebagaimana yang telah diketahui bersama bahwa di antara harta yang wajib dizakati adalah
emas dan perak (mata uang). Dan di antara syarat wajibnya zakat pada emas dan perak (uang)
adalah berlalunya satu tahun sejak kepemilikan uang tersebut. Mengingat hal itu, maka zakat
diwajibkan pada gaji pegawai yang berhasil ditabungkan dan telah mencapai satu nishab, baik
gaji itu sendiri telah mencapai satu nishab atau dengan digabungkan dengan uangnya yang lain
dan telah berlalu satu tahun. Tidak dibenarkan untuk menyamakan gaji dengan hasil bumi;
karena persyaratan haul (berlalu satu tahun sejak kepemilikan uang) telah ditetapkan dalam dalil,
maka tidak boleh ada qiyas. Berdasarkan itu semua, maka zakat tidak wajib pada tabungan gaji
pegawai hingga berlalu satu tahun (haul).” [Majmu’ Fatwa Anggota Tetap Komite Fatwa
Kerajaan Saudi Arabia 9/281, fatwa no: 1360]

Sebagai penutup tulisan singkat ini, saya mengajak pembaca untuk senantiasa merenungkan janji
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut:

َ َ‫صدَقَة نَق‬
ْ ‫ص‬
‫ت َما‬ َ ‫ َمال ِم ْن‬. ‫مسلم رواه‬

“Tidaklah sedekah itu akan mengurangi harta kekayaan.” [Riwayat Muslim]

Berdasarkan penjelasan di atas, maka saya mengusulkan agar anda mengusulkan kepada
perusahaan anda atau atasan anda agar menghapuskan pemotongan gaji yang selama ini telah
berlangsung dengan alasan zakat profesi. Karena bisa saja dari sekian banyak yang dipotong
gajinya belum memenuhi kriteria wajib zakat. Karena harta yang berhasil ia
kumpulkan/tabungkan belum mencapai nishab. Atau kalaupun telah mencapai nishab mungkin
belum berlalu satu tahun/haul, karena telah habis dibelanjakan pada kebutuhan yang halal. Dan
kalaupun telah mencapai satu nishab dan telah berlalu satu haul/tahun, maka mungkin kewajiban
zakat yang harus ia bayarkan tidak sebesar yang dipotong selama ini. Wallahu ta’ala a’alam bis
showaab.

2. Berdasarkan jawaban pertama, maka tidak perlu anda mencari buku-buku atau tulisan-tulisan
yang membahasa masalah zakat profesi. Cukuplah anda dan juga umat Islam lainnya
mengamalkan zakat-zakat yang telah nyata-nyata disepakati oleh seluruh ulama’ umat islam
sepanjang sejarah. Dan itu telah dibahas tuntas oleh para ulama’ kita dalam setiap kitab-kitab
fiqih.

Wallahu a’alam bisshawab.

[Ustadz Muhammad Arifin Badri, M.A adalah Kandidat doktor di Universitas Islam Madinah,
Madinah – Saudi Arabia. Sumber. pengusahamuslim.com]

2. Zakat Profesi/Penghasilan/Mata Pencaharian, oleh: ust. Farid nu’man

Ini adalah jenis zakat yang diperselisihkan para ulama sat ini. Sebagaimana dahulu ulama juga
berselisih tentang adanya sebagian zakat lainnya, seperti zakat sayur-sayuran, buah-buahan
selain kurma, dan zakat perdagangan.

Sebagian kalangan ada yang bersikap keras menentang zakat profesi, padahal perbedaan semisal
ini sudah ada sejak masa lalu, ketika mereka berbeda pendapat tentang ada tidaknya zakat
sayuran, buah, dan perdagangan tersebut. Seharusnya perbedaan pendapat yang disebabkan
ijtihad seperti ini tidak boleh sampai lahir sikap keras apalagi membid’ahkan dan menuduh sesat
segala.

*📌 Pihak Yang Mendukung*

Mereka yang mendukung pendapat ini seperti Syaikh Muhammad Abu Zahrah, Syaikh Abdul
Wahhab Khalaf, Syaikh Abdurrahman Hasan, dan Syaikh Yusuf Al Qaradhawi, memandang ada
beberapa alasan keharusan adanya zakat profesi:

- Profesi yang dengannya menghasilkan uang, termasuk kategori harta dan kekayaan.

- Kekayaan dari penghasilan bersifat berkembang dan bertambah, tidak tetap, ini sama halnya
dengan barang yang dimanfaatkan untuk disewakan. Dilaporkan dari Imam Ahmad, bahwa
beliau berpendapat tentang seseorang yang menyewakan rumahnya mendapatkan uang sewaan
yang cukup nisab, bahwa orang tersebut wajib mengeluarkan zakatnya ketika menerimanya
tanpa persyaratan setahun. Hal itu pada hakikatnya menyerupai mata pencaharian, dan wajib
dikeluarkan zakatnya bila sudah mencapai satu nisab, walau tanpa haul.

- Selain itu, hal ini juga diqiyaskan dengan zakat tanaman, yang mesti dikeluarkan oleh petani
setiap memetik hasilnya. Bukankah petani juga profesi? Sebagian ulama menolak menggunakan
qiyas dalam masalah ini, tetapi pihak yang mendukung mengatakan bukankah zakat fitri dengan
beras ketika zaman nabi juga tidak ada? Bukankah nabi hanya menyontohkan dengan kurma dan
gandum? Saat ini ada zakat fitri dengan beras karena beras adalah makanan pokok di Indonesia,
tentunya ini juga menggunakan qiyas, yakni mengqiyaskan dengan makanan pokok negeri Arab
saat itu, kurma dan gandum. Jadi, makanan apa saja yang menjadi makanan pokok-lah yang
dijadikan alat pembayaran zakat. Jika mau menolak, seharusnya tolak pula zakat fitri dengan
beras yang hanya didasarkan dengan qiyas sebagai makanan pokok.

- Dalam perspektif keadilan Islam, maka adanya zakat profesi adalah keniscayaan. Bagaimana
mungkin Islam mewajibkan zakat kepada petani yang pendapatannya tidak seberapa, namun
membiarkan para pengusaha kaya, pengacara, dokter, dan profesi prestise lainnya menimbun
harta mereka? Kita hanya berharap mereka mau bersedekah sesuai kerelaan hati?

- Dalam perspektif maqashid syari’ah (tujuan dan maksud syariat), adanya zakat profesi adalah
sah. Sebab lebih mendekati keadilan dan kemaslahatan, serta sesuai ayat:

_“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (keluarkan zakat) sebagian dari hasil usahamu
yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu.“_ (QS. Al
Baqarah (2): 267)

Bukankah zakat penghasilan diambil dari hasil usaha yang baik-baik saja?

- Mereka berpendapat bahwa zakat profesi ada dua jenis pelaksanaan, sesuai jenis pendapatan
manusia. Pertama, untuk orang yang gajian bulanan, maka pendekatannya dengan zakat
tanaman, yaitu nishabnya adalah 5 wasaq, senilai dengan 653 Kg gabah kering giling, dan
dikeluarkan 2,5%, yang dikeluarkan ketika menerima hasil (gaji), tidak ada haul. Kedua, bagi
yang penghasilannya bukan bulanan, seperti tukang jahit, kontraktor, pengacara, dokter, dan
semisalnya, menggunakan pendekatan zakat harta, yakni nishab senilai dengan 85gr emas
setelah diakumulasi dalam setahun, setelah dikurangi hutang konsumtif, dikeluarkan sebesar
2,5%. Untuk jenis yang ini sebenarnya juga diakui oleh pihak yang menentang Zakat Profesi,
bahwa zakat harta penghasilan itu ada jika sudah satu haul dan nishabnya 85gr emas itu dan
dikeluarkan 2,5%-nya.

*📌Dasar Pemikiran Zakat Profesi*

Zaman ini kebanyakan manusia mebiayai hidupnya dengan dua cara, bekerja sendiri
(wiraswasta) seperti penjahit, tukang kayu, dokter praktek, arsitek, dll, atau kepada orang lain
(baik swasta atau pegawai negara), seperti guru, menteri, anggota dewan, dll. Penghasilan
pekerjaan seperti itu disebut gaji atau upah, kadang juga disebut honor. Bahkan dibeberapa
tempat petani pun menggunakan sistem gajian, yakni mereka bekerja pada perusahaaan yang
memiliki lahan luas, bibitnya, lalu petanilah sebagai pekerjanya, sebulan sekali pendapat gaji.
Contoh Salim Group terhadap petani Sawit di Kabupaten Sambas.

Wacana zakat profesi (penghasilan) telah bergulir lebih dari setengah abad yang lalu. Para
ulama, seperti Abdurrahman Hasan, Muhammad Abu Zahrah, dan Abdul Wahab Khalaf telah
mengemukakan wacana ini di Damaskus pada tahun 1952. Adapun Syaikh al Qaradhawy baru
menguatkan hal ini pada awal tahun 1970-an (tepatnya 1973 ketika dia menyusun kitab Fiqih
Zakatnya). Jadi, sangat aneh dan serampangan, dan bernilai fitnah, jika ada yang mengatakan
bahwa zakat profesi merupakan pemikiran bid’ahnya Syaikh al Qaradhawy seorang diri. Berikut
teks para ulama tersebut (Halaqah Dirasah al Islamiyah, Hal. 248):

“Pencarian dan profesi dapat diambil zakatnya bila sudah setahun dan cukup senisab. Jika kita
berpegang pada pendapat Abu Hanifah, Abu Yusuf dan Muhammad (bin Hasan), bahwa nisab
tidak perlu harus tercapai sepanjang tahun, tapi cukup tercapai penuh antara dua ujung tahun
tanpa kurang di tengah-tengah, kita dapat menyimpulkan bahwa penafsiran tersebut
memungkinkan untuk mewajibkan zakat atas hasil pencarian setiap tahun, karena hasil itu jarang
terhenti sepanjang tahun bahkan kebanyakan mencapai kedua sisi ujung tahun tersebut.
Berdasarkan hal itu, kita dapat menetapkan hasil pencarian (profesi) sebagai sumber zakat,
karena terdapatnya ‘illat (penyebab), yang menurut ulama-ulama fiqih sah, dan nisab, yang
merupakan landasan wajib zakat.

Untuk bisa dianggap kaya bagi seseorang, Islam memiliki ukurannya yakni 12 Junaih emas
menurut ukuran Junaih Mesir lama, maka ukuran itu harus terpenuhi pula buat seseorang untuk
terkena kewajiban zakat, sehingga jelas perbedaan antara orang kaya yang wajib zakat dan
miskin penerima zakat.

Dalam hal ini madzhab Hanafi lebih jelas, yaitu bahwa jumlah senisab itu cukup terdapat pada
awal dan akhir tahun saja tanpa harus terdapat di pertengahan tahun. Ketentuan ini harus
diperhatikan dalam mewajibkan zakat atas hasil pencarian dan profesi ini, supaya dapat jelas
siapa yang tergolong kaya dan siapa yang tergolong miskin, seorang pekerja profesi jarang tidak
memenuhi ketentuan tersebut.”
Mengenai besar zakat, mereka mengatakan, “Pencarian dan profesi, kita tidak menemukan
contohnya dalam fikih, selain masalah khusus mengenai penyewaan yang dibicarakan Imam
Ahmad. Ia dilaporkan berpendapat tentang seseorang yang menyewakan rumahnya mendapatkan
uang sewaan yang cukup nisab, bahwa orang tersebut wajib mengeluarkan zakatnya ketika
menerimanya tanpa persyaratan setahun. Hal itu pada hakikatnya menyerupai mata pencaharian,
dan wajib dikeluarkan zakatnya bila sudah mencapai satu nisab.

Hal itu sesuai dengan apa yang kita tegaskan lebih dahulu, bahwa jarang seseorang pekerja
yang penghasilannya tidak mencapai nisab seperti yang telah kita tetapkan, meskipun tidak
cukup dipertengahan tahun tetapi cukup diakhir tahun. Ia wajib mengeluarkan zakat sesuai
dengan nisab yang telah berumur setahun.” (Ibid)

*📌 Gaji dan Upah adalah Harta Pendapatan*

Akibat dari tafsiran itu, kecuali bagi yang menentang, - adalah bahwa zakat wajib dipungut
dari gaji atau sejenisnya sebulan dari dua belas bulan. Karena ketentuan wajib zakat adalah
cukup nisab penuh pada awal tahun dan akhir tahun.

Yang menarik adalah pendapat guru-guru besar tentang hasil pencarian dan profesi dan
pendapatan dari gaji atau lain-lainnya di atas, bahwa mereka tidak menemukan persamaannya
dalam fikih selain apa yang dilaporkan tentan pendapat Imam Ahmad tentang sewa rumah di
atas. Tetapi sesungguhnya persamaan itu ada yang perlu disebutkan id sini, yaitu bahwa
kekayaan tersebut dapat digolongkan kepada kekayaan penghasilan, “yaitu kekayaan yang
diperoleh seorang muslim melalui bentuk usaha baru yang sesuai syariat agama. Jadi pandangan
fikih tentang bentuk penghasilan itu adalah, bahwa ia adalah “harta penghasilan.”

Sekelompok sahabat berpendapat bahwa kewajiban zakat kekayaan tersebut langsung, tanpa
menunggu batas waktu setahun (Haul). Di antara mereka adalah Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud,
Mu’awiyah, Shadiq, Baqir, Nashir, Daud, dan juga diriwayatkan dari Umar bin Abdul Aziz,
Hasan, Az Zuhri, dan Al Auza’i.

Di dalam penelitiannya, Syaikh al Qaradhawy menilai lemah hadits-hadits tentang ketentuan satu
tahun, baik hadits dari Ali, Ibnu Umar, Anas, dan Asiyah. Bukan hanya beliau yang
mempermasalahkan, juga Imam Ibnu Hazm, dan Imam Ibnu Hajar. Inilah yang menurutnya tidak
ada haul dalam zakat profesi tapi dikeluarkan saat mendapatkan hasil.

*📌 Pihak yang menolak*

Pihak yang menolak, umumnya para ulama Arab Saudi dan yang mengikuti mereka, berpendapat
tidak ada zakat profesi. Sebab Al Quran dan As Sunnah secara tekstual tidak menyebutkannya,
dan hendaknya mencukupkan diri dengannya.

Mereka menganggap, aturan main zakat profesi tidaklah konsisten. Kenapa nishabnya diqiyaskan
dengan zakat tanaman (5 wasaq), tetapi yang dikeluarkan bukan dengan ukuran zakat tanaman
pula? Seharusnya dikeluarkan adalah 5% atau 10% sebagaimana zakat tanaman, tetapi zakat
profesi mengeluarkan zakatnya adalah 2,5% mengikuti zakat emas.
Sementara Syaikh Ibnul ‘Utsaimin, Syaikh Shalih Al Munajjid dan lainnya mengatakan bahwa
zakat penghasilan itu ada, tetapi seperti zakat lainnya, mesti mencapai nishab, dan menunggu
selama satu haul. Dengan kata lain, tidak diwajibkan zakat penghasilan pada gaji bulanan. Hanya
saja nishabnya itu adalah setara 85 gram emas dan dikeluarkan 2,5% setelah satu haul,
sebagaimana penjelasan sebelumnya.

Demikianlah perselisihan ini.

Selesai. Wallahu a'lam.

Wa Shallallahu 'ala Nabiyyina Muhammadin wa 'ala aalihi wa Shahbihi wa Sallam

📌📌📌📌📌☘📌📌

✏️ Farid Nu'man Hasan


📌 Join: bit.ly/1Tu7OaC

3. Berapa Nishab Zakat Profesi?


Sun 13 May 2007 22:21 | Zakat | 6.315 views

Pertanyaan :

Assalamualaikum,

Afwan ustadz ana mau tanya kalau untuk masalah zakat profesi. Apa dasar hukumnya serta
bagaimana perhitungan nishabnya. Apakah dibayar tiap bulan(per gajian), atau tiap tahun.
Bagaimana dengan penghasilan di luar gaji, seperti lembur, dan tips juga masuk hitungan.Juga
dengannisabnya, berapa? Dan kalau misalkan penghasilannya kurang dari segitu, apa kena zakat
atau tidak?

Mohon jawabannya

Jazakumullah

Salam

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,


Zakat profesi memang tidak dikenal di zaman Rasulullah SAW bahkan hingga masa berikutnya
selama ratusan tahun. Bahkan kitab-kitab fiqih yang menjadi rujukan umat ini pun tidak
mencantumkan bab zakat profesi di dalamnya.

Wacana zakat profesi itu merupakan ijtihad pada ulama di masa kini yang nampaknya berangkat
dari ijtihad yang cukup memiliki alasan dan dasar yang juga cukup kuat.

Salah satunya adalah rasa keadilan seperti yang anda utarakan tersebut. Harus diingat bahwa
meski di zaman Rasulullah SAW telah ada beragam profesi, namun kondisinya berbeda dengan
zaman sekarang dari segi penghasilan.

Dalam masalah ketentuan harta yang wajib dizakati, memang ada perbedaan cara pandang di
kalangan ulama. Ada kalangan yang

a. Argumen Penentang Zakat Profesi

Mereka mendasarkan pandangan bahwa masalah zakat sepenuhnya masalah ubudiyah, sehingga
segala macam bentuk aturan dan ketentuannya hanya boleh dilakukan kalau ada petunjuk yang
jelas dan tegas atau contoh langsung dari Rasulullah SAW. Bila tidak ada, maka tidak perlu
membuat-buat.

Di antara mereka yang berada dalam pandangan seperti ini adalah fuqaha kalangan zahiri seperti
Ibnu Hazm dan lainnya dan juga jumhur ulama. Kecuali mazhab hanafiyah yang memberikan
keluwasan dalam kriteria harta yang wajib dizakati.

Umumnya ulama hijaz dan termasuk juga Dr. Wahbah Az-Zuhaily pun menolak keberadaan
zakat profesi sebab zakat itu tidak pernah dibahas oleh para ulama salaf sebelum ini. Umumnya
kitab fiqih klasik memang tidak mencantumkan adanya zakat profesi.

Apalagi di zaman Rasulullah dan salafus sholeh sudah ada profesi-porfesi tertentu yang
mendapatkan nafkah dalam bentuk gaji atau honor. Namun tidak ada keterangan sama sekali
tentang adanya ketentuan zakat gaji atau profesi. Bagaimana mungkin sekarang ini ada dibuat-
buat zakat profesi.

b. Argumen Pendukung Zakat Profesi

Para pendukung zakat profesi tidak kalah kuatnya dalam berhujjah. Misalnya mereka menjawab
bahwa profesi dimasa lalu memang telah ada, namun kondisi sosialnya bebeda dengan hari ini.
Menurut para pendukung zakat profesi, yang menjadi acuan dasarnya adalah kekayaan
seseroang. Menurut analisa mereka, orang-orang yang kaya dan memiliki harta saat itu masih
terbatas seputar para pedagang, petani dan peternak.

Ini berbeda dengan zaman sekarang, di mana tidak semua pedagang itu kaya, bahkan umumnya
peternak dan petani di negeri ini malah rata-rata hidup miskin.
Sebaliknya, profesi orang-orang yang dahulu tidak menghasilkan sesuatu yang berarti, kini
menjadi profesi yang membuat mereka menjadi kaya dengan harta berlimpah. Penghasilan
mereka jauh melebihi para pedagang, petani dan peternak dengan berpuluh kali bahkan ratusan
kali. Padahal secara teknis, apa yang mereka kerjakan jauh lebih simpel dan lebih ringan
dibanding keringat para petani dan peternak itu.

Inilah salah satu pemikiran yang mendasari ijtihad para ulama hari ini untuk menetapkan zakat
profesi yang intinya adalah azas keadilan. Namun dengan tidak keluar dari mainframe zakat itu
sendiri yang filosofinya adalah menyisihkan harta orang kaya untuk orang miskin.

Yang berubah adalah fenomena masyarakatnya dan aturan dasar zakatnya adalah tetap. Karena
secara umum yang wajib mengeluarkan zakat adalah mereka yang kaya dan telah memiliki
kecukupan. Namun karena kriteria orang kaya itu setiap zaman berubah, maka bisa saja
penentuannya berubah sesuai dengan fenomena sosialnya.

Di zaman itu, penghasilan yang cukup besar dan dapat membuat seseorang menjadi kaya berbeda
dengan zaman sekarang. Di antaranya adalah berdagang, bertani dan beternak. Sebaliknya, di
zaman sekarang ini berdagang tidak otomatis membuat pelakunya menjadi kaya, sebagaimana
juga bertani dan beternak. Bahkan umumnya petani dan peternak di negeri kita ini termasuk
kelompok orang miskin yang hidupnya serba kekuarangan.

Sebaliknya, profesi-profesi tertentu yang dahulu sudah ada, tapi dari sisi pemasukan, tidaklah
merupakan kerja yang mendatangkan materi besar. Dan di zaman sekarang ini terjadi perubahan,
justru profesi-profesi inilah yang mendatangkan sejumlah besar harta dalam waktu yang singkat.
Seperti dokter spesialis, arsitek, komputer programer, pengacara dan sebagainya. Nilainya bisa
ratusan kali lipat dari petani dan peternak miskin di desa-desa.

Perubahan sosial inilah yang mendasari ijtihad para ulama hari ini untuk melihat kembali cara
pandang kita dalam menentukan: siapakah orang kaya dan siapakah orang miskin?

Intinya zakat itu adalah mengumpulkan harta orang kaya untuk diberikan pada orang miskin. Di
zaman dahulu, orangkaya identik dengan pedagang, petani dan peternak. Tapi di zaman sekarang
ini, orang kaya adalah para profesional yang bergaji besar. Zaman berubah namun prinsip zakat
tidak berubah. Yang berubah adalah realitas di masyarakat. Tapi intinya orang kaya menyisihkan
uangnya untuk orang miskin. Dan itu adalah intisari zakat.

Sehingga dalam keyakinan mereka, bila para ulama terdahulu menyaksikan realita sosial di hari
ini, mereka akan terlebih dahulu menambahkan bab zakat profesi dalam kitab-kitab mereka.

Bila dikaitkan bahwa zakat berkaitan dengan masalah ubudiyah, memang benar. Tapi ada
wilayah yang tidak berubah secara prinsip dan ada wilayah operasional yang harus selalu
menyesuaikan diri dengan zaman.

Prinsip yang tidak berubah adalah kewajiban orang kaya menyisihkan harta untuk orang miskin.
Dan wajib adanya amil zakat dalam penyelenggaraan zakat. Dan kententuan nisab dan haul dan
seterusnya. Semuanya adalah aturan `baku` yang didukung oleh nash yang kuat.
Tapi menentukan siapakah orang kaya dan dari kelompok mana saja, harus melihat realitas
masyarakat. Dan ketika ijtihad zakat profesi digariskan, para ulama pun tidak semata-mata
mengarang dan membuat-buat aturan sendiri. Mereka pun menggunakan metodologi fikih yang
baku dengan beragam qiyas atas zakat yang sudah ditentukan sebelumnya.

Adanya perkembangan ijtihad justru harus disyukuri karena dengan demikian agama ini tidak
menjadi stagnan dan mati. Apalagi metodologi ijtihad itu sudah ada sejak masa Rasulullah SAW
dan telah menunjukkan berbagai prestasinya dalam dunia Islam selama ini. Dan yang paling
penting, metode ijtihad itu terjamin dari hawa nafsu atau bid`ah yang mengada-ada.

Pada hakikatnya, kitab-kitab fiqih karya para ulama besar yang telah mengkodifikasi hukum-
hukum Islam dari Al-Quran dan As-Sunnah adalah hasil ijtihad yang gemilang yang menghiasi
peradaban Islam sepanjang sejarah. Semua aturan ibadah mulai dari wudhu`, shalat, puasa, haji
dan zakat yang kita pelajari tidak lain adalah ijtihad para ulama dalam memahami nash Al-Quran
dan As-Sunnah.

Kehidupan manusia sudah mengami banyak perubahan besar. Dengan menggunakan pendekatan
seperti itu, maka hanya petani gandum dan kurma saja yang wajib bayar zakat, sedangkan petani
jagung, palawija, padi dan makanan pokok lainnya tidak perlu bayar zakat. Karena contoh yang
ada hanya pada kedua tumbuhan itu saja.

Sementara disisi lain ada kalangan yang melakukan ijtihad dan penyesuaian sesuai dengan
kondisi yang ada. Mereka misalnya mengqiyas antara beras dengan gandum sebagai sama-sama
makanan pokok, sehingga petani beras pun wajib mengeluarkan zakat.

Bahkan ada kalangan yang lebih jauh lagi dalam melakukan qiyas, sehingga mereka mewajibkan
petani apapun untuk mengeluarkan zakat. Maka petani cengkeh, mangga, bunga-bungaan, kelapa
atau tumbuhan hiasan pun kena kewajiban untuk membayar zakat. Menurut mereka adalah
sangat tidak adil bila hanya petani gandunm dan kurma saja yang wajib zakat, sedangkan mereka
yang telah kaya raya karena menanam jenis tanaman lain yang bisa jadi hasilnya jauh lebih
besar, tidak terkena kewajiban zakat.

Di antara mereka yang berpendapat seperti ini antara lain adalah Al-Imam Abu Hanifah dan para
pengikutnya.

Dan ide munculnya zakat profesi kira-kira lahir dari sistem pendekatan fiqih gaya Al-Hanafiyah
ini, di mana mereka menyebutkan bahwa kewajiban zakat adalah dari segala rizki yang telah
Allah SWT berikan sehingga membuat pemiliknya berkecukupan atau kaya.

Dan semua sudah sepakat bahwa orang kaya wajib membayar zakat. Hanya saja menurut
kalangan ini, begitu banyak terjadi perubahan sosial dalam sejarah dan telah terjadi pergeseran
besar dalam jenis usaha yang melahirkan kekayaan.

Dahulu belum ada dokter spesialis, lawyer atau konsultan yang cukup sekali datang bisa
mendapatkan harta dalam jumlah besar dan mengalir lancar ke koceknya. Misalnya seorang
dokter spesialis yang berpraktek hanya dalam hitungan menit, tapi honornya berjuta.
Dibandingkan dengan petani di kampung yang kehujanan dan kepanasan sedangkan hasilnya
pas-pasan bahkan sering nombok, maka alangkah sangat tidak adilnya agama ini, bila si petani
miskin wajib bayar zakat sedangkan dokter spesialis itu bebas dari beban.

Karena itulah mereka kemudian merumuskan sebuah pos baru yang pada dasarnya tidak
melanggar ketentuan Allah SWT atas kewajiban bayar zakat bagi orang kaya. Hanya saja
sekarang ini perlu dirumuskan secara cermat, siapakah orang yang bisa dibilang kaya itu. Dan
para profesional itu tentu berada pada urutan terdepan dalam hal kekayaan dibandingkan dengan
orang kaya secara tradisional yang dikenal di zaman dahulu. Untuk itu agar mereka ini juga
wajib mengeluarkan zakat, maka pos zakat mereka itu disebut dengan zakat profesi.

Dan bila dirunut ke belakang, sebenarnya zakat profesi ini bukanlah hal yang sama sekali baru,
karena ada banyak kalangan salaf yang pernah menyebutkannya di masa lalu meski tidak/ belum
populer seperti di masa kini.

Namun begitulah, kita tahu bahwa di dalam tubuh umat ini memang ada khilaf dalam cara
pandang terhadap masalah zakat, sehingga ada yang mendukung zakat profesi di satu pihak
karena lebih logis dan nalar dan di pihak lain menentangnya karena dianggap tidak ada
masyru`iyahnya.

Kriteria Yang Wajib Dizakatkan

Yang termasuk dalam zakat profesi menurut para pendukungnya adalah semua pemasukan dari
hasil kerja dan usaha. Bentuknya bisa berbentuk gaji, upah, honor, insentif, mukafaah, persen
dan sebagainya. Baik sifatnya tetap dan rutin atau bersifat temporal atau sesekali.

1. Penghasilan Kotor Atau Bersih

Namun bagaimanakah menghitung pengeluaran itu? Apakah berdaasrkan pemasukan kotor


ataukah setelah dipotong dengan kebutuhan pokok? Dalam hal ini ada dua kutub pendapat.
Sebagian mendukung tentang pengeluaran dari pemasukan kotor dan sebagian lagi mendukung
pengeluaran dari pemasukan yang sudah bersih dipotong dengan segala hajat dasar kebutuhan
hidup.

2. Jalan Tengah Qaradawi

Dalam kitab Fiqih Zakat, Dr. Yusuf Al-Qaradhawi menyebutkan bahwa untuk mereka yang
berpenghasilan tinggi dan terpenuhi kebutuhannya serta memang memiliki uang berlebih, lebih
bijaksana bila membayar zakat dari penghasilan kotor sebelum dikurangi dengan kebutuhan
pokok.

Misalnya seseorang bergaji 200 juta setahun, sedangkan kebutuhan pokok anda perbulannya
sekitar 2 juta atau setahun 24 juta. Maka ketika menghitung pengeluaran zakat, hendaknya dari
penghasilan kotor itu dikalikan 2, 5%.
Namun masih menurut Al-Qaradhawi, bila anda termasuk orang yang bergaji pas-pasan bahkan
kurang memenuhi standar kehidupan, kalaupun anda diwajibkan zakat, maka penghitungannya
diambil dari penghasilan bersih setelah dikurangi hutang dan kebutuhan pokok lainnya. Bila sisa
penghasilan anda itu jumlahnya mencapai nisab dalam setahun (Rp 1.300.000, -), barulah anda
wajib mengeluarkan zakat sebesr 2, 5% dari penghasilan bersih itu.

Nampaknya jalan tengah yang diambil Al-Qaradhawi ini lumayan bijaksana, karena tidak
memberatkan semua pihak. Dan masing-masing akan merasakan keadilan dalam syariat Islam.
Yang penghasilan pas-pasan, membayar zakatnya tidak terlalu besr. Dan yang penghasilannya
besar, wajar bila membayar zakat lebih besar, toh semuanya akan kembali.

Kedua pendapat ini memiliki kelebihan dan kekuarangan. Buat mereka yang pemasukannya kecil
dan sumber penghidupannya hanya tergantung dari situ, sedangkan tanggungannya lumayan
besar, maka pendapat pertama lebih sesuai untuknya.

Pendapat kedua lebih sesuai bagi mereka yang memiliki banyak sumber penghasilan dan rata-
rata tingkat pendapatannya besar sedangkan tanggungan pokoknya tidak terlalu besar.

Nishab

Para ulama umumnya mengqiyaskan zakat profesi dengan zakat tanaman. termasuk ketika
mengqiyaskan nisab. Maka nishab zakat profesi sesuai dengan zakat tanaman, yaitu setiap
menerima panen atau penghasilan dan besarnya adalah 5 wasaq atau setara dengan 652, 8 kg
gabah

Dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan dikeluarkan zakatnya)…" (QS Al-
An`am 141 )

Rasulullah SAW bersabda:


`Tidak ada zakat pada hasil tanaman yang kurang dari lima wasaq` (HR Ahmad dan al-Baihaqi
dengan sanad jayyid)

Dan tidak ada zakat pada kurma yang kurang dari lima wasaq` (HR Muslim).

1 wasaq = 60 sha`, 1 sha` = 2, 176 kg, maka 5 wasaq = 5 x 60 x 2, 176 = 652, 8 kg gabah. Jika
dijadikan beras sekitar 520 kg. Maka nishab zakat profesi seharga dengan 520 kg beras. Yaitu
sekitar Rp 1.300.000, -.

Nishab ini adalah jumlah pemasukan dalam satu tahun. Artinya bila penghasilan seseorang
dikumpulkan dalam satu tahun bersih setelah dipotong dengan kebutuhan pokok dan jumlahnya
mencapai Rp 1.300.000, - maka dia sudah wajib mengeluarkan zakat profesinya. Ini bila
mengacu pada pendapat pertama.

Dan bila mengacu kepada pendapat kedua, maka penghasilannya itu dihitung secara kotor tanpa
dikurangi dengan kebutuhan pokoknya. Bila jumlahnya dalam setahun mencapai Rp 1.300.000, -
, maka wajiblah mengeluarkan zakat.
Waktu Membayarnya

Zakat profesi dibayarkan saat menerima pemasukan karena diqiyaskan kepada zakat pertanian
yaitu pada saat panen atau saat menerima hasil.

Besarnya yang harus dikeluarkan

Penghasilan profesi dari segi wujudnya berupa uang. Dari sisi ini, ia berbeda dengan hasil
tanaman, dan lebih dekat dengan `naqdain` (emas dan perak). Oleh sebab itu, para ulama
menyebutkan bahwa kadar zakat profesi yang dikeluarkan diqiyaskan berdasarkan zakat emas
dan perak, yaitu `rub`ul usyur` atau 2, 5% dari seluruh penghasilan kotor.

Nash yang menjelaskan kadar zakat `naqdaian` sebanyak 2, 5% adalah sabda Rasulullah SAW:

Bila engkau memiliki 20 dinar (emas) dan sudah mencapai satu tahun, maka zakatnya setengah
dinar (2, 5%)` (HR Ahmad, Abu Dawud dan al-Baihaqi).

Berikanlah zakat perak dari 40 dirham dikeluarkan satu dirham. Tidak ada zakat pada 190
dirham (perak), dan jika telah mencapai 200 dirham maka dikeluarkan lima dirham` (HR
Ashabus Sunan).

Sehingga jadilah nishab zakat profesi 2, 5% dari hasil kerja atau usaha.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

4. Zakat Profesi dan Zakat Maal


Fri 6 June 2014 05:48 | Zakat | 37.391 views

Pertanyaan :
Assalamu'alaikum Wr Wb,

Ustadz mohon penjelasannya,

1. Gaji saya sudah dipotong zakat profesi 2,5% tiap bulannya. Kemudian dari gaji itu sisanya
saya tabungkan dan alhamdulillah sekarang tabungan saya kalau dihitung sudah masuk nisab.
Apakah tabungan saya juga harus dibayarkan zakatnya tiap tahun?

2. Apakah zakat maal itu?


3. Apakah harta yang masuk dalam kategori wajib dikeluarkan zakat maalnya?

4. Apakah rumah tempat tinggal dan kendaraan yang dipakai untuk bekerja termasuk yang wajib
dihitung dalam mengeluarkan zakat maal?

Terimakasih banyak atas jawaban Pak Ustadz.

Semoga Allah SWT memberikan keberkahan yang banyak pada Ustadz.

Jawaban :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

1. Apakah tabungan harus dibayarkan zakatnya tiap tahun walaupun sudah zakat profesi?

Harta yang kita miliki itu bermacam-macam wujudnya. Dan tiap jenis harta punya aturan
masing-masing dalam ketentuan zakatnya.

Ada zakat yang harus dikeluarkan ketika seseorang menerima harta, seperti zakat hasil panen
pertanian. Jenis harta seperti itu hanya dikeluarkan zakatnya pada saat menerimanya saja, dan
tidak ada kewajiban zakat tiap tahun.

Dan ada zakat yang dikeluarkan berdasarkan masa kepemilikan per tahun. Selama seseorang
memiliki harta itu, maka setiap tahun dia wajib mengeluarkan zakatnya. Misalnya emas dan
perak yang jumlahnya memenuhi nishab, tiap tahun (haul), wajib dikeluarkan zakatnya.

Namun ketika suatu harta berubah wujud dari satu bentuk ke bentuk yang lain, asalkan sudah
terpenuhi syarat dan ketentuannya, tentu tetap terkena kewajiban zakat.

Contohnya mudahnya seorang petani panen gabah yang jumlahnya sudah melebihi nisab yaitu 5
wasaq. Katakanlah dia panen 30 ton. Maka saat itu dia wajib keluarkan 5% - 10% dari hasil
panennya untuk zakat. Sisanya disimpan di lumbung untuk persediaan makanan tahun-tahun
mendatang.

Beras yang disimpannya itu tentu sudah tidak terkena zakat lagi. Sebab zakat beras ditetapkan
berdasarkan waktu panen dan bukan berdasarkan masa kepemilikan atau penyimpanan.

Tetapi manakala si petani menjual berasnya dan dia belikan emas untuk disimpan, maka
ceritanya lain lagi. Kali ini yang disimpan adalah emas dan bukan beras. Emas yang disimpan
bila nilainya telah melewati nishab (85 gram), maka tiap tahun terkena zakat sebesar 2,5% dari
nilai totalnya.

Dan para ulama banyak sepakat bahwa memiliki uang kertas di zaman modern ini sama
hukumnya dengan menyimpan emas di masa lalu, yaitu tiap tahun tetap terkena zakat sebesar
2,5% dari nilai total.
Maka jawaban atas pertanyaan Anda bahwa selama gaji Anda disimpan dalam bentuk uang atau
emas, walaupun sudah terkena zakat profesi di awal, tetap saja terkena zakat 'menimbun' uang
tiap tahun.

Lain halnya bila uang gaji itu disimpan dalam bentuk selain uang atau emas, misalnya dalam
bentuk beras, justru malah tidak akan terkena zakat. Karena dalam fiqih zakat tidak dikenal zakat
atas penyimpanan beras tetapi yang dikenal justru zakat atas penyimpanan uang dan emas.

2. Apakah Zakat Maal itu?

Sebenarnya semua zakat itu adalah zakat mal, karena makna kata mal tidak lain adalah harta.
Dan yang namanya zakat adalah mengeluarkan sebagian dari harta. Zakat atas kepemilikan
hewan ternak, hasil tanaman, kepemilikan emas dan perak, zakat atas penimbunan barang
dagangan, zakat rikaz dan ma'adin, semuanya adalah zakat atas harta yang dimiliki.

Bahkan zakat al-fithr yang diberikan kepada fakir miskin di hari Idul Fithri pun masih termasuk
harta, walaupun wujudnya berupa makanan.

Namun untuk kasus di negeri kita, saya berasumsi karena selama ini orang-orang hanya
membayar zakat al-fithr saja, dengan melupakan zakat-zakat lainnya, maka ada seruan dan
ajakan untuk membayarkan juga zakat atas harta-harta yang dimiliki. Karena itulah keluar istilah
zakat atas harta alias zakat mal.

3. Apakah harta yang masuk dalam kategori wajib dikeluarkan zakat maalnya?

Ada beberapa syarat atau kriteria harta yang wajb dikeluarkan zakatnya, yaitu :

Pertama : Dimiliki Secara Mutlak atau Sempurna

Yang dimaksud dengan harta yang dimiliki secara mutlak adalah harta yang 100% di bawah
penguasaan seseorang. Sedangkan harta yang hilang atau atau dibawa kabur oleh peminjam tanpa
kabar yang pasti, tidak wajib dizakati.

Harta bersama milik orang banyak juga tidak termasuk yang wajib dizakati, termasuk harta milik
negara atau harta waqaf.

Kedua : Harta Produktif


Kalau tanah dibiarkan tidak produktif, maka tidak ada kewajiban zakat atasnya. Demikian juga
dengan rumah, kendaraan dan apapun yang tidak memberikan pemasukan, maka tidak ada
kewajiban zakat atasnya.

Tetapi ketika di atas tanah ditanami tumbuhan yang produktif, barulah ada kewajiban zakat atas
hasil panennya dan bukan atas kepemilikkan tanahnya.

Ketiga : Melebihi Nishab


Harta yang jumlahnya sedikit tentu tidak ada kewajiban zakatnya. Hanya harta tertentu yang
nilainya telah melebihi nishab saja yang wajib dikeluarkan zakatnya.

Tetapi tiap jenis harta ada ketentuan nishabnya masing-masing, sesuai dengan apa yang telah
ditetapkan oleh Rasulullah SAW dalam banyak haditsnya.

Keempat : Masa Kepemilikikan Melewati Haul

Prinsipnya, harta yang dimiliki itu tidak wajib dibayarkan zakatnya kecuali setelah ada masa
kepemilikan selama satu tahu (haul). Namun memang ada jenis harta tertentu yang langsung
dibayarkan saat menerimanya, misalnya zakat hasil pertanian.

Kelima : Sudah Melebihi Kebutuhan Dasar

Ketia seseorang sudah punya harta yang melebihi nishab dan melewati haul, seharusnya dia
wajib keluarkan zakatnya. Tetapi manakala dia masih punya kebutuhan dasar yang membuatnya
lebih memerlukan harta itu dari pada mengeluarkan zakatnya, maka zakatnya tidak wajib dan
memenuhi kebutuhan dasar itulah yang justru wajib.

Keenam : Selamat Dari Hutang

Sebagian ulama menambahkan lagi satu syarat, yaitu orang yang berzakat harus sudah bebas dari
kewajiban membayar hutang terlebih dahulu. Namun hutang yang dimaksud adalah hutang yang
terkait dengan kebutuhan paling mendasar dalam hidupnya.

4. Apakah rumah tempat tinggal dan kendaraan yang dipakai untuk bekerja termasuk yang wajib
dihitung dalam mengeluarkan zakat maal?

Kalau mengacu kepada fiqih zakat yang original, tidak ada kewajiban zakatnya. Namun sebagian
orang di masa sekarang ada yang membuat tesis untuk mengenakan zakat atas semua harta itu.

Tentu tesis ini masih bisa diperdebatkan, dan tentu akan ada yang pro dan kontra atas apa yang
diusulkan dalam tesis itu. Para pakar ulama dan fuqaha kontemporer masih belum sampai kata
sepakat atas kewajiban zakat atas rumah dan kendaraan, selama sekedar dimiliki.

Namun kalau rumah atau kendaraan itu menjadi benda yang produktif menghasilkan uang,
banyak yang setuju untuk dikenakan zakat.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc., MA


5. Ijtihad yang Mendasari Zakat Profesi

Tue 26 September 2006 07:21 | Zakat | 4.908 views

Pertanyaan :

Assalamualaikum war. wab.

Pak ustadz, mohon jelaskan tentang zakat profesi beserta sumber hukumnya.

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Zakat profesi sebagai sebuah paket pembahasan khusus masalah fiqih. Paling tidak, di dalam
kitab-kitab fiqih klasik yang menjadi rujukan umat ini, zakat profesi tidak tercantum.

Wacana zakat profesi itu merupakan ijtihad pada ulama di masa kini yang nampaknya berangkat
dari ijtihad yang cukup memiliki alasan dan dasar yang juga cukup kuat.

Salah satunya adalah rasa keadilan seperti yang anda utarakan tersebut. Harus diingat bahwa
meski di zaman Rasulullah SAW telah ada beragam profesi, namun kondisinya berbeda dengan
zaman sekarang dari segi penghasilan.

Dalam masalah ketentuan harta yang wajib dizakati, memang ada perbedaan cara pandang di
kalangan ulama. Ada kalangan yang mendukung adanya zakat profesi dan sebagian lagi
berkeyakinan tidak ada zakat profesi.

a. Argumen Penentang Zakat Profesi

Mereka mendasarkan pandangan bahwa masalah zakat sepenuhnya masalah ubudiyah, sehingga
segala macam bentuk aturan dan ketentuannya hanya boleh dilakukan kalau ada petunjuk yang
jelas dan tegas atau contoh langsung dari Rasulullah SAW. Bila tidak ada, maka tidak perlu
dibuat-buat.

Di antara mereka yang berada dalam pandangan seperti ini adalah fuqaha kalangan zahiri seperti
Ibnu Hazm dan lainnya dan juga jumhur ulama. Kecuali mazhab Al-Hanafiyah yang
memberikan keluasan dalam kriteria harta yang wajib dizakati.

Umumnya ulama hijazmenolak keberadaan zakat profesi. Bahkan ulama modern seperti
termasuk juga Dr. Wahbah Az-Zuhailyjuga belum bisa menerima keberadaan zakat itu. Sebab
zakat profesi itu tidak pernah dibahas oleh para ulama salaf sebelum ini. Umumnya kitab fiqih
klasik memang tidak mencantumkan adanya zakat profesi.
Apalagi di zaman Rasulullah dan salafus sholeh sudah ada profesi-porfesi tertentu yang
mendatangkan nafkah dalam bentuk gaji atau honor. Namun tidak ada keterangan sama sekali
tentang adanya ketentuan zakat gaji atau profesi. Argumentasi mereka, bagaimana mungkin
sekarang ini ada dibuat-buat zakat profesi?

b. Argumen Pendukung Zakat Profesi

Para pendukung zakat profesi tidak kalah kuatnya dalam berhujjah. Misalnya mereka menjawab
bahwa profesi dimasa lalu memang telah ada, namun kondisi sosialnya berbeda dengan hari ini.

Menurut mereka, yang menjadi acuan dasarnya adalah kekayaan seseorang. Menurut analisa
mereka, orang-orang yang kaya dan memiliki harta saat itu masih terbatas seputar para
pedagang, petani dan peternak.

Ini berbeda dengan zaman sekarang, di mana tidak semua pedagang itu kaya, bahkan umumnya
peternak dan petani di negeri ini malah hidup dalam kemiskinan.

Sebaliknya, profesi orang-orang yang dahulu tidak menghasilkan sesuatu yang berarti, kini
menjadi profesi yang membuat mereka menjadi kaya dengan harta berlimpah. Penghasilan
mereka jauh melebihi para pedagang, petani dan peternak dengan berpuluh kali bahkan ratusan
kali. Padahal secara teknis, apa yang mereka kerjakan jauh lebih simpel dan lebih ringan
dibanding keringat para petani dan peternak itu.

Inilah salah satu pemikiran yang mendasari ijtihad para ulama hari ini dalammenetapkan zakat
profesi. Intinya adalah azas keadilan. Namun dengan tidak keluar dari mainframe zakat itu
sendiri yang filosofinya adalah menyisihkan harta orang kaya untuk orang miskin.

Buat mereka, yang berubah adalah fenomena sosial di masyarakat, sedangkan aturan dasar
zakatnya adalah tetap. Karena secara umum yang wajib mengeluarkan zakat adalah mereka yang
kaya dan telah memiliki kecukupan. Namun karena kriteria orang kaya itu setiap zaman berubah,
maka bisa saja penentuannya berubah sesuai dengan fenomena sosialnya.

Di zaman itu, penghasilan yang cukup besar dan dapat membuat seseorang menjadi kaya berbeda
dengan zaman sekarang. Di antaranya adalah berdagang, bertani dan beternak. Sebaliknya, di
zaman sekarang ini berdagang tidak otomatis membuat pelakunya menjadi kaya, sebagaimana
juga bertani dan beternak. Bahkan umumnya petani dan peternak di negeri kita ini termasuk
kelompok orang miskin yang hidupnya serba kekurangan.

Sebaliknya, profesi-profesi tertentudi zaman dahulu memang sudah ada, tapi dari sisi
pemasukan, tidaklah merupakan kerja yang mendatangkan materi besar dan membuat pelakunya
kaya raya. Di zaman sekarang ini terjadi perubahan, justru profesi-profesi inilah yang
mendatangkan sejumlah besar harta dalam waktu yang singkat. Seperti dokter spesialis, arsitek,
komputer programer, pengacara dan sebagainya. Nilainya bisa ratusan kali lipat dari petani dan
peternak miskin di desa-desa.
Perubahan sosial inilah yang mendasari ijtihad para ulama hari ini untuk melihat kembali cara
pandang kita dalam menentukan: siapakah orang kaya dan siapakah orang miskin di zaman ini?

Intinya zakat itu adalah mengumpulkan harta orang kaya untuk diberikan pada orang miskin. Di
zaman dahulu, orang kaya identik dengan pedagang, petani dan peternak. Tapi di zaman
sekarang ini, orang kaya adalah para profesional yang bergaji besar. Zaman berubah namun
prinsip zakat tidak berubah. Yang berubah adalah realitas di masyarakat. Tapi intinya orang kaya
menyisihkan uangnya untuk orang miskin. Dan itu adalah intisari zakat.

Sehingga dalam keyakinan mereka, bila para ulama terdahulu menyaksikan realita sosial di hari
ini, mereka pasti akan menambahkan bab zakat profesi dalam kitab-kitab mereka.

Bila dikaitkan bahwa zakat berkaitan dengan masalah ubudiyah, memang benar. Tapi ada
wilayah yang tidak berubah secara prinsip dan ada wilayah operasional yang harus selalu
menyesuaikan diri dengan zaman.

Prinsip yang tidak berubah adalah kewajiban orang kaya menyisihkan harta untuk orang miskin.
Dan wajib adanya amil zakat dalam penyelenggaraan zakat. Dan kententuan nisab dan haul dan
seterusnya. Semuanya adalah aturan `baku` yang didukung oleh nash yang kuat.

Tapi menentukan siapakah orang kaya dan dari kelompok mana saja, harus melihat realitas
masyarakat. Dan ketika ijtihad zakat profesi digariskan, para ulama pun tidak semata-mata
mengarang dan membuat-buat aturan sendiri. Mereka pun menggunakan metodologi fikih yang
baku dengan beragam qiyas atas zakat yang sudah ditentukan sebelumnya.

Adanya perkembangan ijtihad justru harus disyukuri karena dengan demikian agama ini tidak
menjadi stagnan dan mati. Apalagi metodologi ijtihad itu sudah ada sejak masa Rasulullah SAW
dan telah menunjukkan berbagai prestasinya dalam dunia Islam selama ini. Dan yang paling
penting, metode ijtihad itu terjamin dari hawa nafsu atau bid`ah yang mengada-ada.

Pada hakikatnya, kitab-kitab fiqih karya para ulama besar yang telah mengkodifikasi hukum-
hukum Islam dari Al-Quran dan As-Sunnah adalah hasil ijtihad yang gemilang yang menghiasi
peradaban Islam sepanjang sejarah. Semua aturan ibadah mulai dari wudhu`, shalat, puasa, haji
dan zakat yang kita pelajari tidak lain adalah ijtihad para ulama dalam memahami nash Al-Quran
dan As-Sunnah.

Kehidupan manusia sudah mengalami banyak perubahan besar. Dengan menggunakan


pendekatan seperti itu, maka hanya petani gandum dan kurma saja yang wajib bayar zakat,
sedangkan petani jagung, palawija, padi dan makanan pokok lainnya tidak perlu bayar zakat.
Karena contoh yang ada hanya pada kedua tumbuhan itu saja.

Sementara di sisi lain, ada kalangan yang melakukan ijtihad dan penyesuaian sesuai dengan
kondisi yang ada. Mereka misalnya mengqiyas antara beras dengan gandum sebagai sama-sama
makanan pokok, sehingga petani beras pun wajib mengeluarkan zakat.
Bahkan ada kalangan yang lebih jauh lagi dalam melakukan qiyas, sehingga mereka mewajibkan
petani apapun untuk mengeluarkan zakat. Maka petani cengkeh, mangga, bunga-bungaan, kelapa
atau tumbuhan hiasan pun kena kewajiban untuk membayar zakat. Menurut mereka adalah
sangat tidak adil bila hanya petani gandum dan kurma saja yang wajib zakat, sedangkan mereka
yang telah kaya raya karena menanam jenis tanaman lain yang bisa jadi hasilnya jauh lebih
besar, tidak terkena kewajiban zakat.

Di antara mereka yang berpendapat seperti ini antara lain adalah Al-Imam Abu Hanifah dan para
pengikutnya.

Dan ide munculnya zakat profesi kira-kira lahir dari sistem pendekatan fiqih gaya Al-Hanafiyah
ini, di mana mereka menyebutkan bahwa kewajiban zakat adalah dari segala rizki yang telah
Allah SWT berikan sehingga membuat pemiliknya berkecukupan atau kaya.

Dan semua sudah sepakat bahwa orang kaya wajib membayar zakat. Hanya saja menurut
kalangan ini, begitu banyak terjadi perubahan sosial dalam sejarah dan telah terjadi pergeseran
besar dalam jenis usaha yang melahirkan kekayaan.

Dahulu belum ada dokter spesialis, lawyer atau konsultan yang cukup sekali datang bisa
mendapatkan harta dalam jumlah besar dan mengalir lancar ke koceknya. Misalnya seorang
dokter spesialis yang berpraktek hanya dalam hitungan menit, tapi honornya berjuta.
Dibandingkan dengan petani di kampung yang kehujanan dan kepanasan sedangkan hasilnya
pas-pasan bahkan sering nombok, maka alangkah sangat tidak adilnya agama ini, bila si petani
miskin wajib bayar zakat sedangkan dokter spesialis itu bebas dari beban.

Karena itulah mereka kemudian merumuskan sebuah pos baru yang pada dasarnya tidak
melanggar ketentuan Allah SWT atas kewajiban bayar zakat bagi orang kaya. Hanya saja
sekarang ini perlu dirumuskan secara cermat, siapakah orang yang bisa dibilang kaya itu. Dan
para profesional itu tentu berada pada urutan terdepan dalam hal kekayaan dibandingkan dengan
orang kaya secara tradisional yang dikenal di zaman dahulu. Untuk itu agar mereka ini juga
wajib mengeluarkan zakat, maka pos zakat mereka itu disebut dengan zakat profesi.

Dan bila dirunut ke belakang, sebenarnya zakat profesi ini bukanlah hal yang sama sekali baru,
karena ada banyak kalangan salaf yang pernah menyebutkannya di masa lalu meski tidak/ belum
populer seperti di masa kini.

Namun begitulah, kita tahu bahwa di dalam tubuh umat ini memang ada khilaf dalam cara
pandang terhadap masalah zakat, sehingga ada yang mendukung zakat profesi di satu pihak
karena lebih logis dan nalar dan di pihak lain menentangnya karena dianggap tidak ada
masyru`iyahnya.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.