Anda di halaman 1dari 16

AKAD ISTISHNA

MAKALAH

Oleh :

Tito Bintang Fajar 1510631030195

Yanti Pratiwi 1510631030201

Yudit Aliatusyara 1510631030202

PROGRAM STUDI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS NEGERI SINGAPERBANGSA KARAWANG
2018
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah penulis mengucapkan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Pengasih


dan Maha Penyayang karena berkat rahmat dan ridho-Nya, makalah ini dapat penulis
selesaikan. Makalah ini dibuat sebagai wujud rasa peduli terhadap dunia pendidikan dan
sekaligus melakukan apa yang menjadi tugas mahasiswa yang mengikuti mata kuliah
”akutansi Syari’ah”.
Dalam proses pendalaman materi akutansi Syari’ah ini, tentunya penulis mendapat
bimbingan, arahan, dan saran dalam kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan
terimakasih dalam lubuk hati yang paling dalam kepada :

1. Dosen pengampu mata kuliah ” akutansi Syari’ah” Bapak Wirman SE.,MM


2. Teman-teman Akuntansi 6 & Akuntansi 7

Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami dan berguna bagi yang membacanya.
Sekiranya makalah ini telah di susun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang lain.
Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan dalam penulisan yang kurang
berkenan, kami berharap bagi pembaca kritik dan saran yang membangun demi kebaikan
kami untuk kedepannya

Karawang, 27 September 2018

Penulis

ii | P a g e
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................................................................... ii
DAFTAR ISI.............................................................................................................................................. iii
BAB I ........................................................................................................................................................ 1
PENDAHULUAN ....................................................................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang......................................................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah : ................................................................................................................. 2
1.3 Tujuan.......................................................................................................................................... 2
BAB II ....................................................................................................................................................... 3
PEMBAHASAN ......................................................................................................................................... 3
2.1 Pengertian Istishna ................................................................................................................. 3
2.2 Karakteristik Istishna ............................................................................................................... 4
2.3 Jenis akad istishna ................................................................................................................... 4
2.4 Perbedaan istishna dan salam adalah sebagai berikut: .......................................................... 4
2.5 Rukun Dan Ketentuan Akad Istishna’ ...................................................................................... 5
2.5.1 Ketentuan tentang pembayaran: .................................................................................... 5
2.5.2 Ketetuan tentang barang: ............................................................................................... 6
2.6 Pengakuan, Pengukuran, dan Penyajian Istishna ................................................................... 7
BAB III .................................................................................................................................................... 12
PENUTUP ............................................................................................................................................... 12
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................................. 13

iii | P a g e
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Akad istishna’ merupakan produk lembaga keuangan syariah, sehingga jual beli ini
dapat dilakukan di lembaga keuangan syariah. Semua lembaga keuangan syariah
memberlakukan produk ini sebagai jasa untuk nasabah, selain memberikan keuntungan
kepada produsen juga memberikan keuntungan kepada konsumen atau pemesan yang
memesan barang. Sehingga lembaga keuangan syariah menjadi pihak intermediasi dalam hal
ini.
Akad istishna adalah akad jual beli dalam bentuk pemesanan pembuatan barang
tertentu dengan kriteria dan persyaratan tertentu. Istishna dapat dilakukan langsung antara
dua belah pihak antara pemesan atau penjual seperti, atau melalui perantara. Jika dilakukan
melalui perantara maka akad disebut dengan akad istishna paralel. Walaupun istishna adalah
akad jual beli, tetapi memiliki perbedaan dengan salam maupun dengan murabahah. Istishna
lebih ke kontrak pengadaan barang yang ditangguhkan dan dapat di bayarkan secara tangguh
pula. Istishna menurut para fuqaha adalah pengembangan dari salam, dan di izinkan secara
syari’ah.
Dalam perkembangannya, ternyata akad istishna lebih mungkin banyak digunakan di
lembaga keuangan syariah dari pada salam. Hal ini disebabkan karena barang yang dipesan
oleh nasabahatau konsumen lebih banyak barang yang belum jadi dan perlu dibuatkan
terlebih dahulu dibandingkan dengan barang yang sudah jadi. Secara sosiologis barang yang
sudah jadi telah banyak tersedia di pasaran, sehingga tidak perlu dipesan terlebih dahulu pada
saat hendak membelinya. Oleh karena itu pembiayaan yang mengimplementasikan istishna’
bisa menjadi salah satu solusi untuk mengantisipasi masalah pengadaan barang yang belum
tersedia. Untuk pengakuan pendapatan istishna dapat dilakukan melalui akad langsung dan
metode persentase penyelesaian. Di mana metode persentase penyelesaian yang digunakan
mirip dengan akuntansi konvensional, kecuali perbedaan laba yang di pisah antara margin
laba dan selisih nilai akad dengan nilai wajar.

1|Page
1.2 Rumusan Masalah :

1. Apa pengertian akad istishna?


2. Apa saja karakteristik istishna?
3. Apa saja jenis akad istishna?
4. Apa saja rukun dan ketentuan istishna ?
5. Bagaimana ilustrasi akad istishna?

1.3 Tujuan

1. Mengetahui apa yang dimaksud akad istishna.

2. Mengetahui apa saja karakteristik dari istishna.

3. Mengetahui jenis-jenis akad istishna.

4. Mengetahui apa saja ketentuan serta rukun dalam melakukan istishna.

5. Mengetahui bagaimana penerapan akad istishna secara baik.

2|Page
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Istishna

Akad istishna adalah akad jual beli antara al mustashni (pembeli) dan asshani
(prosuden yang juga bertindak sebagai penjual) dimana pembeli menugasi produsen untuk
menyediakan al mashnu (barang pesanan) sesuai spesifikasi yang disyaratkan pembeli dan
menjualnya dengan harga yang disepakati. Cara pembayarannya dapet berupa pembayaran
dimuka, cicilan, atau dapat ditangguhkan dalam jangka waktu tertentu, dan umumnya cara
pembayaran istishna dilakukan dengan cicilan. Ketentuan harga barang tidak dapat berubah
selama jangka waktu akad.

Adapun pengertian lain dari, Akad istishna adalah akad jual beli dalam bentuk
pemesanan pembuatan barang tertentu dengan kriteria dan persyaratan tertentu yang di
sepakati antara pemesan (pembeli/mustashni) dan penjual (pembuat/shani) (fatwa DSN MUI)
shani’ akan menyiapkanbarang yang di pesan sesuai dengan spesifikasi yang telah di sepakati
di mana ia dapat menyiapkan sendiri atau melalui pehak lain (istishna pararlel).

Sehingga dapat disimpulkan bahwa akad istishna adalah akad jual beli dimana
seorang pembeli memesan suatu barang kepada prosuden yang juga bertindak sebagai
penjual, dengan kriteria dan persyaratan tertentu yang di sepakati, dan harga barang tidak
dapat berubah selama jangkawaktu akad dengan cara pembayarannya dapet berupa
pembayaran dimuka, cicilan, atau dapat ditangguhkan dalam jangka waktu tertentu.

Begitu akad disepakati, maka akan mengikat para pihak yang bersepakat dan pada dasarnya
tidak dapat dibatalkan, kecuali memenuhi kondisi:

1) Kedua belah pihak setuju untuk menghentikannya, atau

2) Akad batal demi hukum karena timbul kondisi hukum yang dapat
menghalangi pelaksanaan atau penyelesaian akad

Pembeli mempunyai hak untuk memperoleh jaminan dari penjual atas:

1) jumalah yang telah di bayarkan ,dan

3|Page
2) penyerahan barang pesanan sesuai dengan spesifikasi dan tepat waktu.

2.2 Karakteristik Istishna

barang pesanan harus memenuhi criteria ;

1) Memerlukan proses pembuatan setelah akad di sepakati,

2) Sesuai dengan spesifikasi pemesan (customized), bukan produk masal,

3) Harus di ketahui karakteristiknya secara umum yang meliputi jenis, spesifikasi


teknis, kualitas, dan kuantitasnya.

2.3 Jenis akad istishna

1) Istishna adalah akad jual beli dalam bentuk pemesanan pembuatan barang tertentu
dengan criteria dan persyaratan tertgentu yang disepakati antara pemesan (pembeli atau
mustahin) dan penjujal (pembuat, shani)

2) Istishna paralel adalah suatu bentuk akad istishna antara penjual dan pemesan, dimana
untuk memenhui kewajibannya kepada pemesan, penjual melakukan akad itishna dengan
pihak lain(subkontraktor) yang dapat memenuhi asset yang dipoesan pemesan

2.4 Perbedaan istishna dan salam adalah sebagai berikut:

Subjek Salam Istishna Keterangan

Barang ditanggungkan
Pokok kontrak Muslam Fih Mashnu’
dengan spesifikasi.

Cara penyelesaian
Bisa diawal,
Dibayar tunai pembayaran merupakan
Harga tangguh, dan
pada saat kontrak perbedaan utama antara
akhir
salam dan istishna.

4|Page
Salah mengikat semua
pihak sejak semula,
sedangkan istishna menjadi
peningkat untuk
Meningkat secara Mengingat
Sifat kontrak melindungi produsen
asli secara ikutan
sehingga tidak ditinggalkan
begitu saja oleh konsumen
secara tidak
bertanggungjawab.

2.5 Rukun Dan Ketentuan Akad Istishna’

Adapun rukun istishna ada tiga, yaitu :

Pihak yang berakad

a. Pembuat/produsen

b. Pemesan/pembeli

2. Obyek yang diakadkan

a. Barang/proyek yang dipesan

b. Kesepakatan harga jual

3. Sigot

a. Serah (ijab)

b. Terima (qabul)

2.5.1 Ketentuan tentang pembayaran:

1) Alat bayar harus diketahui jumlah dan bentuknya, baik berupa uang, barang, atau
manfaat, demikian juga degan cara pembayarannya.

2) Harga yang telah ditetapkan dalam akad tidak boleh berubah. Akan tetapi apabila
setelah akad ditandatangani pembeli mengubah spesifikasi dalam akad maka penambahan
biaya akibat perubahan ini menjadi tanggung jawab pembeli.

5|Page
3) Pembayaran dilakukan sesuai kesepakatan.

4) Pembayaran tidak boleh berupa pembebasan utang.

2.5.2 Ketetuan tentang barang:

1) Barang pesanan harus jelas spesifikasinya (jenis, ukuran, mutu) sehingga tidak ada
lagi jahala dan perselisihan dapat dihindari.

2) Barang pesanan diserahkan kemudian.

3) Waktu dan penyerahan barang harus ditetapkan berdasarkan kesepakatan.

4) Barang pesanan yang belum diterima tidak boleh dijual.

5) Tidak boleh menukar barang kecuali dengan barang sejenis sesuai kesepakatan.

6) Dalam hal terdapat cacat atau barang tidak sesuai dengan kesepatan, pemesan pemilik
hak khiyar (hak memilik) untuk melanjutkan atau membatalkan akad.

7) Dalam hal pemesanan sudah dikerjakan sesuai dengan kesepakatan, hukumnya


mengikat, tidak boleh dibatalkan sehingga penjual tidak dirugikan karena ia telah
menjalankan kewajibannya sesssuai dengan kesepakatan.

8) Ijab qabul, Adalah pernyataan ekpsresi saling ridha/ rela diantara pihak pihak pelaku
akad yang dilakukan secara verbal, terttulis, melaui korespondensi atau menggunakan cara
cara komunikasi modern.

Berakhirnya akad istishna Kontrak istishna bisa berakhir berdasarkan kondisi kondisi berikut:

1. Dipenuhinya kewajiban secara normal oleh kedua belah piahk,

2. Persetujuan bersama kedua belah pihak untuk menghentikan kotrak,

3. Pembatalan hukum kontrak ini jika muncul sebab yang masuk akal untuk mencegah
dilaksanakannya kontrak atau penyelesaiannya, dan masing masing pihak bisa menuntut
pembatalannya.

6|Page
2.6 Pengakuan, Pengukuran, dan Penyajian Istishna

Bank sebagai produsen/penjual

1. Pengakuan dan Pengukuran biaya istishna adalah sebagai berikut:

a. Biaya istishna terdiri dari:

• Biaya langsung, terutama barang untuk menghasilkan pesanan, dan

• Biaya tidak langsung, yang berhubungan dengan akad (termasuk biaya pra-akad) yang
dialokasikan secara objektif.

b. Beban umum dan administrasi, beban penjualan, serta biaya riset dan pengembangan
tidak termasuk dalam biaya istishna.

c. Biaya pra-akad diakui sebagai biaya ditangguhkan dan diperhitungkan sebagai biaya
istishna bila akad ditandatangani, tetapi jika akad tidak di tandatangani maka beban tersebut
dibebankan pada periode berjalan.

d. Biaya istishna yang terjadi selama periode laporan keuangan, diakui sebagai aktiva
istishna dalam penyelesaian pada saat terjadinya.

2. Pengakuan dan Pengukuran biaya istishna paralel adalah sebagai berikut:

a. Biaya istishna paralel terdiri dari:

• Biaya perolehan barang pesanan sebesar tagihan subkontraktor kepada bank.

• Biaya tidak langsung yang berhubungan dengan akad (termasuk biaya pra akad) yang
dilakukan secara objektif.

• Semua biaya akibat subkontraktor tidak dapat memenuhi kewajibannya, jik ada.

b. Biaya istishna parallel diakui sebagai aktiva istisna dalam penyelesaian pada saat
diterimanya tagihan dari subkontrakto sebesar jumlah tagihan.

3. Tagihan setiap termin dari bank kepada pembeli akhir diakui sebagai piutang istishna
dan sebagai terima istishna (istishna billig) pada pos pelayanan.

Bank sebagai pembeli:

7|Page
1. Bank mengakui aktiva istishna dalam penyelesaian sebesar jumlah termin yang ditagih
oleh penjual dan sekaligus mengakui hutang istishna kepada penjual.

2. Apabila barang pesanan terlambat diserahkan karena kelalain atau kesalahan penjual
dan mengakibatkan kerugian bank, maka kerugian itu dikurangkan dari garansi penyelesaian
proyek yang telah diserahkan penjual. Apabila kerugian melebihi garansi penyelesaian
proyek, maka selisihnya akn diakui sebagai piutang jatuh tempo kepada subkontraktor.

3. Jika bank menolak barang pesanan karena tidak sesuai spesifikasi dan tidak dapat
memperoleh kembali seluruh jumlah uang yang telah dibayarkan kepada subkontraktor, maka
jumlah yang belum diperoleh kembali diakui sebagai piutang jatuh tempo kepada
subkontraktor.

4. Jika bank menerima barang pesanan yang tidak sesuai dengan spesifikasi, maka barang
pesanan tersebut diukur dengan nilai yang lebih rendah antara nilai wajar dan biaya
perolehan. Selisih yang terjadi diakui sebagai kerugian pada periode berjalan.

5. Dalam istishna paralel, jika pembeli akhir menolak barang pesanan karena tidak sesuai
dengan spesifikasi yang disepakati, maka barang pesanan diukur dengan nilai yang lebih
rendah antara nilai wajar dan harga pokok istishna. Selisih yang terjadi diakui sebagai
kerugian pada periode berjalan.

2 Ilustrasi Akuntansi Istishna’


Pembayaran oleh pemesan dilakukan pada saat penyerahan barang
PT. Usman Jaya membutuhkan rumah tipe 70/150 dengan spesifikasi khusus untuk
kantor. Harga rumah Rp 200 juta, dana yang dibayarkan PT. Usman Jaya untuk uang
muka adalah Rp 50 juta. Perusahaan mengajukan pembiayaan kepada Bank Syariah.
Setelah akad ditandatangani antara PT. Usman Jaya dan Bank Syariah dengan nilai akad
Rp 200 juta,-, bank syariah memesan kepada pengembang dan pengembang akan
menyelesaikan pesanannya selama 9 bulan. Bank membayar biaya pra akad sebesar Rp
1.000.000,00 dan akad ditandatangani antara bank dan PT. Usman Jaya pada 1 Juli 2002.
PT. Usman Jaya menyerahlan uang muka sebesar Rp 50.000.000,00. Di samping itu, bank
juga menandatangani akad pembelian/pesanan kepada pengembang pada 1 Juli 2002,
dengan harga beli Rp 170.000.000,00. Berikut ini data dan tagihan yang dilakukan oleh
pengembang sampai dengan selesai per 1 Maret 2003:

8|Page
Tanggal Transaksi
2/07/2002 Bank membayar uang muka kepada pengembang Rp 50.000.000,00
1/08/2002 Pengembang menagih untuk pembangunan aktiva istishna’ Rp 30.000.000,00
1/11/2002 Pengembang menagih untuk pembangunan aktiva istishna’ Rp 50.000.000,00
1/02/2003 Pengembang menagih untuk pembangunan aktiva istishna’ Rp 40.000.000,00
1/03/2003 Pengembang menyerahkan aktiva istishna’ yang telah selesai kepada bank
syariah.
1/03/2003 Bank syariah menyerahkan aktiva istishna’ kepada Tuan Usman. Tuan
Usman mengangsur pembayaran rumah tersebut selama 2 tahun.

Bank syariah mengenakan keuntungan istishna’ 10% dari pembiayaan, dan membebankan
stabilizer daya beli 2 x 5% = 10% selama 2 tahun.
Diminta:
Buatlah perhitungan untuk pengakuan, pengukuran, dan penyajian untuk transaksi
istishna’ paralel tersebut:
a. Bila menggunakan persen penyelesaian untuk pengakuan pendapatannya.
b. Bila menggunakan kontrak selesai untuk pengakuan pendapatannya.
Jawab:
Perhitungan:
a. Pemesan akan melunasi rumah pesanannya pada saat rumah selesai dibangun dan
diserahkan bank syariah kepada PT. Usman Jaya dengan harga kontrak Rp 200 juta.
Harga pokok rumah adalah Rp 170 juta. Jadi laba bank syariah adalah Rp 200 juta – Rp
170 juta = Rp 30 juta.
Berikut ini jurnal yang dibuat oleh Bank Syariah
1. Pada saat bank syariah menerima uang muka dari PT. Usman Jaya pada 1 Juli 2002
Kas Rp 50.000.000,00 -
Uang muka istishna’ - Rp 50.000.000,00

2. Pada saat bank syariah mencatat biaya pra akad Rp 1.000.000,00


Beban pra akad yang ditangguh- Rp 1.000.000,00 -
kan
Kas - Rp 1.000.000,00

9|Page
3. Pada saat ada kepastian akad istishna’ dengan nasabah PT. Usman Jaya bank mencatat:
Aktiva istishna’ dalam penyele- Rp 1.000.000,00 -
saian
Beban pra akad yang ditang- - Rp 1.000.000,00
guhkan

4. Pada saat bank menerima tagihan dari pengembang dan membayarnya:


Tanggal 1 Agustus 2002 sebesar Rp 30.000.000,00
Aktiva istishna’ dalam penye- Rp 30.000.000,00 -
lesaian
Hutang istishna’ - Rp 30.000.000,00

Pada saat bank syariah membayar hutang istishna’:


Hutang istishna’ Rp 30.000.000,00 -
Kas - Rp 30.000.000,00

Tanggal 1 November 2002 sebesar Rp 50.000.000,00


Aktiva istishna’ dalam penye- Rp 50.000.000,00 -
lesaian
Hutang istishna’ - Rp 50.000.000,00

Pada saat bank syariah membayar hutang istishna’:


Hutang istishna’ Rp 50.000.000,00 -
Kas - Rp 50.000.000,00

Tanggal 1 Februari 2003 sebesar Rp 40.000.000,00


Aktiva istishna’ dalam penye- Rp 40.000.000,00 -
lesaian
Hutang istishna’ - Rp 40.000.000,00

Pada saat bank syariah membayar hutang istishna’


Hutang istishna’ Rp 40.000.000,00 -
Kas - Rp 40.000.000,00

10 | P a g e
5. Pada saat bank menerima barang pesanan dari pengembang yang sudah selesai 100%,
bank syariah akan membuat jurnal sebagai berikut:
Persediaan barang istishna’ Rp 171.000.000,00 -
Aktiva istishna’ dalam - Rp 171.000.000,00
penyelesaian

6. Pada saat penyerahan barang istishna’ dan penagihan bank kepada nasabah PT. Usman:
Piutang istishna’ Rp 150.000.000,00 -
Uang muka istishna’ Rp 50.000.000,00 -
Persediaan barang istishna’ - Rp 171.000.000,00
Pendapatan istishna’ - Rp 29.000.000,00

b. Penyajian akhir tahun


Apabila metode kontrak selesai diterapkan dalam transaksi istishna dan pada akhir
tahun/periode akuntansi, barang istishna’ belum selesai 100%, maka di neraca akan
dilaporkan “Aktiva istishna’ dalam penyelesaian” dan di Laporan Laba Rugi belum
dialami adanya bagian pendapatan istishna’ pada periode berjalan. Aktiva istishna’ dalam
penyelesaian dilaporkan di neraca per 31 Desember 2002 adalah sebesar: Rp
1.000.000,00 + Rp 30.000.000,00 + Rp 50.000.000,00 = Rp 81.000.000,00.

11 | P a g e
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Istishna merupakan akad jual beli dalam bentuk pemesanan pembuatan barang tertentu
dengan kriteria dan persyaratan yang disepakati antara pemesan (pembeli/mustashni) dengan
penjual ( pembuat barang/ Shani’).
Istishna pararel merupakan suatu bentuk akad istishna antara pemesan (pembeli/mustashni)
dengan penjual ( pembuat/shani’) kemudian untuk memenuhi kewajibannya kepada
mustashni, penjual memerlukan pihak lain sebagai shani’.
Jenis akad istishna
1. Istishna adalah akad jual beli dalam bentuk pemesanan pembuatan barang tertentu
dengan criteria dan persyaratan tertgentu yang disepakati antara pemesan (pembeli
atau mustahin) dan penjujal (pembuat, shani)
2. Istishna paralel adalah suatu bentuk akad istishna antara penjual dan pemesan, dimana
untuk memenhui kewajibannya kepada pemesan, penjual melakukan akad itishna
dengan pihak lain(subkontraktor) yang dapat memenuhi asset yang dipoesan pemesan.
 rukun istishna ada tiga, yaitu :
1. Pelaku terdiri atas pemesan (pembeli atau mustasni) dan penjual (pembuat shani’)
2. Objek akad berupa barang yang akan diserahkan dan modal istishna yang berbentuk
harga
3. Ijab qabul/serah terima.
 Ketentuuan syari’ah:
1. Pelaku, harus cakap hukum dan balig
2. Objek akad

12 | P a g e
DAFTAR PUSTAKA
Drs. Wiyono Slamet, Akutansi Perbankan Syari’ah, Jakarta:Grasindo, 2006.
Nurhayati Sri, Akutansi Syri’ah Di Indonesia, Jakarta: Salemba Empat, 2008.
Sofyan S.Harahap,Wiroso, Muhammad Yusuf, Akutansi Perbankan Syari’ah, Jakarta: LPFE-
Usakti, 2006.
http://narsismoergosum.blogspot.com/2010/05/pembiayaan-istishna.html
Chttp://esharianomics.com/esharianomics/akuntansi-2/akuntansi-istisna/pengungkapan-dan-
penyajian-akuntansi-istishna/

13 | P a g e