Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH

ACQUIRED IMMUNE DEFICIENCY SYNDROME (AIDS) PADA ANAK

Dibuat Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Anak II

Disusun oleh

Hanifa Nur Afifah (032016045)

Lany Fauziah (032016067)

Aprilia Hannum (032016072)

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ‘AISYIYAH BANDUNG

TAHUN AKADEMIK

2018/2019
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat serta
hidayahNya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Asuhan Keperawatan
Spiritual Muslim ini dengan judul”AIDS Pada Anak” tepat pada waktunya. Tak
lupa sholawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi
Muhammad SAW, yang telah membawa kita berada di zaman terang benderang
ini.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, tetapi kami
berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis dan pembaca.

Oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
membangun guna kesempurnaan makalah berikutnya. Taklupa,kami
mengucapkan terimakasih kepada rekan kelompok kami yang telah bekerjasama
dalam mengerjakan makalah ini, atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.

Bandung, 24 September 2018

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................. i


DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1
A. Latar Belakang ............................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ........................................................................................ 2
C. Tujuan .......................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................ 3
A. Definisi ......................................................................................................... 3
B. Etiologi ......................................................................................................... 3
C. Manifestasi Klinis ........................................................................................ 4
D. Patofisiologi AIDS Pada Anak .................................................................... 6
E. Stadium ........................................................................................................ 7
F. Penegakan Diagnosa AIDS Pada Anak........................................................ 8
G. Pemeriksaan Penunjang ............................................................................... 9
H. Penatalaksanaan ......................................................................................... 10
I. Konsep Asuhan Keperawatan .................................................................... 12
BAB III PENUTUP .............................................................................................. 20
A. Kesimpulan ................................................................................................ 20
B. Saran ........................................................................................................... 20
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 21

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia, pola
penularan HIV pada pasangan seksual berubah pada saat ditemukan kasus
seorang ibu yang sedang hamil diketahui telah terinfeksi HIV. Bayi yang
dilahirkan ternyata juga positif terinfeksi HIV. Ini menjadi awal dari
penambahan pola penularan HIV/AIDS dari ibu ke bayi yang
dikandungnya. Hal serupa digambarkan dari hasil survey pada tahun 2000
dikalangan ibu hamil di Provinsi Riau dan Papua yang memperoleh angka
kejadian infeksi HIV 0,35% dan 0,25%. Sedangkan hasil tes suka rela
pada ibu hamil diDKI Jakarta ditemukan infeksi HIV sebesar 2,86%.
Berbagai data tersebut membuktikan bahwa epidemi AIDS telah masuk
kedalam keluarga yang selama ini dianggap tidak mungkn tertular infeksi.
Pada tahun 2015, diperkirakan akan terjadi penularan pada 38.500 anak
yang dilahirkan dari ibu yang terinfeksi HIV. Sampai tahun 2006,
diprediksi 4.360 anak terkena HIV dan separuh diantaranya meninggal
dunia. Saat ini diperkirakan 2320 anak yang terinfeksi HIV. Anak yang
didiagnosis HIV juga akan menyebabkan terjadinya trauma emosi yang
mendalam bagi keluarganya. Orang tua harus menghadapi masalah berat
dalam perawatan anak, pemberian kasih sayang,dan sebagainya dapat
mempengaruhi pertumbuhan mental anak. Hal tersebut menyebabkan
beban Negara bertambah dikarenakan orang yangterinfeksi HIV telah
masuk kedalam tahap AIDS, yang ditularkan akibat hubungan
Heteroseksual sebesar 36,23%. Permasalahan bukan hanya sekedar pada
pemberian terapi anti retroviral (ART), tetapi juga harus memperhatikan
permasalahn pencegahan penularan walaupun sudah mendapat ART.

1
2

B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi dari AIDS?
2. Bagaimana etiologi dari AIDS?
3. Bagaimana manifestasi klinis AIDS pada Anak?
4. Bagaimana Patofisiologi AIDS pada anak?
5. Bagaimana Stadium pada AIDS?
6. Apa saja pemeriksaan penunjang pada AIDS?
7. Bagaimana penatalaksanaan pada AIDS?
8. Bagaimana Konsep asuhan keperawatan pada AIDS.

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi AIDS.
2. Untuk mengetahui etiologi AIDS.
3. Untuk mengetahui Manifestasi Klinis AIDS pada Anak.
4. Untuk mengetahui patofisiologi AIDS pada Anak.
5. Untuk mengetahui stadium AIDS.
6. Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang pada AIDS.
7. Untuk mengetahui penatalaksanaan pada AIDS.
8. Untuk mengetahui konsep asuhan keperawatan pada AIDS.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi
AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah kumpulan
gejala penyakit akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh secara
bertahap yang disebabkan oleh infeksi Human Immunodeficiency Virus
(HIV).
AIDS adalah sindrom akibat defisiensi imunitas seluler tanpa
penyebab lain yang diketahui dan ditandai dengan infeksi oportunistik
keganasan yang berakibat fatal. Munculnya sindrom ini erat hubungannya
dengan berkurangnya zat kekebalan tubuh yang prosesnya tidaklah terjadi
seketika melainkan sekitar 5 – 10 tahun setelah seseorang terinfeksi oleh
HIV. (Rampengan, 2007)

B. Etiologi
Sindrom immunodefisiensi didapat pediatrik (AIDS) disebabkan
oleh virus immunodefisiensi manusia / Human Immunodeficiency virus
(HIV) tipe 1 (HIV-1) yang melekat dan memasuki limfosit T helper CD4+ ,
yang juga ditemukan dalam jumlah yang lebih rendah pada monosit dan
makrofag. HIV-I merupakan retrovirus yang termasuk pada subfamili
Lentivirus. Juga sangat dekat dengan HIV-II, yang menyebabkan penyakit
yang sama. HIV adalah virus RNA dan merupakan parasit obligat intra
sel .Dalam bentuknya yang asli ia merupakan partikel yang inert, tidak
dapat berkembang atau melukai sampai ia masuk ke sel host ( sel target ).
Penularan HIV ke Bayi dan Anak, bisa dari ibu ke anak, penularan
melalui darah, penularan melalui hubungan seksual (pelecehan seksual
pada anak). Penularan dari ibu ke anak terjadi karena wanita yang
menderita HIV/AIDS sebagian besar (85%) berusia subur (15-44 tahun),
sehingga terdapat risiko penularan infeksi yang bisa terjadi saat kehamilan
(in uteri). Berdasarkan laporan CDC Amerika, prevalensi penularan HIV

3
4

dari ibu ke bayi adalah 0,01% sampai 0,7%. Bila ibu baru terinfeksi HIV
dan belum ada gejala AIDS, kemungkinan bayi terinfeksi sebanyak 20%
sampai 35%, sedangkan jika sudah ada gejala pada ibu kemungkinan
mencapai 50%.penularan juga terjadi selama proses persalinan melalui
transfusi fetomaternal atau kontak antara kulit atau membran mucosa bayi
dengan darah atau sekresi maternal saat melahirkan . semakin lama proses
kelahiran, semakin besar pula risiko penularan, sehingga lama
persalinanbisa dicegah dengan operasi sectio caecaria. Transmisi lain juga
terjadi selama periode postpartum melalui ASI, risiko bayi tertular melaui
ASI dari ibu yang positif sekitar 10%.
Faktor risiko tertular HIV pada bayi dan anak :
1. Bayi yang lahir dari ibu dengan pasangan biseksual
2. Bayi yang lahir dari ibu dengan pasangan berganti
3. Bayi yang lahir dari ibu atau pasangan penyalahguna obat suntikan
4. Bayi atau anak yang mendapat komponen darah
5. Bayi atau anak yang terpapar dengan alat suntik yang tidak steril
6. Anak remaja dengan hubungan seksual berganti-ganti pasangan

C. Manifestasi Klinis
Bayi yang terinfeksi tidak dapat dikenali secara klinis sampai
terjadi penyakit berat atau sampai masalah kronis seperti diare, gagal
tumbuh, atau kandidiasis oral memberi kesan imunodefisiensi yang
mendasari. Kebanyakan anak dengan infeksi HIV-1 terdiagnosis antara
umur 2 bulan dan 3 tahun.
Tanda-tanda klinis akut yang disebabkan oleh organisme virulen
pada penderita limfopeni CD4+ yang terinfeksi HIV-1 disebut infeksi
oportunistik "penentu-AIDS". Infeksi oportunistik yang paling sering dan
sangat mematikan adalah pneumonia P. carinii (PPC). Tanda klinis PPC
pada bayi terinfeksi HIV-1 merupakan distress pernapasan berat dengan
batuk, takipnea, dispnea dan hipoksemia dengan gas darah menunjuk ke
arah blokade kapiler alveolar (mis ; proses radang interstisial).
5

Roentgenogram dada menunjukkan pneumonitis difus bilateral dengan


diafragma datar.
Diagnosis biasanya diperkuat oleh bronkoskopi fleksibel dan cuci
bronkoalveolar dengan pewarnaan yang tepat untuk kista maupun
tropozoit. Kadar laktat dehidroginase biasanya juga naik. Diagnosa
banding pada bayi termasuk herpes virus ( sitomegalovirus, virus Epstein-
Barr, virus herpes simpleks ), virus sinsitial respiratori, dan infeksi
pernafasan terkait mengi. Pengobatan infeksi PPC harus dimulai seawal
mungkin, tetapi prognosis jelek dan tidak secara langsung dikorelasikan
dengan jumlah limfosit CD4+.. Reaktivasi PPC tampak semakin
bertambah pada anak yang lebih tua yang mempunyai perjalanan klinis
infeksi HIV-1 yang lebih kronis. Profilaksis PPC (trimetropim-
sulfametoksasol tiga kali seminggu ) dianjurkan pada penderita pediatri
dengan angka limfosit-T CD4+ rendah (<25% angka absolut ).
Infeksi oportunistik penentu AIDS yang relatif sering kedua adalah
esofagitis akibat Candida albicans. Esofagitis Candida nampak sebagai
anoreksia atau disfagia, dikomplikasi oleh kehilangan berat badan, dan
diobati dengan amfoterisin B dan ketokonazol.
Infeksi oportunistik penting lain melibatkan sistem saraf sentral,
sepertii Toxoplasma gondii. Infeksi Mycobacterium avium complex
biasanya menimbulkan gejala saluran cerna, dan herpes virus
menimbulkan komplikasi retina, paru, hati, dan neurologist. M.
tuberculosis dan malaria yang tersebar di seluruh dunia adalah patogen
oportunistik pada penderita AIDS. Neoplasma relatif tidak sering pada
penderita terinfeksi HIV-1 pediatri.
Manifestasi klinisnya antara lain :
1. Berat badan lahir rendah
2. Gagal tumbuh
3. Limfadenopati umum
4. Hepatosplenomegali
5. Sinusitis
6

6. Infeksi saluran pernafasan atas berulang


7. Parotitis
8. Diare kronik atau kambuhan
9. Infeksi bakteri dan virus kambuhan
10. Infeksi virus Epstein-Barr persisten
11. Sariawan Orofaring
12. Trombositopenia
13. Infeksi bakteri seperti meningitis
14. Pneumonia Interstisial kronik
Lima puluh persen anak-anak dengan infeksi HIV terkena sarafnya
yang memanifestasikan dirinya sebagai ensefalopati progresif,
perkembangan yang terhambat, atau hilangnya perkembangan motoris.

D. Patofisiologi AIDS Pada Anak


Pada neonatal HIV dapat masuk ke dalam tubuh melalui penularan
transplasental atau perinatal. Setelah virus HIV masuk ke dalam target
( terutama sel limfosit T ) yang mempunyai reseptor untuk virus HIV yang
disebut CD4. Ia melepas bungkusnya kemudian mengeluarkan enzim R-
tase yang dibawanya untuk mengubah bentuk RNA-nya menjadi DNA
agar dapat bergabung menyatukan diri dengan DNA sel target (sel limfosit
T helper CD4 dan sel-sel imunologik lain ) . Dari DNA sel target ini
berlangsung seumur hidup. Sel limfosit T ini dalam tubuh mempunyai
mempunyai fungsi yang penting sebagai daya tahan tubuh. Akibat infeksi
ini fungsi sistem imun (daya tahan tubuh) berkurang atau rusak, maka
fungsi imonologik lain juga mulai terganggu.
HIV dapat pula menginfeksi makrofag, sel-sel yang dipakai virus
untuk melewati sawar darah otak masuk ke dalam otak. Fungsi linfosit B
juga terpengaruh, dengan peningkatan produksi imunoglobulin total
sehubungan dengan penurunan produksi antibodi spesifik. Dengan
memburuknya sistem imun secara progresif, tubuh menjadi semakin
7

rentan terhadap infeksi oportunis dan juga berkurang kemampuannya


dalam memperlambat replikasi HIV.
Infeksi HIV dimanifestasikan sebagai penyakit multi-sistem yang
dapat bersifat dorman selama bertahun-tahun sambil menyebabkan
imunodefisiensi secara bertahap. Kecepatan perkembangan dan
manifestasi klinis dari penyakit ini bervariasi dari orang ke orang. Virus
ini ditularkan hanya melalui kontak langsung dengan darah atau produk
darah dan cairan tubuh, melalui obat-obatan intravena, kontak seksual,
transmisi perinatal dari ibu ke bayi, dan menyusui. Tidak ada bukti yang
menunjukkan infeksi HIV didapat melalui kontak biasa.
Empat populasi utama pada kelopok usia pediatrik yang terkena HIV :

1. Bayi yang terinfeksi melalui penularan perinatal dari ibu yang


terinfeksi (disebut juga trasmisi vertikal); hal ini menimbulkan lebih
dari 85% kasus AIDS pada anak-anak yang berusia kurang dari 13
tahun.
2. Anak-anak yang telah menerima produk darah (terutama anak dengan
hemofili)
3. Remaja yang terinfeksi setelah terlibat dalam perilaku resiko tinggi.
4. Bayi yang mendapat ASI ( terutama di negara-negara berkembang ).

E. Stadium
1. Stadium klinis 1
a. Tanpa gejala (asimtomatis)
b. Limfadenofati generalisata persisten
2. Stadium klinis 2
a. Hepatosplenomegali persinten tanpa alasan
b. Erupsi papular pruritis
c. Infeksi virus kutil yang luas
d. Infeksi jamur dikuku
e. Ulkus mulut yang berulang
f. Herpes zoster
8

g. Infeksi saluran napas bagian atas yang berulang


3. Stadium klinis 3
a. Malnutrisi sedang tanpa alasan jelas
b. Diare terus menerus (14 hari atau lebih)
c. Demam terus menerus (diatas 37,5oC)
d. Kandidiasis oral terus menerus (setelah usia 6 – 8 minggu)
e. Tuberkulosis pada kelenjar getah bening
f. Tuberkulosis paru
g. Pnemonia bakteri
h. Anemia
4. Stadium klinis 4
a. Malnutrisi yang parah
b. Pneumonia pneumosistik (PCP)
c. Infeksi herpes simpleks kronis
d. Sarkoma kaposi
e. Kandidiasis esofagus
f. Enselofati HIV
g. Nefropati bergejala terkait HIV atau kardiomiopati bergejala terkait
HIV

F. Penegakan Diagnosa AIDS Pada Anak


Pada umumnya diagnosa infeksi HIV pada anak ditegakkan atas dasar :
1. Tergolong dalam kelompok resiko tinggi.
2. Adanya infeksi oportunistik dengan atau tanpa keganasan
3. Adanya tanda-tanda defisiensi imun, seperti menurunnya T4 (ratio
T4:T8)
4. Tidak didapatkan adanya penyebab lain dari defisiensi imun.
5. Terbukti adanya HIV baik secara serologi maupun kultur.
WHO telah menetapkan kriteria diagnosa AIDS pada anak sebagai
berikut :
Seorang anak (<12 tahun) dianggap menderita AIDS bila :
9

1. Lebih dari 18 bulan, menunjukkan tes HIV positif, dan sekurang-


kurangnya didapatkan 2 gejala mayor dengan 2 gejala minor. Gejala-
gejala ini bukan disebabkan oleh keadaan-keadaan lain yang tidak
berkaitan dengan infeksi HIV.
2. Kurang dari 18 bulan, ditemukan 2 gejala mayor dan 2 gejala minor
dengan ibu yang HIV positif. Gejala-gejala ini bukan disebabkan oleh
keadaan-keadaan lain yang tidak berkaitan dengan infeksi HIV.

G. Pemeriksaan Penunjang
Diagnosa HIV AIDS dapat dilegalkan dengan menguji HIV. Tes ini
meliputi ELISA, Western Blot, Latex Angglutination, dan PCR.
1. ELISA (enzyme-linked immunosorbent assy )
ELISA adalah teknik biokimia yang dilakukan untuk mendeteksi
adanya antibody atau antigen pada suatu sampel. Dengan metode
spektrofotometri, selain mendeteksi dapat pula menghitung secara
kuantitatif kadar antigen atau antibody pada suatu sampel yang
diperiksa.
Tes ELISA mempunyai sensitivitas dan spesifikan cukup tinggi
walaupun hasil negatif tes ini tidak dapat menjamin bahwa seseorang
bebas 100% dari HIV-1 terutama pada kelompok risiko tinggi.
2. Western Blot
Western Blot merupakan elektroforesis gel poiakrilamid yang
digunakan untuk mendeteksi rantai protein yang spesifik terhadap
DNA. Jika tidak ada rantai protein yang ditemukan, berarti hasil tes
negatif. Sedangkan bila hampir atau semua rantai protein ditemukan,
berarti western bolt positif. Tes western blot mungkin juga tidak bisa
menyimpulkan seseorang menderita HIV atau tidak. Oleh karena itu
tes harus diulnagi lagi seteah dua minggu dengan sampel yang sama.
Jika western blot tetap tidak disimpulkan, maka tes ini harus diulangi
lagi setelah 6 bulan. Jika tes tetap negatif maka pasien dianggap HIV
negatif.
10

Cara kerja tes western blot adalah dengan meletakan HIV murni
pada polyacrylamide gel yang diberi anus elektroforesis sehingga
terurai menurut berat protein yang berbeda-beda, kemudian
dipindahkan ke nitrocellulose. Nitrocellulose ini diinkubasikan dengan
serum penderita. Antibidi HIV dideteksi dengan memberikan antibodi
anti-human yang sudah dikonjugasi dengan enzim yang menghasilkan
warna bila diberi substrat.
3. Polymerase Chain Reaction (PCR)
PCR adalah cara in vitro untuk memberbanyak target sekuen spesifik
untuk analisis cepat atau karakterisasi, walaupun material yang
digunakan pada awal pemeriksaan sangat sedikit. Pada dasarnya PCR
meliputi tiga perlakuan yaitu : denaturisasi, hibridasi dari “primer”
sekuen DNA pada bagian tertentu yang diinginkan.

H. Penatalaksanaan
Untuk mencegah pneumonia pneumokistik, kepada bayi berumur lebih
dari 1 bulan yang ibunya terinfeksi HIV dan anak yang jelas mengalami
gangguan sistem kekebalan, diberikan antibiotik. Biasanya diberikan
trimetoprim-sulfametoksazol, atau bisa juga diberikan pentamidin atau
dapson. Dengan pengobatan mutakhir, 75% anak yang terinfeksi HIV
bertahan hidup sampai umur 5 tahun dan 50% sampai 8 tahun. Jika anak
tidak terinfeksi, pencegahan tersebut dapat dihentikan. Obat ini juga akan
mencegah infeksi toksoplasma.
Semua anak yang berhubungan ddengan pasien TB aktif (terutama
yang dibawah usia 2 tahun), dan mereka yang menunjukan hasil positif
pada tes kulit TB, sebaiknya diberikan obat pencegahan untuk TB, kecuali
jiga didiagnosis TB aktif.
Kadang diberikan immunoglobulin intravena untuk melawan infeksi.
Vaksinasi rutin pada masa kanak-kanak tetap diberikan kepada anak yang
terinfeksi HIV. Biasanya tidak digunakan vaksin bakteri dan virus yang
hidup, tetapi MMR (yang mengandung virus hidup) tetap diberikan karena
11

campak bisa menyebabkan penyakit yang berat atau fatal pada anak-anak
yang terinfeksi HIV.
Kombinasi dari ARV berikut ini dapat mengunakan:
1. Nucleoside Analogue Reverse Transcriptase Inhibitors (NRTI'),
mentargetkan pencegahan protein reverse transcriptase HIV dalam
mencegah perpindahan dari viral RNA menjadi viral DNA (contohnya
AZT, ddl, ddC & 3TC).
2. Non–nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitors (NNRTI's)
memperlambat reproduksi dari HIV dengan bercampur dengan reverse
transcriptase, suatu enzim viral yang penting. Enzim tersebut sangat
esensial untuk HIV dalam memasukan materi turunan kedalam sel–sel.
Obat–obatan NNRTI termasuk: Nevirapine, delavirdine (Rescripta),
efavirenza (Sustiva).
3. Protease Inhibitors (PI) mengtargetkan protein protease HIV dan
menahannya sehingga suatu virus baru tidak dapat berkumpul pada sel
tuan rumah dan dilepaskan.
Golongan Obat Nama Generik Singkatan
Nucleoside-reserve Azidotimidin/zidovudin AZT
Transcriptase Didanosin DDI
Stavudin D4T
Zalbitabin DDC
Lamivudin 3TC
Non-Nucleoside- Nevirapin
Reserve
Transcriptase Inhibitor
(NNRTI)
Protease Inhibitor (PI) Indinavir IDV
Ritonavir
Saquinavir
12

4. Nutrisi pada Anak dengan AIDS


Pemberian Nutrisi pada bayi dan anak dengan AIDS tidak berbeda
dengan anak yang sehat, hanya saja asupan kalori dan proteinnya
perlu ditingkatkan. Selain itu perlu juga diberikan multivitamin, dan
antioksidan untuk mempertahankan kekebalan tubuh dan menghambat
replikasi virus HIV. sebaiknya dipilih bahan makanan yang risiko
alerginya rendah dan dimasak dengan baik untuk mencegah infeksi
oportunistik. Sayur dan buah-buahan juga harus dicuci dengan baik
dan sebaiknya dimasak sebelum diberikan kepada anak.

I. Konsep Asuhan Keperawatan


1. Pengkajian
a. Identitas
b. Keluhan utama
Dapat berupa demam, diare berkepanjangan, takipneu, batuk, sesak
napas, hipoksia. Kemuadian diikuti dengan adanya perubahan berat
badan dan tinggi badan yang tidak naik, kandidiasis oral,
limfadenopati menyeluruh, infeksi berulang.
c. Riwayat penyakit sekarang
d. Riwayat penyakit dahulu
Adanya orang tua yang terinfeksi HIV/AIDS atau penyalahgunaan
obat. Adanya riwayat ibu saat hamil terinfeksi HIV/AIDS, adanya
penulaaran melalui proses melahirkan, adanya penularan dari ASI.
e. Riwayat kehamilan dan persalinan
f. Riwayat perkembangan dan pertumbuhan
g. Riwayat nutrisi
h. Riwayat imunisasi
UMUR VAKSIN

2 bulan DPT, Polio, Hepatitis B


13

4 bulan DPT, Polio, Hepatitis B

6 bulan DPT, Polio, Hepatitis B

12 bulan Tes Tuberculin

15 bulan MMR, Hepatitis

18 bulan DPT, Polio, MMR

24 bulan Vaksin Pnemokokkus

4 – 6 tahun DPT, Polio, MMR

14 – 16 Tahun DT, Campak

i. Pemeriksaan fisik
1) Pemeriksaan Mata
Adanya cotton wool spot (bercak katun woll) pada retina,
retinitis sitomegalovirus, infeksi pada petik kelopak mata, mata
merah, perih, gatal, berair, lesi pada retina dengan gambaran
bercak atau eksudat kekuningan.
2) Pemeriksaan Mulut
Adanya stomatitis gangrenosa, peridontitis, sarkoma kaposi
pada mulut dimulai sebagai bercak merah datar kemudian
menjadi biru dan sering pada palatum.
3) Pemeriksaan telinga
Adanya otitis media, adanya nyeri, kehilangan pendengaran.
4) Sistem pernapasan
Adanya batuk yang lama dengan tanpa sputum, sesak napas,
hipoksia, nyeri dada, gagal napas, napas pendek waktu istirahat
5) Sistem pencernaaan
BB menurun, anoreksia, nyeri menelan, bercak putih
kekuningan pada mukosa mulut, hepatomegali, mual dan
muntah, pembesaran limpa.
14

6) Sistem kardiovaskular
Suhu tubuh menngkat, nadi cepat, TD meningkat, gejala gagal
jantung kongestif sekunder akibat kardiomiopati karena HIV
7) Sistem Integumen
Adanya varicella (lesi yang sangat luas vesikel yang besar)
Haemorargie, herpes zoster, nyeri panas serta malaise.
8) Sistem perkemihan
Urin yang berkurang, adanya pembesaran kelenjar parotis,
proteinuria, limfanedopati.
9) Sistem neurologi
Sakit kepala, sukar berkonsentrasi, nyeri otot, kejang-kejang,
penurunan kesadaran, perubahan prilaku, gangguan
psikomotor, delirium, meningitis, keterlambatan
perkembangan.
10) Sistem muskuloskeletal
Nyeri persendian, letih, gangguan gerak
2. Pemeriksaan laboratorium
Didapatkan adanya anemia, leukositopenia, trombositopenia, jumlah
sel T4 menurun bila T4 dibawah 200, fase AIDS normal 1000 – 2000
/mikrositter. Tes antibodi (ELISA) menunjukan positif terinfeksi.
3. Diagnosa keperaawatan yang muncul
a. Resiko infeksi b.d penurunan daya tahan tubuh.
b. Gangguan kebutuhan nutrisi (kurang dari kebutuhan) b.d nyeri,
anoreksia, diare.
c. Gangguan pertukaran gas b.d infeksi oportunistik saluran dari
pernafasan, penurunan tidak volume dampak dari pengobatan,
bakteri, pnemoni, anemia.
d. Kurangnya volume cairan tubuh b.d diare dampak dari infeksi
oportunistik saluran pencernaan.
e. Gangguan integritas kulit b.d diare.
15

f. Perubahan / gangguan mukosa membran mulut b.d lesi sekunder


membran mukosa dampak dari jamur dan infeksi herpes / radang
mukosa dampak dari pengobatan dan hygiene oral yang tidak
adekuat.
g. Hipertermi b.d Infeksi HIV, infeksi oportunistik, pengobatan.
h. Gangguan tumbuh kembang b.d gangguan neurologis.
i. Ketidakefektifan koping keluarga b.d penyakit menahun dan
progresif.
j. Defisit pengetahuan b.d perawatan anak yang kompleks di rumah.

4. Intervensi Keperawatan
a. Resiko infeksi b.d penurunan daya tahan tubuh
Tujuan : Anak bebas dari tanda dan gejala infeksi
Kriteria Hasil :
1) Tanda-tanda vital dalam batas normal
2) Badan tampak lebih kuat / berenergi
3) Tidak ada tanda-tanda kemerahan pada tubuh
4) Anak tidak terserang batuk dan rhinorhea
5) Jumlah sel darah putih dan hitung jenis dalam batas normal
6) Kulit tidak abrasi / rash

Intervensi dan Rasional :

1) Kaji tanda-tanda infeksi ( demam, peningkatan nadi, peningkatan


RR, kelemahan tubuh / letargi ).
R. Deteksi secara dini menurunkan resiko infeksi nosokomial /
infeksi lain.
2) Monitor tanda-tanda vital tiap 4 jam.
R. Adanya perubahan dari tanda vital merupakan indikator
terjadinya infeksi.
3) Berikan antibiotik, anti viral, anti jamur sesuai advis dokter.
R. Membunuh kuman penyebab.
16

4) Berikan Intra Venus Gamma Globulin sesuai advis dokter.


R. Memperkecil resiko kambuh.
5) Gunakan teknik aseptik dengan prosedur yang tepat.
R. Menurunkan resiko kolonisasi bakteri dan memutus rantai
penularan dari klien lain / lingkungan ke anak atau sebaliknya.
6) Kaji batuk, hidung tersumbat, pernafasan cepat dan suara nafas
tambahan tiap 8 jam.
R. Mendeteksi secara dini infeksi saluran pernafasan.
7) Ajarkan dan jelaskan pada keluarga dan pengunjung tentang
pencegahan secara umum (universal).
R. Kejelasan mengenai pencegahan akan menyiapkan keluarga /
pengunjung turut serta memutuskan rantai penularan
HIV/AIDS.
8) Instruksikan pada seluruh pengunjung untuk cuci tangan sebelum
dan sesudah memasuki ruangan pasien.
R. Dengan mencuci tangan yang benar akan memutus rantai
penularan.
9) Gunakan sarung tangan ketika kontak dengan darah / cairan tubuh,
jaringan, kulit dan atau permukaan tubuh yang terkontaminasi,
untuk antisipasi gunakan baju pelindung, untuk menghindari
percikan darah gunakan masker dan pelindung mata.
R. Proteksi diri terhadap cairan tubuh.
b. Gangguan kebutuhan nutrisi (kurang dari kebutuhan) b.d nyeri,
anoreksia, diare
Tujuan : Kebutuhan nutrisi terpenuhi
Kriteria Hasil :
1) Berat badan meningkat
2) Intake dan output seimbang
3) Turgor kulit baik
4) Anak mengkonsumsi diet berkalori tinggi
Intervensi dan Rasional :
17

1) Timbang berat badan setiap hari


R : Memonitor kurangnya BB dan efektifitas intervensi nutrisi
yang diberikan.
2) Monitor intake dan output tiap 8 jam dan turgor kulit.
3) Memonitor intake kalori dan insufisiensi kualitas konsumsi
makanan
4) Berikan makanan tinggi kalori tinggi protein.
a) Dengan TKTP akan meningkatkan tumbuh kembang secara
adekuat
b) Rencanakan makanan enteral atau parenteral, bila intake
nutrisi oral inadekuat
c. Gangguan pertukaran gas b.d infeksi oportunistik saluran dari
pernafasan, bakteri pnemonia
Tujuan : Pertukaran gas normal
Kriteria Hasil :
1) Respirasi normal dengan ciri frekuensi, irama dan kedalaman
normal
2) Tidak ada PCH (pernafasan cuping hidung), dengkuran nafas,
retraksi
3) Suara nafas bersih pada semua lapisan paru
4) Saturasi O2 dan BGA normal
5) Tidak sianosis
6) Tidak takikardi atau takipnea
7) Tidak ada perubahan pada status mental
8) Klien mampu batuk secara efektif.
Intervensi dan Rasional :
1) Kaji fungsi respirasi dengan mengkaji tipe RR, PCH, retraksi,
warna kulit dan warna kuku
R : Peningkatan frekuensi nafas, adanya retraksi merupakan tanda
adanya konsolidasi dari paru. Sianosis merupakan indikasi adanya
penurunan kadar oksigen dalam darah.
18

2) Monitor BGA
R : Mengukur asam basa darah arteri, mendeteksi secara dini
terjadinya hipoksemia.
3) Kaji tanda-tanda gangguan pertukaran gas ( sianosis, takikardia,
takipnea, kecemasan / gelisah, iritabilitas, perubahan status mental )
R : Untuk mendeteksi gangguan secara dini dapat segera dilakukan
tindakan.
4) Atur posisi klien agar ventilasi paru maksimal dan efektif (misal :
posisi semi fowler)
R : Diafragma lebih rendah dapat meningkatkan ekspansi dada.
5) Berikan O2 sesuai kebutuhan
R : Memaksimalkan transport oksigen dalam jaringan
6) Tingkatkan intake jaringan
R : Hidrasi membantu menurunkan viskositas sekret dan
mempermudah pengeluaran.
7) Anjurkan anak batuk secara efektif, chest fisioterapi nafas
R : Batuk merupakan mekanisme alamiah untuk mempertahankan
bersihan jalan nafas. Postural drainge dan perkusi merupakan
tindakan pembersihan yang penting untuk mengeluarkan sekret
dan memperbaiki ventilasi
8) Suction sekret jika perlu
R: Bila mekanisme pembersihan jalan nafas (batuk) tidak efektif,
dilakukan suction.
d. Hipertermi berhubungan dengan pelepasan pyrogen dari hipotalamus
sekunder terhadap reaksi antigen dan antibodi.
Tujuan : anak akan mempertahankan suhu tubuh kurang dari 37,5oC
1) Pertahankan lingkungan sejuk, dengan menggunakan piama, dan
selimut yang tidak tebal serta pertahankansuhu ruangan antara
22oC dan 24oC (lingkungan yang sejuk membantu menurunkan
suhu tubuh dengan cara radiasi)
19

2) Beri antipiretik sesuai dengan petunjuk.seperti, asataminofen


(tylenol) efektif menurunkan demam
3) Pantau suhu anak setiap 102 jam, bila terjadi peningkatan secara
tiba –tiba akan mengakibatkan kejang )
4) Berikan kompres dengan suhu 37oC untuk menurunkan
demam(kompres hangat efektif untuk menurunkan demam)
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Aids disebabkan oleh infeksi hiv(human immunodeficiency virus )
yang dapat terinfeksi melalui hubungan seksual,darah atau produk darah
yang terinfeksi, pemakian jarum suntik ,dan dari ibu ke bayinya.
Penatalaksanaan penderita dengan aid meliputi pengobatan suportif,
pengobatan infeksi oportunistik dengan antibiotik, anti jamur, serta
pengobatan ARV (antiretroviral) Diagnosa infeksi aids bisa dilakukan
dengan anamnesis, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang yang
meliputi pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan radiologi.

B. Saran
Masyarakat membutuhkan edukasi tentang bagaiman bahaya penyakit
hiv/aids sehingga menurunkan angka kepada bayi atau anak tehindar dari
penyakit aids mendapatkan perhatian dan dukungan bukan hanya pada
anak penderita odha tetapi kepada keluarga.

20
DAFTAR PUSTAKA
Ardhiyanti, Yulirina. 2015. Bahan ajar AIDS Pada Asuhan kebidanan.
Yogyakarta : Deepublish
Huriati. 2014. HIV/AIDS Pada anak. Makasar : Volume 9 Nomor 2 Tahun 2014
Maryunani,anik.dkk.2009.buku saku pencegahan penularan hiv dan AIDS dari
ibu ke bayi.jakarta: trans info media
Rampengan. 2007. Penyakt Infeksi Tropik Pada Anak. Jakarta :
Penerbit Buku Kedokteran EGC

21