Anda di halaman 1dari 8

ONSEP KEBIDANAN

Reflektif Practice

BAB II
PEMBAHASAN

1. Pengertian

Praktek reflektif adalah kemampuan untuk mencerminkan pada tindakan sehingga


untuk terlibat dalam proses pembelajaran yang berkelanjutan, yang menurut pencetus istilah,
adalah salah satu karakteristik mendefinisikan praktek profesional. Refleksi juga dapat
diartikan sebagai suatu tindakan atau kegiatan untuk mengetahui serta memahami apa yang
terjadi sebelumnya, belum terjadi, dihasilkan apa yang belum dihasilkan, atau apa yang
belum tuntas dari suatu upaya atau tindakan yang telah dilakukan. (Tahir, 2011: 93). Istilah
refleksi di sini dipahami dalam pengertian khas, yaitu suatu upaya menyimak dengan penuh
perhatian terhadap bahan studi tertentu, pengalaman, ide-ide, usul-usul, atau reaksi spontan
untuk mengerti pentingnya pemahaman mendalam sampai pada makna dan konsekuensinya.
Kegiatan refleksi atau reflective practice merupakan kegiatan yang sangat penting
untuk dilaksanakan sebab akan mengontrol tindakan guru, guru dapat melihat apa yang masih
perlu diperbaiki, ditingkatkan atau dipertahankan. Merupakan kegiatan yang perlu dilakukan
ketika guru sebagai praktisi lapangan telah selesai melakukan tindakan, ini merupakan suatu
bentuk dari evaluasi terhadap diri sendiri. Guru menyampaikan segala kegiatan atau
pengalaman yang telah dilakukan untuk didiskusikan dengan peneliti, guru menyampaikan
segala apa yang telah dirasakan dan meyampaikan sejauh mana progress atau kemajuan dari
tindakan yang dilakukannya.
Selain itu, mengemukakan kembali atau melaksanakan lagi apa yang telah dilakukan
merupakan kegiatan refleksi. Guru sebagai pelaksana dan peneliti sebagai pengamat
diharapkan dapat bekerjasama dengan baik agar dapat terjadi penilaian secara objektif,
peneliti merupakan pihak yang sangat berkepentingan karena akan meningkatkan kinerjanya,
ini dimaksudkan agar pelaksanaan tindakan dapat dilaksanakan secara alami dan dapat
dikelola dengan baik. Dalam hal ini guru sebaiknya menyampaikan segala yang telah
dilaksanakan dengan sebenar-benarnya kepada peneliti sehingga tindakan yang akan diambil
selanjutnya dapat sesuai dengan keadaan dan kebutuhan yang ada (Arikunto,dkk, 2009: 19-
20). Refleksi juga dapat diartikan sebagai suatu tindakan atau kegiatan untuk mengetahui
serta memahami apa yang terjadi sebelumnya, belum terjadi, dihasilkan apa yang belum
dihasilkan, atau apa yang belum tuntas dari suatu upaya atau tindakan yang telah dilakukan.
(Tahir, 2011: 93). Apabila guru yang menjadi pelaksana PTK sudah mengetahui apa yang
terjadi pada fase sebelumnya dan ingin melakukan tindakan berikutnya, maka guru harus
memikirkan apa penyebabnya.
Contoh refleksi, dari hasil observasi yang telah dilakukan dengan cara pembelajaran
secara berkelompok yaitu diskusi antar kelompok, hanya siswa yang dikategorikan tingkat
kemampuannya tinggi yang aktif dan berpartisipasi pada saat dilakukan diskusi sementara
siswa yang lain tidak memperhatikan dan tidak ikut berpartisipasi dalam pembelajaran.
Hasil observasi terhadap proses pembahasan hasil asesmen diperoleh data bahwa siswa
kurang aktif berinteraksi terhadap materi pelajaran, dengan temannya dan terhadap guru.
Hasil analisis kompetensinya masih rendah belum mencapai tujuan minimal. Respon siswa
tidak bisa mengikuti pembelajaran secara optimal dalam waktu singkat, tidak tertarik untuk
belajar secara berkelompok karena mereka mengantuk dan tidak mendapat kesempatan
untuk berpikir. Dari semua data tersebut, maka guru melakukan refleksi. Seperti diskusi
kelompok diubah menjadi diskusi perorangan, dengan lebih banyak memberikan atau
menyiapkan pertanyaan-pertanyaan dalam diskusi dan memberikan tugas sebelumnya
kepada siswa yang mengarah kepada pertanyaan-pertanyaan dalam diskusi, kemudian siswa
diberi kesempatan secara bergiliran untuk mengerjakan tugas sekaligus dinilai secara
kualitatif dan kuantitatif, hasil asesmen didiskusikan kepada siswa sebelum melakukan
pembelajaran berikutnya, kegiatan pembelajaran dirumuskan secara realistis yang mudah
diukur. (Tahir, 2011: 93-95).
Jadi, refleksi berarti kegiatan yang dilakukan untuk mengingat kembali suatu tindakan
yang telah dilakukan dalam observasi. Refleksi mengkaji ulang apa yang telah terjadi atau
mempertimbangkan proses, permasalahan, isu, dan kekurangan yang ada atau yang belum
tuntas dari strategi penelitian yang telah dilakukan. Refleksi menjadi dasar untuk mengetahui
kembali rencana tindakan dengan memperhatikan variasi perspektif yang mempunyai aspek
evaluatif bagi peneliti untuk mempertimbangkan atau menilai apakah dampak tindakan yang
timbul sudah sesuai dengan yang diinginkan dan membuat perencanaan kembali. Langkah
selanjutnya setelah pelaksanaan tindakan dan observasi merupakan refleksi hasil pengamatan,
melalui refleksi maka dapat diketahui atau dipahami kelebihan dan kekurangan yang terjadi
dalam penelitian tindakan. (Uno, dkk, 2012: 69)
Kegiatan mengingat, merenungkan, mencermati, dan menganalisis kembali suatu
tindakan yang telah dilakukan dalam observasi merupakan refleksi yang dalam penalitian
tindakan kelas akan memahami proses, masalah, persoalan dan kendala yang nyata dalam
tindakan yang telah dilakukan selama proses pembelajaran. Dalam melakukan kegiatan
refleksi guru selain berperan sebagai peneliti itu sendiri juga harus bekerjasama dengan guru
yang sama mata pelajaran namun berbeda kelas atau peneliti dari perguruan tinggi agar
refleksi dapat dilakukan sampai pada tahap pemaknaan tindakan dan situasi dalam
pembelajaran yang ada sehingga dapat memberikan dasar untuk memperbaiki rencana
tindakan yang akan dilakukan selanjutnya. ( Asrori, 2009: 54)
Refleksi praktik dalam pelayanan kebidanan dimaksudkan sebagai bentuk
pedoman/acuan yang merupakan kerangka kerja seorang bidan dalam memberikan asuhan
kebidanan, dipengaruhi oleh filosofi yang dianut bidan (filosofi asuhan kebidanan) meliputi
unsur-unsur yang terdapat dalam paradigma kesehatan (manusia-perilaku, lingkungan &
pelayanan kesehatan). Dalam praktek kebidanan, pemberian asuhan kebidanan yang
berkualitas sangat dibutuhkan. Kualitas kebidanan ditentukan dengan cara bidan membina
hubungan, baik sesama rekan sejawat ataupun dengan orang yang diberi asuhan. Upaya
meningkatkan kualitas pelayanan kebidanan juga ditentukan oleh ketrampilan bidan untuk
berkomunikasi secara efektif dan melakukan konseling yang baik kepada klien.
Bidan merupakan ujung tombak memberikan pelayanan yang berkuliatas dan sebagai
tenaga kesehatan yang professional, bekerja sebagai mitra masyarakat, khususnya keluarga
sebagai unit terkecilnya, yang berarti bidan memiliki posisi strategis untuk memberikan
pelayanan kesehatan yang bersifat holistik komprehensif (berkesinambungan, terpadu, dan
paripurna), yang mencakup upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif dalam upaya
mencapai terwujudnya paradigma sehat. Jadi seorang bidan dituntut untuk menjadi individu
yang professional dan handal memberikan pelayanan yang berkualitas karena konsep
kerjanya berhubungan dengan nyawa manusia.

2. Ruang Lingkup Praktik Kebidanan


a. Bidan adalah seorang wanita yang telah mengikuti dan menyelesaikan pendidikan. Lulus
dengan persyaratan yang ditelah ditetapkan dan memperoleh kualifikasi untuk
registrasi dnn memperoleh izin untuk melaksanakan praktik kebidanan.
b. Praktik Kebidanan adalah implementasi dari ilmu kebidanan oleh bidan yang bersifat
otonom, kepada perempuan, keluarga dan komunitasnya, didasari etika dan kode etik bidan.
Selain itu diartikan juga sebagai serangkaian kegiatan pelayanan kesehatan yang diberikan
oleh bidan kepada pasien (individu, keluarga dan masyarakat) sesuai dengan kewenangan dan
kemampuannya.
c. Kebidanan adalah satu bidang ilmu yang mempelajari keilmuan dan seni yang
mempersiapkan kehamilan, menolong persalinan, nifas dan menyusui, masa interval dan
pengaturan kesuburan, klimakterium dan menopause, bayi baru lahir dan balita, fungsi–
fungsi reproduksi manusia serta memberikan bantuan/dukungan pada perempuan, keluarga
dan komunitasnya.
d. Manajemen Asuhan Kebidanan adalah pendekatan dan kerangka pikir yang digunakan oleh
bidan dalam menerapkan metode pemecahan masalah secara sistematis mulai dari
pengumpulan data, analisis data, diagnosa kebidanan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
e. Asuhan kebidanan adalah proses pengambilan keputusan dan tindakan yang dilakukan oleh
bidan sesuai dengan wewenang dan ruang lingkup praktiknya berdasarkan ilmu dan kiat
kebidanan.
f. Pelayanan kebidanan adalah bagian integral dari sistem pelayanan kesehatan yang diberikan
oleh bidan yang telah terdaftar (teregister) yang dapat dilakukan secara mandiri, kolaborasi
atau rujukan.

3. Praktik dalam Pelayanan Kebidanan


Pelayanan praktik kebidanan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pelayanan
rumah sakit. Oleh karena itu, tenaga bidan bertanggung jawab memberikan pelayanan
kebidanan yang optimal dalam meningkatkan dan mempertahankan mutu pelayanan
kebidanan yang diberikan selama 24 jam secara berkesinambungan. Bidan harus memiliki
keterampilan professional, ataupun global. Agar bidan dapat menjalankan peran fungsinya
dengan baik, maka perlu adanya pendekatan sosial budaya yang dapat menjembatani
pelayanannya kepada pasien.
Program pelayanan kebidanan yang optimal dapat dicapai dengan adanya tenaga bidan
yang professional dan dapat diandalkan dalam memberikan pelayanan kebidanannya
berdasarkan kaidah-kaidah profesi yang telah ditentukan,seperti memiliki berbagai
pengetahuan yang luas mengenai kebidanan, dan diterapkan oleh para bidan dalam
melakukan pendekatan asuhan kebidanan kepada masyarakat.
Bidan dapat menunjukan otonominya dan akuntabilitas profesi, melalui pendekatan
sosial dan budaya yang akurat. Terdapat beberapa bentuk pendekatan yang dapat digunakan
atau diterapkan oleh para bidan dalam melakukan pendekatan asuhan kebidanan kepada
masyarakat misalnya paguyuban, kesenian tradisional, agama dan sistem banjar. Hal tersebut
bertujuan untuk memudahkan masyarakat dalam menerima, bahwa pelayanan atau informasi
yang diberikan oleh petugas, bukanlah sesuatu yang tabu tetapi sesuatu hal yang nyata atau
benar adanya.
Dalam memberikan pelayanan kebidanan, seorang bidan lebih bersifat :
a. Promotif, bidan yang bersifat promotif berarti bidan berupaya menyebarluaskan informasi
melalui berbagai media Metode penyampaian, alat bantu, sasaran, media, waktu ideal,
frekuensi, pelaksana dan bahasa serta keterlibatan instansi terkait maupun informal leader
tidaklah sama di setiap daerah, bergantung kepada dinamika di masyarakat dan kejelian kita
untuk menyiasatinya agar informasi kesehatan bisa diterima dengan benar dan selamat.
Penting untuk diingat bahwa upaya promotif tidak selalu menggunakan dana negara,
adakalnya diperlukan adakalanya tidak. Selain itu, penyebaran informasi hendaknya
dilakukan secara berkesinambungan dengan memanfaatkan media yang ada dan sedapat
mungkin dikembangkan agar menarik dan mudah dicerna. Materi yang disampaikan
seyogyanya selalu diupdate seiring dengan perkembangan ilmu kesehatan t
b. Preventif berarti bidan berupaya pencegahan semisal imunisasi, penimbangan balita di
Posyandu dll. Kadang ada sekelompok masyarakat yang meyakini bahwa bayi berusia kurang
dari 35 hari (jawa: selapan) tidak boleh dibawa keluar rumah.
c. Kuratif berarti bidan tidak dikehendaki untuk mengobati penyakit terutama penyakit berat.
d. Rehabilitatif berarti bidan melakukan upaya pemulihan kesehatan, terutama bagi pasien yang
memerlukan perawatan atau pengobatan jangka panjang.

4 Prinsip Bidan dalam Praktik Kebidanan.


Adapun tugas dan prinsip bidan dalam praktik kebidanan ketika melakukan tugasnya
yaitu:
a. Cintai yang anda lakukan, lakukan yang anda cintai (love your do, do your love). Profesi
bidan harus dihayati. Banyak orang yang memilih bidan karena dorongan orangtua, dengan
harapan cepat bekerja dengan masa pendidikan yang singkat dan dapat membuka praktek
mandiri. Oleh karena itu terlepas dari apapun motivasi seseorang menjadi bidan, setiap bidan
harus mencintai pekerjaannya.
b. Jangan membuat kesalahan (don’t make mistake).
Dalam memberi asuhan, usahakan tidak ada kesalahan. Bidan harus bertindak sesuai dengan
standar profesinya. Untuk itu bidan harus terus menerus belajar dan meningkatkan
keterampilan. Kesalahan yang dilakukan memberi dampak sangat fatal. Jangan pernah
berhenti mengasah keterampilan yang telah dimiliki saat ini, terus meningkatkan diri, dan
mau belajar kaena ilmu selalu berubah. Keinginan untuk terus belajar dan kemauan untuk
meningkatkan keterampilan dan pengetahuan akan sangat membantu kita menghindari
kesalahan.
c. Orientasi kepada pelanggan (customer oriented).
Apapun yang dilakukan harus tetap berfokus pada pelanggan. Siapa yang anda beri
pelayanan, bagaimana karakter pelanggan anda, bagaimana pelayanan yang anda berikan
dapat mereka terima dan dapat member kepuasan sehinga anda tetap dapat member
pelayanan yang sesuai engan harapan dan keinginan pelanggan.

d. Tingkatkan mutu pelayanan (improved your service quality).


Bidan harus terus menerus meningkatkan mutu pelayanan yang diberikan kepada kliennya.
Dalam member pelayanan, jangan pernah merasa puas. Oleh karena itu, bidan harus terus
menerus meningkatkan diri, mengembangkan kemampuan kognitif dengan mengikuti
pelatihan, mempelajari dan menguasai perkembangan ilmu yang ada saat ini, mau berubah ke
arah yang lebih baik, tentu saja juga mau menerima perubahan pelayanan di bidang
kebidanan yang telah dibuktikanlebih bermanfaat secara ilmiah. Bidan yang terus berpraktek,
keterampilannya akan terus bertambah dalam memberi asuhan dan melakukan pertolongan
persalinan, KB, maupun dalam hal member pelayanan kebidanan lainnya. Dengan demikian
diharapkan kualitas personal bidan meningkat sehingga akan meningkatkan mutu pelayanan
yag diberikannya.

DAFTAR PUSTAKA

http://lisnamegaresky.blogspot.com/2012/12/makalah-refleksi-praktik-dalam.html

http://gracedessy1230.blogspot.com/2012/12/model-pembelajaran-reflektif.html
http://zulsophistsaidi.blogspot.com/search/label/peranan%20refleksi

Asuhan Kebidanan Pada Ibu Hamil (ANC)

1. Definisi
Pada umumnya kehamilan berkembang secara normal dan mengshasilkan kelahiran
bayi sehat cukup bulan melalui jalan lahir, namun ini tidak sesuai dengan yang diinginkan.
Sulit sekali diketahui sebelumnya bahwa kehamilan akan menjadi masalah, oleh karena itu
asuhan antenatal merupakan cara penting untuk memperhatikan ibu dan kehamilannya.
Kehamilan dan persalinan merupakan proses alamiah (normal) dan bukan patologis.
Tetapi kondisi normal dapat menjadi patologis/abnormal. Masa hamil berlangsung 280 hari
atau 40 minggu. Setiap perempuan berkepribadian unik dan kehamilan unik pula, dimana
terdiri atas Bio, Psikologis, Social, yang berbeda pula, sehingga dalam memperlakukan
pasien satu dengan yang lainnya juga berbeda dan tidak boleh disamakan.
Ditinjau dari tuanya kehamilan, kehamilan dibagi menjadi 3 bagian yaitu:
1. Kehamilan triwulan pertama (antara 0 sampai 12 minggu).
2. Kehamilan triwulan kedua (antara 12 sampai 28 minggu).
3. Kehamilan triwulan ketiga/terakhir (antara 28 sampai 40 minggu).
Dimana setiap trimester memiliki ciri khas tertentu. Dikatakan masa kehamilan
dimulai dari masa konsepsi, pertemuan sel sperma dan sel telur, pembuahan, nidasi, sampai
membentuk janin dan terbentuknya seluruh tubuh janin sehingga saatnya melahirkan.
Pada masa hamil lah terjadinya banyak perubahan pada tubuh ibu misalnya, rahim
membesar karna pertumbuhan janin yang semakin berkembang. Dinding perut semakin
melebah mengikuti pertumbuhan janin, payudara membesar dan tenggang karena produksi
ASI.
Kehamilan yang sehat akan menghasilkan bayi yang sehat, dan ibu melahirkan
selamat.
2. Diagnosa Kehamilan
Kehamilan ditegakkan berdasarkan : gejala dan tanda tertentu yang diperoleh melalui
riwayat dan ditemukan pada pemeriksaan serta hasil laboratorium.
2.1. Tanda Dugaan Hamil
a) Amenorea (tidak datng haid).
b) Payudara tegang
c) Mengidam (ingin makanan khusus)
d) Mual muntah pagi hari (morning sickness)
e) Hipersalivasi
f) Konstipasi
g) Pigmentasi kulit
2.2. Tanda Kemungkinan Hamil
a) Pembesaran rahim dan perut
b) Pada pemeriksaan dijumpai
− Tanda hegar
− Tanda chadwik
− Tanda discasek
− Teraba ballotement
c) Reaksi pemeriksaan kehamilan positif
2.3. Tanda Pasti Hamil
a) Gerakan janin dalam rahim terasa, dan teraba bagian janin.
b) Pemeriksaan USG
c) Terdenagr denyut jantung janin.

2.3. Tahap Perubahan dan Perkembangan Janin, Serta Perubahan Terhadap


Maternal
A. Perubahan dan Perkembangan Janin
0-4 Minggu
Pada minggu-minggu awal ini, janin memiliki panjang tubuh kurang lebih 2 mm.
Perkembangannya juga ditandai dengan munculnya cikal bakal otak, sum sum tulanh
belakang yang masih sederhana, dan tanda- tanda wajah yang akan terbentuk.
4-8 Minggu
Ketika usia kehamilan mulai mencapai usia 4 minggu, jantung janin mulai berdetak,
dan semua organ tubuh lainnya mulai terbentuk. Muncul tulangh-tulang belakang wajah,
mata, kaki dan tangan.
8-12 Minggu
Saat memasuki minggu-minggu ini, organ-organ tubuh utama janin telah terbentuk.
Kepalanya berukuran lebih besar daripada badannya, sehingga dapat menampung otak yang
terus berkembang dengan pesat. Dan memilliki dagu, hidung, dan kelopak mata yang jelas.
Di dalam rahim, janin mulai diliputi cairan ketuban dan dapt melakukan aktifitas seperti
menendang dengan lembut. Organ-organ utama janin kini telah terbentuk.
12-16 Minggu
Paru-paru janin mulai berkembang dan detak jantungnya apat didengarkan melalui
ultrasonografi (USG). Wajahnya mulai dapat menunjukan ekspresi tertentu dan mulai tumbuh
alis dan bulu mata. Kemudia janin sudah mulai dapat memutar kepalanya dan membuka
mulut. Rambutnay muali tumbuh kasar dan berwarna.
16-20 Minggu
Janin mulai bereaksi terhadap suara ibunya. Akar-akar gigi tetap telah muncul
dibelakang gigi susu. Tubuhnya ditumbuhi rambut halus yang disebut lanugo. Janin bisa
menghisap jempol dan bereaksi terhadap suara ibunya. Ujung-ujung indra pengecap mulai
berkembang dan bisa membedakan rasa manis dan pahit dan sidik jari mulai tampak.
20-24 Minggu
Pada sat ini ternyata besar tubuh janin mulai sebanding dengan badanya. Alat
kelaminnya mulai terbentuk, cuping hidungnya muli terbuka, dan mulai melakukan gerakan
pernafassan. Pusat-pusat tulangntya pun mulai mengeras. Selain itu, Kini ia mulai memiliki
waktu-waktu tertentu untuk tidur.
24-28 Minngu
Di bawah kulit, lemak sudah mulai menumpuk, sedangkan dikulit kepalanya rambut
mulai bertumbuhan, kelompok matanya membuka, dan otaknya mulai aktif. Janin dapat
mendengar, baik suara dari dalam maupun dari luar (lingkungan). Janin dapat menegnali
suara ibunya dan detak jantungnya bertambah cepat jika ibunya berbicara. Atau boleh
dikatakan pada masa ini merupakan masa-mas bagi sang janin mempersiapkan
dirinmenghadapi hari kelahirannya.
28-36 Minggu
Walaupun gerakannya sudah mulai terbatas karna beratnya yang semakin bertambah,
namun matanya sudah mulai bisa berkedip bila melihat cahaya melalui dinding perut ibunya,
kepalanya sudah mulai mengarah ke bawah. Paru-parunya belum sempurna.
38 Minggu
Kepalanya sudah berada pada rongga panggul, seolah-olah mempersiapkan diri bagi
kelahirannya kedunia. Ia kerap berlatih bernapas, menghisap dan menelan. Rambut-rambut
halus di sekujur tubuhnya mulai menghilang. Ususnya terisi mekonium (tinja pada bayi baru
lahir) yang biasanya akan dikeluarkan dua hari setelah lahir. Sat ini persalinan sudah amat
dekat dan bisa terjaid kapan saja.
2.3.3. Perubahan Terhadap Maternal
Suatu kehamilan normal biasanya berlangsung 280 hari, selama ini terjadi perubahan
yang menakjubkan baik pada ibu maupun janin. Janin berkembang dari 2 sel ke satu bentuk
yang akan mampu hidup di luar uterus.
Adapun perubahan yang terjaid ada 3 bagian, yaitu :
a. Trimester pertama minggu ke 1-14/ bulan 1-3
Ibu terlambat menstruasi, payudara menbjadi nyeri dan membesar, kelelahan, dan ibu akan
mengalami dua gejala terakhir selama 3 bulan berikutnya yaitu morning sickness atau mual
muntah yang biasanya dimulai sekitar 8 minggu dan mungkin berkhir sampai 12 minggu.
b. Trimester kedua minggu 16-24/ bulan 4-6
Fundus berada ditengah antara simpisis dan pusat, sekris vagina meningkat tetapi
tetap normal juka tidak gatal, iritasi dan berbau, bulan ke 5 TFU 3 jari dibawah pusat,
payudara melai sekresi kolostrum, kantungketuban menampung 400 ml cairan. Bulan ke 6
fundus sudah diatas pusat, sakit punggung dan kram pada kaki mungkin melai terjadi,
mengalami gatal-gatal pada abdomen karrena uterus dan kulit merenggang.
c. Trimester keiga minngu ke 28-36/ bulan 7-9
Fundus berada di pertengahan antara pusat dan PX, hemoroid mungkin terjadi, pernapasan
dada berganti menjadi npenapasan perut, mungkin ibu lelah menjalani kehamilannya dan
ingin sekali menjadi ibu, ibu juga sulit tidur. Bulan kesembilan, penurunan kepala ke panggul
ibu/kepala masuk PAP, sakit punggung dan sering kencing, barxton Hik meningkat karna
serviks dan segmen bawah rahim disiapkan.

2.4. Perubahan Psikologis Pada ibu hamil


1. Trimester Pertama
Segera setelah, konsepsi kadar hormon progesteron dan ertrogrn dalam tubuh akan meningkat
dan ini menyebabkan timbulkan mual muntah pada pagi hari, lemah, lelah dan besarnya
payudara, bu merasa tiak sehat dan sering kali membenci kehamilannya, pada trimester
pertama seorang ibu akan selau mencari tanda-tanda untuk lebh meyakinkan bahwa dirinya
memang hamil.
2. Trimester Kedua
Pada trimester kedua biasanya adalah saat ibu merasa sehat, ibu sudah terbiasa dengan kadar
hormon yang lebih tinng dan rasa tidak nyaman karena hamil sudah berkurang, perut ibu
belum teralu besar sehingga belum dirasakan sebagai beban, ibu sudah menerima
kehamilannya dan mulai dapat merasakan gerakan bayinya, dan ibu mulai merasakan
kehadiran bayinya, banyak ibu terlepas dari rasa kecemasan dan rasa tidak nyaman seperti
yang dirasakannya pada trimester pertama.
3. Trimester ketigA
Trimester ketiga sering kali disebut periode menggu atau waspada sebab pada saat itu ibu
merasa tidak sabar menunggu kelahiran bayinya. Gerakan bayi dan membesarnya perut
merupakan 2 hal yang mengingatkan ibu akan bayinya. Kadang-kadang ibu merasa khawatir
bahwa bayinya akan lahir sewaktu-waktu, ini menyebabkan ibu meninggkatkankewaspadaan
akan timbulnya tanda dan gejala akan terjadi persalinan, ibu sering kali mersa khawatir atau
kalau bayi yang akan dilahirkannya tidak normal