Anda di halaman 1dari 1

Kasus tersebut bermula ketika Shell dan Exxon membuang pelampung penyimpanan minyak yang bernama Brent Spar

secara berlebihan selama 5 tahun. Pelampung penyimpanan minyak tersebut berada di laut dengan kedalaman (lebih dari 75
meter) dan beratnya 14.500 ton. Dalam prosesnya, perusahaan Shell dan Exxon telah meminta izin terhadap pemerintah,
begitu pula sebaliknya. Berdasarkan petunjuk Organisasi Maritim Internasioanl, bahwa penenggelaman pelampung
penyimpanan minyak tersebut adalah pilihan yang dapat diterima. Sehingga, Shell mempertimbangkannya secara teknis,
keselamatan, dan implikasi lingkungan terhadap proses pembuangan tersebut. Shell memiliki empat pilihan yang berbeda: 1.
Membuangnya di darat 2. Menenggelamkan di tempatnya yang sekarang 3. Menguraikannya di langsung 4. Membuang di
kedalaman perairan Inggris Setelah melalui proses cross check dari semua pilihan, Shell menerapkan opsi keempat dengan
membuangnya di kedalaman perairan Inggris. Selain hemat biaya, dampak terhadap lingkungan juga kecil. Karena ada
beberapa pilihan lain yang mahal biayanya dan berisiko dapat menimbulkan pencemaran air. Ketika tidak ada yang
merespon terjadinya pembuangan tersebut, Shell juga merasa bahwa pembuangan Brent Spar tidak mengganggu atau
menyebabkan kerusakan lingkungan. Pemerintah, kemudian mengeluarkan lisensi pembuangan Brent Spar pada minggu
pertama Mei. Namun sebelum izin tersebut dikeluarkan, Greenpeace mengambil tempat Brent Spar pada 30 Mei.

Greenpeace, sebagai LSM lingkungan ternama di Inggris menyatakan kritik terhadap Shell. Kontroversi Spar memberi
memberi pukulan terhadap media dengan adanya gambar atau foto di mana aktivis Greenpeace menantang Shell dengan
menyemprotkan water cannon ke arah kapal milik Shell. Dalam kontroversi Spar ini, beberapa pihak kemudian berada di
bawah tangan Greenpeace seperti, para politisi, media, publik atau masyarakat dan European Union (serikat perusahaan
Jerman, Denmark dan Swedia).

Kontroversi Spar ini juga menjadi booming akibat media. Hal tersebut menyebabkan, terjadinya pemboikotan pada pom
bensin. Pemboikotan yang lebih efektif terjadi di Jerman, Belanda dan bagaian-bagian di Skandinavia. Shell berusaha untuk
menghapus program Greenpeace, meskipun dengan banyak pemboikotan terjadi. Akibat, kontroversi yang berkepanjangan,
diadakan Konferensi terhadap Perlindungan Laut Utara yang berlangsung di Esbjerg, Denmark, dan dihadiri oleh menteri
lingkungan hidup negara-negara sekitar Laut Utara dan Komisaris Lingkungan Uni Eropa, Ritt Bjerregaard. Dalam
konferensi ini, banyak pertentangan yang justru menjatuhkan perusahaan Shell karena dianggap telah merusak laut di periran
Laut Utara. Pada tanggal 16 Juni, kontroversi Spar ini kembali diduduki oleh para aktivis Greenpeace. Saat itu, Greenpeace
mengklaim bahwa ada sejumlah besar logam berat dan bahan organik lain yang sangat beracun dalam tangki Brent Spar
yang belum diklarifikasi oleh Shell. Pada hari yang sama, pengunjuk rasa bergerak di markas Shell di Belanda. Sepanjang
krisis Spar, Shell di Inggris menerima sedikit dukungan. Pemerintah Inggris kemudian aktif dalam usahanya untuk
membujuk sekutu Eropa, bahwa laut di mana Brent Spar ditenggelamkan adalah BPEO. Namun, argumen tersebut jatuh di
telinga yang tidak mau mendengarkan. Selain itu, posisi Shell Inggris menjadi semakin tidak bisa dipertahankan karena
tekanan dari Shell Jerman dan Belanda. Dalam menghadapi rival yang sangat sulit, Shell mengumumkan pada 20 Juni bahwa
mereka telah membatalkan rencana untuk menenggelamkan Brent Spar, hanya beberapa jam sebelum itu dijadwalkan untuk
tenggelam. Setelah pembatalan tersebut dilaksanakan, Greenpeace mengeluarkan pernyataan bahwa, hal tersebut dapat
membantu Shell untuk menemukan solusi yang dapat diterima lingkungan. Sebuah hasil jajak pendapat di Jerman
menunjukkan bahwa 82% dari mereka yang diwawancarai mendukung boikot tersebut untuk melawan Shell. Pemboikotan
tersebut dirasa menjadi sarana bagi konsumen untuk melawan praktek-praktek yang membahayakan lingkungan. Di Jerman,
Shell mengeluarkan iklan satu halaman di 100 surat kabar nasional dan lokal dengan judul "Kami akan berubah". Dalam hal
ini, Shell mengakui kesalahan dan saran-saran buruknya terhadap kebijakan Brent Spar dengan menyatakan bahwa
keputusan untuk membuang Brent Spar di laut utara adalah benar pada teknis maupun alasan lingkungan. Di Denmark, Shell
mengirimkan surat ke 250.000 pemegang kartu kredit menjelaskan kebijakan mereka.

Pada Juli 1995, Shell meminta perusahaan Norwegia Det Norske Veritas untuk menyelidiki tuduhan yang dibuat oleh
Greenpeace tentang isi Brent Spar yang mengandung 5000 ton minyak mentah. Beberapa minggu sebelum laporan temuan
ini, Greenpeace mengakui bahwa mereka telah membuat kesalahan tentang jumlah polutan yang tersisa, namun tetap
beranggapan bahwa tenggelamnya Brent Spar adalah keputusan yang salah. Menurut penelitian, Shell menempuh banyak
risiko dengan ditenggelamkannya Brent Spar. Beberapa risiko pekerjaan tertinggi misalnya, dengan pembongkaran tanah
dan risiko terendahnya terjadi pada tempat tenggelamnya Brent Spar. Menurut beberapa ahli, tenggelamnya Brent Spar di
laut dalam tidak menimbulkan masalah lingkungan yang signifikan. Total persediaan bahan berbahaya dalam pelampung
minimal; beberapa ribu gugatan minyak dan pasir berminyak, sedikitnya skala radioaktif, beberapa sisa-sisa minyak, dan zat
kimia. Secara keseluruhan, jumlah total kurang dari 1% dengan jumlah yang diberhentikan oleh kapal di laut utara. Namun,
ada rasa takut terhadap pencemaran lingkungan di laut dalam di mana Brent Spar telah dibuang. Karena belum ada penelitian
yang dilakukan secara menyeluruh, meskipun para ahli menyatakan bahwa tidak ada dampak yang begitu signifikan. Secara
umum, para ahli menyimpulkan bahwa Shell seharusnya melakukan prosedur yang lebih terbuka terhadap publik dan
organisasi lingkungan, karena persepsi publik perlu diperhitungkan. Sehingga, Shell dapat kehilangan kredibilitasnya,
mendapat protes dari publik bahkan terjadi pemboikotan karena terjadi kesalahan dalam menerapkan strategi komunikasi
risiko.

1. Mengapa strategi komunikasi risiko Shell bisa dikatakan gagal?

2. Bagaimana seharusnya cara pemasaran yang efektif agar permasalahan tersebut seharusnya tidak terjadi
(pencegahan)?

3. Solusi perbaikan cara pemasaran yang seperti apa untuk memperbaiki permasalahan tersebut (perbaikan)?