Anda di halaman 1dari 16

ILUSTRASI PEMBUKA

London Sumatra Catat Kenaikan Volume Penjualan 2,3 Persen

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- PT PP London Sumatra Indonesia Tbk membukukan


peningkatan volume penjualan crude palm oil (CPO) sebesar 2,3 persen menjadi 327,737 ton
per akhir September 2013. Namun demikian perseroan mencatat penurunan produksi.

Penurunan produksi disebabkan oleh likuidasi persediaan yang tinggi pada akhir
2102. “Dan karena turunnya harga komoditas serta volume penjualan dari produk lainnya,
secara total penjualan turun 14,2 persen menjadi Rp2,89 triliun,” kata Sekretaris Perusahaan
Endah R Madnawidjaja, Rabu (30/10).

Sekitar 52 persen dari total volume penjualan CPO dijual ke perusahaan induk.
Nilainya turun 74 persen dari periode tahun lalu. Volume penjualan produk inti sawit
mengalami penurunan sebesar 16,9 persen menjadi 66.454 ton pada triwulan ketiga 2013.
Volume penjualan karet turun 6,4 persen menjadi 9.264 ton dan volume penjualan benih bibit
kelapa sawit juga mengalami penurunan sebesar 27,3 persen menjadi 12,9 juta benih bibit.

Harga jual rata-rata yang lebih rendah telah mempengaruhi laba. Laba bruto turun
46,9 persen menjadi Rp736 miliar dan laba operasi turun 47,3 persen menjadi Rp588,3 miliar.
“Laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun 53,4 persen
menjadi Rp442,9 miliar,” ujar Endah.

Perseroan membukukan penurunan hasil produksi minyak sawit sebesar 15,6 persen
pada akhir triwulan ketiga 2013. Penurunan ini sejalan dengan penurunan hasil inti sawit
sebesar 17,7 persen menjadi 64.135 ton.

Penurunan hasil produksi disebabkan oleh kondisi cuaca yang tidak mendukung dan
kondisi logistik tandan buah segar (TBS) di beberapa wilayah. Sehingga TBS yang diproses
turun 17 persen menjadi 1,19 juta ton pada akhir September 2013.

Hasil panen TBS inti turun 8,9 persen menjadi 867.564 ton. TBS yang dibeli dari
eksternal turun 33,8 persen menjadi 321.289 ton. Hal ini disebabkan oleh ketatnya aturan
kualitas TBS yang dibuat perseroan untuk meningkatkan rendemen.

Produktivitas TBS inti mengalami penurunan dari 12,8 ton per hektare menjadi 11,6
ton per hektare. Ini disebabkan oleh penurunan hasil panen TBS inti serta adanya
penambahan lahan menghasilkan baru sekitar 1.109 hektare dibandingkan dengan periode
yang sama tahun sebelumnya. Rendemen minyak sawit (OER) meningkat menjadi sebesar
22,9 persen dan rendemen inti sawit (KER) sama dengan tahun lalu yaitu sebesar 5,4 persen.
KERANGKA BAB

Transaksi antara Entitas Induk


dan Entitas Anak: Penjualan
Persediaan dan Jasa

Eliminasi Transaksi Transaksi Transaksi Ilustrasi


antara Entitas Induk Penjualan Penjualan Komprehensif
dan Entitas Anak Persediaan Jasa

Transaksi antara Dampak terhadap


Entitas Induk dan Pencatatan Entitas
Entitas Anak Induk dan Jurnal
Eliminasi

Pentingnya
Eliminasi atas
Transaksi Hulu
Transaksi antara
Entitas Induk dan
Entitas Anak Transaksi Hilir

ELIMINASI TRANSAKSI ANTARA ENTITAS INDUK DAN ENTITAS ANAK

Transaksi antara Entitas Induk dan Entitas Anak

Entitas induk dan entitas anak sering terlibat dalam transaksi, seperti transaksi jual beli
persediaan, jual beli aset tetap, atau pemberian pinjaman. Sering kali entitas anak
menghasilkan produk yang akan diproses lebih lanjut oleh entitas induknya, dan/atau
sebaliknya. Ilustrasi pembuka diatas memberikan contoh transaksi jual beli persediaan entitas
induk dan entitas anak. London Sumatera sebagai penghasil CPO, menjual sebagian besar
produk ke entitas anaknya. Hal ini memberikan gambaran besarnya volume transaksi yang
terjadi antara entitas induk dan entitas anaknya.

Dalam PSAK 65 (Revisi 2014) Laporan Keuangan Konsolidasian, transaksi yang


melibatkan entitas induk dan entitas anak sering disebut dengan transaksi antar-entitas dalam
kelompok usaha. Transaksi antar-entitas dalam kelompok usaha dapat digambarkan dalam
Gambar 5.1.

Transaksi hulu atau yang sering disebut dengan transaksi downstream adalah transaksi
dari entitas induk ke entitas anak. Pemberian fasilitas kredit oleh PT Garuda Indonesia Tbk ke
PT Citilink Indonesia merupakan contoh dari transaksi hulu. Perjanjian pemberian pinjaman
sebesar US$ 15 juta telah ditandatangani pada 3 Desember 2013
(www.ciputraentrepreneuship.com, 14 April 2015). Sementara itu, transaksi hilir adalah
transaksi dari anak ke entitas induk. Transaksi penjualan CPO oleh London Sumatera yang
disebutkan dalam ilustrasi pembuka merupakan contoh transaksi hilir.

GAMBAR 5.1

Transaksi Antar-entitas dalam Kelompok Usaha

Entitas induk

hilir

hulu hulu

Entitas Anak A Entitas Anak B

Antar entitas anak juga sering terjadi transaksi yang disebut dengan transaksi lateral.
Contoh transaksi lateral adalah transaksi yang dilakukan oleh PT Krakatau Daya Listrik dan
PT Krakatau Tirta Industri. Kedua perusahaan merupakan anak usaha PT Krakatau Steel
(Persero) Tbk. Pada 8 Desember 2014, PT Krakatau Tirta Industri melakukan pembelian
tanah seluas 15.000 m2 dari PT Krakatau Daya Listrik. Tanah tersebut akan digunakan
sebagai area water treatment plant (WTP) air laut dan relokasi pabrik air minum dalam
kemasan (www.bisnis.com, 6 April 2015). Terkait tujuan pembelajaran, buku ini akan lebih
berfokus pada dampak transaksi hulu dan hilir terhadap penyusunan laporan keuangan
konsolidasian.

Pentingnya Eliminasi atas Transaksi antara Entitas Induk dan Entitas Anak

Entitas induk berkewajiban menyusun laporan keuangan yang menggambarkan


kinerja dan kondisi keuangan entitas induk beserta entitas anaknya secara keseluruhan.
Laporan keuangan yang dimaksud adalah laporan keuangan konsolidasian. PSAK 65 (Revisi
2014) mendefinisikan laporan keuangan konsolidasian sebagai laporan keuangan kelompok
usaha yang didalamnya aset, liabilitas, ekuitas, penghasilan, beban, dan arus kas entitas induk
dan entitas anak disajikan sebagai suatu entitas ekonomi tunggal. Oleh karena itu, dapat
disimpulkan bahwa untuk penyusunan laporan keuangan konsolidasian entitas induk dan
entitas anak merupakan satu entitas tunggal yang tidak terpisahkan.
GAMBAR 5.2

Konsep Konsolidasi

Satu kelompok usaha

Entitas induk Satu entitas


tunggal

Satu Laporan
Keuangan

Laporan Keuangan
Entitas Anak A Entitas Anak B
Konsolidasian

Oleh karena entitas induk dan entitas anak merupakan satu entitas tunggal, maka
transaksi antara entitas induk dan entitas anak menjadi transaksi didalam satu entitas, Hal ini
sesuai dengan penjelasan dalam PSAK 65 (Revisi 2014) yang menyatakan bahwa salah satu
prosedur dalam menyusun laporan keuangan konsolidasi (prosedur konsolidasi) adalah
mengeliminasi secara penuh aset, liabilitas, ekuitas, penghasilan, beban, dan arus kas dalam
kelompok usaha terkait dengan transaksi antar-entitas dalam kelompok usaha.

Sebagai contoh, entitas induk menjual persediaan kepada entitas anaknya. Persediaan
tersebut kemudian dijual oleh entitas anak ke perusahaan non-afiliasi. Dari sudut pandang
laporan keuangan konsolidasi, dampak dari transaksi penjualan persediaan oleh entitas induk
ke entitas anak tersebut harus dieliminasi, karena transaksi tersebut terjadi antara entitas
induk dan entitas anak yang merupakan satu kesatuan. Oleh karenanya eliminasi harus dibuat
untuk menghapus dampak transaksi penjualan persediaan entitas induk ke entitas anak.
Eliminasi juga harus dibuat ketika yang diperoleh entitas anak dari entitas induk ternyata
belum terjual sampai akhir periode. Pembahasan dalam bab ini terbatas pada transaksi yang
terjadi antara induk dan entitas anak. Transaksi antar-entitas anak tidak dibahas di bab ini.

TRANSAKSI PENJUALAN PERSEDIAAN

Dampak terhadap Pencatatan Entitas Induk dan Jurnal Eliminasi

Dampak terhadap Pencatatan Entitas Induk

Transaksi jual beli persediaan antara entitas induk dan entitas anak merupakan contoh
transaksi antar-entitas dalam satu kelompok usaha. Keuntungan atau kerugian yang muncul
dari jual beli persediaan belum terealisasi selama persediaan tersebut masih berada di entitas
induk atau entitas anak. Namun ketika persediaan tersebut telah terjual, keuntungan atau
kerugian atas penjualan akan terealisasi. Hal ini sesuai dengan ketentuan dalam PSAK 15
(Revisi 2014) Investasi pada Entitas Asosiasi dan Ventura Bersama, yang menyatakan bahwa
keuntungan atau kerugian yang dihasilkan dari transaksi hulu atau hilir diakui dalam laporan
keuangan entitas hanya sebesar bagian investor lain dalam entitas anak. Metode ini yang
sering disebut dengan istilah fully adjusted equity method. Dampak transaksi antar-entitas
dalam satu kelompok usaha terhadap pencatatan entitas induk dapat dilihat di Bab 2.

Dampak terhadap Jurnal Eliminasi

Jurnal eliminasi terkait transaksi jual beli persediaan antara entitas induk dan entitas
anak tergantung pada posisi persediaan pada akhir periode. Ketika seluruh persediaan yang
diperoleh dari entitas induk sudah terjual ke perusahaan non-afiliasi pada periode yang sama
dengan periode perolehannya, beban pokok penjualan sebesar angka pokok penjualan sebesar
angka penjualan persediaan entitas induk ke entitas anak.

Jika pada akhir periode seluruh persediaan yang diperoleh dari entitas induk belum
terjual, maka penjualan dan beban pokok penjualan yang diakui harus dieliminasi.
Keuntungan atau kerugian atas penjualan tersebut juga harus dieliminasi seluruhnya dengan
mengurangi nilai persediaan. Namun, ketika persediaan sudah terjual sebagian pada periode
tersebut, maka sebagian keuntungan atau kerugian penjualan persediaan yang belum
terealisasi harus dieliminasi.

Contoh 5.1 Dampak terhadap Pencatatan Entitas Induk dan Jurnal Eliminasi

Contoh berikut akan memberikan gambaran komprehensif terkait dampak transaksi


jual beli persediaan antara entitas induk dan entitas anak, baik terhadap pencatatan entitas
induk maupun jurnal eliminasi yang harus dibuat pada saat menyusun laporan keuangan
konsolidasian.

PT Palapa (PT P) memiliki 100% saham PT Samudera (PT S). Selama tahun 2015,
terdapat transaksi penjualan persediaan oleh PT P ke PT S sebesar Rp10.000.000. Beban
pokok penjualan (BPP) yang dibukukan PT P terkait transaksi penjualan tersebut adalah
Rp6.000.000. Bagaimana pencatatan dan jurnal yang harus dibuat PT P saat penyusunan
laporan keuangan konsolidasian 2015 jika:

 Skenario 1 - Seluruh persediaan yang diperoleh dari PT P telah terjual seharga


Rp16.000.000.
 Skenario 2 – Seluruh persediaan yang diperoleh dari PT P belum terjual.
 Skenario 3 – Sebanyak 75 % dari persediaan yang diperoleh dari PT P telah terjual
seharga Rp12.000.000

Skenario 1 – Seluruh persediaan terjual

Skenario 1 dapat digambarkan dalam bagan berikut:


Terkait penjualan ke entitas anak, PT P melaporkan keuntungan sebesar Rp4.000.000
(Rp10.000.000 – Rp6.000.000). Keuntungan tersebut sudah terealisasi karena persediaan
yang diperoleh PT S dari PT P sudah terjual ke perusahaan non-afiliasi. Oleh karena itu, tidak
ada jurnal yang dibuat oleh PT P terkait penangguhan keuntungan transaksi hulu.

Transaksi hulu dalam contoh ini mengakibatkan pengakuan penjualan sebesar


Rp10.000.000 dan beban pokok penjulan sebesar Rp6.000.000 oleh PT P. Di sisi lain, PT S
membukukan penjulan sebesar Rp16.000.000 dan beban pokok penjualan senilai
Rp10.000.000. Akun penjualan milik PT P dan beban pokok penjualan milik PT S harus
dieliminasi karena transaksi penjualan tersebut terjadi dalam satu entitas. Jurnal eliminasi
yang harus dibuat adalah:

Penjualan 10.000.000

Beban Pokok Penjualan 10.000.000


Mengeliminasi penjualan persediaan antara PT P dan PT S

Dampak dari jurnal eliminasi tersebut terhadap penyajian akun penjualan, beban pokok
penjualan, dan persediaan dalam laporan keuangan konsolidasi adalah sebagai berikut:

TABEL 5.1
Dampak Jurnal Eliminasi Skenario 1
Terhadap Laporan Keuangan Konsolidasian

Sebelum Konsolidasia
Akun PT P PT S Eliminasi
Konsolidasi n
Penjualan Rp10.000.000 Rp16.000.000 Rp26.000.000 (Rp10.000.000 Rp16.000.000
)
Beban Pokok (Rp10.000.000
Rp 6.000.000 Rp10.000.000 Rp16.000.000 Rp 6.000.000
Penjualan )
Persediaan - - - - -

Skenario 2 – Seluruh persediaan belum terjual


Skenario 2 dapat digambarkan dalam bagan berikut:

Keuntungan atas penjualan yang dibukukan PT P sebesar Rp4.000.000 belum terealisasi,


karena hingga akhir periode persediaan tersebut masih dimiliki oleh PT S. Oleh karena itu,
PT P harus mencatat penangguhan keuntungan atas penjualan tersebut menggunakan jurnal
berikut:

Bagian Laba atas Entitas Anak 10.000.000

Investasi pada Entitas Anak 10.000.000

Mencatat keuntungan yang belum terealisasi

Oleh karena transaksi penjualan persediaan pada ilustrasi ini merupakan transaksi hulu,
maka PT P mencatat keuntungan yang belum terealisasi secara penuh.

Transaksi hulu pada contoh ini mengakibatkan pengakuan penjualan sebesar


Rp10.000.000 dan beban pokok penjualan sebesar Rp6.000.000 oleh PT P, dan belum
terdapat penjualan yang dibukukan oleh PT S. Drai sudut pandang konsolidasian, persediaan
tersebut masih berada di perusahaan, sehingga penjualan dan beban pokok penjualan yang
diakui PT P harus dieliminasi secara penuh. Keuntungan atas penjualan yang belum
terealisasi, yaitu sebesar Rp4.000.000, juga dieliminasi dengan mengurangi persediaan.
Jurnal eliminasi yang dibuat adalah:

Penjualan 10.000.000

Beban Pokok Penjualan 6.000.000

Persediaan 4.000.000

Mengeliminasi penjualan persediaan antara PT P dan PT S

Dampak dari jurnal eliminasi tersebut terhadap penyajian akun penjualan, beban pokok
penjualan dan persediaan dalam laporan keuangan konsolidasian adlah sebagai berikut:
TABEL 5.2
Dampak Jurnal Eliminasi Skenario 2
Terhadap Laporan Keuangan Konsolidasian

Sebelum Konsolidasia
Akun PT P PT S Eliminasi
Konsolidasi n
Penjualan Rp10.000.000 - Rp10.000.000 (Rp10.000.000 -
)
Beban Pokok
Rp 6.000.000 - Rp 6.000.000 (Rp 6.000.000) -
Penjualan
Persediaan - Rp10.000.000 Rp10.000.000 (Rp 4.000.000) Rp 6.000.000

Skenario 3 – Sebagian persediaan terjual

Skenario 3 dapat digambarkan dalam bagan berikut:

Oleh karena persediaan yang diperoleh dari PT P baru 75% yang telah terjual, maka terdapat
keuntungan penjualan yang belum terealisasi. Besarnya keuntungan penjualan yang belum
terealisasi sebesar Rp1.000.000 (25% x Rp4.000.000), sehingga PT P harus mencatat
penangguhan keuntungan atas penjualan tersebut dengan membuat jurnal berikut:

Bagian Laba atas Entitas Anak 10.000.000

Investasi pada Entitas Anak 10.000.000

Mencatat keuntungan yang belum terealisasi

Karena transaksi penjualan persediaan dalam ilustrasi ini merupakan transaksi hulu, maka
oleh PT P keuntungan yang belum terealisasi akan dicatat secara penuh.

Transaksi hulu pada contoh ini mengakibatkan pengakuan penjualan sebesar


Rp10.000.000 dan beban pokok penjualan sebesar Rp6.000.000. Sementara itu, PT S
mengakui penjualan senilai Rp12.000.000 dan beban pokok penjualan sebesar Rp7.500.000
(75% x Rp10.000.000). Eliminasi dibuat atas akun penjualan yang dilaporkan PT P yaitu
senilai Rp.10.000.000. Keuntungan atas penjualan yang belum terealisasi sebesar
Rp1.000.0000 dieliminasi dengan mengurangi akun persediaan. Akun beban pokok penjualan
dieliminasi sebesar Rp9.000.000, karena beban pokok penjualan yang akan disajikan dalam
laporan keuangan konsolidasian hanya sebesar Rp4.500.000 (75% x Rp6.000.000). Jurnal
eliminasi yang harus dibuat sebagai berikut:

Penjualan 10.000.000

Beban Pokok Penjualan 9.000.000

Persediaan 1.000.000

Mengeliminasi penjualan persediaan antara PT P dan PT S

Dampak dari jurnal eliminasi tersebut terhadap penyajian akun penjualan, beban pokok
penjualan dan persediaan dalam laporan keuangan konsolidasian adlah sebagai berikut:

TABEL 5.1
Dampak Jurnal Eliminasi Skenario 1
Terhadap Laporan Keuangan Konsolidasian

Sebelum Konsolidasia
Akun PT P PT S Eliminasi
Konsolidasi n
Penjualan Rp10.000.000 Rp12.000.000 Rp22.000.000 (Rp10.000.000 Rp12.000.000
)
Beban Pokok
Rp 6.000.000 Rp 7.500.000 Rp 3.500.000 (Rp 9.000.000) Rp 4.500.000
Penjualan
Persediaan - Rp 2.500.000 Rp 2.500.000 (Rp 1.000.000) Rp 1.500.000

Transaksi Hulu Penjualan Persediaan

Untuk memperoleh pemahaman secara komprehensif tentang prosedur konsolidasi


yang melibatkan transaksi hulu untuk penjualan persediaan, digunakan contoh sebagai
lanjutan dari contoh di bab sebelumnya dengan menyesuaikan saldo beberapa akun terkait
dengan transaksi penjualan persediaan oleh entitas induk ke entitas anaknya.

Contoh 5.2 – Transaksi Hulu Penjualan Persediaan

Berikut ini Neraca Saldo PT Nusantara dan PT Andalas per 31 Desember 2015.
TABEL 5.4

Neraca Saldo per 31 Desember 2015

PT Nusantara PT Andalas
Akun
Debit Kredit Debit Kredit
Kas dan Setara Kas 1.087.500.000 600.000.000
Piutang Usaha 800.000.000 375.000.000
Persediaan 650.000.000 400.000.000
Investasi pada PT Andalas 952.500.000 -
Tanah 1.500.000.000 500.000.000
Bangunan dan Peralatan 3.000.000.000 400.000.000
Merek Dagang 400.000.000 -
Akumulasi Penyusutan 750.000.000 125.000.000
Akumulasi Amortisasi 50.000.000
Utang Usaha 1.200.000.000 300.000.000
Utang Obligasi 1.500.000.000 500.000.000
Saham Biasa 3.000.000.000 800.000.000
Saldo Laba 1.500.000.000 400.000.000
Penjualan 4.800.000.000 875.000.000
Bagian Laba atas PT Andalas 90.000.000 -
Beban Pokok Penjualan 3.000.000.000 550.000.000
Beban Operasi 900.000.000 100.000.000
Beban Penyusutan 250.000.000 25.000.000
Beban Amortisasi 50.000.000 -
Dividen 300.000.000 50.000.000
Total 12.890.000.000 12.890.000.000 3.000.000.000 3.000.000.000

Informasi tambahan:

1. PT Nusantara telah melakukan pembelian 75% saham PT Andalas pada 1 januari 2015
sebesar nilai bukunya, yaitu Rp900.000.000. Nilai wajar kepentingan nonpengendali
sama dengan nilai bukunya, yaitu Rp300.000.000.
2. Selama tahun2015, PT Andalas melaporkan perolehan laba bersih sebesar
Rp200.000.000, dan mengumumkan pembagian dividen sebesar Rp50.000.000.
3. Dalam transaksi penjualan yang dilakukan oleh PT Nusantara, terdapat penjualan
kepada PT Andalas sebesar Rp100.000.000 dengan beban pokok penjualan sebesar
Rp40.000.000.
4. Sampai 31 Desember 2015, persediaan yang diperoleh PT Andalas dari PT Nusantara
seluruhnya belum terjual.

Prosedur Konsolidasi Tahun Pertama – 2015

Pencatatan PT Nusantara – 2015

PT Nusantara mencatat investasinya di PT Andalas menggunakan metode ekuitas. Pencatatan


yang dibuat PT Nusantara selama tahun 2015 adalah sebagai berikut:

1 Januari 2015
Investasi pada PT Andalas 900.000.000

Kas 900.000.000
Mencatat pembelian saham PT Andalas

31 Desember 2015
Investasi pada PT Andalas 150.000.000

Bagian Laba atas PT Andalas 150.000.000

Mencatat bagian PT Nusantara atas laba bersih PT Andalas (Rp200.000.000 x 75%)

31 Desember 2015
Kas 37.500.000

Investasi pada PT Andalas 37.500.000

Mencatat bagian PT Nusantara atas dividen PT Andalas (Rp50.000.000 x 75 %)

Selama periode 2015, terdapat transaksi hulu, yaitu penjualan persebesardiaan oleh PT
Nusantara ke PT Andalas sebesar Rp100.000.000. Keuntungan dari penjualan tersebut adalah
Rp60.000.000 (Rp100.000.000 – Rp40.000.000). Hingga akhir periode 2015, persediaan
tersebut belum terjual. Oleh karena itu, keuntungan atas penjualan tersebut belum terealisasi.
PT Nusantara harus menangguhkan keuntungan tersebut secara penuh dan melakukan
pencatatan sebagai berikut:

31 Desember 2015
Bagian Laba atas PT Andalas 900.000.000

Investasi pada PT Andalas 900.000.000

Mencatat keuntungan transaksi hulu yang belum terealisasi (Rp100.000.000 – Rp40.000.000)

Jurnal eliminasi – 2015

Berikut adalah perhitungan nilai aset bersih PT Andalas dan bagian PT Nusantara, serta
kepentingan nonpengendali atas aset bersih tersebut:
TABEL 5.5

Tabel Perhitungan Jurnal Eliminasi

PT Kepentingan
Saham
Nusantara Nonpengendali Saldo Laba
(75%) (25%) Biasa
Saldo Awal 900.000.000 300.000.000 800.000.000 400.000.000
Laba Bersih a 150.000.000 50.000.000 200.000.000
Dividen (37.500.000) (12.500.000) (50.000.000)
Saldo Akhir b 1.012.500.000 337.500.000 = 800.000.000 550.000.000
Keuntungan Belum Terealisasi c (60.000.000)
Saldo Akhir Disesuaikan b-c 952.500.000
Bagian Laba atas PT Andalas a-c 90.000.000

Jurnal eliminasi (1e) merupakan jurnal eliminasi dasar yang dibuat untuk mengeliminasi
bagian laba dan dividen PT Nusantara dan kepentingan nonpengendali, serta investasi awal
PT Nusantara di PT Andalas.

(1e) Saham Biasa 800.000.000

Saldo laba 400.000.000

Bagian Laba atas PT Andalas 90.000.000

Bagian Laba Kepentingan Nonpengendali 50.000.000

Dividen Diumumkan 50.000.000

Investasi pada PT Andalas 952.000.000

Kepentingan Nonpengendali 337.500.000

Mengeliminasi ekuitas dan investasi pada PT Andalas

Persediaan yang diperoleh PT Andalas dari PT Nusantara belum terjual sampai akhir 2015,
sehingga dari sudut pandang konsolidasi penjualan dan beban pokok penjualan PT Nusantara
terkait transaksi hulu harus dieliminasi. Keuntungan atas penjualan juga harus dieliminasi
karena keuntungan tersebut belum terealisasi. Jurnal eliminasi yang dibuat adalah:

(2e) Penjualan 100.000.000

Beban Pokok Penjualan 40.000.000

Persediaan 60.000.000

Kertas Kerja Konsolidasi – 2015


Berikut adalah kertas kerja yang digunakan untuk menyusun laporan keuangan konsolidasian
2015:

TABEL 5.6

Kertas Kerja Konsolidasian 2015

PT Jurnal Eliminasi
Nama Akun PT Andalas Konsolidasian
Nusantara Debit Kredit
Laporan Laba Rugi
Penjualan 4.800.000.000 875.000.000 2e 100.000.000 5.575.000.000
Beban Pokok Penjualan (3.000.000.000) (550.000.000) 2e 40.000.000 (3.510.000.000)
Beban Operasi (900.000.000) (100.000.000) (1.000.000.000)
Beban Penyusutan (250.000.000) (25.000.000) (275.000.000)
Beban Amortisasi (50.000.000) (50.000.000)
Bagian Laba atas PT
90.000.000 2e 90.000.000
Andalas
Laba Bersih Konsolidasian 690.000.000 200.000.000 190.000.000 40.000.000 740.000.000
Penghasilan Kepentingan
1e 50.000.000 (50.000.000)
Nonpengendali
Bagian Induk atas Laba
690.000.000 200.000.000 240.000.000 40.000.000 690.000.000
Bersih

Laporan Perubahan Saldo


Laba
Saldo Awal Saldo Laba 1.500.000.000 400.000.000 1e 400.000.000 1.500.000.000
Laba Bersih (dari atas) 690.000.000 200.000.000 240.000.000 40.000.000 690.000.000
Dikurang: Dividen 1e 50.000.000 (300.000.000)
Saldo Laba Akhir 1.890.000.000 550.000.000 640.000.000 90.000.000 1.890.000.000

Laporan Posisi Keuangan


Kas dan Setara Kas 1.087.500.000 600.000.000 1.687.500.000
Piutang Usaha 800.000.000 375.000.000 1.175.000.000
Persediaan 650.000.000 400.000.000 2e 60.000.000 990.000.000
Investasi pada PT Andalas 952.500.000 1e 952.500.000
Tanah 1.500.000.000 500.000.000 2.000.000.000
Bangunan dan Peralatan 3.000.000.000 400.000.000 3.400.000.000
Akumulasi Penyusutan (750.000.000) (125.000.000) (875.000.000)
Merek Dagang 400.000.000 400.000.000
Akumulasi Amortisasi (50.000.000) (50.000.000)
Total Aset 1.012.500.00 8.727.500.000
7.590.000.000 2.150.000.000
0

Utang Usaha 1.200.000.000 300.000.000 1.500.000.000


Utang Obligasi 1.500.000.000 500.000.000 2.000.000.000
Saham Biasa 3.000.000.000 800.000.000 1e 800.000.000 3.000.000.000
Saldo Laba (dari atas) 1.890.000.000 550.000.000 640.000.000 90.000.000 1.890.000.000
Kepentingan Nonpengendali 1e 337.500.000 337.500.000
Total Liabilitas & Ekuitas 7.590.000.000 2.150.000.000 1.440.000.000 427.500.000 8.727.500.000

Prosedur Konsolidasi Tahun Kedua – 2016

Pada periode berikutnya (2016), PT Andalas melaporkan perolehan laba bersih sebesar
Rp250.000.000 dan mengumumkan pembagian dividen sebesar Rp100.000.000. Persediaan
yang diperoleh PT Andalas dari PT Nusantara pada periode 2015 telah terjual seluruhnya
pada periode 2016.

Pencatatan PT Nusantara – 2016

PT Nusantara mencatat investasinya pada PT Andalas menggunakan metode ekuitas.


Pencatatan yang dibuat PT Nusantara selama tahun 2016 adalah sebagai berikut:

31 Desember 2016
Investasi pada PT Andalas 187.500.000

Bagian Laba atas PT Andalas 187.500.000

Mencatat bagian PT Nusantara atas laba bersih PT Andalas (Rp250.000.000 x 75%)

31 Desember 2016
Kas 75.000.000

Investasi pada PT Andalas 75.000.000

Mencatat bagian PT Nusantara atas dividen PT Andalas (Rp100.000.000 x 75%)

Persediaan PT Andalas yang diperoleh dari PT Nusantara pada tahun 2015 telah terjual
seluruhnya pada tahun 2016. Oleh karenanya, keuntungan dari penjualan tersebut, yaitu
sebesar Rp60.000.000, telah terealisasi. Namun, jika selama 2016 terdapat transaksi hulu
penjualan persediaan yang baru, maka dapat muncul kembali keuntungan atau kerugian
penjualan yang belum terealisasi. Jadi, dalam satu periode dimungkinkan adanyaa pengakuan
realisasi dari keuntungan atau kerugian penjualan persediaan periode sebelumnya dan
pengakuan keuntungan atau kerugian penjualan persediaan periode berjalan yang belum
terealisasi.

PT Nusantara harus mengakui keuntungan tersebut secara penuh dan melakukan pencatatan
sebagai berikut:

31 Desember 2016
Investasi pada PT Andalas 60.000.000

Bagian Laba atas PT Andalas 60.000.000

Mencatat keuntungan transaksi hulu yang telah terealisasi (Rp100.000.000 – Rp40.000.000)

Jurnal Eliminasi – 2016

Berikut adalah perhitungan nilai aset bersih PT Andalas dan bagian PT Nusantara dan
kepentingan nonpengendali atas aset bersih tersebut:
TABEL 5.5

Tabel Perhitungan Jurnal Eliminasi

PT Kepentingan
Saham
Nusantara Nonpengendali Saldo Laba
(75%) (25%) Biasa
Saldo Awal 1.012.500.000 337.500.000 800.000.000 550.000.000
Laba Bersih 187.500.000 62.500.000 250.000.000
Dividen (75.000.000) (25.000.000) (100.000.000)
Saldo Akhir 1.125.000.000 375.000.000 = 800.000.000 700.000.000
Bagian Laba atas PT Andalas
(187.500.000+60.000.000 247.500.000
)

Jurnal eliminasi (3e) merupakan jurnal eliminasi eliminasi dasar yang dibuat untuk
mengeliminasi bagian laba dan dividen PT Nusantara dan kepentingan nonpengendali serta
investasi awal PT Nusantara di PT Andalas.

(3e) Saham Biasa 800.000.000

Saldo laba 550.000.000

Bagian Laba atas PT Andalas 247.500.000

Bagian Laba Kepentingan Nonpengendali 62.500.000

Dividen Diumumkan 100.000.000

Investasi pada PT Andalas 1.185.000.000

Kepentingan Nonpengendali 375.000.000

Mengeliminasi akun investasi

Jurnal eliminasi tambahan diperlukan untuk mengakui keuntungan atas penjualan sebesar
Rp40.000.000 yang ditangguhkan pada periode 2015. Jurnal eliminasi yang dibuat adalah:

(4e) Investasi pada PT Andalas 60.000.000

Beban Pokok Penjualan 60.000.000

Membalik keuntungan penjualan transaksi hulu yang ditangguhkan di periode sebelumnya

Kertas Kerja Konsolidasian – 2016

Berikut adalah kertas kerja yang digunakan untuk menyusun laporan keuangan konsolidasian
2016:
TABEL 5.8

Kertas Kerja Konsolidasian 2016

PT Jurnal Eliminasi
Nama Akun PT Andalas Konsolidasian
Nusantara Debit Kredit
Laporan Laba Rugi
Penjualan 6.000.000.000 1.000.000.000 7.000.000.000
Beban Pokok Penjualan (3.900.000.000) (600.000.000) 4e 60.000.000 (4.440.000.000)
Beban Operasi (1.037.500.000) (125.000.000) (1.162.500.000)
Beban Penyusutan (250.000.000) (25.000.000) (275.000.000)
Beban Amortisasi (62.500.000) (62.500.000)
Bagian Laba atas PT
247.500.000 3e 247.500.000
Andalas
Laba Bersih Konsolidasian 997.500.000 250.000.000 247.500.000 60.000.000 1.060.000.000
Penghasilan Kepentingan
3e 62.500.000 (62.500.000)
Nonpengendali
Bagian Induk atas Laba
997.500.000 250.000.000 310.000.000 60.000.000 997.500.000
Bersih

Laporan Perubahan Saldo


Laba
Saldo Awal Saldo Laba 1.890.000.000 550.000.000 3e 550.000.000 1.890.000.000
Laba Bersih (dari atas) 997.500.000 250.000.000 310.000.000 60.000.000 997.500.000
Dikurang: Dividen (400.000.000) (100.000.000) 3e 100.000.000 (400.000.000)
Saldo Laba Akhir 2.487.500.000 700.000.000 860.000.000 160.000.000 2.487.500.000

Laporan Posisi Keuangan


Kas dan Setara Kas 1.400.000.000 700.000.000 2.100.000.000
Piutang Usaha 1.000.000.000 500.000.000 1.500.000.000
Persediaan 550.000.000 350.000.000 900.000.000
Investasi pada PT Andalas 1.125.000.000 4e 60.000.000 3e 1.185.000.000
Tanah 1.500.000.000 500.000.000 2.000.000.000
Bangunan dan Peralatan 3.000.000.000 400.000.000 3.400.000.000
Akumulasi Penyusutan (1.000.000.000) (150.000.000) (1.150.000.000)
Merek Dagang 775.000.000 775.000.000
Akumulasi Amortisasi (112.500.000) (112.500.000)
Total Aset 8.237.500.000 2.300.000.000 60.000.000 1.185.000.000 9.412.500.000

Utang Usaha 1.250.000.000 300.000.000 1.550.000.000


Utang Obligasi 1.500.000.000 500.000.000 2.000.000.000
Saham Biasa 3.000.000.000 800.000.000 3e 800.000.000 3.000.000.000
Saldo Laba (dari atas) 2.487.500.000 700.000.000 860.000.000 160.000.000 2.487.500.000
Kepentingan Nonpengendali 3e 375.000.000 375.000.000
Total Liabilitas & Ekuitas 8.237.500.000 2.300.000.000 1.660.000.000 535.000.000 9.412.500.000