Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PRAKTIKUM

FARMAKOLOGI TOKSIKOLOGI I
PERCOBAAN VII
OBAT YANG MEMPENGARUHI SALURAN PENCERNAAN
(ANTIDIARE DAN ANTITUKAK)

Disusun oleh:
Kelompok 6 E
Gheavanya Azhari Tamim 10060316202
Risa Apriani Hilyah 10060316203
Miranda Dwi Putri 10060316204
Diah Rohaeni 10060316208
Dwina Syafira Arzi 10060316210

Asisten : , S.Farm.
Tanggal praktikum : Jumat, 26 Oktober 2018
Tanggal pengumpulan : Jumat, 02 November 2018

LABORATORIUM FARMASI UNIT D


PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
1440H / 2018M
I. Teori Dasar
Diare merupakan gangguan saluran pencernaan yang ditandai dengan terjadinya
peningkatan peristaltik usus, sekresi cairan, volume dan frekuensi buang air besar dengan
konsistensi feses yang lunak dan cair (Guerrant, et.al.,2001).

Jenis-jenis diare yaitu :

1) Diare akut, disebabkan oleh infeksi usus, infeksi bakteri, obat-obat tertentu atau penyakit lain.
Gejala diare akut adalah tinja cair, terjadi mendadak, badan lemas kadang demam dan muntah,
berlangsung beberapa jam sampai beberapa hari.

2) Diare kronik, yaitu diare yang menetap atau berulang dalam jangka waktu lama, berlangsung
selama 2 minggu atau lebih.

3) Disentri adalah diare disertai dengan darah dan lendir (Abdul, 2006).

Beberapa patogen menyebabkan diare dengan meningkatkan daya dorong pada kontraksi
otot, sehingga menurunkan waktu kontak antara permukaan absorpsi usus dan cairan luminal.
Peningkatan daya dorong ini mungkin secara langsung distimulasi oleh proses patofisiologis
yang diaktivasi oleh patogen, atau oleh peningkatan tekanan luminal karena adanya akumulasi
fluida. Pada umumnya, peningkatan daya dorong tidak dianggap sebagai penyebab utama diare
tetapi lebih kepada faktor tambahan yang kadang-kadang menyertai akibat-akibat patofisiologis
dari diare yang diinduksi oleh patogen (Anne, 2011).

Anti diare adalah obat-obat yang digunakan untuk menanggulangi atau mengobati
penyakit diare yang disebabkan oleh bakteri atau kuman, virus, cacing atau keracunan makanan.
Gejala diare adalah buang air besar berulang kali dengan banyak cairan kadangkadang disertai
mulas (kejang- kejang perut) kadang-kadang disertai darah atau lendir. Beberapa obat anti diare
yang dapat digunakan sebagai pertolongan saat terjadi diare, yaitu adsorben dan obat pembentuk
massa, Anti motilitas, Pengobatan diare kronis (Neal, 2005).

Upaya penatalaksanaan pada penderita diare sebagian besar dengan rehidrasi yang
berfungsi untuk mengganti cairan tubuh yang hilang akibat adanya dehidrasi. Walaupun
demikian diare yang berkelanjutan harus diatasi dengan pengobatan simtomatik dan pengobatan
kausatif (Pratiwi, 2015). Pengobatan diare juga dapat dilakukan dengan beberapa golongan obat
diantaranya antimotilitas, adsorben, antisekresi, dan antibiotik (Suherman, 2013).
Laksansia atau pencahar bekerja dengan cara menstimulasi gerakan peristaltik dinding
usus sehingga mempermudah buang air besar (defikasi) dan meredakan sembelit. Tujuannya
adalah untuk menjaga agar tinja (feces) tidak mengeras dan defikasi menjadi normal. Makanan
yang masuk ke dalam tubuh akan melalui lambung, usus halus, dan akhirnya menuju usus besar/
kolon. Di dalam kolon inilah terjadi penyerapan cairan dan pembentukan massa feses. Bila
massa feses berada terlalu lama dalam kolon, jumlah cairan yang diserap juga banyak, akibatnya
konsistensi feses menjadi keras dan kering sehingga dapat menyulitkan pada saat pengeluaran
feses. Konstipasi merupakan suatu kondisi di mana seseorang mengalami kesulitan defekasi
akibat tinja yang mengeras, otot polos usus yang lumpuh maupun gangguan refleks defekasi
yang mengakibatkan frekuensi maupun proses pengeluaran feses terganggu. Frekuensi defekasi/
buang air besar (BAB) yang normal adalah 3 sampai 12 kali dalam seminggu (Arif & Sjamsudin,
1995).

Terapi farmakologis dengan obat laksatif/ pencahar digunakan untuk meningkatkan


frekuensi BAB dan untuk mengurangi konsistensi feses yang kering dan keras. Secara umum,
mekanisme kerja obat pencahar meliputi pengurangan absorpsi air dan elektrolit, meningkatkan
osmolalitas dalam lumen, dan meningkatkan tekanan hidrostatik dalam usus. Obat pencahar ini
mengubah kolon, yang normalnya merupakan organ tempat terjadinya penyerapan cairan
menjadi organ yang mensekresikan air dan elektrolit (Dipiro, et al, 2005).

Loperamid merupakan antispasmodik, di mana mekanisme kerjanya yang pasti belum


dapat dijelaskan. Secara in vitro pada binatang Loperamide menghambat motilitas/perilstaltik
usus dengan mempengaruhi langsung otot sirkular dan longitudinal dinding usus. Secara invitro
dan pada hewan percobaan, Loperamide memperlambat motilitas saluran cerna dan
mempengaruhi pergerakan air dan elektrolit di usus besar. Pada manusia, Loperamide
memperpanjang waktu transit isi saluran cerna. Loperamid menurunkan volum feses,
meningkatkan viskositas dan kepadatan feses dan menghentikan kehilangan cairan dan elektrolit
.Tinta cina ini berguna sebagai indikator untuk megetahui kecepatan motilitas usus (Ansel,
2005).

Psidium guajava L. diketahui mengandung beberapa bahan aktif antara lain tanin,
flavonoid, guayaverin, leukosianidin, minyak atsiri, asam malat, damar, dan asam oksalat, tetapi
hanya komponen khusus seperti flavonoid, tanin, minyak atsiri, dan alkaloid yang memiliki efek
farmakologi sebagai antidiare terutama pada penyakit diare yang disebabkan oleh bakteri (Ajizah
A, 2004). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh John, salah satu bahan aktif yang
terkandung dalam daun Psidium guajava yang memiliki peranan paling efektif sebagai antidiare
adalah flavonoid. Senyawa turunan flavonoid yang terkandung dalam daun Psidium guajava L.
adalah quercetin. Penelitian lain secara lebih spesifik menjelaskan bahwa quercetin merupakan
senyawa golongan flavonoid jenis flavonol dan flavon, senyawa ini banyak terdapat pada
tanaman famili Myrtaceae dan Solanacea. Senyawa quercetin memiliki potensi sebagai agen
antidiare dengan menghambat pelepasan asetilkolin yang dapat meningkatkan kontraksi usus
akibat adanya iritasi oleh bakteri penyebab diare seperti Staphylococcus aureus, Escherichia
coli, Salmonella enteritidis, Bacillus cereus, dan Vibrio cholera (Biswas B, Rogers K,
McLaughlin F, DanielsD, Yadav A, 2013).

Senyawa tanin yang terkandung dalam daun Psidium guajava L. dapat diperkirakan
memiliki jumlah sebanyak 9–12%. Tanin dapat menimbulkan rasa sepat pada buah dan daun
Psidium guajava L. tetapi berfungsi memperlancar sistem pencernaan, dan sirkulasi darah. Tanin
mempunyai sifat sebagai pengelat berefek spasmolitik yang mengkerutkan usus sehingga gerak
peristaltik usus berkurang. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Sukardi, waktu ekstraksi
optimal daun Psidium guajava L. adalah selama 17,5 menit dengan kandungan tanin yang
didapat sebesar 7,82% atau setara dengan 0,40 g per 5 g sampel (Ojewole JA, 2006).

Metode Transit Intestinal dapat digunakan untuk mengevaluasi aktivitas obat antidiare,
laksansia, antispasmodik, berdasarkan pengaruhnya pada rasio jarak usus yang ditempuh oleh
suatu marker dalam waktu tertentu terhadap panjang usus keseluruhan pada hewan percobaan
mencit atau tikus. Metode transit intestinal yang menjadi parameter pengukuran adalah rasio
antara jarak rambat marker dengan panjang usus keseluruhan. Jika suatu bahan mempunyai efek
antidiare maka rasio rambat marker yang dihasilkan kecil sebaliknya jika bahan yang
mempunyai efek laksatif maka rasio yang dihasilkan lebih besar (Ganiswarna, S., 1950).

Tukak lambung dapat terjadi karena adanya ketidak seimbangan dari faktor agresif (asam
lambung dan pepsin) dan faktor defensif (sekresi mukosa, sekresi bikarbonat, aliran darah
mukosa dan regenerasi epitel). Salah satu contoh penyebab terjadinya tukak lambung adalah
asetosal yang merupakan suatu Obat Anti Inflamasi Non Steroid (OAINS) yang sejak lama
banyak digunakan sebagai analgesik pilihan pertama. Hal yang dapat ditimbulkan akibat tukak
lambung yaitu terjadi kematian sel atau nekrosis yang menyebabkan reaksi inflamasi (Neal,
2006). Tukak lambung adalah kerusakan pada jaringan mukosa, sub mukosa sampai lapisan otot
lambung, penyebab tukak lambung diantaranya hipersekresi asam lambung sehingga terjadi
kerusakan mukosa pada lambung (Ramakrishnan dan Salnas, 2007).

Cara pencegahan terbentuknya tukak lambung diantaranya dengan cara pemberian obat
pada mukosa lambung, penghambatan pompa proton atau antagonis-H2, analog prostaglandin
dan penurunan motilitas lambung (Neal, 2006). Obat sitoprotektif (pelindung mukosa)
merupakan obat yang berfungsi sebagai lapisan pelindung mukosa lambung. Salah satu obat
sitoprotektif mukosa lambung yang sering digunakan adalah sukralfat. Penggunaan sukralfat
sebagai obat kimia bukan berarti tanpa risiko. Ada efek samping yang ditimbulkan dan perlu
mendapat perhatian diantaranya konstipasi, insomnia, gatal-gatal, sakit perut dan muntah. Oleh
sebab itulah perlu alternatif obat pengganti yang lebih aman, yang salah satunya berasal dari
herbal (BPOM, 2008).

Sukralfat adalah obat yang digunakan untuk pengobatan dan pencegahan tukak lambung
serta duodenum. Sukralfat mengandung sukrosa oktasulfat dan aluminium hidroksida, yang
bekerja pada suasana asam pada lambung. Sukralfat akan membentuk lapisan pada tukak,
melawan asam peptik, pepsin dan garam empedu dengan mengikat protein bermuatan positif
dalam eksudat (cairan yang terjadi akibat radang) yang membentuk zat perekat pasta seperti
kental sehingga membentuk lapisan pelindung. Hal ini berfungsi untuk melindungi tukak agar
tidak semakin parah. Sehingga ini membantu tukak untuk lebih cepat sembuh. Selain untuk
pengobatan tukak lambung dan tukak duodenum, sukralfat juga direkomendasikan oleh dokter
untuk menangani gangguan pencernaan lain seperti asam lambung dan gastritis kronis. Sukralfat
memiliki mekanisme kerja melindungi mukosa dengan cara membentuk gel yang sangat lengket
dan dapat melekat kuat pada dasar tukak sehingga menutupi tukak. Ketiga kombinasi tersebut
tidak seharusnya diberikan, karena sukralfat memerlukan pH asam untuk aktivasinya.
(Mycekdkk, 2001).

II. Tujuan Percobaan


a. Mempunyai keterampilan dalam melakukan percobaan antidiare
b. Mempunyai keterampilan dalam melakukan percobaan antitukak
III. Bahan, Alat dan Hewan Percobaan
Alat Bahan Hewan Uji
- Alat suntik 1 ml - Pengujian antidiare: - Mencit putih dewasa sehat
dengan berat 20-25g sekelamin
- Sonde oral mencit infusa daun jambu biji
- Tikus
- Timbangan mencit konsentrasi 10%,
aquades, loperamid
- Bahan pengujian
antitukak: aquades,
sukralfat

IV. Prosedur
4.1. Pengujian Aktivitas Antidiare (Metode Transit Intestinal)
Hewan percobaan dipuasakan selama lebih kurang 18 jam namum tetap diberi minuman,
dikelompokan secara acak ke dalam 3 kelompok (tiap kelompok terdiri dari 1 ekor mencit).
Kelompok pertama: kontrol negatif (diberi aquades), kelompok kedua: uji (diberi infusa daun
jambu biji), kelompok terakhir kelompok pembanding (diberi loperamid). Sediaan uji diberikan
pada saat t = 0 secara oral. Setelah t = 45 menit, mencit diberi suspensi norit sebanyak 0,1
ml/10g secara oral. Pada t = 60 menit, mencit dikorbankan secara dislokasi tulang leher. Usus
mencit dikeluarkan secara hati-hati jangan terenggang. Panjang seluruh usus dan bagian usus
yang dilalui marker norit mulai dari pirolus sampai ujung akhir (berwarna hitam) diukur dari
masing-masing hewan kemudian dihitung perbandingan jarak yang ditempuh marker norit
terhadap panjang usus keseluruhan, a = panjang usus yang dilalui norit, b= panjang usus mencit.
Data pengamatan disajikan dalam bentuk table dan grafik. Sumbu y = ratio panjang usus (a/b)
tiap kelompok. Sumbu x = masing-masing kelompok.
4.2. Pengujian Aktivitas Antitutak
Hewan percobaan dipuasakan selama lebih kurang 18 jam namun tetap diberi minuman,
dikelompokan secara acak ke dalam 6 kelompok (tiap kelompok terdiri dari 1 ekor tikus).
Kelompok pertama yaitu kontrol negatif (diberi aquades), kelompok kedua kontrol positif,
kelompok ketiga sukralfat 1, kelompok keempat kontrol negatif 2 (diberi aquades), kelompok
keenam sukralfat 2 dan kelompok ketujuh kontrol positif 2 semua perlakuan diberikan secara
oral. Satu jam setelah perlakuan tersebut, semua tikus diberi etanol 70% 1ml/200g bb kecuali
kontrol negatif. Satu jam kemudian, tikus dikorbankan dengan cara dislokalisasi leher,
selanjutnya dilakukan pembedahan pada setiap kelompok tikus untuk mengamati kondisi tukang
lambung. Pengamatan dilakukan dengan mengamati jumlah dan keparahan tukak lambung pada
tikus. Hasil yang didapat pada pengamatan jumlah dan keparahan tukak dinilai dengan
menggunakan Indeks Tukak (IT).
V. Data Pengamatan dan Perhitungan
VI. Pembahasan
KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA
Abdul, M. (2006). Pedoman Penggunaan Obat Bebas dan Obat Bebas Terbatas. Depkes RI:
Jakarta.
Ansel, H. C. (2005). Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, diterjemahkan oleh Ibrahim F. Edisi
IV. UI Press: Jakarta.
Ajizah A. (2004). Sensitivitas Salmonella typhimurium terhadap ekstrak daun Psidium guajava
L.. Bioscientiae.
Arif, A., Sjamsudin, U. (1995). Obat Lokal dalam Farmakologi dan Terapi Edisi 4. Farmakologi
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Biswas B, Rogers K, McLaughlin F, Daniels D, Yadav A. (2013). Antimicrobial activities of leaf
extracts of guava (Psidium guajava L. L.) on two gram-negative and gram-positive
bacteria. International Jurnal of Microbiology.
BPOM, (2008). Informatorium Obat Nasional Indonesia.
Daldiyono. (1990). Diare, Gastroenterologi-Hepatologi. Infomedika: Jakarta.

Guerrant, R.L, Van Gilder, T., Steiner, T.S., Theilman, M.N., Slutsker, L., Tauxe, R.V. (2001).
Practice Guidelines for the Management of Infectious Diarrhea. Clin Infect Dis.
Mycek, Harvey, Champe. (2001). Farmakologi Ulasan Bergambar. Edisi ke dua. Widya
Medika. Jakarta.
Neal, M. J. (2005). Medical Pharmacology at a Glance. Edisi Kelima. Erlangga. Jakarta.
Neal MJ, (2006). Obat yang bekerja pada saluran gastrointestinal I: ulkus peptikum.
Ojewole JA. (2006). Antiinflammatory and analgesic effects of Psidium guajava L. Linn.
(Myrtaceae) leaf aqueous extract in rats and mice. Methods and findings in experimental
and clinical pharmacology.
Ramakrishnan K., Salnas R. C. (2007). Peptic ulcer disease, American family physician.
Suherman, L. P., Hermanto, F., & Pramukti, M. L. (2013). Efek Antidiare Ekstrak Etanol Daun
Mindi (Milea Azedarach Linn) pada Mencit Swiss Webster Jantan. Kartika Jurnal Ilmiah
Farmasi.