Anda di halaman 1dari 4

BAB IV

PEMBAHASAN

Dalam BAB ini penulis akan membahas masalah yang ditemui selama pelaksanaan

asuhan keperawatan pada Ny. J.M mulai tanggal 05 Desember s/d 07 Desember 2017,

adapun masalah tersebut berupa kesenjangan antara teori dan praktek, secara langsung

berikut pemecahannya. Masalah yang penulis temukan selama pelaksanaan asuhan

keperawatan pada Ny. J.M dengan Diabetes Melitus adalah sebagai berikut:

A. Pengkajian Keperawatan

Pada pengkajian penulis menggunakan pendekatan sistematis untuk

mengumpulkan data pada klien, keluarga dan catatan perawatan, baik berupa data

subjektif dan objektif yang kemudian dianalisa sampai ditegakkan diagnosa

keperawatan. Berdasarkan teori dan tinjauan kasus didapat adanya kesenjangan

dimana data yang ada pada teori tidak di dapat saat pengkajian. Berdasarkan teori

manifestasi klinis diabetes melitus menunjukan adanya poliuri (peningkatan

produksi urine), polidipsi (peningkatan rasa haus), polifagi (peningkatan rasa

lapar), rasa lelah dan kelemahan otot. Namun selama penulis melaksanakan

pengkajian selama 3 hari tidak di temukan adanya polifagi dan polidipsi. Hal ini

disebabkan karena respons setiap individu yang berbeda-beda.

B. Diagnosa Keperawatan

Berdasarkan tinjauan teoritis ada tujuh diagnosa keperawatan yang dapat

muncul pada kasus Diabetes Melitus yaitu: 1) Kekurangan volume cairan

berhubungan dengan diuresis osmotik (dari hiperglikemia), kehilangan gastrik

berlebihan: diare, muntah, masukan dibatasi: mual, kacau mental. 2) Perubahan

nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidak cukupan insulin,

penurunan masukan oral: anoreksia, mual, lambung penuh, nyeri abdomen,

perubahan kesadaran, status hipermetabolisme: pelepasan hormon stres (mis.

66
Epinefrin, kortisol, dan hormon pertumbuhan), proses infeksius, 3) Resiko tinggi

infeksi (sepsis) berhubungan dengan kadar glukosa tinggi, penurunan fungsi

leukosit, perubahan pada sirkulasi, 4) Resiko tinggi perubahan sensori-perseptual

berhubungan dengan perubahan kimia endogen: ketidak seimbangan glukosa /

insulin atau elektrolit, 5) Kelelahan berhubungan dengan penurunan produksi

energi metabolik, perubahan kimia darah: insufisiensi insulin, peningkatan

kebutuhan energi: status hipermetabolik, 6) Ketidakberdayaan berhubungan

dengan penyakit jangka panjang / progresif yang tidak dapat diobati ,

ketergantungan pada orang lain, 7) Kurang pengetahuan berhubungan dengan

kurang pemajanan/mengingat, kesalahan interpretasi informasi, tidak mengenal

sumber informasi. Namun dari diagnosa keperawatan diatas penulis hanya

menemukan 3 diagnosa yang menunjang saat pengkajian yaitu : 1) Perubahan

nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakcukupan insulin,

2) Kelelahan berhubungan dengan penurunan produksi energi metabolik dan 3)

Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang terpajan informasi. Adapun

diagnosa dalam teori yang tidak di angkat yaitu : 1) Kekurangan volume cairan

berhubungan dengan diuresis osmotik (dari hiperglikemia), kehilangan gastrik

berlebihan: diare, muntah, masukan dibatasi: mual, kacau mental, 2) Resiko tinggi

infeksi (sepsis) berhubungan dengan kadar glukosa tinggi, penurunan fungsi

leukosit, perubahan pada sirkulasi, 3) Resiko tinggi perubahan sensori-perseptual

berhubungan dengan perubahan kimia endogen: ketidak seimbangan glukosa /

insulin atau elektrolit, 4) Ketidakberdayaan berhubungan dengan penyakit jangka

panjang / progresif yang tidak dapat diobati , ketergantungan pada orang lain. Hal

ini di karenakan pada saat pengkajian penulis tidak menemukan data-data

penunjang.

67
C. Perencanaan Keperawatan

Rencana keperawatan pada kasus ini disusun dengan menggunakan beberapa

komponen yaitu penentuan prioritas, penentuan tujuan dan kriteria hasil serta

penentuan intervensi keperawatan dan rasionalnya. Dalam penentuan prioritas

masalah, penulis berfokus pada keluhan utama klien dan pengkajian keperawatan,

sehingga penulis mengangkat perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

sebagai prioritas masalah kemudian di ikuti dengan kelelahan dan kurang

pengetahuan. Pada perencanaan keperawatan, terlebih dahulu penulis menyusun

tindakan keperawatan mulai dari tindakan mandiri perawat sampai pada tindakan

kolaborasi. Untuk itu penulis bekerjasama dengan perawat diruangan serta

melibatkan keluarga dan klien dalam melaksanakan asuhan keperawatan.

D. Implementasi Keperawatan

Dalam implementasi tindakan keperawatan, penulis tidak melakukan semua

yang ada pada intervensi keperawatan, ada beberapa yang di kurangi seperti pada

sebagian besar diagnosa keperawatan, hal ini disesuaikan dengan kebutuhan

pasien dan fasilitas yang tersedia. Dengan tujuan untuk memberikan pelayanan

keperawatan yang optimal. Pada pelaksanaan tindakan keperawatan, terlebih

dahulu penulis melaksanakan tindakan mandiri keperawatan selanjutnya tindakan

kolaborasi.

E. Evaluasi Keperawatan

Evaluasi keperawatan pada tinjauan kasus, menggunakan tiga alternatif

penilaian yaitu: masalah teratasi, masalah teratasi sebagian, dan masalah belum

teratasi. Setelah dilakukan intervensi dan implementasi dari ketiga diagnosa

keperawatan yang diangkat, terdapat 1 diagnosa keperawatan yang dapat teratasi

pada hari kedua yaitu kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang terpajan

informasi, dan 2 diagnosa keperawatan yang teratasi pada hari ketiga yaitu

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan

68
ketidakcukupan insulin dan kelelahan berhubungan dengan penurunan produksi

energi metabolik

69