Anda di halaman 1dari 13

IDENTIFIKASI KLORIN PADA TAHU PUTIH YANG

DIPRODUKSI DI KOTA PALANGKA RAYA

Nurul Maysaroh
Mahasiswa DIII Farmasi Universitas Muhammadiyah Palangkaraya
Intisari
Klorin merupakan salah satu bahan kimia berbahaya yang dilarang ditambahkan
pada makanan. Penyalahgunaan klorin dalam pangan sangat memungkinkan.
Klorin sekarang bukan hanya digunakan sebagai bahan pemutih dalam pabrik
pakaian dan kertas saja, tetapi berpotensi disalahgunakan sebagai bahan pemutih
pada makanan. Dan tidak menutup kemungkinan digunakan sebagai bahan
pemutih pada tahu putih agar lebih menarik minat pembeli. Klorin adalah bahan
kimia yang biasanya digunakan sebagai pembunuh kuman. Zat klorin akan
bereaksi dengan air dan membentuk asam hipoklorus yang diketahui dapat
merusak sel-sel dalam tubuh. Di pasaran klorin dapat diperjual belikan dalam
bentuk Kalsium Hipoklorida berupa bubuk pemutih atau yang dikenal pedagang
kimia yaitu kaporit, dalam bahan pemutih.
Tahu adalah makanan yang dibuat dari kacang kedelai yang
difermentasikan dan diambil sarinya. Ditinjau dari segi kesehatan, tahu
merupakan makanan yang menyehatkan dan mengandung zat-zat yang dibutuhkan
untuk menambah gizi masyarakat. Zat-zat tersebut antara lain protein,
karbohidrat, lemak, dan mineral. Kandungan protein tahu cukup tinggi 12,9 gram
untuk setiap 100 gram bahan, tetapi lebih rendah dari pada kandungan protein
tempe. Tahu merupakan makanan yang sangat digemari oleh masyarakat, oleh
karena itu tidak menutup kemungkinan para pedagang berusaha memperoleh
keuntungan dengan cara menambahkan klorin pada tahu putih, sehingga lebih
menarik minat pembeli.
Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui adanya kandungan dan
mengetahui kadar klorin pada tahu putih yang diproduksi di Kota Palangka Raya.
Metode penelitian bersifat eksperimental yaitu untuk mengetahui adanya
kandungan klorin pada tahu putih dengan melakukan pemeriksaan laboratorium
secara kualitatif dan kuantitatif dengan metode reaksi warna dan titrasi iodometri.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa 3 (tiga) dari 4
(empat) sampel tahu putih yang diproduksi oleh Industri Rumah Tangga Pangan
di Kota Palangka Raya teridentifikasi mengandungan klorin dengan kadar klorin
pada sampel B yaitu 0,54%, pada sampel C yaitu 0,40%, dan pada sampel D yaitu
0,47%.
Perlu dilakukannya penelitian lebih lanjut terhadap tahu putih mengenai bahan
kimia berbahaya seperti zat klorin, dengan menggunakan metode lainnya yaitu
metode pengendapan dan spektrofotometri. Serta perlu adanya sosialisasi kepada
Industri Rumah Tangga Pangan yang memproduksi tahu putih tentang bahaya dan
dampak yang ditimbulkan bagi kesehatan yang diakibatkan oleh klorin.

Kata Kunci : Tahu Putih, Klorin, Industri Rumah Tangga, Kota Palangka Raya
PENDAHULUAN tambahan pangan yang ditambahkan
tersebut dilarang atau membahayakan.
A. Latar Belakang Klorin merupakan bahan kimia
Berdasarkan Undang-Undang berbahaya yang dilarang ditambahkan
Republik Indonesia Nomor 36 tahun pada makanan. Penyalahgunaan klorin
2009 tentang Kesehatan menyebutkan dalam pangan sangat memungkinkan.
bahwa Kesehatan adalah keadaan sehat, Klorin sekarang bukan hanya digunakan
baik secara fisik, mental, spiritual sebagai bahan pemutih dalam pabrik
maupun sosial yang memungkinkan pakaian dan kertas saja, tetapi berpotensi
setiap orang untuk hidup produktif secara disalahgunakan sebagai bahan pemutih
sosial dan ekonomis. Kesehatan juga pada makanan, dan tidak menutup
sangat berhubungan erat dengan pangan. kemungkinan digunakan sebagai bahan
Pangan sangat mempengaruhi kesehatan pemutih pada tahu putih agar lebih
seseorang. Manusia membutuhkan menarik minat pembeli. Klorin adalah
pangan sebagai sumber tenaga untuk bahan kimia yang biasanya digunakan
melakukan kegiatan sehari-hari. Oleh sebagai pembunuh kuman. Zat klorin
karena itu, pangan yang dikonsumsi akan bereaksi dengan air dan membentuk
haruslah bergizi, aman, sehat dan tidak asam hipoklorus yang diketahui dapat
menimbulkan gangguan kesehatan. merusak sel-sel dalam tubuh. Di pasaran
Pangan mempunyai peran yang klorin dapat diperjualbelikan dalam
sangat penting dalam kesehatan bentuk Kalsium Hipoklorit berupa bubuk
masyarakat maka dalam pengolahan pemutih atau yang dikenal pedagang
bahan pangan perlu dihindarkan kimia yaitu kaporit, dalam bahan
penggunaan bahan tambahan pangan pemutih. Dalam bentuk lain ada Sodium
yang dapat merugikan atau Hipoklorit merupakan cairan berwarna
membahayakan konsumen (Cahyadi, sedikit kekuningan, beraroma khas dan
2012). Akan tetapi, tidak jarang produsen menyengat. Sodium Hipoklorit mudah
menggunakan bahan tambahan pangan larut dalam air dengan derajat kelarutan
dengan tujuan memperpanjang masa mencapai 100% dan sedikit lebih berat
simpan atau memperbaiki tekstur, cita dibandingkan dengan berat jenis air serta
rasa dan warna. bersifat sedikit basa. Klorin selain
Bahan Tambahan Pangan adalah berdampak pada kesehatan juga
bahan yang ditambahkan ke dalam berdampak pada lingkungan, baik itu air,
makanan dan minuman untuk udara dan komunitas yang ada di
mempengaruhi sifat ataupun bentuk dari lingkungan tersebut. Adapun beberapa
makanan dan minuman. Bahan dampak yang disebabkan oleh
Tambahan Makanan itu bisa memiliki penggunaan klorin ini adalah dampak
nilai gizi, tetapi bisa pula tidak (Nurheti, jangka panjang dan jangka pendek.
2007). Dampak jangka pendek klorin yang
Perkembangan teknologi terdapat pada tahu putih akan menggerus
pengolahan pangan sekarang ini sangat lambung (korosif). Akibatnya lambung
berkembang pesat. Seiring dengan rawan terhadap penyakit maag. Dampak
berkembangnya teknologi pengolahan jangka panjang akan muncul 15 hingga
pangan, makanan tidak hanya bermanfaat 20 tahun mendatang. Khususnya apabila
bagi tubuh tetapi banyak juga yang dikonsumsi secara terus-menerus. Dalam
menimbulkan efek negatif bagi manusia, jangka panjang, mengkonsumsi tahu
seperti penyakit-penyakit yang putih yang mengandung klorin akan
ditimbulkan akibat mengkonsumsi mengakibatkan penyakit kanker hati dan
makanan yang mengandung klorin. ginjal (Sinuhaji, 2009).
Penambahan Bahan Tambahan Makanan Kasus penyakit karena makanan
ke dalam makanan semakin beragam dapat terjadi dari produk hasil industri
tanpa memperhatikan apakah bahan pangan besar, menengah ataupun kecil,
industri katering, restoran, hotel atau Tahu Putih yang Diproduksi di Kota
industri makanan jajanan dan rumah Palangka Raya”.
tangga. Berdasarkan hasil penelitian
Dosen Fakultas Pertanian Universitas Dr. B. Identifikasi Masalah
Soetomo Surabaya, Restu Tjiptaningdyah Berdasarkan latar belakang di atas,
(Ahli Bidang Teknologi Pangan dan Gizi) maka identifikasi masalah dalam
memastikan kandungan klorin pada beras penelitian ini adalah:
yang banyak beredar di pasaran. Dari 16 1. Penambahan Bahan Tambahan
sampel beras yang diuji terdapat 10 Makanan ke dalam makanan
sampel mengandung klorin semakin beragam tanpa
(Gandapurnama dalam Tilawati, 2015). memperhatikan apakah bahan
Tahu adalah makanan yang dibuat tambahan pangan yang ditambahkan
dari kacang kedelai yang difermentasikan dilarang atau dapat membahayakan
dan diambil sarinya. Ditinjau dari segi kesehatan.
kesehatan, tahu merupakan makanan 2. Klorin sekarang bukan hanya
yang menyehatkan dan mengandung zat- digunakan sebagai bahan pemutih
zat yang dibutuhkan untuk menambah dalam pabrik pakaian dan kertas saja,
gizi masyarakat. Zat-zat tersebut antara tetapi berpotensi disalahgunakan
lain protein, karbohidrat, lemak, dan sebagai bahan pemutih pada
mineral. Kandungan protein tahu cukup makanan.
tinggi 12,9 gram untuk setiap 100 gram 3. Dampak jangka panjang dari zat
bahan, tetapi lebih rendah daripada klorin untuk kesehatan akan muncul
kandungan protein tempe. Tahu 15 hingga 20 tahun mendatang,
merupakan makanan yang sangat khususnya apabila dikonsumsi secara
digemari oleh masyarakat, oleh karena itu terus-menerus.
tidak menutup kemungkinan para 4. Penyakit yang ditimbulkan karena
pedagang berusaha memperoleh makanan dapat terjadi dari produk
keuntungan dengan cara menambahkan hasil industri pangan besar,
klorin pada tahu putih, sehingga lebih menengah maupun kecil.
menarik minat pembeli (Joe, 2011).
Berdasarkan penelitian yang C. Batasan Masalah
dilakukan sebelumnya oleh Novia Berdasarkan judul yang ada,
Amanda (2016) tentang identifikasi peneliti hanya membatasi:
klorin pada tahu yang dijual di Pasar 1. Sampel yang digunakan yaitu hanya
Kahayan Kota Palangka Raya, dari 10 tahu yang berwarna putih yang
sampel yang digunakan menunjukkan diproduksi oleh 4 (empat) Industri
bahwa 3 sampel positif mengandung zat Rumah Tangga Pangan di
klorin. Berdasarkan kasus tahu yang Kecamatan Jekan Raya dan
positif klorin di Pasar Kahayan Kota Kecamatan Pahandut Kota Palangka
Palangka Raya tidak menutup Raya.
kemungkinan bahwa bahan kimia 2. Populasi dan sampel yang digunakan
berbahaya klorin telah ditambahkan pada adalah tahu putih yang diproduksi di
saat tahu belum diedarkan dari tempat Kecamatan Jekan Raya dan
yang memproduksi tahu tersebut, dan Kecamatan Pahandut Kota Palangka
penelitian mengenai tahu putih yang Raya.
diproduksi di Kota Palangka Raya belum 3. Jenis pemutih yang diteliti yaitu
pernah dilakukan. Dari hasil observasi klorin pada sampel tahu putih yang
yang dilakukan terhadap tahu putih dan diproduksi di Kecamatan Jekan Raya
berdasarkan latar belakang diatas peneliti dan Kecamatan Pahandut Kota
tertarik untuk melakukan penelitian Palangka Raya.
dengan judul “Identifikasi Klorin pada 4. Metode analisis yang digunakan
dalam penelitian ini adalah
menggunakan metode uji reaksi Tambahan Pangan menjelaskan
warna dan metode Iodometri. bahwa Bahan Tambahan Pangan
yang selanjutnya disingkat BTP
D. Rumusan Masalah adalah, bahan yang ditambahkan ke
Berdasarkan latar belakang di atas, dalam pangan untuk mempengaruhi
maka dapat dirumuskan permasalahan sifat atau bentuk pangan, tidak untuk
dalam penelitian ini adalah: dikonsumsi langsung dan atau tidak
1. Apakah tahu putih yang diproduksi diperlakukan sebagai bahan utama
di Kota Palangka Raya mengandung dan biasanya bukan merupakan
klorin? komponen khas makanan, dapat
2. Berapakah kadar kandungan klorin mempunyai atau tidak mempunyai
yang ada di dalam sampel tahu putih nilai gizi, yang dengan sengaja
yang diproduksi di Kota Palangka ditambahkan ke dalam makanan
Raya? untuk teknologi pada pembuatan,
E. Tujuan Penelitian pengolahan, penyiapan, perlakuan,
Tujuan dalam penelitian ini adalah pengepakan, pengemasan dan
1. Untuk mengidentifikasi adanya penyimpanan.
kandungan klorin pada tahu putih B. Bahan Kimia Berbahaya
yang diproduksi di Kota Palangka Menurut Peraturan Menteri Pertanian No.
Raya. 32 Tahun 2007 Tentang Pelarangan
2. Untuk mengetahui kadar klorin yang Penggunaan Bahan Kimia Berbahaya
terkandung pada tahu putih yang pada Proses Penggilingan Padi, Huller
hasilnya positif yang diproduksi di dan Penyosohan Beras, bahan kimia
Kota Palangka Raya. berbahaya adalah bahan kimia dalam
bentuk tunggal dan/atau campuran yang
F. Manfaat Penelitian dapat membahayakan kesehatan manusia.
Adapun manfaat dari penelitian ini Menurut Peraturan Menteri Pertanian No.
antara lain: 32 Tahun 2007 Tentang Pelarangan
1. Bagi peneliti, untuk menambah Penggunaan Bahan Kimia Berbahaya
wawasan dan ilmu pengetahuan. pada Proses Penggilingan Padi, Huller
2. Bagi pembaca, sebagai bahan dan Penyosohan Beras, salah satu contoh
informasi dan pengetahuan bahan kimia berbahaya yang dilarang
khususnya yang berhubungan dengan digunakan sebagai bahan tambahan
penggunaan klorin dalam makanan. pangan yaitu klorin dan senyawanya.
3. Bagi produsen dan pedagang, untuk C. Pemutih yang Diperbolehkan
memberikan informasi tentang Pemutih yang diperbolehkan yaitu
bahaya makanan yang mengandung bahan-bahan tambahan pangan yang
zat pemutih klorin. tergolong ke dalam pemutih dan
pematang tepung umumnya adalah
TUJUAN PUSTAKA senyawa organik dan garam-garam
A. Bahan Tambahan Pangan organik. Beberapa persenyawaan tersebut
Bahan Tambahan Pangan adalah asam askorbat, kalsium steroil-2-
adalah bahan yang ditambahkan ke laktilat, natrium steroil fumarat, natrium-
dalam makanan dan minuman untuk 2-laktilat, dan L-sistein (Cahyadi, 2012).
mempengaruhi sifat atau pun bentuk D. Klorin
dari makanan dan minuman. Bahan Klorin adalah bahan kimia yang biasanya
Tambahan Makanan itu bisa digunakan sebagai pembunuh kuman.
memiliki gizi, tetapi bisa pula tidak Menurut Peraturan Menteri Kesehatan
(Nurheti, 2007). Republik Indonesia No.
Peraturan Menteri Kesehatan 033/Menkes/Per/IX/2012, bahwa klorin
Republik Indonesia Nomor 033 tidak tercatat sebagai Bahan Tambahan
Tahun 2012 Tentang Bahan Pangan dalam kelompok pemutih dan
pematang tepung yang diperbolehkan. mengkonsumsi tahu putih yang
Tetapi klorin merupakan bahan kimia mengandung klorin akan
berbahaya yang tidak termasuk ke dalam mengakibatkan penyakit kanker hati
bahan tambahan pangan maka dari itu dan ginjal (Sinuhaji, 2009).
klorin sama sekali tidak diperbolehkan E. Tahu
ditambahkan ke dalam makanan Tahu adalah makanan yang dibuat dari
dikarenakan klorin adalah salah satu dari kacang kedelai yang difermentasikan dan
bahan kimia berbahaya. Menurut diambil sarinya. Ditinjau dari segi
Peraturan Menteri Pertanian No. 32 kesehatan, tahu merupakan makanan
Tahun 2007 Tentang Pelarangan yang menyehatkan dan mengandung zat-
Penggunaan Bahan Kimia Berbahaya zat yang dibutuhkan untuk menambah
pada Proses Penggilingan Padi, Huller gizi masyarakat. Zat-zat tersebut antara
dan Penyosohan Beras, zat klorin akan lain protein, karbohidrat, lemak, dan
bereaksi dengan air membentuk asam mineral. Kandungan protein tahu cukup
hipoklorus yang diketahui dapat merusak tinggi 12,9 gram untuk setiap 100 gram
sel-sel dalam tubuh. Klorin berwujud gas bahan, tetapi lebih rendah dari pada
berwarna kekuningan dengan bau cukup kandungan protein tempe. Selain itu asal
menyengat. Zat klorin yang ada dalam usul tahu juga berbeda dengan tempe
makanan akan menggerus lambung yang asli dari Indonesia, tahu berasal dari
(korosif) sehingga rentan terhadap Cina, seperti halnya kecap, tauco,
penyakit maag. Jangka panjang bakpau, dan bakso. Tahu adalah kata
mengkonsumsi makanan yang serapan dari bahasa Hokkian (tauhu)
mengandung klorin akan mengakibatkan yang secara harfiah berarti “kedelai yang
penyakit kanker hati dan ginjal difermentasi” (Joe, 2011).
(Adiwisastra dalam Sinuhaji, 2009). 1. Ciri-ciri Tahu yang Baik
Klorin sangat penting Adapun ciri-ciri tahu yang
digunakan sebagai bahan pemutih baik adalah sebagai berikut
dalam pabrik kertas dan pakaian. (Rahayu, 2011):
Klorin juga digunakan sebagai bahan a. Beraroma kunyit bila
kimia pereaksi dalam pabrik logam berwarna kuning,
klorida, bahan pelarut korinasi, b. Berwarna putih bila tahu
pestisida, polimer, karet sintetis dan berwarna putih,
refrigetan. Sodium hipoklorit yang c. Tekstur agak lunak, dan
merupakan komponen/produk d. Tidak beraroma menyengat.
pemutih yang diperdagangkan, 2. Ciri-ciri Tahu yang
larutan pembersih, dan desinfektan Mengandung Klorin
untuk air minum dan sistem Adapun ciri-ciri tahu putih
penyaringan air buangan/limbah dan yang mengandung klorin adalah
kolam renang (Adeansyah, 2014). sebagai berikut (Amanda, 2016):
Adapun beberapa dampak Warna : terlihat lebih putih dan
yang disebabkan oleh penggunaan bersih,
klorin ini adalah dampak jangka Rasa : khas tahu,
panjang dan jangka pendek. Dampak Bau : tercium bau bahan kimia.
jangka pendek klorin yang terdapat F. Industri Rumah Tangga Pangan
pada tahu putih akan menggerus Menurut Peraturan Kepala Badan
lambung (korosif). Akibatnya Pengawas Obat dan Makanan Republik
lambung rawan terhadap penyakit Indonesia No. HK.03.1.23.04.12.2205
maag. Dampak jangka panjang akan Tahun 2012 Tentang Pedoman
muncul 15 hingga 20 tahun Pemberian Sertifikat Produksi Pangan
mendatang. Khususnya apabila Industri Rumah Tangga, yang dimaksud
dikonsumsi secara terus-menerus. industri rumah tangga pangan yang
Dalam jangka panjang, selanjutnya disebut (IRTP) adalah
perusahaan pangan yang memiliki tempat METODOLOGI PENELITIAN
usaha di tempat tinggal dengan peralatan
pengolahan pangan manual hingga semi A. Tempat dan Waktu Penelitian
otomatis. Produksi pangan adalah Penelitian dilakukan di Laboratorium
kegiatan atau proses menghasilkan, Kimia Fakultas Ilmu Kesehatan
menyiapkan, mengolah, membuat, Universitas Muhammadiyah
mengawetkan, mengemas, mengemas Palangkaraya. Waktu penelitian dimulai
kembali, dan/atau mengubah bentuk dari bulan Mei 2016 sampai Januari
pangan. 2017.
G. Reaksi Warna B. Metode Penelitian
Reaksi warna termasuk dalam Metode yang digunakan dalam
analisis kualitatif, analisis ini bertujuan penelitian yaitu eksperimen atau
untuk mengetahui keberadaan suatu percobaan (experiment reaserch) dengan
unsur atau senyawa kimia. Analisis pendekatan laboratorium yang akan
kualitatif bertujuan untuk mengetahui ada dilakukan dengan serangkaian percobaan.
tidaknya zat tertentu dalam sampel yang Penelitian eksperimen atau percobaan
diuji (Sahirman, 2013). adalah kegiatan yang bertujuan untuk
Reaksi warna terjadi akibat mengetahui suatu gejala atau pengaruh
adanya suatu reaksi kimia. Reaksi kimia yang timbul, sebagai akibat dari adanya
merupakan salah satu cara untuk suatu perlakuan tertentu. Ciri khusus dari
mengetahui sifat-sifat kimia dari satu atau penelitian eksperimen adalah adanya
berbagai jenis zat. Sifat-sifat kimia percobaan atau trial (Notoadmojo, 2010).
kemudian dicatat sebagai data kuantitatif.
Biasanya suatu reaksi kimia disertai oleh C. Populasi dan Sampel
kejadian-kejadian fisis, seperti perubahan 1. Populasi
warna (Sahirman, 2013). Populasi adalah keseluruhan
objek penelitian atau objek yang
H. Titrasi Iodometri (Titrasi Tidak diteliti (Notoatmodjo, 2010).
Langsung) Populasi yang digunakan dalam
Iodometri merupakan titrasi tidak penelitian ini adalah tahu putih yang
langsung dan digunakan untuk diproduksi oleh 2 (dua) Industri
menetapkan senyawa-senyawa yang Rumah Tangga Pangan di
mempunyai potensial oksidasi yang lebih Kecamatan Pahandut dan 2 (dua)
besar daripada sistem iodium-iodida atau Industri Rumah Tangga Pangan di
senyawa-senyawa yang bersifat Kecamatan Jekan Raya Kota
oksidator. Sampel yang bersifat oksidator Palangka Raya.
pada iodometri direduksi dengan kalium
iodida berlebihan dan akan menghasilkan 2. Sampel
iodium yang selanjutnya dititrasi dengan Sampel adalah sebagian yang
larutan baku natrium tiosulfat. Banyak diambil dari keseluruhan objek yang
volume natrium tiosulfat yang digunakan diteliti dan dianggap mewakili
sebagai titran setara dengan iodium yang seluruh populasi (Notoatmodjo,
dihasilkan dan setara dengan banyaknya 2010). Jumlah sampel dalam
sampel (Gandjar dkk, 2007). penelitian ini mengambil dari
Klorin akan mengoksidasi iodida populasi. Sampel yang digunakan
untuk menghasilkan iodium. Reaksi yang dalam penelitian ini adalah tahu
terjadi adalah sebagai berikut: putih yang terdiri dari 2 (dua) sampel
Cl2 + 2I- 2Cl- + I2 tahu putih yang diproduksi oleh 2
Selanjutnya iodium yang (dua) Industri Rumah Tangga
dibebaskan dititrasi dengan larutan baku Pangan di Kecamatan Pahandut dan
natrium tiosulfat menurut reaksi: 2 (dua) sampel tahu putih yang
2S2O32- + I2 S4O62- + 2I diproduksi oleh 2 (dua) Industri
Rumah Tangga Pangan di 2) Menambahkan larutan KI
Kecamatan Jekan Raya Kota 10% sebanyak 3 tetes dan
Palangka Raya. larutan Amilum 1%
sebanyak 3 tetes.
D. Teknik Pengambilan Sampel 3) Sampel positif klorin akan
Teknik pengambilan sampel yang berubah warna menjadi
digunakan dalam penelitian ini dengan warna biru keunguan
cara sampling jenuh yaitu mengambil (Damayanti, 2016).
semua sampel yang tersedia. Sampel b. Blangko
diperoleh dari 2 (dua) Industri Rumah 1) Memipet Aquadest
Tangga Pangan di Kecamatan Pahandut sebanyak 2 mL,
dan 2 (dua) Industri Rumah Tangga memindahkan ke dalam
Pangan di Kecamatan Jekan Raya Kota tabung reaksi.
Palangka Raya. Dan identifikasi klorin 2) Menambahkan larutan KI
pada tahu putih dilakukan di 10% sebanyak 3 tetes dan
Laboratorium Kimia Fakultas Ilmu larutan Amilum 1%
Kesehatan Universitas Muhammadiyah sebanyak 3 tetes.
Palangkaraya. 3) Sampel negatif klorin tidak
E. Prosedur Pemeriksaan Laboratorium terjadi perubahan warna,
1. Standarisasi Larutan Natrium warna tetap bening
Tiosulfat dengan Kalium Iodat (Wongkar, 2014).
a. Menimbang KIO3 sebanyak 0,15 c. Sampel
g, memasukan ke dalam 1) Menghaluskan sampel tahu
erlenmeyer 250 mL. putih dengan menggunakan
b. Melarutkan dengan 25 mL mortir.
Aquadest yang telah dididihkan. 2) Menimbang sampel tahu
c. Menambah 2 g KI dan 5 mL putih sebanyak 10 g,
H2SO4 1 M. masukan ke dalam gelas
d. Menitrasi dengan Larutan beker 100 mL.
Na2S2O3 0,1 N sampai kuning 3) Menambahkan 50 mL
pucat. Aquadest kemudian
e. Mengencerkan menjadi 200 mL mengaduk hingga merata.
dengan Aquadest. 4) Menyaring filtrat tahu putih
f. Menambahkan 2 mL Larutan ke dalam erlenmeyer dengan
Amilum. menggunakan kertas saring.
a. Menitrasi kembali dengan 5) Memipet filtrat tahu putih
Larutan Na2S2O3 0,1 N sampai sebanyak 2 mL, memindah
warna berubah menjadi bening ke dalam tabung reaksi.
(Damayanti, 2016). 6) Menambahkan larutan KI
g. Menghitung normalitas Na2S2O3 10% sebanyak 3 tetes dan
dengan rumus: larutan Amilum 1%
sebanyak 3 tetes.
V1×N1=V2×N2 7) Apabila sampel positif klorin
maka terjadi perubahan
2. Cara Kerja Pemeriksaan Klorin warna menjadi warna biru
Secara Kualitatif keunguan, sedangkan apabila
a. Baku Pembanding sampel negatif klorin maka
1) Memipet larutan Ca(OCl)2 tidak terjadi perubahan
sebanyak 2 mL, warna, warna tetap bening
memindahkan ke dalam (Wongkar, 2014).
tabung reaksi.
3. Cara Kerja Pemeriksaan Klorin 4) Menyaring filtrat tahu putih
secara Kuantitatif ke dalam erlenmeyer
a. Baku pembanding dengan menggunakan kertas
1) Memipet larutan Ca(OCl)2 saring.
sebanyak 50 mL, masukan 5) Memipet filtrat tahu putih
ke dalam erlenmeyer 250 sebanyak 50 mL, masukan
mL. dalam erlenmeyer.
2) Menambahkan 2 g KI dan 6) Menambahkan 2 g KI dan
10 mL CH3COOH. 10 mL CH3COOH.
3) Menitrasi dengan larutan 7) Menitrasi dengan larutan
Na2S2O3 0,1 N sampai Na2S2O3 0,1 N sampai
berwarna kuning pucat. berwarna kuning pucat.
4) Menambahkan 1 mL 8) Menambahkan 1 mL
Amilum. Amilum.
5) Menitrasi dilanjutkan 9) Menitrasi dilanjutkan
sampai warna bening sampai warna bening
(Wongkar, 2014). (Wongkar, 2014).
b. Blanko Rumus:
1) Mengambil 50 mL 𝑉. 𝑁 . 𝐵𝑀 𝐶𝑙 35,46
Aquadest, masukan ke Kadar Klorin = B mg
x 100 %
dalam erlenmeyer 250 mL.
2) Menambahkan 2 g KI dan
10 mL CH3COOH. Keterangan: V =
3) Menitrasi dengan larutan Volume Na2S2O3 yang
Na2S2O3 0,1 N sampai digunakan
berwarna kuning pucat. N =
4) Menambahkan 1 mL Normalitas
Amilum. larutan
5) Menitrasi dilanjutkan Na2S2O3 yang
sampai warna bening dipakai
(Wongkar, 2014). B = Berat
c. Sampel sampel (mg)
1) Menghaluskan sampel tahu
putih dengan menggunakan HASIL PENELITIAN
mortir. Hasil penelitian analisis klorin
2) Menimbang sampel tahu pada tahu putih yang diproduksi di Kota
putih sebanyak 10 g, Palangka Raya, meliputi:
memasukan ke dalam gelas
beker 100 mL.
3) Menambahkan 50 mL
Aquadest kemudian
mengaduk hingga merata.
Tabel 2. Hasil Analisis Klorin pada Tahu Putih yang Diproduksi di Kota Palangka Raya
Secara Kualitatif Menggunakan Metode Reaksi Warna
Pengulangan Analisis Kualitatif
No Perlakuan Keterangan
I II III
1 Baku Pembanding Biru Keunguan Biru Keunguan Biru Keunguan Positif
2 Blangko Bening Bening Bening Negatif
3 Sampel A Bening Bening Bening Negatif
4 Sampel B Biru Keunguan Biru Keunguan Biru Keunguan Positif
5 Sampel C Biru Keunguan Biru Keunguan Biru Keunguan Positif
6 Sampel D Biru Keunguan Biru Keunguan Biru Keunguan Positif
Table 3. Hasil Analisis Klorin pada Tahu Putih yang Diproduksi di Kota Palangka Raya
Secara Kuantitatif Menggunakan Metode Iodometri
Pengulangan Analisis Kuantitatif Kadar Klorin
No Perlakuan
I II III (%)
1 Baku Pembanding Bening Bening Bening 47,78
2 Blangko Putih Keruh Putih Keruh Putih Keruh 0
3 Sampel A Putih Keruh Putih Keruh Putih Keruh 0
4 Sampel B Bening Bening Bening 0,54
5 Sampel C Bening Bening Bening 0,40
6 Sampel D Bening Bening Bening 0,47

Kahayan, rumah-rumah makan dan


PEMBAHASAN melayani produsen yang melakukan
Penelitian ini merupakan pembelian langsung di tempat produksi.
penelitian eksperimental yang bertujuan Menurut Peraturan Menteri
untuk menganalisis klorin pada tahu putih Kesehatan Republik Indonesia No.
yang diproduksi di Kota Palangka Raya 033/Menkes/Per/IX/2012, bahwa klorin
yang dilakukan menggunakan metode tidak tercatat sebagai bahan tambahan
reaksi warna dan titrasi iodometri. pangan dalam kelompok pemutih dan
Penggunaan klorin pada tahu putih pematang tepung yang diperbolehkan,
bertujuan untuk menarik minat konsumen tetapi klorin merupakan bahan kimia
dari segi warna yang membuat tahu putih berbahaya yang tidak termasuk ke dalam
menjadi lebih putih. bahan tambahan pangan, maka dari itu
Berdasarkan penelitian Novia klorin sama sekali tidak diperbolehkan
Amanda (2016) tentang identifikasi ditambahkan ke dalam makanan
klorin pada tahu putih yang dijual di dikarenakan klorin adalah salah satu dari
Pasar Kahayan Kota Palangka Raya, dari bahan kimia berbahaya Menurut
10 sampel yang digunakan menunjukkan Peraturan Menteri Pertanian No. 32
bahwa 3 sampel positif mengandung zat Tahun 2007 Tentang Pelarangan
klorin. Namun penelitian mengenai tahu Penggunaan Bahan Kimia Berbahaya
putih yang diproduksi di Kota Palangka pada Proses Penggilingan Padi, Huller
Raya belum pernah dilakukan. Menurut dan Penyosohan Beras.
kasus tahu yang positif mengandung Pengujian menggunakan metode
klorin di Pasar Kahayan Kota Palangka uji reaksi warna dengan tujuan untuk
Raya tidak menutup kemungkinan bahwa mengetahui zat klorin pada sampel tahu
klorin telah ditambahkan pada saat tahu sedangkan untuk uji kuantitatif dapat
belum diedarkan dari tempat yang menggunakan metode iodometri dengan
memproduksi tahu tersebut. tujuan untuk mengetahui kadar klorin.
Sampel dalam penelitian ini yaitu Pada identifikasi klorin pada tahu putih
tahu putih yang diambil dari 4 Industri pemeriksaan dilakukan tiga kali (triplo)
Rumah Tangga Pangan yang berlokasi di dikarenakan pada saat penelitian dapat
Jalan Rajawali IX, Rajawali VIII, Jalan terjadi kesalahan pada pengujian pertama
Meranti Gang Istiqomah dan Jalan dan kedua serta diperlukan ketetapan dan
Meranti. Pengambilan sampel dari 4 kecermatan dalam hasil uji yang
Industri Rumah Tangga Pangan berikut, dilakukan.
dianggap mewakili tahu putih yang Sampel dianalisis kualitatif
beredar di pasaran, karena menurut terlebih dahulu menggunakan reaksi
observasi yang telah peneliti lakukan tahu warna. Tahu putih dianalisis secara
yang dihasilkan dari 4 Industri Rumah kualitatif dengan menggunakan metode
Tangga Pangan tersebut diedarkan ke reaksi warna agar diketahui bahwa tahu
Pasar Besar, Pasar Rajawali, Pasar putih tersebut mengandung zat klorin
atau tidak (Ulfa, 2015). Analisis klorin Iodometri merupakan salah satu
yang dilakukan pada baku pembanding metode analisis kuantitatif volumetri
menghasilkan warna biru keunguan, secara oksidimetri dan reduksimetri
sedangkan pada sampel tahu putih B, C melalui proses titrasi. Titrasi oksidimetri
dan D menghasilkan warna yang sama adalah titrasi terhadap larutan zat
seperti halnya baku pembanding. Tetapi pereduksi (reduktor) dengan larutan
pada sampel tahu putih A menghasilkan standar zat pengoksidasi (oksidator).
warna yang berbeda dengan baku Titrasi reduksimetri adalah titrasi
pembanding melainkan sama dengan terhadap larutan zat pengoksidasi
blanko yaitu bening. (oksidator) dengan larutan standar zat
Sampel yang diberi Kalium Iodida pereduksi (reduktor). Reaksi ini oksidator
(KI) dan amilum akan menghasilkan akan direduksi dan reduktor akan
warna biru keunguan apabila dioksidasi sehingga terjadilah suatu
mengandung klorin, dan tidak mengalami reaksi sempurna (Damayanti, 2016).
perubahan warna jika tidak mengandung Selanjutnya dilakukan penetapan
klorin. Kalium iodida lebih peka terhadap kadar pada masing-masing sampel
klorin dengan kadar yang tinggi, oleh dengan metode iodometri atau titrasi
karena itu masih perlu dilakukan tidak langsung. Prinsip dari metode ini
identifikasi lanjutan dengan adalah sifat oksidator kuat pada klorin
menggunakan uji metode titrasi akan direduksi dengan kalium iodida
iodometri. Analisis klorin menggunakan berlebih dan akan menghasilkan iodium.
metode reaksi warna yang telah Reaksi yang terjadi adalah (Ulfa, 2015):
dilakukan sudah sesuai dengan penelitian Cl2 + 2I-  2Cl- + I2
(Wongkar, 2014). Iodium yang dihasilkan
Untuk mengidentifikasi dan selanjutnya dititrasi dengan larutan baku
penetapan kadar klorin pada tahu putih natrium tiosulfat (Na2S2O3), banyaknya
lebih lanjut dapat dilakukan pengujian volume tiosulfat yang digunakan sebagai
menggunakan secara analisis kuantitatif titran berbanding lurus dengan iod yang
dengan metode volumetri yaitu titrasi dihasilkan. Dengan reaksi sebagai berikut
menggunakan metode iodometri. Pada (Ulfa, 2015):
metode ini klorin yang bersifat oksidator I2 + 2S2O32-  S4O62- + 2I-
akan ditetapkan kadarnya, direaksikan Titrasi larutan dilakukan dalam
dengan ion iodida berlebih sehingga suasana asam dengan penambahan asam
iodium dibebaskan, baru kemudian asetat. Fungsi penambahan asam asetat
iodium yang dibebaskan ini dititrasi adalah supaya iodium bereaksi dengan
dengan larutan baku sekunder natrium hidroksida dari asam asetat dan akan
tiosulfat (Na2S2O3) dengan menggunakan menjadi ion iodida (Ulfa, 2015).
indikator amilum (Ulfa, 2015). Pada titrasi iodometri
Standarisasi larutan merupakan menggunakan amilum sebagai indikator
proses saat konsentrasi larutan standar yang berfungsi untuk menunjukkan titik
sekunder ditentukan dengan tepat dengan akhir titrasi yang ditandai dengan
cara mentitrasi dengan larutan standar perubahan warna dari biru menjadi tidak
primer. Titran atau titer adalah larutan berwarna. Larutan indikator amilum
yang digunakan untuk mentitrasi ditambahkan pada saat akan menjelang
(biasanya sudah diketahui secara pasti titik akhir dititrasi, karena jika indikator
konsentrasinya). Dalam proses titrasi amilum ditambahkan di awal akan
suatu zat berfungsi sebagai titran dan membentuk iod-amilum memiliki warna
yang lain sebagai titrat. Titrat adalah biru kompleks yang sulit dititrasi oleh
larutan yang dititrasi untuk diketahui natrium tiosulfat (Ulfa, 2015).
konsentrasi komponen tertentu Oksidator lemah yang
(Padmaningrum, 2008). digunakan dalam penelitian ini yaitu
iodium (I2) hasil dari penguraian
reaksi redoks kalium iodida (KI), (2I-) dan dihasilkan warna menjadi
penambahan suasana asam dengan kuning jerami setelah dititrasi oleh titran:
asam asetat (CH3COOH), larutan Cl2 + 2I-  2Cl- + I2
titran yaitu natrium tiosulfat (kuning jerami)
(Na2S2O3) dengan indikator yang Kadar klorin yang diperoleh dari
digunakan yaitu amilum 1%. metode titrasi iodometri pada baku
Analisis klorin menggunakan pembanding adalah 47,78%. Kadar klorin
metode titrasi iodometri, dapat dilihat yang diperoleh dari metode titrasi
bahwa banyak volume Na2S2O3 yang iodometri pada sampel B adalah 0,54%.
digunakan pada baku pembanding Kadar klorin yang diperoleh dari metode
sebanyak 70,2 mL sehingga terjadi titrasi iodometri pada sampel C adalah
perubahan warna menjadi bening. 0,40%. Dan kadar klorin yang diperoleh
Sedangkan pada blanko setelah dilakukan dari metode titrasi iodometri pada sampel
tahapan perlakuan atau titrasi yang sama D adalah 0,47%.
tidak mengindikasikan perubahan warna
seperti halnya baku pembanding, KESIMPULAN DAN SARAN
meskipun volume Na2S2O3 telah
mencapai 70,2 mL tetapi blanko tidak A. Kesimpulan
terjadi perubahan warna yang sesuai Berdasarkan hasil penelitian yang
dengan baku pembanding melainkan telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa
menghasilkan warna putih keruh tahu putih yang diproduksi di Kecamatan
sehingga titrasi dihentikan pada batas Jekan Raya dan Kecamatan Panarung
volume titrasi 70,2 mL. Hal ini juga Kota Palangka Raya yang diidentifikasi
terjadi pada sampel tahu putih A1, A2 dengan metode reaksi warna dan titrasi
dan A3 dimana tidak mengindikasikan iodometri dari 4 sampel yang digunakan
perubahan warna yang sesuai dengan terdeteksi 3 sampel yang mengandung
baku melainkan menghasilkan warna klorin yaitu pada sampel B, C dan sampel
putih keruh. D sedangkan 1 sampel yang tidak
Pada sampel tahu putih B1, B2 terdeteksi mengandung klorin yaitu pada
dan B3 banyak volume Na2S2O3 yang sampel A, dan kadar klorin yang
telah digunakan berturut-turut sebanyak diperoleh dari identifikasi menggunakan
15,5 mL, 15,6 mL dan 15,7 mL sehingga metode titrasi iodometri pada sampel B
terjadi perubahan warna menjadi bening. kadar yang diperoleh 0,54%, pada sampel
Pada sampel tahu putih C1, C2 dan C3 C kadar yang diperoleh 0,40% dan pada
banyak volume Na2S2O3 yang telah sampel D kadar yang diperoleh 0,47%.
digunakan berturut-turut sebanyak 11,5
mL, 11,3 mL dan 11,7 mL sehingga B. Saran
terjadi perubahan warna menjadi bening. Berdasarkan kesimpulan di atas
Sedangkan pada sampel tahu putih D1, maka dapat disarankan:
D2 dan D3 banyak volume Na2S2O3 yang 1. Untuk melakukan penelitian analisis
telah digunakan berturut-turut sebanyak klorin yang terdapat pada tahu putih
13,5 mL, 13,6 mL dan 13,2 mL sehingga dapat dilakukan dengan metode
terjadi perubahan warna menjadi bening. lainnya yaitu metode pengendapan
Adanya indikasi perubahan warna dan metode spektrofotometri.
menunjukan bahwa pada baku 2. Untuk produsen yang memproduksi
pembanding dan 3 (tiga) sampel yaitu tahu putih diharapkan tidak
sampel B, sampel C dan sampel D menambahkan bahan kimia
terbukti adanya mengandung klorin. Hal berbahaya pada pangan seperti
ini diketahui berdasarkan reaksi kimia klorin, yang dapat membahayakan
yang berlangsung di dalam larutan, yaitu bagi kesehatan, akan tetapi
apabila sampel mengandung klorin, maka disarankan menggunakan bahan
klorin akan bereaksi dengan ion iodida
tambahan pangan, pemutih yang Republik Indonesia No. 7 Tahun 2013.
diizinkan. Tentang Batas Maksimum
3. Perlu adanya sosialisasi kepada Penggunaan Bahan Tambahan
industri rumah tangga pangan yang Pangan Perlakuan Tepung. Jakarta.
memproduksi tahu putih tentang
bahaya dan dampak yang Cahyadi, W. 2012. Analisis & Aspek
ditimbulkan bagi kesehatan yang Kesehatan Bahan Tambahan Pangan.
diakibatkan oleh klorin. Jakarta: Bumi Askara.

DAFTAR PUSTAKA Damayanti, E. 2016. ”Identifikasi Zat Klorin


Adeansyah, K. 2014. “Identifikasi Zat Klorin Pada Kolang-Kaling di Pasar Besar
Pada Beras Putih di Pasar Kahayan Kota Palangka Raya”. Palangka
Kota Palangka Raya”. Palangka Raya: Karya Tulis Ilmiah Universitas
Raya: Karya Tulis Ilmiah Universitas Muhammadiyah Palangkaraya.
Muhammadiyah Palangkaraya.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Adiwisastra, A. 1989. “Sumber, Bahan Serta 2009. Undang-Undang Republik
Penanggulangan Keracunan”. Dalam Indonesia Nomor 36 Tahun 2009
Sinuhaji. DN. 2009. “Perbedaan tentang Kesehatan. Jakarta.
Kandungan Klorin (Cl2) pada Beras
Sebelum dan Sesudah Dimasak” Departemen Pertanian. 2007. Keputusan
Sumatra Utara: Skripsi Universitas Menteri Pertanian No. 32 tahun 2007.
Sumatera Utara. Tentang Pelarangan Penggunaan
Bahan Kimia Berbahaya pada Proses
Amanda, N. 2016. “Identifikasi Zat Klorin Penggilingan Padi, Huller dan
Pada Tahu yang dijual di Pasar Penyosohan Beras. Jakarta.
Kahayan Kota Palangka Raya”.
Palangka Raya: Karya Tulis Ilmiah Desrosier, N. W. 2008. Edisi Ketiga
Universitas Muhammadiyah Teknologi Pengawetan Pangan.
Palangkaraya. Penerbit Universitas Indonesia.
Jakarta. dalam Karya Tulis Ilmiah.
Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Adeansyah. Kurniawan. 2014.
Indonesia. 2012. Keputusan Kepala Identifikasi Zat Klorin pada Beras
Badan Pengawas Obat dan Makanan Putih di Pasar Kahayan Kota
Republik Indonesia No. Palangka Raya. Karya Tulis Ilmiah
HK.03.1.23.04.12.2205 Tahun 2012. Universitas Muhammadiyah
Tentang Pedoman Pemberian Palangkaraya.
Sertifikat Produksi Pangan Industri
Rumah Tangga. Jakarta. Gandjar, I. G dan Rohman, A. 2007. Kimia
Farmasi Analisis. Yogyakarta:
Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Pustaka Pelajar.
Indonesia. 2012. Keputusan Kepala
Badan Pengawas Obat dan Makanan Hasan, A. 2006. Dampak Penggunaan Klorin.
Republik Indonesia No. P3 Teknologi Konservasi dan
HK.03.1.23.04.12.2206 Tahun 2012. Konservasi Energi Lingkungan Badan
Tentang Cara Produksi Pangan yang Pengkajian dan Penerapan Teknologi.
Baik Untuk Industri Rumah Tangga.
Jakarta. Joe, W. 2011. 100 Keajaiban Khasiat
Kedelai. Yogyakarta: Andi.
Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik
Indonesia. 2013. Keputusan Kepala Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.
Badan Pengawas Obat dan Makanan 2012. Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor 033 tahun metode iodometri. Lampung: Jurnal
2012 Tentang Bahan Tambahan Kesehatan Holistik Vol.9, No4.
Pangan. Jakarta.
Wongkar, Abidjulu, dan Wehantouw.
Notoatmodjo, S. 2010. Metodologi Penelitian 2014.”Analisis Klorin pada Beras
Kesehatan. Jakarta . Rineka Cipta yang Beredar di Pasar Kota
Manado”. Dalam Jurnal Ilmiah
Nurheti, Y. 2007. Awas! Bahaya Dibalik Farmasi Vol.3 No3.
Lezatnya Makanan. Yogyakarta.

Padmaningrum, R. T. 2008. Titrasi Iodometri.


Yogyakarta: Universitas Negeri
Yogyakarta.

Rahayu, W. P. 2011. Keamanan Pangan


Peduli Kita Bersama. IPB Press.
Bogor

Sahirman. 2013. Analisis Kimia Dasar II


Buku Teks Bahan Ajar Siswa SMK
Program Keahlian Teknik Kimia.
Jakarta

Sartono. 2012. Racun Dan Keracunan.


Penerbit Widya Medika. Jakarta.
dalam Karya Tulis Ilmiah. Adeansyah.
Kurniawan. 2014. Identifikasi Zat
Klorin pada Beras Putih di Pasar
Kahayan Kota Palangka Raya. Karya
Tulis Ilmiah Universitas
Muhammadiyah Palangkaraya.

Sinuhaji. D. N. 2009. Perbedaan Kandungan


Klorin (Cl2) Pada Beras Sebelum dan
Sesudah Dimasak Tahun 2009.
Sumatra Utara: Skripsi Universitas
Sumatra Utara.

Svehla, G. 1985. Edisi Kelima Vogel Buku


Teks Analisis Anorganik Kualitatif
Makro dan Semimikro. Jakarta:
Kalman Media Pusaka.

Tilawati, Agustina, dan Arrosyid. 2015.


Identifikasi dan Penetapan Kadar
Klorin (Cl2) dalam Beras Putih di
Pasar Tradisional Klepu dengan
Metode Argentometri. Klaten: Skripsi
STIKES Muhammadiyah Klaten.
Ulfa, A. M. 2015. Penetapan Kadar Klorin
(Cl2) pada beras menggunakan