Anda di halaman 1dari 9

Rahmi Fitria : Pengalaman Ibu dengan Hiperemesis Gravidarum di

Rumah Bersalin Sehat Bondar Kecamatan Tambusai


2017
Kabupaten Rokan Hulu

Pengalaman Ibu dengan Hiperemesis Gravidarum di Rumah Bersalin Sehat


Bondar Kecamatan Tambusai Kabupaten Rokan Hulu

The Correlation Of Body Mass Indeks, Parity And Menopause Period by Bone
Mineral Density Women Post Menopause

Rahmi Fitria*

*Dosen Prodi D III Kebidanan Universitas Pasir Pengaraian

ABSTRAK

Latar Belakang dari penelitian ini adalah mual-muntah terjadi pada 60-80%
primigravida dan 40-60% multigravida. Perasaan mual disebabkan oleh
meningkatnya kadar hormon estrogen dan HCG dalam serum. Tujuan Penelitian ini
adalah untuk mengetahui bagaimana pengalaman ibu dengan hiperemesis
gravidarum di Rumah Bersalin Sehat Bondar. Metode Penelitian yang digunakan
adalah metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengambilan sampel adalah
purposive sampling terhadap pengalaman ibu dengan hiperemesis gravidarum di
Rumah Bersalin Sehat Bondar Kecamatan Tambusai. Dengan pengolahan data secara
manual dan analisis data yang digunakan adalah metode colaizzi. Hasil Penelitian
berdasarkan wawancara ditemukan karakteristik hiperemesis gravidarum mual-
muntah lebih dari sepuluh kali setiap hari dan berlangsung terus menerus, nafsu
makan berkurang, muntah berwarna kuning sampai terdapat darah, terjadi penurunan
berat badan, aktifitas terganggu keadaan umum buruk, terjadi gangguan emosional,
fisiologi dan timbul rasa trauma, badan lemah, sakit kepala, nyeri uluh hati dan sakit
menelan hal ini disebakan oleh bawaan kehamilan, hamil kembar, peningkatan
hormon, dan terjadi pada hamil muda. Upaya yang dilakukan untuk mengurangi
hiperemesis gravidarum dengan berobat, minum susu, makan roti kering, hindari
aroma bau-bauan yang dapat merangsang terjadinya mual-muntah dan istirahat.
Kesimpulan semua partisipan mengalami hiperemesis gravidarum tingkat satu, sesuai
dengan hasil penelitian.

Kata kunci: Pengalaman, Ibu, Dengan, Hiperemesis, Gravidarum

Jurnal Maternity and Neonatal Volume 2 No 2 Page 192


Rahmi Fitria : Pengalaman Ibu dengan Hiperemesis Gravidarum di
Rumah Bersalin Sehat Bondar Kecamatan Tambusai
2017
Kabupaten Rokan Hulu

PENDAHULUAN kenaikan hormon ini belum jelas,


mungkin karena sistem saraf pusat atau
Wanita hamil dikatakan mempunyai pengosongan lambung yang berkurang.
resiko untuk mendapatkan hal-hal yang Penyesuaian terjadi pada kebanyakan
mengancam jiwanya maupun janin yang wanita hamil, meskipun demikian mual
dikandungnya, hanya saja mempunyai dan muntah dapat berlangsung berbulan-
derajat resiko yang bervariasi, hal tersebut bulan (Wiknjosastro,2006).
lebih banyak pada wanita hamil dengan Jika seorang ibu memuntahkan
faktor resiko daripada yang tidak segala apa yang dimakan dan diminum
mempunyai resiko. Saat hamil tubuh hingga berat badan sangat turun, turgor
wanita akan berubah baik secara fisik kulit kurang, diuresis kurang dan timbul
maupun emosi, perubahan hormon yang acetone dalam air kencing, maka keadaan
dialami calon ibu sering memunculkan ini disebut hiperemesis gravidarum dan
beberapa gangguan mulai dari yang ringan memerlukan perawatan dirumah sakit
sampai berat. Mual dan muntah merupakan (Karunaharan, 2010).
salah satu gangguan pada masa kehamilan Brousesard dan Richter (1998,
(Stoppard 2007). dalam Tiran, 2009). mengatakan bahwa
Mual dan muntah, tanda-tanda ini sampai dengan 90 % wanita mengalami
dikenal sebagai morning sickness dan beberapa bentuk mual dan muntah selama
dialami oleh sekitar 50 % ibu hamil. kehamilan berkisar dari gejala mual ringan
Walaupun morning sickness lebih sering yang khas sampai sedang yang dapat
terjadi pada pagi hari tetapi mual dan sembuh dengan sendirinya dengan atau
muntah bisa jadi tidak mengenal waktu. tanpa disertai muntah, sampai kondisi
Karena terjadinya perubahan berbagai berat, yaitu hiperemesis gravidarum yang
hormon dalam tubuh pada awal kehamilan. mengakibatkan penurunan berat badan,
Meski begitu, kondisi pada setiap ibu gangguan elektrolit dan metabolik dalam
hamil tidak sama ada yang ringan dan ada jangka panjang.
yang berat (Maulana, 2008 ).
Mual (nausea) dan muntah (emesis HASIL
gravidarum) adalah gejala yang wajar dan Penelitian ini dilakukan terhadap
sering terjadi pada kehamilan trimester I. wanita yang pernah hamil dan
Mual biasanya terjadi pada pagi hari, tetapi mengalami Hyperemesis gravidarum
dapat pula timbul setiap saat dan malam
(muntah yang berlebihan) dilakukan di
hari, gejala-gejala ini kurang lebih terjadi 6
minggu setelah hari pertama haid terakhir Rumah Bersalin Sehat Bondar Kec.
dan berlangsung selama kurang lebih 10 Tambusai, Kab. Rokan Hulu, Riau.
minggu. Mual dan muntah terjadi pada 60- Waktu dalam penelitian ini dimulai
80% primigravida dan 40-60% dari bulan Oktober 2014 hingga
multigravida. Satu diantara seribu November 2014. Hasil dari wawncara
kehamilan, gejala-gejala ini menjadi lebih kepada partisipan dapat dilihat pada
berat. Perasaan mual disebabkan oleh uraian berikut ini:
meningkatnya kadar hormon estrogen dan
HCG dalam serum. Pengaruh fisiologik

Jurnal Maternity and Neonatal Volume 2 No 2 Page 193


Rahmi Fitria : Pengalaman Ibu dengan Hiperemesis Gravidarum di
Rumah Bersalin Sehat Bondar Kecamatan Tambusai
2017
Kabupaten Rokan Hulu

NO BIODATA JUMLAH
1 Umur
25-30 tahun 2 orang
31-36 tahun 5 orang
2 Agama
Kristen protestan 1 orang
Islam 6 orang
3 Suku
Batak 1 orang
Jawa 6 orang
4 Pendidikan Terakhir
SD 1 orang
SLTP 6 orang
Pekerjaan
5
Ibu rumah tangga 7 orang

Berdasarkan tabel 1 didapatkan bahwa karakteristik partisipan dari 7 partisipan


berumur 31-36 tahun sejumlah 5 orang, paling banyak agama islam yakni 6 orang,
dan suku Jawa senayak 6 orang, dan pendidikan terakhir adalah SLTP yakni 6 orang,
dan selurunhya merupakan Ibu Rumah Tangga.

A. Pengalaman Ibu Hamil dengan Dari hasil wawancara diperoleh bahwa


Hiperemesis Gravidarum semua partisipan mengalami hiperemesis
Dari hasil wawancara ditemukan gravidarum dengan karakteristik mual dan
karakteristik, faktor penyebab, dampak muntah lebih dari sepuluh kali setiap hari
yang terjadi akibat hiperemesis berlangsung terus menerus, muntah terjadi
gravidarum, perasaan ibu setelah sampai usia kehamilan lebih dari tiga
berkurang hiperemesis gravidarum. bulan, nafsu makan berkurang, muntah
berwarna kuning sampai berdarah, dan
1. Karakteristik hiperemesis gravidarum lebih para
Frekuensi mual yang berlangsung terus (Partisipan C)
menerus. Seluruh partisipan menyatakan
bahwa saat hamil para partisipan muntah a. Muntah terjadi sampai usia lebih dari
terus menerus. tiga bulan
Dari hasil wawancara diperoleh bahwa
“Waktu saya hamil saya sering muntah- satu orang partisipan mengatakan
muntah, pokonya sering bangat , satu hari muntahnya mulai berhenti setelah usia
saya muntah lebih dari sepuluh kali ” kehamilan tiga bulan, dua orang partisipan
(Partisipan A) mengatakan muntahnya mulai berhenti
“Muntah sering sekali, satu hari itu saya setelah empat bulan kehamilan diantaranya
muntah lebih dari sepuluh kali”. satu orang yang mengatakan kembali
(Partisipan B) muntah lagi setelah usia kehamilan
“Sering muntah, sebentar-sebentar sembilan bulan sampai melahirkan, dan
muntah, setiap hari kayak gitu terus, empat orang partisipan yang mengatakan
kalau dihitung satu hari itu saya muntah muntah semakin berkurang setelah usia
lebih dari sepuluh kali”.

Jurnal Maternity and Neonatal Volume 2 No 2 Page 194


Rahmi Fitria : Pengalaman Ibu dengan Hiperemesis Gravidarum di
Rumah Bersalin Sehat Bondar Kecamatan Tambusai
2017
Kabupaten Rokan Hulu

kehamilan lima bulan. Berikut ini simpulkan bahwa ada partisipan yang
ungkapan dari partisipan: meyatakan muntah lebih para pada hamil
“ Muntah saya mulai berhenti setelah pertama, dan ada juga partisipan
umur kehamilan saya 3 bulan saya mulai mengatakan lebih parah pada kehamilan
bisa makan sedikit-sedikit”. kedua, dan ada juga partisipan yang
(Partisipan A) mengatakan menjadi lebih parah pada
“Dulu waktu saya hamil, muntah saya kehamilan ketiga, serta ada yang
mulai berhenti setelah usia kehamilan berpendapat dari hamil pertama sampai
saya lima bulan saya mulai bisa makan anak terakhir muntah selalu parah, berikut
dan minum” ini pendapat setiap partisipan:
(Partisipan B) “Mengalami mual muntah itu lebih para
“Setelah umur kehamilan saya empat pada kehamilan saya yang pertama, yang
bulan saya gak muntah lagi”. kedua, ke tiga dengan yang ke empat
(Partisipan C) parah juga tapi tidak separah saya pada
“Kalau saya dulu hamil, muntah saya hamil pertama”.
berhenti setelah umur kehamilan saya (Partisipan B)
empat bulan tapi setelah sembilan bulan “Kalau saya merasa pada waktu hamil
saya muntah lagi, sampai saya dengan mual, dan muntah-muntah, lebih
melahirkan”. para pada kehamilan saya yang kedua
(Partisipan G) karna hamil pertama saya cuma mual
b. Nafsu makan berkurang saja, tapi setelah hamil yang kedua,
Dari penelitian yang dilakukan wihhhhh… minta ampun saya karna
melalui wawancara dengan partisipan parahnya, gak mau lagilah mengalami
maka peneliti memperoleh bahwa semua yang seperti itu”.
partisipan mengatakan selama mengalami (Partisipan E)
hiperemesis geavidarum nafsu makan “Muntah-muntah saya lebih para setelah
mereka berkurang, bahkan mereka tidak saya mengandung anak yang ketiga,
ada makan dan minum walau telah minum mungkin karna umur saya yang semakin
obat yang diberikan oleh bidan. Pernyataan bertambah, dan semakin tua ya…”.
partisipan tersebut antara lain: (Partisipan F)
“Saat saya mengalami muntah-muntah Ungkapan dibawah ini di dukung oleh
saya sulit sekali makan, dan nafsu empat para partisipan lainnya sebagai
makan saya hilang, gimana gak hilang berikut ini:
mencium bau nasi saja saya langsung “Saya merasa sama saja, mulai dari anak
muntah, jangankan nasi minum pun saya pertama sampai anak ke dua saya
muntah. Mungkin disebabkan karna saya muntah terus dan anak saya yang kedua
terlalu sering muntah sehingga tidak ada juga muntah-muntah”.
keinginan untuk makan”. (Partisipan G)
(Partisipan E)
“Jika saya makan saya langsung muntah, 2. Faktor penyebab Hiperemesis
jadi saya takut mencoba untuk makan, Gravidarum
karna dekat dengan nasi saja saya Partisipan mengatakan bahwa mual
langsung muntah bahkan muntah yang dialaminya disebabkan oleh
membayangkan bentuk nasi pun saya bawaan kehamilan, dan karena hamil
mual apalagi makan, trus saya berfikir kembar sehingga terjadi peningkatan
daripada saya muntah lebih baik saya gak hormon, juga ada partisipan mengatakan
usah makan”. mual muntah biasa terjadi pada hamil
(Partisipan D) muda. Berikut ini pernyataan partisipan.
c. Lebih para pada kehamilan pertama a. Bawaan kehamilan
Dari hasil penelitian yang telah di “Waktu saya hamil saya selalu muntah-
lakukan kepada partisipan maka dapat di muntah mungkin karena bawaan

Jurnal Maternity and Neonatal Volume 2 No 2 Page 195


Rahmi Fitria : Pengalaman Ibu dengan Hiperemesis Gravidarum di
Rumah Bersalin Sehat Bondar Kecamatan Tambusai
2017
Kabupaten Rokan Hulu

kehamilan, sehingga terjadi muntah, terasa ngerihlah karena baru kali itu saya
meski begitu saya tetap risau, tapi saya mengalami muntah-muntah”.
merasa bukan hanya saya yang (Partisipan E)
mengalaminya”. (Partisipan F) “Karna muntah, saya enggak bisa masak,
setiap saya masak saya jadi muntah, saya
b. Peningkatan hormon pada hamil gak tahan mencium bau masakan saya,
kembar kadang kalau suami saya masak saya
“Kalau menurut saya yang mumbuat langsung masuk kamar, takut mencium
saya menjadi muntah-muntah, itu bau masakannya”.
disebabkan karena peningkatan (Partisipan F)
hormone, waktu itu saya hamil kembar “Bila mencium bau yang menyengat saya
trus dokter bilang ke saya bahwa pada muntah, tetapi meskipun begitu saya
hamil kembar terjadi peningkatan selalu memasak makanan untuk suami
hormon kehamilan sehingga saya dan anak saya karna kalau saya gak
menimbulkan muntah”. (Partisipan E) masak mereka mau makan apa, makanya
meski saya gak sanggup mencium bau
c. Biasa terjadi pada hamil muda yang menyengat saya tetap memaksakan
“ Setiap hamil mudah saya sering untuk memasak”.
muntah-muntah menurut saya itu biasa (Partisipan G)
terjadi pada kehamilan muda, dan akan
berhenti setelah beberapa bulan
kehamilan, hal itu selalu saya alami, 4. Upaya yang dilakukan untuk
meskipun begitu saya tetap khawatir mengurangi hiperemesis gravidarum
dengan keadaan saya”. Antara lain adalah dengan berobat ke
(Partisipan D) bidan, minum susu, makan roti kering, dan
istirahat. Berikut ini kutipan dari para
3. Faktor pencetus mual dan muntah partisipan :
Para partisipan tidak bisa mencium
bau-bauan yang menyengat , berikut ini a. Berobat
kutipan dari pernyataan partisipan: “Saya berobat ke bidan, di kasi obat, dan
vitamin, kalau saya minum obat
“Saya tidak bisa mencium bau apa saja, muntahnya berhenti sebentar dah habis
baik itu nasi maupun parfum, karna bau tenaga obat muntah kambuh lagi, lama-
yang seperti itu membuat saya semakin lama saya bosan juga minum obat,
sering muntah” kadang saya biarkan aja gak minum
(Partisipan A) obat”. (Partisipan A)
“Kalau saya mencium aroma masakan
tetangga, saya langsung mual, makanya “Suami saya pernah membawa saya
kalau tetangga saya masak saya selalu berobat ke bidan, saya dapat obat dan
tutup hidung, tapi dirumah saya juga vitamin, tapi muntah say tidak hilang
begitu, kalau suami saya masak supermi juga, trus saya dibawa lagi ke tempat
saya paling tidak suka karena saya gak bidan yang lain, siapa tau di tempat
tahan dengan bau supermi yang bidan yang pertama tak serasi, hasilnya
dimasak”. sama saja muntah-muntah saya tidak
(Partisipan D) berkurang karna dah sering berobat dan
“Semua yang ada disekitar saya terasa muntah tidak kurang ya saya biarkan aja
bau, baik itu makanan, dan rebusan air gak berobat lagi”. (Partisipan B)
aja tercium bau sama saya, bukan hanya
itu mencium bau keringat suami saya “Muntah saya agak berkurang setelah
saja saya langsung muntah pokoknya saya berobat kebidan, bidan memberikan
saya obat, dan vitamin, bidan juga

Jurnal Maternity and Neonatal Volume 2 No 2 Page 196


Rahmi Fitria : Pengalaman Ibu dengan Hiperemesis Gravidarum di
Rumah Bersalin Sehat Bondar Kecamatan Tambusai
2017
Kabupaten Rokan Hulu

menganjurkan saya minum susu


prenagen emesis khusus untuk mual “Saya sudah minum obat tapi saya tetap
muntah, meski saya masih muntah tapi muntah, trus saya pergi lagi berobat ke
saya sudah agak merasa legah karna bidan, masih saja muntah, saya tanya
muntah saya agak sedikit berkurang sama bidan susu apa yang cocok untuk
setelah saya berobat dan minum susu saya minum, bidan memberikan susu
perenagen emesis”. (Partisipan C) lactamil yaitu susu khusus untuk ibu
hamil, saya mulai mencoba meminum
“Aku meski berobat ke bidan, dan minum susu yang diberikan oleh bidan, muntah
obat dari bidan, muntahku gak pernah saya berkurang sedikit, saya sangat
sembuh, meski begitu aku rajin minum senang dan mulai saat itu saya rajin
suplemen vitamin yang diberikan bidan minum susu”. (Partisipan G)
karna saya bervikir vitamin yang saya
minum akan bermanfaat untuk janin
saya”. (Partisipan F)

PEMBAHASAN peningkatan hormon, dan ada


1. Pengertian Hiperemesis partisipan mengatakan mual muntah
Gravidarum biasa terjadi pada hamil muda,
Dari hasil penelitian yang sebagian pernyataan yang disampaikan
diperoleh bahwa secara umum oleh partisipan sesuai dangan pendapat
partisipan mengalami hiperemesis Chrisdiono (2004), dan (Walsh, 2007).
gravidarum, dimana semua pertisipan Sebagai berikut:
mengalami mual-muntah lebih dari
sepuluh kali setiap hari berlangsung Hiperemesis gravidarum biasanya
terus menerus, muntah terjadi sampai terjadi pada hamil muda dimana
usia kehamilan tiga bulan dan bahkan penderita mengalami mual-muntah
lebih dari tiga bulan, nafsu makan yang berlebihan, sehingga menggenggu
berkurang, muntah berwarna kuning aktivitas dan kesehatan penderita
sampai berdarah, dan lebih parah, secara keseluruhan.
sebagian pernyataan yang disampaikan
Diperkirakan 50% sampai 80% ibu
partisipan sesuai dengan pengertian
hamil mengalami mual-muntah dan 5%
hiperemesi gravidarum menurut
ibu hamil membutuhkan penanganan
Sarwono (2007), sebagai berikut:
untuk penggantian cairan dan koreksi
Dikatakan hiperemesis gravidarum
ketidakseimbangan elektrolit. Mual dan
jika terjadi mual-muntah terus menerus
muntah khas kehamilan terjadi selama
dan lebih dari 10 kali,sehingga
trimester pertama disebabkan oleh
pekerjaan sehari-hari menjadi
peningkatan HCG. Mual juga
terganggu, keadaan umum menjadi
dihubungkan dengan perubahan pada
buruk, hal ini dapat berlangsung selama
indera penciuman dan perasa pada awal
4 bulan.
kehamilan.
2. Penyebab Hiperemesis 3. Pencegahan Hiperemesis
Gravidarum. Gravidarum
Partisipan mengatakan bahwa Semua partisipan mengatakan cara
mual muntah yang dialaminya mencegah hiperemesis gravidarum
disebabkan oleh bawaan kehamilan, yaitu dengan berobat ke bidan, minum
karena hamil kembar sehingga terjadi susu, makan roti kering, dan istirahat,

Jurnal Maternity and Neonatal Volume 2 No 2 Page 197


Rahmi Fitria : Pengalaman Ibu dengan Hiperemesis Gravidarum di
Rumah Bersalin Sehat Bondar Kecamatan Tambusai
2017
Kabupaten Rokan Hulu

maka dapat disimpulkan bahwa 4. Dampak Dari Hiperemesis


sebagian tindakan yang yang dilakukan Gravidarum
para partisipan sesuai dengan pendapat Dari hasil wawancara yang telah
(Tiran, 2007). dilakukan kepada tujuh orang
Sebagai berikut: partisipan, maka dapat disimpulkan
Prinsip pencegahan adalah semua partisipan mengatakan dampak
mengobati emesis agar tidak terjadi dari hiperemesis gravidarum sesuai
hiperemesis. Pencegahan yang dapat dengan apa yang pernah mereka alami,
dilakukan diantaranya adalah yaitu mengalami penurunan berat
Menjelaskan pada ibu bahwa badan, aktivitas terganggu, keadaan
kehamilan dan persalinan merupakan umum memburuk, sehingga mengalami
proses fisiologis, memberikan ganguan emosional, fisiologi, dan
keyakinan pada ibu bahwa mual- timbul rasa trauma, maka sebagian
muanta dapat diatasi, sedikit-sedikit pernyataan diatas sesuai dengan
tetapi sering. Berikan makanan pendapat Manuaba, (1998) tentang
selingan seperti biskuit, roti kering dampak dari mual dan, muntah-muntah
dengan teh hangat saat bangun pagi dan yaitu sebagai berikut:
sebelum tidur, hindari makan
berminyak dan berbau, menghindari Hiperemesis gravidarum ini
asap rokok atau parfum yang berbau ditandai dengan terus mual dan muntah
menyengat, jangan segera berbaring sampai 4-8 minggu, hingga kehilangan
setelah makan, sebaiknya duduk tegak barat badan 5-10 kg, kulit menjadi
selama beberapa saat agar tidak kering dan kadang-kadang timbul
kembung atau mual, hindari banyak ikterus malahan dapat jatuh koma.
minum saat makan, tunggulah 30 menit
5. Menurut Berat Ringannya
setelah makan baru minum air, waktu
Gejala, Hiperemesis Gravidarum
bangun pagi jangan segera turun dari
Yaitu :
tempat tidur pola makan yang lengkap
Dari hasil semua penelitian yang
dan seimbang, minum yang cukup
diperoleh maka dapat disimpulkan,
untuk menghindari dehidrasi akibat
semua partisipan mengalami
muntah, istirahat yang cukup,
hiperemesis gravidarum tingkat I.
menghisap peppermint bermanfaat
Yaitu partisipan muntah terus menerus,
mengurangi mual, hindari minum kopi,
nafsu makan berkurang, muntah
alkohol karena hal ini dapat
berwarna kuning sampai terdapat
menghalangi penyerapan zat besi dari
darah, terjadi penurunan berat badan,
makanan dan dapat menyebabkan sakit
aktifitas terganggu, keadaan umum
kepala juga pusing, pertahankan kadar
memburuk, mengalami gangguan
gula darah dengan menyantap makanan
emoional, fisiologi, dan timbul rasa
tinggi protein dan karbohidrat,
trauma, badan lemah, sakit kepala,
minumlah teh jahe yang terbuat dari
nyeri uluhati, dan sakit menelan,
akar jahe parut yang direbus dalam air
sebagian pernyataan ini sesuai dengan
mendidih, konsultasi ke dokter
pendapat Manuaba, (1998). Tentang
kandungan anda jika mual muntah
gejala hiperémesis gravidarum tingkat I
masih berlanjut.
yaitu: Muntah terus menerus, penderita
merasa lemah, nafsu makan tidak ada,

Jurnal Maternity and Neonatal Volume 2 No 2 Page 198


Rahmi Fitria : Pengalaman Ibu dengan Hiperemesis Gravidarum di
Rumah Bersalin Sehat Bondar Kecamatan Tambusai
2017
Kabupaten Rokan Hulu

berat badan menurun, nyeri pada napal mual muntah yang dialami
epigastrium, nadi meningkat sekitar semakin berkurang hingga hilang.
100 kali per menit, tekanan darah
sistolik menurun, turgor kulit Sedangkan pada teori yang
berkurang, lidah mengering, dan mata disampaikan menurut para ahli tidak
cekung. ditemukan bahwa sabun batang dan
tanah napal merupakan obat untuk
6. Pengobatan mual dan muntah saat hamil.
Pengobatan yang baik pada emesis
gravidarum sehingga dapat mencegah KESIMPULAN
hiperemesis gravidarum. Dalam Berdasarkan rumusan masalah dari
keadaan muntah berlebih dan dehidrasi penelitian ini, yaitu bagaimana
ringan, penderita emesis gravidarum pengalaman ibu dengan hiperemesis
sebaiknya dirawat sehingga dapat gravidarum dan penanganannya di
mencegah hiperemesis gravidarum. Rumah Bersalin Sehat Bondar
Konsep yang dapat diberikan adalah Kecamatan Tambusai Kabupaten
sebagai berikut : Rokan Hulu, maka dapat disimpulkan
yaitu:
Penatalaksanaan hiperemesis Semua pernyataan partisipan di atas
gravidarum tingkat I adalah dengan menyatakan, mengalami hiperemesis
pemberian anti muntah, pemberian anti gravidarum dengan karakteristik mual
alergi, pemberian Vitamin, B komplek, dan muntah, lebih dari sepuluh kali
Vitamin E, Kalsium ( Achadiat, 2004). setiap hari berlangsung terus menerus,
muntah terjadi sampai usia kehamilan
Dari hasil penelitian, setelah tiga bulan, bahkan lebih dari tiga bulan,
dilakukan pembahasan maka peneliti nafsu makan berkurang, muntah
menemukan teori baru tentang berwarna kuning sampai berdarah dan
hiperemesis gravidarum, dengan mual lebih parah, terjadi penurunan berat
muntah yang berlebih disertai badan, aktifitas terganggu keadaan
mengidam. Dimana partisipan A umum buruk, terjadi gangguan
mengidam sabun batang pada hamil emosianal, fisiologi dan timbul rasa
anak pertama dan mengidam telur trauma, badan lemah, sakit kepala,
kambing pada hamil anak ketiga, dan nyeri uluhati dan sakit menelan, hal ini
partisipan B mengidam makan tanah disebabkan oleh bawaan kehamilan,
napal partisipan A mengatakan rasa hamil kembar, peningkatan hormon,
muntahnya berkurang hingga rasa dan terjadi pada hamil muda. Upaya
muntah itu semakin hilang setiap kali yang dilakukan untuk mengurangi
makan sabun, dan partisipan B hiperemesis gravidarum dengan
mengatakan tidak muntah saat makan berobat, minum susu, makan roti
tanah napal, bahkan mual muntah kering, hindari dari aroma bau-bauan
semakin hilang setelah makan tanah yang dapat merangsang terjadinya mual
napal. Dan mereka berpendapat selain dan muntah-muntah, istirahat yang
hal itu merupakan makanan yang enak cukup. Setelah hiperemesis gravidarum
dimakan saat mengidam hal itu juga berkurang, nafsu makan bertambah,
menjadi obat bagi mereka, karena keadaan umum semakin membaik
dengan memakan sabun dan tanah sehingga dapat melakukan aktifitas.

Jurnal Maternity and Neonatal Volume 2 No 2 Page 199


Rahmi Fitria : Pengalaman Ibu dengan Hiperemesis Gravidarum di
Rumah Bersalin Sehat Bondar Kecamatan Tambusai
2017
Kabupaten Rokan Hulu

Dari penelitian ini ditemukan teori Danim Darwis, Sudarwan, Prof., Dr.,
baru tentang hiperemesis gravidarum S.Kp. (2003). Metode Penelitian
yaitu dengan memakan sabun dan Kebidanan Prosedur, Kebijakan
tanah napal, mual muntah yang dialami dan Etik. Jakarta : Buku
oleh partisipan semakin berkurang Kedokteran EGC.
hingga hilang. Stoppard, Miriam, Dr. (2007). Panduan
Mempersiapkan Kehamilan dan
DAFTAR PUSTAKA Kelahiran. Yogyakarta: Pustaka
Achadiat, Chrisdiono M., Dr., Sp.OG. Pelajar.
(2004). Prosedur Tetap Obstetri Tiran, Denise. (2007). Natural Remedies
dan Ginekologi. Jakarta: Buku For Morning Sickness and Other
Kedokteran EGC. Pregnancy Problems. London:
Datta, M., Randall, L., Holmes, N., Quadrille Publishing.
Karunaharan, N. (2009). Rujukan Wesson, Nicky. (2002). Morning Sickness.
Cepat Obstetri dan Ginekologi. Jakarta: Prestasi Pustaka.
Jakarta: Buku Kedokteran EGC. Winjosastro, Hanifa, Prof., dr., Sp.OG.
Huliana, Mellyna., A.Md.Keb. (2007). (2005). Ilmu Kebidanan Cet. VII.
Panduan Menjalani Kehamilan Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Sehat. Jakarta: Puspa Swara. Sarwono Prawirohardjo.
Manuaba, Ida Bagus Gde, Prof., dr., Winjosastro, Hanifa, Prof., dr., Sp.OG.
DSOG. (1998). Ilmu Kebidanan, (2007). Ilmu Kebidanan Cet. IX.
Penyakit Kandungan dan Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Keluarga Berencana Untuk Sarwono Prawirohardjo.
Pendidikan Bidan. Jakarta: Buku
Kedokteran EGC.
Maulana, Mirza. (2007). Cara Cerdas
Merencanakan dan Menjalani
Kehamilan. Yogyakarta: Kata
Hati.
Maulana, Mirza. (2008). Panduan Lengkap
Kehamilan. Yogyakarta: Kata Hati.
Notoatmodjo, Soekidjo, Prof., Dr., SKM.,
M. Com. H. (2005). Promosi Kesehatan
Teori dan Aplikasinya. Jakarta: PT. Rineka
Cipta.
Notoatmodjo, Soekidjo, Prof., Dr., SKM.,
M. Com. H. (2005). Metodologi Penelitian
Kesehatan. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Purwitasari, Desi, STP dan Dewi Maryanti,
SSiT. (2009). Buku Ajar Gizi Dalam
Kesehatan Reproduksi. Yogyakarta: Nuha
Medika.

Jurnal Maternity and Neonatal Volume 2 No 2 Page 200