Anda di halaman 1dari 16

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Gangguan Jiwa


Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) II
dalam Maslim (2001) mendefinisikan gangguan jiwa atau gangguan mental
(mental disorder) adalah smdrom atau pola perilaku dan atau psikologik
seorang individu yang secara klinik memiluki arti dan secara khas berkaitan
dengan suatu distress atau gejala penderitaan dalam satu atau lebih fiingsi
yang penling dari seorang individu.
Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa III (PPDGJ-III)
menggunakan istilah gangguan jiwa atau gangguan mental (mental disorder)
dan tidak mengenal istilah penyakit jiwa (mental ilness/mental desease)
dalam menyebut penderita gangguan jiwa.
Menurut Ardani (2007) yang dimaksud dengan gangguan jiwa adalah
sekumpulan keadaan-keadaan yang tidak nonnal baik yang berhubungan
dengan keadaan secara fisik maupun secara mental namun ketidaknormalan
tersebut bukan disebabkan oleh sakit atau nisaknya bagian anggota badan
tertentu meskipun terkadang gejalanya dapat terhhat dengan keadaan fisik
Sedangkan menurut Yosep (2011) gangguan jiwa adalah sekumpulan gejala
patologik dominan yang berasal daji unsur jiwa. Meskipun begitu hal tersebut
bukan berarti bahwa unsur yang lain tidak mengalami gangguan sebab
seseungguhnya yang sakit dan menderita ialah manusia secara utuh bukan
hanya badan jiwa atau lingkungannya.
Gangguan jiwa dalam (DSM- IV) adalah konsep sindrom perilaku
atau psikologis klinis yang signifikan atau pola yang terjadi pada individu
yang berhubungan dengan gejala nyeri atau cacat yaitu penurunan satu atau
lebih fungsi yang penting atau resiko peningkatan kematian, nyeri, kecacatan,
atau kerugian (Prabowo, 2014). Menurut Videbeck (2008), ada beberapa hal
yang menjadi kriteria umum gangguan jiwa diantaranya ketidakpuasan
dengan karakteristik, kemampuan dan prestasi diri; hubungan yang tidak
efektif atau tidak memuaskan; tidak puas hidup di dunia; koping yang tidak

3
4

efektif terhadap suatu peristiwa; tidak terjadi pertumbuhan kepribadian; serta


terdapat perilaku yang tidak diharapkan.

B. Tanda dan Gejala Gangguan Jiwa


Buku Dasar – Dasar Keperawatan Jiwa (Nasir & Muhith, 2011) menjelaskan
beberapa tanda dan gejala gangguan jiwa, diantaranya :
a. Gangguan Kognitif
Kognitif adalah suatu proses mental dimana seorang individu
menyadari dan mempertahankan hubungan dengan lingkungannya, baik
lingkungan dalam maupun lingkungan luar. Proses kognitif meliputi
beberapa hal seperti sensasi dan presepsi, perhatian, ingatan, asosiasi,
pertimbangan, pikiran, dan kesadaran.
b. Gangguan Perhatian
Perhatian adalah pemusatan dan konsentrasi energi, menilai dalam
suatu proses kognitif yang timbul dari luar akibat suatu rangsangan
c. Gangguan Ingatan
Ingatan adalah kesanggupan untuk mencatat, menyimpan,
memproduksi isi, dan tanda-tanda kesadaran
d. Gangguan Asosiasi
Asosiasi adalah proses mental yang dengannya suatu perasaan,
kesan, atau gambaran ingatan cenderung untuk menimbulkan kesan atau
gambaran ingatan respons atau konsep lain, yang sebelumnya berkaitan
dengannya.
e. Gangguan Asosiasi
Asosiasi adalah proses mental yang dengannya suatu perasaan,
kesan, atau gambaran ingatan cenderung untuk menimbulkan kesan atau
gambaran ingatan respons atau konsep lain, yang sebelumnya berkaitan
dengannya.
5

f. Gangguan Pikiran
Pikiran umum adalah meletakkan hubungan antara berbagai bagian
dari pengetahuan seseorang
g. Gangguan kesadaran
Kesadaran adalah kemampuan seseorang untuk mengadakan
hubungan dengan lingkungan, serta dirinya melalui panca indra dan
mengadakan pembatasan terhadap lingkungan serta dirinya sendiri.
h. Gangguan kemauan
Kemauan adalah suatu proses dimana keinginan-keinginan
dipertimbangkan yang kemudian diputuskan untuk dilaksanakan sampai
mencapai tujuan.
i. Gangguan Emosi dan Afek
Emosi adalah suatu pengalaman yang sadar dan memberikan
pengaruh pada aktivitas tubuh serta menghasilkan sensasi organik dan
kinestik. Afek adalah kehidupan perasaan atau nada perasaan emosional
seseorang, menyenangkan atau tidak, yang menyertai suatu pikiran,
biasa berlangsung lama dan jarang disertai komponen fisiologis.
j. Gangguan Psikomotor
Psikomotor adalah gerakan tubuh yang dipengaruhi oleh keadaan
jiwa.

C. Penyebab Gangguan Jiwa


Ada banyak teori dan pendapat ahli mengenai penyebab gangguan
jiwa. Menurut Yoseph (2011) penyebab gangguan jiwa dipengaruhi oleh
beberapa faktor yang secara terus menerus saling terkait dan saling
mempengaruhi , yaitu:
a. Faktor-faktor somatik atau organ biologis, seperti neroanatomi.
nerofisiologi. nerokimia, tingkat kematangan dan perkembangan organik.
dan faktor-faktor pre dan peri-natal.
b. Faktor-fakotr psikologik atan psikoedukatif seperti ínteraksi ibu dan anak,
persaingan yang terjadi antara saudara kandung, hubungan sosial dala
6

kehidupan sehari-hari, kehilangan yang menyebabkan depresi atan rasa


malu/rasa bersalah, pola adaptasi dan pembelaan sebagai reaksi terhadap
bahaya. dan tingkat perkembangan emosi.
c. Faktor-faktor sosial-budaya atau sosiokultural, seperti kestabilan
keluarga, tingkat ekonomi, masalah kelompok minoritas yang
meliputi prasangka dan fasiitas kesehatan. pendidikan, dan kesejahteraan
yang tidak memadai, pengaruh rasial dan keagamaan.
Sementara untuk faktor presipitasi (faktor yang bersumber dari
individu itu sendiri). antan lain kondisi lingkungan yang kurang baik,
interaksi dengan orang lain,kondisi fisik pasien, putus asa dan percaya diri
yang kurang, kehilangan orang yang dicintai, kehilangan pekerjaan , dan
kritikan yang mengarah pada penghinaan

D. Patogenesis dan patofisiologi Gangguan Jiwa


1. Patogenesis
Kondisi saat sebelum sakit pada pasien gangguan jiwa berlangsung
kurang lebih selama 1 bulan. Gangguan yang terjadi dapat berupa gejala
psikotik, antara lain halusinasi. delusi, disorganisasi proses berfikir,
gangguan bicara. gangguan perilaku yang terkadang disertai dengan
kelainan neurokimiawi. Penderita gangguan jiwa biasanya mengalami
minimal 2 gejala. Yaitu gangguan afek dan gangguan peran. Serangan
yang terjadi pada gangguan jiwa biasanya terjadi secara berulang
(Yoseph. 2011).
Serangan yang terjadi pada gangguan jiwa biasanva berupa
perasaan khawatir berlebihan terhadap hampir semua aspek kehidupan.
perasaan lelah berlebihan yang tidak disebabkan karena faktor kelelahan
fisik, iritable atau mudah tersinggung. dan gejala fisik seperti kaku otot.
pegal-pegal. gangguan tidur atau sulit merasa santai. Ketika penderita
mengalami gangguan tersebut terkadang penderita mengabaikannya
yang berakibat pada bertambah parahnya gangguan yang dialami oleh
7

penderita. Pada penderita gangguan jiwa, biasanya mengalami gangguan


terhadap tingkat kesadaran dan kondisi emosi atau perasaan. Peñlaku
motorik, proses berfikir, persepsi atau pengindraan dan kemampuan
bicara dan bahasa.
Pada proses pemulihan yang terjadi pada gangguan jiwa terdapat 5
tahapan, antara lain:
1) Tahap I Perasaan terjebak (stuck) dimana penderita merasa
tidak mau atau tidak mampu dalam menerima bantuan ataupun
menghadapi masalah
2) Tahap II: Bersedia menerima bantuan. Pada tahap ini penderita
ingin menjauh atau menghindar dari masalah dan berharap orang lain
akan bisa membantu dalam mengatasi masalah.
3) Tahap III : Percaya. Pada tahap 1m penderita mulai percaya bahwa mereka
dapat membuat perubahan atau perbaikan dalam hidupnva. Penderita
mulai melihat ke masa depan tentang apa yang diingiukan serta menjauh
dan hal-hal yang tidak diinginkan. Penderita mulai melakukan hal-hal atas
keingman sendini untuk mencapai tujuan mereka dan tetap bersedia
menerima bantuan orang lain.
4) Tahap 1V: Belajar mengenai bagaimana membuat pemulihan diri
penderita dapat menjadi suatu kenvataan. Ini adalah proses trial and error
dimana dukungan dan semangat merupakan hal yang dibutuhkan dalam
tahap ini.
5) Tahap V: kemandirian yang dicapai secara bertahap dari proses belajar
hingga pada akhimya mencapai suatu titik dimana mereka mampu
mengelola sesuatu tanpa bantuan dari orang lam (Tirtojiwo, 2012)
Ketika pada penderita gangguan jiwa yang telah melalui proses
pemulihan. mereka akan memasuki tahap recovery dimana mereka mampu
menerima dan mengakui dirinya sendiri sebagai mana adanya. Selain itu,
penderita gangguan jiwa juga sudah mampu untuk bersikap terbuka dan
sportif memiliki semangat dan motivasi percaya diñ mampu
mengendalikan emosi mampu bersosialisasi dengan masyarakat dan tidak
8

takut untuk menghadapi tantangan serta berusaha mencani jalan keluar


untuk mengatasi masalah yang dihadapi (Tirtojiwo, 2012).

2. Patofisiologi Gangguan Jiwa


Penderita yang mengalami gangguan jiwa memiliki ciri-ciri
biologis yang khas terutama pada susunan dan stuktur saraf pusat,
dimana penderita biasanya mengalami pembesaran ventñkel ke III
bagian kiri. Ciri lainnya pada penderita yang memiliki lobus frontalis
yang lebih kecil dan rata-rata orang yang normal. Penderita yang
mengalami gangguan jiwa dengan gejala takut serta paranoid (curiga)
memiliki lesi pada daerah Amigthla sedangkan pada penderita
skizofrenia memiliki lest path area Wernick’s dan area Brocha bahkan
terkadang disertai dengan Aphasia serta disorganisasi dalam proses
berbicara.
Kelainan pada struktur otak atau kelainan yang terjadi pada sistem
kerja bagian tertentu dan otak juga dapat menimbulkan gangguan pada
kejiwaan Sebagai contoh, masalah komunikasi di salah satu bagian kecil
dañ otak dapat mengakibatkan terjadinya disfungsi secara luas. Hal ini
akan diikuti oleh kontrol kognitif tingkah laku. Dan fungsi emosional
yang diketahui memliki keterkaitan erat dengan masalah gangguan
kejiwaaan Beberapa jenis gangguan pada struktur otak yang berakibat
pada gangguan jiwa., antara lain:
1) Gangguan pada cortex cerebral yang memiliki peranan penting
dalam pengambilan keputusan, pemikiran tinggi, dan penalaran
dapat dilihat pada penderita waham.
2) Gangguan pada sistem limbik yang berfungsi mengatur
perilaku emosiona, daya ingat, dan proses dalam belajar terlihat
pada penderita perilaku kekerasan dan depresi.
3) Gangguan pada lupotalamus yang berperan dalam mengatur
hormon dalam tubuh dan perilaku seperti makan. minum dan
9

seks dapat terlihat pada penderita bulimia. anoreksia, dan disfungsi


seksual.
4) Kerusakan-kenisakan yang teijada pada bagian otak tertentu
juga dapat mengakibatkan gangguan jiwa. Kerusakan tersebut,
antan lain:
1) Kerusakan pada lobus frontalis yang menyebabkan kesulitan
dalam proses pemecahan masalah masalah dan perilaku yang
mengarah pada tujuan berfikir abstrak, perhatian dengan
manifestasigangguan psikomatrik.
2) Kerusakan pada basal ganglia dapat menyebabkan distonia dan
tremor.
3) Gangguan pada lobus temporal limbik akan meningkatkan
kewaspadaan distracbility gangguan memori (Short time).

E. Psikodinamika Gangguan Jiwa

1. Pengertian psikodinamika
Psikodinamik merupakan salah satu pendekatan yang cukup tua,
tentu saja salah satunya disebabkan karena pendekatan ini merupakan
pendekatan yang pertama muncul dalam dunia psikologi. Pendekatan
psikodinamik ini berasumsi bahwa masalah-masalah si pasien disebabkan
oleh tekanan psikologis antara alam bawah sadar dan kenyataan yang ada
dalam kehidupan individu.
Teori psikodinamika atau tradisi klinis berangkat dari dua asumsi
dasar. Pertama, manusia adalah bagian dari dunia binatang. Kedua,
manusia adalah bagian dari sistem enerji. Kunci utama untuk memahami
manusia menurut paradigma psikodinamika adalah mengenali semua
sumber terjadinya perilaku, baik itu berupa dorongan yang disadari
maupun yang tidak disadari.
10

Teori psikodinamika ditemukan oleh Sigmund Freud (1856-1939).


Dia memberi nama aliran psikologi yang dia kembangkan
sebagai psikoanalisis. Banyak pakar yang kemudia ikut memakai
paradigma psikoanalisis untuk mengembangkan teori kepribadiannya,
seperti : Carl Gustav Jung, Alfred Adler, serta tokoh-tokoh lain seperti
Anna Freud, Karen Horney, Eric Fromm, dan Harry Stack Sullivan.
Teori psikodinamika berkembang cepat dan luas karena masyarakat luas
terbiasa memandang gangguan tingkah laku sebagai penyakit (Alwisol,
2005 : 3-4).

2. Psikodinamika gangguan jiwa


Psikodinamika gangguan jiwa merupakan pendekatan konseptual
yang memandang proses-proses mental sebagai gerakan dan interaksi
kuantitas2 energi psikis yang berlangsung intra-individu & inter-
individu, dimana terdiri dari komponen-komponen struktur
kepribadian, kekuatan (insting), gerakan dan tumbuh kembang atau
tugas perkembangan.
Psikodinamika dapat dijelaskan dalam bentuk skema :
a. Struktur Kepribadian
1) Pengertian dan komponen kepribadian
Kepribadian adalah nilai sebagai stimulus sosial,
kemampuan menampilkan diri secara mengesankan (Hilgard &
Marquis, dalam Alwisol 2009). Kepribadian adalah seluruh
karakteristik seseorang atau sifat umum banyak orang yang
membentuk pola yang menetap dalam merespon suatu situasi
(Pervin, dalam Alwisol 2009). Kepribadian adalah pola khas
dari pikiran, perasaan, dan tingkah laku yang membedakan
orangsatu dengan yang lain dan tidak berubah lintas waktu dan
situasi (Phares, dalam alwisol 2009)
11

2) Struktur kepribadian
Struktur kepribadian bersifat : sebagai sifat umum
seseorang, sifat pembeda dengan oranglain, bersifat awet atau
menetap, sifat kesatuan dan konsisten.
Struktur kepribadian terdiri dari Id, Ego, dan Super Ego.
a) Id
Id merupakan sistem kepribadian asli, dan dibawa sejak
lahir. Aspek psikologik yang terdapat dalam ego : insting,
impuls dan drive. Id berada dalam daerah unconscious atau
tidak sadar. Id bekerja berdasarkan prinsip kenikmatan
(pleasure principle) dan menghindari rasa sakit. Id tidak
dapat membedakan khayalan dengan kenyataan, benar-
salah, tidak tahu moral. Untuk memperoleh khayalan
menjadi nyata yang memberi kepuasan tanpa menimbulkan
ketegangan maka munculah ego.
b) Ego
Ego bekerja berdasarkan prinsip realita (reality principle),
dan berada pada daerah conscious, preconscious dan
unconcious. Ego adalah eksekutif (pelaksana) kepribadian,
dengan dua tugas utama yaitu memilih stimuli mana yang
akan di respon atau insting mana yang akan dipuaskan
sesuai prioritas kebutuhan dan tugas kedua menentukan
kapan dan bagaimana kebutuhan itu dipuaskan sesuai
dengan tersedianya peluang yang resikonya minimal. Ego
berusaha memenuhi id sekaligus juga memenuhi kebutuhan
moral, untuk itu dibutuhkan juga superego.
c) Super ego
Super ego merupakan kekuatan moral dan etik kepribadian,
yang memakai prinsip idealistik (idealistic princple). Super
ego dapat berbentuk nilai-nilai yang ditanamkan orangtua
seperti hal-hal yg dilarang, dianggap salah, dan akan
12

dihukum, hal tersebut akan diterima sebagai suara hati


(conscience). Sedangkan apapun yang disetujui akan
diberikan pujian, hadiah diterima sebagai standar
kesempurnaan/ego ideal. Super ego bekerja pada daerah
conscious, preconscious dan unconcious. Fungsi superego
adalah :
a. mendorong ego menggantikan tujuan-tujuan realistik
menjadi tujuan-tujuan moralistik
b. merintangi impuls id, terutama impuls seksual dan
agresif yg bertentangan dengan norma
c. mengejar kesempurnaan.

3. Tugas Perkembangan kepribadian


1) Teori Psikoseksual menurut Sigmund Freud
Menurut Freud pentingnya peran masa bayi dan awal anak dalam
membentuk karakter individu pada saat dewasa. Struktur kepribadian
sudah terbentuk pada usia 5 tahun, dan perkembangan sesudah 5 tahun
hanya merupakan elaborasi dari sturktur dasar. Teori sigmund freud
dikenal dengan nama teori Psikoseksual, yang membagi tahap
perkembangan menjadi 5(lima) tahap yaitu : oral, anal, phalic, laten,
genital.
a. Oral : usia 0-1 tahun
Tahap ini ditandai dengan mulut merupakan daerah pokok
aktifitas dinamik atau daerah kepuasan seksual bagi bayi. Kepuasan
yg berlebihan pd fase ini akan membentuk oral incorporation
personality pada masa dewasa, yakni orang yg senang/fiksasi
mengumpulkan pengetahuan atau harta benda, gampang ditipu
(mudah menelan perkataan oranglain). Sebaliknya ketidakpuasan
fase oral menyebabkan sesudah dewasa menjadi orang yang tidak
pernah puas, tamak, mengumpulkan harta, oral agression
personality (senang berdebat, sikap sarkastik).
13

Mulut sebagai daerah erogen terbawa sampai dewasa dalam bentuk


yang bervariasi seperti perilaku mengunyah permen karet,
merokok, menggigit pensil, senang makan, menggunjing oranglain,
berkata2 kotor/sarkastik.
b. Anal : usia 1-2/3 tahun
Pada tahap ini dubur merupakan daerah pokok aktifitas
dinamik anak, dan kegiatan penting dalam tahap ini adalah toilet
training, dimana anak belajar menunda kepuasan. Dampak toilet
training terhadap kepribadian di masa depan tergantung dari sikap
dan metode orangtua dalam melatih toilet training. Contoh
implikasi dalampola asuh adalah apabila ibu terlalu keras melatih
toilet training maka anak akan menahan fecesnya dan mengalami
sembelit, dan kelak akan membentuk pribadi yang kikir dan keras
kepala (anal retentiveness personality). Namun sebaliknya apabila
ibu bebas tidak membimbing toilet training baik maka anak akan
bebas mengeluarkan tegangan di tempat dan waktu yang tidak
tepat, dan kelak akan membentuk pribadi dengan sifat
ketidakteraturan/jorok, destruktif, semaunya sendiri, atau
kekerasan/kekejaman (anal expulsiveness personality).
Bila ibu membimbing dengan penuh kasih sayang maka anak
mendapat pengertian bahwa mengeluarkan feces adalah aktifitas
yang penting, akan membentuk individu yg kreatif dan produktif.
c. Phalic : usia 3-5/6 tahun
Pada tahap ini alat kelamin merupakan daerah erogen
terpenting dimana terjadi peningkatan gairah seksual anak kepada
orangtuanya. Perkembangan terpenting adalah oedipus complex,
dimana anak laki-laki lebih mencintai ibunya dan menganggap
ayah adalah pesaingnya, sebaliknya anak perempuan lebih
mencintai ayahnya dan menganggap ibu sebagai pesaingnya. Tahap
ini penting untuk anak dalam mengidentifikasi diri sesuai sex atau
14

jenis kelaminnya, laki-laki adalah maskulin dan wanita adalah


feminin
d. Laten : usia 5/6-12/13 tahun
Pada usia ini anak mengalami periode peredaan impuls
seksual, dan anak-remaja mengembangkan kemampuan sublimasi,
yakni mengganti kepuasan libido dengan kepuasan non seksual
yakni bidang intelektual, atletik, ketrampilan dan berinteraksi
dengan teman sebaya. Tahap ini juga ditandai percepatan
pembentukan superego.
e. Genital : usia 6 – 12/13 tahun
Tahap ini dimulai dengan perubahan biokimia dan fisiologi
dalam diri remaja. Impuls seks mulai disalurkan ke obyek luar
seperti : berpartisipasi dalam kelompok, menyiapkan karir, cinta
lawan jenis, perkawinan dan keluarga. Tahap ini juga terjadi
perubahan dari anak yang narkistik menjadi dewasa yang
berorientasi sosial, realistik dan altruistik. Ciri – ciri orang dewasa
adalah mampu menunda kepuasan, bertanggung jawab,
pemindahan sublimasi menjadi identifikasi.

2) Menurut Erick Erickson


Teori perkembangan kepribadian menurut Ericson mengkaitykan
hubungantahap perkembangan dan peran sosial. Teorinya disebut teori
Psikososial. Perhatianteori ini berfokus pada ego individu. Erickson
mengembangkan teori perkembangan Freud dengan membagi 8
tahapan perkembangan: bayi (infant), anak (toddler), pra sekolah (pre
school), sekolah (school), remaja (adolesence), dewasa muda (young
adulthood), dewasa (adulthood), tua (aging).
a. Bayi (infant), usia 0-1 tahun : Trust vs mistrust
Kebutuhan dasar terletak pada pemenuhan kebutuhan oral,
dimana keberhasilan pencapaian tugas pada perkembangan ini akan
mengembangkan rasa percaya pada anak dan sebaliknya kegagalan
15

akan menyebabkan anak tidak mudah percaya atau kehilangan


kepercayaan pada dirinya maupun pada oranglain.
b. Anak (toddler), usia 1-3 tahun : Autonomy vs shame
Anak belajar mengenal hak dan kewajiban serta
pembatasan-pembatasan tingkah laku, belajar mengontrol diri
sendiri dan menerima kontrol dari oranglain. Keberhasilan
pencapaian tugas pada perkembangan ini akan mengembangkan
kemandirian anak dan sebaliknya kegagalan akan menyebabkan
anak menjadi pemalu.
c. Pra sekolah (pre school), usia 3-5 tahun : Inisiatif vs guilty
Pada tahap ini anak mengidentifikasi dengan orangtua,
mengembangkan gerakan tubuh, ketrampilan bahasa, rasa ingin
tahu, imajinasi, dan kemampuan menentukan tujuan. Keberhasilan
pencapaian tugas pada perkembangan ini akan mengembangkan
inisiatif anak dan sebaliknya kegagalan akan menyebabkan anak
menjadi merasa bersalah, akibatnya anak takut mencoba lagi.
d. Sekolah (school), usia 6-12 tahun : Industry vs inferiority
Pada tahap ini dunia anak meluas keluar dari keluarga, anak
mulai bergaul dengan teman sebaya, guru dan orang dewasa.
Kompetensi anak berkembang dan perlu didorong untuk belajar
secara formal, mengenal kompetisi. Keberhasilan pencapaian tugas
pada perkembangan ini akan mengembangkan sikap membangun
(industry) dan sebaliknya kegagalan akan menyebabkan anak
menjadi merasa tidak berhasil dan menjadi rendah diri.
e. Remaja (adolesence), usia 13-18 tahun : Identity vs crisis indentity
Pada tahap ini remaja mengalami kematangan seksual,
mencari jati diri, fase mencoba-coba, mencari idola. Keberhasilan
pencapaian tugas pada perkembangan ini akan mengembangkan
sikap identifikasi diri dan sebaliknya kegagalan akan menyebabkan
remaja mengalami krisis identitas atau kekacauan identitas.
16

f. Dewasa muda (young adulthood), usia 18-25 tahun: Intimacy vs


isolation
Pada tahap ini individu membangun keintiman dan
berketurunan. Keberhasilan pada tahap ini ditandai dengan individu
siap membina hubungan dengan lawan jenis secara resmi dan
memiliki keturunan, sebaliknya kegagalan pada tahap ini membuat
individu menarik diri.
g. Dewasa (adulthood), usia 25-60 tahun : Generativity vs stagnation
Pada tahap ini individu membina dan membimbing
generasi penerus (anak-anak), produktif dan kreatif dalam
menciptakan benda dan ide-ide baru, stabil dalam kehidupannya
baik secara ekonomi maupun sosial. Keberhasilan pada tahap ini
ditandai dengan individu siap membina generasi berikutnya dan
produktif, sebaliknya kegagalan pada tahap ini membuat individu
stagnan atau tidak berkembang.
h. Tua (aging), usia lebih dari 60 tahun : integrity vs despair
Pada tahap ini individu atau lansia melakukan banyak
penyesuaian terhadap berbagai perubahan fisik, psikologis, sosial
dan spiritual. Individu menjadi lebih bijaksana dalam
mempertahankan integritasnya ketika kemampuan fisik dan
mentalnya menurun. Keberhasilan pada tahap ini ditandai dengan
individu memiliki integritas diri yang baik, sebaliknya kegagalan
pada tahap ini membuat individu putus asa.

F. Psikopatologi Gangguan Jiwa


Psikopatologi gangguan jiwa atau tanda-tanda umum yang sering dijumpai
pada penderita dengan gejala gangguan jiwa menurut Yoseph (2011),
yaitu:
17

1) Gangguan Kognisi
Gangguan kognisi yang meliputi gangguan sensasi dan gangguan
persepsi. Gangguan sensasi terdiri dari hiperestesia (suatu keadaan
dimana gangguan kepekaan terhadap proses penginderaan baik panas,
dingin, nyeri atau perabaan mengalami peningkatan), anestesia (suatu
keadaan dimana tidak adanya perasaan pada penginderaan/mati rasa),
hiperkinestesia (suatu keadaan dimana kepekaan terhadap perasaan
gerak tubuh mengalami peningkatan secara berlebih), dan
hipokinestesia (suatu keadaan dimana kepekaan terhadap gerak
perasaan tubuh mengalami penurunan). Sedangkan gangguan persepsi
terdiri dari ilusi (persepsi yang salah/palsu yang biasanya ada atau
pernah ada rangsangan dari luar), dan halusinasi (suatu persepsi yang
salah tanpa dijumpai adanya rangsangan dari luar).
2) Gangguan perhatian
Beberapa jenis gangguan perhatian yaitu distraktibiliti (perhatian
yang mudah dialihkan oleh rangsang yang tidak berarti), aproseksia
(ketidaksanggupan untuk memperhatikan secara tekun terhadap situasi
atau keadaan), dan hiperproseksia (keadaan yang memusatkan
perhatian yang berlebihan)
3) Gangguan ingatan
Gangguan ingatan terdiri dari amnesia (ketidakmampuan
mengingat kembali pengalaman yang ada atau kondisi sebelumnya),
hipernemsia (keadaan dimana seseorang dapat menjelaskan kembali
kejadian yang telah lalu dengan sangat terperinci), dan paramnesia
(gangguan penyimpangan terhadap ingatan yang telah lalu yang
dikenal secara baik).
4) Gangguan pikiran
Beberapa jenis gangguan pikiran yaitu gangguan bentuk pikiran
(pemikiran yang mengalami penyimpangan, tidak rasional dan logis,
dan terarah pada suatu tujuan), gangguan arus termasuk cara dan laju
18

proses asosiasi dalam pemikiran, dan gangguan isi pikiran baik secara
verbal maupun non verbal.
5) Gangguan kesadaran
Beberapa macam gangguan kesadaran, antara lain:
Kesadaran kuantitatif, yang terdiri dari dua jenis, yaitu:
a. Kesadaran yang menurun (tingkat kesadaran dimana kemampuan
persepsi, perhatian, dan pemikiran yang berkurang secara
keseluruhan)
b. Kesadaran yang meninggi (keadaan reaksi yang meningkat akibat
adanya suatu rangsang).
Kesadaran kualitatif dimana terjadinya perubahan dalam kualitas
kesadaran, baik yang disebabkan oleh toksik, organik atau psikogen.
6) Gangguan kemauan
Beberapa macam gangguan kemauan yaitu abulia (keadaan
seseorang yang tidak sanggup dalam membuat keputusan maupun
memulai suatu perbuatan), negativisme (ketidaksanggupan seseorang
dalam bertindak/melakukan sesuatu, kekakuan atau ketidakmampuan
dalam memutuskan untuk mengubah suatu tingkah laku), dan
kompulsi (keadaan seseorang yang merasa didorong dalam melakukan
suatu tindakan).

7) Gangguan emosi dan afek


Gangguan emosi dan afek diantaranya euforia (emosi
menyenangkan atau bahagia secara berlebihan sehingga apabila tidak
sesuai dengan keadaan maka hal ini menunjukkan adanya gangguan),
afek yang kaku (pendirian yang tetap dipertahankan sehingga
menyebabkan reaksi emosional yang berlebihan), emosi labil
(ketidakstabilan yang berlebihan dan emosional), cemas dan depresi
(gejala yang dapat dilihat dari ekspresi wajah atau tingkah laku), dan
emosi yang tumpul dan datar (pengurangan atau tidak ada sama sekali
tanda-tanda ekspresi afektif)