Anda di halaman 1dari 10

BAB III

DASAR TEORI

3.1 Aktivitas Penambangan

Penambangan adalah kegiatan yang dilakukan baik secara sederhana (manual)


maupun mekanis yang meliputi penggalian, pemberaian, pemuatan dan
pengangkutan bahan galian.Secara garis besar kegiatan penambangan pada
tambang terbuka terbagi atas beberapa tahapan, yaitu pembersihan lahan (land
clearing), penambanganbatubara (coal getting), pemuatan (loading) dan
pengangkutan batubara (coal hauling), serta penimbunan kembali (backfilling
dumping). Tahapan-tahapan tersebut akan dibahas satu persatu dibawah ini.

Penambangan batubara merupakan kegiatan penggalian batubara yang sudah


tersingkap setelah tanah penutupnya dibuang. Kegiatan ini dilakukan dengan
menggunakan alat gali dan muat yang pada umumnya dilakukan secara
konvensional yaitu metode shovel and truck. Batubara yang akan diambil diberai
terlebih dahulu dengan menggunakan bulldozer (ripping) ataupun dilakukan
pemboran dan peledakan jika batubara tersebut terlalu keras sehingga tidak dapat
dilakukan proses ripping, lalu dimuat dengan excavator yang kemudian
dilakukanpengangkutan menggunakan dump truck menuju ke temporary stock.

3.1.1 Pembersihan lahan (Land Clearing)


Menurut Tenriajeng (2003), pembersihan lahan pada lokasi penambangan
dilakukan secara simultan dengan pengupasan tanah penutup. Kegiatan land
clearing ini bertujuan untuk membersihkan semak-semak, pohon-pohon, dan
menyingkirkan material yang dapat menghambat juga menghalangi kegiatan
penambangan yang akan dilakukan nantinya.
Pekerjaan land clearing ini dilakukan secara bertahap sesuai dengan arah
kemajuan penambangan yang telah direncanakan. Pada kegiatan ini jenis
tanaman dan keadaan di lokasi penambangan harus diketahui terlebih dahulu,
sehingga dapat diketahui alat-alat apa saja yang akan digunakan. Pada
umumnya alat yang digunakan yaitu bulldozer dan excavator.Menurut
Tenriajeng (2003), proses pengerjaan land clearing secara umum adalah
sebagai berikut:
 Underbrushing
Underbrushing adalah kegiatan pembabatan pada land clearing yang
dilakukan terhadap pepohonan dengan diameter batang maksimal 30 cm.
 Felling /Cutting
Felling/Cutting adalah kegiatan pembabatan pada pepohonan dengan
diameter batang lebih dari 30 cm. Umumnya, pada kegiatan felling/cutting
pepohonan dibabat tanpa meninggalkan tunggul/akar dengan
meminimalisirkan kerusakan terhadap tanah pucuk dan batang pohon yang
produktif dimanfaatkan.
 Pilling
Pada kegiatan ini batang-batang pohon hasil pembabatan
dikumpulkan.Batang-batang produktif disimpan untuk selanjutnya
dimanfaatkan dan batang yang tidak produktif disiapkan untuk dilakukan
kegiatan selanjutnya.
 Burning
Pembakaran terhadap batang-batang yang telah ditumbangkan yang
tidak produktif.Kemudian abu hasil pembakaran disebarkan merata, yang
bertujuan untuk meningkatkan kesuburan tanah pucuk sebelum dipindahkan.

3.1.2 Pengupasan Overburden


Tanah (overburden) adalah material yang harus diambil sebelum dapat
dilakukan penambangan batubara. Terdapat dua jenis overburden yaitu tanah
pucuk (humus) dan tanah penutup berupa batuan.
a) Tanah Pucuk
Pengupasan tanah pucuk ini dilakukan terlebih dulu dan ditempatkan
terpisah terhadap batuan penutup (overburden), agar pada saat pelaksanaan
reklamasi dapat dimanfaatkan kembali. Pengupasan top soil ini dilakukan
sampai pada batas lapisan sub soil, yaitu pada kedalaman dimana telah sampai
di lapisan batuan penutup.
Kegiatan pengupasan tanah pucuk ini terjadi jika lahan yang digali
masih berupa rona awal yang asli (belum pernah digali/tambang).Tanah pucuk
yang telah terkupas selanjutnya diangkut menggunakan dump truck dan
disimpan pada lokasi tertentu yang dikenal dengan istilah top soil bank. Untuk
selanjutnya, tanah pucuk yang terkumpul di top soil bankakan dipergunakan
sebagai lapisan paling atas pada tahapan program reklamasi.
b) BatuanPenutup(Overburden)
Pembongkaran lapisan tanah penutup bertujuan untuk membuang
tanah penutup(overburden) agar endapan atau bahan galian mudah di dapat
atau mudah di tambang.Pengertian pengupasan tanah penutup sendiri adalah
pemindahan suatu lapisan tanah atau batuan yang berada di atas cadangan
bahan galian agar bahan galian tersebut dapat diambil.
Bila material tanah penutup tidak terlalu keras bisa langsung dilakukan
penggalian, namun apabila material penutup keras bisa menggunakan ripper
ataupun pemboran dan peledakan. Setelah tanah penutup dibongkar, maka
tanah dapat dimuat menggunakan excavatorke alat angkut dump truck untuk
di timbun ke disposal area.
3.1.3. Penggalian Batubara
Penambangan Batubara merupakan kegiatan penggalian Batubara yang
sudah tersingkap setelah tanah penutupnya dibuang. Kegiatan ini dilakukan
dengan menggunakan alat gali dan muat. Sebelum dilakukan pengambilan
batubara, ter;ebih dahulu dilakukan kegiatan membersihkan pengotor yang
berasal dari permukaan batubara (coalface) yang berupa material sisa tanah
penutup yang masih tertinggal sedikit, serta pengotor lain yang berupa agen
pengendappan (air permukaan, air hujan, longsoran). Untuk lapisan Batubara
yang keras, maka terlebih dahulu dilakukan penggaruan.
3.1.3.1. Penggaruan (Ripping)
Ripping atau penggaruan adalah metode untuk memecahkan Batubara
menggunakan Dozer yang dilengkapi oleh ripper. Ripping dilakukan apabila
kondisi Batubara keras dan tak bias digali langsung menggunakan excavator
type teeth bucket. Ripping hanya sekedar membantu membongkar Batubara
dan untuk proses loading tetap menggunakan excavator. Kemampuan
penggaruan (rippability) merupakan suatu ukuran apakah suatu massa batuan
mudah digaru, sulit digaru atau bahkan ti dak dapat digaru. Mudah atau
sukarnya batuan untuk diripping. Didasarkan atas sifat geologi dan geoteknik
dari batuan tersebut dan untuk mengetahuinya, maka perlu dilakukan uji
lapangan baik data struktur pelapukan dan air tanah. Hal ini dapat juga dapat
menentukan apakah penggalian batubara menggunakan proses ripping untuk
batubara yang dapat digaru atau blasting jika batuan sukar untuk digaru.
3.1.3.2. Penggalian Batubara (Caol Digging)
Setelah batubara dipecah atau diberai maka selanjutnya dilakukan
penggalian Batubara dengan mengguanakan excavator. Pekerjaan penggalian
batubara ini menggunakan peralatan berupa bulldozer yang dilengkapi alat
garu. Setelah batubara dibongkar, kemudian batubara dikumpulkan dengan
bulldozer yang memiliki blade. Batubara selanjutnya dimuat dengan
menggunakan excavator untuk dimasukkan kedalam alat angkut dump truck
untuk diangkut menuju dump hopper ataupun temporary stockpile.
Untuk menjaga lokasi bukaan tambang batubara agar tetap kering maka
disekeliling dari lantai bukaan tambang dibuatkan saluran/parit keliling dan
sumur (sump) untuk menampung air tirisan tambang dan ditampung di
settlingpond yang telah disiapkan atau dapat dimamfaatkan lubang bekas
bukaan tambang yang belum ditutup. Sedangkan untuk menghindari air run
off dari tanah penutup diatasnya, maka tiap jenjang dan lereng tanah penutup
dibuat saluran drainase.
3.1.3.3.Pemuatan (Loading) dan Pengangkutan Tanah (Overburden) dan
Batubara (Coal Hauling)
Loading merupakan proses pemuatan material hasil galian oleh alat
muat (loading equipment) seperti power shovel,backhoe,dragline,yang
dimuatkan pada alat angkut (hauling equipment) seperti dump truck,heavy
dump truck,kapal tongkang dan kereta api.Pola pemuatan saat penggalian
tergantung pada kondisi lapangan operasi pengupasan serta alat mekanis
yang digunakan dengan menggunakan asumsi bahwa setiap alat angkut yang
dating,mangkuk (bucket) alat gali muat sudah terisi penuh dan siap di
tumpahkan ke dalam alat angkut.Setelah alat angkut terisi penuh segera
keluar dan dilanjutkan dengan alat angkut lainnya sehingga tidak terjadi
waktu tunggu pada alat angkut maupun alat gali muatnya.
Pola pemuatan dapat dilihat dari beberapa keadaan yang ditunjukan
alat gali muat dan alat angkut,yaitu:
a. Cara Pemuatan Material
Cara pemuatan material oleh alat muat ke dalam alat angkut ditentukan
oleh kedudukan alat muat terhadap material dan alat angkut.Cara
pemuatan dibagi menjadi 2(dua),yaitu top loading dan bottom loading.
1) Top Loading
Top Loading merupakan cara pemuatan material dengan kondisi
kedudukan alat muat berada diatas tumpukkan material galian atau
berada diatas jenjang.Cara ini hanya dipakai pada alat muat
backhoe.Selain daripada itu cara ini memudahkan operator alat muat
backhoe untuk melihat bak sehingga lebih leluasa dalam
menempatkan material galian seperti pada Gambar 3.3 (a).
2) Bottom Loading
Ketinggian atau alat angkut dan truk adalah sama.Cara ini dipakai
pada alat muat power Shovel Gambar 3.3 (b).
b. Posisi Pemuatan
Posisi pemuatan dapat dilihat dari alat muat terhadap front penggalian
dan posisi alat angkut terhadap alat muat.Dapat dibedakan menjadi tiga
seperti pada gambar 3.4 yaitu Frontal Cut.
1) Frontal Cut
Alat muat berhadapan dengan muka jenjang atau front
penggalian.pada pola ini memuat pertama kali pada dump truck
sebelah kiri sampai penuh dan berangkat setelah itu dilanjutkan pada
dump truck sebe;ah kanan Gambar 3.4 (a)
2) Drive By Cut
Alat muat (backhoe) bergerak melintang dan sejajar dengan front
penggalian.Pola ini diterapkan apabila lokasi pemuatan memiliki dua
akses Gambar 3.4 (b).
3) Pararel Cut
Pararel cut terdiri dari dua metode berdasarkan cara
pemuatannya,yaitu single spotting/single truck back up dan double
spotting/double truck back up.
a) Singel Spotting/Singel Truck Back Up
Truk kedua menunggu selagi alat muat memuat ke truk
pertama,setelah truk pertama berangkat,truk kedua berputar dan
mundur.Saat truk kedua dimuat,truk ketiga dating melakukan
maneuver,dan seterusnya.
b) Double spotting/Double Truck Back Up
Truk memutar dan mundur ke salah satu sisi alat maut selagi alat
muat mengisi truk pertama.Begitu truk pertama berangkat,alat
muat mengisi truk kedua dimuati,truk ketiga dating dan lansung
berputar dan mundur kearah alat muat,demikian seterusnya.
Ukuran dan tipr dari alat muat yang dipakai harus sesuai dengan
kondisi lapangan dan keadaan alat angkutnya.Adapun hal yang mempengaruhi
produksi (output) alat muat (loading equipment) adalah:
a.Jenis/tipe dan kondisi alat muat,termasuk kapasitasnya
b.Jenis/macam material yang akan dikerjakan
c.Kapasitas dari alat angkut (hauling equipment)
d.Pola maut
e.Keahlian operator alat berat
Setelah dilakukan pemuatan kemudian batubara diangkat untuk
dibawa ketempat penyimpanan (stockpile) sedangkan untuk overburden
dibawa ke wastle dump nantinya digunakan untuk kegiatan pasca tambang
(Indonesianto,2005)
Kegiatan penggalian dan pengangkutan batubara ini,pada umumnya dilakukan
secara konvensional yaitu shovel and truck.Batubara diberai dauhulu dengan
bantuan ripper bulldozer lalu dimuat dengan excavator,yaitu kemudian
dilakukan pengangkutan menggunakan dump truck diangkut ke
stockpile.Kapasitas bucket excavator harus dimaksimalkan agar mengetahui
berapa unit dump truck yang dibutuhkan dalam menentukan efisien
kerja.Selanjutnya batubara akan diteruskan ke TLS (Train Loading Station)
ataupun ke temporary stock.produksi (output) dari pekerjaan pengangkutan ini
dipengaruhi oleh:
a.Kondisi jalan angkut
b.Banyak/tidaknya kemiringan jalan
c.Keahlian operator alat angkut
d.Hal-hal yang berpengaruh terhadap kecepatan dari alat angkut(hauling
equipment)

3.1.3.4 Penimbunan (Dumping)


Menurut Indonesianto (2005),dumping merupakan kegiatan
penimbunan material yang dipengaruhi oleh kondisi tempat
penimbunan,mudah atau tidaknya maneuver alat angkut tersebut selama
melakukan penimbunan.
Tanah penutup maupun tanah pucuk yang sebelumnya disimpan di
tempat penyimpanan sementara akan diangkut kembali ke daerah yang telah
tertambang (mined out).Kegiatan ini dimaksudkan agar pit bekas tambang
tidak meninggalkan lubang yang besar dan digunakan untuk rehabilitas lahan
pasca tambang dengan menggunakan metode backfiling.
Pada kegiatan penimbunan batubara,dilakukan dilokasi dump hopper
ataupun temporary stockpile.penimbunan batubara sebelum dip roses dan
menuju ke stockpile untuk dilakukan blend dan dikirm ke TLS (Train Loading
Station)
Pekerjaan penimbunan dipengaruhi oleh:
1.Cara melakukan penimbunan (side dump,rear dump,atau bottom dump)
2.Kondisi dari material yang akan ditumpahkan (Fragmentasi dan
kelengketannya).

3.1.3.5 Produktivitas Alat Gali Muat dan Alat Angkut


Kemampuan produksi penambangan dapat diketahui dengan
melakukan perhitungan kemampuan produksi alat mekanis masing-masing
rangkaian kerja yang telah ditetapkan.Kemampuan produksi alat muat dan alat
angkut dapat digunakan untuk menilai kemampuan kerja dari suatu
alat.Semakin besar hasil produksi suatu alat dalam waktu yang singkat berarti
produktivitas alat tersebut juga akan semakin baik.

3.1.3.6 Produktivitas Alat Gali Muat


Menurut permana (2011),Kemampuan produktivitas alat gali muat
merupakan besarnya produktivitas yang terpenuhi secara real oleh alat gali
muat berdasarkan pada kondisi yang dapat dicapai.
Menurut Indonesianto (2005),Produktivitas alat gali muat dapat
dihitung dengan menggunakan persamaan berikut:
Kb × 3600
Q= × 𝐸𝑓𝑓
𝐶𝑇

Keterangan:
Q =Produktivitas alat muat,bcm/jam atau ton/jam untuk batubara
Kb =Kapasitas bucket spec alat
Eff =Effesiensi kerja alat
CT =Waktu edar alat muat(excavator),detik

3.1.3.7 Produktivitas Alat Muat


Produktivitas alat angkut dapat dihitung dengan menggunakan
persamaan (indonesianto,2005) berikut:

60
Q= 𝑛 × Kb × 𝐶𝑇 × 𝐸𝑓𝑓

Keterangan:

n =Banyak pengisian

Q =Produktivitas alat angkut,bcm/jam atau ton/jam

Kb =Kapasitas bucket spec alat

Eff =Effisiensi kerja alat

CT =Waktu edar alat angkut (dump truck)(menit)

3.1.3.8 Faktor Keserasian Alat (Match Factor)

Pada kegiatan penambangan,keserasian kerja antara alat muat dan alat


angkut perlu diperhatikan (Yanto Indonesianto,2005).Untuk melihat
keserasian kerja antara alat gali muat dan alat angkut digunakan persamaan
berikut:
𝑏𝑎𝑛𝑦𝑎𝑘 𝑝𝑒𝑛𝑔𝑖𝑠𝑖𝑎𝑛 ×𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑎𝑙𝑎𝑡 𝑎𝑛𝑔𝑘𝑢𝑡 ×𝐶𝑇 𝑎𝑙𝑎𝑡 𝑔𝑎𝑙𝑖
MF = 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑎𝑙𝑎𝑡 𝑔𝑎𝑙𝑖 ×𝐶𝑇 𝑎𝑙𝑎𝑡 𝑎𝑛𝑔𝑘𝑢𝑡

Menurut Indonesianto (2005),jika MF < 1 maka ada waktu tunggu


(Wt) untuk alat gali muat,yaitu selama:

𝐶𝑡𝐻
Wt = 𝑛𝐿𝑥 − 𝐶𝑡𝐿
𝑛𝐻

Keserasian kerja antara alat muat dan alat angkut berpengaruh


terhadap factor kerja.Hubungan yang tidak serasi antara alat muat dan alat
angkutnakan menurunkan factor kerja.Faktor kerja alat muat dan alat angkut
akan mencapai 100% jika MF = 1,sedangkan bila MF < 1 maka factor kerja
alat angkut =100% dan factor kerja alat muat < 100% (alat loading menunggu
alat angkut).Sebaliknya bila MF > 1,maka factor kerja alat muat =100% dan
factor kerja alat angkut <100% (alat hauling antri).Keserasian kerja antara alat
muat dan alat angkut akan terjadi pada saat harga MF=1,pada saat itu
kemampuan alat muat akan sesuai dengan alat angkut (Indonesianto,2005).