Anda di halaman 1dari 31

1

Skenario 1

In-VitroFertilization (IVF)

Seorang pasangan suami istri dating ke klinik fertilitasuntuk melakukan embryo transfer
(ET). Pasien sedang dalam program in-vitro fertilization (IVF). Dokter menjelaskan bahwa
embrio akan ditanam dalam bentuk morula. Setelah dilakukan embrio transfer, dokter akan
memantau pertumbuhan dan perkembangan embrio lebih lanjut.

STEP1

1. In Vitro Fertilization : 1) Pembuahan dalam gelas (bayi tabung).


2) Proses pembuahan sel telur wanita oleh spermatozoa pria
yang terjadi diluar tubuh yang dilakukan dalam sebuah
tabung gelas.
2. Fertilitas : 1) Penggabungan sel sperma dan sel telur yang
menghasilakan zigot.
2) Proses penyatuan gamet pria dan wanita terjadi di daerah
ampula tuba uterina.
3. Uterus : Organ muskulus pada mamalia, tempat janin tubuh.
4. Morula : 1) Masa padat blastomer yang dibentuk melalui
Pembelahan zigot.
2) Fase pertama pertumbuhan embrio yang terdiri lebih dari
16 sel yang membentuk seperti bola.
5. Embryo Transfer : 1) Proses reproduksi dimana embrio ditempatkan ke
dalam rahim seorang wanita dengan maksud membangun
kehamilan.
2) Memasukan oosit dan sperma kedalam ampula tuba
fallopi.

STEP 2

1. Bagaimana proses fertilisasi?


2. Bagaimana pertumbuhan embrionya?
3. Berapakah usia produktif pasangan suami istri melakukan program IVF?
2

4. Bagaimana latar belakang melakukan bayi tabung?


5. Mengapa embrio harus ditanam di uterus dalam bentuk morula?
6. Bagaimana struktur dari ovum dan sperma?

STEP 3

1. Ovulasi Pindah ke tuba fallopi Peningkatan hormon Konsepsi


Implantasi
2. 1) Fertilisasi
2) Embrionik : a. Morula
b. Blastula
c. Glastula
3. Usia produktif pasutri di bawah usia38 tahun.
4. 1) Pengobatan merangsang induk telur.
2) Pengambilan sel telur.
3) pembuahan (fertilisasi).
4) Pemindahan embrio (ET).
5) Pengamatan terjadinya kehamilan.
5. Faktor : 1) Fisik
2) Hubunngan sexual
3) Psikologi
4) Infeksi
5) Hormon
6. Karena, uterus merupakan tempat yang paling tepat (banyak nutrisi). Morula masuk
ke blastula memerlukan uterus yang dimana morula harus menempel pada uterus.
7. 1) Sperma : Kepala, badan, ekor.
2) Ovum : Corona radiata, zona pelusida, germinal vesical, germinal space.

STEP 4

1. 1) Ovulasi : Keluarnya ovum dipengaruhi oleh hormon, pematangannya


dibantu oleh hormon LH.
2) Perpindahan ovum dari ovarium /folikel menuju Tuba Fallopi.
3) Hormon progestron (untuk menebalkan dinding rahim) akan berkembang menjadi
korpus lateum.
3

4) Konsepsi ada 3 : a. Penetrasi corona radiata.


b. Penetrasi zona pelusida.
c. Fusi membrane sel oosit dan sperma (penyatuan sel
telur dan sperma.
5) Implantasi : Perpindahan sel telur dari tuba fallopi ke uterus bersamaan
dengan pembelahan.
2. 1) Fertilisasi
2) Embrionik :
a. Morula : Fase pertama pertumbuhan embrio.
b. Blastula : Ruang antar sel menjadi konfluen dan akhirnya terbentuk
sebuah rongga.
c. Glastula : Embrio mengalami proses diferensiasi dengan menghilangkan
blastosol.
3. Usia istri kurang dari 38 tahun.
4. 1) Pengobatan merangsang sel telur
Kerja system reproduksi senantiasa berubah, sehingga pada tahap awal dokter
akan memberikan pengobatan yang berguna untuk menciptakan kadar hormon /
reproduksi yang sesuai.
2) Pengambilan dan sperma
Teknik yang biasa dilakukan untuk mengambil sel telur adalah Transvaginal
Oocyte Recovery, sedangkan untuk pengambilan sperma dapat melalui masturbasi
atau prosedur pengambilan khusus diruang operasi.
3) Pembuahan (fertilisasi)
Spermatozoa dan sel telur dipertemukan disebuah cawan seperti gelas di
dalam laboratorium.
4) Pemindahan embrio (ET)
Penanaman embrio akan dilakukan dalam ruang khusus.
5) Pengamatan terjadinya kehamilan
5. Faktor yang mempengaruhi :
1) Fisik : Seperti ada kecacatan dalam fisik suami atau istri,
seperti lumpuh pada bagian punggung sampai kaki pada
suami.
2) Hubungan sexual : Jarangnya pasangan suami istri melakukan hubungan
4

sex dan tidak teraturnya pasangan suami istri melakukan


hubungan sex.
3) Psikologi : Tidak harmonisnya hubungan suami istri.
4) Infeksi :Infeksi dapat menyebabkan gangguan pada suami
Istri, seperti peradangan pada vagina.
5) Hormon : Ketidak seimbangan jumlah hormon dapat
Mempengaruhi ke fertilan seseorang, seperti kelainan jumlah
hormon pada hormon gonadotropin, FSH, dll.
6. Karena pada uterus terdapat lapisan endometrium atau lapisan mukosa pada dinding
bagian dalam, lapisan ini akan membantu implantasi dan ikut membentuk plasenta.
Sedangkan morula yang berkembang ke blastula membutuhkan uterus untuk tempat
melekat.
Morula : 1) Iner Cell Mast akan membentuk embrioblas.
2) Outer Cell Mast akan membentuk trofoblas sehingga akan menempel
pada endometrium uterus, sehingga morula dapat terisi cairan.

7. 1) Sperma

2) Ovum
5

Mind map

Pertumbuhan
Pembelahan sel dan embrio
sel dan embrio Perkembangan
sel dan embrio

Proses

Fertilisasi

Latar belakang

Struktur In vitro fertilization Proses

Sperma Dampak
Ovum

Normal
Normal
Tidak Normal Tidak Normal

STEP 5

1. Bagaimana proses perkembangan, pertumbuhan, dan pembelahan sel dan embrio ?


2. Bagaimana struktur sperma dan ovum yang normal dan tidak normal ?
3. Apa latar belakang, proses, dan dampak in vitro fertilization ?

Refleksi Diri
6

Alhamdulillah pbl kali ini dapat berjalan dengan baik dan lancar, kelompok kami dapat
menjawab sasaran belajar dengan baik dan benar.

STEP 6

Belajar mandiri

STEP 7

1. A.Proses Fertilisasi

Proses penyatuan gamet pria dan wanita yang terjadi di daerah ampulla tuba fallopi.
Spermatozoa yang masuk vagina harus mengalami kapasitasi dan reaksi akrosom.

Kapasitasi : masa penyesuaian dalam saluran reproduksi wanita di mana


terjadi pelepasan selubung glikoprotein dan protein
-protein plasma semen yang membungkus akrosom yang
berlangsung kira -kira 7 jam pada manusia

Reaksi akrosom : reaksi pelepasan enzim--enzim dari akrosom untuk menembus


lapisan--lapisan oosit dengan diinduksi oleh protein--protein
zona

Fase fertilisasi meliputi:

1) Fase 1, penetrasi korona radiata


Dari 200-300 juta spermatozoa hanya 300-500 yang mencapai tempat
fertilisasi. Hanya satu dari spermatozoa ini yang membuahi sel telur.
Spermatozoa lainnya membantu sperma yang membuahi dalam penetrasi
sawar yang melindungi gamet wanita.
2) Fase 2, penetrasi zona pelusida
Zona ini merupakan selubung glikoprotein yang mengelilingi sel telur yang
mempermudah dan mempertahankan. Baik pengikatan maupun reaksi
akrosom ini diperantarai oleh ligan ZP3, suatu protein zona. Pelepasan enzim
akrosom (akrosin) memungkinkan sperma menembus zona sehingga
berkontak dengan membran plasma oosit. Permeabilitas zona pelusida berubah
ketika kepala sperma berkontak dengan permukaan oosit. Kontak ini
menyebabkan pelepasan enzim lisosom dari. Granula korteks yang melapisi
7

membran plasma oosit. (reaksi zona) untuk mencegah penetrasi sperma dan
menginaktifkan tempat-tempat reseptor spesifik-spesies untuk spermatozoa di
permukaan zona
3) Fase 3, penyatuan membran sel oosit dan sperma
Perlekatan awal sperma pada oosit diperantarai sebagian oleh interaksi
integrin di oosit dan ligannya. Sesudah perlekatan, membran plasma sperma
dan sel telur menyatu.Oleh karena tudung kepala selama reaksi akrosom
menghilang. Segera setelah spermatozoa masuk ke oosit, sel telur merespons
dalam tiga cara :
1. Reaksi korteks dan zona
2.Melanjutkan pembelahan meiosis Kedua
3. Pengaktifan metabolik sel Telur

Hasil fertilisasi meliputi:


1. Pengembalian jumlah diploid kromosom, separuh dari ayah dan ibu. Oleh sebab
itu, zigot mengandung kombinasi baru kromosom yang berbeda dari kedua orang
tuanya.
2. Penentuan jenis kelamin individu baru. Sperma pembawa kromosom X
menghasilkan mudigah wanita (XX) wanita.Kromosom Y menghasilkan mudigah
(XY) Laki-laki.oleh karena itu kromosom mudigah ditentukan ketika fertilisasi.
3. Inisiasi pembelahan. Tanpa fertilisasi, oosit biasanya mengalami degenerasi 24 jam
sesudah ovulasi.
( Guyton , 2014)

B. Pembelahan Sel

a) Mitosis
Mitosis sel adalah proses pemisahan sel menjadi dua sel baru. Begitu kromosom telah
bereplikasi membentuk dua kromatid, di banyak sel, mitosis akan terjadi secara
otomatis dalam waktu 1 sampai 2 jam.

Pembelahan sel secara mitosis ini dilaksakan untuk memperbanyak sel yang ada
dalam tubuh makhluk hidup ini dapat bertambah besar/bertumbuh. Sebenarnya dalam
setiap pembelahan sel dapat dilihat adanya dua macam pembelahan yang terjadi
secara berurutan, yaitu pembelahan inti sel atau kariokinesis yang kemudian diikuti
8

pembelahan secara sitoplasma atau sitokinesis. Pembelahan sitoplasma terjadi secara


sederhana sehingga tidak banyak diamati sedangkan pembelahan inti terjadi secara
lebi kompleks karena dalam inti sel inilah terdapat kromosom yang akan menentukan
sifat-sifat dari sel keturunan yang terjadi setelah pembelahan sel selesai.

(Gambar 1. Proses Mitosis Sel )

(Guyton, 2014)

Aparatus Mitosis: Fungsi Semtriol. Salah satu peristiwa awal dari proses mitosis
yang terjadi pada sitoplasma, terjadi selama bagian akhir dari interfase, di dalam atau
di sekeliling struktur-struktur kecil yang disebut sebagai sentriol. Seperti yang
diperlihatkan oleh Gambar 3-14, dua pasang sentriol terletak berdekatan satu sama
lain dekat salah satu kutub nucleus. Sentriol ini, seperti DNA dan kromosom, juga
direplikasikan selama interfase, biasanya segera sebelum replikasi DNA. Setiap
sentriol adalah suatu badan silindris kecil, dengan panjang sekitar 0,4 µm dan
berdiameter sekitar 1,5 µm, yang terutama terdiri atas sembilan struktur tubulus
pararel, dan tersusun berbentuk silinder. Kedua sentriol dari setiap pasang kromosom
terletak tegak lurus satu sama lain. Setiap pasang sentriol, bersama dengan materi
parisentriol yang melekat disebut sebagai sentrosom.
9

Segera sebelum mitosis berlangsung, kedua pasang sentriol mulai bergerak


menjauhi satu sama lain. Hal ini disebabkan oleh polimersasi protein mikrotubulus
yang tumbuh diaantara kedua pasangan sentriol dan mendorong kedua sentriol
menjauhi satu sama lain. Pada waktu yang sama, mikrotubulus yang lain tumbuh
secara radial menajauhi setiap pasangan sentriol, membentuk suatu bintang berduri,
disebut aster, disetiap ujung sel. Beberapa duri aster menembus nukleus dan
memisahkan kedua set kromatid selama mitosis. Kompleks mikrotubulus yang
memanjang diantara kedua pasang sentriol disebut gelondong, dan seluruh perangkat
mikrotubulus ditambah dua pasang sentriol disebut badan mitosis.

(Juwarno, 2002)

Pada dasarnya mitosis terjadi melalui beberapa tahap yang meliputi:

1. Profase
Pada tahap profase ini mula-mula sentriol telah mengalami replikasi dan terletak
di tengah sel/di dekat inti akan bergerak menuju ke tepi diikuti oleh adanya
mikrotubuli yang membentuk bangunan radiair mengelilingi setiap sentriol sehingga
tampak seperti sinar bintang dan dinamakan ester.
Sentriol dengan asternya akan bergerak terus ke pinggir sel dan sementara itu
mikrotubuli akan membentuk bangunan yang seperti kumparan yang dinamakan
spindel. Di dalam inti sel akan terjadi pula perubahan perubahan yang dimulai dengan
perubahan pada kromosom. Benang-benang kromatin yang dimulai dengan perubahan
pada kromosom. Benang –benang kromatin yang dalam tahap interfase telah
membentuk pasangan-pasangan kromatid yang mempunyai bagian yang mengecil
yang dinamakan kinektor akan melakukan gerakan memutar dengan kinektornya
sebagai pusat gerakan sehingga benang-benang ini akan memutari satu sama lain
disertai dengan pemendekan benang-benang kromatid sehingga tampak menjadi lebih
tebal. Dengan demikian maka susunan dan bentuk kromatid akan tampak lebih jelas
sebagai satu bangunan yang berupa kromosom dengan sentromer dan lengan-
lengannya.
Selain itu, dalam inti sel akan dapat dilihat bahwa nucleolus akan mengecil dan
akhirnya menghilang. Demikian pula dinding inti sel akan menghilang sedikit demi
sedikit.
10

Dengan demikian pada akhir tahap profase ini akan didilihat adanya perubahan-
perubahan:
1. Membran inti telah menghilang
2. Nukleous telah menghilang
3. Sentriol telah mencapai kutub-kutub pembelahan sel dengan mempunyai aster dan
spindel yang menghubungkan kedua unit sentriol
4. Benang-benang kromatid telah terlihat sebagai kromosom yang telah mempunyai
sentromer lengkap dengan lengan-lengannya.
2. Metafase
Pada tahap ini benang kromatid yang telah membentuk kromosom akan
menempatkan diri di bidang ekuator antara dua buah kutub pembelahan. Pada waktu
itu juga terbentuk benang-benang penghubung antara kinekotor dengan kutub-kutub
pembelahan sel yang dinamakan chromosomal fibers yang nantinya bertindak seolah-
olah sebagai benang yang menarik kromatid kea rah kutub-kutub pembelahan sel.
Setelah semua kromatid tersusun dalam bidang ekuator, kromatid ini akan mulai
terpisah dari pasangannya dan masing-masing akan dihubungkan dengan kutub
pembelahan sel pada setiap sisi. Tahap metafase ini diakhiri dengan tertariknya
bagian kinekotor kearah kutub pembelahan sel masing-masing sementara itu bagian
lengan kromatidnya masih melekat satu sama lain.
3. Anafase
Pada tahap ini akan terjadi pemisahan lengan-lengan kromatid secara sempurna
sehingga betul-betul terbentuk kromosom yang masing-masing akan bergerak menuju
kearah kutub pembelahan sel. Pergerakan kromosom ini semula diduga akibat tarikan
benang-benang spindel yang menghubungkan kinektor dengan kutub pembelahan sel
tetapi dari hasil penelitian selanjutnya diketahui bahwa pergerakan ini disebabkan
oleh karena pemendekan chromosomal fibers yang tersusun dari mikrotubuli yang
mengandung tubulin yang akan mengalami polimerisasi sehingga mikrotubulinya
memendek
Pada tahap akhir anaphase ini ini akan tampak bahwa kromosom telah berkumpul
atau mengelompok pada masing-masing kutub pembelahan sel dan disamping itu
membrane plasma akan tampak mulai berubah sehingga sel akan tampak lebih
memanjang atau lonjong.
4. Telofase
11

Pada telofase kedua set kromosom anak ditarik menjauh sepenuhnya. Kemudian
apparatus mitosis menghilang, dan sebuah membrane nukleus yang baru terbentuk di
sekitar setiap set kromosom. Membaran ini dibentuk dari bagian reticulum
endoplasma yang sudah terdapat didalam sitoplasma. Segera setelah itu, sel akan
terjepit pada bagian pertengahan di antara kedua nukleus.
Proses ini disebabkan oleh terbentuknya cincin kontraktil mikrofilamen yang
tersusun atas aktin dan mungkin miosin (dua protein kontraktil otot) pada
persimpangan sel yang baru terbentuk, yang menjepit nukleus dan memisahkannya
satu sama lain.
Jadi pada akhir tahap telofase ini akan terbentuk dua sel yang sama dalam bentuk
dan sifatnya karena berasal dari satu sel dan masing-masing mengandung kromosom
yang sama karena kromosomnya juga berasal dari satu kromosom yang mengalami
replikasi. Kromosom yang terdapat dalam sel muda ini mempunyai sifat diploid
sehingga nantinya akan mempunyai kemampuan untuk mengadakan replikasi
membentuk pasangan kromosom pada pembelahan berikutnya.
(Juwarno, 2002)
12

(Gambar 2. Mitosis sel )

(Juwarno,2002)

b) Meiosis

Meiosis adalah Proses di mana jumlah kromosom menjadi setengahnya selama


pembentukan gamet. Dalam meiosis, sel yang berisi kromosom diploid diubah
menjadi empat sel Kebanyakan sel tumbuhan dan hewan merupakan diploid. Istilah
diploid berasal dari Diplos Yunani, yang berarti “ganda” atau “dua”; istilah ini
menyiratkan bahwa sel-sel tumbuhan dan hewan memiliki dua set kromosom.

Dalam sel manusia, misalnya, 46 kromosom diatur dalam 23 pasang. Oleh karena
itu, sel-sel manusia adalah diploid yakni mereka memiliki dua set kromosom 23 per
set. Selama reproduksi generatif, sel kelamin organisme induk bersatu dengan satu
sama lain dan membentuk sel telur yang dibuahi. Dalam situasi ini, setiap sel seks
gamet. Gamet dari sel manusia yang haploid, dari haplos Yunani, yang berarti
“tunggal.” Istilah ini menyiratkan bahwa setiap gamet berisi satu set kromosom-
kromosom 23 pada manusia. Ketika gamet manusia bersatu dengan satu sama lain,
kondisi diploid asli 46 kromosom dibangun kembali. Mitosis kemudian membawa
perkembangan sel diploid menjadi organisme.

Meiosis terjadi dengan serangkaian langkah-langkah yang menyerupai langkah-


langkah mitosis. Dua fase utama meiosis terjadi: meiosis I dan meiosis II. Selama
meiosis I, satu sel membelah menjadi dua. Selama meiosis II, dua sel masing-masing
membagi lagi. Tahapan demarkasi sama mitosis terjadi dalam meiosis I dan meiosis
II.

a) Meiosis I

Pada awal meiosis 1, sel manusia mengandung 46 kromosom, atau 92 kromatid


(jumlah yang sama seperti selama mitosis). Meiosis I berlangsung melalui beberapa
tahap sebagai berikut:

1) Profase I
13

Profase I adalah serupa dalam beberapa cara dengan profase pada mitosis.
Kromatid memperpendek dan menebal dan menjadi terlihat di bawah
mikroskop. Perbedaan yang penting, adalah bahwa proses yang disebut
sinapsis terjadi. Proses kedua disebut pindah silang juga berlangsung selama
profase 1.

Selama profase 1, dua kromosom homolog datang mendekat satu sama lain.
Karena setiap kromosom homolog terdiri dari dua kromatid, sebenarnya ada
empat kromatid sejajar berdampingan satu sama lain. Ini kombinasi dari empat
kromatid disebut tetrad, dan datang bersama-sama adalah disebut proses
sinapsis.

Setelah sinapsis telah terjadi, proses pindah silang terjadi. Dalam proses ini,
segmen DNA dari satu kromatid dalam tetrad lolos ke kromatit lain dalam
tetrad tersebut. pertukaran segmen kromosom Ini berlangsung secara
kompleks dan kurang dipahami. Mereka menghasilkan kromatid genetik baru.
Pindah silang merupakan pendorong penting evolusi. Setelah pindah silang
telah terjadi, empat kromatid dari tetrad yang secara genetik berbeda dari
aslinya kromatid yang empat.

2) Metafase I

Dalam metafase I meiosis, tetrad menyelaraskan pada pelat Ekuatorial


(seperti pada mitosis). Sentromer menempel pada serat gelendong, yang
membentang dari kutub sel. Satu sentromer menempel tiap serat spindle.

3) Anafase I

Pada anafase 1, kromosom homolog terpisah. Satu homolog kromosom


(terdiri dari dua kromatid) bergerak ke salah satu sisi sel, sedangkan
kromosom homolog lainnya (yang terdiri dari dua kromatid) bergerak ke sisi
lain dari sel. Hasilnya adalah bahwa 23 kromosom (masing-masing terdiri dari
dua kromatid) pindah ke salah satu tiang, dan 23 kromosom (masing-masing
terdiri dari dua kromatid) pindah ke kutub yang lain. Pada dasarnya, jumlah
14

kromosom sel dibelah dua. Untuk alasan ini prosesnya adalah pengurangan-
pembelahan.

4) Telofase I

Dalam telofase I meiosis, inti mereorganisasi, kromosom menjadi kromatin,


dan pembagian sitoplasma menjadi dua sel berlangsung. Proses ini terjadi
secara berbeda dalam sel tumbuhan dan hewan, seperti pada mitosis. Setiap sel
anak (dengan 23 kromosom masing-masing terdiri dari dua kromatid)
kemudian memasuki interfase, di mana tidak ada duplikasi DNA. Periode
interfase mungkin singkat atau sangat lama, tergantung pada spesies
organisme.

(Gambar 3 Proses meiosis 1)

(Sadler, 2012)

b) Meiosis II

Meiosis II adalah subdivisi utama kedua dari meiosis. Hal ini terjadi pada
dasarnya cara yang sama seperti mitosis. Pada meiosis II, sel yang berisi 46 kromatid
yang mengalami pembelahan menjadi dua sel, masing-masing dengan 23 kromosom.
Meiosis II berlangsung melalui beberapa tahap sebagai berikut:

1) Profase II
15

Profase II mirip dengan profase mitosis. materi kromatin memadat, dan


setiap kromosom mengandung dua kromatid yang melekat pada sentromer. 23
pasang kromatid, total 46 kromatid, kemudian pindah ke plat Ekuatorial.
2) Metafase II
Dalam metafase II dari meiosis, 23 pasang kromatid berkumpul di tengah
sel sebelum pemisahan. Proses ini identik dengan metafase pada mitosis.
3) Anafase II
Selama anafase II dari meiosis, sentromer membagi, dan 46 kromatid
menjadi dikenal dengan 46 kromosom. Kemudian 46 kromosom terpisah satu
sama lain. Serat gelendong melakukan migrasi kromosom dari setiap pasangan
untuk satu kutub dari sel dan anggota lain dari pasangan ke tiang lainnya. Secara
keseluruhan, 23 kromosom pindah ke masing-masing tiang. Kekuatan dan
perlekatan yang beroperasi dalam mitosis juga beroperasi di anafase 11.
4) Telofase II
Selama telofase II, kromosom berkumpul di kutub sel dan menjadi tidak
jelas. Sekali lagi, mereka membentuk massa kromatin. Selubung nukleus
berkembang, nukleolus muncul kembali, dan sel mengalami sitokinesis seperti
pada mitosis.
Selama meiosis II, setiap sel mengandung 46 kromatid menghasilkan dua
sel, masing-masing dengan 23 kromosom. Awalnya, ada dua sel yang mengalami
meiosis II, sehingga hasil dari meiosis II adalah empat sel, masing-masing dengan
23 kromosom. Masing-masing dari empat sel adalah haploid, yaitu, setiap sel
berisi satu set kromosom. 23 kromosom dalam empat sel dari meiosis tidak
identik karena pindah silang telah terjadi di profase 1. Ini pindah silang
menghasilkan variasi sehingga masing-masing empat sel yang dihasilkan dari
meiosis berbeda dari tiga lainnya. Dengan demikian, meiosis menyediakan
mekanisme untuk memproduksi variasi dalam kromosom. Juga, itu menyumbang
pembentukan empat sel haploid dari sel diploid tunggal.

(Sadler, 2012)

C. Siklus Sel

Siklus sel memiliki empat fase yang berbeda: mitosis dan tiga periode interfase yang
disebut G1 (jeda waktu antara mitosis dan replikasi DNA), S (periode sintesis DNA),
16

dan G2 (jeda waktu antara duplikasi DNA dan mitosis berikutnya). Perkiraan lama fase-
fase tersebut pada sel yang sangat cepat membelah dilukiskan dalam Gambar 1 dan
Gambar 2. Selama fase G1 terjadi sintesis aktif RNA dan protein, termasuk protein
yang mengatur siklus sel, dan volume sel yang ukurannya telah berkurang separuh
akibat mitosis kembali ke ukuran semula. Fase S ditandai dengan sintesis DNA dan
histon dan awal duplikasi sentrosom. Pada fase G2 yang relatif singkat, protein
diperlukan untuk mitosis menumpuk. Saat sel pascamitotik mulai mengalami
spesialisasi dan diferensiasi, aktivitas siklus sel dapat terhenti sementara atau permanen
dan sel dalam keadaan ini dikatakan berada dalam fase G0. Beberapa sel yang
terdiferensiasi seperti sel hati, memperbarui siklus pada kondisi tertentu; sel-sel lain,
termasuk kebanyakan sel otot dan saraf, terdiferensiasi secara terminal.

Pengaturan siklus sel pascamitosis (memintas tahap G0) dipicu oleh sinyal protein
dari lingkungan ekstrasel yang disebut mitogen atau faktor pertumbuhan, yang
mengaktifkan, yang mengaktifkan reseptor permukaan sel. Nutrien dan protein yang
diperlukan untuk replikasi DNA berakumulasi dan ketika semuanya siap (pada titik
restriksi), sintesis DNA dimulai. Masuknya atau kemajuan melalui setiap fase siklus ini
diatur oleh set protein spesifik, yaitu siklin dan kinase dependen-siklin (CDK, cyclin-
dependent kinase); masing-masing memfosforilasi protein pada berbagai kompleks lain
(seperti lamina inti pada awal mitosis). Dengan demikian, berbagai aktivitas sel
dikoordinasikan dengan fase siklus sel yang spesifik.

Kemajuan melalui siklus sel juga diatur oleh berbagai sinyal yang menghambat
berlangsungnya siklus pada kondisi yang tidak mendukung. Kerusakan DNA dapat
menghentikan siklus sel tidak hanya pada titik restriksi fase G1 melainkan juga selama
fase S atau pada checkpoint di G2 (gambar 2). Terhentinya fase G1 memungkinkan
terjadinya perbaikan kerusakan, sebelum sel memasuki fase S, sehingga DNA yang
rusak tidak direplikasi. Jika masalah yang dijumpai pada stiap checkpoint tidak dapat
dikoreksi ketika siklus sedang berhenti, protein atau gen supresor tumor (seperti p53)
akan teraktifkan dan aktivasi sel diarahkan ulang menuju bunuh diri atau apoptosis sel.
Gen yang menjadi p53 sering mengalami mutasi pada sel kanker sehingga mengurangi
kemampuan sel untuk mendeteksi dan memperbaiki DNA yang rusak. Pewarisan DNA
yang rusak oleh sel anak menimbulkan peningkatan jumlah mutasi dan instabilitas
umum pada genom, yang dapat ikut berperan pada timbulnya kanker.
17

Gambar 4. Siklus sel (Guyto, 2014). Kemampuan mengenali sel secara


mikroskopis selama mitosis dan replikasi DNA (melalui autoradiografi setelah
pemberian timidin yang dilabel zat radioaktif) menghasilkan konsep siklus sel. Pada
konsep ini, sel interfase baru mengalami suatu periode setelah menyelesaikan mitosis
dan sebelum memulai sintesis DNA, yang disebut celah pertama atau fase G1. Celah
lainnya, G2 terjadi setalah replikasi DNA dan sebelum profase mitosis berikutnya.
Setelah mitosis, kedua sel baru mengulang siklus ini. Pada sel yang membelah, fase G1
merupakan periode ketika sel menumpuk enzim dan nukleotida yang diperlukan untuk
replikasi DNA, S adalah periode yang ditujukan terutama untuk replikasi DNA, G2
biasanya merupakan periode singkat untuk persiapan mitosis dan M mencakup semua
fase mitosis itu sendiri. Pada jaringan manusia yang cepat tumbuh, lama siklus sel
bervariasi dari 24 jam hinggga 36 jam. Lama G1 bergantung pada banyak faktor dan
biasanya merupakan periode yang paling lama dan paling bervariasi; lama fase S
sebagian besar merupakan fungsi dari ukuran genom. Fase mitosis dan G2 biasanya
hanya berlangsung selama 2-3 jam.
18

Gambar 5. Kontrol siklus sel (Guyton, 2014). Salah satu faktor yang menentukan
lamanya waktu yang dihabiskan sel pada fase G1 adalah keadaan diferensiasi sel, atau
seberapa banyak waktu yang dihabiskan untuk mengekspresikan produk gen yang
spesifik untuk tipe selnya sebelum melanjutkan replikasi DNA. Sel yang berdiferensiasi
di jaringan yang tumbuh dapat memiliki periode G1 yang sangat lama dan sel semacam
itu sering dikatakan berada pada fase G0 siklus sel. Dari fase ini, banyak sel yang
terdiferensiasi dapat kembali ke siklus, tetapi beberapa bertahan dalam G0 untuk waktu
lama atau bahkan seumur hidup. Kelanjutan ke setiap fase siklus sel diatur oleh protein
yang disebut siklin dan kinase dependen-siklin yang memfosforilasi atau mengaktifkan
banyak protein yang diperlukan untuk fungsi yang spesifik untuk setiap fase. Aktivitas
siklin menghasilkan suatu titik restriksi (R) penting pada tahap akhir G1 dan titik
pemeriksaan (checkpoint) serupa di G2/M yang diperlukan untuk mempertahankan
stabilitas kromosom dan viabilitas sel. Titik-titik kontrol ini menghentikan siklus pada
keadaan yang tidak mendukung bagi sel dan memastikan bahwa tidak ada replikasi
DNA atau fase mitosis yang terjadi secara prematur. Contohnya di titik pemeriksaan
G2/M sel mengalami jeda sementara enzim memastikan bahwa semua DNA telah
bereplikasi secara benar.

D. Tahapan Perkembangan Embrio


Perkembangan embrio dimulai dari pembelahan zygote (cleavage), stadium
morula (morulasi), stadium blastula (blastulasi), stadium gastrula (gastrulasi), dan
stadium organogenesis.
19

1) Stadium Cleavage (Pembelahan)

Cleavage adalah pembelahan zygote secara cepat menjadi unit-unit yang lebih
kecil yang di sebut blastomer. Stadium cleavage merupakan rangkaian mitosis yang
berlangsung berturut-turut segera setelah terjadi pembuahan yang menghasilkan
morula dan blastomer.

(Gambar 6. Proses Awal Pembelahan Embrio)


(Sadler, 2015)
Pembelahan pada manusia, berlangsung seiring dengan perangkat-perangkat
pelekatan dari embrio kepada dinding uterus induknya. Telur manusia pada umumnya
tidak memiliki yolk, dibuahi disaluran telur sewaktu bergerak kearah uterus dan
pembelahan-pembelahan awalnya berlangsung kurang dari 24 jam. Pembelahannya
adalah meridional tidak ekual. Pembelahan berikutnya agak tidak teratur, tetapi
dengan cepat membentuk suatu bola padat berisi sel, yang disebut morulla.

a) Stadium Morula

Morula merupakan pembelahan sel yang terjadi setelah sel berjumlah 32 sel
dan berakhir bila sel sudah menghasilkan sejumlah blastomer yang berukuran sama
akan tetapi ukurannya lebih kecil. Sel tersebut memadat untuk menjadi blastodik
kecil yang membentuk dua lapisan sel. Pada saat ini ukuran sel mulai beragam. Sel
membelah secara melintang dan mulai membentuk formasi lapisan kedua secara
samar pada kutup anima. Stadium morula berakhir apabila pembelahan sel sudah
menghasilkan blastomer. Blastomer kemudian memadat menjadi blastodisk kecil
membentuk dua lapis sel. Pada akhir pembelahan akan dihasilkan dua kelompok
sel. Pertama kelompok sel-sel utama (blastoderm), yang meliputi sel-sel formatik
atau gumpalan sel-sel dalam (inner mass cells), fungsinya membentuk tubuh
embrio. Kedua adalah kelompok sel-sel pelengkap, yang meliputi trophoblast,
20

periblast, dan auxilliary cells. Fungsinya melindungi dan menghubungi antara


embrio dengan induk atau lingkungan luar.

(Gambar 7 Bentuk Morulla pada Embrio Manusia)


(Sadler, 2015)

Tropoblast melekat pada dinding uterus. Sel-selnya memperbanyak diri


dengan cepat dan memasuki epitelium uterus pada tahap awal implantasi. Setelah
9 hari, seluruh blastokista tertahan dalam dinding uterus. Sewaktu ini
berlangsung, sel-sel yang berada disebelah bawah dari masa sel dalam menyusun
diri menjadi suatu lapisan yang disebut endoderm primer, yang akan membentuk
saluran pencernaan makanan. Sel-sel sisa dari masa sel dalam memipih
membentuk suatu keping yaitu, keping embrio. Antara keping embrio dan
tropoblast yang menutupi timbulnya suatu rongga (rongga amnion) berisi carian.
Dinding rongga yaitu amnion, menyebar mengelilingi embrio dan dikelilingi
bantalan yaitu cairan amnion.

b) Stadium Blastula
Blastulasi adalah proses yang menghasilkan blastula yaitu campuran sel-sel
blastoderm yang membentuk rongga penuh cairan sebagai blastocoel. Pada akhir
blastulasi, sel-sel blastoderm akan terdiri dari neural, epidermal, notochordal,
mesodermal, dan endodermal yang merupakan bakal pembentuk organ-organ.
Dicirikan dua lapisan yang sangat nyata dari sel-sel datar membentuk blastocoel dan
blastodisk berada di lubang vegetal berpindah menutupi sebagian besar kuning telur.
Pada blastula sudah terdapat daerah yang berdifferensiasi membentuk organ-organ
21

tertentu seperti sel saluran pencernaan, notochorda, syaraf, epiderm, ektoderm,


mesoderm, dan endoderm.

Pada manusia, hasil pembelahan berbentuk suatu bola padat (morulla).


Lapisan luar dari blastula ini membentuk lapisan yang mengelilingi embrio
sebenarnya, sedangkan embrio dibentuk dari bagian morulla (inner cells mass
atau masa sel dalam)./lapisan luar (tropoblast) pada satu sisi masa sel dalam
melepaskan diri, membentuk suatu bentuk yang mirip suatu blastula dan struktur
ini disebut sebagai blastokista. Embrio akan menempel dan menetap pada dinding
uterus untuk periode waktu tertentu, ditempat dimana embrio akan mendapatkan
makanan sampai dilahirkan.

c) Stadium Gastrula

Setelah embrio menjalani tahap pembelahan dan tahap blastula, embrio


akan masuk kedalam tahapan yang paling kritis selama tahap perkembangannya,
yaitu stadium grastula. Grastulasi ditandai dengan terjadinya perubahan susunan
yang sangat besar serta sangat rapi dari sel-sel didalam embrio. Salah satu
perubahan utama dalam yang terjadi selama masa grastulasi adalah bahwa sel-sel
memperoleh dan mencapai suatu kemampuan untuk melakukan gerakan
morfogentik, sehingga terjadi reorganisasi seluruh atau sebagian didaerah kecil
didialam embrio. Gastrulasi adalah proses perkembangan embrio, di mana sel
bakal organ yang telah terbentuk pada stadium blastula mengalami perkembangan
lebih lanjut. Proses perkembangan sel bakal organ ada dua, yaitu epiboli dan
emboli. Epiboli adalah proses pertumbuhan sel yang bergerak ke arah depan,
belakang, dan ke samping dari sumbu embrio dan akan membentuk epidermal,
sedangkan emboli adalah proses pertumbuhan sel yang bergerak ke arah dalam
terutama di ujung sumbu embrio. Stadium gastrula ini merupakan proses
pembentukan ketiga daun kecambah yaitu ektoderm, mesoderm dan endoderm.
Pada proses gastrula ini terjadi perpindahan ektoderm, mesoderm, endoderm, dan
notochord menuju tempat yang definitif. Pada periode ini erat hubungannya
dengan proses pembentukan susunan syaraf. Gastrulasi berakhir pada saat kuning
telur telah tertutupi oleh lapisan sel. Beberapa jaringan mesoderm yang berada di
sepanjang kedua sisi notochord disusun menjadi segmen segmen yang disebut
somit yaitu ruas yang terdapat pada embrio.
22

(Gambar 8. Proses Grastulasi Manusia)

(Sadler, 2015)

Grastulasi pada manusia terjadi pada blastokista yang terdiri atas tropoblast
dan masa sel dalam yang merupakan bakal tumbuh embrio. Pemisahan pertama dari
sel-sel pada masa sel dalam adalah untuk pembentukan hipoblast, yang membatasi
rongga blastula dan yang akan mejadi endoderm kantung yolk. Sisa dari masa sel
dalam yang terletak diatas hipoblast terbentu suatu keping, yang disebut keping
embrio. Epiblast memisahkan diri, dengan membentuk suatu rongga yang disebut
amnion, dari epiblast yang mengandung semua bahan untuk pembentukan tubuhnya,
jadi identik dengan epiblast pada burung.Sambil epiblast mengalami grastulasi. Sel-
sel ekstra embrio mulai membentuk jaringan khusus agar embrio dapat hidup dalam
uterus induk. Sel-sel tropoblast membentuk suatu populasi sel dan membentuk
sinsistropoblast. Sinsitropoblast memasuki permukaan uterus sehingg uterus
tertanam dalam uterus. Uterus sebaliknya membentuk banyak pembuluh darah yang
berhubungan dengan sinsitropoblast. Tidak lama sesudah ini, mesoderm meluas
keluar embrio. Pembuluh ini merupakan pembuluh darah dari tali puasat dan berda
23

pada tangkai penyokong. Jaringan tropoblast dengan mesoderm yang mengandung


pembuluh darah dari tali pusat berada pada tangki penyokong. Jaringan tropoblast
dengan mesoderm yang mengandung pembuluh darah disebut korion dengan
dinding uterus membetuk plasenta. Korion dapat berlekatan sekali dengan jaringan
maternal, tetapi masih dapat berdekatan sekali atau dapat berdekatan sangat erat
sehingga kedua jaringan tidak dapat dipisahkan tanpa merusak jaringan induk
manpun fetus.

(Sadler, 2015)

2. Struktur Sperma

Sperma

Merupakan sel reproduktif jantan pada vertebrata yang mengandung setengah set
kromosom. Sel di dalam reproduksi laki-laki yang dibentuk di testis. Sel inilah yang
nantinya akan bertemu dengan sel telur (ovum) pada wanita untuk bersatu dan
membentuk zigot yang merupakan cikal bakal janin atau manusia.

(Gambar 9 morfologi sperma normal )

(Guyton, 2014)
24

Struktur :

a. Kepala
Kepala pada sel sperma berbentuk lonjong/ oval dan terdapat inti sel
(nucleus) dengan kadungan iformasi genetic berupa DNA di dalamnya.
Informasi genetic inilah yang akan bertemu dengan informasi genetic dari sel
telur dan akan menentukan apakah janin nya seorang laki-laki ataupun
perempuan.
Pada kepala sel sperma ini juga diselubungi oleh dua enzim yang
membantu sel sperma untuk menembus pertahanan reproduksi wanita. Terdapat
enzim hialuronidase yang berfungsi untuk menembus lapisa korona radiate pada
sel telur, dan enzim akrosin yang berfungsi untuk menembus zona pelusida.
Ukuran panjang kepala sperma 3-5 mikron pada bagian bawah dan 4-5
mikron pada bagian atas, lebar kepala sperma ½ atau ¹/³ dari panjang kepala.
b. Badan
Bagian tengah dari sel sperma mengandung banyak mitokondria yang
berguna sebagai sumber energy bagi sel sperma dalam menjalankan
aktivitasnya. Di dalam mitokondria ini, terdapat 11 buah mikrotubulus, serta
mempunyai ATP-ase untuk menghidrolisis (mengolah ATP sebagai bahan utama
sumber energi).
Ukurannya kurang dari ½ lebar kepala, panjangnya 2x panjang kepala
dan berada pada 1 garis dengan sumbu kepala, sekitar 2-3 mikron.
c. Ekor
Ekor sperma berbentuk flagella (alat gerak pada mikroorganisme) yang
berbentuk sitoskeleton serta memiliki ukurn yang panjang sekitar 50
mikrometer. Ukuran panjang dari ekor sel sperma ini sangat menentukan sebuah
kecepatan dari sel sperma. Rata-rata, sel sperma dapat bergerak dengan
kecepatan 30 inci/jam. Memiliki panjang 9x dari panjang kepala sperma.
25

Kelainan

a. Kepala
a) Makro : Morfologi kepala sperma lebih besar 25% dari kepala sperma
yang normal.
b) Mikro : Morfologi kepala sperma lebih kecil 25% dari kepala sperma
normal.
c) Taper : Morfologi kepala sperma kurus menggambarkan seperti cerutu
dan batas akrosom tidak jelas.
d) Amorf atau Terato : Morfologi kepala tidak jelas bentuknya batas
akrosom tidak jelas dan umumnya tanpa akrosom.
e) Round : Morfologi kepala sperma seperti lingkaran dan tidak terdapat
akrosom.
f) Piri : Morfologi kepala sperma menggambarkan seperti buah pir.
g) Lepto : Morfologi kepala sperma berbentuk kurus memanjang atau
gepeng.
h) Double # Morfologi kepala bercabang atau memiliki kepala dua.
b. Badan/ midpiece
Midpiece defect : Morfologi badan sperma dengan terdapat sisa
sitoplasma pada leher.
c. Ekot / tail
a) Sitoplasmic doplet : Morfologi ekor sperma yang masih mengandung
sisa sitoplasma.
b) Tail defect : Morfologi ekor sperma melingkar, tertekuk, tajam dan ekor
putus

(Guyton, 2014)
26

(Gambar 10 kelinan morfologi sperma)

(Guyton, 2014)

Struktur Ovum
Ovum mempunyai ukuran yang besar, bahkan merupakan satu-satunya sel yang
dapat kita lihat dengan mata telanjang. Ovum dilapisi oleh beberapa lapisan,
mempunyai sitoplasma dan mempunyai inti. Sitoplasma sel telur mengandung semua
materi untuk membentuk individu baru, seperti protein, ribosom, tRNA, mRNA dan
materi lainnya. Sitoplasma dari sel telur sering juga disebut ooplasm. Ovum juga
mempunyai sebuah membran yang disebut vitelline, sama seperti membran pada sel
lain, membran ini mempunyai fungsi untuk melindungi ovum dan mengatur
pertukaran zat antara sel dengan lingkungan luar sel. Kemudian terdapat juga zona
pelusida yang merupakan bagian pelindung sitoplasma sel yang membantu melindungi
27

sel telur. Zona pelusida juga berfungsi untuk mencegah lebih dari satu sperma masuk
membuahi ovum. Jadi ketika sudah ada sel sperma yang membuahi ovum, maka
otomatis zona pelusida tidak akan membiarkan sel sperma lain untuk masuk.

(Guyton, 2014)

(Gambar 11. Struktur Ovum)

(Guyton, 2014)

3. Latar belakang Fertilisasi In Vitro

Pada umumnya proses fertilisasi in vitro dilakukan karena adanya


ganguan/kelainan pada proses inseminasi, baik dari fungsi organ reproduksi pihak
suami maupun istri. Hal inilah yang mengakibatkan terjadinya infertilitas
(kemandulan)., terdapat dua istilah dalam infertilitas, yaitu disebut:

a. Infertilitas primer jika isteri belum pernah hamil walaupun bersanggama


dan dihadapkan kepada kemungkinan kehamilan selama 12 bulan.
28

b. Infertilitas sekunder jika isteri telah hamil, akan tetapi kemudian tidak
terjadi kehamilan lagi walaupun bersenggama dan dihadapkan kepada
kemungkinan kehamilan selama 12 bulan.

Tahapan In Vitro Fertilisasi

Sebelum melaksanakan proses Fertilisasi in Vitro, terlebih duhulu


dilakukan proses seleksi dan persiapan yang terdiri atas anamesis, 7
pemeriksaan sistem reproduksi wanita, pemeriksaan dengan ultrasonografi8 ,
pemeriksaan hormonal, analisis sperma, serta konseling seputar resiko dan
keberhasilan terapi infertilitas. 9 Setelah proses seleksi dan persiapan
dilakukan, sebagaimana dikutip oleh Siti Peni, 10 barulah dilakukan 4 tahap
proses Fertilisasi in Vitro.

1. Tahap Induksi Ovulasi

Yang dilakukan pada tahap ini adalah tahap Persiapan Petik Ovum (Per-
Uvu) yang meliputi fase down regulation dan terapi stimulasi. Fase down
regulation merupakan suatu proses untuk menciptakan suatu keadaan seperti
menopouse agar indung telur siap menerima terapi stimulasi. Tahapan ini
berlangsung antara dua minggu hingga satu bulan. Setelah fase down
regulation selesai lalu dilanjutkan dengan terapi stimulasi. Pada tahap ini isteri
diberi obat yang merangsang indung telur, sehingga dapat mengeluarkan
banyak ovum. Dokter akan memberikan pengobatan yang berguna untuk
menciptakan kadar hormon seks atau reproduksi yang sesuai demi terciptanya
proses ovulasi sel telur matang pada pasangan suami isteri.

Obat tersebut diberikan oleh dokter kepada isteri setiap hari sejak
permulaan haid dan baru dihentikan setelah sel telurnya matang. Waktu rata-
rata pemberian hormon ini adalah sekitar 7 hari lamanya. Melalui pemberian
obat ini, dokter mengharapkan terjadinya pematangan folikel sel telur. Apabila
folikel sel telur dinilai telah matang, maka proses pelepasannya siap untuk
dirangsang. Pematangan sel-sel telur dipantau setiap hari dengan pemeriksaan
29

darah isteri, dan pemeriksaan ultrasonografi (USG). Namun tidak semua


indung telur dapat bereaksi terhadap obat itu.

2. Tahap pengambilan sel telur /Ovum Pick-Up (OPU)

Tahap ini dilakukan dengan operasi petik ovum/Ovum Pick-Up (OPU).


Operasi ini bisa dilakukan ketika sudah terdapat tiga folikel atau lebih yang
berdiameter 18 mm pada pagi hari dan pertumbuhan folikelnya seragam. Selain
itu kadar E2 juga harus mencapai 200pg/ml/folikel matang. Pengambilan ovum
dilakukan dengan dua cara yaitu memegang indung telur dengan penjepit dan
dilakukan pengisapan. Cairan folikel yang berisi sel telur diperiksa dengan
mikroskop untuk ditemukan sel telur. Cara kedua dengan menggunakan tehnik
Transvaginal Directed Oocyte Recavery, Folikel yang tampak di layar
ultrasonografi transvaginal ditusuk dengan jarum melalui vagina kemudian
dilakukan pengisapan folikel yang berisi sel telur seperti pengisapan
laparoskopi.

3. Fertilisasi sel telur

Pada tahap ketiga, setelah berhasil mengeluarkan beberapa sel telur,


maka dokter akan meminta sperma dari suami baik dikeluarkan dengan
masturbasi atau dengan prosedur pengambilan khusus oleh dokter di ruang
operasi. Akan tetapi cara yang paling aman tentunya dengan cara masturbasi.
Pada kasus cairan air mani tanpa sperma, mungkin akibat penyumbatan atau
gangguan saluran sperma, bisa dilakukan dengan teknik operasi langsung pada
testis. Tekniknya ada dua, yaitu Microsurgical Sperm Aspiration (MESA) 11
dan Testicular Sperm Extraction (TESE) 12 .

Sebanyak kurang lebih 20.000 spermatozoa pria ditempatkan bersama-


sama dengan 1 sel telur matang wanita dalam sebuah cawan khusus. Dengan
melakukan hal ini, para ahli medis mengharapkan terjadinya proses fertilisasi
sel telur oleh spermatozoa dalam waktu 17- 20 jam pasca pengambilan sel telur
30

dari ovarium. Sel telur yang terbuahi normal, ditandai dengan adanya dua sel
inti, segera membelah menjadi embrio.

4. Pemindahan embrio

Tahap keempat post OPU. Tahap ini meliputi dua fase, yaitu transfer
embrio dan terapi obat penunjang kehamilan. Setelah terjadinya fertilisasi,
embriologis dan dokter ahli kesuburan akan melakukan pengawasan khusus
terhadap perkembangan embrio. Embrio yang dinilai berkembang baik akan
ditanamkan dalam rahim. Biasanya, embrio yang baik akan terlihat sejumlah 8-
10 sel pada saat akan ditanamkan dalam rahim. Embrio ini akan dipindahkan
melalui vagina ke dalam rongga rahim ibunya 2-3 hari kemudian.

Setelah proses ini selesai lalu dilanjutkan dengan terapi obat penunjang
kehamilan. Tujuan dari terapi ini untuk mempersiapkan rahim agar bisa
menerima implantasi embrio sehingga embrio bisa berkembang normal.
Apabila semua tahapan itu sudah dilakukan oleh isteri dan ternyata terjadi
kehamilan, maka kita hanya menunggu proses kelahirannya, yang memerlukan
waktu 9 bulan 10 hari. Pada saat kehamilan itu sang isteri tidak diperkenankan
untuk bekerja berat karena rentan terjadi keguguran.

(Sadler, 2015)
31

DAFTAR PUSTAKA

Campabell NA. 2004. Biologi Edisi Kelima Jilid III. Penerbit Buku ; Erlangga .
Jakarta

Guyton. 2014. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 22. Penerbit Buku Kedokteran ;
EGC. Jakarta

Juwono. 2002. Buku Biolog Sel. Penerbit Buku ; EGC. Jakarta

Sadler. 2015. Buku Langman’s Medical Embriology Edisi 15. Penerbit buku ;EGC.
Jakarta

Sloane E. 2005. Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula. Penerbit Buku Kedokteran ;
EGC. Jakarta