Anda di halaman 1dari 18

BAB I.

PENDAHULUAN

Kelapa (Cocos nucifera) merupakan salah satu tanaman yang banyak


dimanfaatkan oleh masyarakat. Tanaman kelapa ini sering disebut sebagai pohon
kehidupan karena seluruh bagiannya dapat diolah dan dimanfaatkan menjadi
produk-produk yang menguntungkan dan membantu manusia untuk memenuhi
kebutuhan sehari-hari. biasanya buah kelapa khususnya daging kelapa sering
diolah menjadi berbagai macam produk seperti minyak, Virgin Coconut Oil,
coconut cream dan lain sebagainya. Akan tetapi, didalam pengolahan daging buah
kelapa ini juga menghasilkan by product berupa ampas kelapa yang belum banyak
dimanfaatkan oleh masyarakat.
Salah satu alternatif yang dapat dilakukan untuk memanfaatkan ampas
kelapa ini ialah dengan mengolah ampas kelapa menjadi pakan ternak. Pakan
ternak merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap harga jual dan
kualitas dari produk-produk peternakan. Kenaikan harga pangan yang tidak
diimbangi dengan adanya kenaikan harga produk pangan yang dihasilkan
menyebabkan menurunnya kinerja dari industri peternakan sehingga diperlukan
adanya pakan alternatif seperti pakan ternak yang terbuat dari ampas kelapa.
Ampas kelapa diketahui memiliki kandungan nutrisi yang cukup banyak.
Menurut Heri (2016) ampas kelapa diketahui memiliki kandungan serat kasar
sebesar 15,07%, protein 5,78% dan lemak sebesar 38,24%. Kandungan lemak
yang tinggi pada ampas kelapa ini tidaklah dikehendaki dalam pembuatan pakan
ternak karena akan mengganggu pencernaan serat dan fermentasi pada rumen
domba (Vafa, 2009). Selain itu, menurut Heri (2016) kandungan lemak yang
tinggi dapat menghambat metabolisme dan mengganggu bakteri pencernaan
selulosa yang dapat menghambat idrolisis selulosa. Hal ini dapat terjadi karena
mikroorganisme akan tertutupi oleh lapisan hidrofobik dari lemak. oleh karena itu
untuk mengurangi kandungan lemak didalam ampas kelapa perlu dilakukan
proses fermentasi yang dapat dilakukan dengan menggunakan kapang yang
terdapat di dalam ragi tempe.
1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini ialah mengetahui cara pembuatan pakan
ternak ampas kelapa dan mengetahui formulasi terbaik dari penambahan ragi pada
pakan ternak ampas kelapa.
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Pakan Ternak Ampas Kelapa


Pakan merupakan sumber pemunuhan gizi utama bagi hewan ternak, Oleh
karena itu pakan yang diberikan kepada hewan ternak haruslah pangan yang
mengandung cukup nutrisi dan memiliki kualitas yang baik. Salah satu alternatif
pakan ternak yang mulai berkembang di masyarakat ialah pakan ternak dari ampas
kelapa yang diolah melalui proses fermentasi.
Pakan ternak ampas kelapa merupakan pakan ternak alternatif yang
memanfaatkan by product dari pengolahan buah kelapa. Pakan ternak ampas
kelapa diolah melalui proses fermentasi sehingga menyebabkan terjadinya
perubahan pada pakan baik secara fisik maupun kimia seperti aroma, tekstur,
kecernaan dan daya tahan simpan (Kardaya, 2016). Apabila dilihat dari segi fisik
aroma, tekstur, dan suhu pakan ternak akan mengalami perubahan. Menurut
(Pravitasari, 2017) fermentasi ampas kelapa yang baik ialah fermentasi yang
menghasilkan pakan ternak dengan ciri-ciri sebagai berikut: pakan tersebut
ditumbuhi hifa berwarna putih, mengalami perubahan aroma seperti kedelai yang
terfermentasi, mengalami peningkatan suhu dan memiliki tekstur yang kompak.
Selain itu akan terjadi perubahan kimia pada pakan ternak hasil fermentasi ampas
kelapa ini. Pakan ternak ini juga mengalami perubahan pada kandungan protein
kasar, serat kasar, karbohidrat, kadar abu dan juga lemak kasarnya. Menurut
Hidayati (2011) proses fermentasi ini akan meningkatkan kualitas protein,
kelengkapan asam amino, dan meningkatkan daya cerna pakan ternak seiring
dengan menurunnya kandungan serat kasar yang menyebabkan retensi
nitrogennya menjadi tinggi.

2.2 SNI Pakan Ternak


Belum ada SNI yang spesifik menyatakan syarat-syarat dari pakan ternak ampas
kelapa ini, sehingga digunakan SNI pakan ternak secara umum untuk beberapa
jenis sapi. SNI pakan ternak tersebut ialah sebagai berikut:
1. Pakan Ternak Konsentrat – Bagian satu : Sapi Perah
Tabel 1.1 Batas Maksimum Kandungan Logam dalam Konsentrat
No Unsur Logam Persyaratan (mg/kg)
1 Air Raksa (Hg) 2
2 Timbal (Pb) 30
3 Tembaga (Cu) 100
4 Arsen (As) 50
5 Cadmium (Cd) 0,5
6 Alumunium (Al) 1000

Tabel 1.2 Batas Cemaran Mikroba Dalam Konsentrat


No Jenis Satuan Persyaratan
1 Angka lempeng total maksimal CFU/g 3𝑥106
2 E.coli maksimal CFU/g 5𝑥101
3 Salmonella sp Per 25 g Negative
4 Staphylococcus aureus CFU/g 102
maksimal
5 Streptococcus agalactia CFU/g 102
maksimal
Sumber : SNI 3148.1:2009

2. Pakan Ternak Konsentrat – Bagian dua : Sapi Potong


Tabel 2.1 Batas Maksimum Kandungan Logam dalam Konsentrat
No Unsur Logam Persyaratan (mg/kg)
1 Air Raksa (Hg) 2
2 Timbal (Pb) 30
3 Tembaga (Cu) 100
4 Arsen (As) 50
5 Cadmium (Cd) 0,5
6 Alumunium (Al) 1000

Tabel 2.2 Batas Cemaran Mikroba Dalam Konsentrat


No Jenis Satuan Persyaratan
1 Angka lempeng total maksimum CFU/g 3𝑥106
2 E.coli maksimum CFU/g 5𝑥101
3 Salmonella sp Per 25 g negatif
Sumber : SNI 3148.1:2009
2.3 Bahan
Adapun bahan-bahan yang digunakan pada praktikum ini ialah sebagai beikut:
2.3.1 Ampas Kelapa
Ampas kelapa merupakan by product dari pengolahan daging buah kelapa
yang mana ampas kelapa ini berbentuk parutan daging kelapa segar yang sudah
dipress atau berkurang kandungan santannya. Ampas kelapa ini mudah
didapatkan, kaya akan nutrisi dan juga mengandung zat-zat yang mudah untuk
dicerna seperti protein 17,09%, lemak 9,44%, karbohidrat 23,77%, serat kasar
30,4%, abu 5,92% dan air 13,35% (Elyana, 2011). Menurut Heri (2016)
kandungan nutrien yang tinggi pada ampas kelapa yang mengandung protein
5,78%, lemak 38,24% dan serat kasar 15,07% dapat dimanfaatkan sebagai bahan
utama dalam pembuatan pakan ternak alternatif. Pravitasari (2017) menyatakan
bahwa selain kandungan lemaknya yang tinggi, didalam ampas kelapa juga
terdapat senyawa antinutrisi berupa manan. Manan ini hanya dapat dirombak
menjadi manosa dan galaktosa oleh enzim mannase. Enzim ini akan memotong
secara acak rantai utama manan dan hetero-β-D-manan menjadi monosakarida.
Sigres (2015) juga menyatakan bahwa didalam serat ampas kelapa juga
terkandung galaktomannan yang mana galaktomanan ini dapat dirombak oleh
enzim galaktase menjadi molekul yang lebih sederhana. Fungsi dari ampas kelapa
ini ialah sebagai bahan utama dan juga sebagai substrat dalam proses fermentasi
pakan ternak. Fermentasi dilakukan untuk mensiasati kandungan lemak yang
tinggi dan adanya senyawa antinutrisi didalam ampas kelapa yang dapat
mempengaruhi daya cerna dari unggas.
2.3.2 Ragi Tempe
Ragi tempe atau laru biasanya dapat ditemukan dalam berbagai macam
bentuk seperti dalam bentuk tepung maupun dalam bentuk padatan bulat
(Pravitasai, 2017). Ragi dalam bentuk tepung dapat dibuat dengan cara
menumbuhkan spora kapang terlebih dahulu kemudian dikeringkan dan ditumbuk.
Media yang digunakan untuk menumbuhkan spora kapang ini juga bervariasi
dapat berupa tepung terigu, beras, jagung, dan umbi-umbian. Biasanya kapang
yang digunakan pada ragi tempe ialah Rhizopus oligosporus dan Rhizopus oryzae.
Rhizopus oligosporus diketahui memiliki kemampuan untuk menghasilkan enzim
protease yang lebih banyak dibandingkan Rhizopus oryzae, sedangkan Rhizopus
oryzae diketahui memiliki miselium yang lebih panjang dibanding Rhizopus
oligosporus sehingga dapat menghasilkan tekstur yang lebih kompak. Biasanya
didalam suatu ragi tempe tidak hanya mengandung satu jenis kapang akan tetapi
ada beberapa jenis kapang yang diformulasikan didalamnya tergantung pada
produsen masing-masing ragi (Pravitasari, 2017).
Selain itu, menurut Isnawati (2008) ragi tempe juga mengandung
mikroorganisme selulolitik, amilolitik, proteolitik dan lipolitik yang mana
kelompok mikroorganisme selulolitik yang terdapat didalam ragi ini mampu
mendegradasi selulosa menjadi glukosa. Kelompok amilolitik pada ragi ini juga
mampu mengubah amilum menjadi glukosa.Kemudian kelompok mikroorganisme
peteolitik yang ada di dalam ragi bertugas mendegradasi komponen protein
menjadi peptide sedangkan kelompok mikroorganisme lipolitiknya akan
menyederhanakan komponen lemak yang terkandung didalam bahan.

2.4 Reaksi yang Terjadi


Reaksi yang terjadi pada pembuatan pakan ternak ini ialah reaksi
fermentasi. Fermentasi merupakan suatu proses perombakan struktur fisik, kimia
maupun biologi yang bertujuan mengubah senyawa kompleks menjadi senyawa
sederhana sehingga mudah dicerna atau dapat meningkatkan daya cerna ternak
sehingga menjadi lebih efisien (Tamba, 2016). Senyawa kompleks yang berupa
karbohidrat, protein, dan lemak akan diubah menjadi glukosa, asam amino, asam
lemak, dan gliserol pada saat fermentasi (Elyana, 2011). Tamba (2016)
menyatakan bahwa pada proses fermentasi dengan menggunakan kapang
mengakibatkan terjadinya perombakan komponen bahan yang sulit dicerna
menjadi mudah dicerna sehingga kandugan nutrisinya dapat menjadi lebih baik
atau meningkat. Selama proses fermentasi, perombakan senyawa kompleks akan
menghasilkan senyawa volatil yang mempunyai aroma khas. Senyawa volatil ini
akan memperbaiki aroma dan cita rasa pakan buatan hasil fermentasi sehingga
ternak akan terangsang untuk mengkonsumsi pakan lebih banyak (Elyana, 2011).
Tujuan dari proses fermentasi ialah untuk meningkatkan kecernaan,
menghilangkan senyawa beracun, menimbulkan rasa dan aroma yang disukai.
Pada saat fermentasi, ragi akan menghaslkan enzim α-amilase, β-amilase,
fosforilase, iso amilase, protease dan amiloglukosidase yang akan memecah
protein dan karbohidrat menjadi asam-asam amino dan glukosa (Elyana, 2011).
Pada saat fermentasi ini juga akan terjadi pembetukan miselium yang kemudian
dilanjutkan dengan pembentukan spora sehingga dapat terbentuk inokulum yang
dapat menjadi starter pada saat fermentasi.
BAB III. SKEMA KERJA DAN FUNGSI PERLAKUAN

3.1 Alat dan Bahan


3.1.1 Alat
a. Timbangan anlitik
b. Kompor
c. Pengaduk
d. Nampan
e. Pengukus
f. Baskom
3.1.2 Bahan
a. Ampas kelapa
b. Ragi tempe
c. Air
d. Plastik klip
e. Kertas label

3.2 Skema Kerja


Pembuatan pakan ternak ini dilakukan menggunakan bahan berupa 250
gram ampas kelapa, ragi tempe dengan perbedaan formulasi perlakuan
penambahan pada ampas kelapa secara berturut-turut sebanyak 3 gram, 5 gram, 7
gram dan 9 gram. Selain itu juga digunakan bahan berupa air, plastik klip dan
label. Alat yang digunakan pada praktikum ini berupa timbangananalitik, kompor,
pengukus, pengaduk, nampan dan juga baskom. Langkah pertama yang dilakukan
ialah menyiapkan 250 gram ampas kelapa parut dan mendidihkan air. Setelah air
mendidih ampas kelapa dimasukkan kedalam kukusan dan di kukus selama 15
menit untuk mengurangi kadar airnya dan membantu menurunkan kandungan
lemaknya. Setelah dilakukan pengukusan selama 15 menit selanjutnya ampas
kelapa didinginkan supaya ketika ditambahkan ragi mikroorganisme atau kapang
yang terkandung didalam ragi tidak mati akibat suhu yang terlalu tinggi sehingga
dapat bekerja secara optimal. Setelah ampas kelapa dingin dilakukan proses
inokulasi ragi tempe ke dalam ampas kelapa sehingga mikroorganisme yang
terdapat dalam ragi tempe dapat berpindah ke substrat baru yang berupa ampas
kelapa. Kemudian ragi tempe dan ampas kelapa yang sudah homogen dimasukan
kedalam plastik yang sudah dilubangi. Lubang-lubang ini berfungsi sebagai media
respirasi supaya suplay oksigen tetap terpenuhi dan menjaga suhu agar tidak
menjadi terlalu panas akibat metabolisme yang dilakukan oleh mikroorganisme.
Kemudian ampas kelapa tersebut diinkubasi selama 3 hari pada suhu ruang
supaya terjadi proses fermentasi sehingga komponen-komponen kompleks yang
ada pada ampas kelapa dapat terpecah menjadi molekul-molekul yang lebih
sederhana. Setelah 3 hari ampas kelapa dikeluarkan dan dilakukan pengecilan
ukuran supaya proses pengeringan dapat berjalan lebih cepat dan juga lebih
merata. Pengeringan dilakukan dengan bantuan sinar matahari selama 2 sampai
tiga hari. pengeringan ini juga dilakukan dengan tujuan untuk memberhentikan
terjadinya proses fermentasi. Langkah terakhir pakan ternak yang sudah kering
dikecilkan kembali ukurannya sehingga dapat dengan mudah diberikan dan
dikonsumsi oleh hewan ternak. Proses pembuatan pakan ternak ampas kelapa
ditunjukkan pada diagram alir yang terdapat pada gambar 1.
Ampas kelapa

Pengukusan 15 menit

Pendinginan

Ragi tempe Penginokulasian

Pemasukkan dalam kantong plastik

Pelubangan

Penginkubasian 3 hari pada suhu ruang

Pengeluaran dari kantong plastik

Pengecilan ukuran

Pengeringan (sundrying) 2-3 hari

Pengecilan Ukuran

Pakan Ternak

Gambar 1. Diagram Alir Pembuatan Pakan Ternak Ampas Kelapa


BAB IV. PEMBAHASAN

Pakan ternak dari ampas kelapa diketahui mengandung banyak nutrisi


seperti protein kasar, serat kasar, dan juga lemak kasar. Pada tahap pembuatan
pakan ternak ada tahapan fermentasi yang mana fermentasi ini sebenarnya
bertujuan untuk meningkatkan daya cerna dari pakan ternak dengan cara
mengubah senyawa kompleks menjadi senyawa yang lebih sederhana (Tamba,
2016). Proses fermentasi yang dilakukan ini biasanya dapat menggunakan kapang
ataupun ragi. Proses fermentasi ini dapat berpengaruh terhadap sifat fisik maupun
kimia dari pakan ternak yang dihasilkan. Hasil penelitian yang dilakukan dalam
percobaan pembuatan pakan ternak dengan menggunakan ragi tempe yang diberi
variasi perlakuan jumlah dari ragi tempe yang ditambahkan dapat dilihat pada
tabel 4.1.

Tabel 4.1 Hasil Pengamatan Pakan Ternak


Konsentrasi Sebelum Pengeringan Setelah Pengeringan
ragi (gram) Aroma Warna Miselium Aroma Warna Miselium
Kelompok Tidak Putih +++ Tidak Putih +
7 (3 gram) asam kehitaman asam keabu-
abuan
Tidak Putih +++ Tidak Putih +
asam kehitaman asam keabu-
abuan
Kelompok Sedikit Putih ++++ Sedikit Kuning +
8 (5 gram) asam kehitaman asam kehitaman
Sedikit Putih +++++ Sedikit Kuning +
asam keabu- asam kehitaman
abuan
Kelompok Sangat Putih ++++ Sangat Putih +
9 (7 gram) asam kecoklatan asam kecoklatan
Sangat Putih +++++ Asam Putih +
asam kecoklatan kecoklatan
Kelompok Sedikit Coklat ++ Tidak Hitam +
10 (9 gram) asam asam
Sedikit Coklat + Sedikit Hitam +
asam asam
Keterangan: Semakin banyak +, miselium semakin banyak
Berdasarkan tabel 4.1 diketahui bahwa perbedaan penambahan jumlah
ragi berpengaruh terhadap aroma dari pakan ternak yang dihasilkan baik sebelum
pengeringan maupun sesudah pengeringan. Pakan ternak yang belum diberi
perlakuan pengeringan pada formulasi ragi 3 gram memiliki aroma yang tidak
asam, ragi 5 gram diperoleh aroma yang sedikit asam, ragi 7 gram memiliki
aroma yang sangat asam sedangkan ragi dengan formulasi 9 gram diperoleh
aroma pakan ternak yang sedikit asam. Perlakuan terbaik dari praktikum yang
dilakukan ialah perlakuan penambahan ragi sebanyak 5 gram pada ampas kelapa
karena aroma yang dihasilkan tidak terlalu asam. Aroma asam yang timbul dapat
disebabkan oleh adanya pertumbuhan kapang dan pemecahan komponen-
komponen di dalam ampas kelapa enjadi senyawa yang lebih sederhana yang
bersifat volatil seperti amonia, aldehid dan keton sehingga aroma yang timbul
sedikit asam dan menyerupai aroma pada tempe kedelai (Pravitasari, 2017).
Setelah pengeringan aroma yang ada pada masing-masing perlakuan pakan ternak
dengan variasi penambahan ragi tempe juga tidak mengalami banyak perubahan.
Aroma pakan ternak terbaik ialah pakan ternak dengan penambahan 5 gram ragi
tempe yang memiliki aroma sedikit asam. Aroma yang terlalu asam pada pakan
ternak ampas kelapa menunjukkan bahwa fermentasi yang terjadi telah over
fermented. Proses pengeringan yang dilakukan dapat menghambat bahkan
menghentikan terjadinya fermentasi lanjutan pada ampas kelapa.
Berdasarkan tabel 4.1 diketahui bahwa perbedaan penambahan jumlah
ragi berpengaruh terhadap warna dari pakan ternak yang dihasilkan baik sebelum
pengeringan maupun sesudah pengeringan. Pakan ternak yang belum diberi
perlakuan pengeringan pada formulasi ragi 3 gram memiliki warna putih
kehitaman, ragi 5 gram diperoleh warna putih keabu-abuan, ragi 7 gram memiliki
warna putih kecoklatan sedangkan ragi dengan formulasi 9 gram diperoleh warna
pakan ternak dengan warna coklat. Perlakuan terbaik dari praktikum yang
dilakukan ialah perlakuan penambahan ragi sebanyak 7 gram pada ampas kelapa
karena warna yang dihasilkan tidak menjad hitam melainkan putih kecoklatan.
Warna hitam yang terbentuk menunjukkan bahwa miselium telah berspora
sehingga warnanya menjadi kehitaman yang tidak terlalu disukai. Menurut
Pravitasari (2017) pakan ternak yang dihasilkan memiliki hifa berwarna putih
sehingga miselium yang dihasilkan akan berwarna putih atau putih kecoklatan.
Setelah dilakukan pengeringan formulasi pakan terbaik tetap pada formulasi
pakan ternak dengan penambahan 7 gram ragi yang menghasilkan warna putih
kecoklatan. Menurut Pravitasari (2017) seharusnya semakin banyak penambahan
ragi yang diberikan maka pakan ternak akan mengaami sporulasi pada permukaan
pakan ternak.
Berdasarkan tabel 4.1 diketahui bahwa perbedaan penambahan jumlah
ragi berpengaruh terhadap jumlah miselium yang terbentuk pada pakan ternak
yang dihasilkan baik sebelum pengeringan maupun sesudah pengeringan. Pakan
ternak yang belum diberi perlakuan pengeringan pada formulasi ragi 3 gram
memilki jumlah miselium yang tidak terlalu banyak, ragi 5 gram diketahui
memiliki jumlah miselium yang terbentuk banyak, ragi 7 gram diketahui memiliki
jumlah miselium yang banyak sedangkan ragi dengan formulasi 9 gram diketahui
memiliki jumlah miselium yang sedikit. Perlakuan terbaik dari praktikum yang
dilakukan ialah perlakuan penambahan ragi sebanyak 5 dan 7 gram pada ampas
kelapa karena banyak miselium yang terbentuk pada perlakuan tersebut. Menurut
Pravitasari (2017) semakin banyak miselium yang terbentuk maka semakin
kompak pula produk yang dihasilkan.
BAB V. PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan pembuatan pakan ternak
harus melalui proses fermentasi supaya komponen atau senyawa kompleks yang
terdapat didalam amapas kelapa dapat didegradasi menjadi senyawa sederhana
sehingga mudah untuk dikonsumsi. Praktikum yang dilakukan menunjukkan
bahwa perlakuan terbaik untuk aroma diperoleh pada perlakuan dengan
penambahan 5 gram ragi sedangkan untuk pembentukan miselium diperoleh
perlakuan terbaik pada penambahan ragi 5 dan 7 gram. Warna terbaik untuk pakan
ternak diperoleh pada penambahan ragi 7 gram.

5.2 Saran
Sebaiknya untuk praktikum selanjutnya lebih diperhatikan lagi antara kesesuaian
antara materi yang harus dibahas, praktikum yang dilakukan dan tema dari
praktikum tersebut.
DAFTAR PUSTAKA

Badan Standardisasi Nasional. 2009. SNI 3148.1-2009 tentang Pakan Konsentrat


Sapi Perah. BSN, Jakarta.

Elyana, P. 2011. Pengaruh Penambahan Ampas Kelapa Hasil Fermentasi


Aspergillus Oryzae Dalam Pakan Komersial Terhadap Pertumbuhan Ikan
Nila (Oreochromis niloticus Linn.). Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam. Surakarta: Universitas Sebelas Maret

Heri, K., Ristianto, U., dan Lies, M.Y., 2016. Kualitas Nutrisi Ampas Kelapa
(Cocos nucifera L.) Fermentasi Menggunakan Aspergillus niger. Buletin
Peternakan. Vol. 40 (1): 26-33.

Hidayati, S.G. , 2011. Pengolahan Ampas Kelapa Dengan Mikroba Lokal Sebagai
Bahan Pakan Ternak Unggas Alternatif di Sumatera Barat. Jur. Embrio
(4) (1) (26 -36)

Isnawati. 2008. Pembuatan probiotik dan pemanfaatannya pada dekomposisi


berbahan tumbuhan. Laporan Penelitian. Surabaya: Lemlit Unesa.

Kardaya, D., Juliata, K., D. Sudrajat. 2016. Pengaruh Substitusi Tepung Ampas
Kelapa dalam Pakan Komersil Terhadap Energi Metabolis Ayam
Kampung. Jurnal Peternakan Nusantara. ISSN 2442-2541. Volume 1
Nomor 1.

Pravitasari, G. A. 2017. Pengaruh Penambahan Fermentasi Ampas Kelapa Oleh


Ragi Tempe sebagai Campuran Pakan Ternak. Fakultas Keguruan dan
Ilmu Pendidikan. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma

Sigres , D.P., dan Sutrisno, A.,2015. Enzim Mannase dan Aplikasi di Bidang
Industri. Jurnal Pangan dan Agroindustri. No.3p, Vol.3, 899-908.
Tamba, I.,V. 2016. Pengaruh Dosis Dan Lama Fermentasi Tepung Ampas Kelapa
(Cocos nucifera L.) Oleh Aspergillus Nigerdan Ragi Tape Terhadap
Kualitas Nutrisi Pakan. Fakultas Pertanian. Sumatera Utara: UMSU

Vafa, T. S., A. A. Naserian and A. R. H. Moussavi. 2009. Effect of different levels


of fish oil and canola oil on in vitro and in vivo nutrient digestibility. Res.
Biol. Sci. 4: 1221-1226.
DOKUMENTASI

No. Gambar Keterangan


1. Pengukusan ampas kelapa

2. Pendinginan ampas kelapa

3. Peragian ampas kelapa dengan


ragi tempe

4. Pemasukan ampas kelapa dalam


kantong plastik dan pelubangan

5. Fermentasi ampas kelapa selama


3 hari

6. Ampas kelapa setelah fermentasi