Anda di halaman 1dari 5

RASIONALITAS ANTIBIOTIK PADA PASIEN DEMAM TIFOID RAWAT

INAP BAGIAN ANAK DI RSUD IDAMAN BANJARBARU

I. Latar Belakang
Demam tifoid masih merupakan masalah kesehatan yang penting di
berbagai negara sedang berkembang, bahkan diIndonesia demam tifoid
merupakan salah satu dri lima penyebab kematian (Wheeler, 2001).
Demam tifoid merupakan penyakit yng disebabkaan bakteri gram negatif
Salmonella Typhi yang hanya ditemukan pada manusia, menyerang pada
orang dewasa maupun anak-anak disegala usia serta tidak dipengaruhi
rasataupun gender (Wheeler, 2001).
Antibiotik merupakan suatu kelompok obat yang paling sering digunakan
untuk menyembuhkan penyakit infeksi dimana biaya antibiotik dapat
mencapai 50% dari anggaran obat di Rumah Sakit. Antibiotik pilihan utama
pada terapi demam tifoid sangat bervariasi. Oleh karena itu perlu dilakukan
penelitian untuk mengetahui gambaran penggunaan antibiotik serta biayanya
pada pasien demam tifoid (Noviana, 2004).
Pemakaian obat yang tidak rasional merupakan salah satu masalah pada
pusat pelayanan kesehatan di Indonesia. Hal tersebut dapat menyebabkan
usaha untuk meminimalkan budget menjadi tidak efisiensi dan tidak efektif
(Arustyono, 1999).
Pengoban dari WHO dibagi menjadi tiga sesuai dengan klasifikasi yaitu :
(a) pengobatan demam tifoid tanpa adanya komplikasi (b) pengobatan demam
tifoid dengan komplikasi (c) pengobatan pasien dengan keadaan karier
(WHO, 2003).
Kriteria penggunaan obat rasional menurut INRUD (Internasionl Network
Rational Use of Drug) adalah (a) tepat indikasi (appropriate indication); (b)
tepat obat (appropriate drug); (c) tepat dosis, durasi dan cara pemberian
(appropriate administration, dosage and duration); (d) tepat pasien (patient
appropriate); (e) tepat informasi pada pasien (Information appropriate); (f)
tepat evaluasi (appropriate valuaition) (Quick, 1982).
Pemakaian obat yang tidak rasional daapat dikategorikan menjadi : (a)
peresepan yang berlebihan (over rescribing); (b) peresepan yang kurang
(under prescribing); (c) peresepan yang majemuk (multiple prescribing); (e)
peresepan yang boros (extravagant) (Quick, 1982).
Sejak awal abad ke 20, insiden demam tifoid menurun di USA dan Eropa
dengan ketersediaan air bersih dan sistem pembuangan yang baik yang sampai
saat ini belum dimiliki oleh sebagian besar Negara berkembang. Secara
keseluruhan demaam tifoid diperkirakan menyebabkan 21,6 juta kasus dengan
216.500 kematian pada tahun 2000. Insiden demam tifoid tinggi (>100 kasus
per 100.000 populasi per tahun) dicatat di Asia Tengah dan Selatan, Asia
Tenggara dan kemungkinan Afrika Selatan yang tergolong sedang (10-100
kasus per 100.000 populasi per tahun) di Asia lainnya, Afrika, Amerika Latin
dan Oceania (kecuali Australia dan Selandia Baru) serta yang termasuk
rendah (Pohan HT, 2011).
II. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belaakang yang telah dijabarkan, maka perumusan
masalah dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Bagaimana rasionalitas antibiotik pada pasien demam tifoid rawat inap
bagian anak di RSUD idaman banjarbaru?
III. Tujuan Penelitian
Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Untuk mengetahui rasionalitas antibiotik pada pasien demam tifoid rawat
inap bagian anak di RSUD idaman banjarbaru.
IV. Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Bagi Peneliti
Sebagai sarana untuk memotivasi diri supaya lebih memperluas ilmu
pengetahuan di bidang kesehatan tentang demam tifoid.
b. Bagi Institusi
Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi bahan referensi bagi
mahasiswa lain yang akan melakukan penelitian selanjutnya.
c. Bagi Masyarakat
Menambah pengetahuan masyarakat mengenai penyakit tifoid dan
penggunaan antibiotik yang rasional.
V. Hipotesis
Berdasarkan tinjauan pustaka yang telah dikemukakan,maka
didapatkan hipotesis dalam penelitian ini sebgai berikut:
a. Kemungkinan terjadi ketidakrasionalan antibiotik demam tifoid yang
dapat meminimalkan budget menjadi tidak efisien dan tidak efektif.
VI. Metode Penelitian
6.1 Rancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan desain
penelitian observasional dan menggunakan studi retrospektif (case
control). Metode deskriptif adalah suatu penelitian yang dilakukan untuk
mendeskripsikan atau menggambarkan suatu fenomena yang terjadi
dimasyarakat. Dalam bidang kesehatan masyarakat metode deskriptif
digunakan untuk memotret atau menggambarkan masalah kesehatan yang
terjadi pada kesehatan yang terjadi pada kesehatan sekelompok penduduk
atau orang yang tinggal dalam suatu komunitas tertentu (Notoatmojo,
2010). Metode deskriptif dalam penelitian ini untuk mengetahui
kerasionalitasan antibiotic pada pasien demam tifoid rawat inap bagian
anak di RSUD Idaman Banjarbaru.
6.2 Variabel Penelitian
6.2.1 Variabel Bebas
Variable bebas adalah variable yang jika ia berubah akan
mengakibatkan perubahan pada variable lain.variabel bebas dari
penelitian ini meliputi usia dan jenis kelamin.
6.2.2 Variabel Tergantung
Variable tergantung adalah variable yang berubah akibat
perubahan variable bebas. Variable tergantung dalam penelitian ini
meliputi rasionalitas antibiotik.
6.3 Analisis Data
Analisis data dilakukan secara kualitatif dengan jenis data ordinal
menggunakan uji statistic non paarametrikyaitu uji Krusskal-Wallis.
6.4 Definisi Operasional
Umur atau usia adalah satuan waktu yang mengukur waktu keberadaan
suatu benda atau makhluk, baik yang hidup maupun yang mati. Semisal,
umur manusia dikatakan lima belas tahun diukur sejak dia lahir hingga
waktu umur itu dihitung.
Jenis kelamin adalah perbedaan bentuk, sifat, dan fungsi biologi laki-
laki dan perempuan yang menentukan perbedaan peran mereka dalam
menyelenggarakan upaya meneruskan garis keturunan. Perbedaan ini
terjadi karena mereka memiliki alat-alat untuk meneruskan keturunan
yang berbeda, yang disebut alat reproduksi.
Rasionalitas merupakan konsep normatif yang mengacu pada
kesesuaian keyakinan seseorang dengan alasan seseorang untuk percaya,
atau tindakan seseorang dengan alasan seseorang untuk bertindak.
Sedangkan Irasional berasal dari kata bahasa Latin ir, bentuk yang
diasimilasikan dari in atau tidak dan rationalis atau akal budi.Irasional
dapat diartikan tidak selaras dengan atau berlawanan dengan rasio.Hal
yang bukan-bukan dan tidak berarti apapun.
Tifus (tipes) atau demam tifoid adalah penyakit yang terjadi karena
infeksi bakteri Salmonella typhi dan umumnya menyebar melalui
makanan dan minuman yang telah terkontaminasi. Antibiotika adalah
segolongan molekul, baik alami maupun sintetik, yang mempunyai efek
menekan atau menghentikan suatu proses biokimia di dalam organisme,
khususnya dalam proses infeksi oleh bakteri.
VII. Daftar Pustaka

Arustiyono. 1999. Promoting Rational Use Of Drug At The Community


Health Centre In Indonesia. Laporan Penelitian. Department Of
Internasional Health School Of Public Health : Boston.
Bhan MK, Bahl R, Bhatnagar S. Typhoid Fever And Paratyphoid Fever.
Lancet 2005: 366 : 749-62.
Notoatmodjo, Soekidjo. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Rineka
Cipta: Jakarta.
Noviana, H,. 2004. Isolasi Salmonella Typhi Dari Penderita Demam Tifoid.
Jurnal Kedokteran Yarsi. Vol 12 (3) Hal 54-57.
Pohan HT. management Of Resistent Salmonella Infection. Paper Presented
at: 12th Jakarta Antimicrobacterial Update; 2011 April 16-17: Jakarta.
Quick, J. D. 1982. Applied Management Science In Developing Countries.
Socio Economic Plan.
Wheeler, David T. 2001. Typhoid Fever. www.emedicine.com diakses 7
November 2004.
World Health Organization. 2003. Background Document. The Diagnosis
Treatment And Prevention Of Typhoid Fever. World Health
Organization: Geneva.