Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

Ruwahan di bulan Sya’ban (atau Ruwah) dalam budaya Islam Jawa adalah tradisi
yang selalu dilaksanakan sepuluh hari sebelum bulan Puasa (Ramadhan). Semua rangkaian
acara ruwahan bertolak dari keimanan pada Tuhan agar dalam hidup ini mereka yang tengah
hidup di dunia mengingat akan asal-usulnya (sangkan paraning dumadi) yang secara biologis
adalah mengingat leluhur yang melahirkan kita. Mengingat arwah leluhur dan merenungi
kehidupan manusia yang sementara seraya berdoa untuk mereka yang telah mendahului
merupakan inti dari tradisi di bulan Ruwah ini. Ini adalah pengejawahtahan dari hadis yang
mengatakan bahwa satu dari amal yang tidak putus ketika orang telah meninggal adalah doa
anak yang saleh. Adapun acara ritual bersih kampung, , hingga kenduri adalah paktik doa
bagi semua keluarga sanak saudaranya yang masih hidup dengan saling bersilaturahmi, saling
memaafkan dan membantu untuk siap memasuki ibadah puasa dengan rasa yang suci penuh
suka cita menjadi kesadaran orang Islam Jawa.

BAB II

PEMBAHASAN

A. SEJARAH RUWAHAN

Hampir tak ada yang tahu persis kapan sebenarnya tradisi ruwahan bagi orang Jawa
dilaksanakan. Namun dalam ajaran Islam, bulan Sya’ban yang datang menjelang Ramadhan
merupakan bulan pelaporan atas amal perbuatan manusia.Maka, di sejumlah tempat diadakan
sadranan yang maknanya adalah melaporkan segala daya dan upaya yang telah dilakukan
selama setahun, untuk nantinya manusia berintrospeksi. Dalam masyarkat Jawa tradisi atau
ritual Ruwahan sudah ada pada zaman Hindu-Budha.

Ruwahan bukanlah tradisi asli dari Jawa melainkan peninggalan dari agama Hindu.
Pada saat itu ruwahan disebut dengan tradisi upacara srada namun kemudian masyarakat
Jawa lebih mudah menyebutnya dengan upacara nyadran. Pada saat nyadran masyarakat
membawa uborampe seperti kembang, apem, ketan kukus, kolak, menyan dan air kekuburan.
Kemudian meminta ketentraman dan kebahagiaan kepada leluhur yang ada di daerah
tersebut. Kemudian setelah agama Islam masuk ke pulau Jawa. Budaya yang sudah lestari
tidak dihilangkan tetapi dimasuki dengan unsur-unsur islam. Wadahnya masih nyadran
namun isisnya diganti dengan doa-doa islam.

Saat itu, ruwahan dimaknai sebagai sebuah tradisi yang berupa penghormatan kepada
arwah nenek moyang dan memanjatkan doa keselamatan. Saat agama Islam masuk ke Jawa
pada sekitar abad ke-13, tradisi ruwahan yang ada pada zaman Hindu-Buda lambat laun
terakulturasi dengan nilai-nilai Islam.

Akulturasi ini makin kuat ketika Walisongo menjalankan dakwah ajaran Islam di
Jawa mulai abad ke-15. Pribumisasi ajaran Islam membuahkan sejumlah perpaduan ritual,
salah satunya budaya ruwahan. Oleh karena itu, ruwahan bisa jadi merupakan akomodasi
para wali ketika memperkenalkan agama Islam di tanah Jawa.

Langkah itu ditempuh para wali, karena untuk melakukan persuasi yang efektif
terhadap orang Jawa, agar mau mengenali dan masuk Islam. Nyadran pun menjadi media siar
agama Islam. Selain ritual ruwahan, salah satu kompromi atau akulturasi budaya Jawa dalam
islam berupa penempatan nisan di atas jenazah yang dikuburkan.

Batu nisan tersebut sebagai penanda keberadaan si jenazah, agar kelak anak-cucunya
dan segenap keturunannya bisa mendatangi untuk ziarah, mendoakan sang arwah, sewaktu-
waktu. Bagi sebagian besar masyarakat pedesaan di Jawa, mudik terdiri atas dua arus. Arus
besar pertama terjadi dalam rangka menyongsong lebaran, atau Idul Fitri.

B. PENGERTIAN TRADISI RUWAHAN

Ruwahan sebenarnya mengacu pada nama dalam sistem penanggalan Jawa, yakni
bulan Ruwah. Dari nama ini muncullah istilah Ruwahan. Dalam pengertian umum ruwah
sering dimaknai sebagai “ngluru arwah” atau bersilaturahmi kepada arwah. Bulan Ruwah
dalam sistem kalender Jawa biasanya bersamaan dengan bulan Syaban pada sistem kalender
Hijriyah. Bulan Syaban sendiri merupakan bulan sebelum bulan Ramadhan (puasa). Oleh
karena itu pula Ruwahan lalu dikaitkan pula dengan persiapan menjelang atau memasuki
bulan Ramadhan. Ramadhan yang identik dengan matiraga atau penyucian diri itu diawali
dengan Ruwahan yang biasanya diisi dengan mendoakan arwah leluhur dan bermaafan
dengan tetangga serta sanak saudara.

Tidak jelas benar kapan tradisi ruwahan ini mulai muncul. Akan tetapi hal demikian
dapat diduga merupakan perkembangan dari sebuah tradisi yang telah lama ada di hampir
semua wilayah atau daerah di Nusantara, yakni tradisi penghormatan kepada arwah leluhur.
Hal demikian sebenarnya juga menjadi petunjuk bahwa sudah sejak lama masyarakat Jawa
mempercayai adanya kehidupan abadi setelah kehidupan di dunia. Artinya, arwah orang
meninggal adalah abadi. Arwah di alam abadi inilah yang oleh masyarakat Jawa dirasa perlu
“dikaruhake” (disapa, diajak dialog).

Selain makna tersebut, ritual ruwahan merupakan wujud bakti dan rasa penghormatan
kita sebagai generasi penerus kepada para pendahulu yang kini telah disebut sebagai Leluhur.
Ruwahan didasari oleh kesadaran spiritual masyarakat kita secara turun-temurun, di mana
kita hidup saat ini telah berhutang jasa, berhutang budi baik kepada alam dan para leluhur
pendahulu yang telah mendahului kita. Bulan Arwah juga merupakan saat di mana kita harus
“sesirih” atau bersih-bersih diri meliputi bersih lahir dan bersih batin. Tidak hanya
membersihakan diri pribadi tapi juga membersihkan lingkungan sekitar tempat tinggal.

Yang paling penting dari tradisi Ruwahan yang sudah turun temurun sejak ratusan
atau bahkan mungkin ribuan tahun silam itu adalah terjadinya interaksi dan bahkan
komunikasi dua pihak. Yakni pihak orang-orang yang masih hidup dengan pihak leluhur.
Bahkan saat bulan Arwah tiba, para leluhur menghentikan “aktivitasnya” untuk suatu
“aktivitas” khusus yakni menyambut anak cucu keturunannya, maupun semua orang yang
melakukan kegiatan bakti kepadanya, yang diwujudkan dalam berbagai kegiatan seperti
membersihkan makam, sedekah dan sesaji, komat-kamit mengucapkan doa, dikir,
mengucapkan mantera dan berbagai kalimat yang keluar dari hati nuraninya yang intinya
berusaha sambung rasa dengan para leluhurnya.

C. TATA CARA TRADISI RUWAHAN

Tradisi Ruwahan mempunyai tatacara yang sederhana saja. Yakni diawali dengan
membuat sesaji, yaitu sesuatu yang bermakna. Berupa kolak pisang, kolak ubi jalar, ketan
kukus, serta makanan tardisional bernama kue apem. Kolak pisang dan ubi jalar berupa kolak
kering (hanya direbus dengan air gula dan santan kelapa ). Dapat juga ditambahkan dan
ditambahkan sedikit garam, kayu manis, dan cengkeh. Sementara itu kue apem dibuat dengan
bahan dasar terdiri dari tepung beras, gula jawa atau gula merah, bisa juga ditambah santan
kelapa dan parutan kelapa sesuai selera. Adapula yang menambahkannya dengan buah
nangka ke dalam adonan kue apem. Selanjutnya adonan dicetak bundar-bundar di atas tungku
api. Untuk ketan, cukup dikukus atau diliwet sebagaimana umumnya memasak ketan.
Setelah ubo rampe sesaji ruwahan selesai dibuat dan siap saji, selanjutnya siap untuk dibagi-
bagikan kepada para tetangga. Biasanya minimal kepada 7 Kepala Keluarga, atau bisa lebih
hingga 17 Kepala Keluarga. Sesaji itu seluruhnya berupa makanan tradisional. Itu karena
leluhur yang hidup di masa lalu kemungkinan besar makanan favoritnya sebatas sebagimana
sesaji yang ada di dalam tradisi ruwahan itu. Karena leluhur dapat menyampaikan pesan-
pesan kepada anak cucu keturunannya atau orang-orang yang mampu berkomunikasi. Ada
yang melalui mimpi, bisikan atau wisik, melalui suatu pertanda alam, melalui rasa sejati, dan
bahkan melalui penglihatan visual. Selain alasan di atas, makanan tradisional yang dipilih
dalam sesaji tentunya masing-masing mempunyai arti.

Sehingga dapat dikatakan, makanan atau ragam sesaji merupakan bahasa simbol yang dapat
mewakili sejuta kata dan ribuan kalimat. Dengan sesaji, maksud dan tujuan yang sangat luas
jika dijabarkan satu-persatu, dikemas menjadi ringkas padat dan berisi. Sebagaimana pepatah
dalam spiritual Jawa yang mengatakan,”ngelmu iku yen ginelar bakal ngebaki jagad, yen
ginulung sak mrico jinumput”. Ilmu jika digelar akan memenuhi jagad raya, jika dilipat
(diringkas) dapat menjadi sekecil biji merica.

D. TINJAUAN AKSIOLOGIS TERHADAP RITUAL-RITUAL DALAM TRADISI


RUWAHAN

1. Nilai Ketuhanan

Dalam pelaksanaan tradisi ruwahan, ada banyak ritual-ritual yang dilakukan dengan
tujuan untuk mendekatkan diri atau berinteraksi dengan Tuhan yang maha esa.
Diantaranya adalah acara kenduri yang didalamnya banyak diselipi pembacaan doa-doa
dan kitab suci, seperti surah Yasin, dan juga pembacaan tahlil dan kalimah toyyibah yang
tujuannya mendekatkan diri kepada tuhan. Contoh lainnya juga ada dalam pelaksanaan
nyekar/ziarah di pusara leluhur yang bukan hanya merupakan interaksi kepada roh nenek
moyang saja, namun juga sebagai ritual untuk memohonkan ampunan Tuhan kepada
arwah-arwah nenek moyang.

Nilai-Nilai ketuhanan juga tedapat pada makanan-makanan ang disajikan ketika tradisi
ruwahan berlangsung, antara lain :

Kolak pisang mewakili pala gumantung, hasil bumi yang buahnya menggantung.
Dibuat untuk mengingatkan kita selalu teringat akan kesalahan yang pernah kita lakukan
kepada orang tua dan para leluhur, khususnya kepada Sang Jagadnata. Sehingga kita
menjadi orang yang selalu mengevaluasi diri dan setiap saat mau berbenah diri. Selain itu,
pala gumantung mengingatkan kita supaya batin dan rasa sejati masih tetap tersambung
dengan Gusti Sang Jagadnata, termasuk kepada para leluhurnya yang telah hidup di alam
sejati.

Kemudian juga ada apem, Apem berasal dari kata afwan atau afuan yang berarti
permintaan maaf. Manusia diharapkan selalu memberi maaf dan memaafkan kesalahan
orang lain. "Apem Yaqowiyu" artinya kata yaa qowwiyu itu ialah Tuhan mohon kekuatan.
Apem dibuat untuk melambangkan adanya harapan suatu ampunan akan kesalahan di
masa lalu. Kue apem berbentuk bundar atau bulat melingkar. Sebagai perlambang adanya
kebulatan tekad dalam melaksanakan ritual, yakni kemantaban hati untuk mewujudkan
rasa berbakti kepada leluhur bukan hanya sebatas ucapan dan kata-kata dalam doa. Lebih
dari itu diwujudkanlah dalam sikap, tindakan, dan perbuatan nyata dalam kehidupaan
sehari-hari.

2. Nilai Penghormatan kepada Leluhur


Selain terdapat nilai ketuhanan yang kental, tradisi ruwahan ini juga bertujuan untuk
menghargai para leluhur yang telah wafat, hal ini banyak dibuktikan dalam egiatan-
kegiatan yang dilakukan ketika ruwahan, antara lain :

A . Bersih-Bersih Makam
Merupakan wujud kesetiaan dan rasa berbakti generasi penerus atau anak turun
kepada para leluhurnya. Kesetiaan dan bakti akan tumbuh seiring kesadaran spiritual
seseorang yang dapat memahami betapa kita hidup sekarang ini telah berhutang budi,
berhutang nyawa, berhutang kemerdekaan bangsa, berhutang hutan yang hijau dan tidak
rusak, sungai yang jernih, lautan masih menyimpan kekayaaan besar, berhutang budi baik
dan pengorbanan, maupun berhutang harta benda warisan dari orang-orang yang
menurunkan kita semua. Bersih-bersih makam merupakan salah satu cara berbakti yakni
untuk membalas kebaikan para leluhur atau pendahulunya.
B. Ziarah/Nyekar atau menabur bunga di pusara leluhur
Kegiatan itu bermakna sebagai “atur sembah bekti” atau sikap menghaturkan rasa
berterimakasih, sikap berbakti, sekaligus wujud nyata rasa welas asih, dan penghormatan
setingginya atas seluruh jasa dan budi baik leluhur di masa lalu.
Selain itu, Nilai penghormatan kepada leluhur juga terdapat pada makanan yang
disajikan ketika ruwahan, misalnya ketan. Ketan bersifat lengket bermakna pula harapan
adanya tali rasa yang akan menjadi perekat hubungan antara leluhur dengan anak cucu
keturunannya dan semua orang yang menghaturkan sembah bakti kepadanya.

3. Harmoni Alam dan Manusia


Selain hal-hal yang telah disebutkan tadi, ruwahan juga memiliki makna yang
menonjolkan akan pentingnya harmonisasi antara alam dan manusia yang terwujud dalam
pelaksanaan ritual-ritual, dan makanan-makanan yang disajikan, antara lain :
A. Bersih-bersih Sungai, Desa, Ladang dan rumah
Merupakan wujud penghargaan dan rasa terimakasih kita kepada alam, kepada bumi
yang telah melimpahkan rejeki bagi manusia. Tanah yang subur, hutan yang menghijau,
sungai-sungai mengalir jernih. Semua itu merupakan berkah agung dari Sang Hyang
Jagadnata, berkah yang masih mengalir karena perilaku dan sikap bijaksana para leluhur
pendahulu bangsa yang hidup di masa lalu. Mereka tidak merusak dan mengeksploitasi
hutan, gunung, sungai, lautan karena kesadaran super-egonya bahwa anak cucu
keturunannya, dan generasi penerus bangsa kelak masih sangat membutuhkan semua itu.
B. Apem
Di dalam kue apem terdapat bahan-bahan berupa beras ketan, kelapa/santan, gula dan
sedikit garam, serta bahan pengharum makanan. semua bahan dibuat adonan, kemudian
dibakar dalam cetakan bundar-bundar. Semua itu memuat pesan yakni adanya proses
dalam kehidupan dan pentingnya penyelarasan dan harmonisasi antara jagad kecil dengan
jagad besar dalam kehidupan semesta ini.

4. Nilai Sosial

Yang terakhir, didalam tradisi ruwahan juga terdapat banyak nilai-nilai yang
melambangkan hubungan antar manusia, dan etika-etika dalam hubungan antar manusia,
yang juga banyak disimbolkan dalam pelaksanaan ritual-ritual dan makanan-makanan
yang disajikan, sebagai berikut :

A. Kenduri

Kenduri disini bukan hanya sebagai acara memanjatkan doa dan ritual-ritual saja,
namun di dalam kenduri ini banyak berkumpul warga-warga yang kemudian saling
berinteraksi dan mewujudkan suatu nilai sosial dalam kegiatan kenduri ini
B. Kolak Ubi Jalar

Kolak ubi jalar mewakili pala kependem, hasil bumi yang buahnya berada di dalam
tanah. Dibuat untuk melambangkan adanya kesalahan para leluhur kepada sesama
manusia. Selain itu, pala kependem, memiliki pesan bahwa manusia hendaknya tetap
berpijak di bumi. Memiliki sifat-sifat humanis, serta mulat laku jantraning bumi, yakni
perilaku manusia yang andap asor tidak sombong, congkak, takabur, sikap mentang-
mentang, golek benere dewe, golek butuhe dewe, golek menange dewe. Sebaliknya harus
mencontoh sifat-sifat bumi yang selalu memberikan berkah sekalipun bumi diinjak-injak
oleh manusia dan seluruh makhluk penghuninya. Pala kependem yang diolah menjadi
makanan kolak ubi jalar, mengingatkan kita hendaknya menjadi orang selalu melakukan
“tapa mendhem” (bertapa mengubur diri) yakni mengubur segala amal kebaikan yang
pernah kita lakukan pada orang lain dari ingatan kita. Agar supaya tidak mencemari
ketulusan kita dan di suatu saat tidak mengungkit-ungkit kebaikan kita pada orang lain.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Tradisi ruwahan merupakan salah satu tradisi budaya Jawa yang masih berlangsung di
beberapa wilayah hingga saat ini. Tradisi ruwahan diakan pada bulan ruwah tepatnya sepuluh
hari sebelum memasuki bulan puasa. Ritual tardisi ruwahan ini diawali dengan pembuatan
ubo rampe seperti ketan, kolak pisang, kolak ubi jalar, apem, nasi gurih dan ingkung.
Selanjutnya diadakan bersih-bersih lingkungan sekitar, membersihkan makam atau kuburan
dan kemudian kenduri. Tradisi ini bertujuan untuk menghormati arwah para leluhur dan
mensucikan diri sebelum memasuki bulan suci Ramadhan.
B. SARAN
Sebagai masyarakat Jawa hendaknya kita ikut melestarikan nilai-nilai tradisi daerah agar
tidak hilang seiring dengan perkembangan zaman dan mengambil sisi positif dari adanya
tradisi tersebut.
DAFTAR PUSTAKA

Aibak, Kutbuddin. 2010. "Fenomena Tradisi Megengen di Tulungagung."


Hananto, Robby Wahyu. n.d. Tradisi Ruwahan Masyarakat Jawa. Accessed Maret 11, 2017.
https://robbywahyuhananto.wordpress.com/sosial-budaya/tradisi-ruwahan-
masyarakat-jawa/.
java, my. 2010. Tradisi Ruwahan Jawa. November 08. Accessed Maet 11, 2017.
http://dekgeeta.blogspot.co.id/2010/11/tradisi-ruwahan-jawa.html.
Purwanti, Rosalia Susila. 2014. "TRADISI RUWAHAN DAN PELESTARIANNYA DI
DUSUN GAMPING KIDUL DAN DUSUN GEBLAGAN YOGYAKARTA." 2-5.
Seyogyanya. 2016. RUWAHAN DAN NYADRANAN, TRADISI MASYARAKAT DI JOGJA
DAN JAWA MENJELANG BULAN RAMADHAN. Mei 09. Accessed Maret 11, 2017.
http://seyogyanya.com/2016/05/09/ruwahan-dan-nyadranan-tradisi-masyarakat-di-
jogja-dan-jawa-menjelang-bulan-ramadhan/.
TINJAUAN AKSIOLOGIS TERHADAP TRADISI RUWAHAN

TUGAS FILSAFAT NUSANTARA PRA-MODERN

Disusun Oleh :

1. Adjis Romadon ( 16/397342/FI/04207 )


2. Ahmad Tsalis F.F ( 16/397346/FI/04211 )
3. M. Rananda Satria F ( 16/397382/FI/04247 )
4. M. Nur Kholis ( 16/397384/FI/04249 )
5. Satyagrahatmaja ( 16/397408/FI/04273 )
6. Wakhid Hasyiem PA ( 16/397420/FI/04285 )

UNIVERSITAS GADJAH MADA


FAKULTAS FILSAFAT
2016/2017