Anda di halaman 1dari 10

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan
rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan
makalah yang berjudul “Pemikiran Filsafat Ibnu Sina dan evaluasi Kritis
Terhadap Pemikirannya” ini dengan baik meskipun banyak kekurangan
didalamnya. Dan juga kami berterima kasih pada Ibu Dr. Hj. Widyastini,
M.Hum. selaku pengampu matakuliah Filsafat Islam Modern-Kontemporer
Universitas Gadjah Mada yang telah memberikan tugas ini kepada kami.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah
pengetahuan kita mengenai pemikiran filsafat Ibnu Sina serta evaluasi kritis
terhadap pemikirannya. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam
makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu,
kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang
telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang
sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang
membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi
kami sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf
apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon
kritik dan saran yang membangun dari Anda demi perbaikan makalah ini di
waktu yang akan datang.

Yogyakarta, 15 Oktober 2017


Penulis,

1
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Dalam abad pertengahan sejarah pemikiran filsafat Islam sosok Ibnu Sina dalam
banyak hal unik, sedang diantara para filosof muslim ia tidak hanya unik, tapi juga
memperoleh penghargaan yang semakin tinggi hingga masa modern.
Ia adalah satu - satunya filosof besar Islam yang telah berhasil membangun
sistem filsafat yang lengkap dan terperinci, suatu sistem yang telah mendominasi
tradisi filsafat muslim beberapa abad. Pengaruh ini terwujud bukan hanya karena ia
memiliki sistem, tetapi karena sistem yang ia miliki itu menampakkan keasliannya
yang menunjukkan jenis jiwa yang jenius dalam menemukan. Metode-metode dan
alasan-alasannya yang diperlukan untuk merumuskan kembali pemikiran rasional
murni dan tradisi intelektual Hellenisme yang ia warisi dan lebih jauh lagi dalam
sistem keagamaan Islam.
Setelah mendapatkan cukup materi tentang pemikiran Filsafat Ibnu Sina,
maka sudah sepantasnya bagi seorang yang menuntut ilmu, dalam hal ini ilmu
filsafat, untuk mengevaluasi dan mengkaji secara kritis mengenai teori-teori dan
pemikiran dari Ibnu Sina. Oleh karena itu, makalah ini akan mencoba memparkan
mengenai pemikiran filsafat Ibnu Sina dan kemudian akan mencoba menyajikan
hasil evaluasi secara kritis mengenai pemikiran filsafatnya
B. RUMUSAN MASALAH
1. Siapakah Ibnu Sina?
2. Bagaimanakah pemikiran filsafat dari Ibnu Sina
3. Bagaimanakah evaluasi kritis terhadap pemikiran filsafat dari Ibnu Sina?

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. BIOGRAFI
Nama lengkapnya adalah Abu Ali al-Husain Ibnu Abdillah Ibnu Hasan Ibnu Ali
Ibnu Sina. Di Eropa dikenal dengan nama Avicenna. Ia dilahirkan pada tahun 370
H (980 M) disuatu tempat yang bernama Afsyana di Bukhara. Wilayah ini dikuasai
oleh daulat Samani khalifahnya adalah Nuh Ibnu Manshur (340 H / 980 M)
(Muhaimin dkk, 2012:238).
Ayahnya seorang pegawai tinggi pada Dinasti Samaniah (204-395 H / 819-1005
M). Sejak kecil Ibnu Sina belajar menghafal Alquran dan ilmu-ilmu agama.
Kemudian mempelajari matematika, logika, fisika, geometri, astronomi, hukum
Islam, teologi, kedokteran dan metafisika. Dengan demikian, ia menguasai
bermacam-macam ilmu pengetahuan. Profesinya dibidang kedokteran dimulai
sejak umur 17 tahun, kepopulerannya sebagai dokter bermula ketika ia berhasil
menyembuhkan Nuh bin Mansur, seorang penguasa Dinasti Samaniah. Kebesaran
nama Ibnu Sina terlihat dari beberapa gelar yang diberikan orang kepadanya, seperti
asy-Syaikh ar-Ra’is (Guru Para Raja) di bidang filsafat dan Pangeran Para Dokter
di bidang kedokteran. Dia banyak meninggalkan karya tulis, semuanya tidak kurang
dari 267 buah, termasuk buku saku dan kumpulan suratnya, kebanyakan berbahasa
Arab, selainnya berbahasa Persia (Van Hoeve, 2003:167).
Dalam pendidikannya, Ibnu Sina sangat haus dengan pendidikan, hidupnya
selalu diwarnai dengan belajar, diantara guru yang mendidiknya ialah ’Abu
Abdallah Al-Natali dan Isma’il sang Zahid. Karena kecerdasan otaknya yang luar
biasa ia dapat menguasai semua ilmu yang diajarkan kepadanya dengan sempurna
dari sang guru, bahkan melebihi pengetahuan sang guru. Ibnu Sina juga secara tidak
langsung berguru kepada al-Farabi, bahkan dalam otobiografinya disebutkan
tentang utang budinya kepada guru kedua ini. Hal ini terjadi ketika ia kesulitan
untuk memahami Metafisika Aristoteles, sekalipun telah ia baca sebanyak 40 kali
dan hampir hafal diluar kepala. Akhirnya, ia tertolong berkat bantuan risalah kecil
al-Farabi. Sirajuddin Zar menambahkan, anekdot ini juga dapat diartikan bahwa

3
Ibnu Sina adalah seorang pewaris Filsafat Neoplatonisme Islam yang
dikembangkan al-Farabi. Dengan istilah lain, Ibnu Sina adalah pelanjut dan
pengembang filsafat Yunani yang sebelumnya telah dirintis al-Farabi dan
dibukakan pintunya oleh al-Kindi (Zar, 2004: 93).
Ibnu Sina tidak hanya seorang yang mempunyai andil dalam kenegaraan tetapi
ia juga seorang agamawan. Di dalam kehidupannya selama ia menuntut ilmu, ia
juga menyibukkan dirinya untuk menulis beberapa buku. Jumlah karya tulis Ibnu
Sina diperkirakan antara 100 sampai 250 buah judul.
Pada akhir hayatnya ia menjadi guru filsafat dan dokter di Isfahan dan
meninggal di Hamadan pada 428 H (1047 M) dalam usia 57 tahun. Diberitakan,
penyakit perut (maag) yang membawa kematiannya sebagai dampak dari kerja
kerasnya untuk urusan negara dan ilmu pengetahuan. Pada waktu siang ia bekerja,
malam ia membaca dan menulis hingga larut malam. Bulan-bulan terakhir
kehidupannya, ia berpakaian putih, menyedekahkkan hartanya kepada fakir-miskin,
dan mengisi waktunya dengan beribadat kepada Allah (Nasution, 2005: 68).

B. FILSAFAT IBNU SINA

1. Metafisika
Berkaitan dengan metafisika, Ibnu Sina juga membicarakan Sifat wujudiah
sebagai yang terpenting dan mempunyai kedudukan diatas segala sifat lain,
walaupun esensi sendiri. Esensi dalam faham Ibnu Sina terdapat dalam akal,
sedangkan wujud terdapat di luar akal. Wujudlah yang membuat tiap esensi yang
dalam akal mempunyai kenyataan diluar akal. Tanpa wujud esensi tidak besar
artinya. Oleh sebab itu wujud lebih penting dari esensi. Tidak mengherankan kalau
dikatakan bahwa Ibnu Sina telah terlebih dahulu mengajukan filsafat wujudiah dari
filosof-filosof lain. Kalau dikombinasikan, esensi dan wujud dapat mempunyai
kombinasi berikut :
1) Esensi yang tak dapat mempunyai wujud, dan hal yang serupa ini
disebut oleh Ibnu Sina yaitu sesuatu yang mustahil berwujud

4
(Impossible being), Contohnya, adanya sekarang ini juga kosmos lain
disamping kosmos yang ada.
2) Esensi yang boleh mempunyai wujud dan boleh tidak mempunyai
wujud. Yang serupa ini disebut “Mumkin” yaitu sesuatu yang mungkin
berwujud tetapi mungkin pula tidak berwujud. Contoh, alam ini yang
pada mulanya tidak ada, kemudian ada dan akhirnya akan hancur
menjadi tidak ada.
3) Esensi yang tidak boleh tidak mesti mempunyai wujud. Di sini esensi
tidak bisa dipisahkan dari wujud; esensi dan wujud adalah sama dan
satu (Nasution, 2005: 69).

Tuhan adalah Wujud pertama yang immateri dan dari-Nyalah memancar segala
yang ada. Tuhan sebagai al-wujud al-Awwal berfikir tentang diri-Nya, lalu dari
pemikiran itu timbullah wujud kedua yang disebut akal pertama. Akal pertama ini
mempunyai tiga objek pemikiran, yaitu Tuhan, diri-Nya sebagai wajib al-wujud dan
diri-Nya sebagai mumkin al-wujud. Pemikiran akal pertama tentang Tuhan
melahirkan akal-akal berikutnya sampai akal kesepuluh. Demikianlah seterusnya ,
setiap akal yang jumlahnya sepuluh itu mempunyai tiga objek pemikiran dan dari
pemikiran akal inilah kemudian memancar alam ini. Karena itu ia tidak menerima
konsep penciptaan alam dari tiada menjadi ada, seperti yang difahami oleh teolog
Islam. Baginya alam ini qadim (tidak mempunyai permulaan dari segi waktu).
Antara tuhan dan terjadinya alam tidak terdapat kesenjangan waktu (Van Hoeve,
2003:167).

2. Jiwa.
Konsep Jiwa (an-nafs), menurut Ibnu Sina terbagi menjadi tiga: Jiwa
tumbuhan, jiwa binatang, dan jiwa manusia. Jiwa tumbuhan memiliki tiga daya:
makan, tumbuh, dan berkembang biak. Jiwa binatang memiliki dua daya: daya
bergerak dan daya menangkap. Daya bergerak dapat berbentuk marah, syahwat dan
berpindah tempat. Adapun daya menangkap terbagi dua: daya menangkap dari luar
dengan menggunakan indera-indera luar yang lazim disebut pancaindera, terdiri

5
atas: penglihatan, pendengaran, penciuman, perasaan lidah, dan perasaan tubuh;
dan daya menangkap dari dalam melalui pancaindera batin, yaitu indera bersama
(al-hiss al-musytarak), indera penggambar (al-khayal), indera pereka (al-
mutakhayyilah), indera penganggap (al-wahamiah), dan indera pengingat (al-
hafizah). Berbeda dengan tumbuh-tumbuhan dan binatang jiwa manusia hanya
mempunyai satu daya, yaitu daya berfikir yang disebut akal. Akal terbagi dua; akal
praktis (‘amilah) yang berhubungan dengan hal-hal yang sifatnya konkret dan akal
teoritis yang berhubungan dengan hal-hal yang sifatnya abstrak. Akal teoritis
mempunyai empat tingkatan , yaitu 1). Akal Materiil, yang beru merupakan potensi,
untuk menangkap arti-arti murni, arti-arti yang tak pernah berada dalam materi, (2).
Akal bakat, yaitu akal yang kesanggupannya berfikir secara murni abstrak telah
mulai nampak, (3). Akal aktual, yaitu akal yang telah terlatih untuk menangkap arti-
arti murni, dan (4). Akal perolehan, yaitu tingkat akal yang tertinggi dan terkuat
dayanya, yaitu akal yang didalamnya arti-arti abstrak tersebut selamanyan sedia
untuk dikeluarkan dengan mudah. Akal serupa inilah yang sanggup menerima
limpahan ilmu pengetahuan dari akal aktif (akal kesepuluh). Menurut penjelasan
Ibnu Sina, akal aktif itu adalah Jibril (Van Hoeve, 2003:169).
Ia menjelaskan bahwa sifat seseorang bergantung pada jiwa mana dari
ketiga jiwa itu yang berpengaruh pada dirinya. Jika jiwa binatang dan tumbuh-
tumbuhan yang berkuasa pada dirinya, maka orang itu dekat menyerupai sifat-sifat
binatang, sebaliknya jika jiwa manusia yang dominan berpengaruh, maka orang itu
dekat menyerupai sifat-sifat malaikat dan dekat pada kesempurnaan. Jika jiwa
manusia telah mempunyai kesempurnaan sebelum ia berpisah dengan badan, maka
ia akan memperoleh ksesenangan abadi diakhirat. Sebaliknya, jika ia berpisah
dengan badan dalam keadaan tidak sempurna akibat terpengaruh oleh godaan hawa
nafsu, maka ia akan sengsara selama-lamanya diakhirat (Van Hoeve, 2003:168).

3. Kenabian.
Pendapat Ibnu Sina tentang Nabi bertitik tolak dari tingkatan akal. Akal
materiil sebagai yang terendah adakalanya dianugerahkan Tuhan kepada manusia
akal materil yang besar lagi kuat, oleh Ibnu Sina dinamakan al-Hadits yaitu intuisi.

6
Daya yang ada pada akal materi serupa ini begitu besarnya sehingga tanpa melalui
latihan, dengan mudah dapat menerima cahaya atau wahyu dari Tuhan. Sejalan
dengan Teori kenabian dan kemukjizatan, Ibnu Sina membagi manusia kedalam
empat kelompok: mereka yang kecakapa teoritisnya telah mencapai tingkat
penyempurnaan yang sedemikian rupa sehingga mereka tidak lagi membutuhkan
guru sebangsa manusia, sedangkan kecakapan praktisnya telah mencapai suatu
puncak yang sedemikian rupa sehingga berkat kecakapan imajinatif mereka yang
tajam mereka mengambil bagian secara lagsung pengetahuan tentang peristiwa-
peristiwa masa kini dan akan datang dan berkemampuan untuk menimbulkan
gejala-gejala aneh diatas dunia. Kemudian mereka yang memiliki kesempurnaan
daya intuitif, tetapi tidak mempunyai daya imajinatif. Lalu orang-orang yang daya
teoritisnya sempurna tetapi tidak praktis. Terakhir adalah orang-orang yang
mengungguli sesamanya hanya dalam ketajaman daya praktis mereka (Nasution,
2005:75).

C. EVALUASI KRITIS TERHADAP PEMIKIRAN PEMIKIRAN IBNU


SINA

Dalam pembagian wujud kepada wajib dan mumkin , tampaknya Ibnu Sina
terpengaruh oleh pembagian wujud para mutakallimun kepada : baharu (al-hadits)
dan Qadim (al- Qadim). Karena dalil mereka tentang wujud Allah didasarkan pada
pembedaan - pembedaan “baharu” dan “qadim” sehingga mengharuskan orang
berkata, setiap orang yang ada selain Allah adalah baharu, yakni didahului oleh
zaman dimana Allah tidak berbuat apa - apa. Pendirian ini mengakibatkan
lumpuhnya kemurahan Allah pada zaman yang mendahului alam mahluk ini,
sehingga Allah tidak pemurah pada satu waktu dan Maha Pemurah pada waktu
lain.Dengan kata lain perbuatan-Nya tidak Qadim dan tidak mesti wajib. Untuk
menghindari keadaan Tuhan yang demikian itu, Ibnu Sina menyatakan sejak mula
“bahwa sebab kebutuhan kepada al-wajib (Tuhan) adalah mungkin, bukan baharu”.
Pernyataan ini akan membawa kepada aktifnya iradah Allah sejak Qadim, sebelum
Zaman (Daudy, 1984:42).

7
Dari pendapat tersebut terdapat perbedaan antara pemikiran para mutakallimin
dengan pemikiran Ibnu Sina. Dimana para mutakallimin anatar qadim dan baharu
lebih sesuai dengan ajaran agama tentang Tuhan yang menjadikan alam menurut
kehendak-Nya, sedangkan dalil Ibnu Sina dalam dirinya terkandung pemikiran
Yunani bahwa Tuhan yang tunduk dibawah “kemestian”, sehingga perbuatan-Nya
telah ada sekaligus sejak qadim.
Sedangkan, Ibnu sina dalam teori emanasinya terlihat masih terlalu abstrak,
selain itu, terlihat sekali bahwa Ibnu Sina hanya mengikuti teori milik Al- Farabi.
Ibnu Sina juga meyakini bahwa alam ini adalah qadim. Inilah yang mendapat
tantangan dari al-Ghazali yang berpendapat bahwa hanya Allah lah yang qadim,
Allah menciptakan alam dari ketiadaan (creation ex nihilo). Dan jika alam dianggap
qadim, maka alam tidaklah diciptakan, sedangkan menurut Al-Quran Allah semata
yang menciptakan segala sesuatu.
Dalam teorinya mengenai jiwa, Ibnu Sina berpendapat bahwa jiwa material
adalah immaterial konsekuensinya adalah jiwa rasional itu adalah tunggal, dan oleh
karena itu tidak dapat rusak. Jika kita mengaitkan ini dngan keadaan orang yang
gila, maka bukankah akan menjadi rancu. Bukankah orang gila adalah sudah rusak
jiwa rasional mereka? Mereka tak dapat melakukan perbuatan yang benar, bahkan
sam sekali tak sadar akan perbuatan mereka.
Ibnu sina juga cenderung merasionalkan proses kewahyuan mengubah
hubungan antara Tuhan dan manusia menjadi hubungan keerdasan-kecerdasan
teoritis. Pemikiran Ibnu Sina telah mereduksi prinsip-prinsip islam menjadi suatu
konstruksi kecerdasan manusia.

8
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Nama lengkap Ibnu Sina adalah Abu Ali al-Husain Ibnu Abdillah Ibnu Hasan
Ibnu Ali Ibnu Sina. Di Eropa dikenal dengan nama Avicenna. Dalam abad
pertengahan sejarah pemikiran filsafat Islam sosok Ibnu Sina dalam banyak hal
unik, sedang diantara para filosof muslim ia tidak hanya unik, tapi juga memperoleh
penghargaan yang semakin tinggi hingga masa modern. Ia adalah satu - satunya
filosof besar Islam yang telah berhasil membangun sistem filsafat yang lengkap dan
terperinci, suatu sistem yang telah mendominasi tradisi filsafat muslim beberapa
abad.
Menurut Ibnu Sina bahwa alam ini diciptakan dengan jalan emanasi
(memancar dari Tuhan). Tuhan adalah wujud pertama yang immateri dan
dariNyalah memancar segala yang ada.
Tuhan adalah wajibul wujud (jika tidak ada menimbulkan mustahil), beda
dengan mumkinul wujud (jika tidak ada atau ada menimbulkan tidak mujstahil).
Pemikiran Ibnu Sina tentang kenabian menjelaskan bahwa nabilah manusia
yang paling unggul, lebih unggul dari filosof karena nabi memiliki akal aktual yang
sempurna tanpa latihan atau studi keras, sedangkan filosof mendapatkannya dengan
usaha dan susah payah.
Meskipun pemikiran kefilsafatan Ibnu Sina bisa dibilang lengkap dan luas,
namun tak bisa dipungkiri ternyata banyak kritik yang terhadap pemikirannya,
seperti Al-Ghazali yang menolak anggapan ke-qadim-an alam dan juga
kecendrungannya merasionalkan kewahyuan dan hubungan Tuhan dan manusia.

9
DAFTAR PUSTAKA

Daudy, Ahmad. Segi-segi Falsafi dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 1984.
Ichtiar Baru Van Hoeve, Tim Redaksi. Ensiklopedi Islam. Jakarta: PT. Ichtiar
Baru, 2003.
Muhaimin, dkk. Studi Islam, Dalam Ragam Dimensi dan Pendekatan. Jakarta:
Kencana, 2012.
Nasution, Hasyimasyah. Filsafat Islam. Jakarta: Gaya Media Pratama, 2005.
Zar, Sirajuddin. Filsafat Islam Filosof dan Filsafatnya. Jakarta: Raja Grafindo
Persada, 2004.

10