Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN

CHRONIC KIDNEY DISEASE (CKD)

A. Pengertian

Chronic kidney disease (CKD) atau penyakit ginjal kronis didefinisikan sebagai kerusakan ginjal untuk
sedikitnya 3 bulan dengan atau tanpa penurunan glomerulus filtration rate (GFR).(6)
CKD atau gagal ginjal kronis (GGK) didefinisikan sebagai kondisi dimana ginjal mengalami penurunan fungsi
secara lambat, progresif, irreversibel, dan samar (insidious) dimana kemampuan tubuh gagal dalam
mempertahankan metabolism, cairan, dan keseimbangan elektrolit, sehingga terjadi uremia atau azotemia.(9)
Gagal ginjal kronik berdasarkan National Kidney Foundation (NKF) Kidney Disease Outcome Quality
Initiative (K/000/) Guidelines Update tahun 2002 dalam panduan pelayanan medic model interdisiplin
penatalaksanaan oleh Dr. Imam Rasjidi, definisi penyakit gagal ginjal kronik (GGK) adalah:

1. Kerusakan ginjal > 3 bulan, berupa kelainan struktur ginjal, dapat atau tanpa disertai penurunan Laju Filtrasi
Glomerulus (LFG) yang ditandai dengan:
- Kelainan patologi, dan

- Adanya pertanda kerusakan ginjal, dapat berupa kelainan laboratorium darah atau urine, atau kelainan
radiologi.
2. LFG < 60 ml/ menit/1,73 m2 selama >3 bulan, dapat disertai atau tanpa disertai kerusakan ginjal.
Dari pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa gagal ginjal kronik (GGK) atau Chronic Kidney Disease
(CKD) adalah gangguan fungsi renal dimana terjadi penurunan fungsi ginjal yang cukup berat secara perlahan-
lahan (menahun) yang progresif dan irreversibel dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan
metabolisme dan kesimbangan cairan dan elektrolit.

B. Etiologi

Beberapa individu tanpa kerusakan ginjal dan dengan GFR normal atau meningkat dapat beresiko menjadi
CKD, sehingga harus dilakukan pemeriksaan lanjutan untuk menentukan apakah individu-individu ini menderita
CKD atau tidak. (3,5,8)
Kondisi-kondisi yang meningkatkan resiko terjadinya CKD:

1. Riwayat penyakit ginjal polikistik atau penyakit ginjal genetik lainnya di keluarga
2. Bayi dengan berat badan lahir rendah

3. Anak-anak dengan riwayat gagal ginjal akut akibat hipoksia perinatal atau serangan akut lainnya pada ginjal
4. Hipoplasia atau displasia ginjal
5. Gangguan urologis, terutama uropati obstruktif

6. Refluks vesikoureter yang berhubungan dengan infeksi saluran kemih berulang dan parut di ginjal
7. Riwayat menderita sindrom nefrotik dan nefritis akut
8. Riwayat menderita sindrom uremik dan nefritis akut
9. Riwayat menderita purpura Henoch-Schonlein
10. Diabetes Melitus
11. Lupus Eritermatosus Sistemik
12. Riwayat menderita hipertensi
13. Penggunaan jangka panjang obat anti inflamasi non steroid

C. Klasifikasi
Pembagian CKD berdasarkan stadium dari tingkat GFR (Glomerulus Filtrat Rate)1:
1. Stadium 1
Kelainan ginjal yang ditandai dengan albuminaria persisten dengan GFR masih normal > 90 ml/menit/1,73
m2 .
2. Stadium 2
Kerusakan ginjal ringan dengen penurunan nilai GFR, belum terasa gejala yang mengganggu.

Kelainan ginjal yang ditandai dengan albuminaria persistan dengan GFR 60-89 ml/menit/1,73 m2.
3. Stadium 3
Kerusakan ginjal masih bisa dipertahankan.
Kelainan ginjal dengan GFR 15-29 ml/menit/1,73 m 2.
4. Stadium 5
Kerusakan parah harus cuci ginjal.
Kelainan ginjal dengan GFR < 15 ml/menit/1,73m2.

Progresi CRF melewati empat tahap, yaitu penurunan cadangan ginjal, insufiensi ginjal, gagal ginjal, dan end-
stage renal disease. Tahap perkembangan gagal ginjal menurut Baradero yaitu:
1. Penurunan cadangan ginjal
- Sekitar 40-75% nefron tidak berfungsi
- Lajut filtrasi glomerulus 50-50% normal

- BUN dan kreatinin serum masih normal


- Pasien asimtomatik
2. Gagal ginjal (insufisiensi ginjal)
- 75-80% nefron tidak berfungsi
- Laju filtrasi glomerulus 20-40% normal
- BUN dan kreatinin serum mulai meningkat

- Anemia ringan dan azotemia ringan


- Nokturia dan poliuria
3. Gagal ginjal
- Laju filtrasi glomerulus 10-20% normal
- BUN dan kreatinin serum meningkat
- Anemia, azotemia, dan asidosis metabolik
- Berat jenis urine 1,010
- Poliuria dan nokturia
4. End stage renal disease (ESRD)
- Lebih dari 80% nefron tidak berfungsi
- Laju filtrasi glomerulus kurang dari 10% normal
- BUN dan kreatinin tinggi
- Anemia, azotemia, dan asidosis metabolik
- Berat jenis urine tetap 1,010
- Oliguria

Perbandingan nilai kreatinin, laju filtrasi glomerulus dan clearance rate untuk menilai fungsi ginjal.(3)
GFR Kreatinin (ml/ menit/ Clearance Rate (ml/
(mg/dL) 1,73 m2) menit)

Normal Pria <1,3 Pria 90-145


>90
Wanita <1,0

Wanita 75-115

Gangguan ginjal 60-89 Pria 1,3-1,9 56-100


ringan Wanita 1-1,9
Gangguan ginjal 30-59 2-4 35-55
sedang
Gangguan ginjal 15-29 >4 <35
berat

D. Patofisiologis/Pathway

Pada awal perjalanannya, keseimbangan cairan, penanganan garam, dan penimbunan produk sisa masih

bervariasi dan bergantung pada bagian ginjal yang sakit. Sampai fungsi ginjal turun kurang dari 25% normal,

manifestasi klinis gagal ginjal kronis mungkin minimal karena nefron-nefron lain yang sehat mengambil alih fungsi

nefron yang rusak. Nefron yang tersisa meningkatkan laju filtrasi, reabsorbsi, dan sekresinya serta mengalami

hipertrofi dalam proses tersebut. Seiring dengan mankin banyaknya nefron yang mati, nefron yang tersisa

menghadapi tugas yang semakin berat, sehingga nefron-nefron tersebut ikut rusak dan akhirnya mati. Sebagian

dari siklus kematian ini tampaknya berkaitan dengan tuntutan pada nefron-nefron yang ada untuk meningktkan

reabsorbsi protein. Seiring dengan penyusutan progresif nefron, terjadi pembentukan jaringan parut dan penurunan

aliran darah ginjal. Pelepasan rennin dapat meningkat, dan bersama dengan kelebihan beban cairan, dapat

menyebabkan hipertensi. Hipertensi mempercepat gagal ginjal, mungkin dengan meningkatkan filtrasi (karena

tuntutan untuk mempercepat gagal ginjal, mungkin dengan meningkatkan filtrasi (karena tuntutan untuk

reabsorbsi) protein plasma dan menimbulkan stress oksidatif.

Kegagalan ginjal membentuk eritroprotein dalam jumlah yamg adekuat seringkali menimbulkan anemia dan

keletihan akibat anemia berpengaruh buruk pada kualitas hidup. Selain itu, anemia kronis menyebabkan penurunan

oksigenasi jaringan di seluruh tubuh dan mengaktifkan refleks-refleks yang ditujukan untuk meningkatkan curah

jantung guna memperbaiki oksigenasi. Refleks ini mencakup aktivasi susunan saraf simpatis dan peningkatan

curah jantung. Akhirnya, perubahan tersebut merangsang individu yang menderita gagal ginjal mengalami gagal

jantung kongesttif sehingga penyakit ginjal kronis menjadi satu faktor resiko yang terkait dengan penyakit

jantung.(3)
Selama gagal ginjal kronik beberapa nefron termsuk glomeruli dan tubula masih berfungsi, sedangkan nefron
yang lain sudah rusak dan tidak berfungsi lagi. Nefron yang masih utuh dan berfungsi mengalami hipetrofi dan
menghasilkan filtrat dalam jumlah banyak. Reabsorbsi tubula juga meningkat walaupun laju filtrasi glomerulus
berkurang. Kompensasi nefron yang masih masih utuh dapat membuat ginjal mempertahankan fungsinya sampai
tiga perempat nefron rusak. Solut dalam cairan menjadi lebih banyak dari yang dapat direabsorbsi dan
mengakibatkan dieresis osmotic dengan poliura dan haus. Akhirnya, nefron yang rusak bertambah dan terjadi
oliguria akibat sisa metabolisme tidak disekresikan.

Tanda dan gejala timbul akibat cairan dan elektrolit yang tidak seimbang, perubahan fungsi regulator tubuh,
dan retensi solut. Anemia terjadi karena produksi eritrosit juga terganggu (sekresi eritropoietin ginjal berkurang).
Pasien mengeluh cepat lelah, pusing, dan letargi. Hiperurisemia sering ditemukan pada pasien dengan ESDR.
Fosfat serum juga meningkat, tetapi kalsium mungkin normal atau di bawah normal. Hal ini disebabkan eksresi
ginjal terhadap fosfat menurun. Ada peningkatan produksi parathormon sehingga kalsium serum mungkin normal.

Tekanan darah meningkat karena adanya hipervolemia; ginjal mengeluarkan vasopresor (renin). Kulit pasien
juga mengalami hiperpigmentasi serta kulit tampak kekuningan atau kecoklatan. Uremic frosts adalah kristal
deposit yang tampak pada pori-pori kulit. Sisa metabolism yang tidak dapat diekskresikan oleh ginjal diekskresikan
melalui kapliler kulit yang halus sehingga tampak uremic frosts: pasien dengan gagal ginjal yang berkembang dan
menjadi berat tanpa pengobatan yang efektif), dapat mengalami tremor otot, kesemutan betis dan kaki, perikarditis
dan pleuritis. Tanda ini dapat hilang apabila kegagalan ginjal dapat ditangani dengan midifikasi diet, medikasi, dan
atau dialysis.

Gejala uremia terjadi sangat perlahan sehingga pasien tidak dapat menyebutkan awitan uremianya. Gejala
azotemia juga berkembang, termasuk letargi, sakit kepala, kelelahan fisik dan mental, berat badan menurun, cepat
marah, dan depresi. Gagal ginjal yang berat menunjukkan gejala anoreksia, mual dan muntah yang berlangsung
terus, pernapasa pendek, edema pitting, serta pruritus.
E. Manifestasi Klinis
Menurut Corwin, 2009 gambaran klinis pada gagal ginjal yaitu:
- Pada gagal ginjal stadium 1, tidak tampak gejala-gekala klinis.

- Seiring dengan perburukan penyakit, penurunan pembentukan eritropoietin menyebabkan keletihan kronis
dan muncul tanda-tanda awal hipoksia jaringan dan gangguan kardiovaskular.

- Dapat timbul poliuria (peningkatan pengeluaran urin) karena ginjal tidak mampu memekatkan urin seiring
dengan perburukan penyakit.

- Pada gagal ginjal stadium akhir, pengeluaran urin turut akibat GFR rendah. Menurut
Baradero, 2008:

Penyebab Tanda/ gejala Parameter pengkajian

Sistem hematopoietic
Eritropoietin menurun Anemia, cepat lelah Hematokrit
Perdarahan Trombositopenia Hemoglobin
Trombositopenia ringan Ekimosis Hitung trombosit
Kegiatan trombosit menurun Perdarahan Petekie dan hematoma
Hematemesis dan melena
Sistem kardiovaskular
Kelebihan beban cairan Hipervolemia Tanda vital
Mekanisme renin- Hipertensi Berat badan
angiotensin Takikardi Elektrocardiogram
Anemia Disritmia Auskultasi jantung
Hipertensi kronik Gagal jantung kongestif Pemantauan elektrolit
Toksin uremik dalam cairan Pericarditis Kaji keluhan nyeri
pericardium
Sistem pernapasan
Mekanisme Takipnea Pengkajian pernapasan
kompensasi Pernapasan kussmaul Hasil pemeriksaan gas
untuk asidosis metabolic Halitosis uremik atau darah arteri
Toksin uremik fetor Inspeksi mukosa oral
Paru uremik Sputum yang lengket Tanda vital
Kelebihan beban cairan Batuk disertai nyeri
Suhu tubuh meningkat
Hilar pneumonitis
Pleular friction rub
Edema paru
Sistem gastrointestinal
Perubahan kegiatan Anoreksia Asupan dan haluaran
trombosit Mual dan muntah Hematokrit
Toksin uremik serum Perdarahan Hemoglobin
Ketidakseimbangan gastrointestinal Uji guaiak untuk feses
elektrolit Distensi abdomen Kaji feses
Urea diubah menjadi Diare dan konstipasi Kaji nyeri abdomen
amonia oleh saliva
Sistem neurologi
Toksin uremik Perubahan tingkat kesadaran; Tingkat kesadaran
Ketidakseimbangan letargi, bingung, stupor, dan Refleks
elektrolit koma Elektroensefalogram
Edema serebral karena Kejang Keseimbangan elektrolit
perpidahan cairan Tidur terganggu
Asteriksis
Sistem skeletal
Absorbsi kalsium menurun Osteodistrofi ginjal Faktor serum
Ekskresi fosfat menurun Rickets ginjal Kalsium serum
Nyeri sendi Kaji nyeri sendi
Pertumbuhan
lambat
pada anak
Kulit
Anemia Pucat Lecet, lebam, dan luka
Pigmentasi Pigmentasi Kaji warna kulit
Kelenjarkeringat mengecil Pruritus Perhatikan garukan pada
Kegiatan kelenjar lemak Ekimosis kulit
menurun Lecet
Uremic frosts

F. Pemeriksaan Penunjang
1. Radiologi

Ditunjukkan untuk menilai keadaan ginjal dan derajat kompliksi ginjal.

2. Ultrasonografi ginjal digunakan untuk menentukan ukuran ginjal dan adanya massa kista, obstruksi pada
saluran perkemihan bagian atas.

3. Biopsi Ginjal dilakukan secara endoskopik untuk menentukan sel jaringan untuk diagnosis histologist.
4. Endoskopi ginjal dilakukan untuk menentukan pelvis ginjal.

5. EKG mungkin abnormal menunjukkan ketidakseimbangan elektrolit dan asam basa.


6. Foto Polos Abdomen
Menilai besar dan bentuk ginjal serta ada batu atau obstruksi lain.
7. Pielografi Intravena

Menilai sistem pelviokalises dan ureter, beresiko terjadi penurunan faal ginjal pada usia lanjut, diabetes
melitus dan nefropati asam urat.
8. USG

Menilai besar dan bentuk ginjal, tebal parenkim ginjal, anatomi sistem pelviokalises, dan ureter proksimal,
kepadatan parenkim ginjal, anatomi sistem pelviokalises dan ureter proksimal, kandung kemih dan prostat.
9. Renogram

Menilai fungsi ginjal kanan dan kiri, lokasi gangguan (vaskuler, parenkim) serta sisa fungsi ginjal
10. Pemeriksaan Radiologi Jantung
Melihat adanya kardiomegali, efusi perkarditis
11. Pemeriksaan Radiologi Paru
Melihat uremik lung yang disebabkan karena bendungan
12. EKG

Untuk melihat kemungkinan adanya hipertrofi ventrikel kiri, tanda-tanda perikarditis, aritmia karena
gangguan elektrolit (hiperkalimia)
13. Biopsi Ginjal

Dilakukan bila terdapat keraguan dalam diagnostic gagal ginjal ginjal kronis atau perlu untuk mengetahui
etiologi
14. Pemeriksaan Laboratorium menunjang untuk diagnosis gagal ginjal

a. Laju endap darah


b. Urine
- Volume
Biasanya kurang dari 400 ml/jam (oliguria atau urine tidak ada (anuria).
- Warna

Secara normal perubahan urine mungkin disebabkan oleh pus/nanah, bakteri, lemak, partikel koloid,
fosfat, sedimen kotor, warna kecoklatan menunjukkan adanya darah, miglobin, dan porfirin.
- Berat Jenis

Kurang dari 1,015 (menetap pada 1,010 menunjukkan kerusakan ginjal berat).
- Osmolalitas

Kurang dari 350 mOsm/kg menunjukkan kerusakan tubular, amrasio urine/ureum sering 1:1.
c. Kreatinin

Biasanya meningkat dalam proporsi. Kadar kreatinin 10 mg/dL diduga tahap akhir
d. Hiponatremia
e. Hiperkalemia
f. Hipokalsemia dan hiperfosfatemia
g. Gula darah tinggi
h. Hipertrigliserida
i. Asidosis metabolic

G. Penatalaksanaan

Secara garis besar penatalaksanaan gagal ginjal kronik menurut dr. Imam Rasjidi dalam bukunya yang
berjudul Panduan Pelayanan Medik Model Interdisiplin Penatalaksaan Kanker Serviks dengan Gangguan ginjal
meliputi:
1. Pengobatan penyakit dasar atas diagnosis yang ada
2. Pengobatan terhadap penyakit penyerta

3. Penghambatan progresivitas penurunan fungsi ginjal


4. Pencegahan dan pengobatan terhadap penyait kardiovaskular
5. Pencegahan dan pengobatan terhadap komplikasi

6. Persiapan dan pemilihan terapi pengganti ginjal, khususnya apabila sudah didapatkan gejala dan tanda-tanda
uremia.
Terapi non farmakologis:
1. Pengaturan asupan protein:

- Pasien non dialysis 0,6-0,75 g/ kg BB ideal/ hari sesuai dengan CCT dan toleransi pasien
- Pasien hemodialisis 1-1,2 g/ kg BB ideal/ hari
- Pasien peritoneal dialysis 1,3 g/ kg BB/ hari

2. Pengaturan asupan kalori: 35 kal/ kg BB ideal/ hari

3. Pengaturan asupan lemak: 30-40% dari kalori total dan mengandung jumlah yang sama antara lemak bebas
jenuh dan tidak jenuh.
4. Pengaturan asupan karbohidrat: 50-60% dari kalori total
5. Pengaturan asupan garam dan mineral
- Garam (NaCl): 2-3 g/ hari
- Kalium 40-70 mEq/ kg BB/ hari
- Fosfor: 5-10 mg/ kg BB/ hari
- Pasien HD 17 mg/ hari
- Kalsium: 1400-1600 mg/ hari
- Besi: 10-18 mg/ hari
- Magnesium: 200-300 mg/ hari
- Asam folat pasien hemodialisa: 5 mg
- Air: jumlah urine 24 jam + 500 ml (IWL)

Pada CAPD air disesuaikan dengan jumlah dialisat yang keluar. Kenaikan berat badan diantara waktu HD
<5% BB kering.
1. Terapi farmakologis:
- Kontrol tekanan darah

Penghambat ACE atau antagonis reseptor Angiotensin II → evaluasi kratinin dan kalium serum. Bila
kreatini serum >35% atau timbul hiperkalemi, hentikan terapi ini.
- Penghambat kalsium

- Diuretik

- Pada pasien DM, gula darah dikontrol. Hindari memaka metforminin dan obat-obatan sulfonylurea
dengan masa kerja yang panjang. Target HbA1C untuk DM Tipe I 0,2 di ats normal tertinggi. Untuk DM
Tipe II adalah 6%.
- Koreksi anemia dengan target Hb 10-12 g/ dL
- Kontrol hiperfosfatemi: kalsium karbonat atau kalsium asetat
- Kontrol osteodistrol renal: kalsitriol
- Koreksi asidosis metabolic dengan target HCO3 20-22 mEq/L
- Koreksi hiperkalemia

- Kontrol dislipidemia dengan target LDL <100 mg/dl, dianjurkan golongan statin
- Terapi ginjal pengganti

H. Pengkajian Primer
1. Airway
a. Lidah jatuh kebelakang
b. Benda asing/darah pada rongga mulut
c. Adanya secret
2. Breathing
a. Pasien sesak nafas dan cepat letih
b. Pernafasan kusmaul
c. Dipsnea

d. Nafas berbau amoniak


3. Circulation
a. TD meningkat
b. Nadi kuat
c. Disritmia
d. Adanya peningkatan JVP
e. Terdapat edema pada ekstremitas

f. Capillary refill > 3 detik


g. Akral dingin

h. Cenderung adanya perdarahan terutama pada lambung


4. Disability
Pemeriksaan neurologis : GCS menurun bahkan terjadi koma, kelemahan dan

keletihan, konfusi, disorientasi, kejang, kelemahan

pada tungkai
A (Allert) : sadar penuh, respon bagus
V (Voice Respon) : kesadaran menurun, berespon terhadap suara
P (Pain Respon) : kesadaran menurun, tidak berespon terhadap suara,
tidak berespon terhadap rangsang nyeri
U (Unresponsive) : kesadaran menurun. Tidak berespon terhadap suara,

tidak berespon terhadap nyeri

I. Pengkajian Sekunder
1. Aktivitas dan Istirahat

Kelelahan, kelemahan, malaise, gangguan tidur, kelemahan otot dan tonus, penurunan
ROM
2. Sirkulasi

Riwayat hipertensi lama atau berat, palpitasi, nyeri dada, peningkatan JVP, takikardia, hipotensi ortostatik,
friction rub
3. Psikologis
Faktor stress, perasaan tak berdaya, tidak ada kekuatan, cemas, takut.
4. Nutrisi dan Cairan

Peningkatan berat badan karena oedema, penurunan berat badan karena malnutrisi, anoreksia, mual, muntah,
rasa logam pada mulut, asites, penurunan otot, penurunan lemak subkutan.
5. Eliminisi
Penurunan frekuensi urine, oliguria, anuria, perubahan warna urine, urine pekat, diare, konstipasi, abdomen
kembung.
6. Neurosensori
Sakit kepala, penglihatan kabur, kram otot, kejang, kebas, kesemutan, gangguan status mental, penurunan
lapang penglihatan, ketidakmampuan berkonsentrasi, kehilangan memori, kacau, penurunan tingkat
kesadaran, koma.
7. Aman dan Nyaman

Nyeri panggul, sakit kepala, kram otot, nyeri kaki, gelisah, kulit gatal, infeksi berulang, pruritus, ekimosis.
8. Pernafasan

Pernafasan cepat dan dangkal, paroksismal nocturnal, dipsneau, batuk produktif dengan frotty sputum bila
terjadi oedema pulmonal.
J. Diagnosa Keperawatan

1. Gangguan pertukaran gas b/d edema pulmonal, kongesti paru, hipertensi pulmonal, penurunan perifer yang

mengakibatkan asidosis laktat dan penurunan curah jantung

2. Kelebihan volume cairan b/d berkurangnya curah jantung, retensi cairan dan natrium oleh ginjal,
hipoperfusi ke jaringan perifer dan hipertensi pulmonal

3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat

4. Intoleransi aktivitas b/d curah jantung yang rendah, ketidakmampuan memenuhi metabolisme otot rangka,
kongesti pulmonal yang menimbulkan hipoksinia, dyspneu dan status nutrisi yang buruk selama sakit, fatigue
5. Kerusakan integritas kulit
6. Resiko infeksi
7. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer
K. Intervensi Keperawatan

No Diagnosa Keperawatan Tujuan Intervensi

1. Gangguan pertukaran gas b/d edema NOC: NIC :


pulmonal, kongesti paru, hipertensi Respiratory Status : Gas Airway Management
pulmonal, penurunan perifer yang exchange - Buka jalan nafas, guanakan teknik chin lift
mengakibatkan asidosis laktat dan Respiratory Status : atau jaw thrust bila perlu
penurunan curah jantung (Kode : ventilation -Posisikan pasien untuk memaksimalkan
00030) Vital Sign Status ventilasi
- Identifikasi pasien perlunya pemasangan alat
Definisi : Kelebihan atau kekurangan Kriteria Hasil : jalan nafas buatan
dalam oksigenasi dan atau pengeluaran Setelah dilakukan tindakan - Pasang mayo bila perlu
karbondioksida di dalam membran keperawatan selama 3x24 - Lakukan fisioterapi dada jika perlu
kapiler alveoli jam, - Keluarkan sekret dengan batuk atau
diharapkan gangguan suction
Batasan karakteristik : pertukaran gas teratasi - Auskultasi suara nafas, catat adanya
 Gangguan penglihatan dengan kriteria hasil: suara tambahan
 Penurunan CO2 - Mendemonstrasikan - Lakukan suction pada mayo
 Takikardi peningkatan ventilasi dan - Berikan bronkodilator bila perlu
 Hiperkapnia oksigenasi yang adekuat - Berikan pelembab udara
 Keletihan - Memelihara kebersihan - Atur intake untuk cairan
 Somnolen paru mengoptimalkan
paru dan bebas dari tanda keseimbangan
 Iritabilitas
tanda - Monitor respirasi dan status O2
 Hypoxia
distress pernafasan
 Kebingungan -Mendemonstrasikan batuk Respiratory Monitoring
 Dyspnoe efektif dan suara nafas - Monitor rata – rata, kedalaman, irama
 Nasal faring yang bersih, tidak ada dan usaha
 AGD Normal sianosis dan dyspneu respirasi
 Sianosis (mampu mengeluarkan - Catat pergerakan dada,amati
 Warna kulit abnormal sputum, mampu bernafas kesimetrisan,
(pucat, dengan mudah, tidak ada penggunaan otot tambahan, retraksi otot
 kehitaman) pursed lips) supraclavicular dan intercostal
 Hipoksemia -Tanda tanda vital dalam - Monitor suara nafas, seperti dengkur
 Hiperkarbia rentang normal - Monitor pola nafas : bradipena,
 Sakit kepala ketika bangun takipenia,
 Frekuensi dan kedalaman kussmaul, hiperventilasi, cheyne stokes,
nafasabnormal biot
- Catat lokasi trakea
Faktor faktor yang berhubungan : - Monitor kelelahan otot diagfragma (
 Ketidakseimbangan perfusi gerakan paradoksis )
ventilasi - Auskultasi suara nafas, catat area
 Perubahan membran kapiler- penurunan /
alveolar tidak adanya ventilasi dan suara tambahan
- Tentukan kebutuhan suction dengan
mengauskultasi crakles dan ronkhi pada
jalannapas utama
- Auskultasi suara paru setelah tindakan
untuk mengetahui hasilnya

AcidBase Management
- Monitor IV line
- Pertahankanjalan nafas paten
- Monitor AGD, tingkat elektrolit
- Monitor status hemodinamik(CVP, MAP,
PAP)
- Monitor adanya tanda tanda gagal nafas
- Monitor pola respirasi
- Lakukan terapi oksigen
- Monitor status neurologi
- Tingkatkan oral hygiene
2. Kelebihan volume cairan b/d NOC : NIC :
berkurangnya curah jantung, retensi Electrolit and acid base Fluid management
cairan dan natrium oleh ginjal, balance - Timbang popok/pembalut jika diperlukan
hipoperfusi ke jaringan perifer dan Fluid balance - Pertahankan catatan intake dan output
hipertensi pulmonal (Kode : 00026) yang akurat
Kriteria Hasil: - Pasang urin kateter jika diperlukan
Definisi : Retensi cairan isotomik Setelah dilakukan tindakan - Monitor hasil lAb yang sesuai dengan
meningkat keperawatan selama 3x24 retensi
jam, cairan (BUN , Hmt , osmolalitas urin )
Batasan karakteristik : diharapkan kebutuhan - Monitor status hemodinamik termasuk
 Berat badan meningkat pada cairan CVP,MAP, PAP, dan PCWP
waktu yang singkat terpenuhi dengan kriteria - Tentukan riwayat jumlah dan tipe intake
 Asupan berlebihan dibanding hasil: cairan
output Tekanan darah - Terbebas dari edema, dan eliminasi
berubah, tekanan arteri efusi, - Tentukan kemungkinan faktor resiko
pulmonalis berubah, anaskara dari
peningkatan CVP - Bunyi nafas bersih, tidak ketidak seimbangan cairan (Hipertermia,
 Distensi vena jugularis ada dyspneu/ortopneu terapi
 Perubahan pada pola nafas, - Terbebas dari distensi diuretik, kelainan renal, gagal jantung,
dyspnoe/sesak nafas, vena diaporesis, disfungsi hati, dll)
orthopnoe, suara nafas jugularis, reflek - Monitor berat badan
abnormal (Rales atau hepatojugular - Monitor serum dan elektrolit urine
crakles),kongestikemacetan (+) - Monitor serum dan osmilalitas urine
paru, pleural effusion - Memelihara tekanan vena - Monitor BP, HR, dan RR
 Hb dan hematokrit menurun sentral, tekanan kapiler - Monitor tekanan darah orthostatik dan
 Perubahan elektrolit, paru, perubahan irama jantung
khususnya perubahan berat output jantung dan vital - Monitor parameter hemodinamik infasif
jenis sign - Catat secara akutar intake dan output
dalam batas normal - Monitor adanya distensi leher, rinchi,
 Suara jantung SIII
- Terbebas dari kelelahan, eodem
 Reflek hepatojugular positif
kecemasan atau kebingungan perifer dan penambahan BB
 Oliguria, azotemia - Menjelaskan indikator - Monitor tanda dan gejala dari odema
 Perubahan status mental, kelebihan cairan.
kegelisahan, kecemasan

Faktor-faktor yang berhubungan :


 Mekanisme pengaturan
melemah
 Asupan cairan berlebihan
 Asupan natrium berlebihan
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang NOC : NIC :
dari kebutuhan tubuh berhubungan Nutritional Status : food Nutrition Management
dengan intake yang tidak adekuat and Fluid Intake - Kaji adanya alergi makanan
(Kode :00002) - Kolaborasi dengan ahli gizi untuk
Definisi : Intake nutrisi tidak cukup Kriteria Hasil : menentukan jumlah kalori dan nutrisi
untuk keperluan metabolisme tubuh. Setelah dilakukan tindakan yang dibutuhkan
keperawatan selama 3x24 pasien.
Batasan karakteristik : jam, - Anjurkan pasien untuk meningkatkan
-Berat badan 20 % atau lebih di bawah diharapkan kebutuhan intake
ideal nutrisi - Anjurkan pasien untuk meningkatkan
-Dilaporkan adanya intake terpenuhi dengan kriteria protein dan vitamin C
makananyang kurang dari RDA hasil: - Berikan substansi gula
(Recomended - Adanya peningkatan berat - Yakinkan diet yang dimakan
-Daily Allowance) badan sesuai dengan tujuan mengandung tinggi serat untuk mencegah
-Membran mukosa dan konjungtiva - Berat badan ideal sesuai konstipasi
pucat dengan - Berikan makanan yang terpilih (sudah
-Kelemahan otot yang digunakan untuk tinggi badan dikonsultasikan dengan ahli gizi)
menelan/mengunyah - Mampu mengidentifikasi - Ajarkan pasien bagaimana membuat
-Luka, inflamasi pada rongga mulut kebutuhan nutrisi catatan makanan harian.
-Mudah merasa kenyang, sesaat setelah - Tidak ada tanda tanda - Monitor jumlah nutrisi dan kandungan
mengunyah makanan malnutrisi kalori
-Dilaporkan atau fakta adanya - Tidak terjadi penurunan - Berikan informasi tentang kebutuhan
kekurangan makanan berat badan yang berarti nutrisi
-Dilaporkan adanya perubahan - Kaji kemampuan pasien untuk
sensasi mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan
rasa
-Perasaan ketidakmampuan untuk Nutrition Monitoring
mengunyah makanan - BB pasien dalam batas normal
-Miskonsepsi - Monitor adanya penurunan berat badan
-Kehilangan BB dengan makanan - Monitor tipe dan jumlah aktivitas yang
cukup biasa dilakukan
-Keengganan untuk makan - Monitor interaksi anak atau orangtua
-Kram pada abdomen selama makan
-Tonus otot jelek - Monitor lingkungan selama makan
-Nyeri abdominal dengan atau tanpa - Jadwalkan pengoba tan dan tindakan
patologi tidak
-Kurang berminat terhadap makanan selama jam makan
-Pembuluh darah kapiler mulai rapuh - Monitor kulit kering dan perubahan
-Diare dan atau steatorrhea pigmentasi
-Kehilangan rambut yang cukup - Monitor turgor kulit
banyak - Monitor kekeringan, rambut kusam, dan
(rontok) mudahpatah
-Suara usus hiperaktif - Monitor mual dan muntah
-Kurangnya informasi, misinformasi - Monitor kadar albumin, total protein,
Hb, dan kadar Ht
Faktor-faktor yang berhubungan : - Monitor makanan kesukaan
 Ketidakmampuan pemasukan - Monitor pertumbuhan dan perkembangan
atau mencerna makanan atau - Monitor pucat, kemerahan, dan
mengabsorpsi kekeringan jaringan konjungtiva
 zat-zat gizi berhubungan - Monitor kalori dan intake nuntrisi
dengan faktor biologis, - Catat adanya edema,
psikologis atau ekonomi. hiperemik,hipertonik
papila lidah dan cavitas oral
- Catat jika lidah berwarna magenta, scarlet
4. Intoleransi aktivitas b/d fatigue (Kode : NOC : NIC :
00092) Energy conservation Energy Management
Self Care : ADLs - Observasi adanya pembatasan klien
Definisi : Ketidakcukupan energi dalam
secara Kriteria Hasil : melakukan aktivitas
fisiologis maupun psikologis untuk Setelah dilakukan tindakan - Dorong anal untuk mengungkapkan
meneruskan atau menyelesaikan keperawatan selama 3x24 perasaan terhadap keterbatasan
aktifitas yang diminta atau aktifitas jam, diharapkan klien dapat - Kaji adanya factor yang menyebabkan
sehari hari. beraktivitas dengan kriteria kelelahan
hasil: - Monitor nutrisi dan sumber energi
Batasan karakteristik : - Berpartisipasi dalam tangadekuat
 Melaporkan secara verbal aktivitas fisik tanpa disertai - Monitor pasien akan adanya kelelahan
adanya kelelahan atau peningkatan tekanan darah, fisik dan emosi secara berlebihan
kelemahan. nadi dan RR - Monitor respon kardivaskuler terhadap
 Respon abnormal dari - Mampu melakukan aktivitas
tekanan darah atau nadi aktivitas sehari hari (ADLs) - Monitor pola tidur dan lamanya
terhadap aktifitas secara mandiri tidur/istirahat pasien
 Perubahan EKG yang
menunjukkan aritmia atau Activity Therapy
iskemia - Kolaborasikan dengan Tenaga
 Adanya dyspneu atau Rehabilitasi
ketidaknyamanan saat Medik dalammerencanakan progran terapi
beraktivitas yang tepat
- Bantu klien untuk mengidentifikasi
Faktor-factor yang berhubungan : aktivitas yang mampu dilakukan
 Tirah Baring atau imobilisasi - Bantu untuk memilih aktivitas konsisten
 Kelemahan menyeluruh yangsesuai dengan kemampuan fisik,
psikologi dan social
 Ketidakseimbangan antara
- Bantu untuk mengidentifikasi dan
suplei oksigen dengan
mendapatkan sumber yang diperlukan
kebutuhan
untuk aktivitas yang diinginkan
 Gaya hidup yang
- Bantu untuk mendpatkan alat bantuan
dipertahankan.
aktivitas seperti kursi roda, krek
- Bantu untu mengidentifikasi aktivitas
yang disukai
- Bantu klien untuk membuat jadwal
latihan diwaktu luang
- Bantu pasien/keluarga untuk
mengidentifikasi kekurangan dalam
beraktivitas
- Sediakan penguatan positif bagi yang
aktif beraktivitas
- Bantu pasien untuk mengembangkan
motivasi diri dan penguatan
- Monitor respon fisik, emoi, social dan
spiritual
5. Kerusakan integritas kulit (Kode : NOC : NIC :
00044) Tissue integrity: skin and Pressure Management
mucous membranes - Anjurkan pasien untuk menggunakan
Definisi: Hemodyalis akses pakaian yang longgar
Perubahan/ gangguan epidermis dan/ - Hindari kerutan pada tempat tidur
atau dermis Kriteria Hasil : - Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih
Setelah dilakukan tindakan dan kering
Batasan karakteristik: keperawatan selama 3x24 - Mobilisasi pasien setiap dua jam sekali
 Kerusakan lapisan kulit (dermis jam, - Monitor kulit adanya kemerahan
) diharapkan kerusakan - Oleskan lotion pada daerah yang tertekan
 Gangguan permukaan kulit integritas kulit - Monitor aktivitas dan mobilisasi pasien
(epidermis) teratasi dengan kriteria hasil: - Monitor status nutrisi pasien
 Invasi struktur tubuh - Integritas kulit yang baik - Memandikan pasien dengan sabun dan
bias dipertahankan (sensai, air hangat
Faktor yang berhubungan : elastisitas, temperature,
-internal hidrasi, pigmentasi)
-eksternal - Tidak ada luka/ lesi pada
kulit
- Perfusi jaringan baik
- Menunjukkan pemahaman
dalam proses perbaikan
kulit dan mencegah
terjadinya cedera
berulang
- Mampu melindungi kulit
dan mempertahankan
kelembaban kulit dan
perawatan alami
6. Resiko infeksi (Kode : 00004) NOC : NIC:
Immune status Infection control
Definisi: Mengalami peningkatan Knowledge: infection control - Bersihkan lingkungan setelah dipakai
resiko terserang organism patogenik Risk control - Pertahankan teknik isolasi
- Batasi pengunjung bila perlu
Faktor-faktor resiko: Kriteria Hasil : - Instruksikan pengunjung untuk mencuci
- Penyakit kronis Setelah dilakukan tindakan tangan saat berkunjung dan setelah
- Pengetahuan yang tidak cukup keperawatan selama 3x24 berkunjung
untuk menghindari pemajanan jam,diharapkan resiko - Gunakan sabun antimikroba untuk cuci
patogen infeksi tidakterjadi dengan tangan
- Pertahanan tubuh primer yang kriteria hasil: - Tingkatkan intake nutrisi
tidak adekuat - Klien bebas dari tanda - Berikan terapi antibiotic bila perlu
- Ketidakadekuatan pertahanan dan Infection protection
sekunder gejala infeksi - Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik
- Vaksinasi tidak adekuat - Mendiskripsikan proses dan lokal
- Pemajanan terhadap patogen penularan penyakit, factor - Monitor kerentanan terhadap infeksi
lingkungan meningkat yang mempengaruhi - Batasi pengunjung
- Prosedur invasive penularan serta - Pertahankan teknik isolasi
- Malnutris penatalaksanaannya - Inspeksi kulit dan membrane mukosa
- Menunjukkan kemampuan terhadap kemerahan, panas, drainase
untuk mencegah timbulnya - Inspeksi kondisi lika/ insisi bedah
infeksi - Dorong masukan nutrisi dan cairan
- Jumlah leukosit dalam - Dorong istirahat
batas normal - Ajarkan pasien dan keluarga tanda dan
- Menunjukkan perilaku gejala infeksi
hidup sehat - Ajarkan cara menghindari infeksi
- Laporkan kecurigaan infeksi
7. Ketidakefektifan perfusi jaringan NOC : NIC :
Perifer Circulation status Peripheral Sensation Management
Kriteria Hasil : - Monitor adanya daerah tertentu yang
Definisi: Penurunan sirkulasi darah Setelah dilakukan tindakan hanya
keperifer yang dapat mengganggu keperawatan selama 3x24 peka terhadap panas/ dingin/ tajam/ tumpul
Kesehatan jam, - Monitor adanya paretese
diharapkan perfusi jaringan - Instruksikan keluarga untuk
Batasan karakteristik: perifer mengobservasi
Tidak ada nadi,Perubahan fungsi efektif dengan kriteria hasil: kulit jika ada lesi atau laserasi
motoric,Perubahan karakteristik kulit - Mendemostrasikan status - Gunakan sarung tangan untuk proteksi
Perubahan tekanan darah di sirkulasi yang ditandai - Batasi gerakan pada kepala, leher, dan
ekstremitas,Waktu pengisian kapiler >3 dengan: punggung
detik,Warna kembali ke tungkai saat -Tekanan systole dan - Monitor kemampuan BAB
tungka diturunkan,Kelambatan diastole dalam rentang yang - Kolaborasi pemberian analgesic
penyembuhan luka perifer,Penurunan diharapkan - Monitor adanya tromboplebitis
nadi,Edema -Tidak ada ortostatik - Diskusikan mengenai penyebab
,Nyeri ekstremitas,Warna kulit pucat hipertensi perubahan
saat elevasi - Mendemonstrasikan sensasi
kemampuan kognitif
Faktor yang berhubungan: - Menunjukkan fungsi
- Kurang pengetahuan tetang factor sensori motori cranial yang
Pemberat, Kurang pengetahuan utuh
tentang,proses penyakit
DAFTAR PUSTAKA

1. Alam, Syamsir dan Iwan Hadibroto. 2007. Gagal ginjal: Panduan Lengkap untuk
Penderita dan keluarganya. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
2. Baradero, Mary. 2008. Klien gangguan ginjal. Jakarta: EGC.
3. Corwin, Elizabeth J. 2009. Patofisiologi: Buku Saku. Jakarta: EGC.

4. Doengoes, M.E., Moorhouse, M.F., Geissler, A.C. 2000 Nursing care plans: Guidelines for planning
and documenting patients care. Jakarta: EGC
5. Long, B.C. 1996. Essential of medical – surgical nursing : A nursing process
approach. Bandung: IAPK Padjajaran

6. Nahas, Meguid El & Adeera Levin. Chronic Kidney Disease: A Practical Guide
to Understanding and Management. USA : Oxford University Press. 2010

7. Price, S.A. & Wilson, L.M. 2005. Pathophysiology: Clinical concept of disease

processes. 4th Edition. Jakarta: EGC


8. Rasjidi, Imam dkk. 2008. Panduan pelayanan medik: model interdisiplin
penatalaksanaan kanker serviks dengan gangguan ginjal. Jakarta: EGC.S
9. Reeves, C.J., Roux, G., Lockhart, R. 2001. Medical – surgical nursing. J. Jakarta: Salemba Medika
10. Smeltzer, S.C. & Bare, B.G. 2000. Medical– Surgical Nursing. 8th Edition. Jakarta: EGC