Anda di halaman 1dari 11

A.

Pengertian Pemeriksaan Feses


Pemeriksaan feses merupakan cara yang dilakukan untuk mengambil
feses sebagai bahan pemeriksaan. Tinja adalah bahan buangan yang
dikeluarkan dari tubuh manusia melalui anus sebagai sisa dari proses
pencernaan makanan di sepanjang sistem saluran pencernaan (tractus
digestifus). Pengertian tinja ini juga mencakup seluruh bahan buangan yang
dikeluarkan dari tubuh manusia termasuk karbon monoksida (CO2) yang
dikeluarkan sebagai sisa dari proses pernapasan, keringat, lendir dari ekskresi
kelenjar, dan sebagainya. Feses (tinja) juga merupakan hasil pemisahan dan
terdiri dari : sisa – sisa makanan, air, bakteri, zat warna empedu.

B. Tujuan Pemeriksaan Feses


Pemeriksaan dengan bahan feses bertujuan untuk mendeteksi adanya
kuman seperti Salmonella, Escherichia coli, Staphylococcus, Sigela, dan lain-
lain. Salmonella adalah bakteri penyebab typhoid atau dalam masyarakat
dikenal dengan tipes yaitu penyakit infeksi akut usus halus C. Sinonim dari
penyakit ini adalah typhoid dan paratyphoid abdominalis.. Staphylococcus
adalah kelompok dari bakteri-bakteri, secara akrab dikenal sebagai Staph,
yang dapat menyebabkan banyak penyakit sebagai akibat dari infeksi
beragam jaringan tubuh. Bakteri-bakteri Staph dapat menyebabkan penyakit
tidak hanya secara langsung oleh infeksi (seperti pada kulit), namun juga
secara tidak langsung dengan menghasilkan racun-racun yang bertanggung
jawab dalam keracunan makanan dan toxic shock syndrome. Penyakit yang
berhubungan dengan Staph dapat mencakup dari ringan dan tidak
memerlukan perawatan sampai berat/parah dan berpotensi fatal.
Eschericiacoli adalah bakteri yang melepaskan racun yang bernama Shiga
dan racun tersebut sering menyebabkan masalah perut dan usus misalnya
diare dan muntah.

C. Indikasi Pemeriksaan Feses


1. Adanya diare dan konstipasi
Tipe-Tipe Diare

1
Diare dibagi menjadi tiga tipe. Tipe-tipe tersebut adalah diare
noninflamatori (noninflammatory diarrhea), diare inflamatori
(inflammatory diarrhea), dan diare pada penyakit sistemik. Istilah lain
untuk diare non inflamatori adalah diare sekretori (secretory diarrhea)
dan diare encer (watery diarrhea). Sinonim diare inflamatori adalah diare
berdarah (bloody diarrhea) dan disenteri (dysentery).
a. Diare Non Inflamatori
Diare Non inflamatori melibatkan usus halus proksimal. Penyebab
Diare Non inflamatori adalah Norovirus, Rotavirus, Adenovirus
Enterik, Astrovirus, ETEC, EAggEC, Vibrio cholerae, Clostridium
perfringens, Bacillus cereus, Staphylococcus aureus, Giardia
lamblia, Cryptosporidium parvum, Isospora belli, Cyclospora
cayetensis, dan mikrosporidia.
b. Diare Inflamatori
Diare Inflamatori melibatkan usus besar. Mikroba yang menyebabkan
Diare Inflamatori bersifat invasif terhadap usus (enteroinvasive
microorganisms). Penyebab diare inflamatori adalah Entamoeba
histolytica, Shigella spp., EIEC, EHEC, Salmonella enteridis,
Campylobacter jejuni, Vibrio parahaemolyticus, dan Clostridium
difficile. Sampai saat ini, virus belum terbukti sebagai penyebab diare
inflamatori.
c. Diare Pada Penyakit Sistemik
Salah satu contoh Diare pada penyakit sistemik adalah Demam
Enterik. Istilah lain untuk demam enterik adalah demam tifoid. Diare
pada penyakit sistemik melibatkan usus halus distal. Penyebab Diare
pada penyakit sistemik adalah Salmonella typhi, Slamonella non-
typhi, Yersinia enterocolitica, dan Campylobacter spp.. Virus dan
parasit belum terbukti secara empiris sebagai penyebab diare pada
penyakit sistemik.
2. Adanya ikterus
3. Adanya ikterus Adanya gangguan pencernaan
4. Adanya lendir dalam tinja

2
5. Kecurigaan penyakit gastrointestinal
6. Adanya darah dalam tinja

D. Macam-macam Warna Feses


Feses umumnya berwarna kuning di karenakan bilirubin (sel darah merah
yang mati, yang juga merupakan zat pemberi warna pada feses dan urin).
Bilirubin adalah pigmen kuning yang dihasilkan oleh pemecahan
hemoglobin (Hb) di dalam hati (liver). Bilirubin dikeluarkan melalui empedu
dan dibuang melalui feses. Fungsinya untuk memberikan warna kuning
kecoklatan pada feses.
Selain itu warna dari feses ini juga dapat dipengaruhi oleh kondisi medis,
makanan serta minuman yang dikonsumsi, karena itu sangat mungkin warna
feses berubah sesuai dengan makanan yang dikonsumsi.
1. Warna Kuning Kecoklatan
Feses berwarna kuning adalah normal. Karena feses manusia pada
umumnya adalah warna ini. Warna kecoklatan atau kekuningan ini
disebabkan karena feses mengandung suatu zat berwarna orange-kuning
yang disebut bilirubin. Ketika bilirubin ini bergabung dengan zat besi dari
usus maka akan dihasilkan perpaduan warna cokelat kekuning-kuningan.
2. Warna Hitam
Feses berwarna hitam bisa jadi mengandung darah dari sistem pencernaan
sebelah atas, kerongkongan, lambung atau juga bagian hulu usus halus.
Zat lain yang memberi warna hitam ke feses kita bisa juga dari zat-zat
makanan berwarna Hitam (Licorice), timbal, pil yang mengandung besi,
pepto-bismol atau blueberry. Bisa juga karena mengkonsumsi herb
(sejenis tumbuhan yang dikenal dengan akar manis).
3. Warna Hijau
Feses warna hijau didapat dari klorofil sayuran, seperti bayam yang
dikonsumsi. Selain itu pewarna makanan biru atau hijau yang biasa
terkandung dalam minuman atau es bisa menyebabkan feses berwarna
hijau. Kondisi ini biasanya disebabkan oleh makanan yang terlalu cepat
melewati usus besar sehingga tidak melalui proses pencernaan dengan

3
sempurna. Feses hijau jg bisa terjadi pada diare, yakni ketika bahan
pembantu pencernaan yg diproduksi hati dan disimpan dalam empedu
usus tanpa pengolahan atau perubahan. Ada kejadian khusus pada bayi
dimana jika feses berwarna hijau dianggap feses normal, khususnya
ketika bayi itu baru saja dilahirkan.
4. Warna Merah
Seperti layaknya feses hitam, tetapi bedanya feses merah ini dominan
diberi oleh kandungan darah. Darah ini di dapat dari sistem pencernaan
bagian bawah. Wasir dan radang usus besar adalah yang menjadi
penyebab utama feses menjadi berwarna merah. Feses merah akibat
makanan umumnya disebabkan oleh buah bit, makanan dengan pewarna
merah termasuk minuman bubuk dan juga makanan yang mengandung
gelatin. Mengkonsumsi tomat juga bisa membuat feses jadi merah.
5. Warna Abu-abu / Pucat
Sama dalam dunia manusia, wajah pucat menandakan orang yang sakit.
Kali ini feses pucat pun menandakan si empunya feses sedang dilanda
sakit. Biasanya sang empunya sedang mengalami penyakit liver,
pankreas, atau empedu, maka pantat dari sang empu akan berwarna abu-
abu atau pucat.

Perkiraan Komposisi Tinja tanpa Air Seni


Komponen Kandungan (%)
Air 66-80
Bahan organik (dari berat kering) 88-97
Nitrogen (dari berat kering) 5,7-7,0
Fosfor (sebagai P2O5) (dari berat kering) 3,5-5,4
Potasium (sebagai K2O) (dari berat kering) 1,0-2,5
Karbon (dari berat kering) 40-55
Kalsium (sebagai CaO) (dari berat kering) 4-5
C/N rasio (dari berat kering) 5-10

4
Kuantitas Tinja dan Air Seni
Gram/orang/hari
Tinja/Air Seni
Berat Basah Berat Kering
Tinja 135-270 35-70
Air Seni 1.000-1.300 50-70
Jumlah 1.135-1.570 85-140

E. Jenis Pemeriksaan Sampel Feses


Pemeriksaan Lengkap : Pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan makroskopis,
dan pemeriksaan mikroskopis.
1. Pemeriksaan Makroskopis
a. Pemeriksaan Warna pada Feses
Warna Feses Keterangan
Warna kuning Warna ini dapat berubah mejadi lebih tua dengan
coklat terbentuknya urobilin lebih banyak. Selain urobilin
warna tinja dipengaruhi oleh berbagai jenis makanan,
kelainan dalam saluran pencernaan dan obat yang
dimakan.
Warna kuning Dapat disebabkan karena susu,jagung, lemak dan obat
santonin.
Warna hijau Disebabkan oleh sayuran yang mengandung khlorofil
atau pada bayi yang baru lahir disebabkan oleh
biliverdin dan porphyrin dalam mekonium.
Warna merah Disebabkan oleh perdarahan yang segar dibagian distal,
muda mungkin pula oleh makanan seperti bit atau tomat.

b. Pemeriksaan Jumlah pada Feses


Dalam keadaan normal jumlah tinja berkisar antara 100--250 gram
perhari. Banyaknya tinja dipengaruhi jenis makanan bila banyak
makan sayur jumlah tinja meningkat. Tinja normal
mempunyai konsistensi agak lunak dan berbentuk.

5
Pada diare konsistensi menjadi sangat lunak atau cair, sedangkan
sebaliknya tinja yang keras atau skibala didapatkan pada konstipasi.
Peragian karbohidrat dalam usus menghasilkan tinja yang lunak dan
bercampur gas.
c. Pemeriksaan Bau pada Feses
Bau normal : beraroma khas, bukan bau busuk. Sedangkan bau
tidak normal : Baunya sangat busuk. Di curigai, ada pembusukan yang
tidak normal oleh bakteri di usus. Indol, skatol dan asam butirat
menyebabkan bau normal pada tinja. Bau busuk didapatkan jika
dalam usus terjadi pembusukan protein yang tidak dicerna dan
dirombak oleh kuman. Tinja yang berbau tengik atau asam disebabkan
oleh peragian gula yang tidak dicerna seperti pada diare. Reaksi tinja
pada keadaan itu menjadi asam. Konsumsi makanan dengan rempah-
rempah dapat mengakibatkan rempah-rempah yang tercerna
menambah bau tinja.
d. Pemeriksaan Konsistensi pada Feses
Tinja normal mempunyai konsistensi agak lunak dan berbentuk. Pada
diare konsistensi menjadi sangat lunak atau cair, sedangkan
sebaliknya tinja yang keras atau skibala didapatkan pada konstipasi.
Peragian karbohidrat dalam usus menghasilkan tinja yang lunak dan
bercampur gas. Konsistensi tinja berbentuk pita ditemukan pada
penyakit hisprung. feses yang sangat besar dan berminyak
menunjukkan malabsorpsi usus.
e. Pemeriksaan Lendir pada Feses
Dalam keadaan normal didapatkan sedikit sekali lendir dalam tinja.
Terdapatnya lendir yang banyak berarti ada rangsangan atau radang
pada dinding usus.
f. Pemeriksaan Darah pada Feses
Adanya darah dalam tinja dapat berwarna merah muda, coklat atau
hitam. Darah itu mungkin terdapat di bagian luar tinja atau bercampur
baur dengan tinja.

6
1) Pada perdarahan proksimal saluran pencernaan darah akan
bercampur dengan tinja dan warna menjadi hitam, ini disebut
melena seperti pada tukak lambung atau varices dalam
oesophagus.
2) Pada perdarahan di bagian distal saluran pencernaan darah
terdapat di bagian luar tinja yang berwarna merah muda yang
dijumpai pada hemoroid atau karsinoma rektum. Semakin
proksimal sumber perdarahan semakin hitam warnanya.
g. Pemeriksaan Nanah pada Feses
Pada pemeriksaan feses dapat ditemukan nanah. Hal ini terdapat pada
pada penyakit kronik ulseratif kolon , fistula colon sigmoid, dan lokal
abses. Sedangkan pada penyakit disentri basiler tidak didapatkan
nanah dalam jumlah yang banyak.
h. Parasit
Pemeriksaan parasit diperiksa pula adanya cacing ascaris, anylostoma
dan spesies cacing lainnya yang mungkin didapatkan dalam feses.
i. Sisa Makanan
Hampir selalu dapat ditemukan sisa makana yang tidak tercerna,
bukan keberadaannya yang mengindikasikan kelainan melainkan
jumlahnya yang dalam keadaan tertentu dihubungkan dengan sesuatu
hal yang abnormal. Sisa makanan itu sebagian berasal dari makanan
daun-daunan dan sebagian lagi makanan berasal dari hewan, seperti
serta otot, serat elastic dan zat-zat lainnya. Untuk identifikasi lebih
lanjut emulsi tinja dicampur dengan larutan Lugol maka pati
(amylum) yang tidak sempurna dicerna nampak seperti butir-butir biru
atau merah. Penambahan larutan jenuh Sudan III atau Sudan IV dalam
alkohol 70% menjadikan lemak netral terlihat sebagai tetes-tetes
merah atau jingga.
j. Bilirubin, Urobilin dan Urobilinogen
1) Urobilin dalam tinja normal selalu ada urobilin. Jumlah urobilin
akan berkurang pada ikterus obstruktif, pada kasus obstruktif total

7
hasil tes menjadi negatif, tinja dengan warna kelabu disebut
akholik.
2) Penetapan kuantitatif urobilinogen dalam tinja memberikan hasil
yang lebih baik jika dibandingkan terhadap tes urobilin, karena
dapat menjelaskan dengan angka mutlak jumlah urobilinogen
yang diekskresilkan per 24 jam sehingga bermakna dalam keadaan
seperti anemia hemolitik dan ikterus obstruktif.
3) Pemeriksaan bilirubin akan beraksi negatif pada tinja
normal,karena bilirubin dalam usus akan berubah menjadi
urobilinogen dan kemudian oleh udara akan teroksidasi menjadi
urobilin. Reaksi mungkin menjadi positif pada diare dan pada
keadaan yang menghalangi perubahan bilirubin menjadi
urobilinogen, seperti pengobatan jangka panjang dengan antibiotik
yang diberikan peroral, mungkin memusnakan flora usus yang
menyelenggarakan perubahan tadi. Untuk mengetahui adanya
bilrubin dapat digunakan metode pemeriksaan Fouchet.

2. Pemeriksaan Mikroskopis
Pemeriksaan mikroskopis adalah pemeriksaan yang hanya dapat dilihat
melalui mikroskop.
a. Pemeriksaan Leukosit pada Feses
Dalam keadaan normal dapat terlihat beberapa leukosit dalam seluruh
sediaan. Pada disentri basiler, kolitis ulserosa dan peradangan
didapatkan peningkatan jumlah leukosit. Eusinofil mungkin
ditemukan pada bagian tinja yang berlendir pada penderita dengan
alergi saluran pencernaan.
b. Pemeriksaan Eritrosit pada Feses
Eritrositnya terlihat bila terdapat lesi dalam kolon, rektum atau anus.
Sedangkan bila lokalisasi lebih proksimal eritrosit telah hancur.
Adanya eritrosit dalam tinja selalu berarti abnormal.
c. Pemeriksaan Epitel pada Feses
Dalam keadaan normal dapat ditemukan beberapa sel epitel yaitu yang
berasal dari dinding usus bagian distal. Sel epitelyang berasal dari

8
bagian proksimal jarang terlihat karena sel inibiasanya telah rusak.
Jumlah sel epitel bertambah banyak kalau ada perangsangan atau
peradangan dinding usus bagian distal.
d. Pemeriksaan Amilum pada Feses
Kristal dalam tinja tidak banyak artinya. Dalam tinja normal mungkin
terlihat kristal tripel fosfat, kalsium oksalat dan asam lemak. Kristal
tripel fosfat dan kalsium oksalat didapatkan setelah memakan bayam
atau strawberi, sedangkan kristal asam lemak didapatkan setelah
banyak makan lemak. Sebagai kelainan mungkin dijumpai kristal
charcoat leyden tinja, butir-butir amilum dan kristal hematoidin.
kristal charcoat leyden didapat pada ulkus saluran pencernaan seperti
yang disebabkan amubiasis. Pada perdarahan saluran pencernaan
mungkin didapatkan kristal hematoidin.
e. Pemeriksaan Telur Cacing pada Feses
Pemeriksaan telur-telur cacing dari tinja terdiri dari dua macam cara
pemeriksaan, yaitu secara kualitatif dan kuantitatif. Pemeriksaan
kualitatif dilakukan dengan menggunakan metode natif, metode
apung, dan metode harada mori. Sedangkan pemeriksaan kuantitatif
dilakukan dengan menggunakan metode kato.

Interpretasi Hasil Pemeriksaan Feses :

Makroskopi dan Mikroskopi Interpretasi


Butir, kecil, keras, warna tua Konstipasi
Volume besar, berbau dan Malabsorbsi zat lemak atau protein
mengambang
Rapuh dengan lendir tanpa darah Sindroma usus besar yang mudah
terangsang inflamasi dangkal dan
difus, adenoma dengan jonjot- jonjot
Rapuh dengan darah dan lendir Inflamasi usus besar, tifoid, shigella,
(darah nyata) amubiasis, tumor ganas
Hitam, mudah melekat seperti ter Perdarahan saluran cerna bagian atas

9
Volume besar, cair, sisa padat sedikit Infeksi non-invasif (kolera,
E.coli keadaan toksik, keracunan
makanan oleh stafilokokus, radang
selaput osmotic (defisiensi
disakharida, makan berlebihan)
Rapuh mengandung nanah atau Divertikulitis atau abses lain, tumor
jaringan nekrotik nekrotik, parasit
Agak lunak, putih abu- abu sedikit Obstruksi jaundice, alkoholik
Cair bercampur lendir dan eritrosit Tifoid, kolera, amubiasis
Cair bercampur lendir dan leukosit Kolitis ulseratif, enteritis, shigellosis,
salmonellosis, TBC usus
Lendir dengan nanah dan darah Kolitis ulseratif, disentri basiler,
karsinoma ulseratif colon,
diverticulitis akut, TBC

10
DAFTAR PUSTAKA

Fischbach FT.Stool Examination, In A of Laboratory and Diagnostic Test,


Ed V, Lippincott Philadelphia, New York, 1998; 254-276

Herry J.B. et al. Examination of feces, in Clinical Diagnosis and


Management by Laboratory Methods, Nine Ed, WB Saunder Co,
Philadelphia, 1996 ; 537-541

11