Anda di halaman 1dari 50

MAKALAH

“ASUHAN KEPERAWATAN HIV/AIDS PADA ANAK”

“ Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah


Keperawatan Anak II”

Disusun : Kelompok 5

Ani Anjali
Chandra
Leli Nuryati
Neng Gita Ardiati
Sinta Aprilianti
Yola Tania

PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKes)
MITRA KENCANA TASIKMALAYA
2018
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Alloh SWT. yang mana atas berkat,
rahmat, dan karunia-Nya penulis dapat menyusun makalah yang berjudul
“ASUHAN KEPERAWATAN HIV/AIDS PADA ANAK” untuk menyeesaikan
tugas mata kuliah Keperawatan Anak II.
Dalam penyusunan makalah ini, tidak lepas dari hambatan yang penulis
hadapi, namun penulis menyadari kelancaran dalam penyusunan makalah ini tidak
lain berkat dorongan, bantuan, dan bimbingan semua pihak, sehingga kendala-
kendala yang penulis hadapi dapat teratasi. Oleh karena itu penulis mengucapkan
terima kasih kepada :
1. Ibu Hj. Mamay Sugiharti, S. Kep., M. Kes. selaku dosen mata kuliah
Keperawatan Anak II
2. Orang tua yang senantiasa mendukung terselesaikannya makalah ini
3. Rekan kelompok yang telah bekerjasama dalam penyusunan makalah ini
Penulis menyadari dalam penulisan makalah ini tentunya masih banyak
kekurangan, mengingat akan keterbatasan kemampuan yang dimiliki oleh penulis.
Untuk itu kritik dan saran sangat penulis harapkan untuk kesempurnaan
penyusunan makalah yang akan datang.

Tasikmalaya, November 2018

Penulis

DAFTAR ISI

ii
KATA PENGANTAR .................................................................................. i
DAFTAR ISI ................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ................................................................. 1
B. Tujuan Penulisan .............................................................. 3
BAB II TINJAUAN TEORI
A. Definisi Perawatan Paliatif ........................................... 4
B. Spiritualitas .................................................................. 5
1. Definisi Spiritualitas ……………………………. 5
2. Fungsi Spiritualitas ……………………………... 7
3. Karakteristik Spiritualitas ………………………. 8
4. Faktor yang Mempengaruhi Spiritualitas ……… 10
C. Spiritual Care ……………………………………….. 15
1. Definisi Spiritual Care ………………………..... 15
2. Peran Perawat Dalam Spiritual Care …………... 15
3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perawat
dalam Pemberian Kebutuhan Spiritual ……….... 22

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan .................................................................... 25
B. Saran .............................................................................. 25

DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Infeksi Human immunodeficiency virus (HIV) pertama kali ditemukan pada
anak tahun 1983 di Amerika Serikat, yang mempunyai beberapa perbedaan
dengan infeksi HIV pada orang dewasa dalam berbagai hal seperti cara

iii
penularan, pola serokonversi, riwayat perjalanan dan penyebaran penyakit,
faktor resiko, metode diagnosis, dan manifestasi oral.
Dampak acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) pada anak terus
meningkat, dan saat ini menjadi penyebab pertama kematian anak di Afrika,
dan peringkat keempat penyebab kematian anak di seluruh dunia. Saat ini
World Health Organization (WHO) memperkirakan 2,7 juta anak di dunia
telah meninggal karena AIDS.
Kasus pertama AIDS di Indonesia ditemukan pada tahun 1987 di Bali yaitu
seorang warga negara Belanda. Sebenarnya sebelum itu telah ditemukan kasus
pada bulan Desember 1985 yang secara klinis sangat sesuai dengan diagnosis
AIDS dan hasil tes Elisa 3 (tiga) kali diulang, menyatakan positif, namun hasil
Western Blot yang dilakukan di Amerika Serikat ialah negatif sehingga tidak
dilaporkan sebagai kasus AIDS. Penyebaran HIV di Indonesia meningkat
setelah tahun 1995. Berdasarkan pelaporan kasus HIV/AIDS dari tahun 1987
hingga 31 Desember 2008 terjadi peningkatan signifikan. Setidaknya, 2007
hingga akhir Desember 2008 tercatat penambahan penderita AIDS sebanyak
2.000 orang. Angka ini jauh lebih besar dibanding tahun 2005 ke 2006 dan
2006 ke 2007 yang hanya ratusan. Sedangkan dari keseluruhan penderita, pada
akhir 2008, AIDS sudah merenggut korban meninggal sebanyak 3.362 (20,87
persen), sedangkan mereka yang hidup adalah 12.748 (79,13 persen) orang.
Untuk proporsi berdasarkan jenis kelamin hingga kini masih banyak diderita
oleh kaum laki-laki yaitu 74,9 persen, dibanding perempuan sebanyak 24,6
persen. Fakta baru tahun 2002 menunjukkan bahwa penularan infeksi HIV di
Indonesia telah meluas ke rumah tangga, sejumlah 251 orang diantara penderita
HIV/AIDS di atas adalah anak-anak dan remaja, dan transmisi perinatal (dari
ibu kepada anak) terjadi pada 71 kasus.
Telah dilaporkan 34 anak usia bawah lima tahun (Balita) di propinsi Papua
positif mengidap Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV). Tampaknya
kasus ini tidak hanya menimpa anak balita di propinsi tersebut. Mungkin juga
akan dialami beberapa anak balita di propinsi lainnya, mengingat kasus HIV
juga mulai menyebar ke seluruh pelosok Indonesia.APAKAH BEDA INFEKSI
HIV DAN AIDS ?Infeksi HIV adalah infeksi virus yang secara progresif

4
menghancurkan sel-sel darah putih dan menyebabkan AIDS (Acquired
Immunodeficiency Syndrome).AIDS adalah penyakit fatal yang merupakan
stadium lanjut dari infeksi HIV.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan HIV?
2. Bagaimanakah epidemiologi HIV pada anak sekarang ini?
3. Bagaimana cara penularan HIV pada anak?
4. Siapa saja yang bias menjadi factor resiko penularan HIV ?
5. Apa manifestasi klinik dari ODHA pada anak?
6. Bgaimana diagnose, HIV pada anak dan bayi?
7. Bagaimana cara pengobatan dan pencegahan ODHA pada anak?
8. Bagaiamana prognosis hiv/aids pada anak?
9. Bagaimana asuhan keperawatan HIV/AIDS pada anak?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan HIV/AIDS
2. Untuk mengetahui epidemiologi HIV pada anak sekarang ini
3. Untuk mengetahui cara penularan HIV pada anak
4. Untuk mengetahui siapa saja yang bias menjadi factor resiko penularan
HIV
5. Untuk mengetahui manifestasi klinik dari ODHA pada anak
6. Untuk mengetahui diagnose, HIV pada anak dan bayi
7. Untuk mengetahui cara pengobatan dan pencegahan ODHA pada anak
8. Untuk mengetahui Bagaiamana prognosis hiv/aids pada anak
9. Untuk mengetahui asuhan keperawatan HIV/AIDS pada anak

BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Definisi

5
HIV merupakan singkatan dari Human Immunodeficiency Virus yang
artinya adalah virus yang menyerang daya tahan tubuh manusia, sehingga
system kekebalan tubuh manusia dapat menurun tajam bahkan hingga tidak
berfungsi sama sekali.
AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) atau sindrom cacat
kekebalan dapatan merupakan epidemi mikroorganisme terpenting dari abad
ke-20, yang untuk pertama kalinya disinyalir di AS pada awal tahun 1980-an
(Nursalam, 2008).
AIDS (Acquired immunodeficiency syndrome) adalah kumpulan gejala
penyakit akibat menurunnya system kekebalan tubuh secara bertahap yang
disebabkan oleh infeksi Human Immunodeficiency virus (HIV). AIDS adalah
Runtuhnya benteng pertahanan tubuh yaitu system kekebalan alamiah
melawan bibit penyakit runtuh oleh virus HIV, yaitu dengan hancurnya sel
limfosit T (sel-T) (Rampengan dan Laurentz, 1995).

B. Epidemiologi
Tiga populasi pediatric utama yang beresiko infeksi HIV-1 adalah bayi-bayi
yang dilahirkan oleh ibu yang terkontaminasi HIV- sebelum tahun 1985-198.
Dan remaja yang mendapat infeksi yang akut secara seksual atau karena
penggunaan obat-obatan intravena.
AIDS pada anak pertama kali dilaporkan oleh Oleske, Rubinstein dan
Amman pada tahun 1983 di Amerika serikat sejak itu laporan jumlah AIDS
pada anak di Amerika makin lama makin meningkat. Pada bulan Desember
1989 di Amerika telah dilaporkan 1995 anak yang berumur kurang dari 13
tahun yang menderita AIDS dan pada bulan Maret 1993 terdapat 4.480 kasus.
Jumlah ini merupakan l,5 % dari seruruh jumlah kasus AIDS yang dilaporkan
di Amerika. Di Eropa sampai tahun 1988 terdapat 356 anak dengan AIDS.
Kasus infeksi HIV terbanyak pada orang dewasa maupun anak-anak tertinggi
di dunia adalah di Afrika terutama negara-negara Afrika Sub-Sahara.
Di Asia Tenggara Thailand yang pertama kali melaporkan AIDS pada anak
tahun 1988. Meskipun saat ini tingkat prevalens HIV masih tergolong rendah
di Asia Tenggara, tetapi pertumbuhan prevalensnya saat ini paling tinggi

6
sedunia. Penyebabnya adalah jumlah populasi yang besar, kemiskinan,
ketidaksetaraan gender, dan stigmatisasi sosial. Diperkirakan pada tahun 2005
terdapat 6.7 juta orang yang menjadi pengidap HIV/AIDS, tetapi yang
mengetahui status HIVnya diperkirakan kurang dari 10%. Negara dengan
tingkat infeksi tertinggi.adalah India, Thailand, Myanmar dan Indonesia.
Umumnya infeksi di Asia Tenggara disebarkan melalui hubungan seksual
heteroseksual yang tidak aman. Pemakaian jarum suntik tidak steril pada
pencandu narkoba suntik menambah cepatnya penyebaran infeksi HIV Sekitar
setengah dari pengguna narkoba suntik di Nepal, Myanmar, Thailand,
Indonesia dan Distrik Manipur dan Nagaland di India sudah terinfeksi HIV
Cara paling efisien dan efektif untuk menanggulangi infeksi HIV pada anak
secara universal adalah dengan mengurangi penularan dari ibu ke anaknya
(mother-to.child Transtmission (MTCT). Namun demikian setiap hari terjadi
1800 infeksi baru pada anak umur kurang dari 15 tahun, 90%nya di negara
berkembang atau terbelakang dan melalui penularan dari ibu ke anaknya.
Upaya pencegahan transmisi HIV pada anak menurut WHO dilakukan
melalui 4 strategi, yaitu mencegah penularan HIV pada wanita usia subur,
mencegah kehamilan yang tidak direncanakan pada wanita HIV mencegah
penularan HIV dari ibu HIV hamil ke anak yang akan dilahirkannya dan
memberikan dukungan, layanan dan perawatan berkesinambungan bagi
pengidap HIV Pemberian obat Anti Retroviral (ARV) untuk anak dan bayi
yang terinfeksi karenanya menjadi satu jalan untuk menanggulangi pandemi
HIV pada anak di samping upaya untuk mencegah penularan infeksi HIV pada
anak dan bayi.
Di RSCM hingga tahun 2006 terdapat 150 pasien terinfeksi HIV/AIDS pada
anak < 15 tahun, dan 100 anak yang terpapar HIV tetapi tidak tertulari. Pada
orang dewasa sampai dengan September 2005 terdapat 8,169 pengidap infeksi
HIV Penderita pria lebih banyak 3 kali lipat dari wanita. Sebagian besar
pengidap usia dewasa ini adalah pada usia subur. Dengan kemampuan
reproduksi penderita dewasa, akan lahir anak-anak yang mungkin tertular HIV
Bila tidak dilakukan intervensi, dari setiap 100 wanita dewasa pengidap HIV
yang hamil dan melahirkan, sebanyak 40.45 anak-anak ini akan tertulari.

7
C. Cara Penularan
Cara penularan HIV yang paling penting pada anak adalah dari ibu
kandungnya yang sudah mengidap HIV baik saat sebelum dan sesudah
kehamilan. Penularan lain yang juga penting adalah dari transfusi produk darah
yang tercemar HIV kontak seksual dini pada perlakuan salah seksual atau
perkosaan anak oleh penderita HIV, prostitusi anak, dan sebab-sebab lain yang
buktinya sangat sedikit.
Meskipun HIV dapat ditemukan pada cairan tubuh pengidap HIV seperti air
ludah (saliva) dan air mata serta urin, namun ciuman, berenang di kolam renang
atau kontak sosial seperti pelukan dan berjabatan tangan serta dengan barang
yang dipergunakan sehari-hari bukanlah merupakan cara untuk penularan. Oleh
karena itu, seorang anak yang terinfeksi HIV tetapi belum memberikan gejala
AIDS tidak perlu dikucilkan dari sekolah atau pergaulan.
Ibu hamil yang terinfeksi HIV dapat menularkan virus tersebut ke bayi yang
dikandungnya. Cara transmisi ini dinamakan juga transmisi secara vertikal.
Transmisi dapat terjadi melalui plasenta (intrauterin) intrapartum, yaitu pada
waktu bayi terpapar dengan darah ibu atau sekret genitalia yang mengandung
HlV selama proses kelahiran, dan post partum melalui ASI. Transmisi dapat
terjadi pada 20-50 % kasus.
Penularan HIV ke bayi dan anak bisa dari ibu ke anak, penularan melalui
darah, penularan melalui hubungan seks (pelecehan seksual pada anak).
Penularan dari ibu ke anak terjadi karena wanita yang menderita HIV/AIDS
sebagian besar (85%) berusia subur
Faktor prediktor penularan adalah stadium infeksi ibu, kadar Limfosit T
CD4 dan jumlah virus pada tubuh ibu, penyakit koinfeksi hepatitis B, CMV atau
penyakit menular seksual lain pada ibu, serta apakah ibu pengguna narkoba
suntik sebelumnya dan tidak minum obat ARV selama hamil.
Proses intrapartum yang sulit juga akan meningkatkan transmisi, yaitu
lamanya ketuban pecah, persalinan pervaginam dan dilakukannya prosedur
invasif pada bayi. Selain iru prematuritas akan meningkatkan angka transmisi
HIV pada bayi.

8
HIV dapat diisolasi dari ASI pada ibu yang mengandung HIV di dalam
tubuhnya baik dari cairan ASI maupun sel-sel yang berada dalam cairan ASI
(limfosit, epitel duktus laktiferus). Risiko untuk rertular HIV melalui ASI
adalah ll-29%. Bayi yang lahir dari ibu HIV (+) dan mendapat ASI tidak
semuanya tertular HIV dan hingga kini belum didapatkan jawaban pasti, tetapi
diduga IgA yang terlarut berperan dalam proses pengurangan antigen. WHO
menganjurkan untuk negara dengan angka kematian bayi tinggi dan akses
terhadap pengganti air susu ibu rendah, pemberian ASI eksklusif sebagai pilihan
cara nutrisi bagi bayi baru lahir dari ibu HIV (+). Transmisi melalui perawatan
ibu ke bayinya belum pernah dilaporkan.

D. Faktor Risiko
Dari cara penulaian tersebut di atas maka faktor risiko untuk tertular HIV
pada bayi dan anak adalah:
1) Bayi yang lahir dari ibu dengan pasangan biseksual,
2) Bayi yang lahir dari ibu dengan pasangan beganti,
3) Bayi yang lahir dari ibu atau pasangannya penyalahguna obat intravena,
4) Bayi atau anak yang mendapat transfusi darah atau produk darah berulang,
5) Anak yang terpapar pada infeksi HIV dari kekerasan seksual (perlakuan
salah seksual), dan
6) Anak remaja dengan hubungan seksual berganti-ganti pasangan.

E. Manifestasi klinik
Manifestasi klinis infeksi HIV pada anak bervariasi dari asimtomatis sampai
penyakit berat yang dinamakan AIDS. AIDS pada anak terutama terjadi pada
umur muda karena sebagian besar (>80%) AIDS pada anak akibat transmisi
vertikal dari ibu ke anak. Lima puluh persen kasus AIDS anak berumur < I tahun
dan82o/o berumur <3 tahun. Meskipun demikian ada juga bayi yang terinfeksi
HIV secara vertikal belum memperlihatkan gejala AIDS pada umur 10 tahun.
Gejala klinis yang terlihat adalah akibat adanya infeksi oleh
mikloorganisme yang ada di lingkungan anak. Oleh karena itu, manifestasinya

9
pun berupa manifestasi nonspesifik berupa gagal tumbuh, bera.t badan
menurun, anemia, panas berulang, limfadenopati, dan hepatosplenomegali.
Gejala yang menjurus kemungkinan adanya infeksi HIV adalah adanya
infeksi oportunistik, yaitu infeksi dengan kuman, parasit, jamur, atau protozoa
yang lazimnya tidak memberikan penyakit pada anak normal. Karena adanya
penurunan fungsi imun, terutama imunitas selular maka anak akan menjadi sakit
bila terpajan pada organisme tersebut, yang biasanya lebih lama, lebih berat
serta sering berulang. Penyakit tersebut antara lain kandidiasis mulut yang dapat
menyebar ke esofagus, radang paru karena Pnetnnocystis carinii, radang paru
karena mikobakterium atipik, atau toksoplasmosis otak.
Bila anak terserang Mycobacterium tuberculosis, penyakitnya akan berjalan
berat dengan kelainan luas pada paru dan otak. Anak sering juga menderita diare
berulang. Manifestasi klinis lainnya yang sering ditemukan pada anak adalah
pneumonia interstisialis limfositik, yaitu kelainan yang mungkin langsung
disebabkan oleh HIV pada jaringan paru. Manifestasi klinisnya berupa hipoksia,
sesak napas, jari tabuh, dan limfadenopati. Secara radiologis terlihat adanya
infiltrat retikulonodular difus bilateral, terkadang dengan adenopati di hilus dan
mediastinum.
Manifestasi klinis yang lebih tragis adalah yang dinamakan ensefalopati
kronik yang mengakibatkan hambatan perkembangan atau kemunduran
keterampilan motorik dan daya intelektual, sehingga terjadi retardasi mental
dan motorik. Ensefalopati dapat merupakan manifestasi primer infeksi HIV
Otak menjadi atrofi dengan pelebaran ventrikel dan kadangkala terdapat
kalsifikasi. Antigen HIV dapat ditemukan pada jaringan susunan saraf pusat
atau cairan serebrospinal.
Secara khusus dilakukan klasifikasi manifestasi klinis ini oleh CDC
Amerika Serikat (1994) dan WHO (tahun 2006). Penggunaan klasifikasi ini
untuk membantu dalam menentukan diagnosis, tatalaksana dan prognosis.
Klasifikasi klinis yang mengarahkan ke pengambilan keputusan dilakukannya
pemeriksaan laboratorium dikenal dengan nama AIDS Defining illness.

10
Klasifikasi klinis menurut CDC adalah N, A, B dan C (AIDS) dengan
tambahan prefix E pada semua anak yang terpapar pada HIV dari orangtuanya.
Klasifi'kasi klinis mengenai penyakit WHO dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 32-2 Klasifi'kasi klinis mengenai penyakit yang berhubungan
dengan HIV
Klasifikasi Stadium klinis WHO

Stadium Klinis WHO untuk Bayi dan Anak yang Terinfeksi HIV

Stadium klinis 1

Asimtomatik

Limfadenopati generalisata persisten

Stadium 2

Hepatosplenomegali persisten yang tidak dapat dijelaskan

Erupsi pruritik papular

Infeksi virus wart luas

Angular cheilitis

Moluskum kontagiosum luas

Ulserasi oral berulang

Pembesaran kelenjar parotis persisten yang tidak dapat dijelaskan

Eritema ginggival lineal

Herpez zoster

Infeksi saluran napas atas kronik atau berulang (otitis media, otorhoea, sinusitis,tonsillitis)

11
Infeksi kuku oleh fungus

Stadium 3

Malnutrisi sedang yang tidak dapat dijelaskan,tidak berespons secara adekuat terhadap
terapi standar.

Diare persisten yang tidak dapat dijelaskan (14 hari atau lebih)

Demam persisten yang tidak dapat dijelaskan (lebih dari 37,5° C intermiten atau konstan,
> 1 bulan)

Kondisi oral persisten (di luar saat 6-8 minggu pertama kehidupan)

Oral hairy leukoplakia

Periodontitis/ginggivitas ulseratif nekrotikans akut

TB kelenjar

TB Paru

Pneumonia bakterial yang berat dan berulang

Pneumonia interstitial limfoid simtomatik

Penyakit paru berhubungan dengan HIV yang kronik termasuk bronkiektasis

Anemia yang tidak dapat dijelaskan (<8g/dl),neutropenia (<500/mm³) atau


trombositopenia(<50 000/mm³)

Stadium 4

Malnutrisi,wasting dan stunting berat yang tidak dapat dijelaskan dan tidak berespons
terhadap terapi standar.

Pneumonia pneumosistis

Infeksi bakterial berat yang berulang (misalnya empiema,piomiositis,infeksi tulang dan


sendi,meningitis, kecuali pneumonia)

Infeksi herpes simplex kronik (orolabial atau kutaneus >1 bulan atau viseralis di lokasi
manapun)

TB ekstrapulmonar

Sarkoma Kaposi

Kandidiasis esofagus (atau trakea,bronkus,atau paru)

12
Toksoplasmosis susunan saraf pusat (di luar masa neonatus)

Ensefalopati HIV

Infeksi sitomegalovirus (CMV),retinitis atau infeksi CMV pada organ lain,dengan onset
umur > 1 bulan

Kriptokokosis ekstrapulmonar termasuk meningitis

Mikosis endemik diseminata

Kriptosporidiosis kronik (dengan diare)

Isosporiasis kronik

Infeksi mikobakteria non-tuberkulosis diseminata

Kardiomiopati atau nefropati yang dihubungkan dengan HIV yang simtomatik

Limfoma sel B non-Hodgkin atau limfoma serebral

Progressive multifocal leukoencephalopathy

Catatan :

a. Tidak dapat dijelaskan berarti kondisi tersebut tidak dapat dibuktikan oleh sebab
yang lain
b. Beberapa kondisi khas regional seperti Penisiliosis dapat disertakan pada kategori
ini.

F. Diagnosis HIV pada Bayi dan Anak


Bayi yang tertular HIV dari ibu bisa saja tampak normal secara klinis
selama periode neonatal. Penyakit penanda AIDS tersering yang ditemukan
pada anak adalah pneumonia yang disebabkan Pneumocystis carinii. Gejala
umum yang ditemukan pada bayi dengan infeksi HIV adalah gangguan tumbuh
kembang, kandidiasis oral, diare kronis, atau hepatosplenomegali (pembesaran
hati dan lien). Karena antibody ibu bisa diseteksi pada bayi sampai bayi berusia
18 bulan, maka tes ELISA dan Western Blot akan positif meskipun bayi tidak
terinfeksi HIV Karena tes ini berdasarkan ada atau tidaknya antibody terhadap
virus HIV.
Tes paling spesifik untuk mengidentifkasi HIV adalah PCR untuk DNA
HIV. Kultur HIV yang positif juga menunjukkan pasien terinfeksi HIV. Untuk
pemeriksaan PCR, bayi harus dilakukan pengambilan sampel darah untuk tes

13
PCR pada dua saat yang berlainan. DNA PCR pertama diambil saat bayi berusia
1 bulan karena tes ini kurang sensitive selama periode satu bulan setelah lahir.
CDC merekomendasikan pemeriksaan DNA PCR setidaknya diulang pada saat
bayi berusia empat bulan. Jika tes ini negative, maka bayi tidak terinfeksi HIV.
Tetapi, bila bayi tersebut mendapatkan ASI, maka bayi beresiko tertular HIV
sehingga tes PCR perlu diulang setelah bayi disapih. Pada usia 18 bulan,
pemeriksaan ELISA bisa dilakukan pada bayi bila tidak tersedia sarana
pemeriksaan yang lain.
Anak-anak berusia berusia lebih dari 18 bulan bisa didiagnosis dengan
menggunakan kombinasi antara gejala klinis dan pemeriksaan laboratorium.
Anak dengan HIV sering mengalami infeksi bakteri kumat – kumatan, gagal
tumbuh atau wasting, limfadenopati menetap, keterlambatan berkembang,
sariawan pada mulut dan faring. Anak usia lebih dari 18 bulan bisa didiagnosis
dengan ELISA dan tes konfirmasi lain seperti pada dewasa. Terdapat dua
klasifikasi yang bisa digunakan untuk mendiagnosis bayi dan anak dengan HIV
yaitu menurut CDC dan WHO.
CDC mengembangkan klasifikasi HIV pada bayi dan anak berdasarkan
hitung limfosit CD4+ dan manifestasi klinis penyakit. Pasien dikategorikan
berdasarkan derajat imunosupresi (1, 2, atau 3) dan kategori klinis (N, A, B, C,
E). Klasifkasi ini memungkinkan adanya surveilans serta perawatan pasien
yang lebih baik. Klasifikasi klinis dan imunologis ini bersifat eksklusif, sekali
pasien diklasifikasikan dalam suatu kategori, maka klasifikasi ini tidak berubah
meskipun terjadi perbaikan status karena pemebrian terapi atau faktor lain.
WHO mengembangkan diagnosis HIV hanya berdasarkan penyakit klinis
dengan mengelompokkan tanda dan gejala dalam kriteria mayor dan minor.
Seorang anak yang mempunyai 2 gejala mayor dan 2 gejala minor bisa di
diagnosis HIV meskipun tanpa pemeriksaan ELISA atau tes laboratorium lain.

G. Pengobatan
Tatalaksana pada pendeita HIV atau yang terpapar HIV harus lengkap,
meliputi pemantauan tumbuh kembang, nutrisi, imunisasi, tatalaksana
medikamentosa, tatalaksana psikologis dan penanganan sisi social yang akan

14
beperan dalam kepatuhan program pemantauan dan terapi. Pemberian imunisasi
harus mempertimbangkan situasi klinis, status imunologis serta panduan yang
berlaku. Panduan imunisasi WHO berkenaan dengan anak pengidap HIV
adalah, selama asimtomatik, semua jenis vaksin polio oral dan BCG sebaiknya
di hindari.
Pengobatan mendikametosa mengcakupi pemberian obat-obat propilaksis
infeksi oportunistik yang tingkat morbiditas dan mortalitasnya tinggi. Riset
yang luas telah di lakukan dan menunjukka kesimpulan rekomendasi pemberian
kotrimoksasol pada penderita HIV yang berusia kurang dari 12 bulan dan siapun
yang memiliki kadar CD4 < 15% hingga dipastikan bahaya infeksi pnemonia
akibat parasit pneumocystis jiroveci dihindari. Pemberian isoniazid (INH)
sebagai propilaksis penyakit TBC pada pendeita HIV masih di perdebatkan.
TBC yang berat , dan harus di buktikan dengan metode diagnosis yang handal.
Kalangan yang menolak menganggap bahwa di negara TBC, kemungkinan
infeksi TBC natural sudah terjadi. Langkah diagnosis perlu dilakukan untuk
menetapkan kasus mana yang memerlukan pengobatan dan yang tidak.
Obat pofilaksis lain adalah preparat nistatin untuk antikadida, pirimetamin
untuk toksoplasma, preparat sulfa untuk malaria, dan obat lain yang di berikan
sesuai kondisi klinis yang ditemukan pada penderita. Untuk itu banyak panduan
yang cukup baik di jadikan bahan bacaan.
Pengobatan penting adalah pemberian antiretrovirus atau ARV. Riset
mengenai obat ARV terjadi sangat pesat, meskipun belum ada yang mampu
mengeradikasi virus dalam bentuk DNA proviral pada stadium dorman di sel
CD4 memori. Pengobatan inffeksi HIV dan AIDS sekarang mengguanakan
paling tidak 3 gelas anti virus, dengan sasaran molekul virus di mana tidak ada
homolog manusia. Obat pertama di temukan di temukan 1990 yaitu
azidothymidine (AZT) suatu analog nukleosid deoksitimidin yang bekerja pada
tahap penghambatan kerja enzim tanskriptase riversi. Bila obat ini digunakan
sendiri,secara bermakna dapat mengurangi kadar RNA HIV plasma selama
beberapa bulan atau tahun. Biasanya progresivitas penyakit HIV tidak di
pengaruhi oleh pemakaian AZT, karena pada jangka panjang virus HIV
berevolusi membentuk mutan yang resisten terhadap obat.

15
Prinsip dasar dalam pemberian ARV adalah bahwa ARV sampai saat ini
bukan untuk menyembuhkan, bila digunakan dengan benar berhubungan
dengan perbaikan. Kualitas hidup penderita.
Tujuan pengobatan yang ingin dicapai adalah (1) memperpanjang hidup
usia anak yang terinfeksi, (2) mencapai tumbuh dan kembang yang optimal, (3)
menjaga, menguatkan dan memperbaiki system imun dan mengurangi infeksi
oportunistik, (4) menekan replikasi virus HIV dan mencegah progresifitas
penyakit, (5) mengurangi morbiditas anak-anak dan meningkatkan kualitas
hidupnya.
Virus dalam darah diproduksi oleh sel T CD4+ yang terinfeksi dan sebagian
kecil oleh sel lain yang terinfeksi. Terapi obat dikembangkan untuk
menghambat semua produksi HIV yang terdeteksi untuk beberapa tahun.
Penurunan viremia sebagai efek pemberian ARV dibagi dalam 3 fase.
1. Fase pertama adalah penurunan jumlah virus dalam plasma secara cepat
dengan waktu paruh kurang dari 1 hari. Penurunan ini menunjukkan bahwa
virus diproduksi oleh sel yang hanya hidup sebentar (short-lives) yaitu sel
T CD4+ yang merupakan reservoir utama (93-97% dari seluruh sel T) dan
sumber virus.
2. Fase kedua penurunan HIV plasma dengan waktu paruh 2 minggu
menyebabkan jumlah virus dalam plasma berkurang hingga dibawah
ambang deteksi. Hal ini menunjukkan berkurangnya reservoir virus dalam
makrofag.
3. Fase ketiga yang sangat lambat menunjukkan terdapat penyimpanan virus
sel T memori yang terinfeksi secara laten. Karena masa hidup yang panjang
dari sel memori, diperlukan berpuluh-puluh tahun untuk menghilangkan
reservoir virus ini.

Kapan mulai pengobatan ARV?


Keputusan untuk memulai terapi ARV pada bayi dan anak tergantung pada
penilaian klinis dan imunologis, serta penilaian situasi social seperti siapa yang
akan menjadi pemberi obat, asupan nutrisi, dan kelompok pendukung keluarga,
Bila seandainya si pemberi obat yang bertanggung jawab lalai.

16
Dalam hal penilaian klinis memungkinkan ARV diberikan pada anak yang
didiagnosis secara presumtif melalui gejala klinis. Bila mungkin digunakan
parameter nilai hitung CD4 sebelum mempertimbangkan pengobatan, terutama
pada anak yang sakit ringan. Beberapa patokam berikut dapat membantu
memutuskan apakah pengobatan ARV diperlukan:
 Bila ada data PCR RNA, kadar virus mendekati 100,000 kopi/mL
 Hitung absolute atau persentase CD4 menurun dengan cepat ke ambang
defisiensi imun berat
 Munculnya gejala klinis
 Kemampuan orang tua atau pengasuh mematuhi ketentuan pemberian ARV

Berdasartan penilaian klinis


Stadium klinis ditetapkan setelah infeksi ditegakkan melalui bukti serologis
atau virologist. Penggunaan stadium ini berguna sebagai data dasar dan untuk
digunakan sebagai penuntun apakah obat profilaksis infeksi oportunistik perlu
diberikan pada anak kurang dari 1 tahun yang terinfeksi atau terpapar HIV harus
mendapatkan profilaksis ini.
Bila digunakan sebagai dasar untuk memulai pengobatan ARV, prinsip
umum yang bisa digunakan sebagai patokan adalah:
1. Terapi ARV direkomendasikan untuk bayi<12 bulan yang memiliki gejala
infeksi HIV (klasifikasi A,B,C menurut CDC atau II, III, dan IVm menurut
WHO), tanpa melihat stadium klinis, jumlah virus maupun nilai CD4.
2. Terapi ARV juga direkomendasikan untuk bayi <12 bulan yang tergolong
stadium klinis N atau I yang memiliki kadar CD4<25%.
3. Terapi ARV dipertimbangkan untuk bayi <12 bulan yang asimtomatik dan
memiliki kadar CD4>25%.
Berdasarkan penilaian imunologis anak yang terinfeksi HIV
Parameter imunologi digunakan untuk menilai imunodefesiensi, untuk
memulai pembarian ARV, dan penggunaan harus bersamaan dengan penilaian
klinis. Hitung absolute CD4 dan total limfosit [pada bayi sehat jauh lebih tinggi
dari orang dewasa, dan menurun sampai mencapai nilai orang dewasa, dan
menurun sampai mencapai nilai orang dewsa pada usia 6 tahun. Tetapi

17
presentasi CD4 hampir tidak berubah pada usia berapapun, dan hal ini
digunakan sebagai dasar penilaian imunologis.

Pada anak yang kurang dari 5 tahun (lihat tabel).


Tabel 32-4. Klasifikasi WHO tentang imunodefisiensi HIV menggunakan CD4+

Imunodefisiensi Nilai CD4+ menurut umur

< 11 bulan 12-35 bulan 36-59 bulan >5


tahun

(%) (%) (%) (sel/mm3)

Tidak ada > 35 > 30 > 25 > 500

Ringan 30-35 25-30 20-25 350-


499

Sedang 25-30 20-25 15-20 200-


349

Berat < 25 <20 < 15 <200 atau


<15 %

Nilai absolut CD4 dapat naik atau turun bergantung pada penyakit yang
sedang diderita. Perubahan fisiologis atau variabilitas tes. Pengukuran serial
lebih informatif daripada informasi tunggal. Seperti juga status klinis, perbaikan
imunologis terjadi dengan pemberian ARV. Bila mungkin ada 2 kali
pengukuran di bawah ambang batas sebelum mulai pemberian ARV, terutama

18
pada stadium klinis 1 dan 2. Hasil CD4 juga berguna untuk memantau respons
terhadap terapi.

Tabel 32.5 meringkas rekomendasi kapan memulai ARV pada anak yang
positif terinfeksi menurut kriteria klinis dan parameter laboratorum menurut
WHO (2006).

Tabel 32.5 Rekomendasi untuk memulai pemberian ARV pada bayi dan anak
HIV positif sesuai stadium klinis dan ketersediaan imunologis.

Stadium ada tidaknya rekomendasi tetapi menurut umur [A (II)]*

klinis pengukuran <12 bulan >12 bulan pediatrik hitung CD4

4 CD4 Tampa CD4 semua diobati

3 CD4 semua diobati, bergantung


Semua diobati nilai CD4 pada anak yang

Terinveksi TBc, LIP, OHL,

Trombosiponia

Tampa CD4 semua diobati

2 CD4 bergabtung nilai CD4

Tampa CD4 bergantung nilai limposit total

1 CD4 bergantung nilai CD4

Tampa CD4 jangan diobati

LIP-lymhocytic interstitial pneummonia; OHL-oral hairy leukoplakia; TB-tuberculosis

*kekuatan rekomendasi/tingkat kepercayaan

Catatan:

a. Obati infeksi oportunistik sebelum mulai memberi ARV

19
b. Data awal CD4 berguna untuk memantau ARV meskipun tidak diperlukan untuk membuat
keputusan memulai terapi ARV.
c. Pada anak yang terinfeksi TB paru atau kelenjar, CD4 dan status klinis sesuai panduan terapi TB.
d. Nilai CD4 dan linfosit total dilihat di tabel terpisah.

Bila tidak tersedia pemeriksaan hitung CD4, pemeriksaan hitung total


limfosit dapat digunakan untuk memulai pemberian ARV. Kriteria total limfosit
ini sebaiknya digunakan pada stadium klinis 2. Hitung total limfosit tidak dapat
digunakan untk memantau keberhasilan ARV.

Tabel 32.6 Kriteria limsofit total


Petanda rekomendasi pemberian ARV menurut umur
Imunologis < 11 bulan 12 bulan- 36 bulan- 5-8 tahun
[ C (II) ]* 35 bulan 59 bulan

TLC <4000sel/mm <3000sel/mm <2500sel/mm <2000sel/mm

Pengukuran viral load (dengan menggunakan PCR RNA) belum


diperlukan menjadi standar penilaian memulai ARV. Bla mungkin dilakukan
kriteria CDC akan lebih tepat di gunakan.

Berdasarkan diagnosis klinis presumtif infeksi HIV berat.


Penegakan diagnosis presumtif hanya di lakukan oleh dokter yang sudah
terlatih dalam penegakan HIV.
Diagnosis prensumtif infeksi HIV:
 Pemeriksaan anti body menunjukkan hasil positif
 Ditegakkan diagnosis penyakit klinis yang emenuhi kriteria AIDS, atau
 Bayi memiliki dua gejala baik itu kandidiasis oral, pneumonia berat atau
sepsis berat.

20
Faktor lain yang mendukung ditegakkannya diagnosis presumtif adalah
apabila terdapat kematian ibu karena HIV atau ibu menderita AIDS dengan
hitung CD4 < 20%.
Diagnosis klinis presumtif infeksi HIV memungkingkann seorang dokter
memberi tata laksana penyakit akut secara memadai, merawat pasien yang
diduga HIV, dan menjadi dasar memulai pemberian ARV. Penggunaan cara ini
pada anak usia <18 bulan harus di sertai upaya menegakkan diagnosis HIV, dan
dilakukan pemantauan dengak ketat. Bila terdapat bukti baru bahwa ternyata
bayi atau anak ini terbukti negatif, maka ARV harus dihentikan.
Pilihan Obat ARV
Antiretviral untuk anak harus memenuhi syarat farmakokinetik, formulasi
yang tepat untuk anak dan pembuatan dosia yang tepat menurut umur. Selain
itu juga faktor yang berpengaruh dalam pemberian ARV adalah potensi obat,
komplesitas pemberian (frenkuensi dosis, hubungannya dengan makanan dan
minuman), dan efek samping
Pemberian ARV terpilih untuk anak adalah penggunaan paling tidak 3 obat,
dan minimal di gunakan 2 kelas obat yang berbeda. Kombinasi ARV yang
sudah dicobakan pada anak bermacam-macam, tetapi untuk Negara
berkembang dibuat panduan yang memudahkan dokter untuk memilih ARV.
Panduan yang benar dianut adalah WHO, meskipun di dunia banyak panduan
pengobatan yang dibuat oleh masing-masing tempat penelitian. Hal ini diambil
karena dinegara berkembang pengambilan keputusan yang di dukung data
laboratorium lengkap adalah langka.
Pengambilan kebijakan memerlukan pertimbangan opsi pilihan dimasa
depan, termasuk munculnya resistensi terhadap obat. Penggantian obat
dilakukan terlalu cepat dapat membahayakan pilihan dan harus dihindari
kecuali bila perlu. Saat ini rekomendasi CDC dan WHO lini pertama adalah
menggunakan 2 kelas obat: 2 NRTI yang direkomendasikan dengan satu
NNRTI atau PI. Lebih lengkapnya rekomendasi ini berbunyi:
 Anak >3 tahun, pilihan pertama 2 NRTI + Efavirenz
Pilihan kedua 2 NRTI + Nevirapin
 Anak < tahun, 2 NRTI + Nevirapin

21
Formulasi dan Dosis Anti Retroviral Untuk Anak

Data
farmak Umur (berat bdan),
Nama obat Formulasi Lain-lain
o- dosis dan frekuensi
kinetik

Nucleosside analogue reverse transcriptase inhibitors (NRTI)

Zidovudine - sirup: 10 mg/ml semua - < 4 minggu:4 - Untuk anak cukup besar
(AZT) - Kapsul: 100 mg, umur mg/kg/dosis, pemberian dalam bentuk
250 mg 2x/hari sirup akan menyebabkan
- Tablet: 300mg - 4 minggu to 13 volume terlalu besar, dan
Tahun: tidak di toleransi. Sirup
harus di simpan dalam
- 180-240 botol gelas dan sensitif
mg/m/dosis, terhadap cahaya.
2x/hari - Dapat diminum bersama
- dosis makanan
maksimal: - Dosis 600 mg/m/dosis
> 13 tahun: 30 perhari
mg/dosis,2x/har Untuk ensefalopati HIV
i - Kapsul dapat dibuka, tablet
dapt dibuat puyer, campur
dengan makanan atau
sedikit air (sirup stabil
dalam suhu ruangan).
- tidak boleh diberikan
bersama D4T
(antagonistik).

Lamivudine - sirup : 10mg/ml semua - <30 hari:2 - toleransi baik


(3TC) - Tablet :150 mg umur mg/kg dosis, - dapat diberi bersama
2x/hari. makanan
- >30 hari atau - sirup stabil dalam suhu
<60kg ruangan
- 4 - dapat dibuatkan puyer dan
mg/kg/dosis, campurkan sedikit air
2x/ hari sebelum di minum.
- Dosis
maksimal: >60

22
kg:150
mg/dosis,
2x/hari
Stavudine - Sirup: 1 mg/ml Semua - < 30 Kg: 1 - Perlu volume yang besar
(d4T) (tidak ada di umur Mg/Kg/ Dosis, - Sirup harus dsimpan di
Indonesia) 2x/Hari kulkas, stabil selama 30 hari,
- Kapsul: 30 mg, - 30-60 Kg: 30 dalam botol gelas, perlu
40 mg Mg/ Dosis, dikocok.
2x/Hari - Kapsul dapat dibuka dan
- Dosis maksimal dicampur air saat minum
> 60 kg: 40 mg/ obat
dosis, 2x/hari - Tidak boleh dipakai
bersama AZT
(antagonistic)
Kombinasi - Tidak adas Remaja Dosis maksimal: Sebaiknya tablet tidak dibelah
tetap d4T sediaan sirup dan
plus 3TC (tdk ada di dewasa - 30-60 kg: 1
Indonesia) tablet 30 mg
- Tablet d4T 30 d4T-based,
mg plus 3TC 2x/hari
150 mg: d4T 40 - ≥ 60 kg: 1 tablet
mg plus 3TC 40 mg d4T-
150 mg based, 2x/hari
Didanosine( - Susoensi oral Semua - < 3 bulan: 50 - Suspensi harus disimpan di
ddl, pediatrik: 10 umur mg/ m2/dosis kulkas, stabil selama 30 hari
dideoxynosi mg/ml (tidak ada sampai < 13 th: dan kocok merata
ne) di Indonesia) 90-120 mg/ - Diminum saat perut kosong,
- Tablet kunyah: m2/dosis, 2x/hari minimal 30 menit sebelum
25 mg, 50 mg, atau 240 mg/m2/ atau 2 jam sesudah makan
100 mg, 150 mg, dosis, sejali - Jika tablet dihancurkan dalam
200 mg sehari air, minimal 2 tablet forte
- Enteric-coated - Dosis maksimal: harus larut untuk buffering
beadlets in ≥13 thn atau yang adekuat
capsules: 125 >60 kg: 200 - Enteric-coated beadlets in
mg, 200 mg, 250 mg/dosis 2x/hari capsules dapat dibuka dan
mg, 400 mg atau 400 mg, ditaburkan pada makanan
sekali sehari

Abacavir - sirup: 20 mg/ml Umur > - < 16 tahun atau - Dapat dimakan bersama
(ABC) - Tablet: 300 mg 3 bulan < 37,5 kg: 8 makanan

23
mg/kg/ dosis, - Tablet dapat dihaluskan dan
2x/hari dicampur sedikit air
- Dosis - Hati-hati dengan reaksi alergi
makasimal: > (stop permanen bila timbul)
16 tahun atau ≥
37,5 kg: 300
mg/ dosis,
2x/hari
Kombinasi - Tidak ada Remaja Dosis maksimal: - Sebaiknya tablet tidak
tetap AZT sediaan sirup dan dibelah
plus 3TC - Tablet: AZT 300 dewasa - > 40 kg: 1 - Pada berat < 30 kg,
plus ABC mg plus 3TC tablet/ dosis, AZT/3TC/ABC tidak dapat
150 mg plus 2x/hari dihitung dengan tepat dalam
ABC 300 mg sediaan tablet
- Tidak ada di - Hati-hati dengan reaksi alergi
Indonesia (stop permanen bila timbul)

Non-Nucleoside reverse transcriptase inhibitors (NNRTI)

Nevirapine - Sirup: 10 mg/ml Semua umur - 15-30 hari: 5 - Hindari penggunaan


(NVP) - Tablet: 200 mg mg/kg/ disis, sekali bersama rifampicin
sehari 2 minggu, - Sirup stabil dalam
kemudian 120 suhu ruangan, kocok
mg/m2/dosis, dahulu
2x/hari 2 minggu, - Dapat diberi
kemudian 20- mg/ bersama makanan
m2/dosis, 2x/hari - Dapat dibelah,
- 30 hari – 30 tahun: dipuyerkan, waspada
120 mg/m2/dosis, alergi, (dosis jangan
sekali sehari 2 dinaikkan)
minggu, kemudian
120-200 mg/m2/
dosis, 2x/hari
- Dosis maksimal:
>13 tahun: 200
mg/dosis, sekali
sehari 2 minggu,
lalu 200 mg/dosis,
2x/hari
Efavirenz - Sirup: 30 mg/ml Hanya - Kapsul (sirup): - Isi kapsul dapat
(EFV) (sirup untuk anak 10-15 kg: 200 mg dibuka dan dicampur

24
membutuhkan > 3 tahun (270 mg = 9 ml) dengan minuman
dosis yang lebih atau berat > sekali sehari manis, tidak boleh
tinggi dari 10 kg - 15 - < 20 kg: 250 diminum sesudah
kapsul) mg (300 mg = 10 makan makanan
- Kapsul: 50 mg, ml) sekali sehari sangat berlemak
100 mg, 200 mg - 20 - < 25 kg: 300 karena absorpsi
mg (360 mg = 12 dapat meningkat
ml) sekali sehari sampai 50%
- 25 - < 33 kg: 350 - Diminum menjelang
mg (450 mg = 15 tidur, terutama 2
ml) sekali sehari minggu pertama,
- 33 - < 40 kg: 400 untuk mengurangi
mg (510 mg = 17 efek samping
ml) sekali sehari susunan saraf pusat.
- Dosis maksimal:
≥ 40 kg: 600 mg
sekali sehari
Saquinavir/r - Kapsul gel > 25 kg - Dosis dewasa yang - Ukuran kapsul besar,
lunak: 200 mg di anjurkan adalah: tidak boleh
- Kapsul gel SQV 1000 mg/ dihancurkan atau
keras: 200 mg RTV100mg, dibuka, ditelan
dan 500 mg 2x/hari bersama makanan
- Tidak ada dosis
untuk anak, tetapi
bila > 25 kg dapat
digunakan dosis
dewasa, jika
mungkin dengan
pemantauan kadar
obat

25
Kombinasi tetap - Tidak ada Remaja dan Dosis Maksimal: - Sebaiknya tablet tidak
d4T plus 3TC plus sediaan sirup Dewasa dibelah
NVP - Tablet: d4T 30 30-60 kg: 1 - Pada berat < 30 kg,
mg plus 3TC tablet 30 mg d4T/3TC/NVP tidak
150 mg plus d4T-bassed, dapat dihitung dengan
NVP 200 mg ; 2x/hari tepat dalam sediaan
d4T 40 mg plus - ≥ 60 kg: 1 tablet tablet. Jika dielah,
3TC 150 mg 40mg d4T- dosis NVP inadekuat
plus NVP 200 bassed, 2x/sehari untuk anak yang lebih
mg muda dan minimal
- Tidak ada di dosis NVP harus 150
Indonesia mg/m2, 2x/hari. Dosis
optimum NVP 200
mg/m2, 2x/hari.
- Karena mengandung
NVP, perlu
peningkatan dosis
Protease inhibitors

Nelfinavir NFV - Bubuk untuk Semua umur, - < 1 tahun: 50 mg/ - Bubuk terasa manis,
suspense oral kg/dosis, 3x/hari namun seperti pasir
(dicampur Data atau 75 mg/kg/ dan sulut larut, harus
dengan air); 200 farmakokinetik dosis, 2x/hari segera diaduk jika
mg per satu berfariasi pada - 1 tahun < 13: 5- dicampur dengan air,
sendok the bayi < 1 tahun, 65 mg/kg/dosis, susu atau pudding
(5ml)(50 dosis mungkin 2x/hari jangan menggunakan
mg/1,25 ml) lebih tinggi - Dosis makasimal: asam (meningkatkan
- Tablet: 250 mg ≥ 13 tahun: 1250 rasa pahit) solusi stavil
(Dapat dibagi mg/dosis, 2 kali dalam 6 jam. Karena
2,dihaluskan, sehari persiapan yg susah
dicampurkan lebih dipilih tablet
dalam makanan yang dihancurkan.
atau dicampur - Dapat disimpan
air) diseluruh ruangan.
- Minum bersama
makanan
- Interaksi obat (lebih
jarang dibandingkan
ritonavir)
Liponavir/ - Sirup: 80 mg/ml ≥ 6 bulan - > 6 bulan – 13 - Sebaiknya disimpan
2
ritonavir (LPV/r lopinavir plus 20 tahun: 225 mg/m dilemari pendingin atau

26
mg/ml ritonavir LPV/57,5 mg/m2 suhu ruang sampai
(mengandung ritonavir, 25°C maksimal 2
alcohol 42%) 2x/hari* kg: 12 bulan, bila > 25°C obat
- Kapsul: 133,3 mg atau akan rusak lebih cepat
mg liponavir - 7-15 kg: 12 - Sirup rasanya pahit
plus 33,3 mg mg/kg LPV/3 - Ukuran kapsul besar,
ritonavir mg/kg tidak boleh dibuka atau
ritonavir/dosis, dihancurkan, dimakan
2x/hari bersama makanan
- 15-40 kg: 10
mg/kg lopinavir/5
mg/kg ritonavir,
2x/hari
- Dosisi
maksimum: > 40
kg: 400 mg
LPV/100 mg
ritonavir (3
kapsul atau 5 ml),
2x/hari
Kombinasi tetap - Tidak ada Remaja dan Dosis Maksimal: - Sebaiknya tablet tidak
d4T plus 3TC plus sediaan sirup Dewasa dibelah
NVP - Tablet: d4T 30 30-60 kg: 1 - Pada berat < 30 kg,
mg plus 3TC tablet 30 mg d4T/3TC/NVP tidak
150 mg plus d4T-bassed, dapat dihitung dengan
NVP 200 mg ; 2x/hari tepat dalam sediaan
d4T 40 mg plus - ≥ 60 kg: 1 tablet tablet. Jika dielah,
3TC 150 mg 40mg d4T- dosis NVP inadekuat
plus NVP 200 bassed, 2x/sehari untuk anak yang lebih
mg muda dan minimal
- Tidak ada di dosis NVP harus 150
Indonesia mg/m2, 2x/hari. Dosis
optimum NVP 200
mg/m2, 2x/hari.
- Karena mengandung
NVP, perlu
peningkatan dosis
Protease inhibitors

Nelfinavir NFV - Bubuk untuk Semua umur, - < 1 tahun: 50 mg/ - Bubuk terasa manis,
suspense oral kg/dosis, 3x/hari namun seperti pasir
(dicampur dan sulut larut, harus

27
dengan air); 200 Data atau 75 mg/kg/ segera diaduk jika
mg per satu farmakokinetik dosis, 2x/hari dicampur dengan air,
sendok the berfariasi pada - 1 tahun < 13: 5- susu atau pudding
(5ml)(50 bayi < 1 tahun, 65 mg/kg/dosis, jangan menggunakan
mg/1,25 ml) dosis mungkin 2x/hari asam (meningkatkan
- Tablet: 250 mg lebih tinggi - Dosis makasimal: rasa pahit) solusi stavil
(Dapat dibagi ≥ 13 tahun: 1250 dalam 6 jam. Karena
2,dihaluskan, mg/dosis, 2 kali persiapan yg susah
dicampurkan sehari lebih dipilih tablet
dalam makanan yang dihancurkan.
atau dicampur - Dapat disimpan
air) diseluruh ruangan.
- Minum bersama
makanan
- Interaksi obat (lebih
jarang dibandingkan
ritonavir)
Liponavir/ - Sirup: 80 mg/ml ≥ 6 bulan - > 6 bulan – 13 - Sebaiknya disimpan
2
ritonavir (LPV/r lopinavir plus 20 tahun: 225 mg/m dilemari pendingin atau
2
mg/ml ritonavir LPV/57,5 mg/m suhu ruang sampai
(mengandung ritonavir, 25°C maksimal 2
alcohol 42%) 2x/hari* kg: 12 bulan, bila > 25°C obat
- Kapsul: 133,3 mg atau akan rusak lebih cepat
mg liponavir - 7-15 kg: 12 - Sirup rasanya pahit
plus 33,3 mg mg/kg LPV/3 - Ukuran kapsul besar,
ritonavir mg/kg tidak boleh dibuka atau
ritonavir/dosis, dihancurkan, dimakan
2x/hari bersama makanan
- 15-40 kg: 10
mg/kg lopinavir/5
mg/kg ritonavir,
2x/hari
- Dosisi
maksimum: > 40
kg: 400 mg
LPV/100 mg
ritonavir (3
kapsul atau 5 ml),
2x/hari

Pemantauan selama pemberian

28
Bila terapi ARV sudah dimulai maka pemantauan berkala pada kepatuhan
obat, indicator laboratorium dan kondisi klinis harus dilakukan. Pada setiap
kesempatan pengasuh atau orangtua pasien perlu ditanya mengenai aktivitas
pemberian obat, penerimaan obat oleh anak, hambatan dalam pemberian obat
tepat waktu dan melakukan konsultasi secara rutin.
Pemeriksaan laboratorium sangat perlu dipantau adalah terutama darah tepi,
enzim transaminase hati, dan kadar CD4 yang dilakukan paling tidak 3 bulan
sekali. Bila perlu ditambahkan pemeriksaan kadar RNA virus, pemeriksaan
specimen infeksi dan pemeriksaan pencitraan. Pemantauan klinis perlu
dilakukan untuk mencari adakah infeksi oportunistik baru yang muncul atau
kemungkinan penyakit pulih imun (immune reconstitution disease).
Kegagaln pemberian ARV perlu dipikirkan bila pada pemantauan
didapatkan tidak ada penurunan kadar virus dalam plasma, tidak ada
peningkatan jumlah dan presentase CD4, gejala klinis bertambah atau
memburuk, timbul troksisitas atau intoleransi ARV, disertai masalah tidak
patuh obat.
Kegagalan supresi virus dapat bersifat komplit atau parsial. Untuk melihat
apakah terapi ARV berhasil diperlukan waktu 6 bulan. Kegagalan supresi ini
mungkin memiliki pola (1) jumlah virus yang tidak bisa turun, atau, (2) virus
yang kembali bertambah banyak setelah sebelumnya berhasil ditekan (viral
rebound).
Kegagalan supresi imun adalah tidak tercapainya jumlah CD4 normal
menurut umur. Ktireria kenormalan menurut umur ini mutlak karena secara
fisiologis parameter CD4 menurut umur akan menurun. Tetapi persentase CD4
variasinya sedikit, karena itu nilai persentasenya dipakai untuk penilaian
keberhasilan terapi ARV. Lama penilaian keberhasilan terapi ini juga 6 bulan,
dan bila terdapat hasil pemeriksaan CD4 sebaiknya dilakukan pemeriksaan
ulang paling tidak 1 minggu sesudahnya untuk konfirmais sebelum
menyimpulkan terdapar respon imun suboptimal.
Kondisi klinis harus selalu dihubungkan denga respon imun dan virologik
terhadap pemberian ARV. Pada pasien yang parameter imun dan virologiknya
stabil, terdapatnya gejala simtimatik HIV yang baru tidak berarti ARV tidak

29
perlu diganti. Tetapi bila timbul pada infeksi oportunistik pada kasus
imunosupresan berat pada awal pemberian terapi ARV, maka hal tersebut
menunjukkan disfungsi imun persisten meskipun jumlah virus sudah berkurang.
Kemungkinan sindrom pulih imun juga harus dipikirkan sebelum satu infeksi
oportunistik baru dikategorikan sebagai kegagalan klinis. Kegagalan klinis juga
harus dipikirkan bila tidak ada perbaikan perkembangan neurologic meskipun
terapi adekuat sudah diberikan.
Kadang-kadang timbul ketidaksinambungan antara keberhasilan klinis dan
imunologis pada kasus yang tidak memiliki efek supresi virologik yang
diharapkan. Dinegara maju, bila ditemukan kondisi ini maka uji resistensi
terhadap golongan ARV tertentu perlu dilakukan.
Penggantian ke lini kedua
Bila terdapat kondisi yang mengarah ke kegagalan terapi ARV lini pertama,
maka dilakukan evaluasi kearah kepatuhan berobat, dosis dan infeksi
oportunistik yang belum berhasil diatasi. Setelah dilakukan evaluasi
menyeluruh dan diputuskan untuk melakukan penggantian obat, maka opsi
pilihan lini kedua dipertombangkan.
Factor yang harus diperhatikan adalah bahwa resistensi silang dalam kelas
ART yang sama terjadi pada mereka yang mengalami kegagalan terapi
(berdasarkan penilaian klinis atau CD4+). Resistensi terjadi ketika HIV terus
berproliferasimeskipun dalam pengobatan ART. Jika kegagalan terapi terjadi
dengan rejimen NNRTI atau 3 TC (lihat pengkodean), hampir pasti terjadi
resistensi terhadap seluruh NNRTI dan 3TC. Memilih meneruskan NNRTI pada
kondisi tidak ada gunanya, tetapi meneruskan pemberian 3TC mungkin dapat
menurunkan ketahanan virus HIV. AZT dan d4T hampir selalu bereaksi silang
dan mempunyai pola resistensi yang sama, sehingga tidak dianjurkan
mengganti satu dengan yang lainnya.
Prinsip pemilihan rejimen kedua adalah pilih kelas obat ARV sebanyak
mungkin. Bila kelas yang sama akan digunakan, pilih obat yang sama sekali
belum dipakai sebelumnya. Tujuan pemberian rejimen lini kedua adalah untuk
mencapai respon klinis dan imunologis (CD4+), tetapi responnya tidak sebaik

30
pada rejimen lini pertama karena sudah terjadi resistensi silang di antara obat
ARV.
Sebelum pindah kerejimen lini kedua, kepatuhan obat harus benar-benar
dinilai. Anak yang dengan rejimen lini kedua pun gagal, terapi penyelamatan
yang efektif masih sulit di lakukan. Konsultasi dengan panel ahli di per;lukan.
Untuk rejimen bernbaris ritonavirboosted PI, pemeriksaan lipid (trigliserida
dan kolesterol, jika mungkin LDL dan HDL) dilakukan setiap 6-12 bulan.
Rekomendasi bila ini pertama adalah 2 NRTI+1 NNRTI=2 NRTI baru + 1 PI

2 NRTI
NRTI lini pertama NRTI lini kedua

AZT atau d4T+3TC ddl + ABC

ABC+3TC ddl + AZT

* Meneruskan penggunaan 3TC pada rejimen lini kedua dapat dipertimbangkan


karena 3TC dihubungkan dengan berkurangnya ketahanan virus HIV.
1PI

PI terpilih Keuntungan Kerugian

Lopinavir/ - Efikasi sangat baik,khususnya anak - membutuhkan penyimpangan

ritonavirLPV/r yang belum pernah mendapat PI dalam lemari pendingin

- Ambang terhadap resistensi tinggi - kapsul gel ukurannya besar

Karena kadar obat tinggi dengan - harganya mahal

Penambahan ritonavir - rasanya tidak enak

- Tersedia dalam bentuk sirup,pil - tidak bisa dibagi

Dan tablet

- Dosis anak sudah tersedia

31
Saquinavir/ -Dapat digunakan bersamaan ritonavir

Ritonavir SQV/r boosting

- Efiaksi baik

H. Pencegahan.
Pemberian zidovudin terhadap wanita hamil yang terinfeksi HIV-I
menguranggi penularan HIV-1 terhadap bayi secara dramatis. Penggunaan
zidovudin (100 mg secara oral lima kali 24 jam) pada wanita HIV-1 positif dari
14 minggu kehamilan sampai kelahiran dan persalinan dan selama 6 minggu
pada neonatus (180 mg/m2 secara oral setiap 6 jam ) mengurangi penularan pada
26 % resipien placebo sampai makna.
Pelayanan Kesehatan masyarakat A.S telah menghasilkan pedoman untuk
penggunaan zidovudin pada wanita hamil HIV-l positif untuk mencegah
penularan HIV-1 perinatal. Wanita yang HIV- I positif, hamil dengan masa
kehamilan 14-34 minggu, mempunyai angka limfosit CD4+ 200/mm3 atau lebih
besar, dan sekarang tidak berbeda pada berada pada terapi antiretrovirus
dianjurkan menggunakan zidovudin.
Wanita HIV-1 positif yang dikenali sesudah kehamilan 34 minggu atau yang
berada dalam persalinan juga, didorong untuk menggunakan zidovudin.
Zidovudin intravena (dosis beban 1 jam 2mg/ kg/ jam diikuti dengan infus terus-
menerus 1mg/kg/jam sampai persalinan) dianjurkan selama proses klahiran.
Pada semua keadaan dimana ibu mendapat zidovudin,, untuk mencegah
penularan HIV-1, bayi harus mendapat sirup zidovudin (2mg/kg setiap 6 jam
selama usia 6 minggu pertama yang mulai 8-12 jam sesudah lahir) jika ibu HIV-
1 positif dan tidak mendapat zidovudin, zidovudin harus dimulai pada bayi baru
lahir, tidak ada bukti yang mendukung kemanjuran obat dalam mencegah infeksi
HIV-1 bayi baru lahirr sesudah 24jam.
Ibu dan anak yang diobati dengan zidovudin harus diamati dengan ketat
untuk kejadian-kejadian yang merugikan dan didaftar pada PPP untuk menilai

32
kemungkinan kejadian yang merugikan jangka lama. Saat ini, hanya anaemia
ringan reversibel yang telah di temukann pada bayi.umtuk melaksanakan
pendekatan ini secara temu semua wanita harus mendapat perwatan perinatal
yang tepat, dan wnita hamil harus di uji untuk positivitas HIV-1.
Penularan seksual.
Pencegahan penularan seksual mencakup penghindaran pertukaran cairan-
cairan tubuh. Kondom merupakan bagian integral program yang mengurangi
penyakit yang ditularkan secara seksual. Seks tanpa perlindungan dengan mitra
yang lebih tua atau dengan banyak mitra adalah biasa pada remaja yang
terinfeksi HIV-1.

I. PROGNOSIS
Prognosis anak-anak pengidap HIV berbeda-beda sesuai stadium klinis dan
terutama persentase CD4 yang di miliki sebelum terapi ARV. Secara umum
tercapainya stadium AIDS pada anak lebih cepat pada orang dewasa. Bila pada
orang dewasa ada sejumlah pengidap HIV yang dapat tetap sehat dengan hitung
CD4 tetap normal bertahun-tahun lamanya, maka pada anak di dapatkan studi
kohord dengan hati yang sebanding. Tetapi memang di temukan anak-anak
yang hingga usia paling tidak 8 tahun tidak memiliki gejala infeksi HIV dan
hitung CD4 nya normal, meskipun HIV seropositif. Studi awal menunjukkan
bahwa pada anak-anak terinfeksi HIV yang sebelum usia 1 tahun pun sudah
memerlukan terapi ARV. Dengan perkembangan riset obat ARV pada anak dan
keberhasilan hidup anak pengidap HIV lebih tinggi di masa yang akan datang.

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN HIV/AIDS PADA ANAK

KASUS:

33
Hari kamis TGL 27 Februari 2014 sekitar jam 10.30 WIB ibu Diah
membawa anaknya yang bernama Gunawan ke RS dengan alasan diare dan
demam anak tak kunjung sembuh, dengan keadaan anaknya semakin hari tambah
parah, berat badannya menurun, nafsu makannya berkurang, kesulitan menelan,
kurus, mual muntah, kulitnya merah-merah dan luka yang tidak sembuh-sembuh.

A. Pengkajian
1. Identitas Klien
Nama : An. G
Umur : 12 th
No Reg : 012 68651
Ruang : Seruni
Agama : Islam
Alamat : Jalan Biraan 322 Dayeuhkolot, Bandung
Suku Bangsa : Sunda / Indonesia
Pendidikan : SD
MRS : 26 Februari 2013
Tanggal Pengkajian : 26 Februari 2013
DX Medis : AIDS

2. Keluhan Utama
Saat MRS : Klien dibawa ke rumah sakit dengan keluhan
diare dan demam
Saat pengkajian : Klien mengatakan badan terasa lemah, dan
tidak mampu melakukan aktifitas.

3. Riwayat Penyakit Sekarang


Sejak tanggal 25 Februari 2014 klien mengalami diare hebat sekitar 10-
12x/hari, tidak nafsu makan (anoreksia), dan kesulitan menelan (disfagia).
Klien juga mengalami demam sejak 23 Februari 2014. Lalu dibawa ke
rumah sakit pada tanggal 27 Februari 2014 pukul 09.00 WIB. Pada saat
pengkajian klien berkata-kata dengan suara yang lirih seperti kelelahan.

34
4. Riwayat Penyakit Dahulu
Dalam 3 bulan terakhir Tn. T sering mengalami diare tak terkontrol tanpa
merasakan sakit perut, penyebabnya tidak diketahui, dengan faktor yang
memperberat adalah bergerak sehingga usaha yang dilakukan adalah diam.
Klien juga demam tinggi sehingga dibawa ke puskesmas untuk
mendapatkan perawatan. Dari riwayat 3 bulan terakhir Tn. T pernah 3-4
kali mengalami demam dan 1 kali mengalami diare disertai darah.

5. Riwayat Kesehatan Keluarga


Dari riwayat penyakit keluarga, tidak didapatkan anggota keluarga yang
mengalami kelainan, penyakit kronis, ataupun penyakit yang sama dengan
Tn. T

6. Riwayat Psikososial
a. Persepsi Klien Terhadap Masalah
Saat ditanya tentang penyakit, pengobatan, komplikasi An. G hanya
menggelengkan kepala. Pasien merasa diasingkan oleh teman-
temannya, pasien merasa frustasi karena tidak punya teman dan merasa
terisolasi serta tidak menyukai gambaran diri karena penyakit sekarang.

7. Pola Kesehatan Sehari-hari Selama Di Rumah dan RS


a. Pola Nutrisi dan Metabolisme
Di Rumah : makan 3x/hari, habis 1/2 porsi dengan komposisi
nasi sayur dan telur terkadang tempe. Minum air
putih 1000 cc/hari ditambah susu tiap pagi.
Di Rumah Sakit : saat pengkajian klien menunjukkan gejala anoreksia
dan kesulitan menelan, Makan 2x/hari ¼ porsi,
minum air putis 400cc/jam
b. Pola Eliminasi
1) Kebiasaan Devekasi Sehari-hari

35
Di Rumah : klien devekasi 10-12x/hari dengan konsistensi
cair, warna kuning kecoklatan. Pernah satu
kali devekasi disertai darah
Di Rumah Sakit : saat pengkajian klien belum devikasi karena
pasien baru datang.
2) Kebiasaan Miksi
Di Rumah : Tn. T miksi 3-4x / hari (kira-kira 1500 cc)
warna kuning, bau khas, tidak ada kesulitan
BAK, tidak terdapat darah pada urin. Selama
sakit BAK 2-3x/ hari
Di Rumah Sakit : klien BAK tanpa alat bantu ataupun kateter.
c. Pola Tidur dan Istirahat
Dirumah Klien : istirahat (tidur) kira-kira 8 jam/hari mulai jam 21.00
WIB sampai 05.00,
Di Rumah Sakit : klien tidur siang selama 40-60 menit
d. Pola Aktivitas
Di rumah : klien beraktifitas secara mandiri tanpa bantuan
orang lain dan tidak memiliki kebiasaan olah raga
Di rumah sakit : klien merasa mudah lelah, tidak kuat untuk
mengankat beban berat maupun sedang. Klien
mendapat terapi istirahat, beberapa aktifitasnya
dibantu.
8. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan umum : Lemah, terpasang infus RL,
Keadaan sakit : Klien sering mengeluh lemas
Tekanan darah : 90 / 80 mmHg
Nadi : 55 x/menit
Respirasi : 24 x/menit
Bising Usus : 20 x/menit
Suhu : 38˚C
Tinggi badan : 120 cm
Berat badan : 35 kg

36
b. Review of System (ROS)
(1) Kepala : Posisi tegak, bentuk kepala simetris, warna rambut
hitam, distribusi rambut merata, tidak terlihat bayangan pembuluh
darah, tidak terdapat luka, tumor, edema, terlihat ada ketombe, dan
bau.
 Mata ; tidak terdapat vesikel, tidak ada masa, nyeri tekan, dan
penurunan penglihatan, konjungtiva anemis.
 Hidung ; ada sekret, tidak ada lesi
 Mulut ; terdapat lesi, gigi ada yang tanggal, membran mukosa
kering, lidah ada bercak-bercak keputihan, dan halitosis.
 Telinga ; tidak ada nyeri tekan
(2) Leher : trakea simetris, tidak ada pembesaran kelenjar
tiroid dan vena jugularis, tidak ada nyeri tekan.
(3) Thoraks : bentuk simetris, tidak terdapat masa,tidak ada otot
bantu napas
 Paru ; bentuk dada simetris, tidak terdapat retraksi interkosta,
ekspansi kanan dan kiri sama, perkusi paru didapat suara sonor
di seluruh lapang paru, batas paru hepar dan jantung redup,
 Jantung ; ictus cordis terlihat di mid-clavicula line sinistra ICS
5,
(4) Ketiak dan Payudara ; Tidak didapatkan pembesaran kelenjar limfe
dan tidak ada benjolan, puting dan areola baik
(5) Abdomen : bentuk simetris, ada nyeri tekan, tidak ada
benjolan, tidak ada tanda pembesaran hepar, tidak didapati asites,
dan hasil perkusi didapat suara timpani,
(6) Genetalia : Tn. T adalah klien laki-laki,
 Penis ; klien di sirkumsisi, gland penis terdapat bercak, pada
batang penis ada tanda jamur, tidak ada tanda herpes, ada lesi.
 Skrotum ; tidak ada lesi, tidak ada tanda jamur, tidak ada tanda
herpes
 Uretra ; tidak terdapat kelainan, tidak ada lesi

37
(7) Anus dan Rektum : tidak ada abses, ada hemoroid, rektum
didapati sedikit berlendir.
(8) Ekstremitas : kekuatan otot menurun, tidak terdapat oedema,
tidak ada fraktur, tidak tampak tanda atropi
(9) Integumen : warna sawo matang, tekstur kering, terdapat
kemerahan pada area, turgor buruk, terdapat tanda sianosis, akral
dingin, capillary refill time >3 detik, tidak ada tanda inflamasi
pada kuku, ada lesi pada kulit bagian area scapula
(10) Status Neurologis
a) Tingkat kesadaran : Kompos Mentis
b) Tanda–tanda perangsangan otak
1) Pusing
2) Suhu tubuh 37,8o C
c) Uji saraf kranial
NI : Klien tidak dapat membau dengan baik
N II : Klien dapat melihat dengan jelas
N III : Klien dapat menggerakkan bola mata
N IV : Klien dapat melihat gerakan tangan perawat baik
ke samping kiri ke kanan.
NV : Klien dapat menggerakan rahang
N VI : Klien dapat menggerakan mata kesamping
N VII : Klien dapat merasakan pahit, manis, asam, dan
manis
N VIII : Klien dapat mendengarkan degan baik
N IX : Klien dapat berbicara
NX : Klien dapat mengangkat bahu
N XI : Klien dapat berbicara dengan baik
N XII : Klien dapat menggerakan lidah dan dapat berbicara
dengan baik
d) Funsi Motorik
Tidak ada gerakan yang tdak disadari klien, klien mampu
bergerak tanpa perintah.

38
e) Fungsi Sensorik
Klien tidak merasakan usapan kapas pada area maksilaris,
dapat merasakan benda tajam, tidak dapat merasakan hangat,
panas, dan dingin.
f) Refleks Pantologis
Reflek babinsky positif, reflek cadlok positif, reflek Gordon
positif

9. Pemeriksaan Penunjang
a) Hasil Test Enzime Linked Sorbent Assay (ELISA) : dari hasil test
ELISA yang dilakukan, menunjukkan hasil bahwa Tn. T Positif
dibuktikan dengan antibodi dalam serum mengikat antigen virus murni
di dalam enzyme-linked antihuman globulin.
b) Hasil Test Western Blot : Positif
c) P24 Antigen Test : Positif
d) Kultur HIV : Positif, dengan kadar antigen P24
Meningkat

39
ANALISA DATA

NO DATA PENYEBAB MASALAH

1 DS: Sistem imun menurun sehingga Resiko terjadinya infeksi


• demam secara terus menerus Tubuh mudah terserang infeksi
dr luar (virus, bakteri, jamur,
• kulitnya merah-merah
parasit), maka jika terjadi luka
• luka yang tidak sembuh-
sukar untuk sembuh
sembuh
DO:
• lesi kulit
• luka sukar sembuh

2 DS: Terjadi gangguan pada Nutrisi kurang dan kebutuhan tubuh


• berat gastrointestinal dan kesulitan
badannyamenurun menelan sehingga nafsumakan
berkurang serta mual, muntah
• nafsu makannya berkurang
• kurus
• mual / muntah
DO:
• anoreksia

40
3 DS: Terjadi infeksi pada Kurangnya volume cairan tubuh
• diare gastrointestinal bisa
DO: menimbulkan diare
• feses cair

4 DS: System imun tubuh melemah Gangguan integritas kulit


•kulitnya merah-merah menyebabkan tubuh tidak
•luka yang tidak sembuh- mampu untuk beradaptasi
sembuh
DO:
• lesi kulit
• luka sukar sembuh

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Resiko infeksi
2. Nutrisi kurang dari kebutuhan
3. Kurangnya volume cairan tubuh
4. Gangguan intergritas kulit

C. INTERVENSI KEPERAWATAN
NO DIAGNOSA TUJUAN INTERVENSI RASIONAL
1 Resiko terjadinya Tujuan : Bebas dari Pertahankan teknik Mengurangi resiko

41
infeksi pada anak dengan infeksi oportuniskit Kriteria septik dan antiseptik (cuci kontaminasi silang
HIV /AIDS berhubungan Hasil : tangan sebelum dan sesudah• Memberikan informasi data
dengan adanya tindakan)
• Mencapai masa dasar upeneana, tindakan
penurunan system imun • Pantau tanda-tanda
tubuh penyembuhan luka vital • Kongesti / distres pernafasan
/ lesi • Kaji frekuensi / dapat mengidentifikasikan
• Tidak demam dan bebas dari kedalaman perkembangan PCP
pengeluaran / sekresi purulen pernafasan, perhatikan batuk
spasmedik kering pada • Candidiasis oral, ks, herpes
dan tanda-tanda lain dari
inspirasi dalam CMU dan
infeksi.
• Periksa adanya luka / lakuasi Cyptococcus adalah
infasif, dan tanda-tanda penyakit umum dan
inflamasi.
• Gunakan sarung tangan dan memberi pengaruh pada
shout selama kontak langsung membran kulit, perawatan
yang infulsi aktual dapat
akresi / sekresi
mencegah supsis
• Pantau studi laboratorium,
JDL dan periksa kultur /• Mencegah penularan
sensivitas lesi, darah, urine dan• Mengidentifikasi proses
spuntum infeksi dan untuk
• Berikan antibiotik, entijamun /
menentukan metode
agen antimikroba.
perawatan
• Menghambat proses
infeksi

42
NO DIAGNOSA TUJUAN INTERVENSI RASIONAL
2 Nutrisi kurang dan Tujuan : Kebutuhan nutrisi • Kaji BB dasar • Anak resti GUT ditandai
kebutuhan tubuh pada anak terpenuhi • Observasi koordinasi dengan BB menurun atau
berhubungan dengan menghisap dan
Kriteria Hasil : penambahan BB sedikit dari
anoreksia
• Terlihat adanya refleks menelan waktu
pertumbuhan BB anak • Insfeksi rongga mulut lahir
• Nila-nilai laboratorium • Anjurkan pemberian makan • Pola motorik oral abormal
alternatif dan konsulkan ibu dapat merusak pemberian

43
dalam batas normal mengenai resiko menyusui makan
• Bebas dari tanda malnutrisis• Tinjau ulang diet sesuai usia• Sariawan merusak
/ gagal untuk tumbuh (GUT) dan tambahan makanan padat kemampuan makan
• untuk mengetahui cara dan • HIV ada pada kolestrum serta
pemberian makan dan kemampuan perkembanan ASI dan meskipun terbatas
kebutuhan khusus untuk• Berikan nistat sesuai indikasi tetap adabeberapa resiko
anak.
• Berikan makanan enteral / pada bai
parenteral dengan tepat. • Memberikan nutrisi optimal
berdasarkan kebutuhan anak
setelah pulang
• Tindakan efektif untuk
infeksi jemu oral
• Kerusakan motorik dan
adanya infeksi memerlukan
alternatif teknik pemberian
makanan untuk memenuhi
kebutuhan diet.

44
NO DIAGNOSA TUJUAN INTERVENSI RASIONAL

3 Kurangnya volume cairan tubuh Tujuan : Kebutuhan volume • Kaji tanda-tanda vital • Indikasi dari volume cairan
pada anak berhubungan dengan cairan • Catat pningkatan suhu dan sirkulasi
adanya infeksi oportunitis terpenuhi durasi demam, berikan• Meningkatkan kebutuhan
saluran pencernaan Kriteria Hasil : kompres hangat sesuai metabolisme dan diaforesis
(diare ) • Membran mukosa lembab indikasi yang
• Anak tampak rileks • Kaji turgor, membran mukosa berlebihan
• Turgor kulit baik dan rasa haus • Indikator tidak langsung dari
• Tanda-tanda vital • Kaji intake dan status cairan
stabil

45
Haluaran adekuat. output • Mempertahankan
• Hilangkan makan yang keseimbangan cairan,
potensial menyebabkan mengurangi rasa haus dan
diare melembabkan membran
• Berikan cairan / elektrolit mukosa
melalui NGT / IV • Mungkin dapat mengurangi
• Pantau He / Hb diare
• Berikan obat sesuai indikasi • Mendukung / memperbesar
seperti anti ementik, anti volume sirkulasi, terutama
diare, anti piretik
jika pemasukan oral tak
adekuat
• Bermanfaat dalam
memperbaiki kebutuhan
cairan
• Mengurangi insiden muntah,
menurunkan jumlah
keenceran feces dan
membantu mengurangi
demam.

46
NO DIAGNOSA TUJUAN INTERVENSI RASIONAL

4 Gangguan integritas kulit Tujuan : Integritas kulit kembali • Kaji tiap hari, catat warna, • Menentukan garis dasar
berhubungan dengan defisit normal Kriteria Hasil : turgor, sirkulasi dan sensori perubahan dan melakukan
imunologis, resti : penurunan
• Tidak ada lagi lesi • Pertahankan higiene kulit intervensi yang tepat
tingkat aktivitas, perubahan
• Permukaan kulit normal. mis : masase dengan lotion • Mempertahankan kebersihan
sensasi, malnutrisi, perubahan
status metabolisme. dan krim karena kulit yang kering
• Autr posisi secara teratur, dapat menjadi barier infeksi
ganti seprei sesuai • Mengurangi stress pada titik
kebutuhan tekanan, meningkatkan aliran
• Pertahankan sprai

47
bersih, kering dan tidak darah, kejaringan
berkeringat meningkatkan proses
• Bersihkan area perianal penyembuhan
• Gunting kuku anak • Friksi kulit disebabkan kain
secara teratur yang berkerut dan basah
• Berikan matras / tempat tidur • Mencegah maserasi yang
busa disebabkna
• Berikan obat-obatan topikal / oleh diare
sistemik sesuai indikasi. • Kuku yang panjang
meningkatkan resiko
kerusakan dermal
• Menurunkan istemia jaringan
• Digunakan pada perawatan
lesi kulit

48
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Infeksi HIV/AIDS pertama kali dilaporkan di Amerika pada tahun 1981 pada orang dewasa
homoseksual, sedangkan pada anak tahun 1983. Enam tahun kemudian (1989), AIDS sudah
termasuk penyakit yang mengancam anak di Amerika. Di seluruh dunia, AIDS menyebabkan
kematian pada lebih dari 8000 orang setiap hari saat ini, yang berarti 1 orang setiap 10 detik,
karena itu infeksi HIW dianggap sebagai penyebab kematian tertinggi akibat satu jenis agen
infeksius.
AIDS (Aquired immuno deficiency syndrom ) merupakan kumpulan gejala akibat
melemahnya daya tahan tubuh sebagai akibat dari infeksi virus HIV. Virus ini mempunyai
sistem kerja menyerang jenis sel darah putih yang menangkal infeksi. Sehingga pada ornag yang
mengidap HIV/AIDS akan mudah terserang infeksi atau virus dari luar.
Cara paling efektiv dan efisien untuk menanggulangi infeksi HIV pada anak secara universal
adalah dengan mengurangi penularan dan ibu ke anaknya (mother-to-childtransmision (MTCT )).
Upaya pencegahan transmisi HIV pada anak menurut WHO dilakukan melalui 4 strategi, yaitu :
1. Mencegah penularan HIV pada wanita usia subur
2. Mencegah kehamilan yang tidak direncanakan pada wanita HIV
3. Mencegah penularan HIV dan ibu HIV hamil ke anak yang akan dilahirkannya dan
memberikan dukungan.
4. Layanan dan perawatan berkesinambungan bagi pengidap HIV

B. Saran

Dengan ini kelompok kami telah menyelesaikan tugas perkuliahan tentang aspek spiritual pada
keperawatan palliative, saran dan kritik senantiasa sangat kami butuhkan dalam menyempurnakan
makalah ini, untuk itu kami mohon maaf jika ada kurang berkenanya baik dari penulisan kalimat atau
kata yang kurang dimengerti. Terimakasih.

49
DAFTAR PUSTAKA

Behrman, dkk (1999) Ilmu Kesehatan Anak Nelson. Edisi 15. Jakatra : EGC

Betz, Cecily L (2002) Keperawatan Pediatri. Jakarta : EGC

Blog Riyawan | Kumpulan Artikel Farmasi & Keperawatan

Doenges, Marilynn E (2001) Rencana Keperawatan Maternal / Bayi. Edisi 2. Jakarta :

EGC

Rampengan & Laurentz (1999) Ilmu Penyakit Tropik pada Anak. Jakarta : EGC

50