Anda di halaman 1dari 10

dengan jumlah lubang sesuai dengan tipenya yaitu :

a. Tipe Brown and Sharpe :


 Piringan 1 dengan jumlah lubang : 15,16,17,18,19,20
 Piringan 2 dengan jumlah lubang : 21,23,27,29,31,33
 Piringan 3 dengan jumlah lubang : 37,39,41,43,47,49
b. Tipe Cincinnati (satu piringan dilubangi pada kedua sisi) :
 Sisi pertama dengan jumlah lubang :
24,25,28,30,34,37,38,39,41,42,43
 Sisi kedua (sebaliknya) dengan jumlah lubang :
46,47,49,51,53,54,57,58,59,62,66
Misalnya akan dibuat pembagian 160 buah. Pengaturan putaran engkol pada kepala
pembagi adalah sebagai berikut (Gambar 7.30.) :
 Dipilih piringan yang memiliki lubang 20, dengan cara sekrup pengatur arah radial
kita setel sehingga ujung engkol yang berbentuk runcing bisa masuk ke lubang yang
dipilih (Gambar 7.30.c).
 Gunting diatur sehingga melingkupi 5 bagian atau 6 lubang (Gambar 7.30.d).
 Sisi pertama benda kerja dimulai dari lubang no.1.
 Sisi kedua dilakukan dengan cara memutar engkol ke lubang no. 6 (telah dibatasi oleh
gunting).
 Dengan demilian engkol berputar ¼ lingkaran dan benda kerja) berputar ¼ x1/40 =
1/160 putaran.
 Gunting digeser sehingga bilah bagian kiri di no. 6.
 Pemutaran engkol selanjutnya mengikuti bilah gunting.
Gambar 7.30. Kepala pembagi dan pengoperasiannya.

Pemilihan pisau untuk memotong profil gigi (biasanya profil gigi involute) harus
dipilih berdasarkan modul dan jumlah gigi yang akan dibuat. Nomer pisau frais gigi
berdasarkan jumlah gigi yang dibuat dapat dilihat pada Tabel 7.3. Penentuan elemen dasar
proses frais yaitu putaran spindel dan gerak makan pada proses frais gigi tetap mengikuti
rumus 3.2 dan 3.3. Sedangkan kedalaman potong ditentukan berdasarkan tinggi gigi dalam
gambar kerja atau sesuai dengan modul gigi yang dibuat (antara 2 sampai 2,25 modul).

Tabel 7.3. Urutan nomor pisau frais gigi involute.

2.3 Modul III (Praktikum Mesin Frais Vertikal)


Proses permesinan frais (milling) adalah proses penyayatan benda kerja menggunakan
alat potong dengan mata potong jamak yang berputar. Proses penyayatan dengan gigi potong
yang banyak yang mengitari pisau ini bisa menghasilkan proses permesinan lebih cepat.
Permukaan yang disayat bisa berbentuk datar, menyudut, atau melengkung. Permukaan
benda kerja bisa juga berbentuk kombinasi dari beberapa bentuk. Mesin yang digunakan
untuk memegang benda kerja, memutar pisau, dan penyayatannya disebut Mesin Frais
(Milling Machine).

2.3.1 Landasan Teori


Mesin milling vertikal dapat juga disebut dengan nama mesin Frais vertikal.
Mengefrais adalah mengerjakan logam dengan mesin yang menggunakan alat pemotong
berputar seperti bor yang mempunyai sejumlah mata potong.

Gambar 2.3.1 mesin milling vertikal


Disebut mesin frais vertikal karena kedudukan yang vertikal dari spindle pemotong.
Gerakan mejanya sama seperti pada mesin datar. Biasanya, tidak ada gerakan yang
diberikan kepada pemotong kecuali gerakan beputar biasa. Tetapi, kepala spindelnya dapat
diputar, yang memungkinkan penyetelan spindle dalam bidang vertikal pada setiap sudut
dari vertikal sampai horizontal. Mesin ini mempunyai perjalanan spindle aksial yang
pendek untuk memudahkan penafsiran bertingkat. Beberapa mesin frais vertikal
dilengkapi dengan alat putar tambahan atau meja kerja putar untuk memungkinkan
mengefrais alur melingkar atau mengefrais kontinu suku cadang produksi yang kecil.
Dibawah ini akan digambarkan dasar-dasar pengerjaan mengefrais.

Gambar 2.3.2 Dasar pengerjaan mengefrais.

Penggunaan mesin mencakup penggurdian, penggeboran, peluasan lubang,


penjarakan tepat dari lubang karena penyetelan micrometer dari meja, pemotongan tepi,
dan pencerukan. Mesin profil dan frais matriks operasinya mirip dengan mesin frais
vertikal.
Kecepatan potong pada proses di mesin milling adalah kecepatan pisau potong yang
bergerak melingkar melewati benda kerja dalam satuan meter per menit.

2.3.2 Faktor yang mempengaruhi kecepatan potong adalah :


a. Bahan benda kerja
b. Bahan pisau potong/pahat.

2.3.3 Faktor yang mempengaruhi pemilihan kecepatan potong :


a. Konstruksi/kondisi mesin
b. Bentuk pisau
c. Penampang tatal/beram (chip)
d. Tingkat kehalusan yang diinginkan
e. Pencekaman benda kerja
f. Media pendinginan.

2.3.4 Rumus putaran pisau mesin milling adalah :

Dimana :
n : putaran spindle mesin (rpm)
V : kecepatan potong, lihat tabel 4.1 (m/menit)
D : diameter pisau (mm)

2.3.5 Macam-macam pahat atau pisau

Pisau ini mempunyai berbagai macam bentuk disesuaikan dengan kebutuhan


sehingga nama pahatpun disesuaikan dengan bentuk dan kegunaannya, misalnya pahat
End Milling digunakan untuk membuat alur lurus dengan lebar alurnya berdasarkan
dameter dari pahat end milling tersebut, pahat Face Milling dimana sisi pahatnya
berbentuk rata dengan diameter yang lebih besar dibandingkan dengan pahat end milling
dan pahat ini digunakan untuk meratakan permukaan dari benda kerja. Macam-macam
bentuk pisau atau pahat mesin milling vertikal adalah sebagai berikut :

Gambar 2.3.3 Pahat End Milling.


Gambar 2.3.4 Pahat Face Milling.

2.4 MODUL IV (PRAKTIKUM MESIN SEKRAP)


Mesin sekrap (shaping machine) disebut pula mesin ketam atau serut. Mesin ini
digunakan untuk mengerjakan bidang-bidang yang rata, cembung, cekung, beratur, dll pada
posisi mendatar, tegak, maupun miring. Mesin sekrap adalah suat mesin perkakas dengan
gerakan utama lurus bolak-balik secara vertikal maupun horizontal.
Prinsip pengerjaan pada Mesin Sekrap adalah benda yang disayat atau dipotong dalam
keadaan diam (dijepit pada ragum) kemudian pahat bergerak lurus bolak balik atau maju
mundur melakukan penyayatan. Hasil gerakan maju mundur lengan mesin/pahat diperoleh
dari motor yang dihubungkan dengan roda bertingkat melalui sabuk (belt). Dari roda
bertingkat, putaran diteruskan ke roda gigi antara dan dihubungkan ke roda gigi penggerak
engkol yang besar. Roda gigi tersebut beralur dan dipasang engkol melalui tap. Jika roda gigi
berputar maka tap engkol berputar eksentrik menghasilkan gerakan maju mundur lengan.
Kedudukan tap dapat digeser sehingga panjang eksentrik berubah dan berarti pula panjang
langkah berubah.

2.4.1 Landasan Teori


Gambar 2.4.1 Mesin Sekrap

Gambar diatas merupakan sebuah sketsa diagramatis dari sebuah mesin ketam
horizontal biasa. Yang umum dipakai untuk pekerjaan produksi dan pekerjaan serbaguna,
adalah mesin ketam horizontal, terdiri atas dasar dan rangka yang mendukung ram
horizontal, konstruksinya agak sederhana. Ram, yang membawa pahat, diberi gerak ulak-
alik sama dengan panjang langkah yang diinginkan. Mekanisme balik cepat yang
menggerakkan ram dirancang sedemikian sehingga langkah balik dari mesin ketam lebih
cepat daripada langkah potong sehinga mengurangi waktu tanpa kerja dari mesin sampai
minimum. Kepala pahat diujung ram, yang dapat diputar melalui sebuah sudut, dilengkapi
dengan alat untuk menghantarkan pahat ke dalam benda kerja. Pada pengunciannya maka
pemegang pahat peti lonceng, diberi engsel pada ujung atas untuk memungkinkan pahat
naik pada langkah balik sehingga tidak menggali kedalam benda kerja.
Benda kerja didukung pada rel silang di muka mesin ketam. Sebuah ulir pengarah,
yang berhubungan dengan rel silang, memungkinkan benda kerja digerakkan menyilang
atau vertikal dengan tangan atau penggerak daya. Suatu mesin ketam universal yang
memiliki sifat seperti ini, dilengkapi dengan pengaturan berputar dan condong untuk
memungkinkan permesinan teliti pada sembarang sudut. Pengaturan berputar mengambil
tempat sekitar sebuah sumbu yang sejajar dengan gerakan ram. Kecondongannya adalah
pada puncak meja yang menyediakan sebuah alat untuk menyetel meja pada suatu sudut
terhadap sumbu putar. Benda kerja pada mesin ketam dipegang dengan membautkannya
kepada meja kerja atau dengan mengketatkannya dengan catok atau beberapa pemegang
yang lain.

2.4.2 Jenis-Jenis Pahat


Pahat penyayat dipasang pada pemegang pahat dan pemegang pahat itu terpasang
pada pelat pahat, pelat pahat ini kedudukannya dapat diatur naik turun dengan jalan
memutar eretan pahat, naik turunnya eretan ini merupakan pengaturan tebal pemakanan
pahat, untuk menentukan tebal pemakanan itu kita pergunakan garis pengukur tebal
pemakanan pada eretan tadi, selain itu eretan ini kedudukannya dapat diubah atau diputar
dalam derajat sehingga kita dapat mengetam bagian yang miring yang besar sudutnya
sudah ditentukan.
Pemegang pahat terpasang pada terpasang pada pelat-pelat yang dapat bergerak
berayun seperti engsel, hal ini dimaksudkan agar pahat tidak mencakup atau menekan
benda kerja pada langkah kebelakang.
Bentuk pahat ketam hampir sama dengan bentuk pahat bubut, perbedaannya terletak
pada sudut-sudut bebas muka dan sampingnya lebih kecil, sudut bebas yang lebih kecil ini
dimaksudkan untuk menghindari getaran-getaran pada pahat atau pada benda kerja karena
penyayatan pada mesin bubut, bentuk dan besarnya sudut-sudut pahat tersebut sangat
penting karena baik tidaknya hasil penyayatan tergantung sebagian dari cara mengasah
sudut-sudut pahat itu.

Gambar 8. Macam-macam pahat sekrap dibawah ini:


Keterangan gambar :
a. Pahat ketam kasar lurus.
b. Pahat ketam kasar lengkung.
c. Pahat ketam dasar.
d. Pahat ketam runcing.
e. Pahat ketam sisi.
f. Pahat ketam sisi kasar.

Pahat ketam sisi kasar


a. Pahat ketam masuk kedalam atau keluar lurus.
b. Pahat ketam masuk dalam atau keluar diteruskan.

Keterangan gambar :
s : pemakanan (feed)
b1 : toleransi pemakanan dari samping
b : lebar benda kerja
B : lebar penyekrapan

Panjang langkah (L) :


L = l + la + lb
Keterangan :
L : panjang benda kerja
la : allowance sebelum pemotongan
lb : allowance setelah pemotongan (stroke allowance)

Jumlah langkah per menit (n) :

Keterangan :
Vm : kecepatan potong (m/menit)
L : panjang langkah (mm)

Jumlah langkah yang diperlukan (Z) :

Waktu penyekrapan (tm) :


tm = Z . t
Lebar penyekrapan (B) :
B = b+2.5