Anda di halaman 1dari 6

3.

Program pengendalian TB belum merupakan prioritas dalam kegiatan organisasi


kemasyarakatan,
4. Belum sepenuhnya melibatkan pasien dan mantan pasien TB dalam kegiatan program
pengendalian TB.
5. Saat ini sebagian besar organisasi kemasyarakatan masih tergantung kepada dana hibah
untuk melaksanakan kegiatan program pengendalian TB.
C. Keutungan Melibatkan organisasi kemasyarakatan Dalam pengendalian TB
1. Organisasi kemasyaraktan mempunyai jejaring dengan organsasi kemasyarakatan
lainnya sehingga dapat menggerakkan organisasi lain yang belum terlibat untuk
dapat membantu dalam program pengendalian TB.
2. Organisasi kemasyarakatan bekerja di tengah-tengah masyarakat dan lebih
memahami situasi setempat sehingga lebih mengerti kebutuhan masyarakat.
3. Organisasi kemasyarakatn mempunyai akses untuk menjangkau masyarakat dengan
populasi khusus.
4. Banyak organisasi kemasyarakatan mempunyai fasilitas dan sarana layanan kesehatn
yang dapat diakses oleh masyarakat secara langsung.
5. 0rganisasi kemasyarakatan dapat membantu dalam penyebarluasan informasi
tentang TB kepada masyarakat.
6. Organisasi kemasyarakatan dapat membantu pasien TB untuk mengaskses
pelayanan TB dan membantu dalam social ekonomi
7. Organisasi kemasyarakatan dapat membantu dalam advokasi kepada pemerintah
daerah setempat.
D. Prinsip-Prinsip Perlibatan Masyarakat Dan Organisasi Kemasyarakatan Dalam
Pengendalian TB
1. Kesetaraan dan saling menghormati, memahami kesamaan dan perbedaan serta
karakteristik masing-masing.
2. Saling menguntungkan.
3. Keterbukaan
4. Dalam perencanaan kegiatan harus menyesuaikan dengan potensi dan situasi dari
organisasi kemasyarakatan itu sendiri.
5. Dalam mentoring dan evaluasi kegiatan harus terintegritasi dengan sistem yang ada di
program pengendalian TB
E. Indikator Keberhasilan Pelibatan Masyarakat Dan Organisasi Kemasyarakat Dalam
Pengendalian TB
1. Peningkatan jumlah pasien TB baru yang dirujuk oleh masyarakat atau organisasi
kemasyarakatan yang tercatat.
2. Peningkatan keberhasilan pengobatan pasien TB yang diawasi oleh masyarakat atau
organisasi kemasyarakatan yang tercatat.
3. Penurunan angka putus berobat pasien TB yang diawasi oleh masyarakat atau
organisasi kemasyarakatan yang tercatat.
F. Peran Dan Kegiatan Masyarakat Dan Organisasi Kemasyarakatan Dalam Pengendalian TB
Peran Kegiatan
Pencegahan TB Penyuluhan TB, pengembangan KIE, Pelatihan kader.
Deteksi dini terduga TB Pelacakan kontak erat pasien dengan gejala TB,
pengumpulan dahak terduga TB, pelatihan kader.
Melakukan rujukan. Dukungan motivasi kepada terduga TB untuk ke
Fasyankes, dukungan transport.
Dukungan/motivasi Pengawasan Menelan Obat (PMO).
keteraturan berobat pasien Tb
Dukungan social ekonomi Dukungan transport pasien TB, nutrisi dan sumplemen
pasien TB, peningkatan ketrampilan pasien TB guna
meningkatkn penghasilan, menyediakan pekerja social.
Advokasi Membantu penyusunan bahan advokasi, membantu
memberikan masukan kepada pemerintah.
Mengurangi stigma Diseminasi Informasi tentang TB, membentuk kelompok
pendidik sebaya, testimony pasien TB.

G. Strategi Pelibatan Organisasi kemasyarakatan dalam Program Pengendalian TB.


Ada 4 strategi kunci untuk melibatkan organisasi kemasyarakatan dalam TB berbasis
komitas yaitu:
1. Melibatkab banyak organisasi kemasyarakat (Engage).
2. Memperluas (Expand)
3. Mempertegas (Emphasize)
4. Menghitung (Enumerate)
BAB XIII
SISTIM INFORMASI PROGRAM
PENGENDALIAN TUBERKULOSIS

Sistim informasi program pengendalian TB merupakan bagian dari sistim informasi


kesehatan. Sistim informasi kesahatan adalah seperangkat tatanan yang meliputi data, informasi,
indicator, prosedur, perangkat, teknologi dan sumber daya manusia (SDM) yang saling berkaitan
dan dikelola secara terpadu untuk mengarahkan tindakan atau keputusan yang berguna dalam
mendukung pembangunan Nasional.

Informasi kesehatan untuk program pengendalian TB adalah informasi dan pengetahuan


yang memadu dalam melakukan penantuan strategi, perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan
evaluasi program TB. Secara garis besar informasi stategis TB meliputi tiga elemen pokok yaitu
sistem surveilans, sistem monitoring dan evaluasi (monev) program, dan penelitian operasional.

A. Surveilans Tuberkulosis
Surveilan TB adalah suatu rangkaian kegiatan mulai dari pengumpulan data
penyakit secara sistemik, analisi, dan interpertasi data.
Adan 2 macam metode surveilans TB, yaitu surveilans rutin (berdasarkan data
pelaporan), dan surveilans Non Rutin (berupan survey :periodic dan sentinel).
B. Monitoring dan Evaluasi (Monev) Program TB
Monev program TB merupakan salah satu fungsi manajemen untuk menilai
keberhasilan pelaksanaan program TB. Monitoring dilakukan secara berkala sebagai
deteksi awal masalah dalam pelaksanaan kegiatan program sehingga dapat segera
dilakukan tindakan perbaikan. Evaluasi dilakukan untuk menilai sejauh mana pencapaian
tujuan, indicator, dan target yang telah ditetapkan. Evaluasi dilakukan dalam rentang
waktu lebih lama, biasanya setiap 6 bulan s/d 1 tahun.
Komponen utama untuk melakukan monev untuk adalah : pencatatan pelaporan,
analisis indicator dan hasil dari supervise.
1. Pencatatan dan Pelaporan Program TB
a. Lengkap, tepat waktu dan akurat
b. Data sesuai dengan indicator program
c. Jenis, sifat, format, basis, data yang dapat dengan mudah diintegrasikan dengan
sistem informasi kesehatan yang generic.
Penting !!!
TB adalah penyakit menular yang wajib dilaporkan. Setiap fasilitas
kesehatan yang memberikan pelayanan TB wajib mencatat dan melaporkan
kasus TB yang ditemukan dan atau diobati sesuai dengan format pencatatan
dan pelaporan yang ditentukan.
2. Indicator Program TB
Untuk mempermudah analisis data diperlukan indicator sebagai alat ukur kemajuan
program (marker of progress). Dalam menilai kemajuan atau keberhasilan program
pengendalian TB digunakan beberapa indicator.
Indicator utama program pengendalian TB secaraNasional ada 2, yaitu:
 Angka Notifikasi Kasus TB ( Case Notification Rate= CNR) dan
 Angka keberhasilan pengobatan TB ( Treatment Success Rate + TSR).
1. Formula dan Analisa Indikator
a. Proporsi pasien baru Tb paru Terkonfirmasi Bakteriologis di antara terduga TB
Jumlah pasien baru TB terkonfirmasi bakteriologis yang ditemukan

X 100%

Jumlah seluruh pasien TB paru

b. Proporsi pasien TB paru Terkonfirmasi Bakteriologis diantara semua pasien


Jumlah pasien baru TB terkonfirmasi bakteriologis

X 100%

Jumlah seluruh pasien TB paru


c. Angka penemuan kasus (Case Detection Rate = CDR)
Rumus

Jumlah pasien TB Paru BTA positof yang dilaporkan dalam TB .07

x 100%

Jumlah seluruh pasien TB paru

d. Proporsi pasien TB anak di antara seluruh pasien TB


Adalah prosentase pasien TB anak (0-14) yang diobati diantara seluruh pasien TB yang
diobati.

Jumlah pasien TB anak (0-14 th) yang diobati

x100%

Jumlah seluruh pasien TB yang diobati

e. Proposi pasien TB yang dites HIV


Rumus :

Jumlah pasien TB yang dites HIV (sebelum atau selama


pengobatan TB) dan hasilnya tercatat di kartu pengobatan
pasien
x100%
Jumlah pasien TB ( semua kasus) yang tercatat

f. Proporsi pasien TB yang dites HIV dan hasil tesnya Positif


Adalah persentasi TB yang di tes HIV dengan hasil tes positif. Indicator ini
menggambarkan besarnya permasalahan HIV di antara pasien TB.

Jumlah pasien TB yang terdaftar yang mempunyai hasil tes


HIV positif (sebelum dan selama pengobatan TB)
x100%
Jumlah pasien TB ( semua kasus) yang tercatat