Anda di halaman 1dari 9

1

PENGENDALIAN PENYAKIT DAN PENYEHATAN LINGKUNGAN

Pembangunan di bidang kesehatan diarahkan agar terwujud derajat


kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya sebagai prasyarat agar mereka
dapat hidup lebih produktif dalam kehidupan dan penghidupannya. Dengan
demikian masyarakat dapat memperoleh keadilan, kemandirian guna
mewujudkan hidup sehat, mandiri, dan berkeadilan.
Program Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan bertujuan
meningkatkan kemampuan masyarakat agar terlindungi dari penyakit
menular, penyakit tidak menular, dan faktor risikonya melalui perbaikan
kualitas media lingkungan serta pembudayaan hidup bersih dan sehat.
Pengendalian penyakit menular diarahkan untuk meningkatkan
kemampuan pencegahan, pengendalian, pemberantasan terhadap penyakit
menular langsung, penyakit bersumber binatang, penyakit yang dapat
dicegah dengan imunisasi, melakukan upaya penanggunlangan terhadap
penyakit menular potensial wabah, upaya kekarantinaan kesehatan, serta
melakukan upaya penanggulangan penyakit menular dalam kondisi matra.
Pengendalian penyakit tidak menular diarahkan untuk meningkatkan
kemampuan pencegahan, pengendalian, penanganan faktor risiko terutama
berkenaan dengan gaya hidup seperti pola makan, aktivitas fisik, kebiasaan
merokok, serta kebiasaan berolahraga.
Penyehatan lingkungan merupakan upaya pengendalian risiko penyakit,
baik menular maupun tidak menular melalui peningkatan kemampuan
penyehatan, pengendalian, pengamanan terhadap media lingkungan baik
secara fisik, biologi, kimia, maupun sosial.
Sasaran fungsional program Pengendalian Penyakit dan Penyehatan
Lingkungan (P2PL) diarahkan untuk menurunkan angka kesakitan dan
kematian akibat penyakit dengan strategi reduksi-elimasi-eradikasi.
Sedangkan sasaran operasional dilaksanakan pada wilayah provinsi,
kabupaten/ kota, pintu masuk Negara, baik melalui pelabuhan, Bandar udara,
serta lintas batas darat Negara.
Pokok pokok kegiatan dalam program P2PL meliputi peningkatan kinerja
surveilens ksesehatan, pencegahan penyebaran penyakit, pemberantasan,
pengendalian faktor risiko, melaksanakan komunikasi informasi edukasi (KIE)
penyelenggaraan program P2PL.

LINGKUP KEGIATAN P2PL

1. Surveilens, Imunisasi, Karantina, Kesehatan Matra.


a. Surveilens Respon Kejadian Luar Biasa (KLB);
b. Imunisasi.
c. Karantina Kesehatan Pelabuhan;
d. Kesehatan Matra.

2. Penyakit Menular Langsung.


a. TB.
b. HIV/ AIDS dan Penyakit Menular Seksual.
c. ISPA.
d. Diare, Penyakit Saluran Pencernaan.
e. Kusta dan Frambusia.
2

3. Penyakit Bersumber Binatang


a. Malaria.
b. Arbovirusis (Arthropoda Borne Virusis).
c. Zoonosis (Anthrax, Rabies).
d. Filariasis, Schistosomiasis, Kecacingan.
e. Pengendalian Vektor.

4. Penyakit Tidak Menular


a. Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah.
b. Kanker.
c. Diabetes Melitus dan Penyakit Metabolis.
d. Penyakit Kronis dan Degeneratif Lainnya.
e. Gangguan Akibat Kecelakaan dan Tindak Kekerasan

5. Penyehatan Lingkungan
a. Penyehatan Air dan Sanitasi Dasar;
b. Penyehatan Permukiman dan Tempat-Tempat Umum;
c. Penyehatan Kawasan Sanitasi Darurat;
d. Higiene Sanitasi Pangan;
e. Pengamanan Limbah, Udara, dan Radiasi.

PROGRAM PENGENDALIAN PENYAKIT


1. Pengertian.
2. Penyebab penyakit.
3. Distribusi.
4. Cara Penularan.
5. Masa Inkubasi.
6. Cara Pencegahan
7. Pemberantasan/ Pengendalian.
8. Pengobatan.

PENYEHATAN LINGKUNGAN (PL)

Pembangunan di bidang kesehatan tidak hanya menitikberatkan pada


pendekatan kuratif melainkan juga melalui pendekatan preventif, yaitu
melalui peningkatan kesehatan lingkungan, sehingga secara keseluruhan
dapat meningkatkan angka harapan hidup dari 70,6 tahun pada 2009
menjadi 72,0 tahun pada 2014, mewujudkan pencapaian keseluruhan
sasaran Millenium Development Goals (MDG’s tahun 2015). UHH 2019 ?
Penyehatan Lingkungan bertujuan untuk mewujudkan kuaitas
lingkungan yang sehat, baik fisik, kimia, biologi, di udara, air, tanah,
termasuk lingkungan sosial, maupun lingkungan tidak sehat yang disebabkan
oleh perubahan iklim global.
Untuk mewujudkan hal tersebut, Penyehatan Lingkungan memiliki 5
(lima) kegiatan Popkok, yaitu Penyehatan Air Minum dan Sanitasi Dasar;
Penyehatan Permukiman dan Tempat-Tempat Umum (TTU); Penyehatan
Kawasan Sanitasi Darurat; Pengamanan Limbah, Udara, Radiasi; dan Higiene
Sanitasi Pangan (Profil P2PL 2015; 195).
3

1. Penyehatan Air Minum dan Sanitasi Dasar


Untuk mengatasi masalah sanitasikecukupan kebutuhan air minum,
Direktorat Penyehatan Lingkungan khususnya Subdit Penyehatan Air dan
Sanitasi Dasar melakukan berbagai kegiatan Pengawasan Kualitas Air
Minum dan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM), dengan 3 (tiga)
komponen strategi, yaitu: 1) Peningkatan Lingkungan yang kondusif
dengan cara meningkatkan kapasitas pemerintah dalam pengembangan
kebijakan implementasi; 2) Peningkatan kebutuhan masyarakat
terhadapperilaku hygiene fasilitas sanitasi; 3) Peningkatan penyediaan
Sarana Sanitasi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Hal tersebut tertuang dalam indikator yang menjadi target
pelaksanaan kegiatan.
Subdit PASD yang meliputi persentase penduduk yang memiliki akses
terhadap air minum berkualitas, persentase air minum yang memenuhi
syarat, persentase penduduk yang menggunakan jamban sehat, jumlah
desa yang melaksanakan STBM.

a. Akses terhadap air minum berkualitas

Akses air minum yang berkualitas adalah akses air minum yang
terlindung yang meliputi air ledeng (kran), kran umum, hidran umum,
terminal air, penampungan air hjan (PAH), atau mata air, sumur
terlindung, sumur bor atau sumur pompa, yang jaraknya minimal 10 m
dari pembuangan kotoran, penampungan limbah dan pembuangan
sampah, tidak termasuk air kemasan, air dari penjual keliling, air yang
dijual melalui tanki, air sumur dan mata air tidak terlindung.
Target penduduk yang memiliki akses terhadap air minum berkualitas
tahun 2014 sebesar 67% sedangkan realisasnya 67,73% (melampaui
target) di Provinsi Gorontalo 55% (lihat profil P2PL Hal 196)
Daerah-daerah yang masih memiliki realisasi yang rendah,
disebabkan oleh kurangnya sarana-prasarana pengolahan air limbah
domestik (limbah rumah tangga), masih banyak praktek BAB’s, serta
rendahnya budaya PHBS.

Upaya yang Dilakukan

Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan persentase penduduk


yang memiliki akses terhadap air minum berkualitas secara nasional
adalah:
1) Pengalokasian APBN dalam bentuk kegiatan Penyediaan Air Minum
dan Sanitasi Total Berbasis Mayarakat (PAM-STBM) yang
diharapkandapat meningkatkan akses penduduk terhadap sumber
air dan sanitasi yang layak di 102 Kabupaten pada 28 provinsi
melalui mekanisme Tugas Pembantuan dengan komponrn kegiatan
Pembangunan Saran Air Minum melalui kegiatan tentang Air
Minum.
2) Penguatan Kemitraan Pemerintah – Swasta (KPS), yakni
melibatkan LSM Lokal/ NAsional/Internasional, CSR (Corporate
Social Responsibility), donor agency internasional, seperti World
Bank, ADB, yang diimplemetasikan melalui kegiatan Penyediaan Air
4

Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS), ICWRMIP,


serta kegiatan lain yang berorientasi pada pembinaan, penyediaan
sarana air minum dan sanitasi dasar yang layak serta
terbangunnya perilaku hidup bersih dan sehat bagi masyarakat
dengan menggunakan pendekatan STBM.

Masalah yang Dihadapi


1) Ada kecenderungan meningkatnya penggunaan air kemasan isi
ulang sebagai sumber air minum, sementara air kemasan isi ulang
tidak termasuk dalam sebagai sumber air minum yang layak. Hal
ini terjadi karena pendataan yang dilakukan saat ini hanya
memotret akses terhadap sumber air yang digunakan untuk
minum belum diperhitungkan kondisi rumah tangga yang memiliki
lebih dari satu sumber air yang layak untuk diminum.
2) Penyediaan infrastruktur air minum yang ada belum dapat
mengimbangi laju pertumbuhan penduduk.
3) Belum dialokasikan anggaran daerah untuk perbaikan sarana air
minum yang dipakai di masyarakat, termasuk sumber air minum
bukan jaringan perpipaan (BJP) yang tidak terlindungi.

Pemecahan Masalah
1) Melakukan pemetaan lokasi desa-desa yang sudah mendapat
program penyediaan air minum dan sanitasi untuk efisiensi-
efektifitas kebutuhan anggaran pembangunan infrastruktur air
minum dan sanitasi.
2) Percepatan pembangunan sector air minum dan sanitasi dengan
melakukan sosialisasi dan advokasi secara terintegrasi antar linyas
kementerian kepada pemerintah daerah dalam rangka
institusionalisasi program.
3) Melakukan penguatan jejaring air minum dan sanitasi di tingkat
Pusat-Daerah, dalam rangka mendukung percepatan intervensi
pembangunan baik melalui lintas program/ lintas sector swasta
seperti: LSM, Donor, CSR dengan pendekatan kemitraan
Pemerintah dan Swasta.

b. Akses terhadap Jamban Sehat


Fasilitas sanitasi yang layak (Jamban Sehat) adalah fasilitas
snaitasi yang memenuhi syarat kesehatan antara lain dilengkapi
dengan leher angsa, tanki septic (septic tank)/ Sistem Pengolahan Air
Limbah (SPAL) yang digunakan sendiri atau bersama.
Target tahun 2014 sebesar 75% sedangkan realisasi 60,91%
(tidak tercapai) karena masih maraknya perilaku BABS. Proses
perubahan perilaku tidak dapat dilakukan secara instan, cenderung
membutuhkan waktu yang relative lama, kecukupan pendampingan
petugas kepada masyarakat untuk menerapkan perilaku yang lebih
sehat dalam kehidupan sehari-hari secara berkesinambungan.
Gorontalo 53% yang menggunakan jamban keluarga sehat. Lihat hal
200 profil P2PL.
5

c. Air Minum Yang Memenuhi Syarat


Kualitas air minum adalah kualitas air minum yang memenuhi
syarat secara fisik/kimia/mikrobiologi sesuai dengan Peraturan Menteri
Kesehatan Nomor: 492/ MENKES/PER/IV/2010, Sedangkan
Pengawasan Kualitas Air Minum diatur oleh Peraturan Menteri
Kesehatan namor: 736/MENKES/PER/VI/2010, tentang Tata Laksana
Pengawasan Kualitas Air Minum, bahwa Pengawasan Internal
dilakukan oleh Penyelenggara Air Minum komersial, Pengawasan
Eksternal oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota.
Target tahun 2014 sebesar 100%, realisasi 77%, Tidak tercapai
karena keterbatasan kapasitas SDM, sarana prasarana serta peranan
pemerintah daerah untuk melakukan pengawasan kualitas air minum.
Gorontalo 73% Hal 205 profil.

d. Jumlah desa yang melaksanakan STBM.


Desa yang melaksanakan STBM adalah desa/ kelurahan yang
sudah melakukan pemicuan minimal 1 (satu) dusun, mempunyai tim
kerja masyarakat/ natural leader, telah mempunyai rencana tindak
lanjut untuk menuju Sanitasi Total.
Target tahun 2014 sebanyak 20.000 kelurahan, realisasi 20.497
kelurahan, melampaui target nasional. Hal 208 profil.

Upaya Pemecahan Masalah

1) Proyek Integrated Citarum Water Resources Management


Investment Program (ICWRMIP) Sub Komponen 2.3.

ICWRMIP.SC.2.3 merupakan salah satu program aksi nyata


pemerintah pusat, pemda, dan masyarakat dengan dukungan
pendanaan dari ADB Loan 2501-INO, untuk meningkatkan
penyediaan air bersih, sanitasi, meningkatkan derajat kesehatn
masyarakat dalam menurunkan angka penyakit yang ditularkan
melaluui air dan lingkungan. (Pelaksanaan; 3 Juni 2009 sd. 30 Juni
2014).
Program ini sangat membantu dalam upaya meningkatkan
derajat kesehatan, dimana melalui kegiatan promosi/ penyuluhan
kesehatan serta pemberdayaan masyarakat, terjadi perubahan
sikap/ perilaku masyarakat untuk hidup bersih dan sehat melalui
penyediaan sarana air bersih, sanitasi pengelolaan sampah telah
meningkatkan akses penyediaan air, sanitasi, daur ulang sampah,
yang pada akhirnya secara berkelanjutan akan menurunkan faktor
risiko terjadinya penyebaran penyakit dan meningkatkan kesehatan
masyarakat. Dilaksanakan di Kota Bekasi, Kab, Bekasi, Kab
Karawang, dan Kab Bandung.

2) PAMSIMAS

Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyara-


kat (Pamsimas) merupakan salah satu program pemerintah yang
dirancang dalam rangka menciptakan masyarakat hidup sehat
6

melalui layanan penyediaan air minum dan sanitasi berbasis


masyarakat, yaitu menempatkan masyarkat berperan sebagai
pelaku utama penentu dalam tahap persiapan, perencanaan,
pelaksanaan sampai operasional dan pemeliharaan.
Proses tersebut mengajak masyarakat untuk menemukan
berbagai permasalahan terkait dengan air minum dan sanitasi,
kemudian dibimbing untuk melakukan berbagai
langkahpencegahannya termasuk menyiapkan sarana yang
dibutuhkan seperti sarana air minum dan sanitasi serta
membangun kesadaran kapasitas masyarakat untuk hidup bersih
dan sehat, sehingga pada gilirannya akan meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat terutama menurunkan angka penyakit diare
dan penyakit lainya yang dapat ditularkan melalui air dan
lingkungan. Oleh sebab itu, program PAMSIMAS mencakup
pemberdayaan masyarakat dan pengembangan kelembagaan local;
peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat; penyediaan air
minum dan sanitasi umum; pengembangan kapasitas pelaku
PAMSIMAS melalui pelatihan dan bimbingan teknis.
Di sisi lain program Pamsimas memiliki keunikantersendiri
dalam pendekatannya, dimana di tingkat nasional menganut
pendekatan berbasis tugas pkok dan fungsi, sehingga program ini
dikelola oleh lintas kementerian yaitu Bappenas, Kemendagri,
Kemenkes, dan Kementerian PU. Masing-masing memiliki indicator
kinerja utama (IKU) yang harus dicapai. Kemenkes mempunyai 4
(empat) IKU, yang harus dicapai sampai dengan akhir tahun 2016,
yaitu:

a) Masyarakat dengan Status sosial ekonomi yang dapat


mengakses layanan sanitasi yang layak bertambahnya
4.000.000 jiwa.
Pamsimas I tahun 2008-2013 indikator yang dicapai 5.608.417
jiwa sedangkan pada tahun 2014 indikator yang sudah dicapai
1.426.904 jiwa dari target 4.000.000 tahun 2016.

b) Dusun Stop BABs (Open Defecation Free/ ODF)

Target 50% Stop BABs, sampai akhir tahun 2014 baru


mencapai 1,54% sehingga akumulasi tahun 2008-2014
mencapai 44,54%. Hal ini membuktikan bahwa mendorong
perubahan perilaku tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat,
perlu kesabaran, perhatian dalam waktu cukup lama. Target
2014-2019 sebesar 50% sudah termasuk target yang sangat
tinggi.
Banten 12,29%, Gorontalo 27,29 dan Maluku 84,15%.

c) Perilaku Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS)

Target 60%, telah dicapai 62% kumulatif tahun 2008-2014.


Banten 88,8%, Gorontalo 34,1% dan Sulawesi Barat 3,5%.
7

d) Sekolah yang memiliki fasilitas Sanitasi layak menerapkan


PHBS.

Target 95%, telah dicapai 70% kumulatif tahun 2008-2014.


Jawa Barat 77,2%, Gorontalo 71,6%, Sulawesi Selatan 71,2%
dan Papua Barat 22,8%.

e) Pelaksanaan Pemicuan Desa Tahun 2014

Pemicuan Desa Pamsimas II Kesehatan mulai dilaksanakan


tahun 2014 dengan target 1.458 Desa (SK Men PU No.
79/KPTS/DC/2013) mengundurkan diri 3 desa sehingga target
menjadi 1.455 Desa, dengan realisasi pemicuan 98%; capaian
Stop BABs (SBS) 103 desa. Gorontalo 28 Desa (100%).

2. Higiene Sanitasi Pangan


Pelaksanaan kegiatan hygiene sanitasi pangan merupakan slah satu
aspek dalam menjaga keamanan pangan yang harus dilaksanakansecara
terstruktus, terukur dengan kegiatan sasaran dan ukuran kinerja yang
jelas, salah satunya dengan mewujudkan Tempat Pengolahan Makanan
(TPM) atau Tempat Pengolahan Pangan (TPP) yang memenuhi syarat
kesehatan.
TPM adalah usaha pengelolaan makanan yang meliputi jasa boga atau
catering, rumah makan dan restoran, depot air minum, kantin, makanan
jajanan.
Target tahun 2014 sebesar 75%, rata nasional 75,21, Gorontalo 75%,
Sultra 56% dan Maluku 94%.

3. Penyehatan Permukiman dan Tempat-Tempat Umum (TTU)

a. Persentase rumah yang memenuhi syarat kesehatan.

Rumah tidak sekedar sebagai tempat untuk melepas lelah,


beristirahat, namun di dalamnya mempunyai arti yang penting sebagai
tempat untuk membangun kehidupan keluarga sehat dan sejahtera.
Rumah yang sehat layak huni tidak harus berwujud rumah mewah dan
besar, namun rumah yang sederhana dapat juga menjadi rumah yang
sehat dan layak dihuni apabila kondisi fisik, kimia, biologi di dalam
rumah memenuhi syarat kesehatan dan memungkinkan penghuni atau
masyarakat yang tinggal di dalamnya merasa aman, nyaman, bersih
dan sehat.
Untuk menciptakan rumah sehat, maka diperlukan beberapa
aspek antara lain akses air minum, jamban keluarga sehat, lantai,
pencahayaan, dan ventilasi. Pengendalian factor risiko yang
mempengaruhi kesehatan penghuni rumah dampak kualitas
lingkungan perumahan tempat tinggal yang tidak sehat telah diatur
dalam KepmenkesRI. No. 829/Menkes/SK/VII/1999, tentang
Persyaratan Kesehatan Perumahan dan dampak risiko penyakit
salauran pernafasan di dalam ruangan rumah ditetapkan dalam
8

Permekes Nomor: 1077/MENKES/PER/2012, tentang Pedoman


Penyehatan Udara dalam Ruang rumah.

Target tahun 2014 sebesar 77% dan realisasi 61,81%, karena


daya penurunan kemampuan daerah untuk operasional dalam
menyelenggarakan perwujudan pengawasan rumah sehat. Realisasi
akses air bersih dan sanitasi dasar (akses jamban keluarga)
merupakan criteria minimal dari persyaratan rumah sehat. Gorontalo
60%, Papua 0%, dan Bali 88%.

Landasan Hukum Program Penyehatan Permukiman:


1) UU RI No. 1 tahun 2011, ttg Perumahan dan Permukiman.
2) UU RI No 36 Tahun 2009, ttg Kesehatan pasal 163.
3) PP Nomor: 66 Tahun …, ttg Kesehatan Lingkungan.
4) Permekes RI No: 1007/MENKES/PER/V/2011, TTG Penyehatan
Udara dalam Ruang Rumah.
5) Kepmenkes RI No. 829/MENKES/SK/VII/1999, ttg Persyaratan Kes.
Perumahan.
6) Keputusan Direktur Jenderal P2PL Kemenkes No:
HK.03.05/D/I.4/2875/2007, ttg Petunjuk Pelaksanaan Pemantauan
Kualitas Udara Indoor Perumahan di Pedesaan.

b. Persentase Tempat-Tempat Umum (TTU) yang Memenuhi Syarat


Kesehatan.

TTU adalah tempat atau sarana umum yang digunakan untuk kegiatan
masyarakat dan diselenggarakan oleh pemerintah/ swasta atau
perorangan, antara lain Sekolah, fasilitas pelayanan kesehatan (RS/
Puskesmas), Hotel, Pasar, tempat rekreasi. TTUY dinyatakan sehat
apabila memenuhi syarata fisiologis, psikologis dapat mencegah
penyakit antar pengguna, penghuni, masyarakat sekitarnya serta
memenuhi persyaratan dalampencegahan terjadinya masalah
kesehatan.
Target tahun 2014 sebesar 78%, rata-rata nasional 68,24%, Gorontalo
83%, NTT dan Papua 0% dan tertinggi Sulteng 89%.

c. Adaptasi Kesehatan Akibat Perubahan Iklim

Perubahan iklim merupakan kenyataan yang tidak dapat dihindari


termasuk di Indonesia. Selama abad ke-20 suhu rata-rata global
meningkat sebesar 0,74oC, kondisi ini lebih dirsakan di daerah daratan
daripada di lautan, Ancaman bahaya perubahan iklim di Indonesia
dapat mempengaruhi kesehatan, baik secara langsung maupun tidak
langsung yang menyebabkan berbagai penyakit, dampak psikologis,
pengungsian, bahkan kematian (mortality). Bahaya perubahan iklim
terkait kesehatan diantaranya temperature dan curah hujan yang
ekstrim, peningkatan banjir, dan kekeringan, perubahan distribusi
vector penyakit (Vector Borne Diseases), peningkatan malnutrisi, dan
peningkatan bencana terkait iklim.
9

Pengaruh terhadap kesehatan secara langsung berupa pajanan


langsung dari perubahan pola cuaca (temperature, curah hujan,
kenaikan muka air laut, peningkatan frekuensi cuaca ekstrim).
Kejadian cuaca ekstrim dapat mengancam kesehatan manusia bahkan
kematian. Contoh penyakit terkait panas ekstrim ( heat related illness)
seperti heat stroke, heat exhaustion dan terkait kondisi lain pada
sirkulasi, pernafasan, system persyarafan, sedangkan pengaruh
terhadapkesehatan manusia secara tidak langsung mekanisme yang
terjadi adalah perubahan iklim mempengaruhi faktor lingkungan
seperti perubahan kualitas lingkungan) kualitas air, udara, makanan),
peniposan lapisan Ozon (O3), penurunan sumber daya air, kehilangan
fungsi ekosistem, degradasi lahan yang pada akhirnya factor-faktor
tersebut akan mempengaruhi kesehatan manusia dan dampaknya
berupa kesakitan dan kematian. OLehnya dibuat Perpres No. 46 tahun
2009, ttg Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI), Kemenkes sebagai
anggotanya.

4. Penyehatan Kawasan Sanitasi Darurat (PKSD);


PKSD dilaksanakan melalui program Penyelenggaraan
Kabupaten/Kota sehar, Pasar Sehat, Pelabuhan Sehat, Fasilitas
pemberdayaan masyarakat di daerah terpencil perbatasan dan kepulauan
(DPTK), Kesiapsiagaan Penanggulangan Bencana, serta kegiatan even-
even khusus yang sebagian besar dari keseluruhankegiatan tersebut
berorientasi pada pemberdayaan masyarakat. Penyelenggaraan
Kabupaten/ Kota sehat sendiri merupakan kegiatan pemerintah daerah
yang ditujukan untuk meningkatkan kondisi lingkungan di wilayahnya kea
rah yang lebih baik, sehingga masyarakatnya dapat hidup dengan aman,
nyaman, bersih dan sehat.
Penyelenggaraan Kab/ Kota sehat juga merupakan pelaksanaan
berbagai kegiatan dalam mewujudkan kab/kota sehat berbasis
masyarakat yang berkesinambungan, melalui forum yang difasilitasi oleh
pemrinta kab/kota.
Target tahun 2014 sebesar 75% sedangkan realisasinya 66,07%.
Gorontalo tertinggi 100%, Papua Barat dan Maluku 0%.

5. Pengamanan Limbah, Udara, Radiasi (PLUR)

Perkembangan teknologi dan pembangunan yang pesat di berbagai


sector seperti perindustrian, pertanian, transportasi, pertambangan dsb
memberikan manfaat untuk kesejahteraan masyarakat, peningkatan
devisa, membuka peluang kerja, tetap juga memberikan dampak
negative terhadap lingkungan, yaitu terjadinya pencemaran air, tanah,
dan udara, sehingga berdampak terhadap kesehatan masyarakat.
Pencemaran lingkungan juga dapat diakibatkan oleh manusia secara
langsung mapun tidak langsung karana limbah Domestik yang tidak
dikelola, menjadi sumber penyakit, dapat menimbulkan permasalahan
tersendiri bagi masyarakat.
Penyelenggaraan kegiatan pengamanan limbah, udara, dan radiasi
bertujuan untuk mengendalikan risiko terjadinya pencemaran dan
dampaknya terhadap kesehatan lingkungan terutama limbah fasyankes.