Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Terapi komplementer adalah terapi yang menjadi pendamping dari terapi utama,

dan digunakan sebagai tambahan yang direkomendasikan oleh penyelenggara pelayanan

kesehatan. Bisa dibilang bahwa terapi komplementer merupakan katalisator dalam proses

penyembuhan pasien. Pengobatan komplementer adalah pengobatan non-konvensional

yang bukan berasal dari negara yang bersangkutan.

Alasan yang paling umum orang menggunakan terapi komplementer adalah untuk

meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan atau wellness. Wellness mencakup kesehatan

optimum seseorang, baik secara fisik, emosional, mental, dan spiritual. Tujuan terapi

komplementer adalah untuk mengurangi stres, meningkatkan kesehatan, mencegah

penyakit, menghindari atau meminimalkan efek samping, dan gejala-gejala.

1.2 RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah makalah ini adalah

sebagai berikut :

1. Apa itu terapi komplementer ?

2. Apa itu trend dan isu keperawatan komplementer ?

1.3 TUJUAN PENULISAN


Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah di atas, maka tujuan
penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
BAB II
PEMBAHASAN
Dasar dari kebijakan ini adalah penghargaan terhadap nilai-nilai budaya, adat,keyakinan dan
sumber daya yang berkembang di seluruh wilayah dunia yang telah menjadi pedoman turun
temurun dalam memberikan pelayanan kesehatan, sehingga untuk Indonesia jamu misalnya,
bukan termasuk pengobatan komplementer tetapi merupakan pengobatantradisional.
Pengobatan tradisional yang dimaksud adalah pengobatan yang sudah dari zamandahulu
digunakan dan diturunkan secara turun

temurun pada suatu negara. Tetapi di Philipinamisalnya, jamu Indonesia bisa dikategorikan
sebagai pengobatan komplementer.Dalam Peraturan Menteri Kesehatan yang tertuang dalam
keputusan menteri kesehatan No. 1076/Menkes/SK/2003 tentang pengobatan tradisional,
definisi pengobatan komplemneter tradisional alternative adalah pengobatan non
konvensional yang di tunjukan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, meliputi
upaya promotiv,preventive,kuratif, danrehabilitatif yang diperoleh melalui pendidikan
terstruktur dengan kualitas, keamanan, danevektivitas yang tinggi berandaskan ilmu
pengetahuan biomedik.Jadi pada hakikatnya pengobatan komplementer merupakan suatu
pengobatan sebagai pendamping bagi pengobatan primer yang bertujuan untuk mempercepat
proses penyembuhan pasien dan sudah mendapatkan pengakuan serta legalitas yang jelas.
Oleh karena itu aturantentang pengobatan komplementer, seperti yang terangkum dalam
peraturan Menteri No.1109/Menkes/PER/X/2009 tentang penyelenggaraan pengobatan
komplementer alternativedifasilitas kesehatan pelayanan kesehatan, jenis pengobatan tenaga
pelaksana termasuk tenagaasing yang menjadi inspirasi untuk perumusan RUU keperawatan

Trend Penggunaan Pengobatan Tradisional di Indonesia

DEWASA INI, MASYARAKAT KEMBALI TERTARIK MEMANFAATKAN

PEGOBATAN HERBAL YANG BAHANNYA 100% BERASAL DARI ALAM.

BAAHKAN, SAAT INI OBAT HERBAL SERING DIGUNAKAN SEBAGAI OBAT

PENDAMPING ATAU OBAT KOMPLEMENTER.


Salah satu bentuk tata cara penggunaan pengobatan tradisional adalah bahwa obat tradisional

sering dipilih oleh pasien pada saat awal mengeluh sakit, baik dengan menggunakan obat

tradsional maupun dengan menggunakan cara-cara pengobatan tradisional (Supardi,2001).

Persentase terbesar penduduk Indonesia yang melakukan pengobatan tradisional (57,7%)

cenderung menurun dibandingkan dengan hasil Susenas tahun-tahun sebelumnya . Hal ini

mungkin berhubungan dengan adanya krisis ekonomi yang dimulai tahun 1997, kemudian

pemerintah melakukan intervensi melalui program JPS-BK (Jaring Pengaman Sosial Bidang

Kesehatan) antara lain pemberian kartu sehat kepada kelompok miskin sehingga terjadi

peningkatan pengobatan medis melalui Puskesmas dan rumah sakit.

Terapi komplementer akhir-akhir ini menjadi isu di banyak negara. Masyarakat

menggunakan terapi ini dengan alasan keyakinan, keuangan, reaksi obat kimia dan tingkat

kesembuhan. Perawat mempunyai peluang terlibat dalam terapi ini, tetapi memerlukan

dukungan hasil-hasil penelitian (evidence-based practice).

Pada dasarnya terapi komplementer telah didukung berbagai teori, seperti teori Nightingale,

Roger, Leininger, dan teori lainnya. Terapi komplementer dapat digunakan di berbagai level

pencegahan. Perawat dapat berperan sesuai kebutuhan klien.

Kata kunci:

keperawatan, terapi alternatif, terapi komplementer.

Penduduk Indonesia yang menggunakan obat (82,7%) cenderung menurun, tetapi

penggunaan obat tradisional (31,7%) dan cara tradisional (9,8%) cenderung meningkat

dibandingkan dengan hasil Susenas tahun-tahun sebelumnya. Penggunaan obat menurun

mungkin berkaitan dengan peningkatan kesadaran masyarakat untuk menggunakan

pengobatan alternatif, seperti obat tradisional dan cara tradisional. Peningkatan penggunaan
cara tradisional, seperti pijat, kerokan, akupresur, dan senam olah pernapasan mungkin

disebabkan meningkatnya pelatihan ketrampilan teknik pengobatan tersebut sebagai

pengobatan alternatif untuk kemandirian hidup sehat .

Persentase terbesar (51%) penduduk Indonesia yang menggunakan obat dalam pengobatan

sendiri adalah kelompok usia sekolah dan usia kerja 15-55 tahun . Hal ini mungkin

menunjukkan bahwa penduduk pada kelompok usia sekolah dan usia kerja lebih menyukai

pengobatan sendiri untuk menanggulangi keluhan sakit karena dapat menghemat waktu dan

biaya

ISU TERAPI KOMPLEMENTER DALAM KEPERAWATAN DAN

SOLUSINYAPemerintah telah menerbitkan PeraturanMenteri Kesehatan RI Nomor

1109 Tahun2007 tentang penyelenggaraan pengobatankomplementer sebagai alternatif di

fasilitaspelayanan kesehatan. Menurut aturan itu,pelayanan komplementer-alternatif

dapatdilaksanakan secara sinergi, terintegrasi, danmandiri di fasilitas pelayanan

kesehatan.Pengobatan itu harus aman, bermanfaat,bermutu, dan dikaji institusi

berwenangsesuai dengan ketentuan berlaku. Di dalam salah satu pasal dari

Permenkestersebut menyebutkan bahwa pengobatantradisional dapat dilaksanakan dan

diterapkanpada sarana pelayanan kesehatan sebagaipengobatan alternatif di samping

pelayanankesehatan pada umumnya. Di dalam pasal

lain disebutkan bahwa pengobatan tradisionalkomplementer dapat dilakukan oleh

tenagakesehatan yang memilikikeahlian/keterampilan di bidang terapiradisional atau

oleh tenaga lain yang telahmemperoleh pendidikan dan pelatihan.Sementara pendidikan


dan pelatihandilakukan sesuai dengan ketentuanperundangan yang berlaku. Penggunaan

obattradisional (herbal) merupakan bagian daripengelolaan pelayanan

keperawatankomunitas dalam rangka meningkatkankesehatan individu, kelompok dan

komunitas(Stoner, 1982 dalam Mulyadi, 2005;Stanhope & Lancaster, 1996).

Termasukdidalamnya pelayanan keperawatan dikomunitas yang membutuhkan

peningkatankesehatan dengan menggunakan obat-obatandari tanaman disekitarnya, yang

teentunyaharga murah, mudah dan lebih terjangkauoleh lapisan masyarakat. Atau

kebutuhan

medicine and three modalities commonlyencountered and occasionally practiced

bynurses and other licensed health careprofessionals: acupuncture, Reiki,

andbotanical healing. (Cushman,Hoffman, 2001)Pelayanan keperawatan yang

profesionalharus dapat dibuktikan dan disarakan dampakpositifnya oleh klien. Dampak dari

pelayanankeperawatan tervalidasi dengan indikatoryang jelas dan terukur. Indikator

dalammemberikan pelayanan keperawatan yangberkwalitas adalah sebagai berikut:

1)Jaminan keamanan dan perlindungan kliendari tindakan perawat (Patient safety),

2)Kenyamanan, 3) Penambahan Pengetahuan,4) Kepuasan akan pelayanan keperawatan,

5)memberdayakan klien sesuai potensi yangdimiliki (Self care), 5) Jaminan

terhadapintervensi keperawatan yang diberikansehingga mengurangi kecemasan.

Diperlukantenaga keperawatan kompeten yang di tandai

dengan bukti lisensi (sertifikat kompetensi)dalam mengimplementasikan herbal dalam

praktik keperawatan