Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

PERBANDINGAN DAN ALRAN DALAM PENDIDIKAN


MULTIKULTURAL
Dosen Pengampu:

NURJANNAH . M.Ag

Disusun Oleh:

SUPRIYANTI LESTARI 17531153

FAKULTAS TARBIYAH

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI

IAIN CURUP

2018
KATA PENGANTAR

Puja dan puji syukur kami panjatkan kehadirat ALLAH SWT yang telah memberikan Rahmat
dan Hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini, yang berjudul
“Perbandingan Dan Aliran Dalam Pendidikan MultiKultural“. Meskipun masih banyak terdapat
kekurangan dari makalah ini. Maka dari itu kami mengharapkan Kritik dan saran para pembaca untuk
kesempurnaan makalah ini.

Shalawat beserta salam semoga terus mengalir keharibaan nabi Muhammad selaku orang
yang telah memberi petunjuk kepada kita semua melalui mukjizat yang telah diturunkan kepadanya
yakni Al-Quran.

Makalah ini kami buat untuk memenuhi tugas. Disamping itu juga sebagai media
pembelajaran bagi kami dalam hal tulis menulis. Untuk itu dari kami berharap semoga makalah ini
bisa bermanfaat bagi pembaca dan penulis.

Curup, November 2018

Penyusun

2
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ............................................................................................. i


Daftar Isi ..................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH ....................................................................... 1
B. RUMUSAN MASALAH ....................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN
A. landasan ideologi pendidikan multicultural………………………..4

B. pendekatan pendidikan multicultural……………………………….6

C. memahami prinsip-prinsip mengajar………………………………..9

BAB III PENUTUP


A. KESIMULAN ........................................................................................................ 13
Daftar Pustaka ................................................................................................14

3
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Allah berfirman: “Hai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang

laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar

kamu saling kenal-mengenal” (QS al-Hujurat: 13). Ayat ini memberikan pemahaman kepada

kita bahwa Allah menciptakan manusia dari dua hal yang berbeda, yaitu laki-laki dan

perempuan. Kemudian melahirkan keturunan yang berbeda-beda pula. Keberbedaan

menjadikan manusia mampu membentuk suku-suku menjadi bangsa yang berbeda-beda.

Keragaman etnis dan ras merupakan suatu karunia dari Sang Pencipta agar kita

senantiasa selalu bersyukur kepada-Nya. Walaupun berbeda, manusia tetap sama ingin hidup

dengan segala kebutuhan. Oleh karena itu, manusia saling membutuhkan satu sama lain agar

tercapai apa yang mereka inginkan. Dengan demikian, kelemahan dan kekurangan akan

ditukar dengan kekuatan dan keunggulan.

Sebagaimana negara Indonesia yang terkenal dengan berbagai macam budaya, ras,

dan etnis. Hal ini dapat mempengaruhi sistem pendidikan yang berlaku di Indonesia agar

tercipta dan tercapainya integrasi bangsa dalam kehidupan sosial, budaya, ekonomi, dan

politik.

B. RUMUSAN MASALAH

1. Pengertian pendidikan multikultural

2. Landasan ideologi pendidikan multikultural

4
3. Pendekatan pendidikan multikultural

4. Prinsip pengajaran dalam proses pendidikan

5
BAB II

PEMBAHASAN

Ainul Yaqin memaparkan istilah multikultural berasal dari kata kultur, yaitu budaya

dan kebiasaan sekelompok orang pada daerah tertentu. Dimana multi memiliki arti banyak

ragam, dan aneka. Sedangkan kata dasar kultur memiliki arti kebudayaan, kesopanan, atau

pemeliharaan. Dengan demikian, multikultur berarti keragaman budaya, aneka kesopanan,

atau banyak pemeliharaan.1

Namun dalam pendidikan multikultur selalu muncul kata kunci kultural, pluralitas,

dan pendidikan. Pemahaman terhadap pluralitas mencakup segala perbedaan dan keragaman,

sedangkan kultur itu sendiri tidak lepas dari empat tema penting yaitu aliran (agama), ras

(etnis), suku, dan budaya. Inilah yang menjadi ciri khas pendidikan multikultur.

Istilah pendidikan multikultural secara etimologis terdiri atas pendidikan dan

multikultural. Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasan

belajar agar peserta belajar secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki

kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta

keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara (Anonimius, 2003: 5).

Untuk dapat memahami arti kultur dalam pendidikan multikultural yaitu dengan cara

membangun pemahaman tentang karakteristik kultur dan wilayah kultur. Karakteristik kultur

antara lain kultur sebagai sesuatu yang general sekaligus spesifik, kultur sebagai sesuatu yang

dipelajari, kultur sebagai simbol, kultur sebagai pembentuk dan pelengkap sesuatu yang

1
Choirul,Mahfud,2011.Pendidikan Multikultural,Bandung: penerbit pustaka pelajar.Hal. 67

6
alami, kultur sebagai sesuatu yang dilakukan bersama-sama sebagai atribut bagi individu dari

kelompok lain, kultur sebagia suatu model, dan kultur sebagai sesuatu yang bersifat adaptif.

Adapun penjelasan wilayah kultur menurut Ainul Yaqin bahwa wilayah kultur terbagi

menjadi tiga bagian, yaitu kultur nasional, internasional, dan sub-kultur.

Pertama, kultur nasional berbentuk aneka macam pengalaman, sifat, dan nilai-nilai

yang dipakai oleh semua warga negara yang berada dalam suatu negara.

Kedua, kultur internasional berbentuk dari tradisi kultur yang meluas melampaui

batas-batas wilayah nasional sebuah negara melalui proses penyebaran, yaitu sebuah proses

penggabungan antar dua kultur atau lebih melalui beberapa cara seperti perkawinan, migrasi,

media massa atau bahkan melalui film.

Ketiga, sub-kultural sebagai sebuah perbedaan karakterisik kultur dalam suatu

kelompok masyarakat.

Karakteristik pendidikan multikultural merupakan proses pengembangan seluruh

potensi manusia yang menghargai pluralitas dan heterogenitas sebagai konsekuensi

keragaman budaya, etnis, suku, dan agama.2

A. LANDASAN IDEOLOGI PENDIDIKAN MULTIKULTURAL

Ideologi pendidikan merupakan sebuah nilai landasan ideal yang harus

diimplemetasikan di seluruh aktivitas pendidikan. Landasan ideal yang dimaksudkan adalah

landasan yang masih bersifat abstrak yang mendasari seluruh gerak langkah pendidikan.

Landasan ini pula menjadi tolak ukur serta standar nilai yang harus diperhatikan dan

dilaksanakan untuk memenuhi tuntutan landasan ideal yang diyakini sebagai kebenaran.

2
Mashadi ,Imron, 2009. Pendidikan Agama Islam Dalam Persepektif Multikulturalisme. Jakarta :Balai Litbang
Agama. HAL.98

7
Menurut Ainurrofiq Dawam ideologi pendidikan multikultur antara lain yaitu ideologi

theisme, humanisme, sosialisme, dan kapitalisme.

1. Ideologi Theisme

Ideologi ini merupakan ideologi pendidikan yang mendasarkan diri pada nilai-nilai

yang ditentukan oleh Tuhan, yang mencakup nilai yang memuat tentang larangan,

kebolehan dalam seluruh aspek kehidupan manusia. Selain itu, nilai-nilai tersebut

menyangkut masalah keyakinan, kepercayaan, keimanan, dan aspek pemikiran,

perkataan, ketundukan, penyerahan diri, dan harapan. Nilai-nilai dasar ideologi ini

mewajibkan kepada pemeluknya untuk menumbuhkan kesadaran yang medalam

terhadap seluruh aspek nilai tersebut ke dalam segmentasi kehidupan sehari-hari.

2. Ideologi Humanisme

Ideologi ini merupakan ideologi pendidikan yang mendasarkan diri pada nilai-nilai

kemanusiaan, yang berasal dari hati nurani manusia ketika berinteraksi dengan

dirinya, orang lain, alam semesta, dan kepada Tuhannya. Nilai-nilai ini

kemunculannya didasarkan pada berbagai interaksi personal, psikologikal, sosial, dan

interaksi komunal yang dimulai dari tingkatan lokal, regional, sampai internasional.

Kemudian nilai-nilai ini akan memacarkan hubungan harmonis kepada Tuhan,

perlakuan diri, membangun hubungan dengan sesama secara bijak, dan menempatkan

alam sebagai bagian dirinya.

3. Ideologi Sosialisme

Ideologi ini merupakan ideologi pendidikan yang mendasarkan diri pada nilai-nilai

kebersamaan manusia. Ideologi ini mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki hak

yang sama terhadap segala sesuatu. Hak yang sama berarti antara satu orang dengan

8
orang lain terhadap suatu benda atau kekayaan memiliki hak yang sama besar, sama

kualitas, dan sama manfaatnya. Ideologi ini tidak mengakui adanya keuntungan dan

kerugian. Ciri khas pada ideologi ini adalah homogenitas.

4. Ideologi Kapitalisme

Ideologi ini merupakan ideologi pendidikan yang mendasarkan diri pada nilai-nilai

kapital atau permodalan. Nilai yang dikembangkan pada ideologi ini adalah

persaingan tanpa batas. Ideologi ini melahirkan nilai-nilai yang mengagungkan

sesuatu yang bersifat kebendaan. Segala sesuatu dicari secara materi. Nilai-nilai

theisme, humanisme, dan sosialisme ditinggalkan untuk mencapai tujuan materi

semata. Sifat bawaan ideologi kapital ini mampu menciptakan karakter yang teliti,

disiplin, jujur, pemberani, tanggung jawab, dan berorientasi ke depan untuk

kemajuan.

Namun disamping keempat idoelogi tersebut, terdapat satu ideologi yang ditawarkan

yaitu ideologi sirkularisme. Ideologi ini merupakan ideologi yang memberikan perhatian

terhadap hubungan yang setara antara manusia dengan alam, manusia dengan manusia, dan

manusia dengan Tuhannya, serta manusia dengan dirinya sendiri sebagai hubungan yang

saling terikat. Dengan ideologi pendidikan sirkularisme tersebut menghendaki pendidikan

yang dapat ‘memanusiakan manusia’ sesuai dengan nilai kemanusiaan. Tak hanya itu,

pendidikan sirkularisme ini menghendaki perlakuan segala sesuatu tepat pada hak-hak yang

melekat pada objeknya sehingga segala sesuatu yang ada di kehidupan terlihat asri dan

nyaman.

B. PENDEKATAN PENDIDIKAN MULTIKULTURAL

9
Sebagimana sebuah upaya dalam mencapai tujuan, maka pelaksanan pendidikan juga

memerlukan pendekatan-pendekatan yang memungkinkan dapat membantu pencapaian hasil

pendidikan tersebut. Pendekatan pendidikan dapat dirumuskan menjadi dua, yaitu pendekatan

reduksionisme dan pendekatan holistik integratif.3

H.A.R. Tilaar menyebutkan bahwa pendekatan reduksional terbagi menjadi enam

bagian, yaitu: 1) Pedagogis; 2) Filosofis; 3) Religius; 4) Psikologis; 5) Negativis; dan 6)

Sosiologis.

Pertama, Pendekatan Pedagogis bertitik tolak dari pandangan bahwa anak akan

dibesarkan menjadi orang dewasa melalui pendidikan. Pandangan ini sangat menghormati

setiap tahap perkembangan anak menjadi dewasa.

Kedua, Pendekatan Filosofis menyatakan bahwa anak memiliki hakikatnya sendiri,

begitu pula dengan orang dewasa. Anak mempunyai nilai sendiri yang akan berkembang

menuju pada nilai-nilai seperti orang dewasa. Pandangan ini melahirkan suatu ilmu

pendidikan yang melihat hakikat anak sebagai titik tolak proses pendidikan.

Ketiga, Pendekatan Religius membawa peserta belajar menjadi manusia yang sesuai

nilai dan moral dalam agama. Pendidikan ini menekankan kepada peserta belajar untuk

mempersiapkan dirinya di kehidupan akhirat kelak. Peserta belajar memiliki kepercayaan dan

keyakinan, ketundukan, penyerahan dan harapan kepada Tuhan. Maka pendidikan agama

menjadi ciri khas dan pusat dalam proses pendidikan.

Keempat, Pendekatan Psikologis memacu pada masuknya psikologi ke dalam bidang

ilmu pendidikan. Pendekatan ini cenderung mereduksi ilmu pendidikan menjadi ilmu proses

belajar mengajar.

3
udi Hartono, Dardi Hasyim, 2003. Pendidikan Multikultural di Sekolah.Surakarta: UPT penerbitan dan
percetakan UNS..HAL 56

10
Kelima, Pendekatan Negativis menyatakan bahwa (1) Tugas pengajar ialah menjaga

pertumbuhan anak, dan menyingkirkan berbagai hal yang dapat merusaknya. (2) Pendidikan

sebagai usaha mengembangkan kepribadian peserta belajar atau membudayakan individu.

Pendidikan bertugas untuk memagari perkembangan kepribadian peserta belajar dari hal-hal

yang tidak sesuai dengan budaya masyarakat.

Keenam, Pendekatan Sosiologis yang memprioritaskan kepada kebutuhan masyarakat.

Pendekatan ini meletakkan hakikat pendidikan kepada keperluan hidup bersama dalam

masyarakat. Pendekatan ini mengutamakan kebersamaan, gotong royong, dan seragam antar

anggota masyarakat tanpa dominasi dan diskriminasi. Dalam pendekatan ini, peserta belajar

dipersiapkan untuk menjadi anggota masyarakat yang baik sesuai tata nilai yang dijunjung

tinggi oleh masyarakat tersebut.

Adapun pendekatan Holistik Integratif yang dikemukakan oleh A. Qodri Azizy.

Beliau menyatakan bahwa pendidikan merupakan kebutuhan dan kepentingan manusia yang

tidak pernah selesai. Kemudian proses pendidikan yang merupakan eksistensi manusia yang

selalu berarti bagi hubungan sesama manusia, baik yang dekat maupun dalam ruang lingkup

yang semakin luas. Dan bukan hanya sekedar dimensi lokal, tetapi juga berdimensi nasional

dan global. Setelah itu pendidikan tersebut membudaya menjadi nilai-nilai di kalangan

masyarakat. Nilai-nilai tersebut perlu dihayati, dilestarikan, dikembangkan, dimiliki, dan

dilaksanakan oleh seluruh anggota masyarakatnya serta dijunjung tinggi. Sehingga hal

tersebut menjadi pengikat dalam suatu tata kehidupan bersama dalam masyarakat. Dengan

adanya dimensi waktu, proses bermasyarakat dan membudayakan kebudayaan pendidikan

meliputi aspek-aspek historis, masa sekarang dan visi masa datang. Sehingga pendidikan pun

tak luput dari perkembangannya sesuai masa dan dapat menjadi mudah dipahami oleh

generasi yang akan datang.

11
Lain halnya menurut Maslikhah dalam bukunya diterangkan bahwa pendekatan dalam

proses pendidikan multikultural ada dua, yaitu melalui tata individu dan sosial. Tata individu

ini bermaksud untuk mengenal ciri manusia satu per satu. Dengan demikian, pengajar akan

mengetahui dan memahami tingkah laku seorang individu, bagaimana cara berfikirnya,

perasaannya, kemauannya, perbuatannya, sikapnya dan sebagainya maka akan mudah untuk

membentuk karakter yang diinginkan untuk mencapai apa yang diinginkan dalam proses

pendidikan multikultural. Sehingga akhirnya individu tersebut dapat tumbuh dan

berkembang di lingkungan sosialnya, maka akan dapat dimengerti tingkah laku masyarakat

seluruhnya sampai pada tingkah laku negara (kepribadian nasional) dan akan mencapai

puncak tujuan negara yang menghormati antar ras dan suku. Adapun faktor yang

mempengaruhi dalam pendekatan individu, yaitu faktor intern berupa faktor biologis pada

tingkah laku manusia dan faktor ekstern berupa faktor psikologis pada tingkah laku manusia.

C. MEMAHAMI PRINSIP-PRINSIP MENGAJAR

Menanamkan pengetahuan kepada peserta belajar memang tidak mudah. Sebagaimana

yang disebutkan oleh Dr. Ahmad Tafsir bahwa sebaiknya para pengajar memiliki

pengetahuan dan kecakapan dengan cara yang cepat dan tepat. Sebagian dari teori mengajar

memiliki bagian prinsip. Dan prinsip-prinsip itu sendiri dibuat ketika para pengajar menyusun

lesson plan (perencanaan pengajaran).

1. Prinsip Pengulangan

Prinsip Pengulangan diterapkan untuk membantu menjaga keutuhan bahan pengajaran

dan penangkapan peserta belajar, ketika kegiatan yang menyangkut materi harus dihafal

secara mekanis, namun bukan berarti bahan-bahan yang menuntut pemahaman tidak

memerlukan pengulangan sama sekali, sebab pemahaman sesungguhnya tidak terlepas dari

ingatan.

12
2. Prinsip Kegembiraan

Pengajaran yang dilakukan dengan kegembiraan akan memperlambat kelelahan, baik

pada pihak pengajar maupun pihak pelajar. Pada segi lain, pengajaran yang diisi dengan

kegembiraan dapat membantu menjaga pemutusan perhatian. Pengajaran dengan bermain dan

pengajaran dengan bekerja dapat juga diartikan menerapkan prinsip ini. Mungkin dapat

dibuat sebuah teori: ‘semakin rendah pendidikan semakin banyak kegiatan pengajaran yang

harus dibuat dengan menerapkan prinsip kegembiraan’.

3. Prinsip Mengajar Peserta Didik Untuk Belajar

Prinsip ini merupakan prinsip yang sangat penting, prinsip ini menghendaki pengajar

mengutamakan tugasnya pada mengajarkan cara belajar dan mau belajar sendiri, bukan

mengajarkan bahan pengajaran. Menurut prinsip ini hakikat belajar dan mengajar ialah

melatih peserta belajar sendiri dan mau belajar sendiri. Sekolah didirikan agar para pengajar

dapat memberikan ‘senjata’ pada peserta belajarnya; yaitu senjata yang dapat digunakan

dalam menyelesaikan masalah-masalah kehidupan yang dihadapinya. 4 Kehidupan memang

selalu berkembang, sehingga ‘senjata’ yang harus dimiliki oleh setiap peserta didik tidak

hanya didapatkan dari sekolah, mereka harus menyiapkan dirinya sendiri. Sehingga tugas

pengajar ialah mendorong atau memotivasi agar peserta didik mau belajar sendiri, dan

pengajar membantu cara-cara belajar sendiri.

4
Ahmad Tafsir, Metodologi Pengajaran Agama Islam. Hal 27

13
Prinsip
Prinsip
Mengajar
Pengulangan
Peserta Didik

Prinsip Kegembiraan

a. Pengajaran hendaknya menarik minat

Peserta belajar akan mengikuti suatu pelajaran apabila pelajaran tersebut menarik

minat mereka. Sebagai seorang pengajar, hendaknya tidak memaksa kepada peserta belajar

untuk mengikuti pelajaran yang diajarkan. Kaidah ini sangat berpengaruh pada pengajaran

tingkat rendah, contohnya ketika seorang pengajar mengajar pada daerah yang terisolasi di

suatu daerah yang mencakup ruang lingkup nasional.

Maka pada suatu tahap awal proses mengajar, hendaklah dimulai dengan usaha

membangkitkan minat peserta belajar. Minat tersebut harus dijaga selama proses belajar-

mengajar berlangsung. Bila minat telah muncul, maka perhatian pasti akan mengikutinya.

Minat dan perhatian berjalan lurus, namun ketika suasana proses belajar tersebut ada

keributan dan kegaduhan, maka perhatian akan berkurang bahkan hilang sehingga minat

untuk melanjutkan pelajaran pun terhambat.

b. Partisipasi peserta belajar dalam kegiatan belajar-mengajar

14
Partisipasi yang dimaksud disini bukan hanya partisipasi yang berupa keaktifan

seorang peserta belajar atau pergerakan badaniah, namun juga termasuk ikut aktif secara akal

pikiran (menerima pelajaran) dan secara batin (ikhlas dalam mengikuti proses belajar).

Adapun prinsip-prinsip yang harus dipahami dalam paradigma dan implementasi

pendidikan multikultural, yaitu:

Pertama, pemahaman utuh bahwa interaksi kita di dalam melakukan proses pembelajaran

sejatinya tidak selamanya dilaksanakan dengan peserta berlatar monokultul. Suatu hal yang

niscaya apabila di dalam suatu kelas berkumpul peserta belajar yang berasal dari latar

belakang budaya beragam. Bagaimanapun caranya, setiap manusia pasti mempertahankan

kebiasaan mereka masing-masing.

Kedua, adanya penghargaan kepada masing-masing budaya diharapkan mampu

meningkatkan kualitas proses pembelajaran. Penghargaan memunculkan motivasi dan inilah

yang akan memacu kualitas proses yang dimaksud.

Ketiga, kecerdasan memahami dan kesediaan menyesuaikan diri dalam menghadapi suatu

kondisi kelas dengan latar belakang budaya yang beragam. Setiap budaya yang dipertahankan

oleh peseta belajar akan berpengaruh pada gaya belajarnya. Maka mengenali dan memahami

secaar cerdas tentang karakter budaya peserta belajar adalah yang paling utama diperhatikan

dalam melakukan tindakan-tindakan di dalam kelas.

Keempat, pendidikan mutikultural dapat diintegrasikan ke dalam masing-masing mata

pembelajaran atau mata kuliah. Jangan ada anggapan bahwa pendidikan multikultural adalah

suatu cabang ilmu yang berdiri sendiri.5 \

5
julhasratman.blogspot.com/2012/04/paradigma-pendidikan-multikultural.html?m=1

15
BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Istilah multi memiliki arti banyak, beraneka, dan keragaman, sedangkan kultur

(culture) memiliki arti kebudayaan, kesopanan, atau pemeliharaan. Maka multikulural

merupakan keragaman budaya, aneka kesopanan, atau banyak pemeliharaan. Namun jika

diawali dengan kata pendidikan, memiliki arti suatu proses pembelajaran dalam suatu ruang

lingkup pluralitas dalam mencapai integrasi bangsa agar saling membantu dan saling

menghargai pendapat satu sama lain antar ras, suku, dan etnis.

Sebelum proses pembelajaran, pengajar pendidikan multikultural diharapkan

mengetahui landasan ideologi yang mencakup ruang lingkup tersebut serta menerapkan

prinsip-prinsip pembelajaran yang efektif sehingga tercapailah tujuan.

Adapun dalam proses pembelajaran, perlu diketahui bahwa tugas pengajar adalah

memberikan motivasi kepada peserta belajar dan menjaganya, serta memberikan pemahaman

bahwa belajar merupakan mempersiapkan ‘senjata’ dalam menghadapi problema yang terjadi

dalam kehidupan. Hal ini dimaksudkan agar mencegah terjadinya konflik yang terjadi antar

ras, suku, atau pun etnis dalam suatu wilayah, serta memberikan solusi yang ideal ketika

terjadinya konflik diantara mereka.

Di lain sisi, pengajar harus dapat memberikan pemahaman kepada peserta belajar

bahwa untuk mempersiapkan ‘senjata’ tidak hanya di sekolah ataupun universitas, namun

dapat dipelajari dengan bersosialisasi bersama teman dari ras atau suku yang berbeda.

16
DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Dr. H. Abu. 1991. Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Maslikhah. 2007. Quo Vadis Pendidikan Multikultural. Surabaya: JP Books.

Tafsir, Dr. Ahmad. 2007. Metodologi Pengajaran Agama Islam. Bandung: PT. Remaja

Rosdakarya.

julhasratman.blogspot.com/2012/04/paradigma-pendidikan-multikultural.html?m=1

17