Anda di halaman 1dari 6

2.

2 Konsep Perkawinan

2.2.1. Pengertian Perkawinan

Menurut undang-undang perkawinan yang dikenal dengan undang-undang


No. 1 Tahun 1974, yang dimaksud dengan perkawinan adalah ikatan lahir batn
antara seorag pria dan seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan
tujuan membentuk keluarga ( rumah tangga )yang bahagia dan kekal berdasarkan
Ketuhanan Yang Maha Esa.

Menurut Agama Islam, perkawinan adalah salah satu bentuk ibadah yang
kesuciannya perlu dijaga oleh kedua belah pihak, baik suami maupun istri.
Perkawinan bertujuan untuk membentuk keluarga yang bahagia sejahtera dan
kekal selamanya. Perkawinan memerlukan kematangan serta persiapan fisik dan
mental karna menikah adalah sesuatu yang sakral.selain itu,dapat menentukan
jalan hidup seseorang.

Berdasarkan beberapa pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa


perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita
sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga ) yang
bahagia dan kekal sebagai bentuk ibadah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Selain
itu, diperlukan persiapan fisik dan mental untuk melaksanakannya.

2.2.2 Bentuk- bentuk perkawinan


1. Perkawinan monogami
Monogami adalah suatu bentuk perkawinan atau pernikahan dimana suami
tidak menikah dengan perempuan lain dan istri tidak menikah dengan
lelaki lain. Singkatnya monogami merupakan bentuk pernikahan antara
seorang laki dengan seorang wanita dan tidak diperkenankan memiliki
ikatan dengan pasangan lainnya. Azas pernikahan monogami memandang
perkawinan sebagai suatu ikatan sakral dalam membentuk sebuah
keluarga, sehingga untuk melaksankan perkaminan membutuhkan
komitmen ikatan yang syah.
2. Poligami
Poligami merupakan bentuk perkawinan yang umum dan biasa terjadi di
Negara-negara islam, masyarakat Afrika dan bagian Asia. Poligami adalah
bentuk perkawinan antara seorang pria yang menikahi beberapa wanita
atau sebaliknya seorang perempuan menikah dengan beberapa laki-laki
(poliandri ).
3. Poliandri
Selama ini masyarakat lebih banyak mengenal laki-laki yang memiliki istri
lebih dari satu (poligami). Akan tetapi, pada sebagian masyarakat bahkan
beberapa suku bangsa ditemukan pernikahan poliandri. Praktik pernikahan
ini diperkirakan hanya ada kurang dari 1 % dari seluruh dunia dan terbatas
di Himalaya, Nayar selatan India, masyarakat Eskimo, dan beberapa
Indian Amerika Utara.
4. Hidup bersama tanpa ikatan ( Cohabitaton )
Cohabitaton (kumpul kebo) merupakan gaya hidup dimana pasangan
belum menikah yang terlibat dalam hubungan seksual hidup bersama
dalam apa yang terkadang disebut dengan consensual atau informal union.
Hidup bersama tanpa ikatan pernikahan sering digunakan pelakunya
sebagai bentuk perkawinan percobaan. Seiring dengan semakin umumnya
pola kehidupan bersama tanpa ikatan pernikahan membuat pelakunya
kurang mendapat tekanan sosial dari masyarakat (seltzer, 2000)
5. Perniakan dini
Dari sekian banyak hasrat manusia, hasrat seksual yang sulit dikontrol diri
dan salah satu efeknya adalah terjadinya pernikahan diusia muda.
Pernikahan dini bukanlah fenomena baru, baik di Indonesia maupun di
Negara-negara lain. Dahulu, pernikahan dini dianggap hal yang biasa saat
seorang perempuan menikah dibawah usia 15 tahun. Pro dan kontra
pernikahan dini mencuat setelah muncul pemberitaan kontroversial
pernikahan Pujiono Cahyo Widianto (Syekh puji) yang berusia 43 tahun
dengan Ulfah Lutfiana yang masih berusia 12 tahun.
2.2.3. Hierarki kebutuhan perkawinan

Manusia diciptakan dengan potensi hidup berpasang-pasangan , yaitu satu


sama lain saling membutuhkan. Manusia memiliki potensi dan motivasi beragam
untuk setiap tindakannya. Hal ini menggambarkan bahwa dalam melaksanakan
perkawinan pun menusia memiliki argumen yang berbeda-beda. Perbedaan
motivasi dan argumen yang berbeda-beda . Perbedaan motivasi dan argumen
tersebut karena berdasarkan berbagai macam kebutuhan,berikut hierarki akan
kebutuhan perkawinan.

1. Kebutuhan fisiologis, seperti penyaluran hasrat untuk pemenuhan


kebutuhan seksual yang sah dan normal.
2. Kebutuhan psikologis, ingin mendapat pelindungan, kasih sayang, rasa
aman, sertaingin melindungi dan dihargai.
3. Kebutuhan sosial, memenuhi tugas sosial dalam suatu adat keluarga yang
lazim, yaitu menikah karena pernikahan merupakancermin diri
kematangan sosial seseorang ketika menginjak usia dewasa.
4. Kebutuhan religi, menikah sunnah rosulullah dan manusiadiciptakan
berpasang-pasangan.

2.2.4. persiapan perkawinan

Persiapan perkawinan terdiri atas persiapan kesehatan, baik kesehatan


fisik maupun jiwa yang meliputi berbagai aspek, yaitu biologis/ fisik, mental/
psikologis, psikososial, dan spiritual (WHO, 1984 dalam mufidah, 2008).

1. Aspek fisik/ biologis

Dilihat dari segi kesehatannya, usia 20-25 tahun bagi perempuan dan 25-
30 tahun bagi laki-laki merupakan usia yang ideal untuk berumah tangga.
Mereka yang hendak berkeluarga amat di anjurkan untuk menjaga
kesehatan, baik kesehatan jasmani maupun rohani. Kesehatan fisik
meliputi bebasnya seseorang dari penyakit (apalagi penyakit menular) dan
juga bebas dari penyakit karena keturunan. Pemeriksaan kesehatan dan
konsultasi pranikah amat dianjurkan bagi pasangan yang hendak menikah.

2. Aspek mental/psikologis
Yang meliputi beberapa hal berikut ini.
a. Kepribadian, aspek kepribadian sangat penting agar masing-masing
pasangan mampu menyesuaikan diri. Kematangan kepribadian
merupakan faktor utama dalam perkawinan. Pasangan kepribadian
matang dapat saling memberikan kebutuhan afeksi (kebutuhan akan
rasa kasih sayang ) yang amat penting bagi keharmonisan keluarga.
b. Pendidikan dan tingkat kecerdasan juga perlu diperhatikan dalam
mencari pasangan. Latar belakang pendidikan agama juga perlu
dipertimbangkan , disamping pengetahuan agama yang dimiliki oleh
masing-masing pasangan.
3. Aspek psikososial/spiritual
Yang antara lain terdiri atas beberapa hal berikut.
a. Faktor agama dalam masyarakat tetap dipandang penting bagi
stabilitas rumah tangga.
b. Latar belakang sosial berkeluarga berpengaruh pada kepribadian anak
yang dibesarkannya.
c. Latar belakang budaya juga perlu diperhatikan. Perbedaan suku bangsa
bukan merupakan halangan untuk saling berkenalan dan akhirnya
menikah. Namun faktor adat istadat/ budaya perlu diperhatikanuntuk
diketahui oleh masing-masingpaangan agar dapat saling menghargai
dan menyusaikan diri.
d. Pergaulan, sebagai persiapan menuju perkawinan masing-masing calon
pasangan, hendaknya saling mengenal terlebih dahulu. Dalam
pergaulan pranikah, setiap pasangan hendaknya tetap mengindahkan
nilai-nilai moral, etik, dan kaidah-kaidah agama.
e. Pekerjaan dan kondisi materi lainnya. Faktor sandang, pangan, dan
papan merupakan kebutuhan pokok . suatu perkawinan tidak bisa
bertahan hanya dengan ikatan cinta dan kasih sayang saja bila tidak
ada materi yang mendukungnya.

2.2.5. Penyesuaian dalam perkawinan

Pasangan suami istri biasanya harus melakukan penyesuaian satu sama lain
selama tahun pertama dan kedua perkawinan, baik penyesuaian terhadap anggota
keluarga masing-masing maupun teman-temannya. Empat hal pokok yang paling
umum dan paling penting bagi kebahagiaan perkawinan adalah sebagai berikut.

1. Penyesuaian dengan pasangannya (istri atau suaminya)


Hal yang paling penting dalam penyesuaian perkawinan adalah
kesanggupan dan kemampuan sang suami/istri untuk berhubungan dengan
mesra serta saling memberi dan menerima cinta.
2. Penyesuaian seksual
Masalah ini merupakan salah satu masalah yang paling sulit daam
perkawinan, serta salah satu penyebab pertengkaran dan ketidakbahagiaan
perkawinan apabila kesepakatan ini tidak dapat dicapai dengan
memuaskan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi penyesuaian seksualadalah
sebagai berikut.
a. Perilaku terhadap seks. Sikap terhadap seks sangat dipengaruhi oleh
cara pria dan wanita menerima informasi seks selama masa anak-anak
dan remaja. Sekali perilaku yang tidak menyenangkan dikembangkan,
maka akan sulit sekali untuk dihilangkan bahkan tidak mungkin
dihilangkan.
b. Pengalaman seks masa lalu. Cara orang dewasa dan teman sebaya
beraksi terhadap masturbasi, petting, dan hubungan suami istri
sebelum menikah, serta cara pria dan wanita merasakan itu sangat
mempengaruhi prilakunya terhadap seks apabila pengalaman awal
seorang wanita tentang petting tida menyenangkan, hal ni akan di
warnai sikapnya terhadap seks.
c. Dorongan seksual perkembangan lebih awal pria dibandingkan wanita
dan cenderung teta demikian. Pada wanita timbul secara periodik
dengan turun naik selama siklus menstruasi. Variasi ini memengaruhi
minat dan kenikmatan akan seks yang kemudian memengaruhi
penyesuaian seksual.
d. Pengalaman seks matirial awal. Kepercayaan bahwa hubungan
seksual menimbulkan keadaan ekstasi yang tidak sejajar dengan
pengalaman lain hal ini menyebabkan banyak orang dewasa muda
merasa begitu pahit, sehingga sulit melakukan penyesuaian seksual
atau tidak mungkin sama sekali untuk dilakukan.
e.