Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH BAKTERIOLOGI II

(Bakteri pada Kulit dan Mukosa)

Disusun Oleh :

Kelompok 1

1. Aisyah Arrosyada 5. Nurhidayah

2. Ayu Zakiyah 6. Rindani Suci Husna

3. Erika Safitri 7. Wanda Yani

4. Intan Tiara Putri

TINGKAT II REGULAR A

Dosen Pembimbing

Karneli,AMAK.,S.Pd.,M.Kes.

POLTEKKES KEMENKES PALEMBANG


JURUSAN ANALIS KESEHATAN
TAHUN AKADEMIK 2017-2018
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat dan
karunia-Nya lah penulis mampu untuk menyelesaikan makalah ini sesuai dengan
yang diharapkan. Dalam makalah ini penulis membahas tentang “Bakteri pada
kulit dan mukosa”.
Makalah ini berisi materi tentang bakteri pada kulit dan mukosa yang
dibuat dalam rangka memperdalam pemahaman tentang apa saja materi yang
telah diajarkan oleh dosen-dosen pembimbing dan memenuhi tugas mata kuliah
bakteriologi II.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam pembuatan
makalah ini. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran demi
pernyempurnaan makalah ini dimasa yang akan datang.

Palembang, 10 November 2018


Penulis
BAB II
PEMBAHASAN

1. Bakteri yang terdapat di kulit

a) Staphylococcus Epidermidis

Staphylococcus epidermidis adalah salah satu spesies bakteri dari genus


Staphylococcus yang diketahui dapat menyebabkan infeksi oportunistik (menyerang
individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah). Beberapa karakteristik bakteri ini
adalah fakultatif, koagulase negatif, katalase positif, gram positif, berbentuk kokus, dan
berdiameter 0,5 – 1,5 µm. Bakteri ini secara alami hidup pada kulit dan membran
mukosa manusia. Infeksi Staphylococcus epidermidis dapat terjadi karena bakteri ini
membentuk biofilm pada alat-alat medis di rumah sakit dan menulari orang-orang di
lingkungan rumah sakit tersebut (infeksi nosokomial). Secara klinis, bakteri ini
menyerang orang-orang yang rentan atau imunitas rendah, seperti penderita AIDS,
pasien kritis, pengguna obat terlarang (narkotika), bayi yang baru lahir, dan pasien
rumah sakit yang dirawat dalam waktu lama.

Gram strain of Staphylococcus epidermidis


(picture: http://faculty.ccbcmd.edu/courses/bio141/labmanua/lab5/dsstaph.html)
Gram strain of Staphylococcus epidermidis
(picture:http://web.uconn.edu/mcbstaff/graf/Student%20presentations/S%20epidermi
dis/sepidermidis.html)
Organisme ini menghasilkan glycocalyx "lendir" yang bertindak sebagai perekat
mengikuti ke plastik dan sel, menyebabkan resistensi terhadap fagositosis dan antibiotik.
Staphylococcus epidermidis dapat bertahan di permukaan yang kering untuk waktu yang
lama. Staphylococcus epidermidis hidup parasit pada manusia dan hewan berdarah
panas lainnya. (Nilsson, et al. 1998).

A. KLASIFIKASI

Kerajaan : Bacteria

Filum : Firmicutes

Kelas : Bacilli

Ordo : Bacillales

Famili : Staphylococcacea

Genus : Staphylococcus

Spesies : ​Staphylococcus epidermidis. ​ (Winslow1908 dan Evans 1916).

B. KARAKTERISTIK (CIRI-CIRI)

➢ Bakteri fakultatif.
➢ Koagulase negatif, katalase positif, gram positif.
➢ Berbentuk kokus, dan berdiameter 0,5 – 1,5 µm.
➢ Hidup pada kulit dan membran mukosa manusia.

C. PENYAKIT

Infeksi Staphylococcus epidermidis berhubungan dengan perangkat


intravaskular (katup jantung buatan, shunts, dll), tetapi biasanya terjadi pada sendi
buatan, kateter, dan luka besar. Infeksi kateter bersama dengan kateter-induced UTI
menyebabkan peradangan serius dan sekresi nanah. Dalam hal ini, buang air kecil sangat
menyakitkan.
Septicaemia dan endokarditis termasuk penyakit yang berhubungan dengan
Staphylococcus epidermidis. Gejala yang timbul adalah demam, sakit kepala, dan
kelelahan untuk anoreksia dan dyspnea. Septicemia terjadi akibat infeksi neonatal,
terutama ketika bayi lahir dengan berat badan sangat rendah.Sedangkan, Endokarditis
adalah infeksi katup jantung dan bagian lapisan dalam dari otot jantung. Staphylococcus
epidermidis dapat mencemari peralatan perawatan pasien dan permukaan lingkungan.
Berikut adalah distribusi kuman gram positif yang sensitif dan resisten terhadap
bebagai jenis antibiotik berdasarkan uji kuman di RS Fatmawati Jakarta pada tahun
2001-2002, termasuk Staphylococcus epidermidis:

1. Antibiotika golongan amino glikosida

Data hasil pengujian menunjukkan bahwa jumlah sampel yang diuji kecil,
kepekaan paling tinggi ditemukan terhadap kanamisin, netilmisin dan tobramisin pada
Staphylococcus epidermidis (100%), netilmisin pada Streptococcus β haemoliticus
(90.0%), dibekasin, gentamisin, netilmisin, tobramisin pada Staphylococcus aureus
(100%). Tingkat resistensi paling tinggi ditunjukkan terhadap tobramisin pada
Streptococcus β haemoliticus (100%) dan gentamisin untuk Staphylococcus epidermidis
(33,3%).

2. Antibiotika golongan sefalosporin

Data hasil uji kepekaan kuman terhadap antibiotika golongan ini menunjukkan
sampel yang diuji juga dalam jumlah kecil, kepekaan tertinggi terlihat terhadap
sefotaksim dan seftizoksim pada Staphylococcus epidermidis (100%), seftizoksim dan
seftriakson untuk Streptococcus β haemoliticus (100%) sedangkan Staphylococcus
aureus terhadap semua antibiotika yang diuji masih sensitif. Resistensi tertinggi terlihat
terhadap seftriakson untuk Staphylococcus epidermidis (50,0%) sefaleksin untuk
Streptococcus β haemoliticus (75,0%).

3. Antibiotik golongan penisilin

Disini terlihat sampel yang diuji juga dalam jumlah kecil. Kepekaan tertinggi
terlihat terhadap amoksisilin-asam klavulanat untuk Staphylococcus epidermidis (100%),
sulbenisilin, penisilin G terhadap Streptococcus β haemoliticus (100%). Resistensi
tertinggi terlihat terhadap amoksisilin, ampisilin, penisilin G pada Staphylococcus
epidermidis (100%) dan Staphylococcus aureus telah resisten terhadap semua
antibiotika yang diuji (100%).
4. Antibiotika golongan lainnya

Sampel yang diuji juga dalam jumlah kecil. Kepekaan tertinggi ditunjukkan oleh
Staphylococcus aureus (100%) terhadap tetrasiklin, kotrimoksazol dan fosmisin,
Staphylococcus epidermidis (83.3%) terhadap kotrimoksazol, Streptococcus β
haemoliticus (100%) terhadap siprofloksasin dan fosmisin. Resistensi tertinggi
diperlihatkan kloramfenikol, siprofloksasin pada Staphylococcus aureus (100%),
tetrasiklin untuk Staphylococcus epidermidis (85.7%) dan Streptococcus β haemoliticus
(57.1%).
Dapat diambil kesimpulan, bahwa Staphylococcus epidermidis mempunyai
kepekaan tertinggi berturut-turut terhadap kanamisin, netilmisin, tobramisin,
sefotaksim, seftizoksim, amoksisilin-asam klavulanat dan kotrimoksazol. Resistensi
tertinggi berturut-turut diberikan untuk ampisilin, amoksisilin, penisilin G. tetrasiklin dan
kloramfenikol.
Meskipun ada banyak penelitian tentang S. virulensi faktor epidermidis, sedikit
yang telah dilakukan untuk mengetahui modus kerjanya.

D. PENGOBATAN

Staphylococcus epidermidis merupakan bagian dari flora normal manusia, telah


mengembangkan resistensi terhadap antibiotik yang umum seperti methicillin,
novobiocin, klindamisin, dan penisilin benzil. Untuk mengobati infeksi digunakan
vankomisin, hasil atau rifampin.

b) Staphylococcus Aureus
Staphylococcus aureus (S. aureus) adalah bakteri gram positif yang
menghasilkan pigmen kuning, bersifat aerob fakultatif, tidak menghasilkan spora dan
tidak motil, umumnya tumbuh berpasangan maupun berkelompok, dengan diameter
sekitar 0,8-1,0 µm. S. aureus tumbuh dengan optimum pada suhu 37oC dengan waktu
pembelahan 0,47 jam. S. aureus merupakan mikroflora normal manusia. Bakteri ini
biasanya terdapat pada saluran pernapasan atas dan kulit. Keberadaan S. aureus pada
saluran pernapasan atas dan kulit pada individu jarang menyebabkan penyakit, individu
sehat biasanya hanya berperan sebagai karier. Infeksi serius akan terjadi ketika resistensi
inang melemah karena adanya perubahan hormon; adanya penyakit, luka, atau
perlakuan menggunakan steroid atau obat lain yang memengaruhi imunitas sehingga
terjadi pelemahan inang.
Infeksi S. aureus diasosiasikan dengan beberapa kondisi patologi, diantaranya
bisul, jerawat, pneumonia, meningitis, dan arthrititsSebagian besar penyakit yang
disebabkan oleh bakteri ini memproduksi nanah, oleh karena itu bakteri ini disebut
piogenik. S. aureus juga menghasilkan katalase, yaitu enzim yang mengkonversi H2O2
menjadi H2O dan O2, dan koagulase, enzim yang menyebabkan fibrin berkoagulasi dan
menggumpal. Koagulase diasosiasikan dengan patogenitas karena penggumpalan fibrin
yang disebabkan oleh enzim ini terakumulasi di sekitar bakteri sehingga agen pelindung
inang kesulitan mencapai bakteri dan fagositosis terhambat.

A. KLASIFIKASI

Klasifikasi ilmiah
Domain: Bacteria

Kerajaan: Eubacteria

Filum: Firmicutes

Kelas: Bacilli

Ordo: Bacillales

Famili: Staphylococcaceae

Genus: Staphylococcus

Spesies: S. aureus

B. PATOGENESIS
Staphylococcus aureus menyebabkan berbagai jenis infeksi pada manusia, antara
lain infeksi pada kulit, bisul, dan furunkulosis; infeksi yang lebih serius, pneumonia,
mastitis, flebitis, dan meningitis; dan infeksi pada saluran urine. Selain itu,
Staphylococcus aureus juga menyebabkan infeksi kronis, seperti osteomielitis dan
endokarditis.
Staphylococcus aureus merupakan salah satu penyebab utama infeksi nosokomial akibat
luka operasi dan pemakaian alat pemakaian perlengkapan perawatan rumah sakit.
Staphylococcus aureus juga dapat menyebabkan keracunan makanan akibat
enterotoksin yang dihasilkannya dan menyebabkan sindrom renjat toksik (toxic shock
syndrome) akibat pelepasan seperantigen ke dalam aliran darah.

C. MEKANISME INFEKSI
D. GEJALA

❖ Deskuamasi kulit yang meluas


❖ Erosi kulit yang meluas
❖ Eritematous
❖ Suhu tubuh tinggi
❖ Kulit kemerahan
❖ Kulit kendor

E. PEMERIKSAAN LABORATORIUM

Sampel darah pasien dilakukan kultur pada media penyubur kaldu pepton.
Kemudian diinkubasi, pada hari berikutnya dilakukan pengecatan Gram menunjukkan
hasil bakteri Gram (+) coccus, bergerombol dan juga dilakukan kultur pada media agar
darah. Setelah diinkubasi selama satu hari dilakukan Tes Katalase dan menunjukkan hasil
positif. Kemudian dilakukan inokulasi pada media Nutrien Agar miring untuk mengamati
adanya pigmen. Pada hari berikutnya didapatkan koloni bakteri dengan pigmen kuning
emas dan Tes Koagulase menunjukkan hasil positif.

F. PENCEGAHAN

Pencegahan dapat dilakukan dengan cara menjaga kebersihan dan sterilitas


peralatan medis yang digunakan saat proses persalinan. Disarankan untuk melakukan
proses persalinan secara medis (di puskesmas, rumah sakit).

Belum ada vaksin yang tersedia untuk menstimulasi kekebalan tubuh manusia
melawan infeksi Staphylococcus. Serum hiperimun manusia dapat diberikan pada pasien
rumah sakit sebelum tindakan bedah. Upaya pengembangan vaksin dapat dilakukan jika
telah diketahui mekanisme monokuler interaksi antara protein adhesin Staphylococcus
dan reseptor spesifik pada jaringan inang. Komponen yang dapat menghambat ineraksi
tersebut sehingga dapat mencegah penempelan dan kolonisasi bakteri kemungkinan
akan dirancang. Beberapa upaya pencegahan infeksi :

a) Petugas kesehatan selalu menjaga kebersihan / sanitasi, peralatan medis yang


digunakan, dan kamar operasi.
b) Fasilitas penunjang kebersihan seperti adanya wastafel, handuk bersih, sabun
cuci tangan, desinfektan, antiseptik, dll.
c) Pengetahuan mengenai tindakan untuk mencegah terjadinya infeksi.
d) Kesadaran untuk memperhatikan kebersihan diri dalam pencegahan infeksi

2. Bakteri yang terdapat di mukosa mulut

Flora utama hidung terdiri dari korinebakteria, stafilokokkus (​S. epidermidis, S.


aureus​) dan streptokokus (Jawetz dkk, 2005).
Selaput lendir (mukosa) mulut dan faring steril saat lahir namun dapat
terkontaminasi sewaktu melalui jalan lahir. Dalam waktu 4-12 jam setelah lahir,
streptococcus viridians menjadi flora tetap yang utama sepanjang hidup. Mereka
mungkin berasal dari saluran nafas ibu dan pengasuhnya. Pada awal hidupnya,
bertambah dengan stafilokokus aerobic dan anaerob, diplokkus gram negatif, (Neisseria,
Moraxella catarrbalis​), difteroid dan terkadang laktobasilus. Ketika gigi mulai tumbuh,
muncul spirochaeta anaerob, spesies prevotella, spesies fusobakterium, spesiesrothia
dan spesies capnocytophaga muncul bersamaan dengan beberapa vibrio anaerob dan
laktobasili. Spesies actinomyces secara normal terdapat pada jaringan tonsil dan pada
gingival dewasa, begitupula dengan berbagai macam protozoa. Ragi (spesies Candida)
terdapat pada mulut (Jawetz dkk, 2005).
Infeksi pada mulut dan saluran nafas bagian atas sering meliputi bakteri
anaerob. Infeksi periodontal, abses perioral, sinusitis dan mastoiditis teruatama
melibattkan ​Prevotella melaninogenica, F​ usobakterium dan teptostreptokoki. Aspirasi
saliva (mengandung sampai 104 dari organisme-organisme diatas dan aerob) dapat
menyebabkan pneumonia nekrotik, abses paru dan empiema (Jawetz dkk, 2005).

a) Pathogenesis
Pada waktu lahir, rongga mulut pada hakikatnya merupakan suatu inkubator
yang steril, hangat, dan lembap yang mengandung sebagai substansi nutrisi. Air liur
terdiri dari air, asam amino, protein, lipid, karbohidrat, dan senyawa-senyawa anorganik.
Jadi, air liur merupakan medium yang kaya serta kompleks yang dapat dipergunakan
sebagai sumber nutrien bagi mikrobe pada berbagai situs di dalam mulut. Beberapa jam
sesudah lahir, terdapat peningkatan jumlah mikroorganisme sedemikian sehingga di
dalam waktu beberapa hari spesies bakteri yang khas bagi rongga mulut menjadi
mantap. Jasad-jasad renik ini tergolong ke dalam genus ​Streptococcus, Neisseria,
​ an ​Lactobacillus ​(Pelczar, 2008).
Veillonella, Actinomyces, d
Sampai munculnya gigi, kebanyakan mikroorganisme di dalam mulut adalah
aerob atau anaerob fakultatif. Ketika gigi pertama muncul, anaerob obligat seperti
Bacteroides dan bakteri fusiform ​(Fusiobacterium sp.),​ menjadi lebih jelas karena
jaringan di sekitar gigi menyediakan lingkungan anaerobic (Pelczar, 2008).

Media Nutrient Agar (NA)


Sampel Keterangan Morfologi Gambar eterangan
a mulut o Bentuk: Sirkuler at bakteri dan
o Ukuran: Pinpoint jamur
o Elevasi: Flat
o Permukaan: Halus
mengkilat
o Margin: Entire
o Warna: Putih

b) Etiologi
Sariawan (stomatitis) dapat menyebabkan munculnya rasa gatal-gatal dan sakit
pada lidah dan wilayah mulut dan gusi. Penyebabnya luka tergigit, konsumsi makanan
dan minuman yang panas, alergi, kurang menkonsumsi vitamin C, tidak menjaga
kebersihan mulut dan kekurangan zat besi (Pelczar, 2008).

c) Pencegahan
Kebersihan mulut dapat dijaga dengan menyikat gigi maupun menyikat daerah
bukal dan lidah dengan sikat lembut. Pada pasien yang memakai gigi tiruan, gigi tiruan
harus direndam dalam larutan pembersih seperti Klorheksidin, hal ini lebih efektif
dibanding dengan hanya menyikat gigi tiruan, karena permukaan gigi tiruan yang tidak
rata dan porus menyebabkan candida mudah melekat dan jika hanya menyikat gigi
tiruan tidak dapat menghilangkannya (Ramansyah, 2011).

d) Pengobatan
Menurut Ramansyah (2011), beberapa golongan antijamur yang efektif untuk
kasus-kasus pada rongga mulut, sering digunakan yaitu :
1. Amfotericine B, dihasilkan oleh Streptomyces nodusum, mekanisme kerja obat
ini yaitu dengan cara merusak membrane sel jamur. Efek samping terhadap
ginjal seringkali menimbulkan nefrositik.
2. Miconazole, Clotrimazole, mekanisme kerjanya dengan cara menghambat enzim
cytochrome P 450 sel jamur, lanosterol 14 demethylase sehingga terjadi
kerusakan sintesa ergosterol dan selanjutnya terjadi ketidaknormalan
membrane sel. Digunakan 4x/hari setengah sendok makan, ditaruh diatas lidah
kemudian dikumurkan dahulu sebelum ditelan.

STREPTOCOCCUS MUTANS

Streptococcus mutans merupakan bakteri Gram positif berbentuk bulat yang


secara khas membentuk pasangan atau rantai selama masa pertumbuhannya.Bakteri ini
tersebar luas di alam.

a. Ciri-ciri khas organisme

Kokus tunggal berbentuk bulat atau bulat telur dan tersusun dalam rantai. Kokus
membelah pada bidang yang tegak lurus sumbu panjang rantai. Anggota-anggota rantai
sering tampak sebagai diplokokus, dan bentuknya kadang-kadang menyerupai batang.

b. Biakan

Kebanyakan Streptococcus tumbuh dalam pembenihan padat sebagai koloni


discoid dengan diameter 1-2 mm.

c. Sifat-sifat khas pertumbuhan

Energi utama diperoleh dari penggunaan gula. Pertumbuhan Streptococcus


cenderung menjadi kurang subur pada pembenihan padat atau kaldu kecuali yang
diperkaya dengan darah atau cairan jaringan. Kebutuhan makanan bervariasi untuk
setiap spesies. Kuman yang patogen bagi manusia paling banyak memerlukan
faktor-faktor pertumbuhan. Pertumbuhan dan hemolisis dibantu oleh pengeraman
dalam CO2 10%.

d. Variasi

Varian strain Streptococcus yang sama dapat menunjukkan bentuk koloni yang
berbeda. Hal ini sangat nyata di antara strain golongan A, yang membentuk koloni suram
atau mengkilat. Koloni yang suram terdiri atas organism yang menghasilkan banyak
protein M. Organisme ini cenderung virulen dan relatife kebal terhadap fagositosis oleh
keukosit manusia. Koloni yang mengkilat cenderung menghasilkan sedikit protein M dan
sering tidak virulen.
Gambar 1 :Streptococcus mutans
Sumber : Ari WN.Streptococcus mutans, http://www.streptococcusmutans_31.pdf.
Diakses Agustus 2013

e. Klasifikasi Streptococcus mutans

Kingdom : Monera

Diviso : Firmicutes Class

Class : Bacilli

Ordo : Lactobacilalles

Family : Streptococcaceae

Genus : Streptococcus

Spesies : ​Streptococcus mutans

Klasifikasi bakteri Streptococcus dari sisi kepentingan medis yaitu : 13

a. Streptococcus pyogens : Termasuk dalam Streptococcus Grup A, Bakteri ini


bersifat hemolitik- . S. Pyogens adalah bakteri patogen utama pada manusia
dikaitkan dengan invasi lokal atau sistemik dan gangguan immunologi pasca
infeksi oleh Streptococcus.S pyo-genes secara khas membentuk daerah luas
(bergaris tengah 1 cm) pada hemolisis mengelilingi koloni yang berukuran lebih
besar dari 0,5 mm. Bakteri ini bersifat PYR-positif (hidrolisis
L-pirolidonil-2-naftilamid) dan biasanya peka terhadap basitrasin.
b. Streptococcus agalactiae : Termasuk dalam Streptococcus grup B. Mereka adalah
anggota dari flora normal pada saluran organ wanita serta penyebab penting dari
sepsis neonatal dan meningitis. Bakteri ini sering terlihat menyerupai S pyogenes
golongan A pada perbenihan agar darah dan bersifat hemolitik-β. Bakteri ini
diidentifikasikan dengan reaksi terhadap antisera spesifik untuk golongan C atau
G.
c. Grup C dan G : Bakteri Streptococcus ini kadang terdapat di dalam nasofaring dan
dapat menimbulkaan sinusitis, bakteriemia atau endokarditis. Bersifat
hemolitik-β.
d. Enterococcus faecalis (E. Faecium, E. Durans) : Enterococcus ini merupakan bagian
dari flora normal enterik. Karena antigen grup D adalah asam teichoic, maka hal
ini bukanlah sebuah penanda antigen yang baik, sehingga Enterococcus biasanya
diidentifikasikan menggunakan sifat karakteristik yang lain. Mereka biasanya
bersifat nonhemolitik tapi suatu saat dapat bersifat hemolitik-α. Meskipun
termasuk katalase negatif, bakteri Enterococcus kadang-kadang bersifat katalase
positif yang lemah.
e. Streptococcus bovis : Bakteri ini termasuk dalam Streptococcus grup D
nonenterococcus. Mereka sebagian merupakan flora enterik dan kadangkala
dapat mengakibatkan endokarditis, dan juga dapat menyebabkan bakterimia pada
pasien dengan karsinoma kolon. Bakteri ini bersifat nonhemolitik. S.bovis
seringkali diklasifikasikan sebagai bakteri Streptcoccus viridans.
f. Sterptococcus anginosus : Nama lain dari S.anginosus ini merupakan bagian dari
flora normal. Bisa bersifat α,β atau nonhemolitik.
g. Streptococcus Grup N : Mereka jarang menimbulkan penyakit pada manusia
namun dapat menyebabkan penggumpalan normal pada susu.
h. Streptococcus Grup E,F,G,H, dan K-U : Bakteri Streptococcus ini terdapat terutama
pada hewan dan terkadang juga pada manusia.
i. Streptococcus pneumonia : Bakteri Pneumococcus bersifat hemolitik- α.
Pertemubuhan bakteri ini dihambat oleh optochin dan koloninya dapat larut
dalam empedu.
j. Streptococcus virians :Bakteri Streptococcus viridans ini antara lain adalah S.mitis,
S.mutans, S.salivarius,S.sanguis (Grup H) dan lain-lain. Secara tipikal, biasanya
bersifat hemolitik-α, tapi kemungkinan lain mereka bersifat nonhemolitik.
Pertumbuhannya tidak dihambat oleh optochin dan koloninya tidak dapat larut
dalam empedu. Bakteri Streptococcus viridans merupakan bakteri paling umum
sebagai floranormal pada saluran pernafasan atas dan berperan penting untuk
menjaga kesehatan membran mukosa yang terdapat diasana. Mereka dapat
mencapai aliran darah oleh karena trauma dan merupakan penyebab utama
endokarditis pada katup jantung yang abnormal. Beberapa bakteri Streptococcus
viridans (misal : S.mutans) mensintesa banyak polisakarida seperti dextran atau
levans dari sukrosa dan mempunyai peranan penting pada proses pembentukan
karies gigi.
k. Varian Streptococcus secara nutrisional : Biasanya bersifat hemolitik-α tapi bisa
juga bersifat nonhemolitik. Bakteri ini merupakan bagian dari flora normal dan
kadangkala menyebabkan bakterimia dan endokarditis dan dapat ditemukanya
dalam abses otak dan infeksi lain.
l. Peptostreptococcus (banyak spesies) : Bakteri Streptococcus jenis ini dapat
tumbuh hanya pada kondisi anaerob atau mikroaeroflik dan dapat memproduksi
hemolisin. Bakteri ini merupakan bagian flora normal dari rongga mulut, saluran
pernafasan atas, bagian isi perut dan saluran genital wanita.

f. Sifat dan karakteristik

Streptococcus mutans merupakan bakteri Gram positif. Temperatur optimum


untuk pertumbuhan bakteri ini sekitar 37˚ C. Selnya berbentuk ovoid dengan diameter
0,5-0,75 µm. Streptococcus mutans ditemukan berpasangan dengan rantai pendek atau
rantai medium dan tidak berkapsul. Pada kondisi lingkungan asam, bakteri ini dapat
berbentuk batang pendek dengan panjang 1,5- 3,0 µm. Streptococcus mutans bersifat
acidogenik yaitu mampu menghasilkan asam dan bersifat acidodurik yaitu mampu
tinggal pada lingkungan asam. Streptococcus mutans juga memiliki sifat-sifat khusus
yang berperan pada patogenesis karies yaitu mampu memproduksi polisakarida
ekstraseluler (dekstran) yang memfasilitasi perlekatannya ke permukaan gigi dengan
bantuan adhesin serta polimer glukan yang tidak larut oleh air. Sebagai konsekuensinya,
Streptococcus mutans akan menempel pada komponen-komponen yang terdapat pada
permukaan gigi, seperti substrat, glikoprotein saliva, matriks ekstraseluler, komponen
serum, sel inang serta mikroorganisme lain.Interaksi tersebut akan menyebabkan
penurunan pH pada lingkungan di sekitar tempat pembentukan koloni Streptococcus
mutans pH 5,2-5,5 merupakan ‘critical point”, karena dapat mempercepat proses
demineralisasi gigi dan memungkinkan terjadinya karies. Interaksi molekuler yang
menjelaskan proses karies gigi, melibatkan molekul adhesion (protein permukaan)
Streptococcus mutans dengan reseptor inang, seperti komponen saliva dan juga protein
permukaan sel bakteri lainnya.
Protein permukaan sel Streptococcus mutans yang dilaporkan paling banyak
terlibat dalam proses karies gigi adalah Glucan binding protein (Gbp) dan antigen I/II (Ag
I/II). Selain itu, Streptococcus mutans juga mengekspresikan molekul yang berperan
sebagai enzim dalam proses fermentasi karbohidrat, yaitu Glucosyltransferase (Gtf),
Dextranase (Dex), dan Fruktosilatranferase (Ftf). Setiap enzim tersebut akan memecah
sukrosa untuk membentuk glukan, dextran dan fruktan. Terdapat pula protein lain yang
berperan dalam penyediaan cadangan energi Streptococcus mutans agar mampu
bertahan di dalam rongga mulut, yaitu Dextranase A (Dex A), Dextranase B (Dex B).
Fruktanase, dan Dlt 1-4 (protein intaseluler sel Streptococcus mutans).
Bakteri dibedakan atas dua kelompok berdasarkan komposisi dinding sel,
ketahanan terhadap penisilin, pewarnaan, kebutuhan nutrient, dan ketahanan perlakuan
fisik. yaitu bakteri gram positif dan bakteri gram negatif. Selain perbedaan dalam sifat
pewarnaannya, bakteri gram positif dan bakteri gram negatif berbeda dalam sensifitasnya
terhadap kerusakan mekanis atau fisis, terhadap enzim, desinfektan dan antibiotik.

Bakteri gram negatif bersifat lebih konstan terhadap reaksi pewarnaan, tetapi
bakteri gram positif, sering berubah sifat pewarnaannya sehingga menunjukkan reaksi
gram vertable, sebagai contoh, kultur bakteri gram positif sudah tua dapat kehilangan
kemampuannya untuk menyerap pewarna violet Kristal sehingga dapat menterap pewarna
safranin, dan berwarna ,merah seperti bakteri gram negatif. Perubahan tersebut juga dapat
diebabkan oleh perubahan kondisi lingkungan atau modifikasi teknik pewarnaan
Berikut adalah pembagian dan contoh Dari bakteri gram positif dan bakteri gram
negatif,antara lain:

A. Gram-positive cocci
a. Staphylococcus
Berukuran 0,8 µm, berbentuk bulat, tidak membentuk spora dan memproduksi
enzyme katalase, fakultatif anaerob serta membentuk asam dari glukosa dalam suasana
aerobik dan anaerobik. Yang membedakan micrococcus dengan yang lain adalah dalam
kemampuan melakukan oxidasi glukosa. Staphylococcus dapat hidup dan tumbuh dalam
air garam dengan kepekatan 7,5 % sampai 15 %, sifat ini digunakan untuk
memisahkannya dari specimen dan merupakan ”vegetative bacteria” sehingga sering
digunakan untuk percobaan kemampuan membunuh kuman penyakit. Peptococcus Genus
peptococcus berbentuk bulat (Rogosa, 1974), bersifai gram positif, berdiameter 0,5 – 1
µm, pada pewarnan dijumpai tunggal, berpasangan, berkelompok 4, jarang berkelompok
banyak dan jarang berderet seperti rantai. Tidak bergerak dan tidak membentuk spora.
Semua spesiesnya adalah anaerob dan memanfaatkan peptone dan asam amino sebagai
sumber energy. Mempunyai kemampuan mepermentasi karbohidrat dengan cepat. Reaksi
katalis biasanya negatif atau lemah dan dia tidak memproduksi koagulase enzim.
Walaupun umum anggota spesies adalah beta-haemolytik, banyak diantaranya tidak
menunjukan haemolitik pada media agar darah. Genus dari spesies ini dipisahkan
berdasarkan berbagai reaksi biokimia dan analisa asam organic, yaitu jumlah biografi gas
yang dihasilkan dari penanaman dalam kultur murni dalam ”peptonw-yeast-glucose
broth” (Martin, 1974).

b. Streptococcus
Genus dari streptococcus terdiri dari banyak dan bermacam-macam grup biologis
dari kuman gram positif. Berbentuk bulat atau lonjong dan terdapat berpasangan atau
berbentuk rantai, panjang rantai tergantung kondisi lingkungan dimana dia hidup. Rantai
yang panjang dijumpai pada cocci yang hidup dalam cairan atau semifluid media.

c. Peptostreptococcus
Peptostreptococcus bersifat anaerob, gram-positif, bulat sampai oval dengan ukuran
0,7 – 1 µm. Pada pewarnaan ditemukan berpasangan dan rantai pendek atau panjang,
tidak bergerak dan tidak membentuk spora. Reaksi katalis negatif. Kebanyak spesies
menyebabkan fermentasi karbohydrat sehigga terbentuk berbagai asam organik dan gas.

B. Gram – negative cocci


a. Neisseria dan Branhamella Gram-negative
tidak bergerak, tidak membentuk spora, berbentuk coffee bean/diplococci, aerobik,
membentuk ”enzyme cytochrome oxidase” yang merupakan bakteri yang terdapat pada
mucous membrane dari rongga mulut dan saluran nafas bagian atas.Genus dari Neisseria
dibagi menjadi spesies yang pathogenik yaitu Neisseria gonorrhoeae dan Neisseria
meningitidis dan spesies yang commensal yaitu Neisseria sicca, Neisseria subflava,
Neisseria flavescens dan Neisseria mucosa, pembagian ini berdasarkan reaksi fermentasi
karbohydrat.Spesies yang tadinya disebut Neisseria catarrhalis sekarang disebut
Branhamella. Branhamella catarrrhalis beda dari spesies Neisseria umumnya karena tidak
memproduksi asam dari karbo hidrat seperti glucosa, maltosa, sukrosa dan fruktosa. Juga
DNA berdasarkan ratio guanine ditambah cytosine dengan batas 47 – 52 moles
%(Buchanan dan Gibbons, 1974). Spesies dari genus Neisseria yang biasa terdapat/hidup
dalam rongga mulut tidak patogen atau virulentnya lemah, meskipun dilaporkan terjadi
”subacute bacterial endocarditis”(Hudson, !957) dan ”purulent meningitis”(Losli dan
Lindsey, 1963). Morris (1954) dan Pike dkk, (1963) membuat klassifikasi berdasarkan
penelitiannya ; N. pharynges atau N. Catarrhalis (Branhanmella catarrhalis). Ritz (1967)
meneliti tentang keberadaannya dalam plaque gigi dan mendapat lokasi distribusi secara
segar, hal ini didapat dengan cara ”Fluorescent antibody staining technique”. Dua spesies
yaitu Neisseria gonorrhoeae dan Neisseria meningitidis tidak terdapat secara normal
didalam mulut manusia.Neisseria gonorrhoaea menyebabkan stomatitis primer, parotitis
atau pharyngitis, terjadi karena terjadi kontak antara mulut dengan alat genital(Metzger,
1970; Schmidt, Hjǿrting, Hansen dan Philipsen, 1961; Wiesner dkk, 1973 atau
autoinoculation dari”primary genital infection” via jari tangan.

b. Veillonella
Genus veillonella dibagi atas dua spesies ; Veillonella alcalescens dan Veillonella
parvula (Holdelman, Cato, dan Moore, 1977). Mempunyai diameter 5µm tidak bergerak,
gram-negatif, oxidase-negatif, anaerob diplococci, tidak memfermentasi karbo hidrat,
memanfaatkan lactic, succinic dan asam2 lain sebagai sumber energi(Rogosa, 1964).
Rogosa (1956) menemukan media khusus untuk membiakan dari spesimen yang berasal
dari klinik. Veillonella adalah flora yang hidup dalam keadaan normal didalam usus dan
sistim urogenital manusia. Ditemukan dalam jumlah yang banyak diberbagai tempat di
dalam mulut(Hardie dan Bowden, 1974).

C. Gram – positif rods dan filaments


a. Actinomyces, Arachnia, Bifidobacterium, Bacterionema dan Rothia
Actinomyces, Arachnia, Bifidobacterium, Bacterionema dan Rothia. Golongan
Actinomyces, Arachnia, Bacterionema dan Rothia sekarang diklassifikasikan kedalam
famili Actinomycetaceae. kecuali kelompok Bifidobacterium yang biologi dan
patogenitas masih didiskusi secara rinci dalam morphology oleh Slack dan
Gerencser(1975). Actinomycetaceae adalah gram-positif, umumnya diphtheroid atau
club-shaped rods dimana cendrung membentuk cabang2 filament dijaringan infeksi atau
pada kultur invitro. Bentuk diphtheroid atau coccoid terbentuk kita terjadi fragment dai
filament. Bersifat tidak bergerak, tidak membentuk endospora, dan not acid-fast. Pada
umumnya fakultatif anaerob, tapi ada satu spesies hidup dengan baik pada kondisi
aerobic. Dapat membentuk atau tidak membentuk ezyme catalase.

b. Eubacterium dan Propionibacterium


Kuman yang dikelompokan kepada Eubacterium (Holdeman dan Moore, 1974)
adalah gram-positif, tidak membentuk spora, uniform atau poleomorphic rods, dapat atau
tidak dapat bergerak, seluruh spesies adalah anaerob, selalu mebentuk campuran asam
organik seperti butiryc, acetic atau formic acid dari karbo hidrat atau peptone. Ditemukan
dalam rangga tubuh laki2 dan binatang. Kantz dan Hendry (1974) membiakanan
Eubacterium alactolyticum dari ruang pulpa gigi manusia yang nonvital. Kuman ini juga
ditemukan pada berbagai type infeksi seperti purulent pleurisy, jugal cellulitis, luka
postoperatif dan abscess dari otak, tractus intestinal, paru2 dan rongga mulut(Holdeman
dan Moore, 1974). Propionibacterium(Moore dan Holdeman, 1974) adalah gram-positif,
tidak bergerak, tidak membentuk spora, biasanya diphtheroid atau club-shape dan
pleomorphism. Sel coccoid, elongated, bifid atau bercabang dapat dijumpai pada
beberapa kultur dan sel kuman dapat tunggal, berpasangan atau dalam bentuk Y dan V
atau bergerombol mirip”chinese characters”. Propionic acid adalah fermentasi
karakteristik produk akhir yaitu acetic, formic, isovaleric, succinic atau lactic acid.
Kuman ini umumnya anaerob tapi ada beberapa mempunyai toleransi terhadap oxygen.
Propionibacterium avidum dijumpai di otak, darah, luka yang terinfeksidan abscess
jaringan seperti submandibular abscess(Moore dan Holdelman, 1974). Propionibacterium
acnes hidup normal pada kulit dan usus, bias ditemukan di darah, luka dan abscess
jaringan lunak(Moore dan Holdeman, 1974) dan di pulpa yang non-vital (Kantz dan
Hendry, 1974).

c. Lactobacillus
Bersifat gram-positif, tidak membentuk spora, kebanyakan tidak bergerak,
terbanysak bersifat anaerob fakultatif, ada beberapa yang benar2 anaerob.

D. Gram-negatif rods dan filaments


a. Coliforms
Famili dari Enterobacteriaceae tidak selalu atau predominant hidup dalam mulut
manusia yang tinggal di dunia barat. Meskipun coliform dijumpai pada mulut normal ,
pada umumnya hanya bersifat tinggal untuk sementara waktu, meskipun demikian kuman
ini dapat menimbulkan infeksi dari jaringan mulut, sering ini disebabkan karena
pemakaian antibiotik yang membunuh kuman gram-positif. Dalam hal ini terjadi pada
infeksi yang disebab kuman campuran. Mashberg, Caroll dan Morrissey (1970)
melaporkan osteomyelitis dari mandibula yang disebabkan mixed flora dengan
predominant adalah Enterobacter aerogenes dengan Escherichia coli dan alpha-hemolytic
streptococcus.

b. Klebsiella
Klebsiella genus dari famili Enterobacteriaceae yang terdiri dari kuman mempunyai
karakter membentuk kapsul polysaccharide. Klebsiella pneumoniae dibagi lebih dari 80
serotype dengan basis pada pembagian antigenic dari bagian polysaccharid. Klebsiella
pneumoniae mempunyai respon kira2 1 % dari kuman2 pneumonia. Agranat (1969)
melaporkan bahwa kuman ini menyebabkan osteomyelitis dari mandibula. Faucett dan
Miller (1948) melaporkan kuman ini menyebabkan stomatitis pada bayi. Sternberg,
Hoffman dan Zweitler (1951) melaporkan kuman ini menyebabkan diarrhea dan
stomatitis pada bayi. Mashberg, Carroll dan Morrissey (1970) melaporkan infeksi
suppurative dari space carotid yang disebabkan Klebsiella yang tidak teridentifikasi. Fox
dan Isenberg (1967) menemukan Klebsiella dari pembiakan spesimen yang berasal dari
saluran akar gigi. Heitman dan Brasher (1971) melaporkan kasus dengan pembengkakan
yang erythomatus didaerah palatal kanan setelah 4 hari setelah operasi osseous
periodontal, Exudat purulen dikeluarkan dari lesi pada daerah mesiopalatal regio molar
pertama, hasil kulturnya didapatkan terutama Klebsiella pneumoniae yang resisten
terhadap erythromycin pada test in vitro. Sejak pasien mendapat profilaksis dengan
erythromycin sebelum operasi, ini merupakan faktor prediposisi terjadinya infeksi karena
merusak ekologi kuman yang hidup normal disitu. Klebsiella rhinocleromatis adalah
penyebab dari penyakit rhinoscleroma, ” chronic and destructive granuloma” dari hidung
dan pharynx, kemungkinan juga menimbulkan kelainan pada bibir atas, pipi, palatum
durum dan molle dan prosesus alveolaris rahang atas. Meskipun kuman sebagai etiologi
dari penyakit ini tidak pasti Pada percobaan binatang kuman ini tidak dapat dibuktikan
sebagai penyebab syndroma ini meskipun kuman ini dapat ditemukan secara normal pada
manuasia.

c. Proteus
Kuman ini termasuk genus Enterobacteriaceae yang menyebabkan penyakit
diberbagai bagian tubuh dan infeksi biasanya mempunyai masalah dalam terapi karena
resisten terhadap antibiotika. Proteus vugaris merupakan kuman yang sering ditemukan
pada kultur berbagai infeksi. Kirner dkk, (1969) menemukan pada beberapa kasus abses
submadibula, Slack (1953) kuman ini jarang dijumpai pada saluran akar dan biasa
dijumpai pada bacterial parotitis (Rose, 1954).

d. Pseudomonas
Pseudomonas tidak menyebabkan fermentasi dan berkembang biak dan bertumbuh
secara unik dengan sumber makanan yang terbatas. Kuman ini ditemukan dalam cairan
salin yang terkontaminasi dan benzalkonium chlorid, kebanyakan spesies bergerak,
berbentuk tunggal atau”tufted monopolar flagella. Pseudomonas aeruginosa memproduksi
”water-soluble pigment”, pyocyanin dan”fluorescing pigment, fluorescein dibentuk oleh
Pseudomonas fluorescens. Pseudomonas terutama merupakan parasit yang hidup di air
dan tanah. Pseudomonas aeruginosa sudah terbukti bertahun-tahun menyebabkan
penyakit pada laki2. Sejak 15 tahun lalu terbukti spesies yang menyebab infeksi pada
laki-laki yaitu Pseudomonas cepacia dan Pseudomonas Stutzeri, kuman2 ini banyak
menyebabkan infeksi nosokomial atau terjadi pada host tertentu. Pseudomonas aeruginosa
spesies yang sering dilaporkan dalam literatur sebagai kuman yang ditemukan dalam
mulut dan menyebabkan infeksi. Shklair, Losse dan Bahn (1963) menyatakan bahwa
masyarakat Amerika mempunyai kadar kuman yang rendah dalam rongga mulut. Hasil
penelitian Clement (1953) menemukan kadar kuman rongga mulut yang tinggi pada
masyarakat Afrika yang hidup dalam kondisi primitif. Sutter, Hurst dan Landucci (1966)
melakukan penelitian pada 350 individu menemukan Pseudomonas spesies, khususnya
Pseudomonas aeruginosa dijumpai 8 % dalam saliva.
Fox dan Isenberg (1967) menemukan dalam prosentase yang kecil didalam saluran
akar, kadang ditemukan pada gigi yang non vital. Leake dan Leake (1970) menemukan
Pseudomonas aeruginosa pada neonatal suppurative parotitis.Infeksi dapat terjadi karena
invasi kuman kedalam jaringan setelah mengalami septicemia. Hecht dan Work (1970)
menemukan acute suppurative parotitis pada orang dewasa yang disebabkan oleh
Staphylococci dan Pseudomonas. Goldberg (1968) melaporkan tentang bakteriemia yang
disebabkan Pseudomonas Goldberg (1966) melaporkan tentang infeksi pasca operasi
yang disebabkan Pseudomonas aeruginosa.
Selain bakteri gram positif dan bakteri gram negatif Sifat oksigen yang baik akan
meningkatkan metabolism dan pertumbuhan bakteri. Oksigen bertindak sebagai apsetor
hydrogen dalam langkah-langkah akhir dari produksi energy dan menghasilkan 2
molekul, hydrogen peroksida (H​2​O​2​) dan radikal bebas yaitu oksigen (O​2​).

Bakteri dapat diklasifikasi berdasarkan kebutuhan mereka yang dapat bermeta


bolisme pada lingkungan oksigen penuh atau lingkungan yang bebas dari oksigen. Hal ini
sangat penting saat melakukan inkubasu terhadap bakteri dalam mendukung
pertumbuhannya. Oleh sebab itu, bakteri di klasifikasi berdasarkan:
∙​ Aerob obligatif
Bakteri yang tergolong aerob obligatif membutuhkan oksigen untuk tumbuh karena
system adenosine triphosphate (ATP). Pembangkit mereka tergantung pada oksigen
sebagai aseptor oksigen. Contoh bakteri: Micobacterium Tubercolosis

∙​ Anaerob
➢​ anaerob fakultatif
Bakteri yang tergolong anaerob fakultatif membutuhkan oksigen untuk
menghasilkan energi dengan cara respirasi. Tetapi dapat juga menggunakan jalur
fermentasi untuk mensintesis ATP dalam ketiadaan oksigen yang cukup. Contoh bakteri:
Bakteri oral (mutans streptococci) dan eschericia coli.

➢​ Anaerob obligatif
Bakteri yang tergolong anaerob obligatif tidak dapat mengalami pertumbuhan pada
lingkungan yang memiliki oksigen karena bakteri ini tidak baik pada superoxide
dismutase atau katalase, maupun keduanya. Contoh bakteri: porphyromonas gingivalis.

➢​ Mikroaerofilik
Dapat tumbuh dengan baik pada konsentrasi oksigen yang rendah. Contoh
bakteri: ​Campylobacter Petus ​(5)

DAFTAR PUSTAKA

Jawets,dkk., 2005 ​mikrobiologi kedokteran. ​Salemba madika. Jakarta.


Anaissie, Elias J. Clinical Mycology. United State of America. Churchill Livingstone. 2003.
p.461-2.
Brooks, G.F.,carrol K.C., Burel. J.S., & Morse S.A. ​Medikal mikrobiology.
​ ​cd, Mc Graw hill, 2007: 642-5.
24 th
Hadieoetomo, 2010. ​Media.​ ​http://belajarmikro.co.cc/Diakses pada tanggal 11 Oktober
2011, pukul 14.00 WIB.
Jawetz, Ernest,. 1996. Mikrobiologi Kedokteran. Jakarta : EGC.
Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan. Bakteriologi Klinik. Jakarta : Depkes RI.