Anda di halaman 1dari 16

Instalasi Tegangan Menengah (Distribusi JTM-JTR)

1. Kualitas, Keandalan, Losses / Susut daya, Susut tegangan


JTM:
JTR:
2. Model jaringan (konfigurasi)
JTM:
a. Jaringan Distribusi Pola Radial.
Pola radial adalah jaringan yang setiap saluran primernya hanya mampu menyalurkan daya dalam
satu arah aliran daya. Jaringan ini biasa dipakai untuk melayani daerah dengan tingkat kerapatan
beban yang rendah. Keuntungannya ada pada kesederhanaan dari segi teknis dan biaya investasi
yang rendah. Adapun kerugiannya apabila terjadi gangguan dekat dengan sumber, maka semua
beban saluran tersebut akan ikut padam sampai gangguan tersebut dapat diatasi.

Gambar 3.1 Pola jaringan radial

b. Jaringan Distribusi Pola Loop


Jaringan pola loop adalah jaringan yang dimulai dari suatu titik pada rel daya yang berkeliling di
daerah beban kemudian kembali ke titik rel daya semula.
Pola ini ditandai pula dengan adanya dua sumber pengisian yaitu sumber utama dan sebuah
sumber cadangan. Jika salah satu sumber pengisian (saluran utama) mengalami gangguan, akan
dapat digantikan oleh sumber pengisian yang lain (saluran cadangan). Jaringan dengan pola ini
biasa dipakai pada sistem distribusi yang melayani beban dengan kebutuhan kontinyuitas
pelayanan yang baik (lebih baik dari pola radial).
Gambar 3.2 Pola Jaringan Loop
c. Jaringan Distribusi Pola Grid
Pola jaringan ini mempunyai beberapa rel daya dan antara rel-rel tersebut dihubungkan oleh
saluran penghubung yang disebut tie feeder. Dengan demikian setiap gardu distribusi dapat
menerima atau mengirim daya dari atau ke rel lain.

Gambar 3.3 Pola Jaringan Grid

Keuntungan dari jenis jaringan ini adalah:


a. Kontinuitas pelayanan lebih baik dari pola radial atau loop.
b. Fleksibel dalam menghadapi perkembangan beban.
c. Sesuai untuk daerah dengan kerapatan beban yang tinggi.
Adapun kerugiannya terletak pada sistem proteksi yang rumit dan mahal dan biaya investasi yang
juga mahal.

d. Jaringan Distribusi Pola Spindel


Jaringan primer pola spindel merupakan pengembangan dari pola radial dan loop terpisah.
Beberapa saluran yang keluar dari gardu induk diarahkan menuju suatu tempat yang disebut
gardu hubung (GH), kemudian antara GI dan GH tersebut dihubungkan dengan satu saluran yang
disebut express feeder.
Sistem gardu distribusi ini terdapat disepanjang saluran kerja dan terhubung secara seri. Saluran
kerja yang masuk ke gardu dihubungkan oleh saklar pemisah, sedangkan saluran yang keluar dari
gardu dihubungkan oleh sebuah saklar beban.
Jadi sistem ini dalam keadaan normal bekerja secara radial dan dalam keadaan darurat bekerja
secara loop melalui saluran cadangan dan GH. Untuk lebih jelasnya perhatikan gambar ( 4.5 )
Gambar 3.4 Sistem Jaringan Spindel
Keuntungan pola jaringan ini adalah :
Sederhana dalam hal teknis pengoperasiannya seperti pola radial.
Kontinuitas pelayanan lebih baik dari pada pola radial maupun loop.
a. Pengecekan beban masing-masing saluran lebih mudah dibandingkan dengan pola grid.
b. Penentuan bagian jaringan yang teganggu akan lebih mudah dibandingkan dengan pola grid.
Dengan demikian pola proteksinya akan lebih mudah.
c. Baik untuk dipakai di daerah perkotaan dengan kerapatan beban yang tinggi.

JTR: semua radial

3. Komponen utama
JTM:
1. Pemutus Tenaga (PMT)
Pemutus tenaga (PMT) adalah adalah alat pemutus tenaga listrik yang berfungsi untuk
menghubungkan dan memutuskan hubungan listrik (switching equipment) baik dalam kondisi
normal (sesuai rencana dengan tujuan pemeliharaan), abnormal (gangguan), atau manuver
system, sehingga dapat memonitor kontinuitas system tenaga listrik dan keandalan pekerjaan
pemeliharaan
Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh suatu pemutus tenaga atau Circuit Breaker (CB) adalah :
a. Harus mampu untuk menutup dan dialiri arus beban penuh dalam waktu yang lama.
b. Dapat membuka otomatis untuk memutuskan beban atau beban lebih.
c. Harus dapat memutus dengan cepat bila terjadi hubung singkat.
d. Celah (Gap) harus tahan dengan tegangan rangkaian, bila kontak membuka.
e. Mampu dialiri arus hubung singkat dengan waktu tertentu.
f. Mampu memutuskan arus magnetisasi trafo atau jaringan serta arus pemuatan (Charging
Current)
g. Mampu menahan efek dari arching kontaknya, gaya elektromagnetik atau kondisi termal yang
tinggi akibat hubung singkat.
PMT tegangan menengah ini biasanya dipasang pada Gardu Induk, pada kabel masuk ke busbar
tegangan menengah (Incoming Cubicle) maupun pada setiap rel/busbar keluar (Outgoing Cubicle)
yang menuju penyulang keluar dari Gardu Induk (Yang menjadi kewenangan operator tegangan
menengah adalah sisi Incoming Cubicle). Ditinjau dari media pemadam busur apinya PMT
dibedakan atas :
- PMT dengan media minyak (Oil Circuit Breaker)
- PMT dengan media gas SF6 (SF6 Circuit Breaker)
- PMT dengan media vacum (Vacum Circuit Breaker)
Konstruksi PMT sistem 20 kV pada Gardu Induk biasanya dibuat agar PMT dan mekanisme
penggeraknya dapat ditarik keluar / drawable (agar dapat ditest posisi apabila ada pemadaman
karena pekerjaan pemeliharaan maupun gangguan).

2. Disconector (DS) / Saklar Pemisah


Adalah sebuah alat pemutus yang digunakan untuk menutup dan membuka pada komponen utama
pengaman/recloser, DS tidak dapat dioperasikan secara langsung, karena alat ini mempunyai
desain yang dirancang khusus dan mempunyai kelas atau spesifikasi tertentu, jika dipaksakan
untuk pengoperasian langsung, maka akan menimbulkan busur api yang dapat berakibat fatal.
Yang dimaksud dengan pengoperasian langsung adalah penghubungan atau pemutusan tenaga
listrik dengan menggunakan DS pada saat DS tersebut masih dialiri tegangan listrik.
Pengoperasian DS tidak dapat secara bersamaan melainkan dioperasikan satu per satu karena
antara satu DS dengan DS yang lain tidak berhubungan, biasanya menggunakan stick (tongkat
khusus) yang dapat dipanjangkan atau dipendekkan sesuai dengan jarak dimana DS itu berada, DS
sendiri terdiri dari bahan keramik sebagai penopang dan sebuah pisau yang berbahan besi logam
sebagai switchnya.

Gambar 3.14. Disconecting Switch (DS)

3. Air Break Switch (ABSw)


Air Break Switch (ABSw) adalah peralatan hubung yang berfungsi sebagai pemisah dan biasa
dipasang pada jaringan luar. Biasanya medium kontaknya adalah udara yang dilengkapi dengan
peredam busur api / interrupter berupa hembusan udara. ABSw juga dilengkapi dengan peredam
busur api yang berfungsi untuk meredam busur api yang ditimbulkan pada saat membuka /
melepas pisau ABSw yang dalam kondisi bertegangan . Kemudian ABSw juga dilengkapi dengan
isolator tumpu sebagai penopang pisau ABSw , pisau kontak sebagai kontak gerak yang berfungsi
membuka / memutus dan menghubung / memasukan ABSw , serta stang ABSw yang berfungsi
sebagai tangkai penggerak pisau ABSw. Perawatan rutin yang dilakukan untuk ABSw karena sering
dioperasikan, mengakibatkan pisau-pisaunya menjadi aus dan terdapat celah ketika dimasukkan
ke peredamnya / kontaknya. Celah ini yang mengakibatkan terjadi lonjakan bunga api yang dapat
membuat ABSw terbakar.

Gambar 3.15. Air Break Switch Gambar 3.16. Handle ABSW

Pemasangan ABSw pada jaringan, antara lain digunakan untuk :


a. Penambahan beban pada lokasi jaringan
b. Pengurangan beban pada lokasi jaringan
c. Pemisahan jaringan secara manual pada saat jaringan mengalami gangguan.

ABSW terdiri dari :


1. Stang ABSW
2. Cross Arm Besi
3. Isolator Tumpu
4. Pisau Kontak
5. Kawat Pentanahan
6. Peredam Busur Api
7. Pita Logam Fleksibel

4. Load Break Switch (LBS)


Load Break Switch (LBS) atau saklar pemutus beban adalah peralatan hubung yang digunakan
sebagai pemisah ataupun pemutus tenaga dengan beban nominal. Proses pemutusan atau
pelepasan jaringan dapat dilihat dengan mata telanjang. Saklar pemutus beban ini tidak dapat
bekerja secara otomatis pada waktu terjadi gangguan, dibuka atau ditutup hanya untuk
memanipulasi beban.

Gambar 3.17. Load Break Switch ( LBS )

5. Recloser ( Penutup Balik Otomatis / PBO )


Recloser adalah peralatan yang digunakan untuk memproteksi bila terdapat gangguan, pada sisi
hilirnya akan membuka secara otomatis dan akan melakukan penutupan balik (reclose) sampai
beberapa kali tergantung penyetelannya dan akhirnya akan membuka secara permanen bila
gangguan masih belum hilang (lock out). Penormalan recloser dapat dilakukan baik secara manual
maupun dengan sistem remote. Recloser juga berfungsi sebagai pembatas daerah yang padam
akibat gangguan permanen atau dapat melokalisir daerah yang terganggu
Recloser mempunyai 2 (dua) karateristik waktu operasi (dual timming), yaitu operasi cepat (fast)
dan operasi lambat (delay)
Menurut fasanya recloser dibedakan atas :
a. Recloser 1 fasa
b. Recloser 3 fasa
Menurut sensor yang digunakan, recloser dibedakan atas :
a. Recloser dengan sensor tegangan (dengan menggunakan trafo tegangan) digunakan di jawa
timur
b. Recloser dengan sensor arus (dengan menggunakan trafo arus) digunakan di jawa tengah
Gambar 3.18. Recloser

6. Transformator Distribusi
Tujuan dari penggunaan transformator distribusi adalah untuk mengurangi tegangan
utama dari sistem distribusi listrik untuk tegangan pemanfaatan penggunaan
konsumen.Transformator distribusi yang umum digunakan adalah transformator step-down
20kV/400V. Tegangan fasa ke fasa sistem jaringan tegangan rendah adalah 380 V. Karena terjadi
drop tegangan, maka pada tegangan rendahnya dibuat diatas 380V agar tegangan pada ujung
penerima tidak lebih kecil dari 380V. Sebuah transformator distribusi perangkat statis yang
dibangun dengan dua atau lebih gulungan digunakan untuk mentransfer daya listrik arus
bolak-balik oleh induksi elektromagnetik dari satu sirkuit ke yang lain pada frekuensi yang
sama tetapi dengan nilai-nilai yang berbeda tegangan dan arusnya. Transformator distribusi
yang terpasang pada tiang dapat dikategorikan menjadi :
 Transformator konvensional (Conventional transformers).
 Transformator lengkap dengan pengaman sendiri (Completely self-protecting ( CSP )
transformers).
 Transformator lengkap dengan pengaman pada sisi sekunder (Completely self-protecting for
secondary banking ( CSPB ) transformers).
Conventional transformers tidak memiliki peralatan proteksi terintegrasi terhadap
petir,gangguan dan beban lebih sebagai bagian dari trafo. Oleh karena itu dibutuhkan fuse
cutout untuk menghubungkan conventional transformers dengan jaringan distribusi primer.
Lightning arrester juga perlu ditambahkan untuk trafo jenis ini.
Completely self-protecting ( CSP ) transformers memiliki peralatan proteksi terintegrasi
terhadap petir, baban lebih, dan hubung singkat. Lightning arrester terpasang langsung pada
tangki trafo sebagai proteksi terhadap petir. Untuk proteksi terhadap beban lebih, digunakan
fuse yang dipasang di dalam tangki. Fuse ini disebut weak link. Proteksi trafo terhadap gangguan
internal menggunakan hubungan proteksi internal yang dipasang antara beliran primer dengan
bushing primer.Completely self-protecting for secondary banking ( CSPB ) transformers mirip
dengan CSP transformers, tetapi pada trafo jenis ini terdapat sebuah circuit breaker pada sisi
sekunder, circuit breaker ini akan membuka sebelum weak link melebur.Ada beberapa Macam-
macam transformator distribusi yaitu :
Trafo yang umum dipakai distribusi yaitu trafo 3 fasa dan trafo satu fasa. Trafo tiga fasa
paling banyak pemakaiannya karena:
a. Tidak memerlukan ruangan yang besar
b. Lebih murah
c. Pemeliharaan persatuan barang lebih mudah dan lebih murah.

Transformator 1 Fasa dan 3 Fasa

Transformator distribusi 3 fasa dapat juga dibangun di antara3 pilihan, yaitu :


 3 x 1 fasa, dimana terdiri dari 3 transformator 1 fasa identik
 1 x 3 fasa, terdiri dari satu transformator konstruksi 3 fasa
 2 x 1 fasa, terdiri dari konstruksi 2 transformator satu fasa yang identik
Transformator 3 x 1 fasa mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
a Kumparan primer dan sekunder dapat dibuat beberapa vektor grup dan angka lonceng
sesuai dengan yang diinginkan.
b Ketiga transformator tersebut dapat juga dioperasikan ke beban menjadi satu fasa,
yaitu dihubungkan paralel (karena ketiga transformator tersebut identik)
c Dengan daya yang sama untuk ketiga fasa, maka fasa untuk 3 x 1 fasa dibanding dengan
1 x 3 fasa lebih berat dan lebih mahal.
d Tegangan-tegangan untuk ketiga fasanya, primer dan sekunder bener-benar seimbang.
Sedangkan transformator 1 x 3 fasa mempunyai cirri-ciri yaitu :
a Konstruksinya sudah di rancang permanen dari pabrik pembuatnya
b Dapat digunakan untuk mensuplai beban satu fasa, maka tiap fasa maksimal beban
yang dapat ditanggungnya hanya sepertiga dari daya tiga fasa.
c Transformator ini lebih ringan, sehingga lebih murah karena bahan.materialnya lebih
kecil.
d Keseimbangan tegangan antara ketiga fasanya, primer dan sekunder tidak terlalu
simetris.

1) Pemilihan tipe dan kapasitas.


Tipe transformador dapat dipakai:
 Konvensional tiga fasa
 CSP (completly self protection), tiga fasa
 Tegangan primer 20 kV antar fasa dan 11,54 kV fasanetral, tegangan sekunder 380 V
antara fasa dan 220 V fasa-netral.
 Model cantol, yaitu dicantolkan/digantungkan pada tiang SUTM.
Kapasitas trafo tiga fasa. Secara umum mulai dari : 25, 50, 100, 160, 200, 250 kVA.

2) Papan bagi dan perlengkapan.


(a) Papan bagi
 Pada trafo CSP fasa tiga tidak diperlukan papan bagi, SUTR langsung dihubungkan
dengan terminal TR dari Trafo. Hal ini dimungkinkan karena pada CSP trafo sudah
dilengkapi dengan saklar pengaman arus lebih.
 Tidak demikian halnya pada konvensional trafo, diperlukan pengaman arus lebih
tegangan rendah berupa fuse/pengaman lebur, atau pemutus tegangan rendah
(LVCB/low voltage circuit breaker) sehingga diperlukan almari fuse, sekaligus sebagai
papan bagi untuk keluaran lebih dari satu penyulang.
 Menyesuaikan dengan penyebaran konsumen, dapat dipilih papan bagi 2 group dan
4 group.
(b) Pengaman untuk trafo konvensional
 Pemisah lebur 20 kV / Fuse Cut Out, dengan rating arus kontinyu 100A, dan kawat
lebur disesuaikan dengan kapasitas trafo.
 Arrester 24 kV, 5 kA.
 Pentanahan, terpisah antara pentanahan arrester dan pentanahan trafo.
 Pemutus daya tegangan rendah (LVCB) untuk trafo sampai dengan dengan 50 kVA.

b. Standarisasi Konstruksi Jaringan Distribusi Tegangan Menengah


a. Konstruksi TM-1.
Konstruksi TM-1 merupakan tiang tumpu yang digunakan untuk rute jaringan lurus, dengan satu traves
(cross-arm) dan menggunakan tiga buah isolator jenis pin insulator dan tidak memakai treck skoor (guy
wire). Penggunaan kostruksi TM-1 ini hanya dapat dilakukan pada sudut 170°-180°.
Konstruksi TM-1 ini termasuk tiang penyangga yang merupakan tiang yang dipasang pada saluran listrik
yang lurus dan hanya berfungsi sebagai penyangga kawat penghantar dimana gaya yang ditanggung oleh
tiang adalah gaya karena beban kawat.

Gambar 48.Konstruksi Tiang Penyangga TM-1 SUTM


Konstruksi TM-1D. Pada dasarnya konstruksi TM-1D sama dengan TM-1, bedanya TM-1D digunakan untuk
saluran ganda (double sircuit), dengan dua traves (cross-arm) dan enam buah isolator jenis pin insulator.
Satu taves diletakkan pada puncak tiang, sedangkan traves yang lain diletakkan dibawahnya.
b. Konstruksi TM-2.
Konstruksi TM-2. Konstruksi TM-2 digunakan untuk tiang tikungan dengan sudut 150° –170°,
menggunakan double traves dan double isolator. Karena tiang sudut maka konstruksi TM-2 mempunyai
treck skoor.
Gambar 49.
Konstruksi Tiang Sudut TM-2 SUTM
Konstruksi TM-2 ini termasuk tiang sudut, yang merupakan tiang yang dipasang pada saluran listrik,
dimana pada tiang tersebut arah penghantar membelok dan arah gaya tarikan kawat horizontal.
Konstruksi TM-2D. Konstruksi TM-2D mempunyai konstruksi sama dengan TM-2, bedanya TM-2D
digunakan untuk saluran ganda (double sirkuit), dan menggunakan double treck schoor yang diletakkan
dibawah masing-masing traves.
c. Konstruksi TM-3.
Konstruksi TM-3 terpasang pada konstruksi tiang lurus, mempunyai double traves. Isolator yang
digunakan enam buah isolator jenis suspention insulator dan tiga buah isolator jenis pin insulator.
Konstruksi TM-3 ini tidak memakai treck schoor.

Gambar 50.
Konstruksi Tiang Penegang TM-3 SUTM
Konstruksi TM-3D. Konstruksi TM-3D sama dengan konstruksi TM-3, bedanya TM-3D digunakan untuk
saluran ganda (double sirkuit), empat buah traves, 12 isolator jenis suspension insulator, dan 6 isolator
jenis pin insulator.
d. Konstruksi TM-4.
Konstruksi TM-4. Konstruksi TM-4 digunakan pada konstruksi tiang TM akhir. Mempunyai double traves,
dengan tiga buah isolator jenis suspension insulator dan memakai treck schoor.
Gambar 51.
Konstruksi Tiang Akhir TM-4 SUTM
Konstruksi TM-4 ini termasuk tiang awal atau tiang akhir yang merupakan tiang yang dipasang pada
permulaan atau pada akhir penerikan kawat penghantar, dimana gaya tarikan kawat pekerja terhadap
tiang dari satu arah. Konstruksi TM-4D. Konstruksi TM-4D sama dengan konstruksi TM-4, bedanya TM-4D
mempunyai double sirkuit dengan double treck schoor

PENTANAHAN JTM
1. Pentanahan melalui tahanan (resistance grounding)
Sistem pengetanahan melalui tahanan pernah diterapkan pada sistem 230 kV. Sistem ini mempunyai
tegangan lebih transien yang disebabkan oleh pemutusan relatif rendah. Maksud pengetanahan ini adalah
untuk membatasi arus gangguan ke tanah antara 10% sampai 25% dari arus gangguan 3 fasa.
Batas yang paling bawah adalah batas minimum untuk dapat bekerjanya rele gangguan tanah, sedangkan
batas atas adalah untuk membatasi banyaknya panas yang hilang pada waktu terjadi gangguan. Sistem
pengetanahan melalui tahanan ini sekarang jarang digunakan pada jaringan transmisi tetapi dipakai pada
sistem distribusi, sebagai gantinya adalah penggunaan reactor.
Untuk membatasi arus gangguan tanah, alat pembatas arus dipasang antara titik netral dengan tanah.
Salah satu dari pembatas arus ini adalah tahanan dan tahanan ada dua yaitu metalik dan cair (liquid).
Besar dan hubungan fasa arus gangguan Iftg tergantung pada-pada harga reaktansi urutan nol dari sumber
daya dan harga tahanan dan pentanahan.
Arus gangguan dapat dipecah menjadi dua komponen yaitu yang safasa dengan tengangan ke netral dari
fasa terganggu yang lain ke tinggalan 900
Komponen yang ketinggalan dari arus gangguan Iftg dalam, fasanya akan berlawanan arah dengan arus
kapasitip Ictg pada lokasi gangguan.
Dengan pemelihan harga tahanan pentanahan yang sesuai, komponen yang logging dari arua gangguan
dapat dibuat sama atau lebih besar dari arus kapasitif sehingga tidak ada oscilasi transien karena dapat
terjadi busur api.
Gambar 1. Fasa Tegangan Tanah pada Pentanahan Netral dengan Tahanan
Jika harga tahanan pentanahan tinggi sehingga komponen logging dari arus gangguan kurang dari arus
kasitif, maka kondisi sistem akan mendekati sistem netral yang tidak ditanahkan dengan resiko
terjadinya tegangan lebih.
Pentanahan titik netral melalui tahanan (resistance grounding) mempunyai keuntungan dan kerugian
yaitu :
Keuntungan :
• Besar arus gangguan tanah dapat diperkecil
• Bahaya gradient voltage lebih kecil karena arus gangguan tanah kecil.
• Mengurangi kerusakan peralatan listrik akibat arus gangguan yang melaluinya.
Kerugian :
• Timbulnya rugi-rugi daya pada tahanan pentanahan selama terjadinya gangguan fasa ke tanah.
• Karena arus gangguan ke tanah relatif kecil, kepekaan rele pengaman menjadi berkurang dan lokasi
gangguan tidak cepat diketahui.
2. Pentanahan melalui reaktor (reactor grounding)
Reaktor pengetanahan ini digunakan bila trafo daya tidak cukup membatasi arus gangguan tanah.
Pengetanahan ini digunakan untuk memenuhi persyaratan dari sistem yang diketanahkan dengan
pengetanahan ini, besarnya arus gangguan ketanah di atas 25% dari arus gangguan 3 fasa
Keuntungannya dengan mengetanahkan trafo daya adalah untuk menekan tegangan lebih transien,
sehingga trafo daya dapat menggunakan isolasi dan tipe arrester yang lebih kecil dan mengurangi
penggunaan metode pengetanahan dengan reaktor, terutama untuk sistem-sistem di atas 115 kV.
Suatu sistem dapat dikatakan ditanahkan reatansi bila suatu impendansi yang lebih induktif, disiipkan
dalam titik netral trafo (generator) dengan tanah.
Metode ini mempunyai keuntungan dari pentanahan tahanan :
a. Untuk arus gangguan tanah maksimum peralatan reaktor lebih kecil dari resistor.
b. Energi yang disisipkan dalam reaktor lebih kecil.
Dengan ketiga tegangan fasa yang dipasang seimbang arus dari masing-masing impedansi akan menjadi
sama dan saling berbeda fasa 1200 satu sama lainnya. Secara konsekuen tidak ada perbedaan pontensial
antara titik netral dari suplai trafo tenaga.
3. Pentanahan efektif (effective grounding)
Pentanahan netral yang sederhana dimana hubungan langsung dibuat antara netral dengan tanah
Gambar 2. Gangguan fasa T ke tanah pada pentanahan netral langsung
Jika tegangan seimbang, juga kapasitasi fasa ke tanah sama, maka arus-arus kapasitansi fasa tanah
akanmenjadi sama dan saling berbeda fasa 1200satu sama lainnya. Titik netral dari impedansi adalah pada
potensial tanah dan tidak ada arus yang mengalir antara netral impedansi terhadap netral trafo tenaga.
4. Pentanahan tanpa impedansi/langsung (solid grounding)
Pentanahan tanpa Impedansi atau langsung. Pentanahan ini ialah apabila titik
netral trafo kita hubungkan langsung ketanah, pada system ini bila terjadi gangguan kawat ketanah akan
mengakibatkan terganggunya kawat dan gangguan ini harus diisolasi dengan memutus Pemutus daya (
PMT / CB ). Tujuannya untuk mentanahkan titik netral secara langsung dan membatasi kenaikan tegangan
dari fasa yang tidak terganggu. digunakan pada sistem dengan tegangan 20 kV. Sistem ini mengandalkan
nilai besarnya tahanan pentanahan (makin kecil tahanan pentanahan makin baik) yang dipengaruhi oleh
bahan dari elektroda pentanahannya

Gambar 3. Pentanahan Netral Langsung (Solid)


Kemudian selain keempat system pentanahan tersebut ada pula system pentanahan
lain yaitu

Gambar 4. Sistem netral tidak dketanahkan


Arus Ictg yang mengalir dari fasa yang tergangu ketanah, yang mana mendahului tegangan fasa aslinya
kenetral dengan sudut 900. Akan terjadi busur api (arcing) pada titik ganguan karena induktansi dan
kapasitansi dari system. Tengangan fasa yang sehat akan naik menjadi tegangan line (fasa-fasa) atau 3
kali tegangan fasa, bahkan sampai 3 kali tegangan fasa.
Pada sistem ini bila terjadi gangguan phasa ke tanah akan selalu mengakibatkan terganggunya saluran
(line outage), yaitu gangguan harus di isolir dengan membuka pemutus daya. Salah satu tujuan
pentanahan titik netral secara langsung adalah untuk membatasi tegangan dari fasa-fasa yang tidak
terganggu bila terjadi gangguan fasa ke tanah.
Keuntungan :
 Tegangan lebih pada phasa-phasa yang tidak terganggu relatif kecil
 Kerja pemutus daya untuk melokalisir lokasi gangguan dapat dipermudah, sehingga letak gangguan
cepat diketahui
 Sederhana dan murah dari segi pemasangan
Kerugian :
 Setiap gangguan phasa ke tanah selalu mengakibatkan terputusnya daya
 Arus gangguan ke tanah besar, sehingga akan dapat membahayakan makhluk hidup didekatnya dan
kerusakan peralatan listrik yang dilaluinya

SWITCHING & KONSTRUKSI JTR

4. Koordinasi pengaman JTR

Koordinasi pengaman JTM

5. PEMBUMIAN JTR
Pembumian Pada Jaringan Distribusi Jaringan Tegangan Rendah
1. Ketentuan-ketentuan tentang Pembumian :
a. Menurut PUIL, semua bagian konduktif terbuka pada suatu instalasi
harus dibumikan.
b. Menurut PUIL, apabila jalur yang sama dipasang SUTM dan SUTR, maka
pada setiap 3 tiang harus dipasang penghantar pembumian yang
dihubungkan dengan penghantar netral.
c. Menurut PUIL, nilai resistansi pembumian setiap 200 meter lintasan ( 5
gawang) tidak boleh melebihi dari 10 Ohm.
d. Petunjuk praktis semua nilai resistansi pembumian maksimum sebesar 5
Ohm.
e. Berdasarkan kekuatan mekanis luas penampang minimum penghantar
pembumian adalah sebesar 50 mm2 dan terbuat dari tembaga.
f. Sambungan penghantar bumi dengan elektroda bumi harus kuat secara
mekanis/ elektris dan mudah dibuka untuk dilakukan pengujian
resistansipembumian. Klem pada elektroda pipa harus memakai ukuran
minimal 10 Ohm dan dilindungi dari kemungkinan korosi.
g. Penghantar bumi harus dilindungi secara mekanis kimiawi.
Catatan : - Biasanya dimasukkan dalam pipa ½ inchi, setinggi 2,5 mm2.
-Terminal klem ditanam 20 cm dibawah permukaan
tanah.
h. Elektroda batang dimasukkan tegak lurus ke dalam tanah. Panjangnya
disesuaikan dengan kebutuhan dengan memperhatikan resistansi tanah :
Untuk resistansi tanah P1 = 100 Ω meter :
Panjang : 1m 2m 3m 5m
Nilai Ω : 70. 40. 3 0. 20.
Untuk resistansi tanah P tidak sama dengan P, nilai pentanahan dikalikan P
. P1
Catatan :
- Resistansi pembumian total dari suatu instalasi pembumian belum dapat
ditentukan dari hasil pengukuran tiap elektroda secara matematis.
- Untuk beberapa elektroda yang di paralel harus dihubung fisik/ paralel
sebelum di test.
2. Pembumian pada PHB - TR (Rak TR)
Prosedur instalasi pembumia PHB –TR / Rak TR di gardu distribusi harus
memperhatikan jenis sistem pembumian yang dianut (TT, TN, IT).
a. Bila rel netral dipakai sebagai rel proteksi (sistem TNC) rel proteksi harus
dibumikan.
b. Bila rel netral terpisah dari rel proteksi, maka hanya rel proteksi yang
harus dibumikan.
c. Bila saklar masuk dilengkapi dengan saklar arus sisa, maka rel netral tidak
boleh dibumikan.
3. Penghantar Pembumian dan Elektroda bumi
a. Elektroda Bumi adalah penghantar yang ditanam dalam bumi dan
membuat kontak langsung dengan bumi.
b. Penghantar Bumi yang tidak berisolasi ditanam dalam bumi dianggap
sebagai bagian elektroda bumi.
c. Umumnya elektroda bumi yang dipakai pada jaringan saluran udara
tegangan rendah / menengah memakai elektroda barang.
d. Sebelum dipasang harus diteliti dulu berapa resitance jenis tanah.

PEMBUMIAN JTM