Anda di halaman 1dari 9

PEMERINTAH KABUPATEN KOTABARU

DINAS KESEHATAN
PUSKESMAS MEKARPURA
JL. Tj. Serdang – Sungai Pasir Km. 1,5 Desa Salino
Kec. PL Tengah, Kotabaru – Kalimantan Selatan 72151

NOTULEN

Sidang/Rapat : Rapat Lokakarya Mini Bulanan


Hari/ Tanggal : Kamis / 28 Juni 2018
Surat Undangan : Nomor : 445 / / PKM.MKP
Pukul Sidang/ : 12.00 WITA
Rapat
Acara : 1. Pembukaan Oleh Kepala Puskesmas
2. Pengarahan Kepala Puskesmas
3. Pemaparan dan sosialisasi pelatihan penyediaan obat
4. Rapat menganalisis pencapaian indicator kegiatan UKM
5. Membahas hasil identifikasi dan sosialisasi inovatif kepada
pemegang program puskesmas.
6. Pembukaan oleh penanggung jawab UKM
7. Pemaparan hasil kaji banding yang sudah dilaksanakan
8. Pelaksanaan kegiatan sesudah kaji banding
9. Monitoring terhadap pelaksanaan kegiatan
10. Mengevaluasi dan menganalisis kinerja pelaksanaan kegiatan
program UKM puskesmas

Pimpinan Sidang/Rapat
Ketua : Hj. Idawati, S.S.T.Keb
Sekretaris : Desy Yanu Ariani, AMG
Pencatat : Lisda Norliyana, A.Md.Kep
Peserta Sidang/ : a. Kepala Puskesmas Mekarpura
Rapat b. Ka. Sub . Bag TU
c. Penanggung Jawab Upaya kegiatan
d. Pemegang program
e. Petugas Poskesdes
Kegiatan Sidang/ :
Rapat
Uraian jalannya rapat :
- Desy : Assalamualaikum wr.Wb. Marilah kita panjatkan rasa syukur kita kepada Tuhan
Yang Maha Esa yang telah memberikan kita kesehatan sehingga pada hari ini kita
dapat bertemu dan bersilaturahmi dalam kegiatan rutin kita yaitu lokakarya mini bulanan
yang kedua, serta kita haturkan sholawat dan salam kepada junjungan kita Nabi
Muhammad SAW. Baiklah rekan-rekan sekalian marilah kita
mulai kegiatan ini dengan pemaparan materi dari Risnawati,A.Md.Far, kepada ibu risna
saya persilahkan
Pemaparan dan sosialisasi pelatihan penyediaan obat
“Risnawati selaku ketua ruang farmasi menjelaskan tentang Penyediaan obat bagi
petugas yang diberikan kewenangan menyediakan obat. Risnawati juga
memberitahukan siapa saja yang berhak menyediakan obat dan bagaimana cara
pemberian obat kepada pasien.
Hj. Rahma Dewi bertanya “siapa saja petugas kesehatan yang boleh menyediakan obat
? Risnawati menjawab“ selain asisten apoteker yang ada di puskesmas tenaga
kesehatan seperti perawat dan bidan yang sudah memiliki kemampuan dalam
farmakologi bisa memberikan obat kepada pasien.
Hasbi : “misalkan petugas kesehatan yang lain boleh memberikan obat. Obat apa saja
yang perlu dijelaskan kepada pasien?
Risnawati : “ misalkan tidak ada petugas farmasi dan tenaga kesehatan lainnya yang
membantu dalam melayani pasien maka petugas tersebut cukup menjelaskan cara
pemakaian obat, khasiat obat dan lama pemakaian obat dan dituliskan dalam etiket
obat tersebut agar pasien paham dan bisa mengingatnya.
Yang diberi kewenangan menyediakan obat untuk membantu petugas farmasi ketika
tidak berada ditempat agar dapat digantikan oleh petugas lain seperti perawat dan
bidan dengan memperhatikan aturan dalam memberikan obat dengan tujuan agar
pelayanan di ruang farmasi tetap berjalan dengan baik.
Pemaparan penanggung jawab UKM tentang analisis pencapaian indicator kegiatan
UKM, menganalisis pencapaian indicator kegiatan UKM, menindaklanjuti dan
mendokumentasikan hasil analisis dan tindak lanjut tersebut.
Hj. Rahma Dewi S.ST
Kita masuk ke program KIA dulu indicator KIA adalah:
1. Ketersediaan tenaga target 100%
2. Cakupan K1 85%
3. Cakupan K4 80%
4. Cakupan pertolongan persalinan dan nakes 85%
5. Cakupan bumil resti yang dirujuk 80%
6. Cakupan KN1 90%
7. Cakupan deteksi resti oleh masyarakat 80%
8. Cakupan Kunjungan bayi 80%
9. Cakupan pelayanan nifas 90%
10. Cakupan peserta KB Aktif 75%
11. Cakupan BBLR ditangani 100%
12. Cakupan penjaringan kesehatan SD 70%
13. Cakupan bumil dengan komplikasi kebidanan yang ditangani 100%
14. Cakupan nenonatus dengan komplikasi yang ditangani 90%
15. Cakupan pelayanan balita 90%
16. Cakupan ASI ekslusif 44%
Saya minta capaian terakhir di desember 2017 kepada pemegang program KIA sambil
menganalisa.
a. Fetty Wijaya. S.ST
1. Ketersediaan tenaga target tercapai 100% (tidak ada masalah)
2. Cakupan K1 92%, target tercapai
3. Cakupan K4 90%, target tercapai
4. Cakupan pertolongan persalinan oleh nakes 82% target tercapai
5. Cakupan bumil resti yang ditunjuk 78,7 target tercapai.
6. Cakupan KN1 90% target tercaoai
7. Cakupan deteksi resti oleh masyarakat 19%, masih rendah
8. Cakupan kunjungan bayi 97% , target tercapai
9. Cakupan pelayanan nifas 98% target tercapai
10. Cakupan pesrta KB aktif 73,5 tercapai
11. Cakupan BBLR ditangani 100%, target tercapai
12. Cakupan penjaringan kesehatan siswa SD 95,9%, target tercapai.
13. Cakupan bumil dengan komplikasi yang ditangani 69,4 target belum tercapai
14. Cakupan neonatus dengan komplikasi yang ditangani 23,3% target belum
tercapai
15. Cakupan pelayanan balita 84%, target tercapai
16. Cakupan ASI ekslusif 27,6 target belum tercapai
Hj. Rahma Dewi, S.ST
Target dan capaian untuk KIA sudah kita dapatkan, yang masih belum tercapai
adalah:
1. Deteksi resiko tinggi oleh masyarakat
2. Cakupan ASI ekslusif
Kita analisis penyebabnya, kita masuk pada masalah yang pertama, kira-kira apa
penyebabnya masih rendah angka ASI ekslusif
Fetty Wijaya, S.ST
Penyebabnya menurut saya adalah:
1. Kurangnya pengetahuan ibu tentang pentingnya ASI ekslusif
2. Keluarga kurang mendukung dalam memberikan ASI.
3. Masih gencarnya peredaran susu formula.
4. Ibu-ibu yang bekerja sehingga tidak bisa memberikan ASI ekslusif
Hj. Rahma Dewi, S.ST
Ada yang ingin menambahkan lagikah tantang rencana tindak lanjut untuk masalah kita
tentang rendahnya ASI ekslusif.
Gusma. S.ST
Bisa dengan mensosialisasikan adanya pojok-pojok laksani di tempat-tempat umum.
Hj. Rahma Dewi. S.ST
Masalah selanjutnya adalah rendahnya deteksi resiko tinggi oleh masyarakat, kira-kira apa
penyebabnya kita analisis.
Fetty Wijaya. S.ST
Penyebab :
1. Kurangnya pengetahuan resiko tinggi ibu hamil
2. Rendahnya tingkat pendidikan
3. Faktor ekonomi masyarakat yang masih rendah
4. Cara orang menyikapi kehamilan dini dianggap biasa saja
5. Pasangan muda masih kurang kesadaran untuk menunda kehamilan (ber KB)
6. Masih kurang penyuluhan tentang deteksi resti oleh masyarakat
7. Masyarakat telah percaya dengan DK. Itu saya menurut saya penyebabnya
Hj. Rahma Dewi, S.ST :
- Kita langsung masuk kerencana tindak lanjutnya.
Raihanah, Amd.Keb :
- Perlu disosialisasikan tentang resti kepada masyarakat
- Memberikan sosialisasi cara mengasuh anak agar terhindar dari kehamilan dini
- Lebih mensosialisasikan tentang KB
Hj. RahmaDewi, S.ST :
- Lanjut kemasalah selanjutnya program gizi yang pertama rendahnya cakupan N/D.
Apa kira-kira penyebabnya :
Normayanti, S.Gz :
- Penyebabnya adalah :
1. Kurangnya pengetahuan ibu tentang pemberi makanan akses umur
2. Balita tidak rutin dating keposyandu sehingga tidak bias ditentukan hasil
penimbangan hasil balita tersebut
Hj. Rahma Dewi, S.ST
- Rencana tindak lanjutnya menurut saya :
1. Petugas harus lebih rajin melakukan penyuluhan tentang pemberian makan sesuai
umur
2. Petugas kesehatan harus lebih mensosialisasikan lagi tentang pentingnya
pemantauan pertumbuhan anak
Bagaimana dengan masalah kedua yaitu masih rendahnya angka D/S. Kita analisis
penyebabnya.
Desi Yanu Ariany, AMG
Rata-rata penyebab D/S adalah :
1. Pengetahuan ibu yang kurang tentang pentingnya membantu pertumbuhan anak
setiap hari
2. Dan rencana tindak lanjutnya adalah menyediakan arena bermain di posyandu-
posyandu
Hj. Rahma Dewi, S.ST :
Untuk promkes setelah di analisa ternyata masih banyak masyarakat menjadi perokok
aktif, penyebabnya apa ya kira-kira ?
Mi’ratul Jannah, SKM :
1. Masyarakat sudah terbiasa merokok sehingga menjadi kebutuhan dan
ketergantungan
2. Dilingkungan sekitar menganggap rokok sebagai lambang kejantanan.
Hj. Rahma Dewi, S.ST :
- Ada yang ingin menambahkan lagikah ?
M. Ikhwan, AMK :
- Menurut saya banyaknya iklan rokok juga berpengaruh
Hj. Rahma Dewi, S.ST :
- Bagaimana rencana tindak lanjut kita untuk ini ?
Rezky Hidayat, Amd.KL :
- Menurut saya kita harus lebih meningkatkan lagi koordinasi idengan lintas sektor
mengenai bahaya merokok
- Sosialisasi kepada masyarakat untuk menyediakan pojok atau ruang merokok.
Hj. Rahma Dewi, S.ST :
- Merokok memang paling sulit untuk dihentikan. Mungkin ada solusi lagi teman-
teman ?
Nurul Hikmah, Amd.AK :
- Bagaimana dengan kita mensosialisasikan tentang tanaman yang menyerap racun
dari asap rokok
Hj. Rahma Dewi, S.ST :
- Rencananya itu adalah inovasi dari Pokja UKM yaitu GERAK (GerakanAsapRokok)
Hj. Rahma Dewi, S.ST :
- Kita lanjut membahas capaian masyarakat yang mempunyai jaminan kesehatan
masih rendah, saya minta dari pemegang BPJS dulu, kira-kira apa penyebabnya :
M. Ikhwan, AMK :
- Penyebabnya menurut saya yang pertama adalah rendahnya tingkat pengetahuan
tentang pentingnya JKN, tingkat ekonomi juga mempengaruhi dan masih banyak
masyarakat yang tidak mengetahui bagaimana persyaratan menjadi anggota JKN.
Fetty Wijaya, S.ST :
- Jadi tindak lanjutnya menurut saya adalah harus sosialisasi tentang JKN dan
persyaratannya.
- Masyarakat yang tidak mampu didata dan diusulkan untuk menjadi anggota JKN
yang dibiayai oleh pemerintah.
Hj. Rahma Dewi, S.ST :
- Ada yang ingin menambahkan ?
Riza Umami, S.ST :
- Membuka pelayanan bagi remaja mengenai kesehatan reproduksi atau aspek
psikologis yang lain.
Hj. RahmaDewi, S.ST :
- Capaian selanjutnya yang masih rendah adalah cakupan jamban sehat di
lingkungan kita, saya pantau dulu apa sebabnya dari program kps lingkungan.
Rizky Hidayat, Amd.KL :
- Penyebabnya menurut saya adalah masyarakat masih menganggap jamban tidak
penting, masyarakat banyak yang masih menggunakan jamban umum ataupun
menumpang di tempat tetangga.
Mi’ratul Jannah, SKM :
- Faktor ekonomi yang rendah dan rendahnya tingkat pendidikan juga
mempengaruhi.
Hj. Rahma Dewi, S.ST :
- Bagaimana rencana tindak lanjut kita :
Mi’ratul Jannah, SKM :
- Tim kami berencana untuk melakukan sosialisasi tentang pentingnya jamban,
kerjasama dengan lintas sektor untuk pembangunan jamban sehat.
Hj. RahmaDewi, S.ST :
- Ok, mudah-mudahan capaian tentang jamban bias lebih cepat kita tingkatkan.
Hj. Rahma Dewi, S.ST :
- Capaian angka TB yang masih tinggi bagaimana dari pemegang program P2M.
Nurul Hikmah, Amd.AK :
- Menurut saya penyebabnya adalah masih kurangnya pengetahuan masyarakat
tentang penyakit TB.
- Masih kurangnya kesadaran masyarakat yang ada gejala TB paru untuk
memeriksakan diri.
Dedy Saputra, Amd.KL :
- Rumahnya saya lihat masih banyak yang tidak mempunyai jendela dan ventilasi,
jarak yang jauh juga membuat masyarakat malas berobat.
Nurul Hikmah, Amd.AK :
- Keluarga kurang mendukung dalam proses penyembuhan sehingga masih banyak
penderita TB mungkin.
Hj. Rahma Dewi, S.ST :
- Bagaimana tindak lanjut kita selanjutnya ?
Nurul Hikmah, Amd.AK :
- Rencana kami adalah :
1. Sosialisasi tentang TB Paru
2. Lebih meningkatkan peran keluarga sebagai PMO
3. Sweeping TB
4. Petugas lebih berperan aktif dalam masa penyembuhan
Hj. Rahma Dewi, S.ST :
- Alhamdulillah analisa pencapaian indikator kegiatan UKM dan menindak lanjuti
sudah kita laksanakan. Terimakasih atas kehadirannya. Wassalam Wr.Wb.
- Hj. Rahma Dewi,S.ST : Kepala puskesmas dan anggota UKM lain nya di
sampaikan bahwa inovasi yang dilakukan untuk meningkatkan indikator program
UKM adalah SMS / Telpon Jablay ( Jadwal Minum Obat Bapak Ibu Ay ), Gerakan
Jump Squat ( Gerakan Jamban Sehat, ,Pojok Jazzy, pojok jajanan sendiri kaya gizi,
gerakan kena dihati )
- Kepala Puskesmas : Ohh.. begitu, jadi bagaimana Bu Dewi? Kapan Inovasi ini
mulai kita jalankan?
- Hj. Rahma Dewi,S.ST : Kalo bisa 2-3 hari kita coba jalankan dan evaluasi tiap 3 / 6
bulan sehingga kita mengetahui perkembangan dan tindak lanjutnya
- Kepala Puskesmas :Oke saya minta kepada seluruh pemegang program untuk
menjalankannya
- Hj. Rahma Dewi,S.ST :Terimakasih dan saya tutup rapat hari ini dengan ucapan
Alhamdulillah
- Hj. Rahma Dewi,S.ST : Bagaimana teman-teman pemegang program
a. JKN
b. TB Paru
c. Kesling
d. KIA / KB
e. Gizi
f. PTM
Dari hasil identifikasi peluang inovasi yang saya sampaikan, apakah teman-teman
ada yang perlu dibahas?
- Pemegang Program JKN : Inovasi apa yang perlu kita jalankan untuk meningkatkan
masyarakat mempunyai JKN ?
- Hj. Rahma Dewi,S.ST : Untuk sementara ini kita tingkatkan aja sosialisasi tentang
manfaat JKN
- Hj. Rahma Dewi,S.ST : Untuk mengatasi masalah TB Paru teman-teman
pemegang program kita menerapkan sms dan telepon jablay ( jadwal minum
obatbapaibu ay ) , untuk mengatasi jamban kita menerapkan gerakan Jump Squat (
gerakan jamban sehat setiap jumat ).
Bagaimana teman-teman ada yang perlu dibicarakan dan di diskusikan?
- Pemegang Program : Kiranya sudah jelas aja semuanya, tinggal kita galakan dan
support sehingga tujuan yang kita inginkan tercapai.
- Hj. Rahma Dewi,S.ST : oke,,, Marilah kita tutup acara dengan mengucapkan
Alhamdulillah.
- Hj. RahmaDewi, S.ST : Bagaimana pemegang program KIA, apakah ada
indikator yang lain yang ingin ditambahkan lagi selain isi indikator yang di
kumpulkan kemaren, yaitu
1. Ketersediaan tenaga bidan di desa
2. Ketersediaan tenaga bidan di puskesmas
3. Cakupan K1
4. Cakupan K4
5. Cakupan pertolongan persalinan oleh nakes
6. Bumil risti yang di rujuk
7. Cakupan KN 1
8. Cakupan deteksi resti oleh masyarakat
9. Cakupan kunjungan bayi
10. Cakupan pelayanan nifas (KF3)
11. Cakupan peserta KB aktif
12. Cakupan BBLR yang ditangani
13. Cakupan penjaringan kesehatan SD
14. Cakupan Bumil dengan komplikasi
15. Cakupan neonates dengan komplikasi
16. Cakupan pelayanan balita
17. Cakupan ASI Ekslusif
- Fetty Wijaya, S.ST ( Pemegang program KIA ) : Saya rasa itu aja bu, untuk
indikator program KIA, itu sudah mencakup semuanya.
- Hj. Rahma Dewi, S.ST : Ok, kalau gizi dan program yang lain bagaimana?
- Mi’ratul Jannah,SKM : Yang untuk data rumah ber PHBS yang agak susah di
ukur pada desa-desa tertentu, tapi rencana sambil kita PIS-PK, kami akan mendata
kembali rumah yang ber PHBS.
- Hj. Rahma Dewi, S.ST : Nanti kami tunggu hasil pendataannya, program yang
lain bagaimana, sudah fix kah data indikator program lain? Kalau sudah fix saya
tutup rapat hari ini. Wassalam
Setelah kegiatan kaji banding apa saja yang sudah di dapatkan? Tolong bagi yang
mengikuti bisa memaparkan hasilnya?
Raihanah Amd. Keb :
Kegiatan kaji banding yang sudah dilaksanakan adalah untuk membandingkan hasil
pencapaian kinerja kita dengan Puskesmas yang dikaji banding
Saat melakukan kaji banding saya membawa instrument kaji banding yang sudah
disiapkan pertama saya membandingkan kinerja program KIA yang lebih rendah
dari puskesmas haur gading dikarenakan factor yang membuat tercapai target
adalah peran serta masyarakat khususnya kader yang aktif.
Dalam UKM dalam angka lansia yang memeriksakan diri juga lebih tinggi dari kita
dikarenakan puskesmas haur gading mereka tidak mempunyai target, namun
sosialisasi jadwal kegiatan intens terus dilaksanakan.

Mekarpura, 28 Juni 2018


Plt. Kepala Puskesmas mekarpura

Hj. Idawati, S.S.T.Keb


NIP. 19700816 199101 2 002
Penata Muda Tk.I ( III/b )