Anda di halaman 1dari 19

ASUHAN KEPERAWATAN PADA BAYI

BARU LAHIR DENGAN LABIOSKIZIS


Dosen Pembimbing: Dra. Ni Ketut Mendri, S.Kep., Ns., M.Sc

Disusun Oleh:

Roshinta Kumala Dewi P07120116006


Alfiana Zulfida P07120116036

DIII KEPERAWATAN REG A

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN


KESEHATAN YOGYAKARTA
TAHUN AJARAN 2017/218
LAPORAN PENDAHULUAN
PNEUMONIA
A. Pengertian
Pneumonia adalah suatu proses peradangan dimana terdapat konsolidasi yang
disebabkan pengisian rongga alveoli oleh eksudat. Pertukaran gas berlangsung pada
daerah yang mengalami konsolidasi dan darah dialirkan kesekitar alveoli yang tidak
berfungsi. Hipoksemia dapat terjadi tergantung banyaknya jaringan paru-paru yang
sakit ( Doenges & Moorhouse, 2000 : 67 ). Pneumonia adalah peradangan paru di mana
asinus tensi dengan cairan, dengan atau tanpa disertai infiltrasi sel radang kedalam
dinding alveol dan rongga interstisium (Hood Alsegof, 1995, 20).

B. Etiologi dan tanda gejala


Jenis Etiologi Faktor Resiko Tanda & Gejala
pneumonia
Sindroma · Streptococcus · Sicklo cell diseases · Onset
tipikal pneumonia tanpa
· Hipogammaglobulinemia mendadak
penyulit · Multipel mieloma dingin,
· Streptococcus menggigil,
pneumonia demam (39-
dengan penyulit 400C), Nyeri
dada pleuritis
· Batuk
produktif,
sputum hijau dan
puluren serta
mungkin
mengandung
bercak darah.
· Terkadang
hidung
kemerahan.
· Reaksi
interkostal,
penggunaan otot
aksesorius, dan
bisa timbul
sianosis.
Sindroma · Haemophilus · Usia tua · Onset
atipik influenzae · COPD berharap dalam 3
· Stapihilococcus
· Flu hari malaise,
aureus § Anak- anak nyeri kepala,
§ Mycoplasma § Dewasa muda nyeri
pneumonia tenggorokan, dan
§ Virus patogen batuk kering.
· Nyeri dada
karena batuk
Aspirasi · Aspirasi basil
· Alkoholismedebilitas · Pada anaerob
gram negatif,
· Perawatan (misalnya campuran,
klebsiela, infeksi nosokimial) mulanya onset
pseudomonas, · Gangguan kesadaran perlahan
enterobacter, · Demam
echerchia proteus, rendah, batuk
basil gram positif · Foto dada
starfilococcus terlihat jaringan
· Aspirasi asam intersitial
lambung tergantung
bagian yang
parunya yang
terkena
· Infeksi gram
negatif atau
positif
· Gambaran
klinik mungkin
sama dengan
pneumonia klasik
· Disters
respirasi
mendadak,
dipsnea, sianosis,
batuk,
hipoksemia dan
diikuti tanda
infeksi sekunder
Hematogen · Terjadi bila
· Kateter IV yang
· Gejala
kuman patogen terinfeksi pulmonal timbul
menyebar ke paru-
· Endokarditis minimal di
paru melalui
· Drug abuse banding gejala
aliran darah,
· Abses intraabdomen septikemi
seperti pada
· Pielonefritis · Batuk
kuman · Empiema kandung nonproduktif dan
stafilococcus, E. kemih nyeri pleuritik
Colli, anaerob sama seperti
enteritik yang terjadi pada
emboli paru
Menurut Misnadiarly (2008), tanda dan gejala pneumonia secara umum dapat
dibagi menjadi:
1. Manifestasi non spesifik infeksi dan toksisitas berupa demam,sakit kepala, iritabel,
gelisah, malaise, nafsu makan kurang, keluhan gastrointestinal.
2. Gejala umum: demam, sesak nafas, nadi berdenyut lebih cepat, dan dahak berwarna
kehijauan seperti karet.
3. Tanda pneumonia berupa retraksi ( penarikan dinding dada bagian bawah ke dalam
saat bernafas bersama dengan peningkatan frekuensi nafas), perkusi pekak, fremitus
melemah, suara nafas melemah, dan ronki
4. Tanda efusi pleura atau empiema berupa gerak ekskursi dada tertinggal di daerah
efusi, perkusi pekak, fremitus melemah, suara nafas melemah, suara nafas tubuler
tepat di atas batas cairan, friction rub, nyeri dada karena iritasi pleura (nyeri
berkurang apabila efusi bertambah dan berubah menjadi nyeri tumpul), kuku kuduk
/ meningismus( iritasi meningen tanpa inflamasi) bila terdapat iritasi pleura atas,
nyeri abdomen( kadang terjadi bila iritasi mengenai difragma pada pneumonia
lobus kanan bawah).
5. Tanda infeksi intrapulmonal

C. Klasifikasi
Klasifikasi menurut Misnadiarly (2008) :
1. Berdasarkan ciri radiologis dan gejala klinis, dibagi atas :
a. Pneumonia tipikal, bercirikan tanda-tanda pneumonia lobaris dengan opasitas
lobus atau lobularis.
b. Pneumonia atipikal, ditandai gangguan respirasi yang meningkat lambat dengan
gambaran infiltrat paru bilateral yang difus.
2. Berdasarkan faktor lingkungan :
a. Pneumonia komunitas
b. Pneumonia nosokomial
c. Pneumonia rekurens
d. Pneumonia aspirasi
e. Pneumonia pada gangguan imun
f. Pneumonia hipostatik
3. Berdasarkan sindrom klinis :
a. Pneumonia bakterial berupa : pneumonia bakterial tipe tipikal yang
terutama mengenai parenkim paru dalam bentuk bronkopneumonia dan
pneumonia lobar serta pneumonia bakterial tipe campuran atipikal yaitu
perjalanan penyakit ringan dan jarang disertai konsolidasi paru.
b. Pneumonia non bakterial, dikenal pneumonia atipikal yang disebabkan
Mycoplasma, Chlamydia pneumoniae atau Legionella.
4. Klasifikasi berdasarkan Reeves (2001) :
a. Community Acquired Pneunomia dimulai sebagai penyakit pernafasan
umum dan bisa berkembang menjadi pneumonia. Pneumonia Streptococal
merupakan organisme penyebab umum. Tipe pneumonia ini biasanya
menimpa kalangan anak-anak atau kalangan orang tua.
b. Hospital Acquired Pneumonia dikenal sebagai pneumonia nosokomial.
Organisme seperti ini aeruginisa pseudomonas. Klibseilla atau aureus
stapilococcus, merupakan bakteri umum penyebab hospital acquired
pneumonia.
c. Lobar dan Bronkopneumonia dikategorikan berdasarkan lokasi anatomi
infeksi. Sekarang ini pneumonia diklasifikasikan menurut organisme,
bukan hanya menurut lokasi anatominya saja.
d. Pneumonia viral, bakterial dan fungi dikategorikan berdasarkan pada agen
penyebabnya, kultur sensifitas dilakukan untuk mengidentifikasikan
organisme perusak.

D. Patogenesis
Paru merupakan struktur kompleks yang terdiri atas kumpulan unit yang di
bentuk melalui percabangan progresif jalan nafas. Saluran nafas bawah yang
normal adalah steril, walaupun bersebelahan dengan sejumlah besar
mikroorganisme yang menempati orofaring dan terpajan oleh mikroorganisme dari
lingkungan udara yang di hirup. Sterilisasi saluran nafas bagian bawah adalah hasil
mekanisme penyaring dan pembersihan yang efektif.
Saat terjadi inhalasi-bakteri mikroorganisme penyebaba pneumonia
ataupun akibat dari penyebaran secara hematogen dari tubuh dan aspirasi melalui
orofaring-tubuh pertama kali akan melakukan mekanisme pertahanan primer
dengan meningkatkan respon radang.
Timbulnya hepatisasi merah dikarenakan pembesaran eritrosit dan
beberapa leukosit dari kapiler paru-paru. Pada tingkat lanjut aliran darah menurun,
alveoli penuh dengan leukosit dan relatif sedeikit eritrosit. Kuman pneumococcus
difagosit oleh leukosit beserta kuman. Paru masuk ke dalam tahap hepatisasi abu-
abu dan tampak berwarna abu-abu kekuningan. Secara perlahan sel darah merah
yang mati dan eksudat fibrin di buang dari alveoli. Terjadi resolusi sempurna paru
kembali menjadi normal tanpa kehilangan kemampuan dalam pertukaran gas (
Misnadiarly, 2008)

E. Pemeriksaan penunjang
1. Sinar X
Mengidentifikasikan distribusi struktural (misal: lobar, bronchial); dapat juga
menyatakan abses) luas /infiltrasi, empiema (stapilococcos), infiltrasi menyebar
atau terlokalisasi (bakterial), atau penyebaran/perluasan infiltrasi nodul (lebih
sering virus). Pada pneumonia mikoplasma, sinar x dada mungkin bersih.
2. GDA/nadi oksimetris : tidak normal mungkin terjadi, tergantung pada luas paru
yang terlibat dan penyakit paru yang ada.
3. Pemeriksaan gram/kultur, sputum dan darah: untuk dapat diambil biosi jarum,
aspirasi transtrakea, bronkoskofi fiberobtik atau biosi pembukaan paru untuk
mengatasi organisme penyebeb. Lebih dari satu organise ada : bekteri yang umum
meliputi diplococcos pneumonia, stapilococcos, aures A.-hemolik strepcoccos,
hemophlus influenza : CMV. Catatan : keluar sekutum tak dapat di identifikasikan
semua organisme yang ada. Kultur darah dapat menunjukan bakteremia semtara
4. JDL : leokositosis biasanya ada, meskipun sel darah putih rendah terjadi pada
infeksi virus, kondisi tekanan imun seperti AIDS, memungkinkan berkembangnya
pneumonia bakterial.
5. Pemeriksaan serologi: mis, titer virus atau legionella,aglutinin dingin. membantu
dalam membedakan diagnosis organisme khusus.
6. Pemeriksaan fungsi paru: volume mungkin menurun (kongesti dan kolaps alveolar);
tekanan jalan nafas mungkin meningkat dan komplain. Mungkin terjadi perembesan
(hipoksemia)
7. Aspirasi perkutan atau biopsi jaringan paru terbuka: dapat menyatakan jaringan
intra nuklear tipikal dan keterlibatan sitoplasmik (CMP; kareteristik
selrekayasa(rubela)). (Marlyn E. Dongoes, 1999, ASKEP, Hal 164-174)

F. Penatalaksanaan
1. Pemberian antibiotic
Kepada penderita yang penyakitnya tidak terlalu berat, biasanya diberikan
antibiotik peroral (lewat mulut) dan tetap tinggal dirumah. Seperti: penicillin,
chepalosporin.
2. Penderita yang lebih tua dan penderita dengan sesak nafas atau dengan penyakit
jantung atau paru-paru lainnya, harus dirawat dan antiiotik diberikan melalui
infus. Mungkin perlu diberika oksigen tambahan, cairan intravena dan alat
bantu nafas mekanik.
3. Pemberian antipiretik, analgetik, bronchodilator
4. Pemberian oksigen
5. Pemberian cairan parenteral sesuai indikasi
DAFTAR PUSTAKA

Boedihartono. 2009. Proses Keperawatan di Rumah Sakit. Jakarta

Misnadiarly. 2008. Penyakit Infeksi Saluran Napas Pneumonia pada Anak,


Balita, Orang Dewasa, Usia Lanjut. Jakarta. Pustaka Obor Populer

Smeltzer & Bare. 2006. Keperawatan Medikal Bedah II. Jakarta: EGC

Price Anderson Sylvia, Milson McCarty Covraine. 2005. Patofisiologi Jilid 2,


Edisi 4. Jakarta. EGC
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES YOGYAKARTA
JURUSAN KEPERAWATAN

Nama mahasiswa/NIM : Roshinta Kumala Dewi / P07120116006

Alfiana Zulfida / P0710116034

Tempat praktek : Bangsal Nusa Indah III RSUD Sleman

Tanggal : 4 Mei 2018

I. IDENTITAS DATA
A. Identitas Bayi
Nama : bayi Ny. N
Tanggal lahir : selasa, 22 mei 2018
Jam lahir : 21.30 WIB
Jenis kelamin : laki-laki
Diagnosa medis : pneumonia
B. Identitas Orang tua
a. Identitas ayah
Nama :M
Umur : 30 tahun
Agama : Islam
Alamat : Turi Sleman
Pendidikan: SMA
Pekerjaan : Buruh
b. Identitas ibu
Nama :N
Umur : 30 tahun
Agama : Islam
Alamat : Turi Sleman
Pendidikan: SMA
Pekerjaan : Buruh

II. RIWAYAT KELAHIRAN


1. Prenatal
Ibu mengatakan bahwa ini kehamilan keduanya. Jumlah pemeriksaan ke bidan
rutin. Ibu melakukan imunisasi TT 2x saat hamil anak pertama dan 1x saat
hamil anak kedua, ibu juga tidak mengonsumsi jamu dan obat-obatan lain
selain obat penambah darah. Selama hamil ibu mengatakan terjadi
penambahan berat badan 7kg. Ibu mngatakan tidak ada keluhan selama masa
kehamilan
2. Natal
Bayi Ny. N lahir pada 22 Mei 2018 pukul 21.00 WIB jenis kelamin laki-laki,
dengan status gestasi G2P0A0 bayi dilahirkan secara spontan dibantu oleh
dokter dan melahirkan dirumah sakit. Warna ketuban jernih.
3. Post natal
Kelahiran tunggal, berat badan 2800 gr, panjang badan 47cm, lingkar lengan
atas 11cm, lingkar kepala 33 cm, lingkar dada 32cm, lingkar perut 30cm.
Setelah 5 hari dirumah ibu mengatakan bayi mengalami batuk berdahak lalu
dibawa kerumah sakit dan diminta untuk rawat inap karena didiagnosa medis
pneumonia. Ibu mengatakan bahwa ia sangat khawatir dengan keadaan
bayinya
4. Riwayat keluarga
Ibu mengatakan dikeluarganya baik keluarga dari siibu maupun keluarga dari
suami tidak ada yang menderita penyakit sistemik seperti jantung, dm, darah
tinggii, dll. Tetapi beberapa hari terakhir ini siibu dan suaminya mengalami
batuh yang terkadang batuk berdahak dan kering. Sudah diperiksakan dan
hasilnya normal. Genogram keluarga:
Keterangan:
: Laki-laki
: Perempuan
: Pasien
: Tinggal Serumah

III. PEMERIKSAAN FISIK BAYI


1. Pemeriksaan umum dan antropometri
a. Keadaan umum : baik
b. Kesadaran : composmentis
c. Suhu : 36.9o
d. Pernafasan : 50x/menit
e. Nadi : 130x/menit
f. Berat badan : 2825gr
g. Panjang badan : 47cm
h. Lingkar lengan atas : 11cm
i. Lingkar kepala : 33cm
j. Lingkar dada : 32cm
k. Lingkar perut : 31cm
2. Pemeriksaan fisik
a. Kepala
Simetris, tidak ada hematome, tidak ada luka, rambut hitam
b. Muka
Simetris, bentuk oval, tidak ada jejas, warna kulit kemerahan
c. Mata
Simetris, tidak ada kelainan pada sklera, konjungtiva, dan tidak ada
perdarana pada mata
d. Telingga
Simetris, tidak ada kelainan dan tidak ada cairan yang keluar dari
telingga
e. Mulut
Simetris, tidak ada kelainan
f. Hidung
Tidak ada benjolan dan kotoran
g. Leher
Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid
h. Dada
Simetris, tidak ada retraksi dinding dada dan tidak ada kelainan,
auskultasi dada terdengar suara ronki basah
i. Abdomen
Tidak ada perbesaran perut
j. Punggung
Tidak ada benjolan
k. Genetalia
Tidak ada kelainan aresia ani, terdapat lubang vagina dan lubang uretra
l. Ekstermitas
Simetris, tidak ada kelainan polidaktili maupun sindaktili
3. Pola kesehatan
a. Nutrisi
Bayi menetek pada ibu setiap 2jam sekali
b. Eliminasi
BAB teratur setiap hariny
BAK teratur setiap harinya
c. Personal hygiene
Selama di RS bayi setiap hari dilap oleh perawat dengan menggunakan
waslap basah
IV. HASIL LABORATORIUM
Hematologi Hasil Nilai Normal
Hemoglobin 17 gr/dL 12-24 gr/dL
Hematokrit 48% 33-38%
Leukosit 12.900/uL 9.000-
30.000/Ul
Eritrosit 4.94 3.8-6.1
juta/mm3 juta/mm3
Trombosit 411
MPV 11.6
PDW 14.2

V. ANALISA DATA
No Data Masalah Penyebab
1. DO: Bersihan jalan Terdapat sekret
a. Terdengar suara ronki basah nafas tidak pada paru
saat dilakukan auskultasi efektif
DS:
a. Ibu mengatakan setelah 5 hari
dirumah bayi mengalami batuk
berdahak lalu dibawa kerumah
sakit dan diminta untuk rawat
inap
2. DO: Ansietas Kondisi
a. Ibu terlihat keluar masuk ruang kedaruratan
perawatan anak untuk hospitalisasi
menenggok bayinya bayinya
DS:
a. Ibu mengtaakan khawatir dan
takut dengan kondisi bayinya
VI. DIAGNOSA
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan terdapatnya sekret
diparu
2. Ansietas berhubungan dengan kondisi kedaruratan hospitalisasi bayi

VII. INTERVENSI
No Tujuan dan Kriteria Intervensi Rasional
Dx hasil
1. Setelah dilakukan 1. Monitor tanda-tanda 1. Sebagai dasar
tindakan vital dalam
keperawatan selama menentukan
2x24jam diharapkan tindakan asuhan
suara ronkhi basah 2. Lalukan massage keperawatan
pada bayi dapat dengan cara
berkurang dengan menepuk pelan pada 2. Massage tepukan
kriteria hasil: punggung dan dada dapat
1. Tidak lagi merangsang bayi
terdengar untuk batuk
suara ronki
basah pada 3. Edukasi ibu untuk
3. Menghangatkan
paru bayi memberikan minyak
area paru
didaerah dada bayi
sehingga
membantu
melebarkan
sistem
pernafasan agar
tidak terjadi
sesak nafas
4. Kolaborasi dengan
dokter dan fisioterapi
4. Membantu
untuk pemberian
mengeluarkan
obat pengencer
dahak bayi
dahak dan terapi
2. Setelah dilakukan 1. Kaji tingkat 1. Mengetahui tingkat
tindakan kecemasan. pengetahuan yang
keperawatan selama dimiliki orang tua
1x24jam diharapkan dan kebenaran
cemas dapat informasi yang
terkontrol/hilang didapat.
dengan kriteria hasil 2. Berikan penjelasan 2. Informasi yang
: tentang keadaan klien tepat menambah
1. Klien mampu saat ini pengetahuan orang
mengungkapkan tua dan
cemasnya menurunkan
2. Dapat tingkat kecemasan
mengidentivikasi 3. Berikan kesempatan 3. Orangtua dapat
dan kepada keluarga memperoleh
menunjukkan untuk informasi yang
Teknik untuk mengungkapkan lebih jelas
mengontrol perasaan
cemas 4. Ajarkan Teknik 4. Teknik relaksasi
3. Ekspresi wajah, relaksasi pada klien dapat mengontrol
Bahasa tubuh rasa cemas yang
dan tingkat dirasakan.
aktivitas 5. Lakukan evaluasi 5. Evaluasi dilakukan
menunjukkan penjelasan yang telah untuk mengetahui
berkurangnya diberikan kepada apakah orangtua
kecemasan orangtua sudah benar-benar
KH : mengerti dengan
penjelasan yang
diberikan
VIII. IMPLEMENTASI DAN EVALUASI
Tanggal No. Implementasi Evaluasi
dan jam Dx
Senin 1 1. Memonitor tanda-tanda S : Ibu mengatakan bersedia
vital untuk memberikan minyak
4 Juni
2. Melakukan massage didaerah dada sang anak, ketika
2018
dengan cara menepuk sang anak selesai mandi, maupun
Pukul: pelan pada punggung dan saat batuk tak henti-henti.
10.00 dada O:
WIB 3. Lakukan auskultrasi dada HR : 140 x/menit
4. Mengajarkan ibu untuk RR : 40 x/menit
memberikan minyak S : 36,80 𝐶
didaerah dada bayi - Nebul Ventolin Ventolin
5. Kelola nebul Ventolin 1⁄ R + NaCl 0,9% / 24 jam
2
Ventolin 1⁄2R + NaCl sudah diberikan
0,9% / 24 jam - Auskultasi dada suara ronki
sudah mulai hilang
(Alfiana&Roshinta) - Saat massage pelaqn pada
punggung bayi Nampak
tenang dan nyaman
A: Bersihan jalan nafas tidak
efektif teratasi sebagian
P:
- Pantau TTV
- Kelola massage punggung
- Monitor auskultasi dada
- Kelola Kelola nebul
Ventolin Ventolin 1⁄2R +
NaCl 0,9% / 24 jam

Selasa 1 1. Memonitor tanda-tanda S:-


vital O:
5 Juni 2. Melakukan massage HR : 136 x/menit
2018 dengan cara menepuk RR : 42 x/menit
pelan pada punggung dan S : 36,30 𝐶
Pukul:
dada - Nebul Ventolin Ventolin
10.00
3. Lakukan auskultasi dada 1⁄ R + NaCl 0,9% / 24 jam
WIB 2
4. Kelola nebul Ventolin sudah diberikan
Ventolin 1⁄2R + NaCl - Auskultasi dada suara ronki
0,9% / 24 jam sudah mulai tidak terdengar
- Saat massage pada punggung
(Roshinta) bayi masih tenang dan tidak
rewel
A: Bersihan jalan nafas tidak
efektif teratasi sebagian
P:
- Pantau TTV
- Kelola massage punggung
- Monitor auskultasi dada
- Nebul Ventolin Ventolin
1⁄ R + NaCl 0,9% / 24,
2
dihentikan
Selasa 1 1. Memonitor tanda-tanda O:
vital HR : 142 x/menit
5 Juni
2. Melakukan auskultasi RR : 40 x/menit
2018
dada S : 36,60 𝐶
Pukul: 3. Melakukan massage - Auskultasi dada suara ronki
16.00 dengan cara menepuk sudah tidak terdengar
WIB pelan pada punggung dan - Massage punggung
dada dilakukan, bayi terlihat lebih
(Alfiana) tenang dan tidur lebih
nyenyak.
A: Bersihan jalan nafas teratasi
P:
- Pantau TTV
- Kelola massage punggung
Rabu 2 S: .Ibu menyatakan lebih lega
setelah bercerita dan dapat
6 Juni 1. Mengkaji tingkat
mengungkapkan apa yang
2018 kecemasan.
dirasakannya selama ini.
2. Memberikan kesempatan
Pukul:
kepada keluarga untuk O:
10.00
mengungkapkan
WIB - Ekspresi wajah ibu tampak
perasaan.
rileks.
3. Mengajarkan Teknik
- Ibu dapat melakukan kembali
relaksasi berupa nafas
Teknik nafas dalam yang
dalam
telah diajarkan
4. Melakukan evaluasi
A: Ansietas orangtua teratasi
penjelasan yang telah
diberikan kepada P: Pertahankan Intervensi
orangtua. dengan tetap memantau
(Rosinta) kondisi klien.
BAB III

PENUTUP

Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 2 x 24 jam pada pasien dengan


diagnosa medis Pneumonia Ruang Perinatologi Nusa Indah III RSUD Sleman,
didapatkan 2 diagnosa, yaitu:

1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan terdapatnya sekret


diparu
2. Ansietas berhubungan dengan kondisi kedaruratan hospitalisasi bayi
Dua diagnosa tersebut dapat terselesaikan sesuai dengan tujuan dan kriteria
hasil yang telah ditetapkan pada perencanaan keperawatan.