Anda di halaman 1dari 30

PENYULUHAN TENTANG DIET HIPERTENSI PADA

KELOMPOK LANSIA KEMANG SETANGE DI PUSKESMAS

UNIT I SUMBAWA BESAR

Oleh:

dr. Latief Huzein

Pendamping:

dr. Lita Feradila Rosa

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

BADAN PPSDM KESEHATAN

2015
BAB I

PENDAHULUAN

Hipertensi adalah salah satu penyakit degeneratif yang memiliki

tingkat morbiditas dan mortalitas yang tinggi (Martono, 2009. Savica et al,

2010). Tekanan darah tinggi merupakan faktor resiko yang menyebabkan

terjadinya penyakit ginjal dan penyakit-penyakit kardiovaskular seperti stroke

dan penyakit jantung iskemik. Individu prehipertensif memiliki kemungkinan

tinggi mengalami penyakit kardiovaskular jika dibandingkan dengan individu

dengan nilai tekanan darah dalam kisaran normal (Appel et al, 2011. Nolan et

al, 2010).

Angka kejadian hipertensi secara global cenderung meningkat,

terutama di negara maju dan negara berkembang yang sedang mengalami

transisi epidemiologi (Babatsikau et al, 2010. Rahajeng et al, 2009).Di

Amerika prevalensi hipertensi paling tinggi ditemukan pada penduduk usia

>60 tahun yaitu sebesar 65% (Nwankwo et al, 2013)

Pada tahun 2013, prevalensi penduduk berusia 65-74 tahun di

Indonesia yang mengalami hipertensi sebesar 56.6%. Berdasarkan hasil

Riskesdas 2013, prevalensi hipertensi secara nasional sebesar 25.8%.

Sedangkan prevalensi hipertensi hipertensi di Nusa Tenggara Barat sebesar

20%. Peningkatan prevalensi hipertensi berbanding lurus dengan peningkatan

usia (Kemenkes,2013).Prevalensi hipertensi lebih tinggi pada pria hingga usia

55 tahun, namun demikian sedikit lebih tinggi pada wanita postmenapouse

(Pujol et al, 2010. Nolan et al, 2010. Babatsikou et al, 2010). Hipertensi

2
merupakan salah satu penyebab utama kunjungan dari 6 penyakit terbanyak di

Puskesmas Unit I Sumbawa besar dari bulan Januari-Maret sebanyak 51,8%.

Terapi medikamentosa untuk mengendalikan tekanan darah tinggi

telah banyak dilakukan, namun jika obat-obatan terus diberikan pada

kelompok lansia yang telah mengalami penurunan fungsi organ, salah satunya

ginjal maka akan memperberat fungsi organ tersebut (Knight et al, 2004.

Abdulrochim et al, 2010). Oleh sebab itu, dilakukan upaya untuk membantu

mengendalikan hipertensi khususnya pada kelompok lansia, salah satunya

dengan pemilihan pola makan seperti yang tercantum dalam pola diet DASH

(Dietary Approaches To Stop Hypertension) (Couch et al, 2008)

Pola diet DASH merupakan pola diet yang menekankan pada

konsumsi bahan makanan rendah natrium (<2300 mg/hari), tinggi kalium

(>1000 mg/hari), magnesium (>420 mg/hari), kalsium (>1000 mg/hari), dan

serat (25-30 g/hari), serta rendah asam lemak jenuh dan kolesterol (<200

mg/hari) yang terdapat pada buah-buahan, kacang-kacangan, sayuran, ikan,

daging tanpa lemak, susu rendah lemak, dan bahan makanan dengan total

lemak dan lemak jenuh yang rendah (Vollmer et al, 2001)

Terdapat beberapa penelitian mengenai pengaruh penerapan pola diet

DASH terhadap tekanan darah. Penelitian pada orang dewasa prehipertensi

dan hipertensi tahap I menguji pengaruh penerapan pola diet DASH tanpa

perubahan perilaku dalam keadaan free-living environtment. Hasil dari

penelitian ini adalah terdapat penurunan nilai tekanan darah sistolik secara

signifikan pada kelompok perlakuan yaitu sebesar 10.6 mmHg, namun tidak

pada tekanan darah diastolik, yaitu sebesar 2.2 mmHg (McFall et al, 2010).

3
Meskipun terdapat beberapa bukti bahwa penerapan pola diet DASH

dapat menurunkan tekanan darah, untuk menerapan pola diet DASH pada

kelompok lansia Kemang Setange di Puskesmas Unit I Sumbawa Besar,

makaperlu diadakan penyuluhan tentang pola diet DASH pada penderita

hipertensi, yang dilaksanakan pada tanggal 6 Maret 2015.

4
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Hipertensi

Hipertensi adalah tingkat tekanan darah sistolik pada atau di atas 140

mmHg (18,7 kPa), atau tingkat tekanan darah diastolik pada atau di atas 90

mmHg (12,0 kPa). Namun karena tekanan darah sangat bervariasi, sebelum

menetapkan pasien mengalami hipertensi dan memutuskan untuk memulai

pengobatan, perlu untuk memastikan peningkatan tekanan darah dengan

pengukuran berulang-ulang selama beberapa minggu. Setiap nilai pengukuran

di kisaran hipertensi ringan atau borderline ditemukan, kepastian pengukuran

harus diperpanjang selama 3-6 bulan. Periode observasi yang singkat

diperlukan pada pasien dengan peningkatan tekanan darah yang lebih tinggi

atau pasien dengan komplikasi (Kaplan, 2006).

Menurut JNC VII (The Seventh Report of The Joint National

Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High

Blood Pressure) klasifikasi tekanan darah pada orang dewasa terbagi menjadi

kelompok normal, prehipertensi, hipertensi derajat I dan derajat II seperti yang

terlihat pada tabel 1 dibawah (Gray et al, 2005).

Klasifikasi Tekanan Darah Sistolik Tekanan Darah Diastolik


Tekanan Darah (mmHg) (mmHg)

Normal <120 <80

Prehipertensi 120-139 80-89

5
Hipertensi Derajat I 140-159 90-99

Hipertensi Derajat II >160 >100

Tabel 1. Klasifikasi Tekanan Darah Menurut JNC VII

Berdasarkan penyebabnya, hipertensi dibagi menjadi dua golongan

yaitu hipertensi esensial atau hipertensi primer dan hipertensi sekunder atau

hipertensi renal. Hipertensi esensial atau hipertensi primer merupakan

hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya. Sering disebut juga hipertensi

idiopatik dan terdapat sekitar 95% kasus. Banyak faktor yang

mempengaruhinya seperti genetik, lingkungan, hiperaktifitas sistem saraf

simpatis, sistem renin angiotensin, defek dalam ekskresi Na, peningkatan Na

dan Ca intraseluler dan faktor-faktor yang meningkatkan risiko seperti

obesitas, alkohol, merokok, serta polisitemia. Hipertensi primer biasanya

timbul pada umur 30 – 50 tahun (Gray et al, 2005).

Sampai saat ini penyebab hipertensi secara pasti belum dapat diketahui

dengan jelas. Secara umum, faktor risiko terjadinya hipertensi yang

teridentifikasi antara lain faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi dan yang

dapat dimodifikasi. Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi seperti

keturunan, jenis kelamin, dan umur. Sedangkan, faktor risiko yang dapat

dimodifikasi seperti merokok, obesitas, obat-obatan, stres, aktivitas fisik, dan

asupan (Gray et al, 2005).

Perjalanan penyakit hipertensi sangat perlahan. Penderita hipertensi

mungkin tidak menunjukkan gejala selama bertahun-tahun. Masa laten ini

menyelubungi perkembangan penyakit sampai terjadi kerusakan organ yang

bermakna. Bila terdapat gejala biasanya bersifat tidak spesifik, misalnya sakit

6
kepala atau pusing. Gejala lain yang sering ditemukan adalah epistaksis,

mudah marah, telinga berdengung, rasa berat di tengkuk, sukar tidur, dan mata

berkunang-kunang. Apabila hipertensi tidak diketahui dan tidak dirawat dapat

mengakibatkan kematian karena payah jantung, infark miokardium, stroke

atau gagal ginjal. Namun deteksi dini dan perawatan hipertensi dapat

menurunkan jumlah morbiditas dan mortalitas (Gray et al, 2005).

Kaplan menyatakan bahwa terdapat beberapa faktor yang berperan

dalam pengendalian tekanan darah yaitu curah jantung dan tahanan perifer.

Keseimbangan curah jantung dan tahanan perifer sangat berpengaruh terhadap

kenormalan tekanan darah. Tekanan darah ditentukan oleh konsentrasi sel otot

halus yang terdapat pada arteriol kecil dan jika terjadi peningkatan konsentrasi

yang lama akan mengakibatkan penebalan pembuluh darah arteriol dan

menjadi awal meningkatnya tahanan perifer yang irreversible . Selain

pengaruh curah jantung dan tahanan perifer, faktor lain yang berperan dalam

pengendalian tekanan darah antara lain sistem renin angiotensin, sistem saraf

otonom, disfungsi endothelium, substansi vasoaktif, hiperkoagulasi, serta

disfungsi diastolik (Gray et al, 2005).

Hipertensi dapat menimbulkan kerusakan organ tubuh, baik secara

langsung maupun secara tidak langsung. Kerusakan organ target yang umum

ditemui pada pasien hipertensi adalah penyakit ginjal kronis, penyakit jantung

(hipertrofi ventrikel kiri, angina atau infark miokardium, gagal jantung), otak

(stroke, Transient Ischemic Attack/TIA), penyakit arteri perifer, dan retinopati.

Beberapa penelitian menemukan bahwa penyebab kerusakan organ-organ

tersebut dapat melalui akibat langsung dari kenaikan tekanan darah pada

7
organ, atau karena efek tidak langsung, antara lain adanya autoantibodi

terhadap reseptor ATI angiotensin II, stress oksidatif, down regulation dari

ekspresi nitric oxidesynthase, dan lain-lain. Penelitian lain juga membuktikan

bahwa diet tinggi garam dan sensitivitas terhadap garam berperan besar dalam

timbulnya kerusakan organ target, misalnya kerusakan pembuluh darah akibat

meningkatnya ekskresi transforming growth factor-β (TGF-β) (Yogiantoro,

2006).

Penatalaksanaan hipertensi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu

secara farmakologis dan non farmakologis (diet). Penatalaksanaan non

farmakologis (diet) sering sebagai pelengkap penatalaksanaan farmakologis,

selain pemberian obat-obatan antihipertensi perlu terapi dietetik dan merubah

gaya hidup. Tujuan dari penatalaksanaan diet, antara lain membantu

menurunkan tekanan darah secara bertahap dan mempertahankan tekanan

darah menuju normal, mampu menurunkan tekanan darah secara

multifaktoral, menurunkan faktor risiko lain seperti berat badan berlebih,

tingginya kadar asam lemak, kolesterol dalam darah, mendukung pengobatan

penyakit penyerta seperti penyakit ginjal, dan diabetes melitus (Yogiantoro,

2006).

Pada hipertensi derajat I (sistolik 140-159 mmHg atau diastolik 90-99

mmHg), perubahan diet dapat dijalankan sebagai perawatan pertama sebelum

memulai terapi obat. Banyak pasien hipertensi yang sedang menjalankan

terapi obat, perubahan diet, khususnya mengurangi konsumsi garam, dapat

cepat menurunkan tekanan darah tinggi dan pengobatan dapat dikurangi

(American Heart Association, 2006).

8
B. Diet DASH

Pola diet DASH merupakan pola diet yang menekankan pada

konsumsi bahan makanan rendah natrium (<2300 mg/hari), tinggi kalium

(>1000 mg/hari), magnesium (>420 mg/hari), kalsium (>1000 mg/hari), dan

serat (25-30 g/hari), serta rendah asam lemak jenuh dan kolesterol (<200

mg/hari) yang terdapat pada buah-buahan, kacang-kacangan, sayuran, ikan,

daging tanpa lemak, susu rendah lemak, dan bahan makanan dengan total

lemak dan lemak jenuh yang rendah (Vollmer et al, 2001). Bahan makanan

yang ada pada pola diet DASH merupakan bahan makanan yang segar dan

alami tanpa melalui proses pengolahan industri terlebih dahulu sehingga

memiliki kadar natrium yang relatif rendah (Pujol et al, 2010)

1. Rendah Natrium

Natrium adalah kation utama dalam cairan ekstraseluler dengan

konsentrasi serum normal adalah 136 sampai 145 mEg / L. Natrium berfungsi

menjaga keseimbangan cairan ekstraseluler dan keseimbangan asam basa

tubuh serta berperan dalam transfusi saraf dan kontraksi otot (Kaplan, 2006).

Hubungan antara retriksi garam dan pencegahan hipertensi masih

belum jelas. Namun berdasarkan studi epidemiologi diketahui terjadi kenaikan

tekanan darah ketika asupan garam ditambah. Pengurangan asupan garam

bermanfaat untuk menghilangkan retensi garam atau air dalam jaringan tubuh

dan menurunkan tekanan darah pada hipertensi. Manfaat lainnya yaitu

meningkatkan efektivitas obat antihipertensi, mengurangi kehilangan kalium

akibat diuretik, regresi hipertrofi ventrikel kiri, mengurangi proteinuria,

mengurangi ekskresi kalsium dalam urin, menurunkan terjadinya osteoporosis,

menurunkan prevalensi kanker perut, menurunkan insiden kematian akibat

9
stroke, menurunkan prevalensi asma, menurunkan prevalensi katarak,

melindungi terhadap terjadinya hipertensi (Kaplan et al, 2001).

Diet yang dapat mengurangi asupan garam, antara lain diet rendah

garam I (hanya boleh mengonsumsi kurang dari 0,5 gr natrium atau kurang

dari 1,25 gr garam dapur per hari dan diberikan kepada penderita dengan

oedema, ascites, dan/atau hipertensi berat), diet rendah garam II (boleh

mengonsumsi 0,5-1,5 gr natrium per hari, senilai dengan 1,25-3,75 gr garam

dapur dan diberikan kepada penderita dengan oedema, ascites, dan/atau

hipertensi tidak terlalu berat), sedangkan diet rendah garam III (boleh

mengonsumsi 1,5-3 gr natrium per hari, senilai dengan 3,75-7,5 gr garam

dapur dan diberikan kepada penderita dengan oedema dan/atau hipertensi

ringan) (Kaplan, 2006).

Pengurangan asupan natrium harian sekitar 100 mmol (2,4 g natrium

atau 6,0 g garam/NaCl) dapat dicapai dengan menghindari makanan olahan

yang sangat asin dan dengan tidak menambahkan garam pada saat memasak

atau saat makan. Bahan pengganti garam mungkin bermanfaat, terutama

karena sebagian besar menyediakan kalium tambahan (walaupun ini harus

dihindari jika mengalami insufisiensi ginjal atau mendapatkan angiotensin

converting enzim (ACE) inhibitor). Pasien harus diperingatkan dari 'perasaan

shock' ketika secara tiba-tiba mengurangi asupan natrium. Walaupun

demikian, keinginan untuk mengkonsumsi natrium akan terus berkurang dari

waktu ke waktu (Kaplan et al, 2001).

Dalam konsumsi rendah garam (natrium), selain membatasi konsumsi

garam dapur, juga harus membatasi sumber natrium lainnya seperti makanan

10
yang mengandung soda kue, baking powder, MSG (mono sodium glutamate

yang lebih dikenal dengan nama bumbu penyedap masakan), pengawet

makanan atau natrium benzoate (biasanya terdapat di dalam saos, kecap, selai,

jelli), makanan yang dibuat dari mentega (Sheps et al, 2005).

Secara umum, penderita tekanan darah tinggi yang sedang menjalani

konsumsi makanan rendah garam harus memperhatikan hal-hal berikut, antara

lain sedikit atau tidak menggunakan garam dapur baik untuk penyedap

masakan atau dimakan langsung, menghindari bahan makanan awetan yang

diolah menggunakan garam dapur (mis. kecap, margarin, mentega, keju,

terasi, biskuit asin, sardencis, sosis, cornet beef, dan peanut butter),

menghindari dan membatasi bahan makanan yang diolah dengan

menggunakan bahan makanan tambahan atau penyedap rasa (mis. saos dan

tauco), menghindari penggunaan baking soda, membatasi minuman yang

bersoda atau minuman ringan (softdrink) (Sheps et al, 2005).

2. Tinggi Kalium

Di dalam tubuh, kalium berfungsi untuk memelihara keseimbangan

garam (natrium) dan cairan serta membantu mengontrol tekanan darah. Kadar

kalium yang rendah akan menyebabkan terjadinya retensi natrium dalam

tubuh. Kondisi ini dapat menyebabkan tekanan darah mengalami peningkatan.

Dengan menerapkan diet tinggi kalium dapat menurunkan dosis obat

hipertensi yang dibutuhkan. Kebutuhan kalium minimal orang dewasa untuk

mencapai kesehatan yang optimum sekitar 2000 mg (2 g) per hari, dengan

kemampuan tubuh untuk menyerap asupan kalium sekitar 90% (Kaplan,

2006).

11
Peningkatan asupan kalium dapat melindungi terhadap stroke. Hal ini

disarankan oleh Acheson dan Williams (1983 dalam Kaplan, 2006) dan

didukung oleh temuan bahwa peningkatan asupan kalium 10 mmol per hari

berkaitan dengan penurunan 40% dalam kematian akibat stroke di antara 859

orang tua. Di antara laki-laki di Framingham Heart Study, peningkatan

konsumsi sekitar tiga porsi per hari buah-buahan dan sayuran kaya kalium

berkaitan dengan risiko 22% lebih rendah untuk stroke selama 20 tahun

(Kaplan, 2006).

Meskipun suplemen kalium dapat menurunkan tekanan darah,

suplemen tersebut terlalu mahal harganya dan berpotensi berbahaya untuk

digunakan secara rutin dalam pengobatan hipertensi pada pasien

normokalemik karena dapat menyebabkan iritasi gastrointestinal. Tindakan

terbaik adalah untuk meningkatkan asupan kalium dengan meningkatkan

konsumsi buah-buahan segar, sayuran dan makanan rendah lemak (Kaplan,

2006).

3. Cukup Magnesium

Magnesium merupakan inhibitor yang kuat terhadap kontraksi vaskuler

otot halus dan berperan sebagai vasodilator dalam regulasi tekanan darah. JNC

VII (Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation and

Treatment of High Blood Presure) melaporkan bahwa terdapat hubungan

timbal balik antara magnesium dan tekanan darah.

Magnesium adalah vasodilator dan pada tingkat yang tinggi dapat

menyebabkan tekanan darah rendah. Terapi magnesium digunakan untuk

mengurangi keadaan kekurangan magnesium yang sering disebabkan oleh

12
penggunaan diuretik. Pasien hipertensi yang menggunakan diuretik memiliki

perbedaan tingkat magnesium yang signifikan, dari 1,79 mg pada 100 ml

dibandingkan dengan pasien tekanan darah normal dengan 1,92 mg pada 100

ml. Kekurangan magnesium dapat berhubungan dengan tekanan darah tinggi

dengan meningkatkan perubahan mikrosirkulatori atau arteriosklerosis

mikrosirkulatori (Kaplan, 2006).

Tingkat magnesium dalam serum dan intraselular adalah normal pada

kebanyakan pasien hipertensi yang tidak diobati. Namun, konsentrasi

magnesium dalam otot yang rendah telah ditemukan pada setengah dari pasien

dengan terapi diuretik dosis tinggi kronis (Kaplan, 2006).

Pada meta-analisis dari 20 penelitian, 14 diantaranya tentang hipertensi

dan melibatkan 1.220 responden yang diberikan suplemen atau bahan

makanan yang mengandung magnesium, terjadi penurunan tekanan darah rata-

rata 0,6/0,8 mmHg. Efek yang mengesankan dari diet DASH mungkin

mencerminkan tingkat magnesium yaitu 173% lebih tinggi. Oleh karena itu,

bukannya memberi suplemen magnesium, tetapi lebih baik dengan

meningkatkan konsumsi buah- buahan dan sayuran segar yang mengandung

cukup magnesium. Bahan-bahan makanan yang mengandung cukup

magnesium seperti sayuran berdaun hijau, padi-padian, kacang-kacangan,

polong-polongan, gandum, jagung, tahu, daging tanpa lemak, serta berbagai

jenis buah-buahan(Kaplan, 2006. Wirakusumah, 2001)

4. Cukup Kalsium

Terdapat hubungan terbalik antara asupan kalsium dengan tekanan

darah sehingga meningkatkan konsumsi kalsium sehari-hari dapat membantu

13
mencegah dan mengobati hipertensi dan osteoporosis (Kaplan, 2006).

Suplemen atau bahan makanan yang mengandung kalsium dapat

menurunkan tekanan darah tinggi dengan mengekskresi natrium yang

meningkat. Dengan kata lain, kalsium akan bekerja seperti obat diuretik alami,

membantu ginjal mengeluarkan natrium dan air sehingga tekanan darah

menurun (Wirakusumah, 2001).

Meskipun suplemen kalsium dapat menurunkan tekanan darah,

suplemen tersebut mahal harganya dan berpotensi meningkatkan

hiperkalsiuria lebih lanjut yang telah dialami sebelumnya oleh pasien

hipertensi dan dapat menyebabkan batu ginjal dan infeksi saluran kemih.

Pengobatan terbaik adalah untuk memastikan asupan makanan yang cukup

kalsium tetapi tidak memberikan suplemen kalsium baik untuk mencegah dan

mengobati hipertensi. Penelitian di University Of Texas Health Science Center

menunjukkan bahwa asupan 800 mg kalsium per hari dapat menurunkan

tekanan darah sebanyak 20% populasi secara dramatis, yaitu sekitar 20-30

poin. Asupan makanan yang cukup kalsium seperti dua sampai tiga gelas susu

atau yogurt sehari atau 113,2 gr keju, belut, ikan mujair, bayam merah

(Kaplan, 2006. Wirakusumah, 2001)

5. Tinggi Serat

Terdapat dua macam istilah serat, yaitu serat kasar (crude fiber) dan

serat makanan (dietary fiber). Serat kasar banyak terdapat pada sayuran dan

buah- buahan, sedangkan serat makanan terdapat pada makanan selain buah

dan sayuran, seperti beras, kentang, singkong, dan kacang ijo. Serat makanan

terdiri dari dua bagian, yaitu serat larut dan serat tidak larut dalam air Yang

14
termasuk serat larut antara lain gums, gels, mucilages, pectic substances,

hemiselulosa. Sedangkan, serat tidak larut meliputi komponen serat non-

karbohidrat, lignin, selulosa, dan sebagian hemiselulosa, terutama yang

berikatan

Serat kasar dapat berfungsi mencegah penyakit tekanan darah tinggi.

Serat ini akan mengikat kolesterol maupun asam empedu dan selanjutnya

membuangnya bersama kotoran. Keadaan ini dapat dicapai jika makanan yang

dikonsumsi mengandung serat kasar cukup tinggi. Meningkatkan asupan serat

sebagaimana yang telah diatur dalam diet DASH dapat menurunkan tekanan

darah (Rahmaawati et al, 2009).

Hal tersebut diperkuat dengan hasil penelitian meta-analisis dari 24

penelitian secara acak, percobaan klinis terkontrol yang diterbitkan tahun

1966- 2003 terhadap efek TD dari suplemen serat rata-rata 11,5 g per hari

ditemukan bahwa TD rata-rata menurun sebanyak 1,1 / 1,3 mmHg. Efeknya

lebih besar pada pasien yang lebih tua dan mengalami hipertensi. Pada

percobaan terkontrol diantara 110 pasien hipertensi yang tidak diobati, 8 g

serat yang larut air per hari selama 12 minggu menyebabkan penurunan TD

sekitar 2,0/1,0 mmHg. Manfaat diet DASH dapat mencerminkan peningkatan

9-31 g serat per hari. Selain itu, dalam 12-14 tahun tindak lanjut dari 75.000

perempuan dalam Nurses Health Study, risiko stroke berkurang secara

signifikan dengan asupan tinggi buah dan sayuran, dan makanan biji-bijian.

Selain itu, analisis dikumpulkan dari 10 penelitian kohort prospektif

menemukan penurunan risiko penyakit jantung koroner dengan peningkatan

konsumsi serat makanan (Kaplan, 2006).

15
Berdasarkan pengetahuan tersebut, penderita tekanan darah tinggi

dianjurkan setiap hari mengonsumsi makanan tinggi serat. Berikut ini contoh

bahan makanan yang mengandung serat kasar cukup tinggi yang berasal dari

golongan buah-buahan, antara lain jambu biji, belimbing, jambu bol,

kedondong, anggur, nangka masak, markisa, papaya, jeruk, mangga, apel,

semangka, dan pisang. Berasal dari golongan sayuran, antara lain daun

bawang, kecipir muda, jamur segar, bawang putih, daun dan kulit melinjo,

buah kelor, daun kacang panjang, kacang panjang, daun kemangi, daun katuk,

daun singkong, daun ubi jalar, daun seledri, lobak, tomat, kangkung, tauge,

buncis, kol, wortel, bayam, dan sawi. Sedangkan, yang berasal dari golongan

protein nabati, antara lain kacang tanah, kacang hijau, kacang kedelai, kacang

merah, dan biji-bijian (havermout, beras merah, jagung). Selain itu, makanan

lainnya yang tinggi serat seperti agar- agar dan rumput laut (Wirakusumah,

2001).

6. Rendah Kolesterol dan Lemak Jenuh

Kolesterol akhir-akhir ini menjadi isu yang menghangat di berbagai

kalangan. Banyak individu takut mengkonsumsi makanan yang mengandung

kolesterol, padahal kolesterol juga diperlukan untuk kelancaran metabolisme

dalam tubuh. Kolesterol hanya akan berbahaya jika jumlah yang dikonsumsi

lebih banyak daripada yang dibutuhkan oleh tubuh. Kolesterol merupakan

bagian dari lemak. Di dalam tubuh terdapat tiga jenis lemak, yaitu kolesterol,

trigliserida, dan pospolipid. Tubuh memperoleh kolesterol dari makanan

sehari-hari dan dari hasil sintesis dalam hati (hepar). Sekitar 25-50%

kolesterol yang berasal dari makanan dapat diabsorbsi oleh tubuh, selebihnya

16
akan dibuang melalui feses (kotoran). Jika konsumsi kolesterol terlalu banyak

maka penyerapan di dalam tubuh akan meningkat. Beberapa makanan yang

tinggi kandungan kolesterolnya yaitu daging, jeroan, keju keras, susu, yogurt,

kuning telur, ginjal, kepiting, kerang, udang, cumi-cumi, cokelat, mentega,

lemak babi, margarin, hati dan cavier (telur dari jenis ikan tertentu).

Di dalam makanan, lemak terdiri dari dua macam, yakni lemak jenuh

dan lemak tidak jenuh. Lemak jenuh adalah lemak yang sebagian besar asam

lemaknya terdiri dari asam lemak jenuh. Adapun lemak tidak jenuh adalah

lemak yang sebagian besar asam lemaknya terdiri dari asam lemak tidak jenuh

(tidak jenuh ganda dan tidak jenuh tunggal).

Lemak jenuh bersifat menaikkan kadar kolesterol dan trigliserida

darah. Banyak penelitian menyatakan bahwa lemak jenuh dapat meningkatkan

tekanan darah. Lemak jenuh banyak terdapat pada makanan yang berasal dari

hewan, seperti daging (sapi, babi, kerbau, kambing), mentega, susu, keju, dan

sebagian kecil dari tumbuh-tumbuhan (kelapa dan hasil olahannya).

Sebaliknya, lemak tak jenuh dapat digunakan untuk menurunkan kadar

kolesterol serum total, trigliserida darah dan meningkatkan kadar HDL.

Dengan demikian, lemak tak jenuh dapat membantu untuk mencegah

aterosklerosis. Bahan makanan yang mengandung lemak tak jenuh

kebanyakan berasal dari tumbuh-tumbuhan (minyak jagung, minyak kedelai,

minyak kacang tanah, minyak biji bunga matahari, minyak bunga mawar) dan

sebagian kecil hewani (ikan dan minyak ikan) (Wirakusumah, 2001).

Terdapat hubungan terbalik antara konsumsi ikan dengan kematian

pada usia dua puluh tahun akibat penyakit jantung koroner. Individu yang

17
mengkonsumsi 30 gram atau lebih ikan per hari mempunyai rata-rata angka

kematian akibat penyakit jantung 50 persen lebih rendah daripada mereka

yang tidak mengkonsumsinya.Selain mengkonsumsi ikan, minyak ikan (asam

lemak omega-3) atau EPA (asam eicosapentaenoic), seperti mackerel, telah

terbukti mengurangi risiko penyakit jantung koroner dengan cara mengurangi

tingkat plasma lipid yang tinggi, lipoprotein, dan apolipoprotein serta

menurunkan viskositas darah pada pasien dengan trigliserida yang tinggi

(Wirakusumah, 2001).

Diet tinggi konsumsi ikan atau suplemen minyak ikan

direkomendasikan pada pasien dengan peningkatan risiko penyakit jantung

koroner. Pada 22 percobaan dengan mengkonsumsi, suplemen harian rata-rata

4,4 gr minyak ikan per hari berhubungan dengan penurunan tekanan darah

sekitar 1,7/1,5 mmHg, efeknya akan lebih besar pada pasien yang lebih tua

dan mengalami hipertensi. Setidaknya terdapat delapan studi yang berbeda

menunjukkan bahwa minyak safflower, asam linoleat, minyak ikan cod, dan

asam eicosapentaenoic (EPA) dapat menurunkan tekanan darah secara

signifikan (Wirakusumah, 2001).

7. Cukup vitamin C dan E

Vitamin C dan E dapat digunakan sebagai antioksidan, mencegah

tekanan darah tinggi dan penyakit jantung. Sumber vitamin C seperti daun

singkong, mangga, jeruk, brokoli, sawi, dan jambu biji. Bulpitt (dalam

Wirakusumah 2001) dari London berpendapat bahwa tekanan darah tinggi

lebih banyak terjadi pada individu yang kekurangan vitamin C. Penelitian lain

mengungkapkan pula bahwa lansia yang mengkonsumsi jeruk sebagai sumber

18
tunggal vitamin C sebanyak dua kali sehari, memiliki tekanan darah yang

lebih tinggi dibanding mereka yang mengkonsumsi sebanyak empat kali

sehari. Lansia tersebut memiliki tekanan sistolik 11 poin lebih tinggi dan

tekanan diastolik 6 poin lebih tinggi. Pada penelitian lain, Dr. Jacgues

menyimpulkan bahwa kadar vitamin C yang rendah dalam darah dapat

meningkatkan tekanan sistolik sekitar 16% dan tekanan diastolic sekitar 9%

(Wirakusumah, 2001).

Sama halnya seperti vitamin C, tingginya kadar vitamin E sangat

penting untuk mencegah serangan jantung dan menurunkan tekanan darah

tinggi. Tetapi, lemak tidak jenuh ganda dapat menurunkan kadar vitamin E

sehingga, penting untuk mendapatkan jumlah vitamin E yang cukup dalam

diet yang tinggi minyak lemak tidak jenuh ganda (Wirakusumah, 2001).

8. Rendah Kafein dan Alkohol

Kafein banyak terkandung dalam kopi, teh dan minuman soda. Kafein

yang terkandung di dalam kopi memiliki potensi terhadap terjadinya

peningkatan tekanan darah, terutama dalam keadaan stres dan telah terbukti

dapat meningkatkan risiko penyakit jantung koroner. Kafein didalam dua

sampai tiga cangkir kopi ( 200-250 mg) atau lebih dapat meningkatkan

tekanan darah. Oleh karena itu, pasien hipertensi harus membatasi konsumsi

kafein sehari tidak lebih dari dua cangkir kopi, tidak lebih dari tiga atau empat

cangkir teh, tidak lebih dari dua sampai empat kaleng minuman soda

berkafein, serta harus menghindari konsumsi kafein sebelum beraktivitas

seperti olahraga atau pekerjaan fisik berat (Kaplan, 2006).

Sama halnya dengan kafein dalam kopi, alkohol yang dikonsumsi

19
secara berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah. Minuman yang

umumnya mengandung alkohol seperti 12 ons bir , 4 ons anggur, atau 1,5 ons

wiski, masing- masing mengandung kira-kira 10 hingga 12 ml alkohol.

Konsumsi alkohol dalam jumlah sedang yaitu sekitar satu minuman per hari,

dapat menurunkan tekanan darah dan melindungi tubuh terhadap penyakit

arteri koroner dan stroke. Hal ini diperkuat dengan bukti yang mengesankan

dari efek perlindungan dari konsumsi alkohol secara teratur sekitar satu

minuman perhari pada individu dengan penyakit jantung atau penyakit lainnya

jika dibandingkan dengan hasil yang sama pada individu yang tidak peminum

dengan peminum berat yang terlihat pada angka kematian akibat penyakit

jantung koroner, infark miokard, stroke iskemik, penyakit pembuluh darah

perifer, kejadian disfungsi ginjal diabetes tipe 2, osteoporosis, gangguan

kognitif ringan, dan demensia (Kaplan, 2006).

Sedangkan, tekanan darah orang yang mengonsumsi alkohol sebanyak

dua sampai tiga minuman per hari akan naik sekitar 40% dibandingkan

mereka yang tidak mengonsumsi alkohol. Risiko kenaikan tekanan darah akan

naik sebesar 90% pada peminum alkohol yang melebihi tiga minuman per

hari, serta dapat menyebabkan kerusakan organ tubuh yang tidak dapat

diperbaiki (Kaplan et al, 2001).

Kejadian hipertensi meningkat di kalangan wanita yang mengkonsumsi

alkohol lebih dari dua minuman sehari dan pada pria yang mengkonsumsi

alkohol lebih dari tiga minuman per hari. Tekanan darah meningkat selama

mengkonsumsi minuman beralkohol dan jika berhenti, tekanan darah biasanya

menurun(Kaplan, 2006).

20
Tabel 2. Diet DASH (The Dietary Approaches to Stop Hypertension) 19
Kelompok Jumlah porsi Takaran Contoh Keterangan
makanan sajian dari setiap
kelompok
makanan
dengan pola
diet DASH
Padi dan 7-8 kali per 1 potong roti Roti gandum, Sumber utama
produk padi- hari ½ cangkir muffin, roti energi dan
padian sereal kering pita, sereal, serat
½ cangkir nasi, bubur jagung,
pasta, atau oatmeal
sereal masak
Sayur-sayuran 4-5 kali per 1 cangkir Tomat, Sumber
hari sayuran kentang, makanan kaya
mentah wortel, kacang magnesium,
½ cangkir polong, labu, kalium dan
sayuran yang brokoli, lobak serat
telah dimasak hijau, sawi,
6 ons jus kangkung,
sayuran bayam, kacang
hijau, ubi jalar
Buah-buahan 4-5 kali per 6 ons jus buah Aprikot, Sumber
hari 1 potong buah- pisang, kurma, penting
buahan ukuran anggur, jeruk, magnesium
sedang jus jeruk, kalium dan
½ cangkir buah mangga, serat
kering melon, nanas,
½ cangkir buah kismis,
segar, beku, stroberi, jeruk
atau buah keprok
kaleng
Makanan 2-3 kali per 8 ons susu Susu skim, Sumber utama
rendah lemak hari 1 cangkir mentega skin protein
atau non lemak yogurt atau rendah
1 ½ ons keju lemak, yogurt
tanpa lemak
atau rendah
lemak, keju
tanpa lemak
Daging unggas 2 atau kurang 3 ons daging, Hanya daging, Sumber yang
dan ikan dari 2 kali per unggas atau sate; panggang kaya protein
hari ikan dimasak atau rebus dan
sebai magnesium
pengganti
goreng;
menghilangkan
kulit dari
unggas
Kacang biji- 4-5 kali per 1/5 ons atau Kacang Sumber

21
bijian dan hari 1/3 cangkir almond, makanan yang
kacang polong kacang kacang tanah, kaya energi,
½ ons atau 2 walnut, biji protein,
sendok bunga potassium,
makan biji- matahari, magnesium,
bijian kacang merah dan serat
½ cangkir
kacang polong
dimasak
1 cankir : 250 ml

Untuk mengurangi tekanan darah, terdapat beberapa makanan yang

harus dihindari, antaranya adalah roti, biskuit, kue yang 
dimasak dengan

garam dapur dan baking pow- der / soda. Otak, ginjal, lidah, sardine, daging

merah, susu dalam kemasan yang tinggi lemak, kuning telor dan makanan

yang telah diawetkan dengan garam seperti daging asap, ikan asin, udang

kering, telor asin, dan telor pindang. Sayuran yang dimasak dengan garam

dapur seperti asinan, acar dan sayuran dalam kaleng. Buah-buahan yang

diawetkan dengan garam dapur seperti buah-buahan dalam kaleng (Kaplan et

al, 2001)

JNC (Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation

and Treatment of High Blood Pressure) VII tahun 2003 telah mengesahkan

pola diet DASH sebagai salah satu upaya untuk mencegah peningkatan

tekanan darah pada subjek hipertensi (Karanja et al, 2004). Pola diet DASH

yang terdiri dari konsumsi bahan makanan diatas terbukti secara klinis

menurunkan tekanan darah secara signifikan dengan atau tanpa pengurangan

asupan natrium (Vollmer et al, 2001. McFall et al, 2010). Bahan makanan

yang terdapat dalam pola diet DASH adalah produk serelia dan biji-bijian

sebanyak 7-8 penukar per hari, sayuran sebanyak 4-5 penukar per hari, buah-

buahan 4-5 penukar per hari, produk susu rendah atau tanpa lemak 2-3

22
penukar per hari, ikan, daging dan unggas tidak lebih dari 2 penukar per hari,

kacang-kacangan 4-5 penukar per minggu, minyak 2-3 penukar dalam sehari

dan pemanis 5 penukar per minggu (Pujol et al, 2010)

Terdapat beberapa penelitian mengenai pengaruh penerapan pola diet

DASH terdapat tekanan darah. Penelitian pada orang dewasa prehipertensi dan

hipertensi tahap I menguji pengaruh penerapan pola diet DASH tanpa

perubahan perilaku dalam keadaan free-living environtment. Hasil dari

penelitian ini adalah terdapat penurunan nilai tekanan darah sistolik secara

signifikan pada kelompok perlakuan yaitu sebesar 10.6 mmHg, namun tidak

pada tekanan darah diastolik, yaitu sebesar 2.2 mmHg (McFall et al,

2010)Hasil dari penelitian lain yang diberi nama “Encore Study”

membandingkan pengaruh penerapan pola diet DASH saja atau pola diet

DASH yang dikombinasikan dengan progam pengendalian berat badan

dengan pola diet yang biasa dikonsumsi di Amerika pada subjek prehipertensi

atau hipertensi tahap I. Hasil dari penelitian ini adalah terdapat penurunan

nilai tekanan darah sebesar 16.1/9.9 mmHg pada intervensi pola diet DASH

yang dikombinasikan dengan pengendalian berat badan, penurunan sebesar

11.2/7.5 mmHg pada intervensi pola diet DASH saja dan penurunan sebesar

3.4/3.8 mmHg pada kelompok kontrol (Blumenthal et al, 2010). Penelitian di

Indonesia membandingkan antara penerapan pola diet DASH dikombinasikan

diet rendah garam (DRG) saja pada wanita menopouse dengan hipertensi.

Hasilnya adalah kombinasi penerapan pola diet DASH dan diet rendah garam

(DRG) menurunkan rerata tekanan darah sistolik dan diastolik masing-masing

sebesar 5.23 mmHg dan 1.98 mmHg. Sedangkan diet rendah garam (DRG)

23
saja dapat menurunkan rerata tekanan darah sistolik dan diastolik masing-

masing sebesar 2.5 mmHg dan 1.75 mmHg (Rahmawati et al, 2009)

Hasil diet DASH sangat mengesankan dan mendukung efek

antihipertensi dari diet rendah lemak jenuh, tinggi serat dan mineral dari buah-

buahan dan sayuran segar. Selain itu, pada 1.710 laki-laki setengah baya

dievaluasi selama 7 tahun, didapatkan penurunan tekanan darah sistolik secara

bermakna dengan diet yang tinggi buah-buahan, sayuran dan rendah daging

merah (Kaplan, 2006).

24
BAB III

MASALAH

1. Penerapan pola diet DASH pada kelompok lansia Kemang Setange di

Puskesmas Unit I Sumbawa Besar yang belum maksimal.

2. Konsultasi gizi pada pasien hipertensi di Puskesmas Unit I Sumbawa

Besar yang belum maksimal.

25
BAB IV

PEMECAHAN MASALAH

1. Penyuluhan yang rutin dilaksanan

2. Pemberian leaflet yang berisi tentang hipertensi dan pola diet DASH pada

lansia.

3. Anjurkan setiap pasien hipertensi untuk melakukan konsultasi pola diet

DASH di poli gizi.

26
BAB V

KESIMPULAN

Penatalaksanaan hipertensi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu

secara farmakologis dan non farmakologis (diet). Penatalaksanaan non

farmakologis (diet) sering sebagai pelengkap penatalaksanaan farmakologis,

selain pemberian obat-obatan antihipertensi perlu terapi dietetik dan merubah

gaya hidup. Tujuan dari penatalaksanaan diet, antara lain membantu

menurunkan tekanan darah secara bertahap dan mempertahankan tekanan

darah menuju normal, mampu menurunkan tekanan darah secara

multifaktoral, menurunkan faktor risiko lain seperti berat badan berlebih,

tingginya kadar asam lemak, kolesterol dalam darah, mendukung pengobatan

penyakit penyerta seperti penyakit ginjal, dan diabetes melitus

27
DAFTAR PUSTAKA

1. Abdulrochim IP. Ginjal Dan Hipertensi Pada Usia Lanjut. Dalam: Martono H,

Pranarka K, editor. Buku Ajar Boedhi-Darmojo Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia

Lanjut). Jakarta: Balai Penerbit Faklutas Kedokteran Universitas Indonesia;

2010. Hal. 491.

2. Appel LJ. Diet And Blood Pressure. In: Ross AC, Caballero B, Cousins RJ,

Tucker KL, Ziegler TR. Modern Nutrition And Helath Disease. 11 th ed.

Wolters Kluwer; 2011. p 875.

3. Babatsikou F, Zavitsanou A. Epidemiology Of Hypertensiom In The Elderly.

Health Science Journal. Vol. 4. 2010

4. Blumenthal JA, Babyak MA, Hinderliter A, Watkins LL, Craighead L, Lin

PH, et al. Effects of the DASH Diet Alone and in Combination With Exercise

and Weight Loss on Blood Pressure and Cardiovascular Biomarkers in Men

and Women With High Blood Pressure. Arch Intern Med. 2010; 170(2):126 –

135.

5. Couch SC, Krummel DA. Medical Nutrition Therapy For Hypertension. In:

Mahan LK, Escott- Stump S, editors. Krausse’s Food And Nutrtition Therapy.

12 th ed. USA: Sauders; 2008. p 867- 878.

6. Gray, et al., 2005, Hipertensi. Lecturer Notes Kardiologi, Edisi ke-4, Jakarta:

Erlangga.

7. Kaplan. (2006). Kaplan’s Clinical Hypertension, Ninth Edition, Lippincott

Williams & Wilkins. Lemeshow, S.

8. Kaplan, Norman M. 2001. Treatment of Hypertension in general Practice.

London: Martin Dunitz, Ltd.

28
9. Karanja N, Erlinger TP, Hwa LP, Miller ER, Bray GA. TheDASHdiet for high

blood pressure : From clinical trial to dinner table. Cleveland Clinic Journal of

Medicine. Vol. 71 No. 9. 2004

10. Kementrian Kesehatan RI. Riset Kesehatan Dasar 2013. 2013

11. Knight-Klimas TC, Boullata JI. Drug-Nutrient Interaction. In : Boullata JI,

Armenti VT, editors. Drug-Nutrient Interaction. New Jersey:Humana

Press;2004.

12. Martono H. Penatalaksanaan Hipertensi Pada Usia Lanjut. Dalam: Martono H,

Pranarka K, editor. Buku Ajar Boedhi-Darmojo Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia

Lanjut). Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia;

2009. Hal 495.

13. McFall JM, Barkley JE, Gordon KL, Burzsminski N, Glickman EL. Effect of

the DASH Diet on Pre- and Stage 1 Hypertensive Individuals in a Free- Living

Environment. Nutrition and Metabolic Insights. 2010:3 15–23.

14. National Institutes Of Health, National Heart, Lung and Blood Institute, U.S.

Departement Of Health and Human Science. No. 06-4082. 2006.

15. Nolan CR, Schrier RW. The Kidney In Hypertension. In: Schrier RW. Renal

And Electrolyte Disorders. 7 th ed. Wolters Kluwer. 2010. p 272.

16. Nwankwo T, Yoon SS, Burt V, Gu Q. Hypertension among adults in the

united states: national health and examination survey, 2011 – 2012. NCHS

Data Brief No. 133 October 2013

17. Pujol TJ, Tucker JE, Barnes JT. Diseases Of The Cardiovascular System. In:

Marcia NM, Sucher KP, Roth SL. Nutrition Therapy And Pathopysiology. 2 th

ed. WADSWORTH; 2010. p 288 – 297.

29
18. Rahajeng E, Tuminah S. Prevalensi Hipertensi Dan Determinannya Di

Indonesia. Maj Kedokt Indon, Vol. 59, No. 12, Desember 2009.

19. Rahmayanti EM, Sutjiati E. Anjuran Kombinasi Diet DASH (Dietary

Approaches To Stop Hypertension) Dan Diet Rendah Garam Pada Wanita

Menapouse Dengan Hipertensi. Jurnal Kesehatan, Volume 7, No. 2 November

2009: 100 – 118.

20. Savica V, Bellinghieri G, Kopple JD. The Effect of Nutrition On Blood

Pressure. Annu. Rev. Nutr. 2010.30:365-401.

21. Sheps, Sheldon G. 2005. Mayo Clinic Hipertensi, Mengatasi Tekanan Darah

Tinggi. Jakarta: PT Intisari Mediatama

22. Vollmer WM, Sacks FM, Ard J, Appel LJ, Bray GA, Morton DGS. Effect of

diet and sodium intake on blood pressure : Sub group analysis of the DASH-

sodium trial. Ann Intern Med. 2001; 135:1019-1028.

23. Wirakusumah.2001.Konsumsi Karbohidrat, Lemak, Dan Protein Pada

Mahasiswi Gizi Lebih. Depkes : Jakarta.

24. Yogiantoro, Mohammad. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam: Hipertensi

Esensial. Jilid I Edisi IV. Editor: Sudoyo, Aru W., dkk. Jakarta: Pusat

Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas

Indonesia.

30