Anda di halaman 1dari 41

FAKULTAS KEDOKTERAN Makassar, 24 april 2018

UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

LAPORAN KASUS

TUBERKULOSIS PARU

OLEH :

A. FAJRUL SAMBALOGE

110 212 0099

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2018

1
HALAMAN PENGESAHAN

Yang bertandangan di bawah ini menyatakan bahwa :

Nama : Gita Wulandari

NIM : 111 2016 2027

Judul : Tuberkulosis Paru

Telah menyelesaikan tugas dalam rangka kepaniteraan klinik pada bagian Ilmu
Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia

Makassar, 13 Maret 2017

Pembimbing

Dr. dr. Nur Ahmad Tabri, Sp.PD, KP, Sp.P (K)

2
BAB I
PENDAHULUAN

Penyakit TB Paru merupakan penyakit menular dan kronis (menahun) yang


telah lama dikenal oleh masyarakat luas dan ditakuti. Penyakit TB disebabkan oleh
kuman Mycobacterium tuberculosis. Kuman ini pertama kali ditemukan oleh Robert
Koch. Tuberkulosis (TB) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting di
dunia ini. Pada tahun 1992 World Health Organization (WHO) telah mencanangkan
tuberkulosis sebagai « Global Emergency ». Tuberkulosis merupakan penyakit
infeksius terbanyak penyebab kematian di dunia. Menurut WHO pada tahun 2014,
9,6 juta jiwa terjangkit penyakit Tuberkulosis dan 1,5 juta diantaranya meninggal
akibat penyakit tersebut. Hampir 95 % kasus kematian akibat Tuberkulosis (TB)
berada di negara berpendapatan menengah ke bawah. Tuberkulosis bukan hanya
banyak ditemukan pada dewasa, namun juga pada anak-anak. Bersumber yang sama
dari WHO, sekitar 1 juta anak-anak terkena penyakit TB dan 140.000 diantaranya
meninggal akibatnya. (1)

Indonesia menempati peringkat keempat di antara negara-negara TB tertinggi di


dunia. Estimasi prevalensi TB di Indonesia dikutip dari TB Indonesi adalah sekitar
690.000 pada tahun 2011, dan perkiraan jumlah kematian akibat TB adalah sebanyak
64.000 kematian per tahun. TB merupakan penyebab tersering kematian pada
seseorang dengan HIV positif. Pada tahun 2015, di dunia 1 dari 3 pasien dengan HIV
meninggal akibat TB. Dan kasus yang lebih serius saat ini adalah kasus Multidrug-
resistant TB (MDR TB). Secara global di seluruh dunia, kasus MDR TB mencapai
480.000 orang. (1)

Berikut kami laporkan satu kasus baru TB paru klinis :

3
BAB II
LAPORAN KASUS

2.1 IDENTITAS PASIEN


Nama : Tn. J
Umur : 54 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Pekerjaan : Pedagang
Alamat : Jln. Pampang 4 No. 24
Nama RS : RS Ibnu Sina Makassar
No.RM : 15-17-85
Tgl. MRS : 03 Februari 2016
Pukul : 09.35 WITA

2.2 ANAMNESIS (HETEROANAMNESIS)


KU : Demam
AT :
Demam dialami sejak 4 hari sebelum MRS, hilang timbul dan
berkurang bila minum obat penurun demam (paracetamol), menggigil ada
dan berkeringat banyak terutama pada malam hari. Awalnya pasien merasa
kadang-kadang sesak dan tidak mengganggu aktivitas, tapi berapa hari
terakhir semakin sesak dan mengganggu aktivitas sehari-hari, pasien masih
bisa tidur dengan menggunakan satu bantal, memberat saat pasien batuk dan
melakukan aktivitas, batuk dialami 1 bulan sebelum masuk rumah sakit,
memberat dalam 2 minggu ini, ada lendir berwarna putih, kadang disertai
bercak darah, nyeri dada ada bila batuk sangat keras saja.

4
Nyeri kepala tidak ada, pusing tidak ada, nyeri menelan tidak ada,
Mual tidak ada, muntah tidak ada, nyeri ulu hati tidak ada, nyeri perut tidak
ada. Nafsu makan menurun, ada penurunan berat badan sekitar 10 kg dalam
3 bulan terakhir tanpa penyebab yang jelas.
BAB: biasa
BAK: kesan lancar warna kuning
Riwayat penyakit sebelumnya: riwayat kontak dengan penderita batuk
lama tidak jelas, riwayat OAT sebelumnya tidak ada, riwayat malaria tidak
ada, riwayat DM tidak ada, riwayat merokok tidak ada, riwayat kontak
dengan perokok ada.

2.3 PEMERIKSAAN FISIS


1) STATUS PRESENT

Status generalis : Sakit Sedang/Gizi kurang/Compos mentis GCS 15 (E4V5M6)


Status gizi : BB = 53 kg

TB = 170 cm

𝐵𝐵 53
Status Gizi =𝑇𝐵2=1,70 𝑥 1,70 = 18,33 kg/m2=>Gizi kurang

Tanda Vital
 TD : 120/80 mmHg
 Nadi : 88 x/menit
 Pernapasan : 20 x/menit; tipe: thoracoabdominal
 Suhu : 390C (suhu axilla)

2) PEMERIKSAAN FISIS
 Kepala
Ekspresi : normal
Simetris muka: kanan = kiri
Deformitas : (-)

5
Rambut : hitam, lurus, sukar dicabut
 Mata
Eksoptalmus/enoptalmus : (-)
Gerakan : ke segala arah
Kelopak mata : dalam batas normal
Kongjungtiva : anemis (-)
 Telinga
Tophi : (-)
Nyeri tekan di prosesus mastoideus: (-)
Pendengaran : dalam batas normal
 Hidung
Perdarahan : (-)
Sekret : (-)
 Mulut
Bibir : sianosis (-)
Gigi geligi : normal
Gusi : perdarahan (-)
 Leher
Kelenjar getah bening : tidak ada pembesaran
Kelenjar gondok : tidak ada pembesaran
DVS : R-2 cmH2O
Pembuluh darah : venaectasis (-)
Kaku kuduk : (-)
Tumor : (-)
 Thorax
Inspeksi:
Bentuk : simetris kiri=kanan
Pembuluh darah : venaectasis (-)
Buah dada : simetris
Sela iga : semetris kiri=kanan
Lain-lain : (-)

6
 Paru-paru
Palpasi:
Nyeri tekan : (-)
Perkusi:
Paru : redup pada ICS III kiri dan kanan dan
pekak pada ICS IX paru kiri dan kanan
Batas paru depan kanan : ICS VI dextra
Batas paru belakang kanan : vertebra thoracalis IX dextra posterior
Batas paru belakang kiri : vertebra thoracalis X sinistra posterior
Auskultasi:
Bunyi pernapasan : vesikuler
Bunyi tambahan : Rh +/+ (rhonki basah kasar pada apeks dan medial
paru kanan, rhonki basah pada apeks dan basal paru sinistra) Wh -/-
 Jantung
Inspeksi : ictus cordis tidak tampak
Palpasi : ictus cordis tidak teraba
Perkusi : pekak, batas jantung dalam batas normal
Auskultasi : bunyi jantung I/II murni regular, bising (-)
 Abdomen
Inspeksi : datar, ikut gerak napas
Palpasi : nyeri tekan epigastrium (-)
Hati : tidak teraba
Limpa : tidak teraba
Ginjal : tidak teraba
Perkusis : tympani, ascites (-)
Auskultasi : peristaltic (+) kesan normal
 Alat kelamin : tidak dilakukan pemeriksaan
 Anus dan rectum : tidak dilakukan pemeriksaan
 Punggung:
Palpasi : nyeri tekan (-), massa teraba (-),
Perkusi : nyeri ketok (-)

7
Auskultasi : Rh +/+ (rhonki basah kasar pada apeks dan medial paru
kanan, rhonki basah pada apeks dan basal paru sinistra) Wh -/-
Gerakan : normal
Gibbus : (-)
Lain-lain : (-)
 Ekstremitas : akral hangat, edema pretibial -/-, dorsum pedis -/-,
pembesaran KGB (-)

3) PEMERIKSAAN PENUNJANG
 Laboratorium
WBC : 13,7 x 103 u/L
RBC : 5,58 x 106 u/L
HGB : 15,3 g/dl
HCT : 50,1%
PLT : 165 x 103 u/L
Limfosit : 1,5 %
 Chest X-Ray
Kesan : Bronkopneumonia bilateral

4) DIAGNOSIS
 Pneumonia dd/ TB paru

5) PENATALAKSANAAN AWAL
 Diet biasa RL : 20 tpm
 Paracetamol tab 3 x 500 mg
 Ambroxol 30 mg 3 x 1
 Inj. Ceftriaxone 2 gr / 24 jam / drips

6) RENCANA PEMERIKSAAN
 Sputum BTA 3x, gram, jamur
 Darah rutin, SGOT/SGPT, kreatinin, GDS

8
7) PROGNOSIS
Dubia at Bonam

8) RESUME

Seorang laki-laki umur 54 tahun Masuk RS Ibnu Sina pada tanggal 3 Februari
2017 dengan keluhan utama demam sejak 4 hari yang lalu. Demam disertai batuk
dengan lendir berwarna putih, kadang bercampur darah. Pasien kadang mengeluh
menggigil dan keringat pada malam hari. Sesak napas ada. Penurunan BB sekitar 10
kg dalam 3 bulan terakhir.
Pada pemeriksaan fisis didapatkan sakit sedang, gizi kurang, composmentis,
suhu 390C. anemia (-). Pada pemeriksaan thorax didapatkan rhonki basah kasar pada
paru dextra dan sinistra. Hasil pemeriksaan lab Hb: 15,3 gr/dl, WBC : 13,7 x 103 u/L.
Pemeriksaan Radiologi CXR kesan : Bronkopneumonia bilateral.

Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan penunjang maka pasien ini


didiagnosis sebagai Pneumonia dd/ TB paru.

9) FOLLOW UP

4 Februari 2017 S: Demam (+), Batuk (+), lendir R/


(+) bercak darah (+), sesak (+)
Diet biasa
O: KU : Sakit sedang/ gizi
IVFD RL : 24 tpm
kurang/ composmentis
Inj. Ceftriaxone 2 gr drips
TD: 120/80 mmHG
dalam 100 cc Nacl 0,9% /
N: 96 x/menit hari (hari 1) skin test
dulu
P: 24 x/menit
Paracetamol tab 3x1
S: 380C
Codein 10mg/8jan/oral
Kepala: anemis (+), ikterus (-)

9
Thorax: Ambroxol 30 mg 3x1
(tunda)
BP: vesikuler; BT: Rh +/+
(rhonki basah kasar pada apeks
dan medial paru kanan, rhonki
Planning:
basah kasar pada apeks dan
midbasal paru sinistra) Wh -/- Sputum BTA 3x, gram,
jamur
BJ I/II murni regular

Abdomen:

Peristaltik (+) kesan normal

Hepar/lien tidak teraba

Ekstremitas: edema -/-

Hasil lab:

WBC : 13,7 x 103 u/L

RBC : 5,58 x 106 u/L

HGB : 15,3 g/dl

HCT : 50,1%

PLT : 165 x 103 u/L

Limfosit : 1,5 %

GDS : 61 gr/dl

SGOT : 59

SGPT : 45

Kreatinin : 1,5

10
Chest X-Ray:

- Perselubungan inhomogen
pada kedua paracardia
- Bentuk dan ukuran jantung
normal
- Kedua sinus dan diafragma
kesan baik
- Tulang-tulang intak

Kesan : bornkopneumonia
bilateral

A:

- Pneumonia DD/ TB paru

5 Februari 2017 S: demam (-), batuk (+), lendir R/


(+)
Diet biasa
O: KU : Sakit sedang/ gizi
IVFD RL : 20 tpm
kurang/ composmentis
Inj. Ceftriaxone 2 gr drips
TD: 120/70 mmHG
dalam 100 cc Nacl 0,9% /
N: 96 x/menit hari (hari 2)

P: 24 x/menit Paracetamol tab 3x1

S: 360C Kodein 10 mg 3x1

Kepala: anemis (-), ikterus (-)

11
Thorax: Planning:

BP: vesikuler; BT: Rh +/+ Sputum BTA 3x, gram,


(rhonki basah kasar pada apeks jamur
dan medial paru kanan, rhonki
Kultur dahak
basah kasar pada apeks dan basal
paru sinistra) Wh -/-

BJ I/II murni regular

Abdomen:

Peristaltik (+) kesan normal

Hepar/lien tidak teraba

Ekstremitas: edema -/-

A:

- Pneumonia komunitas
- DD/ TB paru

6 Februari 2017 S: demam (+), batuk (+), lendir R/


(+)
Diet biasa
O: KU : Sakit sedang/ gizi
IVFD RL : 20 tpm
kurang/ composmentis
Inj. Ceftriaxone 2 gr drips
TD: 100/60 mmHG
dalam 100 cc Nacl 0,9% /
N: 90 x/menit hari (hari 3)
Paracetamol tab 3x1
P: 28 x/menit
Kodein 10mg 3x1
S: 38,30C

12
Kepala: anemis (-), ikterus (-)

Thorax: Planning:

BP: vesikuler; BT: Rh +/+ Sputum BTA 3x, gram,


(rhonki basah kasar pada apeks jamur
dan medial paru kanan, rhonki
Kontrol thorax PA
basah kasar pada apeks dan basal
paru sinistra) Wh -/-

BJ I/II murni regular

Abdomen:

Peristaltik (+) kesan normal

Hepar/lien tidak teraba

Ekstremitas: edema -/-

A:

- Pneumonia komunitas
- DD/ TB paru

7 Februari 2017 S: demam (+), batuk (+) R/

O: KU : Sakit sedang/ gizi Diet biasa


kurang/ composmentis
IVFD RL : 28 tpm
TD: 110/80 mmHG
Inj. Ceftriaxone 2 gr drips
N: 82 x/menit dalam 100 cc Nacl 0,9% /

P: 24 x/menit

13
S: 38 0C hari (hari 4)
Paracetamol tab 3x1
Kepala: anemis (-), ikterus (-)
Kodein 10 mg 3x1
Thorax:

BP: vesikuler; BT: Rh +/+


(rhonki basah kasar pada apeks Planning:
dan medial paru kanan, rhonki
Tunggu hasil Sputum
basah kasar pada apeks dan basal
BTA 3x, gram, jamur
paru sinistra) Wh -/-
Kontrol thorax PA setelah
BJ I/II murni regular
5 hari pemberian
Abdomen: antibiotic

Peristaltik (+) kesan normal

Hepar/lien tidak teraba

Ekstremitas: edema -/-

A:

- Pneumonia komunitas
- DD/ TB paru

8 Februari 2017 S: demam (-), batuk (+) R/

O: KU : Sakit sedang/ gizi Diet biasa


kurang/ composmentis
IVFD RL : 16 tpm
TD: 120/70 mmHg
Inj. Ceftriaxone 2 gr drips
N: 84 x/menit dalam 100 cc Nacl 0,9% /

P: 20 x/menit

14
S: 36,50C hari (hari 5)
Paracetamol tab 3x1
Kepala: anemis (-), ikterus (-)
Kodein 10 mg 3x1
Thorax:

BP: vesikuler; BT: Rh +/+


(rhonki basah kasar pada apeks Planning:
dan medial paru kanan, rhonki
Kontrol thorax PA setelah
basah kasar pada apeks dan basal
5 hari pemberian
paru sinistra) Wh -/-
antibiotik
BJ I/II murni regular
Tunggu hasil control foto
Abdomen: thorax

Peristaltik (+) kesan normal Usul : OAT kategori I

Hepar/lien tidak teraba

Ekstremitas: edema -/-

Sputum BTA:

BTA 1 (-)

BTA 2 (-)

BTA 3 (-)

A:

- TB Paru klinis kasus baru


9 Februari 2017 S: demam (-), batuk (+) R/

O: KU : Sakit sedang/ gizi Diet biasa


kurang/ composmentis
- Aff infus

15
TD: 120/90 mmHG Mulai OAT:

N: 82 x/menit - INH 1 x 300mg


- RIF 1 x 450 mg
P: 20 x/menit
- Ethambutol 1 x 1000mg
S: 36,5 0C - Pirazinamide 1 x 1000mg
- Curcuma 3x1
Kepala: anemis (-), ikterus (-)

Thorax: Rawat jalan

BP: vesikuler; BT: Rh +/+


(rhonki basah kasar pada apeks
dan medial paru kanan, rhonki
basah kasar pada apeks dan basal
paru sinistra) Wh -/-

BJ I/II murni regular

Abdomen:

Peristaltik (+) kesan normal

Hepar/lien tidak teraba

Ekstremitas: edema -/-

Sputum BTA:

BTA 1 (-)

BTA 2 (-)

BTA 3 (-)

A:

TB Paru klinis kasus baru

16
2.4 DISKUSI DAN PEMBAHASAN

Pasien masuk rumah sakit dengan keluhan demam. Selain itu dari anamnesis
didapatkan riwayat batuk berlendir disertai bercak darah, sering sesak, nafsu makan
juga menurun. Pasien juga mengeluh menggigil dan sering keringat pada malam hari.
Berdasarkan dari keluhan pasien, gejala-gejala yang ada merupakan gejala pada
infeksi TB paru sehingga dapat didiagnosis pasien ini mengalami infeksi TB paru.

Pada pasien ini terdapat keluhan demam. Menurut teori Demam merupakan
salah satu tanda inflamasi. Demam pada penyakit tuberculosis biasanya hilang
timbul. Mekanisme demam sendiri yaitu mikroorganisme yang masuk ke dalam
jaringan atau darah akan difagositosis oleh leukosit darah, makrofag, dan sel mast.
Setelah memfagositosis, sel ini akan mengeluarkan IL-1 ke dalam cairan tubuh
disebut sebagai pirogen endogen. IL-1 menginduksi pembentukan prostaglandin
akan menstimulus hipotalamus sebagai pusat termoregulator untuk meningkatkan
temperatur tubuh dan terjadi demam atau panas. Sedangkan menggigil didapatkan
terjadi saat suhu tubuh dengan cepat, tetapi tidak diikuti pengeluaran panas dengan
kecepatan yang sama atau dapat terjadi sebagai suatu reaksi umum yang lebih hebat.1

Gejala lain yang ada adalah sesak. Berdasarkan teori merupakan late
symptom dari proses lajut tuberculosis paru akibat adanya restriksi dan obstruksi
saluran napas serta loss of vascular bed/vascular thrombosis batuk berlendir.
Berdasarkan dengan teori batuk berlendir terjadi karena iritasi bronkus, dan
selanjutnya batuk diperlukan untuk membuang dahak ke luar.1

Pasien juga mengalami keringat pada malam hari, berdasarkan teori Keringat
malam ini kemungkinan disebabkan oleh karena kuman yang menginfeksi penderita,
misalnya kuman Mycobacterium Tuberculosis, mengadakan metabolisme seperti
pembelahan didalam tubuh penderita sehingga terjadilah manifestasi keringat.1

Nafsu makan menurun adanya gangguan pada reflex vagal yang


menyebabkan peningkatan hormone leptin sehingga pasien merasa selalu kenyang.

17
Penurunan berat badan disebabkan oleh peningkatan metabolisme pada infeksi TB,
sehingga terjadi pemecahan pada cadangan makanan yang ada pada tubuh
dikarenakan kebutuhan sel yang meningkat dan nutrisi yang kurang dari tubuh
sehingga didiagnosis malnutrisi untuk itu diperlukan pemeriksaan laboratorium
Albumin untuk menunjang diagnosis pada pasien ini.1

Pasien juga mengalami batuk berlendir yang disertai bercak darah. Batuk
darah dapat terjadi akibat banyak hal yaitu: tuberculosis, brokkiektasis, abses paru,
Ca paru, dan bronchitis kronik. Namun diantara banyak penyebab, yang paling sering
adalah tuberculosis. Adanya infeksi pada paru dapat menyebabkan nekrosis pada
parenkim paru yang akan menimbulkan proses perkejuan. Apabila dibatukkan, bahan
cair dari perkejuan tersebut akan keluar dan meninggalkan lubang yang disebut
kavitas. Kavitas ini lama-lama akan menebal karena infiltrasi jaringan fibroblas
dalam jumlah besar dan terjadilah sklerotik. Jika terjadi peradangan arteri di dinding
kavarne akan mengakibatkan pecahnya vasa darah. Jika vasa darah pecah maka darah
akan dibatukkan keluar dan terjadilah hemoptisis. (1-6)

Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik pasien pasien juga didiagnosis


Pneumonia karena memiliki gejala yang serupa dengan TBC. Berdasarkan teori yang
ada TBC memang juga merupakan pneumonia karena pada TBC juga terjadi
peradangan paru. Namun dalam prakteknya sehari-hari, diagnosis TBC paru
dibedakan dengan pneumonia walau keduanya sama sama dapat ditandai dengan
gejala batuk berdahak, demam dan sesak nafas. Pada umumnya gejala yang tampak
pada pneumonia lebih cepat dan singkat yaitu kurang dari dua minggu. Sedangkan
pada TBC gejalanya lebih dari tiga minggu. Oleh karena itu, memang pengobatanya
berbeda jenis dan lamanya. Pneumonia yang disebabkan oleh bakteri dapat diobati
dengan antibiotik, sedangkan pneumonia yang disebabkan oleh virus biasanya hanya
disarankan untuk beristirahat, makan yang cukup dan banyak minum vitamin.1

Dari hasil pemeriksaan radiologi tampak infiltrat pada apeks paru, sputum
BTA 3x didapatkan BTA negatif dan tidak ada perbaikan setelah diberi pengobatan

18
dengan antibiotik non-OAT maka pasien dapat didiagnosis sebagai TB paru klinis
kasus baru.

Hasil Foto Thorax kontrol


setelah 5 hari pemberian Antibiotik

19
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

TUBERKULOSIS PARU

DEFINISI

Tuberkulosis paru adalah penyakit radang parenkim paru karena infeksi


kuman mycobacterium tuberculosis. Tuberkulosis paru termasuk suatu pneumonia,
yaitu pneumonia yang disebaban oleh M. tuberculosis. Tuberkulosis paru
mencangkup 80% dari keseluruhan kejadian penyakit tuberkulosis, sedangkan 20%
selebihnya merupakan tuberkulosis ekstrapulmonar. Diperkirakan bahwa sepertiga
penduduk dunia pernah terinfeksi kuman M.tuberculosis.(1,2,3)

EPIDEMIOLOGI

Tuberculosis (TB) merupakan penyakit infeksi yang sejarahnya dapat dilacak


sampai ribuan tahun sebelum masehi. Sejak zaman purba, penyakit ini dikenal
sebagai penyebab kematian yang menakutkan. Sampai pada saat Robert Koch
menemukan penyebabnya, penyakit ini masih termasuk penyakit yang mematikan.
Istilah saat itu untuk penyakit yang mematikan ini adalah consumption. (1,2,3)

Di Indonesia, TB paru menduduki urutan ke-4 untuk angka kesakitan


sedangkan sebagai penyebab kematian menduduki urutan ke-5. TB menyerang
sebagian besar kelompok usia produktif dari kelompok sosioekonomi lemah. Walau
upaya memberantas TB telah dilakukan, tetapi angka insiden maupun prevalensi TB
paru di Indonesia tidak pernah turun. Dengan bertambahnya penduduk, bertambah
pula jumlah penderita TB paru. Dengan meningkatnya HIV/AIDS di Indonesia,
penderita TB akan meningkat pula.( 1,2,3)

Karena diperkirakan seperempat penduduk dunia telah terinfeksi kuman


tuberkulosis, pada tahun 1993 WHO merencanakan tuberkulosis sebagai kedaruratan
global. (1,2,3)

20
PATOGENESIS

A. Tuberkulosis Primer

Kuman tuberkulosis yang masuk melalui saluran napas akan bersarang di


jaringan paru sehingga akan terbentuk suatu sarang pneumoni, yang disebut
sarang primer atau afek primer. Sarang primer ini mungkin timbul di bagian mana
saja dalam paru, berbeda dengan sarang reaktivasi. Dari sarang primer akan
kelihatan peradangan saluran getah bening menuju hilus (limfangitis lokal).
Peradangan tersebut diikuti oleh pembesaran kelenjar getah bening di hilus
(limfadenitis regional). Afek primer bersama-sama dengan limfangitis regional
dikenal sebagai kompleks primer. Kompleks primer ini akan mengalami salah
satu nasib sebagai berikut : (3,4)
1. Sembuh dengan tidak meninggalkan cacat sama sekali (restitution ad
integrum) (3,4)
2. Sembuh dengan meninggalkan sedikit bekas (antara lain sarang Ghon, garis
fibrotik, sarang perkapuran di hilus) (3,4)
3. Menyebar dengan cara :
a. Perkontinuitatum, menyebar ke sekitarnya Salah satu contoh adalah
epituberkulosis, yaitu suatu kejadian penekanan bronkus, biasanya
bronkus lobus medius oleh kelenjar hilus yang membesar sehingga
menimbulkan obstruksi pada saluran napas bersangkutan, dengan akibat
atelektasis. Kuman tuberkulosis akan menjalar sepanjang bronkus yang
tersumbat ini ke lobus yang atelektasis dan menimbulkan peradangan
pada lobus yang atelektasis tersebut, yang dikenal sebagai
epituberkulosis. (3,4)
b. Penyebaran secara bronkogen, baik di paru bersangkutan maupun ke paru
sebelahnya atau tertelan(3,4)
c. Penyebaran secara hematogen dan limfogen. Penyebaran ini berkaitan
dengan daya tahan tubuh, jumlah dan virulensi kuman. Sarang yang
ditimbulkan dapat sembuh secara spontan, akan tetetapi bila tidak
terdapat imuniti yang adekuat, penyebaran ini akan menimbulkan

21
keadaan cukup gawat seperti tuberkulosis milier, meningitis tuberkulosis,
typhobacillosis Landouzy. Penyebaran ini juga dapat menimbulkan
tuberkulosis pada alat tubuh lainnya, misalnya tulang, ginjal, anak ginjal,
genitalia dan sebagainya. Komplikasi dan penyebaran ini mungkin
berakhir dengan : (3,4)
 Sembuh dengan meninggalkan sekuele (misalnya pertumbuhan
terbelakang pada anak setelah mendapat ensefalomeningitis,
tuberkuloma ) atau
 Meninggal. Semua kejadian diatas adalah perjalanan tuberkulosis
primer.
B. Tuberkulosis Post Primer

Tuberkulosis postprimer akan muncul bertahun-tahun kemudian setelah


tuberkulosis primer, biasanya terjadi pada usia 15-40 tahun. Tuberkulosis
postprimer mempunyai nama yang bermacam-macam yaitu tuberkulosis bentuk
dewasa, localized tuberculosis, tuberkulosis menahun, dan sebagainya. Bentuk
tuberkulosis inilah yang terutama menjadi masalah kesehatan masyarakat, karena
dapat menjadi sumber penularan. Tuberkulosis postprimer dimulai dengan sarang
dini, yang umumnya terletak di segmen apikal lobus superior maupun lobus
inferior. Sarang dini ini awalnya berbentuk suatu sarang pneumoni kecil. Sarang
pneumoni ini akan mengikuti salah satu jalan sebagai berikut :(5)
1. Diresopsi kembali dan sembuh tanpa meninggalkan cacat
2. Sarang tersebut akan meluas dan segera terjadi proses penyembuhan dengan
penyebukan jaringan fibrosis. Selanjutnya akan terjadi pengapuran dan akan
sembuh dalam bentuk perkapuran. Sarang tersebut dapat menjadi aktif
kembali dengan membentuk jaringan keju dan menimbulkan kaviti bila
jaringan keju dibatukkan keluar. (5)
3. Sarang pneumoni meluas, membentuk jaringan keju (jaringan kaseosa).
Kaviti akan muncul dengan dibatukkannya jaringan keju keluar. Kaviti
awalnya berdinding tipis, kemudian dindingnya akan menjadi tebal (kaviti
sklerotik). Kaviti tersebut akan menjadi: (5)

22
 Meluas kembali dan menimbulkan sarang pneumoni baru. Sarang
pneumoni ini akan mengikuti pola perjalanan seperti yang disebutkan di
atas
 Memadat dan membungkus diri (enkapsulasi), dan disebut tuberkuloma.
Tuberkuloma dapat mengapur dan menyembuh, tetapi mungkin pula aktif
kembali, mencair lagi dan menjadi kaviti lagi
 Bersih dan menyembuh yang disebut open healed cavity, atau kaviti
menyembuh dengan membungkus diri dan akhirnya mengecil.
Kemungkinan berakhir sebagai kaviti yang terbungkus dan menciut
sehingga kelihatan seperti bintang (stellate shaped).
KLASIFIKASI TUBERKULOSIS
A. Tuberkulosis Paru
Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan paru, tidak termasuk
pleura. (5)
1. Berdasar hasil pemeriksaan dahak (BTA)
TB paru dibagi atas:
a. Tuberkulosis paru BTA (+) adalah:
 Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak menunjukkan hasil BTA
positif(5)
 Hasil pemeriksaan satu spesimen dahak menunjukkan BTA positif dan
kelainan radiologi menunjukkan gambaran tuberkulosis aktif
 Hasil pemeriksaan satu spesimen dahak menunjukkan BTA positif dan
biakan positif(5)
b. Tuberkulosis paru BTA (-)
 Hasil pemeriksaan dahak 3 kali menunjukkan BTA negatif, gambaran
klinis dan kelainan radiologi menunjukkan tuberkulosis aktif
 Hasil pemeriksaan dahak 3 kali menunjukkan BTA negatif dan biakan M.
(5)
tuberculosis
2. Berdasarkan tipe pasien
Tipe pasien ditentukan berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya. Ada
beberapa tipe pasien yaitu: (5)

23
a. Kasus baru Adalah pasien yang belum pernah mendapat pengobatan dengan
OAT atau sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan.
b. Kasus kambuh (relaps) Adalah pasien tuberkulosis yang sebelumnya pernah
mendapat pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau
pengobatan lengkap, kemudian kembali lagi berobat dengan hasil
pemeriksaan dahak BTA positif atau biakan positif.
Bila BTA negatif atau biakan negatif tetapi gambaran radiologi dicurigai lesi
aktif / perburukan dan terdapat gejala klinis maka harus dipikirkan beberapa
kemungkinan :
 Lesi nontuberkulosis (pneumonia, bronkiektasis, jamur, keganasan dll)
 TB paru kambuh yang ditentukan oleh dokter spesialis yang
berkompeten menangani kasus tuberkulosis
c. Kasus defaulted atau drop out Adalah pasien yang telah menjalani
pengobatan > 1 bulan dan tidak mengambil obat 2 bulan berturut-turut atau
lebih sebelum masa pengobatannya selesai. (5)
d. Kasus gagal Adalah pasien BTA positif yang masih tetap positif atau
kembali menjadi positif pada akhir bulan ke-5 (satu bulan sebelum akhir
pengobatan) atau akhir pengobatan.
e. Kasus kronik Adalah pasien dengan hasil pemeriksaan BTA masih positif
setelah selesai pengobatan ulang dengan pengobatan kategori 2 dengan
pengawasan yang baik.
(5)
f. Kasus Bekas TB:
 Hasil pemeriksaan BTA negatif (biakan juga negatif bila ada) dan
gambaran radiologi paru menunjukkan lesi TB yang tidak aktif, atau foto
serial menunjukkan gambaran yang menetap. Riwayat pengobatan OAT
adekuat akan lebih mendukung
 Pada kasus dengan gambaran radiologi meragukan dan telah mendapat
pengobatan OAT 2 bulan serta pada foto toraks ulang tidak ada perubahan
gambaran radiologi
C. Tuberkulosis Ekstraparu

24
Tuberkulosis ekstraparu adalah tuberkulosis yang menyerang organ tubuh
lain selain paru, misalnya kelenjar getah bening, selaput otak, tulang, ginjal,
saluran kencing dan lain-lain. (5)
Diagnosis sebaiknya didasarkan atas kultur positif atau patologi anatomi dari
tempat lesi. Untuk kasus-kasus yang tidak dapat dilakukan pengambilan
spesimen maka diperlukan bukti klinis yang kuat dan konsisten dengan TB
ekstraparu aktif.(5)

DIAGNOSA

Diagnosis tuberkulosis dapat ditegakkan berdasarkan gejala klinis,


pemeriksaan fisis/jasmani, pemeriksaan bakteriologi, radiologi dan pemeriksaan
penunjang lainnya. (1-6)

A. Gejala klinik

Gejala klinis tuberkulosis dapat dibagi menjadi 2 golongan, yaitu gejala lokal
dan gejala sistemik, bila organ yang terkena adalah paru maka gejala lokal ialah
gejala respiratori (gejala lokal sesuai organ yang terlibat) (1-6)

1. Gejala respiratorik
 batuk > 2 minggu
 batuk darah dapat terjadi akibat banyak hal yaitu: tuberculosis, brokkiektasis,
abses paru, Ca paru, dan bronchitis kronik. Namun diantara banyak penyebab,
yang paling sering adalah tuberculosis. Adanya infeksi pada paru dapat
menyebabkan nekrosis pada parenkim paru yang akan menimbulkan proses
perkejuan. Apabila dibatukkan, bahan cair dari perkejuan tersebut akan
keluar dan meninggalkan lubang yang disebut kavitas. Kavitas ini lama-lama
akan menebal karena infiltrasi jaringan fibroblas dalam jumlah besar dan
terjadilah sklerotik. Jika terjadi peradangan arteri di dinding kavarne akan
mengakibatkan pecahnya vasa darah. Jika vasa darah pecah maka darah akan
dibatukkan keluar dan terjadilah hemoptisis. (1-6)

25
 sesak napas
 nyeri dada
Gejala respiratori ini sangat bervariasi, dari mulai tidak ada gejala sampai
gejala yang cukup berat tergantung dari luas lesi. Kadang pasien terdiagnosis
pada saat medical check up. Bila bronkus belum terlibat dalam proses penyakit,
maka pasien mungkin tidak ada gejala batuk. Batuk yang pertama terjadi karena
iritasi bronkus, dan selanjutnya batuk diperlukan untuk membuang dahak ke luar.
(1-6)

2. Gejala sistemik
 Demam merupakan salah satu tanda inflamasi. Demam pada penyakit
tuberculosis biasanya hilang timbul, biasanya muncul pada sore hari.
Mekanisme demam sendiri yaitu mikroorganisme yang masuk ke dalam
jaringan atau darah akan difagositosis oleh leukosit darah, makrofag, dan sel
mast. Setelah memfagositosis, sel ini akan mengeluarkan IL-1 ke dalam
cairan tubuh disebut sebagai pirogen endogen. IL-1 menginduksi
pembentukan prostaglandin akan menstimulus hipotalamus sebagai pusat
termoregulator untuk meningkatkan temperatur tubuh dan terjadi demam atau
panas. (1-6)
 gejala sistemik lain adalah malaise, keringat malam, anoreksia dan berat
badan menurun(1-6)
o Keringat malam ini kemungkinan disebabkan oleh karena kuman
yang menginfeksi penderita, misalnya kuman Mycobacterium
Tuberculosis, mengadakan metabolisme seperti pembelahan didalam
tubuh penderita sehingga terjadilah manifestasi keringat. Sebenarnya,
keringat yang disebut disini tidak hanya terjadi pada malam hari saja
tetapi juga terjadi setiap saat. Namun, pada pagi dan siang hari
umumnya penderita melakukan aktivitas fisik jadi keringat akibat
metabolisme kuman tersebut menjadi samar.
3. Gejala tuberkulosis ekstraparu
Gejala tuberkulosis ekstraparu tergantung dari organ yang terlibat, misalnya
pada limfadenitis tuberkulosis akan terjadi pembesaran yang lambat dan tidak

26
nyeri dari kelenjar getah bening, pada meningitis tuberkulosis akan terlihat gejala
meningitis, sementara pada pleuritis tuberkulosis terdapat gejala sesak napas dan
kadang nyeri dada pada sisi yang rongga pleuranya terdapat cairan. (1-6)
B. Pemeriksaan Jasmani

Pada pemeriksaan jasmani kelainan yang akan dijumpai tergantung dari


organ yang terlibat. Pada tuberkulosis paru, kelainan yang didapat tergantung luas
kelainan struktur paru. Pada permulaan (awal) perkembangan penyakit umumnya
tidak (atau sulit sekali) menemukan kelainan. Kelainan paru pada umumnya terletak
di daerah lobus superior terutama daerah apeks dan segmen posterior (S1 dan S2) ,
serta daerah apeks lobus inferior (S6). Pada pemeriksaan jasmani dapat ditemukan
antara lain suara napas bronkial, amforik, suara napas melemah, ronki basah, tanda-
tanda penarikan paru, diafragma dan mediastinum. (1-6)

Pada pleuritis tuberkulosis, kelainan pemeriksaan fisis tergantung dari


banyaknya cairan di rongga pleura. Pada perkusi ditemukan pekak, pada auskultasi
suara napas yang melemah sampai tidak terdengar pada sisi yang terdapat cairan.

Pada limfadenitis tuberkulosis, terlihat pembesaran kelenjar getah bening,


tersering di daerah leher (pikirkan kemungkinan metastasis tumor), kadang-kadang
di daerah ketiak. Pembesaran kelenjar tersebut dapat menjadi “cold abscess”. (1-6)

C. Pemeriksaan Bakteriologik
1. Bahan pemeriksasan
Pemeriksaan bakteriologi untuk menemukan kuman tuberkulosis
mempunyai arti yang sangat penting dalam menegakkan diagnosis. Bahan
untuk pemeriksaan bakteriologi ini dapat berasal dari dahak, cairan pleura,
liquor cerebrospinal, bilasan bronkus, bilasan lambung, kurasan
bronkoalveolar (bronchoalveolar lavage/BAL), urin, faeces dan jaringan
biopsi (termasuk biopsi jarum halus/BJH). (6)
2. Cara pengumpulan dan pengiriman bahan
Cara pengambilan dahak 3 kali (SPS):

27
 Sewaktu / spot (dahak sewaktu saat kunjungan)
 Pagi ( keesokan harinya )
 Sewaktu / spot ( pada saat mengantarkan dahak pagi) atau setiap pagi
3 hari berturut-turut. (6)
Bahan pemeriksaan/spesimen yang berbentuk cairan
dikumpulkan/ditampung dalam pot yang bermulut lebar, berpenampang 6 cm
atau lebih dengan tutup berulir, tidak mudah pecah dan tidak bocor. Apabila
ada fasiliti, spesimen tersebut dapat dibuat sediaan apus pada gelas objek
(difiksasi) sebelum dikirim ke laboratorium. Bahan pemeriksaan hasil BJH,
dapat dibuat sediaan apus kering di gelas objek, atau untuk kepentingan
biakan dan uji resistensi dapat ditambahkan NaCl 0,9% 3-5 ml sebelum
dikirim ke laboratorium. (6)
Spesimen dahak yang ada dalam pot (jika pada gelas objek dimasukkan
ke dalam kotak sediaan) yang akan dikirim ke laboratorium, harus dipastikan
telah tertulis identiti pasien yang sesuai dengan formulir permohonan
pemeriksaan laboratorium. Bila lokasi fasiliti laboratorium berada jauh dari
klinik/tempat pelayanan pasien, spesimen dahak dapat dikirim dengan kertas
saring melalui jasa pos. (6)
3. Cara pembuatan dan pengiriman dahak dengan kertas saring:
 Kertas saring dengan ukuran 10 x 10 cm, dilipat empat agar terlihat bagian
tengahnya
Dahak yang representatif diambil dengan lidi, diletakkan di bagian tengah
dari kertas saring sebanyak + 1 ml.
 Kertas saring dilipat kembali dan digantung dengan melubangi pada satu
ujung yang tidak mengandung bahan dahak.
 Dibiarkan tergantung selama 24 jam dalam suhu kamar di tempat yang
aman, misal di dalam dus Bahan dahak dalam kertas saring yang kering
dimasukkan dalam kantong plastik kecil.
 Kantong plastik kemudian ditutup rapat (kedap udara) dengan
melidahapikan sisi kantong yang terbuka dengan menggunakan lidi.

28
 Di atas kantong plastik dituliskan nama pasien dan tanggal pengambilan
dahak kemudian dimasukkan ke dalam amplop dan dikirim melalui jasa
pos ke alamat laboratorium

4. Cara pemeriksaan dahak dan bahan lain.

Pemeriksaan bakteriologi dari spesimen dahak dan bahan lain (cairan


pleura, liquor cerebrospinal, bilasan bronkus, bilasan lambung, kurasan
bronkoalveolar /BAL, urin, fases dan jaringan biopsi, termasuk BJH) dapat
dilakukan dengan cara. (6)

a. Mikroskopik(6)
 Biakan
Pemeriksaan mikroskopik:
Mikroskopik biasa : pewarnaan Ziehl-Nielsen
Mikroskopik fluoresens : pewarnaan auramin-rhodamin
(khususnya untuk screening)
lnterpretasi hasil pemeriksaan dahak dari 3 kali pemeriksaan ialah
bila:
o 3 kali positif atau 2 kali positif, 1 kali negatif ® BTA positif
o 1 kali positif, 2 kali negatif ® ulang BTA 3 kali, kemudian
o bila 1 kali positif, 2 kali negatif ® BTA positif
o bila 3 kali negatif ® BTA negatif
Interpretasi pemeriksaan mikroskopis dibaca dengan skala IUATLD
(rekomendasi WHO).
Skala IUATLD (International Union Against Tuberculosis and Lung
Disease) :

o Tidak ditemukan BTA dalam 100 lapang pandang, disebut negatif


o Ditemukan 1-9 BTA dalam 100 lapang pandang, ditulis jumlah
kuman yang ditemukan

29
o Ditemukan 10-99 BTA dalam 100 lapang pandang disebut + (1+)
Ditemukan 1-10 BTA dalam 1 lapang pandang, disebut ++ (2+)
o Ditemukan >10 BTA dalam 1 lapang pandang, disebut +++ (3+)

Pemeriksaan biakan kuman:

Pemeriksaan biakan M.tuberculosis dengan metode konvensional


ialah dengan cara :

o Egg base media: Lowenstein-Jensen (dianjurkan), Ogawa, Kudoh


o Agar base media : Middle brook.
Melakukan biakan dimaksudkan untuk mendapatkan diagnosis
pasti, dan dapat mendeteksi Mycobacterium tuberculosis dan juga
Mycobacterium other than tuberculosis (MOTT). Untuk mendeteksi
MOTT dapat digunakan beberapa cara, baik dengan melihat cepatnya
pertumbuhan, menggunakan uji nikotinamid, uji niasin maupun
pencampuran dengan cyanogen bromide serta melihat pigmen yang
timbul.

D. Pemeriksaan Radiologik

Pemeriksaan standar ialah foto toraks PA. Pemeriksaan lain atas indikasi: foto
lateral, top-lordotik, oblik, CT-Scan. Pada pemeriksaan foto toraks, tuberkulosis
dapat memberi gambaran bermacam-macam bentuk (multiform). (6)

Gambaran radiologi yang dicurigai sebagai lesi TB aktif:

o Bayangan berawan / nodular di segmen apikal dan posterior lobus atas paru
dan segmen superior lobus bawah.
o Kaviti, terutama lebih dari satu, dikelilingi oleh bayangan opak berawan atau
nodular. Bayangan bercak milier.
o Efusi pleura unilateral (umumnya) atau bilateral (jarang)

30
Gambaran radiologik yang dicurigai lesi TB inaktif:

o Fibrotik
o Kalsifikasi
o Schwarte atau penebalan pleura

Luluh Paru (destroyed Lung ) :

Gambaran radiologi yang menunjukkan kerusakan jaringan paru yang berat,


biasanya secara klinis disebut luluh paru . Gambaran radiologi luluh paru terdiri
dari atelektasis, ektasis/ multikaviti dan fibrosis parenkim paru. Sulit untuk
menilai aktiviti lesi atau penyakit hanya perlu dilakukan pemeriksaan
bakteriologi untuk memastikan aktiviti proses penyakit. (6)

Luas lesi yang tampak pada foto toraks untuk kepentingan pengobatan dapat
dinyatakan sebagai berikut (terutama pada kasus BTA negatif) :

o Lesi minimal , bila proses mengenai sebagian dari satu atau dua paru dengan
luas tidak lebih dari sela iga 2 depan (volume paru yang terletak di atas
chondrostemal junction dari iga kedua depan dan prosesus spinosus dari
vertebra torakalis 4 atau korpus vertebra torakalis 5), serta tidak dijumpai
kaviti
o Lesi luas: Bila proses lebih luas dari lesi minimal.

E. Pemeriksaan khusus

Salah satu masalah dalam mendiagnosis pasti tuberkulosis adalah lamanya


waktu yang dibutuhkan untuk pembiakan kuman tuberkulosis secara
konvensional. Dalam perkembangan kini ada beberapa teknik yang lebih baru
yang dapat mengidentifikasi kuman tuberkulosis secara lebih cepat. (6,7)

o Pemeriksaan BACTEC

31
Dasar teknik pemeriksaan biakan dengan BACTEC ini adalah metode
radiometrik. M tuberculosis memetabolisme asam lemak yang kemudian
menghasilkan CO2 yang akan dideteksi growth indexnya oleh mesin ini.
Sistem ini dapat menjadi salah satu alternatif pemeriksaan biakan secara cepat
untuk membantu menegakkan diagnosis dan melakukan uji kepekaan. Bentuk
lain teknik ini adalah dengan menggunakan Mycobacteria Growth Indicator
Tube (MGIT). (6,7)

o Polymerase chain reaction (PCR):

Pemeriksaan PCR adalah teknologi canggih yang dapat mendeteksi


DNA, termasuk DNA M.tuberculosis. Salah satu masalah dalam pelaksanaan
teknik ini adalah kemungkinan kontaminasi. Cara pemeriksaan ini telah
cukup banyak dipakai, kendati masih memerlukan ketelitian dalam
pelaksanaannya. (6,7)

Hasil pemeriksaan PCR dapat membantu untuk menegakkan


diagnosis sepanjang pemeriksaan tersebut dikerjakan dengan cara yang benar
dan sesuai standar internasional. Apabila hasil pemeriksaan PCR positif
sedangkan data lain tidak ada yang menunjang ke arah diagnosis TB, maka
hasil tersebut tidak dapat dipakai sebagai pegangan untuk diagnosis TB. Pada
pemeriksaan deteksi M.tb tersebut diatas, bahan / spesimen pemeriksaan
dapat berasal dari paru maupun ekstraparu sesuai dengan organ yang terlibat.
(6,7)

o Pemeriksaan serologi, dengan berbagai metoda:


 Enzym linked immunosorbent assay (ELISA)

Teknik ini merupakan salah satu uji serologi yang dapat mendeteksi
respons humoral berupa proses antigen-antibodi yang terjadi. Beberapa
masalah dalam teknik ini antara lain adalah kemungkinan antibodi
menetap dalam waktu yang cukup lama. (6,7)

32
 ICT
Uji Immunochromatographic tuberculosis (ICT tuberculosis) adalah
uji serologi untuk mendeteksi antibodi M.tuberculosis dalam serum. Uji
ICT merupakan uji diagnostik TB yang menggunakan 5 antigen spesifik
yang berasal dari membran sitoplasma M.tuberculosis, diantaranya
antigen M.tb 38 kDa. Ke 5 antigen tersebut diendapkan dalam bentuk 4
garis melintang pada membran immunokromatografik (2 antigen
diantaranya digabung dalam 1 garis) disamping garis kontrol. Serum yang
akan diperiksa sebanyak 30 ml diteteskan ke bantalan warna biru,
kemudian serum akan berdifusi melewati garis antigen. Apabila serum
mengandung antibodi IgG terhadap M.tuberculosis, maka antibodi akan
berikatan dengan antigen dan membentuk garis warna merah muda. Uji
dinyatakan positif bila setelah 15 menit terbentuk garis kontrol dan
minimal satu dari empat garis antigen pada membran. (6,7)
 Mycodot
Uji ini mendeteksi antibodi antimikobakterial di dalam tubuh
manusia. Uji ini menggunakan antigen lipoarabinomannan (LAM) yang
direkatkan pada suatu alat yang berbentuk sisir plastik. Sisir plastik ini
kemudian dicelupkan ke dalam serum pasien, dan bila di dalam serum
tersebut terdapat antibodi spesifik anti LAM dalam jumlah yang memadai
sesuai dengan aktiviti penyakit, maka akan timbul perubahan warna pada
sisir dan dapat dideteksi dengan mudah. (6,7)
 Uji peroksidase anti peroksidase (PAP)
Uji ini merupakan salah satu jenis uji yang mendeteksi reaksi serologi
yang terjadi. Dalam menginterpretasi hasil pemeriksaan serologi yang
diperoleh, para klinisi harus hati hati karena banyak variabel yang
mempengaruhi kadar antibodi yang terdeteksi. (6,7)
 Uji serologi yang baru / IgG TB
Uji IgG adalah salah satu pemeriksaan serologi dengan cara
mendeteksi antibodi IgG dengan antigen spesifik untuk Mycobacterium
tuberculosis. Uji IgG berdasarkan antigen mikobakterial rekombinan

33
seperti 38 kDa dan 16 kDa dan kombinasi lainnya akan menberikan
tingkat sensitiviti dan spesifisiti yang dapat diterima untuk diagnosis. Di
luar negeri, metode imunodiagnosis ini lebih sering digunakan untuk
mendiagnosis TB ekstraparu, tetapi tidak cukup baik untuk diagnosis TB
pada anak(6,7).
Saat ini pemeriksaan serologi belum dapat dipakai sebagai pegangan
untuk diagnosis. (6,7)
F. Pemeriksaan Penunjang lain
o Analisis Cairan Pleura
Pemeriksaan analisis cairan pleura dan uji Rivalta cairan pleura perlu
dilakukan pada pasien efusi pleura untuk membantu menegakkan diagnosis.
Interpretasi hasil analisis yang mendukung diagnosis tuberkulosis adalah uji
Rivalta positif dan kesan cairan eksudat, serta pada analisis cairan pleura
terdapat sel limfosit dominan dan glukosa rendah. (6,7)
o Pemeriksaan histopatologi jaringan
Pemeriksaan histopatologi dilakukan untuk membantu menegakkan
diagnosis TB. Pemeriksaan yang dilakukan ialah pemeriksaan histopatologi.
Bahan jaringan dapat diperoleh melalui biopsi atau otopsi, yaitu : (6,7)
 Biopsi aspirasi dengan jarum halus (BJH) kelenjar getah bening
(KGB)
 Biopsi pleura (melalui torakoskopi atau dengan jarum abram, Cope
dan Veen Silverman)
 Biopsi jaringan paru (trans bronchial lung biopsy/TBLB) dengan
bronkoskopi, trans thoracal needle aspiration/TTNA, biopsi paru
terbuka).
 Otopsi
Pada pemeriksaan biopsi sebaiknya diambil 2 sediaan, satu
sediaan dimasukkan ke dalam larutan salin dan dikirim ke
laboratorium mikrobiologi untuk dikultur serta sediaan yang kedua
difiksasi untuk pemeriksaan histologi. (7,8)
o Pemeriksaan darah

34
Hasil pemeriksaan darah rutin kurang menunjukkan indikator yang
spesifik untuk tuberkulosis. Laju endap darah ( LED) jam pertama dan kedua
dapat digunakan sebagai indikator penyembuhan pasien. LED sering
meningkat pada proses aktif, tetapi laju endap darah yang normal tidak
menyingkirkan tuberkulosis. Limfositpun kurang spesifik. (7,8)
o Uji tuberkulin
Uji tuberkulin yang positif menunjukkan ada infeksi tuberkulosis. Di
Indonesia dengan prevalens tuberkulosis yang tinggi, uji tuberkulin sebagai
alat bantu diagnostik penyakit kurang berarti pada orang dewasa. Uji ini akan
mempunyai makna bila didapatkan konversi, bula atau apabila kepositivan
dari uji yang didapat besar sekali. Pada malnutrisi dan infeksi HIV uji
tuberkulin dapat memberikan hasil negatif. (7,8)

Gambar 1. Skema alur diagnosis TB paru pada orang dewasa(7,8)

PENGOBATAN TUBERKULOSIS

35
Pengobatan tuberkulosis terbagi menjadi 2 fase yaitu fase intensif (2-3 bulan) dan
fase lanjutan 4 atau 7 bulan. Paduan obat yang digunakan terdiri dari paduan obat
utama dan tambahan.(9)

A. OBAT ANTI TUBERKULOSIS (OAT)

Obat yang dipakai: (9)

1. Jenis obat utama (lini 1) yang digunakan adalah: (9)


 INH
 Rifampisin
 Pirazinamid
 Streptomisin
 Etambutol
2. Jenis obat tambahan lainnya (lini 2) (9)
 Kanamisin
 Amikasin
 Kuinolon
 Obat lain masih dalam penelitian yaitu makrolid dan amoksilin + asam
klavulanat.
 Beberapa obat berikut ini belum tersedia di Indonesia antara lain : (9)
o Kapreomisin
o Sikloserino
o PAS (dulu tersedia)
o Derivat rifampisin dan INH
o Thioamides (ethionamide dan prothionamide)
B. DOSIS OBAT

Tabel 1. Dosis OAT(9)

JENIS OAT SIFAT DOSIS (MG/KG) DOSIS (MG/KG)

HARIAN 3 X SEMINGGU

36
Isoniazid (H) Bakterisid 5 10

(4-6) (8-12)

Rifampisin (R) Bakterisid 10 10

(8-12) (8-12)

Pyrazinamide (Z) Bakterisid 25 35

(20-30) (30-40)

Steptomycin (S) Bakterisid 15 -

(12-18)

Ethambutol (E) Bakteriostatik 15 30

(15-20) (20-35)

Pengembangan pengobatan TB paru yang efektif merupakan hal yang penting


untuk menyembuhkan pasien dan menghindari MDR TB (multidrug resistant
tuberculosis). Pengembangan strategi DOTS untuk mengontrol epidemi TB
merupakan prioriti utama WHO. International Union Against Tuberculosis and Lung
Disease (IUALTD) dan WHO menyarakan untuk menggantikan paduan obat tunggal
dengan kombinasi dosis tetap dalam pengobatan TB primer pada tahun 1998. Dosis
obat tuberkulosis kombinasi dosis tetap berdasarkan WHO seperti terlihat pada tabel
3. Keuntungan kombinasi dosis tetap antara lain: (9)

a. Penatalaksanaan sederhana dengan kesalahan pembuatan resep minimal


b. Peningkatan kepatuhan dan penerimaan pasien dengan penurunan kesalahan
pengobatan yang tidak disengaja
c. Peningkatan kepatuhan tenaga kesehatan terhadap penatalaksanaan yang benar
dan standar
d. Perbaikan manajemen obat karena jenis obat lebih sedikit

37
e. Menurunkan risiko penyalahgunaan obat tunggal dan MDR akibat penurunan
penggunaan monoterapi

Tabel 2. Dosis obat anti-tuberkulosis kombinasi dosis tetap(9)

FASE INTENSIF FASE LANJUTAN


2 BULAN 4 BULAN
BB HARIAN HARIAN 3X/MINGGU HARIAN 3X/MINGGU
RHZE RHZ RHZ RH RH

150/75/400/275 150/75/400 150/150/500 150/75 150/75


30- 2 2 2 2 2
37
3 3 3 3 3
38-
54 4 4 4 4 4

55- 5 5 5 5 5
70

>71

Penentuan dosis terapi kombinasi dosis tetap 4 obat berdasarkan rentang dosis
yang telah ditentukan oleh WHO merupakan dosis yang efektif atau masih termasuk
dalam batas dosis terapi dan non toksik. (9)

Pada kasus yang mendapat obat kombinasi dosis tetap tersebut, bila mengalami
efek samping serius harus dirujuk ke rumah sakit / dokter spesialis paru / fasiliti yang
mampu menanganinya. (9)

Tabel 3. Efek samping OAT(9)

Efek samping Penyebab Penatalaksanaan

Tidak ada nafsu makan Rifampisin Semua OAT diminum


malam sebelum tidur

38
Nyeri sendi Pyrazinamid Beri aspirin

Kesemutan INH Beri vitamin B6


(piridoxin) 100 mg per
hari

Warna kemerahan pada Rifampisin Tidak perlu diberikan apa-


urine apa, tapi berikan
penjelasan pada pasien

Gatal dan kemerahan Semua jenis OAT Ikuti petunjuk


pada kulit penatalaksanaan

Tuli Streptomisin Streptomisin dihentikan

Gangguan keseimbangan Streptomisin Streptomisin dihentikan


ganti dengan etambutol

Ikterus tanpa penyebab Hampir semua OAT Hentikan semua OAT


lain sampai ikterus
menghilang

Mual dan muntah Hampir semua OAT Hentikan semua OAT,


segera lakukan tes fungsi
hati

Gangguan penglihatan Etambutol Hentikan etambutol

Purpura dan renjatan Rifampisin Hentikan rifampisin


(syok)

39
KOMPLIKASI

Pada pasien tuberkulosis dapat terjadi beberapa komplikasi, baik sebelum


pengobatan atau dalam masa pengobatan maupun setelah selesai pengobatan.

Beberapa komplikasi yang mungikin timbul adalah :

 Batuk darah
 Pneumotoraks
 Gagal napas
 Gagal jantung
 Efusi pleura

DAFTAR PUSTAKA
1. Alsagaff H. Mukty HA, Infeksi tuberculosis paru dalam: Dasar-dasar ilmu
penyakit paru, Surabaya: Airlangga University Press, 2006: 73-109.
2. Amin Z. Bahar A, Tuberkulosis paru dalam: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam
Jilid II Edisi IV, Jakarta, 2007: 988-93.
3. Price SA. Standridge MP, Tuberkulosis Paru dalam: Patofisiologi Edisi VI,
Jakarta : EGC, 2006: 852-62.
4. Djojodibroto Darmanto, Tuberkulosis paru dalam: Respirologi respiratory
medicine, Jakarta: EGC, 2007: 151-68.
5. WHO Tuberculosis Fact Sheet no. 104., Available at:
http//www.who.Tuberculosis.htm. Accesed on March 3, 2004.
6. Soeroso Luhur, Tuberkulosis primer dengan infeksi sekunder dalam: Mutiara
paru atlas radiologi dan ilustrasi kasus, Jakarta: EGC, 2005: 48-9.
7. Setyanto DB, Tuberkulosis pada anak dalam: Manajemen kasus respirtorik anak
dalam praktek sehari-hari, Jakarta, Yapnas sddhaprana, 2007: 61-81.
8. Mansjoer A. Triyanti K. et all, Pulmonologi tuberculosis paru dalam: Kapita
selekta kedokteran, Jilid I Edisi 3, Jakarta, Media Aesculapius, 2001: 472-6.
9. Treatment of Tuberculosis. Guidelines for National Programmes 3rd ed. WHO –
Geneva, 2003.

40
41