Anda di halaman 1dari 28

BAB II

TINJAUAN TEORI

II.1 IMUNISASI

A. Pengertian Imunisasi

Imunisasi adalah cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang terhadap

suatu penyakit, sehingga bila kelak terpajan pada penyakit tersebut tidak menjadi

sakit (Ranuh, 2011).

Imunisasi merupakan suatu upaya untuk menimbulkan atau meningkatkan

kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit (Proverawati, 2010).

B. Jenis Imunisasi

Menurut Marimbi (2010), jenis imunisasi yaitu :

1) Imunisasi Aktif

Imunisasi aktif adalah pemberian kuman atau racun kuman yang sudah di

lemahkan atau dimatikan dengan tujuan merangsang tubuh memproduksi

antibodi sendiri.

2) Imunisasi pasif

Imunisasi pasif adalah penyuntikan sejumlah antibodi, sehingga kadar

antibodi dalam tubuh meningkat.

C. Tujuan Imunisasi

Tujuan imunisasi adalah untuk memberikan kekebalan kepada bayi agar

11
12

dapat mencegah penyakit dan kematian bayi serta anak yang disebabkan oleh

penyakit yang sering berjangkit (Proverawati, 2010).

D. Manfaat Imunisasi

Menurut Marimbi (2010), manfaat imunisasi adalah :

1) Untuk Anak : mencegah penderitaan yang disebabkan oleh penyakit,

dan kemungkinan cacat atau kematian.

2) Untuk Keluarga : menghilangkan kecemasan dan psikologi pengobatan

bila anak sakit. Mendorong pembentukan keluarga

apabila orang tua yakin bahwa anaknya akan menjalani

masa kanak-kanak yang nyaman

3) Untuk Negara : memperbaiki tingkat kesehatan, menciptakan bangsa

yang kuat dan berakal untuk melanjutkan pembangunan

negara.

E. Macam- Macam Imunisasi Pada Bayi

Menurut Achmadi (2006), walaupun imunisasi sangat penting namun

pemerintah mewajibkan lima jenis imunisasi pada anak usia di bawah satu tahun

yang harus dilakukan :

1) BCG yaitu imunisasi yang diberikan untuk mencegah penyakit TBC.

2) Hepatitis B yaitu imunisasi yang diberikan untuk mencegah penyakit

hepatitis B.

3) DPT yaitu imunisasi yang diberikan untuk mencegah penyakit difteri,

pertusis, dan tetanus.


13

4) Polio yaitu imunisasi yang diberikan untuk mencegah penyakit polio.

5) Campak yaitu imunisasi yang diberikan untuk mencegah penyakit campak.

II.2 IMUNISASI HEPATITIS B

A. Definisi Hepatitis B

Imunisasi hepatitis B adalah imunisasi yang ditunjukan untuk memberi

kekebalan terhadap penyakit hepatitis B yaitu penyakit yang menyerang organ

hati (Proverawati, 2010).

Imunisasi hepatitis B adalah imunisasi untuk mencegah penyakit yang

disebabkan oleh virus hepatitis B yang berakibat pada hati (Marimbi, 2010).

Imunisasi hepatitis B adalah imunisasi yang paling kontroversial karena

vaksin hepatitits B merupakan vaksin pertama yang diterima oleh kebanyakan

anak pada hari pertama kehidupannya atau segera setelah lahir untuk mencegah

penyakit menular dimana virus hepatitis B menginfeksi dan meradangkan hati

(Cave, 2003).

B. Penularan Hepatitis B

Virus hepatitis B disebarkan melalui kontak dengan cairan tubuh (darah, air

liur, air mani) penderita ini, atau dari ibu ke anak pada saat melahirkan

(Proverawati, 2010).

Semua orang yang mengandung HbsAg positif potensial infeksius.

Transmisi terjadi melalui kontak parental, hubungan seksual dan transmisi antar

anak merupakan modus yang sering terjadi. VHB dapat melekat dan bertahan

dipermukaan suatu benda selama kurang lebih 1 minggu tanpa kehilangan daya
14

tular. Darah bersifat infeksius beberapa minggu sebelum awitan, menetap selama

fase akut berlangsung. Daya tular pasien VHB kronis bervariasi, sangat infeksius

bila HbsAg positif (Ranuh, 2011).

C. Gejala Hepatitis B

Gejala yang ditimbulkan yaitu hilangnya nafsu makan, mual, muntah, rasa

lelah, mata kuning, muntah serta demam, urine menjadi kuning dan sakit perut

(proverawati, 2010).

Gejala hepatitis B bisa berkisar dari tidak ada, ringan, atau parah. Selama

dua sampai empat minggu sebelum hati terlibat, seseorang yang terkena hepatitis

B bisa mengalami hilangnya selera makan, mual, muntah, demam, keletihan, dan

gejala-gejala seperti flu. Ini bisa dilanjutkan dengan tanda-tanda bahwa hati

sedang terinfeksi, termasuk air kemih berwarna gelap, kulit tampak kuning,

demam, tinja pucat, gatal, dan hati membesar serta nyeri tekan (Cave, 2003).

D. Pemberian Vaksin Hepatitis B

Vaksin hepatitis B diberikan dalam waktu kurang dari 24 jam sejak bayi

lahir untuk mencegah timbulnya penyakit hepatitis B pada bayi sehat. Vaksin

hepatitis B diberikan secara intramuskular yaitu pada otot paha (Achmadi,2006).

Imunisasi hepatitis B tahap pertama diberikan sedini mungkin dalam waktu

12 jam setelah lahir sebelum bayi umur 7 hari. Diberikan 1 jam setelah pemberian

vit.K pada bayi (Sunarti, 2012).

Pemberian imunisasi hepatitis B berdasarkan status HbsAg ibu pada saat

melahirkan menurut Wahab (2002), adalah sebagai berikut:


15

1) Bayi yang lahir dari ibu yang tidak diketahui status HbsAg nya mendapat

0,5ml vaksin rekombinan atau 0,5ml vaksin asal plasma dalam waktu 12

jam setelah lahir. Dosis kedua diberikan pada umur 1-2 bulan dan dosis

ketiga pada umur 6 bulan. Kalau kemudian diketahui ibu mengidap HbsAg

positif maka segera berikan 0,5ml HBIG (sebelum anak berusia satu

minggu).

2) Bayi yang lahir dari ibu HbsAg positif mendapatkan 0,5ml imunoglubin

hepatitis B (HBIG) dalam waktu 12 jam setelah lahir dan 0,5ml vaksin

rekombinan. Bila digunakan vaksin yang berasal dari plasma diberikan

0,5ml intra muskular dan disuntikan pada sisi yang berlainan. Dosis kedua

diberikan pada usia 1-2 bulan dan dosis ketiga pada umur 6 bulan.

3) Bayi yang lahir dari ibu dengan HbsAg negatif diberi dosis minimal 0,25ml

vaksin rekombinan, sedangkan kalau digunakan vaksin berasal dari plasma,

diberikan dosis 0,5 ml intramuskular pada saat lahir sampai usia 2 bulan.

Dosis kedua diberikan pada umur 1-4 bulan, dan dosis ketiga pada umur 6-

18 bulan.

4) Ulangan imunisasi hepatitis B diberikan pada umur 10-12 tahun.

E. Efektifitas

Efektifitas vaksin dalam mencegah infeksi VHB adalah 90%-95%. Memori

sistem imun menetap minimal sampai 15 tahun pasca imunisasi namun teoritis

menetap seumur hidup sehingga pada anak normal, tidak dianjurkan untuk

imunisasi booster (Ranuh,2011).


16

F. Kontra Indikasi

Imunisasi tidak dapat diberikan kepada bayi yang menderita sakit batuk,

pilek, sedang mendapatkan pengobatan radioterapi atau kemoterapi, menderita

sakit yang menurunkan imunitas (leukimia, kanker, HIV/AIDS), apabila bayi

sedang mengkonsumsi obat prednison 2 mg/kgbb/hari maka dianjurkan untuk

menunda imunisasi 1 bulan setelah pengobatan (IDAI, 2009).

Menurut Wiradharma (2012), pada umumnya tidak ada kontra indikasi yang

mutlak untuk pemberian vaksin, akan tetapi ada beberapa keadaan di mana

seseorang sebaiknya tidak diimunisasikan atau imunisasinya ditunda, yaitu :

1) Sedang sakit dalam stadium akut, seperti infeksi saluran nafas atas atau

diare. Dalam keadaan ini sebaiknya imunisasi ditunda.

2) Sebelumnya pernah mengalami reaksi lokal yang hebat seperti kemerahan

pada tempat suntikan.

Menurut Cave (2003), kontraindikasi imunisasi hepatitis B atau harus

menundanya adalah bayi yang sakit tingkat menengah atau parah pada saat vaksin

dijadwalkan, dan harus menunda suntikan sampai mereka sudah sembuh. Menurut

Proverawati (2010), kontraindikasi imunisasi hepatitis B ini tidak boleh diberikan

kepada penderita infeksi berat yang disertai kejang. Menurut Ranuh (2011),

kontraindikasi imunisasi hepatitis B ini tidak boleh diberikan kepada bayi dengan

berat lahir rendah atau berat bayi sangat kecil (<1000 gram), maka imunisasi

ditunda sampai bayi berusia 2 bulan atau berat bayi sudah mencapai 2000 gram.

G. Efek Samping
17

Efek samping yang terjadi pada umumnya berupa reaksi lokal yang ringan

dan bersifat sementara. Kadang-kadang dapat menimbulkan demam ringan selama

1-2 hari (Sunarti, 2012).

Efek samping berupa reaksi lokal seperti rasa sakit, kemerahan dan

pembengkakan disekitar tempat penyuntikan. Reaksi yang terjadi bersifat ringan

dan biasanya hilang setelah 2 hari (Proverawati, 2010).

H. Jadwal Imunisasi

Jadwal imunisasi adalah informasi mengenai kapan suatu jenis vaksinasi

atau imunisasi harus diberikan kepada anak (Marimbi, 2010).

Adapun jadwal imunisasi dapat dilihat pada:

Tabel 2.1
Jadwal Imunisasi Hepatitis B
No Vaksin Pemberian Imunisasi Umur
1. Hepatitis HB 0 0 bulan
2 Hepatitis HB 1 2 bulan
3 Hepatitis HB 2 3 bulan
4 Hepatitis HB 3 4 bulan
Sumber : Depkes (2011).

I. Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi Hepatitis B

Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) merupakan reaksi yang terjadi

setelah imunisasi. Apabila terjadi demam dan timbul kemerahan, pembengkakan,

nyeri, rasa mual dan nyeri sendi sebaiknya bekas suntikan diberi kompres, diberi

minum lebih banyak (ASI atau air putih) ( Sunarti, 2012).


18

J. Imunisasi Hepatitis HB0

Imunisasi Hepatitis diberikan melalui injeksi intramuscular dalam. Dosis

pertama (HB0) diberikan segera setelah bayi lahir atau kurang dari 7 hari setelah

kelahiran. Vaksin ni tidak boleh diberikan setelah usia anak lebih dari 1 minggu.

Imunisasi HB0 ini bertujuan untuk memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit

yang disebabkan oleh virus hepatitis B.

Vaksin ini menggunakan PID (Prefilled Injection Device), merupakan jenis

alat suntik yang hanya bisa digunakan sekali pakai dan telah berisi vaksin dosis

tunggal dari pabrik. Vaksin ini diberikan dengan dosis 0,5ml. vaksin tidak hanya

diberikan pada bayi. Vaksin juga diberikan pada anak usia 12 tahun yang di masa

kecilnya belum diberi vaksin Hepatitis B. Selain itu orang-orang yang berasa

dalam rentan risiko Hepatitis B sebaiknya juga diberi vaksin ini (Proverawati,

2010).

II.3 BAYI BARU LAHIR (NEONATUS)

Bayi baru lahir (Neonatus) adalah periode pada bulan pertama kehidupan

yang dimulai dari lahir sampai usia 1 bulan (0-28) hari.

Selama periode ini bayi banyak mengalami pertumbuhan dan perubahan

yang menakjubkan. Yaitu perubahan fisiologis telah terjadi dengan tujuan untuk

memfasilitasi penyesuaian pada kehidupan diluar uterus (Maryunani, 2008).

II.4 FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKAT

PENGETAHUAN SESEORANG (NOTOADMODJO, 2007)


19

A. Peran Karakteristik Ibu

Manusia mempunyai berbagai pola perilaku, berbagai keyakinan, dan dapat

dipengaruhi oleh tradisi, budaya, dan harapan sosial sampai ke suatu tingkat yang

dapat menyebabkan kondisi dan kegiatan yang tidak sehat dalam keluarga,

kelompok dan populasi. Penyebaran masalah kesehatan berbeda untuk tiap

individu, kelompok, dan masyarakat dibedakan atas ciri-ciri

manusia/karakteristik, tempat dan waktu (Timmreck, 2006).

Salah satu faktor yang menentukan terjadinya masalah kesehatan di

masyarakat adalah ciri manusia atau karakteristik manusia. Yang termasuk dalam

unsur karakteristik manusia antara lain : pengetahuan, pendidikan, pekerjaan,

status perkawinan, status sosial ekonomi, ras/etnik, agama dan sosial budaya.

Begitu juga halnya dalam masalah status imunisasi Hepatitis B juga dipengaruhi

oleh karakteristik ibu dan lingkungan sosial budaya (Azwar, 2005).

B. Usia

Usia yaitu umur individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai saat

berulang tahun. Semakin cukup umur maka tingkat kematangan dan kekuatan

seseorang akan lebih matang dalam berpikir dan bekerja (Arini H, 2012).

Dalam kurun waktu reproduksi sehat dikenal usia aman untuk kehamilan,

persalinan, dan menyusui adalah 20-35 tahun, sedangkan umur yang kurang dari

20 tahun dianggap masih belum matang secara fisik, mental, dan psikologi.

Sedangkan ibu yang berumur 20-35 tahun, menurut (Arini H, 2012) disebut

sebagai “masa dewasa” dan disebut juga masa reproduksi, di mana pada masa ini

diharapkan orang telah mampu untuk memecahkan masalah-masalah yang


20

dihadapi dengan tenang secara emosional, terutama dalam menghadapi

kehamilan, persalinan, nifas, dan merawat bayinya nanti.

Semakin muda usia seseorang semakin sedikit pengalaman yang dimiliki

seseorang, namun sebaliknya semakin tinggi tingkatan umur seseorang

pengalaman yang di dapat semakin lebih banyak, oleh karena itu sangat penting

bila umur dapat dikaitkan dengan prilaku seseorang karena akan mempengaruhi

seseorang dalam menjaga kesehatan contohnya dalam memberikan imunisasi pada

bayinya (Notoatmodjo, 2006).

Berdasarkan hasil penelitian (Arini H, 2012) ada hubungan antara umur

dengan pemberian imunsasi hepatitis B pada neonattus 0-7 hari, dengan hasil chi-

square P=0,002. bahwa semakin meningkat umur maka persentase

berpengetahuan semakin baik karena disebabkan oleh akses informasi, wawasan,

dan mobilitas yang masih rendah. Menurut pendapat (Arini H, 2012) bahwa

semakin meningkatnya umur dan tingkat kematangan maka kekuatan seseorang

dalam berpikir dan bekerja juga akan lebih matang.

Menurut (Sarwono,2008) mengemukakan bahwa memori atau daya ingat

seseorang itu salah satunya dipengaruhi oleh umur. Dapat disimpulkan bahwa

dengan bertambahnya umur seseorang maka, dapat berpengaruh pada

bertambahnya pengetahuan yang diperoleh.

C. Pendidikan

Pendidikan adalah jenjang pendidikan formal dari suatu institusi tertentu

yang mencakup tingkat SD atau sederajat, SMP atau sederajat, SMU atau
21

sederajat, dan akademi atau perguruan tinggi (Wawolumaya, 2001 dalam Pradias,

2011).

Menurut Tobing (2008), pendidikan memiliki peranan yang penting dalam

menentukan kualitas manusia dengan kata lain bahwa pendidikan ibu yang lebih

tinggi akan membuat pemahaman akan pentingnya dan manfaat imunisasi pada

bayi.

Pendidikan bertujuan untuk mengubah pengetahuan/pengertian, pendapat

dan konsep-konsep, mengubah sikap dan persepsi serta menanamkan tingkah

laku/kebiasaan yang baru pada pendidikan rendah serta meningkatkan

pengetahuan yang cukup/kurang bagi responden yang masih memakai adat

istiadat lama (Notoatmodjo,2010).

Brown dalam Ahmadi (2008), menyebutkan pendidikan adalah proses

pengendalian secara sadar, dimana perubahan-perubahan dalam tingkah laku

dihasilkan dalam diri orang itu di dalam kelompok.

Pendidikan secara umum adalah segala upaya yang direncanakan untuk

mempengaruhi orang lain baik individu, kelompok, atau masyarakat sehingga

mereka melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidik (Notoatmodjo,

2010). Dari batasan ini tersirat unsur-unsur pendidikan, yaitu :

1) Input adalah sasaran pendidikan (individu, kelompok, masyarakat, dan

pendidik).

2) Procces (upaya yang direncanakan untuk mengatur orang lain).

3) Output (melakukan apa yang diharapkan atau perilaku).

Hasil penelitian yang dilakukan Budho Legowo, 2007, yang berjudul

Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Pemberian Imunisasi Hb-1 (0-7 Hari)


22

Pada Kunjungan Neonatal Dini (Kn-1) Di Wilayah Kerja Puskesmas Trangkil

Kabupaten Pati Tahun 2006 bahwa tidak ada hubungan antara pekerjaan dengan

Pemberian HB-1 dengan hasil uji chi-square p=0,178 dan OR=1,054. Ibu yang

berpendidikan rendah bukan berarti seorang ibu tidak mengetahui hal yang baik

untuk anaknya, walaupun dengan bekal pendidikan yang rendah ibu tetap ingin

memberikan imunisasi pada bayinya agar bayi nya tetap sehat.

a) Tujuan Pendidikan

Ahmadi (2008), menyebutkan dasar dari tujuan pendidikan adalah

pembangunan yang didasarkan atas filsafat Negara Pancasila dan

diarahkan untuk membentuk manusia Indonesia yang sehat jasmani dan

rohani, memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam mengembangkan

aktivitas dan tanggung jawab, dapat menyuburkan sifat demokratis dan

penuh tenggang rasa, dapat mengembangkan kecerdasan yang tinggi

dan disertai budi pekerti yang luhur, mencintai bangsanya dan sesama

manusia dengan ketetapan yang termaktub dalam UUD 1945.

b) Jalur Pendidikan

Menurut Undang-undang system pendidikan Nasional (Sisdiknas)

dalam Arifin (2007) menyebutkan perubahan mendasar mengenai jalur

pendidikan sekolah menjadi tiga jalur pendidikan formal, nonformal,

dan informal.

c) Jenjang Pendidikan Formal

Pada jalur formal terdiri dari pendidikan dasar, pendidikan menengah

dan pendidikan tinggi (Arifin, 2007).


23

- Pendidikan dasar, merupakan jenjang pendidikan yang melandasi

jenjang pendidikan menengah, berbentuk Sekolah Dasar (SD) dan

Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat, serta

Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsyanawiyah

(MTs) atau bentuk lainnya.

- Pendidikan menengah, yang merupakan kelanjutan pendidikan

dasar terdiri atas pendidikan menengah umum kejuruan, serta

berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA),

Sekolah Kejuruan (SMK), Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK) atau

bentuk lain yang sederajat.

- Pendidikan tinggi, merupakan jenjang pendidikan setelah pendidikan

menengah, mencakup program pendidikan diploma, sarjana

magister, spesialis dan doktor.

Pengukuran tingkat pendidikan diukur dengan mengkategorikan

jenjang pendidikan formal kedalam 2 tingkat jenjang pendidikan yaitu

Rendah < SMP dan Tinggi > SMP dengan menggunakan skala ordinal

(Azwar,2005).

Menurut Tobing (2008), pendidikan memiliki peranan yang

penting dalam menentukan kualitas manusia dengan kata lain bahwa

pendidikan wanita yang lebih tinggi akan membuat pemahaman tentang

menopause yang akan terjadi pada setiap wanita. Pendidikan bertujuan

untuk mengubah pengatahuan/pengertian, pendapat dan konsep-konsep,

mngubah sikap dan persepsi serta menanamkan tingkah laku/kebiasaan

yang baru pada pendidikan rendah serta meningkatkan pengetahuan


24

yang cukup/kurang bagi responden yang masih memakai adat istiadat

lama (Notoatmodjo, 2010).

D. Pekerjaan

Pekerjaan adalah sumber penghasilan, sebab itu setiap orang yang ingin

memperoleh penghasilan yang lebih besar dan tingkat penghidupan yang lebih

baik, haruslah siap dan bersedia bekerja keras (Anoraga, 2006).

Pekerjaan adalah kebutuhan yang harus dilakukan terutama untuk

menunjang kehidupannya dan kehidupan keluarga. Pekerjaan bukanlah sumber

kesenangan, tetapi lebih banyak merupakan cara mencari nafkah yang

membosankan, berulang dan banyak tantangan. Sedangkan bekerja umumnya

merupakan kegiatan yang menyita waktu. Bekerja bagi ibu-ibu akan mempunyai

pengaruh terhadap kehidupan keluarga (Wawan, 2010).

Pekerjaan adalah sesuatu yang dikerjakan oleh setiap manusia setiap hari,

dimana pekerjaan dapat membuat pekerjaan lelah, yang sebenarnya pekerjaan itu

dapat membantu mengendalikan berat badan mengolah otot dan juga memperkuat

tulang (Mary, 2006).

Keluarga memberikan dampak yang berarti pada ibu, sebab bila sosial

ekonomi rendah dapat berakibat rendahnya kemampuan keluarga untuk

menyediakan makanan yang bergizi. Keadaan ini mengakibatkan gizi jelek pada

keluarga khususnya meningkatnya tanggung jawab keluarga disertai dengan

berkurangnya prospek ekonomi, mengakibatkan wanita harus melakukan tindakan

untuk mendukung mereka dan keluarga.


25

Meningkatnya tanggung jawab sebagai dampak rendahnya sosial ekonomi,

mengakibatkan wanita harus melakukan aktifitas untuk mendukung ekonomi

keluarga. diperkirakan lebih dari seperempat sampai sepertiga rumah tangga di

dunia, wanitanya harus ikut bekerja untuk menopang ekonomi keluarga. Hal ini

berdampak terhadap penundaan pemenuhan beberapa kebutuhan untuk

memelihara kesehatan karena harus memprioritaskan terhadap pemenuhan

kebutuhan keluarga yang lebih penting (Wade, 2007).

Seseorang yang bekerja pengetahuannya akan lebih luas dari pada seseorang

yang tidak bekerja, karena dengan bekerja akan mempunyai banyak informasi dan

pengalaman. Kemampuan seseorang dalam melakukan pekerjaan berbeda dengan

seseorang dalam melakukan pekerjaan berbeda dengan seseorang yang lain.

Meskipun pendidikan dan pengalamanya sama, dan bekerja pada suatu pekerjaan

atau tugas yang sama. Perbedaan ini disebabkan karena kapasitas kemampuan

yang dibawa dari lahir oleh seseorang yang terbatas. Artinya kemampuan tersebut

dapat berkembang karena pendidikan atau pengalaman tetapi sampai pada batas-

batas tertentu saja. Jadi, dapat diumpamakan kapasitas ini adalah suatu wadah

kemampuan yang dipunyai oleh masing-masing orang (Nasrul Affan, 2011).

Hasil penelitian yang dilakukan Mei Sondang, 2011, dengan penelitiannya

yang berjudul Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Perilaku Ibu Dalam

Pemberian Imunisasi HB0 0 (0-7 Hari) Pada Neonatus 8 Hari-12 Bulan Di

Wilayah Kerja Puskesmas Gonting Mahe Kecamatan Sorkam, Kabupaten

Tapanuli Tengah Tahun 2011, bahwa tidak ada hubungan antara pekerjaan dengan

Pemberian HB0 dengan hasil uji chi-quare p=0,216 OR=2,064.


26

E. Sumber Informasi

Pengertian informasi dari sudut pandang fungsi informasi cukup beraneka

ragam bergantung manfaatnya bagi setiap orang yang kebutuhannya berbeda-

beda. Dilihat secara lebih jauh, fungsi informasi terus berkembang sesuai dengan

bidang garapan yang dibutuhkannya. Namun setidaknya yang utama adalah

sebagai data dan fakta yang dapat membuktikan adanya suatu kebenaran.

Sebagai penyalur hal-hal yang sebelumnya masih meragukan, sebagai

prediksi untuk peristiwa-peristiwa yang mungkin akan terjadi pada masa yang

akan datang. Informasi itu banyak fungsinya, tidak terbatas pada salah satu bidang

atau aspek saja, melainkan menyeluruh, hanya bobot dan manfaatnya saja yang

berbeda karena disesuaikan dengan kondisi yang membutuhkan.

Fungsi utama informasi menurut Bruch dan Stractes :

1) Menambah pengetahuan atau mengurangi ketidakpastian pemakai informasi.

2) Mengurangi keanekaragaman

3) Mengurangi keanekaragaman dan ketidakpastian untuk menyebabkan

diambilnya suatu keputusan yang baik.

4) Memberikan standar-standar, aturan-aturan, dan aturan-aturan keputusan

untuk penentuan dan penyebaran tanda-tanda kesalahan dan umpan balik

guna mencapai tujuan kontrol.

Informasi yang diperoleh dapat mengurangi ketidakpastian bagi khalayak

yang menerimanya sehingga dapat mengambil keputusan. Sehingga mengubah

kemungkinan-kemungkinan hasil yang diharapkan oleh pengambil keputusan saat

ini atau mendatang.


27

Pada umumnya, banyak bagian informasi yang mungkin berguna dan

dengan cara apa saja dapat mempengaruhi tanggapan si penerima informasi dalam

situasi tertentu. Beberapa pengertian informasi dapat berasal dari pengamatan

perseorangan, kelompok, beberapa informasi lainnya berasal dari luar seperti

majalah-majalah, surat kabar,dan lain-lain.

Beberapa sumber informasi yang dapat meningkatkan pengetahuan:

1) Peran Tenaga Kesehatan (Nakes)

a) Melatih keterampilan, mendukung, membantu dan menerapkan

pengetahuan tentang menopause dini.

b) Memberikan informasi mengenai faktor-faktor yang menyebabkan

menopause dini.

c) Memberikan motivasi bagi ibu untuk hidup sehat dengan gizi seimbang.

d) Membantu meningkatkan rasa percaya diri ibu.

e) Memberikan motivasi ibu untuk berolahraga.

2. (Non-Nakes)

a) Media Cetak (Koran, Majalah, dll).

b) Media elektronik (TV, Radio, Komputer/Internet, dll).

Hasil penelitian yang dilakukan Mei Sondang, 2011, dengan penelitiannya

yang berjudul Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Perilaku Ibu Dalam

Pemberian Imunisasi HB0 0 (0-7 Hari) Pada Neonatus 8 Hari-12 Bulan Di

Wilayah Kerja Puskesmas Gonting Mahe Kecamatan Sorkam, Kabupaten

Tapanuli Tengah Tahun 2011, bahwa tidak ada hubungan antara sumber informasi

dengan Pemberian HB0 dengan hasil uji chi-square p=1,220 OR=6,017.


28

F. Pendapatan/Sosial Ekonomi

Pendapatan adalah suatu tingkat penghasilan yang diperoleh dari pekerjaan

pokok dan pekerjaan sampingan dari orang tua dan anggota keluarga lainnya.

Pendapatan merupakan salah satu faktor yang memengaruhi seseorang untuk

memelihara kesehatan dan pencegahan penyakit misalnya pemberian imunisasi.

Hal ini dapat memengaruhi status kesehatan masyarakat (Anonim, 2008).

G. Jumlah anak

Jumlah anak adalah banyaknya kelahiran hidup yang dipunyai oleh seorang

wanita. (Notoatmodjo, 2007).

Paritas adalah banyaknya kelahiran hidup yang dipunyai oleh seorang

wanita (BKKBN, 2006). Menurut Prawirohardjo (2009), paritas dapat dibedakan

menjadi primipara, multipara dan grandemultipara.

Paritas adalah jumlah kehamilan yang menghasilkan janin yang mampu

hidup diluar rahim (28 minggu) (JHPIEGO, 2008).

Sedangkan menurut Manuaba (2008), paritas adalah wanita yang

pernah melahirkan bayi aterm. Paritas adalah jumlah anak yang pernah

dilahirkan oleh seorang ibu (Nursalam, 2003). Dikatakan bahwa terdapat

kecenderungan kesehatan ibu yang berparitas rendah lebih baik dari yang

berparitas tinggi. Tetapi kesemuanya ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut

(Notoatmodjo, 2008).

Paritas (hamil dan lahir hidup) dengan interval kurang dari 2 tahun, jumlah

kehamilan diatas 4 kali, umur saat hamil terlalu muda (kurang 20 tahun) atau

sudah tua (diatas 35 tahun) (Manuaba, 2002: 9).


29

Paritas dalam penelitian ini dihubungan dengan pengalamanya sebagai

seorang ibu, kenyataan yang terjadi di masyarakat dewasa ini, dalam rumah

tangga ibu belajar dari pengalaman-pengalaman sebelumnya dalam arti ibu lebih

pandai jika belajar dari apa yang dialaminya sendiri dalam kemampuan ibu untuk

memutuskan sendiri apa yang baik untuk memberikan imunisasi pada bayinya.

(Notoatmodjo, 2006).

Hasil penelitian yang dilakukan Mei Sondang, 2011, dengan penelitiannya

yang berjudul Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Perilaku Ibu Dalam

Pemberian Imunisasi HB0 0 (0-7 Hari) Pada Neonatus 8 Hari-12 Bulan Di

Wilayah Kerja Puskesmas Gonting Mahe Kecamatan Sorkam, Kabupaten

Tapanuli Tengah Tahun 2011, bahwa ada hubungan antara paritas dengan

Pemberian HB0 dengan hasil uji chi-square p=0,000 OR=1,428.

H. Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang

melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui

pancaindra manusia, yakni indra penglihatan, pendengeran, penciuman, rasa, dan

raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga

(Notoatmodjo, 2007).

Pengetahuan adalah sesuatu yang hadir dan terwujud dalam jiwa dan pikiran

seseorang dikarenakan adanya reaksi, persentuhan, dan hubungan dengan

lingkungan dan alam sekitarnya. Pengetahuan ini meliputi emosi, tradisi,

keterampilan, informasi, akidah, dan pikiran-pikiran (Abdullah, 2008).


30

Pengetahuan (knowledge) adalah hasil tahu dari manusia, yang sekedar

menjawab pertanyaan (Notoatmodjo, 2005) pengetahuan atau kognitif merupakan

domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt

behavior) dari pengalaman dan penelitian terbukti bahwa perilaku yang tidak

didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak

didasari oleh pengetahuan (Notoatmodjo, 2005).

1) Tingkat pengetahuan

Menurut Notoaatmodjo (2007), pengetahuan yang tercakup dalam domain

kognitif mempunyai 6 tingkatan, yaitu :

a) Tahu (know)

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari

sebelumnya, termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah

mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang

dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu, tahu ini

merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk

mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang di pelajari antara lain

menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan, dan

sebagainya.

b) Memahami (comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan

secara benar tentang objek diketahui, dapat menginterpretasikan materi

tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau

materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan,

meramalkan, dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari.


31

c) Aplikasi (application)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang

telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). Aplikasi

disini dapat di artikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum,

rumus, metode, prinsip, dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang

lain. Misalnya dapat menggunakan rumus statistik dalam perhitungan-

perhitungan hasil penelitian, dapat menggunakan prinsip – prinsip siklus

pemecahan masalah (problem solving cycle) di dalam pemecahan

masalah kesehatan dari kasus yang diberikan.

d) Analisis (analysis)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu

objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam satu struktur

organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis

ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja, seperti dapat

menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan,

mengelompokkan, dan sebagainya.

e) Sintesis (synthesis)

Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau

menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang

baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun

formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada. Misalnya dapat

menyusun, dapat merencanakan, dapat meringkaskan, dapat

menyesuaikan, dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan-

rumusan yang telah ada.


32

f) Evaluasi (evaluation)

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi

atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu

didasarkan pada suatu kriteria yang di tentukan sendiri, atau

menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.

Menurut (Notoatmodjo,2010), faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat

pengetahuan secara umum adalah :

a) Umur

Semakin tua umur seseorang maka proses-proses perkembangan

mentalnya bertambah baik, akan tetapi pada umur tertentu, bertambahnya

proses perkembangan mental ini tidak secepat seperti ketika berumur

belasan tahun.

b) Intelegensi

Intelegensi diartikan sebagai suatu kemampuan utnuk belajar dan

berpikir abstrak guna menyesuaikan diri secara mental dalam situasi

baru. Intelegensi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi hasil

dari proses belajar. Intelegensi bagi seseorang merupakan salah satu

modal untuk berpikir dan mengolah berbagai informasi secara terarah

sehingga mampu menguasai lingkungan. Dengan demikian dapat

disimpulkan bahwa perbedaan intelegensi dari seseorang akan

berpengaruh pula terhadap tingkat pengetahuan.

Pada prinsipnya mempengaruhi kemampuan seorang untuk

menyesuaikan diri dan cara pengambilan keputusan ibu-ibu atau

masyarakat yang intelegensinya tinggi akan banyak berpartisipasi lebih


33

cepat dan tepat dalam mengambil keputusan di banding dengan

masyarakat yang intelegensinya rendah.

c) Lingkungan

Lingkungan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi

pengetahuan seseorang. Lingkungan memberikan pengaruh pertama bagi

seseorang, dimana seseorang dapat mempelajari hal-hal yang baik dan

juga hal-hal yang buruk tergantung pada sifat kelompoknya. Dalam

lingkungan seseorang akan memperoleh pengalaman yang akan

berpengaruh pada cara berpikir seseorang.

d) Sosial Budaya

Sosial budaya dapat mempengaruhi proses pengetahuan khususnya dalam

penyerapan nilai-nilai sosial, keagamaan untuk memperkuat super

egonya.

e) Pendidikan

Tingkat pendidikan semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin

mudah menerima informasi, sehingga semakin banyak pula pengetahuan

yang dimiliki, sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat

perkembangan sikap seseorang terhadap nilai” yang di perkenalkan.

f) Pengalaman

Pengalaman merupakan suatu cara untuk memperoleh kebenaran

pengetahuan pengalaman dapat menuntun seseorang untuk menarik

kesimpulan dengan benar. Sehingga dari pengalaman yang benar

diperlukan berfikir yang logis dan kritis.

g) Pekerjaan
34

Pekerjaan seseorang yang bekerja pengetahuannya akan lebih luas dari

pada seseorang yang tidak bekerja, karena dengan bekerja akan

mempunyai banyak informasi dan pengalaman.

h) Sosial-Ekonomi

Sosial ekonomi mempengaruhi tingkah laku seseorang ibu atau

masyarakat yang berasal dari sosial ekonomi tinggi di mungkinkan lebih

memiliki sikap positif memandang diri dan masa depannya, tetapi bagi

ibu-ibu atau masyarakat yang sosial ekonominya rendah akan tidak

merasa takut untuk mengambil sikap atau tindakan.

i) Informasi/ Media massa

Media yang secara khusus didesain utnuk mencapai masyarakat yang

sangat luas. Jadi contoh dari media massa ini adalah televise, radio,

Koran, dan majalah. Pengertian informasi adalah sesuatu yang dapat

diketahui, namun ada pula yang menekankan informasi sebagai transfer

pengetahuan.

Informasi yang diperoleh baik dari pendidikan formal maupun non

formal dapat memberikan pengaruh jangka pendek sehingga

menghasilkan perubahan atau pengningkatan pengetahuan. Majunya

teknologi akan tersedia bermacam-macam media massa yang dapat

mempengaruhi pengetahuan masyarakat tentang inovasi baru

(Anonim,2011).

I. Lingkungan Sosial Budaya

Manusia adalah makhluk sosial, yaitu makhluk yang saling bergantung


35

kehidupannya satu sama lain, karena manusia tidak bisa hidup sendiri dan selalu

membutuhkan pertolongan orang lain. Di samping itu, manusia juga adalah

makhluk berbudaya karena dikaruniai akal oleh Tuhan untuk memecahkan

masalah kesehatan yang dihadapinya. Menurut Blum dalam Notoatmodjo (2005)

salah satu faktor yang memengaruhi status kesehatan yaitu lingkungan sosial

budaya.

Lingkungan sosial budaya adalah lingkungan yang terdiri atas sesama

manusia baik masyarakat maupun keluarga. Di mana faktor yang memegang

peran adalah budaya, agama, kepercayaan dan sebagainya. Di dalam lingkungan

ini hidup manusia dengan akal, pendidikan dan pengalaman yang mengatur

hidupnya menurut suatu sistem nilai budaya tradisional, sistem adat istiadat,

falsafah hidup tertentu, religi dan keyakinan-keyakinan yang terjaring erat di

dalam sistem sosial dari masyarakat yang bersangkutan (Loedin, 2005).

Misalnya adanya adat istiadat di dalam masyarakat melakukan pantangan

atau pembatasan bagi ibu yang setelah melahirkan untuk tidak boleh keluar rumah

sebelum melewati 40 hari. Adat istiadat ini harus diikuti oleh semua masyarakat

dan bila dilanggar ia akan dijauhi oleh masyarakat dan ia akan menerima

kesialan/malapetaka (Syafrudin, 2009).

Selain itu, di dalam masyarakat juga dijumpai bayi baru lahir diberikan

makanan selain ASI seperti madu dan belum boleh untuk dibawa ke luar rumah

termasuk ke rumah sakit apalagi untuk disuntik karena merasa takut karena bila

disuntik bayi akan demam dan dapat mengakibatkan munculnya penyakit lain

yang berbahaya (Syafrudin, 2009).


36

J. Penolong Persalinan

Dengan latar belakang budaya yang beraneka ragam maka petugas

kesehatan perlu sekali mengetahui budaya dan masyarakat yang dilayaninya, agar

pelayanan kesehatan yang diberikan kepada masyarakat akan memberikan hasil

yang optimal yaitu meningkatkan kesehatan masyarakat. Misalnya pertolongan

persalinan dibantu oleh dukun tidak terlatih (Syafrudin, 2009).

K. Tempat Persalinan

Faktor tempat juga berpengaruh terhadap status imunisasi. Misalnya jarak

rumah masyarakat dengan tempat pelayanan imunisasi, tersedia atau tidak sarana

pelayanan imunisasi di masyarakat (Azwar, 2008).

L. Kepercayaan

Kepercayaan adalah bagian dari cara hidup manusia yang menentukan apa

yang dapat diterima atau apa yang tidak diterima oleh manusia. Kepercayaan

umumnya diajarkan oleh orang tua, kakek, nenek dan orang lain yang dihormati.

Kepercayaan itu dapat bersifat merugikan, menguntungkan dan netral.

Kepercayaan yang bersifat merugikan sangat sulit untuk diubah di tengah

masyarakat. Misalnya kepercayaan tentang boleh atau tidak boleh untuk

mengimunisasi bayi yang masih berumur 0-7 hari (Tjitarsa, 2005).

Kepercayaan adalah komponen kognitif dari faktor sosio-psikologis.

Kepercayaan di sini tidak ada hubungannya dengan hal-hal yang gaib, tetapi

hanyalah keyakinan bahwa sesuatu itu benar atau salah. Kepercayaan sering dapat

bersifat rasional atau irasional. Kepercayaan yang rasional apabila kepercayaan


37

orang terhadap sesuatu tersebut masuk diakal. Orang percaya bahwa dokter pasti

dapat menyembuhkan penyakitnya. Hal ini adalah rasional karena memang dokter

tersebut telah bertahun-tahun belajar ilmu kedokteran atau penyembuhan

penyakit. Sebaliknya seorang mempunyai kepercayaan irasional bila ia

mempercayakan air putih yang diberi mantera oleh seorang dukun bisa

menyembuhkan penyakitnya (Notoatmodjo, 2010).

Kepercayaan dibentuk oleh pengetahuan, kebutuhan, dan kepentingan.

Kepercayaan yang tidak didasarkan pada pengetahuan yang benar dan lengkap,

akan menyebabkan kesalahan bertindak (Notoatmodjo, 2010).

II.5 KERANGKA TEORI

Kerangka teoritis adalah dukungan dasar teoritis sebagai dasar pemikiran

dalam rangka pemecahan masalah yang dihadapi peneliti. Kerangka teoritis

adalah bagian dari penelitian, tempat peneliti memberikan penjelasan tentang hal-

hal yang berhubungan dengan variabel pokok, subvariabel, atau pokok masalah

yang ada dalam penelitiannya.


38

Faktor Pemicu (Predisposing


Factors) :
Umur
Pendidikan
Pekerjaan
Sikap
Perilaku
Paritas
1. Pengetahuan
Faktor Pemungkin (Enabling
Factors): Pemberian Imunisasai
Penolong persalinan Dasar
Tempat persalinan
1. Kepercayaan
Faktor Penguat (Reinforcing
Factors):
Dukungan suami
Dukungan keluarga
Peran tenaga kesehatan

Keterangan :

- Yang dicetak tebal adalah menjadi variabel yang diteliti


- Sumber : Lawrence Green dalam Notoatmodjo, 2010