Anda di halaman 1dari 73

MAKALAH

ASUHAN KEBIDANAN NEONATUS, BAYI, BALITA DAN


ANAK PRA SEKOLAH

DOSEN PEMBIMBING
DIAH EKA NUGRAHENI, M.Keb.

DISUSUN OLEH KELOMPOK 2

1. ANNISA LOLA VANIANDA 7. PUTRI BELINDA PERMATASARI


2. ANNISA DWI NOVIANA 8. RIZKA PURNAMA
3. BELLA PUSPA SARI 9. SINTIA MONICA
4. CHAIRANI A.P FUADI 10. TALITHA VINDI A
5. LOVIA ANGGRAINI 11. YURISKA VERINA
6. MAYA RUMANTI

DIV KEBIDANAN

POLTEKKES KEMENKES BENGKULU


2018
Page 1
KATA PENGANTAR

Segala puji kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan karunia-Nya
kami dapat menyelesaikan makalah Asuhan Kebidanan Neonatus, Bayi, Balita dan Anak Pra
Sekolah sesuai dengan pedoman menyusun makalah. Terimakasih kami haturkan kepada
dosen pembimbing kami Bunda Diah Eka Nugraheni, M.Keb. yang sudah memberikan kritik
dan saran yang sangat berguna bagi kami dan teman-teman agar kami bisa mengevaluasi
kekurangan pada makalah ini.

Kami menyadari masih bahwa dalam penelitian dan penulisan ini masih jauh dari
sempurna dan masih banyak kekurangan. Namun kami mengharapkan tulisan ini dapat
bermanfaat bagi pembaca terutama dalam dunia medis, dan masyarakat awam.

Bengkulu , Agustus 2018

Tim Penyusun

ii

Page 2
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .......................................................................................................... i

KATA PENGANTAR ........................................................................................................ ii

DAFTAR ISI....................................................................................................................... iii

BAB I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ............................................................................................................ 1

1.2 Rumusan Masalah ...................................................................................................... 1

1.3 Tujuan ...................... ................................................................................................... 2

BAB II. PEMBAHASAN

2.1 Konsep pertumbuhan dan perkembangan neonatus, bayi, balita dan anak pra sekolah 2

2.2 Konsep Penilaian Pertumbuhan Dan Perkembangan (SIDTK) .................................... 11

2.3 Konsep Dasar Penkes .................................................................................................... 41

2.4 Konsep Dasar Stimulus Pada Neonatus, Bayi, Balita Dan Anak Pra Sekolah ............. 46

BAB III. PENUTUP

3.1 Kesimpulan ................................................................................................................... 67

3.2 Saran ............................................................................................................................. 68

DAFTAR PUSTAKA

iii

Page 3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Setiap orang tua tentu berkeinginan agar anaknya dapat mencapai pertumbuhan dan
perkembangan yang terbaik sesuai dengan potensi genetik yang ada pada anak tersebut.
Hal ini dapat tercapai apabila kebutuhan dasar anak terpenuhi. Kebutuhan dasar ini
mencakup asah, asih dan asuh. Kebutuhan dasar tersebut harus dipenuhi sejak dini,
bahkan sejak bayi berada dalam kandungan. Kebutuhan dasar yang baik dan cukup
seringkali tidak bisa dipenuhi oleh seorang anak karena faktor eksternal maupun internal.
Faktor eksternal menyangkut keadaan ekonomi, sosial dan spiritual keluarga serta peran
bidan. Sedangkan faktor internal adalah faktor yang terdapat di dalam diri anak yang
secara psikologis muncul sebagai problema pada anak. Faktor yang paling terlihat pada
lingkungan masyarakat adalah kurangnya pengetahuan ibu mengenai kebutuhan
kebutuhan dasar yang harus dipenuhi anak pada masa pertumbuhan dan perkembangan.
Peran bidan dalam hal ini adalah memberi informasi yang baik dan benar berkaitan
dengan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana konsep pertumbuhan dan perkembangan neonatus, bayi, balita dan anak
pra sekolah?
2. Bagaimana konsep penilaian pertumbuhan dan perkembangan (SIDTK)?
3. Bagaimana konsep dasar penkes?
4. Bagaimana konsep dasar stimulus pada neonatus, bayi, balita dan anak pra sekolah?

1.3 Tujuan
1. Untuk memahami konsep pertumbuhan dan perkembangan neonatus, bayi, balita dan
anak pra sekolah.
2. Untuk mengetahui konsep penilaian pertumbuhan dan perkembangan (SIDTK).
3. Untuk mengetahui konsep dasar penkes?
4. Untuk memahami konsep dasar stimulus pada neonatus, bayi, balita dan anak pra
sekolah.

Page 4
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Konsep Pertumbuhan dan Perkembangan Neonatus dan bayi

A. Pengertian
Pertumbuhan (growth) adalah merupakan peningkatan jumlah dan besar sel di
seluruh bagian tubuh selama sel-sel tersebut membelah diri dan mensintesis protein-
protein baru, menghasilkan penambahan jumlah dan berat secara keseluruhan atau
sebagian. Dalam pertumbuhan manusia juga terjadi perubahan ukuran, berat badan,
tinggi badan, ukuran tulang dan gigi, serta perubahan secara kuantitatif dan
perubahan fisik pada diri manusia itu. Dalam pertumbuhan manusia terdapat peristiwa
percepatan dan perlambatan. Peristiwa ini merupakan kejadian yang ada dalam setiap
organ tubuh.
Pertumbuhan adalah suatu proses alamiah yang terjadi pada individu,yaitu secara
bertahap,berat dan tinggi anak semakin bertambah dan secara simultan mengalami
peningkatan untuk berfungsi baik secara kognitif, psikososial maupun spiritual (
Supartini, 2000).
Perkembangan (development) adalah perubahan secara berangsur-angsur dan
bertambah sempurnanya fungsi alat tubuh, meningkatkan dan meluasnya kapasitas
seseorang melalui pertumbuhan, kematangan atau kedewasaan (maturation), dan
pembelajaran (learning). Perkembangan manusia berjalan secara progresif, sistematis
dan berkesinambungan dengan perkembangan di waktu yang lalu. Perkembangan
terjadi perubahan dalam bentuk dan fungsi kematangan organ mulai dari aspek fisik,
intelektual, dan emosional. Perkembangan secara fisik yang terjadi adalah dengan
bertambahnya sempurna fungsi organ. Perkembangan intelektual ditunjukan dengan
kemampuan secara simbol maupun abstrak seperti berbicara, bermain, berhitung.
Perkembangan emosional dapat dilihat dari perilaku sosial lingkungan anak.

B. Ciri-Ciri Pertumbuhan dan Perkembangan


Menurut Soetjiningsih, tumbuh kembang anak dimulai dari masa konsepsi sampai
dewasa memiliki ciri-ciri tersendiri yaitu :

Page 5
 Tumbuh kembang adalah proses yang kontinyu sejak konsepsi sampai maturitas
(dewasa) yang dipengaruhi oleh faktor bawaan daan lingkungan.
 Dalam periode tertentu terdapat percepatan dan perlambatan dalam proses tumbuh
kembang pada setiap organ tubuh berbeda.
 Pola perkembangan anak adalah sama, tetapi kecepatannya berbeda antara anak
satu dengan lainnya.
 Aktivitas seluruh tubuh diganti dengan respon tubuh yang khas oleh setiap organ.

Secara garis besar menurut Markum (1994) tumbuh kembang dibagi menjadi 3 yaitu:
a. Tumbuh kembang fisis
Tumbuh kembang fisis meliputi perubahan dalam ukuran besar dan fungsi
organisme atau individu. Perubahan ini bervariasi dari fungsi tingkat molekuler
yang sederhana seperti aktifasi enzim terhadap diferensi sel, sampai kepada proses
metabolisme yang kompleks dan perubahan bentuk fisik di masa pubertas.
b. Tumbuh kembang intelektual
Tumbuh kembang intelektual berkaitan dengan kepandaian berkomunikasi dan
kemampuan menangani materi yang bersifat abstrak dan simbolik, seperti
bermain, berbicara, berhitung, atau membaca.
c. Tumbuh kembang emosional
Proses tumbuh kembang emosional bergantung pada kemampuan bayi umtuk
membentuk ikatan batin, kemampuan untuk bercinta kasih.

Prinsip tumbuh kembang menurut Potter & Perry (2005) yaitu:


Perkembangan merupakan hal yang teratur dan mengikuti arah rangkaian
tertentu. Perkembangan adalah suatu yang terarah dan berlangsung terus menerus,
dalam pola sebagai berikut Cephalocaudal yaitu pertumbuhan berlangsung terus dari
kepala ke arah bawah bagian tubuh, Proximodistal yaitu perkembangan berlangsung
terus dari daerah pusat (proksimal) tubuh kearah luar tubuh (distal), Differentiation
yaitu perkembangan berlangsung terus dari yang mudah kearah yang lebih kompleks.
Perkembangan merupakan hal yang kompleks, dapat diprediksi, terjadi dengan
pola yang konsisiten dan kronologis.

C. Aspek Perkembangan dan Petumbuhan


1) Aspek Pertumbuhan

Page 6
Untuk menilai pertumbuhan anak dilakukan pengukuran antropometri,
pengukuran antropometri meliputi pengukuran berat badan, tinggi badan (panjang
badan), lingkar kepala.
Pengukuran berat badan digunakan untuk menilai hasil peningkatan atau
penurunan semua jaringan yang ada pada tubuh, pengukuran tinggi badan
digunakan untuk menilai status perbaikan gizi disamping faktor genetik sedangkan
pengukuran lingkar kepala dimaksudkan untuk menilai pertumbuhan otak.
Pertumbuhan otak kecil (mikrosefali) menunjukkan adanya reterdasi mental,
apabila otaknya besar (volume kepala meningkat) terjadi akibat penyumbatan
cairan serebrospinal (Hidayat, 2011, hlm 37).

2) Aspek perkembangan
a. Motorik kasar (gross motor) merupakan keterampilan yang meliputi aktivitas
otot yang besar seperti gerakan lengan dan berjalan (Santrock, 2011, hlm 210).
Perkembangan motorik kasar pada masa prasekolah, diawali dengan
kemampuan untuk berdiri dengan satu kaki selama 1-5 detik, melompat
dengan satu kaki, membuat posisi merangkak dan lain-lain (Hidayat, 2009,
hlm.25).
b. Motorik halus (fine motor Skills) merupakan keterampilan fisik yang
melibatkan otot kecil dan koordinasi meta dan tangan yang memerlukan
koordinasi yang cermat (Papilia, Old & Feldman, 2010, hlm. 316).
Perkembangan motorik halus mulai memiliki kemampuan menggoyangkan
jari-jari kaki, menggambar dua atau tiga bagian, menggambar orang, mampu
menjepit benda, melambaikan tangan dan sebagainya (Hidayat, 2009, hlm.26).
c. Bahasa (language) adalah kemampuan untuk memberikan respon terhadap
suara, mengkuti perintah dan dan berbicara spontan. Pada perkembangan
bahasa diawali mampu menyebut hingga empat gambar, menyebut satu hingga
dua warna, menyebutkan kegunaan benda, menghitung, mengartikan dua kata,
meniru berbagai bunyi, mengerti larangan dan sebagainya (Hidayat, 2009,
hlm.26).
d. Prilaku sosial (personal social) adalah aspek yang berhubungan dengan
kemampuan mandiri, bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungannya.
Perkembangan adaptasi sosial pada anak prasekolah yaitu dapat berrmain
dengan permainan sederhana, mengenali anggota keluarganya, menangis jika

Page 7
dimarahi, membuat permintaan yang sederhana dengan gaya tubuh,
menunjukan peningkatan kecemasan terhadapa perpisahan dan sebagainya
(Hidayat, 2009, hlm.26)
Untuk menilai perkembangan anak yang dapat dilakukan adalah
dengan wawancara tentang faktor kemungkinan yang menyebabkan gangguan
dalam perkembangan, kemudian melakukan tes skrining perkembangan anak
(Hidayat, 2009, hlm. 38).

D. Tahapan Pertumbuhan dan Perkembangan Fisik

Tumbuh kembang anak berlangsung secara teratur, saling berkaitan, dan


berkesinambungan dimulai sejak pembuahan sampai dewasa. Walaupun terdapat
variasi, namunn setiap anak akan melewati suatu pola tertentu. Tanuwijaya ( 2003 )
memaparkan tentang tahapan tumbuh kembang anak yang terbagi menjadi 2, yaitu
masa pranatal dan postnatal. Setiap masa tersebut memiliki ciri khas dan perbedaan
dalam anatomi, fisiologi, biomika, dan karakternya.
Orang tua pengasuh dan pendidik perlu mengetahui tahapan perkembangan
anak (anak didik), apakah perkembangannya berlangsung normal atau ada
penyimpangan. Bila mana pendidik mencurigai anak didiknya mengalami
penyimpangan perkembangan atau terlambat berkembang dibandingkan dengan
usianya maka dapat memberitahukan orang tua agar segera memeriksakan anaknya ke
pasilitas kesehatan sehingga dapat ditanggulangi secara dini.
Berikut ini merupakan informasi tahap pertumbuhan dan perkembangan bayi,
anak dan balita yang dapat dijadikan acuan bagi orang tua, pengasuh maupun
pendidik untuk mengetahui kenormalan atau penyimpangan berdasarkan departemen
kesehatan RI (2006);
1. Umur 0-3 bulan
 mengangkat kepala setinggi 45°
 menggerakan kepala dari kiri atau kanan ke tengah
 melihat dan menatap wajah anda
 mengoceh spontan atau bereaksi dengan mengoceh
 suka tertawa keras

Page 8
 bereaksi terkejut terhadap suara keras
 membalas tersenyum ketika diajak berbicara atau tersenyum
 mengenal ibu dengan penglihatan, penciuman, pendengaran, kontak

2. Umur 3-6 bulan


 berbalik dari telungkup ke telentang
 mengangkat kepala setinggi 90°
 mempertahankan posisi kepala tetap tegak dan stabil
 menggenggam pensil
 meraih benda yang ada dalam jangkauannya
 memegang tangannya sendiri
 berusaha memperluas pandangan
 mengarahkan matanya pada benda-benda kecil
 mengeluarkan suara gembira bernada tinggi atau menarik
 tersenyum ketika melihat mainan atau gambar yang menarik saat bermain
sendiri

3. Umur 6-9 bulan


 duduk ( sikap tripoid- sendiri )
 belajar bediri, kedua kakinya menyangga sebagian berat badan
 merangkak meraih mainan atau mendekati seseorang
 memindahkan benda 1 tangan ke tangan lainnya
 memungut-mungut 2 benda, masing-masing tangan pegang 1 benda pada saat
yang bersamaan
 mencari mainan atau benda yang dijatuhkan
 bermain tepuk tangan atau ciluk ba.
 bergembira dengan melempar benda
 makan kue sendiri

4. Umur 9-12 bulan


 mengangkat badanya ke posisi berdiri
 belajar berdiri selama 30 detik atau berpegangan di kursi
 dapat derjalan dengan dituntun

Page 9
 mengulurkan lengan atau badan untuk meraih mainan yang di inginkan
 menggenggam erat pensil
 memasukkan benda kemulut

5. Umur 12-18 bulan


 berdiri sendiri tanpa berpegangan
 membungkuk memungut mainan kemudian berdiri kembali
 berjalan mundur 5 langkah
 memanggil ayah dengan kata “ papa “, memanggil ibu dengan kata “mama”.
 memasukkan buku di kotak
 menunjuk apa yang di inginkan tanpa menagis atau merengek, anak
bisa mengeluarkan suara yang menyenangkan atau menarik tangan ibu.

6. Umur 18-24 bulan


 berdiri sendiri tanpa berpegangan 30 detik
 berjalan tanpa terhuyung-huyung
 bertepuk tangan, melambai-lambai
 menumpuk 4 buah bungkus
 memungut benda kecil dengan ibu jari dan jari telunjuk
 menyebut 3-6 kata yang mempunyai arti
 memegang cangkir sendiri, belajar makan-minum sendiri

7. Umur 24-36 bulan


 Jalan naik tangga sendiri
 dapat bermain dengan menendang bola kecil
 mencoret-coret pensil pada kertas
 bicara dengan baik, menggunakan 2 kata
 dapat menunjuk 1 atau lebih bagian tubuhnya ketika diminta
 makan nasi sendiri tanpa banyak tumpah
 melepas pakaiannya sendiri

8. Umur 36-48 bulan

Page
10
 berdiri 1 kaki 2 detik
 melompat kedua kaki diangkat
 mengayuh sepeda roda tiga
 menggambar garis lurus
 menumpuk 8 buah bungkus
 mengenal 2-4 warna
 menyebut nama, umur, tempat
 mengerti arti kata diatas, di bawah, di depan
 mendengarkan cerita
 mencuci dan mengeringkan tangan sendiri
 bermain bersama teman, mengikuti aturan permainan
 mengenakan sepatu sendiri

9. Umur 48- 60 bulan


 berdiri 1 kaki 6 detik
 melompat-lompat 1 kaki
 menari
 menggambar tanda silang
 menggambar lingkaran
 menggambar orang dengan 3 bagian tubuh
 mengancing baju atau pakaian boneka
 senang menyebut kata-kata baru
 senang bertanya tentang sesuatu\
 bicaranya mudah dimengerti
 menyebut angka, menghitung waktu
 menyebut nama-nama hari
 berpakaian sendiri tanpa dibantu

10. Umur 60-72 bulan


 Berjalan lurus
 berdiri dengan 1 kaki selama 11 detik
 menggambar dengan 6 bagian, menggambar orang lengkap

Page
11
 menangkap bola kecil dengan kedua tangan gambar
 menggambar segi empat
 mengerti arti lawan kata
 mengerti pembicaraan yang menggunakan 7 kata atau lebih
 menjawab pertanyaan tentang benda terbuat dari apa dan kegunaannya
 mengenal angka, bisa menghitung angka 5-10
 mengenal warna-warni
 mengungkapkan simpati
 mengikuti aturan permaianan
 berpakaian sendiri tanpa dibantu

E. Perkembangan Psikososial
Erik H Erickson mengungkapkan pendapatnya tentang teori tentang perkembangan
psikososial diantaranya :
1) Trust vs mistrust -- bayi (lahir – 12 bulan)
Anak memiliki indikator positif yaitu belajar percaya pada orang lain, tetapi
selain itu ada segi negatifnya yaitu tidak percaya, menarik diri dari lingkungan
masyarakat,dan bahkan pengasingan. Pemenuhan kepuasan untuk makan dan
menghisap, rasa hangat dan nyaman, cinta dan rasa aman itu bisa menghasilkan
kepercayaan. Pada saat kebutuhan dasar tidak terpenuhi bayi akan menjadi curiga,
penuh rasa takut, dan tidak percaya. Hal ini ditandai dengan perilaku makan, tidur
dan eliminasi yang buruk.
2) Otonomi vs ragu-ragu dan malu (autonomy vs shame & doubt) – todler
(1-3 tahun)
Gejala positif dari tahap ini adalah kontrol diri tanpa kehilangan harga diri, dan
negatifnya anak terpaksa membatasi diri atau terpaksa mengalah. Anak mulai
mengembangkan kemandirian dan mulai terbentk kontrol diri. Hal ini harus
didukung oleh orang tua, mungkin apabila dukungan tidak dimiliki maka anak
tersebut memiliki kepribadian yang ragu-ragu.
3) Inisiatif vs merasa bersalah (initiative vs guilt) -- pra sekolah ( 3-6 tahun)
Anak mulai mempelajari tingkat ketegasan dan tujuan mempengaruhi lingkungan
dan mulai mengevaluasi kebiasaan diri sendiri. Disamping itu anak kurang
percaya diri, pesimis, pembatasan dan kontrol yang berlebihan terhadap aktivitas

Page
12
pribadinya. Rasa bersalah mungkin muncul pada saat melakukan aktivitas yang
berlawanan dengan orang tua dan anak harus diajari memulai aktivitas tanpa
mengganggu hak-hak orang lain.

F. Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan dan Perkembangan Neonatus Bayi,


Balita dan Anak Pra Sekolah
Setiap manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang berbeda-beda
antara satu dengan manusia lainnya, bisa dengan cepat bahkan lambat, tergantung
pada individu dan lingkungannya. Proses tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor-
faktor di antaranya :
a. Faktor heriditer/ genetik
Faktor heriditer Pertumbuhan adalah suatu proses alamiah yang terjadi pada
individu, yaitu secara bertahap, berat dan tinggi anak semakin bertambah dan
secara simultan mengalami peningkatan untuk berfungsi baik secara kognitif,
psikososial maupun spiritual ( Supartini, 2000).
Merupakan faktor keturunan secara genetik dari orang tua kepada anaknya.
Faktor ini tidak dapat berubah sepanjang hidup manusia, dapat menentukan
beberapa karkteristik seperti jenis kelamin, ras, rambut, warna mata, pertumbuhan
fisik, dan beberapa keunikan sifat dan sikap tubuh seperti temperamen.
Faktor ini dapat ditentukan dengan adanya intensitas dan kecepatan dalam
pembelahan sel telur, tingkat sensitifitas jaringan terhadap rangsangan, umur
pubertas, dan berhentinya pertumbuhan tulang. Potensi genetik yang berkualitas
hendaknya dapat berinteraksi dengan lingkungan yang positif agar memperoleh
hasil yang optimal.

b. Faktor Lingkungan/ eksternal


Lingkungan merupakan faktor yang mempengaruhi individu setiap hari mulai
lahir sampai akhir hayatnya, dan sangat mempengaruhi tercapinya atau tidak
potensi yang sudah ada dalam diri manusia tersebut sesuai dengan genetiknya.
Faktor lingkungan ini secara garis besar dibagi menjadi 2 yaitu :
 Lingkungan pranatal (faktor lingkungan ketika masihdalam kandungan)
Faktor prenatal yang berpengaruh antara lain gizi ibu pada waktu hamil,
faktor mekanis, toksin atau zat kimia, endokrin, radiasi, infeksi, stress,
imunitas, dan anoksia embrio.

Page
13
 Lingkungan postnatal ( lingkungan setelah kelahiran )
Lingkungan postnatal dapat di golongkan menjadi :
 Lingkungan biologis, meliputi ras, jenis kelamin, gizi, perawatan
kesehatan, penyakit kronis, dan fungsi metabolisme.
 Lingkungan fisik, meliputi sanitasi, cuaca, keadaan rumah, dan radiasi.
 Lingkungan psikososial, meliputi stimulasi, motivasi belajar, teman
sebaya, stress, sekolah, cinta kasih, interaksi anak dengan orang tua.
 Lingkungan keluarga dan adat istiadat, meliputi pekerjaan atau
pendapatan keluarga, pendidikan orang tua, stabilitas rumah tangga,
kepribadian orang tua.

c. Faktor Pelayanan Kesehatan

Menurut H.L.Blum pelayanan kesehatan merupakan urutan ketiga yang


mempengaruhi derajat kesehatan. Yang dimaksud dengan pelayanan kesehatan
adalah setiap upaya yang diselenggarakan sendiri atau secara bersama-sama
dalam suatu organisasi untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan,
mencegah dan mengobati penyakit serta memulihkan kesehatan perseorangan,
kelompok, dan ataupun masyarakat.

Yang termasuk dalam faktor pelayanan kesehatan adalah :


 Sistem pelayanan kesehatan
 Kemudahan masyarakat untuk dapat menjangkau pelayanan kesehatan
 Sesuai dengan kebutuhan pemakai jasa pelayanan
 Sesuai dengan prinsip ilmu dan teknologi kedokteran

2.2 Konsep Penilaian Pertumbuhan Dan Perkembangan (SIDTK)

SDIDTK (Stimulasi, Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang) adalah


pembinaan tumbuh kembang anak secara komprehensif dan berkualitas melalui
kegiatan stimulasi, deteksi dan intervensi dini penyimpangan tumbuh kembang pada
masa 5 tahun pertama kehidupan. Diselenggarakan dalam bentuk kemitraan antara
keluarga, masyarakat dengan tenaga professional (kesehatan, pendidikan dan
sosial).Indikator keberhasilan program SDIDTK adalah 90% balita dan anak

Page
14
prasekolah terjangkau oleh kegiatan SDIDTK pada tahun 2010. Tujuan agar semua
balita umur 0–5 tahun dan anak prasekolah umur 5-6 tahun tumbuh dan berkembang
secara optimal.
Deteksi dini pertumbuhan dan perkembangan anak adalah kegiatan atau
pemeriksaan untuk menemukan secara dini adanya penyimpangan tumbuh kembang
pada balita dan anak pra sekolah (Kemenkes R.I, 2012).

 Kegiatan SDIDTK yang meliputi:


a. Stimulasi dini yang memadai, yaitu merangsang otak balita agar perkembangan
kemampuan gerak, bicara, bahasa, sosialisasi dan kemandirian anak
berlangsung secara optimal sesuai usia anak.
b. Deteksi dini penyimpangan pertumbuhan dan perkembangan, yaitu melakukan
skrining atau mendeteksi sejak dini terhadap kemungkinan adanya
penyimpangan tumbuh kembang anak balita.
c. Intervensi dini, yaitu melakukan koreksi dengan memanfaatkan plastisitas otak
anak untuk memperbaiki bila ada penyimpangan tumbuh kembang dengan
tujuan agar pertumbuhan dan perkembangan anak kembali kejalur normal dan
penyimpangannya tidak menjadi lebih berat.
d. Rujukan dini, yaitu merujuk/membawa anak ke fasilitas kesehatan bila masalah
penyimpangan tumbuh kembang tidak dapat diatasi meskipun sudah dilakukan
intervensi dini.

 Umur Anak Dalam Pendeteksian (SDIDTK)


Tidak semua umur anak bisa dilakukan pendeteksian. Anak bisa dideteksi
ketika menginjak umur 0 bulan, 3 bulan, 6 bulan, 9 bulan, 12 bulan, 15 bulan, 18
bulan, 21 bulan, 24 bulan, 30 bulan, 36 bulan, 42 bulan, 48 bulan, 54 bulan, 60
bulan, 66 bulan, dan 72 bulan. Usia ini adalah standar usia yang telah ditetapkan.
Jadwal atau waktu pendeteksian anak yaitu :
• Anak umur 0 – 1 tahun = 1 bulan sekali
• Anak umur > 1 – 3 tahun = 3 bulan sekali
• Anak umur > 3 – 6 tahun = 6 bulan sekali
Jika umur si anak belum menginjak usia standar pemeriksaan maka
jangan dilakukan pendeteksian, namun tunggu si anak mencapai usia yang

Page
15
ditentukan. Misal jika si anak lahir tanggal 12 Agustus 2009, maka waktu yang
tepat untuk pendeteksiannya adalah :
 Hitung umur si anak saat ini, dalam contoh anak lahir tanggal 12 Agustus 2009
maka saat ini (12 Juni 2013) usia si anak adalah 46 bulan. Dalam standar usia
pendeteksian, 46 bulan tidak termasuk standar usia pendeteksian, sedangkan
menurut standar usia adalah 48 bulan. Maka si anak baru bisa di deteksi 2 bulan
kedepan atau 60 hari kedepan yaitu pada tanggal 11 atau 12 Agustus 2013.
 Satu bulan dihitung 30 hari.
 Toleransi kelebihan usia anak pada saat pendeteksian dari usia standar adalah 29
hari kedepan.
Stimulasi Dini Tumbuh Kembang Anak
Stimulasi dini adalah kegiatan merangsang kemampuan dasar anak usia 0-6
tahun agar anak mencapai tumbuh kembang yang optimal sesuai potensi yang
dimilikinya. Anak usia 0-6 tahun perlu mendapatkan stimulasi rutin sedini
mungkin dan terus-menerus pada setiap kesempatan. Kurangnya stimulasi dapat
menyebabkan penyimpangan tumbuh-kembang yang bahkan dapat menyebabkan
gangguan yang menetap. Stimulasi kepada anak hendaknya bervariasi dan
ditujukan terhadap kemampuan dasar anak yaitu: kemampuan gerak kasar,
kemampuan gerak halus, kemampuan bicara dan bahasa, kemampuan sosialisasi
dan kemandirian, kemampuan kognitif, kreatifitas dan moral-spiritual.

Siapa yang melakukan stimulasi?


Stimulasi perlu dilakukan menurut aturan yang benar seperti anjuran para ahli,
stimulasi yang salah dapat menyebabkan pembentukan anak yang menyimpang.
Oleh karena itu stimulasi sebaiknya dilakukan oleh orang-orang terdekat dengan
anak yang telah mendapat pengertian tentang cara memberi stimulasi yang benar,
misal: ayah, ibu, pengasuh, anggota keluarga lain, petugas kesehatan dan
kelompok masyarakat tertentu, misal kader kesehatan atau kader pendidikan.
Prinsip-Prinsip Dasar Dalam Menstimulasi Anak
Dalam melakukan stimulasi tumbuh kembang anak, ada beberapa prinsip
dasar yang perlu diperhatikan para pendidik, pengasuh dan orang tua, yaitu:
1. Stimulasi dilakukan dengan cara-cara yang benar sesuai petunjuk tenaga
kesehatan

Page
16
yang menangani bidang tumbuh kembang anak.
2. Stimulasi dilakukan dengan dilandasi rasa cinta dan kasih sayang terhadap
anak.
3. Selalu menunjukkan perilaku yang baik karena anak cenderung meniru tingkah
laku orang-orang terdekat dengannya.
4. Berikan stimulasi sesuai kelompok umur anak.
5. Dunia anak dunia bermain, oleh karena itu lakukanlah stimulasi dengan cara
mengajak anak bermain, bernyanyi dan variasi lain yang menyenangkan, tanpa
paksaan dan hukuman.
6. Lakukan stimulasi secara bertahap dan berkelanjutan sesuai umur anak.
7. Menggunakan alat bantu/alat permainan yang sederhana, aman dan ada
disekitar
kita.
8. Anak laki-laki dan perempuan diberikan kesempatan yang sama.

 Jenis Skrining / Deteksi Dini Penyimpangan Tumbuh Kembang


Jenis kegiatan deteksi atau disebut juga skrining, dalam SDIDTK adalah
sebagai berikut :
1. Deteksi dini penyimpangan pertumbuhan dengan cara mengukur Berat
Badan (BB), Tinggi Badan (TB) dan Lingkar Kepala (LK).
a. Pengukuran antropometri
Pengertian istilah “nutritional anthropometri”,mua-mula muncul dalam “Body
measurements and Human Nutrition”,yang dituliskan Borzek pada tahun 1966 yang
telah didefinisikan oleh jellife sebgaia pengukuran pada variasi dimensi fisik dan
komposisi besaran tubuh manusia pada tingkat usia dan derajat nutrisi yang
berbeda.(Muslihatun,2011)
Pengukuran anthropometri ada dua tipe,yaitu pertumbuhan dan ukuran
komposisi tubuh yang dibagi menjadi pengukuran lemak tubuh dan masa tubuh yang
bebas lemak,Penilaian pertumbuhan merupakan komponen esensial dalam surveilen
kesehatan anak.

 Pengukuran antropometri ini dapat meliputi pengukuran berat badan, tinggi


badan , lingkar kepala dan lingkar lengan atas
 Penggunaan kurva pertumbuhan anak (KMS,NCHS)

Page
17
 Penilaian perkembangan anak dan maturasi.
 Penilaian dan analisis status gizi dan pertumbuhan anak.
 Intervensi(preventif,promotif,kuratif,rehabilitative).

Tujuan pengukuran BB/TB adalah untuk menentukan status gizi anak apakah
tergolong normal, kurus, kurus sekali, atau gemuk. Parameter BB/TB ini untuk
mengetahui apakah proporsi anak tergolong normal. Berat badan dan tinggi badan
merupakan ukuran antropometri yang paling sering digunakan untuk pertumbuhan
anak. Antropometri adalah ukuran fisik seorang anak yang diukur dengan
menggunakan alat ukur tertentu seperti timbangan dan pita pengukur (meteran).

1) Berat Badan
Berat badan merupakan salah satu ukuran antropometri yang terpenting untuk
mengetahui keadaan status gizi anak dan untuk memeriksa kesehatan anak pada
kelompok umur, misalnya, apakah anak dalam keadaan normal dan sehat.
Keuntungan lainnya adalah pengukurannya mudah, sederhana dan murah. Oleh
karena itu, kegunaan BB adalah sebagai berikut :
a) Sebagai informasi tentang keadaan gizi anak, pertumbuhan, dan
kesehatannya.
b) Untuk monitoring kesehatan sehingga dapat menentukan terapi apa yang
sesuai dengan kondisi anak
c) Sebagai dasar untuk menentukan dasar perhitungan dosis obat ataupun diet
yang diperlukan untuk anak.
Meskipun berat badan merupakan ukuran yang dianggap paling penting, tapi
mempunyai kelemahan, antara lain sebagai berikut.
a) Tidak sensitif terhadap proporsi tubuh. Pada anak yang mempunyai berat
badan yang sama, tetapi tinggi badan berbeda akan terlihat postur tubuhnya
berbeda. Anak yang satu akan terlihat langsing, anak lainnya kemungkinan
terlihat gemuk.
b) Terjadi perubahan secara fluktuasi setiap hari yang masih dalam batas
normal. Perubahan ini dapat terjadi akibat pengaruh masukan (intake), seperti
makanan/minuman dan keluaran (output) seperti urine, keringat, dan

Page
18
pernafasan. Besarnya fluktuasi tergantung kelompok umur dan sangat
individual berkisar antara 100-200 g sampai 500 – 1000 g (Soetjiningsih,
2002).

Pada usia beberapa hari, berat badan akan mengalami penurunan yang sifatnya
normal yaitu sekitar 10% dari berat badan lahir. Hal ini disebabkan keluarnya
mekonium dan air seni yang belum diimbangi dengan asupan yang adekuat,
misalnya, produksi ASI yang belum lancar. Umumnya, berat badan akan kembali
mencapai berat lahir pada hari kesepuluh. Pada bayi sehat, kenaikan berat badan
normal pada triwulan I sekitar 700-1000 g/bulan, triwulan II sekitar 500 – 600
g/bulan, triwulan III sekitar 350 – 450 g/bulan, dan pada triwulan IV sekitar 250 –
350 g/bulan. Dari perkiraan tersebut, dapat diketahui bahwa pada usia enam bulan
pertama berat badan akan bertambah sekitar 1 kg/bulan, enam bulan berikutnya ±
0,5 kg/bulan. Pada tahun kedua kenaikan ± 0,25 kg/bulan. Setelah dua tahun
kenaikan berat badan tidak tentu, yaitu sekita 2 – 3 kg/tahun. Pada tahap adolesens
(masa remaja) akan terjadi pertumbuhan berat badan secara cepat (growth spurt).
Selain dengan perkiraan tersebut, dapat juga memperkirakan berat badan (BB)
dengan menggunakan rumus atau pedoman dari Behrman (1992) yang dikutip oleh
Rekawati dkk (2013), sebagai berikut.
a) Berat badan lahir rata – rata: 3,25 kg
b) Berat badan usi 3 – 12 bulan menggunakan rumus:
c) Berat badan usia 1 – 6 tahun, menggunakan rumus:

𝑈𝑚𝑢𝑟(𝑏𝑢𝑙𝑎𝑛) + 9 𝑛 + 9
=
2 2

(Umur (tahun) x 2) + 8 = 2n + 8

Keterangan: n adalah usia anak


Untuk menentukan umur anak dalam bulan, bila lebih 15 hari dibulatkan ke
atas, sedangkan, kurang atau sama dengan 15 hari dihilangkan. Misalnya, ada bayi
berumur 5 bulan 25 hari, maka bayi dianggap berumur 6 bulan berat badan bayi
diperkirakan 7,5 kg. Bila anak berumur 2 tahun 6 bulan, perkiraan berat badannya
adalah (2,5 tahun x 2 th) + 8 = 13 kg.

2) Pengukuran Berat Badan

Page
19
Dalam menentukan pengukuran berat badan anak, hal yang perlu diperhatikan
adalah sebagai berikut:
a) Pengukuran dilakukan dengan memakai alat timbangan yang telah ditera
(distandarisasi/kalibrasi) secara berkala. Timbangan yang digunakan
timbangan bayi, timbangan injak atau dacin.
b) Untuk menimbang anak usia kurang dari satu tahun, dilakukan dengan posisi
berbaring. Usia 1 – 2 tahun dilakukan dengan posisi duduk dengan
menggunakan dacin. Lebih dari dua tahun, penimbangan berat badan dapat
dilakukan dengan posisi berdiri.
Cara mengukur berat badan bayi menggunakan timbangan bayi:
a) Letakan timbangan pada meja
b) Lihat posisi jarum atau angka harus menunjuk ke angka 0.
c) Lepas pakaian bayi (bayi telanjang, tanpa topi, kaus kaki, sarung tangan)
d) Tidurkan bayi pada timbangan dengan hati-hati.
e) Letakkan tangan petugas di atas tubuh bayi (tidak menempel) untuk
mencegah bayi jatuh saat ditimbang.
f) Lihat jarum timbangan sampai berhenti
g) Tentukan hasil timbangan sesuai dengan jarum penunjuk pada timbangan
h) Apabila bayi terus menerus bergerak, perhatikan gerakan jarum dan baca
angka di tengah-tengah antara gerakan jarum ke kanan dan ke kiri

Gambar Pengukuran Berat Badan Menggunakan Timbangan Bayi


Sedangkan cara pengukuran berat badan anak adalah sebagai berikut.
a) Lepas pakaian yang tebal pada anak saat pengukuran. Bila perlu, cukup
pakaian dalam saja.
b) Bila menggunakan timbangan dacin, masukkan anak dalam gendongan, lalu
kaitkan gendongan ke timbangan.

Page
20
Gambar Pengukuran Berat Badan Menggunakan Timbangan Dacin
c) Bila dengan berdiri, ajak anak untuk berdiri di atas timbangan injak tanpa
dipegangi.
d) Letakkan tangan petugas di atas tubuh bayi (tidak menempel) untuk mencegah
bayi jatuh saat ditimbang.
e) Tentukan hasil timbangan sesuai dengan jarum penunjuk pada timbangan.
f) Bila anak tidak mau ditimbang, ibu disarankan untuk menimbang berat
badannya lebih dulu. Kemudian anak digendong oleh ibu dan ditimbang. Berat
badan anak adalah selisih antara berat badan ibu bersama anak dengan berat
badan ibu. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat rumus berikut.

BB anak = (BB ibu dan anak) – BB ibu

3) Tinggi Badan
Ukuran antropometri yang terpenting kedua adalah tinggi badan. Keuntungan
dari pengukuran tinggi badan ini adalah alatnya murah, mudah dibuat, dan dibawa
sesuai keinginan tempat tinggi badan akan diukur. Seperti terdapat pada tabel tinggi
badan dan berat badan, dengan mengetahui tinggi badan dan berat badan anak dapat
diketahui keadaan status gizinya. Sedangkan kerugiannya adalah perubahan dan
pertambahan tinggi badan relatif pelan serta sukar pengukurannya karena terdapat
selisih nilai antara posisi pengukuran saat berdiri dan saat tidur. Tinggi badan untuk
anak kurang dari 2 tahun sering diistilahkan panjang badan. Pada bayi baru lahir,
panjang badan rata-rata +50 cm. Pada tahun pertama pertambahannya 1,25 cm/bulan
(1,5 x panjang badan lahir). Penambahan tersebut berangsur-angsur berkurang sampai
usia 9 tahun yaitu hanya sekitar 5 cm/tahun. Baru pada masa pubertas ada peningkatan
pertumbuhan tinggi badan yang cukup cepat yaitu pada wanita 5-25 cm/tahun
sedangkan laki-laki sekitar 10-30 cm/tahun. Pertambahan tinggi badan akan berhenti

Page
21
pada usia 18-20 tahun. Seperti halnya berat badan, tinggi badan juga dapat diperkirakan
berdasarkan rumus dari Behrman (1992), sebagai berikut.
a) Perkiraan panjang lahir: 50 cm
b) Perkiraan panjang badan usia 1 tahun = 1,5 x Panjang Badan Lahir
c) Perkiraan tinggi badan usia 2 – 12 tahun = (Umur x 6) + 77 = 6n + 77
Keterangan: nadalah usia anak dalam tahun, bila usia lebih enam bulan dibulatkan
ke atas, bila enam bulan atau kurang dihilangkan.
Atau berdasarkan potensi genetik TB akhir:

wanita=(TB ayah−13 cm)+TB ibu±8,5 cm


a. 2

Pria =(TB ibu−13 cm)+TB ayah±8,5 cm


b. 2

4) Pengukuran Tinggi Badan


Untuk menentukan tinggi badan, cara pengukurannya dikelompokkan menjadi
dua, yaitu dengan cara berbaring dan berdiri. Pengukuran tinggi badan secara
berbaring untuk anak yang belum bisa berdiri tegak. Biasanya untuk anak yang
berusia kurang dari dua tahun. Adapun cara pengukurannya adalah sebagai berikut.
a) Siapkan papan atau meja pengukur. Bila tidak ada, dapat digunakan pita
pengukur (meteran).
b) Baringkan anak terlentang tanpa bantal (supinasi) luruskan lutut sampi menepel
meja (posisi ekstensi).
c) Luruskan bagian puncak kepala dan bagian kaki (telapak kaki lurus dengan meja
pengukur), lalu ukur sesuai dengan skala yang tertera.

Gambar Cara Pengukuran Panjang Badan Bayi

Page
22
d) Bila tidak ada papan pengukur, dapat dengan cara memberi tanda pada tempat
tidur (tempat tidur harus rata/datar) berupa titik atau garis pada bagian puncak
kepala dan bagian tumit bayi, lalu ukur kedua tanda tersebut dengan pita
pengukur (meteran).
Cara pengukuran tinggi badan dengan cara berdiri yang biasanya untuk anak yang
berusia dua tahun atau lebih, sebagai berikut:
a) Tingi badan diukur dengan posisi berdiri tegak, sehingga tumit rapat, sedangkan
bokong, punggung, dan bagian belakang kepala berada dalam satu garis vertikal
dan menempel pada alat pengukur
b) Tentukan bagian atas kepala dan bagian kaki dengan sebilah papan dengan
posisi horizontal dan bagian kaki, lalu ukur sesuai dengan skala yang tertera.
Untuk lebih jelasnya, lihat gambar berikut

Gambar Cara Pengukuran Tinggi Badan pada Anak dengan Posisi Berdiri

Hasil pengukuran berat badan dan tinggi badan anak sering digunakan untuk
menentukan status gizi anak. Kategori status gizi anak dapat dilihat pada tabel berat
badan/ tinggi badan yang diterbitkan oleh Direktorat Gizi Masyarakat (2002).
Kategori ini mengacu pada Standar Deviasi (SD) sebagai berikut:
• -2 SD s/d + 2 SD : Normal
• -3 SD s/d < - 2 SD : Kurus/Wasted
• < - 3 SD : Sangat kurus/severe wasted
• > + 2 SD s/d 3 SD : Gemuk
• > 3 SD : Gemuk sekali

Page
23
5) Pengukuran Lingkar Kepala Anak (LKA)
Pengukuran LKA bertujuan untuk menaksir pertumbuhan otak. Pertumbuhan
ukuran kepala umumnya mengikuti pertumbuhan otak, sehingga apabila ada
hambatan/gangguan pertumbuhan lingkar kepala, pertumbuhan otak biasanya
juga terhambat. Berat otak janin saat kehamilan 20 minggu diperkirakan 100 gr,
waktu lahir sekitar 350 gram, pada usia 1 tahun hampir mencapai 3 kali lipat
yaitu 925 gram atau mencapai 75% dari berat seluruhnya. Pada usia 3 tahun
sekitar 1100 gr dan pada 6 tahun pertumbuhan otak telah mencapai 90% (1260
gr). Pada usia dewasa, berat otak mencapai 1400 gr. Secara normal, pertambahan
ukuran lingkaran kepala setiap tahap relatif konstan. Saat lahir, ukuran lingkar
kepala normalnya 34-35 cm. kemudian bertambah ± 0,5 cm/bulan pada bulan
pertama ataumenjadi 44 cm. Pada 6 bulan pertama, pertumbuhan kepala paling
cepat, kemudian tahun-tahun pertama lingkat kepala bertambahnya tidak lebih
dari 5 cm/tahun. Pada dua tahun pertama, pertumbuhan otak relatif pesat, dan
setelah itu sampai usia 18 tahun lingkar kepala hanya bertambah ± 10 cm. Jadwal
pengukuran disesuaikan dengan umur anak. Umur 0 – 11 bulan, pengukuran
dilakukan setiap bulan. Pada anak yang lebih besar, umur 12 – 72 bulan,
pengukuran dilakukan setiap enam bulan. Pengukuran dan penilaian lingkar
kepala anak dilakukan oleh tenaga yang kesehatan terlatih.
Cara mengukur lingkaran kepala.
a) Siapkan pita pengukur (meteran)
b) Lingkarkan pita pengukur pada kepala anak melewati dahi (daerah glabela/
frontalis), menutupi alis mata, diatas telinga dan bagian belakang kepala yang
menonjol, tarik agak kencang.
c) Kemudian baca angka pada pertemuan dengan angka 0.
d) Tanyakan tanggal lahir bayi / anak, hitung umur bayi /anak.
e) Hasil pengukuran dicatat pada grafik lingkaran kepala menurut umur dan
jenis kelamin anak
f) Buat garis yang menghubungkan antara ukuran yang lalu dengan ukuran
sekarang

Page
24
Gambar Cara Mengkur Lingkar Kepala Bayi

Pertambahan yang relatif konstan juga dapat diketahui dari proporsi besar
kepala dengan panjang badan. Saat lahir kepala berukuran seperempat (¼) bagian
dari panjang badan dan setelah dewasa besar kepala hanya seperdelapan (1/8) dari
panjang badan. Oleh karena itu lingkar kepala ini hanya efektif pada 6 bulan pertama
sampai umur 2-3 tahun, kecuali pada keadaan tertentu seperti bentuk kepala yang
besar pada anak yang menderita Hidrocephalus. Pengukuran lingkar kepala jarang
dilakukan pada balita kecuali jika ada kecurigaan pertumbuhan kepala yang tidak
normal. Cara yang mudah untuk mengetahui pertumbuhan lingkar kepala adalah
dengan melihat kurva lingkar kepala pada Kartu Tumbuh Kembang Anak. kurva ini
dibedakan antara anak perempuan dan anak laki-laki. Kurva lingkar kepala anak
perempuan dan anak laki-laki dapat dilihat berikut ini.

Gambar KurvaLingkar Kepala Anak Perempuan dan Laki-laki

Dari kurva tersebut tergambar dua daerah yaitu dalam kurva yang berwarna
hijau dan luar kurva yang dibatasi oleh kedua garis putus-putus. Hasil pengukuran,
dapat diinterpretasikan sebagi berikut:
a. Lingkar kepala normal jika ukuran lingkar kepala berada diantara kedua garis
putus putus atau di dalam jalur hijau.

Page
25
b. Lingkar kepala tidak normal apabila ukuran lingkar kepala berada di atas atau
di bawah kedua garis putus-putus atau di luar garis hijau. Untuk itu anak perlu
dirujuk untuk mendapatkan pemeriksaan selajutnya.
A.Lingkaran kepala pada waktu lahir rata-rata 34cm.
B.Umur 6 bulan lingkar kepala rata-rata 44 cm.
C.Umur 1 tahun 47cm
D.Umur 2 tahun 49cm
E.Dewasa 54cm.
Jadi pertumbuhan lingkar kepala dari lahir sampai dewasa,50% terjadi pada 6
bulan pertama kehiidupan.

6) Gigi
a.Gigi pertama tumbuh pada 5-9 bulan
b.Umur 1 tahun seebagian besar anak punya 6-8 gigi susu untuk sulung.
c.Selama tahun kedua gigi tumbuh lagi 8 biji.
d.Umur 2 setengah tahun gigi lengkap ,dengan jumlah gigi 20 buah gigi susu
untuk sulung yang terdiri dari:
 4 buah gigi seri I
 4 buah gigi seri II
 4 buah taring
 4 buah Geraham I
 4 buah geraham II
e.Gigi tetap atau gigi dewasa akan mulai muncul ketika anak mencapai usia
sekitar 5-6 tahun.
f.Tinggalnya gigi susu ini boleh dikatakan hampir sama urutannya dengan waktu
pertumbuhannya yaitu gigi seri ,gigi geraham dan gigi taring.(Maryanti,2011).

2. Deteksi dini penyimpangan perkembangan yaitu meliputi


 Pendeteksian menggunakan Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP)
 Tes Daya Lihat (TDL)
 Tes Daya Dengar (TDD)
3. Deteksi dini penyimpangan mental emosional yaitu menggunakan :
 Kuesioner Masalah Mental Emosional (KMME)

Page
26
 Check List for Autism in Toddlers (CHAT) atau Cek lis Deteksi Dini Autis
 Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH)

A. Kartu Menuju Sehat


Pertumbuhan balita dapat dipantau dengan menimbang berat badan anak setiap
bulan. Hasil penimbangan balita diterjemahkan ke dalam KMS (Kartu Menuju Sehat)
yang menghasilkan status pertumbuhan balita.
 Pengertian KMS
KMS adalah kartu yang memuat grafik pertumbuhan serta indikator
perkembangan yang bermanfaat untuk mencatat dan memantau tumbuh
kembang balita setiap bulan dari sejak lahir sampai berusia 5 tahun. KMS juga
dapat diartikan sebagai “ rapor “ kesehatan dan gizi (Catatan riwayat kesehatan
dan gizi) balita ( Depkes RI, 1996 ).
Di Indonesia dan negara - negara lain, pemantauan berat badan balita
dilakukan dengan timbangan bersahaja ( dacin ) yang dicatat dalam suatu
sistem kartu yang disebut “Kartu Menuju Sehat “ (KMS). Hambatan kemajuan
pertumbuhan berat badan anak yang dipantau dapat segera terlihat pada grafik
pertumbuhan hasil pengukuran periodik yang dicatat dan tertera pada KMS
tersebut. Naik turunnya jumlah anak balita yang menderita hambatan
pertumbuhan di suatu daerah dapat segera terlihat dalam jangka waktu periodik
( bulan ) dan dapat segera diteliti lebih jauh apa sebabnya dan dibuat rancangan
untuk diambil tindakan penanggulangannya secepat mungkin. Kondisi
kesehatan masyarakat secara umum dapat dipantau melalui KMS, yang
pertimbangannya dilakukan di Posyandu ( Pos Pelayanan terpadu ), (
Sediaoetama, 1999 ).
Indikator BB / U dipakai di dalam Kartu Menuju Sehat ( KMS ) di
Posyandu untuk memantau pertumbuhan anak secara perorangan. Pengertian
tentang “ Penilaian status Gizi ” dan “ Pemantauan pertumbuhan ” sering
dianggap sama sehingga mengakibatkan kerancuan. KMS tidak untuk
memantau gizi, tetapi alat pendidikan kepada masyarakat terutama orang tua
agar dapat memantau pertumbuhan anak, dengan pesan “ Anak sehat tambah
umur tambah berat” ( Soekirman, 2000 ).

 Tujuan Penggunaan KMS Balita

Page
27
Umum:
Mewujudkan tingkat tumbuh kembang dan status kesehatan anak balita
secara optimal
Khusus:
1. Sebagai alat bantu bagi ibu atau orang tua dalam memantau tingkat
pertumbuhan dan perkembangan balita yang optimal.
2. sebagai alat bantu dalam memantau dan menentukan tindakan-tindakan
untuk mewujudkan tingkat pertumbuhan dan perkembangan balita yang
optimal
3. Sebagai alat bantu bagi petugas untuk menentukan tindakan pelayanan
kesehatan dan gizi kepada balita (Depkes RI, 1996)

 Fungsi KMS Balita


a. Sebagai media untuk “ mencatat / memantau ” riwayat kesehatan balita
secara lengkap.
b. Sebagai media “ penyuluhan ” bagi orang tua balita tentang kesehatan
balita
c. Sebagai sarana pemantauan yang dapat digunakan bagi petugas untuk
menentukan tindakan pelayanan kesehatan dan gizi terbaik bagi balita.
d. Sebagai kartu analisa tumbuh kembang balita
( Depkes RI, 1996 )
Fungsi KMS ditetapkan hanya untuk memantau pertumbuhan bukan untuk
penilaian status gizi. Artinya penting untuk memantau apakah berat badan anak
naik atau turun, tidak untuk menentukan apakah status gizinya kurang atau baik, (
Soekirman, 2000).

 Manfaat KMS yaitu:


 Bagi orang tua
Orang tua dapat mengetahui status pertumbuhan anaknya. Apabila diketahui ada
gangguan pertumbuhan (contoh: BB tidak naik), orang tua balita dapat melakukan
tindakan perbaikan, seperti memberikan makan lebih banyak atau membawa anak
ke sarana/fasilitas pelayanan kesehatan. Orang tua balita juga dapat mengetahui
apakah anaknya telah mendapat imunisasi tepat waktu dan lengkap, serta mendapat
kapsul vitamin A secara rutin sesuai dengan dosis yang dianjurkan.

Page
28
 Bagi Kader
KMS digunakan untuk mencatat berat badan anak dan pemberian kapsul vitamin
A serta hasil penimbangan. Hasil penentuan status pertumbuhan anak dalam KMS
dapat digunakan oleh kader sebagai dasar untuk melakukan rujukan bila anak
diketahui mengalami gangguan pertumbuhan. KMS juga dapat digunakan kader
untuk memberikan pujian pada ibu yang berat badan anaknya baik, serta untuk
mengingatkan ibu agar menimbangkan anaknya di posyandu pada bulan
berikutnya.
 Bagi Petugas Kesehatan
Menggambarkan status pertumbuhan berdasarkan grafik pertumbuhan anak
dalam KMS.
a. Tidak Naik (T); grafik berat badan memotong garis < KBM.
b. Naik (N); grafik berat badan memotong garis pertumbuhan diatasnya,
kenaikan berat badan > KBM.
c. Naik (N); grafik berat badan mengikuti garis pertumbuhannya; kenaikan
berat badan > KBM.
d. Tidak Naik (T); grafik berat badan mendatar, kenaikan BB < KBM.
e. Tidak Naik (T); grafik berat badan menurun, grafik berat badan < KBM.

 Penggunaan KMS
Bagaimana mengetahui pertumbuhan normal anak balita, adalah sebagai berikut :
1. ukur berat badan dan tinggi badannya.
2. Pertumbuhan fisik anak, diukur antara lain dengan Berat Badan (BB), Tinggi
Badan (TB) dan Lingkar Kepala (LK). Salah satu cara untuk memantau
pengukuran ke 3 parameter tsb, adalah dengan menggunakan grafik
pertumbuhan (growth chart).
3. tentukan berat badan ideal anak, anda juga bisa melihat apakah anak anda
tinggi atau pendek, gemuk atau kurus.
4. Isi berat badam balita anda tentunya sesuai umur dan tarik garis grafik
pertumbuhan.
Pengukuran Yang Akurat
1. BB (berat badan)
 Gunakan teknik yang tepat

Page
29
 Gunakan selalu timbangan yang sama
2. TB (tinggi badan) dan LK (lingkar kepala)
 Gunakan teknik yang tepat
 Gunakan calibrated length board
 Grafik Pertumbuhan (Growth Chart)
Adalah grafik yang menunjukkan pola pertumbuhan seorang anak
dengan >7 kurva persentil (5th,10th,25th,50th,75th,90th dan 95th). Ket:
persentil 50th adalah rata-rata nilai pada umur tsb.

Cara Menggambar Grafik Pertumbuhan pada Kartu Kesehatan (KMS)


1. Dapatkan data pengukuran BB,TB,LK yang tepat dan akurat.
2. Pilih chart atau gambar grafik pertumbuhan kenaikkan BB dan Tinggi badan
yang sesuai dengan umur dan jenis kelamin.
3. Gunakan alat bantu seperti penggaris segitiga agar akurat, untuk
menghubungkan BB, TB, dan LK dengan umur

Membaca Grafik Pertumbuhan


1. Persentil menunjukkan persentase nilai pada umur tsb dari suatu populasi.
Misalnya, seorang anak memiliki BB di persentil 20th, berarti 80% dari anak-
anak sebayanya memiliki berat di atas anak tsb, dan 20% lainnya memiliki berat
di bawah anak tsb.
2. Fokus pada pola atau trend dari grafik yang terbentuk (paling baik jika pola
yang terbentuk bergerak ke atas/trendnya naik, tidak stagnan, juga tidak
meningkat atau menurun dengan tajam). Bukan terfokus pada angka-angka
persentil.
3. Besar atau rendahnya persentil tidak berarti menunjukkan adanya masalah.
Seorang bayi yang memiliki lingkar kepala persentil 90th dapat memiliki BB
dan TB di persentil 90th. Ini berarti dia termasuk anak normal yang
berperawakan besar. Sebaliknya, anak yang memiliki BB di persentil 20th bisa
jadi memiliki orangtua yang tinggi dan beratnya juga di bawah rata-rata. Jadi
sangat normal jika sang anak berada pada persentil 20th.
4. Ada juga pola grafik yang naik tajam atau turun drastis atau grafik berada pada
kurva paling ekstrim (di luar dari semua kurva). Sebagai contoh, seorang anak

Page
30
memiliki BB di bawah persentil 5th, maka ia dimasukkan dalam kategori
underweight (BB kurang). Sedangkan anak dengan BB di persentil 85th akan
dimasukkan dalam kategori overweight (beresiko obesitas) dan mereka yang
memiliki BB di persentil di atas 95th digolongkan dalam obesitas.
5. Grafik pertumbuhan dapat juga memberikan kesan yang salah tentang kondisi
pertumbuhan anak kita. Contohnya, seorang anak memiliki TB di persentil 5th.
Bukan berarti ia memiliki masalah kesehatan. Apalagi jika pola grafik atau trend
kurvanya menunjukkan bahwa ia memang selalu berada di kurva persentil 5th
(sejak bayi hingga kini, sang anak selalu berada dalam kurva persentil 5th).
Analisanya, bisa jadi sang anak mendapatkan gen „pendek“ dari sang orangtua
yang juga pendek.
6. Pola pertumbuhan berat badan bayi/BB (weight) dan panjang badan/PB (length)
bayi digambarkan dalam Kurva Pertumbuhan atau Weight/Length Chart.
Rentangnya dari 5% sampai 95%. Apabila bayi berada dalam chart tersebut,
maka bayi masih dikatakan normal. Namun, berada di luar chart baik lebih
rendah atau lebih tinggi tidak bisa dinilai ada kelainan, harus diperiksa
penyebabnya apa. Misalnya faktor genetik. Memeriksakan dan berdiskusi
dengan dokter adalah jalan terbaik.
7. Satu hal yang penting juga adalah pola pertumbuhan berat badan sebenarnya
tergantung dari Tinggi Badan dan Proporsi (keseimbangan) Berat Badan dan
Tinggi Badan. Polanya akan terlihat pada grafik pertumbuhan status berat badan
ideal anak.

Intepretasinya adalah sebagai berikut :


PERTAMA ; Pertumbuhan yang diharapkan pada anak dengan statu awal Berat
Badan Idealnya baik (normal) dengan Tinggi Badanya Normal, akan terlihat
proporsi (keseimbangan) berat badan dan tinggi badanya normal, maka pola
pertumbuhan berat badan pada anak akan terlihat pada grafik pertumbuhan adalah
standar seperti terlihat pada gambar dibawah ini. Berat badan standar (ideal) pada
anak usia 1-10 tahun secara praktis dapat digunakan rumus = 2n+8, dimana –n-
adalah usia dalam tahun koma bulan misalnya usia 15 bulan ditulis 1,3 (satu koma
tiga).
KEDUA ; Pertumbuhan yang diharapkan pada anak dengan status Berat Badan
awalnya Kurang dan Tinggi Badannya Pendek, akan terlihat proporsi

Page
31
(keseimbangan) Berat Badan dan Tinggi adalah Normal, maka pola pertumbuhan
anak pada KMS akan berada dibawah standar, pola tersebutlah yang diharapkan,
karena jika mengikuti Pola Pertumbuhan Standar, anak akan terlihat kegemukan
(obesitas).
KETIGA ; Jika pertumbuhan pada anak dengan status awal Berat Badannya
Kurang, sedangkan Tinggi Badannya normal, akan terlihat proporsi
(keseimbangan) Berat Badan dan Tinggi Badan anak adalah kurus, maka pola
pertumbuhan anak yang diharapkan adalah harus berada pada pola standar. Jadi
anak harus terus dinaikan berat badannya sampai berada pada pola standar, tetapi
pola ini tidak boleh dipaksakan bila anak tersebut sejak awal memang sudah
mempunyai Tinggi Badan Pendek. Seperti terlihat pada kedua gamabar dibawah ini

 Bagian Utama KMS


• Kurva penimbangan dan pengukuran berat badan (2 bagian).
• Catatan pemberian vitamin A dan pemberian imunisasi.
• Informasi tentang ASI, penanganan diare, dan perkembangan anak sehat.
• Identitas balita.

 Menindaklanjuti Hasil Penimbangan


 Berat Badan Naik
a. Berikan pujian kepada ibu yang telah membawa balita ke posyandu
b. Berikan umpan balik dengan cara menjelaskan arti grafik pertumbuhan
abaknya yang tertera pada KMS secara sederhana
c. Anjurkan kepada ibu untuk mempertahankan kondisi anak dan berikan
nasiihat tentang pemberian makan anak sesuai golongan umurnya.
d. Anjurkan untuk datang pada penimbangan berikutnya.

 Berat Badan Tidak Naik 1 Kali


a. Berikan pujian kepada ibu yang telah membawa balita ke Posyandu
b. Berikan umpan balik dengan cara menjelaskan arti grafik pertumbuhan
abaknya yang tertera pada KMS secara sederhana
c. Tanyakan dan catat keadaan anak bila ada keluhan (batuk, diare, panas,
rewel, dll) dan kebiasaan makan anak.

Page
32
d. Berikan penjelasan tentang kemungki9nan penyebab berat badan tidak
naik tanpa menyalahkan ibu.
e. Berikan nasehat kepada ibu tentang anjuran pemberian makan anak sesuai
golongan umurnya.
f. Anjurkan untuk datang pada penimbangan berikutnya.

 Berat Badan Tidak Naik 2 Kali atau berada di Bawah Garis merah
a. Berikan pujian kepada ibu uang telah membawa balita ke Posyandu dan
anjurkan untuk datang kembali bulan berikutnya.
b. Berikan umpan balik dengan cara menjelaskan arti grafik pertumbuhan
anaknya yang tertera pada KMS secara sederhana.
c. Tanyakan dan catat keadaan anak bila ada keluhan (batuk, diare, panas,
rewel, dll) dan kebiasaan makan anak.
d. Berikan penjelasan tentang kemungkinan penyebab berat badan tidak
naik tanpa menyalahkan ibu.
e. Berikan nasehat kepada ibu tentang anjuran pemberian makan anak
sesuai golongan umurnya.
f. Rujuk anak ke Puskesmas/Pustu/Poskesdes.

 Titik-Titik Berat Badan dalam KMS Terputus-Putus (Tidak Teratur)


a. Pendekatan dan penyuluhan tentang manfaat memantau proses
pertumbuhan anak.
b. Diberi motivasi untuk menimbang secara teratur setiap bulan.

Page
33
Contoh KMS

Page
34
C. Penyimpangan atau Gangguan Tumbuh Kembang Neonatus, Bayi, Balita Dan Anak
Prasekolah
Masalah yang sering timbul dalam pertumbuhan dan perkembangan anak meliputi
gangguan pertumbuhan fisik, perkembangan motorik, bahasa, emosi, dan perilaku.
1. Gangguan Pertumbuhan Fisik
Gangguan pertumbuhan fisik meliputi gangguan pertumbuhan di atas normal
dan gangguan pertumbuhan di bawah normal. Pemantauan berat badan menggunakan
KMS (Kartu Menuju Sehat) dapat dilakukan secara mudah untuk mengetahui pola
pertumbuhan anak. Menurut Soetjiningsih (2003) bila grafik berat badan anak lebih
dari 120% kemungkinan anak mengalami obesitas atau kelainan hormonal.
Sedangkan, apabila grafik berat badan di bawah normal kemungkinan anak
mengalami kurang gizi, menderita penyakit kronis, atau kelainan hormonal. Lingkar
kepala juga menjadi salah satu parameter yang penting dalam mendeteksi gangguan
pertumbuhan dan perkembangan anak. Ukuran lingkar kepala menggambarkan isi
kepala termasuk otak dan cairan serebrospinal. Lingkar kepala yang lebih dari normal
dapat dijumpai pada anak yang menderita hidrosefalus, megaensefali, tumor otak
ataupun hanya merupakan variasi normal. Sedangkan apabila lingkar kepala kurang
dari normal dapat diduga anak menderita retardasi mental, malnutrisi kronis ataupun
hanya merupakan variasi normal.
Deteksi dini gangguan penglihatan dan gangguan pendengaran juga perlu
dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya gangguan yang lebih berat. Jenis
gangguan penglihatan yang dapat diderita oleh anak antara lain adalah maturitas
visual yang terlambat, gangguan refraksi, juling, nistagmus, ambliopia, buta warna,
dan kebutaan akibat katarak, neuritis optik, glaukoma, dan lain sebagainya.
(Soetjiningsih, 2003). Sedangkan ketulian pada anak dapat dibedakan menjadi tuli
konduksi dan tuli sensorineural. Menurut Hendarmin (2000), tuli pada anak dapat
disebabkan karena faktor prenatal dan postnatal. Faktor prenatal antara lain adalah
genetik dan infeksi TORCH yang terjadi selama kehamilan. Sedangkan faktor
postnatal yang sering mengakibatkan ketulian adalah infeksi bakteri atau virus yang
terkait dengan otitis media.
2. Gangguan perkembangan motorik
Perkembangan motorik yang lambat dapat disebabkan oleh beberapa hal.
Salah satu penyebab gangguan perkembangan motorik adalah kelainan tonus otot
atau penyakit neuromuskular. Anak dengan serebral palsi dapat mengalami

Page
35
keterbatasan perkembangan motorik sebagai akibat spastisitas, athetosis, ataksia, atau
hipotonia. Kelainan sumsum tulang belakang seperti spina bifida juga dapat
menyebabkan keterlambatan perkembangan motorik. Penyakit neuromuscular sepeti
muscular distrofi memperlihatkan keterlambatan dalam kemampuan berjalan.
Namun, tidak selamanya gangguan perkembangan motorik selalu didasari adanya
penyakit tersebut. Faktor lingkungan serta kepribadian anak juga dapat
mempengaruhi keterlambatan dalam perkembangan motorik. Anak yang tidak
mempunyai kesempatan untuk belajar seperti sering digendong atau diletakkan di
baby walker dapat mengalami keterlambatan dalam mencapai kemampuan motorik.
3. Gangguan perkembangan bahasa
Kemampuan bahasa merupakan kombinasi seluruh system perkembangan
anak. Kemampuan berbahasa melibatkan kemapuan motorik, psikologis, emosional,
dan perilaku (Widyastuti, 2008). Gangguan perkembangan bahasa pada anak dapat
diakibatkan berbagai faktor, yaitu adanya faktor genetik, gangguan pendengaran,
intelegensia rendah, kurangnya interaksi anak dengan lingkungan, maturasi yang
terlambat, dan faktor keluarga. Selain itu, gangguan bicara juga dapat disebabkan
karena adanya kelainan fisik seperti bibir sumbing dan serebral palsi. Gagap juga
termasuk salah satu gangguan perkembangan bahasa yang dapat disebabkan karena
adanya tekanan dari orang tua agar anak bicara jelas (Soetjingsih, 2003).
4. Gangguan Emosi dan Perilaku
Selama tahap perkembangan, anak juga dapat mengalami berbagai gangguan
yang terkait dengan psikiatri. Kecemasan adalah salah satu gangguan yang muncul
pada anak dan memerlukan suatu intervensi khusus apabila mempengaruh interaksi
sosial dan perkembangan anak. Contoh kecemasan yang dapat dialami anak adalah
fobia sekolah, kecemasan berpisah, fobia sosial, dan kecemasan setelah mengalami
trauma. Gangguan perkembangan pervasif pada anak meliputi autisme serta
gangguan perilaku dan interaksi sosial. Menurut Widyastuti (2008) autism adalah
kelainan neurobiologis yang menunjukkan gangguan komunikasi, interaksi, dan
perilaku. Autisme ditandai dengan terhambatnya perkembangan bahasa, munculnya
gerakan-gerakan aneh seperti berputar-putar, melompat-lompat, atau mengamuk
tanpa sebab.

Page
36
D. Upaya Pencegahan Gangguan Pertumbuhan Dan Perkembangan
1. Deteksi Penyimpangan Perkembangan neonatus bayi balita dan anak
prasekolah
Deteksi dini penyimpangan perkembangan untuk mengetahui gangguan
perkembangan anak (keterlambatan), gangguan daya lihat dan gangguan daya
dengar. Upaya deteksi dini perkembangan di tingkat puskesmas, jenis instrumen
yang digunakan adalah:
a. Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP)
b. Tes Daya Lihat (TDL)
c. Tes Daya Dengan Anak (TDD)

Deteksi perkembangan dengan menggunakan instrumen KPSP, TDL dan TDD


dapat dilakukan oleh semua tenaga kesehatan dan guru TK terlatih. Bahkan keluarga
dan masyarakat bisa melakukan upaya deteksi perkembangan dengan menggunakan
Buku KIA Selain itu ada instrumen yang juga sudah luas pemakaiannya yaitu
Denver Developmenttal Scining Test (DDST). DDST mudah dan cepat
penggunaannya, serta mempunyai validitas yang tinggi yang sering digunakan di
klinik/rumah sakit bagian tumbuh kembang anak.
Berikut ini akan dijelaskan masing-masing tes yaitu KPSP, TDL, TDD dan DDST.
1) Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP)
KPSP merupakan skrining pendahuluan untuk menilai perkembangan anak
usia 0-72 bulan. Daftar pertanyaan singkat yang ditujukan pada orang tua. KPSP
adalah suatu daftar pertanyaan singkat yang ditujukan kepada orang tua
Skrining/pemeriksaan dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan, guru TK/PAUD
terlatih. Alat yang digunakan untuk pemeriksaan adalah formulir KPSP sesuai
umur dan alat untuk pemeriksaan yang berupa pensil, kertas, bola sebesar bola
tenis, kerincingan, kubus berukuran 2,5 cm sebanyak 8 buah, kismis, kacang
tanah dan potongan biscuit. Usia ditetapkan menurut tahun dan bulan.
Kelebihan 16 hari dibulatkan menjadi 1 bulan. Daftar pertanyaan KPSP
berjumlah sepuluh nomor yang dibagi menjadi dua, yaitu
pertanyaan yang harus dijawab oleh orangtua/pengasuh dan perintah yang harus
dilakukan sesuai dengan pertanyaan KPSP. Pertanyaan dalam KPSP harus
dijawab “ya” atau “tidak” oleh orangtua.
Cara menggunakan KPSP:

Page
37
a) Pada waktu pemeriksaan /skrining, anak harus dibawa
b) Tentukan umur anak dengan menanyakan tanggal, bulan dan tahun lahir.
c) Setelah menentukan umur anak, pilih KPSP yang sesuai dengan umur anak.
d) Daftar pertanyaan KPSP berjumlah sepuluh nomor yang dibagi menjadi
dua, yaitu pertanyaan yang harus dijawab oleh orangtua/pengasuh dan
perintah yang harus dilakukan sesuai dengan pertanyaan KPSP.
e) Jelaskan kepada orang tua agar tidak ragu-ragu atau takut menjawab. Oleh
karena itu pastikan orang tua/pengasuh mengerti apa yang ditanyakan
kepadanya.
f) Tanyakan pertanyaan tersebut secara berurutan, satu persatu. Setiap
pertanyaan hanya ada 1 jawaban Ya atau Tidak. Catat jawaban tersebut
pada formulir.
g) Ajukan pertanyaan yang berikutnya setelah orangtua/pengasuh menjawab
pertanyaan sebelumnya.
h) Teliti kembali apakah semua pertanyaan telah dijawab.

Interprestasi hasil pemeriksan KPSP adalah sebagai berikut:


a. Bila jawaban “ya” berjumlah 9-10 berarti perkembangan anak normal sesuai
dengan tahapan perkembangan
b. Bila jawaban ‘ya” kurang dari 9, maka perlu diteliti tentang:
1) Cara menghitung usia dan kelompok pertanyaannya apakah sudah sesuai
2) Kesesuaian jawaban orangtua dengan maksud pertanyaan
Apabila ada kesalahan , maka pemeriksan harus diulang
c. Bila setelah diteliti jawaban “ya” berjumlah 7- 8, berarti perkembangan anak
meragukan dan perlu pemeriksan ulang 2 minggu kemudian dengan
pertanyaan yang sama. Jika jawaban tetap sama maka kemungkinan ada
penyimpangan.
d. Bila jawaban berjumlah “ya” berjumlah 6 atau kurang, kemungkinan ada
penyimpangan dan anak perlu dirujuk ke rumah sakit untuk memerlukan
pemeriksaan lebih lanjut.

2) Test Daya Lihat (TDL)


Tes ini untuk memeriksa ketajaman daya lihat serta kelainan mata pada anak
berusia 3-6 tahun yang dilakukan setiap enam bulan. Tujuan tes ini untuk

Page
38
mendeteksi adanya kelainan daya lihat pada anak usia prasekolah secara dini,
sehingga jika ada penyimpangan dapat segera ditangani.
Cara melakukan tes daya lihat:
a) Pilih ruangan dengan penyinaran yang baik, bersih, tenang
b) Gantungkan ’kartu E’ yang setinggi mata anak posisi duduk.
c) Letakkan sebuah kursi sejauh 3 meter dari kartu “E” untuk duduk anak.
d) Letakkan sebuah kursi lainnya di samping poster “E” untuk pemeriksa
e) Pemeriksa memberikan kartu “E” kepada anak. Latih anak dalam
mengarahkan kartu ‘E’ menghadap ke atas, bawah, kiri dan kanan sesuai
yang ditunjuk pada poster “E”oleh pemeriksa.
f) Dengan alat penunjuk, tunjuk huruf “E” pada poster, satu persatu mulai
baris pertama huruf “E “berukuran paling besar sampai baris keempat atau
baris ”E” terkecil yang masih dapat dilihat.
g) Puji anak jika bisa mencocokan posisi kartu “E” yang dipegangnya dengan
huruf pada kartu “E” pada poster.
h) Ulangi pemeriksaan tersebut pada mata satunya dengan cara yang sama.

Interpretasi hasil pemeriksaan daya lihat:


Secara normal anak dapat melihat huruf E pada baris ketiga. Apabila
pada baris ketiga, anak tidak dapat melihat maka perlu dirujuk untuk
mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.Selain tes daya lihat, anak juga perlu
diperiksakan kesehatan matanya.Perlu ditanyakan dan diperiksa adakah hal
sebagai berikut :
a) keluhan seperti mata gatal, panas, penglihatan kabur atau pusing
b) perilaku seperti sering menggosok mata, membaca terlalu dekat, sering
mengkedipkedipkan mata
c) kelainan mata seperti bercak bitot, juling, mata merah dan keluar air
Intervensi Apabila ditemukan satu kelainan atau lebih pada mata anak, minta
anak datang lagi untuk pemeriksaan ulang dan jika hasil pemeriksaan anak
tidak dapat melihat sampai baris yang sama maka anak tersebut perlu dirujuk
ke rumah sakit dengan menuliskan mata yang mengalami gangguan ( kanan,
kiri atau keduanya).

Page
39
3) Test Daya Dengar (TDD)
Anak tidak dapat belajar berbicara atau mengikuti pelajaran sekolah dengan
baik tanpa pendengaran yang baik. Oleh karena itu perlu deteksi dini fungsi
pendengaran. Tujuan TDD adalah untuk menemukan gangguan pendengaran
secara dini, agar dapat segera ditindak lanjuti untuk meningkatkan kemampuan
daya dengar dan bicara anak.
TDD dapat dilakukan setiap 3 bulan pada bayi usia < 12 bulan dan setiap 6
bulan pada anak oleh tenaga kesehatan, guru TK/PAUD terlatih. Peralatan yang
diperlukan adalah instrumen untuk TDD sesuai usia anak, gambar binatang
(ayam, anjing, kucing), manusia dan mainan(boneka, kubus, sendok, cangkir
dan bola). Tes Daya Dengar ini berupa pertanyaan-pertanyaan yang disesuaikan
dengan kelompok usia anak. Jawaban ‘ya’ jika menurut orang tua/pengasuh,
anak dapat melakukan perintah dan jawaban ‘tidak’ jika anak tidak dapat atau
tidak mau melakukan perintah. Jika anak dibawah 12 bulan, pertanyaan
ditujukan untuk kemampuan 1 bulan terakhir. Setiap pertanyaan perlu dijawab
‘ya.’ Apabila ada satu atau lebih jawaban ‘tidak’, berarti pendengaran anak tidak
normal, sehingga perlu pemeriksaan lebih lanjut.

4) Denver Developmenttal Scining Test (DDST).


DDST merupakan salah satu metode skrining terhadap kelainan
perkembangan anak usia1 bulan sampai 6 tahun. Pelaksanaan DDST tergolog
cepat dan mudah serta mempunyai validitas yang tinggi. DDST bukan untuk
mendiagnosa atau untuk test kecerdasan (IQ). Perkembangan yang dinilai
meliputi perkembangan personal sosial, motorik halus bahasa dan motorik
kasar. Untuk melaksanakan DDST diperlukan ruangan yang bersih dan tenang.
Adapun peralatan yang diperlukan adalah:
1) Meja tulis dengan kursinya, dan matras
2) Perlengkapan test :
o Gulungan benang wool-merah (diameter 10 cm)
o Kismis
o Kerincingan dengan gagang yang kecil
o 10 buah kubus berwarna, 2,5 x 2,5 cm
o Botol kaca kecil dengan diameter lubang 1,5 cm
o Bel kecil

Page
40
o Bola tenis
o Pensil merah
o Boneka kecil dengan botol susu
o Cangkir plastik dengan gagang/ pegangan
o Kertas kosong
4) Langkah Pelaksanaan
a. Sapa ortu/ pengasuh
b. Jelaskan tujuan
c. Jalin komunikasi yang baik dengan anak
d. Hitung umur anak dan buat garis umur
- Catat nama anak, tanggal lahir, tanggal pemeriksaan
- Umur anak dihitung dengan cara: tanggal pemeriksaan saat ini
tanggal lahir, dengan ketentuan :
1 tahun : 12 bulan
1 bulan : 30 hari
1 minggu : 7 hari
(> 15 hari dibulatkan 1 bln,
Contoh:
a. Anak A lahir pada tanggal 12 Mei 2014. Tanggal pemeriksaan 9 April
2015. Maka usia saat pemeriksaan adalah:
Tanggal periksa : 2015
Tangal lahir : 2014
Umur anak A adalah = 0 thn
b. Bila anak lahir prematur, koreksi faktor prematuritas
Misal : anak B tanggal lahir 2 Januari 2014. Anak lahir prematur 3
minggu.
Tanggal pemeriksaan 25 Februari 2015 maka usia anak saat ini adalah :
Tanggal periksa : 2015
Tanggal lahir : 2014
Umur anak B : 1 thn
berusia dibawah 2 tahun, maka perlu dikoreksi sbb:
≤ 15 hr dihilangkan)
bila dikurangi 27 hari dan dibulatkan menjadi 11bulan bila umur < 2
tahun 23 hari. Karena anak lahir prematur

Page
41
5. Deteksi Dini Penyimpangan Mental Emosional
Deteksi Dini Penyimpangan Mental Emosional adalah
kegiatan/pemeriksaan untuk menemukan secara dini adanya masalah mental
emosional, autism, dan gangguan
pemusatan perhatian, serta hiperaktivitas pada anak agar segera dapat
dilakukan intervensi. Bila penyimpangan mental emosional terlambat
diketahui, intervensi akan lebih sulit dan berpengaruh pada tumbuh kembang.
(1) Deteksi Dini Masalah Mental Emosional pada Anak Prasekolah
• Tujuan pemeriksaan adalah untuk mendeteksi secara dini adanya
penyimpangan/ masalah mental emosional pada anak prasekolah.
• Jadwal deteksi masalah mental emosional sebaiknya rutin setiap enam
bulan pada anak anak umur 36 bulan sampai dengan 72 bulan.
• Instrumen yang digunakan adalah KMME (Kuesioner Masalah Mental
Emosional). Kuesioner berisi 12 pertanyaan untuk mengenal masalah
menta emosional anak usia 36 – 72 bulan. (Kuesioner bisa dilihat pada
lampiran)
• Cara melakukan:
a) Tanyakan setiap pertanyaan dengan lambat, jelas dan nyaring, satu
persatu perilaku yang tertulis pada KMME, kepada orang tua/pengasuh.
b) Catat jawaban “Ya”, kemudian hitung jumlah jawaban “Ya”
• Interprestasi
Jika ada jawaban “Ya”, maka kemungkinan anak mengalami masalah
mental emosional
• Intervensi
a) Apabila jawaban “Ya” hanya 1 (satu)
- Lakukan konseling kepada orang tua menggunakan buku Pedoman Pola
Asuh yang mendukung perkembangan anak
- Lakukan evaluasi perkembangan anak.usia setelah 3 bulan, apabila tidak
ada perubahan rujuk ke rumah sakit yang memiliki fasilitas kesehatan
jiwa/tumbuh anak
b) Apabila jawaban “Ya” ditemukan 2 (dua) atau lebih

Page
42
Rujuk ke Rumah Sakit yang memiliki fasilitas kesehatan jiwa/tumbuh
kembang anak. Rujukan harus disertai informasi mengenai jumlah dan
masalah mental emosional yang ditemukan.

2. Deteksi Dini Autis pada Anak Prasekolah


Bertujuan untuk mendeteksi secara dini adanya autis pada anak usia 18
– 36 bulan. Deteksi dilakukan jika ada indikasi atau keluhan dari orang
tua/pengasuh atau ada kecurigaan dari tenaga kesehatan, kader, atau guru
sekolah. Keluhan dapat berupa keterlambatan berbicara, gangguan
komunikasi/interaksi sosial, atau perilaku yang berulang-ulang.
1) Alat atau instrument yang digunakan untuk mendeteksinya adalah
CHAT
(Checklist for Autism in Toddlers) yang berisi 2 jenis pertanyaan yaitu:
- Ada 9 pertanyaan yang harus dijawab oleh ortu / pengasuh secara
berurutan dan tidak ragu- ragu atau takut menjawab
- Ada 5 pertanyaan berupa pengamatan/perintah bagi anak yang harus
dilakukan secara berurutan seperti yang tertulis pada CHAT
2) Cara pelaksanaan
a) Ajukan pertanyaandengan lambat, jelas dan nyaring, satu persatu
perilaku yang tertulis pada CHAT kepada orangtua atau pengasuhanak.
b) Lakukan pengamatan kemampuan anak sesuai dengan tugas pada
CHAT.
c) Catat jawaban orang tua/ pengasuh anak dan kesimpulan hasil
pengamatan kemampuan anak.

Gambar2.7 Cara memeriksa Autis


3) Interpretasi
a) Anak mempunyai risiko tinggi Autism jika menjawab “Tidak” pada
pertanyaan A5 dan A7 serta tidak melaksanakan perintah B2, B3 dan B4.

Page
43
b) Anak mempunyai risiko rendah menderita autis jika menjawab
“Tidak” pada pertanyaan A7serta tidak melaksanakan perintah B4.
c) Anak kemungkinan mengalami gangguan perkembangan lain jika
jawaban “Tidak” jumlahnya 3 atau lebih untuk pertanyan ke
1,4,6,8,9(A1,A4, A6, A8, A9) dan perintah B1 dan B5.
d) Anak dalam batas normal bila tidak termasuk kategori diatas.

2.3 Konsep Dasar Pendidikan kesehatan


A. Pengertian Pendidikan Kesehatan
Pendidikan kesehatan adalah proses membuat orang mampu meningkatkan kontrol
dam memperbaiki kesehatan individu. Kesempatan yang direncanakan untuk individu,
kelompok atau masyarakat agar belajar tentang kesehatan dan melakukan perubahan-
perubahan secara suka rela dalam tingkah laku individu (Entjang, 1991)
Pengertian pendidikan kesehatan merupakan sejumlah pengalaman yang
berpengaruh menguntungkan secara kebiasaan, sikap dan pengetahuan ada
hubungannya dengan kesehatan perseorangan, masyarakat, dan bangsa. Kesemuanya
ini, dipersiapkan dalam rangka mempermudah diterimanya secara suka rela perilaku
yang akan meninhkatkan dna memelihara kesehatan.Menurut Wood dikutip dari
Effendi (1997)
Unsur program ksehatan dan kedoktern yang didalamnya terkandung rencana untuk
merubah perilaku perseorangan dan masyarakat dengan tujuan untuk membantu
tercapainya program pengobatan, rehabilitasi, pencegahan penyakit dan peningkatan
kesehatan. Menurut Stewart dikutip dari Effendi (1997)

Pendidikan kesehatan adalah proses untuk meningkatkan kemampuan masyarakat


dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan. Sedang dalam keperawatan,
pendidikan kesehatan merupakan satu bentuk intervensi keperawatan yang mandiri
untuk membantu klien baik individu, kelompok, maupun masyarakat dalam mengatasi
masalah kesehatannya melalui kegiatan pembelajaran, yang didalamnya perawat
berperan sebagai perawat pendidik. Menurut (Notoatmodjo. S, 2003: 20)

B. Tujuan Pendidikan Kesehatan


Tujuan utama pendidikan kesehatan adalah agar orang mampu menerapkan
masalah dan kebutuhan mereka sendiri, mampu memahami apa yg dapat mereka

Page
44
lakukan terhadap masalahnya, dengan sumber daya yg ada pada mereka ditambah
dengan dukungan dari luar, dan mampu memutuskan kegiatan yg tepat guna untuk
meningkatkan taraf hidup sehat dan kesejahteraan masyarakat (Mubarak, 2009).

Menurut Undang-undang Kesehatan No. 23 Tahun 1992 dan WHO, tujuan


pendidikan kesehatan adalah meningkatkan kemampuan masyarakat untuk
memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan; baik secara fisik, mental dan
sosialnya, sehingga produktif secara ekonomi maupun social, pendidikan kesehatan
disemua program kesehatan; baik pemberantasan penyakit menular, sanitasi
lingkungan, gizi masyarakat, pelayanan kesehatan, maupun program kesehatan
lainnya (Mubarak, 2009).

Menurut Benyamin Bloom (1908) tujuan pendidikan adalah mengembangkan


atau meningkatkan 3 domain perilaku yaitu kognitif (cognitive domain), afektif
(affective domain), dan psikomotor (psychomotor domain). (Notoatmodjo, 2003: 127)

Menurut Notoatmodjo (2007: 139) dalam perkembangannya, teori Bloom ini


dimodifikasi untuk pengukuran hasil pendidikan kesehatan, yakni:

1. Pengetahuan (knowledge)
Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam
membentuk tindakan seseorang (overt behaviour). Pengetahuan yang tercakup
dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan:

1) Tahu (know)

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari


sebelumnya.

2) Memahami (comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara


benar tentang obyek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi
tersebut secara benar.

3) Aplikasi (aplication)

Page
45
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah
dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya).

4) Analisis (analysis)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu obyek
ke dalam komponen – komponen, tetapi masih didalam struktur organisasi dan
masih ada kaitannya satu sama lain.

5) Sintesis (synthesis)

Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau


menghubungkan bagian – bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.

6) Evaluasi (evaluation)

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau


penilaian terhadap suatu materi atau obyek.

2. Sikap (attitude)
Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap
suatu stimulus atau obyek.

Sikap terdiri dari berbagai tingkatan yaitu:

1) Menerima (receiving)

Menerima diartikan bahwa orang (subyek) mau dan memperhatikan stimulus


yang diberikan (obyek).

2) Merespon (responding)

Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan, dan menyelesaikan tugas


yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap.

3) Menghargai (valuing)

Page
46
Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah
adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga.

4) Bertanggung jawab (responsible)

Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala
resiko merupakan sikap yang paling tinggi.

3. Praktik atau tindakan (practice)


Praktik ini mempunyai beberapa tingkatan:
1) Persepsi (perception)

Mengenal dan memilih berbagai obyek sehubungan dengan tindakan yang


akan diambil adalah merupakan praktik tingkat pertama.

2) Respon terpimpin (guided response)

Dapat dilakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar dan sesuai dengan
contoh adalah merupakan indikator praktik tingkat dua.

3) Mekanisme (mecanism)

Apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar secara


otomatis, atau sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan, maka ia sudah
mencapai praktik tingkat tiga.

4) Adopsi (adoption)

Adopsi adalah suatu praktik atau tindakan yang sudah berkembang dengan
baik. Artinya tindakan itu sudah dimodifikasikannya tanpa mengurangi
kebenaran tindakan tersebut.

C. Prosedur
A. Fase Pra Interaksi
1. Verifikasi data
2. Mempersiapkan alat dan bahan atau media
B. Fase Orientasi

Page
47
1. Mengucapkan salam
2. Memperkenalkan diri
3. Menjelaskan tujuan
4. Menjelaskan prosedur atau langkah langkah Penkes
5. Menanyakan kesiapan klien atau kontrak waktu
6. Appresepsi
C. Fase kerja
1. Mengatu posisi yang nyaman untuk klien
2. Menjelaskan pengertian penyakit (sesuai topik penkes)
3. Menjelaskan penyebab atau etiologi (sesuai topik penkes)
4. Menjelaskan tanda dan gejala penyakit (sesuai topik penkes)
5. Menjelaskan pencegahan penyakit (sesuai topik penkes)
6. Menjelaskan penatalaksanaan atau perawatan penyakit (sesuai topik penkes)
7. Menjelaskan atau melakukan demonstrasi atau simulasi (prosedur atau
tindakan kalau ada .... mengukur TD/Suhu, membuat LGG, justimun dan lain
lian sesuai topik Penkes)
D. Fase terminasi
1. Evalusai (dapat dilakukan sebelum dan sesudah penkes)
2. Menyampaikan rencana tindak lanjut (Sebagai Follow Up)
3. Pmanitan (appresiasi/ucapan terima kasih dan permintaan maaf ada
kekurangan)

D. Pentingnya Pendidikan Kesehatan


Banyak dari kita yang sudah diajarkan pentingnya kesehatan sejak menginjak
pendidikan sekolah dasar hingga bangku sekolah menengah atas. Sehingga ketika kita
dewasa, kita bisa mengetahui mana yang berguna bagi kesehatan dan mana yang bisa
menurunkan kesehatan.Jika kita maknai lebih lanjut, sebenarnya ada beberapa alasan
mengapa pendidikan kesehatan itu Penting dan perlu diberikan. Antara lain:

1. Tercapainya perubahan perilaku individu, keluarga dan masyarakat, dalam


membina dan memelihara perilaku sehat dan lingkungan sehat, serta peran aktif
dalam upaya mewujudkan derajat kesehatan yg optimal.

Page
48
2. Terbentuknya perilaku sehat pada individu, keluarga dan masyarakat yg sesuai
dengan konsep hidup sehat baik fisik, mental dan social sehingga dapat
menurunkan angka kesakitan dan kematian.
3. Agar orang mampu menerapkan masalah dan kebutuhan mereka sendiri, mampu
memahami apa yg dapat mereka lakukan terhadap masalahnya, dengan sumber
daya yg ada pada mereka ditambah dengan dukungan dari luar, dan mampu
memutuskan kegiatan yg tepat guna untuk meningkatkan taraf hidup sehat dan
kesejahteraan masyarakat

2.4 Konsep Dasar Stimulus Pada Neonatus, Bayi, Balita Dan Anak Pra Sekolah

A. Pengertian Stimulasi
Yang dimaksud stimulasi adalah perangsangan yang dating dari lingkungan
luar anak antara ain berupa latihan dan bermain. Stimulasi merupakan cikal bakal
proses pembelajaran dan sangat penting dalam tumbuh kembang anak.
Anak yang banyak mendapat stimulasi yang terarah akan cepat berkembang
dibangdingkan dengan anak yang kurang atau bahkan tidak mendapat stimulasi.
Stimulasi juga dapat berfungsi sebagai penguat yang bermanfaat bagi perkembangaan
anak.Stimulasi harus dilaksanakan dengan penuh perhatiaan dan kasih
sayang.(Narendra, 2008)
Stimulasi ini dapat merangsang hubungan antar sel otak (sinaps), milyaran sel
otak dibentuk sejak kehamilan berusia 6 bulan. Pada saat itu belum ada hubungan
antar sel otak, bila ada rangsangaan maka akan terbentuk hubungan. Jika rangsanan
sering diberikan, maka hubungan akan semakin kuat. Jika variasi rangsangan banyak
maka akan terbentuk hubungan yang semakin kompleks atau luas, dengan demikian
dapat merangsang otak kiri dan kanan sehingga dapat terbentuklah multiple intelegent
dan juga kecerdasan yang lebih luas dan tinggi.(Vivian, 2010)

B. Tujuan Stimulasi
1. Membantu perkembangan sensorik dan motorik
Stimulasi dapat dikembangkan dengan melakukan rangsangan pada sensorik
dan motorik, melalui rangsangan ini aktifitas anak dapat mengeksplorasi alam
disekitarnya.Sebagai contoh, bayi dapat dilakukan dengan rangsangan taktil, audio
dan visual. Hal tersebut dapat dicontohkan, apabila sejak lahir anak yang telah

Page
49
dikenalkan atau dirangsang visualnya, maka dikemudian hari kemampuan visual
anak akan lebih menonjol, misalnya lebih cepat mengenal sesuatu yang baru
dilihatnya, demikian juga dengan pendengaran.
Pada perkembangan motorik apabila sejak bayi kemampuan motoric sudah
dilakukan rangsangan maka kemampuan motoric akan cepat berkembang
disbanding dengan tanpa stimulasi. Seperti rangsangan kemempuan menggenggam
dan kemampuan ini akan memberikan dasar dalam perkembangan motoric
selanjutnnya. Rangsangan atau stimulasi yang dimaksud dapat diberikan melalui
suatu permainan.
2. Membantu perkembangan kognitif
Anak akan mencoba melakkan komunikasi dengan bahasa anak, mampu
memahami objek permainan, seperti dunia tempat tinggal, mampu membedakan
khayalan dan kenyataan, mampu belajar warna, memahami bentuk, ukuran, dan
berbagai manfaat benda.
3. Meningkatkan kemampuan sosialisasi anak
Proses sosialisasi dapat terjadi melalui permainan, misalkan pada saat anak akan
merasakan kesenangan terhadap kehadiran orang lain dan merasakan adanya teman
yang dunianya sama.
4. Meningkatkan kreatifitas
Anak mulai belajar menciptakan sesuatu dari permainan yang ada dan mampu
memodifikasi objek yang digunakan dalam permainan, sehingga anak akan lebih
kreatif, seperti mainan bongkar pasang mobil-mobilan.
5. Meningkatkan kesadaran diri
Stimulasi dapat memberikan kemampuan untuk mengeksplorasi tubuh da
merasakan dirinya sadar dengan orang lain yang merupakan bagian dari individu
yang saling berhubungan, anak mau belajar mengatur perilaku, serta
membandingkan dengan perilaku orang lain.
6. Mempunyai nilai terapeutik
Dengan stimulasi melalui bermain menjadikan anak lebih senang dan nyaman
sehingga adanya stress dan ketegangan dapat dihindari, menginggat bermain dapat
menghibur diri anak terhadap dunianya.
7. Mempunyai nilai moral pada anak
Dengan stimulasi bermain dapat memberikan nilai moral tersendiri, hal ini dapat
dijumpai ketika anak sudah mampu belajar benar atau salah dari budaya dirumah,

Page
50
disekolah, dan ketika berinteraksi dengan temannya.Disamping itu ada beberapa
permainan yang memiliki aturan – aturan yang harus dilakukan dan tidak boleh
dilanggar.(Alimul H, 2009)

C. Cara Stimulus Pertumbuhan Dan Perkembangan Sesuai Tahapan Tumbang


 Jenis – jenis Stimulasi Permainan
1. Jenis Stimulasi Permainan Berdasarkan Sifat
a. Bermain afektif social
Sifat dari permainan ini adalah orang lain yang berperan aktif dan anak hanya
merespon terhadap stimulasi. Missal dengan cara orang tua memeluk
anaknya sambil berbicara, bersenandung, kemudian anak memeberi respon
tersenyum, tertawa, gembira, dll.
b. Bermain bersenang – senang
Sifat dari permainan ini adalah bergantung pada stimulsi yang diberikan pada
anak tanpa adanya kehadiran orang lain, misanya bermain boneka, binatang –
binatangan, dll.
c. Bermain ketrampilan
Bermain ketrampilan dilakukan dengan menggunakan objek yang dapat
meatih kemampuan ketrampilan anak yang diharapkan mamapu untuk
berkreasi dan trampil dalam segala hal.Permainan ini bersifat aktif, dimana
anak selalu ingin mencoba kemampuan dalam ketrampilan tertentu, misalnya
bermain bongkar pasang gambar, latihan memakai baju dll.
d. Bermain drama
Model permainan ini dapat dilakukan anak dengan mencoba berpura – pura
dalam berperilaku, misalnya anak berpura – pura menjadi oran dewasa,
seorang ibu atau guru dalam kehidupan sehari – hari. Sifat dari permainan ini
adalah anak dituntut aktif dalam memerankan sesuatu.Bermain drama ini
dapat dilakukat apabila anak sudah mampu berkomunikasi dan mengenal
kehidupan sosial.
e. Bermainmenyelidiki
Model permainan ini dilakukan dengan memberikan sentuhan untuk berperan
dalam menyelidiki sesuatu atau memeriksa alat permainan, misalnya
mengocok atau mengetahui isi suatu benda.Permainan ini bersifat aktif pada
anak dan dapat digunakan untuk mengembangkan kemampuan kecerdasan

Page
51
pada anak. Sifat permainan tersebut adalah harus sealu diberikan stimulasi
dari orang lain agar senantiasa dapat menambah kemampuan kecerdasan
anak.

f. Bermain konstruksi
Model permainan ini bertujuan untuk menyusun suatu objek permainan agar
menjadi sebuah konstruksi yang benar, misalnya bermain menyusun balok.
g. Bermain onlooker
Model bermain ini adalah dengan melihat apa yang dilakukan olah anak lain
yang sedang bermain, tetapi tidak ikut bermain. Permainan ini bersifat pasif,
namun anak akan mempunyai kesenangan atau kepuasan sendiri dengan
melihatnya.
h. Bermain soliter / Mandiri
Model bermain ini merupakan bermain yang dilakukan sendiri dan hanya
terpusat pada permainan tanpa memeperdulikan orang lain. Permainan ini
bersifat aktif dan bentuk stimulasi tambahan kurang, namun dapat membantu
untuk menciptakan kemandirian pada anak.
i. Bermain Paralel
Model bermain ini adalah bermain sendiri ditengah – tengah anak lain yang
sedang melakukan permainan yang berbeda atau tidak ikut bergabung dalam
permainan. Permainan ini bersifat aktif secara mandiri, tetapi masih dalam satu
kelompok, dengan harapan kemampuan anak dalam menyelasaikan tugas
mandiri dalam kelompok tersebut terlatih dengan baik.
j. Bermain Asosiatif
Merupakan bermain bersama dengan tidak terikat pada aturan yang ada, semua
bermain dengan tidak memperdulikan teman yang lain dalam sebuah aturan
main.
k. Bermain Kooperatif
Bermain kooperatif merupakan bermain bersama – sama dengan adanya aturan
yang jelas, sehingga terbentuk perasaan kebersamaan dan terbentuk hubungan
antara pemimpin dan pengikut.
2. Jenis Stimulasi Permainan Berdasarkan Kelompok Usia
Penggunaan alat permainan pada anak tidak selalu sama dalam setiap usia
tumbuh kembang, hal ini karena setiap tahap usia tumbuh kembang anak selalu

Page
52
mempunyai tugas – tugas perkembangna yang berbeda sehingga dalam
penggunaan alat selalu memperhatikan tugas masing – masing usia tumbuh
kembang.

1. Main senyum, cium, dan suara (0-3 bulan)


Pada periode yang sangat awal ini, rangsang penglihat, peraba,
pencium,dan pendengar penting untuk perkembangan otak atau kognisi bayi.
Stimulasi seperti mendaratkan ciuman ke kening, pipi, mata, atau bagian tubuh
yang lain, mengelus-elus, memberikan senyuman terindah, mengajak bicara,
dan mendengarkan musik, membantu si buah hati belajar sense of sensations,
sensasi. Hasilnya, bayi mampu memberikan senyum balasan di umur 6 atau 8
minggu. Otak bayi diajak belajar menginterpretasikan berbagai hal seperti
ekspresi wajah atau suara dan membantu mengembangkan ukuran otaknya dua
kali lipat. Bayi akan mengurangi perhatian pada rangsang yang berulang dan
akan menambah perhatiannya saat rangsang itu berubah.

2. Main gerak dan tebak (Usia 3-6 bulan).


Di usia 4 bulan, bayi mulaimengenal dan menjalani rutinitas seperti bangun,
tidur, atau makan. Anda dapat mengenalkan rutinitas lain yang membantu
perkembangan otaknya seperti mengikuti aktivitas bermain sambil gym atau
aktivitas motorik. Kegiatan ini membantu bayi belajar sebab-akibat, misalnya ia
dapat menggapai mainan yang terjuntai di atasnya bila ia duduk dan merentangkan
tangannya ke atas. Selain itu, bermain belajar mengenal anggota tubuh dari cermin
juga seru. Anda menunjuk lalu mengucapkan bagian tubuh apa secara jelas dan
perlahan. Misalnya “Ini apa? (sambil menyentuh matanya) Ini mata.” Meski ia

Page
53
masih dalam tahap bergumam atau bubble, perlahan ia belajar mengucap satu
akhiran kata, misalnya “ta” dari “ma-ta”. Bayi pun bisa memperlajari anggota
tubuh dan belajar bicara.

3. Main “Petak Umpet”(Usia 6-9 bulan)


Pencapaian kekonstanan atau objek permanen sebuah benda bisa diraih pada
periode usia ini. Maksud dari konstan yaitu pemahaman bahwa benda sebenarnya
tetap ada walaupun tidak terlihat. Umumnya, bayi akan berusaha terus mencari,
menemukan benda yang disembunyikan. Berhubung dia sedang belajar merangkak,
tentu bayi akan mencari dengan cara merangkak. Biarkan ia merangkak sesukanya.
Aktivitas ini dapat menstimulasi koordinasi otak kiri dan kanannya. Bermain
Cilukba, menutup benda dengan sapu tangan, atau sembunyi dibawah selimut bisa
menjadi permainan sederhana yang menstimulasi otak bayi untuk pemahaman
objek permanen.

4. Bermain kreatif
Dalam periode usia ini terjadi peningkatan mobilitas dan pengenalan
lingkungan sekitar. Ia semakin aktif dan cenderung mencoba memberikan stimulus
pada orang lain. Misalnya ia mulai menarik perhatian Anda dengan menarik- narik

Page
54
pakaian Anda, menggapai dan mengambil barang-barang di sekitarnya, atau
meniru suara Anda. Ia paham situasi yang ia rasakan. Kalau ia merasa sedang tidak
mendapat perhatian Anda, langsung ia mencari perhatian! Idenya sangat fantastis.
Memanfaatkan situasi ini, Anda bisa mengajaknya bermain yang menstimulasi
kreativitasnya serta mengenalkan perintah-perintah sederhana. Misalnya meminta
dia menyusun balok kemudian meruntuhkannya, menaruh barang di tempatnya,
atau bermain tepuk-tepuk tangan sambil bernyanyi.

C. Teman sebaya
Mengajak anak bertemu dan bermain dengan teman sebaya merupakan salah
satu cara untuk menstimulasi kecerdasan anak dalam bersosialisasi. Melatih anak
bersosialisai sebenarnya dapat dilakukan di rumah. Misalnya anak diajak
berkenalan dengan anak sebaya di sekitar rumah, atau diajak ke playground agar
bayi bisa melihat anak-anak seusianya. Memasukkan anak ke sekolah bayi bisa
menjadi pilihan bila anak tinggal di rumah dengan lingkungan sekitar tidak ada
playground atau teman sebaya, sehingga ia harus di rumah saja. Pada usia dini 0-6
tahun, otak berkembang sangat cepat hingga 80 persen. Pada usia tersebut otak
menerima dan menyerap berbagai macam informasi, tidak melihat baik dan buruk.
Itulah masa-masa yang dimana perkembangan fisik, mental maupun spiritual anak
akan mulai terbentuk. Karena itu, banyak yang menyebut masa tersebut sebagai
masa-masa emas anak (golden age). Oleh karena itu, kita sebagai orang tua
hendaknya memanfaatkan masa emas anak untuk memberikan pendidikan karakter
yang baik bagi anak. Pada usia dini inilah, karakter anak akan terbentuk dari hasil
belajar dan menyerap dari perilaku kita sebagai orang tua dan dari lingkungan
sekitarnya. Pada usia ini perkembang mental berlangsung sangat cepat. Pada usia
itu pula anak menjadi sangat sensitif dan peka mempelajari dan berlatih sesuatu
yang dilihatnya, dirasakannya dan didengarkannya dari lingkungannya. Oleh
karena itu, lingkungan yang positif akan membentuk karakter yang positif dan

Page
55
sukses. Seperti mengajak anak – bermain dengan teman sebayanya dengn tetap
mendapat pengawaaaasan dari orang tua, memberikan tontonan yang sesuai dengan
usia anak, sewajanya anak – anak menonton film untuk anak – anak,
mendengarkan lagu – lagu anak – anak. Biasakan anak bersosialisasi dan
berinteraksi dengan lingkungan sekitar. lingkungan baik dan sehat akan
menumbuhkan karakter sehat dan baik, begitu pula sebaliknya. Sewajarnya lah
anak – anak bergaul dengan teman- teman seusianya, sehingga karakter anak akan
terbentuk sesuai dengan usianya, dan kemampuannya bersosialisasi atau
berinteraksi dengan orang disekelilingnya menjadi sealami mungkin. Sehingga
tidak terjadi hal – hal seperti anak yang minder/penakut saat bertemu orang selain
dari keluarganya dikerenakan jarang keluar dan bermain dengan anak – anak lain
seusianya. Dan tidak ada anak – anak yang karakter emosionalnya lebih dewasa
dari usianya dan kehilangan masa-masa bermain yang menyenangkan dengan
teman – temannya.

a. Usia 0 – 1 Tahun
Pada usia ini perkembangan anak mulai dapat dilatih dengan adanya reflex :
melatih kerjasama antara mata dan tangan atau mata dengan telinga dalam
berkoordinasi, mencari objek yang ada tetapi tidak kelihatan, serta melatih
sal suara, kepekaan perabaan, dan ketrampilan dengan gerakan yang
berulang.
Jenis permainan yang dianjurkan pada usia ini antara lain benda
(permainan) yan aman sehingga dapat dimasukkan kemulut, misaknya
gambar bentuk muka, boneka orang dan binatang, alat permainan yang
dapat digoyang, alat permainan yang berupa selimut, boneka, dll.
b. Usia 1 – 2 Tahun
Jenis permainan pada usia ini pada dasarnya bertujuan untuk melatih anak
untuk melakukan gerakan mendorong atau menarik, melatih melakukan
imajinasi, melatih anak melakukan kegiatan sehari – hari, serta
memperkenalkan beberapa bunyi dan mampu membedakanya. Jenis
permainan ini menggunakan semua alat permainan yang dapat didorong dan
ditarik, misalnya alat rumah tangga, balok – balok, buku gambar, kertas,
pensil warna, dll.
c. Usia 2 – 3 Tahun

Page
56
Pada usia ini anak dianjurkan untuk bermain dengan tujuan menyalurkan
perasaan atau emosi anak, mengembangkan ketrampilan berbahasa, melatih
motoric kasar dan halus, mengembangkan kecerdasan, melatih daya
imajinasi, serta melatih kemampuan membedakan, permukaan dan warna
benda.
Adapun alat permainan pada usia ini yang dapat digunakan antara lain
peralatan menggambar, puzzle sederhana, manik –manik ukuran besar, serta
berbagia benda yang mempunyai permukaan dan warna yang berbeda –
beda.
d. Usia 3 – 6 Tahun
Pada usia ini anak sudah mulai mampu mengembangkan kreatifitas dan
sosialisasinya, sehingga diperlukan permainan yang dapat mengembangan
kemampuan menyamakan dan membedakan, kemampuan berbahasa,
mengembangkan kecerdasan, menumbuhkan sportivitas, mengembangkan
koordinasi motoric, mengembangkan dalam mengontrol emosi, motoric
kasar dan halus, memperkenalkan pengertian yang bersifat ilmu
pengetahuan, serta memperkenalkan suasana kompetisi dan gotong
royong.(Alimul H, 2009)

 Yang Perlu Dilakukan Dalam Stimulasi Pertumbuhan Dan Perkembangan


Stimulasi dapat menunjang perkembangan mental psikososial ( agama, etika,
moral, kepribadian, kecerdasan, kreatifitas, ketrampilan, dsb. ). Stimulasi dapat
terjadi dilingkungan pendidikan formal, informal dan non formal.
Yang perlu dilakukan adalah :
a. Memberikan rangsangan pada otak kiri dapat mengasah kemampuan yang
bersifat konvergen ( menyempit dan menajam ) seperti berikut
1) Berbicara
2) Tata bahasa
3) Baca – tulis – hitung
4) Daya ingat
5) Bersifat logis, analisis dan rasional
6) Kecerdasan pendidikan formal.
b. Memberikan rangsangan pada otak kanan dapat mengasah kemampuan yang
bersifat divergen ( melebar dan meluas ) seperti berikut ini

Page
57
1) Berperasaan, gaya bicara
2) Sifat waspada, daya konsentrasi
3) Pengenaan diri dan lingkungan
4) Senang music
5) Sosialisasi
6) Sifat berkhayal, kesenian dan agama
7) Kreatif dan produktif.
c. Kecerdasan multiple ( majemuk ) : kerjasama otak kanan dan otak kiri
1) Verbal linguistic : merangkai kalimat dan bercerita
2) Logika – matematika : pemecahan masalah
3) Visual spasial : berfikir 3 dimensi dan stereometris
4) Jasmani – kinestetik : gerak, tari, dan olahraga
5) Music : bunyi, nada, irama, lagu, dan music
6) Intrapersonal :memahami dan mengontrol diri sendiri
7) Interpersonal : memahami dan menyesuaikan dengan orang lain
8) Naturalis : menikmati dan memanfaatkan lingkungan
Spiritualis : moral, rohani dan ketuhanan.(Vivian, 2010)

 Periode dan Tahap Perkembangan Anak Menurut Umur dan Aspek


Kemampuan
Perkembangan kemampuan dasar anak-anak berkorelasi dengan
pertumbuhan.Perkembangan kemampuan dasar mempunyain pola yang tetap dan
berlangsung secara berurutan. Oleh karenanya stimulasi yang diberikan kepada anak
balita dalam rangka merangsang pertumbuhan dan perkembangan anak dapat
dilakukan sesuai dengan pembagian kelompok umur anak berikut ini:
No. Periode Tumbuh Kembang Kelompok Umur
Masa prenatal, janin dalam
1. Masa Prenatal
kandungan
2. Masa bayi Umur 0-12 bulan
Umur 12-60 bulan (2-
3. Masa anak balita
5 tahun)
Umur 60-72 bulan (5-
4. Masa pra sekolah
6 tahun)

Page
58
1. Kemampuan Bayi (0 –12 bulan)
Pada masa bayi baru lahir (0 sampai 28 hari), terjadi adaptasi terhadap
lingkungan dan terjadi perubahan sirkulasi darah serta mulainya berfungsi
organ-organ. Setelah 29 hari sampai dengan 11 bulan, terjadi proses
pertumbuhan yang pesat dan proses pematangan yang berlangsung secara terus
menerus terutama meningkatnya fungsi sistem syaraf.
Kemampuan yang dimiliki bayi meliputi;
a. Kemampuan Motorik
Kemampuan motorik merupakan sekumpulan kemampuan untuk
menggunakan dan mengontrol gerakan tubuh, baik gerakan kasar maupun
gerakan halus.Motorik kasar merupakan keterampilan menggerakkan
bagian tubuh secara harmonis dan sangat berperan untuk mencapai
keseimbangan yang menunjang motorik halus.Motorik halus merupakan
keterampilan yang menyatu antara otot halus dan panca indera.Kemampuan
motorik selalu memerlukan koordinasi bagian-bagian tubuh, sehingga
latihan untuk aspek motorik ini perlu perhatian.
Kemampuan motorik pada bayi berdasarkan usia yakni:
Usia Motorik kasar Motorik halus
melihat, meraih dan
menendang mainan
gantung,
memperhatikan
mengangkat kepala,
benda bergerak,
guling-guling,
0-3 bulan melihat benda-benda
menahan kepala tetap
kecil,
tegak,
memegang benda,
meraba dan
merasakan bentuk
permukaan,
menyangga berat, memegang benda
mengembangkan
dengan kuat,
3-6 bulan kontrol kepala. Memegang benda

Page
59
Duduk. dengan kedua tangan,
makan sendiri,
mengambil
benda-benda kecil.
Memasukkan benda
kedalam wadah,
Bermain 'genderang'
merangkak
Memegang alat tulis
menarik ke posisi
dan mencoret-coret
berdiri
6-9 bulan Bermain mainan
berjalan berpegangan
yang mengapung di air
berjalan dengan
Membuat bunyi-
bantuan.
bunyian.
Menyembunyikan
dan mencari mainan
bermain bola Menyusun
membungkuk balok/kotak
9-12 bulan
berjalan sendiri Menggambar
naik tangga. Bermain di dapur.

b. Kemampuan Bicara dan Bahasa


Masa bayi adalah masa dimana kontak erat antara ibu dan anak terjalin
sehingga dalam masa ini, pengaruh ibu dalam mendidik anak sangat besar.
Kemampuan bicara bayi masih dalam bentuk pra bicara, yang diekspresikan
dengan cara menangis, mengoceh, gerakan isyarat dan ekspresi wajah
seperti tersenyum. Bahkan pada masa ini lebih sering muncul senyum sosial
sebagai reaksi terhadap rangsangan dari luar .
Ekspresi emosi adalah bahasa pertama sebelum bayi berbicara, sebagai
cara untuk mengkomunikasikan dirinya pada orang tua atau orang lain.
Bayi akan bereaksi pada ekspresi wajah dan tekanan suara, sebaliknya
orangtua membaca ekspresi bayi dan merespon jika ekspresi bayi
menunjukkan tertekan atau gembira. Terkait dengan ekspresi emosi bayi,
yang mudah dikondisikan, maka ekspresi emosi bayi mudah dikondisikan.

Page
60
Jika orangtua lebih banyak menunjukkan suasana hati yang positif seperti
selalu gembira, santai dan menyenangkan, akan mempengaruhi pemahaman
bayi terhadap sesuatu dan cenderung menimbulkansuasana hati yang
menyenangkan. Sebaliknya jika orang dewasa mengkondisikan dengan
situasi yang tidak menyenangkan maka suasana emosi bayi cenderung
buruk. Kemampuan bicara pada bayi sebenarnya ada hubungannya dengan
perkembangan otak, terutama pada saat bayi menangkap kata-kata yang
diucapkan dan menyampaikan apa yang ada dalam pikirannya. Pada saat
bayi berjalan, berbicara, tersenyum dan mengerutkan dahi, sebenarnya
tengah berlangsung perubahan dalam otak. Meski keterkaitan sel-sel syaraf
(neuron) yang dimiliki bayi, masih sangat lemah, namun akan sangat
mempengaruhi pada perkembangan sel syaraf pada tahap selanjutnya. Bayi
mengerti dan memahami sesuatu yang berada disekelilingnya, tidak terbatas
dengan melihat serta memanipulasi namun sebenarnya bayi sudah memiliki
kemampuan untuk memberi perhatian, menciptakan simbolisasi, meniru
dan menangkap suatu konsep melalui gerakan sudah lebih
berkembang.Oleh karenanya untuk mengoptimalkan kemampuan otaknya
maka bayi perlu lebih banyak menstimulasi bayi untuk mengenal benda-
benda sekelilingnya sambil terus mengajak berbicara.
Kemampuan bicara dan berbahasa pada masa bayi sbb:
Usia Kemampuan Bicara dan Bahasa
prabicara,
0-3 bulan meniru suara-suara,
mengenali berbagai suara.
mencari sumber suara,
3-6 bulan
menirukan kata-kata..
menyebutkan nama gambar di buku majalah,
6-9 bulan
menunjuk dan menyebutkan nama gambar-gambar.
menirukan kata-kata
9-12 bulan berbicara dengan boneka
bersenandung dan bernyanyi.

Page
61
c. Kemampuan Sosialisasi dan Kemandirian
Kemampuan sosialisasi dan kemandirian dapat dirangsang dengan
sosialisasi pada masa bayi diawali di dalam keluarga, dimana dalam
keluarga terjadi hubungan timbal balik antara bayi dan pengasuh atau
orangtua. Melalui perhatian dan perilaku orangtua akan memberi kerangka
pada bayi dalam berinteraksi dan pengalaman yang terpenting bagi bayi
karena keluarga adalah melibatkan proses kasih sayang. Kemampuan bayi
untuk bersosialisasi mulai muncul, dasar-dasar sosial mulai dibentuk, yang
diperoleh dengan cara mencontoh perilaku pada situasi sosial tertentu,
misalnya mencontoh perilaku sosial dari kakak atau orang tuanya, yang
akhirnya akan mempengaruhi cara penyesuaian pribadi dan sosialnya
dikemudian hari. Kemampuan sosialisasi dan kemandirian pada masa bayi
sbb:
Usia Kemampuan Sosialisasi dan Kemandirian
memberi rasa aman dan kasih sayang,
mengajak bayi tersenyum,
mengajak bayi mengamati benda-benda dan
0-3 bulan keadaan di sekitarnya,
meniru ocehan dan mimik muka bayi,
mengayun bayi,
menina bobokan.
bermain "ciluk ba',
3-6 bulan melihat dirinya di kaca,
berusaha meraih mainan.
mulai bermain atau 'bersosialisasi' dengan
orang lain.
6-9 bulan
Mulai melambaikan tangan jika ditinggal pergi.
Mulai membalas lambaian tangan orang lain.
Minum sendiri dari sebuah cangkir,
9-12 bulan Makan bersama-sama
Menarik mainan yang letaknya agak jauh.

Page
62
2. Kemampuan Anak di Bawah Usia Lima Tahun (12 – 59 bulan)
Pada masa ini kecepatan pertumbuhan mulai menurun dan terdapat kemajuan
dalam perkembangan motorik (gerak kasar dan gerak halus) serta fungsi
eksresi/pembuangan. Periode penting dalam tumbuh kembang masa usia ini akan
mempengaruhi dan menentukan perkembangan anak selanjutnya. Pada usia 3
tahun pertama kehidupan, pertumbuhan dan perkembangan sel-sel otak masih
berlangsung; dan tejadi pertumbuhan serabut-serabut syaraf dan cabang-
cabangnya, sehingga terbentuk jaringan syaraf dan otak yang kompleks. Jumlah
dan pengaturan hubungan-hubungan antar sel syaraf ini akan sangat
mempengaruhi segala kinerja otak, mulai dari kemampuan belajar berjalan,
mengenal huruf hingga bersosialisasi.
a. Kemampuan Motorik
Masa ini disebut sebagai masa sangat aktif dari seluruh masa
kehidupannya, karena tingkat aktivitasnya dan perkembangan otot besar
mereka sedang tumbuh.Demikian halnya dengan kemampuan motorik
halus anak, sudah mulai meningkat dan menjadi lebih tepat pada saat
berusia 5 tahun.Koordinasi tangan, lengan dan tubuh dapat bergerak
bersama dibawah koordinasi yang lebih baik daripada mata.
Dengan demikian masa ini disebut juga sebagai masa belajar berbagai
kemampuan dan keterampilan, dengan berbekal rasa ingin tahu yang
cukup kuat dengan seringnya anak mencoba hal-hal baru dan seringnya
pengulangan menyebabkan masa ini menjadi masa yang tepat untuk
mempelajari keterampilan baru.
Kemampuan motorik yang dimiliki anak sbb;
Usia Gerak Kasar Gerak Halus
Berjalan tanpa pegangan Bermainan
sambil menarik mainan yang balok dan menyusun
bersuara, balok.
12-
Berjalan mundur, Memasukkan
15
Berjalan naik dan turun dan mengeluarkan
bulan
tangga, benda kedalam wadah.
Berjalan sambil berjinjit Memasukkan
Menangkap dan benda yang satu ke

Page
63
melempar bola benda lainnya.
Bermain di luar
15- Meniup ,
rumah.
18 Membuat
Bermain air
bulan untaian.
Menendang bola.
Mengenal
berbagai ukuran dan
bentuk,
Melompat,
Bermain puzzle,
18- Melatih
Menggambar
24 keseimbangan tubuh,
wajah atau bentuk,
bulan Mendorong
Membuat
mainan dengan kaki.
berbagai bentuk dari
adonan kue/lilin
mainan.
Membuat
gambar tempelan,
Memilih dan
Latihan mengelompokkan
24- menghadapi rintangan, benda-benda menurut
36 Melompat jauh, jenisnya,
bulan Melempar dan Mencocokan
menangkap bola besar. gambar dan benda,
Konsep jumlah,
Bermain/menyu
sun balok-balok.
Menangkap bola Memotong
kecil dan melemparkan dengan menggunakan
36- kembali. gunting,
48 Berjalan mengikuti Menempel
bulan garis lurus, guntingan gambar
Melompat dengan sesuai dengan cerita.
satu kaki, Menempel

Page
64
Melempar benda- gambar pada karton.
benda kecil ke atas, Belajar
Menirukan 'menjahit' dengan tali
binatang berjalan, rafia.
Berjalan jinjit Menggambar/m
secara bergantian. enulis garis lurus,
bulatan,segi empat,
huruf dan angka.
Menghitung
lebih dari 2 atau 3
angka.
Menggambar
dengan jari, memakai
cat,
Mengenal
campuran warna
dengan cat air,
Mengenal
bentuk dengan
menempel potongan
bentuk.
Mengenal
konsep "separuh atau
satu"
Menggambar
dan atau melengkapi
48- Lomba karung
gambar,
60 Main engklek
Menghitung
bulan Melompat tali.
benda-benda kecil dan
mencocokkan dengan
angka.
Menggunting
kertas (sudah dilipat)

Page
65
dengan gunting tumpul,
Membandingka
n besar/kecil,
banyak/sedikit,
berat/ringan.
Belajar
'percobaan ilmiah'
Berkebun.

b. Kemampuan Bicara dan Bahasa


Bertambahnya kematangan otak dikombinasikan dengan peluang-peluang
untuk menjelajahi dunia sekelilingnya dan sebagai penyumbang terbesar untuk
lahirnya kemampuan kognitif anak.Sejumlah kemampuan anak, seperti belajar
membaca adalah berkaitan dengan masukan dari mata anak yang ditransmisikan
ke otak anak, kemudian melalui sistem yang ada di otak, menterjemahkannya
kedalam kode huruf-huruf, kata-kata dan asosiasinya. Akhirnya akan
dikeluarkan dalam bentuk bicara. Bakat bicara anak karena sistem otak
diorganisasikan sedemikian rupa sehingga memungkinkan anak memproses
sebagai bahasa.
Anak mulai pandai berbicara, sejalan dengan perkembangannya memahami
sesuatu.Biasanya anak mulai berbicara sendiri, kemudian berkembang menjadi
kemampuan untuk bertindak tanpa harus mengucapkannya.Dalam hal ini anak
telah menginternalisasikan pembicaraan yang egocentris dalam bentuk berbicara
sendiri menjadi pemikiran anak.Hal ini merupakan suatu transisi awal untuk
dapat lebih berkomunikasi secara sosial.
Usia Kemampuan Bicara dan Bahasa
Membuat suara dari dari barang2 yang
dipilihnya,
12-15 bulan
Menyebut nama bagian tubuh,
Melakukan pembicaraan.,
Bercerita tentang gambar di buku/majalah,
15-18 bulan Permainan telepon-teleponan,
Menyebut berbagai nama barang.

Page
66
Melihat acara televisi,
18-24 bulan Mengerjakan perintah sederhana,
Bercerita tentang apa yang dilihatnya.
Menyebut nama lengkap anak,
Bercerita tentang diri anak,
24-36 bulan
Menyebut berbagi jenis pakaian.
Menyatakan keadaan suatu benda.
Berbicara dengan anak,
Bercerita mengenai dirinya,
36-48 bulan Bercerita melalui album foto,
Mengenal huruf besar menurut alfabet di
koran/majalah.
Belajar mengingat-ingat,
Mengenal huruf dan simbol,
Mengenal angka,
Membaca majalah,
Mengenal musim,
48-60 bulan
Mengumpulkan foto kegiatan keluarga,
Mengenal dan mencintai buku,
Melengkapi dan menyelesaikan kalimat,
Menceritakan masa kecil anak,
Membantu pekerjaan di dapur.

c. Kemampuan Bersosialisasi dan Kemandirian


Dasar-dasar sosialisasi yang sudah diletakkan pada masa bayi, maka
pada masa ini mulai berkembang.Dalam hal ini hubungan keluarga, orangtua-
anak, antar saudara dan hubungan dengan sanak keluarga cukup
berperan.Pengasuhan pada tahun pertama berpusat pada perawatan, berubah
ke arah kegiatan-kegiatan seperti permainan, pembicaraan dan pemberian
disiplin, akhirnya mengajak anak untuk menalar terhadap sesuatu.Pada masa
ini sebagai masa bermain, anak mulai melibatkan teman sebayanya, melalui
bermain, meski interaksi yang dibangun dalam permainan bukan bersifat
sosial, namun sebagai kegiatan untuk menyenangkan dan dilaksanakan untuk

Page
67
kegiatan itu sendiri.Jenis permainan yang dilakukan bisa berbentuk
konstruktif, permainan pura-pura, permainan sensori motorik, permainan
sosial atau melibatkan orang lain, games atau berkompetisi.
Usia Kemampuan Bersosialisasi dan Kemandirian
Menirukan pekerjaan rumah tangga,
12- Melepas pakaian,
15 Makan sendiri,
bulan Merawat mainan,
Pergi ke tempat-tempat umum.
Belajar memeluk dan mencium,
15- Membereskan mainan/membantu kegiatan di rumah,
18 Bermain dengan teman sebaya,
bulan Permainan baru,
Bermain petak umpet.
Mengancingkan kancing baju,
Permainan yang memerlukan interkasi dengan teman
18-
bermain.
24
Membuat rumah-rumahan,
bulan
Berpakaian,
Memisahkan diri dengan anak.
Melatih buang air kecil dan buang air besar di WC/kamar
24-
mandi.
36
Berdandan/memilih pakaian sendiri.
bulan
Berpakaian sendiri.
Mengancingkan kancing tarik,
36- Makan pakai sendok garpu,
48 Membantu memasak,
bulan Mencuci tangan dan kaki,
Mengenal aturan/batasan.
48- Membentuk kemandirian dengan memberi kesempatan
60 mengunjungi temannya tanpa ditemani.
bulan Membuat atau menempel foto keluarga,

Page
68
Membuat mainan/boneka dari kertas.
Menggambar orang,
Mengikuti aturan permainan/petunjuk,
Bermain kreatif dengan teman-temannya,
Bermain 'berjualan dan berbelanja di toko"

3. Masa Anak Pra Sekolah (usia 60-72 bulan atau 5-6 tahun);
Pada masa ini, pertumbuhan berlangsung dengan stabil, aktivitas jasmani
semakin bertambah dan meiningkatnya keterampilan dan proses berpikir. Anak
mulai menunjukkan keinginannya seiring dengan pertumbuhan dan
perkembangannya.Pada masa ini, anak mulai diperkenalkan dengan lingkungan
luar selain lingkungan dalam rumah, sehingga anak mulai senang bermain di luar
rumah. Anak mulai berteman bahkan anak banyak keluarga menghabiskan
waktunya bermain di luar rumah, seperti bermain di taman atau ke tempat-tempat
yang menyediakan fasilitas bermain anak.
Pada masa ini anak dipersiapkan untuk sekolah, oleh karenanya panca indera dan
sistim reseptor penerima rangsangan serta proses memori harus sudah siap
sehingga anak mampu belajar dengan baik. Proses belajar yang tepat bagi usia ini
adalah dengan cara bermain. (Soetjiningsih, 2007)
Kemampuan yang dimiliki pada anak pra sekolah adalah sbb:
Kemampuan Keterangan
bermain bola dengan teman
sebayanya
Gerak kasar
naik sepeda, bermain sepatu
roda.
mengerti urutan kegiatan,
berlatih mengingat-ingat,
membuat sesuatu dari tanah
liat/lilin,
Gerak halus
bermain "berjualan",
belajar bertukang, memakai
pali, gergaji dan paku,
mengumpulkan benda-benda,

Page
69
belajar memasak,
mengenal kalender
mengenal waktu,
menggambar dari berbagai
sudut pandang,
belajar mengukur.
mengenal benda yang serupa
dan berbeda,
bermain tebak-tebakan,
berlatih mengingat-ingat,
menjawab pertanyaan
Bicara dan bahasa "mengapa ?"
menganal rambut/tanda lalu
lintas,
mengenal uang logam,
mengamati/meneliti keadaan
sekitar.
Berkomunikasi dengan anak,
Bersosialisasi dan
Berteman dan bergaul,
kemandirian.
Mematuhi peraturan keluarga

Page
70
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Pertumbuhan dan perkembangan merupakan suatu proses yang diawali dari
konsepsi (pembuahan) sampai pematangan atau dewasa. Melalui proses tersebut anak
tumbuh menjadi lebih besar dan bertambah matang dalam segala aspek baik fisik,
emosi, intelektual, maupun psikososial. Apabila terdapat suatu masalah dalam proses
tersebut maka yang akan berakibat terhambatnya anak mencapai tingkat tumbuh
kembang yang sesuai dengan usianya. Apabila gangguan ini berlanjut maka akan
menjadi suatu bentuk kecacatan yang menetap pada anak. Namun, apabila sejak dini
gangguan tumbuh kembang sudah terdeteksi, maka kita dapat melakukan suatu
intervensi sesuai dengan kebutuhan anak. Melalui intervensi yang dilakukan sejak
dini itulah tumbuh kembang anak pada tahap selanjutnya dapat berjalan dengan lebih
baik.

Gangguan pertumbuhan dan perkembangan merupakan masalah yang banyak


dijumpai di masyarakat, sehingga sangatlah penting apabila semua komponen yang
terlibat dalam tumbuh kembang anak, yaitu orang tua, guru, dan masyarakat dapat
bekerja sama dalam melakukan pemantauan sejak dini. Tujuan akhir dari pemantauan
dini gangguan tumbuh kembang anak ini tentunya adalah harapan kita dalam
terwujudnya generasi harapan bangsa yang lebih baik dan berkualitas.

Pendidikan kesehatan merupakan satu bentuk intervensi keperawatan yang


mandiri untuk membantu klien baik individu, kelompok, maupun masyarakat dalam
mengatasi masalah kesehatannya melalui kegiatan pembelajaran, yang didalamnya
perawat berperan sebagai perawat pendidik.

Konsep pendidikan kesehatan adalah proses belajar pada individu, kelompok


atau masyarakat dari tidak tahu tentang nilai-nilai kesehatan menjadi tahu, dari tidak
mampu mengatasi masalah-masalah kesehatannya sendiri menjadi mampu dan lain
sebagainya.

Page
71
Stimulasi tumbuh kembang adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk
merangsang kemampuan dasar anak agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara
optimal. Kemampuan anak yang dirangsang meliputi kemampuan motorik kasar,
kemampuan motorik halus, kemampuan berbicara serta sosialisasi dan kemandirian.
Stimulasi pada bayi baru lahir adalah hal yang sangat wajar dan wajib untuk dialami
oleh setiap bayi Namun, stimulasi pada bayi baru lahir normal dan prematur agak
sedikit berbeda. Alasannya karena sistem dan fungsi tubuh pada bayi prematur agak
sedikit terlambat pertumbuhan dan perkembanganya.

B. Saran
Mungkin hanya ini yang bisa penulis sampaikan dalam makalah yang singkat
ini, pasti dalam penyampaian dan penulisan makalah ini banyak sekali kesalahan-
kesalahan, semua itu tidak lain karena keterbatasan penulis, untuk itu penulis sangat
mengharapkan kritik dan saran serta mohon ralat yang bersifat membangun demi
bertambahnya pengetahuan bagi penulis sendiri dan umumnya kepada kita semua.

Page
72
DAFTAR PUSTAKA

Sunartyo, N. 2005. Panduan Merawat Bayi dan Balita Agar Tumbuh Sehat dan Cerdas.
Yogyakarta: Diva Press.

Narendra, M. B. 2003. Penilaian Pertumbuhan dan Perkembangan Anak. Jakarta: EGC.

Meadow, R dan Newll, S. 2002. Lecture Notes Pediatrica. Jakarta: Erlangga.

Soetjiningsih. 1998. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: EGC.

Suyitno, H, dan Narendra, M. B. 2003. Pertumbuhan Fisik Anak. Jakarta: EGC.

Tanuwijaya, S. 2003. Konsep Umum Tumbuh dan Kembang. Jakarta: EGC

Widyastuti, D, dan Widyani, R. 2001. Panduan Perkembangan Anak 0 Sampai 1 Tahun.


Jakarta: Puspa Swara.

Notoatmojo,soekidjo.2003.Pendidikan dan perilaku kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta

Lia,V.N. 2010. Asuhan Neonatus Bayi dan Anak Balita. Jakarta: Salemba Medika

Notoatmodjo. 2007. Metodelogi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Depkes RI..


Saifudin. 2009. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatus. Jakarta: PT Bina
Wiknjosastro. 2010. Ilmu Kebidanan. Jakarta: PT Bima Pusataka Sarwono Yogyakarta :
Araska
http://newblogbidan.blogspot.com/2016/03/makalah-stimulasi-tumbuh-kembang-
https://fatmalahandayani.wordpress.com/2015/09/22/konsep-dasar-pendidikan-kesehatan/

Page
73