Anda di halaman 1dari 22

TINGKAT PARTISIPASI MASYARAKAT TERHADAP PEMBANGUNAN

INFRASTRUKTUR JALAN TOL DI INDONESIA

Proposal Penelitian

Diajukan sebagai salah satu syarat


Untuk menempuh UAS semester 4 Ekonomi Publik

Dosen Pengampu : Alifah Rokhmah Idialis,S.E.,M.Sc.

Oleh :

Rachmada Rusydi Wibisana


160231100093

KEMENTRIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS TRUNOJOYO MADURA
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
PRODI EKONOMI PEMBANGUNAN
2018
ABSTRACT

Infrastructure development in Indonesia is currently in the process of acceleration.


including road infrastructure that is toll road infrastructure, Toll road is a public
facility provided by the government with private workers as the organizer. In the
realization of this toll road infrastructure it is not possible for them to use these
facilities, ie other risk factors for those involved in the use of such facilities. In terms of
concept of pareto toll road public facility is able to create optimal pareto conditions.

Keywords: Community Participation, Infrastructure, Toll rads, Pareto Optimal

ABSTRAK

Pembangunan Infrastrukur di Indonesia saat ini sedang dalam proses percepatan


diantaranya ialah infrastruktur jalan yaitu infrastruktur jalan tol, Jalan tol sedniri
merupakan fasilitas public yang disediakan oleh pemerintah dengan kontrak bersama
pihak swasta sebagai penyelenggara. Dalam realisasinya sendiri infrastruktur jalan tol
ini justru tidak semua masyarakat mampu untuk mempergunakan fasilitas tersebut,
banyaknya faktor diantara lain faktor pendapataan masyarakat dipengaruhi untuk ikut
berpartisipasi dalam penggunaan fasilitas tersebut. Dari segi konsep pareto fasilitas
publik jalan tol ini mampu menciptakan kondisi pareto optimal.

Kata kunci : Partisipasi Masyarakat, Infrastruktur, Jalan tol, Pareto Optimal

KATA PENGANTAR
Puji beserta syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
kesehatan dan rahmat-Nya kepada penulis sehingga penulis bisa menyelesaikan
makalah ini tepat pada waktunya. Shalawat serta salam semoga tercurah limpahkan
kepada Nabi besar yakni Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabatnya.

Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada semua pihak yang telah
membantu penulis dalam penyusunan makalah ini secara umumnya dan kepada Dosen
Mata Kuliah Ekonomi Publik secara khususnya.

Penulis menyadari dalam penulisan makalah ini banyak terdapat kekurangan


karena penulis masih dalam tahap pembelajaran. Namun, penulis tetap berharap agar
makalah ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca.

Kritik dan saran dari penulisan makalah ini sangat penulis harapkan untuk
perbaikan dan penyempurnaan pada makalah penulis berikutnya. Untuk itu penulis
ucapkan terima kasih.

Bangkalan, 15 Mei 2018

Penulis

Daftar Isi
ABSTRAK …………………………………………………………………………….. 2
KATA PENGANTAR ………………………………………………………………... 3

BAB I......................................................................................................................................5

PENDAHULUAN...................................................................................................................5

I.A. Latar Belakang........................................................................................................5

I.B. Rumusan Masalah..................................................................................................6

I.C. Tujuan dan Manfaat Penelitian..............................................................................6

I.D. Metodologi Penelitian.............................................................................................6

I.D.1. Jenis Penelitian................................................................................................6

I.D.2. Metode Pengumpulan Data.............................................................................6

I.D.3. Metode Analisis Data.......................................................................................7

BAB II....................................................................................................................................8

Landasan Teori.......................................................................................................................8

1. Infrastruktur...............................................................................................................8

2. Teori Barang Publik..................................................................................................11

3. Konsep Pareto...........................................................................................................12

4. Teori Pendapatan......................................................................................................13

5. Teori Konsumsi.........................................................................................................14

BAB III.................................................................................................................................15

Hasil dan Pembahasan.........................................................................................................15

BAB IV.................................................................................................................................17

Kesimpulan dan Saran.........................................................................................................17

Daftar Pustaka.....................................................................................................................18
BAB I

PENDAHULUAN

I.A. Latar Belakang


Pembangunan negara terjadi akibat pertumbuhan penduduk yang sangat pesat
mengakibatkan meningkatnya tuntutan permintaan atas pengadaan, perbaikan,
pelayanan prasarana transportasi, baik dari segi kualitas maupun kuantitas, yang salah
satunya infrastruktur jalan. Dalam mendorong pembangunan ekonomi perlu
ketersediaan infrastruktur, terutama ketersediaan prasarana jalan sebagai salah satu
kebutuhan penduduk baik kota maupun desa yang dapat mendukung dan menunjang
aksesibilitas dan mobilitas penduduk dalam berbagai aktivitas kegiatan perkotaan.

Pembangunan infrastruktur merupakan salah satu aspek penting dan vital untuk
mempercepat proses pembangunan nasional maupun regional. Infrastruktur juga
memegang peranan penting sebagai salah satu roda penggerak pertumbuhan ekonomi.
Laju pertumbuhan ekonomi dan investasi suatu negara maupun daerah tidak dapat
dipisahkan dari ketersedian infrastruktur seperti transportasi, telekomunikasi, sanitasi,
dan energi. Inilah yang menyebabkan pembangunan infrastruktur menjadi fondasi dari
pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Bertambahnya infrastruktur dan
perbaikannya oleh pemerintah diharapkan memacu pertumbuhan ekonomi (Suratno.
2010).

Pengembangan sektor transportasi mempunyai korelasi yang tinggi dengan


pengembangan wilayah suatu wilayah yang berdampak pada perubahan nilai lahan
(Tamin : 2004). Saat ini Indonesia gencar dalam pembangunan berbagai fasilitas
infrastruktur, salah satunya jalan tol untuk mendorong pertumbuhan perekonomi dengan
menghubungkan kawasan industri dan pelabuhan serta bandar udara.

Jalan tol adalah jalan umum yang merupakan bagian sistem jaringan jalan dan
sebagai jalan nasional yang penggunanya diwajibkan membayar tol (UU Jalan No. 38
Tahun 2004). Tujuan pembangunan jalan tol tersebut adalah untuk memperlancar
lalulintas di daerah yang telah berkembang, meningkatkan pelayanan distribusi barang
dan jasa guna menunjang pertumbuhan ekonomi, meningkatkan pemerataan hasil
pembangunan dan keadilan serta meringankan beban dana Pemerintah melalui
partisipasi pengguna jalan. Selanjutnya, manfaat penyelenggaraan jalan tol itu juga
adalah: mempengaruhi perkembangan wilayah dan peningkatan perekonomian,
meningkatkan mobilitas dan aksesibilitas orang dan barang, memberikan keuntungan
kepada pengguna berupa penghematan Biaya Operasi Kendaraan (BOK) dan waktu
dibanding apabila melewati jalan non tol, serta memberikan pengembalian pembiayaan
investasi, pemeliharaaan, dan pengembangan jalan tol untuk Badan Usaha yang terlibat
(BPJT, 2006).

Pendanaan proyek pembangunan jalan tol di Indonesia dapat berasal dari


pemerintah, bantuan luar negeri ataupun sumber lain. Badan Usaha dapat ikut serta
membangun dan mengoperasikan jalan tol dalam jangka waktu tertentu serta berhak
menarik biaya pemakaian layanan dari pengguna untuk mengembalikan modal
investasi, biaya pengoperasian dan pemeliharaan serta keuntungan yang wajar. Setelah
berakhirnya Perjanjian Pengusahaan, maka jalan tol tersebut harus diserahkan kepada
Pemerintah tanpa penggantian biaya apapun (PP No. 43 Tahun 2013). Menurut BPJT
(2006), prinsip dasar penyelenggaraan pembangunan jalan tol ditetapkan oleh
pemerintah diantaranya dengan menyusun Rencana Induk Jaringan Jalan Tol dan Ruas
Jalan Tol. Kewenangan penyelenggaraan itu sebagian dilimpahkan pada Badan Pengatur
Jalan Tol (BPJT) yang berkaitan dengan pengaturan, pengusahaan dan pengawasan
Badan Usaha.

Pembiayaan yang berasal dari Badan Usaha diperuntukkan bagi ruas jalan tol
yang layak secara ekonomi dan finansial. Peran swasta dan masyarakat dalam
pembiayaan pembangunan jalan tol dilakukan dalam bentuk kerja sama, korporatisasi,
privatisasi, divestasi asset, dan lain-lain, sedangkan peran pemerintahdalam mendorong
peningkatan pembangunan jalan tol di Indonesia dilakukan dengan menetapkan
kebijakan yang berkaitan dengan investasi swasta, memperbaiki kerangka peraturan
perundang-undangan, melakukan pemberian insentif, dan mengembangkan partisipasi
peran aktif pihak swasta dalam Kerjasama Pemerintah Swasta.

Dalam penggunaan jalan tol sendiri juga tergantung dari tingkat


partisipasimasyarakat dalam memanfaaatkan infrastruktur tol. Bentuk partisipasi
masyarakat itu sendiri juga tergantung dari kondisi kualitas masyarakat salah satunya
ialah pendapatan masyarakat, semakin tinggi pendapatan maka jumlah yang
dikonsumsi masyarakat akan bertambah namun dengan jumlah yang kecil menurut
Keynes hukum psikologis yang mendasar terhadap konsumsi.

I.B. Rumusan Masalah


 Bagaimana tingkat partisipasi masyarakat terhadap infrastruktur jalan tol
di Indonesia ?

I.C. Tujuan dan Manfaat Penelitian


 Untuk mengetahui tingkat partisipasi masyarakat terhadap infrastruktur
jalan tol di Indonesia.

I.D. Metodologi Penelitian


I.D.1. Jenis Penelitian
Bentuk penelitian ini ialah kualitatif yang bersifat deskriptif. Artinya,
prosedur penelitian yang menghasilkan data-data deskriptif berupa kata-kata
tertulis atau lisan tentang sifat-sifat individu, keadaan, gejala dari kelompok
tertentu yang dapat diamati.
I.D.2. Metode Pengumpulan Data
Data Sekunder yaitu data yang diperoleh dengan menggunakan metode
dokumentasi yaitu pengambilan data dari buku, surat kabar, majalah yang
relevan dengan penelitian.

I.D.3. Metode Analisis Data


Analisis Diskriptif

Dalam hal ini penulisan dilakukan dengan menggunakan analisa non


statistik untuk menganalisis data kualitatif, yaitu dengan membaca tabel-
tabel,grafik / angka-angka yang tersedia kemudian dilakukan uraian dan
penafsiran.
BAB II

Landasan Teori

1. Infrastruktur
Definisi infrastruktur dalam kamus besar bahasa Indonesia, dapat
diartikan sebagai sarana dan prasarana umum. Sarana secara umum diketahui
sebagai fasilitas public seperti rumah sakit, jalan, jembatan, sanitasi, telpon, dan
sebagainya. Dalam ilmu ekonomi infrastruktur merupakan wujud dari publik
capital (modal publik) yang dibentuk dari investasi yang dilakukan pemerintah.
Infrastruktur dalam penelitian ini meliputi jalan, jembatan, dan sistem saluran
pembuangan (Mankiw, 2003).
Menurut Grigg (1998) infrastruktur merupakan sistem fisik yang
menyediakan transportasi, pengairan, drainase, bangunan gedung, dan fasilitas
publik lainnya, yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia baik
kebutuhan sosial maupun kebutuhan ekonomi. Dalam hal ini, hal-hal yang
terkait dengan infrastruktur tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya. Sistem
lingkungan dapat terhubung karena adanya infrastruktur yang menopang antara
sistem sosial dan sistem ekonomi. Ketersediaan infrastruktur memberikan
dampak terhadap sistem sosial dan system ekonomi yang ada di masyarakat.
Maka infrastruktur perlu dipahami sebagai dasardasar dalam mengambil
kebijakan (J. Kodoatie, 2005).
Mankiw (2003) menyatakan pekerja akan lebih produktif jika mereka
mempunyai alat-alat untuk bekerja. Peralatan dan infrastruktur yang digunakan
untuk menghasilkan barang dan jasa disebut modal fisik. Hal serupa juga
dijelaskan dalam Todaro (2006) bahwa tingkat ketersediaan infrastruktur di
suatu negara adalah faktor penting dan menentukan bagi tingkat kecepatan dan
perluasan pembangunan ekonomi.
Infrastruktur merupakan suatu wadah untuk menopang kegiatan-kegiatan
dalam satu ruang. Ketersediaan infrastruktur memberikan akses mudah bagi
masyarakat terhadap sumber daya sehingga dapat meningkatkan efisiensi dan
produktivitas dalam melakukan kegiatan sosial maupun ekonomi. Dengan
meningkatnya efisiensi otomatis secara tidak langsung meningkatkan
perkembangan ekonomi dalam suatu wilayah. Sehingga menjadi sangat penting
peran infrastruktur dalam perkembangan ekonomi. Infrastruktur mengacu pada
fasilitas kapital fisik dan termasuk pula dalam kerangka kerja organisasional,
pengetahuan dan teknologi yang penting untuk organisasi masyarakat dan
pembangunan ekonomi mereka. Infrastruktur meliputi undangundang, sistem
pendidikan dan kesehatan publik, sistem distribusi dan perawatan air,
pengumpulan sampah dan limbah, pengelolaan dan pembuangannya, system
keselamatan publik, seperti pemadam kebakaran dan keamanan, sistem
komunikasi, sistem transportasi, dan utilitas publik (Tatom, 1993).
Infrastruktur merupakan barang barang publik yang bersifat non ekslusif
(tidak ada orang yang dapat dikesampingkan), non rival (konsumsi seorang
individu tidak mengurangi konsumsi individu lainnya) serta umumnya biaya
produksi marginal dalah nol. Infrastruktur umumnya juga tidak dapat
diperjualbelikan (non tradable) (Henner, 2000). Hal serupa pun diungkapkan
oleh Stiglizt (2000) yang mengatakan bahwa beberapa infrastruktur seperti jalan
tol merupakan salah satu barang publik yang disediakan oleh pemerintah
meskipun infrastruktur ini bukanlah barang publik murni. Ciri barang publik
dilihat dari segi penggunaannya yaitu non rivalry dan non-excludable rivalry.
Rivalitas dalam mengkonsumsi suatu barang maknanya adalah jika suatu barang
digunakan oleh seseorang, barang tersebut tidak dapat digunakan oleh orang
lain. Jika sebaliknya, ketika barang tersebut digunakan oleh orang lain dan
secara bersama-sama menggunakan barang tersebut, maka barang tersebut dapat
dikatakan sebagai barang publik. Penggunaan infrastruktur bagi pihak
penggunanya tidak dikenakan biaya secara langsung atas penggunaannya,
dikarenakan infrastruktur tersebut disediakan oleh pemerintah sebagain
penunjang kegiatan sosial ekonomi. Infrastruktur memiliki sifat eksternalitas,
sesuai dengan sifatnya dimana infrastruktur disediakan oleh pemerintah dan bagi
setiap pihak yang menggunakan infrastruktur tidak memberikan bayaran
langsung atas penggunaan infrastruktur. Infrastruktur seperti jalan, pendidikan,
kesehatan, memiliki sifat eksternalitas positif. Dengan memberikan dukungan
kepada fasilitas tersebut dapat meningkatkan produktivitas semua input dalam
proses produksi (Canning dan Pedroni, 2004). Eksternalitas positif dalam
infrastruktur berupa peningkatan produksi perusahaan-perusahaan dan sector
pertanian tanpa harus meningkatkan modal input dan tenaga kerja/juga
meningkatkan level teknologi.

a. Jalan Tol
Pembangunan infrastruktur jalan tol di Indonesia sangat dibutuhkan
karena dapat mengurangi inefisiensi akibat kemacetan pada ruas utama, serta
untuk meningkatkan proses distribusi barang dan jasa terutama di wilayah yang
sudah tinggi tingkat perkembangannya, serta dapat mengembangkan wilayah
tersebut menjadi sentra perekonomian.
Jalan tol Jagorawi (Jakarta-Bogor-Ciawi) sepanjang 60 km merupakan
jalan tol pertama di Indonesia yang diresmikan pengoperasiannya pada bulan
Maret 1978. Untuk mengoperasikan jalan tol tersebut, melalui Peraturan
Pemerintah no.4 tahun 1978 didirikanlah PT. Jasa Marga (Persero) pada tanggal
1 Maret 1978 sebagai Badan Usaha Milik Negara penyelenggara jalan dan
jembatan tol di Indonesia. Berawal dari Jagorawi, selama tiga puluh tahun sejak
pembangunan dan pengoperasian jalan tol pertama, total panjang jalan tol yang
sudah beroperasi hanya mencapai sekitar 688 km.
Sejauh ini pembangunan jalan tol di Indonesia berjalan sangat lambat.
Jumlah ini tentunya relatif rendah bila dibandingkan dengan luas daratan
Indonesia. Berdasarkan data Industry Update Vol. 13, Juli 2009, hampir
keseluruhan proyek pembangunan jalan tol di Indonesia terlambat dari jadwal
yang ditetapkan. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Badan Pengatur Jalan
Tol (BPJT), (2007), pembangunan infrastruktur jalan tol yang sudah beroperasi
dari tahun 2000-2005 baru mencapai 26,57 km atau rata-rata pertumbuhannya
5,31 km per tahun; sementara yang sudah beroperasi dari tahun 2005-2007
sepanjang 55,69 km atau 27,85 km per tahun, atau lahan yang sudah dibebaskan
sekitar 55-80 Ha per tahun.
Jalan Tol adalah jalan umum yang merupakan bagian sistem jaringan
jalan dan sebagai rasional yang penggunanya diwajibkan membayar tol.
Sedangkan tol adalah sejumlah uang tertentu yang dibayarkan untuk pengguna
jalan tol (UU No.38/2004). Dalam pasal 43 (UU No.38/2004), jalan tol
diselenggarakan untuk :
1. Memperlancar lalu lintas di daerah yang telah berkembang.
2. Meningkatkan hasil guna dan daya guna pelayanan distribusi barang
dan jasa guna menunjang peningkatan pertumbuhan ekonomi.
3. Meringankan beban dana pemerintah melalui partisipasi pengguna
jalan.
4. Meningkatkan pemerataan hasil pembangunan dan keadilan.
Pengguna tol dikenakan kewajiban membayar tol yang digunakan untuk
pengembalian investasi, pemeliharaan dan pengembangan jalan tol. Keberadaan
jalan tol diharapkan secara langsung dapat mengurangi beban lalu lintas,
kemacetan yang terjadi di jalan umum dan mengurangi polusi udara akibat
kendaraan berjalan lambat atau macet.
Jalan tol memiliki peran strategis baik untuk mewujudkan pemerataan
pembangunan maupun untuk pengembangan wilayah. Pada wilayah yang tingkat
perekonomiannya telah maju, mobilitas orang dan barang umumnya sangat
tinggi sehingga dituntut adanya sarana perhubungan darat atau jalan dengan
mutu yang andal. Tanpa adanya jalan dengan kapasitas cukup dan mutu yang
andal, maka dipastikan lalu lintas orang maupun barang akan mengalami
hambatan yang pada akhirnya menimbulkan kerugian ekonomi.

2. Teori Barang Publik


Infrastruktur lebih mengarah kepada sifat barang publik. Jenis barang
yang dibutuhkan oleh masyarakat, akan tetapi tidak seorang pun yang bersedia
menghasilkannya atau mungkin dihasilkan oleh pihak swasta akan tetapi dalam
jumlah yang terbatas, jenis barang tersebut dinamakan barang public
(Mangkoesobroto, 1993). Barang publik mempunyai dua ciri utama dari sisi
penggunaannya, yaitu non-rivalry dan non-excludable. Non-rivalry mengacu
pada ide bahwa ada beberapa barang yang manfaatnya dapat dinikmati oleh
lebih dari satu orang pada waktu yang sama. Non-excludable artinya ketika
seseorang menikmati manfaat suatu barang disaat orang tersebut membayar
maupun tidak.
a. Teori Pigou
Teori Pigou menjelaskan mengenai penyediaan barang publik yang
dibiayai dari pajak yang dipungut dari masyarakat. Pigou berpendapat bahwa
barang publik harus disediakan sampai suatu tingkat dimana kepuasan marginal
akan barang publik sama dengan ketidakpuasan marginal akan pajak yang
dipungut untuk membiayai program-program pemerintah atau untuk
menyediakan barang publik (Mangkoesobroto, 1993).

3. Konsep Pareto
Pareto improvement terjadi melalui efisiensi pareto. Dapat terjadi
keseimbangan apabila adanya peningkatan kontribusi sehingga meningkatkan
kesejahteraan semua rumah tangga. Situasi di mana tidak ada cara untuk
meningkatkan kegunaan seorang tanpa mengurangi kegunaan orang lain
mencerminkan efisiensi. Kondisi tersebut dianggap efisien karena pada situasi
selainnya, dimana masih terdapat peluang untuk meningkatkan kegunaan
seseorang tanpa mengurangi kegunaan orang lain, itulah yang disebut dengan
Pareto improvement. Perekonomian belum mampu mendistribusikan outputnya
secara optimal sehingga seluruh konsumen mendapatkan kegunaan maksimal
yang mungkin diperolehnya.
a. Pareto Optimal

Pareto optimal adalah alokasi sumber daya yang tidak dapat diperoleh
dengan baik oleh individu tanpa adanya orang lain yang lebih buruk. Model
efisiensi ini menimbulkan asumsi yang sangat terbatas, yaitu :
• Sebuah pasar yang lengkap untuk semua yang terkait dengan masa
depan dan untuk semua resiko.
• Tidak ada eksternalitas dalam fungsi utilitas konsumen atau fungsi
produksi suatu perusahaan.
• Harga pasar diketahui dengan pasti dan semua pasar harus memiliki
informasi yang sempurna.
• Konsumen memaksimalkan utilitasnya dan kurva indiferennya
berdasarkan tingkat pertukaran marjinal.

Kondisi untuk mencapai Pareto optimal ada dua, yaitu :


• Efisiensi dalam konsumsi terjadi ketika kurva indiverens seorang
konsumen bersinggungan dengan garis anggaran atau budget line.
Dalam keadan ini seorang konsumen akan mendapatkan tingkat
kepuasan tertinggi dengan biaya paling sedikit yang perlu
dikeluarkan.
• Efisiensi dalam produksi terjadi ketika seorang produsen dapat
menghasilkan sebuah produk dengan anggaran seminimal mungkin
namun dapat menghasilkan produk tersebut secara maksimal. (Ferry,
2013)

4. Teori Pendapatan
Pendapatan merupakan suatu hasil yang diterima oleh seseorang atau
rumah tangga dari berusaha atau bekerja. Jenis masyarakat bermacam ragam,
seperti bertani, nelayan, beternak, buruh, serta berdagang dan juga bekerja
pada sektor pemerintah dan swasta (Pitma, 2015:38).
Pada konsep ekonomi, menurut Adam Smith penghasilan adalah
jumlah yang dapat dikonsumsi tanpa harus mengakibatkan penurunan modal,
termasuk modal tetap (fixed capital) dan modal berputar (circulating capital).
Hicks mengatakan bahwa penghasilan adalah jumlah yang dikonsumsi oleh
seseorang selama jangka waktu tertentu. Sementara itu, Henry C Simon yang
memandang dari sudut penghasilan perorangan, mendefenisikan penghasilan
sebagai jumlah dari nilai pasar barang dan jasa yang dikonsumsi dan
perubahan nilai kekayaan yang ada pada awal dan akhir satu periode
(Hafidoh, 2015:33).

a. Faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan


Pada hakikatnya pendapatan yang diterima oleh seseorang maupun
badan usaha tentunya dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti tingkat
pendidikan dan pengalaman seorang, semakin tinggi tingkat pendidikan dan
pengalaman maka makin tinggi pula tingkat pendapatanya, kemudian juga
tingkat pendapatan sangat dipengaruhi oleh modal kerja, jam kerja, akses
kredit, jumlah tenaga kerja, tanggungan keluarga, jenis barang dagangan
(produk) dan faktor lainya. Pada umumnya masyarakat selalu mencari tingkat
pendapatan tinggi untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya, akan tetapi
dibatasi oleh beberapa faktor tersebut (Pitma, 2015:38).

5. Teori Konsumsi
Keynes mengedepankan variabel utama dalam analisinyayaitu konsumsi
dipengaruhi oleh tingkat pendapatan C= f(Y). Keynes mengajukan 3 asumsi
pokok secara makro dalam teorinya yaitu:
- Kecenderungan mengkonsumsi marginal (marginal propensity to
consume) ialah jumlah yang dikonsumsi dalam setiap tambahan
pendapatan adalah antara nol dan satu.
- Keynes menyatakan bahwa kecenderungan mengkonsumsi rata-
rata (average prospensity to consume), turun ketika
pendapatan naik.
- Keynes berpendapat bahwa pendapatan merupakan determinan
konsumsi yang penting dan tingkat bunga tidak memiliki peranan
penting. (Mankiw, 2007:425-426)

Fungsi konsumsi Keynes secara makro menunjukkan hubungan


antara pendapatan nasional dengan pengeluaran konsumsi pada tingkat
harga konstan. Pendapatan yang ada merupakan pendapatan nasional
yang terjadi atau current national income.Variabel pendapatan nasional
dalam fungsi konsumsi Keynes merupakan pendapatan nasional absolut,
yang dapat dilawankan dengan pendapatan relatif, pendapatan permanen
dansebagainya(Soediyono, 2000).
Sehingga secara garis besar terori konsumsi Keynes menyatakan
bahwa, (besar-kecil) konsumsi masyarakat sangat dipengaruhi oleh
besarnya pendapatan.Sedangkan unsur tabungan tidak terlalu berdampak
terhadap perubahan jumlah barang dan jasa yang dikonsumsi
masyarakat.
BAB III

Hasil dan Pembahasan

Pembangunan infrastruktur di Indonesia pada akhir tahun ini cukup mengalami


perkembangan pesat terutama dalam pembangunan infrastruktur jalan tol, dimana dari
data data jalan tol perencanaan, jalan tol yang telah beroperasi, dan jalan tol yang masih
dalam tahap konstruksi. Terdapat 24 ruas jalan tol yang masih dalam tahap perencanaan
dengan total panjang 2.046,70 km. Sepanjang 1.214,34 km atau 29 ruas merupakan
jalan tol dalam proses konstruksi, serta 801,78 km atau 29 ruas jalan merupakan jalan
tol yang telah beroperasi.1

Tahun Pendapatan total


2012 5.581,8
2013 5.802,7
2014 6.646,4
total 18.030,9
2014 (Q3) 4.845,7
2015 (Q3) 5.130,7
total 9.976,4
Tabel 1. Jumlah pendapatan keseluruhan tol di Indonesia pertahun dalam miliar.
Sumber : jasa marga 2015

sumber : jasa marga 2015

Dari data diatas menunjukkan adanya peningkatan pendapatan di keseluruhan tol


di Indonesia dan dapat diperjelas dengan tingkat transaksi tol pertahun dimana setiap
tahunnya lebih mengalami peningkatan daripada penurunannya.
1
Kemen Pu, Buku Informasi Statistik 2017
Berdasarkan laporan data peningkatan pada volume lalu lintas harian rata-rata
didukung oleh penyesuaian tarif yang terjadwal mendorong meningkatnya pendapatan
harian rata-rata.2 Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa tidak semua masyarakat
dapat menikmati untuk berpartisipasi dalam menggunakan faslitas jalan tol dan hanya
berlaku bagi masyarakat kalangan tertentu dan kalangan yang memiliki pendapatan
tertentu dalam mengkonsumsi fasilitas publik tersebut.
Pendapatan yang tinggi juga mempengaruhi tingkat kontribusi masyarakat untuk
berpartisipasi, hal ini sesuai dengan teori konsumsi Keynes menyatakan bahwa,
pendapatan masyarakat akan mempengaruhi besar-kecilnya tingkat konsumi. Dari data
diatas juga dapat dismpulkan menunjukkan bahwa pengguna fasilitas tol dipastikan
menggunakan transportasi kelas roda empat dan diatasnya, dimana untuk menikmati
transportasi tersebut harus memiliki biaya yang banyak untuk perawatan dan
sebagainya.
Dari aspek lain bahwa partisipasi masyarakat di Indonesia bersifat pareto
optimal adalah alokasi sumber daya yang tidak dapat diperoleh dengan baik oleh
individu tanpa adanya orang lain yang lebih buruk (Ferry, 2013), artinya dalam
menggunakan fasilitas tersebut masyarakat yang memiliki kemampuan yang rendah
untuk menikmati namun tidak bisa menjadi tangga oleh masyarakat yang memiliki
kemampuan yang lebih banyak untuk menikmati fasilitas tersebut.

BAB IV

Kesimpulan dan Saran

2
Jasa Marga, Materi Public Expose 2015
Dari hasil penelitian diatas menunjukkan tingkat partisipasi masyarakat
Indonesia terhadap infrastruktur jalan tol dimana didominasi oleh masyarakat yang
memiliki kemampuan lebih diantaranya pendapatan yang tinggi serta yang memiliki
transportasi roda empat atau diatasnya. Terjadinya pareto optimal antara masyarakat
yang mampu memikmati jalan tol dengan masyarakat yang belum mampu untuk
menikmati fasilitas jalan tol tersebut.

Pembangunan infrastruktur jalan tol sudah bagus perlu adanya penelitian


lanjuatan yang lebih berfokus tekait infrastruktur yang sudah disediakan oleh
pemerintah maupun swasta yang bersifat public, supaya masyarakat dapat mengikuti
perkembangan dengan apa yang telah disediakan oleh penyedia fasilitas tesebut.

Daftar Pustaka
BPJT (2006). Jalan Tol: Peluang Investasi di Indonesia. Jakarta: Departemen
Pekerjaan Umum.
Canning, David and Peter Pedroni. 2004. “Infrastructure and Long Run Economic
Growth.” University of Belfast
(Ekonomi & Bisnis, 2012; Jasa Marga, 2015; Kemenpu, 2013)Ekonomi, F., &
Bisnis, D. A. N. (2012). MODUL EKONOMI PUBLIK BAGIAN II :
TEORI SEKTOR PUBLIK Dosen Ferry Prasetya , SE ., M . App Ec.

Hafidoh. 2015. Pengaruh Pemanfaatan Dana Zakat Produktif Terhadap Tingkat


Penghasilan Mustahik di Pos Keadilan Peduli Ummat (PKPU) Yogyakarta.
Skripsi. Universitas Islam Negri Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Henner, H.F. 2000. Infrastructure et Development un bilan. Mondes en


Development.

Jasa Marga. (2015). Investor Summit & Capital Market Expo. In Materi Public
Expose.

Kemenpu. (2013). Buku informasi statistik, 186.

Kodoatie, R.J., 2005, Pengantar Manajemen Infrastruktur, Pustaka Pelajar,


Yogyakarta.

Mankiw, N. Gregory. 2003. Pengantar Ekonomi (Haris Munandar, Penerjemah).


Erlangga. Jakarta.

Mankiw, N. Gregory.2007.Makroekonomi”, Penerbit Erlangga, Jakarta.

Mangkoesoebroto, Guritno, 1993, Ekonomi Publik, Edisi–III, BPFE, Yogyakarta.

Pitma Pertiwi. 2015. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pendapatan


Tenaga Kerja di Daerah Istimewah Yogyakarta. Skripsi. Universitas Negeri
Yogyakarta.

Soediyono. 2000. Ekonomi Makro; Analisa IS-LM dan Permintaan-Penawaran


Agregatif. Yogyakarta : LIBERTY

Stiglitz, Joseph. 2000. Globalization and its Discontent, Penguin Books, London.

Tatom, J.A. 1993. Paved with Good Intentions; the Mythical National Infrastructure
Crisis Policy Analysis. Cato Institute.
Todaro, M. 2006. Pengembangan Ekonomi Dunia Ketiga. Edisi Kedelapan. Jakarta:
Penerbit Erlangga

Undang‐Undang Republik Indonesia No.38 Tahun 2004 tentang Jalan.

Sumber halaman web

https://www.pu.go.id/

www.jasamarga.com/
Lampiran
BIODATA
I. IDENTITAS PRIBADI
1. Nama : Rachmada Rusydi Wibisana
2. Tempat/Tanggal Lahir : Jombang, 02 Januari 1999
3. Alamat : Ds. Ngebrak RT 02 / RW 03 Kec.
Gamengrejo Kab. Kediri
4. Telepon : 085608552368
5. E-mail : ramarusdi24@yahoo.com
6. Hobby : computing, renang, basket, gaming,
murrotal qur’an, dan baca seni sastra.
II. PENDIDIKAN
1. SD : SDN NGEBRAK 1 Tahun 2004 – 2010
2. SMP : MTsN KEDIRI 2 Tahun 2010 – 2013
3. SMA : MAN 3 KOTA KEDIRI 2013 – 2016
III. PENGALAMAN ORGANISASI
1. Remas Nurul Jadid Ds Ngebrak tahun 2013 menjadi anggota, dan
sekarang menjadi wakil ketua pengurus Remas periode 2017 sampai
sekarang.
2. Mengikuti Karang Taruna tahun 2013 dan menjadi anggota samapi
sekarang.
3. Mengikuti HMP EP Universitas Trunojoyo Madura tahun 2016 menjadi
anggota divisi infokom dan tahun 2018 menjadi CO divisi keilmuan
sampai sekarang.
IV. DATA ORANGTUA
 Ayah : Achmadi
 Tempat/Tanggal lahir : Bangil, 26 Oktober 1966
 Alamat : Ds. Ngebrak RT 02 / RW 03 Kec. Gamengrejo
Kab. Kediri
 Ibu : Suhariatik
 Tempat/Tanggal lahir : Jombang, 26 Oktober 1975
 Alamat : Ds. Ngebrak RT 02 / RW 03 Kec. Gamengrejo
Kab. Kediri