Anda di halaman 1dari 22

Makalah

Dasar-Dasar Epidemiologi Lingkungan


“Konsep Surveilans DHF”

Dosen Pengampu : F. A. Metekohy, S.SiT., M.Kes

Disusun Oleh : Kelompok II (Tingkat IIIB) :

1. Rahmawati Polpoke
2. Siti Irna K. Alwi
3. Rohayu Rumagutawan
4. Irmawati Harifin
5. Winda Daimani
6. Dhea R.S Chaniago
7. Abu Hasan Timumu
8. Muhammad Aldi Said

KEMENTERIAN KESEHATAN RI
POLTEKKES KEMENKES MALUKU
PRODI KEPERWATAN MASOHI
TAHUN AKADEMIK 2018/2019
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam, yang karena atas limpahan rahmat dan
anugerah-Nyalah penyusun dapat menyelesaikan tugas makalah ini dengan tepat waktu.
Makalah ini dibuat sebagai sarana peningkatan ilmu pengetahuan mengenai Konsep
Surveilans DHF. Makalah ini dibuat secara spesifik dengan tujuan agar kita semua mampu
mengetahui keseluruhan tentang Surveilans Demam Berdarah Dengue yang menjadi bagian
penting dalam pengamatan penyelidikan untuk mencegah adanya Kejadian Luar Biasa
(KLB).
Adapun makalah ini penyusun rangkum dari sumber yang dapat dipercaya yang
penyajiannya penyusun sajikan dalam lembar Daftar Pustaka. Penyusun menyadari
penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu saran dan kritik
sangat penyusun harapkan guna penyempurnaannya di masa mendatang.
Akhir kata semoga makalah ini dapat menambah ilmu pengetahuan dan kemampuan
kita dalam bidang Ilmu Dasar-Dasar Epidemiologi Lingkungan sebagaimana yang kita
semua harapkan.

Masohi, 18 Oktober 2018

Penyusun
Kelompok II
DAFTAR ISI

Kata Pengantar
Daftar Isi
BAB I. Pendahuluan
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan
BAB II. Pembahasan
A. Konsep Epidemiologi Penyakit DHF
B. Konsep Surveilans DHF
BAB III. Penutup
A. Kesimpulan
B. Saran
Daftar Pustaka
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penyakit demam berdarah dengue (dengue haemoragic fever/DHF) atau lebih
dikenal dengan penyakit DBD adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue. Virus
ini ditularkan dari orang ke orang oleh nyamuk aedes aegepty. Penyakit DBD masih
merupakan masalah besar dalam kesehatan masyarakat dan menimbulkan dampak
sosial maupun ekonomi. Hal ini disebabkan karena DBD adalah penyakit yang angka
kesakitan dan kematiannya masih tinggi.
Data dari seluruh dunia menunjukkan Asia menempati urutan pertama dalam jumlah
penderita DBD setiap tahunnya. Sementara itu, terhitung sejak tahun 1968 hingga tahun
2009, World Health Organization (WHO) mencatat negara Indonesia sebagai negara
dengan kasus DBD tertinggi di Asia Tenggara.
Di Indonesia Demam Berdarah pertama kali ditemukan di kota Surabaya pada tahun
1968, dimana sebanyak 58 orang terinfeksi dan 24 orang diantaranya meninggal dunia
(Angka Kematian (AK) : 41,3 %). Dan sejak saat itu, penyakit ini menyebar luas ke
seluruh Indonesia. Menurut laporan Ditjen PPM dan PLP penyakit ini telah tersebar di 27
propinsi Indonesia. Dari 300 Kabupaten di 27 propinsi pada tahun 1989 (awal Pelita V)
tercatat angka kejadian sebesar 6,9 % dan pada akhir pelita V meningkat menjadi 9,2 %.
Pada kurun waktu yang sama angka kematian tercatat sebesar 4,5 %.Berdasarkan data
P2B2, jumlah kasus DBD di Indonesia tahun 2010 ada 150.000 kasus.
Sebagaimana diketahui bahwa sampai saat ini obat untuk membasmi virus dan
vaksin untuk mencegah penyakit Demam Berdarah Dengue belum tersedia. Cara yang
tepat guna untuk menanggulangi penyakit ini secara tuntas adalah memberantas
vektor/nyamuk penular. Program pencegahan dan pemberantasan penyakit akan sangat
efektif bila dapat dukungan oleh sistem surveilans yang efektif, karena fungsi sistem
surveilans yang utama adalah menyediakan informasi epidemiologi yang peka terhadap
perubahan yang terjadi dalam pelaksanaan program pemberantasan penyakit yang
menjadi proritas pembangunan.

B. Rumusan Masalah
Adapula rumusan masalah yang kemudian akan penyusun bahas pada makalah ini,
yaitu :
1. Bagaimanakah konsep dari epidemiologi penyakit DHF ?
2. Bagaimanakah konsep dari surveilans penyakit DHF ?
C. Tujuan
1. Tujuan umum
Secara umum tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk memenuhi
kelengkapan tugas dari dosen pembimbing mata kuliah dasar-dasar epidemiologi
lingkungan.
2. Tujuan khusus
Tak hanya sebagai pemenuhan tugas dari dosen pembimbing mata kuliah dasar-
dasar epidemiologi lingkungan, makalah ini juga penyusun susun agar pembaca
sekaligus penyusun dapat mengetahui dan memahami mengenai :
a. Bagaimanakah konsep dari epidemiologi penyakit DHF ?
b. Bagaimanakah konsep dari surveilans penyakit DHF ?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Konsep Epidemiologi Penyakit DHF
Penyebab penyakit demam berdarah dengue adalah Virus Dengue yang termasuk
group B Arthropod Borne Viruses (Arbovirosis), terdiri dari 4 tipe (tipe 1, 2, 3, 4). Serotipe
virus dominan di Indonesia adalah tipe 3 yang tersebar di berbagai daerah dan
menyebabkan kasus yang berat. Daerah yang terdapat lebih dari satu serotipe
berkosirkulasi atau daerah mengalami epidemi secara berurutan yang disebabkan oleh
serotipe yang berbeda maka akan ditemukan infeksi yang berat dan dikenal sebagai
dengue shock sindrome (DSS). Studi epidemiologis menunjukkan DHF/DSS sebagian
besar terjadi pada penderita yang terinfeksi untuk ke dua kalinya oleh virus dengan
serotipe berbeda dari infeksi virus yang pertama kalinya. Infeksi virua DBD dapat
asimtomatis dan simptomatis.
1. Defenisi
Penyakit DBD adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh virus
dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypti, yang dapat menyerang semua
umur, terutama anak-anak (Ditjen PPM & PL Depkes RI, 2003).
2. Etiologi
Penyebab penyakit ini adalah virus dengue yang sampai sekarang dikenal ada 4
tipe (tipe 1, 2, 3dan 4), termasuk dalam group B Anthropod Borne Virus (Arbovirus),
keempat virus ini telah ditemukan di berbagai daerah di Indonesia. Penelitian di
Indonesia menunjukkan Dengue tipe-3 merupakan serotype virus yang dominant
yang menyebabkan kasus yang berat. Masa inkubasi penyakit demam berdarah
dengue diperkirakan ≤ 7 hari.
3. Penularan
Penularan penyakit demam berdarah dengue umumnya ditularkan melalui gigitan
nyamuk aedes aegypti meskipun dapat juga ditularkan oleh Aedes Albopictus yang
hidup di kebun. Kedua jenis nyamuk ini terdapat hampir di seluruh pelosok
Indonesia, kecuali di tempat-tempat dengan ketinggian lebih dari 1000 meter di atas
permukaan laut. Orang yang kemasukan virus dengue untuk pertama kali, umumnya
hanya menderita sakit demam dengue atau demam yang ringan dengan tanda/gejala
yang tidak spesifik bahkan tidak memperlihatkan tanda-tanda sakit sama sekali
(Asimtomatis). Penderita demam dengue biasanya akan sembuh sendiri dalam
waktu 5 hari tanpa pengobatan. Tetapi apabila orang sebelumnya sudah pernah
kemasukan virus dengue, kemudian kemasukan virus dengue dengan virus tipe lain
maka orang tersebut dapat terserang penyakit demam berdarah dengue (Teori
Infeksi Sekunder).
Secara epidemiologi terdapat tiga faktor yang memegang peranan pada
penularan infeksi virus dengue, yaitu manusia, virus, dan vektor perantara. Virus
dengue ditularkan kepada manusia melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti.
Selain Eedes aegypti, keberadaan nyamuk Aedes albopictus, Aedes
polynesiensis dapat berperan sebagi vector. Pada Aedes dapat mengandung virus
dengue pada saat menggigit manusia yang sedang mengalami viremia. Kemudian
virus yang ada di kelenjar liur berkembang biak dalam waktu 8-10 hari (extrinsic
incubation period) sebelum dapat ditularkan kembali kepada manusia pada saat
gigitan berikutnya.
Virus dalam tubuh nyamuk betina dapat ditularkan kepada telurnya (transovarian
transmission), namun perannya dalam penularan virus tidak penting. Sekali virus
dapat masuk dan berkembang biak di dalam tubuh nyamuk, nyamuk tersebut akan
dapat menularkan virus selama hidupnya (infektif).
Di dalam tubuh manusia, virus memerlukan waktu masa tunas 4-6 hari (intrinsic
incubation period) sebelum menimbulkan penyakit. Penularan dari manusia kepada
nyamuk hanya dapat terjadi bila nyamuk menggigit manusia yang sedang mengalami
viremia, yaitu 2 hari sebelum panas sampai 5 hari setelah demam timbul.
Manusia merupakan pembawa utama virus dengue. Berdasarkan beberapa
penelitian, perbaikan transportasi yang disertai perpindahan orang dan barang yang
cepat dari daerah dengue ke daerah nondengue atau sebaliknya. Kepadatan
penduduk dapat mempermudah transmisi virus dengue karena sifat multiple-bitting
dari virus
4. Manifestasi Klinis
a. Demam
Penyakit ini didahului oleh demam tinggi yang mendadak, terus menerus
berlangsung 2-7 hari, kemudian turun secara cepat.
b. Tanda-Tanda Pendarahan
Sebab pendarahan pada penderita penyakit DBD ialah :
1) Trombositopeni
2) Gangguan fungsi trombosit
Perdarahan ini terjadi di semua organ. Bentuk perdarahan dapat berupa:
1) Uji Tourniquet (Rumple Leede) positif
Uji Torniquet positif sebagai tanda perdarahan ringan, dapat dinilai
sebagai ”presumtif test” (dugaan keras) oleh karena Uji Torniquet positif pada
hari-hari pertama demam ditemukan pada sebagian besar penderita penyakit
DBD. Namum uji Torniquet positif juga dijumpai pada penyakit virus lain
(campak, demamchikungunyah) di lengan bawah bagian depan (volar) dekat
lipat siku (fosa cubiti).
2) Petechiae, Purpura, Echymosis dan perdarahan conjunctiva
Petechiae sulit dibedakan dengan bekas gigitan nyamuk.
Untuk membedakannya maka regangkanlah kulit, jika hilang maka bukan
petheciae. Petechiae merupakan tanda perdarahan yang tersering
ditemukan. Tanda ini dapat muncul pula perdarahan subkonjunctiva atau
hematuri.
3) Hematemesis, melena.
4) Hematuria.
c. Hepatomegali (Pembesaran Hati)
Sifat pembesaran hati :
1) Pembesaran hati pada umumnya dapat ditemukan pada permulaan penyakit.
2) Pembesaran hati tidak sejajar dengan beratnya penyakit.
3) Nyeri tekan sering kali ini ditemukan tanpa disrtai ikterus.
Pembesaran hati mungkin disebabkan strain serotipe virus dengue.
d. Renjatan (Shock)
Tanda-tanda renjatan :
1) Kulit terasa dingin dan lembab terutama pada ujung jari dan kaki.
2) Penderita menjadi gelisah.
3) Sianosis disekitar mulut.
4) Nadi cepat, lemah, kecil sampai tak teraba.
5) Tekanan nadi menurun (menjadi 20 mmHg atau kurang).
6) Tekanan darah menurun (tekanan sistolik menurun sampai 80 mmHg
atau kurang).
Sebab renjatan :
1) Karena perdarahan atau
2) Karena kebocoran plasma ke darah ekstra vaskuler melalui kapiler yang
rusak.
e. Trombositopeni
1) Jumlah trombosit di bawah 150.000/mm3 biasanya ditemukan diantara heri
ketiga samapi ke tujuh sakit.
2) Pemeriksaan trombosit dilakukan minimal dua kali. Pertama pada
waktu pasien masuk dan apabila normal diulangi pada hari kelima sakit. Bila
perlu diulangi lagi pada hari ke 6-7 sakit.
f. Hemokonsentrasi
Meningkatnya nilai hematokrit (Ht) merupakan indikator yang peka terhadap
akan terjadinya renjatan sehingga perlu dilakukan pemeriksaan berulang secara
periodik.
g. Gejala Klinik lain
1) Gejala klinik lain yang dapat menyertai penderita penyakit DBD ialah
anoreaksi, lemah, mual, muntah, sakit perut, diare atau konstipasi dan
kejang.
2) Pada beberapa kasus terjadinya kejang disertai hiperpireksia dan penurunan
kesadaran sehingga sering di diagnosa sebagai ensefalitis.
3) Keluhan sakit perut yang hebat sering kali timbul mendahului perdarahan
gastrointestinal dan renjatan.
5. Patofisiologi
Patofisiologi utama yang menentukan berat penyakit ialah :
a. Meningginya permeabilitas dinding pembuluh darah
b. Menurunnya volume plasma darah
c. Terjadinya hipotensi
d. Trombositopeni
e. Diatesis hemoragik
Penyelidikan autopsi 100 penderita penyakit DBD yang meninggal membuktikan
terdapat kerusakan umum sistem vaskuler akibat peninggian permeabilitas dinding
pembuluh darah terhadap protein plasma dan efusi pada ruang serosa, di daerah
peritoneal, pleural dan perikardia.
Pada kasus berat pengurangan volume dapat mencapai 30% atau lebih.
Menghilangnya plasma melalui endotelium ditandai oleh pengkatan nilai hematokrit
mengakibatkan keadaan hipovolemik dan menimbulkan renjatan. Renjatan yang
ditanggulangi secara tidak adekuat menimbulkan anoksia jaringan, asidosis
metabolik dan kematian.
Kerusakan dinding pembuluh darah bersifat sementara oleh karena itu dengan
pemberian cairan yang cukup, renjatan dapat diatasi dengan cepat dan efusi pleura
setelah beberapa hari akan menghilang.
Sebab lain kematian DBD ialah perdarahan hebat pada saluran pencernaan yang
biasanya timbul setelah renjatan berlangsung lama dan tidak dapat diatasi.
Patogenesa perdarahan pada penyakit DBD telah diselidiki secara intensif yaitu
disebabkan trombositopeni hebat dan gangguan fungsi trombosit di samping
difisiensi ringan atau sedang dari faktor I, II, V, VII, IX dan X dan faktor kapiler.
Penyelidikan mendalam mengenai jumlah trombosit Fibrina Degration Produc (FDP),
morfologi eritrosit dan penyelidikan post mortem membuktikan bahwa DIC
mempunyai peranan dalam terjadinya perdarahan penyakit DBD, tetapi bukan
penyebab utama.
Pada otopsi ditemukan perdarahan di lambung, usus halus, subendokard, kulit,
subkapsular hepar, paru, dan jaringan lunak. Di samping itu didapatkan peningkatan
daya fatogenesis dan proliferasi sistem retikuloendotelial. Kelainan hepar secara
patologi anatomi sesuai dengan kelainan dari yellow Feber.
Penyelidikan terakhir membuktikan bahwa kompleks dan aktipasi sitem komplemen
memegang peranan penying dalam patogenesa penyakit DBD/DSS. Kompleks imun
telah ditemukan pada penderita antara hari ke-5 dan ke-7 sakit, saat terserang
renjatan terjadi. Produksi aktifitas komplemen yaitu C3a dan C5a yang mempunyai
sifat anafilatoksin dianggap sebagai penyebab kerusakan dinding kapiler yang
menimbulkan peninggian permeabilitas dinding pembuluh darah.
6. Diagnosa Penyakit
Diagnosa penyakit DBD ditegakkan jika ditemukan :
a. Demam tinggi mendadak, tanpa sebab jelas, berlangsung terus menerus selama
2-7 hari.
b. Tanda perdarahan dan/atau Pembesaran hati
c. Thrombositopeni (150.000/mm3 atau kurang)
d. Hemokonsentrasi yang dapat dilihat dari meningginya hematokrit sebanyak 20%
atau lebih dibandingkan dengan nilai hematokrit selama dalam perawatan.
Dengan patokan ini, 87% penderita yang tersangka penyakit DBD ternyata
diagnosanya tepat (dibuktikan dengan pemeriksaan serologi).
7. Pengobatan
Pengobatan yang spesifik DBD belum ada. Dasar pengobatan penderita penyakit
DBD simptomatis adalah penggantian cairan tubuh yang hilang karena kebocoran
plasma.
8. Pencegahan
Pencegahan penyakit DBD sangat tergantung pada pengendalian vektornya,
yaitu nyamuk aides aegypti. Pengendalian nyamuk tersebut dapat dilakukan dengan
menggunakan beberapa metode yang tepat baik secara lingkungan, biologis maupun
secara kimiawi yaitu :
a. Lingkungan
Metode lingkungan untuk mengendalikan nyamuk tersebut antara lain dengan
pemberantasan sarang nyamuk (PSN), pengelolaan sampah padat, modofikasi
tempat perkembangbiakan nyamuk hasil samping kegiatan manusia, dan
perbaikan desain rumah.
PSN pada dasarnya merupakan pemberantasan jentik atau mencegah agar
nyamuk tidak berkembang tidak dapat berkembang biak. Pada dasarnya PNS ini
dapat dilakukan dengan :
1) Menguras bak mandi dan tempat-tempat panampungan air sekurang-
kurangnya seminggu sekali,. Ini dilakukan atas dasar pertimbangan bahwa
perkembangan telur agar berkembang menjadi nyamuk adalah 7-10 hari.
2) Menutup rapat tempat penampungan air seperti tempayan, drum, dan tempat
air lain dengan tujuan agar nyamuk tidak dapat bertelur pada tempat-tempat
tersebut.
3) Mengganti air pada vas bunga dan tempat minum burung setidaknya
seminggu sekali.
4) Membersihkan pekarangan dan halaman rumah dari barang-barang bekas
terutama yang berpotensi menjadi tempat berkembangnya jentik-jentik
nyamuk, seperti sampah keleng, botol pecah, dan ember plastik.
5) Munutup lubang-lubang pada pohon terutama pohon bambu dangan
menggunakan tanah.
6) Membersihkan air yang tergenang di atap rumah serta membersihkan
salurannya kembali jika salurannya tersumbat oleh sampah-sampah dari
daun.
b. Biologis
Pengendalian secara biologis adalah pengandalian perkambangan nyamuk
dan jentiknya dengan menggunakan hewan atau tumbuhan. seperti memelihara
ikan cupang pada kolam atau menambahkannya dengan bakteri Bt H-14.
c. Kimiawi
Pengendalian secara kimiawi merupakan cara pengandalian serta
pembasmian nyamuk serta jentiknya dengan menggunakan bahan-bahan kimia.
Cara pengendalian ini antara lain dengan :
1) Pengasapan/fogging dengan menggunakanmal athion danf enthion yang
berguna untuk mengurangi kemungkinan penularan aides aegypti sampai
batas tertentu.
2) Memberikan bubuk abate (temephos) pada tempat-tempat penampungan air
seperti gentong air, vas bunga, kolam dan lain-lain.
Cara yang paling mudah namun efektif dalam mencegah penyakit DBD adalah
dengan mengkombinasikan cara-cara diatas yang sering kita sebut dengan istilah
3M plus yaitu dengan menutup tempat penampungan air, menguras bak mandi dan
tempat penampungan air sekurang-kurangnya seminggu sekali serta menimbun
sempah-sampah dan lubang-lubang pohon yang berpotensi sebagai tempat
perkembangan jentik-jentik nyamuk. Selain itu juga dapat dilakukan dengan
melakukan tindakanplus seperti memelihara ikan pemakan jentik-jentik nyamuk,
menur larvasida, menggunakan kelambu saat tidur, memesang kasa, menyemprot
dengan insektisida, menggunakan repellent, memesang obat nyamuk, memeriksa
jentik nyamuk secara berkala serta tindakan lain yang sesuai dengan kondisi
setempat.
B. Konsep Surveilans DHF
Surveilans Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah proses pengumpulan,
pengolahan, analisis dan interpretasi data, serta penyebarluasan informasi ke
penyelenggara program dan pihak / instansi terkait secara sistematis dan terus menerus
tentang situasi DBD di daerah endemik atau non endemik dan kondisi yang
mempengaruhi terjadinya peningkatan dan penularan penyakit tersebut agar dapat
dilakukan tindakan penanggulangan secara efektif dan efisien.
1. Justifikasi
Penyakit DBD merupakan vektor-born disease dan potensial terjadi KLB,
program penanggulangan dilakukan oleh unit program P2B bersama program terkait.
Surveilans DBD terutama ditujukan untuk deteksi KLB dan monitoring program
penanggulangan.
Setiap letusan Kejadian Luar Biasa (KLB) dilakukan penyelidikan epidemiologi
dan pemutusan penularan serta pengambilan dan pemeriksaan spesimen.
2. Tujuan Surveilans DBD
Tujuannya adalah tersedianya data dan informasi epidemiologi penyakit DBD
sebagai dasar manajemen kesehatan untuk pengambilan keputusan dalam
perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, evaluasi program kesehatan dan
peningkatan kewaspadaan, dimana surveilans epidemiologi di daerah non endemik
menjadi tindakan penanggulangan secara efektif dan efesien untuk mengurangi
peningkatan dan penularan penyakit DBD.
3. Sasaran Surveilans DBD
Sasaran surveilans epidemiologi penyakit DBD adalah Sebagai berikut :
a. Individu
Pengamatan dilakukan pada individu yang terinfeksi dan mempunyai potensi
untuk menularkan penyakit DBD sampai individu tersebut tidak membahayakan
dirinya maupun lingkungannya.
b. Populasi lokal
Populasi lokal ialah kelompok penduduk yang terbatas pada orang-orang
dengan risiko terkena suatu penyakit (population at risk). Pengamatan dilakukan
pada individu yang kontak dengan penderita DBD, pada pejamu yang rentan
(misalnya bayi), dan terhadap kelompok individu yang mempunyai peluang untuk
kontak dengan penderita (misalnya tenaga medis).
b. Populasi nasional
Populasi nasional ialah pengamatan yang dilakukan terhadap semua
penduduk secara nasional. Hal ini dilakukan setelah program pemberantasan
dilaksanakan.
c. Populasi internasional
Kegiatan ini berupa pengamatan terhadap penyakit yang dilakukan oleh
berbagai negara secara bersama-sama, yang ditujukan untuk penyakit-penyakit
yang mudah menimbulkan epidemic atau pandemi. Tujuan dilaksanakannya
pengamatan ini adalah untuk saling memberi informasi tentang epidemi yang
timbul di suatu negara agar negara lain yang tidak terkena dapat melakukan
upaya pencegahan.
4. Defenisi Kasus
Kriteria klinis DBD :
DBD ditandai dengan gejala awal demam yang mendadak serta timbulnya tanda dan
gejala klinis yang tidak khas. Terdapat kecenderungan diatesis hemoragik dan resiko
terjadi syok yang dapat berakibat kematian. Hemostatis yang abnormal dan
kebocoran plasma adalah perubahan patofisologis yang paling mencolok, disertai
trombositoplania dan hemokonsentrasi merupakan temuan yang selalu ada.
a. Kasus Suspek
1) Demam Dengue, memiliki dua atau lebih tanda-tanda berikut ini :
a) Demam medadak dengan sakit kepala bagian dahi (prontal).
b) Nyeri belakang mata.
c) Nyeri otot dan sendi.
d) Timbul rash/kemerahan.
2) DHF
Kasus dengan demam tinggi mendadak dalam jangka waktu 2-7 hari dengan
satu atau lebih gejala berikut ini :
a) Tes torniquet positif.
b) Perdarahan di bawah kulit( Petechiae, Encymoses, Purpura, perdarahan
di sekitar tempat penyuntikan).
c) Perdarahan pada mukosa (Hematemisis, Melena).
d) Pembesaran hati.
3) DSS
Kasus dengan gejala DHF disertai tanda-tanda adanya shock (tekanan nadi ≤
20 mm/hg, dingin, kulit basah).
b. Kasus Tersangka (Probable)
1) Demam dengue adalah suspeck kasus yang mempunyai hubungan
epidemiologi dengan kasus yang mempunyai hubungan epidemiologi dengan
kasus pasti.
2) DHF : kasus dengan hitung jenis thrombocyt ≤ 100-000/mm3,
3) DSS : kasus dengan kenaikan hematocrit 25% atau lebih.
c. Kasus Pasti (Konfirmasi Laboratorium)
Kasus Pasti (Konfirmasi Laboratorium) adalah kasus dengan gejala di bawah ini :
1) Kenaikan titer 4 kali kadar antibodi IgH.
2) Ditemukan IgM (pada KLB).
3) Dapat Isolasi virus dengue dari serum atau spesimen otopsi.
d. Klasifikasi Daerah (desa) Rawan DBD
1) Desa Rawan I (endemis) yaitu desa yang dalam 3 tahun terakhir selalu ada
kasus DBD.
2) Desa Rawan II (sporadis) yaitu dalam 3 tahun terakhir ada kasus DBD.
3) Desa Rawan III (potensial) yaitu dalam 3 tahun tidak ada kasus, tetapi
berpenduduk padat, transpormasi rawan dan ditemukan jentik ≥ 5%. Desa
bebas yaitu desa yang tidak pernah ada kasus.
5. Sumber Data Surveilans DBD
a. Rumah Sakit
Laporan morbiditas dan mortalitas bulanan penderita rawat inap dan rawat
jalan laporan rumah sakit melalui Laporan RL2a dan RL2b yang dirangkum pada
data system surveilans terpadu penyakit (SSTP) Kabupaten/Kota Provinsi.
b. Puskesmas
Laporan morbiditas puskesmas melalui laporan SP2TP atau SP3 atau
SIMPUS yang datanya dirangkum dalam data Sistem Surveilans Terpadu
Penyakit (SSTP) kabupaten/Kota atau Provinnsi, arau laporan puskesmas
sentinel bagi Kabupaten/Kota dan Surveilans Provinsi, serta laporan W1 (24 jam)
bila ada indikasi KLB. Laporan bulan program dengan Form K. DBD di
Puskesmas dan tingkat Kabupaten/Kota.
c. Hasil pemeriksaan Laboratorium
Belum semua Balai Laboratorium Kesehatan pusat/daerah dapat melakukan
pemeriksaan tetapi data hasil pemeriksaan laboratorium perlu dimanfaatkan
dalam analisa surveilans.
d. Data Kegiatan Program
Laporan pelaksanaan Fogging dari Form K. DBD dan angka jentik berkala
(ABJ) hasil kegiatan PJB yang dilakukan surveilans kabupaten/kota.
6. Presentasi dan Analisa Data
a. Grafik kasus DBD menurut umur, waktu bulan / tahun dan klasifikasi diagnose
DBD.
b. Tabel kasus dan kematian DBD menurut umur dan klasifikasi diagnosa untuk
meningkatkan manajemen kasus dan Insiden rate per area geografis kasus.
c. Map Insiden Rate/100.000 populasi menurut area geografis dan klasifikasi
daerah rawan DBD.
7. Kegunaan Data Surveilans untuk Manajemen
Kegunaan informasi epidemiologi yang dihasilkan dapat digunakan sebagai berikut :
a. Monitoring Case Fatality Rate untuk meningkatkan manajemen kasus di RS.
b. Monitor insiden rate untuk menilai dampak program.
c. Dapat mendeteksi KLB agar dapat melakukan segera tindakan penanggulangan.
d. Informasi insidens rate menurut umur, geografis untuk mengetahui daerah rawan
DBD.
e. Penyelidikan epidemiologi KLB akan mengetahui epidemiologi dan mengetahui
faktor penyebab terjadi KLB agar tidak terulang kembali.
8. Alur Pelaporan Penyakit DBD
a. Pelaporan Rutin
1) Pelaporan dari unit pelayanan kesehatan (selain puskesmas).
2) Pelaporan dari puskesmas ke dinas kesehatan kabupaten/kota.
3) Pelaporan dari dinas kesehatan kabupaten / kota ke dinas kesehatan
provinsi.
4) Pelaporan dari dinas kesehatan provinsi ke Ditjen PP & PL.
b. Umpan balik pelaporan
Umpan balik pelaporan perlu dilaksanakan guna meningkatkan kualitas dan
memelihara kesinambungan pelaporan, kelengkapan dan ketepatan waktu
pelaporan serta analisis terhadap laporan. Frekuensi umpan balik oleh masing –
masing tingkat administrasi dilaksanakan setiap tiga bulan, minimal dua kali
dalam setahun.
Sistem surveilans penyakit DBD adalah pengamatan penyakit DBD di
Puskesmas meliputi kegiatan pencatatan, pengolahan dan penyajian data
penderita DBD untuk pemantauan mingguan, laporan mingguan wabah, laporan
bulanan program P2DBD, penentuan desa / kelurahan rawan, mengetahui
distribusi kasus DBD / kasus tersangka DBD per RW / dusun, menentukan
musim penularan dan mengetahui kecenderungan penyakit.
9. Tahapan Surveilans DBD
a. Tahap Persiapan
Tahap persiapan dalam survailens epidemiologi penyakit demam
berdarah merupakan identifikasi faktor risiko DBD untuk menggambarkan tingkat
risiko suatu wilayah, yang telah diambil sebelum musim penularan DBD hingga
mulai terjadinya kasus melalui kegiatan survey cepat. Materi faktor risiko dibatasi
pada faktor perilaku dan lingkungan, sedangkan faktor vector(nyamuk) misalnya
jarak terbang nyamuk, jenis nyamuk dan kepadatan nyamuk tidak dimasukkan
sebagai variable mengingat tingginya tingkat mobilitas penduduk memungkinkan
seseorang menderita DBD dari penularan nyamuk di daerah lain. Pada tahap
pertama dihasilkan peta stratifikasi faktor risiko DBD untuk masing-masing desa.
Hasil dari tahap ini digunakan untuk intervensi guna pengendalian faktor risiko
sesuai hasil survey cepat. Materi penelitian dianalisis berdasarkan unsur–unsure
epidemiologi yaitu orang, tempat dan waktu, yang ditampilkan dalam bentuk
peta faktor risiko.
b. Tahap Pengumpulan Data
Berdasarkan Ditjen PPM & PL Depkes RI (2005) dalam Leviana Erdiati
(2009) bahwa pengumpulan dan pencatatan data dapat dilakukan yaitu :
1) Pengumpulan dan pencatatan dilakukan setiap hari, bila ada laporan
tersangka DBD dan penderita DD, DBD, SSD. Data tersangka DBD dan
penderita DD, DBD, SSD yang diterima puskesmas dapat berasal dari rumah
sakit atau dinas kesehatan kabupaten/kota, puskesmas sendiri atau
puskesmas lain (cross notification) dan puskesmas pembantu, unit pelayanan
kesehatan lain (balai pengobatan, poliklinik, dokter praktek swasta, dan lain –
lain), dan hasil penyelidikan epidemiologi (kasus tambahan jika sudah ada
konfirmasi dari rumah sakit / unit pelayanan kesehatan lainnya).
2) Untuk pencatatan tersangka DBD dan penderita DD, DBD, SSD
menggunakan ‘Buku catatan harian penderita DBD’ yang memuat catatan
(kolom) sekurang – kurangnya seperti pada form DP-DBD ditambah catatan
(kolom) tersangka DBD.
c. Tahap Analisis Dan Interpretasi
1) Analisis Data
Data yang terkumpul dari kegiatan surveilans epidemiologi diolah dan
disajikan dalam bentuk tabel situasi demam berdarah tiap puskesmas, RS
maupun daerah. serta tabel endemisitas dan grafik kasus DBD per
minggu/bulan/tahun. Analisis dilakukan dengan melihat pola maksimal-
minimal kasus DBD, dimana jumlah penderita tiap tahun ditampilkan
dalam bentuk grafik sehingga tampak tahun dimana terjadi terdapat jumlah
kasus tertinggi (maksimal) dan tahun dengan jumlah kasus terendah
(minimal). Kasus tertinggi biasanya akan berulang setiap kurun waktu 3–5
tahun, sehingga kapan akan terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) dapat
diperkirakan. Analisis juga dilakukan dengan membuat rata–rata jumlah
penderita tiap bulan selama 5 tahun, dimana bulan dengan rata–rata jumlah
kasus terendah merupakan bulan yang tepat untuk intervensi karena
bulanberikutnya merupakan awal musim penularan.
Analisis merupakan langkah penting dalam surveilans epidemiologi
karena akan dipergunakan untuk perencanaan,monitoring dan evaluasi serta
tindakan pencegahan dan penanggulangan penyakit. Kegiatan ini
menghasilkan ukuran-ukuran epidemiologi seperti rate, proporsi, rasio dan
lain-lain untuk mengetahui situasi, estimasi dan prediksi penyakit.
Dalam program pemberantasan DBD dikenal beberapa indikator yang
diperoleh dari hasil analisis data yaitu :
a) Angka kesakitan/CFR (Case Fatality Rate) merupakan jumlah kasus
DBD disuatu wilayah tertentu selama 1 tahun tiap 100 ribu penduduk.
b) Angka kematian / IR (Insidence Rate) adalah banyaknya penderita DBD
yang meninggal dari seluruh penderita DBD di suatu wilayah.
c) ABJ (Angka Bebas Jentik) didefinisikan sebagai presentase rumah yang
bebas dari jentik dari seluruh rumah yang diperiksa.
Puskesmas, Rumah Sakit, Laboratorium, Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota, Dinas kesehatan Propinsi dan Ditjen PPM & PL Depkes
berperan dalam penyelenggaraan Surveilans Terpadu Penyakit bersumber
data Puskesmas (STP Puskesmas), Rumah Sakit (STP Rumah Sakit) dan
Laboratorium (STP Laboratorium).
2) Interpretasi Data
Data surveilans DBD didapatkan dari Ditjen PP & PL Depkes RI tahun
2009 yang disajikan dalam bentuk tabel, grafik yang menjelaskan penyebaran
penyakit DBD di Indonesia. Penyebaran kasus DBD dilihat dari tahun 1968 –
2009 di seluruh provinsi di Indonesia yang disajikan dalam bentuk tabel. Dari
data surveilans tersebut juga dapat dilihat Angka Insiden ( AI ) / Insident Rate
( IR ) berdasarkan 100.000 penduduk dari tahun 1968 – 2009. Jika terjadi
peningkatan kasus DBD tiap tahunnya maka harus dilakukan program
pengendalian DBD dan menjadi perhatian utama pada tingkat
Kota/Kabupaten maupun Puskesmas.
Selain itu, dengan menggunakan data surveilans, Angka Insiden pada
tahun 2009 di setiap Provinsi dapat diketahui. Hasil analisis ini dapat
disajikan menggunakan grafik sehingga dapat diketahui Provinsi mana saja
yang mengalami kasus DBD tertinggi maupun terendah. Selain Analisis data
surveilans DBD menurut tempat dan waktu, analisis juga dilakukan menurut
orang dengan menghitung Angka Insiden berdasarkan kelompok umur
dan Jenis Kelamin. Dari data yang ada, dapat dihitung pula Angka Kematian
/ Case Fatality Rate ( CFR ) berdasarkan provinsi di Indonesia.
Jika data surveilans didapatkan dari laporan kasus rawat inap dan kasus
rawat jalan pasien DBD di RS dari tahun 2004-2008 dan tidak diketahui
jumlah rumah sakit yang melaporkan dari tahun ke tahun, sehingga sulit
menganalisis atau menginterpretasi data tersebut. Dari data ini tampak cukup
banyak pasien DBD yang di rawat jalan, sehingga perlu dilakukan validasi
data apakah pasien rawat jalan adalah pasien kontrol pasca rawat inap saja
atau pasien lama diitambah dengan pasien baru.
Selain laporan dari Puskesmas, RS, Dinkes dll. Analisis juga dapat
menggunakan faktor- faktor yang mempengaruhi kejadian DBD seperti
perubahan iklim dapat memperpanjang masa penularan penyakit yang
ditularkan melalui vektor dan mengubah luas geografinya, dengan
kemungkinan menyebar ke daerah yang kekebalan populasinya rendah atau
dengan infrastruktur kesehatan masyarakat yang kurang. Selain perubahan
iklim faktor risiko yang mungkin mempengaruhi penularan DBD adalah faktor
lingkungan, urbanisasi, mobilitas penduduk, kepadatan penduduk dan
transportasi.
Selain itu, laporan KLB yang didapatkan dari Puskesmas, RS, Dinkes dll
dapat digunakan untuk analisis hubungannya dengan IR maupun CFR pada
setiap provinsi. Yang kemudian hasil analisis ini dapat digunakan sebagai
landasan atau acuan Puskesmas, RS, Dinkes dll. Untuk membuat upaya
program pencegahan DBD.
d. Tahap Diseminasi dan Advokasi
1) Tahap Diseminasi
Tahap diseminasi yakni melakukan penyiapan bahan perencanaan,
monitoring & evaluasi, koordinasi kajian, pengembangan dan diseminasi,
serta pendidikan dan pelatihan bidang surveilans epidemiologi (BBTKLPP,
2013). Yang mana hasil analisis dan interpretasi didiseminasikan kepada
orang-orang yang berkepentingan dan sebagai umpan balik (feedback) agar
pengumpulan data di masa yang akan datang menjadi lebih baik. Diseminasi
berguna kepada orang-orang yang mengumpulkan data, decision
maker, orang-orang tertentu (pakar) dan masyarakat. Pelaksanaan
diseminasi dapat berupa buletin dan laporan, seminar, symposium serta
laporan (Isna, 2013).
Contohnya seperti yang tertera pada Buletin Jendela Epidemiologi tahap
disseminasi informasi yang telah dilakukan yaitu :
a) Buletin Jendela Epidemiologi Vol.2 yang diterbitkan pada Agustus 2010
merupakan salah satu bentuk disseminasi informasi surveilans
epidemiologi pada penyakit DBD yang diterbitkan oleh Kementerian
Kesehatan RI.
b) Laporan data berupa grafik dan tabel mengenai kejadian DBD yang
bersumber dari penelitian, Depkes RI dan WHO.
c) Metode komunikasi/penyampaian informasi/pesan pada perubahan
perilaku dalam pelaksanaan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk)
melalui pendekatan sosial budaya setempat yaitu Metode Communication
for Behavioral Impact (COMBI).
2) Tahap Advokasi
Tahap advokasi yakni melakukan penyiapan bahan perencanaan,
monitoring & evaluasi, koordinasi pelaksanaan advokasi dan fasilitasi
kejadian luar biasa, serta wabah dan bencana (BBTKLPP, 2013). Advokasi
dilakukan kepada Bupati / Walikota dan DPRD.
Contohnya seperti yang tertera pada Buletin Jendela Epidemiologi tahap
advokasi yang telah dilakukan yaitu :
a) Pengendalian vektor melalui surveilans vektor diatur dalam Kepmenkes
No.581 tahun 1992, bahwa kegiatan pemberantasan sarang nyamuk
(PSN) dilakukan secara periodik oleh masyarakat yang dikoordinir oleh
RT/RW dalam bentuk PSN dengan pesan inti 3M plus.
b) Pada provinsi yang belum mencapai target dalam menurunkan AK maka
dilakukan pelatihan manajemen kasus terhadap petugas, penyediaan
sarana dan prasarana untuk deteksi dini dan penanganan yang tepat dan
cepat.
e. Tahap Evaluasi
Tahap evaluasi system surveilans merupakan suatu tahapan dalam
surveilans yang dilakukan secara sistematis untuk menilai efektivitas program.
Hasil evaluasi terhadap data system surveilans selanjutnya dapat digunakan
untuk perencanaan, penanggulangan khusus serta program pelaksanaannya,
untuk kegiatan tindak lanjut (follow up), untuk melakukan koreksi dan perbaikan-
perbaikan program dan pelaksanaan program, serta untuk kepentingan evaluasi
maupun penilaian hasil kegiatan.
Setiap program surveilans sebaiknya dinilai secara periodik untuk
mengevaluasi manfaatnya. Sistem atau program tersebut dikatakan dapat
berguna apabila secara memuaskan memenuhi paling tidak salah satu dari
pernyataan berikut :
1) Apakah kegiatan surveilans dapat mendeteksi kecenderungan yang
mengidentifikasi perubahan dalam kejadian kasus penyakit,
2) Apakah program surveilans dapat mendeteksi epidemic kejadian penyakit di
wilayah tersebut,
3) Apakah kegiatan surveilans dapat memberikan informasi tentang besarnya
morbiditas dan mortalitas yang berhubungan dengan kejadian penyakit di
wilayah tersebut,
4) Apakah program surveilans dapat mengidentifikasi faktor-faktor resiko yang
berhubungan dengan kejadian penyakit, dan
5) Apakah program surveilans tersebut dapat menilai efek tindakan
pengendalian (Arias, 2010).
Seperti contoh kasus DBD, surveilans epidemiologi untuk kasus DBD ini juga
memiliki tahapan-tahapan dalam pelaksanaannya. Hingga diakhir tahapan
dilakukannya evaluasi dari system surveilans epidemiologi DBD tersebut.
Berdasarkan pemaparan pada bulletin Jendela Epidemiologi DBD tersebut,
data hasil surveilans DBD seperti angka kejadian DBD tertinggi tahun 2009
terdapat pada daerah DKI Jakarta. Sehingga, perlu dilakukannya evaluasi serta
peningkatan yang lebih signifikan lagi dalam program-program pemberantasan
kasus DBD di provinsi tersebut. Seperti, program pengendalian vektor DBD.
Program tersebut dapat dilakukan dengan beberapa metode yakni:
1) Pengendalian Biologis (pengendalian jumlah predator vector untuk
mengendalikan jumlah vektor DBD)
2) Pengendalian kimiawi (melalui penggunaan insektisida)
3) Perlindungan individu (penggunaan repellent, penggunaan pakaian yang
menguran gigigitan nyamuk)
4) Partisipasi masyarakat
5) Peraturan Perundangan (bahwa pengendalian DBD juga memerlukan peran
serta masyarakat bukan hanya dari sector kesehatan).
Dengan adanya evaluasi program-program kesehatan yang telah dilakukan
diharapkan dapat lebih mengefektifkan serta mengefisienkan program
pengendalian kasus DBD. Sehingga, program pengendalian yang dilakukan tidak
hanya sia-sia dan dapat bermanfaat khususnya dalam menurunkan jumlah
kejadian kasus DBD di daerah setempat.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Demam berdarah dengue merupakan masalah kesehatan masyarakat sampai saat
ini, hal ini disebabkan demam berdarah dengue menyebar diseluruh dunia yang dapat
menjangkiti semua golongan usia. Studi epidemiologis menunjukkan DHF/DSS sebagian
besar terjadi pada penderita yang terinfeksi untuk ke dua kalinya oleh virus dengan
serotipe berbeda dari infeksi virus yang pertama kalinya. Infeksi virua DBD dapat
asimtomatis dan simptomatis.
Upaya pencegahan dan pemberantasan DBD yang telah dilakukan pemerintah,
antara lain dengan metode pengasapan (fogging) dan abatisasi. Cara yang paling
mudah namun efektif dalam mencegah penyakit DBD adalah dengan
mengkombinasikan cara-cara diatas yang sering kita sebut dengan istilah 3M plus yaitu
dengan menutup tempat penampungan air, menguras bak mandi dan tempat
penampungan air sekurang-kurangnya seminggu sekali serta menimbun sempah-
sampah dan lubang-lubang pohon yang berpotensi sebagai tempat perkembangan
jentik-jentik nyamuk.

B. Saran
Dengan selesainya penyusunan makalah ini, penyusun berharap semoga makalah
ini akan dapat bermanfaat bagi pembaca dalam hal penambahan wawasan.
DAFTAR PUSTAKA

https://www.academia.edu/3650480/MATERI_EPIDEMIOLOGI_BY_YUSRIANI. Diakses
pada tanggal 27 Oktober 2018.
https://www.scribd.com/doc/251478126/Surveilans-Dbd. Diakses pada tanggal 17 Oktober
2018.
https://www.scribd.com/document/356288370/Makalah-Surveilans-Dbd. Diakses pada 17
Oktober 2018.