Anda di halaman 1dari 19

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis limpahkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
pertolongannya dan karunia Nya, penulis dapat menyelesaikan makalah yang
berjudul “Interaksi Tumbuhan Dan Lingkungannya” ini tepat pada waktu yang
telah direncanakan, untuk memenuhi tugas mata kuliah Ekologi Pertanian.
Dalam penyelesaian makalah ini tidak jarang penlis menemukan kesulitan-
kesulitan. Akan tetapi, berkat motivasi dan dukungan dari berbagai pihak,
kesulitan-kesulitan itu akhirnya dapat diatasi. Maka dari itu, melalui kesempatan
ini penulis menyampaikan rasa terima kasih sebanyak-banyaknya kepada berbagai
pihak yang telah membantu penulis.
Penulis menyadari selesainya makalah ini, masih jauh dari kesempurnaan.
Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan.
Akhirnya penulis berharap agar malakah ini bermanfaat.

Kendari, 27 September 2018

Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..................................................................................
DAFTAR ISI...........................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang............................................................................
B. Rumusan Masalah..............................................................................
C. Tujuan Penulisan........................................................................
D. Manfaat Penulisan........................................................................

BAB II PEMBAHASAN
A. Konsep Spesies Tumbuhan Secara Ekologis dan Taksonomi..........
B. Konsep Lingkungan.............................................................................
C. Ekositem................................................................................................
D. Tipe-tipe Interaksi................................................................................
E. Hubungan tumbuhan dengan lingkungan..........................................
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan.......................................................................................
B. Saran.................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA
BAB I PENDAHULUAN

A.Latar Belakang
Tidak hanya satu organisme saja yang ada di muka bumi ini melainkan ada
berbagai jenis komponen yaitu komponen biotik dan komponen abiotik. Setiap
komponen membutuhkan komponen lainnya untuk bertahan hidup. Antar
organisme, populasi, komunitas, dan ekosistem saling berinteraksi satu sama lain.
Keanekaragaman makhluk hidup di permukaan bumi ini akan menimbulkan
hubungan kekerabatan antara organisme tersebut. Mahluk hidup yang hidup di
bumi selalu mengadakan interaksi (saling mempengaruhi) dengan mahluk hidup
lainnya, selain terjalinnya hubungan kekerabatan antar organisme maka adapula
interaksi untuk tujuan pemenuhan kebutuhan hidup setiap jenis. Adanya interaksi
antar organisme ini dapat menyebabkan tidak adanya komponen dalam suatu
ekosistem yang dapat mandiri memenuhi kebutuhan hidupnya baik antara
komponen biotik dengan sesamanya maupun antara komponen biotik dengan
komponen abiotik.
Menurut undang-undang Republik Indonesia nomor 32 tahun 2009 tentang
ketentuan umum perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup pada pasal 1 no
13 menyatakan bahwa baku mutu lingkungan hidup adalah ukuran batas atau kadar
makhluk hidup, zat, energi, atau komponen yang ada atau harus ada dan/atau unsur
pencemar yang ditenggang keberadaannya dalam suatu sumber daya tertentu
sebagai unsur lingkungan hidup. Berdasarkan undang-undang tersebut lingkungan
hidup menjadi suatu tatanan yang sangat penting dalam menjaga keseimbangan
pola kehidupan antar makhluk hidup, baik manusia, tumbuhan, hewan dan
organisme yang menjadi kebutuhan potensial manusia.
Dengan alasan untuk memahani lebih dalam mengenai interaksi makhluk
hidup dan lingkungannya. Maka dalam makalah ini akan dibahas berbagai macam
interaksi mulai dari interaksi antar organisme yang terkecil hingga membentuk
suatu kesatuan ekosistem. Adapun judul makalah ini yaitu “Interaksi Makhluk
Hidup Dengan Lingkungannya”.
B.Rumusan Masalah
1. Bagaimana Konsep Spesies Tumbuhan Secara Ekologis dan Taksonomi
2. Bagaimana konsep lingkungan makhluk hidup
3. Apa yang dimaksud ekosistem
4. Bagaimna tipe-tipe interaksi dalam ekosistem
5. Bagaimana Hubungan tumbuhan dengan lingkungan

C.Tujuan penulisan
Tujuan penulisan dari makalah ini adalah :
1. Konsep Spesies Tumbuhan Secara Ekologis dan Taksonomi
2. Menjelaskan konsep lingkungan makhluk hidup
3. Menjelaskan komponen penyusun ekosistem
4. Menjelaskan tipe-tipe interaksi dalam ekosistem
5. Hubungan tumbuhan dengan lingkungan

D. Manfaat Penulisan
Manfaat penulisan dari makalah ini adalah :
1. Memenuhi tugas dari dosen mata kuliah Ekologi Pertanian
2. Menambah pengetahuan mengenai materi interaksi tumbuhan dengan
lingkungan.
BAB II PEMBAHASAN

A.Konsep Spesies Tumbuhan Secara Ekologis dan Taksonomi


a) Konsep Spesies Ekologis
Species merupakan unit dasar untuk memahami biodiversitas, konsep
spesies yang ideal harus memenuhi tiga kriteria sebagai berikut: dapat berlaku
secara umum, mudah diaplikasikan, dan mempunyai dasar teori yang kuat. Hull
(1997)
Species adalah kelompok perkembangbiakan alami suatu populasi yang
terisolasi secara reproduksinya dari kelompok lainnya. Species merupakan
perkembangbiakan komunitas sejenis yang setiap individu mempunyai total variasi
genetik yang tidak cocok dengan komunitas lain ketika bereproduksi. Mallet
(2001).
Konsep ekologi menyatakan bahwa species merupakan silsilah organisme
yang hidup di lingkup wilayah tertentu dan beradaptasi dalam zona minimal yang
berbeda dengan silsilah organisme lainnya.
Pakar ekologi tumbuh-tumbuhan ingin menggunakan spesies sebagai alat
alternatif untuk memahami ekosistem. Bilamana kebutuhan spesies dapat dipahami,
sumber dayanya diketahui, maka keberadaan spesies tersebut dengan sifat-sifatnya
dapat dipergunakan untuk memperkirakan kondisi lingkungan, seperti kondisi
tanah, nutrisi, intensitas sinar, adanya gangguan, adanya tanaman atau hewan lain
yang berinteraksi dengan spesies tersebut.

b) Spesies Taksonomis
Yang dimaksud dengan dengan spesies taksonomi adalah spesis yang terdiri
dari sejumlah populasi yang memiliki kesamaan morfologi dan ekologi yang
mungkin dapat atau tidak dapat saling kawin, tetapi secara reproduksi terpisah dari
kelompok itu. Dalam defenisi ini dikombinasikan 3 aspek :
a. Perwujudan luar (morfologi).
b. Tingkah laku kawin.
c. Perbedaan habitat.
Para pakar taksonomi biasanya tidak terlalu menekankan aspek ketiga,
tetapi lebih menekankan aspek pertama, meskipun secara terbatas sebagai indikator
lingkungan.
Perbedaan Spesies Taksonomis dan Spesies Ekologis yaitu jika spesies
taksonomis tersusun oleh individu dan populasi yang kemungkinan secara genetis
bersifat heterogen. Sedangkan spesies ekologis merupakan berbagai tumbuhan
lebih bersifat homogen yang beradaptasi terhadap berbagai kondisi lingkungan
mikro khusus.
2.Konsep Ekotipe
a) Pengertian ekotipe
Kata “Ekotipe” pertama kali diusulkan oleh seorang ahli ekolog bangsa
Swedia bersama Turesson (1922). Beliau mengadakan percobaan terhadap
beberapa spesies tanaman yang ditanam pada berbagai keadaan lingkungan yang
berbeda. Ternyata masing-masing spesies yang sama akan memperlihatkan sifat-
sifat morfologis yang berbeda sehubungan dengan adanya perbedaan lingkungan
(Wilsie, 1962).

Berdasarkan hal-hal tersebut, Daubenmire (1959) membedakan respon tanaman


terhadap faktor lingkungan yaitu:

1. Ekofen (Ecophenes)

2. Ekotipe (Ecotypes)

Ekofen: dengan sinonim habitat form dan epharmone yaitu perubahan yang
diberikan oleh tanaman sehubungan dengan perubahan habitat. Perubahan-
perubahan yang jelas terlihat adalah jumlah kekeran batang, kevigoran bagian-
bagian organ reproduktif. Walaupun demikian respon yang diberikan merupakan
respon genetik homogen.

Ekotipe: dengan sinonim eccologie races atau physiologic races yaitu tipe-
tipe spesies yang diperlihatkan terhadap suatu perubahan keadaan lingkungan
secara keseluruhan. Terlihat adanya perubahan-perubahan morfologis dan
fisiologis dengan respon genetik yang bervariasi sesuai dengan perubahan
lingkungan tersebut.

b) Sifat Karakteristik Ekotipe


Keistimewaan sifat ekotipe antara lain:

1. Ekotipe spesies selalu interfertil


2. Dapat mempertahankan keistimewaan asalnya bila ditanam dalam habitat lain
3. Ekotipe didasarkan sifat-sifat genetis
4. Suatu spesies dengan ekologi yang luas dibedakan atas dasar sifat-sifat
morfologis, fisio-logis dalam habitat yang berbeda
5. Dapat terjadi dalam tipe habitat yang jelas
6. Ekotipe benar-benar mempunyai ciri khas dengan perbedaan sebagian ekotipe
yang lain

B.Konsep Lingkungan
Lingkungan dan mahluk hidup tidak dapat dipisahkan antara satu dengan
yang lain, keduanya saling mempengaruhi. Setiap kelomok mahluk hidup menetap
ditempat tertentu. Lingkungan mahluk hidup tersusn dari komponen biotik dan
komponen abiotik.

1.Komponen Biotik
Komponen biotik meliputi semua makhluk hidup di bumi, baik tumbuhan
maupun hewan. Dalam hal ini, tumbuhan berperan sebagai produsen, hewan
berperan sebagai konsumen, dan mikroorganisme berperan sebagai dekomposer.
Selain itu komponen biotik juga meliputi tingkatan-tingkatan organisme yang
meliputi individu, populasi, komunitas, ekosistem, bioma dan biosfer. Tingkatan-
tingkatan organisme makhluk hidup tersebut dalam ekosistem akan saling
berinteraksi, saling mempengaruhi membentuk suatu sistem yang menunjukkan
kesatuan. Secara lebih terperinci, tingkatan organisasi makhluk hidup adalah
sebagai berikut.
a.Individu
Individu merupakan satuan fungsional terkecil penyusun ekosistem
(makhluk hidup tunggal) yang dapat hidup secara fisiologis. Misalnya seekor
kucing sedang tiduran, seorang anak sedang berlarian atau sebatang pohon
rambutan tumbuh di pekarangan. Satu makhluk hidup itu disebut sebagai individu.
Oleh sebab itu berprinsip bahwa individu selalu bersifat tunggal.
b. Populasi
Populasi merupakan kumpulan individu sejenis pada suatu daerah dalam
jangka waktu tertentu. Misalnya populasi yang ada di sawah antara lain
sekelompok tanaman padi, sekelompok belalang, sekelompok siput, sekelompok
semanggi dan sekelempok tikus. Populasi berhubungan dengan individu, waktu dan
tempat. Suatu populasi dapat bertambah karena terjadinya kelahiran (natalitas) atau
adanya pendatang masuk (imigrasi) dan dapat berkurang karena terjadinya
kematian (mortalitas) atau adanya perpindahan keluar (emigrasi). Selain itu
penurunan jumlah populasi akan terjadi secara mencolok bila terjadi gangguan yang
drastis terhadap lingkungannya, seperti karena wabah hama dan penyakit atau
bencana alam. Dengan adanya pertambahan dan penurunan suatu populasi maka
populasi itu sifatnya dinamis. Populasi juga memiliki sifat penyebaran umur, sifat
adaptasi, sifat ketahanan dan sifat kepadatan. Kepadatan populasi menunjukkan
penyebaran anggota populasi yang menghuni suatu tempat. Kepadatan populasi
juga berkaitan erat dengan jumlah anggota atau individu pembentuk populasi
dibandingkan dengan luas daerah yang ditempatinya.
Dalam suatu populasi hewan yang berbiak seksual, individu jantan dan
betinanya bersifat interfertil, yaitu mampu kawin satu dengan yang lainnya dengan
manghasilkan turunan yang interfertil pula.
c.Komunitas
Komunitas adalah kumpulan populasi yang berada di suatu daerah yang
sama dan saling berinteraksi. Contoh komunitas, misalnya sawah disusun oleh
bermacam-macam organisme, misalnya padi, belalang, burung, ular, dan gulma.
Komunitas sungai terdiri dari ikan, ganggang, zooplankton, fitoplankton, dan
dekomposer. Antara komunitas sungai dan sawah terjadi interaksi dalam bentuk
peredaran nutrien dari air sungai ke sawah dan peredaran organisme hidup dari
kedua komunitas tersebut. Interaksi antarkomunitas cukup kompleks karena tidak
hanya melibatkan organisme, tapi juga aliran energi dan makanan. Pada komunitas
terjadi pula interaksi antara berbagai populasi dan dalam interaksi itu terjadi
perpindahan materi dan energi. Misalnya di suatu kolam populasi ikan berinteraksi
dengan populasi plankton (yaitu ikan memakan plankton), maka terjadi
perpindahan bahan makanan (materi) dari plankton ke tubuh ikan.
d.Ekosistem
Antara komunitas dan lingkungannya selalu terjadi interaksi, interaksi
inilah yang disebut ekosistem. Komponen penyusun ekosistem adalah produsen
(tumbuhan hijau), konsumen (herbivor, karnivor, dan omnivor), dan dekomposer
atau pengurai (mikroorganisme). Konsep mengenai ekosistem akan dibahas secara
khusus dibagian ekosistem pada makalah ini.
e.Bioma
Bioma adalah ekosistem-ekosistem yang terbentuk karena perbedaan letak
geografis dan astronomis. Berdasarkan curah hujan dan intensitas cahaya matahari
bioma terbagi menjadi beberapa jenis, yaitu: tundra, taiga, gurun, padang rumput,
hutan gugur dan hutan hujan tropis.
f.Biosfer
Seluruh ekosistem di dunia disebut biosfer. Dalam biosfer, setiap makhluk
hidup menempati lingkungan yang cocok untuk hidupnya. Lingkungan atau tempat
yang cocok untuk kehidupannya disebut habitat.
Dua spesies makhluk hidup dapat menempati habitat yang sama, tetapi tetap
memiliki relung ( niche / nisia) yang berbeda. Nisia adalah status fungsional suatu
organisme dalam ekosistem. Dalam nisianya organisme tersebut dapat berperan
aktif, sedangkan organisme lain yang sama habitatnya tidak dapat berperan aktif.
Sebagai contoh gambaran antara habitat dan nisia sebagai berikut :
Tiap jenis makhluk hidup mempunyai tempat hidup yang tertentu, dengan
keadaan-keadaan tertentu. Misalnya kecebong, hidup di air yang tergenang, tidak
terlalu keruh dan terdapat tumbuh-tumbuhan air. Sehingga kalau kita ingin mencari
kecebong kita harus mencarinya pada tempat seperti itu. Tempat hidup dengan
keadaan-keadaan tertentu itulah yang disebut habitat. Kalau boleh kita katakan
habitat adalah “alamat” dari suatu makhluk hidup.
Sedangkan nisia pengertiannya lebih luas lagi, selain habitatnya
menyangkut juga hal tingkah lakunya, kebiasaan makannya dan menduduki tingkat
trofik yang mana dalam ekosistemnya. Jadi nisia dari kecobong adalah: air yang
agak jernih, tergenang, dengan tumbuhan air, dapat berenang, meskipun lebih
senang tinggal di dasar genangan atau menempel pada benda-benda seperti batu
atau yang lainnya, dan menempati tingkatan trofik sebagai konsumen primer. Kalau
boleh kita katakan nisia adalah status fungsionil atau jabatan dari suatu makhluk
hidup dalam ekosistem.
Dalam suatu ekosistem biasanya tiap jenis makhluk hidup mempunyai nisia
tersendiri. Dua jenis makhluk hidup mungkin mempunyai habitat yang sama, tapi
nisia yang berbeda. Misalnya siput air dan kecebong menempati habitat yang sama,
ialah genangan air jernih dengan tumbuhan air. Sedangkan nisianya berbeda sebab
meskipun dua-duanya sebagai konsumen primer, tetapi siput tidak berenang.
Bila dalam suatu ekosistem terdapat dua jenis makhluk hidup yang
menempati nisia yang sama, akan terjadilah persaingan - persaingan yang hebat,
biasanya salah satu jenis akan kalah. Yang kalah akan hilang dari ekosistem. Jadi
secara umum dapat dikatakan dua spesies tidak mungkin menempati nisia yang
sama dalam waktu yang lama dalam suatu ekosistem.

2.Komponen abiotik
Komponen abiotik adalah komponen yang tak hidup yang meliputi faktor
fisik dan kimia. Faktor fisik utama komponen abiotik yang mempengaruhi
ekosistem adalah suhu, sinar matahari, air,tanah, ketinggian, angin dan garis
lintang. Faktor - faktor fisik tersebut akan dibahas lebih rinci pada bagian
ekosistem.

C.Ekosistem
Ekosistem adalah kesatuan dari komunitas atau satuan fungsional dari
makhluk hidup dengan lingkungannya dimana terjadi antar hubungan. Dalam
ekosistem itulah makhluk hidup saling berinteraksi baik di antara makhluk hidup
itu satu sama lain maupun dengan lingkungannya. Pengaruh lingkungan terhadap
makhluk hidup disebut sebagai aksi, sebaliknya makhluk hidup mengadakan reaksi
terhadap pengaruh tadi. Pengaruh makhluk hidup yang satu terhadap yang lainnya
disebut sebagai koakasi.
Contoh dari ekosistem misalnya hutan, kolam, danau, padang rumput,
akuarium yang baik dan sebagainya. Dalam mempelajari ekosistem ini kita harus
melihatnya sebagai suatu kesatuan, suatu sistem yang meliputi faktor-faktor
lingkungan dan makhluk-makhluk yang hidup di dalamnya. Jadi suatu ekosistem
secara fungsional mempunyai dua komponen. Yang pertama adalah komponen
biotik, yaitu seluruh makhluk hidup yang hidup di bumi. Yang kedua adalah
komponen abiotik yaitu bagian-bagian yang tak hidup.

D.Tipe-Tipe Interaksi

1.Kompetisi
Ketika populasi dua atau lebih spesies dalam suatu komunitas
mengandalkan sumber daya terbatas yang sama, mereka bisa rentan taerhadap
kompetisi (persaingan). Persaingan atau kompetisi dapat terjadi dalam berbagai
cara. Perkelahian langsung atas sumberdaya disebut kompetisi interferensi,
sementara penggunaan semberdaya yang sama disebut kompetesi eksploitatif.
Pengaruh kompetisi antar spesies yang bergantung pada kepadatan serupa dengan
pengaruh kompetisi intraspesies. Ketika kepadatan populasi meningkat, setiap
individu memiliki akses ke bagian yang lebih sedikit dari sumberdaya pembatas;
sebagai akibatnya, angka mortalitas (kematian) meingkat, dan angka kelahiran akan
menurun, serta pertumbuhan populasi juga akan menurun. Akan tetapi dalam
kompitisi antarspesies, pertumbuhan populasi suatu spesies mungkin dibatasi oleh
kepadatan spesies yang berkompetisi tersebut maupun oleh kepadatan populasinya
sendiri. Sebagai contoh, jika beberapa spesies burung dalam sebuah hutan
memakan suatu populasi serangga yangn terbatas, kepadatan masing-masing
spesies itu bisa mempunyai dampak negatif pada pertumbuhan populasi yang lain.
Dengan cara yang sama, spesies bisa bersaing untuk mendapatkan tempat
bersarang, berteduh, ataupun setiap sumberdaya lain yang ketersediaannya
membatas.
2.Predasi
Interaksi populasi yang paling jelas terlihat adalah yang melibatkan
pemangsa (predasi) dimana seekor pemangsa (predator) memakan mengsa (prey)-
nya. Sebagian bear pemangsa memiliki indra yang sangat tajam yang membuat
mereka dapat menemukan dan mengidentifikasi mangsa yang potensial. Selain itu,
banyak penmangsa memiliki adaptasi seperti kuku, geligi, gigi taring, sengat, atau
racun yang membantu menangkap dan memotong-motong makanan menjadi lebih
kecil, atau hanya sekedar mengunyah organisme yang mereka makan. Salah satu
contoh serangga herbivora menemukan dengan tepat lokasi tumbuhan yang
merupakan makanannya dengan menggunakan sensor kimiawi pada kakinya, dan
bagian mulutnya telah teradaptasi untuk memotong-motong tumbuhan yang keras.
Pemangsa yang mengejar mangsanya umumnya cepat dan gesit, sementara
pemangsa yang diam dalam keadaan yang siap menerkam mangsanya seringkali
menyamarkan dirik dalam lingkungannya.
3.Simbiosis
Jika kita mengamati komponen biotik yang ada di dalam suatu ekosistem
seringkali kita temukan adanya peristiwa yang menujukkan adanya bentu-bentuk
interaksi yang khas antara dua atau lebih organisme. Interaksi tersebut dapat berupa
interaksi kompetisi, interksi predasi maupun secara simbiosis.
Simbiosis merupakan tipe interaksi dengan cara hidup bersama dari dua
jenis makhluk hidup yang berbeda dalam hubungan yang erat. Masing-masing
makhluk yang bersimbiosis disebut “simbion”. Berdasarkan sifatnya maka interaksi
ini dibagi menjadi 3 bagian yaitu :
a. Simbiosis mutualisme, merupakan interaksi dua jenis organisme yang hidup
secara bersama-sama dimana saling menguntungkan. Salah satu contohnya
kehidupan kupu-kupu yang tak bisa lepas dari keberadaan tumbuhan berbunga.
Kupu-kupu hanya dapat makanan dari madu dari bunga dan sebaliknya bunga
melakukan penyerbukannya dibantu oleh kupu-kupu.
b.Simbiosis komensalisme, terjadi pada dua jenis hewan, misalnya antara ikan hiu
dan ikan remora. Ikan remora yang bertubuh kecil mempunyai alat pengisap yang
digunakan untuk menempel pada ikan hiu. Tujuannya adalah untuk mendapatkan
makanan dari sisa makanan ikan hiu dan terlindung dari bahaya. Sementara itu ikan
hiu tidak diuntungkan, tetapi juga tidak dirugikan. Hubungan semacam ini disebut
simbiosis komensalisme yaitu cara hidup bersama antara dua jenis organisme yang
berbeda, yang satu diuntungkan sedangkan yang lain tidak dirugikan dan tidak
diuntungkan.
c.Simbiosis parasitisme, merupakan cara hidup dua organisme yang berlainan dan
membentuk suatu hubungan yang erat, tetapi hubungan tersebut mengakibatkan
keuntungan di salah satu pihak, sedangkan pihak lain dirugikan. Organisme yang
memperoleh keuntungan dari pola hidup parasitisme ini dikenal dengan organisme
parasit. Contoh dari simbiosis ini misalnya hubungan benalau dengan inangnya.

E.Hubungan tumbuhan dengan lingkungan


Faktor-faktor lingkungan sebagai faktor ekologi sangat beragam, secara
sendiri sendiri atau dalam bentuk kombinasi, saling bercampur dan mempengaruhi
satu sama lain yang mempunyai peranan penting bagi kehidupan masyarakat
tumbuhan dan makhluk hidup lainnya. Hubungan antara faktor-faktor lingkungan
dengan masyarakat tumbuhan akan menentukan keberadaan, kesuburan atau
kegagalan masyarakat tumbuhan untuk tumbuh dan berkembang.
Hubungan tersebut di atas, pada umumnya terjadi antara masyarakat
tumbuh-tumbuhan dengan habitat dan lingkungannya (lingkungan abiotik), antara
tumbuhan dengan tumbuhan, antara tumbuhan dengan biota lain, dan antara
tumbuhan dengan manusia (lingkungan biotik). Hubungan masyarakat tumbuhan
dengan lingkungan abiotik terbentuk antara tumbuh-tumbuhan dengan tanah/lahan
sebagai substrat atau habitat, fisiografi dan topografi tanah (konfigurasi permukaan
bumi), dan lingkungan iklim (cahaya matahari, suhu, curah hujan dan kelembaban,
dan udara atmosfir).
Hubungan tumbuhan dengan tanah sebagai substrat atau habitat
berhubungan erat dengan jenis (struktur dan tekstur tanah), sifat fisik, kimia dan
biotik tanah, kandungan air tanah, nutrien dan bahan-bahan organik, serta bahan
anorganik sebagai hasil proses dekomposisi biota tanah. Dikenal berbagai sifat
adaptasi dan toleransi tumbuhan berkaitan dengan struktur dan sifat kimia tanah,
yaitu tipe vegetasi kalsifita, oksilofita, psammofita, halofita, dan lain lain.
Konfigurasi permukaan bumi sangat mempengaruhi ketinggian, kemiringan,
dan deodinamika lahan sebagai habitat, yang akan berpengaruh terhadap iklim
(cahaya/matahari, suhu, curah hujan, dan kelembaban udara); yang secara langsung
atau tidak langsung berhubungan erat dengan masyarakat tumbuhan dalam
kaitannya dengan kehadiran, distribusi, jenis-jenis tumbuhan, dan berbagai proses
biologi tumbuhan.
Hubungan iklim dengan tumbuhan sangat erat. Iklim berpengaruh terhadap
berbagai proses fisiologi (fotosintesis, respirasi, dan transpirasi), pertumbuhan dan
reproduksi (pembungaan, pembentukan buah, dan biji) dan sebagainya. Hubungan
tumbuhan dengan faktor lingkungan iklim merupakan hubungan yang tidak
terpisahkan dan bersifat menyeluruh (holocoenotik).
Kebutuhan tumbuh-tumbuhan akan cahaya matahari berkaitan pula dengan
energi dan suhu udara yang ditimbulkannya. Terdapat 4 kelompok vegetasi yang
dipengaruhi oleh suhu lingkungan di habitatnya, yaitu kelompok vegetasi atau
tumbuhan megatermal (tumbuhan menyukai habitat bersuhu panas sepanjang
tahun, misalnya tumbuhan daerah tropis), mesotermal (tumbuhan yang menyukai
lingkungan yang tidak bersuhu terlalu panas atau terlalu dingin), mikrotermal
(tumbuhan yang menyukai habitat bersuhu rendah atau dingin, misalnya tumbuhan
dataran tinggi atau habitat subtropis) dan hekistotermal yaitu tumbuhan yang
terdapat di daerah kutub atau alpin. Dalam kaitan dengan lamanya penyinaran
(fotoperiodisitas) terdapat 3 kelompok vegetasi yang mempunyai respon terhadap
proses pembungaan. Yaitu kelompok tumbuhan berhari pendek (fotoperiodisitas)
(fotoperiodisitas kurang dari 12 jam/hari), misalnya ubi jalar: tumbuhan berhari
panjang (periodisitas lebih dari 12 jam/hari), misalnya kentang; dan tumbuhan
netral, yaitu tumbuhan yang pembungaannya tidak dipengaruhi lamanya
penyinaran, tumbuhan berbunga sepanjang tahun, misalnya ubi kayu atau
tembakau.
Air sebagai komponen lingkungan abiotik merupakan faktor ekologi yang
penting selain cahaya, suhu dan kelembaban udara, merupakan hasil proses
presipitasi uap air yang sebagian besar jatuh ke permukaan bumi dalam bentuk
curah hujan. Ketersediaan air per tahun sangat menentukan keberadaan, sebaran
dan berbagai proses biologi masyarakat tumbuhan dan makhluk hidup lainnya.
Terdapat jenis-jenis tumbuhan yang telah beradaptasi dengan ketersediaan air dan
curah hujan di habitatnya, yaitu tumbuhan hidrofita, tumbuhan yang hidup pada
habitat perairan atau akuatik, misalnya eceng gondok (Eichhornia crassipes);
tumbuhan xerofita, tumbuhan yang hidup di habitat beriklim kering, misalnya
pohon pinus (Pinus merkusii); dan tumbuhan mesofita, yaitu tumbuhan yang hidup
di habitat yang ketersediaan airnya tidak berlebihan atau kekurangan, misalnya
pohon asam (Tamarindus indica).
Hubungan tumbuh-tumbuhan dengan udara atmosfir pada umumnya
berkaitan dengan gas CO2, O2, dan angin. Tumbuh-tumbuhan berperanan penting
dalam siklus karbon yang berhubungan dengan ketersediaan CO2 dan O2 dalam
proses fotosintesis dan respirasi makhluk hidup. Gerakan udara sebagai angin
mempunyai peranan ekologis dapat menguntungkan maupun merugikan, misalnya
terhadap penyebaran serbuk sari, spora atau biji-bijian. Sebaliknya jika kecepatan
angin terlalu besar dapat menyebabkan penurunan berbagai proses metabolisme,
tumbuhan menjadi layu atau mati.
Hubungan masyarakat tumbuhan dengan makhluk hidup lainnya terjadi
dalam bentuk hubungan antara tumbuh-tumbuhan dengan tumbuhan lainnya, antara
tumbuh-tumbuhan dengan hewan, tumbuhan dengan mikrobiota (parasit dan biota
pengurai) dan antara tumbuhan dengan manusia. Hubungan tumbuh-tumbuhan
dengan makhluk hidup lain pada dasarnya merupakan hubungan di mana tumbuh-
tumbuhan dimanfaatkan sebagai makanan atau sumber energi (hubungan herbivori,
parasitik, dan saprofitik), sebagai substrat atau habitat dan hubungan
ketergantungan (hubungan epifit, tumbuhan pencekik, atau liana) .
BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan
Interaksi tumbuhan dengan lingkungannya merupakan satu kesatuan yang
akan membentuk ekosistem. Ekosistem terdiri atas komponen biotik dan abiotik.
Komponen biotik terdiri dari hewan, tumbuhan, dan mikroorganisme. Sedangkan
komponen abiotik terdiri dari suhu, cahaya, kelembapan, tanah, udara, dan lain-
lain. Dalam kedua komponen ini akan terjadi hubungan saling ketergantungan
antara satu dengan yang lain. Dalam interaksi makhluk hidup dengan
lingkungannya terdapat tingkatan-tingkatan organisasi kehidupan dari yang
terendah sampai tertinggi yaitu individu, populasi, komunitas, ekosistem, bioma
dan biosfer. Interaksi yang terjadi antarkomponen merupakan salah satu usaha
makhluk hidup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dengan lingkungan yang
sesuai maka makhluk hidup mampu untuk berkembang. Pada umumnya terjadi
antara masyarakat tumbuh-tumbuhan dengan habitat dan lingkungannya
(lingkungan abiotik), antara tumbuhan dengan tumbuhan, antara tumbuhan dengan
biota lain, dan antara tumbuhan dengan manusia (lingkungan biotik). Hubungan
masyarakat tumbuhan dengan lingkungan abiotik terbentuk antara tumbuh-
tumbuhan dengan tanah/lahan sebagai substrat atau habitat, fisiografi dan topografi
tanah (konfigurasi permukaan bumi), dan lingkungan iklim (cahaya matahari, suhu,
curah hujan dan kelembaban, dan udara atmosfir).

B. Saran

Demikian lah makalah yang kami susun dengan harapan dapat memberikan
manfaat yang baik dari para pembaca. kami sadar dalam penyusunan makalah ini
masih terdapat banyak kekurangan dan keterbatasan materi. Oleh karena itu kami
sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca. Jika
ada dalam kata, kalimat atau penyusunan makalah ini mengalami kesalahan mohon
kiranya dapat di maklumi.
DAFTAR PUSTAKA

Cartono, 2005. Biologi Umum Untuk Perguruan Tinggi LPTK. Bandung :


Penerbit Prisma Press.

Jumhana, N. 2006. Konsep Dasar Biologi. Bandung: UPI PRESS

Kimball, Jw. Biologi. Jilid 3. Edisi kelima. Alih bahasa Soetarmi, S dan Sugiri, N.
Jakarta : Erlangga.

Sri, Y.M. 2006, Konsep Dasar IPA. Bandung : UPI PRESS

http//www.google.com/interaksi manusia dan lingkungan,.

http//www.wikipediabebas.com//interaksi makhul hidup. Thn 2011

http://irwantoshut.net/pencemaran_air.html

http://putraprabu.wordpress.com/2008/12/12/pencemaran-udara/
TUGAS MAKALAH EKOLOGI PERTANIAN
“HUBUNGAN INTERAKSI ANTARA TUMBUHAN DENGAN
LINGKUNGAN”

Oleh:

NAMA : KETUT ANDRE DARMAWAN

NIM : D1B1 17 013

KELAS: AGT-A

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI

JURUSAN AGROTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS HALU OLEO

KENDARI

2018