Anda di halaman 1dari 32

1

1. JUDUL: “ANALISIS PERBANDINGAN KINERJA KEUANGAN PADA

PERUSAHAAN SEKTOR TELEKOMUNIKASI YANG LISTED DI

BURSA EFEK INDONESIA (BEI) PERIODE 2013-2016”

2. PENDAHULUAN

2.1. Latar Belakang

Seiring dengan perkembangan zaman yang semakin moderen

mengakibatkan teknologi berkembang semakin canggih seperti halnya pada

sektor telekomunikasi. Dampak dari perkembangan teknologi yang semakin

canggih mengakibatkan terjadinya persaingan yang cukup ketat bagi

perusahaan sektor telekomunikasi. Di Indonesia sendiri saat ini sudah ada

beberapa perusahan-perusahan sektor telekomunikasi baik milik

pemerintah, swasta dan milik swasta asing. Kini perusahaan-perusahaan

tersebut berlomba-lomba bersaing untuk menawarkan produk-produk yang

mereka miliki dengan harga yang kompetitif kepada konsumen.

Fenomena yang terjadi saat ini dalam sektor telekomunikasi sesuai

peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika (KOMINFO) nomor 14

tahun 2017 dimana pengguna kartu SIM (Subscriber Identity Module)

prabayar diwajibkan untuk melakukan registrasi dengan mendaftarkan

Nomor Induk Kependudukan (NIK) dan nomor Kartu Keluarga (KK), jika

tetap tidak melakukan registrasi sesuai batas waktu yang ditetapkan maka

kartu SIM prabayar akan diblokir secara bertahap. Sehubungan dengan

peraturan tersebut pihak operator demi mempertahankan konsumen dan

mempercepat program registrasi memberikan bonus bagi yang sudah


2

melakukan registrasi sesuai syarat dan ketentuan yang berlaku, salah

satunya yaitu Telkomsel yang menawarkan paket data internet 10 GB

(GigaByte), bonus telepon 150 menit, dan 75 SMS (Short Message Service)

ke semua operator dengan harga Rp 10 (Kompas, 2018). Disamping itu

menurut Andri Ngaserin (pengamat pasar modal) yang dimuat dalam berita

online Detik (2018), dikatakan bahwa pada industri telekomunikasi terjadi

persaingan tarif layanan data dan suara selama dua tahun terakhir.

Contohnya, salah satu operator menawarkan layanan data Rp 1000 untuk

setiap GB.

Akibat dari persaingan tersebut perusahaan harus mengetahui

seberapa efektif dan efisien manajemen yang telah diterapkan oleh

perusahaannya. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengetahui

seberapa efektif dan efisien manajemen perusahaan adalah dengan

melakukan pengukuran kinerja keuangan. Disamping itu, manajer

perusahaan harus dapat mencari alternatif strategi yang dapat digunakan

untuk mengembangkan perusahaan atau setidaknya agar perusahaan terus

memperoleh laba. Setiap keputusan yang dibuat oleh manajer atau pimpinan

perusahaan membutuhkan banyak informasi, baik itu informasi internal

mengenai kinerja perusahaan maupun informasi external mengenai keadaan

pesaing.

Selain itu, agar perusahaan dapat bertahan dan terus berkembang

yang diperlukan adalah tambahan modal. Modal tersebut berasal dari dua

sumber yaitu internal dan eksternal. Sumber modal internal berasal dari
3

setiap kegiatan perusahaan yang memperoleh keuntungan seperti akumulasi

penyusutan dan laba ditahan, sedangkan sumber modal eksternal berasal

dari pihak-pihak luar perusahaan berupa kredit investasi dan obligasi.

Perusahaan yang membutuhkan tambahan modal dapat menjual

surat berharganya di pasar modal. Pasar modal merupakan pasar abstrak,

dimana yang diperjual belikan adalah dana-dana jangka panjang, yaitu dana

yang keterikatannya dalam investasi lebih dari satu tahun (Widoatmodjo,

2012:15).

Syarat utama agar perusahaan dapat memperoleh tambahan modal

yang berasal dari saham dan obligasi melalui pasar modal yaitu perusahaan

yang bersangkutan harus go public. Ini berarti tidak semua perusahaan yang

berada di Indonesia dapat memperoleh dana dari pasar modal. Agar dapat

menjadi perusahaan yang go public dan listed di bursa saham perusahaan

tersebut harus memenuhi beberapa persyaratan, salah satunya yaitu

perusahaan yang bersangkutan merupakan badan hukum berbentuk

Perseroan Terbatas (PT) yang memiliki Komisaris Independen minimal

30% dari jajaran Dewan Komisaris (gopublic.idx.co.id).

Salah satu perusahaan yang memenuhi persyaratan untuk go public

adalah perusahaan sektor telekomunilkasi, berikut merupakan perusahaan

sektor telekomunikasi yang sudah listed di Bursa Efek Indonesia (BEI)

periode 2013-2016.
4

Tabel 1.1. Perusahaan Sektor Telekomunikasi yang listed di Bursa Efek


Indonesia yang menjadi objek penelitian.
No Kode Saham Nama Emiten
1 BTEL Bakrie Telecom Tbk
2 EXCEL XL Axiata Tbk
3 FREN Smartfren Telecom Tbk
4 ISAT Indosat Tbk
5 TLKM Telekomunikasi Indonesia Tbk
Sumber: www.sahamok.com

Peneliti memilih objek ini karena perusahaan telekomunikasi

merupakan perusahaan yang memiliki prospek yang cerah kedepannya

dilihat dari perkembangan zaman yang semakin moderen ini. Disamping itu,

peneliti melakukan penelitian terhadap objek tersebut di atas dikarenakan

peneliti ingin mengetahui perkembangan kinerja keuangan masing-masing

perusahaan telekomunikasi yang listed di BEI.

Menurut pendapat para ahli dalam melakukan analisis laporan

keuangan terutama dalam analisis rasio keuangan, terdapat 4 rasio keuangan

yang umum digunakan, yaitu rasio likuiditas, rasio aktivitas, rasio

solvabilitas (leverage), dan rasio profitabilitas.

Dengan melakukan analisis kinerja keuangan maka perusahaan yang

bersangkutan dapat mengetahui posisi dan kondisi perusahaannya, melihat

perkembangandan kemajuan perusahaan dari periode ke periode, selain itu

juga berguna untuk menilai kinerja manajemen. Bagi manajer perusahaan,

hasil analisis kinerja keuangan dapat digunakan untuk mengevaluasi kinerja

yang telah dilakukan, dan bahan pertimbangan dalam melakukan

pengambilan keputusan di masa medatang sesuai kelemahan dan kekuatan

perusahaan. Disamping itu, bagi pihak eksternal seperti kreditur, investor,


5

dan pihak-pihak lain yang ingin menanamkan dananya di perusahaan dapat

digunakan sebagai bahan pertimbangan sebelum dan sesudah menanamkan

dananya pada perusahaan. Sedangkan bagi pemerintah yaitu untuk

penetapan jumlah pajak.

Berikut ini merupakan kondisi keuangan perusahaan telekomunikasi pada

tahun 2013-2016:

Tabel 1.2. Rekapitulasi perkembangan Neraca dan Rugi/Laba perusahaan


telekomunikasi yang listed di BEI tahun 2013-2016. (Dalam Miliar Rupiah)

Perusahaan Uraian 2013 2014 2015 2016


Total Aktiva 9.128 7.588 2.411 1.569
PT. Bakrie Total Hutang 10.135 11.467 14.924 15.467
Telecom Tbk
(BTEL) Total Modal -1.007 -3.878 -12.513 13.897
Laba/Rugi -2.645 -2.871 -8.640 -1.392
Total Aktiva 40.277 63.630 58.844 54.896
PT. XL Axiata Total Hutang 24.977 49.582 44.752 33.687
Tbk
(EXCL) Total Modal 15.300 14.047 14.091 21.209
Laba/Rugi 1.032 -0,803 -0,025 0,375
Total Aktiva 15.866 17.758 20.705 22.807
PT. Smartfren Total Hutang 12.816 13.796 13.857 16.937
Telecom Tbk
(FREN) Total Modal 3.049 3.961 6.848 5.869
Laba/Rugi -1.611 -0,968 -1.330 -1.982
Total Aktiva 54.520 53.254 55.388 50.838
PT. Indosat Tbk Total Hutang 38.003 39.058 42.124 36.661
(ISAT) Total Modal 16.517 14.195 13.263 14.177
Laba/Rugi 1.509 0,672 -1.163 1.275
PT. Total Aktiva 127.951 140.895 166.173 179.611
Telekomunikasi Total Hutang 50.527 54.770 72.745 74.067
Indonesia Tbk Total Modal 77.424 86.125 93.428 105.544
(TLKM) Laba/Rugi 27.846 29.377 23.317 29.172
Sumber: www.idx.co.id
6

Gambar 1.1. Kondisi Aktiva Perusahaan Telekomunikasi yang listed di BEI tahun
2013-2016.
200,000
180,000
160,000
140,000
120,000
100,000
80,000
60,000
40,000
20,000
0
2013 2014 2015 2016

BTEL EXCL FREN ISAT TLKM

Sumber: www.idx.co.id
Pada gambar 1.1. di atas dapat dilihat bahwa kondisi aktiva FREN

dan TLKM terus meningkat tiap tahunnya. Kondisi tersebut berbanding

terbalik dengan BTEL dimana aktiva BTEL terus mengalami penurunan

tiap tahunnya. Sedangkan kondisi aktiva EXCL dan ISAT dari tahun 2013-

2016 berfluktuasi.
7

Gambar 1.2. Kondisi Hutang Perusahaan Telekomunikasi yang listed di BEI tahun
2013-2016.
80,000

70,000

60,000

50,000

40,000

30,000

20,000

10,000

0
2013 2014 2015 2016

BTEL EXCL FREN ISAT TLKM

Sumber: www.idx.co.id

Pada gambar 1.2. di atas dapat dilihat bahwa konidi hutang

Berdasarkan tabel tersebut angka-angka yang ada masih

menunjukkan posisi keuangan dan perkembangan usaha yang dicapai

menurut pembukuan, dan masih perlu dilakukan suatu analisis lebih lanjut

agar dapat diperoleh gambaran lebih jelas mengenai kinerja keuangan

perusahaan telekomunikasi yang listed di BEI.

2.2. Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka dapat diidentifikasi

masalahannya sebagai berikut :

Total aktiva, total hutang dan total modal dari perusahaan

telekomunikasi yang listed pada tahun 2013-2016 cenderung meningkat.

Terjadi kerugian pada PT. Bakrie Telecom Tbk dan PT. Smartfren Telecom
8

Tbk, serta fluktuasi laba pada PT. XL Axiata, PT. Indosat Tbk dan PT.

Telekomunikasi Indonesia Tbk.

2.3. Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka didapatkan permasalahan

sebagai berikut :

Manakah di antara perusahaan telekomunikasi yang listed di BEI

yang tingkat kinerja keuangannya paling baik apabila diukur dengan analisis

rasio yang dibandingkan dengan rasio rata-rata industri pada tahun 2013-

2016.

2.4. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan

membandingkan tingkat kinerja keuangan yang dicapai oleh perusahaan

telekomunikasi yang listed di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2013-

2016 bila diukur dengan analisis rasio dan dibandingkan dengan rasio rata-

rata industri.

2.5. Manfaat Penelitian

1. Secara akademik untuk memenuhi salah satu syarat dalam mencapai

kebulatan studi strata satu (S1) pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Universitas Mataram.

2. Secara teoritis diharapkan dapat bermanfaat untuk melatih dan

meningkatkan kemampuan penulis dalam mengaplikasikan ilmu

ekonomi yang didapat dari bangku perkuliahan.


9

3. Secara praktis hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai

salah satu pertimbangan pengambilan keputusan dan penerapan

kebijakan bagi pimpinan perusahaan, sebagai kebijakan investasi bagi

investor di pasar modal dan sebagai kebijakan pemberian kredit bagi

kreditor, serta sebagai pertimbangan penentuan jumlah pajak oleh

pemerintah.

3. TINJAUAN PUSTAKA

3.1. Tinjauan Penelitian Terdahulu

Cindy Thirsa Suling, Sientje C. Nangoy, Victoria N. Untu (2014)

dalam Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan Menggunakan Metode

CAMEL Pada PT. Bank Sulut (Persero) Tbk Dan PT. Bank Sulsebar

(Persero) Tbk. Periode 2010-2013. Hasil penelitian yang diperoleh yaitu,

berdasarkan lima variabel yang digunakan dalam metode CAMEL CAR

(Capital Adequacy Ratio), KAP (Kualitas Aktiva Produktif), NPM (Net

Profit Margin), ROA (Return On Assets), BOPO (Biaya Operasional

terhadap Pendapatan Operasional), dan LDR (Loan to Deposit Ratio) pada

PT. Bank Sulut dan PT. Bank Sulselbar periode 2010-2013 untuk Rasio

(CAR, KAP, NPM, ROA dan BOPO) berada pada predikat SEHAT.

Sedangkan untuk Rasio LDR (Loan to Deposit Ratio) pada tahun 2011

berada pada predikat KURANG SEHAT dan pada tahun 2010, 2012, 2013

berada pada predikat TIDAK SEHAT. Hal ini disebabkan karena dari tahun

ketahun rasio LDR pada kedua Bank tersebut masih menunjukkan nilai
10

yang melebihi standar yang telah ditetapkan oleh Bank Indonesia yaitu

<94,755%.

Yunita Irenne Manitik (2013) dalam Analisis Perbandingan Kinerja

Keuangan Pada PT. XL Axiata Tbk. Dan PT. Indosat Tbk. Hasil penelitian

yang diperoleh yaitu, evaluasi keuangan menunjukkan bahwa nilai

significance XL Axiata dan Indosat lebih tinggi dari pada 0,05 yang mana

dapat dipastikan bahwa the variance kurang lebih serupa/equal atau kedua

variance tidak berbeda secara signifikan dan sama dengan hipotesa

alternative. Hasil yang didapat dengan menggunakan uji beda Independent

sample t-test dari 11 variabel yang ada (Current Ratio, Quick Ratio, Total

Debt to Total Asset Ratio, Debt to Equity Ratio, Perputaran Persediaan,

Perputaran Piutang, Perputaran Aktiva, Perputaran Aktiva, Profit Margin,

Return on Asset, dan Earning Per Share) menunjukkan tidak terdapat

perbedaan yang signifikan antara perusahaan XL Axiata dan Indosat yang

terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

Risma Ayunda, Dini Widyawati (2014) dalam Analisis

Perbandingan Kinerja Keuangan Pada Perusahaan Makanan Dan Minuman

Di Bursa Efek Indonesia Periode 2009-2012. Hasil yang diperoleh

penelitian ini yaitu, perbandingan rasio likuiditas yang terdiri dari current

ratio dan quick ratio, dapat diketahui bahwa PT. Akasha Wira Internasional

Tbk mempunyai kinerja keuangan yang lebih baik. Berdasarkan

perbandingan rasio aktivitas dapat diketahui bahwa jika dilihat dari total

asset turn over, PT. Mayora Indah Tbk mempunyai kinerja keuangan yang
11

lebih baik dan jika dilihat dari receivable turn over, PT. Multi Bintang

Indonesia Tbk mempunyai kinerja keuangan yang lebih baik. Berdasarkan

perbandingan rasio solvabilitas dapat diketahui bahwa jika dilihat dari debt

to total assets ratio, PT. Indofood Sukses Makmur Tbk mempunyai kinerja

keuangan yang lebih baik dan jika dilihat dari debt to equity rasio, kinerja

keuangan kelima perusahaan tidak ada yang baik karena tidak ada

perusahaan yang mempunyai rata-rata debt to equityrasio kurang dari

100%. Jika dilihat dari perbandingan rasio profitabilitas yang terdiri dari

profit margin, Return On Assets, dan Return On Equity, PT. Multi Bintang

Indonesia Tbk mempunyai kinerja keuangan yang lebih baik.

Silvi Junita dan Siti Khairani (2013) dalam Analisis Kinerja

Perusahaan dengan Menggunakan Analisa Rasio Keuangan pada

Perusahaan Telekomunikasi yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Hasil

yang diperoleh penelitian ini yaitu, berdasarkan hasil dari perhitungan jenis-

jenis analisa rasio likuiditas, solvabilitas, dan aktivitas, maka dinilai bahwa

kelima perusahaan tersebut memiliki kinerja keuangan perusahaan yang

tidakbaik. Namun pada PT. Smartfren TelecomTbk. memiliki nilai rasio

inventory to networking capital yang cukup baik dan pada PT.

Telekomunikasi Indonesia Tbk. (Persero) memiliki nilai times interest

earned, rasio perputaran kas dan rasio inventory to net working capital yang

cukup baik juga. Selain itu, kelima perusahaan tersebut memiliki perputaran

piutang yang cukup memuaskan dan persediaan yang tidak mengalami

penumpukan. Kemudian berdasarkan hasil dari perhitungan jenis-jenis


12

analisa rasio profitabilitas, maka dinilai bahwa PT. Bakrie Telecom Tbk.,

PT. XL Axiata Tbk.,dan PT. Indosat Tbk. memiliki kinerja keuangan

perusahaan yang dapat dinilai buruk. Namun pada PT. Smartfren

TelecomTbk. dan PT. Telekomunikasi IndonesiaTbk. (Persero) dapat

dinilai memiliki kinerja keuangan perusahaan yang cukup baik.

Hendry Andres Maith (2013) dalam Analisis Laporan Keuangan

Dalam Mengukur Kinerja Pada PT. Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk.

Hasil yang diperoleh penelitian ini yaitu, Rasio likuiditas perusahaan berada

dalam keadaan yang baik. Hal ini dapat dilihat pada rasio lancar, rasio cepat

dan rasio kas bahwa pada dasarnya mengalami kenaikan. Semakin tinggi

atau besarnya nilai rasio likuiditas, menandakan keadaan perusahaan berada

dalam kondisi liquid. Liquid yaitu keadaan dimana perusahaan dinyatakan

sehat dan dalam keadaan baik karena mampu melunasi kewajiban jangka

pendek. Rasio solvabilitas perusahaan berada pada posisi insolvable. Hal ini

dapat dilihat pada rasio solvabilitas keadaan modal perusahaan tidak

mencukupi untuk menjamin hutang yang diberikan oleh kreditur. Insolvable

yaitu keadaan dimana kemampuan perusahaan untuk membayar hutang-

hutangnya secara tepat waktu berada dalam posisi bermasalah bahkan

cenderung tidak tepat waktu. Rasio aktivitas perusahaan dikatakan baik. Hal

ini dapat dilihat pada keempat rasio aktivitas menunjukkan adanya

peningkatan dari tahun ke tahun. Rasio profitabilitas perusahaan dalam

posisi yang baik. Hal ini dapat dilihat pada peningkatan rasio profitabilitas,
13

hal ini menunjukkan keberhasilan perusahaan untuk menghasilkan laba

setiap tahun semakin meningkat.

Tabel 3.1. Ringkasan Penelitian Terdahulu

Unsur
No Uraian
Penelitian
Cindy Thirsa Suling, Sientje C. Nangoy, Victoria N.
Peneliti (Tahun)
Untu (2014)
Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan
Menggunakan Metode CAMEL Pada PT. Bank Sulut
Judul
(Persero) Tbk Dan PT. Bank Sulsebar (Persero) Tbk.
1 Periode 2010-2013
Jenis Penelitian Komparatif
Sama-sama menggunakan analisis rasio dan sama-sama
Persamaan
menggunakan jenis penelitian komparatif.
Objek penelitian dan penelitian ini tidak menggunakan
Perbedaan
metode CAMEL.
Peneliti (Tahun) Yunita Irenne Manitik (2013)
Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan Pada PT. XL
Judul
Axiata Tbk. Dan PT. Indosat Tbk.
Jenis Penelitian Deskriptif
2
Objek penelitian dan sama-sama menggunakan analisis
Persamaan
rasio.
Jenis penelitian dan hanya membandingkan dua
Perbedaan
perusahaan.
Peneliti (Tahun) Risma Ayunda, Dini Widyawati (2014)
Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan Pada
Judul Perusahaan Makanan Dan Minuman Di Bursa Efek
Indonesia Periode 2009-2012
3
Jenis Penelitian Kualitatif Deskriptif
Sama-sama menggunakan analisis rasio dalam
Persamaan
melakukan perbandingan kinerja keuangan.
Perbedaan Objek penelitian dan jenis penelitian
Peneliti (Tahun) Silvi Junita dan Siti Khairani (2013)
Analisis Kinerja Perusahaan dengan Menggunakan
Analisa Rasio Keuangan pada Perusahaan
Judul
Telekomunikasi yang Terdaftar di Bursa Efek
Indonesia
4
Jenis Penelitian Deskriptif
Objek Penelitian dan sama-sama menggunakan analisis
Persamaan
rasio.
Jenis penelitian dan menggunakan teknik pengambilan
Perbedaan
sampel purposive sampling.
14

Peneliti (Tahun) Hendry Andres Maith (2013)


Analisis Laporan Keuangan Dalam Mengukur Kinerja
Judul
Pada PT. Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk
Jenis Penelitian Deskriptif
5
Sama-sama melakukan analisis laporan keuangan untuk
Persamaan menilai kinerja perusahaan dan sama-sama
menggunakan data sekunder.
Perbedaan Objek penelitian dan jenis penelitian

3.2. Tinjauan Teoritis

3.2.1. Kinerja Keuangan

Fahmi (2012:2) Kinerja keuangan adalah suatu analisis yang

dilakukan untuk melihat sejauh mana suatu perusahaan telah

melaksanakan dengan menggunakan aturan-aturan pelaksanaan

secara baik dan benar. Kinerja keuangan merupakan sesuatu yang

dihasilkan oleh suatu organisasi dalam periode tertentu dengan

mengacu pada standar yang ditetapkan (Zarkasyi, 2008:48). Hasil

kinerja keuangan ini dapat digunakan manajer untuk mengetahui

perkembangan dan keadaan keuangan perusahaan. Disamping itu

juga berguna untuk mengetahui kelemahan serta hasil-hasil yang

telah dicapai perusahaan.

3.2.2. Pengertian Laporan Keuangan

Laporan keuangan merupakan suatu informasi yang

menggambarkan kondisi laporan keuangan suatu perusahaan, dan

lebih jauh informasi tersebut dapat dijadikan sebagai gambaran

kinerja keuangan perusahaan tersebut (Fahmi, 2012:21). Sedangkan

menurut Kasmir (2017:7) laporan keuangan adalah laporan yang


15

menunjukkan kondisi keuangan perusahaan pada saat ini atau dalam

suatu periode tertentu

3.2.3. Tujuan Laporan Keuangan

Menurut Kasmir (2017:11) terdapat beberapa tujuan

pembuatan atau penyusunan laporan keuangan yaitu :

1. Memberikan informasi tentang jenis dan jumlah aktiva


(harta) yang dimiliki perusahaan pada saat ini.
2. Memberikan informasi tentang jenis dan jumlah
kewajiban dan modal yang dimiliki perusahaan pada saat
ini.
3. Memberikan informasi tentang jenis jenis dan jumlah
pendapatan yang diperoleh pada suatu periode tertentu.
4. Memberikan informasi tentang jumlah biaya dan jenis
biaya yang dikeluarkan perusahaan dalam suatu periode
tertentu.
5. Memberikan informasi tentang perubahan-perubahan
yang terjadi terhadap aktiva, pasiva, dan modal
perusahaan.
6. Memberikan informasi tentang kinerja manajemen
perusahaan dalam suatu periode.
7. Memberikan informasi tentang catatan-catatan atas
laporan keuangan.
8. Informasi keuangan lainnya.

3.2.4. Komponen Laporan Keuangan

Adapun komponen laporan keuangan dalam buku Sugiyarso

dan Winarni (2005:2) menyebutkan laporan keuangan terdiri dari :

1. Neraca
Neraca adalah laporan yang sistimatis tentang
aktiva, kewajiban dan ekuitas dari suatu perusahaan pada
suatu saat tertentu. Yang dimana terdiri dari tiga bagian
yaitu :
1. Aktiva, merupakan sumber daya yang dikuasai oleh
perusahaan akibat dari peristiwa masa lalu dan dari
mana manfaat ekonomi di masa depan diharapkan
akan diperoleh perusahaan.
2. Kewajiban, merupakan hutang perusahaan masa kini
yang timbul dari peristiwa masa lalu,
16

penyelesaiannya diharapkan mengakibatkan arus


keluar dari sumber daya perusahaan yang
mengandung manfaat ekonomi.
3. Ekuitas, merupakan bagian hak pemilik dalam
perusahaan yaitu selisih aktiva dengan kewajiban
yang ada.
2. Laporan Laba Rugi
Penghasilan bersih atau laba sering kali
digunakan sebagai ukuran kinerja atau sebagai dasar bagi
ukuran yang lain seperti imbalan investasi (return on
investment) atau penghasilan perlembar saham (earning
per share). Dimana pada laporan laba rugi terdapat dua
komponen yaitu :
1. Penghasilan, merupakan kenaikan manfaat ekonomi
selama suatu periode akuntansi dalam bentuk
pemasukan atau penambahan aktiva atau penurunan
kewajiban yang mengakibatkan kenaikan ekuitas
yang tidak berasal dari kontribusi penanaman modal.
2. Beban, merupakan penurunan manfaat ekonomi
selama suatu periode akuntansi dalam bentuk arus
keluar atau berkurangnya aktiva atau terjadinya
kewajiban yang mengakibatkan penurunan ekuitas
yang tidak menyangkut pembagian kepada penanam
modal.

3.2.5. Teknik Analisis Laporan Keuangan

Menurut Harahap (2002:209) kegiatan yang digunakan

dalam analisis laporan keuangan dari berbagai teknik yang akan

dilakukan adalah sebagai berikut:

1. Menghitung rasio, indeks, perbedaan, kenaikan,


penurunan atau persentase.
2. Membandingkan laporan keuangan baik dengan
menggambarkannaya, membuat indeks, membuat angka
asli. Angka ini dibandingkan dengan periode
sebelumnya, perusahaan sejenis atau industri (rasio rata-
rata industri).
3. Menilai angka-angka : kenaikan, perbedaan dengan
lainnya, penurunan, atau rasio lainnya.
4. Menganalisa atau menghubungkan satu sama lain atau
mencari kemungkinan penyebab persoalan yang
menyebabkan perbedaan atau penurunan atau kenaikan.
17

5. Menghubungkan satu data dengan data yang lain baik


antara data kualitatif maupun dengan data kuantitatif
misalnya antara kenaikan penjualan dengan kenaikan
biaya. Antara data kualitatif dengan data kuantitatif
misalnya antara kondisi ekonomi nasional dengan angka
penjualan.
6. Menggunakan model atau rumus-rumus tertentu dengan
menggunakan metode interplasi, mengujinya sekaligus
melihat hasil dan membandingkannya dengan kenyataan
yang terjadi.

Dalam penelitian ini yang digunakan yaitu teknik

membandingkan laporan keuangan dan menghitung rasio, indeks,

kenaikan, penurunan atau presentase.

3.2.6. Pengertian Rasio Keuangan

Menurut Kasmir (2017:104)rasio keuangan merupakan


kegiatan membandingkan angka-angka yang ada dalam laporan
keuangan dengan cara membagi satu angka dengan angka
lainnya.Munawir (2007:64) mendefinisikan rasio keuangan adalah
menggambarkan suatu hubungan atau perimbangan (mathematical
relationship) antara suatu jumlah tertentu dengan jumlah yang lain.
Sedangkan menurut Harahap (2002:297) rasio keuangan adalah
angka yang diperoleh dari hasil perbandingan dari satu pos laporan
keuangan dengan pos lainnya yang mempunyai hubungan yang
relevan dan signifikan (berarti).
3.2.7. Standar Penilaian Rasio Keuangan

Dalam menafsir rasio keuangan diperlukan alat pembanding

agar rasio itu bermakna dan dapat dilihat prestasi atau posisi

perusahaan.

1. Harahap (2002:303) mengemukakan bahwa untuk mendapatkan

rasio pembanding atau yardstick maka dapat digunakan :


18

a. Rasio perusahaan yang terbaik dalam industri yang


bersangkutan.
b. Budget (anggaran) perusahaan.
c. Standar ilmiah.
d. Rasio yang dikeluarkan lembaga atau badan pengatur
(regulator).
e. Rata-rata industri atau industrial norm.

2. Menurut Munawir (2007:101)

a. Standar rasio atau rasio rata-rata dari industri semacam


dimana perusahaan yang data keuangannya sedang
dianalisis menjadi anggota.
b. Rasio yang telah ditentukan dalam budget anggaran yang
bersangkuatan.
c. Rasio-rasio semacam diwaktu lalu (ratio historis) dari
perusahaan yang bersangkutan.
d. Rasio keuangan dari perusahaan lain yang sejenis yang
merupakan pesaing perusahaan yang dinilai cukup baik
atau berhasil dalam usahanya.

Dalam penelitian ini yang digunakan sebagai standar

penilaian rasio keuangan yaitu rasio rata-rata industri.

3.2.8. Macam-macam Rasio

Pada umumnya rasio keuangan dibagi menjadi empat

macam rasio yaitu :

1. Rasio Likuiditas

Rasio likuiditas merupakan kemampuan perusahaan dalam

melunasi sejumlah utang jangka pendek, umumnya kurang dari satu

tahun (Harmono, 2009:106). Rasio likuiditas menunjukkan

kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansial yang

berjangka pendek tepat pada waktunya (Sartono, 2010:114).

Sedangkan menurut Fred Weston (Kasmir, 2017:110) rasio


19

likuiditas merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan

perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek.

Rasio likuiditas terdiri dari rasio lancar (current ratio), rasio

sangat lancar (quick ratio atau acid test ratio), rasio kas (cash ratio),

rasio perputaran kas, inventory to net working capital. Rasio

likuiditas yang digunakan dalam penelitian ini yaitu current ratio.

2. Rasio Aktivitas

Rasio aktivitas menunjukkan sejauh mana efisiensi

perusahaan dalam menggunakan assets untuk memperoleh

penjualan (Sartono, 2010:114).

Rasio aktivitas adalah rasio keuangan perusahaan


yang mencerminkan perputaran aktiva mulai dari kas
dibelikan persediaan, untuk perusahaan manufaktur
persediaan tersebut diolah sebagai bahan baku sampai
menjadi produk jadi kemudian dijual baik secara kredit
maupun tunai yang pada akhirnya kembali menjadi kas lagi
(Harmono, 2009:107).

Sedangkan menurut Kasmir (2017:172) rasio aktivitas

(activity ratio) merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur

efektivitas perusahaan dalam menggunakan aktiva yang

dimilikinya.

Rasio aktivitas terdiri dari perputaran piutang (receivable

turn over), perputaran sediaan (inventory turn over),perputaran

modal kerja (working capital turn over), perputaran aktiva tetap

(fixed assets turn over), perputaran aktiva (total assets turn over).

Rasio aktivitas yang digunakan dalam penelitian ini yaitu perputaran


20

aktiva (total assets turn over) dan perputaran sediaan (inventory

turnover).

3. Rasio Solvabilitas (leverage ratio)

Rasio solvabilitas atau leverage ratio merupakan rasio yang

digunakan untuk mengukur sejauh mana aktiva perusahaan dibiayai

dengan utang (Kasmir, 2017:151). Financial leverage ratio

menunjukkan kapasitas perusahaan untuk memenuhi kewajiban baik

itu jangka pendek maupun jangka panjang (Sartono, 2010:114).

Sedangkan menurut Harahap (2002:303) rasio leverage

menggambarkan kewajiban perusahaan dalam membayar kewajiban

jangka panjangnya atau kewajiban-kewajibannya bila perusahaan

dilikuidasi.

Rasio solvabilitas atau leverage terdiri dari debt to total asset

ratio (debt ratio), debt to equity ratio, long term debt to equity ratio,

time interest earned dan fixed charge coverage. Rasio solvabilitas

yang digunakan dalam penelitian ini yaitu debt ratio dan debt to

equity ratio.

4. Rasio profitabilitas

Rasio profitabilitas merupakan rasio untuk menilai

kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan (Kasmir,

2017:196). Rasio profitabilitas dapat mengukur seberapa besar

kemampuan perusahaan memperoleh laba baik dalam hubungannya

dengan penjualan, assets maupun laba bagi modal sendiri (Sartono,


21

2010:114). Sedangkan Harahap (2002:304) mendefinisikan rasio

profitabilitas atau disebut juga rentabilitas menggambarkan

kemampuan perusahaan mendapatkan laba melalui semua

kemampuan dan sumber yang ada.

Rasio profitabilitas terdiri dari Profit Margin, Net Profit

Margin, Return On Investment (ROI), Return On Equity (ROE), dan

Earnings Per Share (EPS). Rasio profitabilitas yang digunakan

dalam penelitian ini yaitu Return On Investment (ROI), Return On

Equity (ROE), dan Net Profit Margin.

3.3. Kerangka Konseptual Penelitian

Laporan Keuangan

Analisis Laporan Keuangan

Analisis Rasio

Membandingkan Dengan
Rasio Rata-Rata Industri
Perusahaan Telekomunikasi

1. Di Atas Rasio Rata-rata


Industri
2. Sama Dengan Rasio Rata-
Rata Industri
3. Di Bawah Rasio Rata-Rata
Industri

4. METODE PENELITIAN
22

4.1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode

komparatif. Metode ini digunakan karena penelitian ini memberikan

gambaran mengenai kinerja keuangan perusahaan telekomunikasi, yang

dimana kinerja keuangan tersebut diukur dengan analisis rasio keuanagan

yang kemudian dibandingkan dengan rasio rata-rata industri.

4.2. Objek Penelitian

Objek penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu

perusahaan telekomunikasi yang listed di Bursa Efek Indonesia tahun 2013-

2016. Alasan peneliti memilih objek tersebut karena perusahaan

telekomunikasi yang terdaftar di BEI merupakan perusahaan-perusahaan

yang memilki prospek usaha yang cerah dilihat dari perkembangan

teknologi telekomunikasi yang semakin pesat.

4.3. Metode Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini metode pengumpulan data yang digunakan

adalah metode sensus. Menurut Sugiyono (2009:122), sensus adalah teknik

penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel.

Dimana kriteria dari sampel tersebut adalah perusahaan telekomunikasi

yang listed di BEI pada tahun 2013-2016 dan yang mempublikasikan

laporan keuangannya dan harga saham tiap bulannya pada tahun 2013-2016

melalui www.idx.co.id. Metode ini sering digunakan bila jumlah populasi

relatif kecil, kurang dari 30 atau penelitian yang ingin membuat generalisasi

dengan kesalahan yang sangat kecil. Adapun populasi perusahaan


23

telekomunikasi yang diteliti yaitu PT. Bakrie Telecom Tbk, PT. XL Axiata

Tbk, PT. Smartfren Telecom Tbk, PT. Indosat Tbk, dan PT. Telekomunikasi

Indonesia Tbk.

4.4. Teknik Pengumpulan Data

Teknik yang digunakan untuk pengumpulan data yang diperlukan

dalam penelitian ini adalah dokumentasi yaitu teknik pengumpulan data

dengan cara melihat dan melakukan pencatatan data yang diterbitkan oleh

BEI pada website www.idx.co.id berupa laporan keuangan perusahaan

telekomunikasi yang dipublikasikan oleh Bursa Efek Indonesia berupa data

kuantitatif periode 2013-2016.

4.5. Jenis dan Sumber Data

4.5.1. Jenis Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data

kuantitatif dan kualitatif.

1. Data kuantitatif, yaitu data yang merupakan angka-angka (dapat

diukur besarnya) dan dapat dihitung secara pasti seperti jumlah

atau satuan, dalam penelitian ini berupa laporan neraca dan

laporan rugi-laba perusahaan telekomunikasi pada tahun 2013-

2016.

2. Data kualitatif, yaitu data dalam bentuk kalimat atau keterangan

karena data ini tidak dapat dijelaskan dalam bentuk angka

sehingga besarnya tidak dapat diukur. Dalam hal ini data


24

tersebut berupa gambaran umum perusahaan telekomunikasi

yang listed di BEI tahun 2013-2016.

4.5.2. Sumber Data

Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah

data sekunder yaitu data dalam bentuk informasi yang diperoleh dari

objek penelitian yang disajikan antara lain dalam bentuk tabel-tabel

atau diagram-diagram, dalam penelitian ini berupa data dokumen

yang tersedia pada website www.idx.co.id yaitu laporan keuangan

perusahaan telekomunikasi berupa neraca, laporan rugi laba dan

harga saham penutupan tahun 2013-2016.

4.6. Klasifikasi Variabel

Berdasarkan penjelasan di atas, variabel-variabel yang akan

dianalisis dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

1. Rasio Likuiditas

a. Current Ratio

2. Rasio Aktivitas

a. Total Asset Turn Over

b. Inventory Turn Over

3. Rasio Solvabilitas (leverage ratio)

a. Debt To Total Asset Ratio (debt ratio)

b. Total Debt To Equity Ratio

4. Rasio Profitabilitas

a. Return On Investment (ROI)


25

b. Return On Equity (ROE)

c. Net Profit Margin

4.7. Definisi Operasional Variabel

Berdasarkan klasifikasi variabel di atas maka definisi operasional

variabelnya sebagai berikut :

1. Rasio Likuiditas, adalah rasio yang mengukur kemampuan suatu

perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansial jangka pendek.

a. Current Ratio, yaitu rasio untuk menghitung berapa kemampuan

suatu perusahaan membayar hutang lancar dengan aktiva lancar yang

tersedia yang dinyatakan dalam satuan persen.

2. Rasio Aktivitas, yaitu rasio yang mengukur efektivitas perusahaan dalam

memanfaatkan sumber daya yang dimiliki.

a. Total Asset TurnOver, yaitu rasio yang menujukkan efektivitas

penggunaan seluruh harta perusahaan dalam rangka menghasilkan

penjualan yang dinyatakan dalam satuan kali (x).

b. Inventory Turn Over, yaitu rasio yang mengukur efisiensi pengelolaan

persediaan barang dagangan (dalam penelitian ini persediaan

perusahaan telekomunikasi adalah pulsa, kartu perdana, voucer,

modem, perangkat telekomunikasi dll). Rasio ini dinyatakan dalam

satuan kali (x).

3. Ratio Solvabilitas (leverage ratio), adalah rasio yang menunjukkan

kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajibannya apabila

perusahaan dilikuidasi.
26

a. Debt Ratio, yaitu perbandingan total hutang dengan total aktiva yang

dinyatakan dalam satuan persen.

b. Debt to Equity Ratio, yaitu rasio hutang yang diukur dengan

membandingkan hutang dengan modal sendiri yang diukur dengan

presentase.

4. Ratio Profitabilitas, yaitu rasio yang mengukur seberapa besar

kemampuan perusahaan memperoleh laba dalam hubungannya dengan

penjualan, maupun asset.

a. Return on Investment (ROI), yaitu perbandingan antara keuntungan

bersih perusahaan dengan seluruh aktiva perusahaan yang dinyatakan

dalam satuan persen.

b. Return on Equity (ROE), yaitu rasio yang memperlihatkan sejauh

mana perusahaan mengelola modal sendiri secara efektif, mengukur

tingkat keuntungan dari investasi yang telah dilakukan pemilik modal

sendiri atau pemegang saham perusahaan yang dinyatakan dalam

presentase.

c. Net Profit Margin, yaitu perbandingan antara laba bersih dengan

penjualan netto yang dinyatakan dalam satuan persen.

4.8. Prosedur Analisis Data

Untuk memecahkan masalah yang telah diajukan, maka digunakan

prosedur atau langkah-langkah pengujian dengan alat dan teknik analisa

sebagai berikut :
27

4.8.1. Mencari rasio masing-masing perusahaan telekomunikasi

Rasio-rasio yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

1. Analisis Rasio Likuiditas

Dalam menghitung tingkat rasio likuiditas digunakan alat

analisa sebagai berikut :

a. Current Ratio

Merupakan perbandingan antara aktiva lancar

dengan hutang lancar. Semakin besar current ratio dan

berada di atas rasio rata-rata industri maka akan semakin

baik.

Aktiva Lancar
Current Ratio = X 100%
Hutang Lancar

(Riyanto, 2008:332)

2. Analisis Rasio Aktivitas

a. Total Asset Turn Over

Rasio ini menujukkan efektivitas penggunaan

seluruh harta perusahaan dalam rangka menghasilkan

penjualan atau menggambarkan beberapa rupiah

penjualan bersih yang dapat dihasilakn oleh setiap rupiah

yang diinvestasikan dalam bentuk harta perusahaan.

Penjualan
Total asset Turnover = x1(kali)
Total Aktiva

(Riyanto, 2008:334)

b. Inventory Turn Over Ratio


28

Rasio ini mengukur efektifitas perusahaan dalam

memanfaatkan pengelolaan persediaan barang dagangan.

Semakin besar rasio ini dan berada di atas rasio rata-rata

industri maka akan semakin baik.

Penjualan
Inventory TurnOver Ratio = x1(kali)
Persediaan

(Riyanto, 2008:334)

Rasio ini merupakan indikasi yang cukup untuk

menilai efisiensi operasional, yang memperlihatkan

seberapa baiknya manajemen mengontrol modal yang

ada pada perusahaan. Semakin besar rasio ini dan berada

di atas rasio rata-rata industri maka akan semakin baik.

3. Analisis Rasio Solvabilitas (Leverage)

a. Total Debt To Total Asset Ratio

Rasio ini digunakan untuk menunjukkan

kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajibannya

apabila dilikuidasi. Semakin tinggi hasil persentasenya

cenderung semakin besar risiko keuangan bagi kreditur

maupun pemegang saham.

Total Debt To Total Asset Ratio =

Total Hutang
x100%
Total Aktiva

(Riyanto, 2008:333)

b. Total Debt To Equity Ratio


29

Rasio ini digunakan untuk menilai utang dengan

ekuitas. Bagi perusahaan semakin besar rasio maka akan

semakin baik, sedangkan bagi bank (kreditur) semakin

besar rasio ini akan semakin tidak menguntungkan

karena akan semakin besar risiko yang ditanggung atas

kegagalan yang mungkin terjadi di perusahaan.

Total Utang
Total Debt to Equity Ratio = x100%
Ekuitas

(Kasmir, 2017:158)

4. Analisis Rasio Profitabilitas

a. Return On Investment (ROI)

Rasio ini menunjukkan hasil (return) atas jumlah

aktiva yang digunakan dalam perusahaan. ROI juga

merupakan suatu ukuran tentang efektivitas manajemen

dalam mengelola investasinya.

Erning After Interest and Tax


ROI = x100%
Total Asset

(Kasmir, 2017:202)

Semakin kecil (rendah) rasio ini, semakin kurang

baik, demikian pula sebaliknya.

b. Return On Equity (ROE)

Rasio ini mengukur laba bersih sesudah pajak

dengan modal sendiri. Semakin tinggi rasio ini, semakin


30

baik. Artinya posisi pemilik perusahaan semakin kuat,

demikian pula sebaliknya.

ROE =

Earning After Interest and Tax


x100%
Equity

(Kasmir, 2017:204)

c. Net Profit Margin

Rasio ini merupakan ukuran keuntungan dengan

membandingkan antara laba setelah bunga dan pajak

dibandingkan dengan penjualan. Apabila rasio ini berada

di atas rasio rata-rata industri maka akan semakin baik,

demikian pula sebaliknya.

Earning After Interest and Tax


Net Profit Margin = x100%
Sales

(Kasmir, 2017:200)

4.8.2. Menghitung rasio rata-rata industri.

Metode rata-rata industri yang digunakan adalah metode

rata-rata hitung dari suatu sampel perusahaan telekomunikasi yang

terdaftar di BEI. Untuk mencari nilai rata-rata hitung dilakukan

dengan cara membagi nilai total rasio masing-masing perusahaan

dengan jumlah perusahaan yang diteliti.

1. Rasio Likuiditas Rata-Rata


31

a. Current Ratio Rata-Rata 2013-2016 =

CR.1  CR.2  ....CR.5


5

2. Rasio Aktivitas Rata-Rata

a. Total Asset Turn Over Rata-Rata 2013-2016 =

TATO.1  TATO.2  ....TATO.5


5

b. Inventory Turn Over Rata-Rata 2013-2016 =

ITO.1  ITO.2  ....ITO.5


5

3. Rasio Solvabilitas (leverage) Rata-Rata

a. Total Debt To Total Asset Ratio Rata-Rata 2013-

2016 =

DR.1  DR.2  ....DR.5


5

b. Total Debt to Equity Ratio Rata-Rata 2013-2016 =

DER.1  DER.2  ....DER.5


5

4. Rasio Profitabilitas Rata-Rata

a. Return on Investment Rata-Rata 2013-2016 =

ROI.1  ROI.2  ....ROI.5


5

b. Return on Equity Rata-Rata 2013-2016 =

ROE.1  ROE.2  ....ROE.5


5

c. Net Profit Margin Rata-Rata 2013-2016 =


32

NPM.1  NPM.2  ....NPM.5


5

4.8.3. Mengadakan perbandingan masing-masing perusahaan

dengan rasio rata-rata.

4.8.3.1. Menentukan posisi perusahaan dengan kriteria :


a. Di Atas Rasio Rata-rata Industri.

b. Sama Dengan Rasio Rata-rata Industri.

c. Di Bawah Rasio Rata-rata Industri.