Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN KASUS

PREEKLAMSIA

Pembimbing :

dr. Ananingati, Sp.OG

Disusun Oleh :

M Yusuf Effendi 201720401011173

Wenna Valentine 201720401011135

SMF ILMU OBSTETRI DAN GINEKOLOGI RUMAH SAKIT BHAYANGKARA

KEDIRI

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

FAKULTAS KEDOKTERAN

2018

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmatNya

penulis dapat menyelesaikan laporan kasus stase Obstetri dan Ginekologi dengan

topik “Abortus Imminens”. Laporan ini disusun dalam rangka menjalani

kepaniteraan klinik bagian Obstetri dan Ginekologi di Rumah Sakit Bhayangkara

Kediri. Tidak lupa penulis ucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah

membantu dalam penyusunan laporan kasus ini, terutama kepada dr. Ananingati,

SpOG selaku dokter pembimbing yang telah memberikan bimbingan kepada

penulis dalam penyusunan dan penyempurnaan laporan kasus ini. Tidak lupa pula,

penulis juga mengucapkan terima kasih kepada dr. Andoko, SpOG atas ilmu yang

beliau berikan kepada penulis.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa laporan kasus ini masih jauh dari

sempurna, untuk itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis

harapkan. Semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat dalam bidang kedokteran

khususnya Bagian Obstetri dan Ginekologi.

Kediri, Desember 2018

2
BAB 1

PENDAHULUAN

Istilah abortus dipakai untuk menunjukan ancaman atau pengeluaran hasil

konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar kandungan dan berusia kurang dari 20

minggu dengan berat badan kurang dari 500 gr. Insiden abortus spontan secara

umum pernah disebutkan sebesar 10% dari seluruh kehamilan. Abortus spontan

adalah abortus yang berlangsung tanpa tindakan mekanis atau medis. Abortus

buatan adalah pengakhiran kehamilan sebelum 20 minggu akibat dilakukan suatu

tindakan mekanis tertentu. Abortus terapeutik ialah abortus buatan yang dilakukan

atas indikasi medik. Berdasarkan aspek klinisnya, abortus spontan dibagi menjadi

beberapa kelompok, yaitu abortus imminens (threatened abortion), abortus

insipiens (inevitable abortion), abortus inkomplit, abortus komplit, missed

abortion, dan abortus habitualis (recurrent abortion), abortus servikalis, abortus

infeksiosus, dan abortus septik (Sarwono, 2014).

Prevalensi abortus spontan bervariasi sesuai kriteria yang digunakan untuk

mengidentifikasinya. Sebagai contoh wilcox dkk mempelajari 221 wanita sehat

melalui 707 daur haid didapatkan bahwa 31% kehamilan gagal setelah implantasi.

Dua pertiga kematian ini dianggap sebagai asimptomatis. Sejumlah faktor

mempengaruhi terjadinya abortus spontan diantaranya kelainan pada kromosom.

Dari 1.000 kejadian abortus spontan, setengahnya merupakan blighted ovum dan

50-60 % dikarenakan abnormalitas kromosom. Disamping kelainan kromosom,

abortus spontan juga disebabkan oleh penggunaan obat dan faktor lingkungan,

seperti konsumsi kafein selama kehamilan infeksi, kelainan anatomi, factor

3
endokrin, factor immunologi, dan penyakit sistemik pada ibu (Cunningham, dkk

2013).

BAB 2

LAPORAN KASUS

2.1. Identitas Pasien

Nama : Ny. SR

Umur : 40 tahun

Tgl MRS : 23-08-2018

No RM : 030221

RS : RSIA Siti Khadijah 1

Agama : Islam

Alamat : BTN Minasa Upa Blok N 14.21 Gunung Sari Rappocini

Makassar

Pekerjaan : Ibu rumah tangga

Pendidikan : SMA

Bangsa : Indonesia

Suku : Bugis Makassar

Status perkawinan : Menikah sejak 2012

2.2. Anamnesis

4
Keluhan utama : Sakit kepala

Riwayat Penyakit Sekarang :

Ibu masuk rumah sakit dengan keluhan sakit kepala sejak tadi malam. Nyeri ulu

hati, mual, muntah 2 kali. Penglihatan kabur (-). Nyeri perut tembus ke belakang

(-). Keluar lendir, darah dan air tidak ada

Riwayat Penyakit Dahulu :

Toxo : disangkal

Hipertensi : Kehamilan ini sejak hamil 5 bulan, HT diluar kehamilan

tidak ada, HT pada kehamilan sebelumnya (+)

Diabetes mellitus : disangkal

Asma : disangkal

Kejang : disangkal

Alergi : disangkal

PEB : Kehamilan pertama

Riwayat Penyakit Keluarga :

Hipertensi : (+) Ayah Pasien

Diabetes mellitus : (+) Ibu Pasien

Asma : disangkal

Alergi : disangkal

Riwayat Sosial :

Pola makan dan minum baik, pola istirahat baik, pasien tidak konsumsi kopi

danjamu. BAK/BAB baik.

Riwayat Menstruasi :

5
Menarche : 12 tahun

Siklus : teratur setiap bulan, 28 hari

Lama : 7 hari

Nyeri haid : disangkal

HPHT : 05-11-2017

HPL : 12-08-2018

Riwayat Perkawinan :

Kawin : ya , 1 kali, lama menikah 18tahun

Riwayat ANC :

Rutin periksa di dokter spesialis Kandungan.

Riwayat Persalinan sebelumnya :

Tempat Usia Jenis Penolong Jenis BBL Keadaan anak

Partus Kehamilan Persalinan Persalinan Kelamin

RS 9 bulan SC Dokter Perempuan 2700 Hidup / 3 th

Hamil ini

Riwayat KB : Disangkal

2.3. Pemeriksaan Fisik

Keadaan Umum : Baik

Kesadaran : Kompos Mentis

BB/TB : 60 kg (sebelum hamil 54 kg) / 150 cm

Vital sign :

Tekanan Darah : 160/110 mmHg

6
Nadi : 96 x/ mnt

Suhu : 36.6oC

RR : 20x/menit

Status Umum

Kepala : Oedem kelopak mata - / -

Konjunctiva anemis - / -

Sclera icterus - / -

Dypsneu -

Leher : Pembesaran KGB (-)

Thorax :Bentuk normal, gerak simetris, tak tampak sesak, retraksi dinding dada

-/-,wh -/-, rh -/- , mammae membesar +/+,hiperpigmentasi areola

mammae +/+

Abdomen :Inspeksi : rounded ,cicatrix (+), bekas operasi (+), striae (+)

Palpasi : nyeri tekan (+) ulu hati, Hepar lien tidak teraba

Genitalia : tidak tampak darah atau lendir.

Extermitas : Akral hangat, kering, merah; anemis -, ikterus -, edema tungkai +/+

2.4. Pemeriksaan Obstetri :

 Leopold I: teraba bulat melenting TFU 38 cm

 Leopold II: punggung kanan

 Leopold III: teraba lunak

 Leopold IV: Konvergen, 5/5

 His : (-)

7
 DJJ: 146 x/menit

 TBJ : 3458 gram

Pemeriksaan dalam vagina :

Vulva/ vagina : tidak ada kelainan/ tidak ada kelainan

Porsio : lunak, tebal

Pembukaan : tidak ada

Ketuban : sulit dinilai

Bagian terdepan : sulit dinilai

Panggul dalam kesan cukup

Pelepasan darah (-), lendir (-), air (-)

2.5. Pemeriksaan Penunjang

Darah Rutin Hasil


WBC 12,7 x 103 /uL
RBC 3,19 x 106 /uL
HGB 10,6 g/dL
HCT 24,3 %
PLT 491 x 103 /uL
CT 11 menit
BT 2 menit 30 saat
GDS 114 mg/dL
HbsAg Non reaktif
Anti HIV Non reaktif
Urinalisa Hasil
Warna Kuning muda, keruh
Protein +3

USG

Gravid, tunggal, hidup, intrauterin, presentasi kepala, punggung kanan, plasenta di

corpus lateralis kiri grade II, AFI 5.28, EFW 3004 gram, biometri janin sesuai

umur kehamilan 38 minggu 2 hari.

8
2.6. Diagnosis

GIIP1001Ab000 37-38 minggu THIU + PEB + impending eclampsia + post SC

1x + TBJ 3458 gram

2.7. Planning

1. Planning terhadap ibu (penyakit)

- MRS

- O2 6-8 liter/ menit NRM

- MgSO4 4g IV (MgSO4 20%) 20cc selama 5-10 menit

- MgSO4 10g IM (MgSO4 40%) pelan masing masing pada bokong kanan

kiri 5g . Dapat dicampur dengan lidokain untung mengurangi nyeri

- Lanjut Maintenance dose 5g MgSO4 pelan IM bergantian kanan kiri tiap 6

jam hingga 24 Jam

- Infus RL 500cc 20tpm

- Nifedipine 3 x 10 mg tab PO

- Pasang Kateter Urin (Cek diuresis)

- Siapkan darah PMI

- Antibiotik  ceftriaxone 1g/hr IV Skin test

2. Planning terhadap janin

- NST (Non-Stressed Test)

3. Planning terhadap kehamilan

- CITO SSTP

Planing Monitoring

- TTV

9
- Keluhan Pasien : Nyeri Epigastrium, Nyeri kepala, Nyeri bekas operasi

- TFU

- Bekas operasi

- Diuresis, reflek patella, (Intoksikasi MgSO4)

- Lokia

- ASI

- Perdarahan

Follow Up

Tanggal/ Jam SOAP


23-08-18 Lahir perempuan, BBL 2900 gram, PBL 47cm,
11.20 A/S 8/10
23-08-18 S: nyeri luka operasi
13.00
O:
Keadaan umum lemah
Tekanan darah : 140/100 mmHg
Nadi : 93 xmenit
Pernafasan : 20 x/menit
Suhu : 36,9℃

TFU : setinggi pusat


Flatus : -
Bab : belum
Bak : per kateter 500 cc/ 3 jam

A: POH 0

P:
Drips MgSO4 40% 6 gram dalam RL 500 cc 28
tpm (lanjut sampai 24 jam post partum)
Drips oxytocin 20 IU dalam 500 cc RL 28 tpm
Inj cefoperazone 1gr/12jam/iv
Inj ketorolac 30 mg/ 8jam/ iv
Inj asam traneksamat 1amp/8jam/iv
Inj ranitidin 50mg/8jam/iv
Nifedipine 3 x 10mg tab
Cek Hb post operasi  tunggu hasil

10
24-08-18 S: nyeri luka operasi
06.00
O:
Keadaan umum sedang
Status vitalis :
Tekanan darah : 140/90 mm
Nadi : 90 xmenit
Pernafasan : 20 x/menit
Suhu : 36,6 ℃

Pemeriksaan luar:
Mammae : tak/tak
ASI : +/+
TFU 2 jari di bawah pusat
Luka operasi : verban kering
Lokia : kruenta
Peristaltik : +
Flatus : +
Bab : belum
Bak : per kateter 35 cc/ jam (650 cc)
Hb post op : 8,5 gr/dL

A:
POH 1
P2 A0 post SSTP a.i PEB

P:
MgSO4 40% 6 gram dalam RL 500 cc 28 tpm
dilanjut dengan
IVFD RL : D5 2:1 28 tpm
Inj cefoperazone 1gr/12jam/iv
Inj ketorolac 30 mg/ 8jam/ iv
Inj asam traneksamat 1amp/8jam/iv
Inj ranitidin 50mg/8jam/iv
Nifedipine 3 x 10mg tab
Makan minum sedikit-sedikit
Mobilisasi bertahap
Konseling KB AKDR

25-08-18 S: nyeri luka operasi


06.00
O:
Keadaan umum sedang
Status vitalis :
Tekanan darah : 140/90 mmHg
Nadi : 94 xmenit
Pernafasan : 20 x/menit
Suhu : 36,5℃

11
Pemeriksaan luar:
Mammae : tak/tak
ASI : +/+
TFU 2 jari di bawah pusat
Luka operasi : kering
Lokia : kruenta
Peristaltik : +
Flatus : +
Bab : sudah
Bak : per kateter 40cc/jam

A:
POH 2
P2 A0 post SSTP a.i PEB

P:
Cefadroxil 2 x 500 mg tab
Asam mefenamat 3 x 500 mg tab
SF 1 x 200 mg tab
Nifedipine 3 x 10mg tab
Diet biasa
Mobilisasi aktif
Konseling KB AKDR
Aff kateter

26-07-15 S: nyeri luka operasi


06.00
O:
Keadaan umum sedang
Status vitalis :
Tekanan darah : 130/80 mmHg
Nadi : 90 xmenit
Pernafasan : 20 x/menit
Suhu : 36,6 ℃

Pemeriksaan luar:
Mammae : tak/tak
ASI : +/+
TFU 2 jari di bawah pusat
Luka operasi : kering
Lokia : kruenta
Peristaltik : +
Flatus : +
Bab : sudah
Bak : lancar

12
A:
POH 3
P2 A0 post SSTP a.i PEB

P:
Cefadroxil 2 x 500 mg tab
Asam mefenamat 3 x 500 mg tab
SF 1 x 200 mg tab
Nifedipine 3 x 10mg tab
KIE
Boleh pulang

13
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. DEFINISI

Menurut new shorter oxford dicionary, definisi abortus secara umum adalah

persalinan kurang bulan sebelum usia janin yang memungkingkan untuk hidup dan

dalam hal ini bersinonim dengan keguguran. Abortus juga berarti induksi

penghentian kehamilan untuk menghancurkan janin (Cunningham, dkk 2013).

Durasi kehamilan juga digunakan untuk mendefinisikan dan

mengklasifikasikan abortus untuk kepentingan stastistik dan lega. Sebagai contoh,

national center for health stastitic, center for disease control and prevention dan

WHO mendefinisikan abortus sebagai ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi

kehamilan sebelum gestasi 20 minggu atau dengan janin memiliki berat janin kuran

dari 500mg (Cunningham, dkk 2013).

Berikut ini adalah beberapa definisi abortus imminen:

a) Abortus imminens adalah pengeluaran secret vagina yang mengandung darah

atau setiap perdarahan pervaginam yang tampak adalah paruh pertama kehamilan.

(Cinningham MD, G. Hal. 580)

b) Abortus imminens adalah keguguran membakat, dalam hal ini keluarnya fetus

dapat dicegah dengan memberikan obt-obatan hormonal antispasmodika serta

istirahat (Mohtar R. Hal. 212)

c) Abortus imminens yaitu terjadinya perdarahan bercak yang menunjukkan

ancaman terhadap kelangsungan suatu kehamilan, dalam kondisi seperti ini,

kehamilan masih mungkin berlanjut atau dipertahankan. (Saifuddin

AB.2001.Hal.147)

14
d) abortous imminensadlah abortus pada tingkat permulaan yaitu peristiwa

terjadinya perdarahan dari uterus pada usia kehamilan sebulum 20 minggu dengan

atau tanpa kontraksi uterus,dengan hasil konsepsi yang masih utuh di dalam uterus

serta ostium yteri masih tertutup. ( Saifudding AB.Hal.3)

Dari beberapa defenisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa abortus

immines adalah perdarahan pervaginam uterus,dimana hasil konsepsi masih dalam

uterus tanpa ada dilatasi seviks.

2.2. EPIDEMIOLOGI

Frekuensi abortus diperkirakan sekitar 10-15 % dari semua kehamilan.

Namun, frekuensi angka kejadian sebenarnya dapat lebih tinggi lagi karena banyak

kejadian yang tidak dilaporkan, kecuali apabila terjadi komplikasi; juga karena

abortus spontan hanya disertai gejala ringan, sehingga tidak memerlukan

pertolongan medis dan kejadian ini hanya dianggap sebagai haid yang terlambat.

Delapan puluh persen kejadian abortus terjadi pada usia kehamilan sebelum 12

minggu. Hal ini banyak disebabkan karena kelainan pada kromosom.

Berdasarkan penelitian Wilcox, dkk yang mempelajari 221 wanita sehat

melalui 707 daur haid didapatkan bahwa 31% kehamilan gagal setelah implantasi.

Dua pertiga kematian ini dianggap sebagai asimptomatis. Sejumlah faktor

mempengaruhi terjadinya abortus spontan diantaranya kelainan pada kromosom.

Dari 1.000 kejadian abortus spontan, setengahnya merupakan blighted ovum dan

50-60 % dikarenakan abnormalitas kromosom (Cunningham, dkk 2013).

2.3.ETIOLOGI
a. Faktor janin
Pada 50-60% mudgah dan janin dini yang mengalami abortus spontan,
kelainan jumlah kromosom adalah penyebab utama, yang terdiri dari:

15
- Abortus aneuploid

Sekitar 95% kelainan kromosom disebabkan oleh kesalahan


gametosis ibu sementara 5% disebabkan kesalahan ayah.

Trisomi autosom adalah anomali kromosom yang sering ditemukan


pada keguguran trimester pertama. Kromosom 13, 16, 18, 21, dan 22
adalah trisomi autosom yang terbanyak.

Monosomi X (45,X) adalah kromosom spesifik tunggal yang


tersering kelainan ini menyebabkan sindrom turner yang biasanya
menyebabkan abortus dan sangat jarang menghasilkan bayi perempuan
lahir hidup.

Triploidi sering berkaitan dengan degenerasi plasenta hidropik.


Mola hidatidiformis inkomplit mungkin triploidi atau trisomi hanya
untuk kromosom 16. Meskipun swring mengalami abortus secara dini
namun beberapa yang bertahan lebih lama akan mengalami cacat berat.

Janin tetraploidi jarang lahir hidup dan paling sering mengalami


abortus pada awal gestasi.

- Abortus euploidi
Janin dengan kromosom normal cenderung mengalami abortus lebih
belakangan daruipada janin yang mengalami aneuploid. Insiden abortus
euploid meningkat dratis setelah usia ibu melewati usia tigapuluh lima
tahun.
b. Faktor ibu
- Infeksi
Menurut american college ofobstetricians and gynocologists, infeksi
jarang menjadi penebab abortus dini. Namun beberapa jenis organisme
tertentu berdampak pada kejadian abortus antaralain:
o Bakteri
 Listeria monositogeneses
 Clyamidia trachomialis

16
 Ureaplasma urealitikum
 Mycoplasma hominis
 Bakterial vaginosis
o Virus
 Cytomegallo virus
 Rubella
 Herpes simpleks virus
 HIV
 Parvo virus
o Parasit
 Tokso plamosis gondhi
 Plasmodium falciparum
o Spirokaita
 Troponema palidum

Berbagai teori diajukan untuk mencoba menerangan peran infeksi


terhadap resiko abortus, diantaranya sebagai berikut:

1. Adanya metabolit toxic, endotoksin, eksotoksin atau sitokain yang


berdampak langsung pada janin atau fetoplasenta.
2. Infeksi janin yang bisa berakibat kematian janin atau cacat berat
sehingga janin sulit bertahan hidup.
3. Infeksi plasenta yang berakibat insufisiensi plasenta dan bisa
berlanjut kematian janin
4. Infeksi kronis endomertium dari penyebaran, genetalia bawah yang
bisa menggangu proses implantasi.
5. Amniolitis
6. Memacu perubahan genetik dan anatomik embrio, umumnya oleh
karena virus selama kehamilan awal misalnya rubella, parvovirus ,
B19, CMV, Coksakie virus B, Vaicella zoster, HSV.
- Kelainan endokrin
Hipotiroid defisiensi iodium beratdapat berkaitan dengan keguguran.
Defisiensi hormon tiroid sering terjadi pada wanita. Biasanya

17
disebabkan leh penyakit autoimun, tetapi efek hipotiroidisme pada
abortus dini belum diteliti secara mendalam. Data bahwa wanita dengan
keguguran berulang memiliki insiden antibodi antithyroid yang lebih
tinggi daripada kontrol normal masih belum meyakinkan.
- Diabetes melitus
Perempuan dengan diabetes yang dikelola dengan baik resiko
abortusnya tidak lebih jelek jika dibanding perempuan yang tanpa
diabetes. Akan tetapi perempuan diabetes dengan kadar HbA1c tinggi
pada trimester pertama, resiko abortus dan malformasi meningkat.
Diabetes jenis insulin dependent dengan kontrol glukosa tidak adekuat
mempunyai peluang 2-3 kalilipat mengalami abortus.
- Nutrisi
Defisiensi salah satu nutrient dalam makanan atau defesiensi moderate
semua nutrient tampaknya bukan merupakan penyebab penting abortus.
Bahkan pada tingkat ekstrim, hiperemesis gravidarum disertai dengan
penurunan berat yang signifikanjarang diikuti oleh keguguran.
- Pemakaian obat dan faktor lingkungan
Tembakau
Cigaret rokok diketahui mengandung ratusan unsur toksik, antaralain
nikotin yang telah diketahui mempunyai efek vasoaktif sehingga
menghambat utero plasenta. Karbon monoksida juga menurunkan
pasokan oksigen ibu dan janin serta memacu neurotoksin dengan
adanya ganguan pada sistem sirkulasi fetoplasenta dapat terjadi
ganguan pertumbuhan janin yang berakibat terjadinya abortus.
Alkohol
Kafein
Radiasi
Kontrasepsi
Toksin lingkungan
Barrow dan sullvian, mendapatkan bahwa arsen, timbal, formaldehida,
benzena, dan etilen oksida mungkin menyebabkan keguguran.
- Faktor imunologis

18
Terdapat hubungan yang nyata antara abortus berulang dan penyakit
autoimun. Misalnya pada Systematic Lupus Erihematosus (SLE)
- Faktor hematologi
- Trauma
- Defek uterus
- Servik inkompeten
c. Faktor ayah

Abortus spontan meiliki banyak etiologi yang satu dan lainnya saling
terkait. Abnormalitas dari kromosom adalah etiologi yang paling sering
menyebabkan abortus, 50% angka kejadian abortus pada trimester pertama, lalu
insiden menurun pada trimester kedua sekitar 20-30 %, dan 5-10 % pada trimester
ketiga. Penyebab yang lain dari aborsi dengan persentasi yang kecil adalah infeksi,
kelainan anatomi, factor endokrin, factor immunologi, dan penyakit sistemik pada
ibu. Dan ada banyak pula penyebab yang belum diketahui hingga sampai saat ini

a. Abnormalitas kromosom
Kelainan kromosom yang tersering menyebabkan kelainan
kromosom seperti aneuploidy ( kelainan jumlah kromosom ) pada
Turner’s syndrome, Monosomy X, trisomi 16, dan triploidy yang
menyebabkan sekitar 20 % dari seluruh abortus. Konsepsi poliploid
menghasilkan yolk sacs yang kosong atau blighted ovum dengan
perubahan ke arah mola hidatidiosa.

19
b. Maternal infection
Infeksi pada ibu dapat mengakibatkan kematian janin atau abortus.
Organisme yang sering ditemukan pada abortus spontan adalah
Treponema Pallidum, Chlamydia Trachomatis, Nisseria
Gonorrhoeae, Streptococcus agalactiae, herpes simplex virus,
Cytomegalovirus, dan Listeria monocytogenes. Walaupun
organisme tersebut sering ditemukan pada wanita hamil yang
mengalami abortus, patofisiologi dari infeksi tersebut hingga
menyebabkan abortus belum dapat diketahui sampai saat ini.

c. penyakit lain
Gangguaan pada system endokrin seperti hyperthyroid dan diabetes
mellitus yang tidak terkontrol; penyakit cardiovascular seperti
hipertensi; dan penyakit jaringan ikat seperti sistemik lupus
erithematosus, mungkin berhubungan dengan kejadian abortus.

d. Defek pada uterus


Kelainan congenital pada uterus wanita hamil seperti unicornuate,
bicornuate, atau uterus yang bersepta dapat mengurangi ruang dari
uterus sehingga menyebabkan abortus. Selain itu adanya mioma
uteri baik yang submukosa maupun intramural juga berhubungan
kejadian abortus.
Skar yang terjadi pada uterus akibat adanya tindakan bedah seperti
dilatasi dan kuretasi, myomectomi, dapat menyebabkan inkompeten
pada rahim dan serviks sehingga dapat menyebabkan abortus
spontan.

e. Immunologic Disorders
Golongan darah ABO, Rh, Kell, atau lainnya mempunyai antigens
yang memiliki hubungan dengan abortus spontan. Pada kejadian
abortus yang disebabkan factor immunologic dapat ditemukan
Human Leukocyte Antigens (HLA) ibu pada janin.

20
f. Malnutrition
Malnutrisi berat dapat berhubungan dengan abortus spontan
g. Toxic Factors

Radiasi, obat-obatan anti-kanker, gas anastesi, alcohol, nikotin,


adalah zat-zat embryotoxic. Sehingga jika dipakai pada wanita
hamil dapat mengakibatkan kelainan pada janin bahkan dapat
menimbulkan abortus spontan.

h. Trauma

Trauma dibagi menjadi dua yaitu trauma langsung dan tidak


langsung. Trauma langsung seperti terkena tembakan senjata api,
dan trauma tidak langsung seperti oprasi pemindahan corpus luteum
kehamilan di ovarium, mungkin dapat menyebabkan abortus

Patofisiologi
Mekanisme awal terjadinya abortus adalah lepasnya sebagian atau seluruh
bagian embrio akibat adanya perdarahan minimal pada desidua. Kegagalan
fungsi plasenta yang terjadi akibat perdarahan subdesidua tersebut
menyebabkan terjadinya kontraksi uterus dan mengawali adanya proses
abortus.
 Pada kehamilan kurang dari 8 minggu
Embrio rusak atau cacat yang masih terbungkus dengan sebagian desidua
dan villi chorialis cenderung dikeluarkan secara in toto, meskipun sebagian
dari hasil konsepsi masih tertahan dalam cavum uteri atau di canalis
servikalis. Perdarahan pervaginam terjadi saat proses pengeluaran hasil
konsepsi.
 Pada kehamilan 8-14 minggu
Mekanisme di atas juga terjadi dan diawali dengan pecahnya selaput
ketuban telebih dahulu dan diikuti dengan pengeluaran janin yang cacat
namun plasenta masih tertinggal dalam cavum uteri. Jenis ini sering
menimbulkan perdarahan pervaginam banyak.

21
 Pada kehmilan minggu ke 14-22 :
Janin biasanya sudah dikeluarkan dan diikuti dengan keluarnya plasenta
beberapa saat kemudian. Kadang-kadang plasenta masih tertinggal dalam
uterus sehingga menimbulkan gangguan kontraksi uterus dan terjadi
perdarahan pervaginam banyak. Perdarahan pervaginam umumnya lebih
sedikit namun rasa sakit lebih menonjol (Mochtar, 2007).
Gambaran k.liniks abortus imminens

Abortus ini diperkirakan terjadinya setap pengeluaran secret vagina

yang terkandung darah atau setiap perdarahan pervaginamyang tampak

dalam paruh pertama kehamilan. Terjadinya pengeluaran secret vagina

yang terkandung bercak darah menunjukkan ancaman kelangsungan suatu

kehamilan. Dalam kondisi seperti ini, masih mungkin berlanjut atau

dipertahankan. (Cunningham MD, G Hal. 580)

Diagnosis abortus imminens ditegakan antara lain:

 Tanda-tanda hamil muda

 Perdarahan melalui OUE (+)

 Uterus membesar sesuai usia kehamilan

 Servis belum membuka

Sehingga untuk menegakan diagnosis abortus imminens kita perlu memperhatikan:

 Riwayat menstruasi

 Riwayat penggunaan obat-obatan dan zat

 Riwayat penyakit dahulu

 Riwayat operasi terutama pada uterus dan adneksa

 Riwayat obstetrik dan ginekologis dahulu (Sastrawinata, 2008).

Pada abortus spontan biasanya disertai dengan perdarahan pervaginam dengan atau

tanpa rasa mules. Perdarahan pervaginam dapat hanya berupa flek (bercak-bercak

22
darah) hingga perdarahan banyak. Hal in sangat penting untuk menilai apakah

perdarahan semakin berkurang atau bahkan semakin memburuk. Adanya gumpalan

darah atau jaringan merupakan tanda bahwa abortus berjalan dengan progresif. Bila

ditemukan nyeri perlu dicatat letak dan lamanya nyeri tersebut berlangsung

(Sastrawinata, 2008).

Pada pemeriksaan fisik, abdomen perlu diperiksa untuk menentukan lokasi

nyeri. Sumber dicari dengan pemeriksaan inspekulo dan pemeriksaan vaginal

toucher , tentukan perdarahan berasal dari dinding vagina, permukaan serviks atau

keluar melalui OUE (Sastrawinata, 2008).

Pada pemeriksaan dalam, lakukan pemeriksaan pergerakan serviks

karenanya bila nyeri pada pergerakan serviks (+), maka kemungkinan terjadinya

kehamilan ektopik perlu dipertimbangkan. Jika ditemukan UOI telah membuka,

kemungkinan yang terjadi adalah abortus insipiens, inkomplit maupun abortus

komplit. Pemeriksaan pada uterus juga perlu dilakukan, tentukan besar, konsistensi

uterus serta pada adneksa, adakah nyeri tekan atau massa. Bila didapatkan adanya

sekret vagina abdominal, sebaiknya dibuat pemeriksaan biologisnya (Saifudin,

2004).

Pada kasus abortus, selain menghentikan perdarahannya, perlu dicari

penyebab terjadinya abortus dan menentukan sikap dalam penanganannya

selanjutnya. Pemeriksaan penunjang yang dapat kita lakukan antara lain :

1. - HCG

2. Pemeriksaan kadar Hb dan Ht

3. Pemeriksaan golongan darah dan skrining antibodi

4. Pemeriksaan kadar progesteron serum

23
5. USG (Saifudin, 2002)

Perdarahan Serviks Uterus Gejala/ Diagnosis Tindakan


Tanda
Bercak Tertutup Sesuai Kram perut Abortus Observasi
hingga dengan bawah uterus Imminens perdarahan,
Sedang usia lunak istirahat,
gestasi hindarkan
coitus
Sedikit Limbung / Kehamilan Laparotomi
membesar pingsan ektopik dan parsial
dari normal Nyeri perut yang salpingektomi
bawah terganggu atau
Nyeri goyang salpingestomi
porsio
Masa adneksa
Cairan bebas
intra abdomen
Tertutup Lebih kecil Sedikit/tanpa Abortus Tidak perlu
/terbuka dari usia nyeri perut komplit terapi spesifik
gestasi bawah kecuali
Riwayat perdarahan
ekspulsi hasil berlanjut atau
konsepsi terjadi infeksi
Sedang Terbuka Sesuai Kram atau nyeri Abortus Evakuasi
hingga usia perut bawah insipiens
massif/ kehamilan belum terjadi
banyak ekspulsi hasil
konsepsi
Kram atau nyeri Abortus evakuasi
perut bawah inkomplit
ekspulsi
sebagian hasil
konsepsi

24
Terbuka Lunak dan Mual/muntah Abortus Evakuasi
lebih besar Kram perut mola tatalaksana
dari usia bawah mola
gestasi Sindroma mirip
preeklamsia
Tak ada janin
keluar jaringan
seperti anggur

Diagnosis banding abortus imminens

a). Perdarahan impiantasi (tanda Hartman ) dapat timbul sekitar saat haid

yang diperkiran. Biasa jumlah nya tidak lebih dari darah haid hari pertama

siklus yang normal.Tidak ada nyeri pinggang penyerta

b). Abortus insipiens ditandai oleh perdarahan yang lebih hebat serta

perdarahan dan dilatasi seviks

c). Missed abortion : uterus lebih kecil dari yang diperkirakan untuk lama

amenore.Tes kehamilan untuk gonadotropin korion daapat negativ.

d). kehamilan ektopik,harus dipertimbangan apaabila pasien mengeluh

nyeri pelviks unilaterai dan korpus yang lebih kecil dari yang

diperkirakan untuk lamanya amenore merupakan tanda kecurrigaan

tambahan.Gejala dan tanda kehamilan ektopik dapat sangat mirip

dengan abortus imminens yang komplikasi perdarahan korpus

lateum.

e) Kehamilan mola : Pada mola hidatidosa, uterus biasanya membesar

lebih cepat dibandingkan dengan masa kehamilannya, dan kadang

disertai dengan adanya hiperemis gravidarum. Ini disebabkan oleh

adanya kadar HCG yang tinggi di dalam darah. Pada pemeriksaan

25
USG akan didapatkan gambaran seperti badai salju ( snowform like

appearance ) (Mansjoer, 2001).

f) Lesi serviks atau trauma vagina : polip yang tampak diostium uteri

eksternum, maupun reaksi desidua serviks, dapat berdarah pada

kehamilan muda, nyeri biasanya tidak ada. Pemeriksaan speculum

dari serviks dan vagina akan menegakkan diagnosis. (M.D. Taher

Ben-Zion. Hal 58-59)

Penanganan spesipik abortus imminens

Penanganan abortus imminens dilaksanakan dengan :

a) Istirahat total ditempat tidur

1) Meningkatkan aliran darah kerahim

2) Mengurangi rangsangan mekanik

Istirahat rebah tidak boleh melebihi 48 jam, kalau telur masih baik,

perdarahan dalam waktu ini akan berhenti, kalau perdarahan tidak

berhenti dalam 48 jam, maka kemungkinan besar terjadi abortus, dan

istirahat rebah hanya menunda abortus tersebut. Jika perdarahan berhenti

pasien harus menjaga diri, jangan banyak bekerja dan koitus dilarang

selama 2 minggu.

b) Obat-obat yang dapat diberikan

1) Penenang penorbarbital 3 x 30 mgr

2) Anti perdarahan Adona

3) Vitamin B kompleks

26
4) Hormonal progesteron

5) Anti kontraksi rahim, papeverin

c) Evaluasi

1) Perdarahan jumlah dan lamanya

2) Tes kehamialan dapat diulangi

3) Konsultasi pada dokter ahli untuk penanganan lebih lanjut dan USG
(Manuaba IBG. Hal. 218)
Prognosis

Macam dan lamanya perdarahan menentukan prognosis kelangsungan kehamilan.

Prognosisnya menjadi kurang baik bila perdarahan berlangsung lama, mules –

mules disertai dengan perdarahan dan pembukaan serviks. Jika kehamilan terus

berlanjut, maka sering diikuti dengan persalinan preterm, plasenta previa, dan

IUGR. Prognosis ditentukan lamanya perdarahan , jika perdarahan berlangsung

lama, mules- mules yang disertai pendataran serviks menandakan prognosis yang

buruk Prognosis buruk bila dijumpai pada pemeriksaan USG adanya :

- Kantong kehamilan yang besar dengan dinding tidak beraturan dan tidak

adanya kutub janin

- Perdarahan retrochorionic yang luas ( >25 % ukuran kantung kehamilan )

- DJJ yang perlahan ( < 85 dpm ) (Mochtar, 2007).

Komplikasi
Komplikasi yang berbahaya pada abortus adalah :
1. Perdarahan masif
Dapat diatasi dengan membersihkan uterus dari sisa – sisa hasil konsepsi dan
jika perlu pemberian transfusi darah erforasi
2. Perforasi uterus

27
Dapat terjadi terutama pada uterus dalam hiperetrofleksi . Jika ditemukan
tanda – tanda abdomen akut perlu segera dilakukan laparotomi, dan
tergantung luas dan bentuk perforasi, penjahitan luka operasi atau perlu
dilakukan histerektomi.
3. Infeksi dalam uterus atau sekitarnya
Dapat terjadi pada abortus dan dapat menyebar ke miometrium, tuba,
parametrium dan peritonium. Apabila terjadi peritonitis umum atau sepsis
dapat disertai dengan terjadinya syok. Penanganan bisa diberikan antibiotik
pilihan dan dilakukan laparotomi
4. Syok
Syok pada abortus biasanya bisa terjadi karena perdarahan ( syok hemoragik
) dan karena infeksi berat ( syok septik ) (Saifuddin, 2004)

28