Anda di halaman 1dari 12

ASUHAN KEPERAWATAN

GAGAL NAPAS
Oleh Tim Perumus SAK RSUD

A. DEFINISI
Kegagalan pernapasan adalah kegagalan paru-paru dalam memenuhi
fungsi primer dalam hal pertukaran gas (Oksigen darah arteria dan
pembuangan karbon dioksida). (Price & Wilson, Patofisiologi Buku 1 Edisi 4, EGC, Jakarta,
1995).
Gagal napas terjadi bila pertukaran oksigen terhadap karbon dioksida
dalam paru-paru tidak dapat memelihara laju konsumsi O 2 dan pembentukan
CO2 dalam sel-sel tubuh, sehingga mengakibatkan tegangan O 2 arteri < 50
mmHg (hipoksimia) dan peningkatan tekanan CO 2 > 45 mmHg (Hiperkapnia).
(Smeltzer & Bare, Keperawatan Medikal Bedah Vol. 1 Edisi 8, EGC, Jakarta, 2002, hal. 615).

B. ETIOLOGI
1. Faktor Predisposisi
Terjadinya gagal napas pada bayi & anak di pengaruhi oleh beberapa
faktur yang berbeda dengan orang dewasa yaitu:
a. Struktur Anatomi
 Dinding dada
 Dinding dada pada bayi & anak masih lemah disertai insure tulang
iga yang kurang kokoh, letak iga horizontal & pertumbuhan otot
interkosta yang belum sempurna, menyebabkan pergerakan dinding
dada atas

b. Saluran Pernapasan
 Pada bayi & anak relatif lebih besar dibandingkan dengan orang
dewasa
 Besar Trakea Neonatus 1/3 dewasa & diameter bronkiolis 1/2
dewasa,sedangkan ukuran tubuh orang dewasa 20 kani

1
molatus.Akan tetapi bila terjadi sumbatan atau pembengkakan 1
mm saja,pada bayi akan menurunkan luas saluran pernapasan 75 %.
c. Alveoli
 Jaringan elastic pada septum alveoli merupakan “elastic Recoil”
untuk mempertahankan alveoli tetapi terbuka pada neonatus
alveoli relative lebih besar dan mudah kolaps.
 Dengan makin besarnya bayi, jumlah alveoli akan bertambah
sehingga akan menambah “Elastic reco”.

2. Kerentanan terhadap infeksi


3. Kelainan Kongenital
4. Faktor fisiologis dan metabolik
(Hasan Rusepno Dr. dkk, Ilmu Kesehatan Anak 3, Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI, Jakarta, 1985, hal
990)

C. PATOFISIOLOGI

2
D. TANDA DAN GEJALA
Umum : kelelahan, berkeringat
Respirasi : Wheezing, merintih, menurun/menghilangnya suara
napas,cuping hidung, tachipnea, apnoe, sianosis.
Kardio vaskuler : Bradikardia, atau takikardia hebat, hipotensi / hipertensi
pulsus paradoksus 12 mmHg, henti jantung
Serebral : Gelisah, iritabilitas, sakit kepala, kekacauan mental,
kesadaran umum, kejang,koma.
(Hasan Rusepno Dr. dkk, Ilmu Kesehatan Anak 3, Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI, Jakarta, 1985, hal
996)

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pengenalan dari gagal pernapasan sulit diketahui secara klinis/pemeriksaan
laboratorium yang terpenting untuk membantu diagnosa gagal pernapasan
ialah pemeriksaan analisa gas darah untuk mengetahui keadaan oksigen,
ventilasi dan keseimbangan asam basa, saluran O2 dan PH darah.

3
Pada pemeriksaan BGA pada gagal pernapasan akan didapat hipoksemia,
hiperkapnia,asidosi (respon balik / metabolik)
(Hasan Rusepno Dr. dkk, Ilmu Kesehatan Anak 3, Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI, Jakarta, 1985, hal
995)

E. PENATALAKSANAAN EMERGENCY
a. Hipoksemia
Pemberian oksigen dalam konsentrasi 40-60% pada pasien hipoksemia
dengan PaCO2 rendah/normal (Masker atau kanula sebesar 8 ltr/menit
dengan kelembaban sesuai) yang sifatnya sementara.
Oksigenasi dengan konsentrasi rendah dan bertahap untuk hipoksemia
dengan hiperkapnea dengan pemakaian masker dengan oksigen 24%,
kemudian ditingkatkan menjadi 28% untuk mempertahankan PaO 2 50
mmHg atau lebih. Juga dibarengi dengan pemeriksaan BGA.
b. Sekret
- Pengeluaran secret dengan mengusahakan supaya pasien batuk,
diperkusi, vibrasi dan drainase postural.
- Aspirasi melalui selang ET atau bronkoskopi.
c. Hiperkapnea
- Perangsang respirasitorik
- Menghindari sedative
- Ventilasi buatan dengan ET atau trakiostomi.
d. Bronkospasme
- Obat-obat bronkodilator dengan inhalasi, aminopilin ; iv
e. Gagal jantung
- Diuretik
- Digoksin ( dengan pemberian hati- hati ).
(Hasan Rusepno Dr. dkk, Ilmu Kesehatan Anak 3, Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI, Jakarta, 1985,
hal 997)

F. PENGKAJIAN
1. Aktivitas /istirahat
 Gejala : Kekurangan energy/kelelahan ,Insomnia
2. Sirkulasi
 Gejala : Riwayat adanya bedah jantung paru, insomnia
embolik

4
 Tanda : TD dapat normal atau meningkat pada awal
(berlanjut menjadi hipoksia ), hipotensi, terjadi
pada tahap lanjut (syok) atau faktor pencetus
seperti pada eklamsia.
 Frekuensi jantung : Takikardia biasanya ada kulit dan membrane
mukosa, pucat, dingin, sianosis, biasanya terjadi
(tahap lanjut).
3. Integritas ego
 Gejala : Ketakutan, ancaman perasaan takut.
 Tanda : Gelisah, agitasi, gemeteran, mudah terangsang,
perubahan mental.
4. Makanan/cairan
 Gejala : Kehilangan selera makan/mual
 Tanda : Edema, perubahan BB, Hilang/berkurangnya bunyi
Usus

5. Neurosensori
 Gejala/tanda : Adanya trauma kepala
Mental lambat, disfungsi motorik

6. Pernafasan
 Gejala : Adanya aspirasi, inhalasi asap/gas, infeksi disfusi
paru timbul tiba-tiba atau bertahap, kesulitan
napas, lepas udara.
 Tanda : Pernafasan cepat, mendengkur, dangkal.

 Peningkatan
Kerja napas : Penggunaan obat aksesori pernafasan, contoh
retraksi interkosta atau substernal, pelebaraan
nasal, memerlukan oksigen konsentrasi tinggi.
 Bunyi napas : Pada awal normal, krekels, ronkhi dan dapat
terjadi bunyi napas bronkhial.
 Perkusi dada : Bunyi pekak di atas area konsolidasi, ekspansi dada
menurun atau tak sama, peningkatan fremitus,
sputum sedikit berbusa, pucat/sianosis,
penurunan mental.
5
7. Keamanan
 Gejala : Riwayat trauma ortopedi, sepsis, tranfusi darah.

G. PRIORITAS MASALAH
1. Pola napas tidak efektif
2. Bersikan jalan napas tidak efektif
3. Perubahan nutrisi
4. Kerusakan komunikasi verbal
5. Ketakutan/ansietas.

H. DIAGNOSA KEPERAWATAN

NO DIAGNOSA KEPERAWATAN TUJUAN INTERVENSI


1 Pola napas tidak Pola napas efektif MANDIRI
efektif/ventilasi spontan Kriteria :  Selidiki etiologi gagal
ketidakmampuan untuk - Dispnea (-) pernapasan
 Observasi pola napas,
meneruskan b.d depresi - Penggunaan
catat frekuensi
pusat pernafasan, ditandai otot aksesori
pernapasan, jarak antara
dengan : (-)
pernapasan spontan dan
DS : - - Takipnea (-)
napas ventilator
DO : - Sianosis (-)
 Auskultasi dada secara
- Dispnea - Gelisah (-)
periodik, catat ada/tidak
- Penggunaan otot
adanya dan kualitas bunyi
aksesori
- Takipnea napas.
6
- Sianosis  Tinggikan kepala tempat
- Gelisah
tidur atau letakkan pada
kursi ortopedik bila
memungkinkan.
 Periksa fungsi aliran
ventilator, jangan matikan
alarm, meskipun untuk
pengisapan.
 Pertahankan alat
resusitasi di samping
tempat tidur dan ventilasi
manual dan kapanpun
diindikasikan.
KOLABORASI
 Kaji susunan ventilator
secara rutin dan yakinkan
sesuai indikasi
 Kaji volume tidal ( 10 – 15
ml/kg )
 Catat tekanan jalan napas.

2 Bersihan jalan napas tidak Bersihan jalan MANDIRI


efektif b/d benda asing napas efektif  Kaji kepatenan jalan napas
 Evaluasi gerakan dada dan
(jalan napas buatan) pada Kriteria :
auskultasi untuk bunyi
trakhea - Sianosis (-)
- Pernafasan napas bilateral
DS: -
 Awasi letak selang
vesikuler
DO:
- Gelisah (-) endotrakeal. catat tanda
- Sianosis
garis bibir dan
- Perubahan frekuensi &

7
kedalaman pernapasan bandingkan dengan letak
- Gelisah
yang diinginkan.
 Catat batuk berlebihan,
peningkatan dipsnea,
bunyi alarm tekanan
tinggi pada ventilator,
secret terlihat pada
selang ET
 Hisap sesuai kebutuhan.
Batasi penghisapan < 15
detik.
KOLABORASI
 Berikan fisioterapi dada
sesuai indikasi contoh
drainase postural
 Berikan Bronkodilator IV
dan Aerosol sesuai
indikasi

3 Perubahan nutrisi kurang Kebutuhan MANDIRI :


dari kebutuhan tubuh b.d nutrisi terpenuhi  Evaluasi kemampuan
gangguan kemampuan Kriteria hasil: makanan
 Awasi penurunan otot,
mencerna makanan dengan - Peningkatan
kehilangan lemak
baik. berat badan
- Tonus otot subkutan
DS: -
 Timbang berat badan tiap
baik
DO:
- Luka, hari
- Penurunan berat badan  Catat masukan oral saat
inflamasi
- Tonus otot buruk
- Luka, inflamasi rongga rongga mulut dibolehkanmakan

8
mulut (-)  Berikan makanan lembut
- Bising usus tidak ada - Bising usus
sering dalam jumlah
atau hiperaktif ada
kecil/ mudah dicerna bila
mampu menelan

KOLABORASI :
 Awasi pemeriksaan
laboratorium sesuai
indikasi, contohnya
serum, BUN/Kreatinin,
Glukosa
 Pastikan diet memenuhi
kebutuhan pernapasan
sesuai indikasi

4 Kerusakan komunikasi Tidak terjadi MANDIRI :


verbal b.d hambatan fisik, kerusakan  Kaji kemampuan klien
contoh : selang komunikasi untuk berkomunikasi
endotrakeal/trakheostomi. verbal dengan pilihan arti
Kriteria :
DS : -  Buat cara-cara
- Klien dapat
DO : komunikasi, contoh :
memahami
- Kien tidak dapat memperhatikan kontak
komunikasi
berbicara mata, tanyakan
yang
pertanyaan YA/TIDAK,
dibicarakan
berikan magig slate,
kertas/pensil,
gambar/alphabet,
gunakan tanda bahasa
9
yang tepat, validasi arti
upaya komunikasi.
 Letakkan lampu/bel
pemanggil dalam
jangkauan. Yakinkan
posisi sadar dan secara
fisik mampu
menggunakannya.
 Letakkan catatan pada
pusat pemanggil
informasi staf bahwa klien
tidak mampu bicara
 Dorong keluarga atau
orang terdekat berbicara
dengan klien. Berikan
informasi tentang
keluarga dan kejadian
sehari-hari.

KOLABORASI
 Evaluasi kebutuhan untuk
ketepatan bicara selang
trakeostomi.

5 Ansietas/ketakutan b.d Ansietas tidak MANDIRI :


ancaman kematian. terjadi  Identifikasi persepsi klien
Kriteria :
DS : tentang ancaman yang
- Tegang (-)
10
- Klien mengatakan takut - Gelisah (-) ada
- Ragu-ragu (-)
mati  Observasi/awasi respon
DO : fisik, contohnya gelisah,
- Tegang perubahan tanda-tanda
- Gelisah vital
- Ragu-ragu  Dorong klien atau orang
- Focus pada diri sendiri terdekat untuk
mengungkapkan rasa
takut
 Berikan dorongan
aktivitas olahraga, waktu
senggang dalam
kemampuan individu,
contoh : kerajinan tangan,
menulis, menonton TV.
 Catat reaksi orang
terdekat
 Berikan kesempatan
untuk diskusi perasaan
pribadi atau masalah dan
harapan yang akan
datang.

KOLABORASI
 Rujuk ke kelompok
pendukung sesuai
kebutuhan.
11
12