Anda di halaman 1dari 22

BAGIAN ILMU KESEHATAN KULIT & KELAMIN REFERAT

FAKULTAS KEDOKTERAN AGUSTUS 2018

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

A. MUH. AYYUB TAHIR

10542 0446 12

PEMBIMBING

Dr. dr. Hj. St. Musafirah, Sp.KK

1
DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK

BAGIAN ILMU KESEHATAN KULIT & KELAMIN

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

2018

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN….…………………………………………………………………….i

KATA PENGANTAR….……………………………………………………,,,,,……,,……….….ii

DAFTAR ISI….…………………………………………………………………………………...iii

BAB I PENDAHULUAN….……………………………………………………………………….1

BAB II LAPORAN KASUS……………………………………………………………………….3

A. RESUME ................................................................................................................................ 3

B. STATUS DERMATOLOGIS............................................................................................... 3

C. DIAGNOSA BANDING ........................................................................................................ 5

D. DIAGNOSA KERJA ............................................................................................................. 5

E. PENATALAKSANAAN ........................................................................................................ 5

1) Tindakan ......................................................................................................................... 5

2) Topikal ............................................................................................................................ 6

3) Sistemik .......................................................................................................................... 6
2
F. PROGNOSIS .......................................................................................................................... 6

BAB III PEMBAHASAN………………………………………………………………………….8

BAB IV KESIMPULAN………………………………………………………………………….17

DAFTAR PUSTAKA…..….…………………………………………………………………...…18

BAB I

PENDAHULUAN

Furunkel ialah radang folikel rambut dan sekitarnya, sedangkan

furunkulosis adalah furunkel yang berjumlah lebih dari satu. Furunkel disebabkan

oleh infeksi akut pustular pada folikel rambut, yang tersering disebabkan bakteri

Staphylococcus aureus. Biasanya didapatkan keluhan berupa nodul eritematosa

besar berbentuk kubah/kerucut yang terdapat pustul di bagian tengahnya.1 Rasa

3
sakit di sekitar lesi kemudian mereda, dan kemerahan dan edema berkurang

selama beberapa hari hingga beberapa minggu. Furunkel dapat terjadi sebagai lesi

soliter atau sebagai lesi multipel.1,3Seperti kebanyakan kasus infeksi bakteri pada

kulit lainnya, furunkulosis lebih dominan menyerang anak-anak, 64% diantaranya

terjadi pada anak laki-laki, penderita kebanyakan berasal dari golongan sosio-

ekonomi rendah2,3 Predileksinya sering didapatkan pada daerah dengan banyak

friksi, misalnya aksilla, tengkuk dan bokong. Kebanyakan pasien tidak mengalami

komplikasi dan sembuh dengan pengobatan1

Patogenesis dikaitkan dengan Faktor pejamu seperti keadaan imunosupresi,

terapi glukokortikoid berkepanjangan, dan atopi dapat memainkan peran utama

dalam patogenesis infeksi stafilokokus. Cedera jaringan atau peradangan yang

sudah ada sebelumnya (luka bedah, luka bakar, trauma, dermatitis, benda asing

yang tertahan) sangat penting dalam patogenesis penyakit-penyakit akibat

stafilokokus sebperti furunkulosis. Beberapa strain stafilokokus menghasilkan satu

atau lebih eksoprotein, termasuk enterotoksin stafilokokus (SEA, SEB, SECn,

SED, SEE, SEG, SEH, dan SEI), toksin eksfoliatif (ETA dan ETB), TSS toxin-1

(TSST-1), dan leukocidin. Racun-racun ini memiliki efek potensial yang unik

pada sel-sel kekebalan dan efek biologis lainnya juga, pada akhirnya menghambat

respon imun pejamu.3

Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik,

pemeriksaan penunjang dapat dilakukan pemeriksaan gram dan kultur bakteri

4
untuk mengkonfirmasi temuan klinis. Sedangkan prognosis bergantung pada

derajat rekurensi dan penyebaran kuman ke bagian lain dari tubuh.3

Pada laporan kasus ini akan dibahas mengenai seorang anak perempuan

berumur lima tahun yang didampingi kedua orangtuanya, dengan keluhan adanya

benjolan kemerahan yang nyeri pada dahi.

BAB II

LAPORAN KASUS

5
A. RESUME

Pasien Nn A, anak perempuan, usia 5 tahun datang dengan keluhan benjolan

di kelopak mata semakin membesar. Benjolan terasa nyeri terutama bila ditekan,

tidak terasa gatal ataupun panas. Bejolan awalnya muncul banyak pada daerah

dahi, muncul seperti bisul dan lama kelamaan membesar dan pecah mengeluarkan

cairan berwarna putih kekuningan. Orangtua pasien mengatakan pernah beberapa

kali muncul benjolan sejak umur 3 tahun di dahi dan badan pasien namun belum

pernah sampai sebesar yang dialami sekarang. Pada pemeriksaan status generalis

dalam batas normal. Pada pemeriksaan status dermatologikus lokasi regio faciei

dan colli didapatkan nodul eritematosa berbentuk kubah/kerucut dengan pustul di

tengahnya berukuran 2,5x1,5x1 cm yang mobil saat digerakkan. Ditemukan juga 4

nodul eritem berukuran kurang dari 5 milimeter serta satu buah nodul yang telah

pecah dan membentuk fistel.

Riwayat alergi makanan (-) Riwayat pengobatan (-) Riwayat penyakit yang sama

pada keluarga (-)

B. STATUS DERMATOLOGIS

Lokasi : Regio faciei & colli

Jumlah : Satu buah

Effloresensi : Nodul eritematosa terdapat pustul di bagian

tengah

6
Ukuran: 2,5 x 1,5 x 1 cm

Bentuk : Bulat meninggi seperti kerucut

Mobilitas : Bergerak saat digerakkan dengan tangan

Nyeri Tekan : Ada

Gambar 1. Daerah Wajah.

(Ditemukan adanya nodul eritematosa berukuran 2,5x1,5x1 cm berbentuk

kubah/kerucut dengan pustul di tengahnya, serta beberapa jaringan parut yang

terbentuk setelah lesi lama pecah)

7
Gambar 2. Daerah Wajah.

(Nodul tampak dari samping)

C. DIAGNOSA BANDING

- Folikulitis

- Ektima

- Hidradenitis Supurativa

D. DIAGNOSA KERJA

Berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik, pasien di diagnosa

dengan folikulitis

E. PENATALAKSANAAN

1) Tindakan

8
- Insisi & Drainase dengan langkah:

1) Disinfeksi lesi dengan povidone iodine 10%

2) Pembuatan jalan drainase dengan insisi menggunakan

scalpel pada bagian tengah lesi

3) Kompres nodul dengan kasa yang direndam NaCl dan

tekan untuk mengeluarkan pus dan jaringan nekrotik

4) Tampung pus dan jaringan nekrotik dengan kasa

5) Setelah drainase selesai dioleskan salep gentamicin

sulfate 0,1% pada luka insisi

6) Tutup luka dengan kasa steril dan lakukan fiksasi

2) Topikal

- Asam Fusidat Cream 2%

- Kompres NaCl

3) Sistemik

- Cefadroxil syrup 2x1 cth

F. PROGNOSIS

Quo ad vitam : Bonam

Quo ad functionam : Bonam

Quo ad sanationam : Dubia ad bonam

9
BAB III

PEMBAHASAN

Furunkel ialah radang folikel rambut dan sekitarnya, sedangkan

furunkulosis adalah furunkel yang berjumlah lebih dari satu.1 Furunkel disebabkan

oleh infeksi akut pustular pada folikel rambut, yang tersering disebabkan bakteri

Staphylococcus aures. Infeksi menyebar sampai dermis bagian dalam di sekitar

folikel, dimana sering terbentuk abses.2 Sebuah furunkel dimulai sebagai nodul

folikulosentrik keras, lunak, merah pada kulit yang membesar yang akan

membesar dan menjadi menyakitkan dan berfluktuasi setelah beberapa hari (yaitu,

mengalami pembentukan abses). Ruptur terjadi dengan keluarnya nanah dan

bahan nekrotik.3 Biasanya didapatkan keluhan berupa nodul eritematosa besar

berbentuk kubah/kerucut yang terdapat pustul di bagian tengahnya.1 Rasa sakit di

sekitar lesi kemudian mereda, dan kemerahan dan edema berkurang selama

beberapa hari hingga beberapa minggu. Furunkel dapat terjadi sebagai lesi soliter

atau sebagai lesi multipel di beberapa bagian seperti bokong.3 Pada pemeriksaan

fisik didapatkan adanya nodul besar kemerahan yang mobil dan nyeri, bergerak

bila ditekan, dengan disertai pustul di bagian tengahnya. Lesi pada awalnya

berjumlah lebih dari 6 buah, lesi lainnya sudah pecah di rumah mengeluarkan

cairan berwarna putih (pus dan jaringan nekrotik).

10
Seperti kebanyakan kasus infeksi bakteri pada kulit lainnya, furunkulosis

lebih dominan menyerang anak-anak, 64% diantaranya terjadi pada anak laki-laki,

penderita kebanyakan berasal dari golongan sosio-ekonomi rendah2,3

Predileksinya sering didapatkan pada daerah dengan banyak friksi, misalnya

aksilla, tengkuk dan bokong. Kebanyakan pasien tidak mengalami komplikasi dan

sembuh dengan pengobatan1 Pasien adalah seorang anak perempuan, lesi terletak

pada palpebra, yaitu tempat yang dicurigai sering terpapar friksi, dimana

orangtua pasien mengatakan anaknya sering mengucek mata dan menggaruk

bagian dahi saat bermain.

Berbagai faktor resiko sistemik dikaitkan dengan furunkulosis: obesitas,

diskrasia darah, defek pada fungsi neutrofil (defek pada kemotaksis yang

berhubungan dengan eksim dan tingkat IgE yang tinggi, defek pada fagosit

organisme intraseluler seperti pada penyakit granulomatosa kronis masa kanak-

kanak), pengobatan dengan glukokortikoid dan agen sitotoksik, dan keadaan

defisiensi imunoglobulin. Proses ini seringkali lebih luas pada pasien dengan

diabetes. Mayoritas pasien dengan masalah furunculosis keadaan umumnya

terlihat sehat.2

Faktor pejamu seperti keadaan imunosupresi, terapi glukokortikoid

berkepanjangan, dan atopi dapat memainkan peran utama dalam patogenesis

infeksi stafilokokus. Cedera jaringan atau peradangan yang sudah ada sebelumnya

(luka bedah, luka bakar, trauma, dermatitis, benda asing yang tertahan) sangat

penting dalam patogenesis penyakit akibat stafilokokus. Beberapa strain


11
stafilokokus menghasilkan satu atau lebih eksoprotein, termasuk enterotoksin

stafilokokus (SEA, SEB, SECn, SED, SEE, SEG, SEH, dan SEI), toksin

eksfoliatif (ETA dan ETB), TSS toxin-1 (TSST-1), dan leukocidin. Racun-racun

ini memiliki efek potensial yang unik pada sel-sel kekebalan dan efek biologis

lainnya juga, pada akhirnya menghambat respon imun pejamu. TSST-1 dan

enterotoksin stafilokokus juga dikenal sebagai superantigen pirogenik toksin.

Molekul-molekul ini bertindak dengan mengikat langsung ke molekul HLA-DR

pada antigen pada APC tanpa pemrosesan antigen. Meskipun antigen

konvensional membutuhkan pengenalan oleh semua lima elemen kompleks

reseptor sel T, superantigen hanya membutuhkan wilayah variabel dari rantai β.

Akibatnya, 5 persen hingga 30 persen sel T istirahat dapat diaktifkan, sedangkan

respon antigenik "normal" hanya 0,0001 hingga 0,01 persen sel T. Aktivasi sel T

non-spesifik mengarah pada pelepasan sitokin sistemik secara masif, terutama

interleukin 2, interferon-γ, dan TNF-β dari sel T dan interleukin 1 dan TNF-α dari

makrofag. Stimulasi Superantigen sel T juga menghasilkan aktivasi dan perluasan

limfosit yang mengekspresikan reseptor sel-T spesifik wilayah variabel dari rantai

β. Superantigen tersebut kemudian dapat mengaktifkan sel B, yang

mengakibatkan tingginya immunoglobulin E (IgE) atau autoantibodi pada pejamu.

Juga, ada bukti bahwa superantigen secara selektif menginduksi antigen terkait

limfosit-kulit pada sel T, sehingga "menjemur" mereka ke kulit. Ada beberapa

mekanisme lain yang digunakan oleh S. aureus untuk menghilangkan kekebalan.

Sekitar 60 persen dari strain S. aureus mensekresikan protein inhibitor chemotaxis

12
dari staphylococci, yang menghambat kemotaksis neutrofil. Selain itu, protein A,

staphylokinase, polisakarida kapsuler, protein pengikat fibrinogen, dan faktor

penggumpalan A semua bertindak untuk membantu dalam menghindari opsonisasi

dan fagositosis. Staphylokinase dan aureolysin mengikat dan membelah peptida

antimikroba masing-masing, sehingga meningkatkan kelangsungan hidup in vitro

dan mungkin in vivo. Hal ini bertanggungjawab dalam munculnya manifestasi

klinis, kesulitan penanganan dan angka rekurensi dari pioderma termasuk

furunkulosis.3

Diagnosis banding pada kasus furunkulosis adalah:

- Hidradenitis Supurativa adalah penyakit kronik yang ditandai dengan

nodul di bawah kulit akibat penyumbatan kelenjar apokrin. Biasa terjadi

pada daerah yang kaya kelenjar apokrin seperti aksila, perianal, dan

perineum. Dapat mempengaruhi leher, daerah retroauricular, kulit kepala

yang berdekatan, punggung, pantat, skrotum atau labia, dan inframamma

atau wilayah mammae pada wanita. Lesi bisa lebih dari satu. Pada wanita,

daerah inguinal dan mammae lebih sering terkena, sedangkan pada pria

daerah anogenital lebih terpengaruh . Lesi primer dimulai sebagai nodul

buta, eritematosa, subkutan, keras, lunak sekitar 0,5-1,5 cm, sering

didahului oleh pruritus dan rasa tidak nyaman. Mirip dengan furunkel atau

furunkulosis pada fase awal perjalanan penyakit. Komedo polimorfik

secara khas ada di daerah lesi dan sekitar lesi. Nodul dapat tetap tidak aktif

selama beberapa hari hingga berbulan-bulan atau membentuk abses yang


13
dalam beberapa jam sampai hari-hari menerobos kulit untuk membentuk

sinus yang menghasilkan kotoran berbau busuk atau seropurulen. Abses

juga dapat membentuk erosi, ekskoriasi hingga ulkus pada jaringan di

sekitarnya.10

Gambar 4. Hidradenitis Supurativa.

- Folikulitis adalah pioderma yang menyerang folikel rambut, dan

diklasifikasikan menurut kedalaman invasi (superfisial dan profunda).

Folikulitis superfisial bermanifestasi sebagai bisul kecil berbentuk kubah

yang di tengahnya terdapat rambut, sering pada kulit kepala anak-anak dan

di daerah jenggot, aksila, ekstremitas, dan bokong orang dewasa.3 Lesi

yang muncul biasanya multipel. Sedangkan Folikulitis profunda

tampilannya mirip dengan folikulitis superfisial, namun teraba adanya

infiltrat di subkutan.1

14
Gambar 5. Folikulitis.

- Ektima adalah pioderma kulit yang ditandai dengan erosi atau ulserasi

berkrusta yang tebal. Ektima biasanya merupakan infeksi lanjutan dari

impetigo yang diabaikan dan berkembang dalam impetigo yang tersumbat

oleh alas kaki dan pakaian. Dengan demikian lesi biasanya terjadi pada

tunawisma dan tentara dalam pertempuran dalam iklim yang lembab dan

panas. S. aureus dan / atau kelompok A streptococcus dapat diisolasi pada

kultur. Infeksi yang tidak diobati dapat meluas lebih dalam, menembus

epidermis, menghasilkan ulkus berkulit dangkal. Lesi yang berselubung

dapat berevolusi dari pioderma primer atau di dalam dermatosis atau situs

trauma yang sudah ada

sebelumnya.3

15
Gambar 6. Ektima.

Penatalaksanaan Umum

Furunkulosis sederhana dapat diobati oleh aplikasi lokal kompres hangat

dan lembab. Bila banyak bisa diberikan antibiotik topikal Sedangkan furunkel

dengan selulitis sekitarnya, atau yang sampai menimbulkan demam, harus diobati

dengan antibiotik sistemik (seperti untuk impetigo). Untuk infeksi berat atau

infeksi di daerah berbahaya, dosis antibiotik maksimal harus diberikan melalui

rute parenteral. Ketika lesi besar, menyakitkan, dan fluktuatif, maka insisi dan

drainase dapat dilakukan.

Jika infeksi berulang atau rumit oleh co-morbiditas, bisa dilakukan

pemeriksaan kultur bakteri. Terapi antibiotik harus dilanjutkan sampai semua

tanda inflamasi telah mengalami perbaikan dan segera diubah dengan antibiotik

yang tepat ketika hasil kultur tersedia. Lesi harus ditutup untuk dikeringkan untuk

mencegah autoinokulasi dan cuci tangan harus rajin dilakukan..1,3 Gandhi & Ojha

(2012) melaporkan tingkat efektivitas S. Aureus terhadap berbagai jenis antibiotik

yang umum digunakan untuk mengatasi pioderma, efektivitas tertinggi mulai dari

vankomisin (99,35%) diikuti oleh ceftriaxone (99,19%), cefoperzone / sulbactum

(99,19%), gentamicin (96,77%), amoxyclav (94,35%), doxycyclin (89,5%),

16
ciprofloxacin (74,19%) , cefuroxime (60%), erythromycin (58.06%), co-

trimoxazole (50.32%), amoxicillin (34.84%), dan cefixime (40%).4

Pada kasus furunkulosis berulang, atau rekuren, terapi biasanya sulit

membuahkan hasil yang memuaskan, disebabkan kemampuan dari S. Aureus

untuk menjadi resisten terhadap berbagai macam antibiotik. Di antara bakteri

gram negatif, sebagian besar isolat menunjukkan resistensi terhadap cefepime

(80%), amoxicillin (75%), dan cotrimoxazole (50%).4 Sedangkan prevalensi S.

Aureus resisten-Meticilin (MRSA) masih jarang ditemukan.8 Namun, Totte &

Doorn (2017) melaporkan keberhasilan penggunaan enzim Endolysin topikal

dalam mengatasi pioderma yang disebabkan oleh S. aureus pada 3 orang pasien.9

Antibiotik sistemik diberikan pada keadaan pasien furunkulosis yang

berulang maupun disertai demam. FKUI (2010) merekomendasikan pemberian

antibiotik topikal pada lesi yang jumlahnya sedikit,1,3 Salah satu contoh

antibiotik topikal yang sering digunakan adalah asam fusidat, dimana McGhee

(2011) melaporkan potensi asam fusidat dalam mengeliminasi S. Aureus resisten

Meticilin (MRSA).11

Insisi dan drainase cairan di dalam nodul dilakukan untuk membantu

mengeluarkan pus dan jaringan nekrotik,12 terutama dilakukan pada lesi yang

besar, nyeri dan mobil. Insisi dilakukan dengan membuat jalan keluar pada nodul,

kemudian pus dan jaringan nekrotik dikeluarkan secara perlahan, lalu ditampung

pada kasa untuk mencegah penyebaran bakteri secara hematogen melalui sinus

hidung.3

17
Pasien diberikan antibiotik sistemik berupa cefadroxil syrup dengan

pemberian dosis 375 mg per hari atas pertimbangan pasien pernah mengalami

gejala yang sama pada umur 3 tahun. Diberikan pula Asam Fusidat 2% cream

secara topikal, yaitu antibiotik yang mempunyai efektivitas yang baik terhadap

aktivitas bakteri gram positif seperti S. aureus. Asam fusidat juga baik digunakan

dalam mencegah adanya kemungkinan resistensi yang pada akhirnya

menyebabkan timbulnya kasus yang rekuren, Dilakukan pula tindakan insisi dan

drainase lesi atas pertimbangan ukuran lesi yang besar dan menimbulkan nyeri.

Di rumah, pasien diedukasi untuk melakukan kompres hangat dan lembab

menggunakan larutan NaCl.

Pada furunkulosis beberapa komplikasi yang paling sering terjadi meliputi

penyebaran bakteri dan rekurensi infeksi. Jika terdapat lesi yang berdekatan

dengan daerah hidung dan mulut, bisa terjadi penyebaran ke sinus cavernosum

melalui vena angularis emissary. Apabila terdapat invasi furunkel ke aliran darah,

menyebabkan penyebaran hematogen ke tulang dan mengakibatkan osteomyelitis,

endokarditis akut dan abses otak.2 Namun, untungnya komplikasi tersebut jarang

ditemukan, sehingga dengan pengobatan serta edukasi yang baik, resiko untuk

munculnya penyebaran maupun infeksi ulangan termasuk kecil. Namun apabila

terjadi infeksi rekuren, kemungkinan infeksi akan berlangsung lama dan

merepotkan penderita. Komplikasi lain meliputi pneumonia, necrotizing fasciitis,

myositis, artritis sepsis, meningitis dan abses otak.2,3 Prognosis penyakit ini

bergantung pada ada atau tidaknya penyebaran kuman maupun rekurensi dari

18
penyakit. Letak lesi yang dekat dengan hidung dan bibir meningkatkan resiko

penyebaran kuman. Lesi yang sedikit dan tidak berulang memperbaiki prognosis.
12
Pada kasus ini komplikasi belum ditemukan komplikasi akibat furunkulosis

secara klinis, secara umum prognosis masih baik mengingat saat ini penderita

belum termasuk dalam furunkulosis rekuren, yang mana definisi dari furunkulosis

rekuren adalah tiga atau lebih serangan dalam jangka waktu 12 bulan,2

sedangkan serangan dengan gejala yang sama terakhir dialami kurang lebih dua

tahun yang lalu.

BAB IV

KESIMPULAN

Furunkulosis adalam pioderma atau infeksi kulit akibat bakteri yang

menyerang folikel rambut dan daerah sekitarnya dan berjumlah lebih dari satu

buah yang tersebar pada bagian tubuh penderita. Gambaran khas berupa nodul

eritem berbentuk kerucut yang terdapat pustul di bagian tengah. Etiologi

disebabkan oleh infeksi Staphylococcus aureus, bakteri berbentuk bulat, aerob

fakultatif, gram positif dan berdinding tebal.

Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik,

pemeriksaan penunjang dapat dilakukan pemeriksaan gram dan kultur bakteri.

Terapi dapat diberikan kompres hangat dan lembab pada kasus ringan, dibantu

dengan antibiotik topikal. Pada kasus dengan lesi multipel diberikan antibiotik

sistemik.

19
Pada pasien ini diagnosis telah dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis

dan pemeriksaan fisik, walaupun tidak dilakukan pemeriksaan penunjang.

Walaupun prognosis masih baik, pada pasien ini perhatian khusus perlu diberikan

terhadap kebiasaan pasien untuk mengucek bagian mata, serta membiasakan

pasien untuk mencuci tangan setelah bermain di luar untuk menjaga penyebaran

dari kuman yang masih tertinggal, serta segera membawa ke dokter apabila terjadi

infeksi ulangan atau rekuren untuk dilakukan penanganan yang sesuai.

20
DAFTAR PUSTAKA

1. Djuanda Adhi dkk. 2010. Furunkulosis. Dalam: Ilmu Penyakit Kulit dan
Kelamin Edisi keenam. Jakarta: FKUI. h. 60.
2. Weller RB, Hunter HJ et. al. 2015. Clinical Dermatology 5th edition.
Chichester:John Wiley & Sons Ltd.
3. Koenig TW, Jones SG, Rencie A,Tausk FA. 2012. Fitzpatrick’s Dermatology in
General Medicine, 8th ed. New York : Mc Graw Hill h.1699-1701
4. Gandhi S, Ojha A K, Ranjan K P, Neelima. Clinical and bacteriological aspects
of pyoderma. North Am J Med Sci 2012;4:492-5
5. Ibler KS, Kromann CB. 2014. Recurrent furunculosis – challenges and
management: a review. Journal of Clinical, Cosmetic and Investigational
Dermatology.
6. Filimon MN, Borozan AB, et. al. Testing the sensitivity of staphylococcus
aureus antibiotics. Analele Universitatii din Oradea: Fascicula Biologie.
2009;TOM XVI(2):70-73
7. Venniyil PV, Satyaki G, et. al. A study of community-associated methicillin
resistant Staphylococcus aureus in patients with pyoderma
8. Patil R, Baveja S, Nataraj G, Khopkar U. Prevalence of methicillin-resistant
Staphylococcus aureus (MRSA) in community-acquired primary pyoderma. Indian
J Dermatol Venereol Leprol [serial online] 2006 [cited 2018 Aug 27];72:126-8.
Avalable from: http://www.ijdvl.com/text.asp?2006/72/2/126/25637
9. Totté J, E, E, van Doorn M, B, Pasmans S, G, M, A, Successful Treatment of
Chronic Staphylococcus aureus-Related Dermatoses with the Topical Endolysin
Staphefekt SA.100: A Report of 3 Cases. Case Rep Dermatol 2017;9:19-25
10. Patil S, Apurwa A, Nadkarni N, Agarwal S, Chaudhari P, Gautam M.
Hidradenitis suppurativa: Inside and out. Indian J Dermatol [serial online]
2018 [cited 2018 Aug 27];63:91-8. Available from: http:// www.e-
ijd.org/text.asp?2018/63/2/91/229445
11. McGhee P, Clark C, Credito K, et al. In Vitro Activity of Fusidic Acid (CEM-
102, Sodium Fusidate) against Staphylococcus aureus Isolates from Cystic
Fibrosis Patients and Its Effect on the Activities of Tobramycin and
Amikacin against Pseudomonas aeruginosa and Burkholderia cepacia.
Antimicrobial Agents and Chemotherapy. 2011;55(5):2417-2419.
doi:10.1128/AAC.01672-10.

21
12. Soutor, Carol; Hordinsky, Maria K. Clinical Dermatology 1st Edition. New
York: Lange Medical Books/McGraw-Hill, 2013. hal. 98

22