Anda di halaman 1dari 98

HUBUNGAN MOTIVASI PENDERITA DIABETES MELLITUS

DENGAN PERILAKU (MENGONTROL) KADAR GULA


DARAH DI PUSKESMAS PANONGAN
KAB. MAJALENGKA TAHUN 2012

Oleh :
SUJANA
4201.0111.B.036

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKes) CIREBON
CIREBON
2012
HUBUNGAN MOTIVASI PENDERITA DIABETES MELLITUS
DENGAN PERILAKU (MENGONTROL) KADAR GULA
DARAH DI PUSKESMAS PANONGAN
KAB. MAJALENGKA TAHUN 2012

SKRIPSI
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mencapai Gelar
Sarjana Keperawatan (S.Kep)

Oleh :
SUJANA
4201.0111.B.036

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKes) CIREBON
CIREBON
2012
PERNYATAAN PERSETUJUAN
SKRIPSI

Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan dihadapan


Tim Penguji Skripsi Program Studi Ilmu Keperawatan
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Cirebon

Cirebon, September 2012

Menyetujui,

Pembimbing Utama, Pembimbing Pendamping,

Uus Husni M., S.Kp., M.Si Healty S.S., S.Kep, Ners


PENGESAHAN

Skripsi ini telah diperiksa dan disahkan Tim Penguji


Skripsi Program Studi Ilmu Keperawatan STIKes Cirebon
guna memenuhi sebagian syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Keperawatan (S.Kep)
Pada tanggal 1 Oktober 2012

Mengesahkan
Program Studi Ilmu Keperawatan
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Cirebon

Ketua Sidang

(Uus Husni M., S.Kp., M.Si)

Anggota

(Ucu Supriatna, M.Epid)

(Supriatin, S.Kep, Ners)


PERNYATAAN

1. Karya tulis saya, skripsi ini, adalah asli dan belum pernah diajukan untuk
mendapatkan gelar akademik (diploma dan sarjana), baik dari STIKes
Cirebon maupun Perguruan Tinggi lain.
2. Karya tulis ini adalah murni gagasan, rumusan, dan penelitian saya sendiri,
tanpa bantuan pihak lain, kecuali arahan Tim Pembimbing.
3. Dalam karya tulis ini tidak terdapat atau pendapat yang telah ditulis atau
dipublikasikan arang lain kecuali secara tertulis dengan jelas dicantumkan
sebagai acuan dalam naskah dengan disebutkan naskah pengarang dan di
cantumkan dalam daftar pustaka.
4. Pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan apabila di kemudian hari
terdapat penyimpangan dan ketidak benaran dalam pernyataan ini, maka saya
bersedia menerima sanksi akademik berupa pencabutan gelar yang telah
diperoleh karena karya ini, serta sanksi lainnya sesuai dengan norma yang
berlaku diperguruan tinggi ini.

Cirebon, September 2012


Yang membuat pernyataan,

Materai
Rp.6000

(SUJANA)
NIM.4201.0111.B.036
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Cirebon
Program Studi Ilmu Keperawatan
Tahun 2012

ABSTRAK

Sujana
4201.0111.B.036

HUBUNGAN MOTIVASI PENDERITA DIABETES MELLITUS


DENGAN PERILAKU (MENGONTROL) KADAR GULA DARAH
DI PUSKESMAS PANONGAN KABUPATEN MAJALENGKA
TAHUN 2012

Xiii+81 halaman, 2 tabel, 8 gambar, 8 lampiran

Diabetes mellitus merupakan penyakit progresif kronis yang dapat


menimbulkan komplikasi pada berbagai organ vital. Diabetes melitus tidak bisa
disembuhkan, tetapi bisa dikurangi atau dikontrol kadar gula darahnya.
Pengontrolan kadar gula darah secara teratur harus dilakukan untuk mencegah
terjadinya komplikasi dan agar dapat hidup secara normal. Angka penderita
diabetes mellitus terus meningkat setiap tahunya, namun hanya 30% saja yang
berobat secara teratur, salah satu faktor yang mempengaruhinya adalah motivasi.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan motivasi penderita
diabetes mellitus dengan perilaku (mengontrol) kadar gula darah.
Jenis penelitian ini adalah korelasi dengan pendekatan cross sectional. Jumlah
sampel 36 orang yang diambil 25% dari populasi dimana penentuan sampelnya
dengan menggunakan teknik systematic sampling. Data diperoleh dengan
menggunakan metode dan instrumen kuesioner dan dianalisis secara statistika
menggunakan uji chi square. Dari hasil uji statistik didapatkan bahwa ada
hubungan yang bermakna antara motivasi penderita diabetes mellitus dengan
perilaku (mengontrol) kadar gula darah dengan nilai sig p (0,000).
Sehubungan dengan hasil penelitian ini, untuk meningkatkan motivasi dan
perilaku penderita diabetes mellitus dalam mengontrol kadar gula darah maka
perawat di Puskesmas Panongan dapat meningkatkan peranya sebagai edukator
dan motivator pada konseling dalam pengelolaan diabetes secara mandiri
(diabetes self management education).

Kata kunci : Kadar Gula Darah, Perilaku, Motivasi


Daftar bacaan : 28 (2002 - 2011)
College of Health Science of Cirebon
Program Study of Nursing Science
Year 2012

ABSTRACT

Sujana
4201.0111.B.036

THE RELATIONSHIP MOTIVATE PATIENT DIABETES MELLITUS


BEHAVIORALLY (CONTROL) BLOOD SUGAR RATE IN PUSKESMAS
PANONGAN REGENCY MAJALENGKA YEAR 2012

Xiii+81 Pages, 2 tables, 8 picture, 8 enclosure

Diabetes Mellitus represent chronic progressive disease which can generate


complication at various vital organ. Diabetes Melitus cannot be healed, but can be
lessened or controlled its blood sugar rate. Activity control rate of sugar of blood
regularly must be done to prevent the happening of complication and in order to
earn life normally. Patient diabetes mellitus number increasing every year, but
only 30% which medicinize regularly, one of factor influencing is motivation. this
Research target is to know relationship motivate patient diabetes mellitus
behaviorally (control) blood sugar rate.
This research type is correlation with approach cross sectional. Sum up
sample 36 one who is taken by 25% from population of where determination its
sample by using technique systematic sampling. Data obtained by using
instrument kuesioner and method and analysed by statistika use test chi square.
From statistical test result got by that there is relationship having a meaning
between patient diabetes mellitus motivation behaviorally (control) blood sugar
rate with value sig p ( 0,000).
Refering to this research result, to increase motivate and the patient diabetes
mellitus behavior in controlling blood sugar rate hence nurse in Puskesmas
Panongan can improve its role as edukator and motivator at conseling in
management diabetes self-supportingly (diabetes self management education).

Keyword : Blood Sugar Rate, Behavioral, Motivate


Reading List : 28 ( 2002 – 2011)
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan

rahmat dan hidayahnya-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Skripsi

dengan judul ’’Hubungan Motivasi Penderita Diabetes Mellitus Dengan

Perilaku (Mengontrol) Kadar Gula Darah Di Puskesmas Panongan

Kabupaten Majalengka Tahun 2012’’.

Adapun tujuan penulisan skripsi ini untuk memenuhi salah satu syarat

dalam menempuh pendidikan S1 Keperawatan STIKes Cirebon.

Penulis telah berupaya seoptimal mungkin untuk dapat menyelesaikan

skripsi ini dengan sebaik-baiknya, namun penulis menyadari banyak kekurangan

dan jauh dari sempurna untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang

membangun dari semua pihak.

Penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan

pembaca pada umumnya.

Dalam penyusunan skripsi ini tidak lepas dari bantuan, bimbingan dan

dorongan dari berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini penulis ingin

menyampaikan terima kasih pada yang terhormat :

1. Drs. H. E. Djumhana Cholil, MM, selaku Ketua Yayasan RISE Cirebon.

2. Mohammad Sadli, SKM, M.M.Kes, selaku Ketua STIKes Cirebon.

3. H. Alimudin, S.Sos, M.M, M.M.Kes, selaku Kepala Dinas Kesehatan

Kabupaten Majalengka.
4. Awaludin Jahid Abdilah, S.Kp, selaku Ketua Program Studi Ilmu

Keperawatan STIKes Cirebon.

5. Akhmad Hidayat, SKM, selaku Kepala UPTD Puskesmas Panongan

Kabupaten Majalengka

6. Uus Husni M., S.Kp., M.Si, selaku Dosen Pembimbing Utama skripsi yang

selalu memberikan arahan dan bimbinganya

7. Healty S.S., S.Kep, Ners, selaku Dosen Pembimbing Pendamping skripsi yang

selalu memberikan arahan dan bimbinganya

8. Keluargaku tercinta yang selalu memberikan dukungan baik secara moril

maupun materil sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

9. Semua pihak yang telah membantu yang tidak bisa penulis sebutkan satu

persatu.

Mudah-mudahan bantuan, bimbingan dan budi baik yang telah diberikan

pada penulis mendapat balasan dengan limpahan berkat dan anugrah dari Allah

SWT. Amin...

Majalengka, September 2012

Penulis
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL DALAM...................................................... i


HALAMAN PERSETUJUAN........................................................... ii
HALAMAN PENGESAHAN............................................................ iii
PERNYATAAN TERTULIS ............................................................ iv
ABSTRAK.......................................................................................... v
KATA PENGANTAR......................................................................... vii
DAFTAR ISI....................................................................................... ix
DAFTAR TABEL............................................................................... xi
DAFTAR GAMBAR ......................................................................... xii
DAFTAR LAMPIRAN....................................................................... xiii

BAB I PENDAHULUAN................................................................ 1
1.1 Latar Belakang............................................................... 1
1.2 Perumusan Masalah....................................................... 5
1.3 Tujuan............................................................................ 5
1.3.1 Tujuan Umum............................................................. 5
1.3.2 Tujuan Khusus............................................................ 5
1.4 Ruang Lingkup Penelitian............................................. 6
1.5 Kegunaan Penelitian...................................................... 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA....................................................... 8


2.1 Konsep Diabetes Mellitus.............................................. 8
2.2 Konsep Motivasi............................................................ 25
2.3 Konsep Perilaku............................................................. 30
2.4 Konsep Hubungan Motivasi dan Perilaku...................... 36
2.5 Perilaku Mengontrol Kadar Gula Darah........................ 38
2.6 Kerangka Teori............................................................... 38
BAB III KERANGKA KONSEP, HIPOTESIS DAN DEFINISI
OPERASIONAL.................................................................. 41
3.1 Kerangka Konsep.......................................................... 41
3.2 Hipotesis........................................................................ 41
3.3 Definisi Operasional, Variabel dan Cara Pengukuran... 42

BAB IV METODE PENELITIAN..................................................... 43


4.1 Rancangan Penelitian.................................................... 43
4.2 Variabel Penelitian........................................................ 43
4.3 Populasi dan Sampel...................................................... 43
4.3.1 Populasi....................................................................... 43
4.3.2 Sampel........................................................................ 44
4.4 Instrumen Penelitian...................................................... 45
4.5 Metode Pengumpulan Data........................................... 46
4.6 Uji Coba Kuesioner....................................................... 46
4.7 Pengolahan Data............................................................ 48
4.8 Analisa Data.................................................................. 49
4.9 Lokasi dan Waktu Penelitian......................................... 51
4.10 Etika Penelitian............................................................ 51

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN.................. 53


5.1 Hasil Penelitian.............................................................. 53
5.2 Pembahasan................................................................... 55

BAB VI SIMPULAN DAN SARAN ................................................ 62


6.1 Simpulan........................................................................ 62
6.2 Saran.............................................................................. 62

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................ 64


LAMPIRAN....................................................................................... 66
DAFTAR TABEL

Nomor Judul Tabel Halaman

2.1 Kadar Glukosa Sewaktu dan Puasa 13

5.1 Hasil Analisis Hubungan Motivasi Penderita Diabetes 55


Mellitus dengan Perilaku Mengontrol Kadar Gula
Darah di Puskesmas Panongan Kabupaten Majalengka
Tahun 2012
DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Gambar Halaman

2.1 Determinan Perilaku Manusia 39

2.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Motivasi 40

3.1 Kerangka Konsep 41

5.1 Distribusi Motivasi Penderita Diabetes Mellitus 53


Mengontrol Kadar Gula darah di Puskesmas
Panongan Kabupaten Majalengka Tahun 2012

5.2 Distribusi Perilaku Penderita Diabetes Mellitus 54


Mengontrol Kadar Gula darah di Puskesmas
Panongan Kabupaten Majalengka Tahun 2012

5.3 Hubungan Motivasi Penderita Diabetes Mellitus 54


dengan Perilaku Mengontrol Kadar Gula darah di
Puskesmas Panongan Kabupaten Majalengka
Tahun 2012
DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Judul Gambar Halaman

Lampiran 1 Jadwal Kegiatan Skripsi 66

Lampiran 2 Informed consent 67

Lampiran 3 Kisi – Kisi Instrumen Penelitian 68

Lampiran 4 Instrumen / Kuesioner Penelitian 70

Lampiran 5 Rekapitulasi Hasil Uji Coba Kuesioner 73

Lampiran 6 Hasil Uji Statistik 77

Lampiran 7 Surat Ijin Penelitian 83

Lampiran 8 Daftar Riwayat Hidup 84


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Diabetes mellitus adalah penyakit metabolik yang berlangsung kronik

progesif, dengan manifestasi gangguan metabolik glukosa dan lipid, disertai

komplikasi kronik sampai dengan kerusakan organ tubuh(1). Diabetes melitus

tidak bisa disembuhkan, tetapi bisa dikurangi atau dikontrol kadar gula

darahnya(2).

Ancaman diabetes mellitus kini semakin meluas, berdasarkan data dari

Federasi Diabetes Dunia (IDF) tahun 2011, pada tahun 2030 mendatang sebanyak

552 juta orang akan terkena diabetes mellitus. Terjadi peningkatan sekitar 200 juta

orang dari jumlah penderita tahun 2011, yang mencapai 346 juta orang.

Sementara data tahun 2010 lalu, jumlah pengidap diabetes mellitus mencapai 285

juta orang(3).

Indonesia menempati urutan ke 4 dalam jumlah penderita diabetes mellitus

setelah India, Cina, dan Amerika Serikat. Berdasarkan hasil Riset Kesehatan

Dasar (Rikesda) tahun 2008, menunjukan prevalensi pengidap diabetes mellitus

sekitar 5,7 persen dan pradiabetes mellitus 11,4 persen, dengan angka prevalensi

tersebut dapat diperkirakan penderita diabetes mellitus saat ini mencapai sekitar

13,56 juta orang dan penderita pradiabetes mellitus sekitar 27,13 juta. Pradiabetes

mellitus yaitu mereka yang hasil pengujian kadar gula darahnya relatif lebih tinggi

dari angka normal, namun belum masuk angka kategori pengidap diabetes
mellitus(3). Survey Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2010, menyebutkan

jumlah penderita diabetes mellitus di Indonesia naik dari 8,4 juta pada tahun 2000

menjadi 21,3 juta tahun 2010, dan diantara mereka baru sekitar 30% yang berobat

teratur(4).

Di Puskesmas Panongan jumlah penderita diabetes mellitus yang sudah

terdiagnosis dan tercatat pada tahun 2009 sebanyak 116 kasus, tahun 2010

sebanyak 132 kasus, dan pada tahun 2011 sebanyak 142 kasus atau meningkat

7,6 % dari tahun 2010, dari angka tersebut hanya 36 orang (25,3%) yang tercatat

berkunjung ke Puskesmas secara teratur untuk cek kadar gula darah(5).

Banyaknya penderita diabetes mellitus di Indonesia disinyalir sebagai akibat

dari faktor lingkungan dan gaya hidup yang tidak sehat, seperti makan berlebihan,

berlemak, kurang aktivitas fisik atau olahraga dan stress berperan besar sebagai

pemicu diabetes mellitus. Tapi diabetes mellitus juga bisa muncul karena faktor

keturunan. Faktor keturunan memang tidak dapat dicegah, namun gaya hidup

dapat diubah(4).

Peningkatan angka pasien diabetes mellitus berdampak signifikan bagi

kesehatan secara keseluruhan, sebab penyakit diabetes mellitus merupakan

penyakit kronis yang bersifat progresif. Diabetes mellitus dapat menimbulkan

berbagai komplikasi kronis pada berbagai organ vital seperti stroke, gagal ginjal,

jantung, kebutaan dan bahkan harus menjalani amputasi jika anggota badan

menderita luka yang tidak bisa mengering. Apalagi jika penderita diabetes

mellitus tidak mampu mengontrol kadar gula dalam darahnya(2).


Pengontrolan kadar gula darah secara teratur harus dilakukan untuk

mencegah terjadinya komplikasi kronis, dan dengan pengontrolan yang teratur

penderita diabetes mellitus dapat hidup secara normal(6). Pengontrolan diabetes

mellitus yang baik dapat mengurangi komplikasi 20 sampai 30 %(7).

Ada empat cara pengelolaan diabetes mellitus dalam mengontrol kadar gula

darah yang dikenal dengan empat serangkai pengelolaan diabetes mellitus, yaitu

edukasi, perencanaan makanan, latihan jasmani dan intervensi medis. Bila

penderita diabetes mellitus taat dan disiplin serta mau berperilaku sehari-hari

dengan baik dan mengikuti empat serangkai dalam pengelolaan diabetes mellitus,

maka kualitas kesehatan penderita diabetes mellitus juga akan baik(8).

Perilaku kesehatan adalah suatu respon seseorang terhadap stimulus atau

objek yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan,

makanan dan minuman serta lingkungan(9). Perilaku penderita diabetes mellitus

dalam mengontrol kadar gula darahnya dipengaruhi oleh faktor pengetahuan,

motivasi, kepercayaan dan sikap positif, tersedianya sarana dan prasarana yang

diperlukan dan terdapat dorongan yang dilandasi kebutuhan yang dirasakan(9).

Untuk terwujudnya sebuah perilaku pengontrolan kadar gula darah yang

baik dari penderita diabetes mellitus dibutuhkan sebuah motivasi.

Motivasi adalah suatu konstruk yang dimulai dari adanya need atau kebutuhan

pada diri individu dalam bentuk energi aktif yang menyebabkan timbulnya

dorongan dengan intensitas tertentu yang berfungsi mengaktifkan, memberi arah,

dan membuat persisten (berulang-ulang) dari suatu perilaku untuk memenuhi

kebutuhan yang menjadi penyebab timbulnya dorongan itu sendiri(10).


Motivasi penderita diabetes mellitus dalam mengontrol kadar gula darah

terdiri dari dua jenis, yaitu motivasi intrinsik yang datangnya dari dalam diri

individu itu sendiri, seperti kedisiplinan dalam diet, kepatuhan dan keteraturan

dalam latihan fisik, teratur dalam berobat atau terapi medis dan keinginan untuk

meningkatkan pengetahuan tentang penyakitnya dan motivasi ekstrinsik yang

datangnya dari luar diri sendiri seperti dukungan keluarga, teman dekat, tokoh

masyarakat, dukungan ekonomi dan dukungan petugas kesehatan(11).

Penulis melakukan studi pendahuluan pada tanggal 12-14 Juni 2012 di

Puskesmas Panongan Kabupaten Majalengka, hasil wawancara terhadap 10 orang

penderita diabetes mellitus, 7 orang diantara mereka mangaku enggan datang ke

Puskesmas untuk kontrol (cek) gula darah, hal tersebut disebabkan belum adanya

keluhan terkait dengan gejala penyakit diabetes mellitus, mahalnya biaya

pemeriksaan gula darah, lokasi yang jauh dan infrastruktur jalan yang rusak,

malas pergi berobat karena sibuk dengan pekerjaan rutin dan tanpa gejala pasien

merasa sembuh.

Berdasarkan uraian di atas, angka penderita diabetes mellitus di wilayah

kerja Puskesmas Panongan cenderung meningkat tiap tahunnya, dan angka

kunjungan penderita diabetes mellitus ke Puskesmas untuk kontrol (cek) kadar

gula darah secara teratur sangat rendah (25,3%), maka penulis tertarik untuk

melakukan penelitian mengenai hubungan motivasi penderita diabetes mellitus

dengan perilaku (mongontrol) kadar gula darah di Puskesmas Panongan

Kabupaten Majalengka.
1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, maka

dapat dirumuskan permasalahan penelitian sebagai berikut : Apakah ada

hubungan antara motivasi penderita diabetes mellitus dengan perilaku

(mengontrol) kadar gula darah di Puskesmas Panongan Kabupaten Majalengka

tahun 2012 ?

1.3 Tujuan

1.3.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui hubungan motivasi penderita diabetes mellitus

dengan perilaku (mengontrol) kadar gula darah di Puskesmas Panongan,

Kabupaten Majalengka tahun 2012.

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Untuk mengetahui motivasi penderita diabetes mellitus mengontrol

kadar gula darah di Puskesmas Panongan Kabupaten Majalengka

tahun 2012

2. Untuk mengetahui perilaku penderita diabetes mellitus mengontrol

kadar gula darah di Puskesmas Panongan Kabupaten Majalengka

tahun 2012

3. Untuk menganalisis hubungan motivasi penderita diabetes mellitus

dengan perilaku (mengontrol) kadar gula darah di Puskesmas

Panongan Kabupaten Majalengka tahun 2012


1.4 Ruang Lingkup Penelitian

Karena keterbatasan waktu pada penelitian ini, variabel yang diteliti hanya

motivasi penderita diabetes mellitus dan variabel perilaku (mengontrol) kadar

gula darah di Puskesmas Panongan Kabupaten Majalengka tahun 2012, dengan

sasaran 142 penderita diabetes mellitus tipe 2 yang berada di wilayah kerja

Puskesmas Panongan tahun 2011. Jenis penelitian korelasi dengan menggunakan

metode cross sectional.

1.5 Kegunaan Penelitian

1.5.1 Guna Teoritis

1. Bagi ilmu keperawatan

Dapat digunakan oleh perawat komunitas khususnya di Puskesmas

sebagai bahan acuan dalam memberikan penyuluhan atau konseling

kepada masyarakat khususnya penderita diabetes mellitus agar tetap

memiliki motivasi yang tinggi untuk menjalani program pengendalian

kadar gula darah secara teratur.

2. Bagi institusi pendidikan

Hasil penelitian bermanfaat sebagai sumber informasi dan

pengembangan literatur bagi mahasiswa dan dapat menjadi bahan acuan

untuk penelitian selanjutnya.


3. Bagi peneliti lain

Memberikan dasar pijakan untuk penelitian selanjutnya dalam

meneliti motivasi dan perilaku penderita diabetes mellitus dalam

mengontrol kadar gula darah.

1.5.2 Guna Praktis

1. Bagi puskesmas

Memberikan informasi faktual kepada Puskesmas Panongan

tentang pentingnya motivasi bagi penderita diabetes mellitus dalam

mengontrol kadar gula darah, sehingga dapat dijadikan acuan dalam

memberikan konseling kepada penderita diabetes mellitus yang pada

akhirnya dapat meningkatkan kunjungan penderita diabetes mellitus ke

Puskesmas Panongan untuk kontrol (cek) kadar gula darah.

2. Bagi responden

Dapat memberikan informasi tentang pentingnya mengontrol kadar

gula darah bagi penderita diabetes mellitus, dan dapat dijadikan bahan

instrospeksi diri untuk meningkatkan motivasi dalam mengendalikan

kadar gula darah.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Diabetes Mellitus

2.1.1 Pengertian Diabetes Mellitus

Diabetes melitus merupakan suatu sindrom klinik yang khas ditandai oleh

adanya hiperglikemia yang disebabkan oleh defisiensi atau penurunan efektifitas

insulin. Gangguan metabolik ini mempengaruhi metabolisme dari karbohidrat,

protein, lemak, air dan elektrolit. Gangguan metabolisme tergantung pada adanya

kehilangan aktivitas insulin dalam tubuh dan pada banyak kasus akhirnya

menimbulkan kerusakan selular, khususnya sel endotelial vaskular pada mata,

ginjal dan susunan saraf(12).

Diabetes mellitus adalah penyakit metabolik yang berlangsung kronik

progesif, dengan manifestasi gangguan metabolik glukosa dan lipid, disertai

komplikasi kronik sampai dengan kerusakan organ tubuh. Diabetes melitus tidak

bisa disembuhkan, tetapi bisa dikurangi dan dikontrol kadar gula darahnya(1).

Diabetes melitus merupakan penyakit kelainan metabolisme karbohidrat,

lemak dan protein yang disebabkan kurangnya produksi hormon insulin oleh sel

beta prankreas sehingga glukosa menumpuk di dalam darah kemudian

menyebabkan kadar gula darah meningkat diatas normal.


2.1.2 Etiologi dan Patofisiologi

Etiologi dan patofisiologi dari diabetes mellitus dapat dijelaskan sebagai

berikut :

1. Etiologi

Penyebab diabetes mellitus adalah kurangnya produksi dan ketersediaan

insulin dalam tubuh yang mencukupi maka tidak dapat bekerja secara normal

atau terjadinya gangguan fungsi insulin. Insulin berperan utama dalam

mengatur kadar glukosa dalam darah, yaitu 60-120 mg/dl waktu puasa dan

dibawah 140 mg/dl pada dua jam sesudah makan (orang normal)(13).

Kekurangan Insulin disebabkan karena terjadinya kerusakan sebagian

kecil atau sebagian besar dari sel-sel beta pulau langerhans dalam kelenjar

penkreas yang berfungsi menghasilkan insulin. Ada beberapa faktor yang

menyebabkan diabetes mellitus sebagai berikut :

1) Genetik atau Faktor Keturunan

Diabetes mellitus cenderung diturunkan atau diwariskan, bukan

ditularkan. Anggota keluarga penderita diabetes mellitus memiliki

kemungkinan lebih besar terserang penyakit ini dibandingkan dengan

anggota keluarga yang tidak menderita diabetes mellitus. Para ahli

kesehatan juga menyebutkan diabetes mellitus merupakan penyakit yang

terpaut kromosom seks. Biasanya kaum laki-laki menjadi penderita

sesungguhnya, sedangkan kaum perempuan sebagai pihak yang

membawa gen untuk diwariskan kepada anak-anaknya(12).


2) Virus dan Bakteri

Virus yang menyebabkan diabetes mellitus adalah rubella, mumps,

dan human coxsackievirus B4. Diabetes mellitus akibat bakteri masih

belum bisa dideteksi. Namun, para ahli kesehatan menduga bakteri cukup

berperan menyebabkan diabetes mellitus(12).

3) Bahan Toksin atau Beracun

Ada beberapa bahan toksik yang mampu merusak sel betasecara

langsung, yakni allixan, pyrinuron (rodentisida), streptozotocin (produk

dari sejenis jamur)(12).

4) Asupan Makanan

Diabetes mellitus dikenal sebagai penyakit yang berhubungan

dengan asupan makanan, baik sebagai faktor penyebab maupun

pengobatan. Asupan makanan yang berlebihan merupakan faktor risiko

pertama yang diketahui menyebabkan diabetes mellitus. Salah satu

asupan makanan tersebut yaitu asupan karbohidrat. Semakin berlebihan

asupan makanan semakin besar kemungkinan terjangkitnya diabetes

mellitus(12).

5) Obesitas

Retensi insulin paling sering dihubungkan dengan kegemukan atau

obesitas. Pada kegemukan atau obesitas, sel-sel lemak juga ikut gemuk

dan sel seperti ini akan menghasilkan beberapa zat yang digolongkan

sebagai adipositokin yang jumlahnya lebih banyak dari keadaan pada


waktu tidak gemuk. Zat-zat itulah yang menyebabkan resistensi terhadap

insulin(12).

2. Patofisiologi

Pengolahan bahan makanan dimulai di mulut kemudian ke lambung dan

selanjutnya ke usus. Di dalam saluran pencernaan itu makanan di pecah

menjadi bahan dasar dari makanan itu. Karbohidrat menjadi glukosa, protein

menjadi asam amino, dan lemak menjadi asam lemak. Ketiga zat makan itu

akan diserap oleh usus dan kemudian masuk ke dalam pembuluh darah dan

diedarkan keseluruh tubuh untuk dipergunakan oleh organ-organ didalam

tubuh sebagai bahan bakar.

Supaya dapat berfungsi sebagai bahan bakar, zat makanan itu harus

masuk dulu ke dalam sel supaya dapat diolah. Di dalam sel, zat makan

terutama glukosa dibakar melalui proses kimia yang rumit, yang hasil

akhirnya adalah timbulnya energi. Proses ini disebut metabolisme. Dalam

proses metabolisme itu insulin memegang peran yang sangat penting yaitu

bertugas memasukkan glukosa ke dalam sel, untuk selanjutnya dapat

dipergunakan sebagai bahan bakar. Insulin ini adalah suatu zat atau hormon

yang dikeluarkan oleh sel beta di pankreas(12).

Pada diabetes mellitus tipe 2 jumlah insulin normal, malah mungkin lebih

banyak tetapi jumlah reseptor insulin yang terdapat pada permukaan sel yang

kurang. Reseptor insulin ini dapat diibaratkan sebagai lubang kunci pintu

masuk ke dalam sel. Pada keadaan tadi lubang kuncinya yang kurang, hingga

meskipun anak kuncinya (insulin) banyak, tetapi karena lubang kuncinya


(reseptor) kurang, maka glukosa yang masuk sel akan sedikit, sehingga sel

akan kekurangan bahan bakar (glukosa) dan glukosa di dalam pembuluh

darah meningkat(12).

Efek samping insulin adalah penambahan berat badan yang mungkin

diduga karena tiga penyebab(12) :

1) Insulin diketahui memiliki efek anabolik (pembentukan tubuh).

2) Ketika kontrol terdapat glisemia yang baik mulai dicapai karena adanya

terapi insulin, sedikit gula yang hilang didalam urin.

3) Pengobatan insulin membuat orang merasa lebih baik.

2.1.3 Glukosa Darah

1. Pengertian

Glukosa merupakan bentuk paling sederhana dari molekul gula,

yang merupakan produk akhir dari pencernaan karbohidrat dan bentuk

dimana karbohidrat diserap dari usus ke dalam aliran darah. Terkadang

orang menyebutnya gula anggur ataupun dekstrosa. Banyak dijumpai di

alam, terutama pada buah-buahan, sayur-sayuran, madu, sirup jagung dan

tetes tebu. Di dalam tubuh glukosa didapat dari hasil akhir pencernaan

amilum, sukrosa, maltosa dan laktosa(6).

2. Kadar glukosa darah sewaktu dan puasa

Kriteria diagnostik diabetes mellitus menurut Perkeni atau yang

dianjurkan ADA (American Diabetes Association), yaitu bila terdapat


salah satu atau lebih hasil pemeriksaan gula darah dengan kriteria sebagai

berikut(14):

1) Kadar gula darah sewaktu (plasma vena) lebih atau sama dengan 200

mg/dl

2) Kadar gula darah puasa (plasma vena) lebih atau sama dengan 126

mg/dl

3) Kadar glukosa plasma lebih atau sama dengan 200 mg/dl pada 2 jam

sesudah beban glukosa 75 gram pada tes toleransi glukosa oral

(TTGO).

Tabel 2.1 Kadar Glukosa Sewaktu dan Puasa

Kadar Glukosa Darah Sewaktu Bukan DM Belum Pasti DM DM


Kadar glukosa darah sewaktu < 100 110-199 > 200
Plasma vena < 90 90-199 > 200
Kadar glukosa darah puasa
Plasma vena < 110 110-125 > 126
Darah kapiler < 90 90-109 > 110

Sumber : (14)

3. Faktor risiko diabetes mellitus

Faktor yang menyebabkan seseorang memiliki resiko terkena

diabetes melitus lebih tinggi, yaitu(13) :

1) Kurangnya olah raga

2) Rendahnya berat badan bayi yang lahir karena tidak memadainya

asupan gizi pada janin selama tahap perkembangan, terutama jika ibu

bayi memiliki kelebihan berat badan dalam hidupnya.

3) Kurang mengkonsumsi serat


4) Kegemukan

5) Pola makan yang salah

6) Minum obat yang dapat menaikkan kadar glukosa darah

7) Stres

4. Gejala diabetes mellitus

Gejala dan tanda diabetes mellitus dapat dikelompokkan menjadi

gejala akut dan kronik, yaitu(13):

1) Gejala akut

Gejala diabetes mellitus dari penderita satu dengan lainnya tidak

selalu sama. Gejala tersebut dibawah ini adalah gejala yang pada

umumnya timbul dengan tidak mengurangi kemungkinan adanya

variasi gejala yang lain, bahkan ada penderita diabetes mellitus yang

tidak menunjukkan apapun sampai pada saat tertentu.

Pada permulaan gejala yang timbul sering disebut 3P yaitu

polifagia (banyak makan), polidipsi (banyak minum) dan poliuria

(sering kencing). Dalam fase ini biasanya penderita menujukkan berat

badan yang terus bertambah (gemuk) karena pada saat ini jumlah

insulin masih mencukupi.

2) Gejala kronik

Penderita diabetes mellitus tidak menunjukkan gejala akut

(mendadak) tapi penderita menunjukkan gejala sesudah beberapa

bulan atau beberapa tahun mengidap penyakit diabetes mellitus.

Gejala kronik yang sering timbul antara lain kesemutan, kulit terasa
panas, tebal dikulit, kram, mudah mengantuk, pada wanita akan gatal

disekitar kemaluan, kemampuan seksual menurun dan bisa impoten

sedangkan untuk ibu hamil sering mengalami keguguran atau

kematian janin dalam kandungan dengan bayi berat lahir lebih

dari 4 kg.

5. Komplikasai diabetes mellitus

Komplikasi diabetes mellitus dapat muncul secara akut maupun

kronik, yaitu timbul beberapa bulan atau beberapa tahun setelah

mengidap penyakit diabetes mellitus(13).

Komplikasi akut yang sering timbul adalah hipoglikemia dan koma

diabetik. Hipoglikemia adalah gejala yang timbul akibat tubuh

kekurangan glukosa, dengan tanda-tanda : rasa lapar, gemetar, keringat

dingin, pusing. Berlawanan dengan koma hipoglikemik, koma diabetik

ini timbul karena kadar gula darah dalam tubuh semakin tinggi, dan

biasanya lebih dari 600 mg/dl. Gejala koma diabetik adalah nafsu makan

menurun, banyak minum, banyak kencing, mual dan muntah, napas

menjadi cepat dan berbau aseton, sering disertai panas karena terjadi

infeksi(13).

Komplikasi kronik yang sering timbul adalah bila penderita lengah,

komplikasi diabetes mellitus dapat menyerang seluruh alat tubuh, mulai

rambut sampai ujung kaki termasuk semua alat tubuh di dalamnya.

Sebaliknya, komplikasi tersebut tidak akan muncul jika perawatan

diabetes mellitus dilaksanakan dengan tertib dan teratur(13).


6. Pencegahan penyakit diabetes mellitus

Ada 10 cara untuk mencegah atau memerangi komplikasi diabetes

mellitus, yang dikenal SINDROM 10 = GULOH-SISAR(13), yaitu :

1) G (gula)

Batasi penggunaan gula, makanan dan minuman yang terlalu manis.

2) U (Urat = asam urat)

Batasi makanan yang banyak mengandung Purin, karena purin

dapat menimbulkan hiperurisemia dengan efek samping antara lain

mudah timbul agresi trombosit (penggumpalan darah) yang dapat

memacu timbulnya ateroklerosis atau penyempitan pembuluh darah,

misalnya : jeroan, alkohol, sarden, burung dara, unggas, kaldu dan

emping

3) L (lemak atau Lipid)

Usahakan mencapai desirable lipid triad (kolesterol total,

trigliserida, kolesterol-HDL), atau cegah untuk terjadinya dislipidemia

(Kadar lemak darah yang tidak normal) dengan cara menghindari

makanan yang banyak mengandung lemak dan budayakan untuk

makan sayur dan buah-buahan setiap hari

4) 0 (obesitas)

Cegah kegemukan atau gizi yang berlebih atau obesitas, termasuk

penurunan 5 hingga 7 persen dari berat badan total dapat menurunkan

resiko terkena diabetes tipe 2 sebesar 60 %.


5) S (Sigaret)

Hindari atau berhenti merokok

6) H (Hipertensi)

Cegahlah konsumsi garam yang berlebihan

7) I (Inaktifitas)

Lakukan olahraga teratur setiap hari untuk menghilangkan kalori

sekitar 300kkl atau 2000 kkal/minggu, atau jalan kaki sekitar 30 menit

dalam sehari, lima hari dalam seminggu.

8) S (Stress)

Usahakan tidur nyenyak minimal 6 jam sehari agar dapat

meredam stress.

9) A (alkohol)

Hindari atau berhenti minum alkohol

10) R (Reguler Check Up)

Lakukan check up secara teratur tanpa menunggu timbulnya

gejala, baik yang sakit atau yang normal, terutama dilakukan untuk

umur diatas 40 tahun.

7. Klasifikasi diabetes mellitus

1) Kelompok berdasarkan pola makan

(1) Jenis DM yang menjangkit wilayah dengan penduduk yang

berpola makan dan berpola hidup modern dan tradisional.


(2) Jenis DM yang disebabkan kekurangan makan (malnutrition) ada

di daerah yang kekurangan pangan(13).

2) Kelompok berdasarkan klinis atau medis

(1) Diabetes mellitus (DM)

 DM tipe I atau DMTI (Diabetes Mellitus Tergantung Insulin)

 DMTTI (Diabetes Mellitus Tidak Tergantung Insulin)

 DMTM (Diabetes Mellitus Terkait Malnutrisi)

 Diabetes Mellitus yang behubungan atau sindrom tertentu.

(2) Gangguan toleransi glukosa

Gangguan ini terjadi pada kelompok tidak gemuk, gemuk

dan berhubungan dengan keadaan atau sindrom tertentu.

(3) Diabetes mellitus pada kehamilan (Gestional/DM)

Ganggun ini baru terjadi pada seseorang setelah hamil.

Sebelumnya kadar glukosa darah dalam keadaan normal(13).

3) Kelompok berdasarkan resiko tinggi

(1) Toleransi glukosa pernah abnormal.

(2) Kedua orang tua mengidap DM.

(3) Pernah melahirkan bayi dengan berat badan 4 kg(13).

8. Penatalaksanaan diet diabetes mellitus

1) Tujuan diet

Tujuan diet diabetes mellitus adalah membantu pasien agar

memperbaiki kebiasaan makan untuk mendapatkan kontrol metabolik

yang lebih baik dengan cara(6) :


(1) Mempertahankan kadar glukosa darah supaya mendekati normal

dengan menyeimbangkan asupan makanan dengan insulin dengan

obat penurunan glukosa oral dan aktifitas fisik.

(2) Memberi cukup energi untuk mempertahankan atau mencapai

berat badan yang normal.

(3) Menghindari atau menanganin komplikasi atau pasien yang

menggunakan insulin seperti hipoglikemia

(4) Meningkatkan derajat kesehatan sacara keseluruhan melalui gizi

yang optimal.

Sedangkan tujuan diet lainya(13):

(1) Mencapai dan kemudian mempertahankan kadar glukosa darah

mendekati normal

(2) Mencapai dan mempertahankan lipid mendekati normal

(3) Mencapai dan mempertahankan berat badan agar selalu dalam

batas-batas yang memadai atau berat badan idaman 10%

(4) Mencegah komplikasi angkut dan kronik

(5) Meningkatkan kualitas hidup

2) Cara pengaturan diet

Pengaturan makan (diet) merupakan kunci pengendalian

diabetes mellitus, khususnya yang tergolong NIDDM yang harus

diupayakan seterusnya. Suatu pendapat yang keliru yang menganggap

bahwa kalau sudah mendapat obat anti diabetes mellitus berarti makan

boleh bebas.
Dengan pengaturan makan dapat diupayakan sedemikian rupa

sehingga kegemukan dapat dikurangi. Dengan demikian kepekaan sel

terhadap kerja insulin meningkat, kadar gula darah dapat menurun.

Dalam waktu singkat saja sudah dapat mengurangi gejala-gejala

meskipun berat badan belum terpengaruh. Disamping itu dengan

berkurangnya kegemukan akan mengurangi faktor resiko komplikasi

menahun. Dalam menyusun pengaturan makan ada beberapa hal yang

harus diperhatikan antara lain :

(1) Kebutuhan kalori

Kebutuhan kalori sesuai untuk mencapai dan

mempertahankan berat badan ideal. Komposisi energi adalah 60 –

70 % dari karbohidrat, 10 – 15 % dari protein dan 20 – 25 % dari

lemak.

Ada beberapa cara untuk menentukan jumlah kalori yang

dibutuhkan penderita diabetes mellitus. Diantaranya adalah

dengan memperhitungkan berdasar kebutuhan kalori basal yang

besarnya 25-30 kalori / kg BB ideal, ditambah atau dikurangi

tergantung dari beberapa faktor yaitu :

 Jenis kelamin

Kebutuhan kalori pada wanita lebih kecil dari pada pria,

untuk itu dapat dipakai angka 25 kal / kg BB untuk wanita dan

angka 30 kal / kg BB untuk pria.


 Umur

Penurunan kebutuhan kalori diatas 40 tahun harus dikurangi

5 % untuk tiap dekade antara 40 – 59 tahun, sedangkan antara

60-69 tahun dikurangi 10 % dan diatas 70 tahun dikurangi 20 %.

 Aktifitas fisik

Jenis aktifitas yang berbeda membutuhkan kalori yang

berbeda pula.

 Kehamilan atau laktasi

Pada permulaan kehamilan diperlukan tambahan 150 kalori

per hari dan pada trimester 2 dan 3 diperlukan tambahan 350

kalori per hari. Pada waktu laktasi diperlukan tambahan sebanyak

550 kalori per hari.

 Adanya komplikasi

Infeksi, trauma atau operasi yang menyebabkan kenaikan

suhu memerlukan tambahan kalori sebesar 13 % untuk tiap

kenaikan 1 derajat celcius.

 Berat badan

Bila kegemukan atau terlalu kurus, dikurangi atau ditambah

sekitar 20-30 % tergantung kepada tingkat kegemukan atau

kekurusan.

(2) Daftar bahan makanan penukar

Daftar bahan makanan penukar adalah suatu daftar nama

bahan makanan dengan ukuran tertentu dan dikelompokkan


berdasarkan kandungan kalori, protein, lemak dan hidrat arang.

Setiap kelompok bahan makanan dianggap mempunyai nilai gizi

yang kurang lebih sama. Dikelompokkan menjadi 7 kelompok

bahan makanan yaitu :

 Golongan 1 : bahan makanan sumber karbohidrat

 Golongan 2 : bahan makanan sumber protein hewani

 Golongan 3 : bahan makanan sumber protein nabati

 Golongan 4 : sayuran

 Golongan 5 : buah – buahan

 Golongan 6 : minyak

 Golongan 7 : makanan tanpa kalori

(3) Pola diet

Pola diet pada pasien diabetes mellitus yaitu :

 Kurang energi

Jumlah energi disesuaikan dengan pertumbuhan, status gizi,

umur, stress akut dan kegiatan jasmani untuk mencapai dan

mempertahankan berat badan ideal.

 Kurangi lemak

Makanan lemak tinggi dapat meningkatkan kadar kolesterol

dan membuat kerja insulin menjadi tidak efisien. Menurut ADA

atau EASD bahwa asupan makanan lemak jangan lebih dari 30 %

dan kolesterol kurang dari 300 mg/hari.


 Karbohidrat

Hasil penelitian menunjukkan bahwa diabetes mellitus

makin meningkat sesuai dengan cara hidup modern yang memicu

cara hidup kebarat-baratan yaitu dengan meningkatnya refined

carbohydrate terutama dikota besar, karbohidrat jenis itu terdapat

pada bakeri seperti cake, roti halus cepat sekali diserap dan akan

meningkatkan kadar glukosa darah.

 Pemanis

Makanan yang manis tidak seluruhnya dari gula pasir atau

gula buah yang sederhana, kombinasinya dengan protein, lemak

dan karbohidrat dapat memperlambat penyerapan gula sederhana.

 Serat

Menurut ADA pasien diabetes mellitus untuk konsumsi

seratnya 30-40 gr/hari dan serat pada diabetes mellitus lebih

banyak berasal dari sayur-sayuran yang mengandung lebih

banyak serat tak larut dibanding serat yang berasal dari buah –

buahan.

(4) Olah raga

Manfaat olah raga bagi diabetes adalah penurunan kadar

glukosa darah karena terjadi peningkatan penggunaan glukosa

oleh otot yang aktif, mencegah kegemukan, berperan dalam

mengatasi kemungkinan terjadinya komplikasi. Keadaan-keadaan

ini dapat mengurangi resiko penyakit jantung koroner (PJK) dan


meningkatkan kualitas hidup diabetesi serta memberikan

keuntungan secara psikologis(15).

(5) Obat antidiabetika oral

Ada tiga jenis obat anti diabetes yang ada di Indonesia(13),

yaitu :

 Tipe 1 (Short Acting)

Jenis ini memiliki paruh waktu sekitar 4 jam, daya

kerjanya cepat, diberikan 1-3 kali sehari (pagi – siang – sore).

Yang termasuk kelompok ini adalah restinon, orinase, nadisan,

dymelors.

 Tipe 2 (Intermediate Acting)

Memilih paruh waktu antara 5-8 jam, diberikan 1-2 kali

sehari (pagi dan siang jangan pagi dan sore) apabila diberikan

cukup sekali sehari, berikanlah pada pagi hari saja. Termasuk

golongan ini adalah golongan glibenclamid (euglukon, daonil),

golongan gliclazide (diamicron), golongan gliquidone

(glurenorm) dan golongan glipizide (minidiab).

 Tipe 3 (Long Acting)

Mempunyai paruh waktu antara 24-36 jam, diberikan

sekali saja setiap pagi jangan diberikan dalam dosis terbaru.

9. Pemeriksaan

Pemeriksaan atau check up yang harus dilakukan oleh penderita

diabetes mellitus ada 3, yaitu(13) :


1) Pemeriksaan fisik lengkap yang meliputi kesehatan umum seperti

berat badan, tekanan darah dan sebagainya.

2) Pemeriksaan laboratorium yang meliputi pemeriksaan gula darah

puasa, pemeriksaan gula darah 2 jam setelah makan, urine lengkap,

lemak (kolesterol HDL, LDL dan trigliserida), ureum dan kreatinin.

3) Pemeriksaan spesialisasi antara lain pemeriksaan mata, syaraf dan

jantung.

2.2 Konsep Motivasi

2.2.1 Pengertian

Motivasi adalah suatu konstruk yang dimulai dari adanya need atau

kebutuhan pada diri individu dalam bentuk energi aktif yang menyebabkan

timbulnya dorongan dengan intensitas tertentu yang berfungsi mengaktifkan,

memberi arah, dan membuat persisten (berulang-ulang) dari suatu perilaku untuk

memenuhi kebutuhan yang menjadi penyebab timbulnya dorongan itu sendiri(10).

Motivasi adalah segala sesuatu yang mendorong seseorang untuk melakukan

sesuatu. Motivasi juga dapat diartikan sebagai perasaan atau pikiran yang

mendorong seseorang melakukan atau menjalankan kekuasaan terutama dalam

berperilaku(16).

2.2.2 Teori-teori motivasi

Terdapat beberapa teori yang menjelaskan tentang motivasi yang dapat

dikelompokan sebagai berikut(10) :


1. Teori kepuasan (content theory)

Yaitu pendekatannya atas faktor-faktor kebutuhan dan kepuasan

individu yang menyebabkan bertindak dan berperilaku dengan cara tertentu.

Teori yang memusatkan pada faktor dalam diri orang yang menguatkan,

mengarahkan, mendukung dan menghentikan perilakunya, yang memotivasi

semangat seseorang untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan.

2. Teori motivasi proses (process theory)

Yaitu merupakan proses sebab akibat bagaimana seseorang bekerja

serta hasil apa yang diperolehnya. Jika bekerja baik saat ini, maka hasilnya

akan diperoleh baik di hari esok. Jadi hasi yang diperolehnya tercermin dalam

bagaimana proses kegiatan yang dilakukan seseorang, hasil hari ini

merupakan kegiatan hari kemarin. Teori motivasi proses ini meliputi teori

harapan, teori keadilan dan teori pengukuhan.

2.2.3 Faktor motivasi

Orang-orang tidak hanya berbeda dalam kemampuan untuk berbuat, akan

tetapi juga berbeda dalam kemauan untuk berbuat atau motivasi. Motivasi

seseorang tergantung kepada kekuatan motif mereka. Motif kadang-kadang

didefinisikan sebagai kebutuhan, keinginan, dorongan atau gerak hati dalam

individu(17).

Faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi manusia untuk berperilaku

adalah sebagai berikut(18).


1. Jenis kelamin

Tingkah laku antara pria dan wanita mempunyai perbedaan, hal ini

terjadi karena pengaruh hormonal, struktur fisik maupun norma pembagian

tugas. Oleh karena itu pria cenderung lebih termotivasi melakukan sesuatu

karena fisik yang kuat(18). Jenis kelamin merupakan aspek identitas yang

sangat berarti, wanita dan pria mempunyai pengalaman yag berbeda tentang

pembentukan identitas jenis kelamin. Identitas jenis kelamin terbentuk sekitar

usia tiga tahun. Anak laki-laki dan perempuan mulai mengenal tingkah laku

dan ciri-ciri kepribadian yaang sesuai bagi masing-masing jenis

kelaminnya(19).

Wanita dan pria mempunyai perbedaan secara psikologis dimana wanita

lebih emosional daripada pria karena wanita lebih mudah tersinggung, mudah

terpengaruh, sangat peka, menonjolkan perasaan, dan mudah meluapkan

perasaan. Sementara pria tidak emosional, sangat objektif, tidak mudah

terpengaruh, mudah memisahkan antara pikiran dan perasaan sehingga

terkadang kurang peka dan mampu memendam perasaannya(19).

2. Lingkungan

Lingkungan adalah sesuatu yang ada di sekitar individu, baik lingkungan

fisik, biologis, maupun lingkungan sosial. Lingkungan sangat berpengaruh

terhadap tingkah laku manusia.

3. Pendidikan

Pendidikan mencakup seluruh proses kehidupan dan segala bentuk

interaksi individu dengan lingkungannya, baik secara formal maupun


informal. Hasil dari proses belajar adalah seperangkat perubahan tingkah

laku. Seseorang yang berpendidikan tinggi tingkah lakunya akan berbeda.

4. Pengetahuan

Besar kecilnya pengetahuan yang dimiliki seseorang akan berpengaruh

pada tingkah lakunya.

5. Kebudayaan

Kebudayaan antar daerah berbeda-beda dan ini sangat berpengaruh pada

tingkah lakunya.

6. Sosial ekonomi

Lingkungan sosial ekonomi sangat berpengaruh terhadap tingkah laku

seseorang. Keadaaan ekonomi keluarga yang relatif mencukupi akan mampu

manyediakan fasilitas dan kebutuhan untuk keluarganya. Sehingga pasien

yang mempunyai tingkat sosial ekonomi tinggi akan mempunyai motivasi

yang berbeda dengan pasien yang tingkat sosial ekonominya rendah.

Pernyataan lain tentang faktor yang mempengaruhi motivasi adalah

kepribadian, sikap, pengalaman, cita-cita atau harapan, dorongan orang tua,

saudara dan lingkungan sekitar. Sebenaarnya kedua pernyataan diatas saling

mendukung hanya saja pernyataan yang pertama tadi sudah diklasifikasikan untuk

pengaruh internal dan eksternal. Dari kedua pernyataan tersebut ada komponen

yang belum dijelaskan yaitu sikap, harapan, dan dorongan keluarga sebagai

berikut(9) :
1. Sikap

Sikap merupakan penilaian terhadap stimulus atau obyek, sehingga

seseorang tersebut akan menilai atau bersikap enggan terhadap stimulus

tersebut. Sikap sering diperoleh dari pengalaman diri sendiri maupun orang

lain.

2. Harapan

Harapan merupakan kemungkinan yang dilihat untuk memenuhi

kebutuhan tertentu dari seorang individu yang di dasarkan atas pengalaman

yang telah lampau, baik pengalaman dari sendiri maupun dari orang lain.

3. Dukungan keluarga

Dukungan keluarga itu merupakan dukungan-dukungan sosial yang

dipandang oleh anggota keluarga sebagai sesuatu yang dapat diakses untuk

keluarga (dukungan sosial bisa atau tidak digunakan, tapi anggota keluarga

memandang bahwa orang yang bersifat mendukung selalu siap memberikan

pertolongan dan bantuan jika diperlukan).

2.2.3 Motivasi dalam penyakit DM

Dalam penyembuhan penyakit DM dibutuhkan motivasi dan pemberdayaan

diri agar menghasilkan rasa percaya diri, berpikir positif dan bijak sehingga dapat

terwujud sebuah perilaku aktif terhadap pengelolaan penyakit diabetes mellitus.

Ada 4 kategori motivasi dalam hal mengontrol kadar gula darah (11):
1. Kategori pertama

Keadaan yang ideal, mengetahui motivasi kita yang sebenarnya dan

tindakan/perilaku kita sesuai dengan motivasi kita (Saya tahu apa yang saya

mau dalam mengontrol kadar gula darah).

2. Kategori kedua

Kita tahu motivasi kita yang sebenarnya namun oleh karena berbagai

macam hal, tindakan atau perilaku kita tidak sesuai (saya tahu tetapi sulit

untuk mengontrol kadar gula darah).

3. Kategori ketiga

Kita tidak tahu motivasi kita yang sebenarnya, yang kita pikirkan hanya

proses tindakannya saja, yang penting tindakanya tidak negatif. (saya dapat

bertindak apa saja dalam mengontrol kadar gula darah asalkan benar dan

tidak negatif).

4. Kategori keempat

Kita tidak tahu motivasi kita sebenarnya sehingga tindakan atau perilaku

kita pasti salah (saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan dalam

mengontrol gula darah).

2.3 Konsep Perilaku

2.3.1 Pengertian

Perilaku dari pandangan biologis adalah merupakan suatu kegiatan atau

aktivitas organisme yang bersangkutan. Perilaku manusia pada hakikatnya adalah


suatu aktivitas pada manusia itu sendiri. Perilaku adalah semua kegiatan atau

aktifitas organisme tersebut, baik yang dapat diamati secara langsung atau tidak

langsung(20).

Perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus

(rangsangan dari luar). Oleh karena perilaku ini terjadi melalui proses adanya

stimulus terhadap organisme, dan kemudian organisme tersebut merespon, maka

teori skiner disebut teori “S - O - R”atau Stimulus Organisme Respon. Skiner

membedakan adanya dua respons, yaitu(20) :

1. Respondent respons atau reflexsive

Yakni respon yang ditimbulkan oleh rangsangan – rangsangan (stimulus)

tertentu. Stimulus semacam ini disebut electing stimulation karena

menimbulkan respon-respon yang relatif tetap. Misalnya : makanan yang

lezat menimbulkan keinginan untuk makan, cahaya terang menyebabkan mata

tertutup, dan sebagainya. Respondent respons ini juga mencakup perilaku

emosinal misalnya mendengar berita musibah menjadi sedih atau menangis,

lulus ujian meluapkan kegembiraannya ddengan mengadakan pesta, dan

sebagainya.

2. Operant respons atau instrumental respons

Yakni respon yang timbul dan berkembang kemudian diikuti oleh

stimulus atau perangsang tertentu. Perangsang ini disebut reinforcing

stimulation atau reinforce, karena memperkuat respon. Misalnya apabila

seorang petugas kesehatan melaksanakan tugasnya dengan baik (respon

terhadap uraian tugasnya atau job skripsi) kemudian memperoleh


penghargaan dari atsannya (stimulus baru), maka petugas kesehatan tersebut

akan lebih baik lagi dalam melaksanakan tugasnya.

2.3.2 Bentuk Perilaku

Dilihat dari bentuk respons terhadap stimulus, maka perilaku dapat

dibedakan menjadi dua :

1. Bentuk pasif

Adalah respons internal, yaitu respon yang terjadi didalam diri manusia

dan tidak secara langsung dapat terlihat oleh orang lain (Covert behaviour),

respons atau reaksi terhadap stimulus masih terbatas pada perhatian, persepsi,

pengetahuan/kesadaran dan sikap. Misalnya seorang ibu tahu bahwa

imunisasi itu dapat mencegah suatu penyakit tertentu, meskipun ibu tersebut

tidak membawa anaknya ke puskesmas untuk diimunisasi.

2. Bentuk aktif

Yaitu respons seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan nyata

atau terbuka. Respons terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam bentuk

tindakan atau praktik, yang dengan mudah dapat diamati atau dilihat oleh

orang lain (Overt behaviour). Misalnya pada contoh di atas, si ibu sudah

membawa anaknya ke Puskesmas atau fasilitas kesehatan lain untuk

imunisasi.
2.3.3 Perilaku Kesehatan

Perilaku kesehatan adalah suatu respons seseorang (organisme) terhadap

stimulus atau objek yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan

kesehatan, makanan dan minuman serta lingkungan. Perilaku kesehatan dapat

diklasifikasikan menjadi 3 kelompok(20) :

1. Perilaku pemeliharaan kesehatan (Health maintanance)

Adalah perilaku atau usaha-usaha seseorang untuk memelihara atau

menjaga kesehatan agar tidak sakit dan usaha untuk penyembuhan bilamana

sakit. Perilaku pemeliharaan kesehatan ini terdiri dari 3 aspek, yaitu :

1) Perilaku sehubungan dengan peningkatan dan pemeliharaan kesehatan

(health promotion behavior), misalnya makan makanan yang bergizi, olah

raga, dan sebagainya.

2) Perilaku pencegahan penyakit (health prevention behavior) adalah respons

untuk melakukan pencegahan penyakit, misalnya : tidur memakai kelambu

untuk mencegah gigitan nyamuk malaria, imunisasai, dan sebagainya.

Termasuk juga perilaku untuk tidak menularkan penyakit kepada orang

lain.

3) Perilaku sehubungan dengan pencarian pengobatan (health

seekingbehavior) yaitu perilaku untuk melakukan atau mencari

pengobatan, misalnya usaha-usaha mengobati sendiri penyakitnya, atau

mencari pengobatan ke fasilitas-fasikitas kesehatan modern

(puskesmas, mantri, dokter praktek, dan sebagainya), maupun ke fasilitas

kesehatan tradisional (dukun, sinshe, dan sebagainya)


4) Perilaku sehubungan dengan pemulihan kesehatan (health rehabilitation

behavior) yaitu perilaku yang berhubungan dengan usaha-usaha pemulihan

kesehatan setelah sembuh dari suatu penyakit. Misalnya melakukan diet,

mematuhi anjuran-anjuran dokter dalam rangka pemulihan kesehatan.

2. Perilaku terhadap sistem pelayanan kesehatan

Adalah respons seseorang terhadap sistem pelayanan kesehatan baik

sistem pelayanan kesehatan modern maupun tradisional. Perilaku ini

menyangkut respons terhadap fasilitas pelayanan, cara pelayanan, petugas

kesehatan, dan obat-obatannya, yang terwujud dalam pengetahuan, persepsi,

sikap dan penggunaan fasilitas, petugas, dan obat-obatan.

3. Perilaku terhadap makanan (nutrition behavior)

Yakni respon seseorang terhadap makanan sebagai kebutuhan vital bagi

kehidupan. Perilaku ini meliputi pengetahuan, persepsi, sikap dan praktik kita

terhadap makanan serta unsur-unsur yang terkandung didalamnya (zat gizi),

pengelolaan makanan, dan sebagainya sehubungan kebutuhan tubuh kita.

4. Perilaku terhadap lingkungan kesehatan (enviromental health behavior)

Adalah respons seseorang terhadap lingkungan sebagai determinan

kesehatan manusia. Lingkup perilaku ini seluas lingkup kesehatan lingkungan

itu sendiri. Perilaku ini antara lain mencakup :

1) Perilaku sehubungan dengan air bersih, termasuk didalamnya komponen,

manfaat, dan penggunaan air bersih untuk kepentingan kesehatan.

2) Perilaku sehubungan dengan pembuangan air kotor, yang menyangkut

segi-segi higiene, pemeliharaan, teknik, dan penggunaannya.


3) Perilaku sehubungan dengan limbah, baik limbah padat maupun limbah

cair, termasuk didalamnya sistem pembuangan sampah dan air limbah

yang sehat, serta dampak pembuangan limbah yang tidak baik.

4) Perilaku sehubungan dengan rumah yang sehat, yang meliputi ventilasi,

pencahayaan, lantai, dan sebagainya.

5) Perilaku sehubungan dengan pembersihan sarang-sarang nyamuk

(vektor), dan sebagainya.

2.3.4 Determinan Perilaku

Perilaku merupakan bentuk respon dari stimulus (rangsangan dari luar). Hal

ini berarti meskipun bentuk stimulusnya sama namun bentuk respon akan berbeda

dari setiap orang. Faktor-faktor yang membedakan respon terhadap stimulus

disebut determinan perilaku(20).

Faktor penentu atau determinan perilaku manusia sulit untuk dibatasi karena

perilaku manusia merupakan resultan dari berbagai faktor, baik internal maupun

eksternal (lingkungan). Perilaku manusia sebenarnya merupakan refleksi dari

berbagai gejala kejiwaan, yaitu pengetahuan, keinginan, kehendak, minat,

motivasi, persepsi dan sikap(20).

Sedangkan gejala kejiwaan tersebut juga ditentukan atau dipengaruhi oleh

berbagai faktor, yaitu faktor pengalaman, keyakinan, sarana fisik dan sosial

budaya masyarakat(20).
2.3.5 Strategi Perubahan Perilaku

Beberapa strategi untuk memperoleh perubahan perilaku menurut WHO

dikelompokan menjadi tiga(18) :

1. Menggunakan kekuatan/kekuasaan atau dorongan

Perubahan perilaku dipaksakan kepada sasaran atau masyarakat sehingga

ia mau berperilaku seperti yang diharapkan. Cara ini dapat ditempuh misalnya

degan adanya peraturan/undang-undang yg harus dipatuhi masyarakat. Cara ini

menghasilkan perilaku yang cepat, tetapi belum tentu berlangsung lama, karena

belum/tidak didasari kesadaran sendiri.

2. Pemberian informasi

Pemberian informasi tentang cara-cara mencapai hidup sehat, cara

pemeliharaan kesehatan, dan lain-lain akan meningkatkan pengetahuan

masyarakat. Perubahan perilaku degan cara ini memakan waktu lama, tetapi

perubahan yang dicapai bersifat langgeng karena didasari oleh kesadaran

mereka sendiri (bukan karena paksaan).

3. Diskusi partisipasi

Sebagai peningkatan cara yang kedua di atas. Masyarakat tidak hanya

pasif, tapi harus aktif berpartisipasi melalui diskusi-diskusi tentang informasi

yang diterimanya. Cara ini membutuhkan waktu lebih lama dari cara kedua.

2.4 Konsep Hubungan Motivasi dan Perilaku

Motivasi merupakan suatu tenaga yang terdapat dalam diri manusia yang

menimbulkan, mengarahkan dan mengorganisasi tingkah laku (Perilaku). Perilaku


ini timbul karena adanya dorongan faktor internal dan faktor eksternal. Perilaku

dipandang sebagai reaksi atau respons terhadap suatu stimulus.

Woodhworth, mengungkapkan bahwa perilaku terjadi karena adanya

motivasi atau dorongan (drive) yang mengarahkan individu untuk bertindak sesuai

dengan kepentingan atau tujuan yang ingin dicapai. Karena tanpa dorongan tadi

tidak akan ada suatu kekuatan yang mengarahkan individu pada suatu mekanisme

timbulnya perilaku. Dorongan diaktifkan oleh adanya kebutuhan (need), dalam

arti kebutuhan membangkitkan dorongan, dan dorongan ini pada akhirnya

mengaktifkan atau memunculkan mekanisme perilaku(21).

Lebih lanjut dijelaskan bahwa motivasi sebagai penyebab dari timbulnya

perilaku menurut Woodworth mempunyai 3 (tiga) karakteristik, yaitu(21) :

1. Intensitas, menyangkut lemah dan kuatnya dorongan sehingga menyebabkan

individu berperilaku tertentu

2. Pemberi arah, mengarahkan individu dalam menghindari atau melakukan

suatu perilaku tertentu

3. Persistensi atau kecenderungan untuk mengulang perilaku secara terus

menerus.

Dengan kata lain, jika ketiga hal tersebut lemah, maka motivasi tak akan

mampu menimbulkan perilaku. Pandangan lain dikemukakan oleh Hull yang

menegaskan bahwa perilaku seseorang dipengaruhi oleh motivasi atau dorongan

oleh kepentingan mengadakan pemenuhan atau pemuasan terhadap kebutuhan

yang ada pada diri individu. Lebih lanjut dijelaskan bahwa perilaku muncul tidak

semata-mata karena dorongan yang bermula dari kebutuhan individu saja, tetapi
juga karena adanya faktor belajar. Faktor dorongan ini dikonsepsikan sebagai

kumpulan energi yang dapat mengaktifkan tingkah laku atau sebagai motivasional

faktor, dimana timbulnya perilaku menurut Hull adalah fungsi dari tiga hal yaitu :

kekuatan dari dorongan yang ada pada individu, kebiasaan yang didapat dari hasil

belajar, serta interaksi antara keduanya(21).

Berdasarkan uraian di atas, baik konsep yang dikemukakan Woodhworth

maupun Hull, keduanya menjelaskan bahwa motivasi berkaitan erat dengan

perilaku.

2.5 Perilaku Mengontrol Kadar Gula darah

Ada empat cara pengelolaan diabetes mellitus dalam mengontrol kadar gula

darah yang dikenal dengan empat serangkai pengelolaan diabetes mellitus(8), yaitu

sebagai berikut :

1. Edukasi

2. Perencanaan makanan (diet)

3. Latihan jasmani atau olahraga

4. Intervensi medis.

2.6 Kerangka Teori

Penyakit diabetes mellitus merupakan penyakit kronis yang bersifat

progresif. Diabetes melitus tidak bisa disembuhkan, tetapi bisa dikurangi atau

dikontrol kadar gula darahnya(2). Pengontrolan kadar gula darah secara teratur

harus dilakukan untuk mencegah terjadinya komplikasi kronis, dan dengan


pengontrolan yang teratur penderita diabetes mellitus dapat hidup secara

normal(6). Pengontrolan diabetes mellitus yang baik dapat mengurangi komplikasi

20 sampai 30 %(7).

Ada empat cara pengelolaan diabetes mellitus dalam mengontrol kadar gula

darah yang dikenal dengan empat serangkai pengelolaan diabetes mellitus, yaitu

edukasi, perencanaan makanan, latihan jasmani dan intervensi medis. Bila

penderita diabetes mellitus taat dan disiplin serta mau berperilaku sehari-hari

dengan baik dan mengikuti empat serangkai dalam pengelolaan diabetes mellitus,

maka kualitas kesehatan penderita diabetes mellitus juga akan baik(8).

Perilaku manusia sebenarnya merupakan refleksi dari berbagai gejala

kejiwaan, yaitu pengetahuan, keinginan, kehendak, minat, motivasi, persepsi dan

sikap. Sedangkan gejala kejiwaan tersebut juga ditentukan atau dipengaruhi oleh

berbagai faktor, yaitu faktor pengalaman, keyakinan, sarana fisik dan sosial

budaya masyarakat(20).

Gambar 2. 1 Determinan Perilaku Manusia

Pengetahuan
Pengalaman Persepsi
Keyakinan Sikap Perilaku
Fasilitas Keinginan
Sosial - Budaya Kehendak
Motivasi
Sumber (20) Niat

Perilaku penderita diabetes mellitus dalam mengontrol kadar gula darah

salah satunya dipengaruhi oleh faktor motivasi atau dorongan yang dilandasi

kebutuhan yang dirasakan(9).


Motivasi adalah suatu konstruk yang dimulai dari adanya need atau

kebutuhan pada diri individu dalam bentuk energi aktif yang menyebabkan

timbulnya dorongan dengan intensitas tertentu yang berfungsi mengaktifkan,

memberi arah, dan membuat persisten (berulang-ulang) dari suatu perilaku untuk

memenuhi kebutuhan yang menjadi penyebab timbulnya dorongan itu sendiri(10).

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi motivasi seseorang untuk

berperilaku, yaitu(18) :

1. Faktor Internal : Jenis kelamin, sikap, kepribadian, pengalaman, harapan.

2. Faktor eksternal : Lingkungan, pendidikan, pengetahuan, kebudayaan dan

sosial ekonomi.

Gambar 2.2 Faktor–faktor yang Mempengaruhi Motivasi

Faktor Internal :
 Jenis kelamin
 Sikap
 Kepribadian
 Cita-cita/harapan
 Pengalaman
Motivasi Perilaku

Faktor Eksternal :
 Lingkungan
 Pendidikan
 Pengetahuan
 Kebudayaan
 Sosial ekonomi
Sumber (18)
BAB III

KERANGKA KONSEP, HIPOTESIS DAN

DEFINISI OPERASIONAL

3.1 Kerangka Konsep

Perilaku terjadi karena adanya motivasi atau dorongan (drive) yang

mengarahkan individu untuk bertindak sesuai dengan kepentingan atau tujuan

yang ingin dicapai, karena tanpa dorongan tadi tidak akan ada suatu kekuatan

yang mengarahkan individu pada suatu mekanisme timbulnya perilaku. Dorongan

diaktifkan oleh adanya kebutuhan (need), dalam arti kebutuhan membangkitkan

dorongan, dan dorongan ini pada akhirnya mengaktifkan atau memunculkan

mekanisme perilaku(21).

Gambar 3.1 Kerangka Konsep

(Variabel independent) (Variabel dependent)

Perilaku
Motivasi (mengontrol) kadar
gula darah

3.2 Hipotesis

3.2.1 Hipotesis Nol (Ho)

Tidak ada hubungan antara motivasi penderita diabetes mellitus dengan

perilaku (mengontrol) kadar gula darah di Puskesmas Panongan Kabupaten

Majalengka tahun 2012.


3.2.2 Hipotesis Alternatif (Ha)

Ada hubungan antara motivasi penderita diabetes mellitus dengan perilaku

(mengontrol) kadar gula darah di Puskesmas Panongan Kabupaten Majalengka

tahun 2012.

3.3 Definisi Operasional, Variabel, dan Cara Pengukuran

Definisi Hasil
Variabel Cara Ukur Alat Ukur Skala
Operasional Ukur
Motivasi Dorongan dari Kuesioner Kuesioner Tinggi : Ordinal
penderita dalam diri jika skor
diabetes individu dan total ≥
mellitus dorongan dari mean
luar individu yang
menyebabkan
penderita diabetes
mellitus
melakukan
kegiatan untuk
mengontrol kadar Rendah :
gula darah jika skor
total <
mean

Perilaku Tindakan nyata Kuesioner Kuesioner Aktif : Ordinal


(mengontrol) yang dilakukan jika skor
kadar gula oleh penderita total ≥
darah diabetes mellitus mean
dalam upaya
mengendalikan
kadar gula darah.

Pasif :
jika skor
total <
mean
BAB IV

METODE PENELITIAN

4.1 Rancangan Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah korelasi yaitu suatu penelitian yang

bertujuan untuk menemukan ada tidaknya hubungan antara gejala yang satu

dengan gejala lainya atau variabel satu dengan variabel lainya(23). Menggunakan

metode cross sectional atau potong silang yang dicirikan dengan variabel

independent (bebas) dan variabel dependent (terikat) diukur pada waktu yang

bersamaan(24).

4.2 Variabel Penelitian

Variabel adalah sesuatu yang digunakan sebagai ciri, sifat, atau ukuran yang

dimiliki atau didapatkan oleh satuan penelitian tentang suatu konsep pengertian

tertentu(23).

Variabel independent (bebas) dalam penelitian ini adalah motivasi penderita

diabetes mellitus, sedangkan variabel dependent (terikat) adalah perilaku

(mengontrol) kadar gula darah.

4.3 Populasi dan Sampel

4.3.1 Populasi

Populasi merupakan seluruh subjek atau objek dengan karakteristik tertentu

yang akan diteliti(23).


Populasi dalam penelitian ini adalah penderita diabetes mellitus tipe 2 yang

berada di wilayah kerja Puskesmas Panongan Kabupaten Majalengka tahun 2011

berjumlah 142 orang.

4.3.2 Sampel

Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Apabila populasi

kurang dari 100 maka populasi yang ada semua dijadikan sampel (total sampling),

tetapi jika jumlah populasinya besar dapat diambil antara 10-15% atau 20-25%

atau lebih dari populasi(24).

Maka jumlah sampel dalam penelitian ini berjumlah 36 orang atau 25% dari

populasi. Kriteria sampel dalam penelitian ini adalah :

1. Penderita diabetes mellitus tipe 2 yang terdiagnosis dan tercatat di Puskesmas

Panongan tahun 2011

2. Berada atau bertempat tinggal di wilayah kerja Puskesmas Panongan

3. Tidak menjadi responden pada saat dilakukan studi pendahuluan

4. Bersedia menjadi responden

Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik acak sistematis (systematic

sampling), yaitu pengambilan sampel yang dilakukan secara acak sistematik

karena anggota populasi bersifat homogen, artinya setiap anggota populasi

mempunyai kesempatan yang sama untuk diambil sebagai sampel. Dilakukan

dengan cara sebagi berikut(23) :

1. Membuat daftar seluruh penderita diabetes mellitus tipe 2 yang ada di wilayah

kerja Puskesmas Panongan tahun 2012 dan diberi nomor urut.


2. Menentukan interval dengan cara membagi jumlah populasi dengan jumlah

sampel yang dibutuhkan.

3. Menentukan sampel pertama dengan cara melotre sesuai dengan nomor urut

interval.

4.4 Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian merupakan alat bantu bagi peneliti dalam

mengumpulkan data(24).

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah instrumen yang

dibuat sendiri berdasarkan kisi-kisi instrumen yang disusun menurut indikator dari

variabel motivasi penderita diabetes mellitus dan variabel perilaku (mengontrol)

kadar gula darah di Puskesmas Panongan Kabupaten Majalengka.

Instrumen untuk mengukur tingkat motivasi penderita diabetes mellitus dan

perilaku (mengontrol) kadar gula darah dengan mengunakan kuesioner berupa

pertanyaan tertutup (closed ended) yang terdiri dari 20 pertanyaan (10 pertanyaan

tentang motivasi penderita diabetes mellitus dan 10 pertanyaan tentang perilaku

mengontrol kadar gula darah) yang disusun dalam sebuah deret

pertanyaan/pernyataan, dimana responden tinggal memilih jawaban yang sudah

disediakan.

Instrumen ini menggunanakan model scala likert yaitu suatu bentuk

kuesioner yang digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi

seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial(25). Dengan skala likert,

variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel, kemudian


indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item

instrumen yang dapat berupa pertanyaan atau pernyataan. Jawaban setiap item

instrumen yang menggunakan skala likert mempunyai gradasi (berjenjang),

seperti : selalu (SL), sering (SR), kadang-kadang (KD), jarang (JR), dan tidak

pernah (TP)(25).

4.5 Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner, dilakukan

dengan cara peneliti berkunjung ke rumah penderita (home visite). Data yang

diambil adalah primer yaitu data yang diperoleh secara langsung dari responden

dengan menggunakan instrumen alat pengambilan data berupa kuesioner dan data

sekunder yang diperoleh dari dokumentasi puskesmas.

Responden diminta untuk menjawab pertanyaan dengan cara memberikan

tanda check list (✓) pada lembar pertanyaan yang telah disediakan. Adapun

kategori interpretasi data yang digunakan adalah sebagai berikut : Selalu (4),

sering (3), kadang-kadang (2), jarang (1), dan tidak pernah (0).

4.6 Uji Coba Kuesioner

Uji validitas dan reliabilitas dilakukan untuk memastikan instrumen

penelitian sebagai alat ukur yang akurat dan dapat dipercaya. Validitas

menunjukan sejauh mana suatu alat ukur dapat mengukur apa yang ingin diukur.

Sedangkan reliabilitas menunjukan sejauh mana suatu hasil pengukuran relatif


konsisten apabila pengukuran terhadap aspek yang sama (internal consistency

reliability)(24).

Uji validitas dalam penelitian ini dilakukan dengan korelasi pearson product

moment, yaitu menggunakan analisis butir (item) yakni mengkorelasikan skor tiap

butir (item) pertanyaan dengan skor total yang merupakan jumlah tiap skor butir

pertanyaan. Item mempunyai validitas tinggi jika koefisien korelasinya minimal

sebesar 0,3(25). Sedangkan uji reliabilitas dilakukan dengan metode internal

consistency yang diukur dengan menggunakan koefisien cronbach alpha, jika

koefisien cronbach alpha lebih besar dari pada 0,6 maka dinyatakan bahwa

instumen pengukuran yang digunakan dalam penelitian adalah handal

(reliabel)(26).

Penafsiran valid atau tidaknya setiap butir soal dan reliabel tidaknya suatu

instrumen digunakan aturan sebagai berikut : untuk menginterpretasi hasil uji

validitas dan reliabilitas digunakan derajat kebebasan (db), yaitu jumlah sampel

dikurangi satu (n – 1), kemudian dicocokkan dengan tabel r produk moment pada

taraf signifikan (α) 0,05.

Uji validitas dan reliabilitas kuesioner dilakukan terhadap 20 penderita

diabetes mellitus tipe 2 di Puskesmas Jatitujuh. Hasil uji validitas dengan nilai

korelasi berkisar (0,670 – 0,899), nilai tersebut lebih besar dari dari nilai

table r product moment adalah (0,456), sehingga instrumen penelitian dapat

dinyatakan valid. Sedangkan hasil uji reliabilitas didapatkan nilai alpha cronbach

(0,978), nilai yang didapat tersebut lebih besar dari nilai table r product moment

adalah (0,456), jadi instrumen penelitian dapat dinyatakan reliabel.


4.7 Pengolahan Data

Sebelum dilakukan pengolahan data, variabel motivasi dan perilaku diberi

skor sesuai dengan bobot jawaban dari pertanyaan yang disediakan, pengolahan

data dilakukan dengan tahapan sebaga berikut(27) :

1. Editing

Melakukan pemeriksaan terhadap kelengkapan dan kejelasan jawaban

kuesioner dan penyesuaian data yang diperoleh dengan kebutuhan penelitian.

Hal ini dilakukan dilapangan sehingga apabila terdapat data yang meragukan

ataupun salah maka dapat ditanyakan lagi kepada responden.

2. Coding

Kegiatan mengklasifikasikan data atau pemberian kode-kode pada

tiap-tiap data yang termasuk dalam kategori yang sama, yang diperoleh dari

sumber data yang telah diperiksa kelengkapan. Kode adalah isyarat yang dibuat

dalam bentuk angka atau huruf yang memberikan petunjuk atau identitas pada

suatu informasi atau data yang akan dianalisis.

3. Scoring

Tahap ini meliputi pemberian nilai untuk masing-masing pertanyaan dan

penjumlahan hasil scoring dari semua pertanyaan. Skoring dalam penelitian ini

menggunakan skala likert dengan kriteria penilaian selalu (4), sering (3),

kadang-kadang (2), jarang (1), dan tidak pernah (0).

4. Entry

Data yang sudah diberi kode kemudian dimasukan ke dalam komputer

dengan menggunakan program SPSS 16.


5. Cleaning

Merupakan kegiatan pengecekan kembali data yang sudah dimasukan,

dilakukan bila terdapat kesalahan dalam memasukan data yaitu dengan melihat

distribusi frekuensi dari variabel-variabel yang diteliti.

6. Tabulating

Tabulasi data yang telah lengkap disusun sesuai dengan variabel yang

dibutuhkan lalu dimasukan ke dalam tabel distribusi frekuensi. Setelah

diperoleh hasil dengan cara perhitungan, kemudian nilai tersebut dimasukan ke

dalam kategori nilai yang telah dibuat.

4.8 Analisa Data

Data yang telah terkumpul dianalisa dengan menggunakan program

SPSS 16, analisa data meliputi :

1. Analisis univariat

Analisis univariat adalah analisis yang dilakukan terhadap tiap variabel

dari hasil penelitian, dan pada umumnya dalam analisis ini hanya

menghasilkan distribusi dan persentase dari tiap variabel tanpa membuat

kesimpulan yang berlaku secara umum (generalisasi)(23). Analisis univariat

dalam penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan distribusi dan persentase

dari variabel motivasi penderita diabetes mellitus dan variabel perilaku

(mengontrol) kadar gula darah.


Analisis univariat dilakukan dengan menggunakan rumus sebagai

berikut(24) :

F
P= x 100%
N

Keterangan : P = Persentase kategori

F = Frekuensi kategori

N = Jumlah responden

Hasil persentase setiap kategori tersebut dideskripsikan dengan

menggunakan kategori sebagai berikut(24):

0% : Tidak seorangpun

1-25 % : Sebagian kecil

26-49 % : Hampir setengahnya

50 % : Setengahnya

51-74% : Sebagian besar

75-99 % : Hampir seluruhnya

100% : Seluruhnya

2. Analisis bivariat

Analisis bivariat adalah analisis yang dilakukan terhadap dua variabel

yang diduga berhubungan atau berkorelasi yang dapat dilakukan dengan

pengujian statistik(23). Analisis bivariat dalam penelitian ini bertujuan untuk

menganalisis hubungan motivasi penderita diabetes mellitus dengan perilaku

(mengontrol kadar gula darah di Puskesmas Panongan Kabupaten Majalengka

tahun 2012.
Analisis bivariat dilakukan dengan menggunakan uji chi square dengan

rumus sebagai berikut(26) :

X2 = ∑ (O – E) ²
E

Keterangan :

x² : chi square

O : frekuensi observasi

E : frekuensi harapan

Dasar pengambilan keputusan penerimaan hipotesis dengan tingkat

kepercayaan 95%, yaitu sebagai berikut(26) :

1) Jika nilai sig p ≤ α (0,05), maka Ho ditolak, yang artinya variabel tersebut

memiliki hubungan yang bermakna.

2) Jika nilai sig p > α (0,05), maka Ho gagal tolak, yang artinya variabel

tersebut tidak memiliki hubungan yang bermakna.

4.9 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan pada tanggal 30 Juli 2012 sampai dengan

4 Agustus 2012 bertempat di wilayah kerja Puskesmas Panongan Kabupaten

Majalengka.

4.10 Etika Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan memperhatikan prinsip-prinsip etika

penelitian, yang meliputi(28) :


1. Informed Consent

Sebelum melakukan penelitian, peneliti memberikan penjelasan kepada

responden tentang penelitian yang akan dilakukan untuk mengetahui tujuan

penelitian secara jelas. Jika responden setuju maka diminta untuk mengisi

lembar persetujuan dan menandatanganinya, dan sebaliknya jika responden

tidak bersedia, maka peneliti tetap menghormati hak-hak responden.

2. Anominity

Responden tidak perlu mengisi identitas diri (tidak mencantumkan nama

responden) dengan tujuan untuk menjaga kerahasiaan responden.

3. Privacy

Identitas responden tidak akan diketahui oleh orang lain dan mungkin

oleh peneliti sendiri sehingga responden dapat secara bebas untuk menentukan

pilihan jawaban dari kuesioner tanpa takut diintimidasi oleh pihak lain.

4. Confidentiality

Artinya bahwa informasi yang telah dikumpulkan dari responden dijamin

kerahasiaanya oleh peneliti. Responden diberikan jaminan bahwa data yang

diberikan tidak akan berdampak terhadap kondite dan pekerjaan. Data yang

sudah diperoleh oleh peneliti disimpan dan dipergunakan hanya untuk

pelaporan penelitian ini serta selanjutnya dimusnahkan.


BAB V

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1 Hasil Penelitian

Pengumpulan data dilakukan pada tangal 30 Juli 2012 sampai dengan

4 Agustus 2012 terhadap 36 responden penderita diabetes mellitus tipe 2 di

wilayah kerja Puskesmas Panongan Kabupaten Majalengka.

Adapun hasil dari penelitian dapat dilihat pada bagian di bawah ini, sebagai

berikut :

1. Hasil penelitian motivasi penderita diabetes mellitus mengontrol kadar gula

darah di Puskesmas Panongan Kabupaten Majalengka tahun 2012

Gambar 5.1 Distribusi Motivasi Penderita Diabetes Mellitus Mengontrol Kadar Gula
Darah di Puskesmas Panongan Kabupaten Majalengka Tahun 2012

100

80

60

40

20

0
Motivasi Motivasi
Jumlah
Tinggi Rendah
% 38,9 61,1 100
Jumlah 14 22 36

Berdasarkan gambar 5.1 di atas, sebagian besar responden (61,1%)

memiliki motivasi rendah dan 38,9% memiliki motivasi tinggi dalam

mengontrol kadar gula darah.


2. Hasil penelitian perilaku penderita diabetes mellitus mengontrol kadar gula

darah di Puskesmas Panongan Kabupaten Majalengka tahun 2012

Gambar 5.2 Distribusi Perilaku Penderita Diabetes Mellitus Mengotrol Kadar Gula
Darah di Puskesmas Panongan Kabupaten Majalengka Tahun 2012

100

80

60

40

20

0
Perilaku Perilaku
Jumlah
Aktif Pas if
% 36,1 63,9 100
Jumlah 13 23 36

Berdasarkan gambar 5.2 di atas, sebagian besar responden (63,9%)

memiliki perilaku pasif dan 36,1% memiliki perilaku aktif dalam mengontrol

kadar gula darah.

3. Hubungan motivasi penderita diabetes mellitus dengan perilaku mengontrol

kadar gula darah di Puskesmas Panongan Kabupaten Majalengka tahun 2012

Gambar 5.3 Hubungan motivasi penderita diabetes mellitus dengan perilaku


mengontrol kadar gula darah di Puskesmas Panongan Kabupaten
Majalengka tahun 2012

100

80

60
Persen

40

20

0
M otifasi Tinggi M otifasi Rendah

Perilaku Aktif 92,9 0


Perilaku Pasif 7,1 100
Berdasarkan gambar 5.3 di atas, 92,9% responden dengan motivasi tinggi

memiliki perilaku aktif sedangkan responden dengan motivasi rendah 100%

memiliki perilaku pasif dalam mengontrol kadar gula darah.

Hasil perhitungan dengan menggunakan uji statistik Chi Square yang

diolah dengan Statistical Product and Service Solution (SPSS) 16 for Windows

menghasilkan nilai sig p < α (0,05) dengan nilai signifikansi 0,000 yang berarti

Ho ditolak. Hal ini berarti ada hubungan yang bermakna antara motivasi

penderita diabetes mellitus dengan perilaku (mengontrol) kadar gula darah di

Puskesmas Panongan Kabupaten Majalengka tahun 2012.

Tabel 5.1 Hasil analisis hubungan motivasi penderita diabetes mellitus dengan
perilaku mengontrol kadar gula darah di Puskesmas Panongan Kabupaten
Majalengka tahun 2012

Perilaku Mengontrol
Kadar Gula Darah Total Sig p α
Aktif Pasif
Motivasi Tinggi Count 13 1 14
Penderita Expected Count 5.1 8.9 14.0
Diabetes 0.000 0.05
Mellitus Rendah Count 0 22 22
Expected Count 7.9 14.1 22.0
Total Count 13 23 36
Expected Count 13.0 23.0 36.0

5.2 Pembahasan

5.2.1 Motivasi Penderita Diabetes Mellitus Mengontrol Kadar Gula Darah di

Puskesmas Panongan Kabupaten Majalengka Tahun 2012

Hasil penelitian didapatkan bahwa sebagian besar responden (61,1%)

memiliki motivasi yang rendah dalam mengontrol kadar gula darah di Puskesmas

Panongan Kabupaten Majalengka tahun 2012.


Rendahnya motivasi penderita diabetes mellitus mengontrol kadar gula

darah di Puskesmas Panongan Kabupaten Majalengka dapat dipengaruhi oleh

beberapa faktor, antara lain faktor intrinsik berupa keinginan dari dalam diri

penderita diabetes mellitus itu sendiri yang memiliki niat dan kesadaran yang

tinggi untuk mengontrol kadar gula darahnya, dan faktor ekstrinsik berupa daya

dukung dari lingkungan tempat penderita berada.

Motivasi intrinsik adalah dorongan berupa energi aktif yang timbul dari

dalam diri individu itu sendiri atas dasar kemauan sendiri yang menyebabkan

terjadinya suatu perubahan pada diri sesorang yang nampak pada gejala kejiwaan,

perasaan, dan emosi, sehingga mendorong seseorang untuk bertindak atau

melakukan sesuatu atas kesadaranya sendiri serta akan lebih banyak memiliki ide

dan kreatifitas dalam menjalankan sebuah perilaku untuk mencapai tujuan atau

kebutuhan yang harus terpuaskan. Kurangnya keinginan penderita diabetes

mellitus untuk mencari informasi tentang cara mengontrol kadar gula darah,

kurangnya keyakinan penderita diabetes mellitus kadar gula darahnya dapat

terkendali dengan kontrol teratur, mengakibatkan kurangnya keinginan penderita

diabetes mellitus untuk mengontrol (cek) kadar gula darah secara teratur dan tidak

adanya jadwal rutin dalam mengontrol kadar gula darah, merupakan beberapa

faktor intrinsik yang mempengaruhi rendahnya motivasi penderita diabetes

mellitus untuk mengontrol kadar gula darah di Puskesmas Panongan.

Sedangkan motivasi ekstrinsik merupakan dorongan berupa dukungan yang

berasal dari lingkungan tempat tinggal penderita diabetes mellitus. Kurangnya

dukungan aktif dari keluarga dalam kegiatan mengontrol kadar gula darah,
mahalnya biaya pemeriksaan kadar gula darah, kurangnya sosialisasi program

puskesmas terkait pengendalian kadar gula darah pada penderita diabetes mellitus,

dan kurangnya kegiatan konseling tentang cara mengontrol kadar gula darah,

merupakan faktor ekstrinsik yang mempengaruhi rendahnya motivasi penderita

diabetes mellitus untuk mengontrol kadar gula darah di Puskesmas Panongan

Kabupaten Majalengka.

Motivasi adalah suatu konstruk yang dimulai dari adanya need atau

kebutuhan pada diri individu dalam bentuk energi aktif yang menyebabkan

timbulnya dorongan dengan intensitas tertentu yang berfungsi mengaktifkan,

memberi arah, dan membuat persisten (berulang-ulang) dari suatu perilaku untuk

memenuhi kebutuhan yang menjadi penyebab timbulnya dorongan itu sendiri(10).

Motivasi penderita diabetes mellitus dalam mengontrol kadar gula darah

dipengaruhi oleh motivasi intrinsik yang datangnya dari dalam diri individu itu

sendiri seperti keinginan untuk disiplin dalam diet, patuh dan teratur dalam latihan

fisik, teratur dalam berobat atau terapi medis dan keinginan untuk meningkatkan

pengetahuan tentang penyakitnya dan motivasi ekstrinsik yang datangnya dari

luar diri sendiri seperti dukungan keluarga, teman dekat, tokoh masyarakat,

dukungan ekonomi dan dukungan petugas kesehatan(11).

Untuk meningkatkan motivasi penderita diabetes mellitus dalam mengontrol

kadar gula darah, perawat di Puskesmas Panongan dapat meningkatkan peranya

sebagai edukator dengan melakukan pendidikan kesehatan dalam pengelolaan

diabetes secara mandiri (diabetes self management education) dengan


menggunakan metode konseling untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan

keterampilan individu dan keluarga dalam mengelola penyakit diabetes mellitus.

Pengetahuan merupakan seluruh kemampuan individu untuk berpikir dan

bertindak secara terarah dan efektif, sehingga orang yang mempunyai

pengetahuan tinggi akan mudah menyerap informasi, saran, dan nasihat.

Meningkatnya pengetahuan penderita diabetes mellitus tentang penyakitnya akan

mampu meningkatkan motivasi penderita diabetes mellitus dalam mengontrol

kadar gula darah.

Sikap merupakan perasaan mendukung atau tidak mendukung pada suatu

objek, dimana seseorang akan melakukan kegiatan jika sikapnya mendukung

terhadap obyek tersebut, sebaliknya seseorang tidak melakukan kegiatan jika

sikapnya tidak mendukung. Berubahnya sikap penderita diabetes mellitus akan

pentingnya mengontrol kadar gula darah akan meningkatkan motivasi penderita

diabetes mellitus dalam mengontrol kadar gula darah.

Keterampilan merupakan kemampuan yang harus dimiliki oleh penderita

diabetes mellitus dalam mengontrol kadar gula darah yang meliputi kemampuan

dalam pengaturan diet, pola hidup dan olahraga. Meningktanya keterampilan

penderita diabetes mellitus dan keluarganya akan mampu meningkatkan motivasi

penderita diabetes mellitus dalam mengontrol kadar gula darah.


5.2.2 Perilaku Penderita Diabetes Mellitus Mengontrol Kadar Gula Darah di

Puskesmas Panongan Kabupaten Majalengka Tahun 2012

Hasil penelitian didapatkan bahwa sebagian besar responden (63,9%)

memiliki perilaku yang pasif dalam mengontrol kadar gula darah di Puskesmas

Panongan Kabupaten Majalengka tahun 2012.

Pasifnya perilaku penderita diabetes mellitus mengontrol kadar gula darah

di Puskesmas Panongan Kabupaten Majalengka dipengaruhi oleh beberapa faktor,

salah satu faktor dominan yang mempengaruhinya adalah rendahnya motivasi

penderita diabetes mellitus untuk mengontrol kadar gula darah.

Perilaku terjadi karena adanya motivasi atau dorongan (drive) yang

mengarahkan individu untuk bertindak sesuai dengan kepentingan atau tujuan

yang ingin dicapai, karena tanpa dorongan tadi tidak akan ada suatu kekuatan

yang mengarahkan individu pada suatu mekanisme timbulnya perilaku. Dorongan

diaktifkan oleh adanya kebutuhan (need), dalam arti kebutuhan membangkitkan

dorongan, dan dorongan ini pada akhirnya mengaktifkan atau memunculkan

mekanisme perilaku(21).

Ada 4 kategori motivasi yang mempengaruhi perilaku penderita diabetes

mellitus dalam mengontrol kadar gula darah (11):

5. Kategori pertama

Keadaan yang ideal, mengetahui motivasi yang sebenarnya sehingga

tindakan/perilaku sesuai dengan motivasi.


6. Kategori kedua

Tahu motivasi yang sebenarnya, namun oleh karena berbagai macam hal

tindakan atau perilaku tidak sesuai.

7. Kategori ketiga

Tidak tahu motivasi sebenarnya, yang dipikirkan hanya proses

tindakannya saja, yang penting tindakanya tidak negatif.

8. Kategori keempat

Tidak tahu motivasi sebenarnya sehingga tindakan atau perilakunya tidak

sesuai/salah.

Untuk merubah perilaku pasif penderita diabetes mellitus dalam mengontrol

kadar gula darah, perawat di Puskesmas Panongan harus meningkatkan perannya

dalam perberdayaan kesehatan keluarga dan melakukan pendidikan kesehatan

dalam pengelolaan diabetes secara mandiri (diabetes self management education)

dengan menggunakan metode konseling dan intervensi perilaku untuk

meningkatkan pengetahuan dan keterampilan individu dan keluarga dalam

mengelola penyakit diabetes mellitus secara mandiri.

5.2.3 Hubungan Motivasi Penderita Diabetes Mellitus Dengan Perilaku

(Mengontrol) Kadar Gula Darah di Puskesmas Panongan Kabupaten

Majalengka Tahun 2012

Hasil analisis bivariat dengan menggunakan uji statistik Chi Square

menghasilkan nilai sig p < α (0,05) dengan nilai signifikansi (0,000) yang berarti

ada hubungan yang bermakna antara motivasi penderita diabetes mellitus dengan
perilaku (mengontrol) kadar gula darah di Puskesmas Panongan Kabupaten

Majalengka tahun 2012.

Motivasi merupakan suatu tenaga yang terdapat dalam diri manusia yang

menimbulkan, mengarahkan dan mengorganisasi tingkah laku (Perilaku). Perilaku

ini timbul karena adanya dorongan faktor internal dan faktor eksternal. Perilaku

dipandang sebagai reaksi atau respons terhadap suatu stimulus.

Perilaku terjadi karena adanya motivasi atau dorongan (drive) yang

mengarahkan individu untuk bertindak sesuai dengan kepentingan atau tujuan

yang ingin dicapai, karena tanpa dorongan tadi tidak akan ada suatu kekuatan

yang mengarahkan individu pada suatu mekanisme timbulnya perilaku. Dorongan

diaktifkan oleh adanya kebutuhan (need), dalam arti kebutuhan membangkitkan

dorongan, dan dorongan ini pada akhirnya mengaktifkan atau memunculkan

mekanisme perilaku(21).

Motivasi sebagai penyebab dari timbulnya perilaku menurut Woodworth

mempunyai 3 (tiga) karakteristik, yaitu(21) :

4. Intensitas, menyangkut lemah dan kuatnya dorongan sehingga menyebabkan

individu berperilaku tertentu

5. Pemberi arah, mengarahkan individu dalam menghindari atau melakukan

suatu perilaku tertentu

6. Persistensi atau kecenderungan untuk mengulang perilaku secara terus

menerus.

Dengan kata lain, jika ketiga hal atau karakteristik tersebut rendah, maka

motivasi hanya akan mampu menimbulkan perilaku yang pasif. Pandangan lain
dikemukakan oleh Hull yang menegaskan bahwa perilaku seseorang dipengaruhi

oleh motivasi atau dorongan oleh kepentingan mengadakan pemenuhan atau

pemuasan terhadap kebutuhan yang ada pada diri individu(21).

Berdasarkan uraian di atas, baik konsep yang dikemukakan Woodhworth

maupun Hull, keduanya menjelaskan bahwa motivasi berkaitan erat dengan

perilaku. Kedua konsep tersebut sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan

oleh peneliti di Puskesmas Panongan Kabupaten Majalengka tahun 2012, bahwa

ada hubungan yang bermakna anatara motivasi penderita diabetes mellitus dengan

perilaku (mengontrol) kadar gula darah.


BAB VI

SIMPULAN DAN SARAN

6.1 Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap 36 responden

penderita diabetes mellitus tentang hubungan motivasi penderita diabetes mellitus

dengan perilaku (mengontrol) kadar gula darah di Puskesmas Panongan

Kabupaten Majalengka tahun 2012, penulis mengambil kesimpulan sebagai

berikut :

1. Sebagian besar responden (61,1%) memiliki motivasi yang rendah dalam

mengontrol kadar gula darah di Puskesmas Panongan Kabupaten Majalengka

tahun 2012.

2. Sebagian besar responden (63,9%) memiliki perilaku yang pasif dalam

mengontrol kadar gula darah di Puskesmas Panongan Kabupaten Majalengka

tahun 2012.

3. Ada hubungan yang bermakna antara motivasi penderita diabetes mellitus

dengan perilaku (mengontrol) kadar gula darah di Puskesmas Panongan

Kabupaten Majalengka tahun 2012 dengan nilai p (0,000) < α (0,05).

6.2 Saran

6.2.1 Bagi Puskesmas Panongan

Memfasilitasi kebutuhan masyarakat akan layanan kesehatan secara

menyeluruh dengan mengadakan program-program yang membantu


meningkatkan motivasi dan perilaku masyarakat khususnya penderita diabetes

mellitus melalui peningkatan kegiatan perberdayaan kesehatan keluarga dan

melakukan pendidikan kesehatan dalam pengelolaan diabetes secara mandiri

(diabetes self management education) dengan menggunakan metode konseling

dan intervensi perilaku untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan

individu dan keluarga dalam mengelola penyakit diabetes mellitusi.

6.2.2 Bagi STIKes Cirebon

STIKes Cirebon sebagai institusi pendidikan bidang kesehatan dapat

menjalin kerjasama, baik dengan institusi pelayanan kesehatan (puskesmas)

maupun dengan masyarakat, dalam meningkatkan dan memfasilitasi tercapainya

kesehatan masyarakat yang optimal, khususnya bagi penderita diabetes mellitus

melalui upaya peningkatan penyebaran informasi tentang penyakit diabetes

mellitus.

6.2.3 Bagi Profesi Perawat

Perawat komunitas di Puskesmas mempunyai peran yang sangat penting

dalam memberikan asuhan keperawatan khususnya keperawatan keluarga dan

komunitas sebagai bagian integral dari pelayanan kesehatan yang diberikan.

Dalam hal ini perawat dalam menjalankan tugasnya sebagai pelaksana pemberi

layanan kesehatan mampu menjadi edukator yang baik, khususnya bagi penderita

diabetes mellitus sehingga perilaku penderita diabetes mellitus terhadap

pemenuhan kebutuhan kesehatanya makin meningkat.


DAFTAR PUSTAKA

1. Batis, Krisnawati. Epidemiologi Penyakit Diabetes Mellitus. Depok: FKM


UI; 2004

2. FK Unair. Diabetes merupakan penyakit global yang serius; (diunduh tanggal


12 Juni 2012). Tersedia dari : http://www.fk.unair.ac.id/

3. Atepafia. Ancaman Diabetes Mellitus; (diunduh tanggal 12 Juni 2012).


Tersedia dari : http://pantonanews.com/707-wekipedia-diabetes-
mellitus

4. WHO. Diabetes Mellitus Ancaman global; (diunduh tanggal 12 Juni 2012).


Tersedia dari : http://www.who.int/topic/diabetesmellitus/en/

5. Puskesmas Panongan. Profil Puskesmas Panongan Tahun 2011. Majalengka:


Puskesmas Panongan; 2011

6. Sarwono. Pedoman Diet Diabetes Mellitus. Jakarta: Fakultas Kedokteran


Universitas Indonesia; 2002

7. Misnadiarly. Diabetes Mellitus : Gangren, Ulcer, Infeksi. Jakarta: Pustaka


Populer Obor; 2006

8. Mangoenprasodjo, AS. Hidup Sehat dan Normal Dengan DM. Yogyakarta:


Penerbit Think Fresh; 2005

9. Notoatmodjo, S. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta: PT Rhineka Cipta;


2003

10. Winardi J. Motivasi dan Pemotivasian. Jakarta: Penerbit Raja Grafindo


Persada; 2007

11. Nugroho. Motivasi Dalam Penyebuhan Penyakit; (diunduh tanggal 12 Juni


2012). Tersedia dari : http://www.nsknugroho.com

12. Soegondo. Diabetes Melitus, Penatalaksanaan Terpadu. Jakarta: Balai


Penerbitan FKUI; 2004

13. Tjokroprawiro, A. Hidup Sehat dan Bahagia Bersama DM. Jakarta: PT


Gramedia; 2002
14. Perkeni. Consensus Pengelolaan Diabetes Melitus di Indonesia. Jakarta:
Balai Pustaka FKUI; 2006

15. Lutan, R. Manusia dan Olahraga. Bandung: ITB; 2003

16. Suchri Suarli dan Yanyan Bachtiar. Manajemen Keperawatan Dengan


Pendekatan Praktis. Bandung: Balatin Pratama; 2007

17. Moekijat. Dasar – Dasar Motivasi. Bandung: Vioner Jaya; 2002

18. Walgito, Bimo. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta; 2003

19. Nungki. Pengembangan Kawasan Pinggiran Kota Melalui Pendekatan City


Marketing. Surabaya: FTSP ITS; 2007

20. Notoatmodjo. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta: PT Rineka


Cipta; 2007

21. Marioteguh. Hubungan Motivasi Dengan Perilaku; (diunduh tanggal 12 Juni


2012). Tersedia dari : http://artikel-duniapsikologi-blogspot.com

22. Nina Rahmadiliani. Hubungan Antara Pengetahuan Tentang Penyakit dan


Komplikasi Pada Diabetes Mellitus Dengan Tindakan mengontrol
Kadar Gula Darah di Wilayah Kerja Puskesmas 1 Gatak Sukoharjo.
Skripsi S1 keperawatan FIK UMS Sukoharjo; 2005

23. Notoatmodjo, Soekidjo. Metodologi Penelitian Kesehatan. Edisi Revisi.


Jakarta: PT Rineka Cipta; 2005

24. Arikunto, S. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Edisi Revisi.


Jakarta: PT Rineka Cipta; 2007

25. Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Bandung:


ALFABETA; 2004

26. Imam Ghozali. Aplikasi Analisis Multivariat dengan Program SPSS.


Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro; 2002

27. M. Sopiyudin Dahlan. Statistik untuk Kedokteran dan Kesehatan. Jakarta:


Penerbit Salemba Medika; 2009

28. Jacob, T. Etika Penelitian Ilmiah. Jogyakarta: Warta Penelitian Universitas


Gadjah Mada; 2004n
LAMPIRAN 2

INFORMED CONSENT

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : _________________________________________________________

Alamat : _________________________________________________________

_________________________________________________________

Dalam hal ini bersedia memberikan informasi tentang diri saya dan apa

yang saya ketahui pada penelitian yang berjudul “Hubungan Motivasi Penderita

Diabetes Mellitus Dengan Perilaku Mengontrol Kadar Gula Darah Di

Puskesmas Panongan Kabupaten Majalengka Tahun 2012 ”.

Kepada mahasiswa S1 Keperawatan STIKes Cirebon :

Nama : Sujana

Alamat : Desa Beber Kecamatan Ligung Kabupaten Majalengka

Dalam memberikan informasi ini saya tidak merasa dipaksa oleh pihak

manapun. Informasi yang saya berikan agar digunakan sebagaimana mestinya dan

dijaga kerahasiaannya.

Majalengka, Juli 2012


Hormat saya,

( __________________)
LAMPIRAN 4

KUESIONER PENELITIAN

IDENTITAS RESPONDEN

 Nama / Umur : ……………………….. /………… Thn

 Jenis Kelamin : Laki-laki / Perempuan.

 Agama : ………………………

 Tempat Tinggal : ………………………

PETUNJUK PENGISIAN

1. Bacalah setiap pertanyaan dengan teliti.

2. Setiap pertanyaan harus diisi dengan satu jawaban, yang sesuai dengan apa
yang anda rasakan dan anda alami yang sesungguhnya dalam mengontrol
kadar gula darah di Puskesmas Panongan Kabupaten Majalengka, yaitu :

 SL (selalu) : Apabila hal pernyataan selalu dilakukan

 SR (sering) : Apabila hal pernyataan lebih banyak dilakukan


dari pada tidak dilakukan.

 KD (kadang-kadang) : Apabila hal pernyataan seimbang antara


dilakukan dan tidak dilakukan

 JR (jarang) : Apabila hal pernyataan lebih sering tidak


dilakukan daripada dilakukan.

 TP (tidak pernah) : Apabila hal pernyataan tidak pernah dilakukan.

3. Berilah tanda check list (✓) pada kolom yang telah disediakan sesuai dengan

yang saudara rasakan.

4. Bila ada hal-hal yang kurang jelas bisa langsung ditanyakan.

A. Motivasi Responden Dalam Mengontrol Kadar Gula Darah


NO PERNYATAAN SL SR KD JR TP
1 Saya mempunyai keinginan yang kuat
untuk mencari informasi tentang cara
mengontrol kadar gula darah
2 Saya merasa mempunyai keinginan
kuat untuk memeriksa (cek) kadar
gula darah sesuai jadwal yang telah
ditentukan.
3 Saya mempunyai keyakinan kadar
gula darah dapat turun/normal dengan
kontrol teratur
4 Saya mempunyai jadwal rutin untuk
mengontrol kadar gula darah
5 Saya mengontrol kadar gula darah
atas kemauan sendiri
6 Saya merasa mempunyai keinginan
kuat untuk mengatur diet karena ada
perhatian dari orang terdekat/keluarga
7 Saya merasa mempunyai semangat
berolahraga karena ada orang
terdekat/keluarga yang menemani
8 Saya merasa mempunyai semangat
untuk minum obat penurun gula darah
karena ada perhatian dari orang
terdekat/keluarga
9 Saya mempunyai keinginan yang kuat
untuk mengontrol kadar gula darah
karena ada anjuran/konseling dari
petugas kesehatan
10 Saya mempunyai semangat untuk
memeriksa (cek) kadar gula darah ke
puskesmas atau sarana kesehatan
lainya karena ada dukungan dari
orang terdekat/keluarga
B. Perilaku Responden Mengontrol Kadar Gula Darah

NO PERNYATAAN SL SR KD JR TP
11 Melakukan diet dengan mengurangi
karbohidrat
12 Melakukan diet dengan mengurangi
lemak
13 Melakukan diet dengan mengurangi
protein
14 Melakukan diet dengan mengurangi
pemanis
15 Melakukan diet dengan meningkatkan
konsumsi serat larut air
16 Minum obat penurun kadar gula darah

17 Melakukan olahraga

18 Berkunjung ke puskesmas atau sarana


kesehatan lain untuk memeriksa (cek)
kadar gula darah
19 Mengikuti penyuluhan atau konseling
tentang diet DM
20 Memeriksa (cek) kadar gula darah
pada jadwal yang telah ditentukan
oleh petugas kesehatan

TERIMA KASIH ATAS PARTISIPASINYA


HASIL UJI VALIDITAS DAN RELIABILITAS

(OUTPUT SPSS 16)

Scale: Reliabilitas soal

Case Processing Summary


N %
Cases Valid 20 100.0
a
Excluded 0 .0
Total 20 100.0
a. Listwise deletion based on all variables
in the procedure.

Reliability Statistics
Cronbach's
Alpha N of Items
.978 20

Item Statistics
Mean Std. Deviation N
Soal 1 2.15 .933 20
Soal 2 2.05 .826 20
Soal 3 2.90 .912 20
Soal 4 1.75 .967 20
Soal 5 2.50 .688 20
Soal 6 1.75 .716 20
Soal 7 1.45 .759 20
Soal 8 1.70 .657 20
Soal 9 1.55 .759 20
Soal 10 2.35 .988 20
Soal 11 1.60 .821 20
Soal 12 1.60 .821 20
Soal 13 1.60 .821 20
Soal 14 2.85 .875 20
Soal 15 1.70 .733 20
Soal 16 3.20 .768 20
Soal 17 1.35 .933 20
Soal 18 1.80 .951 20
Soal 19 1.40 .598 20
Soal 20 1.55 .686 20
Item-Total Statistics
Corrected Item- Cronbach's
Scale Mean if Scale Variance if Total Alpha if Item
Item Deleted Item Deleted Correlation Deleted

Soal 1 36.65 166.976 .825 .976


Soal 2 36.75 169.987 .793 .977
Soal 3 35.90 170.937 .670 .978
Soal 4 37.05 166.050 .834 .976
Soal 5 36.30 172.326 .827 .976
Soal 6 37.05 172.050 .808 .977
Soal 7 37.35 171.924 .766 .977
Soal 8 37.10 173.779 .782 .977
Soal 9 37.25 171.882 .768 .977
Soal 10 36.45 165.103 .853 .976
Soal 11 37.20 167.958 .899 .976
Soal 12 37.20 167.958 .899 .976
Soal 13 37.20 167.958 .899 .976
Soal 14 35.95 168.261 .825 .976
Soal 15 37.10 171.989 .792 .977
Soal 16 35.60 170.253 .844 .976
Soal 17 37.45 168.261 .769 .977
Soal 18 37.00 163.895 .942 .975
Soal 19 37.40 173.200 .901 .976
Soal 20 37.25 172.092 .843 .976

Scale Statistics
Mean Variance Std. Deviation N of Items

38.80 187.747 13.702 20


INTERPRETASI HASIL UJI VALIDITAS DAN RELIABILITAS

KUESIONER PENELITIAN

1. Hasil uji validitas

Nomor Item Corrected Item-Total r Tabel Kesimpulan


Correlation Product Moment
1 Soal 1 0.825 0.456 Valid
2 Soal 2 0.793 Valid
3 Soal 3 0.670 Valid
4 Soal 4 0.834 Valid
5 Soal 5 0.827 Valid
6 Soal 6 0.808 Valid
7 Soal 7 0.766 Valid
8 Soal 8 0.782 Valid
9 Soal 9 0.768 Valid
10 Soal 10 0.853 Valid
11 Soal 11 0.899 Valid
12 Soal 12 0.899 Valid
13 Soal 13 0.899 Valid
14 Soal 14 0.825 Valid
15 Soal 15 0.792 Valid
16 Soal 16 0.844 Valid
17 Soal 17 0.769 Valid
18 Soal 18 0.942 Valid
19 Soal 19 0.901 Valid
20 Soal 20 0.843 Valid

2. Hasil uji reliabilitas

r Tabel
Nomor Jumlah Item Cronbach’s Alpha Kesimpulan
Product Moment

1 20 0.978 0.456 Reliabel


REKAPITULASI HASIL KUESIONER PENELITIAN

1. Motivasi Penderita Diabetes Mellitus

Nama Soal
No. ∑ Kategori
Responden 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1 Tn. Tm 1 1 2 0 2 1 0 1 1 1 10 Rendah
2 Tn.Wr 2 2 2 1 2 2 1 2 1 2 17 Tinggi
3 Tn. Ws 2 2 2 1 2 2 1 2 2 2 18 Tinggi
4 Ny. Ac 1 1 3 0 1 1 0 1 1 1 10 Rendah
5 Tn. Sp 3 3 4 2 4 3 2 3 2 4 30 Tinggi
6 Ny. Ts 0 1 1 0 2 1 0 1 1 1 8 Rendah
7 Tn. Nj 1 0 2 0 2 1 0 1 1 1 9 Rendah
8 Ny. Sh 3 2 4 2 3 2 2 3 2 3 26 Tinggi
9 Tn.Rh 1 1 2 0 2 1 1 1 0 1 10 Rendah
10 Ny.Ce 2 1 2 1 2 1 1 1 1 2 14 Rendah
11 Ny.Wl 1 1 2 0 2 1 0 1 1 1 10 Rendah
12 Tn.Ik 3 4 4 4 4 3 3 3 3 4 35 Tinggi
13 Ny.Gn 2 2 3 2 2 2 2 3 2 3 23 Tinggi
14 Tn.Ak 1 1 2 1 2 1 1 3 1 3 16 Rendah
15 Ny.Ta 2 1 3 1 2 1 0 1 0 1 12 Rendah
16 Ny.Aw 3 3 4 3 3 2 2 4 3 4 31 Tinggi
17 Ny.Ot 3 2 4 2 4 2 3 3 2 2 27 Tinggi
18 Tn.Sy 0 1 1 0 1 1 0 1 0 1 6 Rendah
19 Ny.Ai 2 1 2 0 2 1 0 1 1 2 12 Rendah
20 Ny.En 2 1 3 0 2 1 0 0 0 2 11 Rendah
21 Tn.Cd 1 1 1 0 2 0 0 1 1 2 9 Rendah
22 Ny.Rn 2 2 2 1 2 1 1 1 0 2 14 Rendah
23 Tn.Ap 3 3 4 3 3 3 4 3 3 4 33 Tinggi
24 Ny.Am 2 0 2 0 2 1 0 2 1 1 11 Rendah
25 Ny.Ad 2 2 2 1 2 2 2 1 1 2 17 Tinggi
26 Tn.Sb 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 9 Rendah
27 Ny.Il 2 1 2 0 2 1 0 1 1 2 10 Rendah
28 Tn.Ns 3 1 3 0 2 1 0 1 1 2 14 Rendah
29 Tn.Dp 4 3 4 4 3 4 3 3 3 4 35 Tinggi
30 Tn.Nn 1 0 2 0 2 1 1 1 0 2 10 Rendah
31 Ny.Ks 2 1 3 0 3 0 0 2 1 1 13 Rendah
32 Ny.It 2 1 2 1 2 1 1 1 1 2 14 Rendah
33 Ny.Nt 3 3 4 2 3 3 2 3 2 3 28 Tinggi
34 Ny.Rw 1 1 3 0 3 1 0 1 1 2 13 Rendah
35 Tn.Jo 2 1 2 1 3 3 1 2 1 2 18 Tinggi
36 Ny.Tt 4 3 4 1 3 4 2 2 3 3 29 Tinggi
Jumlah Skor Total 602

Nilai Rata-Rata (Mean) 16,7


2. Perilaku Mengontrol Kadar Gula Darah

Nama Soal
No. ∑ Kategori
Responden 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1 Tn. Tm 1 1 1 4 1 1 0 1 1 1 12 Pasif
2 Tn.Wr 2 2 2 4 2 2 1 2 1 2 20 Aktif
3 Tn. Ws 2 2 2 4 3 2 1 2 2 2 22 Aktif
4 Ny. Ac 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 9 Pasif
5 Tn. Sp 3 3 3 4 3 3 2 4 2 3 30 Aktif
6 Ny. Ts 1 1 1 2 1 1 0 1 1 1 10 Pasif
7 Tn. Nj 1 1 1 4 1 1 0 1 1 0 11 Pasif
8 Ny. Sh 3 3 3 4 3 3 3 3 2 2 29 Aktif
9 Tn.Rh 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 11 Pasif
10 Ny.Ce 1 1 1 2 1 1 2 1 1 1 12 Pasif
11 Ny.Wl 1 1 1 2 1 1 0 1 1 1 10 Pasif
12 Tn.Ik 3 3 3 4 3 3 3 4 3 4 33 Aktif
13 Ny.Gn 2 2 2 4 2 4 1 4 2 2 25 Aktif
14 Tn.Ak 1 1 1 1 1 3 1 3 1 1 14 Pasif
15 Ny.Ta 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 8 Pasif
16 Ny.Aw 2 2 2 4 2 4 2 4 3 3 28 Aktif
17 Ny.Ot 2 2 2 4 2 3 3 2 2 2 24 Aktif
18 Tn.Sy 1 1 1 3 1 0 1 1 0 1 10 Pasif
19 Ny.Ai 1 1 1 2 1 1 0 2 1 1 11 Pasif
20 Ny.En 1 1 1 3 1 1 0 2 0 1 11 Pasif
21 Tn.Cd 0 0 0 4 0 1 0 2 1 1 9 Pasif
22 Ny.Rn 1 1 1 3 1 1 1 2 0 2 13 Pasif
23 Tn.Ap 3 3 3 4 3 4 4 4 3 3 34 Aktif
24 Ny.Am 1 1 1 3 2 2 0 1 1 0 12 Pasif
25 Ny.Ad 2 2 2 4 2 1 1 2 1 2 19 Aktif
26 Tn.Sb 1 1 1 3 2 1 1 1 1 1 13 Pasif
27 Ny.Il 0 0 0 2 1 1 0 2 0 1 7 Pasif
28 Tn.Ns 1 1 1 3 1 1 0 2 1 1 12 Pasif
29 Tn.Dp 4 4 4 4 4 3 3 4 3 3 36 Aktif
30 Tn.Nn 1 1 1 3 1 1 1 2 0 0 11 Pasif
31 Ny.Ks 0 0 0 4 1 2 0 1 1 1 10 Pasif
32 Ny.It 1 1 1 3 1 1 1 2 1 1 13 Pasif
33 Ny.Nt 3 3 3 4 3 3 2 3 2 3 29 Aktif
34 Ny.Rw 1 1 1 3 2 1 0 2 1 1 13 Pasif
35 Tn.Jo 1 1 1 4 1 2 1 2 1 2 16 Pasif
36 Ny.Tt 4 4 4 4 4 2 2 3 3 3 33 Aktif
Jumlah Skor Total 620
Nilai Rata-Rata (Mean) 17,2
LAMPIRAN 6

HASIL UJI STATISTIK

Frequencies

Statistics

Motivasi Penderita Diabetes Mellitus

N Valid 36

Missing 0

Motivasi Penderita Diabetes Mellitus

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Rendah 22 61.1 61.1 61.1

Tinggi 14 38.9 38.9 100.0

Total 36 100.0 100.0


Frequencies

Statistics

Perilaku (Mengontrol) Kadar Gula Darah

N Valid 36

Missing 0

Perilaku (Mengontrol) Kadar Gula Darah

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Pasif 23 63.9 63.9 63.9

Aktif 13 36.1 36.1 100.0

Total 36 100.0 100.0


Crosstabs

Case Processing Summary

Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
Motivasi Penderita Diabetes
Mellitus * Perilaku
36 100.0% 0 .0% 36 100.0%
(Mengontrol) Kadar Gula
Darah

Motivasi Penderita Diabetes Mellitus * Perilaku (Mengontrol) Kadar Gula Darah Crosstabulation

Perilaku (Mengontrol)
Kadar Gula Darah
Pasif Aktif
Jika Skor Jika Skor
Total < Total >=
Mean Mean
Total
Motivasi Penderita Tinggi Jika Skor Total Count 1 13 14
Diabetes Mellitus >= Mean
Expected Count 8.9 5.1 14.0

% within Motivasi
Penderita 7.1% 92.9% 100.0%
Diabetes Mellitus

Rendah JikaSkor Total Count 22 0 22


< Mean
Expected Count 14.1 7.9 22.0

% within Motivasi
Penderita 100.0% .0% 100.0%
Diabetes Mellitus

Total Count 23 13 36

Expected Count 23.0 13.0 36.0

% within Motivasi
Penderita 63.9% 36.1% 100.0%
Diabetes Mellitus
Chi-Square Tests

Asymp. Sig. Exact Sig.


Value df (2-sided) (2-sided) Exact Sig. (1-sided)

Pearson Chi-Square 31.975a 1 .000

Continuity Correctionb 28.077 1 .000

Likelihood Ratio 39.887 1 .000

Fisher's Exact Test .000 .000

Linear-by-Linear Association 31.087 1 .000

N of Valid Casesb 36

a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 5,06.

b. Computed only for a 2x2 table

Risk Estimate

95% Confidence Interval

Value Lower Upper

For cohort Perilaku


(Mengontrol) Kadar Gula
14.000 2.118 92.548
Darah = Pasif Jika Skor Total
< Mean

N of Valid Cases 36
LAMPIRAN 1

JADWAL KEGIATAN SKRIPSI

Waktu
Juni 2012 Juli 2012 Agustus 2012 September 2012
No. Kegiatan
Mg Mg Mg Mg Mg Mg Mg Mg Mg Mg Mg Mg Mg Mg Mg Mg
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Pembekalan Skripsi
2 Pengajuan Judul
Penunjukan Pembimbing
3
1 dan 2
4 Bimbingan Skripsi
Pendaftaran Seminar
5
Proposal
6 Seminar Proposal
Penelitian dan
7
Penyusunan Skripsi
Pendaftaran Sidang
8
Skripsi
9 Sidang Skripsi
10 Perbaikan Skripsi
11 Penyerahan Skripsi
LA
MPIRAN 3

KISI – KISI INSTRUMEN PENELITIAN

Variabel Indikator Deskriptor


Motivasi  Motivasi intrinsik  Dorongan untuk mengontrol kadar gula darah yang datangnya dari dalam diri individu
penderita
diabetes  Adanya keinginan untuk mencari informasi tentang cara mengontrol gula darah
mellitus  Adanya keinginan untuk cek gula darah sesuai jadwal
 Adanya keyakinan kadar gula darah dapat terkendali dengan kontrol teratur
 Adanya jadwal rutin untuk mengontrol kadar gula darah

 Motivasi ekstrinsik  Dorongan untuk mengontrol kadar gula darah yang datangnya dari luar diri individu
 Adanya dukungan keluarga dalam pengaturan diet
 Adanya dukungan keluarga untuk olahraga teratur
 Adanya perhatian keluarga untuk minum obat
 Adanya dukungan keluarga untuk cek kadar gula darah
 Adanya dukungan dari petugas kesehatan melalui konseling

Variabel Indikator Deskriptor


Perilaku  Pengaturan diet  Pengaturan makan (diet) merupakan kunci pengendalian diabetes mellitus, khususnya yang
(mengontrol)  Olahraga tergolong NIDDM
kadar gula  Edukasi  Mengurangi karbohidrat karena kadar gula dalam darah tinggi
darah  Intervensi medis  Mengurangi lemak karena adanya glukoneogenesis melalui pemecahan lemak
 Mengurangi protein karena adanya glukoneogenesis melalui pemecahan protein
 Mengurangi pemanis karena dapat meningkatkan kadar gula darah dengan cepat karena
pemanis merupakan bentuk karbohidrat yang paling sederhana (monosacharida)
 Meningkatkan konsumsi serat karena makanan dengan kandungan serat tinggi memiliki
indeks glikemik yang rendah karena diabsorpsi lambat oleh saluran cerna,
dan dapat menurunkan hiperglikemi postprandial secara signifikan dan dapat menurunkan
kadar lipid serum.
 Olahraga dapat menyebabkan penurunan kadar glukosa darah secara langsung melalui
peningkatan penggunaan glukosa oleh otot yang aktif
 Edukasi melalui konseling dapat meningkatkan pengetahuan penderita dalam mengontrol
kadar gula darah
 Penatalaksanaan medis untuk mengendalikan kadar gula darah dengan menggunakan obat
antidiabetik oral/sistemik.
LAMPIRAN 5

REKAPITULASI HASIL UJI COBA KUESIONER

Nama Soal
No.
Responden
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20
1 Ny. I 1 2 4 1 2 1 1 2 2 2 1 1 1 2 2 3 1 2 1 1
2 Ny. Sn 3 4 4 4 4 2 2 2 2 3 1 1 1 2 1 2 1 1 1 1
3 Tn. St 3 2 4 2 3 2 2 2 2 2 2 2 2 3 3 4 2 3 2 2
4 Ny. E 2 2 3 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 2 1 1 1 1
5 Ny. Ik 2 2 2 3 2 2 2 2 1 3 2 2 2 3 2 4 2 3 2 2
6 Ny. Wr 4 3 4 3 4 3 2 3 3 4 1 1 1 2 1 3 0 1 1 1
7 Tn. K 3 3 4 2 3 2 2 2 1 3 1 1 1 3 2 3 0 1 1 1
8 Ny. N 2 1 2 1 2 1 1 2 1 2 2 2 2 4 2 4 1 2 1 2
9 Tn. D 1 2 3 2 2 1 1 1 1 2 3 3 3 4 2 4 2 3 2 2
10 Ny. R 2 2 2 1 2 2 1 2 2 3 1 1 1 3 1 2 0 1 1 1
11 Ny. O 2 2 2 1 2 1 1 1 1 2 1 1 1 2 2 3 1 1 1 1
12 Ny. Ks 4 3 4 3 3 3 4 3 3 3 3 3 3 4 3 4 3 3 2 3
13 Tn. M 1 1 2 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 3 1 1 1 1
14 Ny. C 2 2 2 1 2 1 1 1 1 1 2 2 2 4 2 4 3 3 2 2
15 Ny. E 1 1 2 1 2 2 1 1 1 2 1 1 1 3 1 3 1 1 1 2
16 Tn. Ds 2 2 2 2 3 2 1 2 2 3 1 1 1 2 1 2 1 1 1 1
17 Tn. Sn 1 1 2 1 2 2 1 1 1 1 3 3 3 4 2 4 1 3 2 2
18 Tn. Rs 2 2 3 1 3 2 1 2 1 2 1 1 1 2 1 3 2 1 1 1
19 Tn. Sr 3 3 4 3 3 3 2 2 3 4 3 3 3 4 3 4 3 3 3 3
20 Ny. U 2 1 3 1 2 1 1 1 1 2 1 1 1 2 1 3 1 1 1 1