Anda di halaman 1dari 8

Motivasi adalah suatu konstruk yang dimulai dari adanya need atau

kebutuhan pada diri individu dalam bentuk energi aktif yang menyebabkan

timbulnya dorongan dengan intensitas tertentu yang berfungsi mengaktifkan,

memberi arah, dan membuat persisten (berulang-ulang) dari suatu perilaku untuk

memenuhi kebutuhan yang menjadi penyebab timbulnya dorongan itu sendiri(10).

Motivasi adalah segala sesuatu yang mendorong seseorang untuk melakukan

sesuatu. Motivasi juga dapat diartikan sebagai perasaan atau pikiran yang

mendorong seseorang melakukan atau menjalankan kekuasaan terutama dalam

berperilaku.

Orang-orang tidak hanya berbeda dalam kemampuan untuk berbuat, akan

tetapi juga berbeda dalam kemauan untuk berbuat atau motivasi. Motivasi

seseorang tergantung kepada kekuatan motif mereka. Motif kadang-kadang

didefinisikan sebagai kebutuhan, keinginan, dorongan atau gerak hati dalam

individu(17).

Dalam penyembuhan penyakit DM dibutuhkan motivasi dan pemberdayaan

diri agar menghasilkan rasa percaya diri, berpikir positif dan bijak sehingga dapat

terwujud sebuah perilaku aktif terhadap pengelolaan penyakit diabetes mellitus.

Motivasi merupakan suatu tenaga yang terdapat dalam diri manusia yang

menimbulkan, mengarahkan dan mengorganisasi tingkah laku (Perilaku). Perilaku

ini timbul karena adanya dorongan faktor internal dan faktor eksternal. Perilaku

dipandang sebagai reaksi atau respons terhadap suatu stimulus.

Woodhworth, mengungkapkan bahwa perilaku terjadi karena adanya

motivasi atau dorongan (drive) yang mengarahkan individu untuk bertindak sesuai
dengan kepentingan atau tujuan yang ingin dicapai. Karena tanpa dorongan tadi

tidak akan ada suatu kekuatan yang mengarahkan individu pada suatu mekanisme

timbulnya perilaku. Dorongan diaktifkan oleh adanya kebutuhan (need), dalam

arti kebutuhan membangkitkan dorongan, dan dorongan ini pada akhirnya

mengaktifkan atau memunculkan mekanisme perilaku(21).

Lebih lanjut dijelaskan bahwa motivasi sebagai penyebab dari timbulnya

perilaku menurut Woodworth mempunyai 3 (tiga) karakteristik, yaitu(21) :

1. Intensitas, menyangkut lemah dan kuatnya dorongan sehingga menyebabkan

individu berperilaku tertentu

2. Pemberi arah, mengarahkan individu dalam menghindari atau melakukan

suatu perilaku tertentu

3. Persistensi atau kecenderungan untuk mengulang perilaku secara terus

menerus.

Dengan kata lain, jika ketiga hal tersebut lemah, maka motivasi tak akan

mampu menimbulkan perilaku. Pandangan lain dikemukakan oleh Hull yang

menegaskan bahwa perilaku seseorang dipengaruhi oleh motivasi atau dorongan

oleh kepentingan mengadakan pemenuhan atau pemuasan terhadap kebutuhan

yang ada pada diri individu. Lebih lanjut dijelaskan bahwa perilaku muncul tidak

semata-mata karena dorongan yang bermula dari kebutuhan individu saja, tetapi

juga karena adanya faktor belajar. Faktor dorongan ini dikonsepsikan sebagai

kumpulan energi yang dapat mengaktifkan tingkah laku atau sebagai motivasional

faktor, dimana timbulnya perilaku menurut Hull adalah fungsi dari tiga hal yaitu :
kekuatan dari dorongan yang ada pada individu, kebiasaan yang didapat dari hasil

belajar, serta interaksi antara keduanya(21).

Berdasarkan uraian di atas, baik konsep yang dikemukakan Woodhworth

maupun Hull, keduanya menjelaskan bahwa motivasi berkaitan erat dengan

perilaku.

Diabetes mellitus adalah penyakit metabolik yang berlangsung kronik

progesif, dengan manifestasi gangguan metabolik glukosa dan lipid, disertai

komplikasi kronik sampai dengan kerusakan organ tubuh. Diabetes melitus tidak

bisa disembuhkan, tetapi bisa dikurangi atau dikontrol kadar gula darahnya.

Ancaman diabetes mellitus kini semakin meluas, berdasarkan data dari

Federasi Diabetes Dunia (IDF) tahun 2011, pada tahun 2030 mendatang sebanyak

552 juta orang akan terkena diabetes mellitus. Terjadi peningkatan sekitar 200 juta

orang dari jumlah penderita tahun 2011, yang mencapai 346 juta orang.

Sementara data tahun 2010 lalu, jumlah pengidap diabetes mellitus mencapai 285

juta orang.

Indonesia menempati urutan ke 4 dalam jumlah penderita diabetes mellitus

setelah India, Cina, dan Amerika Serikat. Berdasarkan hasil Riset Kesehatan

Dasar (Rikesda) tahun 2008, menunjukan prevalensi pengidap diabetes mellitus

sekitar 5,7 persen dan pradiabetes mellitus 11,4 persen, dengan angka prevalensi

tersebut dapat diperkirakan penderita diabetes mellitus saat ini mencapai sekitar

13,56 juta orang dan penderita pradiabetes mellitus sekitar 27,13 juta. Pradiabetes

mellitus yaitu mereka yang hasil pengujian kadar gula darahnya relatif lebih tinggi

dari angka normal, namun belum masuk angka kategori pengidap diabetes
mellitus. Survey Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2010, menyebutkan

jumlah penderita diabetes mellitus di Indonesia naik dari 8,4 juta pada tahun 2000

menjadi 21,3 juta tahun 2010, dan diantara mereka baru sekitar 30% yang berobat

teratur.

Banyaknya penderita diabetes mellitus di Indonesia disinyalir sebagai akibat

dari faktor lingkungan dan gaya hidup yang tidak sehat, seperti makan berlebihan,

berlemak, kurang aktivitas fisik atau olahraga dan stress berperan besar sebagai

pemicu diabetes mellitus. Tapi diabetes mellitus juga bisa muncul karena faktor

keturunan. Faktor keturunan memang tidak dapat dicegah, namun gaya hidup

dapat diubah.

Peningkatan angka pasien diabetes mellitus berdampak signifikan bagi

kesehatan secara keseluruhan, sebab penyakit diabetes mellitus merupakan

penyakit kronis yang bersifat progresif. Diabetes mellitus dapat menimbulkan

berbagai komplikasi kronis pada berbagai organ vital seperti stroke, gagal ginjal,

jantung, kebutaan dan bahkan harus menjalani amputasi jika anggota badan

menderita luka yang tidak bisa mengering. Apalagi jika penderita diabetes

mellitus tidak mampu mengontrol kadar gula dalam darahnya.

Pengontrolan kadar gula darah secara teratur harus dilakukan untuk

mencegah terjadinya komplikasi kronis, dan dengan pengontrolan yang teratur

penderita diabetes mellitus dapat hidup secara normal. Pengontrolan diabetes

mellitus yang baik dapat mengurangi komplikasi 20 sampai 30 %.

Ada empat cara pengelolaan diabetes mellitus dalam mengontrol kadar gula

darah yang dikenal dengan empat serangkai pengelolaan diabetes mellitus, yaitu
edukasi, perencanaan makanan, latihan jasmani dan intervensi medis. Bila

penderita diabetes mellitus taat dan disiplin serta mau berperilaku sehari-hari

dengan baik dan mengikuti empat serangkai dalam pengelolaan diabetes mellitus,

maka kualitas kesehatan penderita diabetes mellitus juga akan baik.

Perilaku kesehatan adalah suatu respon seseorang terhadap stimulus atau

objek yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan,

makanan dan minuman serta lingkungan. Perilaku penderita diabetes mellitus

dalam mengontrol kadar gula darahnya dipengaruhi oleh faktor pengetahuan,

motivasi, kepercayaan dan sikap positif, tersedianya sarana dan prasarana yang

diperlukan dan terdapat dorongan yang dilandasi kebutuhan yang dirasakan.

Untuk terwujudnya sebuah perilaku pengontrolan kadar gula darah yang

baik dari penderita diabetes mellitus dibutuhkan sebuah motivasi.

Motivasi adalah suatu konstruk yang dimulai dari adanya need atau kebutuhan

pada diri individu dalam bentuk energi aktif yang menyebabkan timbulnya

dorongan dengan intensitas tertentu yang berfungsi mengaktifkan, memberi arah,

dan membuat persisten (berulang-ulang) dari suatu perilaku untuk memenuhi

kebutuhan yang menjadi penyebab timbulnya dorongan itu sendiri.

Motivasi penderita diabetes mellitus dalam mengontrol kadar gula darah

terdiri dari dua jenis, yaitu motivasi intrinsik yang datangnya dari dalam diri

individu itu sendiri, seperti kedisiplinan dalam diet, kepatuhan dan keteraturan

dalam latihan fisik, teratur dalam berobat atau terapi medis dan keinginan untuk

meningkatkan pengetahuan tentang penyakitnya dan motivasi ekstrinsik yang


datangnya dari luar diri sendiri seperti dukungan keluarga, teman dekat, tokoh

masyarakat, dukungan ekonomi dan dukungan petugas kesehatan.

Penyebab diabetes mellitus adalah kurangnya produksi dan ketersediaan

insulin dalam tubuh yang mencukupi maka tidak dapat bekerja secara normal

atau terjadinya gangguan fungsi insulin. Insulin berperan utama dalam

mengatur kadar glukosa dalam darah, yaitu 60-120 mg/dl waktu puasa dan

dibawah 140 mg/dl pada dua jam sesudah makan (orang normal).

Kekurangan Insulin disebabkan karena terjadinya kerusakan sebagian

kecil atau sebagian besar dari sel-sel beta pulau langerhans dalam kelenjar

penkreas yang berfungsi menghasilkan insulin. Ada beberapa faktor yang

menyebabkan diabetes mellitus sebagai berikut :

1) Genetik atau Faktor Keturunan

Diabetes mellitus cenderung diturunkan atau diwariskan, bukan

ditularkan. Anggota keluarga penderita diabetes mellitus memiliki

kemungkinan lebih besar terserang penyakit ini dibandingkan dengan

anggota keluarga yang tidak menderita diabetes mellitus. Para ahli

kesehatan juga menyebutkan diabetes mellitus merupakan penyakit yang

terpaut kromosom seks. Biasanya kaum laki-laki menjadi penderita

sesungguhnya, sedangkan kaum perempuan sebagai pihak yang

membawa gen untuk diwariskan kepada anak-anaknya.

2) Virus dan Bakteri


Virus yang menyebabkan diabetes mellitus adalah rubella, mumps,

dan human coxsackievirus B4. Diabetes mellitus akibat bakteri masih

belum bisa dideteksi. Namun, para ahli kesehatan menduga bakteri cukup

berperan menyebabkan diabetes mellitus.

3) Bahan Toksin atau Beracun

Ada beberapa bahan toksik yang mampu merusak sel betasecara

langsung, yakni allixan, pyrinuron (rodentisida), streptozotocin (produk

dari sejenis jamur).

4) Asupan Makanan

Diabetes mellitus dikenal sebagai penyakit yang berhubungan

dengan asupan makanan, baik sebagai faktor penyebab maupun

pengobatan. Asupan makanan yang berlebihan merupakan faktor risiko

pertama yang diketahui menyebabkan diabetes mellitus. Salah satu

asupan makanan tersebut yaitu asupan karbohidrat. Semakin berlebihan

asupan makanan semakin besar kemungkinan terjangkitnya diabetes

mellitus.

5) Obesitas

Retensi insulin paling sering dihubungkan dengan kegemukan atau

obesitas. Pada kegemukan atau obesitas, sel-sel lemak juga ikut gemuk

dan sel seperti ini akan menghasilkan beberapa zat yang digolongkan

sebagai adipositokin yang jumlahnya lebih banyak dari keadaan pada

waktu tidak gemuk. Zat-zat itulah yang menyebabkan resistensi terhadap

insulin.
Penyakit diabetes mellitus merupakan penyakit kronis yang bersifat

progresif. Diabetes melitus tidak bisa disembuhkan, tetapi bisa dikurangi atau

dikontrol kadar gula darahnya. Pengontrolan kadar gula darah secara teratur harus

dilakukan untuk mencegah terjadinya komplikasi kronis, dan dengan

pengontrolan yang teratur penderita diabetes mellitus dapat hidup secara normal.

Pengontrolan diabetes mellitus yang baik dapat mengurangi komplikasi 20 sampai

30 %.

Ada empat cara pengelolaan diabetes mellitus dalam mengontrol kadar gula

darah yang dikenal dengan empat serangkai pengelolaan diabetes mellitus, yaitu

edukasi, perencanaan makanan, latihan jasmani dan intervensi medis. Bila

penderita diabetes mellitus taat dan disiplin serta mau berperilaku sehari-hari

dengan baik dan mengikuti empat serangkai dalam pengelolaan diabetes mellitus,

maka kualitas kesehatan penderita diabetes mellitus juga akan baik.

Perilaku manusia sebenarnya merupakan refleksi dari berbagai gejala

kejiwaan, yaitu pengetahuan, keinginan, kehendak, minat, motivasi, persepsi dan

sikap. Sedangkan gejala kejiwaan tersebut juga ditentukan atau dipengaruhi oleh

berbagai faktor, yaitu faktor pengalaman, keyakinan, sarana fisik dan sosial

budaya masyarakat.