Anda di halaman 1dari 62

Pengertian Hak dan Kewajiban Warga Negara

Hal yang pertama kali kalian harus ketahui adalah pengertian hak dan
kewajiban. Apa sih pengetiannya?
Pengertian hak adalah kuasa untuk menerima atau melakukan sesuatu
yang mestinya kita terima atau bisa dikatakan sebagai hal yang selalu
kita lakukan dan orang lain tidak boleh merampasnya entah secara
paksa atau tidak.Dalam hal kewarganegaraan, hak ini berarti warga
negara berhak mendapatkan penghidupan yang layak, jaminan
keamanan, perlindungan hukum dan lain sebagainya.
Pengertian kewajiban adalah suatu hal yang wajib kita lakukan demi
mendapatkan hak atau wewenang kita. Bisa jadi kewajiban merupakan
hal yang harus kita lakukan karena sudah mendapatkan hak. Tergantung
situasinya. Sebagai warga negara kita wajib melaksanakan peran
sebagai warga negara sesuai kemampuan masing-masing supaya
mendapatkan hak kita sebagai warga negara yang baik.
Perlu temen-temen ketahui bahwa hak dan kewajiban ini merupakan hal
yang tidak bisa dipisahkan, namun dalam pemenuhannya harus
seimbang. Kalau gak seimbang bisa terjadi pertentangan dan bisa saja
menempuh jalur hukum.
Selanjutnya ada beberapa contoh hak dan kewajiban warga negara dan
pasal-pasalnya.
Contoh hak warga negara :
1. Berhak mendapat perlindungan hukum (pasal 27 ayat (1))
2. Berhak mendapakan pekerjaan dan penghidupan yang layak. (pasal 27
ayat 2).
3. Berhak mendapatkan kedudukan yang sama di mata hukum dan dalam
pemerintahan. (pasal 28D ayat (1))
4. Bebas untuk memilih, memeluk dan menjalankan agama yang
dipercayai. (pasal 29 ayat (2))
5. Berhak memperleh pendidikan dan pengajaran.
6. Memiliki hak yang sama dalam kemerdekaan berserikat, berkumpul
dan mengeluarkan pendapat secara lisan dantulisan sesuai undang-
undang yang berlaku. (pasal 28)

Contoh kewajiban warga negara :


1. Wajib berperan serta dalam membela, mempertahankan kedaulatan
negara indonesia dari serangan musuh. (asal 30 ayat (1) UUD 1945)
2. Wajib membayar pajak dan retribusi yang sudah ditetapkan oleh
pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. (UUD 1945)
3. Wajib menaati dan menjunjung tinggi dasar negara, hukum dan
pemerintahan tanpa terkecuali serta dijalankan dengan sebaik-baiknya.
4. Wajib menghormati hak asasi manusia orang lain. (pasal 28J ayat 1)
5. Wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-
undang. (pasal 28J ayat 2)
6. Tiap negara wajib turut serta dalam pembangunan untuk memajukan
bangsa ke arah yang lebih baik. (pasal 28)
Dalam Undang-Undangan Dasar 1945 ada pasal yang mencantumkan
mengenai hak dan kewajiban, seperti :
 Pasal 26, ayat (1) – yang menjadi warga negara adalah orang-orang
bangsa Indonesia asli dan orang-orang bangsa lain yang disahkan
dengan undang-undang sebagai warga negara. Dan pada ayat (2),
syarat-syarat mengenai kewarganegaraan ditetapkan dengan undang-
undang.
 Pasal 27, ayat (1) – segala warga negara bersamaan dengan
kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahannya, wajib
menjunjung hukum dan pemerintahan itu. Pada ayat (2), taip-tiap warga
negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi
kemanusiaan.
 Pasal 28 – kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan
pikiran dengan lisan, dan sebagainya ditetapkan dengan undang-
undang.
 Pasal 30, ayat (1) – hak dan kewajiban warga negara untuk ikut serta
dalam pembelaan negara. Dan ayat (2) menyatakan pengaturan lebih
lanjut diatur dengan undang-undang.

Wujud Hubungan Warga Negara dan Negara


Supaya dapat terwujudnya hubungan antara warga negara dengan
negara yang baik maka diperlukan beberapa peran. Peranan ini adalah
tugas yang dilakukan sesuai kemampuan yang dimiliki tiap individu.
Dalam UUD 1945 pasal 27 – 34 disebutkan banyak hal mengenai hak
warga negara indonesia seperti :
1. Hak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak.
2. Hak membela negara
3. Hak berpendapat
4. Hak kemerdekaan memeluk agama
5. Hak mendapatkan pengajaran
6. Hak utuk mengembangkan dan memajukan kebudayaan nasional
Indonesia
7. Hak ekonomi untuk mendapat kan kesejahteraan sosial
8. Hak mendapatkan jaminan keadilan sosial
Sedangkan kewajiban warga negara Indonesia terhadap negara
Indonesia adalah :
 Kewajiban mentaati hukum dan pemerintahan
 Kewajiban membela negara
 Kewajiban dalam upaya pertahanan negara
Hak dan kewajiban negara terhadap warga negara pada dasarnya
merupakan hak dan kewajiban warga negara terhadap negara. Beberapa
ketentuan tersebut, anatara lain sebagai berikut :
1. Hak negara untuk ditaati hukum dan pemerintah
2. Hak negara untuk dibela
3. Hak negara untuk menguasai bumi, air , dan kekayaan untuk
kepentingan rakyat
4. Kewajiban negara untuk menajamin sistem hukum yang adil
5. Kewajiban negara untuk menjamin hak asasi warga negara
6. Kewajiban negara mengembangkan sistem pendidikan nasional untuk
rakyat
7. Kewajiban negara meberi jaminan sosial
8. Kewajiban negara memberi kebebasan beribadah
Sebenarnya masih ada banyak sekali contoh dan wujud hubungan
negara dengan warga negara yang tercantum dalam UUD 1945, temen-
temen bisa baca tuh buku undang-undangnya.
Contoh Kasus
1. Menaati Hukum Lalu Lintas
Judul kasus diatas bener-bener kontroversial, kita bisa bertanya kepada
diri sendiri apakah kita sudah menaati peraturan lalu lintas yang ada?
Kebanyakan pelajar memakai sepeda motor demi memudahkan
perjalanan hidup (cie) mereka ke sekolah. Memang terasa
kemudahannya, namun kita telaah lagi. Apakah kita sudah punya SIM?
2. Membayar Pajak
Coba perhatikan apakah orang-orang sekitar kita sudah membayar pajak
yang sudah ada ketentuannya dalam UUD. Setiap orang yang
tertanggung harus dan wajib membayar pajak sesuai ketentuannya.
Kalau gak bayar pajak, apa kata dunia?
3. Perlindungan Hukum
Sebagai salah satu warga negara Indonesia kita diberi hak akan jaminan
perlindungan hukum, mungkin beberapa dari kita sudah merasakan hak
tersebut dengan baik. Namun ada juga yang belum. Seperti penanganan
beberapa kasus kriminal yang tidak cepat tanggap.
Contoh kasus pelanggaran ham (20 contoh kasus) :

1. Peristiwa Trisakti dan Semanggi (1998)


Tragedi Trisakti terjadi pada 12 Mei 1998. Peristiwa ini berkaitan dengan gerakan di era
reformasi yang gencar disuarakan di tahun 1998. Gerakan tersebut dipicu oleh krisis
moneter dan tindakan KKN presiden Soeharto, sehingga para mahasiswa kemudian
melakukan demo besar-besaran di berbagai wilayah yang kemudian berujung dengan
bentrok antara mahasiswa dengan aparat kepolisian.
Tragedi ini mengakibatkan (4 mahasiswa meninggal dan puluhan lainnya luka-luka).
Tragedi Semanggi I terjadi pada 11-13 November 1998 (17 orang warga sipil meninggal)
dan tragedi Semanggi II pada 24 September 1999 (1 orang mahasiswa meninggal dan 217
orang luka-luka).

2. Kasus Marsinah 1993


Kasus Marsinah terjadi pada 3-4 Mei 1993. Seorang pekerja dan aktivitas wanita PT Catur
Putera Surya Porong, Jatim
Peristiwa ini berawal dari aksi mogok yang dilakukan oleh Marsinah dan buruh PT CPS.
Mereka menuntun kepastian pada perusahaan yang telah melakukan PHK mereka tanpa
alasan. Setelah aksi demo tersebut, Marsinah malah ditemukan tewas 5 hari kemudian. Ia
tewas di kawasan hutan Wilangan, Nganjuk dalam kondisi mengenaskan dan diduga
menjadi korban pelanggaran HAM berupa penculikan, penganiayaan dan pembunuhan.
Penyelidikan masih belum menemukan titik terang hingga sekarang.

3. Aksi Bom Bali 2002


Peristiwa ini terjadi pada tahun 2002. Sebuah bom diledakkan di kawasan Legian Kuta, Bali
oleh sekelompok jaringan teroris.
Kepanikan sempat melanda di penjuru Nusantara akibat peristiwa ini. Aksi bom bali ini
juga banyak memicu tindakan terorisme di kemudian hari.
Peristiwa bom bali menjadi salah satu aksi terorisme terbesar di Indonesia. Akibat
peristiwa ini, sebanyak ratusan orang meninggal dunia, mulai dari turis asing hingga warga
lokal yang ada di sekitar lokasi.
4. Peristiwa Tanjung Priok (1984)
Kasus tanjung Priok terjadi tahun 1984 antara aparat dengan warga sekitar yang berawal
dari masalah SARA dan unsur politis.
Peristiwa ini dipicu oleh warga sekitar yang melakukan demonstrasi pada pemerintah dan
aparat yang hendak melakukan pemindahan makam keramat Mbah Priok. Para warga yang
menolak dan marah kemudian melakukan unjuk rasa, hingga memicu bentrok antara
warga dengan anggota polisi dan TNI.
Dalam peristiwa ini diduga terjadi pelanggaran HAM dimana terdapat ratusan korban
meninggal dunia akibat kekerasan dan penembakan.

5. Kasus Penganiayaan Wartawan Udin (1996)


Kasus penganiayaan dan terbunuhnya Wartawan Udin (Fuad Muhammad
Syafruddin)terjadi di yogyakarta 16 Agustus 1996.
Sebelum kejadian ini, Udin kerap menulis artikel kritis tentang kebijakan pemerintah Orde
Baru dan militer. Ia menjadi wartawan di Bernas sejak 1986. Udin adalah seorang
wartawan dari harian Bernas yang diduga diculik, dianiaya oleh orang tak dikenal dan
akhirnya ditemukan sudah tewas.

6. Peristiwa Pemberontakan di Aceh Gerakan Aceh Merdeka/GAM (1976-2005)


Pemberontakan di Aceh dikobarkan oleh Gerakan Aceh Merdeka (GAM) untuk memperoleh
kemerdekaan dari Indonesia antara tahun 1976 hingga tahun 2005.
Kecenderungan sistem sentralistik pemerintahan Soeharto, bersama dengan keluhan lain
menyebabkan tokoh masyarakat Aceh Hasan di Tiro untuk membentuk Gerakan Aceh
Merdeka (GAM) pada tanggal 4 Desember 1976 dan mendeklarasikan kemerdekaan Aceh.
Wakil Panglima GAM Wilayah Pase Akhmad Kandang (alm) pernah mengklaim, jumlah
personel GAM 70 ribu. Anggota GAM 490 ribu. Jumlah itu termasuk jumlah korban DOM
6.169 orang.
Konflik antara pemerintah dan GAM yang diakibatkan perbedaan keinginan ini telah
berlangsung sejak tahun 1976 dan menyebabkan jatuhnya hampir sekitar 15,000 jiwa.

7. Penculikan aktivis 1997/1998


adalah peristiwa penghilangan orang secara paksa atau penculikan terhadap para aktivis
pro-demokrasi yang terjadi menjelang pelaksanaan Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 1997
dan Sidang Umum Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) tahun 1998 Jakarta Selatan.
Peristiwa penculikan ini dipastikan berlangsung dalam tiga tahap: Menjelang pemilu Mei
1997, dalam waktu dua bulan menjelang sidang MPR bulan Maret, sembilan di antara
mereka yang diculik selama periode kedua dilepas dari kurungan dan muncul kembali.
Beberapa di antara mereka berbicara secara terbuka mengenai pengalaman mereka. Tapi
tak satu pun dari mereka yang diculik pada periode pertama dan ketiga muncul.[1]Selama
periode 1997/1998, KONTRAS (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan)
mencatat 23 orang telah dihilangkan oleh alat-alat negara. Dari angka itu, 1 orang
ditemukan meninggal (Leonardus Gilang), 9 orang dilepaskan penculiknya, dan 13 lainnya
masih hilang hingga hari ini.
8. PELANGGARAN HAM DI TIMOR-TIMUR (1974-1999).
Timor Leste adalah negara baru yang berdiri secara resmi berdasarkan jajak pendapat
tahun 1999. Dulunya, ketika masih tergabung dengan Republik Indonesia bernama Timor
Timur, propinsi ke-27. Pemisahan diri Timor Timur memang diwarnai dengan suatu tindak
kekerasan berupa pembakaran yang dilakukan oleh milisi yang kecewa dengan hasil
referendum.
Disebutkan telah terjadi pembantaian terhadap 102.800 warga Timor Timur dalam kurun
waktu 24 tahun, yakni ketika Timtim masih tergabung dengan Indonesia (1974-1999).
Sekitar 85 persen dari pelanggaran HAM, menurut laporan CAVR, dilakukan oleh pasukan
keamanan Indonesia.

9. Kerusuhan Ambon/Maluku (1999)


Kerusuhan Ambon (Maluku) yang terjadi sejak bulan Januari 1999 hingga saat ini telah
memasuki periode kedua, yang telah menimbulkan korban jiwa dan harta benda yang
cukup besar serta telah membawah penderitaan dalam bentuk kemiskinan dan
kemelaratan bagi rakyat di Maluku pada umumnya dan kota Ambon pada khususnya.
Peristiwa kerusuhan di Ambon (Maluku) diawali dengan terjadinya perkelahian antara
salah seorang pemuda Kristen asal Ambon yang bernama J.L, yang sehari-hari bekerja
sebagai sopir angkot dengan seorang pemuda Islam asal Bugis, NS, penganggur yang sering
mabuk-mabukan dan sering melakukan pemalakan (istilah Ambon "patah" ) khususnya
terhadap setiap sopir angkot yang melewati jalur Pasar Mardika – Batu Merah.
TENTANG PERKEMBANGAN TERAKHIR KONFLIK DI AMBON menurut badan pekerja
kontras (komisi yang menangani kasus orang hilang dan korban tindak kekerasan) Sampai
saat ininja kotaumlah korban yang kami terima berjumlah tidak kurang 1.349 korban
tewas, 273 luka parah serta 321 luka ringan.

10. Konflik Berdarah Poso (1998)


Awal konflik Poso terjadi setelah pemilihan bupati pada desember 1998. Ada sintimen
keagamaan yang melatarbelakangi pemilihan tersebut.
Kalau dilihat dari konteks agama, Poso terbagi menjadi dua kelomok agama besar, Islam
dan Kristen. Sebelum pemekaran, Poso didominasi oleh agama Islam, namun setelah
mengalami pemekaran menjadi Morowali dan Tojo Una Una, maka yang mendominasi
adala agama Kristen. Selain itu masih banyak dijumpai penganut agama-agama yang
berbasis kesukuan, terutama di daerah-daerah pedalaman. Islam dalam hal ini masuk ke
Sulawesi, dan terkhusus Poso, terlebih dahulu. Baru kemudian disusul Kristen masuk ke
Poso.
Keberagaman ini lah yang menjadi salah satu pemantik seringnya terjadi pelbagai
kerusuhan yang terjadi di Poso. Baik itu kerusuhan yang berlatar belakang sosial-budaya,
ataupun kerusuhan yang berlatarbelakang agama, seperti yang diklaim saat kerusuhan
Poso tahun 1998 dan kerusuhan tahun 2000. Agama seolah-olah menjai kendaraan dan
alasan tendesius untuk kepentingan masing-masing.

11. Pembantaiaan Rawagede (1947)


Peristiwa ini merupakan pelanggaran HAM berupa penembakan beserta pembunuhan
terhadap penduduk kampung Rawagede (sekarang Desa Balongsari, Rawamerta,
Karawang, Jawa Barat) oleh tentara Belanda pada tanggal 9 Desember 1947 diringi dengan
dilakukannya Agresi Militer Belanda I. Puluhan warga sipil terbunuh oleh tentara Belanda
yang kebanyakan dibunuh tanpa alasan yang jelas. Pada 14 September 2011, Pengadilan
Den Haag menyatakan bahwa pemerintah Belanda bersalah dan harus bertanggung jawab.
Pemerintah Belanda harus membayar ganti rugi kepada para keluarga korban
pembantaian Rawagede.

12. Penembakan Misterius (1982-1985)


Diantara tahun 1982-1985, peristiwa ini mulai terjadi. ‘Petrus’ adalah sebuah peristiwa
penculikan, penganiayaan dan penembakan terhadap para preman yang sering menganggu
ketertiban masyarakat. Pelakunya tidak diketahui siapa, namun kemungkinan pelakunya
adalah aparat kepolisian yang menyamar (tidak memakai seragam). Kasus ini termasuk
pelanggaran HAM, karena banyaknya korban Petrus yang meninggal karena ditembak.
Kebanyakan korban Petrus ditemukan meninggal dengan keadaan tangan dan lehernya
diikat dan dibuang di kebun, hutan dan lain-lain. Terhitung, ratusan orang yang menjadi
korban Petrus, kebanyakan tewas karena ditembak.

13. Pembantaian Timor-Timur Santa Cruz (1991).


Kasus ini masuk dalam catatan kasus pelanggaran HAM di Indonesia, yaitu pembantaian
yang dilakukan oleh militer atau anggota TNI dengan menembak warga sipil di Pemakaman
Santa Cruz, Dili, Timor-Timur pada tanggal 12 November 1991.
Kebanyakan warga sipil yang sedang menghadiri pemakaman rekannya di Pemakaman
Santa Cruz ditembak oleh anggota militer Indonesia. Puluhan demonstran yang
kebanyakkan mahasiswa dan warga sipil mengalami luka-luka dan bahkan ada yang
meninggal.
Banyak orang menilai bahwa kasus ini murni pembunuhan yang dilakukan oleh anggota
TNI dengan melakukan agresi ke Dili, dan merupakan aksi untuk menyatakan Timor-Timur
ingin keluar dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan membentuk negara
sendiri.

14. Peristiwa 27 Juli (1996)


Peristiwa ini disebabkan oleh para pendukung Megawati Soekarno Putri yang menyerbu
dan mengambil alih kantor DPP PDI di Jakarta Pusat pada tanggal 27 Juli 1996.
Massa mulai melempari dengan batu dan bentrok, ditambah lagi kepolisian dan anggota
TNI dan ABRI datang berserta Pansernya. Kerusuhan meluas sampai ke jalan-jalan, massa
mulai merusak bangunan dan rambu-rambu lalu-lintas.
Dikabarkan lima orang meninggal dunia, puluhan orang (sipil maupun aparat) mengalami
luka-luka dan sebagian ditahan. Menurut Komnas Hak Asasi Manusia, dalam peristiwa ini
telah terbukti terjadinya pelanggaran HAM.

15. Kasus Dukun Santet di Banyuwangi (1998)


Peristiwa beserta pembunuhan ini terjadi pada tahun 1998. Pada saat itu di Banyuwangi
lagi hangat-hangatnya terjadi praktek dukun santet di desa-desa mereka. Warga sekitar
yang berjumlah banyak mulai melakukan kerusuhan berupa penangkapan dan
pembunuhan terhadap orang yang dituduh sebagai dukun santet. Sejumlah orang yang
dituduh dukun santet dibunuh, ada yang dipancung, dibacok bahkan dibakar hidup-hidup.
Tentu saja polisi bersama anggota TNI dan ABRI tidak tinggal diam, mereka
menyelamatkan orang yang dituduh dukun santet yang masih selamat dari amukan warga.

16. Pembantaian Massal Komunis/PKI (1965)


Pembantaian ini merupakan peristiwa pembunuhan dan penyiksaan terhadap orang yang
dituduh sebagai anggota komunis di Indonesia yang pada saat itu Partai Komunis
Indonesia (PKI) menjadi salah satu partai komunis terbesar di dunia dengan anggotanya
yang berjumlah jutaan. Pihak militer mulai melakukan operasi dengan menangkap anggota
komunis, menyiksa dan membunuh mereka. Sebagian banyak orang berpendapat bahwa
Soeharto diduga kuat menjadi dalang dibalik pembantaian 1965 ini. Dikabarkan sekitar
satu juta setengah anggota komunis meninggal dan sebagian menghilang. Ini jelas murni
terjadi pelanggaran Hak Asasi Manusia.

17. Kasus Bulukumba (2003)


Kasus Bulukumba merupakan kasus yang terjadi pada tahun 2003.
Dilatar belakangi oleh PT. London Sumatra (Lonsum) yang melakukan perluasan area
perkebunan, namun upaya ini ditolak oleh warga sekitar. Polisi Tembak Warga di
Bulukumba. Anggota Brigade Mobil Kepolisian Resor Bulukumba, Sulawesi Selatan,
dilaporkan menembak seorang warga Desa Bonto Biraeng, Kecamatan Kajang, Bulukumba,
Senin (3 Oktober 2011) sekitar pukul 17.00 Wita. Ansu, warga yang tertembak tersebut,
ditembak di bagian punggung. Warga Kajang sejak lama menuntut PT London
mengembalikan tanah mereka.

18. Peristiwa Abepura, Papua (2000-2003)


Peristiwa ini terjadi di Abepura, Papua pada tahun 2003. Terjadi akibat penyisiran yang
membabi buta terhadap pelaku yang diduga menyerang Mapolsek Abepura. Komnas HAM
menyimpulkan bahwa telah terjadi pelanggaran HAM di peristiwa Abepura.

19. Peristiwa perbudakan buruh panci 2013


Kampung Bayur Opak RT 03/06, Desa Lebak Wangi, Kecamatan Sepatan Timur, Kabupaten
Tangerang, terkuak setelah dua buruh yang bekerja di pabrik itu berhasil melarikan diri.
Andi Gunawan (20 tahun) dan Junaidi (22) kabur setelah tiga bulan dipekerjakan dengan
tidak layak. Dalam waktu enam bulan dia bekerja di pabrik milik Juki Hidayat itu, tidak
sepeser pun uang yang diterima para buruh.
Setiap hari, para buruh harus bekerja lebih dari 12 jam untuk membuat 200 panci. Jika
tidak mencapai target, lanjutnya, para pekerja akan disiksa dan dipukul. Para pekerja yang
rata-rata berumur 17 hingga 24 tahun ini hanya memiliki satu baju yang melekat di
tubuh, karena menurutnya baju, ponsel dan uang yang mereka bawa dari kampung disita
oleh sang majikan ketika baru tiba di pabrik tersebut. Para pekerja diiming-imingi
mendapat gaji Rp 600 ribu per bulannya. Kondisi bangunan di sana sangat
memprihatinkan, tidak layak untuk ditiduri. Para pekerja sering diancam oleh mandor-
mandor dan bos Juki, akan dipukuli sampai mati, mayatnya langsung mau dibuang di laut
kalau jika macam-macam di sana.

20. Pembantaian petani di meusji 2011


Di Desa Sungai Sodong, Kecamatan Mesuji, OKI, Sumsel, pertikaian warga dan perusahaan
sawit telah menelan sejumlah korban jiwa. Konflik dipicu dari bermasalahnya kerjasama
plasma antara warga desa denagn perusahaan perkebunan sawit.
Bermula dari kesepakatan warga desa Sungai Sodong, Mesuji dengan pihak perusahaan PT.
Treekreasi Margamulya (TM/ Sumber Wangi Alam (SWA), pada awal 1997, untuk
pembangunan kebun plasma. Masyarakat mendukung niatan perusahaan itu, karena
bermanfaat untuk ekonomi mereka.Dari sini kerjasama berjalan lancar tanpa ada masalah.
Baru 5 tahun kemudian muncul persoalan. Hal itu bermula dari niatan perusahaan sawit
itu yang mengajukan usulan pembatalan plasma.
Dipicu tindakan perusahaan ini Korbanpun berjatuhan dari beberapa pihak keamanan
maupun warga.

Ciri-Ciri HAM
Apa saja ciri-ciri HAM yang ada? Hak asasi manusia memiliki beberapa unsur-
unsur dan ciri-ciri pokok HAM yang mendefinisikan pengertian HAM itu sendiri.
Berikut ini akan kami jelaskan ciri-ciri HAM dan sifat sifat HAM yang terdiri dari
hakiki, universal, tetap dan utuh beserta penjelasan lengkapnya.

1. HAM bersifat hakiki


Hak asasi manusia bersifat hakiki. Hal ini menjadi salah satu ciri-ciri pokok HAM
yang paling utama. Artinya hak asasi dimiliki oleh semua manusia dan sudah
dimiliki secara otomatis sejak lahir.

2. HAM bersifat universal


Ciri-ciri hak asasi manusia berikutnya adalah universal. HAM bersifat universal
dan menjangkau semua orang. Artinya hak asasi manusia berlaku untuk semua
orang di dunia tanpa terkecuali dan tidak memandang status, suku, agama, jenis
kelamin, usia dan golongan.

3. Tetap (tidak dapat dicabut)


Ciri pokok hakikat HAM selanjutnya adalah tetap. Hak asasi manusia dari
seseorang sifatnya adalah tetap atau tidak dapat dicabut. Artinya hak asasi
manusia tidak dapat dihilangkan atau diambil oleh pihak lain secara sepihak.
Hak asasi manusia akan selalu ada sejak lahir sampai ia meninggal.

4. Utuh (tidak dapat dibagi)


Selain tetap atau tidak dapat dicabut, hak asasi manusia juga bersifat utuh atau
tidak dapat dibagi. Artinya semua orang berhak mendapatkan semua hak yang
ada secara utuh seperti hak hidup, hak sipil, hak berpendidikan, hak politik dan
hak-hak lainnya.

Pengertian NILAI IDEAL


Pengertian dari nilai dasar adalah nilai-nilai dasar yang mempunyai sifat tetap (tidak berubah), nilai-
nilai ini terdapat dalam Pembukaan UUD 1945. Nilai-nilai dasar Pancasila (Ketuhanan, Kemanusiaan,
Persatuan, Kerakyatan dan Keadilan Sosial) kemudian dijabarkan menjadi nilai-nilai instrumental dan
nilai praksis yang lebih bersifat fleksibel dalam bentuk aturan atau norma-norma yang berlaku dalam
kehidupan bemasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Pengertian NILAI INSTRUMENTAL


Pengertian dari nilai instrumental adalah penjabaran lebih lanjut dari nilai dasar atau nilai ideal secara
lebih kreatif dan dinamis dalam bentuk UUD 1945 dan peraturan Perundang undangan lainnya, dan
dalam Tata Urutan Peraturan Perundang-undangan Negara menurut UU No. 10 Tahun 2004. Nilai
instrumental ini dapat berubah atau diubah.
Pengertian NILAI PRAKSIS
Pengertian dari Nilai Praksis adalah nilai yang sesungguhnya dilaksanakan dalam kehidupan nyata
sehari-hari baik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Nilai praksis juga dapat
berubah/diubah atau bisa juga dikatakkan nilai praksis merupakan penerapan dari nilai instrumental
dan nilai ideal pada kehidupan sehari hari.
Dan berikut ini merupakan nilai ideal, instrumental dan praksis dari pancasila yang terdiri dari sila ke
1 (satu) 2 (dua) 3 (tiga) 4 (empat) dan 5 (lima).

Sila ke 1 Ketuhanan Yang Maha Esa


Nilai Ideal :
Ketuhanan
Nilai Instrumental :
Berikut beberapa nilai instrumental dari sile ke 1
Pasal 28E
Ayat (1) Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan
dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal diwilayah
negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali.
Ayat (2) Setiap orang atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai
dengan hati nuraninya.
Pasal 29
Ayat (1) Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa,
Ayat (2) Negara menjamin kemerdekaan tiap tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing
masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.

Nilai Praksis :
Prilaku/pengamalan yang memcerminkan sila ke 1
1. Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama
dan kepercayaannya masing-masing.
2. Percaya dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaannya
masing-masing.
3. Tidak melakukan penistaan dari suatu agama seperti melakukan pembakaran rumah rumah ibadah.
4. Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan
Yang Maha Esa.
5. Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang
lain.

Sila ke 2 Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab


Nilai Ideal :
Kemanusiaan
Nilai Instrumental :
Berikut beberapa nilai instrumental dari sile ke 2
Pasal 14
1. Presiden memberi grasi dan rehabilitasi dengan memperhatikan pertimbangan Mahkamah Agung.
2. Presiden memberi amnesti dan abolisi dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan
Rakyat
Pasal 28A
Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya.
Pasal 28B
1. Setiap orang berhak membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan yang
sah.
2. Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas
perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.
Pasal 28G
Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, dan harta benda
yang di bawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan
untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi.
Setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan atau perlakuan yang merendahkan derajat martabat
menusia dan berhak memperoleh suaka politik dari negara lain.
Pasal 28I
1. Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak beragama,
hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum, dan hak untuk tidak
dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut, adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi
dalam keadaan apa pun.
2. Setiap orang berhak bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apa pun dan
berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu.
3. Identitas budaya dan hak masyarakat dihormati selaras dengan perkembangan zaman dan
peradaban.
4. Perlindungan, pemajuan, penegakan, dan pemenuhan hak asasi manusia adalah tanggung jawab
negara, terutama pemerintah.
5. Untuk menegakkan dan melindungi hak asasi manusia sesuai dengan prinsip negara hukum yang
demokaratis, maka pelaksanaan hak asasi manusia dijamin, diatur, dan dituangkan dalam peraturan
perundang-undangan.
Pasal 28J
1. Setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang lain dalam tertib kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Nilai Praksis :
Prilaku/pengamalan yang memcerminkan sila ke 2
1. Mengakui persamaan derajat, hak, dan kewajiban asasi setiap manusia tanpa membedakan.
2. Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk
Tuhan Yang Maha Esa.
4. Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia.
Tidak semena-mena terhadap orang lain.
5. Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan, seperti acara acara bakti sosial, memberikan bantuan
kepada panti panti asuhan sebagai bentuk kemanusiaan peduli akan sesama.

Sila ke 3 Persatuan Indonesia


Nilai Ideal :
Persatuan
Nilai Instrumental :
Berikut beberapa nilai instrumental dari sile ke 3
Pasal 25A
Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah sebuah negara kepulauan yang berciri Nusantara dengan
wilayah yang batas-batas dan hak-haknya ditetapkan dengan undang-undang.
Pasal 35
Bendera Negara Indonesia ialah Sang Merah Putih.
Pasal 36
Bahasa Negara ialah Bahasa Indonesia.
Pasal 36A
Lambang Negara ialah Garuda Pancasila dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
Pasal 36B
Lagu Kebangsaan ialah Indonesia Raya.

Nilai Praksis :
Prilaku/pengamalan yang memcerminkan sila ke 3
1. Mengembangkan sikap saling menghargai.
2. Membina hubungan baik dengan semua unsur bangsa
3. Memajukan pergaulan demi peraturan bangsa.
4. Menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan Indonesia.
5. Mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi arau golongan.

Sila ke 4 Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan


Dalam Permusyawaratan Perwakilan
Nilai Ideal :
Kerakyatan
Nilai Instrumental :
Berikut beberapa nilai instrumental dari sile ke 4
Pasal 2
1. Majelis Permusyawaratan rakyat terdiri atas anggauta-anggauta Dewan Perwakilan rakyat,
ditambah dengan utusan-utusan dari Daerah-daerah dan golongan-golongan, menurut aturan yang
ditetapkan dengan Undang-Undang.
2. Madjelis Permusjawaratan rakyat bersidang sedikitnya sekali dalam lima tahun di ibu-kota Negara.
3. Segala putusan Majelis Permusyawaratan rakyat ditetapkan dengan suara yang terbanyak
Pasal 3
Majelis Permusjawaratan rakyat menetapkan Undang-Undang Dasar dan garis-garis besar daripada
haluan Negara.
Pasal 6 ayat 2
Presiden dan Wakil Presiden dipilih oleh Majelis Permusyawaratan rakyat dengan suara yang
terbanyak
Pasal 19
1. Anggota Dewan Perwakilan Rakyat dipilih melalui pemilihan umum.
2. Susunan Dewan Perwakilan Rakyat diatur dengan undang-undang.
3. Dewan Perwakilan Rakyat bersidang sedikitnya sekali dalam setahun.

Nilai Praksis :
Prilaku/pengamalan yang memcerminkan sila ke 4
1. Menghindari aksi “Walk Out” dalam suatu musyawarah.
2. Menghargai hasil musyawarah.
Ikut serta dalam pemilihan umum, pilpres, dan pilkada.
3. Memberikan kepercayaan kepada wakil wakil rakyat yang telah terpilih dan yang menjadi wakil
rakyat juga harus mampu membawa aspirasi rakyat.
4. Tidak memaksakan kehendak kita kepada orang lain.
5. Menghormati dan menghargai pendapat orang lain.

Sila ke 5 Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia


Nilai Ideal :
Keadilan
Nilai Instrumental :
Berikut beberapa nilai instrumental dari sile ke 5

Pasal 33
(3) Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan
dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.
Pasal 34
Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara.
Nilai Praksis :
Prilaku/pengamalan yang memcerminkan sila ke 5
1. Suka melakukan perbuatan dalam rangka mewujudkan kemajuan dan keadilan sosial.
2. Mengembangkan perbuatan-perbuatan yang luhur yang mencerminkan sikap dan suasana
kekluargaan dan kegotongroyongan.
3. Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.
Menghormati hak-hak orang lain.
Suka memberi pertolongan kepada orang lain.
4. Tidak bersifat boros, dan suka bekerja keras
5. Tidak bergaya hidup mewah.

Berikut ini adalah faktor yang penghabat dalam upaya penegakan HAM.

1. Masih lemahnya lembaga penegakan supremasi hukum, termasuk dalah


penegakan hukum yang menyangkut persoalan HAM.
2. Masih rendahnya kesadaran hukum dan kesadaran kemanusiaan masyarakat
Indonesia.
3. Maih rendahnya kesadaran politik pemerintah yang memberi dampak
penyalahgunaan kekuasaan ataupun wewenang yang mengakibatkan terjadinya
pelanggaran HAM.
4. Masih rendahnya kesadaran masyarakat terhadap hak dan kewajiban sebagai
warga negara yang memiliki HAM dan juga KAM (Kewajiban Asasi Manusia)
5. Adanya stereotip sebagian masyarakat indonesia yang menganggap bahwa
gerakan perjuangan penegakan HAM dapat mengakibatkan disintegrasi bangsa
yang membahayakan persatuan dan kesatuan sehingga melemahkan kesadaran
masyarakat untuk turut berperan serta dalam upaya penghormatan, pemajuan,
dan penegakan HAM di Indonesia.
Pengertian

1. Demokrasi langsung merupakan suatu sistem pemerintahan dimana rakyat diberikan kesempatan
penuh dalam menentukan arah kebijakan umum dari suatu negara atau undang-undang. Dengan kata
lain, demokrasi langsung adalah demokrasi yang bersih karena rakyat juga mengambil andil atau
diberikan hak mutlak untuk memberikan aspirasinya.
2. Demokrasi tidak langsung merupakan suatu sistem pemerintahan yang tidak melibatkan rakyat secara
langsung dalam pengambilan keputusan di suatu negara atau bisa dikenal sebagai demokrasi perwakilan
atau parlemen.

Ciri-Ciri

1. Ciri-ciri dari demokrasi langsung adalah sebagai berikut:

a. Sering disebut dengan demokrasi murni, karena keputusan yang dihasilkan di suatu negara
diputuskan oleh rakyat tanpa melalui perwakilan atau parlemen.

b. Rakyat memiliki peran penting dalam

segala bentuk atau proses pengambilan keputusan. Dengan demikian, keputusan-keputusan yang
diambil sangat berpengaruh oleh peran rakyat.

c. Kesempatan untuk berpartisipasi dalam dunia politik sangatlah bebas.

d. Kegiatan pemerintahan bersifat transparan karena dijalankan oleh rakyat sendiri.

e. Cakupan wilayahnya tidak luas dan jumlah warga negaranya sedikit menyebabkan mudah untuk
mengumpulkan warga negara dalam suatu pertemuan yang membahas mengenai keputusan-keputusan
politik.

f. Pembahasan dan penyelesaian terhadap suatu masalah diselesaikan langsung oleh rakyat melalui
forum pertemuan tanpa harus diwakilkan oleh lembaga-lembaga perwakilan.

g. Rakyat dapat ikut campur dalam penyusunan rancangan undang-undang dengan syarat mendapatkan
dukungan dari mayoritas warga negara melalui sistem voting atau musyawarah.

h. Hanya dapat dijalankan oleh negara yang memiliki luas wilayah kecil dan jumlah warga negara yang
sedikit.
i. Pemutusan suatu perkara sering diambil keputusan yang didukung oleh mayoritas warga negara yang
ikut berkumpul.

j. Amandemen konstitusi bisa diubah berdasarkan usulan dari rakyat dengan ketentuan mendapatkan
dukungan yang cukup dari mayoritas warga negara.

k. Presiden dan Wakil Presiden dipilih langsung oleh rakyat dengan cara pemilihan umum.

l. Orang-orang yang menduduki jabatan di pemerintahan ditentukan oleh rakyat dengan cara pemilihan
umum.

2. Ciri-ciri dari demokrasi tidak langsung adalah sebagai berikut:

a. Sering disebut sebagai demokrasi yang berskala besar karena demokrasi ini dilakukan dalam jangka
waktu yang cukup luas.

b. Politik tidak dapat dikontrol secara langsung oleh rakyat, karena pemilihan parlemen dilakukan dalam
jangka waktu beberapa tahun sekali.

c. Rakyat tetap menjadi pemegang tertinggi kedaulatan atau kekuasaan pada suatu negara, namun pada
pelaksanaannya rakyat diwakilkan oleh orang-orang yang duduk di parlemen.

d. Pengambilan suatu keputusan dilakukan dengan cara terwakilkan oleh orang-orang yang telah dipilih
oleh rakyat sendiri.

e. Kedudukan lembaga pemerintahan menganut asas Trias Politica, yaitu lembaga legislatif, eksekutif,
dan yudikatif.

f. Wakil-wakil rakyat yang telah terpilih wajib menyalurkan aspirasi rakyat dalam pembahasan parlemen
pemerintahan.
g. Kegiatan pemerintahan terkadang tidak bersifat transparan sehingga rakyat banyak yang bertanya-
tanya.

h. Dalam pelaksanaan kewajiban dari wakil-wakil rakyat, rakyat tetap mengawasi kinerjanya.

i. Pembahasan, perumusan, dan pemutusan berbagai masalah kenegaraan yang menyangkut


kepentingan rakyat dilakukan oleh wakil-wakil rakyat yang sudah terpilih tadi.

j. Presiden dan Wakil Presiden dipilih oleh anggota-anggota yang berkedudukan di parlemen. Contohnya
pada masa orde baru, Presiden dan Wakil Presiden dipilih oleh MPR.

k. Wakil rakyat yang memiliki kekuasaan tertinggi biasanya dapat menunjuk pejabat-pejabat yang akan
menduduki beberapa posisi di pemerintahan, contohnya menteri-menteri yang ditunjuk langsung oleh
Presiden.

l. Pelaksanaan demokrasi ini pada zaman kerajaan dahulu, anggota-anggota parlemen dipilih sendiri oleh
raja dan hanya dari golongan bangsawan sehingga banyak kepentingan dan aspirasi rakyat yang tidak
terwakilkan dan memicu terjadinya pemberontakan.

Persamaan dari Demokrasi Langsung dan Tidak Langsung

Walaupun secara garis besar, demokrasi langsung dan tidak langsung memiliki banyak perbedaan dalam
pelaksanaannya. Akan tetapi, tetap memiliki persamaan diantara keduanya seperti hal berikut ini.

1. Tetap melalui pemilihan umum. Jadi rakyat tetap memilih sendiri wakil-wakilnya yang nantinya akan
menyalurkan setiap aspirasinya dan memperjuangkan kepentingannya sehingga keputusan politik yang
dibuat tetap memperhatikan rakyat juga.
2. Pada negara yang menganut sistem demokrasi tidak langsung tetap rutin dalam pelaksanaan
pemilihan umum. Hal ini digunakan untuk memilih orang-orang yang akan menjadi wakilnya pada
pemerintahan.

Macam-Macam Demokrasi
1. Demokrasi berdasarkan penyaluran kehendak rakyat

 Demokrasi langsung
Demokrasi langsung merupakan sistem demokrasi yang megikut sertakan seluruh
rakyat dalam pengambilan keputusan negara.
 Demokrasi tidak langsung
Demokrasi tidak langsung merupakan sistem demokrasi yang digunakan untuk
menyalurkan keinginan dari rakyat melalui perwakilan dari parlemen.

2. Demokrasi Berdasarkan Hubungan antar Kelengkapan Negara

 Demokrasi perwakilan dengan sistem refrendum


Merupakan sistem demokrasi yang dimana rakyat memilki perwakilan untuk
menjabat diparlemen namun tetap dikontrol oleh rakyat dengan sistem refrendum.
 Demokrasi perwakilan dengan sistem parlementer
Merupakan sistem demokrasi yang didalamnya terdapat hubungan kuat antara
badan eksekutif dan badan legislatif.
 Demokrasi perwakilan dengan sistem pemisahan kekuasaan
Merupakan sistem demokrasi dimana kedudukan antara eksekutif dan legislatif
terpisah, sehingga keduanya tidak berkaitan secara langsung seperti sistem
parlementer.
 Demokrasi perwakilan dengan sistem refrendum dan inisiatif rakyat
Merupakan sistem demokrasi gabungan dari demokrasi perwakilan/tidak langsung
dan demokrasi secara langsung. Dalam sistem tersebut masih tetap ada badan
perwakilan namun dikontrol oleh rakyat melalui refrendum dan sifatnya obligator
dan fakultatif.

3. Berdasarkan prinsip Ideologi

 Demokrasi liberal
Demokrasi liberal adalah demokrasi berdasarkan atas hak individu suatu warga
negara yang menekankan sebuah kebebasan setiap individunya dan sering
mengabagikan kepentingan umum.
 Demokrasi Rakyat
Demokrasi rakya adalah demokrasi berdasarkan atas hak pemerintah dalam suatu
negara yang didasari dari paham sosialisme dan komunisme yang mementingkan
kepentingan negara dan kepentingan umum.
 Demokrasi pancasila
Demokrasi pancasila adalah demokrasi yang bersumber dari tata nilai sosial dan
budaya bangsa Indonesia dengan berdasarkan musyawarah dan mufakat yang
mengutamkakn kepentingan umum. Demokrasi pancasila merupakan ideologi
negara Indonesia dan berasal dari Indonesia.

10 Prinsip-Prinsip Demokrasi Secara Umum


Berikut ini akan dijelaskan prinsip-prinsip demokrasi secara universal dan
penjelasannya secara detail dan lengkap.

1. Negara berdasarkan konstitusi


Salah satu prinsip utama demokrasi adalah negara yang berdasarakan
peraturan konstitusi. Yang dimaksud konstitusi adalah undang-undang dasar
atau seluruh peraturan hukum yang berlaku di sebuah negara, yang menjadi
konsep demokrasi yang utama.

Negara demokratis menjadikan konstitusi sebagai dasar hukum dalam


kehidupan berbangsa dan bernegara. Konstitusi juga berfungsi untuk
membatasi wewenang penguasa atau pemerintah serta menjamin hak rakyat
agar pemerintah tidak sewenang-wenang kepada rakyatnya.

Tiap yang melanggar konstitusi akan diberi sanksi dan hukuman sesuai yang
telah ditetapkan sebelumnya. Konstitusi sangat penting untuk memberi batasan
baik bagi pemerintah atau rakyatnya.

2. Adanya kedaulatan rakyat


Dalam negara demokrasi, kedaulatan rakyat menjadi prinsip dasar demokrasi
yang paling penting. Prinsipnya, rakyat dilibatkan dalam proses
pemerintahan. Kedaulatan rakyat bermakna bahwa segala penyelenggaraan
negara untuk kesejahteraan rakyat harus dipertanggungjawabkan kembali
kepada rakyat.

Kedaulatan rakyat juga menegaskan bahwa rakyat adalah pemegang kekuasaan


tertinggi di sebuah negara. Hal ini sesuai dengan definisi demokrasi yakni
pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.
3. Peradilan yang bebas dan tidak memihak
Proses peradilan dalam negara demokrasi harus bersifat bebas dan tidak
memihak. Yang dimaksud peradilan bebas adalah peradilan yang berdiri sendiri
dan bebas dari campur tangan pihak lain termasuk pemerintah dan penguasa.

Selain itu proses peradilan juga harus tidak memihak. Artinya peradilan tidak
condong kepada salah satu pihak yang bersengketa di muka persidangan.

Semua orang harus mendapat perlakuan hukum yang sama dan sifatnya harus
netral. Posisi netral sangat dibutuhkan untuk melihat proses peradilan dengan
baik dan benar.

4. Kebebasan berserikat dan mengeluarkan pendapat


Prinsip pokok demokrasi selanjutnya adalah adanya kebebasan dalam
mengemukakan pendapat. Hal ini juga terkait pada kebebasan berserikat atau
berorganisasi, asalkan tidak menyalahi konstitusi. Tiap orang berhak
membentuk kelompok, serikat atau organisasi serta menyampaikan pendapat
di muka umum.

Tentu pada prakteknya ada aturan yang harus dipatuhi dan kebebasan yang
dimiliki juga harus sesuai aturan yang ada. Asalkan sesuai dengan konstitusi,
maka rakyat berhak menyampaikan pendapatan dan membentuk organisasi
sesuai tujuan mereka.

5. Pergantian kekuasaan secara berkala


Pada negara demokrasi, pergantian kekuasaan selalu dilakukan secara berkala.
Pada umumnya, manusia yang memiliki kekuasaan tidak terbatas pasti akan
menyalahgunakannya. Untuk itu perlu dilakukan pergantian kekuasaan secara
berlaka sesuai aturan konstitusi.

Pergantian kekuasaan secara berkala bertujuan untuk membatasi kekuasaan


dan meminimalisasi penyelewengan dalam pemerintahan seperti korupsi, kolusi
dan nepotisme. Pergantian seorang kepala negara atau kepala daerah pada
negara demokrasi dapat dilakukan melalui pemilihan umum yang jujur dan adil.
Di Indonesia, pemilihan presiden dilakukan selama 5 tahun sekali. Presiden pun
hanya boleh terpilih maksimal 2 periode saja, setelah itu tidak boleh
mencalonkan diri lagi sebagai presiden RI.

6. Pemilihan yang bebas, adil dan jujur


Prinsip utama demokrasi lain adalah adanya pemilihan umum untuk
menentukan kepala negara atau kepala daerah. Berlangsungnya pemilhan
umum (pemilu) harus dilakukan dengan bebas, adil dan jujur.

Bebas berarti warga berhak memilih calon yang ada tanpa paksaan. Adil berarti
semua warga yang memenuhi kriteria memiliki hak suara. Jujur berarti
rangkaian pemilu tidak boleh ada kecurangan.

Di Indonesia sendiri, pada pemilhan umum menerapkan asas luber jurdil, yakni
singkatan dari langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil.

7. Penegakan hukum dan persamaan kedudukan


Penegakan hukum menjadi isu penting dalam sebuah negara demokrasi.
Hakikatnya, pelaksanaan hukum tidak boleh berat sebelah atau pandang bulu.
Setiap perbuatan melawan hukum harus ditindak secara tegas siapapun orang
yang terlibat.

Salah satu ciri-ciri negara demokrasi adalah adanya persamaan kedudukan tiap
warga negara di mata hukum. Persamaan kedudukan warga negara di depan
hukum akan memunculkan wibawa hukum. Saat hukum memiliki wibawa,
hukum tersebut akan ditaati oleh setiap warga negara.

Artinya di muka hukum, tiap orang memiliki kedudukan yang sama, baik itu
rakyat biasa atau orang dengan jabatan tinggi seperti pejabat atau anggota
militer.

8. Pluralisme di bidang sosial, ekonomi dan politik


Dalam negara demorkasi yang penuh keragaman, prinsip pluralisme menjadi
penting. Saling menghargai dan menghormati di tengah perbedaan menjadi
penting. Keragaman yang ada bisa terjadi pada berbagai bidang baik sosial,
ekonomi maupun politik.

Perbedaan tersebut hendaknya menjadi alat pemersatu bangsa pada negara


demokrasi. Cara-cara demokrasi harus dikedepankan jika ada perbedaan
pendapat, baik melalui musyawarah atau pemilihan umum sesuai ketetapan dan
konstitusi yang ditetapkan.

Salah satu contoh negara demokrasi paling beragama adalah Indonesia yang
memiliki keragaman suku, agama, ras dan budaya yang sangat banyak, namun
tetap bisa bersatu.

9. Perlindungan HAM (Hak Asasi Manusia)


Selain hukum, isu HAM juga menjadi isu penting pada negara yang menganut
sistem demokrasi. HAM atau hak asasi manusia adalah hak dasar yang dimiliki
sejak lahir. HAM merupakan anugerah Tuhan Yang Maha Esa yang dimiliki
semua manusia.

Jaminan perlindungan HAM merupakan salah satu prinsip negara demokrasi


karena merupakan bagian dari pembangunan negara yang demokratis. Tiap
warga negara dijamin hak-hak asasinya, seperti hak hidup, hak beragama dan
berkeyakinan, hak mendapat pendidikan dan hak bekerja.

Hak asasi lain juga meliputi hak berserikat dan berorganisasi serta hak
kebebasan berpendapat. Pemerintah wajib melindungi dan menjamin HAM
bagi warganya.

10. Kebebasan pers dan media


Salah satu hal yang membedakan antara negara demokrasi dan non-demokrasi
adalah kebebasan pers dan media. Dalam contoh negara demokrasi,
pemerintah menjamin adanya kebebasan pers dan media.

Pers yang bebas dapat menjadi media bagi masyarakat untuk menyalurkan
aspirasi serta memberikan kritikan dan masukan kepada pemerintah dalam
pembuatan kebijakan publik. Pers juga bisa berfungsi sarana sosialisasi
program-program yang dibuat pemerintah.

Ciri Khas Demokrasi Pancasila Adalah:

a. Demokrasi Pancasila bersifat kekeluargaan dan kegotongroyongan yang bernapaskan


Ketuhanan Yang Maha Esa.
b. Demokrasi Pancasila harus menghargai hak-hak asasi manusia serta menjamin adanya
hak-hak minoritas.
c. Pengambilan keputusan dalam demokrasi Pancasila sedapat mungkin didasarkan atas
musyawarah untuk mufakat.
d. Demokrasi Pancasila harus bersendikan hukum, rakyat sebagai subjek demokrasi
berhak untuk ikut secara efektif untuk menentukan kehidupan bangsa dan negara.

Isi Pokok Demokrasi Pancasila Adalah:

a. Pelaksanaan Pembukaan UUD 1945 dan penjabarannya yang dituangkan dalam


Batang Tubuh dan Penjelasan UUD 1945.
b. Demokrasi Pancasila harus menghargai dan melindungi hak-hak asasi manusia.
c. Pelaksanaan kehidupan ketatanegaraan harus berdasarkan atas kelembagaan.
d. Demokrasi Pancasila harus bersendi atas hukum sebagaimana dijelaskan di dalam
Penjelasan UUD 1945, yaitu negara hukum yang demokratis.

Sementara Itu Dalam Pelaksanaannya, Demokrasi Pancasila


Berlandaskan:

a. Pancasila sila keempat, yaitu kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat dalam
kebijaksanaan permusyawaratan/perwakilan.
b. UUD 1945
1) Pembukaan UUD 1945 alinea IV yang menyatakan “ … maka disusunlah suatu
Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Indonesia
yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan
rakyat ….”

2) Batang Tubuh

Pasal 1 Ayat (2) : Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut
Undang-Undang dasar.
c. Tap MPR RI No. XII/MPR/1998 tentang pembahasan masa jabatan Presiden dan wakil
Presiden.

d. Undang-undang, yang terdiri:

1) Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan


Pendapat,

2) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1998 tentang Parpol,

3) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1998 tentang Pemilu,

4) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Susunan dan Kedudukan MPR, DPR,
dan DPRD.

Berikut periode perkembangan demokrasi di Indonesia:

Perkembangan Demokrasi Masa Revolusi Kemerdekaan


Tahun 1945 – 1950, Indonesia masih berjuang menghadapi Belanda yang ingin kembali ke
Indonesia. Pada saat itu pelaksanaan demokrasi belum berjalan dengan baik. Hal itu disebabkan
oleh masih adanya revolusi fisik. Pada awal kemerdekaan masih terdapat sentralisasi kekuasaan
hal itu terlihat Pasal 4 Aturan Peralihan UUD 1945 yang berbunyi sebelum MPR, DPR dan DPA
dibentuk menurut UUD ini segala kekuasaan dijalankan oleh Presiden denan dibantu oleh KNIP.
Untuk menghindari kesan bahwa negara Indonesia adalah negara yang absolut pemerintah
mengeluarkan:

 Maklumat Wakil Presiden No. X tanggal 16 Oktober 1945, KNIP berubah menjadi
lembaga legislatif.
 Maklumat Pemerintah tanggal 3 Nopember 1945 tentang Pembentukan Partai Politik.
 Maklumat Pemerintah tanggal 14 Nopember 1945 tentang perubahan sistem pemerintahn
presidensil menjadi parlementer

Perkembangan demokrasi pada periode ini telah meletakkan hal-hal mendasar. Pertama,
pemberian hak-hak politik secara menyeluruh. Kedua, presiden yang secara konstitusional ada
kemungkinan untuk menjadi dictator. Ketiga, dengan maklumat Wakil Presiden, maka
dimungkinkan terbentuknya sejumlah partai politik yang kemudian menjadi peletak dasar bagi
system kepartaian di Indonesia untuk masa-masa selanjutnya dalam sejarah kehidupan politik
kita.

Perkembangan Demokrasi Parlementer (1950-1959)


Periode pemerintahan negara Indonesia tahun 1950 sampai 1959 menggunakan UUD Sementara
(UUDS) sebagai landasan konstitusionalnya. Pada masa ini adalah masa kejayaan demokrasi di
Indonesia, karena hampir semua elemen demokrasi dapat ditemukan dalam perwujudan
kehidupan politik di Indonesia. Lembaga perwakilan rakyat atau parlemen memainkan peranan
yang sangat tinggi dalam proses politik yang berjalan. Perwujudan kekuasaan parlemen ini
diperlihatkan dengan adanya sejumlah mosi tidak percaya kepad pihak pemerintah yang
mengakibatkan kabinet harus meletakkan jabatannya.

Pada tahun 1950-1959 bisa disebut sebagai masa demokrasi liberal yang parlementer,
dimana presiden sebagai Kepala Negara bukan sebagai kepala eksekutif. Masa demokrasi ini
peranan parlemen, akuntabilitas politik sangat tinggi dan berkembangnya partai-partai politik.
Namun demikian praktik demokrasi pada masa ini dinilai gagal disebabkan :

 Dominannya politik aliran, sehingga membawa konsekuensi terhadap pengelolaan


konflik
 Landasan sosial ekonomi yang masih lemah
 Tidak mampunya konstituante bersidang untuk mengganti UUDS 1950
 Persamaan kepentingan antara presiden Soekarno dengan kalangan Angkatan Darat, yang
sama-sama tidak senang dengan proses politik yang berjalan

Atas dasar kegagalan itu maka Presiden mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 :

 Bubarkan konstituante
 Kembali ke UUD 1945 tidak berlaku UUD S 1950
 Pembentukan MPRS dan DPAS

Perkembangan Demokrasi Terpimpin (1959-1965)

Pengertian demokrasi terpimpin menurut Tap MPRS No. VII/MPRS/1965 adalah kerakyatan
yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan yang berintikan
musyawarah untuk mufakat secara gotong royong diantara semua kekuatan nasional yang
progresif revolusioner dengan berporoskan nasakom dengan ciri:

 Dominasi Presiden
 Terbatasnya peran partai politik
 Berkembangnya pengaruh PKI
Sejak berakhirnya pemillihan umum 1955, presiden Soekarno sudah menunjukkan gejala
ketidaksenangannya kepada partai-partai politik. Hal itu terjadi karena partai politik sangat
orientasi pada kepentingan ideologinya sendiri dan dan kurang memperhatikan kepentingan politik
nasional secara menyeluruh.disamping itu Soekarno melontarkan gagasan bahwa demokrasi
parlementer tidak sesuai dengan kepribadian bangsa indonesia yang dijiwai oleh Pancasila.

Penyimpangan masa demokrasi terpimpin antara lain:

 Mengaburnya sistem kepartaian, pemimpin partai banyak yang dipenjarakan


 Peranan Parlemen lembah bahkan akhirnya dibubarkan oleh presiden dan presiden
membentuk DPRGR
 Jaminan HAM lemah
 Terjadi sentralisasi kekuasaan
 Terbatasnya peranan pers
 Kebijakan politik luar negeri sudah memihak ke RRC (Blok Timur)

Setelah terjadi peristiwa pemberontakan G 30 September 1965 oleh PKI, menjadi tanda akhir
dari pemerintahan Orde Lama.

Perkembangan Demokrasi dalam Pemerintahan Orde Baru


Pemerintahan Orde Baru ditandai oleh Presiden Soeharto yang menggantikan Ir. Soekarno sebagai
Presiden kedua Indonesia. Pada masa orde baru ini menerapkan Demokrasi Pancasila untuk
menegaskan bahwasanya model demokrasi inilah yang sesungguhnya sesuai dengan ideologi
negara Pancasila.

Awal Orde baru memberi harapan baru pada rakyat pembangunan disegala bidang melalui Pelita
I, II, III, IV, V dan pada masa orde baru berhasil menyelenggarakan Pemilihan Umum tahun 1971,
1977, 1982, 1987, 1992, dan 1997.Namun demikian perjalanan demokrasi pada masa orde baru
ini dianggap gagal sebab:

 Rotasi kekuasaan eksekutif hampir dikatakan tidak ada


 Rekrutmen politik yang tertutup
 Pemilu yang jauh dari semangat demokratis
 Pengakuan HAM yang terbatas
 Tumbuhnya KKN yang merajalela
 Sebab jatuhnya Orde Baru:
 Hancurnya ekonomi nasional ( krisis ekonomi )
 Terjadinya krisis politik
 TNI juga tidak bersedia menjadi alat kekuasaan orba
 Gelombang demonstrasi yang menghebat menuntut Presiden Soeharto untuk turun jadi
Presiden.
Orde Baru mewujudkan dirinya sebagai kekuatan yang kuat dan relatif otonom, dan sementara
masyarakat semakin teralienasi dari lingkungan kekuasaan danproses formulasi kebijakan. Kedaan
ini adalah dampak dari (1) kemenangan mutlak dari kemenangan Golkar dalam pemilu yang
memberi legitimasi politik yangkuat kepada negara; (2) dijalankannya regulasi-regulasi politik
semacam birokratisasai, depolitisasai, dan institusionalisasi; (3) dipakai pendekatan keamanan; (4)
intervensi negara terhadap perekonomian dan pasar yang memberikan keleluasaan kepda negara
untuk mengakumulasikan modal dan kekuatan ekonomi; (5) tersedianya sumber biaya
pembangunan, baik dari eksploitasi minyak bumi dan gas serta dari komoditas nonmigas dan pajak
domestik, mauppun yang berasal dari bantuan luar negeri, dan akhirnya (6) sukses negara orde
baru dalam menjalankan kebijakan pemenuhan kebutuhan pokok rakya sehingga menyumbat
gejolak masyarakat yang potensinya muncul karena sebab struktural.

Perkembangan Demokrasi Pada Masa Reformasi (1998 Sampai Dengan Sekarang)


Sejak runtuhnya Orde Baru yang bersamaan waktunya dengan lengsernya Presiden Soeharto,
maka Indonesia memasuki suasana kehidupan kenegaraan yang baru, sebagai hasil dari kebijakan
reformasi yang dijalankan terhadap hampir semua aspek kehidupan masyarakat dan negara yang
berlaku sebelumnya. Kebijakan reformasi ini berpuncak dengan di amandemennya UUD 1945
(bagian Batangtubuhnya) karena dianggap sebagai sumber utama kegagalan tataan kehidupan
kenegaraan di era Orde Baru.

Berakhirnya masa orde baru ditandai dengan penyerahan kekuasaan dari Presiden Soeharto ke
Wakil Presiden BJ Habibie pada tanggal 21 Mei 1998.
Masa reformasi berusaha membangun kembali kehidupan yang demokratis antara lain:

 Keluarnya Ketetapan MPR RI No. X/MPR/1998 tentang pokok-pokok reformasi


 Ketetapan No. VII/MPR/1998 tentang pencabutan tap MPR tentang Referandum
 Tap MPR RI No. XI/MPR/1998 tentang penyelenggaraan Negara yang bebas dari KKN
 Tap MPR RI No. XIII/MPR/1998 tentang pembatasan Masa Jabatan Presiden dan Wakil
Presiden RI
 Amandemen UUD 1945 sudah sampai amandemen I, II, III, IV
 Pada Masa Reformasi berhasil menyelenggarakan pemiluhan umum sudah dua kali yaitu
tahun 1999 dan tahun 2004.

Demokrasi yang diterapkan Negara kita pada era reformasi ini adalah demokresi Pancasila, namun
berbeda dengan orde baru dan sedikit mirip dengan demokrasi perlementer tahun 1950 1959.
Perbedaan demkrasi reformasi dengan demokrasi sebelumnya adalah:

 Pemilu yang dilaksanakan (1999-2004) jauh lebih demokratis dari yang sebelumnya.
 Ritasi kekuasaan dilaksanakan dari mulai pemerintahan pusat sampi pada tingkat desa.
 Pola rekruitmen politik untuk pengisian jabatan politik dilakukan secara terbuka.
 Sebagian besar hak dasar bisa terjamin seperti adanya kebebasan menyatakan pendapat
Contoh Demokrasi Di Lingkungan Keluarga,Sekolah,Masyarakat

Demokrasi adalah ideologi bangsa kita Indonesia, dan dalam penerapan sistem demokrasi kita tidak
hanya di tuntut untuk negara saja, tetapi juga berdemokrasi dalam lingkungan keluarga, sekolah, dan
masyarakat, berikut adalah Contoh Demokrasi Di Lingkungan Keluarga, Sekolah, Masyarakat

DEMOKRASI DI LINGKUNGAN KELUARGA

1. Berlaku adil terhadap semua anggota keluarga tanpa pilih kasih

2. Memberikan kesempatan pada anggota keluarga untuk memberikan saran, kritik demi
kesejahteraan keluarga

3. Mengerjakan tugas rumah sesuai dengan perannya dalam keluarga

4. Saling menghormati dan menyayangi

5. Menempatkan Ayah sebagai kepala keluarga

6. Melakukan rapat keluarga jika diperlukan

7. Memahami tugas & kewajiban masing-masing

8. Menempatkan anggota keluarga sesuai dengan kedudukannya

9. Mengatasi dan memecahkan masalah dengan jalan musyawarah mufakat.

10. Saling menghargai perbedaan pendapat masing-masing anggota keluarga.

11. Mendahulukan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadi.

DEMOKRASI DI LINGKUNGAN SEKOLAH

1. Pemilihan organisasi sekolah dan kelas dengan musyawarah

2. Pembagian tugas piket yang merata

3. Interaksi dan komunikasi yang lancar antara guru, siswa, dan orang di lingkungan sekolah

4. Pelaksanaan upacara dengan bergantian

5. Menghadiri acara yang diadakan sekolah

6. Ikut berpartispasi dalam OSIS

7. Ikut serta dalam kegiatan politik di sekolah seperti pemilihan ketua OSIS, ketua kelas, maupun
kegiatan yang lain yang relevan.

8. Memberikan usul, saran, dan pesan kepada pihak sekolah

9. Menulis artikel, pendapat, opini di majalah dinding.

10. Hadir disekolah tepat waktu


11. Membayar SPP atau iuran wajib skolah

12. Saling menghargai pendapat orang lain.

DEMOKRASI DI LINGKUNGAN MASYARAKAT

1. Bersama-sama menjaga kedamaian masyarakat.

2. Pemilihan organisasi masyarakat melalui musyawarah

3. Berusaha mengatasi masalah yang timbul dengan pemikiran yang jernih.

4. Mengikuti kegiatan yang diadakan oleh desa

5. Mengikuti kegiatan kerja bakti

6. Bersama-sama memberikan ususlan demi kemajuan masyarakat.

7. Saling tenggang rasa sesama warga

8. Menghargai pendapat orang lain

9. Memberi usul, kritik, dan saran untuk kesejahteraan desa

10. Mengimplikasikan dana untuk desa dengan benar

11. Ikut berpartisipasi dalam iuran desa

12. Memecahkan masalah dengan musyawarah mufakat

Contoh Demokrasi Di Lingkungan Keluarga, Sekolah, Masyarakat

← HUKUM PERDATA
SUBJEK DAN OBJEK HUKUM →

SUMBER HUKUM FORMAL


Posted on April 22, 2012by agrma
Sumber-sumber hukum dibagi menjadi 2 jenis yaitu sumber hukum material dan
sumber hukum formal. Di sini saya akan membahas sumber-sumber hukum formal di
indonesia.
sumber hukum formal merupakan sumber hukum yang ditinjau dari segi bentuknya,
sumber hukum ini sudah memiliki bentuk tertentu sehingga kita dapat menemukan dan
mengenal suatu bentuk hukum dan menjadi faktor yang memberlakukan dan
mempengaruhi kaidah atau aturan hukum. Sumber hukum formal ini biasanya
digunakan oleh para hakim, jaksa dan penasehat hukum sebagai dasar atau
pertimbangan untuk membuat putusan, rumusan tuntutan dan atau sebagai nasehat
hukum kepada kliennya. Sumber-sumber hukum formil dalam tata negara dikenal
dengan istilah kenbron.
Sumber-sumber hukum formal secara umum dapat dibedakan menjadi:
1. Undang-Undang “Statute”:
Undang-undang dalam hukum Indonesia lebih dikenal dengan singkatan UU. Undang-
undang di Indonesia menjadi dasar hukum negara Indonesia. Undang-undang di
Indonesia berfungsi sebagai pedoman yang mengatur kehidupan bersama seluruh
rakyat Indonesia dalam rangka meujudkan tujuan hidup bernegara.
2. Kebiasaan atau “custom”:
Kebiasaan juga dapat menjadi salah satu sumber-sumber hukum karena kebiasaan
merupakan perbuatan manusia yang dilakukan berulang-ulang. Perbuatan tertentu
yang dilakukan berulang-ulang tersebut pada gilirannya dapat diterima sebagai
kebiasaan tertentu sehingga apabila terdapat perbuatan yang bertentangan dengan
kebiasaan tersebut dapat dianggap pelanggaran hukum dan dikenakan sanksi.
3. Keputusan Hakim atau “Jurisprudentie”:
Sumber-sumber-hukumKeputusan hakim atau yurisprudensi juga dapat menjadi salah
satu dari sumber-sumber hukum oleh karena dalam sistem negara hukum kita
keputusan hakim dapat dijadikan sebagai pedoman bagi hakim yang lain dalam
memutuskan kasus yang sama.
4. Traktat atau “Treaty”:
Traktat ialah perjanjian yang diadakan oleh beberapa negara atau antar negara yang
dituangkan dalam bentuk tertentu. Traktat tersebut dapat menjadi sumber bagi
pembentukan peraturan hukum.
5. Pendapat Sarjana Hukum atau “Doktrin”:
Yang dimaksud dengan pendapat sarjana hukum disini adalah pendapat seseorang atau
beberapa orang ahli hukum terhadap suatu masalah tertentu. Hal ini didukung Piagam
Mahkamah Internasional dalam pasal 38 ayat 1, yang menyebutkan bahwa:
“Dalam menimbang dan memutus suatu perselisihan dapat menggunakan beberapa
pedoman antara lain:
*Perjanjian-perjanjian internasional atau International conventions
*Kebiasaan-kebiasaan internasional atau international customs
*Asas-asas hukum yang diakui oleh bangsa-bangsa yang beradab atau the general
principles of law
recognized by civilsed nations
*Keputusan hakim atau judicial decisions dan pendapat-pendapat sarjana hukum”
6. PP (Peraturan Pemerintah):
Sesuai dengan Pasal 5 ayat (2) UUD 1945, Presiden menetapkan Peraturan Pemerintah
untuk menjalankan undang-undang.
7. Kepres dan Inpres:
Keputusan Presiden (Kepres) dibuat dan dikeluarkan oleh Presiden yang memuat
tentang hal-hal yang khusus (einmalig) dalam hal pemerintahan
8. Peraturan Menteri dan Keputusan Menteri:
Peraturan Menteri dikeluarkan oleh Menteri berisi tentang ketentuan-ketentuan di
bidang tugasnya sedangkan Keputusan Menteri (Kepmen) bersifat khusus memuat
tentang hal-hal tertentu sesuai dengan bidang tugasnya.
9. Peraturan Daerah (Perda) dan Keputusan Kepala Daerah:
Peraturan daerah merupakan penjabaran lebih lanjut dari peraturan perundang-
undangan yang lebih tinggi dengan memperhatikan ciri khas masing-masing daerah
dan bersifat umum, yang mana harus memenuhi syarat negatif, yaitu ;
tidak boleh bertentangan dengan kepentingan umum, perundang-undangan yang lebih
tinggi
tidak boleh mengatur suatu hak yang telah diatur dalam perundang-undangan dan
peraturan daerah yang lebih tinggi
Demikian macam-macam sumber hukum secara formal yang berlaku di indonesia.
Arti dari sumber hokum dan formal
1. Sumber Hukum dalam arti material, yaitu: suatu keyakinan/ perasaan hukum
individu dan pendapat umum yang menentukan isi hukum. Dengan demikian
keyakinan/ perasaan hukum individu (selaku anggota masyarakat) dan juga pendapat
umum yang merupakan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pembentukan hukum.

2. Sedangkan sumber hukum dalam arti Formal, yaitu: bentuk atau kenyataan dimana
kita dapat menemukan hukum yang berlaku. Jadi karena bentuknya itulah yang
menyebabkan hukum berlaku umum, diketahui, dan ditaati.
Adapun yang termasuk sumber hukum dalam arti formal adalah :
1) Undang-undang
2) Kebiasaan atau hukum tak tertulis
3) Yurisprudensi
4) Traktat
5) Doktrin

1) Undang-undang
Dilihat dari bentuknya, hukum dibedakan menjadi:
(a). Hukum tertulis
(b). Hukum tidak tertulis
Undang-undang merupakan salah satu contoh dari hukum tertulis. Jadi, Undang-
undang adalah peraturan negara yang dibentuk oleh alat perlengkapan negara yang
berwenang untuk itu dan mengikat masyarakat umum.
Dari definisi undang-undang tersebut, terdapat 2 (dua) macam pengertian:
a. Undang-undang dalam arti materiil, yaitu: setiap peraturan yang dikeluarkan oleh
Negara yang isinya langsung mengikat masyarakat umum. Misalnya:
Ketetapan MPR, Peraturan pemerintah Pengganti Undang-Undang (PERPU),
Keputusan Presiden (KEPRES), Peraturan Daerah (PERDA), dll
b. Undang-undang dalam arti formal, yaitu: setiap peraturan negara yang karena
bentuknya disebut Undang-undang atau dengan kata lain setiap keputusan/peraturan
yang dilihat dari cara pembentukannya. Di Indonesia, Undang-undang dalam arti
formal dibuat oleh Presiden dengan persetujuan DPR(lihat pasal 5 ayat 1 UUD 45).
Perbedaan dari kedua macam Undang-undang tersebut terletak pada sudut
peninjauannya. Undang-undang dalam arti materiil ditinjau dari sudut isinya yang
mengikat umum, sedangkan undang-undang dalam arti formal ditinjau segi pembuatan
dan bentuknya. Oleh karena itu untuk memudahkan dalam membedakan kedua macam
pengertian undang-undang tersebut, maka undang-undang dalam arti materiil biasanya
digunakan istilah peraturan, sedangkan undang-undang dalam arti formal disebut
dengan undangundang.

2) Kebiasaan atau Hukum tak tertulis


Kebiasaan (custom) adalah: semua aturan yang walaupun tidak ditetapkan oleh
pemerintah, tetapi ditaati oleh rakyat, karena mereka yakin bahwa aturan itu berlaku
sebagai hukum. Agar kebiasaan memiliki kekuatan yangberlaku dan sekaligus menjadi
sumber hukum, maka harus dipenuhi syarat sebagai berikut:
o Harus ada perbuatan atau tindakan tertentu yang dilakukan berulangkali dalam hal
yang sama dan diikuti oleh orang banyak/ umum.
o Harus ada keyakinan hukum dari orang-orang/ golongan-golongan yang
berkepentingan. dalam arti harus terdapat keyakinan bahwa aturan-aturan yang
ditimbulkan oleh kebiasaan itu mengandung/ memuat hal-hal yang baik dan layak
untuk diikuti/ ditaati serta mempunyai kekuatan mengikat.

3) Yurispudensi
adalah: keputusan hakim terdahulu yang kemudian diikuti dan dijadikan pedoman oleh
hakim-hakim lain dalam memutuskan suatu perkara yang sama.
4) Traktat
Adalah: perjanjian yang dilakukan oleh kedua negara atau lebih. Perjanjian yang
dilakukan oleh 2 (dua) negara disebut Traktat Bilateral, sedangkan Perjanjian yang
dilakukan oleh lebih dari 2 (dua) negara disebut Traktat Multilateral. Selain itujuga ada
yang disebut sebagai Traktat Kolektif yaitu perjanjian antara beberapa negara dan
kemudian terbuka bagi negara-negara lainnya untuk mengikatkan diri dalam perjanjian
tersebut.

5) Doktrin Hukum
Adalah: pendapat para ahli atau sarjana hukum ternama/ terkemuka. Dalam
Yurispudensi dapat dilihat bahwa hakim sering berpegangan pada pendapat seorang
atau beberapa sarjana hukum yang terkenal namanya. Pendapat para sarjana hukum itu
menjadi dasar keputusan-keputusan yang akan diambil oleh seorang hakim dalam
menyelesaikan suatu perkara.

A. Pengertian Hukum
Ketiadaan definisi hukum yang dapat diterima oleh seluruh pakar dan ahli hukum pada gilirannya
memutasi adanya permasalahan mengenai ketidaksepahaman dalam definisi hukum menjadi
mungkinkah hukum didefinisikan atau mungkinkah kita membuat definisi hukum ? Lalu berkembang
lagi menjadi perlukah kita mendefinisikan hukum ?

Ketiadaan definisi hukum jelas menjadi kendala bagi mereka yang baru saja ingin mempelajari ilmu
hukum. Tentu saja dibutuhkan pemahaman awal atau pengertian hukum secara umum sebelum
memulai untuk mempelajari apa itu hukum dengan berbagai macam aspeknya. Bagi masyarakat
awam pengertian hukum itu tidak begitu penting. Lebih penting penegakannya dan perlindungan
hukum yang diberikan kepada masyarakat.
Materi Hukum

Setiap orang akan berurusan atau terikat dengan hukum. Namun, apa sesungguhnya hukum itu? Kita
sulit mendefinisikan secara lengkap. Hal itu dikarenakan hukum memiliki pengertian yang luas.
Banyak ahli hukum memberikan pengertian hukum secara berbeda-beda, tetapi belum ada satu
pengertian yang mutlak dan memuaskan semua pihak tentang hukum itu.

Defenisi Hukum Menurut Para Ahli

Hukum ialah salah satu dari norma dalam masyarakat. Berbeda dari tiga norma lainnya, norma hukum
memiliki sanksi yang lebih tegas. Hukum sulit didefinisikan karena kompleks dan beragamnya sudut
pandang yang hendak dikaji. Beberapa pengertian hukum menurut para ahli hukum adalah sebagai
berikut :

1. Drs. E. Utrecht, S.H.

Dalam bukunya yang berjudul Pengantar dalam Hukum Indonesia (1953), beliau mencoba membuat
suatu batasan sebagai pegangan bagi orang yang sedang mempelajari ilmu hukum. Menurutnya,
hukum ialah himpunan peraturan-peraturan (perintah dan larangan) yang mengatur tata tertib
kehidupan bermasyarakat yang seharusnya ditaati oleh anggota masyarakat yang bersangkutan
karena pelanggaran petunjuk hidup itu dapat menimbulkan tindakan dari pihak pemerintah.

2. Achmad Ali

Hukum adalah seperangkat norma tentang apa yang benar dan apa yang salah, yang dibuat atau
diakui eksistensinya oleh pemerintah, yang dituangkan baik dalam aturan tertulis (peraturan) ataupun
yang tidak tertulis, yang mengikatdan sesuai dengan kebutuhan masyarakatnya secara keseluruhan,
dan dengan ancaman sanksi bagi pelanggar aturan itu.

3. Immanuel Kant

Hukum ialah keseluruhan syarat-syarat yang dengan ini kehendak bebas dari orang yang satu dapat
menyesuaikan diri dengan kehendak bebas dari orang lain, menuruti peraturan hukum tentang
kemerdekaan (1995).

4. Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja


Hukum ialah keseluruhan kaidah-kaidah serta asas-asas yang mengatur pergaulan hidup dalam
masyarakat dan bertujuan memelihara ketertiban serta meliputi lembaga-lembaga dan proses guna
mewujudkan berlakunya kaidah sebagai kenyataan dalam masyarakat.

5. J.C.T. Simorangkir

Hukum adalah peraturan yang bersifat memaksa dan menentukan tingkah laku manusia dalam
lingkungan masyarakat dan dibuat oleh lembaga berwenang.

6. Mr. E.M. Meyers

Hukum adalah semua aturan yang mengandung pertimbangan kesusilaan. Ditujukan kepada tingkah
laku manusia dalam masyarakat dan yang menjadi pedoman bagi penguasapenguasa negara dalam
melakukan tugasnya.

7. S.M. Amin

Dalam bukunya yang berjudul “Bertamasya ke Alam Hukum,” hukum dirumuskan sebagai berikut:
Kumpulan kumpulan peraturan yang terdiri atas norma dan sanksi sanksi. Tujuan hukum itu adalah
mengadakan ketertiban dalam pergaulan manusia, sehingga keamanan dan ketertiban terpelihara.

8. P. Borst

Hukum adalah keseluruhan peraturan bagi kelakuan atau perbuatan manusia di dalam masyarakat.
Yang pelaksanaannya dapat dipaksakan dan bertujuan mendapatkan tata atau keadilan.

9. Prof. Dr. Van Kan

Hukum adalah keseluruhan peraturan hidup yang bersifat memaksa untuk melindungi kepentingan
manusia di dalam masyarakat.

Jadi, hukum adalah suatu sistem yang dibuat manusia untuk membatasi tingkah laku manusia agar
tingkah laku manusia dapat terkontrol , hukum adalah aspek terpenting dalam pelaksanaan atas
rangkaian kekuasaan kelembagaan, Hukum mempunyai tugas untuk menjamin adanya kepastian
hukum dalam masyarakat. Oleh karena itu setiap masyarat berhak untuk mendapat pembelaan
didepan hukum sehingga dapat di artikan bahwa hukum adalah peraturan atau ketentuan-ketentuan
tertulis maupun tidak tertulis yang mengatur kehidupan masyarakat dan menyediakan sangsi bagi
pelanggarnya.

B. Unsur-unsur Hukum
1. Apabila kita lihat dari beberapa perumusan tentang berbagai pengertian hukum, dapatlah
diambil kesimpulan bahwa hukum itu meliputi unsur-unsur :
2. peraturan mengenai tingkah laku manusia dalam pergaulan masyarakat;
3. peraturan itu diadakan oleh badan-badan resmi yang berwajib;
4. peraturan itu bersifat memaksa; dan
5. sanksi terhadap pelanggaran peraturan tersebut adalah tegas.

Agar tata tertib dalam masyarakat itu tetap terpelihara, maka haruslah kaidah-kaidah hukum itu ditaati.
Akan tetapi, tidaklah semua orang mau menaati kaidah-kaidah hukum itu. Agar supaya sesuatu
peraturan hidup kemasyarakatan benar-benar dipatuhi dan ditaati sehingga menjadi kaidah hukum,
maka peraturan hidup kemasyarakatan itu harus diperlengkapi dengan unsur memaksa.

Dengan demikian, hukum itu mempunyai sifat mengatur dan memaksa. Barangsiapa yang dengan
sengaja melanggar sesuatu kaidah hukum akan dikenakan sanksi yang berupa hukuman. Sifat hukum
yang demikian itu menunjukkan ciri-ciri hukum, yaitu :

1. adanya perintah dan atau larangan;


2. perintah dan atau larangan itu harus dipatuhi setiap orang; dan
3. adanya sanksi atau hukuman.

C. Ciri-Ciri Hukum
Hukum mempunyai sifat universal seperti ketertiban, ketenteraman, kedamaian, kesejahteraan dan
kebahagiaan dalam tata kehidupan bermasyarakat. Dengan adanya hukum maka tiap perkara dapat
di selesaikan melaui proses pengadilan dengan prantara hakim berdasarkan ketentuan hukum yang
berlaku,selain itu Hukum bertujuan untuk menjaga dan mencegah agar setiap orang tidak dapat
menjadi hakim atas dirinya sendiri.

Berikut adalah ciri-ciri hukum :

1. Peraturan mengenai tingkah laku manusia dalam pergaulan masyarakat;


2. Peraturan itu diadakan oleh badan-badan resmi yang berwajib;
3. Peraturan itu bersifat memaksa;
4. Sanksi terhadap pelanggaran peraturan tersebut tegas;
5. Berisi perintah dan atau larangan; dan
6. Perintah dan atau larangan itu harus dipatuhi oleh setiap orang.

D. Sifat Hukum
Hugo de Groot dalam "De Jure Belli ac facis" (1625) yang mengatakan bahwa
pengertian hukum adalah peraturan tentang perbuatan moral yang menjamin keadilan.

Hukum adalah salah satu dari norma yang ada dalam masyarakat. Norma hukum memiliki hukuman
yang lebih tegas. Hukum merupakan untuk menghasilkan keteraturan dalam masyarakat, agar dapat
terwujud keseimbangan dalam masyarakat dimana masyarakat tidak bisa sebebas-bebasnya dalam
bermasyarakat, mesti ada batasan agar ketidakbebasan tersebut dapat menghasilkan keteraturan.
Ada berbagai macam pengertian hukum menurut para ahli, sehingga membuat tidak adanya
pengertian dari hukum yang memiliki satu arti.

Berikut ini adalah sifat dari hukum, sebagai berikut :

a. Besifat Mengatur

Hukum dikatakan memiliki sifat mengatur karena hukum memuat berbagai peraturan baik dalam
bentuk perintah maupun larangan yg mengatur tingkah laku manusia dalam hidup bermasyarakat
demi terciptanya ketertiban di masyarakat
b. Bersifat Memaksa

Hukum dikatakan memiliki sifat memaksa karena hukum memiliki kemampuan dan kewenangan
memaksa anggota masyarakat untuk mematuhinya. hal ini dibuktikan dengan adanya sanksi yg tegas
terhadap orang-orang yg melakukan pelanggaran terhadap hukum.

c. Bersifat Melindungi

Hukum dikatakan memiliki sifat melindungi karena hukum dibentuk untuk melindungi hak tiap-tiap
orang serta menjaga keseimbangan yg serasi antara berbagai kepentingan yg ada.

E. Tujuan Hukum
Dalam literatur hukum, dikenal ada dua teori tentang tujuan hukum, yaitu teori etis dan utilities. Teori
etis mendasarkan pada etika. isi hukum itentukan oleh keyakinan kita yang etis tentang yang adil dan
tidak. Menurut teori ini, hukum bertujuan untuk semata-mata mencapai keadilan dan memberikannya
kepada setiap orang yang menjadi haknya.

Tujuan hukum mempunyai sifat universal seperti ketertiban, ketenteraman, kedamaian, kesejahteraan
dan kebahagiaan dalam tata kehidupan bermasyarakat. Dengan adanya hukum maka tiap perkara
dapat di selesaikan melaui proses pengadilan dengan prantara hakim berdasarkan ketentuan hukum
yang berlaku, selain itu hukum bertujuan untuk menjaga dan mencegah agar setiap orang tidak dapat
menjadi hakim atas dirinya sendiri.

Sedangkan teori utilities, hukum bertujuan untuk memberikan faedah bagi sebanyak-banyaknya orang
dalam masyarakt. Pada hikikatnya, tujuan hukum adalah manfaat dalam memberikan kebahagiaan
atau kenikmatan besar bagi jumlah yang terbesar.

Berikut adalah Tujuan Hukum :

1. Mendatangkan kemakmuran masyarakat mempunyai tujuan;


2. Mengatur pergaulan hidup manusia secara damai;
3. Memberikan petunjuk bagi orang-orang dalam pergaulan masyarakat;
4. Menjamin kebahagiaan sebanyak-banyaknya pada semua orang;
5. Sebagai sarana untuk mewujudkan keadilan sosial lahir dan batin;
6. Sebagai sarana penggerak pembangunan; dan
7. Sebagai fungsi kritis.

Berkenaan dengan tujuan hukum (menjamin kepastian hukum), ada beberapa pendapat dari para ahli
hukum sebagai berikut :

1. Aristoteles (Teori Etis )

Tujuan hukum semata-mata mencapai keadilan. Artinya, memberikan kepada setiap orang, apa yang
menjadi haknya. Disebut teori etis karena isi hukum semata-mata ditentukan oleh kesadaran etis
mengenai apa yang adil dan apa yang tidak adil.

2. Jeremy Bentham (Teori Utilitis )


Hukum bertujuan untuk mencapai kemanfaatan. Artinya hukum bertujuan menjamin kebahagiaan bagi
sebanyak-banyaknya orang/masyarakat (Jeremy Bentham : 1990).

3. Geny (D.H.M. Meuvissen : 1994)

Hukum bertujuan untuk mencapai keadilan, dan sebagai unsur keadilan adalah ”kepentingan daya
guna dan kemanfaatan”.

4. Van Apeldorn

Tujuan hukum ialah mengatur pergaulan hidup manusia secara damai. Hukum menghendaki
perdamaian. Perdamaian di antara manusia dipertahankan oleh hukum dengan melindungi
kepentingan-kepentingan hukum manusia seperti: kehormatan, kemerdekaan jiwa, harta benda dari
pihak-pihak yang merugikan (Van Apeldorn : 1958).

5. Prof Subekti S.H.

Tujuan hukum adalah menyelenggarakan keadilan dan ketertiban sebagai syarat untuk
mendatangkan kemakmuran dan kebahagiaan (Subekti : 1977).

6. Purnadi dan Soerjono Soekanto

Tujuan hukum adalah kedaimaian hidup manusia yang meliputi ketertiban ekstern antarpribadi dan
ketenangan intern pribadi (Purnadi - Soerjono Soekanto: 1978).

F. Fungsi Hukum
Apabila kita perhatikan definisi-definisi hukum atau rumusan dari para sarjana hukum tersebut, pada
dasarnya kita dapat menemukan adanya unsur-unsur hukum, ciri-ciri hukum, dan sifat hukum.

Adapun fungsi dari hukum adalah, sebagai berikut :

1. Sebagai Perlindungan, Hukum melindungi masyarakat dari ancaman bahaya;


2. Fungsi Keadilan, Hukum sebagai penjaga, pelindung dan memberikan keadilan bagi manusia;
dan
3. Dalam Pembangunan, Hukum dipergunakan sebagai acuan tujuan negara.

Fungsi dari hukum secara umum adalah :

1. Hukum berfungsi untuk melindungi kepentingan manusia;


2. Hukum berfungsi sebagai alat untuk ketertiban dan keteraturan masyarakat;
3. Hukum berfungsi sebagai sarana untuk mewujudkan keadilan sosial (lahir batin);
4. Hukum berfungsi sebagai alat perubahan social (penggerak pembangunan);
5. Sebagai alat kritik (fungsi kritis); dan
6. Hukum berfungsi untuk menyelesaikan pertikaian.

Tugas dari Hukum adalah sebagai berikut :

1. Menjamin adanya kepastian hukum;


2. Menjamin keadilan, kebenaran, ketentraman dan perdamaian; dan
3. Menjaga jangan sampai terjadi perbuatan main hakim sendiri dalam pergaulan masyarakat.

Hukum Di Indonesia Dibagi Menjadi Beberapa Golongan Yaitu :


1. Menurut Sumbernya
Menurutnya sumbernya hukum dibagi menjadi 5 bagian yaitu :
1. Undang-Undang (wetten recht) : Hukum yang ada dalam peraturan Perundang-
Undangan.
2. Hukum Ilmu (gewoonte-en adat recht) : Hukum berdasarkan pandangan para
ahli hukum.
3. Yurisprudensi (tractaten recht) : Hukum Berdasarkan keputusan hakim.
4. Traktat (yurisprudentie recht) : Hukum berdasarkan Perjanjian antar negara.
5. Kebiasaan (wetenscaps recht) : Hukum berdasarkan kebiasaan adat.
2. Menurut Tempat Berlakunya
Menurut tempat berlakunya hukum dibagi menjadi 3 bagian yaitu :
1. Hukum Nasional : Hukum yang ada pada sebuah negara.
2. Hukum Internasional : Hukum yang berhubungan dengan hubungan diantara
beberapa negara.
3. Hukum Asing : Hukum yang berada di negara lain.
3. Menurut Bentuknya
Menurut bentuknya hukum dibagi menjadi 2 bagian yaitu :
1. Hukum Tertulis : Adalah hukum yang ada di dalam kitab hukum atau
perundang-undangan
2. Hukum Tidak Tertulis : Hukum yang ada di dalam masyarakat namun tidak ada
dokumen maupun surat surat yang menyatakan hukum tersebut. Misalnya
seperti hukum adat.
4. Menurut Cara Mempertahankannya
1. Hukum Materil : Hukum yang berwujud perintah dan larangan seperti Hukum
Pidana, Hukum Dagang, dan Hukum Perdata
2. Hukum Formil : Sering juga disebut Hukum Acara atau Hukum Proses. Adalah
Hukum yang berhubungan dengan segala kegiatan tindak lanjut hukum di
pengandilan. Seperti bagai mana cara mengajukan hukum ke pengadilan, dan lain
sebagainya.
5. Menurut Waktu Berlakunya
Menurut waktu berlakunya hukum dibagi menjadi 3 bagian yaitu :
1. Ius Constitutum Atau Hukum Positif : Hukum yang sedang berlaku sekarang
dan di jalankan oleh masyarakat
2. Ius Constituendum : Hukum yang di harapkan akan berlaku di masa depan.
3. Ius Naturale Atau Hukum Alam : Hukum yang selalu ada di manapun dan
kapanpun tanpa mengenal apapun dan tanpa memiliki batas waktu seperti
keadilan
6. Menurut Sifatnya
Menurut sifatnya hukum dibagi menjadi 2 bagian yaitu :
1. Hukum Yang Memaksa : Hukum yang bersifat memaksa dan mempunyai sifat
paksaan mutlak. seperti seseorang yang sebelum di penjara harus di proses
terlebih dahulu dalam pengadilan tanpa pandang bulu, tidak boleh langsung di
penjara.
2. Hukum Yang Mengatur : Adalah Hukum yang dapat dikesampingkan jika
terdapat persetujuan dari kedua belah pihak atau pihak2 yang bersangkutan.
7. Menurut Wujudnya
Menurut wujudnya hukum dibagi menjadi 2 bagian yaitu :
1. Hukum Objektif : Adalah hukum yang berlaku umum dan tidak mengenal
siapapun termasuk orang atau golongan tertentu.
2. Hukum Subjektif ( Hak ) : Adalah hukum yang mengenal orang tertentu atau
bisa juga disebut hak.
8. Menurut Isinya
Menurut isinya hukum dibagi menjadi 2 yaitu :
1. Hukum Privat : Adalah hukum yang mengatur hubungan orang dengan menitik
beratkan kepada kepentingan perorangan.
2. Hukum Publik : Hukum yang mengatur hubungan Negara dengan perorangan
maupun antar Negara dengan alat alat perlengapan.
30 Contoh Sikap Taat Terhadap Hukum

A. Dalam Lingkungan Keluarga


Setiap anggota keluarga mesti bisa mengembangkan kesadaran diri dengan cara
membiasakan sikap atau berperilaku diantaranya seperti:

1. Patuh terhadap orang tua.


2. Menjaga nama baik keluarga.
3. Menghormati anggota keluarga.
4. Menaati aturan yang telah diputuskan bersama.
5. Mendengar nasihat terutama dari orang tua.
6. Melaksanakan ibadah tepat waktu.
B. Dalam Lingkungan Sekolah
Lingkungan sekolah menjadi tempat penting dalam memulai pembelajaran
mengenai pembentukan pribadi seseorang. Adapun contoh sikap taat terhadap
hukum di sekolah yaitu:

1. Memakai seragam sekolah sesuai jadwal/hari.


2. Datang dan pulang tepat waktu.
3. Memperhatikan guru ketika mengajar/menjelaskan.
4. Belajar dengan tertib di kelas.
5. Mengerjakan pekerjaan rumah/tugas-tugas yang diberikan.
6. Mematuhi tata tertib yang berlaku.
C. Dalam Lingkungan Masyarakat

Dengan mematuhi hukum di masyarakat, ternyata bisa menciptakan suasana


yang nyaman dan tenteram bagi setiap warga masyarakat, contoh perilaku taat
terhadap hukum:

1. Ikut serta dalam kegiatan di masyarakat, misalnya kerja bakti, siskamling,


dll.
2. Menghormati tetangga sekitar.
3. Membayar iuran yang telah disepakati.
4. Tidak atau menghindari perbuatan yang bisa membuat warga resah,
misalnya mabuk.
5. Menjaga nama baik lingkungan masyarakat.
6. Taat dan patuh terhadap aturan yang ada.
7. Tidak bertindak diluar norma Agama.
8. Selalu berusaha menjaga ketertiban, keamanan, dan ketenteraman.
D. Dalam Kehidupan Berbangsa/Negara
Contoh bentuk sadar hukum di dalam lingkup Bangsa dan Negara diantaranya:

Pelajari juga: 4 Unsur LENGKAP Terbentuknya Negara (+Penjelasan)


1. Menjaga kelestarian alam sekitar.
2. Menjaga kebersihan lingkungan, misalnya membuang sampauh pada
tempatnya.
3. Menjaga nama baik Bangsa dan Negara.
4. Membuat/memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) jika sudah cukup umur.
5. Mempunyai Surat Ijin Mengemudi (SIM) ketika mengendarai kendaraan.
6. Membayar pajak.
7. Taat dan patuh kepada aturan yang telah ditetapkan.
8. Menghormati antara sesama warga Negara.
E. Dalam Kehidupan Sehari-hari

1. Mematuhi peraturan lalu lintas, misalnya tidak menerobos lampu merah,


memakai peralatan berkendara secara lengkap.
2. Tidak mencuri, tidak menganiaya, tidak memeras orang lain.
Perlu kita ketahui bahwa hukum dibuat bukan untuk dilanggar, serta hukum
SISTEM PERADILAN INDONESIA

A. Mahkamah Agung

Mahkamah Agung (MA) adalah lembaga tinggi yang memegang kekuasaan kehakiman di dalam negara
Republik Indonesia. Dalam trias politika, MA mewakili kekuasan yudikatif. Sesuai dengan UUD 1945
(Perubahan Ketiga), kekuasaan kehakiman di Indonesia dilakukan oleh Mahkamah Agung dan
Mahkamah Konstitusi. Mahkamah Agung membawahi badan peradilan dalam lingkungan peradilan
umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha
negara.

Tugas dan Wewenang

Menurut Undang-Undang Dasar 1945, kewajiban dan Wewenang MA adalah:

a. Berwenang mengadili pada tingkat kasasi, menguji peraturan perundang-undangan di bawah


Undang-Undang, dan mempunyai wewenang lainnya yang diberikan oleh Undang-Undang

Mengajukan tiga orang anggota Hakim Konstitusi

Memberikan pertimbangan dalam hal Presiden member grasi dan rehabilitasi

Fungsi

a. Fungsi Peradilan

1)

Sebagai Pengadilan Negara Tertinggi, Mahkamah Agung merupakan pengadilan kasasi yang bertugas
membina keseragaman dalam penerapan hukum melalui putusan kasasi dan peninjauan kembali
menjaga agar semua hukum dan undang-undang diseluruh wilayah negara RI diterapkan secara adil,
tepat dan benar.

2)

Disamping tugasnya sebagai Pengadilan Kasasi, Mahkamah Agung berwenang memeriksa dan
memutuskan pada tingkat pertama dan terakhir

- permohonan peninjauan kembali putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum
tetap (Pasal 28, 29,30,33 dan 34 Undang-undang Mahkamah Agung No. 14 Tahun 1985)

- semua sengketa tentang kewenangan mengadili.

- semua sengketa yang timbul karena perampasan kapal asing dan muatannya oleh kapal perang
Republik Indonesia berdasarkan peraturan yang berlaku (Pasal 33 dan Pasal 78 Undang-undang
Mahkamah Agung No 14 Tahun 1985)

3)

Erat kaitannya dengan fungsi peradilan ialah hak uji materiil, yaitu wewenang menguji/menilai secara
materiil peraturan perundangan dibawah Undang-undang tentang hal apakah suatu peraturan ditinjau
dari isinya (materinya) bertentangan dengan peraturan dari tingkat yang lebih tinggi (Pasal 31 Undang-
undang Mahkamah Agung Nomor 14 Tahun 1985).

b. Fungsi Pengawasan

1)

Mahkamah Agung melakukan pengawasan tertinggi terhadap jalannya peradilan di semua lingkungan
peradilan dengan tujuan agar peradilan yang dilakukan Pengadilan-pengadilan diselenggarakan dengan
seksama dan wajar dengan berpedoman pada azas peradilan yang sederhana, cepat dan biaya ringan,
tanpa mengurangi kebebasan Hakim dalam memeriksa dan memutuskan perkara (Pasal 4 dan Pasal 10
Undang-undang Ketentuan Pokok Kekuasaan Nomor 14 Tahun 1970).

Mahkamah Agung juga melakukan pengawasan :

- terhadap pekerjaan Pengadilan dan tingkah laku para Hakim dan perbuatan Pejabat Pengadilan
dalam menjalankan tugas yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas pokok Kekuasaan Kehakiman, yakni
dalam hal menerima, memeriksa, mengadili, dan menyelesaikan setiap perkara yang diajukan
kepadanya, dan meminta keterangan tentang hal-hal yang bersangkutan dengan teknis peradilan serta
memberi peringatan, teguran dan petunjuk yang diperlukan tanpa mengurangi kebebasan Hakim (Pasal
32 Undang-undang Mahkamah Agung Nomor 14 Tahun 1985).

- Terhadap Penasehat Hukum dan Notaris sepanjang yang menyangkut peradilan (Pasal 36 Undang-
undang Mahkamah Agung Nomor 14 Tahun 1985)

c. Fungsi mengatur

1)

Mahkamah Agung dapat mengatur lebih lanjut hal-hal yang diperlukan bagi kelancaran penyelenggaraan
peradilan apabila terdapat hal-hal yang belum cukup diatur dalam Undang-undang tentang Mahkamah
Agung sebagai pelengkap untuk mengisi kekurangan atau kekosongan hukum yang diperlukan bagi
kelancaran penyelenggaraan peradilan (Pasal 27 Undang-undang No.14 Tahun 1970, Pasal 79 Undang-
undang No.14 Tahun 1985).

2)

Mahkamah Agung dapat membuat peraturan acara sendiri bilamana dianggap perlu untuk mencukupi
hukum acara yang sudah diatur Undang-undang.

d. Fungsi nasehat

1)

Mahkamah Agung memberikan nasihat-nasihat atau pertimbangan-pertimbangan dalam bidang hukum


kepada Lembaga Tinggi Negara lain (Pasal 37 Undang-undang Mahkamah Agung No.14 Tahun 1985).
Mahkamah Agung memberikan nasihat kepada Presiden selaku Kepala Negara dalam rangka pemberian
atau penolakan grasi (Pasal 35 Undang-undang Mahkamah Agung No.14 Tahun 1985). Selanjutnya
Perubahan Pertama Undang-undang Dasar Negara RI Tahun 1945 Pasal 14 Ayat (1), Mahkamah Agung
diberikan kewenangan untuk memberikan pertimbangan kepada Presiden selaku Kepala Negara selain
grasi juga rehabilitasi. Namun demikian, dalam memberikan pertimbangan hukum mengenai rehabilitasi
sampai saat ini belum ada peraturan perundang-undangan yang mengatur pelaksanaannya.

2)

Mahkamah Agung berwenang meminta keterangan dari dan memberi petunjuk kepada pengadilan
disemua lingkunga peradilan dalam rangka pelaksanaan ketentuan Pasal 25 Undang-undang No.14
Tahun 1970 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman. (Pasal 38 Undang-undang
No.14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung).
e. Fungsi Administratif

1)

Badan-badan Peradilan (Peradilan Umum, Peradilan Agama, Peradilan Militer dan Peradilan Tata Usaha
Negara) sebagaimana dimaksud Pasal 10 Ayat (1) Undang-undang No.14 Tahun 1970 secara
organisatoris, administrative dan finansial sampai saat ini masih berada dibawah Departemen yang
bersangkutan, walaupun menurut Pasal 11 (1) Undang-undang Nomor 35 Tahun 1999 sudah dialihkan
dibawah kekuasaan Mahkamah Agung.

2)

Mahkamah Agung berwenang mengatur tugas serta tanggung jawab, susunan organisasi dan tata kerja
Kepaniteraan Pengadilan (Undang-undang No. 35 Tahun 1999 tentang Perubahan Atas Undang-undang
No.14 Tahun 1970 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman).

f. Fungsi lain-lain

Selain tugas pokok untuk menerima, memeriksa dan mengadili serta menyelesaikan setiap perkara yang
diajukan kepadanya, berdasar Pasal 2 ayat (2) Undang-undang Nomor 14 Tahun 1970 serta Pasal 38
Undang-undang Nomor 14 Tahun 1985, Mahkamah Agung dapat diserahi tugas dan kewenangan lain
berdasarkan Undang-undang.

B. Mahkamah Konstitusi

Mahkamah Konstitusi adalah salah satu kekuasaan kehakiman di Indonesia. Sesuai dengan UUD
1945 (Perubahan Ketiga), kekuasaan kehakiman di Indonesia dilakukan oleh Mahkamah Agung dan
Mahkamah Konstitusi.

Kewajiban dan wewenang

Menurut Undang-Undang Dasar 1945, kewajiban dan Wewenang Mahkamah Konstitusi adalah:

1. Berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk
menguji Undang-Undang terhadap Undang-Undang Dasar, memutus sengketa kewenangan lembaga
negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD 1945, memutus pembubaran partai politik, dan
memutus perselisihan tentang hasil Pemilihan Umum

2. Wajib memberi putusan atas pendapat Dewan Perwakilan Rakyat mengenai dugaan pelanggaran oleh
Presiden dan/atau Wakil Presiden menurut UUD 1945.

Ketua Mahkamah Konstitusi dipilih dari dan oleh Hakim Konstitusi untuk masa jabatan tiga tahun.
Mahkamah Konstitusi mempunyai sembilan Hakim Konstitusi yang ditetapkan oleh Presiden. Hakim
Konstitusi diajukan masing-masing tiga orang oleh Mahkamah Agung, tiga orang oleh Dewan Perwakilan
Rakyat, dan tiga orang oleh Presiden. Masa jabatan Hakim Konstitusi adalah lima tahun, dan dapat
dipilih kembali untuk satu kali masa jabatan berikutnya.
C. Peradilan Umum

1.Pengadilan Tinggi

Pengadilan Tinggi merupakan sebuah lembaga peradilan di lingkungan Peradilan Umum yang
berkedudukan di ibu kota Provinsi sebagai Pengadilan Tingkat Banding terhadap perkara-perkara yang
diputus oleh Pengadilan Negeri. Pengadilan Tinggi selaku salah satu kekuasaan kehakiman di lingkungan
peradilan umum mempunyai tugas dan kewenangan sebagaimana disebutkan dalam Undang-Undang
Nomor 8 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1986 Tentang Peradilam
Umum, dalam pasal 51 menyatakan :

(1) a. Pengadilan Tinggi bertugas dan berwenang mengadili perkara pidana dan perkara perdata di
Tingkat Banding.

(2) b. Pengadilan Tinggi juga bertugas dan berwenang mengadili di Tingkat Pertama dan terakhir
sengketa kewenangan mengadili antar Pengadilan Negeri di daerah hukumnya.

Disamping tugas dan kewenangan sebagaimana tersebut diatas pengadilan juga dapat
memberikan keterangan, pertimbangan, dan nasehat tentang hukum kepada Instansi Pemerintah di
daerahnya apabila diminta (pasal 52 ayat 1 UU No. 8 Tahun 2004). Dan selain tugas dan kewenangan
diatas pengadilan dapat diserahi tugas dan kewenangan lain oleh atau berdasarkan undang-undang
(pasal 52 ayat 2 UU No. 8 Tahun 2004). Susunan Pengadilan Tinggi dibentuk berdasarkan Undang-
Undang dengan daerah hukum meliputi wilayah Provinsi. Pengadilan Tinggi terdiri atas Pimpinan
(seorang Ketua PT dan seorang Wakil Ketua PT), Hakim Anggota, Panitera, dan Sekretaris.

2.Pengadilan Negeri

Pengadilan Negeri (biasa disingkat: PN) merupakan sebuah lembaga peradilan di lingkungan
Peradilan Umum yang berkedudukan di ibu kota kabupaten atau kota. Sebagai Pengadilan Tingkat
Pertama, Pengadilan Negeri berfungsi untuk memeriksa, memutus, dan menyelesaikan perkara pidana
dan perdata bagi rakyat pencari keadilan pada umumnya.

Daerah hukum Pengadilan Negeri meliputi wilayah Kota atau Kabupaten.

Susunan Pengadilan Negeri terdiri dari Pimpinan (Ketua PN dan Wakil Ketua PN), Hakim Anggota,
Panitera, Sekretaris, dan Jurusita.

3. Pengadilan Khusus

Pengadilan khusus dalam lingkungan peradilan umum yaitu:

1. Pengadilan anak ( UU no.3 tahun 1997)

2. Pengadilan niaga ( UU no. 37 tahun 2004)

3. Pengadilan HAM ( UU no. 26 tahun 2000)

4. Pengadilan tindak pidana korupsi ( UU no. 30 tahun 2002)

5. Pengadilan hubungan industrial ( UU no. 2 tahun 2004)

6. Pengadilan pajak ( UU no.14 tahun 2002)


D. Peradilan Agama

1. Pengadilan Tinggi Agama

Pengadilan Tinggi Agama merupakan sebuah lembaga peradilan di lingkungan Peradilan Agama
yang berkedudukan di ibu kota Provinsi. Sebagai Pengadilan Tingkat Banding, Pengadilan Tinggi Agama
memiliki tugas dan wewenang untuk mengadili perkara yang menjadi kewenangan Pengadilan Agama
dalam tingkat banding.

Selain itu, Pengadilan Tinggi Agama juga bertugas dan berwenang untuk mengadili di tingkat
pertama dan terakhir sengketa kewenangan mengadili antar Pengadilan Agama di daerah hukumnya.
Pengadilan Tinggi Agama dibentuk melalui Undang-Undang dengan daerah hukum meliputi wilayah
Provinsi. Susunan Pengadilan Tinggi Agama terdiri dari Pimpinan (Ketua dan Wakil Ketua), Hakim
Anggota, Panitera, dan Sekretaris

Jadi tugas dan wewenang pengadilan tinggi agama adalah :

a. Mengadili perkara yang menjadi kewenangan Pengadilan Agama dalam tingkat banding.

Mengadili di tingkat pertama dan terakhir sengketa kewenangan mengadili antar Pengadilan Agama di
daerah hukumnya.

2. Pengadilan Agama

Pengadilan Agama merupakan sebuah lembaga peradilan di lingkungan Peradilan Agama yang
berkedudukan di ibu kota kabupaten atau kota. Sebagai Pengadilan Tingkat Pertama, Pengadilan Agama
memiliki tugas dan wewenang untuk memeriksa, memutus, dan menyelesaikan perkara-perkara antara
orang-orang yang beragama Islam di bidang:

a. perkawinan

b. warisan, wasiat, dan hibah, yang dilakukan berdasarkan hukum Islam

c. wakaf dan shadaqah

d. ekonomi syari'ah

Pengadilan Agama dibentuk melalui Undang-Undang dengan daerah hukum meliputi wilayah
Kota atau Kabupaten. Susunan Pengadilan Agama terdiri dari Pimpinan (Ketua PA dan Wakil Ketua PA),
Hakim Anggota, Panitera, Sekretaris, dan Juru Sita.

E. Peradilan Militer

1. Pengadilan Militer Tinggi

Pengadilan Militer Tinggi merupakan badan pelaksana kekuasaan peradilan di bawah Mahkamah
Agung di lingkungan militer yang bertugas untuk memeriksa dan memutus pada tingkat pertama
perkara pidana yang terdakwanya adalah prajurit yang berpangkat Mayor ke atas. Selain itu, Pengadilan
Militer Tinggi juga memeriksa dan memutus pada tingkat banding perkara pidana yang telah diputus
oleh Pengadilan Militer dalam daerah hukumnya yang dimintakan banding. Pengadilan Militer Tinggi
juga dapat memutuskan pada tingkat pertama dan terakhir sengketa kewenangan mengadili antara
Pengadilan Militer dalam daerah hukumnya.

2. Pengadilan Militer

Pengadilan Militer merupakan badan pelaksana kekuasaan peradilan di bawah Mahkamah Agung di
lingkungan militer yang bertugas untuk memeriksa dan memutus pada tingkat pertama perkara pidana
yang terdakwanya adalah prajurit yang berpangkat Kapten ke bawah.

Nama, tempat kedudukan, dan daerah hukum Pengadilan Militer ditetapkan melalui Keputusan
Panglima. Apabila perlu, Pengadilan Militer dapat bersidang di luar tempat kedudukannya bahkan di luar
daerah hukumnya atas izin Kepala Pengadilan Militer Utama

F. Peradilan Tata Usaha Negara

1. Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara

Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara merupakan sebuah lembaga peradilan di lingkungan
Peradilan Tata Usaha Negara yang berkedudukan di ibu kota Provinsi. Sebagai Pengadilan Tingkat
Banding, Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara memiliki tugas dan wewenang untuk memeriksa dan
memutus sengketa Tata Usaha Negara di tingkat banding.

Selain itu, Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara juga bertugas dan berwenang untuk memeriksa
dan memutus di tingkat pertama dan terakhir sengketa kewenangan mengadili antara Pengadilan Tata
Usaha Negara di dalam daerah hukumnya. Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara dibentuk melalui
Undang-Undang dengan daerah hukum meliputi wilayah Provinsi. Susunan Pengadilan Tinggi Tata Usaha
Negara terdiri dari Pimpinan (Ketua PTTUN dan Wakil Ketua PTTUN), Hakim Anggota, Panitera, dan
Sekretaris

2. Pengadilan Tata Usaha Negara

Pengadilan Tata Usaha Negara (biasa disingkat: PTUN) merupakan sebuah lembaga peradilan di
lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara yang berkedudukan di ibu kota kabupaten atau kota. Sebagai
Pengadilan Tingkat Pertama, Pengadilan Tata Usaha Negara berfungsi untuk memeriksa, memutus, dan
menyelesaikan sengketa Tata Usaha Negara.

Pengadilan Tata Usaha Negara dibentuk melalui Keputusan Presiden dengan daerah hukum
meliputi wilayah Kota atau K

1. Pemberontak yang menyebabkan pembunuhan secara masal pada sekelompok manusia


termasuk jenis pelanggaran hak asasi manusia ….
a. ringan
b. sedang
c. berat
d. umum
e. wajar
Jawaban: c. berat
Pembahasan:
Kasus Pelanggaran Hak Asasi manusia yang sifatnya berat dapat dibedakan menjadi 2 macam yaitu
pembunuhan masal dan kejahatan kemanusiaan.

2. Berikut termasuk penyebab terjadinya kasus pelanggaran hak asasi yang berasal dari faktor
internal, yaitu ….
a. penyalahgunan kekuasaan
b. pergaulan
c. kesenjangan sosial
d. ketidaktegasan aparat hukum
e. sikap mementingkan diri sendiri
Jawaban: e. sikap mementingkan diri sendiri
Pembahasan:
Faktor internal penyebab kasus pelanggaran hak asasi manusia merupakan faktor penyebab yang
berasal daridiri sendiri seseorang yang melakukan pelanggaran hak asasi manusia. Adapun contoh
faktor yang mempengaruhinya yaitu sikap mementingkan diri sendiri, sikap tidak toleransi serta
umur.

3. Hak asasi manusia menyangkut hak hidup, hak kemerdekaan, dan hak memiliki sesuatu tidak
boleh diganggu gugat karena ….
a. diturunkan dari orang tua kandung
b. dibawa sejak lahir sebagai anugerah Tuhan
c. bersifat sangat pribadi dan eksklusif
d. merupakan eksistensi manusia bermartabat
e. dilindungi oleh negara
Jawaban: b. dibawa sejak lahir sebagai anugerah Tuhan
Pembahasan: Hak asasi manusia adalah hak dasar atau hak pokok yang dimiliki manusia sejak lahir
sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa. Hak asasi manusia merupakan Anugerah TUhan Yang
Maha ESa sejak lahir, maka tidak seorang pun dapat mengambilnya atau melanggarnya. Kita harus
menghargai anugerah ini dengan tidak membedakan manusia berdasarkan latar belakang ras, etnik,
agama, warna kulit, jenis kelamin, pekerjaan, budaya, dan lain-ain. Namun perlu diingat bahwa
dengan hak asasi manusia manusia bukan berarti dapat berbuat semena-mena, karena manusia
juga harus menghormati hak asasi manusia lainnya.

4. Hak asasi manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat keberadaan manusia
sebagai mahluk TUhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati,
dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan
serta perlindungan harkat dan martabat manusia, merupakan pengertian HAM menurut ….
a. Komisi HAM PBB
b. John Locke
c. Aristoteles
d. Koentjoro Poerbopranoto
e. UU No. 39 Tahun 1999
Jawaban: e. UU No. 39 Tahun 1999
Pembahasan:

Berdasarkan pasal 1 angka 1 U No. 39 Tahun 1999. Hak asasi manusia adalah seperangkat hak
yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan
merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum
dan pemerintaha, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat
manusia.

5. Kasus penembakan mahasiswa Trisakti terjadi pada tahun ….


a. 1997
b. 1989
c. 1998
d. 1987
e. 1996
Jawaban: c. 1998
Pembahasan:
Terjadinya Trisakti peristiwa penembakan, pada 12 Mei 1998 terhadap mahasiswa pada saat
demonstrasi menuntut Soeharto turun dari jabatannya. Kejadian ini menewaskan empat mahasiswa
Universitas Trisakti di Jakarta, Indonesia serta puluhan lainnya luka.

6. Sikap guru yang membeda-bedakan peserta didik, termasuk jenis pelanggaran hak asasi
manusia yang terjadi lingkungan ….
a. keluarga
b. sekolah
c. masyarakat
d. bangsa dan bernegara
e. lembaga pemerintahan
Jawaban: b. sekolah
Pembahasan:
Hubungan antara peserta didik dan guru pada umumnya terjadi di lingkungan sekolah. Contoh
beberapa kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia yang terjadi di lingkungan sekolah misalnya siswa
yang menghina atau mengejek siswa yang lainnya. Guru yang membeda-beda kan muridnya,
tawuran siswa antar kelas, dan sebagainya.

7. Pengadilan hak asasi manusia diatur dalam salah satu instrument Pancasila, yaitu ….
a. Amandemen kedua UUD 1945
b. Inpres No. 26 Tahun 1998
c. UU No. 26 Tahun 2000
d. Keppres No. 129 Tahun 1998
e. Keppres No. 181 Tahun 1998
Jawaban: c. UU No. 26 Tahun 2000
Pembahasan:
UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia.

8. Instrumen Pancasila Keppres No. 181 Tahun 1998 mengatur tentang ….


a. Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap perempuan
b. Pengakuan dan Jaminan Perlindungan terhadap Hak Asasi Manusia
c. Rencana Aksi Nasional Hak-Hak Asasi Manusia
d. Perumusan dan penyelenggaraan kebuijakan, perencanaan program, ataupun pelaksanaan
kegiatan penyelenggaraan pemerintahan
e. Pengesahan Convetion Againts Torture and Other Cruel
Jawaban: a. Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap perempuan
Pembahasan:
Instrumen Hak Asasi Manusia merupakan sarana yang digunakan untuk menjamin penegakan serta
perlindungan terhadap HAM. Hak Asasi Manusia berupa peraturan perundang-undangan sebagai
dasar hukum tertulis yaitu sebagai berikut:
1. Ketetapan MPRS No. XVII/ MPR/ 1998 tentang Hak Asasi Manusia
2. UU No. 5 Tahun 1998 tentang pengesahan Convetion Against Torture and Other Cruel, Inhuman
or Degrading Tratement or Punisment (Konveksi menentang penyiksaan dan perlakuan atau
penghukuman lain yang kejam, tidak manusiawi, atau merendahkan martabat manusia).
3. Keppres No. 181 Tahun 1998 tentang Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan.

9. Berikut yang termasuk landasan langsung pemikiran munculnya hak asasi manusia, yaitu ….
a. semua manusia berderajat sama
b. manusia ciptaan Tuhan
c. manusia berhak hidup
d. manusia memiliki kebebasan sejak lahir
e. manusia makhluk sosial
Jawaban: a. semua manusia berderajat sama
Pembahasan: Landasan langsung dan pertama pemikiran munculnya hak asasi manusia, yaitu
kodrat manusia adalah sama derajat dan martabatnya, semua manusia adalah sama derajat dan
martabatnya. Semua manusia adalah sederajat tanpa membedakan ras, agama, suku, dan bahasa.

10. Berikut yang termasuk jenis kasus pelanggaran hak asasi manusia yang bersifat ringan, yaitu ….
a. pengusiran penduduk secara paksa
b. penyiksaan terhadap balita
c. pembunuhan seseorang
d. pencemaran nama baik
e. pembunuhan massal
Jawaban: d. pencemaran nama baik
Pembahasan:
Kasus pelanggaran hak asasi manusia ada yng bersifat berat dan ringan. Contoh pelanggaran hak
asasi manusia yang bersifat berat seperti pembunuhan massal dan kejahatan kemanusiaan.
Sedangkan contoh kasus pelanggaran hak asasi manusia yang bersifat ringan misalnya pemukulan
terhadap seseorang, pencemaran nama baik, dan menghalangi seseorang untuk mengekspresikan
pendapat.
11. Sistem demokrasi yang dianut oleh Indonesia sekarang ini, yaitu demokrasi ….
a. terpimpin
b. Orde Baru
c. Orde Lama
d. otoriter
e. Pancasila
Jawaban: e. Pancasila
Pembahasan:
Adapun penerapan demokrasi di Indonesia tetap mengacu pada pancasila sebagai dasar negara
Indonesia. Oleh karena itu, penerapan demokrasi di Indonesia disebut sebagai demokrasi pancasila
untuk yang sekarang ini diterapkan.

12. Terciptanya sebuah keadilan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di
Indonesia menunjukan prinsip demokrasi Pancasila, yaitu ….
a. kemakmuran
b. berkeadilan sosial
c. otonomi daerah
d. pengadilan yang merdeka
e. pemisahan kekuasaan
Jawaban: b. berkeadilan sosial
Pembahasan:
Demokrasi yang berkeadilan sosial artinya, demokrasi menurut Undang-undang dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945 menggariskan keadilan sosial di antara berbagai kelompok,
golongan, dan lapisan masyarakat.
13. Adanya kecerdasan emosional seseorang dalam menjalan pemerintahan demokrasi
menunjukkan salah satu pilar demokrasi Pancasila, yaitu ….
a. Berketuhanan Yang Maha Esa
b. demokrasi dengan kecerdasan
c. demokrasi yang berkedaulatan rakyat
d. demokrasi dengan rule of law
e. demokrasi dengan pemisahan kekuasaan negara
Jawaban: b. demokrasi dengan kecerdasan
Pembahasan:
Demokrasi dengan kecerdasan artinya, mengatur dan menyelenggarakan demokrasi menurut
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 itu bukan dengan kekuatan naluri,
kekuatan otot, atau kekuatan massa semata-mata pelaksanaan demokrasi itu justru lebih menuntut
kecerdasan rohaniah, kecerdasan aqliyah, kecerdasan rasional, dan kecerdasan emosional.

14. Karakteristik utama yang menggambarkan demokrasi Pancasila terdapat dalam Pancasila sila
ke ….
a. 1
b. 2
c. 3
d. 4
e. 5
Jawaban: d. 4
Pembahasan:
Karakter utama demokrasi Pancasila adalah sila ke empat, yaitu kerakyatan yang dipimpin oleh
hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan. Dengan kata lain, demokrasi pancasila
mengandung tiga karakter utama, yaitu kerakyatan, permusyawaratan, dan hikmat kebijaksanaan.
Tiga karakter tersebut sekaligus berkedudukan sebagai cita-cita luhur penerapan demokrasi di
Indonesia.

15. Berikut tidak termasuk nilai moral yang terkandung dalam sila keempat Pancasila sebagai
gambaran pemerintahan demokrasi, yaitu ….
a. persamaan bagi seluruh rakyat Indonesia
b. keseimbangan antara hak dan kewajiban
c. mewujudkan rasa keadilan sosial
d. kebebasan dapat dipertanggungjawabkan cukup kepada diri sendiri
e. mewujudkan rasa keadilan sosial
Jawaban: d. kebebasan dapat dipertanggungjawabkan cukup kepada diri sendiri
Pembahasan:
Demokrasi pancasila mengandung beberapa nilai moral yang bersumber pada Pancasila, yaitu
sebagai berikut.
1. Persamaan bagi seluruh rakyat Indonesia

2. Keseimbangan antara hak dan kewajiban


3. pelaksanaan kebebasan yang dipertanggungjawaban secara moral kepada Tuhan Yang Maha
Esa, diri sendiri dan orang lain.
4. mewujudkan rasa keadilan sosial
5. pengambilan keputusan dengan musyawarah mufakat

16. Demokrasi pada masa revolusi terjadi pada tahun ….


a. 1945-1950
b. 1950-1959
c. 1959-1965
d. 1966-1975
e. 1976-1995
Jawaban: a. 1945-1950
Pembahasan:
Demokrasi pada masa revolusi terjadi pada tahun 1945-1950. Pada masa revolusi, bangsa
Indonesia masih berjuang untuk mempertahankan kemerdekaan dari belanda. Pada saat itu,
demokrasi belum dpat terlaksana dengan baik di Indonesia. Pada awal kemerdekaan, di Indonesia
masih terjadi sentralisasi kekuasaan.

17. Pembentukan partai politik pada masa revolusi diatur dalam ….


a. Maklumat Wakil Presiden Nomor X Tanggal 16 Oktober 1945
b. Maklumat Pemerintah tanggal 3 November 1945
c. Maklumat Pemerintah tanggal 14 November 1945
d. Penpres Nomor 2 Tahun 1959
e. pasal UUD 1945
Jawaban: b. Maklumat Pemerintah tanggal 3 November 1945
Pembahasan:
Untuk menghindari kesan bahwa negara Indonesia adalah negara yang absolut, maka pemerintah
Indonesia mengelurkan maklumat, salah satu nya yaitu Maklumat Pemerintah tanggal 3 November
1945 tentang pembentukan partai politik.

18. berikut yang tidak termasuk isi Dekrit Presiden 5 juli 1959, yaitu ….
a. menetapkan pembubaran konstituante
b. pembubaran seluruh partai politik
c. menetapkan UUD 1945 berlaku kembali
d. menetapkan tidak berlakunya UUDS 1950
e. pembentukan MPRS dan DPAS
Jawaban: b. pembubaran seluruh partai politik
Pembahasan:
Presiden Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang berisi mengenai hal-hal berikut:
1. menetapkan pembubaran konstituante
2. menetapkan UUD 1945 berlaku kembali dan tidak berlakunya UUDS 1950, serta
3. pembentukan MPRS dan DPAS.

19. Kekuasaan tersentralisasi di tangan presiden dan secara signifikan diimbangi peran PKI dan
Angkatan Darat merupakan salah satu penyimpangan demokrasi pada masa ….
a. Orde Lama
b. Orde Baru
c. reformasi
d. sekarang
e. revolusi
Jawaban: a. Orde Lama
Pembahasan:
Pada masa orde lama terjadi demokrasi terpimpin. Dalam pelaksanaan demokrasi terpimpin, banyak
terjadi penyimpanan terhadap UUD 1945 penyimpangan-penyimpangan tersebut seperti kekuasaan
tersentralisasi di tangan presiden dan secarasignifikan diimbangi peran PKI dan Angkatan Darat
serta prosedur pembentukan DPR-GR dan MPRS tidak melalui pemilihan umum.

20. Kebijakan pemerintahan Orde Baru menekankan pada kepentingan ….


a. wakil rakyat
b. rakyat
c. stabilitas nasional
d. wawasan nusantara
e. kebijakan otonom daerah
Jawaban: c. stabilitas nasional
Pembahasan:
Kebijakan yang dijalankan selama pemerintahan Orde Baru sangat menekankan pada stabilitas
nasional. Akan tetapi orde baru kurang dalam menegakkan demokrasi. Akibatnya pemerintahan
orde baru cenderung menuju pemerintahan yang sentralistik (berpusat kepada penguasa).
21. Berikut yang tidak termasuk hukuman pokok, yaitu ….
a. mati
b. penjara
c. kurungan
d. denda
e. diasingkan
Jawaban: e. diasingkan
Pembahasan:
Hukuman pokok yaitu hukum yang terdiri dari hukuman mati, penjara, kurungan, dan denda.

22. Hukum yang diharapkan berlaku pada waktu yang akan datang dinamakan ….
a. hukum lokal
b. hukum antarwaktu
c. ius constitutum
d. ius constituendum
e. hukum positif
Jawaban: d. ius constituendum
Pembahasan: ius constituendum, yaitu hukum yang diharapkan berlaku pada waktu yang akan
datang.

23. Berikut priciples of legality, kecuali ….


a. peraturan berlaku surut sehingga peraturan itu tidak dapat dipakai untuk menjadi pedoman
tingkah laku
b. peraturan-peraturan harus disusun dalam rumusan yang dapat dimengerti
c. suatu sistem tidak boleh mengandung peraturan-peraturan yang bertentangan dengan sistem
lain.
d. tidak boleh ada kebiasaan untuk sering mengubah peraturan karena dapat menyebabkan
seseorang kehilangan orientasi
e. peraturan-peraturan yang telah dibuat harus diumumkan
Jawaban: a. peraturan berlaku surut sehingga peraturan itu tidak dapat dipakai untuk menjadi
pedoman tingkah laku
Pembahasan:
Delapan asas yang dinamakan principles of legality antara lain sebagai berikut:
a. Suatu sistem hukum harus mengandung peraturan-peraturan tidak boleh mengandung sekedar
keputusan-keputusan yang bersifat ad hoc.
b. Peraturan-peraturan yang telah dibuat itu harus diumumkan
c. Tidak boleh ada peraturan yang berlaku surut karena jika itu terjadi, maka peraturan itu tidak bisa
dipakai untuk menjadi pedoman tingkah laku.
d. Peraturan-peraturan harus disusun dalam rumusan yang bisa dimengerti.
e. Suatu sistem tidak boleh mengandung peraturan-peraturan yang bertentangan satu sama lain.
f. Peraturan-peraturan tidak boleh mengandung tuntutan yang melebihi apa yang dapat
dilakukannya.
g. Tidak boleh ada kebiasaan untuk sering mengubah peraturan karena dapat menyebabkan
seseorang kehilangan orientasi.
h. Harus ada kecocokan antara peraturan yang diundangkan dengan pelaksanaannya sehari-hari.
24. Peraturan hukum yang mengatur tentang hubungan-hubungan hukum yang dapat dinilai dengan
uang disebut hukum ….
a. privat
b. tata negara
c. publik
d. militer
e. kekayaan
Jawaban: e. kekayaan
Pembahasan:

Hukum kekayaan, yaitu peraturan hukum yang mengatur tentang hubungan-hubungan hukum yang
dapat dinilai dengan uang.

25. Peraturan hukum yang mengatur hubungan hukum antara orang yang satu dengan orang yang
lainnya, dengan menitikberatkan pada kepentingan perseorangan disebut hukum ….
a. privat
b. tata negara
c. publik
d. militer
e. kekayaan
Jawaban: a. privat
Pembahasan:
Hukum privat (hukum perdata), yaitu rangkaian perraturan hukum yang mengatur hubungan hukum
antara orang yang satu dengan orang yang lainnya, dengan menitikberatkan pada kepentingan
perseorangan.

26. Sikap yang menunjukkan adanya keinginan dari setiap warga negara untuk membuka diri dalam
memahami hukum yang berlaku di dalam masyarakat yaitu sikap ….
a. objektif
b. subjektif
c. terbuka
d. tertutup
e. nasionalisme
Jawaban: c. terbuka
Pembahasan:
Sikap terbuka adalah sikap yang menunjukkan adanya keinginan dari setiap warga negara untuk
membuka diri dalam memahami hukum yang berlaku di dalam masyarakat.

27. Orang yang dituduh bersalah dalam sidang pengadilan disebut ….


a. pengacara
b. hakim
c. polisi
d. terdakwa
e. jaksa
Jawaban: d. terdakwa
Pembahasan: -

28. Dasar hukum Pengadilan Negeri meliputi ….


a. Kabupaten/ kota
b. desa/ kelurahan
c. provinsi
d. negara
e. seluruh Indonesia
Jawaban: a. Kabupaten/ kota
Pembahasan:
Pengadilan negeri berkedudukan di ibukota kabupaten/ kota dan daerah hukumnya meliputi
kabupaten/kota.

29. Peraturan-peraturan yang mengatur bagaimana cara-caranya mengajukan sesuatu perkara ke


muka pengadilan dan bagaimana cara-caranya hakim memberi putusan adalah jenis hukum ….
a. formal
b. material
c. pidana
d. perdata
e. peradilan tata usaha
Jawaban: a. formal
Pembahasan:
Hukum formal atau disebut dengan hukum proses atau hukum acara yaitu hukum yang memuat
peraturan-peraturan yang mengatur bagaimana cara-cara melaksanakan dan mempertahankan
hukum material atau peraturan-peraturan yang mengatur bagaimana cara-cara nya mengajukan
sesuatu perkara ke muka pengadilan dan bagaimana cara-caranya hakim memberi putusan.

30. Sumber dasar hukum nasional, yaitu Pancasila dan Batang Tubuh UUD 1945. Hal ini termuat
dalam …
a. Tap MPR Nomor I/ MPR/ 1999
b. Tap MPR Nomor II/ MPR/ 1999
c. Tap MPR Nomor III/ MPR/ 2000
d. Tap MPR Nomor IV/ MPR/ 2000
e. Tap MPR Nomor V/ MPR/ 2000
Jawaban: c. Tap MPR Nomor III/ MPR/ 2000
Pembahasan:
Dalam Tap MPR Nomor III/ MPR/ 2000 dikatakan bahwa sumber dasar hukum nasional adalah
pancasila dan batang tubuh UUD 1945.
31. Secara garis besar, dasar-dasar pikiran tentang hak asasi manusia dalam Pembukaan UUD
1945 adalah kemerdekaan nasional yang mengayomi kemerdekaan …
Jawaban: warga negara

32. Kewajiban yang mendasar dari setiap warga negara Indonesia maupun orang asing terhadap
negara Republik Indonesia adalah …. dan …. Kepadatan peraturan yang berlaku.
Jawaban: tunduk dan taat

33. Hak untuk memberikan kritik pemerintahan yang bersifat membangun diperbolehkan menurut
UUD 1945 pasal ….
Jawaban: pasal 28

34. Pasal 29 ayat 2UUD 1994 memberikan kemerdekaan beribadat menurut agama dan
kepercayaan masing-masing kepada ….
Jawaban: penduduk

35. Ada beberapa pejabat maupun rakyat biasa yang dimintai keterangan Kejaksaan Agung
Berkaitan dengan dugaan penyalahgunaan kekuasaan. Hal ini merupakan bukti adanya jaminan ….
Jawaban: persamaan hukum

36. Pengakuan terhadap hak-hak politik, seperti berkumpul dan beroposisi, bebas berserikat dan
mengeluarkan pendapat merupakan salah satu …. Demokrasi.
Jawaban: prinsip

37. Demokrasi pancasila mendasarkan diri pada asas … dan …


Jawaban: kekeluargaan dan kegotongrotongan

38. Hukum yang terletak di dalam kebiasaan masyarakat bersumber dari ….


Jawaban: peraturan adat

39. Dua lembaga pemegang kekuasaan kehakiman di Indonesia yaitu …. dan ….


Jawaban: Mahkamah Agung dan mahkamah Konstitusi

40. Para hakim yang bekerja dalam lingkup Mahkamah Agung disebut ….
Jawaban: hakim agung

41. Tuliskan beberapa jenis hak asasi manusia yang harus dihormati dan dijamin pemenuhannya,
baik oleh negara atau setiap warga negara!
Jawaban:
Terdapat banyak jenis hak asasi manusia yang harus dihormati dan dijamin pemenuhannya, baik
oleh negara atau setiap warga negara seperti hak untuk mendapatkan pendidikan, kesehatan,
pekerjaan, dan sebagainya.

42. Apakah hambatan dalam pelaksanaan dan penegakan hak asasi manusia di Indonesia dari segi
faktor kondisi sosial budaya?
Jawaban:
Hambatan dalam pelaksanaan dan penegakan hak asasi manusia di Indonesia dari segi faktor
kondisi sosial budaya yaitu sebagai berikut:
a. Stratifikasi dan status sosial, yaitu tingkat pendidikan, usia, pekerjaan, keturunan dan ekonomi
masyarakat Indonesia yang multikompleks (heterogen)
b. Norma adat atau budaya lokal yang kadang bertentangan dengan HAM, terutama jika sudah
bersinggungan dengan kedudukan seseorang upacara-upacara sakral, pergaulan dan sebagainya.
c. masih adanya konflik horizontal dikalangan masyarakat yang hanya disebabkan oleh hal-hal
sepele.

43. Uraikan tentang isi yang terkandung dalam UU Nomor 5 Tahun 1998!
Jawaban:
UU No. 5 Tahun 1998 tentang pengesahan Convention Againts Torture and Other Cruel, Inhuman
or Degrading Tratement or Punishment.

44. Jelaskan yang dimaksud prinsip universal dalam penegakan hak asasi manusia!
Jawaban: Prinsip universal berarti bahwa adanya hak-hak asasi manusia bersifat fundamental dan
memiliki keberlakuan universal, karena jelas tercantum dalam piagam PBB dan oleh karenanya
merupakan bagian dari keterikatan setiap anggota PBB.

45. apakah yang anda ketahui tentang aspek material dalam demokrasi Pancasila?
Jawaban:
Aspek material (segi isi/subtansi) yaitu demokrasi pancasila harus dijiwai dan diitegrasikan oleh sila-
sila lainnya.

46. Tulislah Isi Maklumat Wakil Presiden Nomor X Tanggal 16 Oktober 1945!
Jawaban:
Maklumat Wakil Presiden Nomor X Tanggal 16 Oktober 1945 tentang perubahan KNIP menjadi
lembaga Legislatif.
47. Apakah tujuan dilaksanakannya pemilihan kepala daerah kaitannya dengan budaya demokrasi?
Jawaban:
Pemilihan kepala daerah menjadi indikator pelaksanaan kehidupan yang demokratis di suatu
daerah.

48. Jelaskan pengertian konvensi!


Jawaban:
Dalam praktik kenegaraan, hukum yang tidak tertulis disebut konvensi.

49. Bagaimanakah tata urutan peraturan perundangan di Indonesia berdasarkan Undang-Undang


Nomor 12 Tahun 2011?
Jawaban:
Berdasarkan ketentuan dalam UU No. 12 Tahun 2011 jenis dan hierarki peraturan perundang-
undangan Republik Indonesia adalah sebagai berikut:
a. UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945
b. Ketetapan MPR
c. UU/ Perppu
d. Peraturan Presiden
e. Peraturan Daerah Provinsi
f. Peraturan daerah kabupaten/ kota

50. Apakah tujuan mempelajari tata hukum Indonesia?


Jawaban:
Maksud mempelajari tata hukum Indonesia adalah untuk mengetahui perbuatan atau tindakan
manakah yang dibenarkan menurut hukum dan perbuatan manakah yang bertentangan dengan
hukum.
ENGERTIAN HAK ASASI MANUSIA SECARA
UMUM
HAM / Hak Asasi Manusia adalah hak yang melekat pada diri setiap manusia sejak awal dilahirkan yang berlaku
seumur hidup dan tidak dapat diganggu gugat siapa pun. Sebagai warga negara yang baik kita mesti menjunjung
tinggi nilai hak azasi manusia tanpa membeda-bedakan status, golongan, keturunan, jabatan, dan lain sebagainya.

Melanggar HAM seseorang bertentangan dengan hukum yang berlaku di Indonesia. Hak asasi manusia memiliki
wadah organisasi yang mengurus permasalahan seputar hak asasi manusia yaitu Komnas HAM. Kasus pelanggaran
ham di Indonesia memang masih banyak yang belum terselesaikan / tuntas sehingga diharapkan perkembangan
dunia ham di Indonesia dapat terwujud ke arah yang lebih baik. Salah satu tokoh ham di Indonesia adalah Munir
yang tewas dibunuh di atas pesawat udara saat menuju Belanda dari Indonesia.

Pembagian Bidang, Jenis dan Macam Hak Asasi Manusia Dunia :

1. Hak asasi pribadi / personal Right


- Hak kebebasan untuk bergerak, bepergian dan berpindah-pndah tempat
- Hak kebebasan mengeluarkan atau menyatakan pendapat
- Hak kebebasan memilih dan aktif di organisasi atau perkumpulan
- Hak kebebasan untuk memilih, memeluk, dan menjalankan agama dan kepercayaan yang diyakini masing-masing

2. Hak asasi politik / Political Right


- Hak untuk memilih dan dipilih dalam suatu pemilihan
- hak ikut serta dalam kegiatan pemerintahan
- Hak membuat dan mendirikan parpol / partai politik dan organisasi politik lainnya
- Hak untuk membuat dan mengajukan suatu usulan petisi
3. Hak azasi hukum / Legal Equality Right
- Hak mendapatkan perlakuan yang sama dalam hukum dan pemerintahan
- Hak untuk menjadi pegawai negeri sipil / pns
- Hak mendapat layanan dan perlindungan hukum

4. Hak azasi Ekonomi / Property Rigths


- Hak kebebasan melakukan kegiatan jual beli
- Hak kebebasan mengadakan perjanjian kontrak
- Hak kebebasan menyelenggarakan sewa-menyewa, hutang-piutang, dll
- Hak kebebasan untuk memiliki susuatu
- Hak memiliki dan mendapatkan pekerjaan yang layak

5. Hak Asasi Peradilan / Procedural Rights


- Hak mendapat pembelaan hukum di pengadilan
- Hak persamaan atas perlakuan penggeledahan, penangkapan, penahanan dan penyelidikan di mata hukum.

6. Hak asasi sosial budaya / Social Culture Right


- Hak menentukan, memilih dan mendapatkan pendidikan
- Hak mendapatkan pengajaran
- Hak untuk mengembangkan budaya yang sesuai dengan bakat dan minat

Pelanggaran HAM
Pengertian Pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM)

Menurut pasal 28 1 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
yang menyatakan bahwa “hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran
dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak. Hak untuk diakui sebagi pribadi di
hadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak
asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun”

Sedangkan secara yuridis, menurut pasal 1 angka 6 Undang-Undang Republik Indonesia


Nomor 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, yang dimaksud dengan pelanggaran Hak
Asasi Manusia adalah “setiap perbuatan seseorang atau kelompok orang termasuk aparat Negara,
baik disengaja maupun tidak disengaja atau kelalaian yang secara hukum mengurangi,
menghalangi, membatasi, dan atau mencabut hak asasi manusia seseorang attau kelompok orang
yang dijamin oleh undang-undang dan tidak mendapatkan atau dikhawatirkan tidak akan
memperoleh penyelesaian hukum yang adil dan benar berdasarkan mekanisme hukum yang
berlaku”

Dalam konteks Negara Indonesia, Pelanggaran HAM merupakan tindakan pelanggaran


kemanusiaan baik dilakukan oleh individu maupun oleh institusi Negara atau institusi lainnya
terhadap hak asasi manusia.

Bentuk - Bentuk pelanggaran HAM

Pelanggaran HAM yang sering muncul biasanya terjadi dalam dua bentuk, sebagai berikut:
Diskriminasi, yaitu suatu pembatasan, pelecehan atau pengucilan yang langsung maupun tidak
langsung didasarkan pada pembedaan manusia atas dasar agama, suku, ras, etnik, kelompok,
golongan, jenis kelamin, bahasa, keyakinan dan politik yang berakibat pengurangan,
penyimpangan atau penghapusan hak asasi manusia dan kebebasan dasar dalam kehidupan baik
secara individual maupun kolektif dalam semua aspek kehidupan.

Penyiksaan, adalah suatu perbuatan yang dilakukan dengan sengaja sehingga menimbulkan
rasa sakit atau penderitaan baik jasmani maupun rohani pada seseorang untuk memperoleh
pengakuan atau keterangan dari seseorang atau orang ketiga.

Berdasarkan sifatnya pelanggaran dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:

a. Pelanggaran HAM berat, yaitu pelanggaran HAM yang berbahaya dan mengancam nyawa
manusi aseperti pembunuhan, penganiayaan, perampokan, perbudakan, penyanderaan dan
sebagainya.

b. Pelanggaran HAM ringan, yaitu pelanggaran HAM yang tidak mengancam keselamatan jiwa
manusia, akan tetapidapat berbahaya jika tidak segera ditanggulangi. Misalnya, kelalaian dalam
pemberian pelayanan kesehatan, pencemaran lingkungan yang di sengaja dan sebagainya.

Pelanggaran HAM berat menurut Undang-Undang RI Nomor 26tahun 2000 tentang pengadilan
HAM dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu:

a. Kejahatan Genosida, yaitu setiap perbuatan yang dilakukan dengan maksud untuk
menghancurkan atau memusnahkan seluruh atau sebagian kelompok, bangsa, ras, kelompok
etnis, kelompok agama, dengan cara:

- Membunuh anggota kelompok

- Mengakibatkan penderitaan fisik dan mental yang berat terhadap anggota-anggota kelompok.

b. Kejahatan terhadap kemanusiaan, yaitu salah satu perbuatan yang dilakukan sebagai bagian
dari serangan yang meluas atau sistematik yang diketahuinya bahwa serangan tersebut ditujukan
secara langsung terhadap penduduk sipil, berupa:

- Pembunuhan- Perampasan

- Pengusiran- Perbudakan

Instrumen HAM
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2011 TENTANG PENGESAHAN
CONVENTION ON THE RIGHTS OF PERSONS WITH DISABILITIES(KONVENSI MENGENAI HAK-HAK
PENYANDANG DISABILITAS)

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 2008 TENTANG PENGHAPUSAN


DISKRIMINASI RAS DAN ETNIS

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2005 TENTANG PENGESAHAN


INTERNATIONAL COVENANT ON CIVIL AND POLITICAL RIGHTS (KOVENAN INTERNASIONAL
TENTANG HAK-HAK SIPIL DAN POLITIK)

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2005 TENTANG PENGESAHAN


INTERNATIONAL COVENANT ON ECONOMIC, SOCIAL AND CULTURAL RIGHTS (KOVENAN
INTERNASIONAL TENTANG HAK-HAK EKONOMI, SOSIAL DAN BUDAYA)

UU NO. 39 TAHUN 1999 TENTANG HAK ASASI MANUSIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2000 TENTANG PENGADILAN HAK


ASASI MANUSIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1998

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 1993 TENTANG KOMISI


NASIONAL HAK ASASI MANUSIA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG UNDANG DASAR 1945

KETETAPAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR


XVII/MPR/1998 TENTANG HAK ASASI MANUSIA

Faktor Penyebab Terjadinya Pelanggaran HAM


Faktor – faktor penyebabnya antara lain:


 masih belum adanya kesepahaman pada tataran konsep hak asasi manusia antara paham yang
memandang HAM bersifat universal (universalisme) dan paham yang memandang setiap bangsa
memiliki paham HAM tersendiri berbeda dengan bangsa yang lain terutama dalam
pelaksanaannya (partikularisme);
 adanya pandangan HAM bersifat individulistik yang akan mengancam kepentingan umum
(dikhotomi antara individualisme dan kolektivisme);
 kurang berfungsinya lembaga – lembaga penegak hukum (polisi, jaksa dan pengadilan); dan
 pemahaman belum merata tentang HAM baik dikalangan sipil maupun militer.

Disamping faktor-faktor penyebab pelanggaran hak asasi manusia tersebut di atas, menurut
Effendy salah seorang pakar hukum, ada faktor lain yang esensial yaitu “kurang dan tipisnya rasa
tanggungjawab”.

Kurang dan tipisnya rasa tanggungjawab ini melanda dalam berbagai lapisan masyarakat,
nasional maupun internasional untuk mengikuti “hati sendiri”, enak sendiri, malah juga kaya
sendiri, dan lain – lain.

Akibatnya orang dengan begitu mudah menyalahgunakan kekuasaannya, meremehkan tugas, dan
tidak mau memperhatikan hak orang lain.

Sedangkanfaktor Eksternal dan Internalnya adalah

Internal :

Keadaan psikologis para pelaku, sifat egois, tidak toleran pada orang lain, dan tingkat kesadaran
para pelaku pelanggaran HAM.

Eksternal :

-Perangkat hukum yang tidak tegas dan tidak jelas sehingga menimbulkan ketidakpastian hukum
-Struktur sosial dan politik yang memungkinkan terjadinya pelanggaran hukum dan HAM
-Struktur ekonomi yang menimbulkan kesenjangan ekonomi dan kemiskinan memungkinkan
seseorang melakukan pelanggaran hukum dan HAM
-Teknologi yang digunakan secara salah dapat menimbulkan kejahatan kerah putih

Upaya pencegahan pelanggaran HAM di Indonesia

1. Indonesia menyambut baik kerja sama internasional dalam upaya menegakkan HAM di
seluruh dunia atau di setiap negara dan Indonesia sangat merespons terhadap pelanggaran HAM
internasional hal ini dapat dibuktikan dengan kecaman Presiden atas beberapa agresi militer di
beberapa daerah akhir-akhir ini contoh; Irak, Afghanistan, dan baru-baru ini Indonesia juga
memaksa PBB untuk bertindak tegas kepada Israel yang telah menginvasi Palestina dan
menimbulkan banyak korban sipil, wanita dan anak-anak.

2. Komitmen Pemerintah Indonesia dalam mewujudkan penegakan HAM, antara lain telah
ditunjukkan dalam prioritas pembangunan Nasional tahun 2000-2004 (Propenas) dengan
pembentukan kelembagaan yang berkaitan dengan HAM. Dalam hal kelembagaan telah dibentuk
Komisi Nasional Hak Asasi Manusia dengan kepres nomor 50 tahun 1993, serta pembentukan
Komisi Anti Kekerasan terhadap perempuan

3. Pengeluaran Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang hak asasi manusia , Undang-
undang nomor 26 tahun 2000 tentang pengadilan HAM, serta masih banyak UU yang lain yang
belum tersebutkan menyangkut penegakan hak asasi manusia.